(Ryeomin Story) Their Married Life

tumblr_n5c3l5UsVa1sd08e8o1_500

Title : Their Married Life  | Cast : Shin Minrin, Kim Ryeowook

***

“Kau tahu apa yang kubenci sejak tinggal bersamamu?”

Suara Minrin menggelegar memecah keheningan apartement pagi itu. Ryeowook yang semula duduk di tepian tempat tidur berniat membangunkannya hanya bisa terdiam seketika. Satu bulan bersama dan ini pagi pertamanya mendapat amukan Minrin.

“Karena kau sering mengganggu tidurku.”

“Yaa…!”

Heran bercampur sedikit kesal, Ryeowook ikut menaikkan suaranya. Tidak ada respon dari Minrin. Wanita itu justru menarik selimutnya semakin menutupi kepalanya, meredam segela suara yang mungkin akan merasuki indera pendengarannya.

Sungguh diluar dugaan Ryeowook. Toh, apa ia salah? Bukankah ia hanya membangunkan isterinya itu untuk bangun lebih pagi. Ia sama sekali tidak menyuruhnya memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah lain atau memperlakukannya seperti pekerja rumah tangga. Lagipula, Ryeowook lah orang di rumah ini yang biasa memasak sarapan untuk mereka berdua. Jadi, kenapa wanita itu harus marah-marah?

“Bangunlah…, Kau yang menyuruhku untuk membangunkanmu lebih pagi, ingat?” Ucapan Ryeowook itu yang pada akhirnya membuat Minrin membuka matanya cepat, seperti mendapatkan kembali signal hidupnya kenapa ia harus bangun dari mimpinya.

“Oh sial… jam berapa sekarang?”

Jika saja ia tidak ingat bahwa ia memang harus pergi pagi ini, sudah pasti ia akan mengusir Ryeowook keluar dari kamar mereka. Dengan satu gerakan cepat, Minrin melompat dari tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru dan Ryeowook hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat itu semua. Dia sama sekali tidak berubah, masih sama seperti Minrin yang dulu sebelum menikah dengannya.

“Astaga, kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?”

“Aku sudah melakukannya, kau saja yang tidak bangun.”

Aissh, sial!” dan wanita itu masih bisa-bisanya berteriak dari dalam kamar mandi, mengumpat pada dirinya sendiri.

Hanya perlu waktu lima belas menit untuk Minrin merapikan penampilannya pagi ini, sudah termasuk berpakaian dan juga mengenakan make up tipis ala kadarnya. Di ruang makan, Ryeowook sudah menunggunya dengan dua cangkir kopi dan roti panggang yang disiapkannya. Sebenarnya Ryeowook ingin menyiapkan sarapan yang lebih mengenyangkan dibandingkan roti panggang, tapi karena Minrin terlihat sangat terburu-buru yang membuatnya ikut terburu-buru menyiapkan sarapan.

“Hari ini kau pulang malam lagi?” Ryeowook bertanya sembari memperhatikan Minrin yang berusaha tenang menikmati sarapannya. Meskipun begitu sudah lima kali dia melihat jam di tangannya selama lima menit terakhir.

“Hmm… kurasa. Aku akan menghubungimu nanti. Kau sendiri? Apa yang akan kau lakukan hari ini?”

Tssk…. Pertanyaanmu itu seperti ditunjukkan pada orang yang menganggur.” Ryeowook menyela sedikit tidak terima tapi Minrin hanya terkekeh.

“Bukankah kau sendiri yang bilang sekarang kau pengangguran? Setiap hari kau hanya di rumah, makan, tidur. Keluar rumah jika ada orang yang ingin kau temui. Aigoo…. “

Baik, itu benar. Ryeowook memang mengatakan hal itu. “Apa lagi yang bisa aku lakukan?”

“Terserahlah. Ada baiknya juga kau menganggur saat ini. Aku jadi tidak perlu susah payah menyiapkan sarapan untuk kita.” Minrin tersenyum lebar.

Tssk…, bukan berarti aku akan terus melakukannya.”

“Tentu saja. Kemampuan memasakku sudah lebih baik sekarang, kau tidak perlu khawatir.”

Ryeowook ikut tersenyum, memperhatikan lagi Minrin yang sibuk mengunyah rotinya.

“Aku pergi kalau begitu. Sampai jumpa nanti.” Setelah menyelesaikan kunyahan terakhir dan juga menghabiskan kopinya, Minrin pun meninggalkannya

Dia berhenti sejenak saat hendak membuka pintu keluar. “Ah… Karena sebentar lagi kau harus wajib militer, kurasa aku akan memberikan hadiahnya malam ini. Jangan tidur, sebelum aku pulang, mengerti?”

Itu perkataan yang sedikit ambigu untuk Ryeowook. Apa maksudnya?

***

Ryeowook memang menunggunya. Pikirannya melayang sedikit liar sebenarnya dan itu cukup membuatnya tidak merasa mengantuk. Memikirkan ucapan Minrin tadi pagi terus menerus justru berdampak lebih buruk dibandingkan rasa kantuk yang hilang. Ia bahkan memilih pulang lebih dulu saat Heechul serta Leeteuk mengajaknya minum bersama. Sialan.

Lalu saat Minrin berdiri di depan pintu, tidak ada yang Ryeowook lakukan selain berdiri menatapnya seperti orang bodoh.

Mwo? Kenapa wajahmu seperti itu?” Minrin berjalan pelan tak terlalu peduli. Dan Ryeowook lagi-lagi seperti orang bodoh mengikutinya di belakang.

Mwo?” Minrin mengulangi pertanyaannya sedikit heran.

Ryeowook menggeleng pelan, “A..aniyo. Kau sudah makan?” tanyanya agak canggung. Dan Minrin langsung menangkap hal itu.

Aigoo, ada apa denganmu ha? Kau kan tahu aku tidak makan di jam malam seperti ini?” Minrin kini yang menggelengkan kepalanya tak mengerti.

Benar. Minrin dan diet ketatnya yang tiga minggu terakhir dijalaninya. Ryeowook sempat dibuat terkejut sebenarnya, karena dulu Minrin tidak pernah peduli jika berat badannya naik satu atau dua kilo. Tapi sejak dia memutuskan kembali ke Korea, dia mendapat banyak tawaran untuk menjadi model majalah dan katanya ia tidak ingin terlihat gemuk di depan kamera. Belum lagi tawaran bermain mini drama dua minggu lalu yang membulatkan tekadnya untuk mengurangi berat badannya.

“Oh.. ya, aku hampir lupa. Baiklah, kalau begitu mandilah. Kau pasti lelah.” Ryeowook memutar tubuhnya hendak meninggalkan Minrin sebelum wanita itu menghentikkannya.

“Kita harus bicara setelah aku selesai mandi,” katanya dengan nada yang sangat serius, jauh berbeda dengan yang tadi. Hal itu sempat membuat ryeowook mengernyit heran sekaligus bergidik.

Baik, dia membuat Ryeowook kembali berpikir aneh lagi.

Wangi sampo lavender menyeruak di ruangan itu lima belas menit kemudian. Ryeowook hanya memandangnya sekilas, menunggu sementara Minrin berjalan di depannya untuk keluar dari kamar itu. Lagi-lagi Ryeowook mengikutinya.

“Kau tidak mengatakannya padaku.” Pembicaraan itu dibuka oleh Minrin tanpa berboca-basi. Dia menarik satu gelas kosong yang kemudian diisinya dengan air putih dingin.

Ryeowook yang sudah duduk di kursi tinggi dapur mereka kembali hanya diam tidak langsung menjawab. Dia masih menunggu. Jadi, bukan seperti yang dipikirkannya?

“Tentang tanggal wajib militermu yang diundur lagi.” Minrin melanjutkan. Ia berbalik, ikut duduk di kursi tinggi di depan Ryeowook.

Ekspresi Ryeowook langsung berubah menjadi sangat serius. Dia benar-benar tidak menyangka pembicaraan yang ingin dilakukan Minrin adalah tentang tanggal wajib militernya yang memang diundur lagi.

“Darimana kau tahu?”

“Seharusnya aku mendengarnya darimu langsung tapi kau sepertinya tidak tertarik mendiskusikan hal itu denganku bukan?”

“Kyuhyun yang mengatakan hal itu padamu?” Ryeowook kembali bertanya saat Minrin tidak ingin membeberkan siapa orang ketiga yang sudah mengatakan sesuatu yang memang disembunyikan Ryeowook sebelumnya.

“Apakah itu Kyuhyun atau Leeteuk Oppa,memangnya kenapa?  Kau ingin memarahi mereka? Katakan padaku, kenapa kau melakukannya? Tinggal satu minggu lagi dan tiba-tiba kau menundanya lagi?” nada suara Minrin naik setengah oktaf, tapi cukup membuat Ryeowook menaikkan alisnya tidak percaya.

“Bukan kemauanku.”

“Ah… kuere, tentu saja bukan kemauanmu tapi agensimu. Apa karena kejadian yang menimpa membermu? Karena itu mereka menyuruhmu menunda lagi wajib militer? Agar rencana jumpa fans tetap bisa berjalan? Bagus sekali…”

“Minrin-ya…!” Ryeowook menekankan namanya ketika ucapan yang dilontarkan Minrin sudah mengarah pada rasa kesal dan juga mungkin kemarahan yang siap dilontarkan.

“Bisa tidak sekali saja kau menentukan sendiri apa yang ingin kau lakukan dan meminta mereka menghormati keputusanmu?”

“Aku yang bersedia dengan senang hati menundanya. Lagipula kenapa kau menjadi sangat marah? Bukankah penundaan ini bisa membuat kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama?”

“Wah… apa hanya itu yang kau pikirkan? Bagaimana reaksi netizen? Kau tahu kan idol yang terus menerus menunda wajib militernya selalu mendapat pandangan negative dari netizen. Kau ingin seperti itu?”

Sekali lagi rasa kesal Minrin belum bisa teratasi. Ryeowook sekali lagi untuk kesekian kalinya hanya menghela nafasnya, berusaha mendinginkan kepalanya agar tidak ikut meledak kesal.

“Kau sudah menyiapkan dirimu selama ini. Kau bahkan menyerahkan kursi dj sukiramu padahal waktumu masih tersisa banyak saat itu. Kau benar-benar mengurangi jadwalmu dengan total dan sekarang mereka ingin kau kembali untuk jumpa fans dan menyuruhmu menunda wajib militer? Aku benar-benar tidak mengerti. Siapa yang akan disalahkan jika reputasimu menjadi buruk di mata netizen? Apa mereka mau disalahkan? Ah… seharusnya member mu yang di salahkan. Gara-gara kelakuan mabuknya, kau bahkan kena dampaknya.”

“Cukup, hentikan! Apa kau akan terus menyalahkannya?”

Tidak tahan, akhirnya Ryeowook pun menaikkan suaranya lebih tinggi. Dan hal itu cukup membuat Minrin terdiam karena terkejut. Mungkin karena ia jarang sekali melihat Ryeowook marah seperti sekarang. Kedua matanya menatap Ryeowook yang juga balas memberikan tatapan tajamnya.

“Jika salah satu temanmu yang sudah kau anggap keluarga melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, apa kau akan mejauhinya dan mengabaikannya? Dia bersalah, dia mengakuinya dan dia bersedia bertanggung jawab tapi bukan berarti aku akan menganggapnya sebagai seseorang yang brengsek yang harus disalahkan sepanjang waktu atas apa yang terjadi sekarang. Berpikirlah jika kau berada di posisinya. Dibandingkan menyalahkannya, bukankah seharusnya membantunya?”

Setelah mengatakan hal itu, Ryeowook memilih beranjak pergi, keluar dari rumah itu meninggalkan Minrin yang masih terdiam dengan ekspresi yang seakan terhantam sesuatu dengan sangat parah.

Mungkin Minrin memang sudah melampaui batas sekarang. Selama ini mereka memang selalu berdiskusi akan sesuatu tapi tentu saja mereka selalu menghormati keputusan yang lain. Jadi kenapa sekarang ia bahkan tidak bisa menghormati keputusan Ryeowook?

***

Pukul enam pagi, Minrin terbangun karena dering alarmnya. Sesuatu yang berbeda terjadi di kamarnya. Ia sama sekali tidak menemukan Ryeowook tidur di sampingnya. Tempat itu bahkan seperti tidak tersentuh sejak semalam Minrin memutuskan tidur. Itu berarti, Ryeowook tidak pulang dan entah ada di mana sekarang.

Ia meraih ponselnya di meja sampingnya dan mengeceknya tapi tidak ada kabar apapun dari pria itu. Apa pembicaraan mereka semalam benar-benar membuat Ryeowook kecewa padanya? Ia baru saja akan beranjak berdiri saat satu pesan masuk.

Jika kau bangun dan bingung kenapa suamimu tidak pulang, tidak perlu khawatir. Dia di dorm sekarang. Bertengkar, eh? Kau harus tahu, dia memutuskan dengan sangat sulit tentang penundaan tanggal wajib militer itu. Aku akan menyuruhnya pulang, jadi bersiaplah minta maaf padanya.

Tanpa sadar ia menghela nafas lega tapi tidak bisa menutupi rasa bersalah yang kembali menyergapnya. Ia memang sedikit keteraluan. Dulu, ia sangat percaya diri karena sangat mengerti Ryeowook tapi terkadang ada juga hal yang belum bisa dimengertinya tentang pria itu.

Tidak seperti biasanya, di mana Ryeowook yang selalu menyiapkan sarapan untuknya. Kali ini Minrin bersedia dengan senang hati menyiapkan sarapan. Ia membuat sendiri makanan untuk sarapan, meski dengan susah payah. Ia juga membersihkan rumah.

Pukul 9 pagi, ia seharusnya sudah berangkat pergi bekerja sejak satu jam yang lalu tapi kenyataan bahwa Ryeowook belum juga pulang membuatnya sedikit risau. Ia ingin melihatnya dan meminta maaf lebih dulu sebelum pergi. Setelah menunggu sekitar setengah jam, ia pun menyerah dan memilih untuk segera berangkat. Sebaliknya, ia hanya meninggalkan note kecil di atas meja makan.

***

Ryeowook kembali saat Minrin sudah pergi. Sebenarnya ia tidak marah. Bisa dibilang saat ini kepalanya sudah sangat dingin untuk berbicara lagi dengan Minrin. Tapi karena ada beberapa hal yang harus dilakukannya, membuatnya tidak bisa pulang sebelum Minrin pergi.

Ia melihat sarapan yang disiapkan Minrin tertata rapi di meja makan. Sebuah note tertempel di atas meja itu.

            Maafkan aku karena berlaku buruk. Nikmati sarapanmu. Saranghae.

Kalimat pendek yang cukup membuat Ryeowook tersenyum membacanya. Note kecil yang seketika itu menjadi pertanda bahwa mereka harus melupakan pertengkaran semalam. Tidak perlu berpikir panjang, ia pun langsung meraih ponselnya dan menekan speed dial pertama.

Yeobseo…”

Kurang dari tiga puluh detik, panggilan itu dijawab. Dan hal itu membuat Ryeowook berpikir jika mungkin saja Minrin sudah menunggu telepon darinya sejak tadi.

“Jika kau tidak mau bicara, aku tutup teleponya.”

“T..tunggu! Bagaimana bisa kau menutupnya begitu saja, ha?” suara Ryeowook menyahut cepat. Kesal sendiri tapi tidak bisa menutupi senyum tertahan yang baru saja dilakukannya. “Maaf diterima, terimakasih sarapannya dan nado saranghaeyo,” lanjutnya sebagai jawaban di note Minrin tadi. Ia berpikir jika Minrin mungkin sedang tersenyum di seberang sana.

“Hanya itu? Kau tidak merasa bersalah tidak pulang semalam? Tssk… apa kau ini masih anak remaja yang kabur saat bertengkar?” dan seketika itu apa yang tadi ryeowook pikirkan tentang Minrin yang sedang tersenyum tiba-tiba menghilang begitu mendengar suara bernada kesal dari wanita itu.

“Kabur? itu yang kau pikirkan sejak semalam? Aku tidak pulang karena bertengkar denganmu?” nada suara Ryeowook ikut berubah kesal.

“Lalu apa alasannya kalau bukan itu? Aku bahkan berani bertaruh kau mengajak Kyuhyun minum semalam?”

“Kyuhyun? Oh, jadi dia yang mengatakan hal itu padamu?”

Ryeowook menghentikkan sarapannya begitu saja. Meletakkan sumpit di samping mangkuk nasinya sebelum menghela nafas keras. Cho Kyuhyun sialan. Pria itu pasti mengatakan sesuatu pada Minrin.

“Dengar, aku bertemu dengan Kyuhyun. Tapi tidak hanya dia, ada Heechul hyung, dan Yesung hyung juga. Dan aku tidak menceritakan pada mereka tentang masalahku denganmu, jika itu yang kau pikirkan. Kami hanya berdiskusi sampai larut malam. Aku minum terlalu banyak semalam, jadi aku tidak bisa menyetir untuk pulang jadi aku tertidur di dorm. Aku ingin menemui mu pagi harinya saat aku pulang tapi ada urusan yang harus aku lakukan di SM. Jadi, bisakah kau tidak mengataiku pria yang kabur setelah bertengkar dengan isterinya?”

Dengan sangat runtut Ryeowook menjelaskan panjang lebar apa yang dilakukannya kemarin setelah pergi sampai pagi tadi.

“Kalau begitu darimana Kyuhyun tahu kalau kita bertengkar?”

Mwo?” Ryeowook tak paham. Jelas sekali, karena semalam ia minum terlalu banyak, ia bahkan tak ingat apa yang mereka bicarakan. Ia mencoba mengingat apakah saat kondisinya mabuk ia mengatakan sesuatu?

Ah benar… ia pasti meracau tak jelas seperti biasanya. Sial.

“Dia pasti sengaja mendengar racauanku saat mabuk,” sahut Ryeowook kemudian. “Maafkan aku.”

“Aku tutup teleponnya!”

Tanpa memberikan Ryeowook kesempatan untuk mengucapkan sampai jumpa, Minrin benar-benar menutup teleponnya secara sepihak dan Ryeowook hanya bisa melongo melihat layar ponselnya yang kembali berubah hitam.

“Ya Tuhan, dia benar-benar keteraluan,” katanya lemah.

***

“Jadi, kau terlalu banyak minum lalu meracau kalau sedang bertengkar denganku? Kalau begitu apa bedanya kau dengan pria lainnya? Aigoo…”

Minrin kembali membahas pembicaraan mereka di telepon tadi setelah pulang. Wanita itu bahkan sedikit mengabaikan Ryeowook.

“Kau masih ingin membahas itu?” Ryeowook mengekor Minrin menuju ruang tengah. Ikut duduk di sampingnya, saat Minrin mengambil remote televisinya.

“Sebenarnya tidak mau, tapi kau tahu kan aku masih kesal karena kau tidak pulang tanpa kabar? Kita sudah sepakat harus memberitahu yang lain jika pulang malam atau tidak pulang, ingat?”

Arraso… arraso, mianhae…” Minrin memutar kepalanya ke samping, mengamati sebentar ekspresi Ryeowook. Pria itu seperti sedang menyembunyikan ketakutannya. Benar-benar lucu.

Dia pun diam, menahan senyumnya lalu menghela nafas panjang. “Baiklah, kita lupakan saja. Aku tidak bisa melihat ketakutan di wajahmu itu lagi,” katanya sambil terkekeh.

Tssk…. Siapa yang ketakutan?”

Minrin tetap menahan senyumnya sambil terus memperhatikan Ryeowook. Lalu dengan gerakan cepat, dia mendekatkan kepalanya dan mengecup bibir Ryeowook. Sangat cepat hingga Ryeowook sendiri dibuat terkejut menerimanya.

Mwo? Kenapa kau menciumku?” tanyanya heran.

“Permintaan maaf dan juga karena tidak tahan melihat wajahmu yang ketakutan itu.” Minrin membalas sambil memamerkan senyumnya lagi.

Ryeowook membenarkan posisi duduknya lalu menatap Minrin lebih intens. “Kau tahu akan berakhir dimana malam ini bukan?” tanyanya.

“Tentu saja. Bukan sesuatu yang baru.” Minrin lagi-lagi membalas santai. Dan Ryeowook hanya bisa terus menatapnya sedikit heran. Sesering apapun Minrin bersikap frontal padanya tapi tetap saja terkadang bisa membuatnya heran sendiri.

 Entah siapa diantara keduanya yang memulai duluan, tapi jelas keduanya sudah berada di atas sofa itu sambil berciuman. Apa yang mungkin akan mereka lakukan akan menjadi sedikit liar jika saja Minrin tidak menghentikkan ciumannya sepihak.

“Aku belum ingin punya anak, kau tahu kan?”

Ryeowook sedikit mengangkat wajahnya, memandang wajah di bawahnya sambil mendesah kecewa. “Kau benar-benar serius?”

Minrin mengangguk. “Aku tidak mau hamil dan menjalani masa-masa itu sendirian sementara kau wamil. Yang benar saja. Shirro!” tekannya.

Meski Ryeowook lagi-lagi hanya menghela nafasnya kecewa tapi kemudian dia hanya mengangguk mengerti. “Arraso.”

Let’s just do like we did in the first time,” katanya kemudian.

Tsssk, kau sedikit keteraluan.” Ryeowook membalas namun Minrin hanya tersenyum kecil sambil menarik kepala Ryeowook lebih dekat dan kembali menciumnya.

***

Tidak seperti biasanya, Ryeowook menjadi orang terakhir yang bangun. Minrin tidak lagi berada di tempatnya. Entah dia berada di dapur atau justru sudah pergi, Ryeowook belum berniat mencari tahu. Dia lebih berniat untuk memejamkan mata barang sepuluh menit lagi. Tapi dering ponselnya benar-benar mengganggunya. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, dia pun mengambil ponsel di atas meja itu dngan mata setengah terpejam.

Yeobseo….,”

“Kau baru bangun. Sudah kuduga. Bangun dan makan sarapanmu, aku sudah menyiapkannya. Dan… aku mungkin tidak pulang nanti. Akan kukabari lagi nanti.”

Tanpa memberi kesempatan Ryeowook untuk bicara sambungan itu pun terputus. Suara Minrin bahkan terdengar seperti angin lalu di telinga Ryeowook. Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya sepenuhnya, dia pun menatap layar ponselnya dengan bingung.

Kata-kata yang berhasil dicerna Ryeowook adalah tentang sarapan dan bahwa Minrin akan mengabarinya nanti. Entah apa maksudnya itu. Dan Ryeowook memang tidak ingin memikirkannya. Dia keluar dan sudah duduk di depan meja makan lima belas menita kemudian. Memakan dengan diam masakan Minrin. Sebenarnya wanita itu tidak memasak, dia hanya menghangatkan saja kiriman makanan dari ibunya. Ryeowook sudah menduganya demikian.

Di tengah-tengah acara sarapannya itu, ponselnya kembali bordering. Kali ini sebuah pesan dari Minrin.

Aku ada pekerjaan di Shanghai selama lima hari. Ini benar-benar mendadak dan sekarang aku sedang perjalanan ke bandara. Mianhae…

Seketika itu Ryeowook membelalakan matanya tak percaya. Dia bahkan nyaris menyemburkan air minumnya. Sialan. Apa yang baru saja dibacanya? Lalu tanpa berpikir lagi, dia pun langsung menghubungi Minrin.

Yaa, Shin Minrin! Apa maksudmu?” teriaknya.

Hening beberapa saat. Minrin mungkin sedang berusaha memulihkan pendengarannya karena teriakan Ryeowook barusan.

“Karena itu aku mengabarimu melalui pesan. Aku tahu kau akan seperti ini kalau aku bicara langsung.” Minrin menghela nafasnya lemah. Cara teraman memang mengabari Ryeowook lewat pesan daripada telepon, karena mungkin Ryeowook tidak akan mengijinkannya pergi.

“Jangan berlebihan. Hanya lima hari, lagipula kau juga sering pergi ke luar negeri tanpa memberitahuku kan dulu? Aku akan tetap pergi meski kau menyuruhku menunda penerbangan,” katanya bersikeras.

Mwo?” Ryeowook menahan suaranya agar tidak terdengar kesal.

Tapi bagaimana tidak kesal jika istrimu tiba-tiba bicara akan ke Shanghai dan sekarang dalam perjalanan ke bandara dan dia akan pergi selama lima hari? Meskipun mendadak sekalipun, dia seharusnya bisa memberitahu Ryeowook sejak awal.

Mianhae…..”

Ryeowook memejamkan matanya sejenak lalu berusaha mengontrol rasa kesalnya sekali lagi. “Baiklah…., tapi ini yang terakhir. Kau dengar itu?” katanya akhirnya.

“Aku tahu. Gomawo…..”

Lagi-lagi wanita itu memutus secara sepihak sambungan telepon itu. Benar-benar mengesalkan. Tidak lama kemudian satu pesan kembali masuk.

11910487_884447064924068_1627685755_n

The Gift for you. Wajahku saat bangun pagi, masih natural tanpa make up. Aku sedang menyuapmu untuk memaafkanku. Jadi sampai juma lima hari lagi.

***

CUT

Hi, long time no see… lama tidak menyapa kalian. Oke, aku tidak bisa bilang dengan adanya ff ini aku mulai rajin posting lagi kayak dulu. I just want to greet you. Pelan-pelan aku akan kembali dan ini masih permulaan. Jadi, nggk bisa janji banyak. Soal ff ini… karena sepertinya aku tidak akan buat special ff tentang tanggal pernikahan mereka, jadi moment ryeomin melompat setelah mereka nikah. Yang jelas semua tahu kalau mereka menikah.

Lalu aku mau mengucapkan terimakasih banyak untuk kalian semua yang selama ini masih mendukungku buat terus menghasilkan tulisan. Maafkan masih sering membuat kecewa dengan janji-janji yang sulit aku penuhi atau mungkin tulisan-tulisanku yang tidak sesuai harapan kalian. But, i really appreciate your support. Thank you so much.

See you again… soon. Bye

 

Advertisements

8 thoughts on “(Ryeomin Story) Their Married Life

  1. Ahhhh setelah sekian lama ,akhirnya ad jg ryeomin,
    Haaaahhh suka banget deh mah couple ini
    Bittersweat dehh,
    Aku selalu suka ma ff mu
    Jd q selalu menunggu karyamu yg lain
    Semangat……..

  2. Yeayy….. akhirnya sekian lama menunggu, akhirnya update juga..
    Berharapnya sih ada ff yang nyeritain pas mereka nikah nya.. yaaahh tapi nggak apa-apa lah.. yang penting eonnie masih suka nulis ff..
    Ditunggu kelanjutan Secret Guard, The Wedding, The Horde dan ryeomin story nya yaa.. Nggak apa-apa walaupun lama yang penting masih dilanjutin..
    Keep writing yaa eon.. Fighting 💪💪

  3. Pasangan ini kalau bertengkar suka gitu tapi abis itu lgsg sweet lagi. bikin baper😂😂😞
    aku msh nggu ff ff yg lainnya terutama secret guardnya loh😁 hehe

  4. Yeey~ eonni author ngepost ff lagi!! Senenggg…😊 ya kirain si minrin mau ngomongin apa… yee ternyata nyinggung soal wamil. Ya gitu sih… semua pun kaget yee… D-4 lagi.. yaudahlah yang terbaik buat oppa ajaa^^ hahaha betengkar-ryeowook gak pulang ke rumah malemnya-baikan-malah si ryeowook yang ditinggal minrin ke shanghai 5 hari ㄱㄱㄱㄱ ryeomin bangettt… semangat terus ya eonni author😉😀👍👍

  5. Ok di tunggu ff terbaru mu
    D_5 Wook go to wamil
    Udah jarang ada kabarnya
    Yg buat ff Wook makin gk ad
    Lengkap sudah penderitaan
    Wook bogoshipo

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s