(Ryeomin Story) When I need You

jhy

Title : When I Need You | Cast : Ryeowook – Minrin

***

Dering ponsel itu terdengar sangat nyaring dan bahkan bisa membangunkan orang yang terlelap tidur. Beruntungnya si pemilik benda pintar berwarna putih itu masih terjaga hingga membuatnya tak teralu terganggu. Keningnya mengernyit pelan mendapat panggilan luar negeri dini hari buta seperti sekarang ini. Hanya satu orang sebenarnya yang akan melakukan hal itu. Ryeowook bahkan sampai hafal kebiasaannya.

Yeobseo?”

“Ryeowook-aah…!!!” Dan yang terdengar adalah teriakan gadis kesayangannya yang justru terdengar seperti rengekan karena ingin meminta sesuatu.

“Kau tidak tahu jam berapa sekarang ini di sini?” tegur Ryeowook berpura-pura kesal. Apa yang dipikirkan gadis itu menelepon di jamnya orang tidur? Ya Ampun….

“Jam 3 atau jam 4? Ah…  molla….”

Dan Ryeowook hanya menghela nafasnya pendek mendengar nada ketidakpedulian Minrin yang seperti biasanya seenaknya saja meneleponnya. Kemudian ia pun memutuskan untuk berjalan menuju dapurnya. Sepertinya ia butuh satu cangkir kopi karena sepertinya Minrin akan mengajaknya bicara panjang lebar sampai pagi menjelang.

“Video call saja dan aku akan menemanimu mengobrol,” ujar Ryeowook kemudian sambil meletakkan ponselnya dan mengaktifkan speakernya. Sementara dirinya pun sibuk membuat kopi. Tak berapa lama kemudian wajah gadis itu sudah muncul di layar ponselnya, mengernyit berulang kali lalu merengut kesal.

Yaa, kau ingin aku bicara dengan atap apartementmu?” kesalnya.

Ryeowook terkekeh pelan. Setelah ia selesai dengan kopinya, ia pun mengambil ponselnya lagi dan membiarkan Minrin melihat wajahnya. Kemudian ia pun berjalan menuju sofa yang lebih hangat.

“Kenapa dengan wajahmu? Kau mabuk?” tanya Ryeowook saat melihat wajah Minrin yang sedikit memerah. Biasanya gadis itu akan seperti itu kalau sedang mabuk. “Sudah kubilang jangan banyak minum. Kau tidak mendengarkanku?”

“Tidak. Hanya dua gelas,” elaknya buru-buru.

“Tsk.. Kau ini… Kali ini kenapa?”

Dan biasanya Minrin hanya akan menyentuh alkohol jika dia sedang banyak masalah atau memikirkan banyak hal hingga kapasitas otaknya penuh dan pada akhirnya ia pergi mencari pelarian.

“Tidak… tidak apa-apa. Semua baik-baik saja di sini. Aku hanya ingin pulang dan memelukmu,” katanya tanpa banyak berpikir yang menyebabkan Ryeowook terkekeh. Tapi langsung dihentikannya begitu melihat wajah Minrin yang ditekuk, garis bibirnya melengkung ke bawah dan matanya benar-benar terlihat ingin mengeluarkan air mata.

“Kau…  menangis? Waeyo?”

“Aku bilang ingin pulang dan memelukmu,” tekannya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca dan bibir mengerucut dan mimik wajah mengerikan karena air matanya menetes. Jujur saja bukannya bersimpati Ryeowook justru ingin tertawa melihat wajahnya itu yang menggemaskan. Jika Minrin ada di sini, atau jika gadis itu bisa membaca pikirannya dipastikan dia akan melakukan sesuatu pada Ryeowook. Dan sesuatu itu adalah sesuatu yang tidak pernah terdengar bagus.

“Yaa…” dan biasanya Ryeowook akan bertanya-tanya jika sudah seperti itu.

“Rasanya berat, aku tak sanggup dan aku ingin pulang saja,” katanya kali ini dengan suara lemah.

Dia selalu menunjukkan sisi kuatnya tapi Ryeowook tahu Minrin adalah gadis yang sangat mudah menangis, sama seperti kebanyakan gadis. Dia akan menangis jika banyak pikiran. Dia akan menangis saat kesal dan marah juga kecewa dan dia juga akan menangis jika sedang merasa lelah. Bukan cengeng karena dia lemah. Itu lebih seperti bentuk ungkapan hatinya karena tidak terbiasa menceritakan masalahnya pada orang lain.

“Aku merindukanmu dan aku juga merindukan Hyukjae,” katanya lagi.

“Kau yakin karena itu? Kau terbiasa tidak bertemu denganku juga Eunhyuk hyung. Kenapa tiba-tiba kau seperti ini, euhm?”

Dan gadis itu menghela nafasnya, meletakkan ponselnya menghadap ke atas hingga membuat Ryeowook tak lagi bisa melihat wajahnya dan harus puas menatap langit-langit ruangan tempat Minrin berada.

“Proyek yang kurancang berbulan-bulan gagal. Penjulan turun drastis dan kami terkena skandal plagiat. Semua menyalahkanku karena aku tak berkompeten di bisnis ini. Mereka memang tak mengatakannya langsung tapi aku tahu mereka berpikir seperti itu. Jika tempat ini bangkrut pasti akan mempengaruhi perusahaan ayahku,” katanya.

Jadi itu masalahnya kenapa dia menelepon Ryeowook tak melihat jam, dan memperlihatkan wajahnya yang menyedihkan seperti tadi? Ryeowook mendengarkan, seperti biasanya.

“Hei, bukankah kau selalu berpikir positif lantas kenapa kau cepat menyerah seperti itu?”

“Entahlah…. mungkin karena aku sudah lelah berada di sini. Rasanya itu sangat melelahkan saat tidak ada yang percaya dengan kemampuan yang kita miliki. Kau… tidak tahu kan betapa tertekannya aku selama di sini? Ya…  karena aku tidak pernah mengatakannya padamu. Hanya Claire yang sepertinya mempercayaiku di sini. Aaahh….” Dan gadis itu kembali menghela nafasnya keras.

“Apa sebaiknya aku pulang sekarang saja dan menikah denganmu? Hidup sebagai istrimu dan berhenti memikirkan pekerjaan. Aku akan melakukan yang kuinginan tanpa merasa tertekan.” Dia melanjutkan yang sedikit membuat Ryeowook ingin tertawa namun tentu saja ia masih punya hati untuk tidak menganggap remeh saat gadisnya sedang berbicara serius dengannya.

“Tidak. Lanjutkan saja dan perbaiki dulu keadaan di sana baru setelah itu bicarakan pernikahan. Aku tidak ingin kita bertengkar seperti waktu itu lagi.”

“Ah… benar. Tetap saja seandainya aku punya teman di sini yang akan mendengarkanku, aku akan merasa lebih baik.”

“Apa yang kau bicarakan ha? Kau menyuruhku untuk terbang ke New York dan menemuimu?”

“Ya… jika kau mau. Ah… tapi tentu saja kau tidak akan bisa.” Lagi, Minrin menghela nafasnya.

Yaa, angkat ponselmu, aku ingin melihat wajahmu,” kata Ryeowook kemudian. Tak lama setelah itu, Minrin pun mengikuti perintah Ryeowook dan mereka pun kembali melihat wajah masing-masing. “Kau tidak menangis lagi kan?” tanyanya.

Minrin menggeleng pelan. “Aku akan menangis tapi tidak di depanmu,” jawabnya.

Ryeowook tersenyum lalu ekspresinya berubah serius hingga membuat Minrin ikut serius menatapnya. “Jika kau butuh teman, kau bisa menghubungiku dan bercerita seperti ini bukankah biasanya aku juga akan mendengarkan ceritamu? Jika kau butuh kekasih… hmm aku akan memelukmu dari sini dan memberikan ciuman selamat malam, meski hanya lewat video call. Aku tahu kau merasa geli mendengarnya. Yang ingin kukatakan, jangan merasa sendiri dan tidak punya teman karena ada aku. Kau mengerti?”

Minrin terenyuh. Tentu saja. Namun ia tidak ingin menunjukannya dan sebaliknya ia pun hanya tersenyum geli, mengangguk-angguk bersemangat. “Thank you and i love you,” katanya.

Ryeowook terkekeh dan mengangguk mengerti. “Aku tahu. Jadi, bersemangatlah. Seperti Christopher.”

“Christopher?”

“Tokoh dalam teater yang kuperankan. Anak autis yang melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Karena itu semua orang sebenarnya bisa melakukan apapun, yang perlu dilakukan adalah mencoba.”

Minrin tersenyum lagi kali ini dengan tulus karena merasa tersentuh dengan kata-kata Ryeowook barusan. “Euhm… arraso. Tapi ngomong-ngomong kau bicara soal teater, aku jadi benar-benar ingin pulang dan melihat pertunjukanmu,” katanya.

“Bukankah kau biasanya tak suka melihat pertunjukanku?”

“Bukan karena ingin melihat pertunjukanmu tapi karena ingin bertemu denganmu,” katanya meralat yang membuat Ryeowook tersenyum.

“Kenapa?”

“Kenapa? Karena aku ingin mendengar lebih rinci tentang rencana pernikahan yang kau rancang. Karena aku merasa bersalah dan ingin meminta maaf langsung padamu dan karena kau tunanganku. Ah… molla, sepertinya bicaraku sudah keluar topik.”

“Kau minum berapa sebenarnya, ha?”

Tssk…. sudah kubilang hanya dua gelas. Aku tidak minum lagi, kau bisa lihat… tidak ada wine atau beer atau minuman alkohol lainnya di sini.” Minrin membalikkan ponselnya dan memperlihatkan keadaan kamarnya yang memang tidak ada alkohol satupun.

Ryeowook terkekeh lagi mempercayai Minrin. Ya, karena sejujurnya Ryeowook juga tahu Minrin jarang minum. “Aku mentoleransi dua gelas yang sudah kau minum,” katanya.

“Kalau aku minum lebih memangnya apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan terbang ke sana dan menghentikanmu.”

“Huh, jangan bercanda! Itu rayuan paling murahan dan paling biasa yang pernah kudengar darimu.”

Ryeowook tertawa dan ia memang mengakui kalau dirinya tak pandai dalam hal merayu seorang gadis. Entahlah, kalau dipikir ia juga tak pandai dalam sebuah hubungan. Ia hanya beruntung menemukan Minrin yang menerimanya apa adanya, yang hampir tidak pernah menuntut apapun darinya. Gadis itu adalah teman dan juga kekasih yang sangat menyenangkan.

“Sudah merasa lebih baik?” tanyanya kemudian. Wajah Minrin terlihat lebih berseri dibandingkan tadi. Dia juga bisa tersenyum lebar dan Ryeowook selalu merasa senang jika bisa menghiburnya.

“Aku sudah melihat wajahmu, mendengar suaramu tentu saja aku merasa lebih baik,” balasnya.

“Kau berubah banyak satu tahun ini. Kupikir aku tidak akan mendengar kata-kata manis dari kekasihku.”

“Jadi, kau lebih suka aku yang bicara kasar dan seenaknya padamu?”

“Mungkin, aku terbiasa mendengarnya. Tapi jika kau mencoba untuk memperbaikinya aku sama sekali tidak akan keberatan.” Ryeowook membalas dan tersenyum dengan tatapan penuh pada kedua mata Minrin yang tepat berada di depannya.

“Aah… Joa. Aku benar-benar merasa lebih baik sekarang. Karena kau sudah terlihat lelah sebaiknya aku tutup teleponnya. Jadwalmu sangat padat kan akhir-akhir ini? jadi istirahatlah, kau harus istirahat dan jangan sampai jatuh sakit.”

“Kau juga, jaga kesehatanmu.”

Minrin tersenyum dan akan mematikan sambungan itu tapi segera diurungkannya sejenak ketika teringat sesuatu. “Aah…, kau benar-benar ingin bergabung dengan Donghae dan Siwon oppa di kepolisian?”

“Kau mendengarnya?”

“Tentu saja, aku tidak pernah ketinggalan info tentangmu. Jadi?”

“Euhm.. ya, kurasa.”

Senyum tulus kembali mengembang di bibir Minrin setelah itu. “Baiklah, berusahalah dan bersemangatlah kalau begitu. Aku tidak sabar melihatmu dengan seragam kepolisian seperti Donghae.” Terakhir Minrin menyunggingkan senyum lebarnya sekali lagi sebelum benar-benar menghentikkan obrolan itu.

Ryeowook hanya ikut tersenyum begitu wajah Minrin telah menghilang dari layar ponselnya. Dia menghela nafasnya pendek saat menengok jam yang sudah menunjukkan pukul setengah lima subuh. Segera ia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka sebelum pergi tidur. Benar, kata Minrin. Sesibuk apapun dirinya, ia harus istriahat untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap sehat.

Ryeowook baru saja akan memejamkan matanya ketika ponselnya kembali bergetar. Satu pesan dari Minrin yang mengatakan bahwa gadis itu meminta maaf karena sudah mengganggunya.

Maaf karena sudah mengganggumu. I’ll see you soon in Korea.

***

CUT

Maaf seharusnya Ryeomin story masih ngelanjutin soal rencana pernikahan mereka tapi malah muncul ff ini.

Lagi bosan, lagi banyak pikiran dan pengen disemangatin. Huufft… enak kali jadi Minrin. Eeh.

Ya udah See you in another post 🙂

Advertisements

5 thoughts on “(Ryeomin Story) When I need You

  1. Aku jga mau di semangatin sma ryeowook huhuhu..
    Tpi krna itu tidak mungkin,aku mnta di semangatin sma yg lain aja hehe..
    Samangat jga buat penulis nya 👍✊✌

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s