(Ryeomin Story) Disorder

disorder

Title : Disorder | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin

***

Sesuatu yang diinginkan Minrin saat ini adalah melihat Ryeowook sebagai penyanyi solo, yang berdiri dengan kedua kakinya sendiri di atas panggung lalu penonton akan memberi tepuk tangan serta pujian begitu dia menyanyikan lagu solo miliknya. Lebih banyak lagi, saat melihat semakin banyak orang -selain fansnya tentu saja- mengakui kemampuan bernyanyinya yang luar biasa dan Minrin akan dengan senang hati memberi banyak pujian pada pria itu. Ia akan tersenyum padanya, memberinya pelukan hangat seraya membisikan kata-kata kebanggaan di telinganya. Ya, seperti itulah yang dipikirkanya. Ia hanya tidak tahu, kalau sesuatu yang baru saja dilakukannya barusan mungkin akan menghancurkan apa yang dibayangkannya. Bahwa kelakukannya barusan akan memberi masalah besar pada Ryeowook, membuat pria itu untuk pertama kalinya terlihat sangat-sangat marah kepadanya.

“Apa itu yang kau sebut dengan fans? Setidaknya kau bisa menunjukkan dukunganmu padanya dan bukannya mencelanya. Apa kau tidak tahu dia sudah bekerja keras untuk ini semua? Jika kau benar-benar fansnya, seharusnya kau lebih tahu daripada orang lain.”

Ucapannya masih menggantung sampai akhirnya laki-laki tinggi berjaket yang Minrin kenal sebagai salah satu manager Ryeowook baru saja menghampirinya, menarik lengannya dengan sangat terpaksa dan menyeretnya untuk pergi. Ia masih bisa melihat gadis berambut cokelat sebahu yang tadi beradu mulut dengannya tengah menatapnya tidak suka. Hanya sepersekian detik karena yang dilihat Minrin setelah itu adalah beberapa kamera yang mengarah padanya, mengambil gambarnya dan tepat saat itulah ia sadar apa yang baru saja dilakukannya.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan, ha?”

 Itu teriakan Ryeowook yang langsung menghantam telinganya begitu manager yang tadi membawanya meninggalkannya di sebuah ruangan yang hanya ada dirinya serta Ryeowook. Laki-laki itu menatap tajam ke arah Minrin, terlihat sangat marah. Wajahnya mengeras dan beberapa kali terlihat menarik nafas panjang lalu menghelanya pendek untuk meredam segala bentuk emosi dalam dadanya. Dan Minrin untuk pertama kalinya selama nyaris lima tahun ini hanya bisa diam membeku menghadapi kemarahan Ryeowook padanya. Dia menunduk, tak berani melihat Ryeowook, tatapannya bahkan tak fokus. Pikirannya melayang pada apa yang baru saja dilakukannya di luar tadi. Bertengkar dan beradu mulut dengan salah satu fans kekasihnya yang hanya dikarenakan masalah sepele.

 “Aku lepas kendali tadi,” ucapnya lemah.

Minrin menyadari kesalahannya. Benar, beruntungnya ia langsung menyadarinya dan menurut saja saat dibawa pergi. Tapi ia tidak terlalu yakin jika masalah tadi akan hilang begitu saja. Banyak saksi mata, banyak orang yang mengambil gambar dan juga video. Dan ia benar-benar tidak tahu berita macam apa yang akan beredar setelah ini. Berita yang tentu tak terlalu mengenakan di saat debut solo Ryeowook.

“Itu alasan yang tidak pernah keluar dari mulutmu selama ini. Bagaimana bisa kau melakukan hal itu, ha? Apa yang kau katakan pada mereka kalau beritanyaa muncul?”

Rentetan kalimat sadis yang justru membuat Minrin memejamkan matanya pelan. “Aku sedang memikirkannya, bisakah kau tidak berteriak padaku?” tanyanya. Kepalanya mendongak dan untuk pertama kalinya ia menatap kilatan kemarahan dan juga kekecewaan dari mata Ryeowook. Sayangnya ia sendiri baru saja terbawa emosi hingga ikut berteriak, dan akhirnya keduanya pun hanya saling diam.

“Minrin-ya….” Ryeowook lah yang berinisiatif untuk memecah keheningan itu. Dia sedikit memelankan suaranya tapi Minrin benar-benar sudah terlanjur terbawa emosi. Kekecewaannya pada Ryeowook yang langsung memarahinya tanpa memintanya untuk menjelaskan dan kemarahan serta kekecewaan pada dirinya sendiri karena bisa lepas kontrol. Begitu banyak hal yang mendadak dipikirkannya, dan itu semua benar-benar membuatnya lemas tidak tahu harus bagaimana.

Tidak ada yang bersuara lagi setelah itu. Suara manager yang baru saja membuka pintu lah yang akhirnya membuat keduanya menoleh. “Kalian bicarakan saja itu nanti. Kau cepatlah keluar, saatnya untukmu tampil.”

Ryeowook hanya mengangguk pelan mengiyakan. Dia bahkan masih sempat melayangkan tatapannya pada Minrin yang masih diam di tempatnya. “Kita bicara nanti.” Lalu setelah itu dia pergi meningalkan Minrin yang tanpa sadar entah bagaimana sudah meneteskan air matanya pelan.

***

Kita bicarakan nanti. Kalimat itu menjadi sangat ambigu sekarang. Karena sampai detik ini, 12 jam sejak mereka terakhir bicara, Ryeowook sama sekali tidak memenuhi janjinya untuk bicara. Laki-laki itu tidak bisa dihubungi dan dia juga tidak menunjukkan batang hidungnya di apartement Minrin sampai detik ini. Jengkel, kesal, kecewa dan mungkin juga marah. Segala macam bentuk emosi itu seketika memenuhi kepalanya. Satu lagi, gadis itu juga merasa khawatir. Kekhawatiran yang membuat Minrin hanya bisa meringkuk di sofa apartementnya, tak berani memegang ponselnya untuk berselancar di dunia maya dan melihat apa yang sudah terjadi selama 12 jam ini.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat itu sampai berteriak dan marah-marah pada orang asing? Itu benar-benar bukan gayamu.” Hyehyo bertanya. Sahabatnya itu memang dimintanya untuk datang.  Ia benar-benar butuh teman bicara dan ia pikir Hyehyo adalah orang yang tepat. Tapi gadis itu keliahtannya tidak terlalu membantu. Minrin menghela nafasnya pendek, merebahkan tubuhnya di sofa dan menutup mukanya dengan bantal lalu berteriak frustasi.

“Aku benar-benar kesal dan marah. Coba kau bayangkan bagaimana perasaanmu kalau kau bertemu fans loyalnya Hyukjae dan tiba-tiba saja dia mengatakan kalau Hyukjae tidak cocok bernyanyi ballad, kalau suara Kyuhyun lebih cocok untuk menyanyikan lagu ballad dibandingkan dengannya, apa yang akan kau lakukan?”

“Eerr… Hyukjae memang tak terlalu bagus bernyanyi ballad.” Hyehyo menjawab dengan sedikit bodoh dan gadis itu tentu saja tidak sadar telah membuat Minrin kesal karena jawabannya.

“Maksudku seandainya kau di posisiku. Aku hanya berumpama saja tadi. Kau bahkan tidak paham apa yang kumaksud,” tukasnya jengkel.

“Kalau begitu jangan gunakan perumpamaan. Aku tidak paham.”

“Kau membuatku tambah pusing.” Minrin melempar bantalnya asal dan menyambar kaleng beer yang dibawa Hyehyo. Membukanya lalu meminumnya dengan cepat. Park Hyehyo hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakukaan sahabatnya itu.

“Baiklah, ayo bicara serius. Jadi kau marah karena dia mengatakan sesuatu yang buruk tentang Ryeowook?”

“Ya. Aku bahkan tidak tahu kenapa sangat marah tadi.” Minrin meletakkan kaleng beernya yang hanya tinggal sedikit di atas meja lalu mendesah pelan. “Aku banyak menemukan komentar buruk tentangnnya semalam dan aku menjadi sangat sensitif. Kau tahu kan… aku khawatir dan juga takut menghadapi debut solonya. Aku khawatir jika tidak banyak orang yang suka dan saat aku tahu salah satu fansnya bahkan meragukan album ini akan disukai banyak orang… aku benar-benar marah dan juga kecewa dan tanpa sadar aku berkata buruk padanya.”

“Dan kau tidak sadar banyak orang di sana yang menyaksikan, benar begitu kan?”

Minrin mengangguk lemah. Itu yang menjadi penyesalannya. Kenapa ia bisa lepas kendali dengan begitu mudah, padahal bisanya ia tak seperti itu. “Menurutmu apa masalah tadi akan mempengaruhinya?”

“Kalau semua orang tahu gadis yang membuat keributan tadi pagi adalah tunangannya, ya… kurasa akan sedikit berpengaruh.” Hyehyo memutar kepalanya, tersenyum tipis sambil menepuk-nepukk pundak Minrin sementara gadis itu hanya bisa menghela nafas lemah dengan kening berkerut khawatir.

Matilah dia.

Oh my God, apa yang harus kulakukan?” Ia mengacak rambutnya frustasi.

“Kanapa kau tidak keluar? lakukan sesuatu agar beritanya tidak menyebar dan selesaikan masalahmu dengan Ryeowook daripada kau berdiam di sini meratapi semua yang sudah terjadi.”

“Apa beritanya sudah menyebar?” Minrin menoleh dan menatap Hyehyo dan sikap sahabatnya yang tiba-tiba berubah aneh ditambah helaan nafas lemah darinya sedikit membuat Minrin khawatir. Oh bukan sedikit tapi benar-benar sudah membuatnya sangat khawatir. “Apa yang mereka katakan?”

Hyehyo tidak menjawab melainkan mengambil ponselnya membukakan sesuatu untuk Minrin dan menyerahkan benda tipis itu padanya. “Hanya beredar diantara fans. Tapi kurasa jika tidak ada yang menghentikkan para pembuat berita itu, kurasa artikelmu dengan namamu dan Ryeowook akan keluar besok pagi.”

“Oh sial…!”

Idol wanita berinisal Mr yang diketahui tidak lagi aktif dengan grupnya terlihat membuat keributan dengan salah satu fans seorang member grup pria yang baru-baru ini debut solo. Tidak diketehui apa yang membuatnya bertengkar tapi banyak saksi yang melihat hal itu. Rumor yang beredar bahkan mengatakan kalau kedua idol tersebut menjalin hubungan.

[+6844/-540] Apa yang ada dipikirannya sampai membuat masalah dengan fans kekasihnya? Dia benar-benar kasar, tingkahnya memalukan.

[+3002/-876]Kurasa dia hanya mencari sensasi. Mencoba mendapatkan ketenaran lagi dengan comeback kekasihnya? Memalukan.

[+2901/-54] Aku penasaran siapa nona Mr ini. banyak saksi yang melihat, jika dia idol seharusnya kita bisa langsung tahu tapi sepertinya mereka berusaha menutupi identitas keduanya.

[+1098/-23] Tidak banyak idol pria yang debut solo di awal tahun ini, kurasa kita bisa menebak-nebaknya. Berita ini akan benar-benar menggemparkan jika kita tahu siapa mereka. Bukan hanya karena sikap kasar Mr tapi kita akan mendapatkan pasangan idol baru tahun ini.

[+998/-5] Apa Mr adalah member grup yang baru-baru ini pindah ke New York?

“Kau sangat beruntung mereka masih menutupi identitasmu dan kurasa mereka tidak berencana untuk mempublikasikan secara keseluruhan. Ya, karena mereka tahu berita itu akan berdampak pada Ryeowook.”

Minrin meletakkan ponsel itu begitu saja. Ia hanya membaca sebagian komentar tidak semua dan ia sudah dibuat sakit kepala. Sikapnya benar-benar buruk dan juga kekanak-kanakan. Dan sikapnya yang seperti itu bisa menjadi boomerang untuk Ryeowook. Tidak perlu diberitahu pun sepertinya masyarakat sudah bisa menebaknya sendiri. Inisalnya bahkan tertera jelas di sana. Ya Tuhan, ini benar-benar buruk.

“Kurasa aku harus menemuinya.”Minrin beranjak dari tempat duduknya, menatap Hyehyo sekilas dengan ekspresi lemah kemudian ia pun pergi ke kamarnya untuk bersiap.

“Berhati-hatilah, kurasa wartawan sedang bergerak mengintai idol yang mereka curigai!”

***

Ucapan Hyehyo memang benar. Saat ia keluar dari apartementnya, sudah ada mobil mencurigakan yang terparkir tidah jauh dari mobilnya. Mereka mungkin sedang mengintainya sekarang. Jika lah ada seseorang yang menghentikkan mereka untuk menyebarkan berita yang baru saja di dapat, Minrin sudah jelas tidak akan lolos dari tatapan netizen saat nanti Ryeowook mengumumkan tentang hubungan mereka. Mereka juga pasti akan merilis berita ini begitu agensinya atau agensi Ryeowook mengkonfirmasi hubungan spesial ini. Ya ampun, sekarang bahkan Minrin tidak memikirkan lagi soal pernikahan.

Dia menghentikkan mobilnya tidak jauh dari gedung apartement Ryeowook. Mungkin akan sangat beresiko jika ia datang tiba-tiba. Dia juga tidak tahu ada siapa yang akan mengintainya nanti ketika masuk ke dalam gedung itu. Jadi, dia pun hanya bisa menghela nafasnya pendek sebelum memutuskan memutar balik mobilnya.

Ponsel di dashboardnya bergetar pelan tepat ketika ia menghentikkan mobilnya di lampu merah. Desahan lemah keluar dari mulutnya begitu melihat siapa si penelepon. Ayahnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Pertanyaan yang langsung diterimanya begitu Minrin menggeser tombol receive. Penyesalannya, karena ia sendiri belum bisa menjawab pertanyaan ayahnya itu. Ini baru ayahnya, belum ibunya yang nanti pasti akan mencercanya langsung.

“Itu salahku. Aku janji masalah itu tidak akan mempengaruhi siapapun. Baik untukku, Ryeowook ataupun perusahaan ayah.”

“Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan untuk menyelesaikan ini. Tapi asal kau tahu saja, sudah ada berita online yang mengaitkan Mr denganmu dan juga perusahaan.”

“Benarkah?”

“Apa itu reaksi yang pantas untuk sekarang ini?” suara ayahnya terdengar mendecak ketika Minrin hanya menjawab santai. Tidak…, bukan santai. Ia hanya sedang berusaha tenang sekarang. Tapi setenang apapun sikap yang dicobanya, tetap saja perasaan dan pikirannya sangat kacau sekarang ini.

“Maafkan aku. Aku akan menyelesaikannya. Ayah tidak perlu khawatir, bekerjalah seperti biasanya.”

“Tanpa kau beritahu pun, aku akan melakukannya. Jangan panik dan berhati-hatilah.”

“Ya… aku juga tahu itu.” Minrin mendesah lagi sebelum menjalankan mobilnya dengan pelan. “Bagaimana dengannya?” Ayahnya kembali bertanya tepat ketika Minrin hendak mengakhiri pembicaraan itu.

“Aku belum bicara lagi dengannya. Dan ayah kumohon… kenapa kau tiba-tiba bicara seolah-olah Ryeowook  masih orang asing?”

“Dia memang masih orang asing,” sahut ayahnya cepat yang langsung membuat Minrin berdecak keras.

“Ayah, ayolah… kami sudah bertunangan dan sebentar lagi menikah. Kenapa kau tiba-tiba bersikap menyebalkan sekarang ini?” gerutunya.

Hening sebentar dan hanya terdengar tarikan nafas panjang dan berat dari ayahnya. Minrin tidak tahu apa yang sedang ayahnya pikirkan sekarang ini. Bukankah ayahnya sudah menyetujui pertunangan dan bahkan rencana pernikahan sejak dulu? Ayahnya sendiri bahkan yang menemui Ryeowook. Jadi, ada apa sebenarnya?”

“Dengar, aku sama sekali tidak menentang hubunganmu dengannya. Aku hanya mengkhawatirkan rencana pernikahan kalian,” kata ayahnya kemudian setelah diam sesaat.

“Aku tahu. Aku juga sedikit khawatir. Tapi kurasa aku harus menyelesaikan masalah ini dulu. Dan berhentilah membuatku tambah pusing dengan ucapan ayah yang tadi. Sudah ya… aku tutup, sampai nanti.” Lalu ia pun segera memutus sambungan itu begitu tidak ada sahutan lagi dari ayahnya.

Satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya detik ini adalah bagaimana ia bisa bertemu dengan Ryeowook. Kesalahan memang ada padanya, tapi jelas Minrin harus menemui laki-laki itu dan memikirkan cara untuk keluar bersama-sama dari masalah ini. Karena bagaimana pun nama keduanya akan menjadi santapan hangat para netizen sebentar lagi jika mereka tidak segera bergerak untuk mencegahnya. Ya, paling tidak mereka berdua harus bersama-sama meredakan semuanya.

***

Kyuhyun menghubunginya di hari berikutnya saat Minrin baru saja akan keluar. Dan entah kenapa jika biasanya ia akan sangat malas meladeni makhluk yang satu itu, tapi tidak untuk sekarang. Rasanya justru ia mendapat angin segar. Mungkin saja Kyuhyun akan membantunya menemui Ryeowook. Laki-laki itu jelas salah satu yang sangat peduli dengan Ryeowook.

“Kau dimana?” pertanyaan yang langsung dilontarkan tanpa permisi yang biasanya seperti yang tadi ia bilang sangat menyebalkan dan membuat Minrin malas meladeninya.

“Di basement gedung apartementku. Kenapa?” tanyanya setengah menggerutu. Kyuhyun pasti mendengarnya dan biasanya laki-laki itu akan terus bertingkah menyebalkan hingga membuat Minrin sangat kesal tapi sepertinya perkecualian untuk sekarang.

“Datang ke mari ke dormku. Aku tunggu 30 menit. Jika kau tidak datang, aku benar-benar memutuskan untuk tidak membantu,” jawabnya dengan seenaknya dan Minrin benar-benar sudah berdecak keras sekarang ini, sayangnya Kyuhyun sudah lebih dulu memutus sambungan mereka.

Tidak ada jawaban dari Minrin karena ia pun langsung memasukkan kembali ponselnya saat Kyuhyun memutuskannya secara sepihak. Lalu setelah itu, ia pun kembali menaiki mobilnya dan mengendarainya menuju tempat yang dimaksud Kyuhyun tadi.

Datang ke tempat ini terbesit di pikirannya sejak kemarin tapi saat ia benar-benar sudah berada di depan gedung, ia sendiri memutuskan untuk pergi. Lalu sekarang ia benar-benar berdiri di dalam lift yang akan membawanya ke lantai tempat dorm yang dimaksud Kyuhyun.

Minrin sudah terbiasa datang kemari, tapi rasanya ia menjadi sangat canggung sekarang. Berulang kali ia memebanahi topinya agar bisa menutupi wajahnya. Ia menunduk ketika berjalan cepat di lorong yang untungnya sepi.

Wajah Kyuhyun menyumbul keluar dari balik pintu setelah ia selesai menekan bel untuk ketiga kalinya. Laki-laki itu mengamati penampilannya, mengernyit sebentar sebelum tertawa pelan. Dan demi Tuhan, Minrin sangat ingin memukul wajahnya sekarang ini.

“Apa kau harus berpakaian seperti itu? Aigoo….”

“Apa kau pikir aku mau jadi santapan wartawan yang mengintaiku sejak tadi?” balas Minrin kasar dan seperti biasanya Kyuhyun hanya tertawa, tak menganggap serius ucapan Minrin. Kecuali fakta bahwa gadis itu diintai wartawan. Tentu saja hal itu menarik perhatiannya.

“Apa mereka tahu kau datang kemari?” tanyanya setelah mempersilahkan Minrin masuk.

“Ada satu yang sejak tadi mengintai apartementku tapi kurasa mereka sudah pergi saat aku kemari. Jadi, apa alasanmu menyuruhku datang?”

Minrin berhenti sejenak di ruang tengah. Ia baru saja menyadari sesuatu kalau dorm ini begitu sepi. Itu artinya hanya satu, bahwa Ryeowook tidak ada di sini sekarang ini.

“Jika kau mencarinya, aku rasa kau tidak akan menemuinya di sini saat ini. Dia masih banyak jadwal di luar. Mau minum?” Kyuhyun menawarkan sambil menyenggol lengan Minrin pelan saat ia baru saja ketahuan melamun.

“Ada beer?” Minrin menoleh, menatap Kyuhyun sebentar sebelum merebahkan dirinya duduk di sofa.

Tssk… kau berniat mabuk?”

“Aku berniat menjernihkan pikiranku,” desahnya pelan sambil melepas topinya.

Kyuhyun memperhatikan gadis itu sesaat. Ekspresinya tak biasa dan sulit dicerna tapi Minrin tak menyadari itu. Gadis itu sibuk dengan ponselnya ketika Kyuhyun berlalu mengambil dua kaleng beer untuknya. Dia baru menyadari kehadiran Kyuhyun lagi, saat pria itu mengambil alih ponsel di tangannya.

“Kalau kau ingin menjernihkan pikiranmu berhentilah membaca berita dan rumor tentangmu,” katanya.

“Aku tidak sedang mencoba mencari tahu.” Minrin mulai menggerutu lagi dengan pelan, mempertanyakan dirinya sendiri kenapa ia mau datang kemari hanya karena Kyuhyun menyuruhnya.

Baik, ucapan Kyuhyun memang terdengar menyebalkan, tapi Minrin harus mengakui dia benar. Karena nyatanya ia bisa berpikir dengan jernih jika berita dan rumor yang beredar tidak mengganggu pikirannya hingga membuatnya khawatir atau lebih buruk panik.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi harus kuakui itu pertama kalinya dia sangat marah.” Kyuhyun memulai ceramahnya. Meski Minrin menolak untuk mendengar celotehan Kyuhyun tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Karena setidaknya ia butuh tahu kondisi Ryeowook sekarang ini terutama sejak masalah kemarin. Dan karena sepertinya Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang kemungkinan besar mengetahui kondisi Ryeowook yang sebenarnya, maka dari itulah Minrin bersedia mendengarkan laki-laki itu bercerita.

 “Apa dia baik-baik saja?”

“Dia selalu baik-baik saja.” Kyuhyun menyahut, tersenyum tipis saat melihat Minrin menekuk wajahnya hingga terlihat kerutan samar di dahi dan alisnya. “Tapi sepertinya tidak. Dia pasti memikirkan banyak hal. Yang jelas, tindakanmu itu membuatnya kecewa juga marah. Dia bahkan belum pernah seperti itu sebelumnya meski kami membuatnya jengkel.”

Minrin melirik sebentar sembari mendengus pelan. “Apa kau sedang mencoba menyalahkanku?”

“Bukankah kau memang salah?”

“Oh.. ya, benar aku yang salah.” Minrin melarat cepat. Dia mendesah lemah, menyenderkan punggungnya ke belakang.

“Kau sudah mencoba bicara dengannya?” pertanyaan Kyuhyun itu membuat Minrin menoleh ke arahnya. Mempertanyakan balik kenapa pertanyaan itu bisa diutarakan Kyuhyun.

“Jika aku sudah bicara dengannya, aku tidak akan akan datang menemuimu. Dia bahkan tidak bisa dihubungi sejak kemarin.”

“Ah… benar. Dia benar-benar sibuk saat ini. Jangan khawatir, lama-lama rumor itu juga akan hilang dengan sendirinya. Yang perlu kau khawatirkan adalah wartawan-wartawan itu yang biasanya mencoba menggali lebih dalam soal rumor yang belum jelas.”

“Aku tahu. dan kupikir kau menyuruhku datang untuk memberiku solusi dan bukannya terus menerus menyudutkanku,” katanya pelan. Kyuhyun terkekeh ketika melihat ekspresi Minrin yang mengeras. Laki-laki itu segera menghentikkan sikapnya dan kembali serius.

“Benar, aku sampai lupa. Jadi sebenarnya….” Kyuhyun belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika terdengar seseorang yang tengah berusaha memasukkan password dorm yang diikuti oleh suara akses diterima. Minrin langsung membeku di tempatnya saat mendengar suara Ryeowook. Bukan berarti ia tidak ingin bertemu dengan Ryeowook, tapi kenyataan bahwa masalah yang timbul karena perbuatannya, membuat Minrin berpikir kalau ia tidak siap bertemu Ryeowook. Gadis itu mendelik ke arah Kyuhyun, seakan bertanya.

“Karena sejak kemarin dia menolak bertemu denganmu, jadi aku menyuruhmu datang,” kata Kyuhyun cepat sebelum kemunculan Ryeowook membuat keduanya menoleh.

Minrin bertemu pandang dengan laki-laki itu. Tepat ketika Minrin kehilangan konsentrasi begitu Ryeowook menatapnya diam dengan ekspresi datar, Kyuhyun bersuara. “Kau pulang lebih awal.”

“Aku hanya pulang untuk mandi dan berganti pakaian setelah itu aku akan langsung ke KBS,” jawabnya. Tanpa mengatakan apapun lagi, Ryeowook sudah meninggalka keduanya. Lebih tepatnya meninggalkan Minrin yang hanya menatap tidak percaya ke arahnya.

 Apa dia baru saja diabaikan?

“Kau lihat sendiri kan? Dia sedang menghindarimu. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin untuk bicara. Karena kurasa dia akan memilih mengabaikanmu selama beberapa minggu ke depan.” Kyuhyun berujar menyuruh Minrin. Setelah itu, dia pun memilih pergi meninggalkan Minrin yang masih duduk di sofa dengan diam.

Di salah satu sisi gadis itu jelas-jelas sedang berusaha menahan decakan serapahnya pada Kyuhyun. Tapi di sisi lain, jelas sudah bahwa Kyuhyun benar. Kenyataan bahwa Ryeowook tidak berusaha menghubunginya sejak kemarin cukup menjadi alasan bahwa kekasihnya itu sedang mencoba menghindarinya. Dan entah alasan logis macam apa yang akan diterima Minrin nantinya.

Dia mendesah pelan sekali lagi, menyambar beernya, menghabiskannya dalam sekali teguk lalu ia pun beranjak mengikuti Ryeowook. Laki-laki itu baru saja keluar dari kamarnya ketika Minrin menghadangnya di depan pintu.

Ryeowook hanya memandanginya. Tapi bukan pandangan memuja seperti biasanya, tapi pandangan seakan bertanya kenapa Minrin bisa ada di dorm ini. Seakan laki-laki itu juga mempertanyakan kewarasan gadis di depannya ini yang tanpa berpikir banyak menemuinya, di dormnya tanpa takut ada wartawan yang mengikutinya. Dan melihat tatapan Minrin yang sama sekali tidak takut, ataupun menyesal justru memperkuat dugaan Ryeowook bahwa gadis di depannya ini benar-benar tidak paham dengan apa yang tengah terjadi melanda keduanya.

“Aku menunggumu saat kau mengatakan ‘kita bicarakan nanti’. Dan kupikir kau akan menemuiku, atau paling tidak menghubungiku. Tapi kurasa aku salah. Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau justru menghindariku?” gadis itu mencercanya, membuat Ryeowook memutar kepalanya, tak percaya sembari memasang wajah malasnya.

“Aku sangat sibuk. Dan sekarang bisa kau minggir? karena saat ini jadwalku masih banyak,” katanya sinis dan juga dingin. Membuat Minrin melongo tak percaya.

Sesuatu yang salah menurut Minrin detik ini adalah kenyataan kalau sikap Ryeowook benar-benar berubah. Meskipun mereka tidak pernah bertengkar dan hanya sering meributkan hal sepele, Ryeowook jarang bicara seperti tadi. Jadi, apa kelakuannya kemarin benar-benar sudah membuat Ryeowook kecewa hingga membuatnya bersikap dingin?

Minrin tak berkata apapun, ketika Ryeowook berlalu dari hadapannya, membuat angin menyapu wajahnya yang justru memperparah rasa menusuk dalam dadanya. Jika saat itu ia tidak ingat ucapan Kyuhyun tentang Ryeowook yang berusaha menghindarinya, tentang kemungkinan Minrin akan kesulitan menemuinya beberapa minggu ke depan, Minrin tidak akan berbalik dan mengejar Ryeowook. Ia menarik lengan pria itu sedikit kasar hingga membuatnya menoleh.

“Aku tahu sikapku kekanak-kanakan dan juga bodoh. Tapi bisakah kau tidak bersikap menyebalkan seperti ini?”

“Siapa yang lebih dulu bersikap menyebalkan, ha? Apa kau menyadari masalah apa yang kau timbulkan?”

“Aku menyadarinya. Aku bahkan mengakui semua itu kekanak-kanakan lantas kenapa kau justru berusaha menghindariku?” nafasnya menderu ketika emosinya tiba-tiba menguasinya tanpa permisi. Kelihatannya hal serupa juga terjadi pada Ryeowook. Ekspresi laki-laki itu yang benar-benar berusaha menahan dirinya untuk tidak meledak marah, menjadi alasan untuk Minrin ikut meredam emosinya.

“Aku tidak berusaha menghindarimu, aku hanya merasa lebih baik kita tidak bertemu dulu untuk saat ini.” suaranya memelan, membuat Minrin menunduk.

“Kenapa?”

“Karena jika mereka tahu tentang hubungan kita disaat masalah ini menjadi perbincangan, aku rasa kita harus melupakan tentang konferensi pers ataupun apapun itu untuk memberitahu publik tentang kita secara baik-baik. Apa kau tidak mengerti hal itu?”

Desahan lemah keluar dari gadis itu yang akhirnya mengangkat kepalanya pelan. Itu masuk akal. Dan sialnya, ia tidak bisa menyimpan rasa kesalnya lagi terlalu lama karena Ryeowook baru saja memberikan alasan logis yang mampu diterima otaknya.

“Aku mengerti,” sahutnya lemah. “Kau berpikir untuk membuat  rumor yang beredar mereda dengan sendiri, begitu kan?”

Minrin mengangguk paham. Ia terlalu panik dan khawatir sampai-sampai tidak berpikir sejauh itu. Atau sejujurnya ia sangat takut jika Ryeowook benar-benar marah dan tidak akan memaafkan kesalahan bodohnya tadi.

“Jadi, lebih baik kau pergi sekarang sebelum mereka menemukanmu mendatangi dormku larut malam.” Ryeowook berlalu begitu saja setelah mengatakan hal itu. Sekali lagi ucapan yang tidak disadari Ryeowook telah membuat Minrin menghela nafasnya pendek. Dan seiring helaan nafas pendek itu Minrin justru merasa ingin menangis.

***

“Kau yang menyuruhnya datang?” Ryeowook bertanya pada Kyuhyun.

Saat ini jam 1 dini hari. Keduanya duduk bersama dengan dua kaleng beer sebagai teman. Sejak Ryeowook pulang lalu mengajak Kyuhyun mengobrol sseperti ini, Kyuhyun tahu sahabatnya itu akan mengajaknya dalam pembicaraan yang panjang dan serius.

“Karena kau terus menolak untuk menemuinya, jadi aku tidak punya pilihan. Aku tahu apa yang mungkin dirasakannya.” Kyuhyun meneguk beernya lalu menoleh, memperhatikan Ryeowook yang kelihatannya benar-benar sangat lelah. “Apa yang kau pikirkan?”

“Beberapa hal.” Ryeowook menyahut pelan. Ia ikut meneguk beernya. Beberapa saat kemudian, ia pun memilih menyenderkan punggungnya. “Aku tidak terlalu mempedulikan bagaimana ucapan orang lain, aku justru khawatir masalah kemarin akan mempengaruhinya. Kau tahu kan… banyak yang berkometar negatif tentangnya gara-gara masalah itu.”

“Ya, aku juga membacanya. Tapi apa kau tahu…. dia sepertinya tak peduli soal itu. kelihatannya dia lebih mempedulikanmu, karirmu dan albummu jika tidak mana mungkin ia berani datang untu menemuimu?”

“Kau yang menyuruhnya datang, Kyu.”

“Ya, aku memang melakukannya. Tapi dia langsung kemari saat aku meneleponnya. Dan sebenarnya aku hanya ingin kalian bicaran masalah itu lalu mencari jalan keluar bersama dan bukannya saling menghindar.”

Ryeowook tersenyum. Baginya Kyuhyun memang selalu terdengar dewasa dan selalu bisa memberinya nasehat saat ia hampir kehilangan arah. Soal Minrin yang memang terlalu berani untuk datang kemari setelah masalah kemarin, awalnya Ryeowook memang berpikir gadis itu tidak paham dengan situasi. Tapi setelah mendengar penjelasan Kyuhyun, sepertinya ia harus mengubah pemikirannya.

Ya, benar Minrin membuatnya kecewa tapi ia tahu gadis itu sudah menyesalinya. Jadi, sebenarnya ia justru merasa menjadi orang jahat karena berusaha menghindarinya.

“Aku tidak tahu akan sangat kecewa padanya seperti ini. Ini pertama kalinya aku merasa sangat kecewa padanya.”

“Aku rasa aku juga akan merasa begitu. Maksudku Minrin selalu mendukungmu, kau percaya padanya dan dia percaya padamu. Hubungan kalian itu benar-benar serius dan tidak main-main. Jadi aku mengerti jika kau sangat kecewa karena sikap kekanak-kanakannya itu.”

“Rasanya aku tidak tahu harus bagaimana.” Ryeowook menunduk, memegangi kepalanya dan mendesah lemah berulang kali. Seakan beban pikiran itu benar-benar tidak sanggup ditompangnya lagi. Kemungkinan-kemungkinan yang belum jelas justru menambah daftar panjang kekhawatiran hatinya.

“Kau tidak menghadapi semuanya sendirian. Jika mereka menyerangmu, agensi akan melindungimu. Jika mereka menyerang Minrin, yakinlah gadis itu bisa bertahan karena banyak orang yang juga akan melindunginya. Kau juga lihat kan, fansmu tidak menyebarkan fotonya saat bertengkar kemarin? Mereka juga tidak mengungkapkan identitas kalian berdua.”

“Itu karena aku bicara dengannya,” kata Ryeowook kemudian.

“Apa? Bicara dengan siapa?”Kyuhyun menoleh tak percaya.

“Gadis yang beradu mulut dengan Minrin. Aku menyuruh manager agar aku bisa bertemu dengannya,” jawab Ryeowook pelan. Dan yakinlah, Kyuhyun baru saja melayangkan tatapan tak mengertinya sekali lagi.

“Baik, itu tindakan gila.” Kyuhyun menarik nafasnya, kepalanya menggeleng pelan masih belum mengerti kemana sebenarnya pikiran sahabatnya ini berada. “Apa yang kau katakan?”

“Aku meminta maaf padanya dan memintanya untuk tidak menyebarkan hal-hal negatif tentang kejadian itu.”

“Kau mengatakan padanya kalau Minrin tunanganmu?”

“Tidak.”

Ryeowook menggeleng pelan dan untuk pertama kalinya Kyuhyun bisa bernafas lega. Karena jika ia melakukan hal itu, entah masalah baru apa yang akan terjadi. Fans bisa saja berubah menjadi orang yang mengerikan yang menyerang Ryeowook nantinya.

“Tapi sepertinya dia tahu. Karena itu dia berjanji akan melupakannya dan menyuruhku untuk bahagia. Dia juga mengutarakan permintaan maafnya.”

“Dia melakukan itu?”

“Ya.” Ryeowook mengangguk. Dan tiba-tiba ia merasa bersalah jika mengingat pembicaraanya dengan gadis itu. Rasa bersalah karena tidak bisa berkata jujur tentang alasan kenapa ia melindungi Minrin.

“Dia sangat baik.”

“Aku tahu dan itu membuatku merasa bersalah padanya.”

“Aku mengerti perasaanmu, Ryeowook-ah. Kita juga manusia biasa bukan, yang bisa menyakiti orang lain dan juga membuat kecewa orang lain.”

Ryeowook menoleh, tersenyum geli mendengar Kyuhyun yang baru saja mengeluarkan kata-kata bijaknya. “Aku penasaran kenapa kau terkadang bisa bicara begitu dewasa seperti itu,” katanya berpura-pura mengernyit heran.

“Ah.. benar kan? Aku tahu… kenapa aku bisa sangat dewasa? Donghae hyung saja kalah denganku.”

Tssk…. dia akan marah kalau mendengarnya.”

“Dia tidak akan mendengarnya. Mendengar pun dia juga tidak akan melakukan apapun.” Kyuhyun tertawa pelan. Ryeowook yang melihatnya ikut tertawa. Setidaknya beban pikirannya berkurang sedikit sekarang.

Dan Ryeowook harus mengakui, tindakan Kyuhyun dengan menyuruh Minrin datang memang benar. Karena jika sahabatnya itu tidak melakukannya, entah sampai kapan Ryeowook akan terus menghindari Minrin dan percaya bahwa itu hal yang terbaik saat ini. Ya, ia memang belum bisa memaafkannya tapi biarlah seperti ini dulu. Mungkin keduanya butuh untuk saling menjauh sementara waktu.

***

CUT

Hi, lama sekali rasanya aku nggak update. Sekalinya update pengen bawa judul lain dari special project atau secret guard tapi karena sempat kena writer’s block gara-gara jauh dari laptop selama beberapa hari, jadi ya… apa boleh buat. Another Ryeomin story. Masih menceritakan kisah mereka sebelum pernikahan, dan biar kesannya hubungan mereka nggak selalu langgeng, aku bikin masalah lagi buat mereka.. hehe :p

Oke, sekian. Jangan lupa komentarnya, terimakasih 🙂

Advertisements

4 thoughts on “(Ryeomin Story) Disorder

  1. Nice story, selalu ada konflik dengan cerita mereka berdua, hahaha,, gg pa pa, gg seru kalo hub baik baik aja trus happy ending, dn selesai.

    Ah iy, ada smpat denger, ada masalah dengan konsernya, aku gg tau sebabnya apa, smpe ryeowook minta jgan dishare video waktu dy konser, maafkan lah kurang update 😗,, ada yg tau ceritanya? ?

  2. Yg aku tau ryeowook cuma minta ga ngeshare fancam nya secara smbrangan gra2 tiketnya eklusif karna venue nya yg ga besar. Sbnrnya ga ada yg salah dan ga ada yg bnr juga sih, elf yg liat konser pngen berbagi videonya sama elf yg ga bisa nnton konser, tapi disisi lain ryeowook juga ga mau elf bnyak ngeshare fancam smbarangan gara2 keterbatasan venue itu. Jadi yaaaah begitulah 😂😁
    Ah sbnernya aku kurang suka kalau ryeomin berantem kaya gini tapi ya namanya juga khdupan pasti ga brjalan lancar gitu aja kan hehe.
    Like it, aku suka. Next post semoga secret guard ya eon 😀 😁

    • iya iya… aku juga taunya gitu. duuh, meski kecea sih kemarin tapi semoga aja si oppa berbaik hati deh ngijinin elf share fancam begitu konsernya selesai semua.
      haha, biasanya ryeomin adem ayem sih, jadi sekali dua kali pengen dibikin rusuh, hoho 😀

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s