The Wedding Part 2

the wedding

Title : The Wedding Part 2 | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin | Genre : Romance, Married Life | Lenght : Chapter (5622 words) | Rating : PG-15 | Author : Whin

***

Tiga bulan sejak pernikahanku dan wanita itu dilangsungkan. Tiga bulan sudah kami berpura-pura menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia. Dia bilang bersedia menikah denganku demi duduk di kursi presdir dan membuat semua orang di sekitarnya tunduk padanya. Saat itu aku sama sekali tidak memprotes dan hanya mengiyakan saja.

Dia, wanita yang angkuh yang selalu memasang ekspresi tegas pada siapapun kecuali padaku jika kami harus tampil berdua di depan umum sebagai suami istri. Dia membenciku. Aku tahu itu. Tapi aku merasa kasihan padanya.

Ada banyak rahasia yang disimpannya yang tidak kuketahui. Dia menyimpan luka yang juga tak kuketahui darimana asalnya.

***

Lampu mobil di depan mereka menyorot dengan sengaja. Dua mobil yang masih berada di belakang mengejar dengan cepat. Dan mobil yang tengah Minrin naiki juga melaju sama kencangnya. Sejenak Minrin menoleh ke arah laki-laki yang memegang kemudi di sampingnya. Berbelok ke kiri, masuk ke jalan yang sempit untuk menghindari handangan mobil hitam di depan. Mereka kembali ke jalan besar, masih dengan dua mobil yang mengejar di belakang. Minrin menoleh lagi ke arah laki-laki di sampingnya kali ini dengan raut wajah takut. Ia mulai kesulitan bernafas. Kepalanya berat, dan keringat dingin mengucur di dahinya. Hingga suara dentuman keras dari samping belakang membuat tubuhnya seakan terlempar ke depan.

A..andwe…. aa..andwe!!” dia berteriak ketika melihat darah yang menciprat ke baju dan wajahnya. “Aaarrrghhhh!!!”

“Minrin-ya, kau tidak apa-apa?”

Lalu suara seseorang yang terasa nyata membutanya sadar. Kedua matanya terbuka cepat. Nafasnya memburu dan keringat dingin memenuhi dahinya. Ia menoleh perlahan dan melihat Ryeowook berdiri membungkuk di samping tempat tidurnya dengan kedua tangan memegang bahunya. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya lagi.

Minrin tersadar setelah itu. Mimpi buruk itu datang lagi dalam tidurnya. Ia bangkit dan mencoba duduk lalu menerima segelas air putih yang disodorkan Ryeowook padanya.

“Mimpi buruk lagi?” laki-laki itu bertanya lagi dan ditanggapi Minrin dengan anggukan lalu menyerahkan gelas itu lagi.

“Aku baik-baik saja,” ucapnya dengan nafas yang sudah lebih tenang.

Entah sudah keberapa kalinya Ryeowook melihat Minrin mengalami mimpi buruk. Saat mereka berada di kamar yang sama, mungkin sudah ketiga kalinya. Tidak hanya itu, Ryeowook kadang juga mendengar Minrin berteriak saat malam, membuat kepala pelayan Oh akan berlari tergopoh jika kebetulan mendengar teriakannya

Tatapan matanya lemah menatap selimut putihnya. Membuat Ryeowook tidak tega untuk meninggalkannya. Ekspresi ketakutan dan juga sedih yang diperlihatkannya jelas jauh berbeda dari sosok Shin Minrin yang biasa dilihat Ryeowook di pagi atau siang hari. Dan meskipun Ryeowook selalu bertanya-tanya tentang penyebabnya, tak sekali pun ia mendapatkan jawaban.

Minrin mengabaikan Ryeowook yang masih duduk di pinggiran tempat tidur dan memilih berbaring lagi, memunggunginya lalu menarik selimutnya. Ryeowook pun memutuskan berdiri setelah itu. Memperhatikan lagi dengan khawatir sebelum akhirnya kembali ke tempatnya.

Ketika jam menunjukkan pukul lima dini hari, Ryeowook masih melihat Minrin meringkuk di tempat tidurnya dengan selimut menutup hampir ke dagu. Entah wanita itu kembali tidur atau justru terjaga seperti dirinya. Gerakan-gerakan risau yang dibuatnya tak sedikit pun lepas dari pengamatan Ryewook. Menandakan bahwa wanita itu tak lagi merasa nyaman untuk kembali tidur.

Jujur saja Minrin akan terlihat benar-benar berbeda jika sedang tertidur. Tidak ada Minrin yang angkuh dengan kedudukan tinggi dan tatapan intimidasi yang selalu dilayangkannya. Melainkan sosok wanita yang terlihat tenang,  yang tidur seperti anak kecil. Ryeowook beranjak dari tempat duduknya berjalan mendekat lalu memperhatikannya lagi. Dia tertidur lagi tapi wajahnya terlihat tidak tenang.

Ryeowook tidak pernah membenci Minrin selama ini. Sebaliknya ia justru kasihan padanya.

***

“Apa aku mengganggumu semalam?” tanya Minrin keesokan harinya ketika keduanya sudah berada di mobil yang sama yang akan membawa mereka pulang ke Seoul.

Ryeowook menoleh ke arahnya, mengerti dengan apa yang dimaksud Minrin. Lalu ia pun menggeleng pelan. “Tidak, kau tidur nyenyak?”

“Kau tahu aku tidak suka membicarakan hal itu,” sahut Minrin sinis lalu membuang muka ke samping membiarkan Ryeowook memperhatikannya dengan berbagai pertanyaan seperti biasanya.

Sejak Ryeowook pertama kali dipertemukan dengan Minrin, ia selalu bertanya-tanya kenapa Minrin bersikap dingin dan angkuh. Ryeowook punya banyak kenalan yang juga memiliki kedudukan seperti Minrin, beberapa diantaranya juga wanita. Tapi tidak satu pun dari mereka yang sikapnya seperti Minrin. Keangkuhan karena sebuah kedudukan, hal seperti itu sangat wajar dimiliki oleh orang-orang berkuasa seperti mereka. Tapi Ryeowook melihat hal lain dari Minrin. Bukan keangkuhan macam itu tapi lebih terlihat seperti sebuah benteng yang di bangun agar orang lain tidak terlalu dekat dengannya. Keangkuhan karena sebuah rasa sakit.

Dia punya banyak rahasia. Ryeowook tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya dulu, tapi sepertinya hal buruk yang terjadi itulah yang membentuk Minrin menjadi karakter seperti sekarang ini. Terutama mengenai kadar kebenciannya pada Heejung. Ryeowook tidak percaya jika renggangnya hubungan mereka karena kesalahpahaman kecil semata seperti yang pernah Heejung katakan, pasti lebih dari itu hingga membuat Minrin sangat membenci Heejung. Entah karena alasan apa. Ryeowook sendiri belum menemukan jawabannya.

Ryeowook menghentikkan berbagai pikiran itu begitu mobilnya memasuki area gedung Shinjae. Hari ini hari minggu tapi Minrin bersikeras untuk diantar ke kantornya. Ryeowook tidak bertanya kenapa, karena Minrin memang sudah sangat sering melakukannya. Bisa dibilang itu bentuk usaha agar tidak terjebak di tempat yang sama selama seharian bersama Ryeowook Minrin tidak mengatakan apapun dan langsung turun dari mobil, membiarkan Ryeowook memperhatikannya lagi tanpa bersuara sampai dia masuk ke dalam gedung.

Setelah mengantar Minrin ia pun memutuskan untuk pulang.  Halaman rumahnya sepi seperti biasanya dan hanya memperlihatkan tukang kebun mereka yang sedang bersih-bersih. Seorang penjaga keamanan memberi hormat pada Ryeowook begitu turun. Tidak ada bedanya dengan di dalam rumah. Rumah itu tak ayalnya hanya sebuah rumah mewah yang ditinggali para asisten rumah tangga keluarga Shin. Ya… karena sejak orang tua Minrin meninggal yang kemudian disusul kakeknya tiga bulan yang lalu, Minrin memang tinggal sendirian di rumah ini.

“Oh… Tuan kenapa anda hanya sendirian? Di mana Presdir?” Kepala pelayan Oh kebetulan lewat dan menyambutnya saat Ryeowook akan naik ke lantai dua.

“Dia sedang ada urusan,” jawabnya.

Wanita berumur 50 tahunan itu tersenyum mengangguk. Saat ia akan pergi sesuatu terlintas dipkirannya hingga menghentikkan langkah kaki Ryeowook. “ Tuan, apa anda tidak ingat tentang hari ini?” tanyanya memastikan.

Ryeowook mengernyit pelan mendengar pertanyaan itu. “Tidak. Memangnya ada yang spesial dengan hari ini?” tanyanya tidak mengerti. Melihat kepala pelayan yang hanya tersenyum geli mau tidak mau membat Ryeowook makin dibuat bingung. “Waeyo?”

“Ulang tahun Presdir. Anda lupa? Ya Tuhan… bagaimana bisa seorang suami melupakan ulang tahun istrinya?” guraunya.

“Ulang tahun Minrin?”

“Seharusnya Anda menyiapkan sebuah hadiah untuknya. Meskipun hubungan kalian memang tidak seperti suami istri pada umumnya, tapi bukankah akan lebih baik untuk menggunakan hari ini untuk memperbaiki hubungan?”

Ryeowook tersenyum sekilas. Dia benar-benar tidak tahu tentang ulang tahun Minrin. Dan tentu saja kepala pelayan Oh sangat mengerti kondisi dirinya dan Minrin yang menikah karena sebuah surat wasiat. Ada baiknya juga sebenarnya apa yang dikatakan pelayan Oh. Memperbaiki hubungannya dengan Minrin. Meskipun Minrin tidak menyukainya, tapi tidak mungkin keduanya akan hidup serumah selamanya dengan hubungan yang begitu buruk.

Kuereyo… terimakasih atas saranmu,” ucap Ryeowook kemudian sambil tersenyum lalu kembali menaiki tangga menuju lantai dua.

***

“Jadi semalam, kau tidur di rumah mertuamu?” Hyemin meletakkan beberapa map di meja Minrin sebelum akhirnya memperhatikan sahabatnya itu yang termenung menatap jendela.

“Ya. Dan Presdir Sijung berada di sana juga untuk makan malam,” jawab Minrin lalu memutar kursinya ke hadapan Hyemin.

“Tentang Alexen lagi?”

Minrin mengangguk kemudian membuka map di depannya dan mulai mempelajarinya. “Kurasa dia akan menghubungiku lagi. Jika dia melakukannya, katakan saja bahwa aku sama sekali tidak tertarik membuat kesepakatan apapun dengan Daehe.”

“Aku masih tidak mengerti dengan alasanmu ingin Daehe bangkrut. Apa karena Heejung? Atau karena Daehe pernah melakukan sesuatu yang buruk pada Shinjae?”

Minrin terlihat memejamkan matanya sebentar setelah itu. “Entahlah… aku juga tidak tahu. Heejung adalah masalah pribadiku, tapi Shinjae jelas punya masalah dengan Daehe.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak pernah percaya pada siapapun selama ini, Hyemin-ah termasuk pada Direktur Min dan teman-temannya. Mereka sepertinya merencanakan sesuatu bersama Daehe. Aku tidak tahu apa, tapi jelas karena kedudukan kursi Presdir.”

“Itu terdengar mengerikan.”

“Aku tahu. Coba tebak siapa yang akan duduk di kursi ini begitu kakekku meninggal? Tentu saja aku, gadis muda yang tak berpengalaman yang akan mudah mereka gulingkan. Dan begitu aku yang saat itu tidak punya ahli waris duduk di kursi presdir lalu tiba-tiba jatuh sakit parah atau lebih buruk meninggal, siapa yang akan menggantikanku?”

Minrin mendongak menatap Hyemin. Wanita itu berpikir sejenak sebelum matanya membulat perlahan. “Direktur Min?”

“Ya. Orang itu yang menjadi pemilik Shinjae karena dia lah pemegang saham terbesar. Tapi kakekku punya rencana lain dengan memaksaku menikah dengan Ryeowook. Begitu kami menikah, aku punya ahli waris. Dan seandainya aku mati, masih ada suamiku atau mungkin anak-anakku yang akan meneruskan kendali di Shinjae. Mungkin itulah yang membuat mereka berpikir dua kali sekarang untuk menggulingkanku kecuali jika mereka mendapatkan kepercayaan Ryeowook, yang aku yakin tidak akan mudah didapatkan. Tapi akhir-akhir ini aku menjadi sangat penasaran dengan kedekatan Heejung dan Ryeowook.”

“Kau berpikir, jika Heejung sengaja mendekati suamimu?”

“Itu hanya perkiraanku saja. Siapa yang tahu? Dia pernah menjadi sahabatku, dia pernah mengkhianatiku dan dia sama sekali tidak bisa ditebak.”

Obrolan itu terhenti saat ponsel di tangan Hyemin berbunyi nyaring. Sekilas wanita itu terlihat ragu, mengigit bibirnya lalu menatap Minrin.

“Kenapa?”

“Sebenarnya…. hari ini aku ada janji,” jawabnya ragu dengan rasa bersalah karena mungkin saja Minrin tidak akan membiarkannya pergi hari ini. Tapi yang dilihatnya justru Minrin yang terkekeh padanya.

“Kau berkencan sekarang?” tebaknya

Hyemin tersenyum lebar. “Blind date dengan salah satu sunbe. Bolekah aku pergi?” tanyanya kemudian setelah melihat ekspresi terbuka dari Minrin.

“Pergilah, lagipula ini hari minggu. Aku bisa dituntut jika menyuruh pekerjaku datang di hari minggu,” ujarnya.

Gomawo. Jangan khawatir semua pekerjaan yang kau minta akan ada di mejamu besok pagi. Kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa….,”

Hyemin bergegas mengangkat teleponnya sambil berjalan keluar. Tidak lupa memberikan senyuman terimakasih sekali lagi pada Minrin yang menggelengkan kepalanya.

***

Ryeowook memikirkan ucapan kepala pelayan Oh padanya tadi tentang ulang tahun Minrin. Ya… meskipun mereka berdua sudah menikah, tapi mereka masih perlu saling mengenal. Seperti mengetahui kebiasaan masing-masing termasuk hari ulang tahun mereka berdua.

“Apa yang kau pikirkan, ha?” lamuan Ryeowook terhenti setelah suara Heejung terdengar menginterupsinya. Kepalanya mendongak pelan dan mendapati gadis itu sudah berdiri di depannya dengan senyum ramahnya yang mengembang seperti biasanya.

“Heejung-ah, apa yang kau lakukan di sini?”

“Tentu saja mengunjungimu dan kalau aku beruntung bisa mengajakmu untuk makan siang di luar,” jawabnya santai.

Bukan pertama kalinya Heejung tiba-tiba muncul di rumah ini. Ryeowook tidak heran sebenarnya. Mungkin karena dulu dia pernah berteman baik dengan Minrin hingga tidak terlalu canggung untuk ke sini. Biasanya jika Minrin ada di rumah Heejung tidak akan berani untuk masuk sampai ke ruang kerja Ryeowook seperti ini. Meskipun ada pun, ia tidak pernah canggung. Biasanya Minrin hanya akan mengabaikannya dan berlalu pergi saat melihatnya.

Terkadang itu sedikit menimbulkan pertanyaan dalam diri Ryeowook sendiri. Bagaimana bisa Minrin masih bersikap biasa saja jika ada wanita lain masuk ke dalam rumah ini dan mengijinkannya bertemu suaminya sesuka hati. Terlebih lagi wanita itu adalah orang yang dibencinya. Alasan yang masuk akal hanyalah karena Minrin tidak suka pernikahan ini. Tapi akankah dia bersikap seperti itu terus menerus?

Lee Heejung, entah kenapa Minrin sangat membencinya. Gadis itu baik, ramah dan sangat bersahabat. Selama mengenalnya, Ryeowook sama sekali tidak menemukan alasan bahwa Heejung pantas untuk dibenci. Kecuali jika mereka berdua memiliki semacam sejarah pertemanan yang buruk.

Ryeowook tersenyum kemudian. “Aku akan menerima tawaranmu, jika kau mau membantuku,” katanya yang membuat Heejung mengernyitkan dahinya dengan berpura-pura bingung.

“Wah, seorang Kim Ryeowook meminta bantuan? Selama ini selalu aku yang meminta bantuanmu. Baiklah, coba katakan padaku apa yang kau inginkan.”

Ryeowook terkekeh mendengar pernyataan itu. Lihat, Heejung bukanlah orang yang jahat. Jadi, kenapa Minrin harus membencinya setengah mati?

Ryeowook berdiri dari tempat duduknya lalu mengajak Heejung keluar. Bantuan yang dimaksud Ryeowook adalah meminta pendapat Heejung tentang hadiah ulang tahun yang cocok untuk Minrin. Tapi mengingat hubungan kedua wanita itu tidak terlalu baik, Ryeowook sama sekali tidak mengatakan untuk siapa hadiah yang sedang dicarinya.

Sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Apeugjong menjadi pilihan Ryeowook. Mereka berkeliling, memasuki toko sepatu, toko pakaian dan bahkan toko perhiasan tapi tidak juga menemukan yang cocok.

“Katakan padaku untuk siapa hadiah itu. Dengan begitu aku akan lebih mudah memilihkannya.” Heejung berucap setengah menggerutu karena sejak tadi Ryeowook terus menolak rekemendasinya.

Toko tas yang dimasukinya sekarang adalah toko keempat yang dimasuki mereka berdua dan Ryeowook belum juga menemukan hadiah yang cocok untuk Minrin.

“Apa dia adikmu? Sepupumu? Temanmu? Atau gadis yang dulu pernah kau sukai?”

Ryeowook mengikuti Heejung yang berjalan mendekati sebuah tas berwarna kuning yang sepertinya sudah menarik perhatiannya sejak tadi. “Aku tidak punya adik dan dia juga bukan sepupuku. Dia…. seseorang yang bahkan bisa membeli barang-barang bermerk ini dengan uangnya sendiri.” Ryeowook bergumam dan Heejung mendengar jelas gumaman itu hingga membuatnya menoleh.

“Minrin?” tanyanya seketika mencoba menebak. Entah bagaimana ia memikirkan satu nama itu sejak tadi. Tapi karena Ryeowook sama sekali tidak mengatakan apapun untuk siapa, Heejung pun memilih diam. Dan sekarang karena Ryeowook memberinya petunjuk, nama Minrin justru menjadi jawaban terkuat yang dipikirkannya.

“Apa hadiahnya untuk Minrin?” tanya Heejung lagi.

Ryeowook tidak menjawab. Heejung mengerti kenapa. Ryeowook mengetahui betul bagaimana hubungan Heejung – Minrin, jadi pastilah ia merasa canggung meminta bantuan ini. “Aigoo, kenapa kau tidak bilang kalau untuknya?” Heejung seketika mengubah ekspresinya, seakan tidak masalah dengan kenyataan itu. Dia tersenyum lalu berjalan meninggalkan meja tinggi tempat tas kuning bertengger.

“Jika itu istrimu, kenapa kau tidak memberinya sesuatu yang berkesan? Apa yang dia sukai dan akan membuatnya senang…..”

“Jika aku tahu, aku tidak akan meminta bantuanmu, Heejung-ah.”

Heejung tersenyum lagi sambil mengangguk-angguk paham. “Baiklah, kurasa kita harus mencari yang lain karena dia terbiasa dengan barang-barang mewah.”

Ryeowook berjalan mengikutinya lagi. Ketika mereka keluar dari toko tas itu, tatapannya terhenti pada sebuah akuarium besar yang terpajang di samping pintu masuk menuju area khusus untuk anak-anak.

“Heejung-ah, kurasa aku sudah menemukan hadiahnya,” ujarnya kemudian.

Heejung menoleh ke belakang dan mengernyit. “Benarkah? Dan apa yang kau pikirkan?”

“Sesuatu yang mungkin akan membuatnya senang.” Ia tersenyum. “Tapi kurasa kita tidak bisa membelinya di sini. Lebih baik kita makan siang dulu, kau pasti lelah sejak tadi keluar masuk toko,” lanjutnya.

Heejung tersenyum dan mengangguk lagi menyetujuinya. Saat mereka akan turun menuju lantai bawah, Ryeowook kembali menghentikkan langkah kaki Heejung. “Kau pergi dulu, aku akan menyusulmu. Ada sesuatu yang harus kubeli,” katanya.

Eoh? Kau yakin tidak perlu kutemani?”

Ryeowook mengangguk. “Hanya sebentar. Kau pergilah dan pesankan makanan yang enak.”

Aigoo, baiklah. Sampai ketemu di sana….” Heejung melambaikan tangannya dan berjalan lebih dulu, sementara Ryeowook berlari kembali ke dalam toko tadi.

***

Ryeowook benar-benar tidak lama seperti katanya tadi. Setelah membeli apa yang dimaksud, ia pun bergegas menemui Heejung yang sudah menunggu di tempat makan langganan mereka.

“Apa yang sebenarnya kau beli, ha?” Heejung langsung menanyainya begitu Ryeowook duduk di depannya.

Laki-laki itu hanya tersenyum lalu meletakkan sebuah bungkusan tas di atas meja dan mendorongnya ke dapan Heejung. “Untukku?” Ryeowook mengangguk.

“Hadiah karena sudah menemaniku,” ujarnya.

Heejung menerima dan membuka isi bungkusan itu yang ternyata berisi tas berwarna kuning yang sejak tadi menarik perhatiannya. “Bagaimana bisa….?”

“Aku tahu kau menginginkannya. Tatapanmu bahkan tidak lepas sedikit pun dari tas itu sejak kita masuk ke toko itu,” gurau Ryeowook kemudian yang membuat Heejung tersenyum lebar.

“Terimakasih, Ryeowook-ah. Aku sangat menyukainya,” ujarnya sambil menatap tas itu sekali lagi dengan senang sebelum akhirnya memasukkan kembali ke dalam tas pembungkusnya.

“Tapi bagaimana dengan hadiah untuk Minrin?”

“Aku sudah memesannya tadi sebelum kemari.”

“Baguslah, kalau begitu.” Heejung kembali tersenyum lega. Ryeowook memperhatikannya sesaat. Melihat sikap Heejung yang sama sekali tidak keberatan untuk membantu membuat Ryeowook berpikir jika mungkin saja Heejung tidak membenci Minrin. Setidaknya mungkin tidak sebesar rasa benci Minrin untuknya.

“Heejung-ah…,” panggilnya kemudian.

“Hmm..?”

“Sudah berapa lama kau mengenal Minrin? Kau bilang kalian pernah berteman dulu.”

Heejung mengangkat kepalanya perlahan setelah itu. Senyum yang sejak tadi terus menghiasi bibirnya sedikit memudar perlahan. “Sepuluh tahun… ya kurasa sudah hampir sepuluh tahun. Kenapa?”

“Aku hanya ingin tahu. Sangat disayangkan pertemanan kalian yang sudah lama berakhir seperti ini. Apapun alasan kalian, kurasa aku hanya sedikit menyayangkannya.” Ryeowook berujar. Heejung menatap ke arahnya penasaran dengan pembicaraan yang tiba-tiba ini.

“Kurasa Minrin tidak akan kesepian jika memiliki teman berbagi,” lanjutnya.

“Apa dia kesepian?” kali ini Heejung bertanya. Untuk pertama kalinya sejak tiga tahun yang lalu, ia berani menanyakan langsung pertanyaan itu. Pertanyaan yang sebenarnya selalu dipikirkannya sejak hari itu. Sejak ia membuat kesalahan dan membuat Minrin kehilangan semuanya.

“Dia selalu berbagi masalah perusahaan dengan Hyemin. Tentu saja sekretarisnya itu akan selalu membantu. Tapi kurasa dia juga punya masalah yang tidak bisa dibaginya pada Hyemin, masalah selain perusahaan tentu saja. Karena itulah dia terlihat kesepian.”

Heejung tertunduk tanpa sadar. Ia ingat Minrin selalu menjadikannya tempat berbagi. Sejak mereka di bangku SMP hingga kuliah dan bahkan sampai mereka dewasa, Minrin tidak pernah melewatkan bercerita pada Heejung. Apalagi sejak orang tuanya meninggal, Heejung berubah peran tak hanya teman atau sahabat tapi saudara yang diajaknya untuk memikul beban bersama. Heejung tidak keberatan tentu saja. Hanya terkadang sifat manusiwai seseorang yang meginginkan lebih, keegoisan yang berujung sebuah kesalahan yang pada akhirnya membuat Heejung menjauh dari Minrin.

“Tapi kau ada di sisinya kan? Kurasa dia tidak akan terlalu kesepian karena ada kau.”

Ryeowook terkekeh mendengarnya, sedikit mengejek sebenarnya karena Heejung tentu saja tahu betul bagaimana hubungannya dengan Minrin. Pernikahan berlandaskan surat wasiat yang sejak awal dibenci Minrin namun terpaksa dijalaninya.

“Ya, apa kau lupa seperti apa sikapnya padaku? Dia bahkan selalu menghindar berada dalam satu rungan denganku.”

“Aku hanya berharap, kau bisa memberi perubahan positif untuknya. Aku sama sekali tidak membencinya, Ryeowook. Terkadang aku juga kasihan padanya.” Heejung menghela nafasnya lemah. “Penyesalanku adalah pernah berpikir untuk merebut kebahagian darinya,” lanjutnya.

“Kenapa? Apa terjadi sesuatu diantara kalian?” tanya Ryeowook.

Sejak Heejung mengatakan bahwa mereka berdua pernah bersahabat dan akhirnya tidak pernah peduli satu sama lain karena sebuah kesalahpahaman, lalu ketika akhirnya Ryeowook mendengar langsung dari Minrin bahwa baginya Heejung adalah pengkhianat yang sangat dibencinya, akhirnya membuat Ryeowook berpikir banyak. Termasuk diantaranya alasan sebenarnya yang membuat kedua wanita itu saling menghunus pisau tanpa sadar.

“Aku pernah membuat kesalahan padanya. Dan aku mengerti jika dia sampai membenciku karena hal itu.” tatapan Heejung menerawang lalu tersenyum sakartis. “Hubungan Daehe dan Shinjae tidak terlalu baik sejak dulu. Satu dari akar permasalahan yang terjadi kala itu,” lanjutnya tanpa berusaha menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Ryeowook.

“Karena itu kalian seperti ini?”

Heejung mengangguk. “Sudahlah, aku tidak ingin membicarakannya. Jangan salah paham padaku karena sebenarnya aku sama sekali tidak menganggap Minrin musuh sampai sekarang,” katanya meyakinkan.

Tidak lama setelah itu, pesanan makanan mereka datang dan membuat Ryeowook menahan diri untuk tidak bertanya lebih banyak.

***

Ketukan di pintu ruangannya, membuat Minrin mengangkat kepalanya yang semula menyentuh meja kerjanya. Ia mendongak dan melihat seorang laki-laki muda berjas yang belum lama ini bekerja untuknya berjalan masuk dengan sebuah amplop berwarna coklat di tangannya. Sekali melihatnya langsung dimengerti Minrin bahwa ada berita baru untuknya.

“Ada apa?” tanyanya.

Laki-laki muda itu mengangguk lalu menyerahkan amplo[ coklat itu. Minrin pun langsung menerimanya, membukanya dengan kasar dan menemukan berlembar-lembar foto Ryeowook yang tengah bersama Heejung di pusat perbelanjaan, di restoran saat Ryeowook memberikan sebuah bingkisan untuk Heejung hingga di depan apartement wanita itu. Kedua bola mata Minrin sama sekali tidak menunjukkan keterkejuatn. Bibirnya justru menarik senyum sinis karena mendapatkan berita ini. Senyum merutukan untuk dirinya sendiri lebih tepatnya, karena Ryeowook ternyata sangat dekat dengan Heejung.

“Ada yang lain?” tanyanya lagi.

“Direktur Min menemui Presdir Daehe tadi siang dan makan siang bersama,” jawabnya yang kali ini sukses membuat Minrin membulatkan matanya perlahan.

“Apa kau yakin mereka bertemu?”

“Saya yakin, Presdir. Direktur Jang dan beberapa pemegang saham yang lain juga terlihat di sana.” Minrin terdiam setelah itu. Matanya tajam menatap lurus ke depan. Sepertinya apa yang sejak lama dikhawatirkannya benar-benar terjadi. “Haruskah saya mencari tahu lebih banyak tentang pertemuan itu?” tanya laki-laki itu menyadarkan Minrin yang masih diam.

“Ya. Cari tahu apa yang mereka rencanakan,” perintahnya kemudian dengan ekspresi wajah yang haus akan pembantaian.

“Baik, kalau begitu saya permisi.” Laki-laki itu membungkuk memberi hormat dan kemudian keluar dari rungan itu.

Minrin mengatupkan bibirnya rapat begitu ia sendiri di dalam ruangannya. Kedua tangannya menggenggam kuat di atas meja, dan tatapannya menyipit menahan amarah.

“Brengsek, sekarang dia berani bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku?” desisnya.

Sudah lama sebenarnya Minrin mengatahui persengkongkolan antara para direktur di perusahaannya dengan pimpinan Daehe. Di mulai tiga bulan yang lalu, sejak Minrin mengetahui siapa orang dibalik kecelakaan mobil yang dikendarainya bersama Seunghoon. Sebuah wasiat yang diberikan kakeknya saat itu menjadi jawaban yang membuka mata Minrin lebar-lebar tentang keberadaan orang-orang yang bisa mengancam keberadaannya.

Kepemimpian perusahaan Shinjae menjadi pertanyaan besar saat ayah Minrin yang merupakan anak satu-satunya keluarga Shin meninggal bersama isterinya. Minrin yang saat itu muda belum dipercaya untuk memimpin perusahaan meskipun ia adalah ahli waris satu-atunya. Menunggu Minrin siap, perusahaan pun dipimpin kakeknya. Namun kakeknya meninggal tiga bulan yang lalu yang akhirnya memaksa Minrin mengambil alih. Akan tetapi ada sekelompok orang yang juga berambisi merebut kekuasaan itu. Sekelompok orang termasuk para pemegang saham di Shinjae.

Direktur Min, pemegang saham terbesar kedua setelah Kakek Shin menjadi orang yang sangat berambisi. Dan entah bagaimana, orang itu berhasil mempengaruhi banyak orang untuk berada dipihaknya. Puncaknya adalah setelah Direktur Min bekerjasama dengan rival terbesar Shinjae yaitu Daehe untuk megambil alih Shinjae. Termasuk kecelakaan yang dialami Minrin tiga tahun yang lalu merupakan perbuatan Direktur Min dan juga Daehe. Entah janji apa yang Direktur Min berikan pada Lee Sijung hingga bersedia membantunya. Tapi bagi Minrin mereka berdua adalah ancaman terbesar baginya. Ya… karena itulah ia membuat perhitungan dengan Daehe sekarang ini dengan membuatnya bangkrut perlahan.

Ia meraih obat penghilang sakit kepala yang biasa diminumnya setelah itu. Memejamkan matanya kuat menahan sakit. Kepalanya selalu dilanda rasa sakit tiap kali masalah menghampirinya. Berita tadi memang bukan masalah baru tapi tetap saja melihat kenyataan bahwa orang-orang yang juga punya pengaruh dalam kedudukannya mulai mengkhianatinya, membuatnya stress.

***

“Tuan, apa ini tidak akan membuat presdir marah?” Kepala pelayan Oh mengamati sebuah akuarium besar yang baru saja dikirimkan ke rumah majikannya. Dan tentu saja wanita itu tidak habis pikir karena akuarium yang telah berisi ikan itu adalah ide tuannya sendiri sebagai hadiah untuk ulang tahun presdir.

“Apa menurutmu dia akan marah melihat akuarium itu di kamarnya?” Ryeowook menoleh ke arah pelayan Oh sambil tersenyum.

“Melihat sifatnya, kurasa ya… dia akan sedikit meledak nanti.”

Ryeowook terkekeh setelah itu, membayangkannya. Minrin memang tidak suka ada hal-hal baru di rumah ini tanpa ijinnya. “Jangan khawatir, jika dia bertanya katakan saja aku yang membelinya,” sahut Ryeowook santai lalu berjalan naik ke lantai dua, mengikuti petugas yang membawa akuarium pesanannya.

Pelayan Oh juga mengikutinya setelah menghela nafas pasrah. Akan lebih buruk lagi jika presdir tahu orang yang membeli akuarium itu adalah suaminya sendiri. Terkadang ia sendiri bingung dengan kedua majikannya itu yang tidak terlihat akur tapi di beberapa kesempatanp presdir akan sangat kesal saat melihat Heejung datang berkunjung. Atau meihat tuannya yang diam-diam begitu perhatian padanya.

“Kenapa tuan memikirkan akuarium untuk hadiah ulang tahun presdir?”

“Hmm…entahlah. Aku hanya merasa Minrin akan membutuhkannya dan senang ketika memandangi ikan-ikan itu. Mereka bilang melihat ikan yang berenang bisa mengurangi beban pikiran,” jawab Ryeowook sambil memperhatikan akuarium besar di depannya itu.

“Anda berpikir presdir terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini?”

“Ya… begitulah. Aku tidak ingin dia stress dan lelah karena beban pikiran.”

Pelayan Oh tersenyum diam-diam, merasa lega karena sejak presdir terdahulu meninggal, ada orang lain yang memperhatian nona muda di rumah ini. “Anda pasti sangat menyayanginya,” gumamnya kemudian.

“Ya, kurasa aku memang begitu. Terkadang aku kasihan padanya. Dia seperti menyimpan banyak luka dalam hatinya.”

“Kecelakaan tiga tahun yang lalu memang mengubah kehidupannya. Apalagi sejak Choi Seunghoon meninggal,” ujar kepala pelayan Oh setelah itu yang langsung membuat Ryeowook menoleh ke arahnya dengan penasaran.

“Choi Seunghoon?” tanyanya

Ryeowook memang pernah mendengar cerita tentang kecelakaan yang dialami Minrin tiga tahun yag lalu. Tapi sama sekali tidak tahu jika ada orang bernama Choi Seunghoon dalam hidupnya.

“Choi Seunghoon adalah kekasihnya. Mereka saling mencintai dan bahkan berencana untuk menikah. Saya ingat laki-laki itu sering datang ke rumah. Orang yang sangat baik dan presdir terlihat sangat bahagia ketika itu.”

“Apa yang terjadi padanya?”

“Saya tidak tahu cerita pastinya tapi yang jelas suatu malam, saat mereka berdua dalam perjalanan ke bandara hendak ke Inggris, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Choi Seunghoon meninggal dalam kecelakaan itu.” Kepala pelayan Oh menjelaskan.

Satu kenyataan lain yang akhirnya diketahui Ryeowook. Mungkin meninggalnya pria itu yang menjadi salah satu penyebab Minrin seperti ini. Tidak disangka kehidupannya benar-benar menyedihkan. Dan ternyata masih banyak hal yang belum Ryeowook ketahui tentangnya.

Akuarium besar yang berisi banyak ikan hias berwarna-warni terpajang tepat di depan tempat tidur Minrin menggantikan rak buku rendah yang semula berada di sana sebagai sekat antara tempat tidur dengan sofa dan meja. Pelayan Oh dan petugas pengantar barang sudah pergi dari kamar itu dan hanya menyisakan Ryeowook yang berdiri memandangi akuarium yang kini terpajang foto Minrin di atasnya. Di dalam foto itu, Minrin tersenyum lebar, sangat bahagia. Ryeowook belum pernah melihat senyum secerah itu selama mereka menikah. Memberikan bukti bahwa Minrin memendam dalam-dalam rasa sakit hatinya.

***

Pukul 5 sore adalah waktu di mana Minrin akan kembali ke rumahnya. Seorang sopir menjemputnya tadi dan kini seperti biasanya semua asisten rumah tangga menyambut kepulangannya. Ryeowook hanya berdiri di ujung atas tangga sambil memperhatikannya.

Saat ia memasuki kamarnya dan mendapati sebuah akuarium di sana dengan bermacam-macam ikan di dalamnya, ia nyaris berteriak marah memanggil kepala pelayan Oh. Tapi ia segera mengurungkannya ketika menemukan secarik kertas yang terselip di bawah foto dirinya empat tahun yang lalu.

Jika kau tidak suka, aku bisa menyuruh mereka mengeluarkannya dari kamarmu. Tapi jangan melampiaskan kemarahanmu pada Pelayan Oh atau yang lainnya karena aku sendiri yang menyuruhnya meletakkan akuarium itu di kamarmu.

Jangan terlalu membebani dirimu dengan banyak pikiran. Terkadang manusia butuh untuk bisa tersenyum bahagia. Itu salah satu cara untuk merasakan hidup. Mungkin tidak akan selebar senyumanmu di foto itu tapi setidaknya kau bisa tersenyum dalam hatimu.

Selamat ulang tahun Minrin-ya.

Tidak perlu bertanya siapa karena Minrin sudah mengetahui siapa orang di balik surat dan akuarium itu. Kata-kata yang dipikirkannya tidak akan diucapkan Ryeowook secara langsung. Ada segelintir perasaan lega di dalam dadanya setelah berbagai macam masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Ryeowook adalah orang kedua yang menyuruhnya untuk tersenyum bahagia. Seakan-akan ia baru saja merasakan kakeknya yang mengatakan hal itu. Jujur saja, tidak ada yang pernah memperhatikannya semenjak kakeknya meninggal. Dan Ryeowook adalah orang kedua yang mengatakan itu setelah kakeknya.

Dia menemukan Ryeowook sedang duduk di kursi rotan teras belakang rumahnya. Pandangannya menatap ke arah taman dengan beberapa pohon akatsia tinggi.

Kadar kebenciannya pada Ryeowook seakan berkurang saat menerima hadiah ulang tahun yang tidak pernah di sangka Minrin sebelumnya. Jika dipikir ulang, rasa benci itu ada karena bentuk kekecewaannya pada semua hal yang menimpa hidupnya tiga tahun terkhir. Ia juga membenci kakeknya yang telah memaksanya menikah dengan Ryeowook. Tapi ia tidak benar-benar benci, karena Minrin terkadang juga merindukannya. Seandainya kakeknya masih hidup, mungkin semua tidak akan sesulit ini.

Dia berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di kursi kosong lalu memperhatikan Ryeowook sekilas.

“Kau sudah menerima hadiahnya?” tanyanya begitu menoleh menyadari kehadirannya.

“Aku tidak tahu darimana kau tahu ulaang tahunku tapi ya… aku menerimanya.”

“Mereka bilang melihat ikan yang berenang bisa mengurangi rasa lelah dalam pikiran dan mencegah stress. Aku sendiri belum mencobanya, tapi kupikir mereka benar.”

“Kenapa kau memberikanku hadiah?” Minrin menaikkan sedikit sebelah alisnya

“Kakekmu pernah mengatakan sesuatu padaku sebelum dia meninggal,” ujarnya kemudian.

Minrin mendengarnya, menoleh sebentar lalu menyenderkan tubuhnya di kursi. Hujan deras turun setelah beberapa saat yang lalu mendung menghiasi langit kota Soul. Minrin menolehkan wajahnya lagi, menghirup aroma tanah yang basah karena air hujan.

“Dia memintaku untuk menjadi walimu sekaligus menjadi orang yang mengembalikan senyumanmu. Aku sedikit merasa bersalah karena belum bisa memenuhi janji itu padanya.”

“Ucapanmu terdengar berbeda hari ini. Tidak perlu disesali karena aku sendiri yang akan memutuskan kapan aku akan tersenyum bahagia dan kapan aku tetap menyimpannya seperti ini.”

Ryeowook terlihat tersenyum samar. Ia menyadari Minrin hendak beranjak berdiri dari tempat duduknya, namun Ryeowook langsung berucap lagi. “Heejung membantuku memilih hadiah untukmu,” katanya. Raut wajah Minrin berubah seketika. Kesal dan tidak percaya.

“Lalu? Kau ingin aku mengucapkan terimakasih padanya?” sinisnya.

Ryeowook menggeleng pelan, menarik tangan Minrin dan menyuruhnya untuk kembali duduk. “Tidak. Aku tahu kau tidak akan melakukannya.”

“Minrin-ya….,” panggilnya pelan.

Minrin menoleh setelah terpaksa tetap duduk di kursinya. Hujan semakin deras, memberi warna segar pada udara sore itu.

“Menyakitkan menerima kenyataan orang yang kita cintai pergi dari kehidupan ini, tapi lebih menyakitkan melihat orang yang ditinggalkan tetap menyimpan luka itu dalam hatinya. Bagimu tiga tahun masih belum cukup untuk menerima semua kenyataan itu, tapi aku berharap kau akan membuka hatimu setelah itu,” ujarnya lalu tersenyum pada Minrin.

Tak perlu bertanya, karena Minrin sudah bisa membaca apa yang berusaha diucapkan Ryeowook. Entah darimana ia tahu soal Seunhoon, tapi apa yang dikatakannya memang benar. Memang tidak semua tentang kematian Seunhoon, tapi juga karena Heejung, karena kakeknya yang dulu tidak percaya padanya, karena semua orang di sekitarnya yang hanya mementingkan diri mereka sendiri. Dan semua rasa lelah dan sakit hati itu berawal dari sana.

Bibirnya terkatup seakan tidak mampu bicara setelah itu. Sementara air dari langit tumpah begitu derasnya seakan tahu ia juga ingin menumpahkan semua rasa sakit ini. Rasa sakit dalam dadanya kembali merasukinya membuatnya memaki diri sendiri kenapa ia masih belum juga lepas dari semua hal yang menyakitinya itu.

“Kau ingin tahu sebuah cerita keohongan, Ryeowook-ssi?” tanyanya kemudian.

“Kebohongan?”

“Dulu, ada seorang gadis yang begitu bahagia dengan hidupnya. Keluarga, sahabat dan bahkan kekasih yang sangat mencintainya. Hingga suatu hari sahabatnya mengatakan padanya bahwa ia menyukai kekasihnya. Kau tahu bagaimana perasaannya? Dia bahkan tidak tahu harus mengucapkan apa. Kekasihnya atau sahabatnya, siapa yang harus dipilihnya? Dia begitu menyedihkan.”

Minrin mulai bercerita. Cerita yang mengalir tidak hanya dari bibirnya tapi juga hatinya. Seakan-akan dia sendirilah gadis yang sedang diceritakannya.

“Keluarganya dan keluarga sahabatnya tidak terlalu berkawan baik. Seperti keluarga Capulets dan Mountage dalam cerita William Shakespeare. Bedanya Romeo memilih Juliete tapi dalam ceritaku, si sahabat akhirnya mengkhianati gadis itu. Dia melakukan sesuatu yang buruk pada gadis itu dan kekasihnya. Hingga akhirnya kekasih gadis itu meninggal.”

Ryeowook menoleh ke arah Minrin. “Apa dia membunuhnya?”

 “Dia tidak membunuh. Dia hanya membuat keluarga gadis itu tak percaya dengan pria yang menjadi kekasihnya. Gara-gara ketidakpercayaan itu, si gadis dan kekasihnya bahkan berencana untuk menikah secara diam-diam. Tapi sebelum itu terjadi, pria itu meninggal,” lanjutnya pelan. Dipejamkannya kedua matanya sebentar sebelum akhirnya menghela nafas lemah.

Satu tetes cairan bening keluar dari ujung matanya, membuat Ryeowook memperhatikannya dalam diam. Dengan cepat Minrin menyekanya, menarik nafasnya dalam sekali lagi.

“Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang bisa dilakukannya hanyalah membenci sahabatnya. Sebuah pengkhianatan. Bukan hanya karena sahabatnya jatuh cinta pada kekasihnya, tapi karena sahabatnya melakukan kesalahan besar yang membuat hidupnya berubah setelah itu,” lanjutnya.

Setelah itu Minrin menoleh ke arah Ryeowook, menatapnya. “Apa cerita kebohongan yang baru saja kuceritakan terlalu berlebihan?” tanyanya. Senyum  miring menghiasi bibir tipisnya.

“Ryeowook-ssi….”

“Ya?”

“Apa kau menyukainya? Lee Heejung…. apa kau menyukai gadis itu?” tanyanya.

Ryeowook mengernyit sebentar. Tatapannya penuh mengarah pada manik mata Minrin yang juga tengah menatap ke arahnya. Ini adalah kali pertama Ryeowook mendengar pertanyaan itu. Ia sebenarnya tahu Minrin selama ini menganggap bahwa dirinya menjalin hubungan spesial dengan Heejung. Meskipun kenyataannya tidak, menjelaskannya pun percuma. Karena Minrin tetap tidak akan peduli. Jadi Ryeowook membiarkan Minrin berpikir seperti itu. Sampai akhirnya detik ini dia mulai mempertanyakannya.

“Aku pasti berbohong jika tidak menyukai gadis sepertinya. Dia cantik dan juga baik.”

Terdengar Minrin mendecakkan lidahnya lalu tersenyum malas. “Tapi aku tidak berkencan dengannya seperti yang kau kira selama ini,” lanjutnya yang seketika itu mengubah ekspresi malas di wajah Minrin menjadi keterkejutan sesaat.

“Maafkan aku.”

Minrin mengernyit lagi. Tidak paham.

“Maafkan aku, karena membuatmu berpikir aku tidak ada dipihakmu selama ini,” katanya tulus.

Minrin menoleh mendengar itu, seakan-akan Ryeowook baru saja membuat pengakuan padanya. “Aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Heejung tapi aku tidak ingin kau ada dipihaknya. Kau tahu kan di mana kau berada sekarang ini dan siapa dirimu di rumah ini?”

Senyum Ryeowook mengembang mendengar pernyataan itu. “Aku tahu lagipula aku tidak diajari untuk mengkhianati sebuah pernikahan.”

Usai mengatakan hal itu, kepala pelayan Oh datang dan memberitahu Minrin bahwa ada paket yang datang untuknya. Minrin menoleh sebentar ke arah wanita yang telah lama melayaninya itu. “Seperti biasanya?” tanyanya, pelayan Oh mengangguk membenarkan.

“Tuan Choi Seunhoon tak pernah melupakan ulang tahun presdir,” ujarnya.

Minrin tersenyum samar membenarkan perkataan pelayan Oh, lalu ia menatap sekilas Ryeowook yang mungkin tengah bertanya-tanya sekarang. Setelah itu ia pun masuk ke dalam untuk membuka paket kiriman untuknya.

Setiap tahun di hari ulang tahunnya, Minrin memang akan menerima hadiah ulang tahun dari Seunghoon meskipun pria itu sudah meninggal sekalipun. Entah apa yang direncanakannya di masa lalu. Dia hanya pernah mengatakan pada Minrin bahwa ia akan selalu ingat ulang tahun Minrin. Tahun lalu Minrin mendapatkan sebuah gaun, tahun sebelumnya lagi ia mendapat kalung dan semua itu selalu datang bersama satu ikat bunga mawar putih. Entah apa yang akan didapatkannya tahun ini.

“Tuan Choi Seunghoon selalu mengirimkan hadiah untuk presdir. Bahkan ketika dia sudah meninggal pun hadiah-hadian itu masih terus berdatangan.” Pelayan Oh berucap pada Ryeowook begitu Minrin pergi meninggalkannnya.

“Dia orang yang sangat baik,” ujar Ryeowook.

“Ya. Baik dan juga penyayang. Presdir, tuan Choi Seunghoon dan nona Lee Heejung… mereka bertiga tak terpisahkan. Terkadang mereka melakukan perjalanan bersama. Aku ingat saat mereka bertiga hendak bertolak ke Inggris dan presdir begitu kecewa saat nona Lee memutuskan untuk tak jadi ikut.”

Ryeowook mengernyit lalu menoleh perlahan pada pelayan Oh. Dia mendadak memikirkan cerita Minrin tadi. “Apa yang terjadi dengan Heejung dan Minrin? Mereka tak terlihat akrab sekarang ini.”

“Saya tak tahu, tapi nona Lee menjadi jarang menemuinya setelah kecelakaan presdir.”

Ryeowook terdiam, menatap luar. Hujan masih deras mengguyur sementara langit masih putih kelabu. Mungkin hujan tak akan berhenti dalam waktu singkat.

Banyak hal yang terjadi pada Minrin dan semakin lama Ryeowook justru merasa kasihan pada wanita itu. Di usia yang masih muda harus menanggung tanggung jawab besar pada ratusan ribu orang yang bekerja di bawah Shinjae Group. Belum lagi dengan semua hal yang terjadi padanya dulu. Ryeowook tak heran jika Minrin berubah menjadi sosok yang seperti sekarang.

***

CUT

The Wedding Part 2. Entah ini ceritanya terlalu biasa dan terkesan macam sinetron, hufft…. apalagi cerita soal Heejungnya. Tapi sudahlah…. semoga bisa saya perbaiki lewat cerita ryeomin nya. Terimakasih buat yang menanti ff ini. Jangan lupa komentarnya hihihi… 😀

Advertisements

8 thoughts on “The Wedding Part 2

  1. YEAYY UPDATE!! ╰(*´︶`*)╯ ryeowook perhatian banget lah jadi terharu ;;;; menurut aku tetep seru kok kayak drama hoho cuma di part ini belom ada konflik yg berasa banget yaa.
    Ditunggu kelanjutannya^^ fighting & keep writing authornim!! ( • ̀ω•́ )✧

  2. ya ampun akhirnya di post setelah 2 minggu ini ngintai blog ini bwt baca kelanjutan nih cerita seneng deh di part ini Min Rin udah mau membuka diri ke Ryeowook dengan bercerita tentang masa lalunya walau gak secara langsung kalau tokoh dalam cerita tersebut adalah dirinya sendiri. Request jangan lama-lama postnya ya 😀

  3. Ahh akhirnya minrin sedikit bisa membuka diri sama ryeowook. Mulai bisa bercerita sama ryeowook ttg khidupannya 🙂
    Eumm jadi mkin pnasaran deh sbnrnya siapa yg jht disini?
    Oke aku tnggu nextchap nyaa. Keep writing ^^9

  4. yey akhirnya publish
    sedih bget liat khidupn mirin sebelumnya
    q suka minrin udh mw bercerita ma wook
    smga sering update ff disini
    cos suka bgt ma crta d blog ini
    serasa nonton drama bkan bca ceritasuka senyum sendiri.nangis .kesal pokokna daebak

  5. Hmm semakin curiga sma hee jung..
    Kya nya dia bkl jdi karakter jahat jga dech di sni.. sikap nya dia sebagai orang yg di musuhin tuh, nggak seperti sikap yg normal orng di musuhin.
    Tapi ya terserah penulis aja mau buat cerita kya gmna..
    Aku mah pembaca ikut aja hahaha😁

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s