(Special Project) Poom

53495174201212072240252353726880564_000

Title : Poom (Embraces) | Cast : Kim Ryeowook | Genre : Family | Length : Ficlet (1644 words) | Rating : 13 | Author : Whin

Jangan menangis,

Tersenyumlah dengan bahagia untukku

***

Suara getar ponsel di atas meja kayu itu sekali lagi dihiraukan Kim Ryeowook. Tiga kali sudah benda layar sentuh itu menyala karena pesan yang masuk. Tiga kali juga Ryeowook mengabaikannya. Fokusnya masih saja tertuju penuh pada layar di depannya. Sesekali ia mencoret-coret bukunya, membenahi bagian yang menurutnya salah dan kemudian tenggelam kembali dengan kegiatannya menciptakan lagu.

Pesan keempat datang tepat ketika laki-laki itu merenggangkan ototnya yang terasa kaku karena lama bekerja. Dengan sedikit enggan ia pun meraih benda putih itu dari mejanya, memperhatikan sejenak layar itu yang kini menampilkan pesan singkat dari seseorang. Bukan pesan dari kekasihnya yang akhir-akhir ini sering menyuruhnya untuk tidak bekerja dengan keras, melainkan sosok lain yang sedikit dilupakan Ryeowook juga selalu mengkhawatirkannya.

Ryeowook-ah, bagaimana keadaanmu? Apa semua baik-baik saja? Kau jarang menghubungi kami, jadi aku sedikit khawatir.

Apa kau sudah makan? Jangan terlalu banyak bekerja. Perhatikan juga kesehatanmu. Aku tidak mau melihatmu sakit lagi seperti waktu itu? Jika kau tidak sempat untuk memasak, setidaknya pesanlah sesuatu untuk dimakan. Atau kau ingin aku membuatkan makanan kesukaanmu dan mengantarnya ke rumahmu?

Kapan kau akan pulang ke sini? Sudah sangat lama kau tidak datang. Pulanglah akhir pekan ini. Bagaimana bisa kau lebih sering menghabiskan waktumu dengan kekasihmu dibandingkan dengan ayah dan ibumu, ha?

Ryeowook-ah, Kau pasti sibuk sampai tidak sempat membalas pesan. Maafkan eomma jika mengganggumu. Saranghae.

Ryeowook terdiam membaca pesan bertubi yang baru saja dikirimkan ibunya itu. Lalu sebuah perasaan bersalah tiba-tiba mencengkeram dadanya kuat, menyadarkannya dan juga menampar dirinya dengan keras. Wanita itu pasti sedang merindukannya sampai-sampai mengirim banyak pesan seperti ini. Ia menghela nafas berat begitu menyadari bahwa ucapan ibunya memang benar. Sudah berapa bulan ia tidak datang berkunjung ke rumah orangtuanya? Tiga bulan? Ah… bukan, sudah hampir enam bulan sepertinya. Waktu berjalan tertalu cepat dan membuatnya lupa kapan terakhir kali melihat kedua orangtuanya.

Begitu bodohnya ia sampai-sampai tidak ingat kapan terakhir kali datang berkunjung untuk memberi hormat pada dua orang yang berjasa untuknya itu. Biasanya jika sudah seperti itu ia akan menyalahkan pekerjaannya. Pekerjaan yang memang terlalu banyak menyita waktunya. Dulu, saat ia baru saja pindah ia akan datang menemui ibunya setiap akhir pekan. Tapi seiring berjalannya waktu satu minggu sekali berubah menjadi satu bulan sekali, satu bulan sekali berubah menjadi tiga bulan sekali dan akhirnya selama satu tahun ia hanya bisa berkunjung sebanyak tiga kali saja. Semakin lama, intensitas pertemuan itu pun semakin berkurang. Ryeowook lebih sering berbicara melalui telepon dengannya, itu pun jika ia punya waktu yang cukup luang.

Lalu setelah sekian lama tidak datang, setelah dua minggu Ryeowook terakhir kali menghubungi ibunya, kini untuk pertama kalinya ibunya itu memintanya untuk pulang

***

Setelah akhirnya menyelesaikan semua pekerjaannya, Ryeowook pun memutuskan untuk pulang. Ia bahkan membatalkan janjinya bersama kekasihnya. Apalah yang lebih penting dibandingkan bertemu dengan ibunya yang sudah lama tak ditemuinya? Meskipun sejujurnya, Ryeowook punya sederet alasan yang masuk akal untuk menolak permintaan ibunya itu. Tapi tidak dilakukannya. Mengingatnya terus menerus, akan membuatnya merasa bersalah. Dan seiring hadirnya perasaan itu, maka Ryeowook akan merasa sangat merindukannya. Pada akhirnya, ia benar-benar tidak ingin terjebak dalam perasaan yang justru menyakitinya itu.

Senyum lebar lengkap dengan binaran mata menyambut Ryeowook ketika ia menginjakkan kembali kakinya di rumahnya setelah sekian lama. Lalu seketika itu seakan seluruh tubuhnya berteriak bahagia. Bagaimana ia tidak bahagia ketika bisa melihat kembali senyum menenangkan yang terukir dari ibunya? Seakan, wanita itu baru saja menghilangkan seluruh stress dan beban pikiran yang dirasakannya.

Ryeowook tersenyum, memperhatikan ibunya itu dengan seksama. Kerutan-kerutan di wajah wanita itu semakin kelihatan membuat Ryeowook tersadar setiap waktu yang dihabiskannya tanpa melihat ibunya ternyata menggerus secara perlahan usia wanita itu. Ryeowook menghampirinya lalu memeluknya erat. Memeluk ibunya yang sudah lama tak ditemuinya. Pelukan hangat yang tentu saja sangat dirindukannya.

Jaljinaeso, eomma?” tanyanya pelan, sama sekali tidak menyembunyikan betapa senangnya ia bisa memeluk dan dipeluk ibunya seperti ini.

“Kau benar-benar anak nakal. Kapan terakhir kali kau datang, ha?” wanita itu segera melepaskan rengkuhannya, menatap Ryeowook dan pancaran kerinduan dari matanya benar-benar tidak bisa disembunyikan lagi, meskipun wanita itu baru saja memarahi anak satu-satunya yang lama tak pulang untuk menemuinya.

Mianhae, eomma.” Ryeowook tersenyum lagi. Ibunya tidak mengatakan apapun dan hanya menggerakan tangannya untuk menarik Ryeowook masuk ke dalam.

Tidak pernah ada perubahan yang berarti dari rumah ini sejak Ryeowook meninggalkannya 10 tahun yang lalu. Masih tetap sama dan bahkan keadaannya masih sama persis seperti terakhir kali Ryeowook datang. Dan kembali ke rumah selalu menjadi hal yang membahagiakan untuknya. Melihat ayah dan ibunya sekaligus melihat kembali kenangan masa lalu yang pernah dibuatnya di rumah ini bertiga bersama orangtuanya.

Ayahnya tengah duduk di sofa, menikmati secangkir teh sembari menyaksikan tayangan berita. Masih juga keadaan yang dulu. Laki-laki itu juga memeluknya begitu melihat kedatangannya. Pelukan yang sama hangatnya seperti dulu. Mungkin karena ia anak tunggal hingga rasanya baik ayah ataupun ibu, keduanya sangat dekat dengannya. Tapi yang paling dirindukan dari semua hal di rumah ini tetaplah ibunya. Wanita yang diam-diam selalu mengkhawatirkan keadaannya. Wanita yang tidak pernah lelah mengirimnya pesan untuk mengingatkannya tentang menjaga kesehatan.

Jadi, pada akhirnya kesempatan malam itu benar-benar digunakan Ryeowook untuk berbincang banyak hal dengan ibunya. Ayahnya yang sepertinya paham, bahwa isterinya itu sedang sangat merindukan anaknya memilih untuk menyingkir. Lagipula, Ryeowook masih punya banyak waktu sebelum kembali ke Seoul yang berarti masih banyak waktu pula yang nanti bisa digunakannya untuk bercakap dengan ayahnya.

“Kau terlihat kurus sekarang. Apa kau sungguh-sungguh membaca pesanku dan tidak mengabaikannya?” Nada suaranya sedikit kesal tapi tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

Eomma, aku tidak pernah tidak membaca pesanmu. Aku hanya sangat sibuk sampai-sampai jadwal makanku tidak teratur,” jawab Ryeowook menenangkannya. Tangannya menggenggam tangan ibunya dengan hangat. “Daripada mengkhawatirkanku, sebaiknya eomma mengkhawatirkan kesehatan eomma sendiri, hmm?”

“Bagaimana bisa aku mengkhawatirkan diriku sendiri saat aku tidak tahu bagaimana keadaan anakku sendiri?” tukasnya cepat berpura-pura marah yang langsung membuat Ryeowook kembali tersenyum.

Beribu kata tidak akan pernah cukup untuk mengambarkan betapa ia sangat berterimakasih pada sosok di depannya ini. Seseorang yang tidak pernah lelah mengkhawatirkannya, seseorang yang dengan senang hati memeluknya sejak dulu bahkan sampai sekarang. Bagaimana bisa Ryeowook melupakan semua itu? Bagaimana bisa ia melupakan sosok ibunya ini? Tidak pernah. Sedetik pun tidak pernah. Meskipun ia jarang menemuinya, tapi bukan berarti Ryeowook melupakannya.

Setiap malam, ketika ia tengah mencoba untuk tidur bayangan yang muncul di pikirannya selalu sosok ibunya. Setiap itu juga lah, ia selalu menerka-nerka apa yang tengah ibunya lakukan sekarang ini, apa dia tersenyum bahagia sepanjang hari ini? Apa dia baik-baik saja? Lalu semua itu perlahan mengingatkannya pada masa ketika ia masih kecil. Ketika ia tertawa tanpa beban dan ibunya ada di sampingnya, atau ketika ia menangis karena terjatuh, ibunya akan memeluknya sambil berbisik lembut menyuruhnya untuk berhenti menangis. Bahkan ia juga ingat saat ibunya menyeretnya pulang karena membuat anak tetangga menangis. Tidak pernah terhitung berapa banyak hal yang pernah dilaluinya bersama wanita itu. Dia segalanya untuk Ryeowook.

“Aku janji akan sering-sering datang. Melihat eomma seperti ini membuatku semakin bersalah,” katanya perlahan, mencoba untuk bercanda tapi entah apa yang ibunya pikirkan karena wanita itu tiba-tiba menunduk dan terisak pelan.

“Maafkan eomma, Ryeowook-ah.” Suara isak tertahan yang semakin terdengar menyesakkan. Rasanya seperti ribuan jarum yang tiba-tiba menancap bersamaan di dada Ryeowook, membuatnya langsung terdiam sembari menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.

“Kenapa eomma yang minta maaf? Seharusnya aku yang mengatakan hal itu.”

Sungguh rasanya sangat perih, mengiris seluruh pertahanannya. Kedua matanya nyaris meneteskan air mata, tapi Ryeowook berusaha keras menghalaunya. Tidak lagi ia ingin membuat ibunya merasa khawatir. Jika dulu ia yang menangis dan ibunya yang akan memeluknya,maka sekarang yang harus dilakukannya adalah memeluk ibunya saat wanita itu menangis.

“ Aku berpikir jika kau mungkin tidak mau lagi datang kemari dan itu membuatku sangat takut.”

Eomma….”

Ibunya dengan cepat melepaskan pelukan Ryeowook padanya, menghapus air matanya cepat dan buru-buru menyembunyikan segala kesedihannya melalui senyumnya. “Bagaimana pun juga, setidaknya kau membalas pesanku. Kau juga harus sering-sering menelepon kami. Aku merasa kehilangan anakku jika kau bersikap seperti itu, Ryeowook-ah.”

Eomma, apa yang kau bicarakan, hmm? Bagaimana bisa pemikiran itu ada di benakmu?”

Begitulah ibunya. Orang yang terkadang akan menyimpan sendiri kekhawatiran dan kesedihannya.

Ibunya diam sesaat, tidak menjawab begitupun Ryeowook yang hanya memperhatikan wajah ibunya itu. “Aku sudah pernah menjadi seorang anak dan orangtua, tapi kau baru merasakan posisi sebagai seorang anak dan kau mungkin juga tidak mengerti perasaan para orangtua pada anak-anak mereka. Saat aku seumuran denganmu, aku berpikir kalau aku mengerti bagaimana perasaan ibuku, tapi saat aku benar-benar menjadi seorang ibu aku baru mengerti bagaimana perasaannya yang sebenarnya.”

Tidak ada ucapan apapun dari Ryeowook setelah itu. Rasanya ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Ibunya benar. Saat ini ia berpikir sudah mengerti perasaan ibunya. Rasa bersalah dan terimakasih, semua anak memiliki perasaan itu pada ibu dan juga ayah mereka. Tapi saat posisimu benar-benar berada di posisi orangtua, maka pada saat itulah kau akan berpikir bahwa pemikiran mudamu tentang mengerti perasaan orangtua itu tidak ada apa-apanya.

Ia bergerak memeluk ibunya lagi. Wanita itu langsung membalasnya. Pelukan ibunya selalu menjadi yang terhangat. Dan tiba-tiba saja ia sangat ingin bermanja-manja lagi dengan ibunya seperti saat masih kecil. Tidur di pangkuannya, atau menyenderkan kepalanya di bahunya. Semua itu tiba-tiba hadir di depan matanya, membuatnya semakin merindukan saat-saat itu.

“Akan kuberitahu sesuatu padamu, eomma. Aku memang bertambah dewasa sekarang tapi saat kau memelukku seperti ini rasanya ketidakdewasaanku tertinggal. Aku merindukanmu, maafkan anakmu ini.”

“Tsk… dasar anak ini…!”

Ryeowook tersenyum lebar begitupun ibunya yang juga ikut tersenyum sembari menepuk punggung Ryeowook dengan keras. “Aku akan sering-sering menemuimu dan juga ayah, sebelum aku menikah… ah tidak, setelah aku menikah pun aku akan sering-sering menemui kalian.”

Kuere, kau memang harus melakukannya.”

Satu hal yang sangat Ryeowook syukuri sampai detik ini adalah bahwa ibunya masih berada di tempatnya. Saat Ryeowook menoleh ke belakang, wanita itu masih di tempatnya, selalu menunggunya tanpa berubah. Saat Ryeowook menoleh ke samping, wanita itu juga berada di sisinya untuk memeluknya. Dan ia berharap itu tidak akan pernah berubah.

“Terimakasih, eomma. Jangan menangis dan tersenyumlah dengan bahagia untukku.”

***

Fin

Judul selanjutnya dari special project. Aku yakin kalian juga pasti sudah bisa menebak lagu Poom bakal aku jadikan ff kayak apa, dan yang berpikir tentang hubungan Ryeowook dan ibunya, kalian benar sekali. 🙂

Karena lagu ini memang special diciptakan Ryeowook untuk ibunya, kupikir aku harus mengambil cerita itu juga. Dan dan… aku baru sadar liriknya begitu menyentuh ;( jadi pengen nangis T__T

Maafkan jika aku terlalu berlebihan menggambarkan lagu itu di dalam ceritaku ini. But, seriously aku sempet dibuat meneteskan air mata saat dengerin lagu ini sambil nulis ceritanya, jadi maafkan jika agak berlebihan.

Terakhir, meski ibuku sepertinya nggak akan baca tulisanku ini, tapi aku pengen bilang. Terimakasih untuk semuanya. Maafkan jika aku sering membuat ibu kecewa. Jangan menangis, dan kumohon tersenyumlah dengan bahagia untukku. 🙂

Advertisements

8 thoughts on “(Special Project) Poom

  1. woah~ ff kli ini sangat menyayat hati, ya mengingat kelakuan sya yg belum sepenuhnya baik pada kedua orang tua sya T_T *josunghamnidaeommaappa*
    jdi inget pas di Agit mamah mertua *eh :v* selalu nangis tiap denger lagu ini… tpi, gk papalah eonni author. menurut sya ini gk berlebihan.. oke lah. ff projeck TLP selanjutnya apa eonni? Foxy Girl kah? People You May Know kah? atau Like a Star? di tunggu ya eonni author ^^ semangat terus ya eonni author^^

  2. Ffnya pasti selalu bagus, tapi aku lebih suka kalau eonni bikin di wattpad. Lagian kalau diwattpad lebih gampang commentnya sama vote nya, cuma sekedar saran kok eonni. Ditunggu kelanjutannya :)))

    1. makasih sarannya. sebenarnya aku juga publish the horde di wattpad ku. hehe…
      Udah lama sih punya akun wattpad tapi aku buka cuma kalau pengen baca aja.
      siip terimakasih

  3. Ah eonni sukses bikin aku kangen mamahku juga 😩 aku berkaca2 loh bacanya. ga berlebihan sih emng lirik lagunya nyentuh banget😄
    Okelah pokonya dtnggu next postnya ya eon 😉

  4. Baru sempet mampir dan baca ff ini T^^^T gak heran ryeowook pas ngetik liriknya nangis mulu. Ketik, baca, nangis, repeat! Hehe
    Seperti biasa ffnya selalu bagus dan menyentuh :””))) ahh
    Aku tunggu next ffnya! Fighting!

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s