The Wedding Part 3

the wedding

Title : The Wedding Part 3 | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin | Genre : Romance, Married Life | Lenght : Chapter (5568 words) | Rating : PG-15 | Author : Whin

***

“Maafkan aku, mendadak ayah menyuruhku untuk menangani masalah di China. Jadi aku tidak bisa ikut denganmu dan Seunghoon.”

Itu ucapan Heejung ketika mereka bertiga akan bertolak ke Inggris. Minrin yang beberapa hari terakhir terus memikirkan sesuatu tentang sahabatnya itu dan juga Seunghoon yang mendadak diam. Dia bukannya tidak tahu kalau Heejung diam-diam sering menemui Seunghoon tanpa sepengetahuannya. Dan rasa penasaran itu berada di puncaknya ketika Minrin tak sengaja mendengar pembicaraan Heejung pada Seunghoon yang mengatakan bahwa gadis itu menyukai Seunghoon.

Minrin tak mengatakan apapun meskipun ia mendengar pembicaraan mereka dan bersikap biasa. Hingga akhirnya Heejung mulai berubah di mata Minrin. Gadis itu menghindar jika harus bertemu bertiga. Entah karena Heejung mulai menyadari kalau Minrin mengetahui perasaannya pada Seunghoon atau karena hal lain.

“Apa karena Seunghoon?” tanya Minrin tanpa berbosa-basi. Dia sudah cukup memendam rasa pensaran dan menurutnya Heejung sudah keteraluan jika terus menghindar seperti ini.

Minrin diam karena ia pikir Heejung akan menata perasaannya sendiri. Karena sahabtnya itu menyadari kesalahan apa yang dilakukannya dengan menyukai kekasih sahabatnya sendiri. Namun ternyata Minrin salah. Heejung sama sekali tak berusaha menyadarkan dirinya dan justru semakin sering menemui Seunghoon tanpa sepengetahuannya. Dan kesabaran Minrin hampir pada batasnya saat ia mengetahui bahwa Heejung mengatakan sesuatu yang buruk pada kakek Shin mengenai Seunghoon.

Bencana datang padanya ketika kakeknya mulai tak percaya dan menyuruhnya untuk berpisah dengan Seunghoon.

“Apa yang kau bicarakan. Tentu saja tidak. Aku ada pekerjaan, Minrin-ya.” Heejung mengelak tuduhan Minrin padanya.

“Jangan berbohong lagi, Heejung-ah. Aku tahu kau menyukainya atau mungkin mencintainya.” Akhirnya kalimat itu meluncur dari Minrin yang tentu saja membuat Heejung terkejut.

Tapi tak lama keterkejutan itu menghiasi wajahnya karena setelah itu Heejung tersenyum mencibirnya. “Jadi kau sudah tahu?” tanyanya yang secara tidak langsung mmebenarkan ucapan Minrin barusan.

“Kenapa kau melakukannya?”

“Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau melakukannya padaku? Aku lebih dulu menyukainya daripada dirimu dan kau merebutnya dariku.”

“Apa?” Minrin benar-benar tidak tahu jika Heejung menyukai Seunghoon lebih dulu dan tentu saja hal itu membuatnya tak percaya. “Kau tak pernah mengatakan ha itu padaku.”

“Kau seharusnya tahu. Sejak di bangku sekolah menengah aku sering menceritakan padamu,” jawabnya.

Ingatan Minrin seketika itu membawanya pada kejadian saat mereka sekolah. Heejung memang sering mengatakan padanya tentang laki-laki yang disukainya. Laki-laki yang tinggal di Inggris dan sesekali mengirim surat pada Heejung. Ya.., Minrin agak melupakan fakta bahwa Seunghoon pernah sekolah di Inggris, dia juga lebih dulu mengenal Heejung.

“Jika kau mengatakan padaku, mungkin aku tidak akan menerima Seunghoon saat itu.”

“Apa kau yakin? Kalau begitu serahkan dia padaku. Apa kau bersedia melakukannya? Putus dengannya dan menyerahkan Choi Seunghoon padaku,” tantang Heejung yang sekarang justru membuat Minrin terdiam.

“Kenapa? Kau tidak bisa melakukannya bukan?”

Dan sejak pembicaraan itu, Heejung bukan lagi Heejung yang Minrin kenal. Gadis itu berubah dan Minrin kecewa padanya. Apa nila persahabatan yang sudah lama terjalin benar-benar tidak ada apa-apanya?

Dan Minrin memang tidak bisa melepaskan Seunghoon. Karena ia juga begitu mencintai Seunghoon. Karena mereka berdua berniat untuk menikah. Mana mungkin ia mengakhiri hubungan itu karena ambisi Heejung? Benar ambisi. Sejauh ini Minrin melihat Heejung dan tindakannya adalah akrena ambisi mendapatkan Seunghoon. Jika tidak, mana mungkin dia melakukan cara kotor dengan mengatakan hal-hal buruk pada kakek Shin tentang Seunghoon?

“Jauhi dia dan berhenti menemuinya.” Itu adalah ucapan Kakeknya ketika Minrin mengatakan rencananya untuk menikah dengan Seunghoon.

Dan tentu saja Minrin protes keras. “Tidak. Kakek tahu betul siapa Seunghoon, kami sudah lama mengenal. Bagaimana bisa kakek tidak percaya padanya?”

“Choi Seunghoon dari Mc.lei yang bekerja sama dengan Daehe. Kau ingin apa, ha? Membuat Shinjae jatuh di tangan Daehe dengan menikahi pria itu?”

“Apa?”

“Aku membiarkanmu berteman dengan Heejung dan berhubungan dengan Seunghoon tapi bukan berarti kau kuperbolehkan percaya pada mereka.”

Dan semua seakan sia-sia setelah mendengar ucapan kakeknya itu. Beberapa hari yang lalu Minrin mendapat informasi dari sekreatris Lee bahwa Heejung menemui kakeknya. Jadi mungkin saja Heejung mengatakan sesuatu sampai akhirnya kakeknya menarik kesimpulan seperti itu. Entah apa yang Heejung katakan hingga membuat kakeknya tidak lagi mempercayai kata-katanya. Minrin berpikir dengan bersahabat dengan Heejung, mungkin mereka berdua justru akan membuat Shinjae dan Daehe bekerja sama suatu saat nanti dan menghentikan perseteruan dua perusahaan dan dua keluarga. Tapi yang terjadi justru lebih buruk dari yang Minrin pikirkan.

“Apa Heejung mengatakan sesuatu pada kakek?” tebak Minrin.

“Dia mengatakan kalau Mc.lei berencana mengambil alih saham di Shinjae melalui pernikahan.”

“Dan kakek percaya hal itu?”

“Aku percaya padanya daripada dirimu yang dibutakan oleh cinta,” tegasnya yang seketika membuat Minrin tak bisa berkata-kata.

“Tidak bisa dipercaya kakek percaya padanya sementara aku tak boleh percaya dengan mereka berdua. Seunghoon bukan orang seperti itu.”

Itulah yang dipercaya Minrin. Bahwa Seunghoon bukan sengaja mendekatinya agar bisa memperoleh keuntungan dari Shinjae. Minrin mengenal baik pria itu. Dan memang itulah yang pernah diucapkan Seunghoon padanya, bahwa pria itu tak peduli dengan kekuasaan ataupun kedudukan. Yang itu berarti ia tak punya keinginan untuk memperoleh keuntungan dari Shinjae.

***

Begitulah awal mula reanggangnya hubungannya dengan Heejung. Sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi yang merenggut nyawa Seunghoon. Minrin sendirian dan Heejung tak ada disisinya, menandakan bahwa gadis itu benar-benar telah memutus tali persahabatn dengannya

Ia pun mulai membenci Heejung begitupun kakeknya. Karena kakeknya mulai tak percaya dengannya. Karena ia ingat bahwa orang-orang yang mengejar mobilnya serta Seunghoon adalah suruhan kakeknya. Laki-laki itu meragukan Seunghoon dan bahkan menentang keras rencana pernikahan Minrin dengan Seunghoon dan tanpa sengaja dia juga membunuhnya. Kadar kebencian yang semakin parah ketika kakeknya menjodohkannya dengan Ryeowook begitu Seunghoon meninggal.

Kekecewaan karena kekeknya yang tak percaya padanya memang berakhir pada kebencian. Tapi jauh di dalam hatinya, Minrin tahu betapa ia merindukan sosok orang tua itu. Betapa kadang ia berharap kakeknya masih ada di sini dan membantunya. Kesendirian karena ditinggal sang kakek dengan tanggung jawab yang tak main-main pada akhirnya membuat Minrin menjadi sosok yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Tatapannya mengarah pada seikat bunga mawar yang baru saja diterimanya. Tak ada hadiah lain seperti biasanya. Mungkin Seunghoon hanya membeli hadiah sampai tahun kemarin dan sisanya dia hanya akan memberikannya bunga. Sedikit kecewa tapi Minrin meraih bunga itu dan tersenyum. Lalu tatapannya berhenti pada akuarium besar yang kini menghuni kamarnya itu. Akuarium yang berisi beberapa macam ikan hias lengkap dengan karang dan pasir putih serta air yang terus mengalir terlihat indah dengan lampu penerangan berwana biru di bagian belakang.

Hadiah dari Ryeowook yang terbilang tak biasa dan tentu saja tak disangka Minrin. Tapi kata-katanya tadi yang Minrin artikan sebagai bentuk perhatian mau tidak mau membuatnya bersedia melunakan hatinya yang dingin. Lagipula Ryeowook baru saja mengakui satu hal bahwa dia tidak menjalin hubungan yang seirus dengan Heejung seperti yang dikira Minrin selama ini. Pria itu juga minta maaf karena membiarkan Minrin berpikir kalau dia berada dipihak lain. Kenyataan yang entah kenapa membuat Minrin lega.

Setidaknya ia tidak boleh kehilangan pendukung seperti Ryeowook yang akan tetap membuat kedudukannya tetap kokoh di kursi presdir.

***

Pagi itu Ryeowook dikejutkan dengan Direktur Min yang menghubunginya dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Ajakan yang tak biasa dan sangat jarang, meski Ryeowook sudah sangat sering bertemu Direktur yang satu itu.

Ia pun hanya bisa bertanya pada sekretarisnya, berharap jadwalnya penuh namun ternyata pertemuannya dengan salah satu investor dari Taiwan diundur, yang otomatis membuat Ryeowook punya waktu free saat makan siang. Ia pun tidak punya pilihan selain mengiyakan ajakan bertemu itu.

Tempat pertemuan yang dijanjikan adalah sebuah restoran di sebuah hotel berbintang yang mewah. Ryeowook tidak heran karena yang mengajak adalah Direktur Min. Tapi menyewa seluruh restoran jelas sesuatu yang membuat Ryeowook bingung. Untuk apa melakukan hal itu sementara yang mereka lakukan adalah makan siang bersama dengan diselingi obrolan?

Jawabannya tepat berada di depan matanya ketika ia dipandu seorang pelayan menuju sebuah ruangan. Seluruh Direktur Shinjae group berada di sana, menanti kedatangan Ryeowook termasuk Presdir Lee Sijung.

“Kim Ryeowook-ssi, selamat datang. Kami sudah menunggu. Ayo, silahkan duduk.” Direktur Cha tersenyum lantas berdiri sambil mempersilahkan Ryeowook untuk duduk.

Sejenak Ryeowook memperhatikan semua orang yang ada di depannya itu sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampiri tempat duduk untuknya. Menyadari bahwa ada maksud tertentu dari pertemuan yang direncanakan ini, Ryeowook pun berusaha memasang wajah biasa.

“Kupikir aku hanya akan makan siang bersama Direktur Min tapi sepertinya tidak. Bahkan Presdir Lee ada di sini juga.”

“Ada sedikit perubahan. Kuharap kau tidak keberatan,” ucap Direktur Min sementara Lee Sijung terlihat tenang di tempat duduknya sambil tersenyum.

Ryeowook menyembunyikan ketidaksukaannya lewat sebuah balasan senyuman. Menghela nafas pendek, ia pun menurut untuk duduk di sebuah kursi kosong tepat di samping Lee Sijung. Sangat mengherankan memang tiba-tiba ada perubahan rencana makan siang tanpa sepengetahuan Ryeowook sebelumnya. Ditambah lagi, orang-orang yang ikut bergabung dalam makan siang ini diketahui sebagai pendukung Direktur Min. Tak perlu bertanya dan tak perlu berpikir panjang karena Ryeowook sudah paham apa alasan dibalik acara siang ini.

“Kim Ryeowook-ssi…,” Direktur Min memulai dengan memanggil namanya yang seketika itu mendapat respon tolehan dari pria muda itu. “Silahkan nikmati hidanganmu, kita akan bicara setelah selesai makan siang,” katanya.

Ryeowook mendengus pelan tapi kembali menurut. Ia harus tahu alasan tepatnya sebelum menunjukkan ketidaksukaannya dan pergi dari sini. Tidak lama mereka semua menikmati sajian itu. Ryeowook tak menyentuh banyak jatahnya. Dia hanya memainkan tangannya di gelas piala berisi wine sembari sesekali memperhatikan semua orang.

“Kau pasti terkejut.” Lee Sijung berujar setelah beberapa saat. Kini perhatian semua orang terpusat pada Ryeowook begitu mereka meninggalkan fokusnya pada makanan di depannya.

“Tentu saja. Karena yang kutahu aku hanya akan makan siang bersama Direktur Min. Siapa yang menyangka dia mengajak teman-temannya,” sindirnya dengan halus. Direktur Min tertawa pelan begitu juga para direktur lainnya. Hanya Lee Sijung yang masih nampak tenang.

“Ini bagian dari bisnis,” sahutnya yang seketika itu membuat Ryeowook memasang wajah serius. “Bagaimana hubunganmu dengan Heejung? Kulihat kalian sangat dekat.” Kembali satu pertanyaan yang kembali membuat Ryeowook berdecak dalam hati. Apa maksud pertanyaan itu?

“Kami berteman.” Ryeowook menjawab singkat.

“Aku senang mendengarnya.” Lee Sijung mengangguk-angguk puas.

Lalu setelah itu Direkur Min menyodorkan sebuah amplop coklat ke hadapan Ryeowook. Ekspresi pria itu tersenyum penuh arti. Dan Ryeowook rasa isi amplop itu lah alasan di balik senyuman yang dipamerkannya itu

“Ini alasan kami mengundangmu, Kim Ryeowook-ssi,” ucapnya tepat seperti dugaan Ryeowook. Ryeowook mengernyit lalu mengambil amplop itu dan membacanya. Sebuah dokumen yang berisi tentang para politisi yang mendapat suap dari Shinjae, dan salah satunya adalah ayahnya.

“Apa ini?” tanya Ryeowook mulai menunjukkan ketidaksukaannya. Apa mereka mencoba mengancamnya sekarang?

“Kami hanya ingin sebuah kerja sama. Membantu kami mendapatkan kursi presdir Shinjae Group dan masalah ayahmu tidak akan terkuak ke publik.” Direktur Min menjelaskan dengan eskpresinya yang penuh kelicikan dan kepuasaan yang bersamaan. Puas karena berhasil membuat Ryeowook memasang wajah serius tak terima dan dibawah tekanan.

“Apa yang kalian inginkan dariku? Aku bahkan tak pernah ikut campur urusan di Shinjae.” Ryeowook mencoba melawan tapi yang di dapatkannya adalah senyuman di atas angin yang diperlihatkan delapan orang di depannya.

“Memang tidak, tapi kau tahu kalau kau adalah pewaris sah Shinjae. Kau tak perlu khawatir tentang Presdir Shin, kami yang akan mengurusnya. Yang perlu kau lakukan adalah membantunya untuk menulis surat wasiat yang berisi pengalihan jabatan pada Direktur Min.” Direktur Cha berucap yang langsung membuat Ryeowook menatapnya serius.

Ryeowook diam, mencoba mencerna sekaligus memikirkan apa yang sebenarnya mereka coba lakukan pada Minrin.

“Tenang saja, kami tidak memintamu menceraikannya. Ya… meskipun pernikahan kalian hanyalah sebuah perjanjian semata. Jadi kurasa tidak akan sulit bagimu untuk membantu kami, benar kan?”

Lee Sijung menatapnya dan Ryeowook tahu bahwa pria itu ikut bekerja sama dalam hal ini karena masalah kebangkrutan Daehe. Jika pimpinan Shinjae berganti, secara tidak langsung akan menguntungkan Daehe karena semua tahu Minrin sebagai Presdir Shinjae tak pernah mau berurusan dengan Daehe.

“Jadi, Kim Ryeowook-ssi… kami menunggu jawabanmu.” Direktur Cha berucap terdengar mendesak yang demi Tuhan nyaris membuat Ryeowook menyumpahinya.

“Aku akan memikirkannya.” Itulah yang mampu diucapkannya. Tatapan mereka terlihat kecewa dan Ryeowook bisa melihat itu dengan jelas, tapi Lee Sijung tersenyum mengangguk.

“Kami mengerti. Pikirkanlah dan kami akan menunggu jawabanmu,” ucapnya.

“Kalau begitu aku permisi.” Ryeowook tentu saja mengambil kesempatan itu untuk segera pergi. Lebih lama dia berada di tempat ini akan lebih banyak juga mereka membujuknya untuk sesuatu yang sepertinya tak akan disetujuinya.

Setelah Lee Sijung mengangguk lagi dengan senyuman, Ryeowook pun langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan ke luar dengan membawa amplop yang tadi diterimanya dengan menggenggamnya erat.

“Cari tahu apa yang coba mereka rencankan untuk Minrin,” katanya memberi perintah pada aisstennya.

Asistennya adalah seorang pria yang lebih muda darinya yang langsung mengangguk mengerti. “Saya mengerti. Kepala Pelayan Oh menelepon tadi.”

Ryeowook berhenti lalu menoleh ke arah asistennya. Mungkin karena ponselnya mati sejak tadi, karena itu pelayan Oh menelopon asistennya tapi kenapa?

“Presdir jatuh pingsan,” katanya.

“Apa? Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi” cercanya begitu perasaan panik dan khawatir melandanya.

Ryeowook tak terlalu mendengarkan penjelasan asistennya itu yang mengatakan tentang stress dan kelelahan. Ia hanya terus berjalan cepat menuju mobilnya terparkir lalu menoleh lagi ke arahnya. “Kau kembali saja ke kantor, aku akan pulang dan melihatnya,” katanya terburu-buru.

“Tapi Direktur… rapatnya… bagaimana dengan rapatnya?” teriak pria muda yang bahkan tak lagi di dengar Ryeowook karena mobil yang dikendarainya sudah melaju meninggalkannya.

Satu-satunya yang bisa dilakukan pria muda itu hanyalah menghela nafas pendek dan mencari taksi untuk membawanya kembali ke kantor.

***

Ryeowook tak tahu kenapa ia begitu panik mendengar Minrin pingsan. Karena ini pertama kalinya ia mendengar Minrin pingsan akibat stress atau karena ia terlalu memikirkan kata-kata Lee Sijung dan yang lainnya?

Ya Tuhan… ia tidak tahu harus bagaimana jika terjadi apa-apa dengan wanita itu.

Sesampainya di rumah, ia langsung menghentikkan mobilnya begitu saja di depan rumah dan membiarkan pengawal di depan rumah yang akan mengurus mobilnya. Setelah itu ia berlari dengan tergesa-gesa ke dalam rumah, menaiki tangga dan mendapati kepala pelayan Oh berdiri di depan pintu kamar Minrin dengan cemas.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?” katanya tak sabaran yang terdengar jelas dari nadanya dan juga deru nafasnya.

“Saya juga tidak tahu. Presdir tiba-tiba pingsan saat saya masuk ke kamarnya dan mengantarkan minum.”

“Dia tidak pergi ke kantor?” Ryeowook bertanya merasa heran karena biasanya Minrin selalu berada di kantornya.

“Sejak pagi, Presdir tidak pergi kemanapun. Sekretarisnya datang untuk mengambil beberapa file.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Dia sudah siuman dan minum obat sekarang beliau sedang tidur.”

Ryeowook mengerti lalu mengucapkan terimakasih pada pelayan setia keluarga Shin itu sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar Minrin. Wanita itu masih tertidur di ranjangnya saat Ryeowook berjalan mendekat untuk melihatnya lebih jelas.

Wajahnya sedikit pucat dan juga terlihat lelah. Entah hal macam apa yang menganggu pikirannya sampai seperti ini. Selama menikah dengannya, baru kali ini Ryeowook melihat Minrin sampai jatuh pingsan karena beban pikiran.

Di meja kecil sebelah kiri tempat tidur Ryeowook mendapati seikat bunga mawar putih yang telah di tata rapi di sebuah vas bunga. Ryeowook juga tak pernah tahu Minrin suka bunga. Begitu banyak hal yang tak diketahuinya tentang Minrin. Suami macam apakah dirinya ini?

Ryeowook kembali mengamati Minrin. Diam-diam menghela nafasnya lega karena melihatnya yang baik-baik saja. Mungkin, ia harus membujuknya untuk memeriksakan diri ke dokter. Terkadang Ryeowook khawatir dengannya yang sering pusing dan terus saja mengkonsumsi obat yang katanya pereda rasa sakit itu. Ia kemudian berjongkok untuk memperhatikan Minrin lebih dekat.

“Jangan khawatir. Aku tidak akan berubah menjadi musuhmu. Karena aku tahu, kau pasti akan sangat marah dan kesal. Dan itu tak baik untuk kesehatanmu. Jadi, mulai sekarang aku akan menunjukkan kepada siapa aku berpihak dan itu adalah dirimu,” katanya dengan sangat tulus.

***

Minrin terbangun dari tidurnya ketika hari telah sore. Kepalanya masih berdenyut saat ia berusaha bangun tapi diabaikannya. Ia tahu dirinya baru pingsan dan akhirnya jatuh tertidur karena efek obat. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya yang tiba-tiba tak bisa diajak kerja sama. Mungkin karena ia kelelahan dan mungkin juga karena ia memikirkan banyak hal akhir-akhir ini.

Tepat saat ia akan turun dari ranjang, pelayan Oh datang dan masuk sambil membawakan makanan untuknya. Dari bauanya ia menduga mangkuk itu berisi bubur. Minrin benci bubur dan seingatnya pelayan Oh tahu betul akan hal itu.

“Bagaimana keadaan Anda? Apa Anda baik-baik saja?” tanyanya.

“Ya. Beberapa lama aku tertidur?”

“Empat jam,” jawabnya.

Ya, itu sangat lama. Empat jam bisa digunakan Minin untuk bekerja dan yang dilakukannya hanyalah terbaring di ranjang. Ia memegangi kepalanya sesaat sebelum pelayan Oh kembali menanyainya apakah ia baik-baik saja yang langsung diiyakan Minrin lagi.

“Anda belum makan sejak tadi pagi. Makanlah…,” katanya lagi sambil meletakkan nampan makanan di pangkuan Minrin dan wanita itu hanya menatap tidak suka baik isi nampan itu maupun kepala pelayannya.

“Kau tahu aku tidak suka bubur,” katanya lemah tapi tetap saja terdengar kesal dan juga dingin.

Jeongsohamnida tapi tuan yang membuatnya dan katanya Anda harus menghabiskannya.” Buru-buru pelayan Oh menyahut dan justru semakin membuat Minrin ingin melempar nampan itu begitu tahu Ryeowook lah orang dibalik bubur ini.

“Bawa pergi dan bawakan aku nasi.” Saat Minrin mengatakan hal itu kebetulan sekali pintu kamarnya kembali terbuka dan Ryeowook masuk menghampiri keduanya.

“Kau akan makan bubur itu bukan nasi,” katanya lalu menyuruh pelayan Oh keluar dan wanita itu memang langsung membungkuk memberi hormat sebelum akhirnya meninggalkan keduanya.

Minrin menatap Ryeowook marah. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya sinis. Bahkan wajahnya yang pucat masih belum bisa menyembunyikan ekspresi dingin yang dipunyai Minrin. Kelihatannya justru semakin mengerikan.

Ryeowook mengabaikan pertanyaan itu dan langsung duduk di tepi ranjang. “Kau makan sendiri atau aku harus menyuapimu?” tawarnya. Minrin mendengus  keras lalu menatap tajam ke arahnya.

“Aku tidak akan makan ini.”

“Kalau begitu aku akan menyuapimu.” Setelah itu Ryeowook mengabil sendok di nampan itu, menyendok buburnya dan mengacungkannya di depan mulut Minrin.

Minrin tentu saja tak membuka mulutnya dan masih menata tajam ke arah Ryeowook. Ia paling benci jika seseorang memaksanya seperti ini. “Sebenarnya ada apa denganmu, ha? Aku sama sekali tak butuh rasa kasihan dan perhatianmu dan berhentilah melakukannya karena itu membuatku kesal.”

“Kita akan membicarakan hal itu tapi setelah kau menyelesaikan makananmu,” ujarnya tak pantang mneyerah dan itu membuat Minrin menghela nafasnya keras. Merasa tak berhasil melawan, ia pun menyerah dengan mengambil alih sendok di tangan Ryeowook dan menyuapkan sendiri bubur itu ke mulutnya.

Selama beberapa menit ia pun sibuk memakan bubur itu dengan Ryeowook yang diam-diam tersenyum memperhatikannya. Mungkin karena sangat lapar hingga bubur itu terasa enak di mulutnya. Selama ini Minrin tak makan bubur kecuali bubur buatan ibunya. Dan ia berhenti makan benda lembek itu setelah ibunya meninggal.

Ia menyelesaikan suapan terakhir tepat di menit ke sepuluh. Ryeowook menyingkirkan mangkuk dan nampan ke atas meja setelah itu.

“Kau sudah lebih baik?” tanyanya.

Minrin meliriknya, masih kesal lalu setelah itu ia meletakkan gelasnya di atas meja dan mulai menatap Ryeowook. “Aku tetap akan baik meski kau tak memaksaku memakan bubur itu. Jadi, kurasa kau tak punya alasan untuk perhatian pada keadaanku,” katanya sinis seperti biasanya. Mungkin karena Ryeowook sudah terbiasa mendengarnya sampai-sampai ia sama sekali tak terganggu.

“Kurasa aku harus melakukannya. Itu janjiku pada kakekmu.” Minrin mendecakkan lidahnya lagi dengan kesal. Persetan dengan janjinya dengan kakeknya dulu. Lalu kenapa? Ia harus berterimakasih begitu? Omong kosong.

“Berhentilah menggunakan janji yang kau buat dengan kakekku itu tak akan mengubah apapun di antara kita.”

“Mungkin kau benar,” sahut Ryeowook cepat. Hening sesaat, terlihat Ryeowook yang menarik nafasnya panjang seperti akan mengatakan sesuatu. Minrin menunggu tapi tak benar-benar berharap.

“Direktur Min dan yang lainnya menemuiku. Kau mungkin sudah menduga hal ini akan terjadi.” Minrin membulatkan matanya perlahan mendengar hal itu dan hanya bisa melihat Ryeowook mencari kebenaran. “Jadi, aku akan bertanya padamu. Karena kau mungkin sudah menduga hal ini, apa yang kau pikirkan dan rencanakan jika itu terjadi?” dan yang di dapatkanya adalah keseriusan dari ekspresi Ryeowook. Minrin diam.

“Kau pasti punya rencana cadangan kalau aku berpihak pada mereka. Ya… itu hanya ‘jika’ karena aku belum memberikan jawaban apapun pada mereka.”

“Lantas, kenapa kau mengatakan hal ini padaku?” tanya Minrin tak paham.

“Karena aku ingin tahu, apa yang kau pikirkan.”

Minrin kembali tak langsung menjawab.  Jujur saja ia belum memikirkan sejauh itu. Ia tahu ada kemungkinan Ryeowook akan berbalik menjadi musuhnya tapi ia tidak pernah menganggap serius kemungkinan itu. kemungkinan dalam pikirannya hanya sebatas Ryeowook menjalin hubungan dengan Heejung dan itu tenyata tidak benar dan Minrin telah berhenti mengkhawatirkan hal itu sejak Ryeowook mengatakannya sore itu di belakang rumah.

Karena sejujurnya Minrin menolak untuk memikirkan kemungkinan itu.

“Aku akan tetap melindungi Shinjae. Bagaimana pun caranya,” katanya kemudian setelah diam beberapa saat. Ryeowook tersenyum kecil lalu mengangguk mengerti.

“Baiklah, aku mengerti.” Dia kembali tersenyum sebelum akhirnya beranjak untuk membawa nampan berisi mangkok dan gelas keluar.

Laki-laki itu benar-benar sudah keluar saat Minrin memikirkan ucapan Ryeowook kembali. Ia tidak tahu jika Direktur Min telah mengambil langkah lebih dulu. Apa yang harus dilakukannya? percaya pada Ryeowook bahwa pria itu akan berpihak padanya atau ia harus mulai melihat suaminya itu sebagai orang yang akan melensengrkan kedudukannya

***

Keesokan harinya Minrin kembali menerima berita yang cukup jadi alasan untuknya kembali mendapat serangan sakit kepala. Orang suruhannya yang pernah diminta untuk mencari tahu apa yang dilakukan Direktur Min memberinya laporan.

“Mereka mengadakan pertemuan bersama Presdir Lee Sijung dan Tuan Kim berada di sana.”

Jadi Ryeowook tidak berbohong padanya. Mereka memang datang menemui suaminya. Lalu apa yang sedang mereka rencanakan?

“Bagaimana dengan Lee Heejung?”

“Seperti biasanya, Lee Heejung masih sering menemui Tuan Kim.”

Dan itulah yang menjadi alasan Minrin untuk mulai mengkhawatirkan apa yang mungkin akan terjadi. Bagaimana jika Lee Heejung benar-benar merencanakan sesuatu dengan mendekati Ryeowook?

Lee Heejung pernah menjadi oang yang mengkhiantai Minrin. Jadi, tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal lain untuk menjatuhkan Minrin. Memikirkan emua out justru membuatnya semakin sakit kepala. Ia hanya menyuruh orang suruhannya itu untuk tetap mengawasi Direktur Min dan juga Lee Heejung. Jujur saja sekarang dibandingkan keberadaan Direktur Min, Minrin lebih mengkhawatirkan keberadaan Lee Heejung di sekitar Ryeowook.

***

“Kau sangat pucat. Kau baik-baik saja, Presdir?” Hyemin menegur Minrin saat mereka berdua berdiri di dalam lift yang akan membawa mereka turun ke lantai satu.

“Ya. Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Daehe?” tanyanya.

“Maksudmu? Kau bertanya apa mereka masih berusaha mendapatkan pinjaman dari kita atau sudah menyerah?” Hyemin bertanya lebih jelas. Siapa tahu ada maksud lain dari pertanyaan itu.

“Ya. Bagaimana dengan mereka, bagaimana pabrik baru yang mereka beli. Aku butuh informasi.”

“Aku tidak tahu siapa yang membantunya tapi mereka sepertinya sudah keluar dari krisis.”

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan Wixon, pabrik kimia asal Ukraina yang kemarin baru bekerja sama dengan kita?

Terlihat Hyemin menarik nafasnya sebentar, begitu ragu untuk menyampaikan informasi yang diminta Minrin barusan.. “Hmm… soal itu. Proyek yang kemarin kita bicarakan sepertinya harus dibatalkan. Alexen dan Daehe baru saja mengumumkan kalau mereka juga sedang bekerja dalam proyek serupa. Akan sulit untuk bersaing karena hak paten ada pada Alexen.”

“Apa?” Minrin menoleh terkejut. Tapi langsung menguasai dirinya agar tidak meledak marah sekarang ini. Kondisi tubuhnya tak terlalu baik sejak kemarin dan ia tidak ingin membuatnya semakin stress karena beban pikiran baru.

“Kau tentu tahu, bukankah kau sudah mempresentasikan itu di depan para pemegang saham?”

Wanita itu memejamkan matanya sebentar. Ya, dia ingat. “Saham Shinjae mengalami penurunan kemarin sore begitu mereka memberikan pengumuman, dan sebaliknya saham Alexen serta Daehe meningkat karena hal itu.” Hyemin melanjutkan.

Minrin kini hanya diam. Gara-gara ia begitu ingin menghancurkan Daehe, ia bahkan tak berpikir jauh. Tapi siapa yang telah membantu Daehe? Minrin sudah memperhitungkan dan perkiraannya berkata kalau hanya Shinjae lah yang bisa mengeluarkan Daehe dari krisis.

“Baiklah, kita akan bicarakan itu nanti dan segera jadwalkan rapat dengan Wixon.”

“Ya. Aku mengerti.”

***

Apa lagi yang harus dihadapinya sekarang? Menerima kenyataan bahwa sekelompok orang tengah merencanakan sesuatu untuk menjatuhkannya dan kini ia juga dihadapkan pada fakta bahwa rencana untuk menjatuhan Daehe tak berjalan bagus.

“Kau tidak apa-apa?” sapa Ryeowook saat minrin baru saja pulang. Wanita itu hanya menoleh sebentar ke arah suaminya itu dan berlalu tanpa mengatakan apapun.

Ia terlalu lelah dan hanya ingin istirahat bukannya berdebat tidak penting dengan pria itu. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Lee Heejung berada di rumahnya. Dan wanita itu terlihat begitu nyaman berada di dapurnya. Minrin menoleh ke arah Ryeowook meminta penjelasan namun Heejung lebih dulu menemukannya.

“Presdir, bagaimana kabarmu?” tanyanya ramah dan ditanggapi Minrin dengan cibiran pelan.

“Apa yang kau lakukan? Kurasa ini bukan jam yan tepat untukmu berkunjung kemari,” sindirnya.

Heejung tersenyum. “Maaf, aku hanya ingin menyapamu. Sikapku terlihat begitu buruk ketika datang kemari tapi tak pernah menyapamu.”

“Apa kita pernah saling bertegur sapa sebelumnya? Lupakan saja,” sahutnya cepat dan berniat untuk segera naik ke lantai atas tapi Ryeowook mencegahnya.

“Setidaknya kau bersedia mengobrol dengannya. Heejung membantu menyiapkan makan malam untukmu.”

Minrin berhenti melangkah dan menoleh menatap Ryeowook tajam. “Kenapa aku harus melakukannya? Seharusnya kau mulai harus mengambil sikap dengan menyuruhnya pergi dari sini. Wanita macam apa yang datang ke rumah pria yang telah beristri?”sahutnya sambil melayangkan tatapan bencinya pada Heejung.

“Minrin-ya.”

“Tidak apa-apa, Ryeowook-ah. Aku akan kembali lain kali.” Heejung buru-buru menyela saat Ryeowook berteriak menyuruh Minrin untuk menghargai Heejung. Tapi wanita itu begitu marah dan kesal hingga tidak peduli apa yang Ryeowook katakan.

“Tapi dia harus tahu, kau datang untuk membantu,” kata Ryeowook merasa bersalah.

“Dia masih membenciku dan aku mengerti.”

Ryeowook hanya menghela nafasnya pendek tapi tidak bisa melakukan apapun. Ya, Minrin terlalu membenci Heejung hingga apapun yang dilakukan Heejung selalu salah dan membuatnya marah.

“Tenang saja. Aku tidak akan berubah pikiran dan akan tetap membantu kalian. Jika ayahku merencanakan sesuatu terkait Shinjae, aku akan segera mengabarimu.”

Dan Ryeowook hanya bisa tersenyum. Sejak ia bertemu dengan Direktur Min yang merencanakan pergantian pempimpin di Shinjae, ia mendapatkan kabar dari Heejung bahwa ayahnya sepertinya tengah merencanaan sesuatu yang berakibat buruk untuk Minrin. Awalnya Ryeowook tak percaya tapi Heejung mengatakan kalau ia hanya ingin membantu dan tak ingin Minrin berada dalam situasi yang buruk.

“Terimakasih, Heejung-ah.”

“Tidak. Aku yang berterimakasih padamu. Karena mengenalmu, aku tahu seperti apa Minrin setelah kejadian tiga tahun itu. Apa yang kulakukan mungkin tak akan membuatnya melupakan kesalahanku.”

“Aku yakin dia akan berubah pikiran.”

“Ya, baiklah kalau begitu lebih baik aku pulang. Katakan padanya untuk menjaga kesehatan dan jangan terlalu stress.”

“Hmm… hati-hati di jalan.”

Heejung mengangguk, tersenyum dan menepuk lengan Ryeowook pelan sebelum pergi meninggalkannya.

***

Ryeowook mengikuti Minrin ke kamarnya dan mendapati wanita itu tengah duduk di sofanya, menoleh tajam ke arah Ryeowook yang berani-beraninya masuk ke kamarnya.

“Ada apa denganmu?” tegur Ryeowook.

“Hanya karena aku menerima hadiahmu dan mau berbagi cerita denganmu, bukan berarti kau bisa seenaknya memaksaku bicara dengannya. Karena itu tidak akan pernah terjadi,” sahut Minrin dingin. Dia membuang muka, berjalan ke depan meja riasnya dan melepas perhiasannya.

“Dia datang untuk membantu,” katanya lagi. Minrin  mendengus lemah lalu menoleh ke arah Ryeowook lagi

“Aku tidak butuh bantuan apapun darinya,” sahutnya cepat dan juga dingin.

Ryeowook pikir Minrin akan sedikit mengubah sikapnya sejak menceritakan kisahnya kemarin, tapi ternyata tidak. “Ini soal Direktur Min. Kuyakin kau juga sudah tahu apa yang terjadi. Dia hanya ingin membantu, karena katanya dia juga tidak ingin ayahnya mengahncurkanmu.”

“Persetan dengannya dan juga ayahnya itu. Dan kau…. jika kau tak keluar sekarang, aku yang akan keluar,” katanya lagi dengan sangat serius dan bahkan sorot mata penuh kebencian.

Ryeowook hanya mendesah pelan, ingin kembali mendebat tapi akhirnya ia pun mengalah. Kemudian ia pun keluar meninggalkan Minrin yang duduk diam menatapnya hingga benar-benar tak terlihat dari pandangannya.

Selepas itu, Minrin pun menghela nafasnya dengan sangat keras. Kepalanya pusing. Sungguh, ia tidak mengerti. Setelah pembicaraan mereka kemarin dan bahkan Ryeowook mengatakan tidak akan membuat Minrin berpikir bahwa Ryeowook berpihak pada Heejung. Lalu apa yang dilakukannya? membiarkan gadis itu di rumah ini, dan percaya dengan kebaikannya yang katanya mau membantu?

Sialan!

Ia melempar jam tangan yang baru dilepaskannya ke lantai lalu meleparkan tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan matanya dengan tangan memegangi kepalanya yang pening.

***

Ryeowook tak paham dengan sikap Minrin. Jujur saja ia tidak ingin menerima bantuan Heejung yang katanya akan memberitahu informasi apapun padanya juga Minrin terkait rencana ayahnya. Tapi karena Ryeowook tidak ingin Minrin kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi alasannya untuk hidup dan berjuang, maka dari itu ia menerima bantuan Heejung. Ia hanya lupa bahwa Minrin sangat sangat membenci gadis bermarga Lee itu.

Tapi ia tidak bisa berdiam diri. Lee Sijung, Direktur Min dan yang lainnya memang tengah merencanakan sesuatu. Mereka bahkan terang-terangan memaksa Ryeowook bergabung dengannya. Yang tentu saja tidak akan disetujui Ryeowook sampai kapanpun.

Ponselnya berdering tiba-tiba. Panggilan dari ayahnya. Tanpa berpikir, ia pun mengangkat panggilan itu. Tidak ada pembicaraan yang serius. Ayahnya hanya ingin mengajak bertemu dan dia menyuruh Ryeowook untuk datang ke Incheon. Ryeowook mengiyakan, mungkin ayahnya ingin membicarakan soal hotel keluarga yang kini dikelolanya, pikirnya.

***

Ayahnya berada di ruang belakang yang biasa digunakan untuk berkumpul seluruh keluarga. Sebidang permainana catur berada di depannya lengkap dengan sajian teh yang mungkin disiapkan pelayan  di rumah ini.

Ryeowook menyapanya dan langsung disuruh duduk di depannya. Pria paruh baya itu bahkan meminta Ryeowook untuk bermain catur dengannya. Meskipun Ryeowook tak pandai memainkannya, ia pun menurut. Sementara ayahnya menuangkan teh ke dalam gelas, Ryeowook memperhatikannya. Sangat jarang ayahnya mengajaknya bertemu selain membahas hal yang serius. Apalagi dengan catur dan teh. Ini mengingatkan Ryeowook saat ayahnya memintanya untuk menikah dengan Minrin. Tentu saja Ryeowook tak pernah melupakannya. Persis dengan cara seperti ini ayahnya menyapaikannya waktu itu. Jadi, suasana yang hampir mirip ini mau tidak mau membuat Ryeowook bertanya-tanya.

“Kau sudah bertemu dengan Lee Sijung?” tanyanya dan Ryeowook langsung mengernyit pelan mendengar pertanyaan itu. Ia menahan diri untuk bertanya ‘kenapa’ karena ayahnya biasanya tidak akan suka jika mendapat pertanyaan seperti itu.

Ia berdehem dan mengangguk mengiyakan. “Mereka menemuiku dua hari yang lalu.”

Pria paruh baya itu ikut berdehem, menjalankan kudanya yang ternyata berhasil memakan dua pion dan satu benteng milik Ryeowook.

“Kalau begitu kau sudah tahu apa yang akan mereka lakukan,” katanya.

Kini giliran Ryeowook, tapi ia terlalu berkonsentrasi dengan ucapan ayahnya hingga tak terlalu mempedulikan permainan caturnya.

Aboji…, apa kau ingin mengatakan padaku untuk mengikuti kemauan mereka?” tanya Ryeowook menebak. Benar-benar tak percaya jika tebakannya itu benar, tapi memang itulah kenyataannya. Ayahnya tersenyum.

“Kau tidak mungkin menghancurkan ayahmu bukan?” tanyanya. Pertanyaan paling menyebalkan yang didengar Ryeowook sejauh ini. Tentu saja tidak tapi dia juga tidak ingin menghancurkan isterinya

Aboji…., Minrin akan kehilangan semuanya. Meskipun aku juga tidak menginginkan hartanya, tapi membantu mereka mengubah hak waris sama saja itu kejahatan.”

“Ryeowook-ah, wanita itu bahkan tidak pernah kau cintai. Kalian juga tidak saling mencintai. Kalian menikah karena presdir Shin terdahulu yang meminta. Dan dia sudah tiada, untuk apa lagi kau mempertahankannya? Lee Sijung akan memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan Shinjae,” katanya berapi-api.

Skak mat. Ratu miliknya telah berhadapan dengan perdana menteri milik ayahnya, yang itu artinya permainan selesai. Ah… Ryeowook bahkan sudah tak berminat dengan permainan catur nya.

Aboji….,”

“Katakan padanya kau setuju. Aku lebih baik melihatmu tidak mendapatkan Shinjae daripada keluarga kita hancur.”

Ryeowook benar-benar sudah tidak mengerti. Ayahnya bukan orang seperti ini, tapi kenapa tiba-tiba sikapnya begitu menyedihkan. “Apa mereka mengancammu?” tanya Ryeowook kemudian.

Itu satu-satunya yang dipikirkannya. Karena mereka tahu Ryeowook tidak akan setuju. Karena itu, mereka mengancam ayahnya dan pada akhirnya ayahnya lah yang akan memaksa Ryeowook. Rencana yang hebat.

“Apa yang kau bicarakan? Tidak ada yang mengancam dan diancam. Itu semua kesepakatan,” katanya bersikeras. Namun sayangnya Ryeowook juga bersikeras.

“Kesepakan atau bukan, tapi aku rasa aku tidak bisa melakukannya,” ucap Ryeowook pada akhirnya. “Jika tidak ada yang ingin ayah bicarakan, aku akan pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.”  Ryeowook membungkuk, meminta ijin untuk pulang begitu ayahnya tidak lagi menyahut ucapannya.

Pria paruh baya itu hanya diam, menatapnya dan membiarkannya.

Ryeowook tahu, ayahnya akan dalam masalah jika mereka mengungkapkan pada publik bahwa ayahnya mendapatkan suap selama ini. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Minrin hancur, meskipun ia sendiri belum tahu apa yang tengah direncanakan Direktur Min dan juga Lee Sijung pada Minrin.

***

Ryeowook kembali ke rumah dan mendapati satu mobil polisi dan dua mobil hitam terparkir di halaman rumahnya. Dan tentu saja Ryeowook bertanya-tanya apa yang tengah terjadi. Untuk apa polisi mendatangi rumahnya? Apa terjadi sesuatu?

“Apa yang terjadi?” tanyanya pada pelayan Oh yang berdiri di depan pintu masuk dengan raut wajah khawatir.

“Tuan, polisi dan detektif datang dengan surat perintah untuk membawa presdir,” jawabnya yang sukses membuat Ryeowook terkejut.

“Apa?”

Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Minrin keluar dari ruangannya dengan dua detektif yang mengawal di kanan kirinya. Wanita itu memasang wajah tenangnya, namun Ryeowook tahu dia menyembunyikan kemarahan dan mungkin juga kebingungan atas apa yang baru saja dialaminya. \

“Tunggu. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kalian menangkapnya seperti ini?” cercanya pada seorang detektif yang berjalan paling depan. Sekilas Ryeowook melihat ke arah Minrin yang juga hanya menatapnya diam.

“Maaf tuan, Shin Minrin-ssi akan diperiksa terkait penyuapan Shinjae pada pejabat dan dewan pemerintahan,” jelasnya.

“Apa?”

Tidak ada yang menjawab lagi dan mereka pun terus berjalan. Minrin berhenti sejenak di depan Ryeowook dan menatapnya. “Hubungi pengacaraku. Aku tidak akan kalah hanya karena masalah seperti ini,” katanya sangat yakin.

Dan Ryeowook pun memang tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan Minrin di bawa pergi oleh polisi dan detektif.

Apa lagi ini? Kenapa semua terjadi secara kebetulan? Ia bertanya-tanya sendiri, masih menatap punggung wanita itu yang kini telah dibawa keluar dari kediamannya. Tidak lama setelah itu, ponselnya bergetar. Panggilan dari Direktur Min. Seakan tahu untuk apa direktur itu menghubunginya, Ryeowook pun mengangkatnya dengan kasar.

Belum sempat ia bertanya, direktur Min lebih dulu mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat raut wajah Ryeowook berubah mengeras.

“Kurasa para detektif telah berkunjung ke sana. Jadi, bagaimana? Jika kau belum setuju aku akan kembali mengingatkanmu, bahwa kasus penyuapan itu akan membawa nama ayahmu sebagai salah seorang yang menerima suap. Ini baru awal, karena masih ada banyak rencana untuk wanita itu,” katanya yang benar-benar membuat Ryeowook mengepalkan tangannya kaut dan mengatupkan bibirnya menahan amarah.

Sialan!

***

CUT

Hi, It’s me again. Saya bawa The Wedding, who is waiting for this ff? 🙂

Aku nggak mau bikin note panjang. Please tell me your comment about this story. 

Udan gitu aja, sampai jumpa di update selanjutnya. Semoga di  update selanjutnya bisa bawa Secret Guard.

Thank You and See You ^^

Advertisements

15 thoughts on “The Wedding Part 3

  1. Woa.. akhirnya update cerita ini.. i am waiting for this story.. but its getting complicated? Huhuuu.. its ok.. cause i enjoy reading it.. hwaiting for the next update.. ingin tahu cerita selanjutnya.. 😀 thanks for the update.. 😉

  2. Yeeey akhirnya penantian pnjang the wedding berakhir
    Cerita nya semakin seru,ap sunghoon sbnarnya msih hidup y.btw smga ja wook tetap bntuin minrin kan ksihan dia.n berhrp mkin bnyak moment ryeomin na,
    N sceart guard pleasssss

  3. Iihhh akhirnya setelah menunggu sekian lama ada ff baru juga T^T
    Makin complicated dan makin seru!! Si ryeowook kenapa sih selalu terjebak dalam situasi skak mat begitu terus suka dipaksa lagi hahahhaa
    Kalo baca ff ini mungkin di chapter ke sekian berapa baru ada romancenya kali ya😂
    Ditunggu next ff!! /secret guard yes?? / haha keep writing 😉

    1. ryeowook selalu terjebak dalam situasi skak mat, karena saya suka lihat si dia di situasi terjepit, hahaa XD
      *so sorry ryeowook-ssi* ..
      bagian romancenya, kita lihat deh kapan timbul benih benih cinta di antara mereka, #eaa..
      terimakasih yaa ^^

  4. Annyeong.. huhuuu T.T,, udah lama nggak mampir lagi dan udah ada ff baru the wedding *yeayy* makin rame nih eon ceritanya, konfliknya makin terlihat dan semakin bikin greget. kasian wookie, selalu terjebak disituasi yang pelik 😦 aku tunggu next chap nya ya eon.. semangat 😉

  5. rumit yah? kasian sm minrin juga ryeowook.. disini ryeong udh sadar ya sama perasaan nya buat minrin tp minrin nya judes dan dingin gitu.. hahh semoga aja minrin juga sadar sama perasaan nya dan mulai mengetahui seberapa besar pengorbanan ryeong buat bantuin dia, bahkan ia menolak permintaan ayah nya buat nerima tawaran Direktur Min yg licik nya kagak ketulungan -_-

    lee heejung itu deketin ryeong punya something to hide kah? licik banget pura2 baek di depan ryeong mau bantu minrin padahal mau jatohin, maaf komen nya panjang 😀 dan last ditunggu Secret Guard part ending nya 🙂 fighting^^

  6. makin pelik plus rumit, ryeonggu untuk ke sekian kali nya di kondisi rumit kek gini.. hemm semoga minrin cepet sadar deh sama perasaan nya, pen liat mereka romance2-an 😀

    Secret Guard nya dilanjut ya? ditunggu.. Fighting^^

  7. Makin complicated makin rumit makin greget pokonya di chapter ini 😂
    Dsni ryeowook udh mulai suka kan sama minrin?
    Ahhh akusih ga sabar nggu mereka bisa romantis kaya di ff eonni yg lainnya wkwk
    Di tnggu nexpostnya eon😃

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s