(Ryeomin Story) Resolve

ryeomin 44

Title : Resolve | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin

***

Memikirkan gadis itu sekarang ini justru membut Ryeowook semakin merasa bersalah. Saat ini ia sedang berdiri memandangi pintu di depannya sembari menghela nafasnya lemah. Ia sendiri tidak terlalu yakin tindakannya kali ini benar dengan mendatanginya lebih dulu. Siapa yang kemarin memutuskan untuk tidak saling bertemu untuk sementara waktu? Baik, ia yang mengatakan hal itu pada Minrin. Dan sekarang ia sendiri yang melanggar ucapannya.

Ryeowook ingat bagaimana wajah kecewa itu mengangguk menyetujui. Ia juga ingat Minrin sama sekali tidak mendebat ucapannya. Gadis itu diam lalu membiarkan begitu saja Ryeowook yang langsung meninggalkannya. Karena tindakannya itu, Ryeowook bahkan harus mendapat tatapan tajam dari Kyuhyun. Ya, sahabatnya itu yang merencanakan pertemuan mereka agar bisa berbaikan. Dan seperti biasanya Ryeowook keberatan dengan usaha sahabatnya itu. Meskipun pada akhirnya Ryeowook memang menyadari sikapnya agak keteraluan pada Minrin. Tapi sampai detik di mana ia memutuskan datang kemari, ia masih bersikeras bahwa ia masih sangat kecewa pada gadis itu. Karena itulah selama nyaris dua minggu terakhir, Ryeowook bernar-benar menghindar dari Minrin. Tidak mencoba mendatanginya, tidak juga berusaha menghubunginya. Sampai akhirnya ia menyerah lalu memutuskan datang. Dan di sinilah ia sekarang. Satu-satunya yang sedikit dilupakannya adalah bahwa Minrin mengikuti permainanya. Gadis itu juga tidak berusaha menghubunginya, membuat Ryeowook justru makin merasa bersalah.

Mengabaikan kemungkinan bahwa ada wartawan yang mengikutinya atau kemungkinan seseorang berhasil mengambil gambarnya saat berdiri di depan pintu apartement Minrin sekarang ini, ia bertekad harus bertemu dengan gadis itu. Masalahnya adalah ia yang menjadi bingung tidak tahu harus berbuat bagaimana. Apa tidak terlalu egois jika ia memutuskan masuk begitu saja? Ataukah ia harus menunggu dibukakan pintu meski sudah dua kali ia menekan belnya?

Sekali lagi Ryeowok hanya menghela nafasnya. Pemikiran untuk pergi dari sana sempat terlintas di benaknya. Tapi sampai kapan ia akan menghindari Minrin? Sampai rumor itu berhenti? Kalau begitu berarti mereka sama saja harus memikirkan ulang mengenai pernikahan. Ryeowook benar-benar tidak mengerti kenapa semua menjadi seperti ini. Jadi, langkah yang paling baik memang mereka berdua harus segera menyelesaikan masalah ini seperti yang Kyuhyun bilang.

Lima detik, sepuluh detik ia menunggu sampai akhirnya pintu di depannya terbuka. Minrin berdiri di depannya dengan ekspresi terkejut dan tidak percaya. Kepalanya bahkan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang di sana. Dan Ryeowook harus mengakui bahwa ia baru saja bernafas dengan sangat lega setelah semua yang terjadi. Hanya karena berhasil melihat wajah itu di depannya, hanya karena berhasil memastikan bahwa sejauh ini Minrin terlihat baik-baik saja. Alasan itulah yang mampu dipikirkannya kenapa ia bisa sangat lega sekarang ini.

“Aku….” Ucapannya tertahan karena dengan cepat Minrin langsung menarik lengan Ryeowook untuk masuk ke dalam. Setelah itu, gadis itu menutup pintunya, memastikan jika benar-benar tidak ada wartawan yang mengikuti pria di depannya ini.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau bilang kita tidak perlu bertemu sementara ini lalu kenapa kau datang kemari?”

Wajahnya mengeras berbeda jauh dengan reaksi yang tadi sempat Ryeowook bayangkan. Bersamaan dengan rasa lega begitu melihat Minrin tadi, harus Ryeowook akui bahwa ia membayangkan akan mendapat pelukan hangat dari Minrin, saling tersenyum dan mungkin juga berbagi satu ciuman yang manis. Tapi siapa yang menyangka kalau reaksi Minrin akan tidak bersahabat seperti ini.

“Aku datang untuk bertemu denganmu, bukan untuk bertengkar denganmu.” Ryeowook membalas setengah mendesah. Ia harus mengalah untuk sekarang, demi tidak memperparah pertengkaran mereka.

Seketika itu Ryeowook sudah lupa jika kemarin ia marah pada gadis di depannya ini. Ia juga lupa jika tadi mengatakan kalau ia masih sangat kecewa pada Minrin. Apa yang bisa dilakukan, jika saat bertemu Minrin semua itu bahkan sudah hilang entah ke mana. Sepertinya waktu yang berlalu sudah menghapusnya, menggantinya dengan kerinduan yang harus Ryeowook akui baru disadarinya sekarang.

“Jangan bercanda. Apa menurutmu saat ini adalah waktu yang tepat untukmu mengatakan hal itu?” Minrin kembali mencerca. Dengan ekspresi kesal dia berlalu meninggalkan Ryeowook di depan pintu.

Langkah kaki Ryeowook bergerak cepat menyusul Minrin, menarik pergelangan tangan gadis itu dengan lembut namun berhasil membuatnya berbalik. Untuk sesaat Ryeowook hanya menatapnya, mengamatinya lekat sebelum menarik nafasnya sembari melepaskan pergelangan tangan Minrin.

“Bisakah kita bicara baik-baik? Aku benar-benar tidak ingin bertengkar denganmu.” Suara Ryeowook memelan membuat Minrin merilekskan wajahnya yang semula mengeras karena kesal.

“Bukankah sejak awal aku juga meminta bicara baik-baik? Kau saja yang memutuskan sendiri untuk menghindariku. Apa mereka akan menyadap ponselmu atau ponselku sampai-sampai kau juga tidak menghubungiku? Baik, aku tidak masalah tidak bertemu untuk sementara waktu tapi bukan berarti aku juga tidak masalah dengan tidak adanya komunikasi di antara kita.”

“Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku mengabaikanmu.” Suara Ryeowook kembali memelan yang kali ini sarat akan penyesalan, berharap jika sikap Minrin akan lebih bersahabat setelah ia minta maaf. Tapi lagi-lagi Ryeowook harus puas mendapat tatapan dingin itu lagi.

Meskipun Ryeowook tak terlalu menyukai kenyataan bahwa permintaan maafnya diabaikan begitu saja oleh Minrin. Tapi Ryeowook pikir lebih baik begitu, jadi ia tidak akan semakin merasa bersalah karena mengabaikannya.

Ia berjalan mendekati sofa setelah Minrin sudah menghilang di balik dinding dapurnya. Sebuah laptop yang menyala terletak di atas meja dan seketika itu menarik perhatian Ryeowook. Ia menoleh sebentar ke arah Minrin yang juga belum kembali sebelum memutuskan untuk mengecek apa yang tengah gadis itu kerjakan. Apa tentang pekerjaannya? Atau dia sedang membaca artikel-artikel online tentang mereka berdua yang tiga hari ini banyak tersebar? Bukan dua hal yang dipikirkan Ryeowook, karena apa yang tengah dikerjakan Minrin dengan laptopnya justru membuat Ryeowook tercengang. Hanya sebentar karena setelah itu ia benar-benar tidak bisa menahan senyumnya.

“Bagaimanapun juga kurasa tidak saling berkunjung untuk saat ini adalah pilihan yang terbaik. Kau yakin tidak ada wartawan yang mengikutimu, kan?”

Minrin kembali dan tepat pada saat itu Ryeowook langsung mengalihkan tatapannya dari laptop di atas meja. Ekspresi Minrin masih dingin sama seperti tadi. Selalu seperti itu jika gadis itu tengah kesal tapi toh Ryeowook tak terlalu memusingkannya sekarang. Cepat atau lambat ekspresi itu juga akan berubah. Ia justru penasaran jika Minrin mungkin sedang berusaha mengontrol ekspresinya agar tak terlihat terlalu senang. Dasar, gadis itu benar-benar punya ego yang tinggi.

Satu kaleng cola diserahkan Minrin yang langsung diterima Ryeowook. “Apa kau sekarang khawatir jika mereka akan menangkap basah diriku yang datang berkunjung ke apartement tunanganku?” tanya Ryeowook santai yang tentu saja langsung dibalas decakan oleh Minrin.

“Sudah kubilang bersikaplah serius. Bukan saatnya untuk bercanda,” sahutnya dingin. Ryeowook menahan senyumnya lagi.

“Lalu kenapa kau tidak mengkhawatirkan dirimu saat kau nekat menemuiku di dorm waktu itu?”

“Kim Ryeowook, apa yang sebenarnya tujuanmu datang kemari, ha?” suara Minrin naik satu oktaf pertanda kalau gadis itu hampir kehilangan kesabarannya.

“Menemuimu. Aku sudah mengatakannya padamu, kan?” sahut Ryeowook santai bahkan bibirnya melengkung tersenyum lebih lebar, berbanding terbalik dengan yang tadi saat pertama kali berjumpa dengan kekasihnya itu.

Minrin terlihat memejamkan matanya sebentar, sebelum melayangkan tatapan dinginnya sekali lagi. “Baik, kita sudah bertemu lalu apa? Kau ingin membahas masalah itu? Kalau begitu ayo bicara….”

“Bagaimana jika membahas yang lain? Masalah itu cukup membuatku pusing akhir-akhir ini. kita lupakan saja untuk hari ini.”

“Aku bilang jangan bercanda, Kim Ryeowook-ssi.” Minrin menekankan kata-katanya dengan jengkel tapi hal itu justru membuat Ryeowook kembali tersenyum.

Minrin memang bersikap dingin padanya. Dia juga mencoba membentengi dirinya agar tidak bersikap senang berlebihan. Yakinlah, gadis itu berusaha sangat keras agar tidak melompat memeluknya sejak pertama kali Ryeowook datang. Dan Ryeowook harus mengakui jika usahanya cukup berhasil. Jika bukan karena ‘pekerjaan di laptopnya’ Ryeowook tidak akan tahu apa yang sedang dipikirkan Minrin saat ini.

“Aku juga bilang aku tidak bercanda, Shin Minrin-ssi. Jadi, kita mulai dari mana?” Ryeowook menatapnya yang masih berdiri. Kedua tangan Minrin menyilang di depan dada, wajahnya di buang ke samping merasa tidak tahu harus bagaimana lagi. Sementara Ryeowook masih di posisi yang sama, menatapnya.

“Kita mulai dengan pertanyaan sederhana, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?” Ryeowook memulai lagi. Dan akhirnya Minrin pun menyerah. Gadis itu berjalan gusar lalu duduk agak jauh di samping Ryeowook.

“Sangat baik. Anggapan negatif orang tidak akan membuatku jatuh begitu saja.”

“Tidak…  tidak… tidak, lewati soal masalah itu. Kita tidak akan membicarakan itu.”

“Kau benar-benar mulai bertingkah aneh sekarang.” Minrin menggerutu. “Baiklah, lalu kau ingin jawaban yang seperti apa?”

“Jawaban tentang kabarmu yang tidak bertemu denganku selama seminggu ini.” Ryeowook menyahut.

“Tsk…, kau ingin aku bilang merindukanmu?” tebaknya. Mudah sekali ditebak. Ryeowook sebenarnya juga tahu Minrin paham apa yang diinginkannya sebagai jawaban. Dan sayangnya ia juga paham jika gadis itu akan selalu mengelak seperti sekarang ini. “Aku pernah lebih lama dari itu tidak bertemu denganmu, dan kau juga tahu aku jarang mengatakan rindu. Jadi, menurutmu apa aku merindukanmu?”

Harga dirinya benar-benar tinggi. Ryeowook tidak tahu, tapi melihat Minrin yang seperti ini justru mengingatkannya dengan Minrin di dua tiga tahun yang lalu sebelum gadis itu pergi ke Amerika. Ryeowook akui jarak jauh itu ternyata membuat keduanya lebih saling mengharagi perasaan masing-masing. Sikap Minrin juga perlahan berubah lebih manis padanya. Tapi lihatlah apa yang dlakukan gadis itu? Kembali menjadi Minrin yang dulu. Ya, bukannya Ryeowook tidak suka. Ini justru membuatnya seperti nostalgia.

 “Kalau tidak merindukan jawab saja tidak. Kau tak perlu menjelaskannya panjang lebar.”

Yaa, Kim Ryeowook-ssi….”

“Sekarang giliranmu. Kau ingin bertanya apa atau kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” Ryeowook menoleh menatap Minrin lagi. Tatapan gadis itu menyipit semakin kesal. Dan percayalah, dalam hatinya dia pasti mengumpat sekasar-kasarnya pada pria yang menjadi tunangannya ini.

“Apa alasanmu datang kemari?” tanya Minrin.

Ryeowook mengernyit. “Pertanyaan itu lagi? Bukankah aku sudah menjawabnya?”

“Aku butuh jawaban yang masuk akal.”

Ryeowook terkekeh melihat Minrin yang menatapnya seakan mengantisipasi jawaban yang akan diberikannya.

“Baiklah, alasanku datang untuk melihat apa yang sedang kau lakukan. Memastikan keadaanmu dan juga untuk meminta maaf. Apa itu bisa diterima?”

Seriously, I hate you. Apa yang dikatakan Cho Kyuhyun padamu sampai-sampai kau berubah pikiran?”

“Kau masih mempermasalahkan ucapanku waktu itu yang menyuruhmu untuk tidak menemuiku?”

“Ya.” Minrin menjawab cepat. Sekali lagi ekspresi dingin itu masih menghuni wajahnya.

“Aku sudah minta maaf padamu, bukan? Dan sekarang aku ada disini, jadi kita lupakan yang kemarin,” balas Ryeowook cepat. Pria itu menarik nafasnya lalu menyenderkan punggungnya di sofa, mengalihkan tatapannya ke arah laptop di depan mereka dan sekaligus membiarkan Minrin yang sekarang menatapnya.

“Kau benar-benar menyebalkan.” Minrin bergumam kasar, sembari membuang wajahnya ke arah lain.

“Ya, aku tahu. Dan kau juga menyebalkan saat itu. Jangan mencoba membela diri, karena asal kau tahu saja aku masih menyimpan rasa kecewa atas sikapmu yang kekanak-kanakan.”

“Aku tidak akan membela diri. Aku juga tahu diri.”

“Baguslah, jadi bagaimana?” Ryeowook menoleh, memperhatikan wajah gadis di sampingnya itu lagi.

Ryeowook berpikir untuk segera mengakhiri perang dingin ini. Ia sebenarnya juga tahu Minrin tidak ingin bertengkar dengannya. Permasalahannya terletak pada harga diri gadis itu yang terlalu tinggi hingga tidak mau mengalah dan menyudahi perang kalimat yang tengah berlangsung sejak tadi.

“Apanya yang bagimana? Kau benar-benar…. Pergilah jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi. Bukankah kau sudah melihat apa yang kulakukan? Aku tidak pergi kemanapun, dan aku juga berhati-hati jika keluar, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”

Kali ini Ryeowook tersenyum. Dia memperhatikan Minrin yang beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi dari ruangan itu, tapi Ryeowook langsung mencegahnya.

“Apa kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku?” tanyanya mulai serius.

Minrin menghentikkan langkah kakinya, membalikkan tubuhnya yang sekarang ini mengenakan sweater berwarna putih dengan celana jeans biru. Kedua tangannya kembali menyilang di depan dada. Kepalanya terangkat sedikit dan senyum cibiran menghiasi sudut bibirnya.

“Tidak. Pergilah, sebelum para wartawan itu mengerubungi apartementku dan membuat masalah kita semakin rumit,” katanya sadis.

Ya Tuhan, gadis itu benar-benar tidak bercanda.

Bukannya terkejut, Ryeowook justru tertawa pelan dibuatnya. Dia ikut beranjak dan menghampiri gadis itu. “Ya, mungkin sebentar lagi mereka akan tahu jika melihatku keluar dari apartemenmu.” Ryeowook berpura-pura menarik nafas panjang seakan ia merasa lelah. “Mau bagaimana lagi? Kurasa aku tidak bisa pergi sekarang.”

“Kau benar-benar membuatku kesal sekarang.” Kesabaran Minrin hampir mencapai ujungnya lagi.

“Ya, aku tahu. Apa rasa kesalmu akan berkurang jika aku menciummu?”

“Apa?” dahi Minrin mengernyit terkejut tapi tidak lama karena gadis itu langsung kembali menatap mencibir sambil tertawa-tawa. “Wah… wah, Kau pikir aku bisa dijinakan hanya karena kau menciumku? Tsk…, sudah berapa lama kita saling berhubungan, Ryeowook-ssi?”

“Lima tahun. Dan karena sudah selama itu aku sangat tahu tentangmu, Minrin-ssi.”

Ekspresi Minrin langsung berubah kalah. Baik, ucapan Ryeowook benar. Gadis itu baru saja mengakuinya. Pria itu memang sangat mengenal Minrin. Kejadian sehabis panggung Super Show 4 setelah Minrin melihat Moves Like Jagger atau di backstage saat konser KRY di Nagoya, Minrin masih ingat dengan jelas. Dan terkadang ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri karena begitu mudahnya terjerat dalam pesona Kim Ryeowook.

“Kenapa? Kau masih ingin mengelaknya? Saat Super Show 4, saat konser KRY di Jepang beberapa waktu yang lalu,  apa kau tidak ingat? Bahkan saat terakhir kita bertemu setelah aku pulang dari Jepang…”

Kedua mata Minrin menyipit. Gadis itu akhirnya hanya bisa menarik nafasnya lemah dan menghelanya keras. Baiklah, lupakan soal itu.

“Aku penasaran sebenarnya apa yang kau inginkan, ha?”

Ryeowook menggeleng sembari terkekeh pelan. “Egomu masih tinggi dari dulu dan kurasa kau juga tidak akan mengaku kalau kau sedang menonton ulang video penampilan tentangku.”

“Video… M-mwo?” Suara Minrin semakin tinggi. “Yaa, kau pikir aku tidak punya pekerjaan yang penting sampai-sampai melakukan hal itu?” seru Minrin keras, kedua matanya bahkan membelalak. Tapi tidak ada yang bisa diakukannya karena gadis itu sudah ketangkap basah, sikapnya bahkan berubah canggung. “Aku pasti sudah gila jika melakukan hal itu,” elaknya lagi.

“Benarkah?” Ryeowook tersenyum lagi. “Kalau begitu, kau bisa menjelaskan tentang ini?” Ia menunduk, menggeser laptop yang layarnya hitam sejak tadi, meski masih dalam keadaan hidup. Ryeowook memperlihatkan layar itu pada Minrin yang menunjukkan lebih dari lima tab di browser yang sedang membuka beberapa situs termasuk youtube. Dan, oh Ryeowook tadi melihat fancam saat penampilan solonya di Super Show 4 juga ada di salah satu tab itu.

Kedua mata Minrin kembali membelalak terkejut, tidak percaya, merasa kalah dan tertangkap basah lalu dengan cepat tangannya bergerak menutup laptop itu kasar.

 “Yaa…!! Kau, membuka laptopku?”

“Tidak. Sejak tadi laptop itu sudah begitu.” Ryeowook menggeleng, Senyum geli penuh kemenangan tersungging di bibirnya membuat Minrin benar-benar memasang wajah murka. Tapi percayalah, gadis itu benar-benar sudah mati langkah.

Tidak hanya menjengkelkan karena Ryeowook tahu apa yang diam-diam dilakukannya, tapi bagi Minrin juga sangat memalukan. Bagaimana ia bisa mengakui kalau ia sangat merindukan pria itu, sampai-sampai ia berselancar di dunia maya untuk melihat kembali penampilan Ryeowook di beberapa panggung show nya? Sialan. Dan bagaimana bisa ia melupakan untuk mematikan benda tipis pembawa bencana itu?

“Jadi…?” Ryeowook menggantungkan kalimatnya, membuat Minrin menatapnya dengan mata yang semakin menyipit. “Kau merindukan image Move Like Jagger, Insomnia atau Kyary Pamyu Pamyu?

“Jangan percaya diri. Kau pikir aku memikirkan itu?” Minrin membalas dengan tenang, berusaha mengais-ngais harga dirinya yang sebenarnya telah jatuh sejak tadi. Kenapa ia harus selalu kalah dari pria di depannya itu?

“Hmm… kurasa kau masih tetap tidak akan suka dengan image feminim bukan? Jadi, Insomnia atau Move Like Jagger?” Ryeowook berjalan mendekat, membuat Minrin reflex ikut memundurkan kakinya selangkah. “Tapi sekarang image ku seorang pangeran kecil, apa kau tidak masalah dengan itu? Apa itu tidak terlalu menggemaskan?” Ryeowook kembali berjalan mendekat, berpikir untuk menyudutkan Minrin ke arah sofa di belakangnya.

Minrin menyadari apa yang akan dilakukan Ryeowook. Dan percayalah, ia tidak akan jatuh di perangkap yang sama untuk kedua kalinya. Jadi, saat ia merasa tidak ada ruang lagi di belakangnya karena adanya sofa sialan itu, ia memutuskan berhenti, mengangkat wajahnya menantang. Tidak, kali ini ia tidak ingin kalah.

“Baik, ayo kita selesaikan. Pelukan? Ciuman? Kau ingin memulainya dari mana?” Minrin menantangnya, kakinya melangkah maju ke depan mendekati Ryeowook dan dilihatnya pria itu langsung terdiam. Diam-diam Minrin tersenyum menang. “Lihat, kau bahkan tidak bisa menjawab kan? Masih berusaha menggodaku?” tanyanya santai.

Ryeowok mendengus kesal. Pria itu jelas juga tidak mau dikalahkan. Yang mengherankan untuknya adalah kenyataan bahwa sejak mereka berdua bertunangan, Minrin selalu terang-terangan menggodanya, meskipun harga diri gadis itu masih setinggi Himalaya. Biasanya Ryeowook selalu bisa membalikkan keadaan dan ‘menjinakan’ gadis itu dengan sebuah ciuman memabukan, tapi sepertinya ia harus mencari cara lain sekarang. Ryeowook berjalan satu langkah ke depan, membuat keduanya berdiri dengan jarak yang sangat dekat.

Minrin diam, mengontrol dirinya agar tetap tenang. Tapi sialnya, kerja jantungnya baru saja bertambah cepat hanya karena wajah Ryeowook tepat berada di depannya. Semakin menggila, saat sepasang mata di depannya tengah menjelajahi wajahnya. Minrin masih diam lalu bibir di depannya itu melengkung membentuk senyuman kecil.

“Lihat, bahkan wajahmu memerah hanya karena aku menatapmu, masih berusaha untuk tidak tergoda?” Ryeowook membalas.

Sialan kau Kim Ryeowook.

Minrin mendengus kasar, memutar otaknya untuk mencari celah agar bisa membalas perlakukan Ryeowook tadi tapi belum sempat semua itu terjadi, dering nyaring dari ponsel yang Minrin ketahui milik Ryeowook seketika itu menghentikkan aksi tatap menatap penuh persaingan itu. Ryeowook segera mengambil benda persegi dari saku mantelnya dan menempelkannya di telinga kirinya tanpa sedikitpun berusaha menjauhkan jaraknya dengan Minrin.

“Aku sedang di tempat Minrin, kenapa?…. Tidak, kurasa tidak….. Apa kau serius?”

Ekspresi Ryeowook seketika berubah dan Minrin langsung menangkapnya.

“Ya, aku tahu. Tidak, kami hanya sedang berbicara seperti saranmu. Hmm…,Terimakasih, Kyuhyun-ah.” Setelah mengucapkan hal itu, Ryeowook langsung mengembalikan ponselnya di saku semula. Terakhir pria itu menatap Minrin lagi.

“Baiklah, kurasa kita hentikan sampai di sini. Kyuhyun bilang ada beberapa wartawan di depan dormku dan kurasa mereka juga ada di depan apartementmu sekarang ini.” Ryeowook berujar sedikit santai meski ekspresinya saat berbicara dengan Kyuhyun sempat terlihat khawatir.

“Kau bercanda?” Minrin tentu saja langsung terkejut mendengar hal itu. Ia bahkan langsung berlari ke depan pintu untuk melihat kondisi luar apartementnya melalui layar kecil di dekat pintu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat beberapa wartawan terlihat menunggu di luar pintunya.

“Sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai mereka ada di luar apartementku?” teriaknya gusar.

Demi Tuhan, para pencari berita itu benar-benar bersemangat mencari tahu tentang hubungannya dengan Ryeowook?

“Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum mereka tahu kau ada di sini,” katanya sembari menarik lengan Ryeowook.

“Apa kau bercanda? Mana mungkin aku keluar sekarang dan menjadi santapan para pencari berita itu?”

“Ah… benar. Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Kau yang keluar dan alihkan perhatian mereka, baru setelah itu aku yang akan menyelinap keluar,” kata Ryeowook memutuskan.

“Apa kau gila? Aku tidak mau mereka mengejar-ngejarku dengan pertanyaan-pertanyaan. Tidak… tidak…. Tidak.”

“Lihat, kau yang awalnya membuat masalah dan sekarang kau tidak mau membantuku?” suara Ryeowook berubah sedikit kesal dan memohon. “Aku harus latihan untuk konser. Tidak mungkin aku ada di sini sampai besok.”

“Salah siapa kau datang kemari, ha?”

“Sekarang kau menyalahkanku?”

“Jika kau tidak bertindak gegabah, kita masih bisa tenang sekarang ini, Kim Ryeowook-ssi,” tekan Minrin sembari menghela nafasnya lemah.

Keduanya diam sesaat setelah itu. Minrin masih mendesah dengan lemah, memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Sementara Ryeowook sudah duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya. Sepertinya pria itu sedang berusaha meminta bantuan entah pada siapa.

“Kau tidak mengatakan padaku kalau perusahaan ayahmu membuat pernyataan tentang rencana pernikahanmu.” Ryeowook bergumam pelan setelah itu. Dia mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan Minrin yang langsung membelalakan matanya tak percaya.

M-mwo? Perusahaan ayahku?” tanyanya sambil berjalan mendekat dan meraih ponsel Ryeowook lalu membaca langsung berita yang tengah dibacanya. Namanya bahkan berada di nomor satu situs pencari berita.

“Mereka tidak menyebutkan namaku, tapi karena tindakanmu waktu itu, kurasa mereka sedang mencoba mencari tahu tentang orang yang akan menikah denganmu.” Ryeowook berujar lagi. Ekspresinya berubah seketika menjadi kecewa. Lebih kecewa dibandingkan saat Minrin bersikap kekanak-kanakan pada fansnya yang beberapa hari terakhir menyebabkan rumor tak mengenakan tentang keduanya menyebar di kalangan netizen.

Minrin langsung menatap ragu ke arah Ryeowook. Ia tahu Ryeowook sangat ingin memberitahu publik dengan hati-hati dengan hubungan mereka termasuk pernikahan dan bukannya dengan banyak rumor dan gossip seperti sekarang ini. Minrin bahkan juga berjanji akan membuat pihaknya diam sampai Ryeowook sendiri yang mengatakan pada fansnya serta publik tentang pernikahan mereka. Dan sekarang tanpa Minrin tahu, perusahaan ayahnya sendiri yang membuat pernyataan tentang pertunangan dan rencana pernikahannya.

“Aku tidak tahu mereka melakukan ini.”

Ryeowook tidak menyahut. Ekspresinya sangat serius dan Minrin bahkan hanya bisa menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah karena sekali lagi dirinya memperburuk keadaan. Minrin memperhatikannya, menghela nafasnya lemah sekali lagi.

“Aku akan keluar dan mengalihkan perhatian mereka,” putusnya kemudian. Minrin sudah berdiri lalu berjalan tergesa ke dalam kamarnya. Tidak lama kemudian, ia keluar dengan mantel cokelat dan kacamata. Ryeowook hanya memperhatikannya.

“Minrin-ya…,” panggilnya pelan. “Kau tidak perlu melakukannya. Aku yakin kau juga tidak tahu harus menghadapi mereka seperti apa.” Ryeowook berujar berniat menolak ide Minrin yang sebenarnya ia sendiri yang mencetuskannya tadi. Oh, dia hanya bercanda sebenarnya. Jika ia melakukannya berarti ia sama saja pria yang jahat. Pria mana yang akan melemparkan kekasihnya ke arah bahaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri?

“Setidaknya masih lebih baik aku yang muncul daripada dirimu, bukan? Apa kau pikir kau juga bisa menghadapi mereka? Situasinya akan lebih buruk jika kau yang keluar.” Suara Minrin berubah lebih pelan. Tidak ada lagi nada provokasi seperti tadi. Dan gadis itu bahkan tersenyum tipis. Ucapannya seketika itu membawa kembali sosok Minrin yang keras kepala. Dan Ryeowook jelas tidak menyukainya.

Rasanya benar-benar hampir terjatuh dari tebing. Entah kebetulan macam apa yang terjadi sekarang ini. Kenapa berita itu muncul di saat yang bersamaan saat Ryeowook menyerah pada dirinya sendiri dan memutuskan menemui Minrin? Jika saja, ia tidak mengikuti perasaannya dan tetap diam seperti kemarin, setidaknya situasi seperti sekarang bisa dihindarinya.

Minrin sudah berjalan hampir mencapai pintu, saat akhirnya Ryeowook menyusulnya dan menarik lengannya perlahan. “Apa kau yakin akan baik-baik saja?” tanyanya.

Minrin mengendikkan bahunya pelan, senyum menenangkan yang dipaksakannya menghiasi bibirnya. “Tidak apa-apa. Aku hanya perlu keluar, menghindari mereka dan berusaha berjalan santai seakan-akan tidak ada yang terjadi. Jika wajahku terlihat aneh saat muncul di berita nanti, kumohon jangan mengejekku.”

Ryeowook terkekeh pelan. “Ini bukan saatnya bercanda.”

“Iya, aku tahu.”

Ucapan Minrin terhenti saat Ryeowook membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman lembut. Ciuman yang masih terasa sama seperti yang dulu-dulu tapi selalu membuat Minrin candu untuk merasakannya. Dia membalasnya, menggerakan bibirnya pelan, membalas ciuman itu dengan sama lembutnya hingga rasanya Ryeowook ingin terus menarik tengkuk gadis itu lebih dekat untuk memperdalam ciuman itu, namun ia langsung tersadar. Ryeowook menjauhkan kepalanya perlahan.

“Sebenarnya aku ingin memulainya dengan pelukan, tapi kurasa kita harus melupakannya,” katanya.

 “Apa itu artinya kita sudah berbaikan?”

“Sejak awal aku sudah mengajakmu berbaikan tapi kau saja yang keras kepala.”

“Aku hanya kesal kau tidak menghubungiku dan tiba-tiba saja kau muncul seperti tadi.” Minrin menarik nafasnya perlahan lalu tersenyum lagi.

“Aku minta maaf.”

“Aku yang minta maaf. Karena sikap kekanak-kanakanku akhirnya masalah ini muncul.”

“Aku akan jujur kalau kau benar-benar membuatku kecewa saat itu, tapi semua sudah terjadi. Apa lagi yang bisa kita lakukan selain memperbaiki semuanya?” ujar Ryeowook sembari menarik Minrin ke dalam pelukannya. Tidak lama karena Minrin langsung melepaskan pelukan itu.

“Kau benar soal memperbaiki semuanya. Dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengeluarkanmu dari apartementku,” tegasnya kemudian. Masih sama keras kepalanya seperti tadi. Saat gadis itu akan berjalan, Ryeowook kembali menariknya.

“Tidak, kau tidak perlu melakukannya.”

Dahi Minrin mulai mengernyit sekarang. “Ayolah, kau tidak mungkin menunggu di sini terus kan?”

“Aku bisa mempertimbangkan untuk menunggu di sini.” Senyum jail kembali menghiasi bibir Ryeowook yang kembali membuat Minrin hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak paham.

“Kumohon, jangan berpikir aneh, karena sekarang ini bukan waktu yang tepat.”

“Aku tahu.” Ryeowook membalas dengan serius. “Aku hanya bercanda tadi. Mana mungkin aku membiarkanmu menghadapi mereka sendirian, sementara aku menyelamatkan diriku sendiri. Kita tunggu sebentar. Mereka tidak akan selamanya menunggu di depan sana bukan?” ia tersenyum, menenangkan Minrin yang sepertinya akan mulai mendebatnya lagi.

Gadis itu akhirnya mengalah setelah Ryeowook terus menatapnya, meminta persetujuan. Ia pun hanya bisa mendesah pelan. “Maafkan aku, Ryeowook-ah.”

“Aku sudah cukup mendengar permintaan maafmu.” Ia kembali tersenyum, yang kembali langsung menarik Minrin ke dalam pelukannya. “Jangan khawatir, kita akan hadapi bersama. Jadi, jangan menyembunyikan apapun dariku, jangan bertindak sendiri dan yang terpenting berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kita akan perbaiki semuanya.”

Minrin membalas pelukan itu, melingkarkan tanganya di pinggang Ryeowook dan membenamkan kepalanya di pundak kekasihnya itu. Rasanya air matanya ingin merembes keluar sekarang ini. Tapi ia menolak untuk menangis dan sebagai gantinya ia hanya mengangguk-angguk sambil terus mempererat pelukannya.

“Selama menunggu bisa kita bahas kenapa kau tiba-tiba menonton video penampilanku?” tanya Ryeowook kemudian yang nyaris saja membuat Minrin melepaskan pelukannya dan bersiap memberikannya tatapa horror, tapi diurungkannya karena ia sudah lelah berdebat terlebih lagi karena Ryeowook sepertinya tidak akan melepaskan pelukannya dengan mudah.

“Apa aku harus menjawabnya? Tanpa menjawab, kau juga sudah bisa menebaknya,” sahutnya ringan. Ia melonggarkan sedikit pelukannya lalu mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat raut wajah Ryeowook yang kini menatapnya sambil menahan senyum.

“Mudah sekali ditebak.”

“Aku tahu. Jangan mengejekku, eoh?”

“Tidak. Aku mungkin akan melakukan hal yang sama. Tapi daripada melihat melalui layar ponsel atau laptop, aku lebih senang melihat yang asli,” katanya sambil melepaskan pelukan itu dan beralih menatap Minrin lekat tepat di kedua matanya. Tangan kanannya masih berada di tengkuk gadis itu, seakan ingin membuat gerakan untuk mencium dan tangan yang lainnya masih melingkar posesif di pinggang Minrin.

“Karena itu kau datang kemari,” tebak Minrin seketika itu. Ryeowook mengangguk membenarkan.

“Gadis pintar.” Senyumnya kembali merekah, begitu juga Minrin. “Kalau begitu, kita bicarakan pernikahan saja bagaimana?”

“Tidak masalah. Aku akan merasa bersalah jika menghancurkan keinginanmu menikah sebelum pergi ke militer.”

***

CUT

Aaakkk aku tidak tahu buat apa ini. hufft…. -_-

Karena belum bisa update kelanjutan ff lainnya karena laptop yang berisi semua ff saya lagi dipinjam kakak, jadinya saya publish ryeomin story lagi. Beruntung saya punya copyan ff ini jadi bisa saya edit sana sini dan saya publish, posternya juga hasil obrak-abrik folder lama yang telah usang hehe….

Hmmm… Ada yang pengen ryeomin nikah sebelum ryeowook wamil apa setelah ryeowook wamil? *just asking*

Karena saya buat rencana menyelesaikan ryeomin story sampai nikah dengan setting waktu sebelum ryeowook wamil. Dan selama 21 bulan si Ryeowook di militer, saya nggak akan update ryeomin kecuali kalau memang ada moment yang bisa saya jadikan bahan tulisan ff ryeomin story. Tapi tenang saja, saya masih update ff ryeowook-minrin yang lain kok, kayak The Wedding, The Horde, Special Project The Little Prince, atau mungkin nanti aka nada judul baru entah ff chapter atau oneshoot. Ya begitulah….

Ngomong-ngomong sudah cek fanpage Angelic Voice Room belum? Hehe ayo… ayo yang belum di cek dan like yaa… *promosi*

Oke, sekian sampai jumpa di postingan selanjutnya. Bye… ^^

 

Advertisements

10 thoughts on “(Ryeomin Story) Resolve

  1. aih aih aih T^^T ketangkep basah lagi fangirlingan lollol
    aku suka ryeomin story soalnya mereka seriusnya dapet tapi romancenya juga pas kayak di chapter ini hoho
    RYEOWOOK MAU WAMIL T_T sebelum wamil aja yuk bang kita nikah *eh/? hahaha
    ditunggu kelanjutannya authornim!!

  2. Resolve,,

    Endingnya dikemas dengan cerita yang sweet banget, gg merubah sifat asli mereka, berasa bernostalgia dengan sifat mereka berdua,, ahh, aku bner berasa envy banget dengan posisi minrin disini,,

    Fangirl tidak hanya tentang fanfic. Ini adalah tentang bagaimana berdamai dengan dirimu sendiri, dengan lingkungan sekitarmu, dan dengan orang – orang yang mempedulikanmu dan menyayangimu dengan cara mereka sendiri meski dirimu tidak mengetahuinya. Ini adalah bagaimana berusaha keluar dari zona nyamanmu, walau dengan susah payah, untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

    next another storynya di tunggu ya eonni 😊😊

    Hahaha,,

  3. Huaaaaaa akhirnya baikan 🙂
    Ahhhh jadi ini kapan wook nyelesain masalahnya, jelasin kalau dia mau nikah. Sampai kapan juga mau main kucing-kucingan sama wartawan u,u
    Semoga secepatnya selesai ya masalahnya.
    U,u bakal kangen momeny ryeomin disini deh eonn. Berarti after wedding disini pasti bakal dikupas cuma sedikit aja ya eonn.
    Sekarang udah jarang banget blog yang update ff suju, tapi ff eonni masih aktif specially about Mr. Kim Ryeowook hehehe blog eonni masih jadi favorite-ku bahkan aku rajin bolak-balik blog ini buat liat eonn ada update-an baru apa nggak.
    Ditunggu ini mereka nikah, ditunggu juga the next story pas ryeowook konfirmasi hubungan mereka.

    /maaf kalo kepanjangan eonn/

    1. Aduh jangan kangen dong, ryeomin story masih akan bersliweran di blog ini kok meski mereka udah nikah, tapi tergantung ada moment buat dibuat ff apa nggk, kan secara itu cew mau ditinggal wamil.. haha
      pasti dilanjutin kok, terimakasih yaa…

  4. Ah udah baikan
    Ih sweat sweat gimana gitu
    Q sih pgn nya nikah nya sblum wamil
    Klo udah wamil klamaan nunggunya
    Berharap tiap minggunada updetan ff
    Pnasaran ma klanjutan the wedding
    Bis lw screat guard kyg na masih lama

  5. Akhirnya setelah kemarin bersitegang sekarang romantis2an juga kkk~ aku bahkan senyum2 gajelas bacanya hahaha
    Eoh eon, aku pngennya ryeomin nikah sebelum wamil, kasian kalau habis wamil kelamaan nunggu nya hehe ntar minrin malah berubah pikiran wkwk XD 😂😁
    Yaaaah. 21 tanpa ryeomin story dong? Aku sih berdoa supaya bnyak moment yg bisa dijadiin bahan ff ryeomin story 😊
    Aku udh like fp eon ko. Oh ya ditunggu next post nya😊

  6. annyeong eonni author. readers baru saya, izin baca yah! ^^ hahahaha… kerasa bgt feel.a pas awal2 lagi perang dingin. kirain si minrin lg apaa gtu, eh taunya nonton fancam :v disaat2 situasi gwat sempet2nya si oppa nanyain itu. emang ini couple selalu buat senyum2 sendiri. eonni semangat ya nulisnya! ^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s