(Special Project) People You May Know

tumblr_mhrrtdtrux1r3emxzo1_500

Title : People You May Know | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin

Mungkin takdir telah salah menghampiri kita.

***

Ryeowook hanya tidak tahu jika mengiyakan ajakan Hyukjae sama saja membuatnya terjebak pada takdir masa lalu. Dia baru saja tersenyum. Senyum yang dipaksakan tentu saja. Tidak peduli bagaimana orang-orang di sekitarnya bertepuk tangan dan tersenyum, tapi Ryeowook tidak bisa untuk tidak merasa canggung. Perasaan aneh, tidak tahu harus berbuat apa yang tiba-tiba menghampirinya begitu wajah cantik yang dulu selalu dipujanya muncul tanpa diduganya.

Merutuki segala hal yang pernah terjadi sekaligus bertanya kenapa mereka berdua harus kembali bertemu seperti sekarang ini. Itulah yang dilakukan Ryeowook dengan pandangan ketidakpercayaan yang berusaha disembunyikannya ketika menatap wajah gadis itu.

“Hei, Ryeowook-ah….” Kesadarannya kembali saat seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh cepat, mengangguk sekaligus mengiyakan tak kalah cepatnya agar bisa segera pergi dari tempat itu. Menuju tempat lain di mana ia tidak perlu khawatir harus berhadapan dengan wajah itu sekali lagi.

Tapi terlambat. Tepat saat Ryeowook akan berbalik, saat ia melayangkan pandangannya untuk terakhir kalinya ke arah obyek cantik itu, si empunya kecantikan itu menemukannya. Lalu dengan cepat bahkan tanpa Ryeowook bisa mempersiapkan dirinya sendiri, gadis itu mengunci tatapannya.

Bagaimana bisa Tuhan menggariskan takdir ini untuk keduanya?

Lalu tanpa sadar ia diingatkan kembali tentang kebersamaan singkatnya bersama gadis itu. Pertemuan pertama yang dulu Ryeowook pikir akan menjadi titik awal sebuah hubungan yang manis. Tapi Ryeowook sadar kebersamaannya dengan gadis itu tidak bisa lagi dipaksakan bertahan ketika keduanya tidak berada dalam satu arah pemikiran yang sama. Dan begitulah ia mengiyakan ketika gadis itu memutuskan untuk mundur. Begitulah ia menyampaikan pengertiannya saat gadis itu mengemukakan isi pikirannya kenapa memilih mundur dari hadapan Ryeowook.

Berbulan-bulan yang terlewatkan tak benar-benar membuat Ryeowook melupakan tentang gadis itu. Nama gadis itu Shin Minrin. Nama yang bahkan sering muncul berulang kali di beranda social media miliknya. Ryeowook pikir ia akan baik-baik saja. ia pikir bisa melupakan Minrin tapi ternyata tidak benar-benar begitu. Dan entah permainan apa yang Tuhan ciptakan dengan mempertemukan kembali dirinya dengan gadis itu di tempat ini. Di tempat yang tak terduga dengan situasi yang tak terduga pula.

Ryeowook tersentak seketika saat Hyukjae menepuk pundaknya sekali lagi. “Apa yang kau lakukan, ha?” Hyukjae, temannya yang tadi mengajaknya mencari tempat duduk “Shin Minrin. Kau mengenalnya?” dia bergumam, membuat Ryeowook lantas menolehkan kepalanya dengan heran.

“Kau tahu dia?” Bukannya menjawab Ryeowook justru terlalu penasaran kenapa Hyukjae bisa menyebut nama Shin Minrin.

“Justru akan sangat aneh jika aku tidak mengenalnya. Aku datang ke acara ulang tahun perusahaan temanku yang kebetulan bernama Shin Minrin. Jadi…,” Hyukjae sengaja menggantungkan kalimatnya lalu menoleh lagi kea rah Ryeowook. “Darimana kau tahu? Dari caramu memandangnya, kurasa kau juga mengenalnya.”

Ryeowook tersenyum tipis pada Hyukjae. Sesaat tadi Hyukjae sempat tersenyum kea rah Minrin yang membuat gadis itu membalas lantas mengangguk sebelum pergi menghampiri kolega bisnisnya. Sebuah keberuntungan untuk Ryeowook karena ia tidak perlu lagi berusaha lari dari tatapan Minrin padanya. Tapi sialnya hal itu jusru membuat Hyukjae penasaran.

“Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali.” Ryeowook menjawab kemudian.

“Apa dia gadis yang kau maksud waktu itu? Yang membuatmu tertarik tapi tidak bisa kau jadikan kekasih?” Hyukjae bertanya kembali, kali ini benar-benar membuat Ryeowook terkejut.

Baik, Ryeowook memang pernah menceritakan Minrin pada Hyukjae. Tentang bagaimana dia bertemu dengan seorang gadis tanpa sengaja di sebuah kantor polisi karena insiden kesalahpahaman. Gadis itu menuduhnya mencuri. Benar-benar situasi yang sangat merugikan Ryeowook saat itu. Tapi kesalahpahaman itu lah yang membuat mereka saling berkenalan dan juga bertemu layaknya dua orang yang saling tertarik. Pertanyaan Ryeowook adalah bagaimana bisa Hyukjae menarik kesimpulan begitu, padahal dia tidak pernah bercerita nama gadis itu?

“Apa yang kau bicarakan, ha?” elaknya kemudian tapi Hyukjae hanya terkekeh.

“Caramu menatapnya berbeda, Ryeowook-ah. Kau tidak pernah menatap orang lain dengan tatapan seperti itu.”

“Tatapan…. Tatapan seperti apa maksudmu?” Ryeowook jadi dibuat bingung sekarang. Memangnya tatapan seperti apa yang diperlihatkannya tadi?

“Tatapan tidak ingin melepaskan. Kau menyukai Minrin?”

Pertanyaan terakhir yang langsung ditunjukkan Hyukjae tanpa ragu itu membuat Ryeowook kembali menaikkan alisnya, terkejut dan panik.

“Jae…, itu tidak mungkin. Kau tahu itu.” Mencoba untuk menjawab dengan bijaksana, Ryeowook pun hanya berpura-pura berdecak, berharap Hyukjae mengerti maksudnya.

“Apanya yang tidak mungkin? Kau mempunyai hak untuk menyukainya. Dia cantik, pintar, keluarganya berada. Semua tentangnya sangat bagus. Jadi kenapa tidak mungkin menyukainya? ”

Merasa sangat malas meladeni ucapan Hyukjae tersebut, Ryeowook pun memilih untuk menyingkir, meninggalkan sahabatnya yang telah berbaik hati mengajaknya ke acara penting ini.

“Hanya karena kau seorang fotografer lepas dan dia seorang presdir, dan itu status social yang menurutmu menjadi alasan ‘tidak mungkin’ yang kau katakan tadi?” Hyukjae tidak menyerah. Pria itu mengikuti Ryeowook yang memilih menjauh dari kerumunan orang yang berdiri memperhatikan arah podium dimana Minrin baru saja memulai sambutannya.

Ryeowook benar-benar berniat ingin meninggalkan acara ini, pergi keluar dan menghindar sejauh mungkin agar ia bisa melepaskan diri dari ikatan takdir yang menyebalkan ini.

Dari semua teman Hyukjae kenapa harus gadis itu? Dan Status social? Jika Ryeowook mau memberitahu Hyukjae, ia akan mengatakan bahwa status social itu bukan yang menjadi alasan keduanya mengakhiri hubungan singkat mereka. Ryeowook masih ingat Minrin tidak pernah mempermasalahkan status social. Itu permasalahan klise dan Ryeowook tahu, Minrin bukan tipe orang yang terikat aturan-aturan kolot keluarganya.

***

“Mereka bilang aku wanita gila, ayahku menganggapku anak yang suka membangkang. Karena sejak kecil aku dituntut untuk tidak berbuat sesuka hati, aku harus berhati-hati dalam berteman termasuk saat aku memilih pria yang menjadi kekasihku. Tapi aku lebih sering melanggarnya dan ayahku tahu sifat pembangkangku sudah akut jadi ia berhenti mencampuri urusanku.”

Itu adalah kalimat yang pernah Minrin ucapkan pada Ryeowook saat mereka bertemu untuk kedua kalinya sejak insiden di kantor polisi. Gadis yang tanpa merasa malu mengatakan pada orang yang baru dikenalnya tentang sifat-sifat aslinya. Gadis yang sejak awal memang tidak pernah berpura-pura. Sangat naïf. Dan Ryeowook menyukainya.

“Aku tidak menyangka kau akan mengatakan itu di kencan pertama kita.” Ryeowook menimpali dan reaksi Minrin benar-benar hanya tersenyum seakan itu bukan masalah. Dan Ryeowook menyukai kejujuran Minrin.

“Mungkin kau akan semakin terkejut di kencan kedua nanti,” sahutnya.

Kuere. Kurasa aku jadi tidak sabar untuk kencan kedua.”

Minrin tertawa pelan mendengarnya membuat Ryeowook ikut tersenyum saat memperhatikan tawa lepas gadis itu.

“Jadi bagaimana denganmu? Menjadi seorang fotografer?” gadis itu memposisikan duduknya dengan nyaman, masih dengan senyum yang terukir, ia menatap Ryeowook.

“Bukan sesuatu yang dibanggakan. Tapi aku akan mengatakan tidak semua orang bisa menjadi fotografer.”

“Ya, tentu saja.” Minrin mengangguk. “Aku tidak suka mengambil gambar tapi aku senang saat orang-orang menjadikanku obyek foto mereka.”

“Fotografer itu sama seperti seorang penulis, begitupun pelukis. Mereka sama-sama bercerita. Dan aku bercerita lewat foto, menunjukkan sisi berbeda dari yang orang lain biasa lihat.”

Minrin tersenyum mendengarkan. Itu adalah pemandangan yang melegakan sekaligus membuat Ryeowook merasa senang. Melihat orang lain mendengarkan pendapatnya kenapa ia memilih profesi ini. Rasanya seperti mengungkapkan pada orang lain tentang dirimu yang selama ini tidak ingin diungkapkan, dan sangat luar biasa ketika orang lain itu memberimu respon positif. Terlebih karena selama ini hampir tidak ada orang disekitar Ryeowook yang menerima keputusannya menjadi fotografer lepas sepenuh hati. Termasuk Hyukjae. Sahabatnya itu bahkan sudah berulang kali menyuruhnya bekerja di perusahaan miliknya namun selalu ditolak Ryeowook.

***

Ya, begitulah cerita pertemuan mereka dulu. Dan sebenarnya tanpa mengingatnya dengan susah payah, Ryeowook masih ingat apa yang membuat Minrin memutuskan untuk mengakhiri hubungan singkat di kencan keempat satu tahun yang lalu.

Saat itu, Ryeowook menemui Minrin. Lebih tepatnya lagi menunggu gadis itu keluar dari gedung perusahaannya usai jam kantor selesai. Pukul 6 sore, gadis itu telat dua jam dari seharusnya. Entah karena dia lelah karena pekerjaan ataukah karena pertemuan terakhir mereka tidak berjalan baik yang membuat gadis itu tidak lagi memasang wajah ceria yang penuh senyuman ketika melihat Ryeowook.

Lalu suasana café tidak jauh dari gedung itu menjadi saksi bagaimana mereka memutuskan untuk saling mundur.

“Aku akan segera menikah dengan seseorang yang dipilih ayahku,” katanya dengan sangat jelas.

Ryeowook menjadi orang yang terkejut diantara keduanya. Kedua alisnya terangkat dan ia nyaris melayangkan protesnya, menanyakan alasannya tapi kemudian entah pemikiran darimana, ia merasa paham.

“Begitu rupanya.”

Ryeowook tidak bertanya kenapa. Ia juga menahan diri untuk memprotes keputusan Minrin yang sepihak. Hak dari mana ia boleh berpikir keputusan itu sepihak jika kenyataannya selama ini mereka bukan sepasang kekasih yang mengikat hubungan? Mereka hanya kebetulan berjumpa, tertarik satu sama lain lalu mencoba saling mengenal dan berkencan. Tidak pernah ada kata kesepakatan untuk menjadi kekasih satu dengan yang lain. Jadi, sebenarnya Ryeowook sama sekali tidak punya hak untuk memprotes.

“Kau tahu…, kurasa aku tidak bisa menjadi pembangkang lagi. Kali ini, bukan sesuatu yang bisa kutolak dengan mudah karena egoku.”

Ryeowook paham. Ya, Minrin mungkin menyebut dirinya sebagai wanita yang keras dan tidak suka untuk diperintah. Tapi tentu saja selalu ada keputusan yang tidak bisa ditolak begitu saja hanya demi mempertahankan sebuah ego. Dan sepertinya Minrin baru saja dihadapkan pada keputusan itu. Keputusan hidup yang tidak bisa ditolak semaunya sendiri.

“Aku mengerti, Minrin-ssi.”

“Maafkan aku, kurasa ini akan menjadi pertemuan terakhir kita.”

Ryeowook mengulas senyum kecewanya. “Selamat atas penikahanmu.”

***

Jika saja Ryeowook tahu tuan rumah di acara malam ini adalah Minrin, ia mungkin akan menolak ajakan Hyukjae, sekeras apapun sahabatnya itu memaksa. Bagi sebagian orang bertemu dengan masa lalu adalah bencana. Begitu juga untuk Ryeowook. Sampai detik ini pun ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya, bahkan setelah keduanya mengucapkan selamat tinggal.

Jangan salah, ia tulus mengucapkan selamat atas pernikahan itu tapi ia sama sekali tidak punya ide untuk menghadapinya jika berjumpa seperti sekarang ini.

“Yaa, Ryeowook-ah…” Hyukjae memanggilnya, menganggunya untuk kesekian kalinya. Rasa-rasanya Ryeowook sudah pergi cukup jauh dari sahabatnya itu agar tidak mendengar ocehannya lagi. Tapi sial sekali Hyukjae mengikutinya sampai ke sini.

Ryeowook tahu apa maksud panggilan itu, terutama saat ia berbalik dan mendapati orang lain berjalan bersama temannya itu. “Ada yang ingin bertemu denganmu,” katanya. Senyum kecil yang ditunjukkan Hyukjae benar-benar menganggu. Ia sengaja melakukannya, Ryeowook tahu itu.

Minrin berdiri di depannya, dua langkah jauhnya. Gadis itu sengaja berdiri dalam jarak itu, sementara Hyukjae telah maju dan menepuk lengan Ryeowook dengan keras. “Aku tidak ingin melakukannya, percayalah. Dia yang  menyuruhku.”

“Dan kurasa kau bisa berbaik hati menolaknya, Jae.”

“Yah, kau benar. Kecuali karena aku tahu temanku belum menyelesaikan perasaannya. Anggap saja bertemu dengan orang yang pernah kau kenal,” katanya yang sekali lagi membuat Ryeowook percaya jika Hyukjae memang sengaja melakukannya.

“Terimakasih, Lee Hyukjae,” ucap Ryeowook dengan penekanan dan jengkel.

Lee Hyukjae tentu saja dengan senang hati tersenyum lebar dan mengangguk lalu berjalan menghampiri Minrin. “Dia bisa sangat menyebalkan, kau harus tahu itu… terutama tentang cara pikirnya,” katanya sambil menggerakkan tangannya memutar, membuat Minrin mengulas senyum.

“Aku tahu, terima kasih, oppa.” Itu suara pertama yang Ryeowook dengar dari Minrin sejak sekian lama dan itu membuatnya seperti tersengat listrik.

***

“Lama tidak berjumpa, Ryeowook-ssi.”

Kalimat perjumpaan dari Minrin yang seakan menjadi babak baru cerita mereka. Ryeowook tidak terlalu menyukainya, jujur saja. Karena mereka sudah pernah mengucapkan selamat tinggal, dan bahkan Minrin sendiri yang mengatakan tentang pertemuan terakhir. Selama ini Ryeowook sudah berusaha melupakannya. Tapi jika akhirnya seperti ini, rasanya usahanya menjadi sia-sia terutama karena ia masih merasakan ketertarikan yang sama seperti dulu pada Minrin.

“Kurasa kita sudah sepakat untuk mengucapkan selamat tinggal.” Ryeowook menyahut. Ia mungkin tidak sadar, tapi Minrin baru saja menaikkan alisnya terkejut. Karena sikap Ryeowook yang tak lagi seperti dulu.

“Ya, tapi aku tidak tahu jika akan bertemu denganmu seperti ini.”

“Benar.” Ryeowook kembali menyahut sambil mengangguk. “Jaljinaeso?” tanyanya lalu Minrin tersenyum. Dan itu senyum pertama yang Ryeowook lihat dalam jarak dekat setelah sekian lama.

“Cukup baik untuk membuatku senang,” jawabnya.

Jika Ryeowook tidak ingat kalau saja orang di depannya ini sudah menikah, ia pasti akan setuju dengan kalimat itu. Pertemuannya dengan Minrin juga cukup membuatnya senang. Hanya cukup, karena ia tahu tidak boleh merasa terlalu senang. Mungkin saja ia yang akan tersakiti, lebih parah dari sebelumnya. Jadi, Ryeowook memilih tersenyum simpul menanggapi jawaban itu.

Hening kemudian. Suasana yang tidak bagus. Ryeowook sempat berpikir untuk pergi, mencari alasan apapun untuk menjauh. Tapi itu tindakan yang pengecut. Anggap saja bertemu dengan orang yang pernah dikenalnya. Kata-kata Hyukjae itu lah yang ia jadikan alasan untuk tinggal.

“Jadi, kau seorang presdir sekarang.”

“Dan kau… apa masih seorang fotografer?” Minrin menoleh sambil tersenyum.

Ryeowook tidak suka harus bertatapan mata dengan Minrin dalam jarak dekat seperti ini, jadi ia pun buru-buru menoleh kea rah lain. “Tidak banyak yang berubah pada hidupku,” jawabnya.

Itu jawaban sekaligus ungkapan tersirat yang berusaha Ryeowook utarakan. Tidak banyak yang berubah termasuk rasa suka dan ketertarikannya pada Minrin. Sialnya, rasa itu masih sama meski sudah lama berlalu.

“Sepertinya, hanya aku yang berubah, benarkan?” Ryeowook menoleh lagi dan melihat Minrin menunduk, melihat kea rah tanah. Itu bukan bentuk sahutan tapi gumaman. “Kau tahu, aku sedikit kecewa saat kau membiarkanku pergi saat itu. ‘Ah, apa pria yang kusukai tidak menyukaiku? atau apa aku berbuat terlalu keras dan menyakitinya sampai-sampai dia tidak menahanku pergi?’, itulah yang terus kupikirkan.” Minrin sudah mengangkat kepalanya, tatapannya lurus ke depan, kedua tangannya tersembunyi di balik saku dress nya dan Ryeowook bisa melihat senyum simpul dari samping wajahnya.

“Kenapa dia tidak mencariku, kenapa dia tidak mengutarakan keberatannya saat aku bilang akan menikah. Andai saja dia melakukannya, mungkin aku tidak akan berubah seperti sekarang.” Dia melanjutkan. Dan Ryeowook mendengarnya dengan diam. Dia sama sekali tidak menyangka seperti itulah yang Minrin pikirkan tentangnya.

“Tapi setelah kupikir, dia benar-benar pria yang baik. Dia menghargai keputusanku dan seharusnya aku berterimakasih, bukannya merasa kecewa.” Terdengar satu tarikan nafas panjang dari Minrin setelah itu lalu dia pun menoleh lagi kea rah Ryeowook dan tersenyum. “Kau pria yang baik, Ryeowook-ssi.”

“Tapi orang baik tidak selamanya baik, dia bisa saja melakukan kesalahan. Jadi, kenapa kau tidak berhenti berbicara tentang masa lalumu dan mencegahku menjadi orang jahat nantinya?” Ryeowook bersuara dingin, menghentikkan seketika senyum di wajah Minrin.

Ryeowook tidak menyukai situasi sekarang, terutama saat Minrin bercerita mengenai pemikirannya barusan. Apa yang akan berubah jika Ryeowook tahu perasaan Minrin sekarang? Apa Minrin akan berbalik menjadi miliknya? Itu mungkin tidak akan terjadi. Jadi, semua ini sia-sia dan Ryeowook jelas akan menjadi pihak yang mengalah sekali lagi.

“Jika aku menyuruhmu menjadi orang jahat sekarang ini, apa yang akan kau lakukan?” tantang Minrin tanpa terduga.

Mwo?”

“Aku menyuruhmu menjadi orang jahat, Ryeowook-ssi,” ulangnya. Dan tanpa diduga Ryeowook, Minrin sudah mendekat ke arahnya, mengecup bibirnya lembut.

Minrin tidak pernah berubah, Ryeowook seharusnya tahu itu. Dia masih Minrin yang frontal dan selalu berterus terang sejak dulu. Jadi seharusnya Ryeowook tidak perlu terlalu terkejut mendapat perlakuan Minrin barusan. Seorang Shin Minrin yang Ryeowook kenal, bisa saja menciumnya seperti ini. Tapi Ryeowook tahu ini salah. Alasan yang akhirnya membuatnya mendorong Minrin menjauh.

“Entah permainan apa yang kau pikirkan sekarang ini, tapi aku sama sekali tidak ingin terlibat.”

Ryeowook bisa melihat keterkejutan pada sorot mata Minrin. Sesuatu yang sempat membuatnya bertanya-tanya. Tapi ia memilih menghiraukannya. “Selamat untukmu, aku permisi,” katanya kemudian lalu berbalik pergi.

Pertemuan itu akan Ryeowook anggap sebagai ketidaksengajaan, selebihnya ia tidak ingin memikirkan apapun, termasuk maksud dibalik ciuman tadi.

***

“Jadi, bagaimana pertemuan kalian? Apa yang kalian bicarakan?” Hyukjae bertanya setelah masuk tanpa permisi ke dalam ruang kerja Ryeowook.

 “Aku sudah berulang kali menyuruhmu mengetuk pintu jika masuk kemari, ingat?” dan Ryeowook selalu tidak suka jika sahabatnya itu menganggunya terutama saat ia berada di ruang kerja favouritnya.

“Maaf… maaf, aku hanya penasaran. Lagipula kau seperti menyembunyikan sesuatu di dalam sini sampai-sampai melarang orang lain masuk.”

Ryeowook menghiraukannya. Dan Hyukjae dengan baik hati tidak bertanya mengenai ruang rahasia ini. Tapi pria itu langsung duduk di kursi kosong di dekat Ryeowook, memperhatikan sahabatnya itu yang sedang sibuk dengan komputernya. Dia akan menyelenggarakan pameran bersama teman-temannya di galerinya dan dia cukup sibuk dua hari terakhir. Alasan kenapa Hyukjae mengalah untuk datang agar bisa bertemu dengannya.

 “Soal Minrin, aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi mungkin kau harus tahu, hubungannya dengan pria yang sekarang menjadi suaminya tidak terlalu bagus. Yah, kau tahu sendiri itu pernikahan yang berbalut bisnis. Jadi, pria itu diam-diam berhubungan dengan kekasih lamanya. Minrin tidak keberatan tentu saja pada awalnya atas pernikahan itu, tapi kau tahu kan wanita itu seperti apa? Meskipun dia tidak mencintainya, tapi kalau sudah menikah pria itu tetap suaminya, bukan? Tssk, pria itu keteraluan….. dan lagi….,”

Ryeowook tak terlalu mendengar cerita lanjutan dari Hyukjae itu. Tiba-tiba saja dia merasa tidak focus dan ia mulai memikirkan ulang kata-kata Minrin.

Ini hari ketiga sejak pertemuan Ryeowook dengan Minrin. Kemarin gadis itu datang lagi menemuinya, meminta maaf atas apa yang dilakukannya malam itu. Ryeowook hanya mengiyakan dan tidak ingin terlibat banyak pembicaraan denganya. Karena itulah, dia langsung pergi. Tapi jika apa yang Hyukjae katakana itu benar, mungkin saja ada alasan kenapa Minrin tiba-tiba datang padanya.

“…ya, kau mendengarku?”

Ryeowook tersentak sebentar, tapi tidak benar-benar menunjukkan apa yang tengah di pikirkannya pada Hyukjae. “Lalu, kenapa kau mengatakan itu semua?” tanyanya berpura-pura tak peduli.

Hyukjae langsung berdecak heran sekaligus kecewa karena reaksi Ryeowook tidak seperti yang dibayangkannya. “Yah, siapa tahu kau ingin mengambilnya kembali? Aku tahu kalian sempat berkencan dulu. Siapa yang tahu jika sebenarnya kalian ditakdirkan bersama?”

Hyung, aku tidak tertarik untuk menjadi penjahat,” katanya.

“Yaa, itu bukan menjadi penjahat tapi menjadi orang baik yang menyelamatkan seorang wanita dan juga dirimu sendiri.”

Ryeowook hanya diam, kembali memfokuskan dirinya pada layar komputernya. Sepertinya dia memang masih menyukai gadis itu. Dan jujur saja Ryeowook mungkin tertarik dengan tawaran itu, mengambil kembali gadis itu, menjadi orang jahat seperti yang dikatakannya. Tapi setelah itu apa? Minrin bisa saja sudah tidak lagi tertarik ataupun menyukainya. Gadis itu bisa saja mengatakan hal-hal aneh malam itu karena kekecewaan dan kesedihannya atas apa yang dilakukan pria yang dinikahinya. Ryeowook tahu itu. Karena jika gadis itu memang menyukainya, sudah sejak dulu dia menyuruh Ryeowook untuk memperjuangkannya. Jika seperti itu kisah mereka mungkin akan sedikit berbeda. Tapi kenyataannya, gadis itu yang memilih mundur terlebih dahulu. Sejak awal takdir memang sudah salah menghampiri mereka berdua.

***

Satu hari menjelang pembukaan pameran, saat Ryeowook baru saja keluar dari gedung perkantoran milik Hyukjae, dia melihat pemandangan yang mengagetkannya sekaligus membuatnya menggelengkan kepalanya tak percaya. Shin Minrin dan seorang pria, yang berdasarkan informasi dari Hyukjae adalah suaminya. Mereka berdua cukup akrab untuk ukuran sepasang suami istri yang menikah bukan karena cinta. Dan pelukan yang baru saja mereka lakukan ditambah sepenggal percakapan yang Ryeowook dengar cukup membuatnya yakin bahwa Shin Minrin memang bukan lagi gadis yang dulu. Gadis itu menyukai pria itu. Dan itu berarti apa yang dikatannya malam itu memang benar hanya kegilaan sementara.

“Aku akan meralat kata-kataku. Astaga, apa yang mereka lakukan di kantorku? Tssk…” Hyukjae yang berdiri di samping Ryeowook mengumpat pelan.

“Kau pasti kenal baik dengan mereka berdua. Jika tidak, mana mungkin mereka berdua bisa berada di sini, benarkan?” Ryeowook menoleh sekilas pada Hyukjae, menyindirnya.

“Lee Donghae, sepupuku. Aku minta maaf, tidak memberitahu sejak awal,” katanya akhirnya mengakui. Pria itu, yang berpelukan dengan Minrin yang menikah dengannya adalah Lee Donghae, sepupu dekat dari Lee Hyukjae.

Ryeowook tak terlalu terkejut. Dia memang tidak tahu, tapi dia cukup tahu siapa Lee Donghae. Dia pernah melihatnya mengunjungi Minrin satu tahun yang lalu.

“Aku hanya kasihan dengan Minrin, menyukai sepupuku yang playboy. Dan setelah aku tahu kau menyukainya, aku hanya ingin membantunya. Kau tahu, lebih baik dia bersamamu daripada dengan Lee Donghae. Tapi itu sebelum aku tahu sepupuku ternyata juga menyukainya.”

Ryeowook masih menatap ke arah dua orang itu, tersenyum samar. “Ayo pergi!”

Dia akan melepaskannya mulai sekarang. Meskipun sempat ada harapan untuk membuatnya menjadi miliknya lagi, tapi memang semua yang terjadi tidak akan bisa diubah dalam waktu semalam.

***

Deretan foto yang dipajang menjadi focus pengunjung. Tapi tidak begitu bagi Minrin. Hanya satu foto yang berhasil menarik perhatiannya. Foto dengan judul ‘Berdamai dengan masa lalu’ yang merupakan potret dirinya satu tahun yang lalu. Huruf R tertera jelas di bagian bawah judul dan Minrin mengenal betul siapa itu R.

Dia sebenarnya sama sekali tidak berencana datang ke pameran foto ini. Karena dia tahu, dia mungkin saja akan membuat kesalahan yang berujung membuat kecewa serta menyakiti Ryeowook. Tapi Lee Hyukjae mengatakan sesuatu tadi dan hal itu membuat Minrin melangkahkan kakinya ke tempat ini.

“Kau datang?” Ryeowook menyapanya tepat saat Minrin memandang dengan lekat fotonya yang berukuran besar tepasang. Dia menoleh, terkejut dan juga canggung.

Sebuah pemikiran terlintas sebentar di otaknya, bagaimana jika ia membuat kesalahan karena tindakannya malam itu? Tapi kemudian ia menangkap tulisan di bawah foto itu sekali lagi, ‘berdamai dengan masa lalu’. Judul yang memang terlihat dengan fotonya yang yang tengah tersenyum seakan melepaskan semua beban pikirannya. Tapi bisa saja arti dari judul itu adalah karena si fotografer yang memutuskan untuk berdamai dengannya atas semua yang terjadi.

“Ya, Lee Hyukjae memberitahuku dan kurasa aku harus datang. Foto yang kau ambil tidak pernah mengecewakan. Itu, kau mengambilnya tanpa sepengetahuanku, benarkan?” dia menunjuk foto dirinya.

“Saat pertemuan kedua kita.” Ryeowook menjawab membenarkan.

Minrin mengangguk, mengamati sekali lagi lalu beralih pada Ryeowook. “Kurasa aku memang telah berdamai dengan masa lalu,” ujarnya.

“Setiap orang harus berdamai dengan masa lalunya, bukan?”

Aniya, maksudku aku tidak akan menyalahkan lagi kenapa kita bukan berada di jalan yang sama. Aku akan berhenti menyalahkan keputusanku saat itu. Karena itulah, aku akan meminta maaf padamu. Untuk semua yang sudah kulakukan, termasuk ketidakberanianku untuk memilihmu.”

Ryeowook tidak tahu kenapa Minrin tiba-tiba mengatakan hal itu. Tapi satu hal yang pasti bahwa semua memang sudah berubah. Bertemu kembali dengannya tidak akan mengembalikan semua pada posisi semula.

“Kenapa harus minta maaf? Setiap orang memiliki keputusan mereka sendiri. Apa yang terjadi denganku…,” Ryeowook menoleh, sengaja menggantungkan kalimatnya dan menatap Minrin. “dengan perasaanku padamu dulu dan mungkin sekarang adalah urusanku. Aku yang bertanggung jawab. Kau tidak perlu memikirkannya apalagi merasa bersalah,” lanjutnya kemudian sambil mengulas senyum.

Senyuman yang sekali lagi membuat Minrin merasa bersalah. Tapi apa yang bisa dilakukannya, dia sudah memutuskan dan dia juga akan bertanggung jawab dengan keputusannya.

“Kau orang baik, aku senang pernah mengenalmu.”

Ryeowook tertawa pelan mendengar hal itu. “Sudah kedua kalinya kau mengatakan hal itu.”

“Kalau begitu aku benar-benar memujimu.” Senyum Minrin mengembang lagi, kali ini lebih tulus dan lepas.

“Minrin-ya…!” dan panggilan dari seorang laki-laki yang berdiri di belakang mereka menghentikkan senyum Minrin, membuat Ryeowook menoleh dan menghela nafas pelan.

“Donghae menungguku. Aku harus pergi. Terimakasih sudah memajang fotoku di sini,” katanya kemudian. Ryeowook mengangguk, tersenyum sebentar sebelum membiarkan Minrin berjalan menghampiri laki-laki tadi.

Dan Ryeowook masih memperhatikan mereka berdua. Mungkin dia memang sempat berharap semua akan kembali seperti dulu. Tapi sekali lagi garis kehidupan sudah digambarkan seperti ini. Apa yang dilakukannya bukanlah mengalah tapi Ryeowook hanya mengikuti apa yang ditakdirkan. Karena saat dia masih mempertahankan harapan yang sebenarnya sudah tidak ada, artinya dia adalah orang yang memaksakan sebuah takdir. Dan itu hanya akan membuatnya sakit nantinya. Jadi, dia memilih untuk berdamai dengan masa lalu dan dengan semua yang terjadi sekarang ini.

***

END

Project ff dari album nya si oppa. Maaf yaa, jarang update sekarang. semoga tahun depan bisa lebih sering lagi. I really want to back and write again. See yaa…!

 

 

Advertisements

4 thoughts on “(Special Project) People You May Know

  1. akhirrnyaa😱 eonni author kombek again👏🙌 kangen sama si oppa “terobati” gomawo ya thor buat akhir taun jadi manis😄 si oppa legowo bgt😂 keren sih berdamai dgn masa lalu👍

    oke thor ditunggu karya2 berikutnya😁 semangat terus ya thor💪👍q

  2. Akhirnya 😂😂😂😂😂
    Kangen banget sama ff mu
    N selalu ff buatanmu keren 👍👍👍👍
    Ditunggu ryeomin story
    N secreat guard
    Happy new year👏👏👏

  3. UWOOOHH udah berapa lama gak kesini buat baca ff, udah lama juga ya sejak ff terakhir di publish aku kangen😭😭
    Author selalu keren deh seperti biasa sukaaakk banget ff ini! Ryeowook yg belom bisa move on sampe endingnya yg cukup realistis 🙂 gak semua berakhir happy ending dengan pasangan yg diimpikan.
    Yey semoga 2017 bisa terus menulis dan update ff disini. Walaupun ryeowook lagi hiatus wamil semoga authornya tidak😁 ditunggu next ff!

  4. Akhirnya ada ff baru.. huwaaaa udah lama nggak main kesini..
    Selalu ff disini tuh keren-keren👍👍
    Ditunggu kelanjutan secret guardnya.. udah setahun deh kalau nggak salah😅😅 ryeomin story, the horde, the wedding nya juga ditunggu..
    Keep writing yaa authornim.. fighting💪💪💪

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s