The Horde [4. Big Quarrel]

The Horde 2

Title : 4. Big Quarrel| Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun | Genre : Action, Romance | Rating : PG 15 | Author : Whin

***

“Apa yang terjadi?” Minrin berjalan cepat menghampiri Ryeowook yang baru saja kembali. “Yenmei… wanita itu baik-baik saja? Seharusnya kau bilang kalau tadi ada detektif yang mengawasi.”

Rentetan pertanyaan yang dilontarkan Minrin itu sama sekali tidak menarik perhatian Ryeowook sedikit pun. Ya, benar terjadi sesuatu tadi. Ya, benar ia berbohong pada Minrin dengan tidak mengatakan tentang dua detektif yang mengintai mereka. Tapi itu semua bahkan bukan lagi masalah terbesar sekarang. Ada masalah yang lebih besar yang harus dipikirkan baik-baik jika mereka berempat ingin selamat.

“Dimana Kyuhyun?” tanya Ryeowook yang begitu saja melewati Minrin yang baru saja berdiri di depannya. Sikap yang tidak biasa yang membuat Minrin terheran dan nyaris meluapkan amarahnya.

Yaa, aku bertanya padamu. Setidaknya jawab pertanyaanku,” sergahnya kesal tapi tidak berusaha menghentikan Ryeowook dan memilih berdiri diam sambil menatapnya dengan kepala menggeleng-geleng heran.

Ryeowook menemukan Kyuhyun sedang duduk di sofa sedang menikmati semangkuk jajjangmyun pesanannya. Tanpa berbosa-basi dan masih dengan berbagai pikiran yang menyelimuti kepalanya, Ryeowook pun menghampirinya.

“Kau sudah kembali? Wah, kukira kau terjebak di sana tapi kelihatanya kau baik-baik saja.” Kyuhyun mengangkat kepalanya, memperhatikan Ryeowook lalu tersenyum padanya seakan-akan Ryeowook sedang bercanda padanya.

“Kau tahu jika itu tadi jebakan?”

“Apa maksudmu?”

Ryeowook menoleh ke arah Kyuhyun, menatapnya curiga. “Orang yang menyuruh kita membawa Yenmei ke Hanjae adalah perusahaan G.I.O, iya kan?” tanyanya tanpa berbosa-basi. “Dan alasan mereka melakukan itu untuk membunuhnya. Sama seperti para pesuruh yang di bandara. Mereka juga suruhan G.I.O.”

Kyuhyun menoleh lagi ke arahnya dengan terkejut karena Ryeowook mengetahui hal itu. Minrin yang baru saja bergabung hanya berdiri kebingungan.

“Darimana kau tahu?” tanya Kyuhyun kemudian. Laki-laki itu menegakkan posisi duduknya seketika. “Tidak peduli siapa mereka, kita hanya menjalankan tugas dan terima bayarannya. Kenapa mereka melakukannya, bukanlah urusan kita. Bukankah begitu?”

“Dan apa kau tahu jika mereka membunuh Yenmei?” tanya Ryeowook lagi kali ini dengan nada rendah yang penuh emosi.

“Apa maksudnya ini? Wanita itu dibunuh?” seru Minrin tidak mengerti.

“Mereka yang membunuh Yenmei bukan kita. Itu sudah di luar pekerjaan kita, untuk apa dipikirkan?” bela Kyuhyun lalu meremas mangkuk bekas jjangmyun miliknya dan membuangnya ke tempat sampah.

“Brengsek kau!” Dengan kasar Ryeowook menendang meja di depannya. “Apa kau tidak tahu itu sama saja kita membunuh orang?”

Emosi Kyuhyun terpancing setelah itu. “Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan ha?”

“Jika sampai terjadi sesuatu dengan kelompok ini. Semua salahmu!” desisnya kesal.

Kyuhyun tidak menjawab. Ryeowook tidak mempedulikannya dan langsung berjalan keluar dari ruangan itu. Minrin hanya memperhatikan sebentar pada Kyuhyun, tapi laki-laki itu menghiraukan tatapan penuh tanda tanya dari Minrin lalu mengabaikannya. Dan disitulah Minrin memilih pergi mengikuti Ryeowook.

***

Satu gelas vodka kembali habis diteguk Hyukjae begitu gadis di sampingnya menuangkannya untuknya. Haejin atau Sooyi, entahlah… Hyukjae tak ingat namanya. Kepalanya sudah mulai pening pertanda bahwa sudah terlalu banyak alkohol yang diminumnya. Satu gelas lagi mungkin akan berakibat ia berjalan sempoyongan sampai rumah atau mungkin jatuh tertidur begitu saja di club ini.

Pandangannya bertemu dengan sosok gadis berambut coklat panjang yang berdiri di tengah-tengah lantai dansa. Sosok yang entah kenapa masih diingat Hyukjae dengan baik meski dalam kondisi mabuk sekalipun.

“Han Eunji? Apa yang dilakukannya di sini?” gumamnya sendiri. Beruntung sekali satu gelas vodka tadi belum berakibat fatal pada sistem otaknya dan membuatnya berhalusinasi karena apa yang dilihatnya memang benar.

Han Eunji, si puteri Presiden yang menurutnya sedikit punya penyakit mental berdiri di sebuah club malam sendirian. Mungkin kabur seperti waktu itu lagi. Batin Hyukjae. Ia pun memutuskan berdiri dan berniat menghampirinya sebelum akhirnya satu tarikan lembut di lengannya menghentikkan gerakannya. Ia menunduk dan melihat wajah gadis yang tadi menemaninya merengut sebal.

Oppa, kau mau kemana?”

“Soo Yi, aku harus pergi. Kita lanjutkan nanti saja, hmm?” katanya lalu melepaskan cengkeramna lembut di lengannya itu.

“Soo Yi? Sampai kapan kau akan salah menyembut nama, ha? Dasar…,” gadis itu menggerutu tapi dihiraukan Hyukjae.

Apa Hyukjae mendengarya? Sepertinya tidak, karena dia terlalu fokus pada sosok Eunji yang berdiri diam seperti tengah mencari seseorang. Kepalanya bahkan menoleh ke kanan dan ke kiri, menyapu seluruh ruangan.

“Apa yang kau lakukan di tempat ini?” Hyukjae mengampirinya. Eunji mendongak dengan sedikit terkejut. Matanya menyipit pelan dan dahinya mengernyit heran. Mungkin ia sedang berpikir siapa gerangan orang yang berani-beraninya menghampirinya. Tapi tidak lama, karena setelah itu wajahnya memancarkan rasa lega seakan ia baru saja mendapatkan apa yang dicarinya selama ini.

“Si pria penolong,” ungkapnya tanpa di duga Hyukjae bahwa Eunji akan mengingatnya dengan baik.

“Kau mengingatku ternyata,” Hyukjae terkekeh sambil memamerkan senyumannya.

“Bagaimana mungkin aku lupa pada orang yang dua kali menolongku?” tatapan Eunji mengarah padanya. Tatapan yang jauh berbeda dari yang pernah dilihat Hyukjae dua kali sebelumnya. Lebih berani dan terlihat seperti kebanyakan gadis angkuh dan bukannya gadis dengan sakit mental seperti yang dilihatnya di halte bus.

“Kupikir kau akan melupakannya begitu saja.”

“Karena mengingatnya dengan baik yang akhirnya membawaku kemari,” ujarnya lagi yang justru kali ini membuat Hyukjae mngernyitkan dahinya bingung.

“Aku pernah melihatmu di tempat ini sebelumnya. Pria yang selalu dikelilingi gadis-gadis di sana. Ah… sebenarnya kau cukup terkenal di antara mereka.”

Hyukjae tersenyum mendengar hal itu, senyuman bangga sebenarnya. “Dan apa yang membuatmu datang kemari untuk mencariku?”

“Untuk satu kata terimakasih, satu pertanyaan dan satu jawaban. Apa itu cukup adil?”

Han Eunji berubah dari gadis lemah yang dikira Hyukjae tidak bisa melakukan apapun menjadi gadis dengan kepribadian yang jauh berbeda. Tidak ada gadis manja yang butuh pengawalan ekstra dari orang-orang yang ingin menyakitinya seperti terakhir kali Hyukjae berjumpa dengannya. Tapi di depannya sekarang ini adalah Han Eunji yang bertolak belakang dari semua sifat yang dipikirkan Hyukjae selama ini. Gadis angkuh, sedikit menyebalkan dan juga sombong.

Hyukjae tidak mengatakan apapun dan hanya menunjukkan jalan keluar dari tempat itu untuk menemukan satu tempat tenang yang bisa dijadikan untuk tempat bicara.Tak disangka Hyukjae karena, Eunji justru berjalan menuju satu ruang khusus vvip di club malam itu. Meski Hyukjae punya uang untuk menyewa tempat ini, ia belum pernah datang kemari. Ruangan itu berukuran 5×4 m dengan sofa besar dan meja di tengah. Jauh berbeda dengan keadaan di luar. Ruangan ini sepi dan jauh dari suara musik dj yang berdentum keras.

“Terimakasih karena menyelamatkan dua kali.” Eunji memulai setelah keduanya duduk saling berhadapan.

“Aku tahu ini terdengar gila, kenapa aku harus selalu menyelamatkanmu? Tapi baiklah, lupakan saja soal itu.”

“Aku tidak tahu apa alasanmu tapi aku benar-benar berterimakasih.”

Hyukjae menghembuskan nafasnya lalu tersenyum. “Baiklah. Lalu satu pertanyaan yang akan kau tanyakan dan jawaban yang harus aku berikan.”

“Bisakah kau terus melakukannya? Menyelamatkanku dan melindungiku,” katanya yang seketika itu membuat Hyukjae mengubah ekpsresinya menjadi serius. “Menjadi pengawal pribadiku. Aku tahu ini gila dan tidak masuk akal. Kau pasti terkejut, tapi aku terus memikirkannya. Meskipun aku tidak tahu siapa dirimu yang sebenarnya tapi aku ingin kau bekerja untukku.”

Sekitar dua detik Hyukjae hanya menatapnya. Detik berikutnya ia tersenyum keberatan dan di detik keempat ia menarik nafasnya. “Kau benar-benar lucu…, apa yang kau pikirkan dengan menjadikan orang asing untuk menjadi pengawalmu?

“Kau memang orang asing dan aku tidak tahu siapa dirimu. Tapi aku sudah melakukan sedikit penyelidikan tentangmu. Pria pengangguran yang senang sekali menghabiskan uang di club, bersenang-senang dengan para gadis. Aku bahkan bingung darimana kau dapat uang untuk menyewa gadis-gadis itu. Tapi lupakan saja… Kupikir itu cukup menjadi alasan bagimu untuk menerima tawaranku.”

“Dan, bagaimana kau berkesimpulan aku seorang pengangguran? Wah, apa yang kau katakan sedikit membuatku tampak menjadi orang tak berguna yang menjadi sampah masyarakat.”

Eunji mengulas senyum tipis yang sinis mendengar hal itu. “Para gadis itu yang mengatakannya padaku,” jawabnya.

Hyukjae mengangguk kecil. Diam-diam menarik nafas lega karena apa yang diketahui Eunji hanyalah informasi yang juga diketahui sebagian gadis di sini tentangnya. Itu berarti identitas aslinya masih aman.

“Baiklah, aku akan melakukannya. Itu jawaban dariku,” jawab Hyukjae tanpa berpikir banyak. Membuat Eunji yang duduk di depannya menampilkan ekspresi terkejutnya karena begitu mudahnya merekrut seorang Lee Hyukjae untuk menjadi pengawalnya.

“Tapi aku punya syarat,” ujar Hyukjae kemudian.

“Syarat? Syarat apa yang kau inginkan? Jika itu soal gaji, tidak perlu khawatir karena aku akan membayarmu tinggi.”

“Kau lagi-lagi memperlakukanku seperti sampah jika seperti itu, Nona. Syarat yang kuajukan adalah berhenti mencari tahu tentangku, itu membuatku tidak punya kehidupan pribadi. Ya… bagimu ini tak masuk akal, tapi aku tidak suka ada orang lain yang mencari tahu tentang kehidupanku. Maksudku, aku akan bekerja untukmu, menjadi pengawal pribadimu seperti yang kau katakan tapi berhenti menyelidiki latar belakangku untuk memeras atau mengancamku. Apa kau mengerti?”

Eunji tertawa kecil, pasti merasa jika syarat itu terdengar aneh untuknya dan tak biasa. “Apa aku terlihat seperti orang jahat yang akan mengancamu? Atau gadis yang tergila-gila padamu sampai-sampai ingin tahu tentang dirimu? Jangan terlalu percaya diri. Baiklah, tidak masalah. Lagipula aku juga tidak tertarik.”

“Oke, karena kita sudah sepakat.” Hyukjae mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Eunji tersenyum sekilas sebelum menyambut uluran jabat tangan itu.

“Siapa namamu? Aku Han Eunji, puteri satu-satunya Presiden Korea Selatan.”

Hyukjae juga tersenyum, berpura-pura menunjukkan keterkejutannya tapi tidak mengatakan apapun. Tak perlu diberitahu pun, ia sudah tahu siapa gadis di depannya ini.

“Mereka memanggilku Jae. Hanya Jae… senang berkenalan denganmu, Nona Han.”

***

“Kau dari mana Jae?” Minrin menginterupsi Lee Hyukjae yang baru saja kembali dan berjalan di depannya tanpa menghiraukannya. “Habis bersenang-senang dengan Soo Yi? Atau Haejin?” godanya yang berhasil membuat Hyukjae menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.

“Kenapa kau selalu ingin tahu? apa kau cemburu?” serangnya balik yang berakibat satu tatapan tajam dari Minrin dan lemparan gummy bear ke arahnya. Hyukjae langsung saja tertawa melihat hal itu.

“Wah, lihat… kau memang diam-diam selalu memperhatikanku.” Ia berjalan mendekati Minrin dan ikut duduk di sampingnya, menyenderkan tubuhnya rendah dan menghela nafas.

“Dalam pikiranmu.”

“Sudahlah, jangan mengelak. Sebenarnya kau menyukaiku kan? Awas hati-hati, dia bisa memutuskanmu jika sampai tahu.” Hyukjae terkekeh, menunjuk Ryeowook dengan ekor matanya yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Aroma mint seketika itu menguar membuat Minrin menolehkan kepalanya dan melihat Ryeowook dengan rambut basahnya dan handuk putih yang melingkar di lehernya. Setengah jam yang lalu pria itu berdebat hebat dengan Kyuhyun. Minrin bahkan tidak berhasil menengahi. Dan sekarang dua orang itu bersikap berpura-pura tak peduli. Hanya Hyukjae tentu saja yang tidak tahu masalahnya.

“Berhentilah bicara dan makan ini.” Minrin bangkit dari tempat duduknya, melemparkan satu bungkusan besar gummy bear ke dada Hyukjae, lalu berjalan mengikuti Ryeowook.

“Apa yang mau kalian lakukan di dalam sana, ha?” teriaknya.

Minrin tentu saja tidak menghiraukannya. Hyukjae mendengus kesal tapi hanya terkekeh. Ia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Cho Kyuhyun yang duduk diam dengan tangan terlipat di depan dereten komputer kesayangannya.

“Ada apa denganmu, Cho?” tegurnya.

Kyuhyun tidak mendengarnya atau sebenarnya berpura-pura tidak mendengarnya dan memilih mengabaikan Hyukjae.

“Lihat…. lihat… komputermu rusak atau apa? Jaringanmu berhasil ditembus hacker lain? Atau gadis yang kau sukai baru saja selingkuh?”

Satu lirikan tajam dari Kyuhyun berhasil dilemparkan pada Hyukjae dan membuat pria itu diam.  “Jangan menggangguku sekarang, Jae. Aku butuh berpikir.”

“Aku tidak menganggu hanya bertanya.  Berpikirlah, lanjutkan saja….” Setelah mengatakan itu ia pun beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamarnya.

“Dasar… seperti dia pernah berpikir saja,” gerutunya

***

Minrin mendapati Ryeowook duduk tertunduk di kursinya. Ruangan yang sempit yang hanya mendapatkan penerangan dari lampu tidur yang dibiarkan menyala. Sileut bayangan pria itu begitu menyedihkan sama seperti orangnya. Minrin tidak tahu juga tidak mengerti.

“Kenapa kau semarah itu pada Kyuhyun? Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya,” tegurnya setelah beberapa saat hanya memperhatikan.

Kyuhyun memang salah karena tidak mendiskusikan sebelumnya pada yang lain jika orang yang menyuruh mereka mengamankan Yenmi adalah pihak G.I.O tapi bukankah tidak ada yang salah dengan pekerjaan yang baru saja mereka selesaikan?

“Hei, aku tahu dia salah tapi apa yang dikatakannya benar. Orang yang membunuhnya bukan kita tapi mereka.”

Ryeowook mendongakkan kepalanya untuk pertama kalinya setelah itu. “Dan apa kau tidak berpikir siapa itu G.I.O?”

“Apa?”

“Mereka bukankahlah orang sembarangan. Kali ini kita bisa saja terseret pada kasus pembunuhan Yenmei.  Dan jika itu terjadi si sialan Kyuhyun itu yang harus bertanggung jawab,” desisnya pelan dengan emosi yang ditahannya lalu beranjak berdiri.

Minrin menggapai lengannya dengan cepat saat dia berjalan melaluinya. “Apa terjadi sesuatu tadi?” tanyanya menyelidik.

Minrin tidak yakin, tapi sikap Ryeowook yang mendadak sangat marah menjadi tanda tanya besar di kepalanya. Dulu mereka juga nyaris terjebak dalam masalah serupa saat di Rusia, tapi Ryeowook tidak semarah ini. Bahkan dia sendiri yang pernah mengusulkan untuk melarikan diri dengan identitas baru setelah itu. Jadi kenapa ini harus menjadi masalah besar? Kecuali terjadi sesuatu saat Ryeowook berada di dalam rumah itu tadi.

“Tidak ada,” jawabnya lemah lalu menurunkan tangan Minrin di lengannya dan berlalu pergi.

***

Kedua pria itu masih belum saling bicara bahkan sampai malam beranjak. Untuk pertama kalinya, Hyukjae menyadari tingkah kedua temannya itu. Tatapan penasarannya mengarah pada Kyuhyun yang masih setia di depan komputernya lalu beralih pada Ryeowook yang duduk tenang dengan ponsel di tangannya.

“Ada apa dengan kalian sebenarnya? Seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Astaga…..”

Minrin muncul tepat setelah itu. Menghela nafasnya lemah dan berjalan menghampiri Hyukjae, menarik lengannya. “Jangan ganggu mereka! Salah satu dari mereka sedang marah dan yang lain tidak tahu caranya minta maaf. Lupakan saja, ayo pergi!” ajaknya kemudian.

“Tidak! Kalian tetap di sini.” Ryeowook menyergahnya dengan suara rendahnya, membuat Hyukjae tidak jadi berdiri dan Minrin menatap ke arahnya.

“Ada apa dengan kekasihmu, ha?” lirihnya pada Minrin. Dan gadis itu hanya menggeleng pelan. Ia sendiri juga tidak paham apa yang dipikirkan Ryeowook.

Hening untuk beberapa saat sampai akhirnya dering ponsel yang terdengar asing menggema di ruangan itu. Hanya satu orang pemilik banyak ponsel di rumah itu. Lee Hyukjae mengambil benda putih berlayar  5 inchi dari sakunya lalu berdehem pelan.

“Hmm… kurasa kalian selesaikan sendiri saja masalahnya. Aku harus pergi,” katanya.

“Kau mau pergi ke mana, Jae?” tegus Minrin tapi Hyukjae tidak menjawab dan hanya melambaikan tangannya sambil menerima panggilan di teleponnya.

Lalu tinggal lah mereka bertiga yang diselimuti keheningan. Minrin berdehem memecah keheningan setelah itu. “Jadi, apa solusinya? Jika yang jadi masalah di sini adalah kemungkinan kita terseret kasus pembunuhan, kita bisa pergi dari sini. Maksudku kita kabur seperti biasanya. Perancis, Swiss, Finlandia, Afrika selatan atau Mexico? Bukan ide yang buruk kan?”usulnya.

“Kita masih punya pekerjaan di sini, mana bisa pergi begitu saja?” Kyuhyun bersuara pelan setelah itu. Terlihat pria itu menghela nafasnya lemah.

Dan satu-satunya orang yang lebih bingung di antara mereka adalah Ryeowook. Karena bagaimana pun juga ia satu-satunya yang terancam di sini. Ancaman untuk menuruti perintah G.I.O untuk membawa Eunji pada mereka untuk dibunuh jika tidak ingin berakhir sebagai tersangka pembunhan. Ia bisa saja menolak, tapi tolakan yang diberikan justru akan berakibat fatal untuk semuanya, untuknya, Minrin, Hyukjae dan juga Kyuhyun sendiri.

“Saranku, kita selesaikan masalah Eunji dan aku akan mempersiapkan identitas baru untuk kita. Finlandia, Swiss atau dimanapun itu bisa diatur nanti.” Kyuhyun kembali menjelaskan.

“Baiklah, kurasa itu jalan yang terbaik sekarang.” Minrin mengangguk setuju. Sedangkan Ryeowook memilih diam.

Ekspresinya berubah serius ketika satu pesan masuk ke dalam ponselnya setelah itu. Tidak ada yang menyadari perubahan itu dan sebelum ada yang menyadari ia pun langsung memasukkan kembali benda canggih itu ke dalam sakunya.

***

Mobil yang Ryeowook kendarai melaju santai di jalanan malam itu. Sikapnya yang mendadak pendiam mau tidak mau membuat Minrin menolehkan kepalanya ke samping dengan heran.

“Apa lagi yang kau pikirkan, ha? Kita sudah membicarakan masalahnya tadi, solusinya juga sudah disepakati. Ada hal lain lagi?” tanyanya.

“Tidak ada. Pastikan kau memberitahu Hyukjae tentang masalah tadi,” ujarnya.

Aigoo, lihatlah dirimu. Aku tidak tahu kenapa tapi aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti ini. Selalu memendam masalahmu sendiri. Kau memikirkan sesuatu, iya kan? Soal apa? Coba beritahu aku.”

Terkadang tidak semua masalah bisa diungkapkan Ryeowook. Meskipun mereka berempat sudah bersahabat lama sekalipun. Mobil yang dikendarainya menepi kemudian di rest area. Lalu ia pun menoleh pada Minrin. Dihelanya nafas dengan pelan, terlihat tidak focus, seperti banyak hal yang sedang dipikirkannya dan tentu saja Minrin menangkap hal itu.

“Ryeowook-ah….,”

“Maafkan aku,” katanya tanpa diduga lalu ia pun menarik kepala Minrin mendekat dan mencium bibirnya.

Yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah menutup matanya, menerima dengan bingung ciuman yang sedikit terburu-buru itu. Tidak seperti biasanya. Pria itu bahkan tidak memberi kesempatan untuk Minrin membalas. Yang dilakukannya hanyalah terus mengecup, mengulum dan mengambil yang dibutuhkannya. Kepalanya sedikit menjauh setelah beberapa saat, meninggalkan bibir gadis itu sedikit ruam karena ulahnya.

Tidak ada kalimat penolakan atau ketidakterimaan dari Minrin. Gadis itu hanya menatap Ryeowook. Bingung dan juga penasaran.

“Aku tidak mengerti,” ujarnya memberi kesempatan untuk Ryeowook menjelaskan semuanya. Jelas ada yang dipikirkan pria itu.

“Kau pulang sendiri hari ini. Aku ada sedikit urusan.” Tanpa menjelaskan, Ryeowook menyentuh kepala Minrin, mengecup bibirnya sekali lagi lalu turun dari mobil.

Tidak terima, Minrin pun bergegas ikut turun. Bagaimana bisa dia pergi begitu saja? Sedikit belari ia pun mengejar Ryeowook yang sudah berjalan di depan. “Yaa…!” sentaknya sambil menarik lengannya.

“Terjadi sesuatu padamu. Iya kan? Katakan padaku, apa yang terjadi?” desaknya.

“Aku akan menjelaskannya nanti. Lebih baik kau pulang.” Ryeowook melepaskan cengekraman tangan Minrin dan kembali berlalu pergi.

Yaa…! Kim Ryeowook…”

Teriakannya sia-sia karena Ryeowook sama sekali tidak berbalik ataupun menoleh ke belakang, membuat Minrin semakin dibuat bingung kahwatir dan juga kesal di saat yang bersamaan. “Aissh.… sialan! apa yang dipikirkannya?”

Dering ponsel di saku mantelnya menginterupsinya setelah itu. Panggilan dari Cho Kyuhyun yang bisa dibilang datang di saat yang sangat tepat.

Yaa, Cho! Beritahu aku sebenarnya apa yang terjadi padamu dan Ryeowook?” amuknya.

Karena sikap Ryeowook berubah sejak insiden di rumah Jepang saat Yenmei terbunuh, lalu kekasihnya itu marah besar pada Kyuhyun begitu kembali dan Minrin berpikir jika Kyuhyun tahu sesuatu.

“Kenapa kau berteriak padaku?”

Kyuhyun yang menjawabnya dengan nada tinggi mau tidak mau membuat Minrin terpancing emosi, tapi langsung memejamkan matanya dan mengatur deru nafasnya. Tidak seharusnya ia marah, Kyuhyun mungkin saja juga menjadi korban pelampiasan Ryeowook ketika itu.

“Dia baru saja pergi. Aku tidak tahu kenapa. Kupikir ini karena masalahnya denganmu,” katanya kemudian dengan nada yang lebih pelan.

“Kita bicarakan itu nanti saja. Sekarang pergilah ke Gangnam, Hyukjae butuh bantuan di sana,” katanya.

“Ya, baiklah. Aku tahu….” Setelah itu panggilan terputus.

Minrin yang awalnya ingin mengejar Ryeowook yang sekarang bahkan tak terlihat ke mana perginya, akhirnya kembali ke mobil dan melaju menuju tempat yang tadi Kyuhyun katakan.

***

Bangunan etalase toko di sepanjang jalan yang biasanya dipenuhi kalangan anak muda terlihat begitu kokoh berdiri di kanan kiri. Pemandangan yang sangat menarik bagi Eunji tapi tidak berlaku untuk Hyukjae. Pria itu tidak habis pikir dan nyaris meluapkan kekesalannya pada gadis yang bersikap semaunya itu.

Beberapa saat yang lalu, ia mendapat telepon dari Eunji yang memintanya untuk menjemputnya di depan kediaman rumah keluarga Presiden. Tebak apa yang dilakukan gadis itu? kabur dari penjagaan untuk yang kesekian kalinya. Setidaknya bukan itu yang dikatakannya pada Hyukjae. Eunji hanya mengaku ingin jalan-jalan tanpa banyak pengawal di kanan kiri. Lalu melihat wajahnya yang memelas seperti puteri kerajaan yang tidak pernah menyentuh kebebasan pada akhirnya meluluhkan Hyukjae seketika itu.

“Oh… aku tidak tahu mereka sudah menjual barang-barang itu di sini.” Kedua mata Eunji menatap sepatu high heels di depannya dan Hyukjae hanya mendesis pelan di belakangnya.

“Bukankah kau bisa mendapatkannya yang lebih bagus? Tanpa harus datang kemari.” Hyukjae menyahut setelah mendecakkan lidahnya singkat.

“Bukan itu masalahnya. Aku harus order untuk mendapatkan sepatu itu dan lihatlah, barang itu sudah bermunculan di toko-toko ini. Aku beli dengan harga yang mahal dan mereka menjualnya dengan harga yang lebih murah.”

“Dasar… wanita!” keluh Hyukjae lirih. Beruntung Eunji tidak mendengarnya.

Tepat saat itu Hyukjae memutar kepalanya ke kiri dan mendapati seorang pria berusia sekitar 30 tahunan yang sedang memegang ponsel dengan gelagat mencurigakan. Jelas sekali pria itu memperhatikan Eunji dengan diam-diam.

“Ya ampun…., apa mereka tidak punya rencana yang lebih baik selain menguntit orang seperti ini? Merepotkan sekali…,” dengusnya lirih. “Hei, Nona Han!” panggil Hyukjae kemudian.

“Hmm… wae?” Eunji menoleh dengan santai.

Hyukjae hanya tersenyum lalu berjalan menyamakan langkah tepat di sampingnya, merangkulkan tangannya di pundak Eunji dan berbisik padanya. “Aku menyarankan kita untuk pergi dengan santai ke ujung jalan itu,” katanya.

“Kenapa?”

“Aku hanya menyarankan saja, jika kau tidak ingin mati karena sesak nafas seperti waktu itu,” ujarnya lagi yang seketika itu langsung membuat Eunji paham.

“Kau serius?”

“Apa aku terlihat bercanda?”

“Tidak.” Eunji menggeleng pelan lalu menarik nafasnya. “Berapa banyak?”

“Dua… atau mungkin lima. Bisa saja lebih banyak dari itu.”

Aissh, sialan!”

Tidak lagi banyak bertanya, Eunji pun berjalan kembali dengan santai masih membiarkan Hyukjae yang merangkul pundaknya. Oh ya… setidaknya hal itu bisa sedikit mengurangi kecurigaan jika mereka berdua telah menyadari kehadiran orang-orang itu.

Belum mencapai belokan ujung jalaan yang dimaksud Hyukjae, seseorang menarik pergelangan Eunji dengan cepat seperti angin. Hyukjae bahkan dibuat terkejut karenanya. Ia seperti baru saja menghadapi orang dengan ilmu bela diri bak hantu yang datang tiba-tiba dan bergerak tanpa disadari.

Yaa…!” teriaknya seketika begitu melihat Eunji dibekap mulutnya dan ditarik dengan paksa menuju gang sempit di samping mereka. Jauh dari keramaian menjadi kesialan yang sangat berarti bagi Hyukjae. Dengan cepat ia berlari mengejarnya. Lebih dari lima orang menghadang di depannya begitu Eunji dibawa pergi oleh orang-orang itu.

“Brengsek…!”

Tidak ada pilihan bagi Hyukjae selain menghadapai mereka satu persatu. Satu tendangan mengarah padanya yang berhasil dihindari. Begitu juga pukulan yang hampir membuat ulu hatinya terhantam. Ia membalas memberi tendangan ekstra keras setelah memutar tubuhnya. Satu pria terjatuh tak berdaya karena tendangannya. Meskipun ia jago bela diri setidaknya terbaik diantara mereka berempat tapi menghadapi lawan yang jauh lebih banyak darinya, tentu membuatnya kesulitan. Ia kalah jumlah. Ia bahkan terpojokkan di dinding gedung berusaha mencari jalan keluar. Lalu tiba-tiba seorang datang membantunya. Satu pria di paling belakang jatuh tiba-tiba setelah beberapa pukulan diterimanya.

Hyukjae melihat Ryeowook yang menatap ke arahnya. “Apa kau akan tetap berdiri diam di sana?”

“Wah apa yang membawamu kemari dan berkelahi, ha? Masalahmu dengan Kyuhyun sudah selesai?” Merasa mendapat bantuan, Hyukjae pun ikut tersenyum lega. Diangkatnya satu tong sampah di sampingnya dan melemparnya pada mereka.

“Sebenarnya itu juga masalah untuk kita semua.” Ryeowook melompat ke sebuah tangga, berputar dengan bergelantungan di pinggiran tangga lalu menendang kepala seorang pria dengan kedua kakinya.

“Apa yang kau bicarakan?”

Ryeowook tidak menjawab dan terus bekelahi dengan mengerahkan semua tenaganya. Seakan-akan ia melampiaskan semua kekesalan dan kemarahan dalam hatinya melalui adu fisik itu.

Hyukjae hendak berlari mengejar saat hanya tersisa dua orang yang mampu berlari menuju sebuah mobil yang menanti, tapi dengan cepat Ryeowook menahan lengan Hyukjae.

“Apa yang kau lakukan, ha? Kita harus menyelamatkan Eunji,” katanya tapi Ryeowook menolak.

“Biarkan saja!”

Mwo?”

“Biarkan saja mereka membawanya!” katanya.

“Yaa, mereka membawa klien kita bodoh!” teriaknya pada Ryeowook.

Ryeowook masih berusaha menahan Hyukjae dan Hyukjae sendiri langsung menyentakkan tangannya keras, berbalik dan menatap Ryeowook. “Apa kau sudah gila? Jika mereka membawa pergi Eunji misi kita gagal. Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu?” cerocosnya tak mengerti.

“Meskipun dia tidak dibawa pergi pun, kita sendiri yang pada akhirnya membawa gadis itu ke sana.”

“Apa? Apa yang kau bicarakan, ha?”

“Jae…, mereka adalah G.I.O orang yang sangat berkuasa. Bagaimana bisa kita melawan mereka?”

“Ini bukan kau yang biasanya. Kenapa kau jadi seperti ini? Memangnya kenapa kalau mereka orang berkuasa?”

Hyukjae mendorong Ryeowook untuk menyingkir tapi Ryeowook kembali menarik paksa pundaknya untuk berhenti. “Dengar, mereka baru saja membunuh Yenmei. Dan kita bisa dijadikan tersangka pembunuhan jika kita tidak menyerahkan gadis itu.”

Mwo?”

“Jadi, biarkan mereka membawanya pergi.” Ryeowook menurunkann tangannya dengan lemah dan mulai mengatur nafasnya yang tak beraturan.

Hyukjae diam sesaat sampai akhirnya ia teringat janjinya pada Eunji. Bagaimana bisa ia membiarkan gadis itu mati? Entah apa yang telah terjadi pada Ryeowook, tapi Hyukjae tidak akan membiarkan Eunji mati di tangan mereka.

“Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi, tapi aku tidak akan membiarkan mereka membunuhnya,” katanya lalu berlalu pergi. Ryeowook kembali menahannya kali ini dengan lebih kasar.

Yaa…!!! kita akan hancur jika kau menyelamatkan gadis itu,” teriaknya tapi tidak dihiraukan Hyukjae. Merasa teriakannya tak berguna Ryeowook pun terpaksa memukul keras wajah Hyukjae yang langsung dibalas Hyukjae dengan pukulan serupa. Pukulan yang lebih keras yang berhasil merobek ujung bibirnya. Tepat saat itu Minrin berlari dari mobilnya dengan tergesa-gesa dan melerai keduanya.

Yaa, hentikan! Apa yang kalian lakukan, ha?” teriaknya.

Tapi kedua pria itu tidak berhenti dan saling mengalahkan. Hyukjae berhasil memukul Ryeowook hingga terjatuh ke tanah.

“Setidaknya menjadi tersangka pembunuhan masih lebih baik daripada menjadi pembunuh sungguhan,” ucapnya. Dia menoleh ke arah Minrin lalu menarik tangannya.

“Di mana mobilnya? Kita harus pergi menyelamatkan Eunji.”

“Bagaimana dengan Ryeowook?” Minrin yang masih tidak mengerti, hanya menoleh melihat Ryeowook yang terduduk di tanah sambil mengelap ujung bibirnya.

“Jae…!”

“Biarkan saja dia agar memikirkan kesalahannya.” Lalu Hyukjae pun terus menyeret Minrin menjauh dari Ryeowook yang hanya menatap keduanya.

***

CUT

 

Advertisements

6 thoughts on “The Horde [4. Big Quarrel]

  1. Makin ramee… Kenapa di cut?? Huwaaaa
    Kenapa semua ff nya makin keren???
    The wedding.. Secret guard.. The horde.. Makin keren… Ditunggu kelanjutannya yaa. Please jangan terlalu lama..

  2. Makin seruuu..tp kok malah cut..jd mkin penasaran..beheh..dtunggu lanjutannya segera yam..yg secret guard jg..udh g sabr nih pgn bc lnjutannya secret guard..hehee..gomawo

  3. Bhaakkk greget!!!!! Lagi lagi kasian sama ryeowook yang harus terjebak di antara dua pilihan😂 kayaknya dia kalo gak digebuk ya disuruh milih dua pilihan ahahhaa
    Kereenn!! Selalu suka dah sama ff apapun yg di update bikin greget, penasaran sama reaksi minrin & hyukjae berikutnya.
    Ditunggu kelanjutannya fighting! ‘-‘)9

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s