(Fanfiction) The Key to Her Heart (3/3)

the key to her heart2

Title : The Key to Her Heart Part 3 (end) | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin, Kim Hyerim (Ryeowook’s mother) | Rating: PG 15 | Genre : Family, Romance, Action | Lenght : Chapter| Author : Whin (@elizeminrin) | Discalimer : The story based of Kdrama SPY.

Summary : Ryeowook adalah seorang agen NIS, tapi ia tidak pernah mengatakan hal itu pada ibunya. Ia punya seorang kekasih yang sayangnya tidak terlalu disukai ibunya. Hubungannya dengan ibunya terlihat baik-baik saja tapi sepertinya tidak. Kenyataannya bahwa Minrin yang adalah kekasihnya justru mengenal Ryeowook lebih baik dari ibunya sendiri. Tapi Minrin bukanlah gadis biasa seperti yang Ryeowook kenal selama ini.

***

“Ya, aku tidak apa-apa. Seperti yang kau lihat aku menangkapnya. Aku menangkap orang yang melakukan  peledakan itu.”

Minrin menoleh terkejut pada Ryeowook begitu laki-laki itu mendorongnya ke depan dengan tangannya yang dicengkeram kuat.

“Apa?”

Lee Hyukjae dan Kim Jongwoon tak kalah terkejutnya dengan Minrin yang menatap Ryeowook. Hanya Cho Kyuhyun yang berdiri diam, memperhatikan seakan apa yang terjadi bukanlah hal luar biasa. Oh… atau sebenarnya ia sendiri sudah menduga hal ini sejak awal.

Minrin sedikit memberontak tanpa sedikitpun melepaskan tatapannya. Apa yang baru saja dilakukan Ryeowook padanya? Bukankah mereka sepakat untuk saling membantu? Bukankah Ryeowook juga mengatakan akan menangkap Kim Donggun tapi akan membantu Minrin? Lalu apa yang dilakukannya itu?

Apa Ryeowook sejak awal memang merencanakan hal ini? Laki-laki itu memang berniat membuat Minrin jadi tersangka.

Minrin tidak mengerti dan hanya terus menatap ke arah Ryeowook ketika Kim Jongwoon maju dan memborgol tangannya. Saat itu, Minrin bahkan tidak bisa menolak. Ia menurut saja dibawa ke dalam mobil ketiga teman Ryeowook itu.

Ia masih sempat melihat ke arah Ryeowook lagi saat mobil yang membawanya pergi lebih dulu bersama  Kim Jongwoon dan Lee Hyukjae.

Setelah penangkapan tak terduga itu, Minrin dibawa ke sebuah ruangan yang mirip ruangan isolasi. Ruangan itu hanya berukuran sempit dengan meja di tengah dan dua kursi saling berhadapan serta satu tempat tidur mirip di pengungsian. Dua buah kamera terpasang di dua sudut berbeda.

“Aku masih tidak mengerti, tapi sebaiknya kau di sini sampai semuanya jelas.” Lee Hyukjae mengucapkan hal itu saat mengantar Minrin ke ruangan itu.

Tidak ada satu kata pun yang terucap dan ia memilih masuk tanpa paksaan. Meskipun ia yakin Hyukjae juga tidak akan melakukan kekerasan hanya untuk menyuruhnya masuk. Mereka berdua, meski tidak kenal akrab tapi Minrin pernah beberapa kali bertemu dengannya dulu.

Sepeninggalnya Hyukjae, Minrin duduk dengan berbagai pikiran yang merasuki pikirannya. Tentang kenapa tiba-tiba Ryeowook melakukan hal ini? Ia memejamkan matanya sebentar. Semua benar-benar terjadi, pikirnya. Ini mungkin akhir untuknya.

***

Ryeowook memejamkan matanya sebentar. Rasa ngilu menjalar pelan di lengannya yang kini diperban. Luka tembaknya memang sudah mendapat perawatan dan sekarang ia hanya perlu istirahat. Saat ia membuka kembali matanya, Cho Kyuhyun sudah berdiri di depan pintu. Rekannya itu lantas berjalan menghampirinya, memperhatikannya sebentar dengan tatapan seperti ingin bertanya. Seolah menangkap maksud dari sorot mata itu, Ryeowook pun memanggilnya.

“Kyuhyun-ah….”

Ekspresi Kyuhyun berubah kemudian. Senyumnya mengembang “Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu?”

“Syukurlah kau sudah lebih baik sekarang.” ucapan Kyuhyun melenceng jauh dari apa yang sebenarnya ingin diucapkannya.

Ryeowook tersenyum dan mengangguk. Ekspresi Kyuhyun kembali mengisyaratkan rasa penasaran hingga membuat Ryeowook mengernyitkan dahinya pelan. “Kenapa?” tanyanya lagi.

Akhirnya Kyuhyun pun menghela nafasnya, menyerah berperang pada dirinya sendiri untuk tidak bertanya. “Baiklah, sebenarnya banyak hal yang ingin kutanyakan padamu tapi kurasa kau tidak akan memberikan semua jawaban  dari pertanyaanku itu.” Kyuhyun memulai.

Ryeowook mendengarkan. Jujur saja, ia sudah bisa menduga apa yang akan dibicarakan Kyuhyun. “Ya, tidak semuanya seperti katamu tapi kurasa aku akan mendengarkan pendapatmu.”

“Shin Minrin. Ah…. aniya, maksudku Kim Hyeae…. dia salah satu agen dari kelompok 12D yang melakukan peledakan di museum kemarin siang, benar kan?” tanya Kyuhyun. Ryeowook mengiyakan. Lalu Kyuhyun pun bertanya lagi.

“Sejak kapan kau tahu Minrin adalah Hyeae?”

“Cukup lama, setelah misiku gagal tiga bulan yang lalu.” Ryeowook menjawab lagi seakan-akan tidak perlu menutupi apapun lagi. Karena sepertinya Kyuhyun tahu banyak, mungkin sebanyak Ryeowook mengetahui permasalahannya juga.

“Aku pikir kau menjebaknya karena itu kita berhasil menangkapnya tapi kenapa aku tidak berpikir seperti itu? Dia menghubungiku dan menyuruhku menyelamatkanmu.” Kyuhyun menatap Ryeowook, berharap rekannya itu tidak akan mengucapkan kebohongan padanya. Karena Kyuhyun harus tahu kebenarannya untuk membantu.

“Aku tahu dia yang melakukannya, aku melihatnya melakukannya dan aku sudah mengikutinya sejak awal dia beraksi di museum,” ucap Ryeowook, seakan-akan mematahkan kemungkinan yang ingin diungkapkan Kyuhyun.

“Apa kalian bersama agen 12D lainnya malam itu? Maksudku… ini membuatku bingung. Kenapa dia menyuruhku menyelamatkanmu padahal saat itu dia lah yang seharusnya menyelamatkan diri dari kita. Kau juga tertembak. Siapa yang menembakmu?” pertanyaan-pertanyaan itu terdengar meuntut dan Ryeowook seakan sedang diinterogasi. Tapi senyumnya mengembang setelah itu seakan menyuruh Kyuhyun untuk tenang sekaligus menghentikkan keingintahuannya.

“Semua akan baik-baik saja sekarang.”

“Hyung….” Kyuhyun menyahut tidak terima. Ia tahu Ryeowook tidak akan menjawab semua pertanyaannya tapi ia tidak menyangka rekannya itu begitu keras kepala.

Keduanya saling bertatapan sebentar. Kyuhyun yang melayangkan tatapan mendesaknya dan Ryeowook yang terkesan tidak ingin menjawab. Akhirnya Ryeowook menghela nafasnya ketika tatapan Kyuhyun semakin lama seperti ingin menelannya bulat-bulat.

“Ya… benar aku bertemu agen 12D lainnya dan aku yang akan menyelesaikan sisanya,” Ryeowook menyahut cepat sebelum Kyuhyun kembali bertanya. Kyuhyun terlihat tidak puas. Laki-laki itu berdecak agak kesal.

Keduanya diam beberapa saat. Sampai akhirnya Kyuhyun menghela nafasnya dengan keras sekali lagi. “Baiklah, terserah kau saja lah. Segera setelah kau keluar dari rumah sakit, kau bisa langsung melakukan interogasi sendiri pada gadis itu.” Ia pun beranjak berdiri, berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Ia berhenti sebentar sebelum membuka pintu lalu menoleh lagi ke arah Ryeowook yang juga sedang melihatnya.

“Kau… dan Minrin. Apa kau masih menyukainya?” tanyanya untuk yang terakhir.

Ryeowook menaikkan alisnya sedikit. “Kami sudah berakhir sejak lama,” jawabnya lalu tersenyum tipis.  Kyuhyun menghela nafas lagi, menahan diri untuk tidak bertanya banyak lalu ia pun mengangguk sebelum keluar dari ruangan.

Sepeninggalnya Kyuhyun, Ryeowook terlihat menarik nafasnya panjang lalu menghelanya dengan keras. Ya, semua memang sudah berakhir sejak lama. Itulah yang harus ditanamkan dalam pikirannya sendiri. Tapi berakhir bukan berarti membuatnya tidak peduli pada gadis itu. Ia lantas mengambil ponselnya berniat menghubungi seseorang, sesuatu yang sejak tadi sangat ingin dilakukannya.

“Kau sudah membawa mereka keluar dari Shenyang?” tanyanya langsung begitu seseorang di seberang sana menerima panggilannya. “Baiklah, aku mengerti. Pastikan mereka selamat sampai Seoul,” ucapnya lagi lalu memutuskan sambungannya.

Ryeowook memang tidak bisa menyelamatkan Minrin –mungkin-. Tapi ia akan membantu menyelematakan ibu dan adiknya seperti yang dilakukan Minrin untuk menyelamatkan ibunya. Mungkin dengan begitu akhir dari hubungan mereka akan terlihat lebih baik untuk diingat.

***

Ryeowook keluar dari rumah sakit sehari kemudian, lebih cepat dari seharusnya. Seperti yang dikatakan Kyuhyun bahwa ia bisa langsung melakukan interogasi pada Minrin. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan hal itu. Tapi karena sejak awal, itulah tugas yang diberikan tim padanya, maka mau tidak mau Ryeowook pun melangkahkan kakinya menuju ruang isolasi.

Jujur Ryeowook datang bukan untuk melakukan interogasi. Ia hanya ingin berbicara dengan gadis itu. Ruangan itu sepi, hanya ada seorang petugas yang berjaga di depan komputer. Ryeowook menyuruhnya keluar sebentar dan meskipun awalnya laki-laki yang bertugas itu keberatan, tapi pada akhirnya mempersilahkan karena posisi Ryeowook sebagai atasannya. Sepeninggalnya laki-laki itu, Ryeowook mengamati sebentar layar komputer yang menampilkan gambar keadaan dalam ruang isolasi. Terlihat Minrin duduk diam dengan sesekali melihat ke arah kamera. Sarapan yang menjadi jatahnya tidak disentuh sedikitpun. Melihatnya yang seperti itu membuat Ryeowook khawatir. Ia menarik nafasnya perlahan sebelum akhirnya membuka pintu ruangan itu.

Minrin mendongak saat pintu terbuka. Gadis itu menatap Ryeowook, begitu juga sebaliknya. Ryeowook maju lebih dulu lalu duduk di kursi. Setelah akhirnya mereka duduk saling berhadapan, Ryeowook bisa melihat wajah gadis itu yang sedikit pucat. Entah karena Minrin tidak menyentuh sarapannya sedikit pun ataukah karena ia sudah tidak makan dua hari ini.

“Sekarang apa yang ingin kau ketahui? Bukankah kau sudah tahu semuanya?” Minrin bertanya dengan nada sinis, tidak suka.

Ryeowook menunduk lalu kembali menatapnya. “Aku tidak tahu jika kau sangat licik,” ucap Minrin kemudian nyaris berteriak dengan emosi tapi kemudian ia meredam suaranya. Gadis itu menatap ke arahkamera yang sedang merekam keduanya.

“Kau memata-mataiku selama dua tahun untuk menyelamatkan ibu dan adikmu. Dan aku melakukan hal ini untuk menyelamatkan ibuku. Apa bedanya kau dan aku?” tanya Ryeowook akhirnya buka suara.

“Tapi aku membantu menyelamatkan ibumu, Ryeowook-ssi,” balas Minrin sambil memberikan tatapan tak takutnya pada Ryeowook.

“Aku tahu. Terimakasih untuk itu,” ucap Ryeowook yang seketika itu nyaris membuat Minrin menggebrak meja di depannya.

“Kau….”

“Kau memang membantu menyelamatkannya. Dan aku juga akan membantumu menyelamatkan ibu serta adikmu. Yang perlu kau lakukan adalah tetap di sini sementara aku menyelesaikan sisanya,” Ryeowook menyahut dengan tenang. Minrin terdiam kemudiam. Gadis itu menatapnya lagi, berharap akan menemukan alasan kenapa tiba-tiba Ryeowook mengucapkan hal itu. Tapi ia tak menemukan apapun.

“Apa maksudmu?”

“Minrin-ya,” Ryeowook memanggilnya dengan suara lembut dan menenangkannya persis yang selalu dilakukan setiap kali Minrin merajuk padanya dulu.  Dan tentu saja panggilan itu hampir meruntuhkan pertahanan yang sejak kemarin dibangunnya. Ia sudah bertekad tidak ingin mempercayai Ryeowook lagi tapi panggilan itu membuatnya hampir menyerah untuk bersikap seperti musuh padanya.

“Aku sempat membencimu setelah apa yang kau lakukan dan aku tahu kita sudah berakhir.” Ryeowook berucap pelan. “Tapi aku menganggap berarti apa yang pernah kita lewati bersama.  Meskipun saat itu kau berpura-pura, meskipun kau sebenarnya tidak menyukaiku tapi aku merasa senang saat itu.”

Minrin merasakan rasa sakit seketika itu. Semua hal yang pernah dilewatinya bersama Ryeowook seketika berputar dalam ingatannya. Saat mereka pertama kali bertemu di stasiun kereta, saat mereka berkencan untuk pertama kalinya, saat mereka menghabiskan waktu mengobrol di cafe sambil menikmati kopi selesai bekerja dan saat Ryeowook datang ke rumahnya. Semua itu terlihat sangat manis dan sayang untuk dilupakan.

“Terima kasih, Minrin-ya.” Ryeowook tersenyum padanya. Senyum tulus yang dulu selalu dilihat Minrin. Hatinya yang seakan beku tiba-tiba saja menghangat saat melihat senyuman itu yang pada akhirnya membuat Minrin menatapnya. Kedua matanya memanas tiba-tiba dan ia harus berusaha keras agar air matanya tidak meluncur begitu saja.

“Aku akan menepati janjiku untuk membantumu,” ucap Ryeowook lagi lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Minrin yang hanya bisa menatap pintu yang kembali tertutup itu dengan setetes air mata yang membasahi pipinya.

Begitu keluar dari ruangan Ryeowook melihat sekilas layar komputer yang memperlihatkan Minrin menunduk dengan tubuh bergetar karena menangis. Untuk sesaat ia kembali merasa bersalah karena membuat Minrin berada di tempat itu. Mungkin Ryeowook memang sedikit membencinya, tapi gadis itu tetap saja gadis yang pernah dicintainya.

***

Kim Hyerim terbangun saat indera pendengarannya menangkap suara pintu dibuka. Dilihatnya Kim Donggun berdiri di ambang pintu sambil mengamatinya. Wajah wanita itu pucat karena sama sekali tidak menyentuh makanan sejak dua hari yang lalu meski Kim Donggun berbaik hati memberinya makan. Luka-luka yang diterimanya membiru dan rasanya ngilu. Tak sedikipun Hyerim menatap Kim Donggun ketika laki-laki itu berjalan menghampirinya dan berdiri di depannya.

“Kau tidak mau makan lagi?” tanya Kim Donggun dengan sedikit kasar sambil mengambil piring lalu meletakannya kembali dengan berlebihan. Suara piring dari aluminium itu terdengar keras saat menyentuh meja membuat Hyerim sedikit berjengat kaget tapi tetap bertahan dengan posisinya.

“Jika kau terus seperti ini, kau akan mati sebelum aku membunuhmu.” Kim Donggun mengamati wanita itu lalu menarik kursi di hadapannya lalu duduk di sana.

Kim Hyerim merespon dengan mendongakkan kepalanya. Raut wajahnya tegang tapi berusaha ditutupi dengan ekspresi penuh emosi. “Kau bilang tidak akan menyakitinya,” desisnya pelan.

“Aku tidak menyakitinya, Hyerim-ah. Apa aku melakukan sesuatu padanya?” Kim Donggun tersenyum sinis.

“Kalau begitu lepaskan dia. Dia sudah melakukan perintah yang kau berikan. Aku mohon jangan memanfaatkannya lagi,” rintih Hyerim memohon.

“Aku akan melihatnya setelah dia melakukan tugas kedua,” sahut Kim Donggun lagi-lagi dengan memamerkan senyum sinisnya. Hyerim mendesis menahan amarah.

“Brengsek kau!”

“Apa bedanya aku denganmu, ha?” balas Kim Donggun dengan keras. Hyerim terdiam. “Aku tidak melupakan kejadian waktu itu, Hyerim-ah. Saat kau berkhianat pada kami dan membuat kami hampir tertangkap.”

“Kau tahu kenapa aku melakukan hal itu? karena kau… kau yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan tidak. Kau yang berbuat seenaknya termasuk mengabaikan perintah partai untuk kembali. Aku masih waras untuk tidak mengikuti kemauanmu, karena aku ingin hidup meski itu berarti aku akan dicap pengkhianat oleh bangsaku sendiri.”

Kata-kata itu menampar Kim Donggun secara samar membuat laki-laki itu berdiri dengan emosi yang siap meledak.

“Jika aku mengikutimu kala itu, aku pasti akan mati entah di tangan NIS atau bangsaku sendiri. Tapi aku memilih hidup….”

“Dan kau tidak akan hidup lebih lama lagi, Kim Hyerim-ssi,” potong Kim Donggun cepat penuh penekanan, laki-laki itu melihatnya sekilas sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.

Hyerim tertunduk setelah itu, mengkhawatirkan Ryeowook. Dia tahu betul seperti apa Kim Donggun itu. laki-laki itu akan melakukan apapun untuk mencapai keinginanya. Meskipun Hyerim tidak tahu apa yang diinginkannya dari Ryeowook, tapi sepertinya Kim Donggun tidak akan berhenti sampai disini untuk menjadikan Ryeowook salah satu orangnya.

***

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” Kyuhyun bertanya pada Ryeowook saat keduanya tengah duduk di kantin gedung NIS. Kyuhyun mengambil minuman kalengnya, meminumnya sedikit  lalu memperhatikan Ryeowook yang tengah bingung. “Aku akan membantumu jika kau memberitahuku yang sebenarnya.” Kyuhyun melanjutkan menunjuk pada pembicaraan mereka sebelumnya.

Ryeowook bereaksi dengan menyenderkan punggungnya lalu menatap datar kaleng minuman miliknya di atas meja. “Aku sudah memberitahu semuanya, Kyu. Lagipula kurasa kau sudah banyak tahu tanpa kuberitahu.”

“Tentang Minrin yang adalah salah satu agen 12D, ya… kurasa aku cukup tahu tentang hal itu. Tapi aku sangat yakin kau menyembunyikan lebih banyak kebenaran dibandingkan masalah itu.” Kali ini Kyuhyun mengamati Ryeowook secara seksama, menyelidiki sesuatu dari raut wajahnya yang berubah khawatir sekarang.

Tepat saat itu ketika Kyuhyun ingin melontarkan pertanyaan lanjutan, ponsel milik Ryeowook berbunyi. Kyuhyun lantas mengurungkan niatnya dan membiarkan Ryeowook mengangkat telepon. Saat rekannya itu belum sempat bicara, raut wajahnya berubah serius seketika hanya karena mendengar suara di ponselnya. Entah siapa yang meneleponnya dan apa yang mereka bicarakan, Kyuhyun tidak tahu karena Ryeowook langsung menjauh darinya.

“Tidak ada kesepakan kau bisa terus menyuruhku menuruti semua perintahmu,” Ryeowook berbicara. Ia melirik sebentar ke arah Kyuhyun yang agak jauh darinya, berusaha agar rekannya itu tidak mendengar pembicaraan yang sedang dilakukannya. “Aku tidak akan melakukan perintahmu lagi.”

“Dan membiarkan ibumu mati ditanganku?” suara Kim Donggun menyela membuat Ryeowook terdiam.

“Kau mengancamku?”

“Begitulah cara kita bekerja, nak. Bukankah kau juga begitu? Kita sama saja… baiklah, aku hanya memberitahumu itu. kita bertemu setelah kau menyelesaikan tugasmu untuk membicarakan tentang ibumu.”

Setelah itu sambungan terputus sepihak sebelum Ryeowook sempat bertanya tentang keadaan ibunya. Tangannya mencengekram kuat ponselnya. Berbagai pikiran memenuhi kepalanya, terutama tentang apa yang harus dilakukannya agar ia dan ibunya bisa terlepas dari Kim Donggun. Apa yang harus dilakukannya untuk menyelamatkan ibunya?

“Kenapa denganmu?” suara Kyuhyun yang bertanya membuat Ryeowook menoleh seketika. Kyuhyun pasti sudah memperhatikannya sejak tadi. “Apa terjadi sesuatu?” tanyanya lagi. Ryeowook tidak langsung menjawab lalu kembali ke tempat duduknya.

“Aku memikirkan cara untuk menangkap agen 12D lainnya,” jawab Ryeowook sambil meletakkan ponselnya ke atas meja dengan sedikit melemparnya.

Ia bingung, frustasi dan juga khawatir mengenai keadaan ibunya. Meskipun sebelum kejadian ini hubungannya dengan wanita yang melahirkannya itu tak terlalu baik, tapi wanita itu tetaplah ibunya. Wanita itu pernah mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan Ryeowook. Dan mendadak Ryeowook menyesal karena sempat merasa risih serta tidak suka dengan sikap ibunya yang kelewat berlebihan. Dibandingkan sikap ibunya yang selalu menuntut ini dan itu secara tidak langsung, nyatanya wanita itu lebih banyak memperhatikan Ryeowook. Ia saja yang tidak menyadarinya. Bagaimana bisa Ryeowook pernah berteriak padanya? Semua itu membuat Ryeowook sangat menyesal.

“Jika Minrin agen 12D kenapa kau tidak menggunakannya untuk menangkap yang lain? Dia pasti tahu banyak soal kelompoknya.” Kyuhyun berucap, menyadarkan Ryeowook.

“Aku tidak bisa melakukan hal itu, Kyu. Dia juga bisa dalam bahaya.” Ryeowook menyahut.

“Kenapa? Bukankah kau dan dia sudah berakhir? Tidak ada salahnya meminta bantuan darinya.”

“Ini tidak sesederhana yang kau pikirkan, Kyu,” sahut Ryeowook kemudian sambil menggeleng pelan.

“Kalau begitu jelaskan agar aku tidak berpikir ini sangat sederhana. Apa yang terjadi? Kalau perlu kau juga harus menjelaskan tentang perasaanmu yang sebenarnya pada gadis itu agar aku bisa menganalisis dengan benar langkah apa yang seharusnya kau ambil,” putus Kyuhyun sambil sedikit berdecak kesal karena sejak kemarin ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

Apa yang dipikirkan Kyuhyun memang berbeda dengan Ryeowook. Bagi Ryeowook, ia tidak bisa membuat dua wanita itu terlibat bahaya lagi. Tentu saja Minrin bisa dalam bahaya jika ia menggunakannya untuk menangkap Kim Donggun, karena laki-laki itu pasti berpikir jika Minrin membantu Ryeowook menemukan keberadaannya waktu itu. Tapi jika ia tidak segera menemukan Kim Donggun, ibunya ada dalam bahaya. Rasanya semua itu benar-benar membuatnya mati langkah.

“Aku harus menemukan Kim Donggun secepatnya. Ibuku… dia bisa dalam bahaya,” ucap Ryeowook pada akhirnya seakan ingin mengacak rambutnya karena beban pikiran yang terasa berat.

“Apa?” teriak Kyuhyun tiba-tiba tidak menyangka dengan fakta yang di dengarnya. “Bagaimana bisa ibumu bisa dalam bahaya?”

Ryeowook pun menceritakan semuanya pada Kyuhyun. Dari awal masalah hingga alasan ia menangkap Minrin sebagai tersangka peledakan, termasuk perintah kedua yang diterima Ryeowook untuk mencuri beberapa file rahasia milik NIS.  Kyuhyun mendengarnya dengan serius.

“Dan kau akan melakukannya? Mencuri file yang tadi kaubilang?” cerca Kyuhyun  tidak menyangka.

“Aku tidak punya pilihan. Dia bisa melukai ibuku jika aku tidak melakukannya. Lagipula aku memikirkan untuk menjebaknya saat aku bertemu denganya begitu aku mendapatkan file itu.”

“Tapi file itu ada di ruang penyimpanan berkas yang tidak bisa kita masuki. Hanya wewenang dari ketua tim dan juga pimpinan yang bisa masuk ke sana.”

“Aku tahu. Karena itu kita harus mendapatkan ijin untuk masuk kesana.”

“Kau gila.” Kyuhyun menyahut tidak mengerti. “Kenapa kita tidak membawa file yang dipalsukan saja? Yang kita butuhkan hanyalah menemukan persembunyian mereka bukan?”

“Tidak, Kyuhyun-ah. Mereka akan tahu jika kita berbohong. Mereka punya banyak telinga disekitarku.”

“Maksudmu?”

Ryeowook menghela nafasnya, menatap Kyuhyun sekilas. Rekannya itu sudah pasti tahu apa yang dimaksudnya. Dalam dunia mata-mata sudah bisa menjadi korban sadapan atau intaian orang lain. Kita hanya tidak tahu dimana mereka sedang mengawasi pergerakan kita.

Kyuhyun mengangguk mengerti detik berikutnya. “Benar juga, justru terlalu berbahaya jika kita berusaha membohongi mereka. Lalu bagaimana?” tanya Kyuhyun

“Kita harus mendapatkan file itu, Kyu. Kau mengerti maksudku kan?” Ryeowook bertanya memastikan bahwa apa yang ada dalam pikiran mereka berdua sama.

“Tapi kau tahu resikonya. Kau bisa dituduh sebagai mata-mata mereka, lebih buruk lagi kau dan ibumu yang kau bilang mantan mata-mata utara bisa dihukum karena pengkhianatan. Apa kau tidak memikirkan sejauh itu?”

Ryeowook terdiam seketika. Bukannya ia tidak memikirkan hal itu. Ia sudah memikirkan hal itu selama ini apalagi sejak tindakannya membantu Minrin kabur dari museum saat petugas keamanan bergerak akan menangkapnya. Ia pikir melakukan aksi macam itu sekali lagi tidak akan masalah. Jika memang ia akan tertangkap maka ia yang akan bertanggung jawab sendiri.

“Aku tahu. Aku hanya ingin menyelamatkan ibuku. Yang harus kita lakukan adalah mencegah banyak pihak terlibat.”

Kyuhyun hanya bisa menghela nafasnya lemah, merasa kalah berdebat. “Baiklah, aku mengerti.”

***

Di sisi lain ketika Ryeowook dan juga Kyuhyun sedang berusaha mendapatkan sidik jari ketua tim agar bisa masuk ke ruang penyimpanan berkas, Minrin kembali merenungkan ucapan Ryeowook padanya. Haruskah ia percaya sekali lagi pada laki-laki itu?

Gadis itu tersentak saat pintu di depannya terbuka. Ia mendongak dan mendapati sosok Lee Hyukjae berdiri dengan membawa dua gelas karton berisi kopi. Aroma latte menguar memasuki indera penciumannya begitu Hyukjae meletakkan gelas bawaannya di atas meja.

“Jadi, apa yang akan terjadi selanjutnya, Hyeae-ssi?” tanya Hyukjae dengan nada menyelidik setelah laki-laki itu manarik satu kursi. Minrin tersentak terutama saat nama aslinya disebut. Ia tidak terkejut sebenarnya, hanya saja ia penasaran apa maksud kedatangan Hyukjae ke hadapannya ini dengan membawa-bawa nama Hyeae.

“Aku tidak tahu apa yang ingin kau ketahui dariku, Hyukjae-ssi,” jawab Minrin tanpa banyak nada perlawanan di sana. Gadis itu sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.

“Kim Donggun… kau tahu dimana dia kan?” Hyukjae bertanya lagi. Kedua matanya tidak melepaskan sedikitpun gerakan yang dibuat Minrin, mengantisipasi jika gadis itu akan melakukan kebohongan.

“Apa aku bisa mempercayaimu?” Minrin justru balik bertanya, membuat Hyukjae mengernyit tidak mengerti.

“Tergantung, apa aku juga bisa mempercayaimu?” Hyukjae ikut bertanya. Kedua orang itu saling menatap. Minrin mencari kebenaran dan kesungguhan dari tatapan Hyukjae sedangkan pria itu sepertinya hanya mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya ingin diucapkan Minrin padanya.

Minrin menarik nafasnya setelah beberapa saat. Sepertinya ia tidak punya pilihan selain mengatakannya pada Hyukjae. Waktunya semakin sempit. Apalagi sejak Ryeowook menemuinya kemarin, tidak ada satupun yang datang. Laki-laki itu dan juga ibunya bisa dalam bahya jika tidak ada yang menyelamatkannya.

“Aku bisa membantu menemukan dimana Kim Donggun. Meskipun aku tidak tahu apa aku bisa membujuknya untuk bertemu denganku, tapi aku akan berusaha agar kalian bisa menemukan posisinya.” Minrin berucap dengan sangat tenang dan juga yakin.

“Kenapa kau ingin membantu kami?” tanya Hyukjae yang sepertinya belum bisa menerima sepenuhnya usulan Minrin itu. Tentu saja ia tidak bisa gegabah mengambil keputusan. Meskipun Hyukjae sempat mengenal Minrin sebagai orang terdekat Ryeowook, tapi gadis itu tetaplah mata-mata utara yang berbahya. Mungkin saja kan ini jebakan?

“Aku mempercayaimu, Hyukjae-ssi. Bisakah kau percaya padaku?” Minrin mendongak dan menatap laki-laki di depannya itu dengan tatapan memohon. “Tolong, selamatkan dia. Aku mohon…,” ucapnya pelan, air matanya bahkan menetes saat mengatakan itu membuat Hyukjae semakin bingung.

“Apa maksudmu?” Hyukjae kembali bertanya saat Minrin menyeka air matanya dan menarik nafasnya dalam.

“Kim Ryeowook dan ibunya bisa dalam bahaya jika kau tidak segera menemukan dan menangkap Kim Donggun.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Gunakan aku untuk memancing Kim Donggun keluar dari persembunyiannya, dan kalian bisa menangkapnya setelah itu,” sergah Minrin cepat tanpa sedikitpun menjawab kebingungan dari pertanyaan Hyukjae barusan.

“Aku mohon padamu, Hyukjae-ssi.”

***

Hyukjae bergegas menemui Kyuhyun setelah berbicara dengan Minrin. Ia sendiri masih tidak mengerti, dan Cho Kyuhyun pastilah orang yang tepat untuk menjelaskan kejadian sebenarnya. Mengingat orang itulah yang kemarin menyeret Hyukjae serta Jongwoon ke menara itu. Dia menemukan Kyuhyun yang sedang berdiri di depan sebuah ruangan. Setahu Hyukjae ruang itu adalah ruang penyimpanan berkas penting yang tidak boleh sembarangan dimasuki orang. Lantas apa yang dilakukan Kyuhyun di sana?

“Cho Kyuhyun!” panggilnya lalu berjalan cepat ke arahnya. Kyuhyun menoleh terkejut. Tingkahnya berubah mencurigakan. Berulang kali dia melihat ke arah pintu lalu kembali melihat ke arah Hyukjae dengan ekspresi aneh. “Apa yang kau lakukan?”

“Oh… hyung….” Kedua mata Hyukjae menyipit melihat perilaku Kyuhyun yang tak biasa itu. Ia terlihat gugup. “Aku sedang menunggu ketua tim. Dia ada di dalam, aku disuruh menunggu di sini,” jelasnya buru-buru.

“Benarkah?” Hyukjae melihat ke arah pintu ruangan yang tertutup. Tapi kemudian mengabaikannya. “Ada yang ingin kubicarakan,” katanya kemudian.

“Soal apa?”

“Kim Donggun,” jawab Hyukjae. Dan diluar dugaannya Kyuhyun terlihat membulatkan matanya perlahan mendengar jawabannya. Sebenarnya apa yang sedang disembunyikannya?

Di dalam ruangan, Ryeowook yang telah berhasil mendapatkan apa yang dicarinya bergegas keluar. Tapi ia berhenti sejenak ketika melihat Hyukjae tengah berbicara serius dengan Kyuhyun. Ia pun memutuskan bersembunyi dan mengamati keduanya.

“Gadis itu baru saja mengatakan padaku bahwa Kim Ryeowook dan ibunya bisa dalam bahaya jika kita tidak segera menangkap Kim Donggun. Apa menurutmu itu masuk akal?” Hyukjae bertanya pada Kyuhyun dengan nada berdecak tidak mengerti. Yang di ajak bicara hanya diam lalu melirik sebentar ke arah pintu ruangan.

“Yaa, Cho Kyuhyun!” Kyuhyun menoleh, raut wajahnya berubah bimbang.

“Apa yang dikatakannya?” tanyanya kemudian.

“Dia menawarkan diri untuk membantu menemukan persembunyian Kim Donggun,” jawab Hyukjae sambil berkacak pinggang.

“Dan hyung bilang apa?”

“Aku bilang akan menyiapkan rencananya dan dia hanya harus menunggu sampai kita siap dengan rencananya.”

Mwo?” Kyuhyun berteriak nyaris membentak karena tidak percaya.

“Kenapa kau berteriak seperti itu?”

Aissh, seharusnya hyung membicarakan dulu pada yang lain.” Tak disangka Hyukjae bahwa Kyuhyun akan terlihat tidak setuju dengan rencananya. Ia terus menatap Kyuhyun, mencari tahu apa yang sebenarnya telah diketahui Kyuhyun.

“Kau tahu sesuatu bukan? Tentang Ryeowook dan ibunya,” ujar Hyukjae setelah itu yang langsung membuat Kyuhyun menatap ke arahnya.

“Jika apa yang dikatakan Minrin benar, bukankah itu bagus jika dia membantu kita?”

Kyuhyun belum sempat menjawab ketika akhirnya pintu di belakang mereka terbuka dan memperlihatkan Ryeowook keluar dengan sebuah map cokelat di tangannya. Membuat Kyuhyun menoleh ke belakang begitu juga Hyukjae yang lebih dulu memasang wajah bingungnya.

“Ryeowook-ah, apa yang kau lakukan di dalam?” tanyanya.

“Kurasa kita tidak punya waktu lagi. Jika Minrin memang mau melakukannya, kenapa kita tidak menerima tawarannya?” Ryeowook berucap lagi. Ia menatap Kyuhyun dan Hyukjae bergantian.

Hyung….”

“Jadi itu benar bahwa ibumu dalam bahaya?” tanya Hyukjae memastikan dan langsung di jawab Ryeowook dengan anggukan kepala.

“Aku tidak punya waktu lagi.”

***

“Kim Donggun punya sebuah markas rahasia di daerah Busan. Aku menduga bahwa mereka pasti membawa ibumu ke sana.” Minrin berbicara serius. Ketiga laki-laki yang duduk melingkar bersamanya mendengarkannya dengan seksama.

Saat ini sudah malam ketika mereka mengadakan rapat dadakan di salah satu markas NIS. Jangan tanyakan bagaimana Minrin bisa berada di tempat itu. Tentu saja ketiga pria di depannya lah yang mengeluarkannya dari ruang isolasi. Tidak ada orang lain yang terlibat kecuali mereka berempat. Seperti yang Ryeowook katakan bahwa meminimalkan orang yang terlibat salah satu cara agar ibunya, dirinya dan juga ayahnya tidak akan mendapat banyak masalah setelah ini. Di atas pekerjaan mereka ada hukum yang mengatur dan tentu saja melawan hukum selalu ada harga yang harus dibayar.

“Aku pikir jika aku memancingnya keluar dengan menyerahkan data rahasia ini, Kim Donggun tetap tidak akan membawa serta ibuku.” Ryeowook menimpali. Kyuhyun dan Hyukjae menoleh ke arahnya dan Minrin mengangguk membenarkan.

“Benar.  Kim Donggun selalu bekerja hati-hati. Jadi, yang perlu kita fokuskan adalah di mana ibumu berada.” Minrin menambahkan.

“Kalau begitu kenapa kita tidak mendatangi markasnya di Busan saja? Saat Ryeowook menyerahkan data rahasia itu, kita datangi markasnya. Kurasa dua orang bisa melawan para penjaga mereka. Minrin bisa menjelaskan keadaan lapangan di sana.” Hyukjae memberikan usul. Ketiganya kini menatap ke arahnya, Kyuhyun mengangguk menyetujui ide itu dan Ryeowook serta Minrin hanya saling menatap sebentar sebelum akhirnya setuju.

***

“Aku akan menyerahkan data yang kau minta. Dimana kita bisa bertemu?” Ryeowook berbicara di telepon dengan Kim Donggun begitu rencana mereka berempat disusun dengan rapi.

“Bagus sekali, aku tahu kau bisa sangat berguna. Baiklah, aku yang akan memutuskan. Tunggu saja dimana aku akan menentukan tempat bertemu.” Kim Donggun menyahut dengan suara khasnya yang seakan mengintimidasi.

“Aku harus memastikan ibuku baik-baik saja sebelum menyerahkannya padamu. Biarkan aku bicara padanya,” kata Ryeowook memotong cepat saat Kim Donggun sudah berniat mengakhiri panggilan itu.

“Terdengar suara Kim Donggun yang terkekeh menertawakan. Tapi tidak berselang lama suara pria itu berganti suara ibunya yang terdengar menyayat hati Ryeowook.

“Ryeowook-ah, ibu baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, eoh?”

“Ibu, tunggulah sebentar lagi. Aku akan menyelamatkanmu,” jawab Ryeowook mendadak panik. Suara ibunya membuatnya lega sekaligus khawatir.

“Tidak apa-apa. Eomma bisa menunggu. Berhati-hatilah, kau mengerti?” Ryeowook tercekat mendengar suara yang tengah berbohong itu. Ibunya tidak baik-baik saja. Jelas Kim Donggun melakukan sesuatu padanya, tapi demi tidak membuat Ryeowook tidak khawatir ibunya berbohong padanya. Entah apa yang Kim Donggun lakukan, Ryeowook benar-benar tidak ingin membayangkannya.

Saranghae, Ryeowook-ah.”

Itulah kata terakhir yang diucapkan ibunya sebelum Kim Donggun merebut kembali ponselnya dan memutus sambungan.

***

Minrin tidak pernah menyangka akan berada dalam situasi yang sangat berbeda seperti sekarang ini. Kim Ryeowook, pria yang duduk di sebelahnya masih memperhatikan dengan seksama situasi di luar. Sementara Minrin sendiri terjebak menatap Ryeowook, bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada mereka setelah semua ini berakhir. Ia cukup tahu diri berada di posisi mana, dan semua itu juga sudah cukup untuk membuatnya tak berharap lebih lagi. Apapun yang terjadi, mereka berdua tidak akan kembali pada situasi semula. Ya, lagipula Ryeowook sendiri yang mengatakan bahwa hubungan mereka sudah berakhir.

Dia menghela nafasnya pelan saat sebuah mobil terlihat dari kejauhan. Minrin kembali memperhatikannya. “Kau yakin akan  baik-baik saja?” tanyanya perlahan. Ryeowook terlihat menatap ke arahnya sekilas.

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Fokus saja dengan tugasmu,” jawabnya dingin sebelum akhirnya dia membuka pintu dan keluar dari mobil dengan amplop cokelat di tangannya.

Kembali Minrin hanya menghela nafasnya pendek, sebelum akhirnya ia ikut turun untuk bersembunyi. Ia terus menatap punggung Ryeowook yang kini dihadapannya berjalan Kim Donggun dan dua anak buahnya. Minrin mengernyit sekilas menatapnya. Setahu Minrin Kim Donggun hanya punya tiga anak buah yang selalu setia bersamanya. Dua diantaranya adalah mereka yang baru saja datang dengan Kim Donggun. Itu berarti hanya ada satu orang yang menjaga eomonim. Dan itu juga berarti Kyuhyun serta Hyukjae akan lebih mudah untuk menyelamatkannya.

Tapi itu terlihat aneh. Kim Donggun bukan orang yang akan meninggalkan sanderanya di tempat yang jauh hanya dengan satu penjaga saja. Atau mungkinkah….

Pertanyaan itu masih mengambang di kepala Minrin ketika ponsel di dashboard berbunyi. Itu bukan ponsel miliknya ataupun Ryeowook karena ponsel keduanya sudah disadap Kim Donggun. Ponsel itu baru dan memang disediakan agar Kyuhyun atau Hyukjae bisa menghubunginya jika terjadi sesuatu.

“Aku pikir dia tidak ada di sini,” kata Kyuhyun begitu Minrin mengangkat teleponnya. Persis seperti dugaannya.

“Dia ada di mobil bersama Kim Donggun,” sahut Minrin begitu menyadari situasinya. Kim Hyerim tidak disekap di Busan melainkan ada di mobil yang tadi digunakan Kim Donggun. Itu berarti satu anak buah Kim Donggun berada di sana bersamanya.

“Kau serius?”

“Aku akan memasang alat pelacak di mobilnya dan setelah mereka pergi kita bisa tahu di mana keberadaannya.”

Setelah mengatakan hal itu, Minrin pun segera memutus panggilannya. Dengan perlahan dia berjalan menghampiri mobil Kim Donggun. Laki-laki yang menjaga mobil itu duduk di depan kemudi, sementara Minrin bisa melihat Kim Hyerim berada di belakangnya dengan kedua tangan yang diikat. Dengan hati-hati ia berjalan membungkuk ke belakang dan menempelkan alat pelacak di bagian bawah mobil itu. Kim Hyerim sempat melihatnya saat akan pergi. Dan wanita itu menatap Minrin tidak mengerti. Minrin hanya balas menatapnya, mengangguk dan menyunggingkan senyum tulusnya. Setelah itu ia pun bergegas pergi menjauh dengan hati-hati.

Ia kembali ke tempatnya semula. Kesepakatan antara Ryeowook dan juga Kim Donggun telah berakhir dengan berpindahnya amplop coklat ke tangan Kim Donggun. Tapi tidak dengan Kim Hyerim yang masih berada di dalam mobil. Minrin sangat tahu betapa liciknya Kim Donggun. Pria itu pasti memaksa Ryeowook melakukan keinginannya lagi sebelum benar-benar melepaskan ibunya.

Setelah Ryeowook kembali ke mobilnya, Minrin pun bergegas ikut masuk. Kemudian ia pun segera meraih ponselnya. “Ibumu bersama mereka. Aku sudah memasang alat pelacaknya. Sebaiknya kita segera mengikutinya jika tidak ingin kehilangan mereka,” katanya.

Ryeowook paham dan langsung melajukan mobilnya sementara Minrin terus memantau lokasi mobil Kim Donggun melalui ponselnya. Mobil itu melaju menuju keluar kota Seoul, ke Busan lebih tepatnya.

“Ada berapa banyak orang di dalam mobil itu?” tanya Ryeowook yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu sembari mengemudikan mobilnya menjaga jarak dengan mobil Kim Donggun.

“Empat orang, lima bersama ibumu. Dan kurasa Kim Donggun sudah tahu jika kita mengikutinya.” Karena setelah itu Kim Donggun membelokkan mobilnya berusaha melepaskan diri dari kejaran Ryeowook serta Minrin.

“Ada dua pistol di belakang, kau bisa menggunakannya kan?” Ryeowook kembali bertanya dan Minrin menoleh menatapnya tidak mengerti.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Kita harus menghentikkanya sebelum kita kehilangan mereka. Aku akan berusaha mendekat dan kau menebak mereka,” katanya.

“Kau gila! Jika polisi tahu, kita semua bisa dalam masalah. Dan ibumu… bagaimana kalau dia terluka?” Minrin menyahut tidak terima dengan sedikit berteriak. Namun Ryeowook sepertinya tidak peduli lagi.

“Akan terjadi masalah jika kita tidak menghentikkannya. Kau hanya perlu berhati-hati,” katanya lalu menambahkan kecepatan mobil untuk menjejeri mobil Kim Donggun. Minrin hanya bisa menatapnya sekali lagi, mendesah lemah, tidak punya pilihan dan akhirnya mengambil dua pistol yang dimaksud Ryeowook di kursi belakang. Satu pistol berukuran pendek yang biasa dibawa Ryeowook saat bertugas dan satu pistol laras panjang yang entah sejak kapan dimilikinya. Minrin mengambil laras panjang dan mengeceknya.

Ia mengarahkan senjata apinya melalui jendela yang dibukanya sedikit. Tepat saat kedua mobil melaju beriringan, saat itulah Minrin langsung menarik pelatuk kaca mobil. Balasan tembakan serupa menyerang mereka. Minrin kembali menembaknya tiga kali dan salah satu kaca mobil itu pun pecah. Pada tembakan keempat ia berhasil melukai seseorang sebelum akhirnya tembakan beruang-ulang menghujaninya. Ia pun berlindung ke bawah dan menoleh ke arah Ryeowook yang sepertinya tengah berbicara dengan Hyukjae atau Kyuhyun, entalah….

“Kyuhyun dan Hyukjae ada di depan,” katanya.

Dan benar saja, sekitar 2 km setelah itu terlihat sebuah mobil yang berhenti dan bersiap untuk ikut dalam aksi tembak menembak di jalan ini. Tidak, bukan tembakan yang selanjutnya terjadi. Karena mobil Kyuhyun langsung melaju kencang di sisi yang lainnya. Akibatnya tentu saja ketiga mobil itu melaju beriringan dengan kecepatan yang menggila. Mobil Ryeowook menjauh saat tepat di depan mereka sebuah truk besar melaju sedang. Tidak lama karena mereka pun kembali melaju bersama-sama di jalan yang sama. Hyukjae dan Minrin menghujani mereka dengan tembakan dari kanan kiri. Tembakan lain berbalas ke arah mereka, namun bisa dihindari.

“Kita harus mengeluarkan ibumu dari sana.” Minrin berujar agak berteriak ketika dua kali tembakan berhasil memecah kaca mobil mereka.

“Kau punya rencana? Karena itu sulit, kecuali jika ibuku yang membuka pintu mobil itu dan melompat kemari.”

Minrin menoleh sebentar ke arah Ryeowook dengan setengah mendengus kesal. “Siapa yang tadi tiba-tiba menyuruhku menembak dan kau menempel ketat mobilnya? Astaga…,” gumamnya sendiri.

Ini mengingatkannya saat dulu mereka bertengkar. Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Tapi tentu saja mereka tidak sadar. Tidak sadar jika sikap keduanya sudah kembali seperti dulu, tak ada ketegangan ataupun ketidakpercayaan. Karena sejak Minrin bersedia mengambil laras panjang di tangannya, Ryeowook percaya pada gadis itu akan melakukan yang ia bisa.

Ryeowook tak terlalu menghiraukannya dan tetap menjaga tempo agar mobilnya tak tertinggal ataupun mendahului mobil yang membawa ibunya itu. Sampai akhirnya entah apa yang telah terjadi di dalam mobil itu, tapi sepertinya ibunya sedang berusaha untuk melawan tiga orang yang duduk bersamanya, termasuk Kim Donggun. Menyadari jika itu kesempatan bagus, Minrin langsung mengarahkan laras panjangnya pada Kim Donggun dan tembakan tepat mengenai lengannya. Hyukjae juga ikut membantu dengan menembak sisi lain mobil. Tepat saat itu Kim Hyerim berhasil memukul si pengemudi dan membuka kunci pintu. Pintu belakang terbuka, begitupun Minrin yang juga langsung membuka pintu belakang mobilnya. Kejadian sangat cepat saat Kim Donggun berusaha menahan Kim Hyerim, tapi wanita itu berhasil melompat diwaktu yang sangat tepat ketika Ryeowook memposisikan mobilnya begitu dekat. Minrin dengan sigap menangkap tubuh Kim Hyerim. Begitu wanita itu sudah berpindah mobil, Ryeowook langsung tancap gas meninggalkan mobil Kim Donggun di belakangnya.

Tidak terduga mobil itu berhadapan dengan sebuah truk tanki besar yang melaju dari arah berlawanan. Kyuhyun dan Hyukjae menghindar di saat yang tepat, namun mobil Kim Donggun dengan kecepatan yang tinggi menghantam truk tanki itu. Berputar berkali-kali di tengah jalan sebelum akhirnya berhenti dengan keadaan yang sangat parah. Keajaiban jika mereka yang ada di dalamnya selamat. Karena seetelah itu terdengar ledakan keras dari mobil itu.

“Kalian baik-baik saja?” tanya Ryeowook dengan deru nafasnya yang terdengar berulang-ulang. Ekspresinya tampak lega.

“Ya, kami baik-baik saja.” Minrin menjawab sambil menatap Kim Hyerim yang juga menatapnya sambil tersenyum.

***

Kejadian tak terduga itu berlangsung tanpa diketahui banyak orang. Kecelakaan hebat dilaporkan terjadi antara sebuah mobil dan truk tanki dengan penumpang mobil yang kesemuanya tidak selamat. Tapi tidak ada pernyataan apapun dari NIS mengenai identitas korban yang diketahui sebagai mata-mata utara.

Ryeowook sedang duduk di sofa dan menyaksikan berita itu. Ibunya, Kim Hyerim terlihat berdiri di depan meja dapurnya dengan memperhatikan puteranya itu. Tersenyum penuh rasa syukur atas apa yang mereka alami kemarin.

“Bagaimana dengannya?” wanita itu berjalan mendekati Ryeowook dengan dua cangkir teh di tangannya. Dia menyerahkan satu pada Ryeowook, dan puteranya itu hanya tersenyum menerimanya.

“Siapa yang ibu bicarakan?” tanyanya berbalik, berusaha menghindar untuk menjawab karena Ryeowook tahu siapa yang dimaksud ibunya.

“Shin Minrin,” katanya.

Ryeowook segera meletakkan cangkirnya di atas meja, diam sebentar sebelum akhirnya mengubah posisi duduknya menghadap sang ibu. “Jangan khawatir, aku tidak akan berhubungan dengannya lagi.” Ryeowook menyahut. “Bukankah itu yang ibu inginkan?”

Dan Kim Hyerim hanya tersenyum. Ikut meletakkan cangkir miliknya, lalu meraih tangan Ryeowook dan menggenggamnya. “Dia menyelamatkan ibu.”

“Aku tahu. Karena aku yang memintanya.”

“Tidak. Aku pernah berbicara dengannya, Ryeowook-ah. Dia mencintaimu. Dan kurasa dia tidak akan mengambil resiko besar untuk menyelamatkan kita jika dia tidak menyayangimu. Dia benar-benar mempertaruhkan hidupnya, apa kau tidak tahu itu?”

Ryeowook memilih diam, menatap kedua manik mata ibunya. Untuk pertama kalinya, ia berbicara serius dengan ibunya mengenai Minrin. Tanpa perdebatan tanpa Ryeowook yang menyela untuk menyuruh ibunya berhenti. Dan itu membuat hatinya begitu lega dan juga tenang.

Jujur, Ryeowook juga tahu resiko apa yang sudah Minrin ambil untuk menyelamatkan ibu dan juga dirinya. Jika kejadian ini tidak merenggut nyawa Kim Donggun, entah apa yang akan terjadi pada Minrin dan juga ibu serta adiknya. Dan mungkin meskipun Kim Donggun meninggalpun, Minrin pasti masih diselimuti ketakutan kalau-kalau pihak utara mencarinya. Ryeowook sudah memperkirakan itu semua. Karena itu setelah kejadian hari itu, ia meminta Minrin untuk menjemput ibu dan adiknya yang datang ke Korea dan menyuruh mereka untuk pergi dari sini. Ryeowook menyarankannya untuk pergi ke Jepang atau Taiwan. Entah gadis itu menuruti perintahnya atau tidak.

“Aku tahu itu. Tidak akan ada masalah dengannya. Kurasa dia sudah menikmati Fukuoka atau Taipe,” ujarnya kemudian.

Kim Hyerim yang kini dibuat diam. Diperhatikannya dengan seksama wajah puteranya itu. Tidak pernah ia merasa bisa begitu dekat dan mengerti Ryeowook sampai hari ini.

 “Kurasa Minrin benar-benar berhasil membuatmu membuka hati. Dia sangat mengenalmu dan kau membiarkannya tahu tentang dirimu, bahkan sampai hal-hal kecil yang kau benci dan yang kau suka. Dan ibu rasa itulah hal yang membuatnya mencintaimu dengan tulus. Itu yang membuatnya mengambil langkah menyelamatkanmu meski apa yang dilakukannya akan membahayakan dirinya sendiri.”

Ryeowook kembali menatap ibunya, menyipitkan matanya pelan lalu tersenyum. “Berhentilah mengatakan hal itu. Ibu juga mengerti diriku, ibu juga mencintaiku dan aku mencintai ibuku ini. Sangat mencintainya sampai-sampai aku bisa gila jika sesuatu terjadi padanya,” sahutnya pelan.

“Ya ampun Kau ini… apa ini caramu merayu wanita?” Kim Hyerim terkekeh, memukul lengan Ryeowook sedikit keras lalu beranjak berdiri dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah bahagianya.

***

Ibunya pernah mengatakan hal ini pada Ryeowook, “untuk mendapatkan hati seorang wanita, kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Jangan berpura-pura di depannya dan biarkan dia tahu siapa kau yang sebenarnya. Dan saat itu hatinya akan terbuka dan dia akan mempercayaimu.”

Dan Ryeowook pikir seperti itulah yang dilakukannya pada Minrin. Membiarkan gadis itu tahu semua hal tentang Ryeowook, bahkan sampai hal-hal terkecil seperti kebiasaan, makanan favourit dan apa yang tidak disukai Ryeowook. Dia tidak pernah berbohong pada Minrin. Dia bahkan mengatakan yang sebenarnya tentang pekerjaannya di NIS. Dan Ryeowook senang saat melakukan hal itu. Berbagi kebahagian dan kesedihan dengan gadis itu hingga membiarkannya melihat Ryeowook menangis.

Hal itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang dilakukannya pada ibunya. Dia jarang melakukan semua itu pada ibunya. Dia begitu tertutup pada wanita yang melahirkannya itu. Meskipun Ryeowook sering bercerita pada ibunya, tapi selalu ada yang disembunyikannya. Awalnya ia melakukan hal itu karena tidak ingin ibunya khawatir dan memandang berlebihan. Tapi ia lupa jika hal itu justru membuat semacam penghalang tipis diantara mereka. Alasan itu yang mungkin membuat keduanya sering berdebat dan berakhir bertengkar apalagi saat dulu membicarakan Minrin.

Dan Ryeowook tidak ingin mengulangi hal itu lagi. Ibunya adalah segalanya untuknya. Dia tidak bisa melihatnya terluka. Itulah kenapa dia akan mencoba memperbaiki hubungannya dengan ibunya. Ryeowook bisa kehilangan Minrin tapi dia tidak bisa kehilangan ibunya.

***

Satu tahun berlalu, begitu cepat dan tak terduga. Ryeowook masih menjalankan pekerjaannya. Meskipun pihak NIS mengetahui apa yang terjadi satu tahun yang lalu, tapi karena Ryeowook tidak terbukti melakukan pengkhiatan, ia pun bisa kembali bekerja. Data rahasia yang diambilnya masih berada di tempat semula, karena Ryeowook hanya memberikan salinannya saja pada Kim Donggun. Dan salinan itu terbakar karena ledakan.

Dia hanya tidak menyangka kalau akan terdampar di kota kecil ini bersama Kyuhyun saat malam tahun baru. Pekerjaan yang menuntutnya. Padahal ia sudah berencana untuk menghabiskan malam tahun baru bersama ibunya.

“Aku akan mengeceknya lagi. Tidak mungkin kita salah alamat.” Kyuhyun bersikukuh. Pria itu mengambil ponselnya setelah itu, membiarkan Ryeowook berdiri memperhatikan gedung rumah di depannya dengan mendesah pelan.

“Kau yakin dia akan membantu kita?” tanyanya.

“Jika tidak, dia tidak akan menyuruh kita datang.” Kyuhyun menyahut masih sibuk dengan ponselnya.

Ryeowook menghela nafasnya perlahan lalu ia berjalan menuju pagar rumah. Lima kali mereka menekan tombol di dinding samping pagar itu tapi tidak ada tanda-tanda rumah itu berpenghuni.

“Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke hotel dan tanyakan itu pada kepala tim. Kita berjalan-jalan saja, ini malam tahun baru, Kyu. Kau tidak ingin merayakannya?” Ryeowook memutuskan untuk mengajak Kyuhyun dengan menepuk punggung rekannya itu lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya. Kyuhyun hanya memperhatiakan sebentar, mendesah panjang lalu dia pun memilih mengikuti Ryeowook.

“Baiklah, karena kita tidak dapat jatah libur, kurasa tidak ada salahnya kita bersenang-senang,” katanya menyetujui. Mungkin kepalanya sudah frustasi sekarang karena panggilannya sama sekali tak dijawab ketua tim. Ryeowook tertawa pelan menyetujui ucapan Kyuhyun barusan.

Mereka memutuskan untuk datang ke salah satu pusat perayaan tahun baru di kota itu. Keduanya awalnya berjalan beriringan tapi Kyuhyun memutuskan untuk pergi mencari minum, sementara Ryeowook memilih duduk di salah satu bangku sembari memperhatikan lalu lalang orang yang berjalan di depannya. Jalanan malam itu memang sengaja ditutup dan dikhususkan untuk pejalan kaki. Akan ada pesta kembang api tepat tengah malam nanti. Dan seperti itulah perayaan tahun baru di sini.

Ryeowook masih duduk di sana, memperhatikan sesekali bermain dengan ponselnya sampai akhirnya suara seseorang tertangkap di indera pendengarannya.

Eonnie, seharusnya kita mengajak ibu. Dia pasti kesepian di rumah.”

“Hei, ibu sendiri yang menolaknya.” Suara gadis itu yang benar-benar menarik perhatian Ryeowook.

“Lain kali kita harus memaksanya. Apa bagusnya berdiam diri di rumah seharian? Astaga….”

Dan tidak jauh dari tempat Ryeowook duduk, ia melihat dua gadis yang tengah mengobrol itu. Satu gadis lebih muda dan yang satunya lebih tinggi darinya. Ryeowook mengenalnya. Tidak mungkin Ryeowook tidak mengenalnya. Karena gadis yang lebih tinggi itu adalah Shin Minrin.

Dia segera berdiri, memperhatikan Minrin yang juga langsung menghentikan langkahnya saat pandangannya bertemu dengan Ryeowook. Mereka berpandangan untuk beberapa saat sampai akhirnya Kyuhyun datang dan memanggil Ryeowook. Namun Ryeowook hanya menoleh sebentar ke arah Kyuhyun dan sepertinya enggan memutus kontak mata dengan Minrin. Kyuhyun juga di sana melihat Minrin dengan ekspresi terkejut.

“Minrin-ya…..”

***

“Jadi, kau memilih Taipe?” Ryeowook bersuara memecah keheningan di antara mereka. Minrin menatapnya, menatapnya lalu tersenyum sambil mengangguk.

Saat Kyuhyun datang tadi, suasana cangggung masih belum bisa dihindari. Beruntung Kyuhyun langsung memecah keheningan dengan menyapa Minrin dan juga adiknya. Lalu pria itu entah bagaimana bisa berhasil mengajak adik Minrin untuk ikut bersamanya menyaksikan kembang api. Dan gadis kecil itu menyetujuinya. Akibatnya, Ryeowook terjebak berhadapan dengan Minrin.

“Adikku tidak suka kalau harus ke Jepang. Jadi kami memilih Taiwan,” katanya.

“Baguslah… bagaimana kabar ibumu?” Ryeowook bertanya.

“Baik. Dia baik-baik saja. Terimakasih padamu, Ryeowook-ssi karena kau sudah membawa mereka keluar dari pengungsian. Terimakasih sudah menyelamatkan mereka.” Kata-kata Minrin itu berhasil membuat Ryeowook menoleh ke arahnya dan menatapnya. Jujur, ia ragu jika mereka akan terlibat pembicaraan masa lalu.

“Bagaiamana denganmu?” tanya Ryeowook lagi.

Minrin diam sebentar sebelum mejawab, “aku baik-baik saja. Dan aku senang bisa hidup tenang sekarang ini.”

“Syukurlah….” Ryeowook menarik nafasnya perlahan. Mendongak ke atas langit yang kini dihiasi letusan kembang api.

Mereka diam dan sama-sama mendongak ke atas, menyaksikan kembang api yang meletus membentuk bunga dan bahkan simbol-simbol negara Taiwan. Sekitar sepuluh menit atraksi kembang api itu memanjakan mata semua orang. Tapi bagi Ryeowook yang sejak beberapa saat lalu berhenti melihat kembang api melainkan melihat wajah Minrin, matanya lebih dimanjakan dengan pemandangan baru itu. Melihat Minrin adalah kebahagiaan tersendiri dibandingkan merayakan tahun baru. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” Minrin bertanya menegurnya. Cepat-cepat Ryeowook mengalihkan pandangannya ke dapan. Dan Minrin hanya tersenyum melihatnya. Sungguh senyuman itu sudah lama tak dilihat Ryeowook. “Aku pikir kau sudah melupakanku,” ujarnya kemudian.

“Aku berusaha tapi sepertinya tidak bisa. Ibuku masih sering berbicara tentangmu.”

“Benarkah?” kedua mata Minrin membulat sedikit, tidak percaya jika Kim Hyerim masih melakukan itu.

“Pembicaraan tantang kebaikanmu. Dia berhenti bicara buruk tentangmu sejak kau menyelamatkannya.” Ryeowook melanjutkan, mengingat bahwa selama setahun ini ibunya memang masih sering bicara soal Minrin. Dan terkadang bahkan menyuruh Ryeowook untuk mencari keberadaan Minrin. “Dia ingin bertemu denganmu,” katanya lagi. Dan Minrin langsung mengubah ekspresinya.

“Terdengar menyenangkan. Tapi kurasa aku tidak bisa.”

Giliran Ryeowook yang mengubah ekspresinya menjadi kecewa. “Kenapa?”

“Aku tidak ingin kembali ke masa lalu. Aku sudah meninggalkan semuanya di Korea. Sangat menyenangkan bisa bertemu denganmu lagi, Ryeowook-ssi. Tapi kurasa aku akan melupakan semua yang pernah terjadi di antara kita.”

Ryeowook memperhatikannya ketika kata-kata itu meluncur dari bibir Minrin dengan tenang. Kecewa. Ya, Ryeowook agak kecewa mendengarnya.

“Aku ingin bertanya satu hal padamu.” Ryeowook mengalihkan tatapannya lagi sejenak ke depan, lalu menarik nafasnya perlahan. Setelah itu ia kembali menatap Minrin. “Apa selama kita bersama, kau pernah tulus menjalani hubungan itu? apa kau pernah menyukaiku?”

Pertanyaan yang benar-benar mneghantam Minrin tepat di hatinya. Ia tidak menyangka akan mendapat serangan itu. Minrin sudah lama berusaha melupakannya, tapi kenapa Ryeowook justru mengingatkannya akan semua yang pernah mereka lalui?

“Karena seperti yang pernah kukatakan. Meski saat itu aku membencimu karena apa yang sudah kau lakukan, tapi aku menanggap berarti apa yang pernah kita lalui. Aku tidak melupakan kenyataan bahwa aku sangat mencintaimu saat itu. Perasaan itu…. aku berusaha menghilangkannya dan berusaha melupakanmu. Tapi rasanya menyesakkan. Terkadang aku akan ingat apa yang pernah kita lakukan bersama. Karena itulah aku bilang kalau sepertinya aku tidak bisa melupakanmu.”

Minrin terdiam mendengar pernyataan itu. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri, bahkan rasa nyeri itu sampai menjalar di ujung-ujung jari tangannya. Kenapa begitu menyesakkan?

“Ryeowook-ssi, A-ku….,”

Pertahanan Minrin runtuh saat Ryeowook menatap wajahnya, menatap lekat terutama bagian matanya, membuat Minrin tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Air matanya menetes pelan dan ia pun hanya bisa menarik nafasnya, menghalau bulir-bulir air mata itu kembali jatuh, juga menghalau dadanya bertambah pedih.

“Kau pria pertama yang mengajaku berkencan. Kau juga orang pertama yang menjadi kekasihku. Pertama kali aku berciuman adalah denganmu. Dan pertama kalinya juga aku peduli bahkan menyayangi orang lain selain ibu dan adikku.” Entah keberanian dari mana, tapi semua itu meluncur bebas dari bibirnya. Ryeowook tersenyum mendengarnya. Rasanya begitu melegakan untuknya.

“Aku tidak pernah berpikir untuk mencelakaimu atau membuatmu terluka. Bahkan jika aku bisa, saat itu aku memilih tidak akan mendengarkan Kim Donggun. Aku begitu takut jika kau terluka, aku selalu khawatir apa yang akan mereka lakukan padamu. Dan itu sudah terjadi sejak pertama kali kita bertemu. Saat pertama kali aku sadar kalau aku akan menjadi orang yang berbahaya untukmu. Maafkan aku…., aku benar-benar minta maaf…..”

Gwaencahana….” Ryeowook dengan cepat meraih tangan Minrin dan menggenggamya.

Ryeowook tahu Minrin memang tidak berniat jahat padanya. Mungkin alasannya mendekati Ryeowook adalah karena perintah Kim Donggun tapi gadis itu tulus selama ini. Dan Ryeowook melihat itu. Itulah kenapa dulu Ryeowook bersedia membantu Minrin, dan juga membiarkan Minrin membantunya.

“Aku benar-benar bersalah. Rasanya aku bahkan tak bisa menemuimu lagi karena rasa bersalah itu.”

“Sudahlah. Semua sudah berlalu.” Ryeowook buru-buru menyela. Senyumnya kembali terukir di bibirnya. Matanya menatap penuh Minrin. Dan itu membuat Minrin sedikit gugup.

“Hubungan kita di masa lalu mungkin sebuah kesalahan. Dan aku hanya ingin memperbaikinya. Memulai semuanya dari awal. Jika kau mau melakukannya,” katanya kemudian.

“Ryeowook-ssi….”

“Aku mencintaimu Minrin-ya.”

Ryeowook dengan pelan menyatakan perasaannya. Dan pernyataan itu benar-benar sukses membuat Minrin terdiam. Dia gugup dan dia juga merasakan jantungnya berdebar hebat.

“Apa kau juga merasakan hal itu?” tanyanya kemudian. Minrin belum menjawab. Dia hanya menatap Ryeowook diam sampai akhirnya dia menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan pertanyaan itu. Ryeowook langsung tersenyum lega lalu meraih Minrin dan memeluknya. Minrin diam sebentar sebelum ia memutuskan untuk membalas pelukan itu.

Aku mencintaimu, Ryeowook-ssi. Sejak dulu… dan perasaan itu tidak berubah sampai sekarang

Eonnie!” teriakan seseorang itu langsun menghentikan mereka untuk berpelukan.

Shin Mingi, adik Minrin dan juga Kyuhyun berdiri di depan mereka, memandang keduanya bingung. Hanya Mingi sebenarnya yang bingung, karena Kyuhyun hanya tersenyum seakan tahu apa yang sudah terjadi.

“Oh… Mingi-ya….”

“Apa yang eonnie lakukan dengannya? Apa dia pacarmu?” tanyanya polos sambil menunjuk Ryeowook yang hanya melihat sambil tersenyum. Hanya Minrin yang menjadi salah tingkah sekarang. Untungnya Kyuhyun langsung berhasil mengendalikan situasi lagi.

“Mingi-ya, kau ingin ikut dengan oppa?”

“Hmm, eoddiya?”

“Membeli gula-gula. eotte?”

“Gula-gula? Joa… ayo pergi oppa!”

Mingi sudah menarik tangan Kyuhyun meninggalkan Minrin dan Ryeowook yang masih di tempat sambil memperhatikan keduanya.

“Kalian tidak ikut?” masih di tempat semula sebelum Kyuhyun berteriak.

Ryeowook hanya tertawa pelan melihat rekannya itu. Dia menoleh ke arah Minrin, mengulurkan tangannya dan disambut Minrin tanpa ragu. Keduanya pun berjalan mengikuti Kyuhyun dan Mingi dengan tangan yang saling bertautan.

***

END

Fiuuh…. kapan terakhir aku post ff ini ya? yeyy akhirnya bisa selesai juga.  Part terakhir paling panjang. Dan maaf kalau tak sesuai harapan.

Okay, thank for reading and comment. See you 🙂

Advertisements

6 thoughts on “(Fanfiction) The Key to Her Heart (3/3)

  1. Aku tegang banget pas awal2 baca ini ff.
    Berasa nnton adegan action seorang kim ryeowook,kyuhyun sama hyukjae hahaha
    manis banget endingnya ih bikin iri wkwk XD suka deh sama sifatnya kyuhyun disini. Pengertian trus dewasa juga 🙂
    Oke aku tnggu next post nya yaa. Semoga yg di publish secret guard duluan hihihi 😀

  2. satu lg ff yg end
    akhirnya happy ending
    btw ryeomin couple mkin sweat aja.
    brhrap ff yg laen sgra update
    n gk sbar nunggu solo album wook

  3. wahhh udah /agak/ lama gak kesini dan ada updatean ff baru T^T
    akhirnya ff ini lanjut aku kira bakal ditinggal ngegantung hahaha seru abiss!! apalagi pas adegan kejar kejaran mobil, serasa nonton film action xD
    ah untungnya berakhir dengan sweet ryeomin >w<
    ditunggu next ffnya authornim!! ^^
    #ryeowooksolo대박나자

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s