Love is…

tumblr_mvulf8RZzp1si2rq1o1_500

Sometimes, there’s something that you wouldn’t understand about love

***

#1

Maybe if we share ideas, we can come up with better plans

Hari libur biasanya akan dihabiskan Eunji di apartementnya, bermalas-malasan, menonton secara marathon beberapa judul film atau drama yang belum sempat dijamahnya. Atau kalau sedang tidak begitu malas, dia akan pergi keluar ke café terdekat, menikmati segala bentuk pemandangan di depannya bersama secangkir latte favouritenya. Tapi agaknya rencana macam itu tidak berlaku minggu ini setelah pacarnya yang biasanya sibuk tiba tiba mengajaknya pergi berkencan keluar.

Sebenarnya rencana itu sedikit membuatnya terheran dan butuh beberapa detik untuknya mengiyakan, pasalnya Lee Hyukjae bukan jenis orang yang akan mencetuskan ide berkencan keluar. Tiga tahun menjadi pacarnya dan Eunji tahu betul pria macam apa dia. Orang yang tidak pernah punya pemikiran kencan romantic, yang lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja dan apartementnya. Pergi kencan keluar pun paling jauh hanya keliling kota. Jadi, sekali lagi Eunji tidak yakin kenapa perjalanan bersama ke Mokpo terlintas di pikirannya yang biasanya hanya penuh dengan pekerjaan dan pekerjaan.

Rencananya adalah mereka akan berkamping di pinggir pantai. Bukan rencana keduanya sih, karena pada dasarnya Hyukjae yang memutuskan sendiri. Hanya saja sedikit menyebalkan karena pria itu menyuruh Eunji menyerahkan semuanya padanya. Melarang Eunji ikut campur dan mempercayakan semuanya pada Hyukjae, termasuk alat untuk berkemah seperti tenda, makanan, air minum dan bahkan alat pemagang sekalipun.

“Kau yakin sudah membawa semuanya kan?” Eunji butuh memastikan, siapa tahu ada yang ketinggalan, mengingat Hyukjae sebenarnya sedikit agak ceroboh.

“Tenang saja. Semua beres. Kau hanya perlu menikmati perjalanan ini saja.” Lengkap dengan senyum lebarnya, pria itu berucap begitu percaya diri, dan mau tidak mau membuat Eunji percaya.

Dalam bayangannya perjalanan dan acara camping ini akan menyenangkan. Coba diingat kapan terakhir Hyukjae merencanakan event kencan yang berbuah rasa senang dalam diri Eunji? Ah… atau mungkin ini baru pertama kalinya. Jadi sebenarnya Eunji sangat tersentuh sekaligus senang luar biasa. Pantai adalah tempat favouritnya dan dia akan berkamping di sana bersama orang favourtinya juga. Ah, dia rela dimarahi bosnya senin depan jika saja kalau-kalau mereka berdua akan pulang terlambat.

Semuanya terdengar sempurna bahkan dibayangannya pun sangat-sangat sempurna. Eunji bahkan sudah memikirkan apa saja yang akan dilakukannya di sana nanti. Tapi yang namanya rencana tetaplah rencana. Dimana-mana selalu ada factor x yang kadang lupa tidak diperhitungkan dan seringnya mengacaukan rencana yang sudah tersusun rapi. Bagi mereka berdua factor x itu adalah cuaca. Eunji hanya bisa menghela nafasnya berulang kali, memandang keluar jendela mobil yang berembun karena air hujan beserta angin. Pemandangan di luar bahkan sedikit tertutup kabut. Pandangannya kemudian beralih pada Hyukjae yang sejak tadi diam berpikir.

“Kau tidak membaca prakiraan cuaca hari ini?” tanyanya ketus. Mood-nya langsung jatuh sejatuh-jatuhnya. Bayangkan saja, dia pergi dengan perasaan senang dan begitu sampai di tempat tujuan semua berubah menjadi ladang kabut yang bahkan tidak bisa dilihat jelas.

“Aku baca. Mereka bilang hanya akan hujan sebentar. Kita tunggu sebentar di sini,” katanya membela. Eunji memilih tidak mendebatnya, yakin sekali jika Hyukjae hanya sedang mencoba berbohong. Seperti katanya, dia itu kadang agak ceroboh.

“Jika tidak reda, apa yang akan kita lakukan? Kita sudah jauh jauh ke sini.” Sungguh Eunji tidak ingin mendebatnya, tapi kekecewaannya tidak bisa ditutupi dengan ekspresi apapun.

Hyukjae menoleh, memberi tatapan menenangkan yang benar-benar buruk. Pria itu tidak bisa berbohong. Dia terlihat sangat bersalah. Bagaimanapun juga dia yang merencakan acara camping ini, tapi dia sama sekali tidak punya rencana cadangan jika si factor x ini telah menghancurkan setengah rencananya.

“Sorry, I mess it,” katanya menyesal, yang entah bagaimana justru berhasil menaikkan sedikit mood Eunji.

“Don’t be. Why are you sorry? It’s not yours. Lain kali kita pergi ke café biasanya saja atau piknik di tepi sungai han.”

Hyukjae terkekeh mendengarnya. “Kau bilang bosan dengan Seoul, kau juga bilang ingin ke pantai and here we go, I made this plan but failed.”

“Jadi karena itu alasannya?”

“One of the thing. I don’t want you to leave me because I’m bad as a boyfriend. Ini semacam tindakan pencegahan. Siapa tahu kau memutuskanku karena aku jarang mengajakmu berkencan keluar.”

“It’s funny, Jae. You know I would never do it.”

“It’s funny, since I know you already meeting some guys out there.”  Hyukjae membalas, tapi senyum kecilnya mengembang. Pria itu tahu caranya menggoda gadisnya.

“Are you trying show some jealously now?” Kedua mata Eunji menyipit, senyum gelinya tertahan.

“Nope. Those guys are nothing comparing me and the most important is your heart just stuck with me, Kim.”

Sial. Hyukjae tahu bagaimana mengembalikan moodnya.

Eunji tidak bisa tidak tersenyum geli sekarang. “Kurasa tidak buruk juga terjebak di sini, sudah lama aku tidak melihat Lee Hyukjae yang seperti ini.”

“Kurasa meski hujan reda aku akan menahanmu di sini. You know, we can do much better here than in the tent. Terutama karena aku tidak perlu susah payah mendirikan tenda.”

“Damn it, don’t try anything with me, Jae.”

“Let’s see who is gonna do something here.” Hyukjae membalas cepat, menaikkan satengah alisnya dan menyembunyikan senyum kecilnya.

Eunji ikut tertawa santai. Oke, hal gila itu terlintas di otaknya, jujur saja. Jangan berpikir aneh, mereka mungkin hanya akan menghabiskan waktu di mobil dan mengobrol dengan dua botol cola yang dibawa. Tidak masalah untuk Eunji, hanya saja semoga tidak ada petugas kepolisian yang mempergoki mobil mereka terparkir semalaman di sini.

“Mungkin lain kali kau bisa berdiskusi dulu denganku kalau ingin berkemah. Yah, aku bisa membacakan prakiraan cuaca jika kau tidak sempat. Let’s plan something together next time, hmm?”

“Okay, I think we’re ready to share some plan for our future then.”

Dan Eunji hanya membulatkan matanya mendengar hal itu.

***

#2

Instead of assuming the answer would be no, why don’t you just ask me?

Lusa besok adalah hari pernikahan temannya dan teman yang sebenarnya lebih cocok dibilang rival itu sudah jauh-jauh hari menyuruh Minrin datang bersama pacarnya. Masalahnya adalah Minrin baru saja putus dengan pacarnya lima bulan yang lalu. Dan itu membuatnya memutar otak siapa yang bisa diajaknya ke pesta itu dan menyuruhnya pura-pura jadi pacarnya.

Tidak ada satupun nama yang terlintas di kepalanya kecuali Kim Ryeowook, sahabatnya sejak masuk SMA dan juga cinta pertamanya. Tapi agaknya Minrin harus menghapus namanya dari list. Kim Ryeowook sudah punya pacar, dan demi apapun Minrin tidak mau berurusan dengan gadis keturunan Jepang yang mengerikan itu. Alih-alih datang ke pesta dengan cantik, bisa-bisa ia harus datang dengan rambut hilang sebelah karena mengajak Ryeowook.

Jadi demi keselamatan dirinya juga, Minrin memilih datang ke pesta itu sendirian. Dia akan menemukan seribu alasan nantinya jika temannya bertanya kemana perginya sang pacar yang tidak hadir bersamanya.

Semuanya baik-baik saja pada awalnya. Minrin menemukan tempat bagus yang sulit ditemukan radar si pemilik marga Lee yang sedang asyik mengobrol bersama teman-teman SMA nya. Kadang matanya begitu jeli menemukan keberadaannya, biasanya sih hanya untuk melontarkan beberapa ejekan yang sudah kebal di telinga Minrin. Tapi hari ini Minrin sedang tidak ingin terdeteksi, dan sintingnya berharap punya kemampuan invisible. Hanya butuh kurang lebih satu setengah jam lagi, batin Minrin dalam hati dan dia bisa minggat dari pesta ini secepatnya tanpa perlu menjawab berondongan pertanyaan dari si pemilik pesta yang akan terdengar panas di telinganya.

 Tapi sial tetaplah sial. Selalu saja ada ketidakberuntungan dalam hidupnya akhir-akhir ini. Dari semua dress yang dia miliki kenapa dia memilih long dress warna peach yang akhirnya ujungnya terinjak, membuatnya nyaris saja terjerembab dengan soda membasahi rambutnya. Keributan kecil yang akhirnya menarik perhatian si pemilik pesta bermarga Lee itu.

“Oh, kau di sini rupanya? Aku mencarimu dari tadi. Kau tidak apa-apa?” dengan nada khawatir yang dibuat-buatnya, gadis itu menunjukkan simpatinya. Minrin sangat paham itu. Dalam hatinya pasti ada iblis jahat baru saja menyuruhnya tertawa puas di atas penderitaan ‘temannya’.

“I should wear short dress instead and make me more stunning than the bride, right?” Minrin menjawab enteng, berpura-pura tertawa dan berharap tidak akan jadi pusat perhatian yang memalukan.

“Great, dimana pacarmu? Seharusnya dia memegangimu dan mencegahmu terjatuh begitu.”

Kedua mata Minrin menyipit, menghela nafas pelan dan berdiri menerima uluran tangan Lee yang berusaha membantunya.

“Jangan katakan padaku kau putus darinya dan datang sendiri kesini,” katanya setengah terkejut setelah kepalanya berputar ke sana kemari mencari keberadaan pria yang mungkin saja jadi pacar Minrin. Dia tidak serius mencari sebenarnya, Minrin tahu itu. Karena detik berikutnya senyum simpul meremehkan tersungging di bibirnya yang terpoles lipstick merah. Sialan, rasanya Minrin ingin menonjok bibir itu sekarang.

“Tidak apa-apa. Kau bisa kukenalkan dengan temanku. Kurasa Mino punya beberapa teman yang menarik, kau mungkin akan suka.”

Mati langkah rasanya. Kepala Minrin sudah memanas dan bisa saja ia kehilangan kesabarannya dan melontarkan segala bentuk umpatan sekarang juga. Seperti betapa buruknya tatanan rambut Lee atau lipstick merah itu membuatnya kelihatan tua dan gaunnya yang sebenarnya terlipat di bagian belakang tidak membantunya terlihat sempurna. Tapi dia masih punya rasa simpati untuk tidak menghancurkan pesta ini. Jadi Minrin memilih diam. Berharap ada seseorang yang akan membantunya dari krisis ini.

Dan tentu saja dia tidak berharap orang itu adalah Kim Ryeowook. Jangan, Minrin mohon jangan pria itu. Dia akan berada situasi yang lebih buruk daripada mendapat ejekan Lee.

“Aku kira kau hanya akan mengambil minum, kenapa lama sekali, ha?” pria itu berjalan ke arah Minrin dengan stelan tuxedo – tersenyum — berlagak sopan dengan mengucapkan selamat pada Lee dan meminta ijin untuk bicara berdua dengan Minrin.

Minrin tentu saja melihat sekilas wajah kesal Lee yang tengah menatapnya. Rasanya seperti baru saja menang pertarungan yang selama ini mustahil dimenangkan. Kasihan sebenarnya pada si lawan tapi sekali-kali dia juga butuh tahu apa itu kalah. Ah…, lagipula Minrin tidak punya waktu mengkhawatirkan lawannya sementara seorang pria baru saja menunjukkan eksistensinya tanpa disuruh.

Astaga, apa yang sebenarnya baru saja terjadi?

Kim Ryeowook datang ke pesta ini, menjadi semacam penyelamat untuk Minrin yang nyaris dihabisi Lee di depan umum. Kesambet apa dia, ha? Apa pacar Jepangnya baru saja terkena amnesia atau sesuatu yang membuatnya lupa ingatan sampai sampai membiarkan Ryeowook berkeliaran ke sini?

“Kau kan bisa mengajakku pergi bersama, daripada menahan kesal karena ucapannya.” Ryeowook menoleh setelah mengajak Minrin ke tempat yang lebih lengang.

“Lebih baik menahan kesal daripada menahan sakit karena pukulan pacarmu, kan?” Minrin berdalih. Menghela nafasnya sebentar lalu membiarkan dirinya bersandar di dinding dan menatap Ryeowook.

“Yah, aku hanya menyarankan. Aku mungkin akan berkata ‘ya’ jika kau mengajakku. Ini win win solution sebenarnya.”

Minrin hanya tersenyum. “Kau kan tahu sendiri, aku benci sikap over protective pacarmu itu. Jika kau bukan temanku, jika bukan karena kau mengatakan sangat menyukainya dan bahwa dia seperti oksigen dalam hidupmu, aku mungkin tidak akan merestui hubungan kalian. Percayalah, I just want you to be happy, Kim. So, it’s okay if you can’t help me this time.”

Senyum di bibir Ryeowook terlihat samar. Pria itu berjalan mendekat lalu berdiri tepat di depan Minrin. Menatap dwimanik Minrin kelewat intens, dan Minrin nyaris saja mendorongnya menjauh karena hell, ini tempat umum apa yang mau dilakukannya, ha? Meski sebenarnya Minrin tidak berekspetasi apa-apa. Tapi jujur saja jantungnya mendesir aneh sekarang seperti ketika naik roler coaster.

“What if I found another girl who makes me happy instead of her?”

Celaka, Minrin merasa tambah aneh sekarang. Perutnya seperti diaduk-aduk. Kepalanya panas dingin.

“Then….,” Minrin memundurkan kakinya hingga menyentuh dinding. Ya ampun ini pertama kalinya dia menjadi gugup di depan sahabatnya sendiri sejak dia mendeklarasikan diri keluar dari kisah cinta pertama. “It’s good to you,” dia berhasil menyelesaikan kalimatnya dan menarik nafas.

“I broke up with her and I think I just fell in love with my best friend,” katanya yang langsung menjungkir balikan semua isi perut Minrin. “You can show your hatred toward her as you want now.” Dan senyum Ryeowook memperparah keadaannya.

“What just did you say?”

 “Okay, I’ll make it clear then. Yeah, you’re right she is really bad as a girlfriend, and I didn’t know why I ended up with her. So, I make my step to dumb her and run here.”

Minrin sama sekali tidak bisa berkata apapun lagi. Semuanya sangat tiba-tiba. Apa dia melakukan hal baik akhir-akhir ini? atau bisa saja kesabarannya menghadapi Lee berbuah hasil sekarang hingga tiba-tiba dia mendapat pengakuan mengejutkan dari pria yang menjadi cinta pertamanya.

“Are you okay?” pertanyaan Ryeowook menyadarkannya kemudian.

Minrin mengerjap sebentar dan kemudian menegakan tubuhnya. Yah, Ini mungkin pertanda baik. “Can we go to see Lee so that I can introduce you properly?”

***

#3

See, that’s the great thing about being stuck with me. I’m gorgeous.

Jika ada yang bertanya apa yang membuat Ran begitu membenci kakak perempuannya sekarang ini, maka jawabannya adalah mangkir dari janjinya tanpa memberitahu dan membuat Ran menunggu dua jam di tempatnya biasa berlatih cello.

Ingatkan Ran untuk sedikit memberi pelajaran pada kakaknya nanti. Karena sepertinya kekesalannya bisa saja ditumpahkannya pada siapapun atau apapun saat ini juga. Untung saja guru cello kakakknya adalah seorang wanita berumur yang mau tidak mau harus dihormati Ran, dan sebenarnya dia sangat berusaha keras mengontrol dirinya agar tidak memaki kakaknya.

Saat Ran baru saja akan pulang setelah mendapat pesan singkat dari kakaknya yang memberitahu bahwa pacarnya datang menjemput, hujan turun sangat deras. Dan di situlah rasanya Ran juga ingin memaki pacar kakaknya. Keteraluan sekali. Apa mereka sengaja melakukannya? Sialnya lagi guru cello kakaknya sudah pulang tepat sebelum hujan turun. Membuat Ran berdiri sendirian di depan gedung latihan karena tidak mungkin dia berlari hujan-hujanan.

Alasan lain yang membuat Ran menetapkan hari ini adalah hari tersialnya adalah bertemu dengan Cho Kyuhyun, musuh bebuyutannya sejak SMA. Harusnya dia ingat kan Kyuhyun juga sering latihan di sini, meski beda kelas dengan kakaknya. Kakaknya sering sekali cerita mengenai si menyebalkan Cho itu.

“Aku lihat kau terjabak hujan di sini, eh?” sapanya mengejek. Mendengar suaranya saja membuat Ran malas, apalagi melihat wajahnya yang sok tampan.

“Just leave me alone, Cho. I’m not in good mood to start some fight with you.” Ran mundur, memilih masuk ke dalam dan duduk di sofa dekat jendela. Alih-alih pergi Cho Kyuhyun justru mengikuti masuk.

“Apa sih maumu? Pergilah! Tidak perlu sok perhatian dengan menemaniku di sini, okay?” Ran menolak kehadirannya. Kalau perlu sih sebenarnya dia ingin menendangnya keluar. Sayangnya dia bukan atlet judo jadi dia mungkin yang akan terlempar jika berani adu fisik dengan makhluk bermarga Cho itu.

“First, I’m not trying to be good to you. Two, I don’t go because of the rain not you. Santai saja, aku juga tidak ingin memulai debat apapun denganmu.” Kyuhyun berlalu, tersenyum aneh lalu duduk di sofa lain. Ran mengamatinya sejenak sebelum mengambil ponselnya dan mulai bermain game.

Dia akan berpura-pura tak mengenalnya. Begitulah yang dipikirkannya.

Satu setengah jam berlalu dan hujan bukannya mereda tapi justru makin deras. Langit juga sudah mulai menggelap. Kalau sudah begini bisa-bisa dia terjebak sampai pagi di tempat ini. Dia menoleh ke arah Kyuhyun yang sudah jatuh tertidur memeluk ranselnya.

Dia harus pulang, pikirnya. Lalu dia pun berinisiatif menelepon kakaknya dan menyuruhnya menjemputnya. Kakaknya harus bertanggung jawab kali ini. Gara-gara siapa Ran terjebak di sini kalau bukan kakaknya itu. Dua detik, tiga detik panggilannya tidak dijawab yang kemudian dialihkan ke pesan suara. Ran mencobanya berulang kali sampai peringatan bahwa baterainya habis terpampang di layarnya. Untuk kesekian kalinya dia merutuk. Bisa tidak, kesialannya berakhir sekarang? Aah, mungkin sebaiknya dia pulang hujan-hujanan. Tidak apa-apa. Jarak halte paling dekat hanya sepuluh menit dari sini, kalau dia berlari bisa sampai di sana dalam waktu lima menit. Tapi masalah lain datang mengacaukan semua rencana yang sudah disusunnya. Pintunya terkunci.

“What?” Ran menggoyangkan pegangan pintu kuat-kuat sekali lagi. “What the…. Sialan! Siapa sih yang mengunci pintunya?”

“Aah…, aku lupa memberitahumu, pintunya akan otomatis terkunci kalau sudah jam 8 kecuali Mrs Kim mematikan alat kunci otomatisnya.” Kyuhyun menegakkan tubuhnya, merenggangkan kedua tangannya ke atas dan kemudian menatap Ran tanpa rasa bersalah. “Dan biasanya Mrs Kim melakukannya kalau sedang lembur saja, tapi kita berdua tahu dia sudah pulang sebelum hujan tadi. Jadi…..”

“Oh… Shut up! Kau sengaja menjebakku kan?”

Ran mendorong pintu itu sekali lagi dengan kesal, hampir ditendangnya sebenarnya tapi dia masih sayang kakinya. Jadi, dia kembali ke tempat duduknya.

“Itu akan jadi rencana yang menarik sebenarnya, menjebakmu di sini semalaman.” Kyuhyun tersenyum jahil. Entah sedang waras atau tidak isi otaknya. Bisa-bisanya tertawa di saat seperti ini.

“Kau tidak khawatir terjabak di sini?”

Kyuhyun menggeleng santai. “Aku sering terjebak di sini, jadi bukan masalah besar. Pintunya akan otomatis terbuka besok pagi jam 7. Untuk apa khawatir? Kita bukannya terjabak selamanya di sini, kan?”

“Bisa tidak kau hubungi Mrs Kim dan menyuruhnya membukkan pintu?”

“Kenapa?”

“Karena pertama aku harus pulang, kedua aku tidak mau terjebak semalaman di sini apalagi bersamamu.” Ran menjawab ketus. Kyuhyun menatapnya sebentar, serius.

“Kau tidak lupa kan kalau aku pernah terjebak di sini sebelumnya? Aku baru saja memberitahumu tadi. Dan kuberitahu, ini sudah keempat kalinya. Coba, kita pikirkan apa menurutmu aku belum pernah mencoba cara itu sebelumnya? Menghubungi Mrs Kim, memintanya datang untuk membukkan pintu? Aku sudah pernah mencobanya, oke? Dia cenderung mematikan ponsel kalau sudah di rumah.”

“Ya ampun, sial sekali!”

“Setidaknya kita saling mengenal. Bayangkan sendiri jika kau terjebak dengan orang asing dan bukannya aku. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun. Sudahlah, tidur di sini juga bukan masalah besar kan?”

Rasanya Ran ingin memukul kepalanya keras. Tapi Kyuhyun ada benarnya dan Ran mengakui itu. Jadi, dia menyerah. Bukan menyerah sih, tapi memang tidak ada cara lain selain menunggu sampai pagi.

Tidak pernah ada dibayangan Ran akan menghabiskan satu malam bersama musuhnya. Kata yang tepat bukan menghabiskan tapi terjebak. Ingatkan Ran untuk meminta kompensasi lebih dari kakaknya. Semua berawal dari kakaknya, kesialannya beruntun begini.

“Boleh aku tanya sesuatu?” Kyuhyun membuka percakapan lagi setelah keduanya diam.

Ran hanya mengangkat wajahnya, menatapnya diam tapi tidak memberik penolakan apapun.

“Aku hanya sedikit lupa, sebenarnya apa yang membuat kita berdua tidak pernah akur?” kedua mata Ran menyipit pelan.

Benar, sudah lama berlalu dan selama ini mereka berdua memang tak pernah akur. Ran sendiri lupa apa yang membuat keduanya bagai air dan minyak begini. Ran hanya ingat Kyuhyun sering bertingkah menyebalkan dan alasan itu sudah menggunung yang membuatnya kesal setiap kali bertemu dengannya.

“Kau sering bertingkah menyebalkan dan kau sering membuatku kesal.” Ran menjawab ringan.

“Aku tidak pernah merasa menjahilimu atau sengaja membuatmu kesal. Yah, pemikiran untuk menjahilimu memang ada seperti menjebakku mungkin tapi aku tidak melakukan itu. Kau sendiri yang tiba-tiba merasa kesal. Jadi sebenarnya masalahnya ada padamu kan bukan aku? Kau pernah berpikir tidak untuk berteman denganku?”

“Tidak.” Ran menggeleng cepat yang membuat Kyuhyun langsung menghela nafasnya.

Sebenarnya sih Ran juga ragu. Setelah dipikir-pikir Kyuhyun memang tidak pernah melakukan sesuatu yang keteraluan, seperti misalnya saja membuat Ran malu di depan umum, atau menyembunyikan buku tugasnya. Dia tidak pernah menjahili Ran sih, hanya saja entahlah sikap Kyuhyun selalu membuat Ran kesal. Kyuhyun yang menjadi idola di sekolahnya. Satu-satunya siswa yang berhasil merebut rangking satu darinya. Teman-temannya banyak menyukai Cho Kyuhyun. Semua guru selalu membanggakannya. Itu menyebalkan bagi Ran.

Dan satu lagi Cho Kyuhyun kelewat percaya diri. Itu poin paling besar yang membuat Ran tidak menyukainya.

“Kau suka bermain starcraft?” Kyuhyun kembali bertanya dan kali ini Ran mengernyit. Bukankah itu hal yang aneh, Kyuhyun tiba tiba bertanya soal game? (yah, setidaknya aneh untuk Ran).

“Kau bermain starcraft?” Ran membalikkan pertanyaannya.

“Mau bertaruh?” Kyuhyun melemparkan satu PSP yang diambilnya dari dalam tas ke arah Ran. “Jika aku menang, kita berteman. Jika kau yang menang, yaah…, aku akan jauh-jauh darimu biar kau tidak kesal setiap saat.”

“Deal.”

Mungkin ide buruk bertaruh dengan lawanmu. Tapi bisa jadi hal itu menjadi titik balik semuanya. Coba dipikirkan, kapan lagi bisa akur dengan lawanmu kalau bukan karena saling berbagi kesenangan yang sama? Ya, dan bagi dua orang yang tak pernah akur itu game seakan menjadi jembatan penghubung yang menyatukan keduanya.

Kyuhyun menang tiga kali melawan Ran dan memang sesuai kesepakatan Ran harus mau mencoba berteman dengannya. Tapi jujur saja, sejak awal tahu Kyuhyun penyuka game Ran bahkan tidak peduli lagi tentang taruhan itu.

“That’s the great thing you’re being stuck with me here. See… I’m not that kind of bad person.” Kyuhyun berkata demikian sebelum keduanya keluar dari gedung itu pagi harinya. Ran hanya menatapnya sekilas.

“Setidaknya kurangi sikap menyebalmu itu, yang sok tampan dan sok keren. I probably accept you as my friend.”

“What? Now, you hate me cause I’m too gergorous?”

Ran berhenti, berbalik dan menatapnya setelah menghela nafas pelan. “Nah, itu kau tahu. Bye… See you next time, Kyu.”

“Apapun itu, kita berteman sekarang.” Kyuhyun setengah berteriak dan hanya dapat balasan lambaian tangan ke atas dari Ran yang terus berjalan.

Oh bagaimana ya… Kyuhyun sebenarnya tidak ingin hanya berteman. Yeah, at least he takes one step closer, right?

***

FIN

 

Salah satu caraku bisa tetap nulis di tengah tengah witer block T_T. It’s fun actually, search some prompt and make a story based of it.

Credit prompt 

Another kind of story coming soon with different casts.

Thank you and bye…

Advertisements

4 thoughts on “Love is…

  1. Akhirnya ada update-an juga..
    Aku harap secret guard, the wedding, the horde nya masih dilanjutin dan diupdate😇😇
    Keep writing ya eonn😊 fighting💪💪

  2. Long time no see eonn 😁
    Senang pas buka wp ini ternyata eonn udah nulis lagi. Sekarang pasti eonn sibuk ya. Fighting eonn!!! Aku selalu tunggu update-an cerita eonni 😊

    • hi, long time no see.. t.t
      sebenernya kangen banget bisa nulis kayak dulu tapi tapi.. aah sudahlah, i try my best (nyemangatin diri sendiri)
      btw, thank you for coming back here, dear. Benar-benar memberi semangat melihat kalian yg dulu sering baca tulisanku kemabli ke sini lagi.
      I will try my best to write again.

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s