(Ryeomin Story) Love and War

ryeomin 48

Title : Love and War | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin

Satu setengah jam Minrin membolak-balik katalog dari wedding organizer sembari memikirkan konsep yang bagus yang akan dipakai dalam pernikahannya lagi. Satu setengah jam ia berkutat sendiri belum ditambah setengah jam menunggu Ryeowook datang.

“Aku suka warna putih, bagaimana menurutmu?” Minrin bertanya meminta saran untuk yang kesekian kalinya.

Joa… kurasa putih juga bagus,” jawab Ryeowook untuk yang kesekian kalinya pula hanya setuju dengan usul yang diberikan Minrin.

Gadis itu hanya menoleh sebentar, memperhatikan Ryeowook yang tengah memegang script untuk pentas teater terbarunya.

“Ada warna lain yang ingin kau tambahkan untuk konsep ruangannya?” tanya Minrin lagi.

“Terserah kau saja. Aku percaya pada pilihanmu,” katanya tanpa sedikit pun melepas perhatian dari script di tangannya.

“Bagaimana dengan undangannya? Kau suka yang mana?”

“Yang sederhana saja, kau kan juga begitu. Yang menurutmu bagus saja, aku akan setuju dengan pilihanmu.”

Gadis itu mendengus lagi. Satu setengah jam, Minrin memikirkan sendiri. Satu setengah jam gadis itu sama sekali tidak mendapatkan masukan apapun dari Ryeowook dan satu setengah jam sudah ia berubah menjadi calon pengantin yang mempersiapkan sendiri pernikahannya.

Memang masih lama menuju hari H yang masih tahun depan, tapi tetap saja mereka harus mempersiapkannya dari sekarang. Di tambah lagi Minrin yang tidak selalu berada di Korea, membuat keduanya benar-benar harus memanfaatkan waktu berjumpa seperti ini untuk berdiskusi jika ingin menyelenggarakan pernikahan tanpa bantuan kedua orang tua mereka.

Orang bilang, pasangan kekasih akan menjadi sangat sensitif satu sama lain dan sering bertengkar menjelang pernikahan. Tapi sepertinya tidak berlaku bagi mereka. Bahkan ketika hari pernikahan masih lama pun, kedua orang itu sudah bertengkar.

“Kau tidak mencoba membantuku, hmm? Aku tahu waktunya masih lama, tapi minggu depan aku harus kembali ke New York jadi ini kesempatan kita untuk berdiskusi.” Minrin bergumam setelah menghela nafasnya.

Ryeowook menoleh pada akhirnya setelah mengalihkan perhatiannya sebentar dari script di tangannya. “Aku tahu. Apa yang kau inginkan dengan upacara pernikahannya nanti? Kau pilih saja yang kau inginkan.” Dia tersenyum dan mengelus kepala Minrin lembut. Membuat gadis itu akhirnya hanya menghela nafasnya lagi.

Yaa, apa kau pikir hanya aku yang akan menikah?” katanya dengan nada dingin dan kesal. Dengan sedikit kasar, Minrin melempar katalog di tangannya ke atas meja.

“Tentu saja tidak. Kenapa kau jadi kesal, hmm?”

“Menurutmu, kenapa aku jadi kesal? Sejak tadi aku meminta saran padamu tapi kau hanya menurut saja. Dan sejak tadi aku sendiri yang memikirkan semua rencananya. Dan apa yang kau lakukan?” Minrin menantang dengan nafas yang tak beraturan karena kesal.

Pada akhirnya Ryeowook meletakkan scriptnya dan menatap Minrin. Mencoba untuk maklum dan juga sabar, seperti biasanya. “Minrin-ya, kau tahu aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Besok adalah penampilan pertamaku di teater dan aku harus berlatih.”

“Kau pikir hanya kau yang sibuk? Tugasku juga menumpuk karena aku terus menunda untuk kembali ke Amerika. Dan kau bahkan tidak mengerti itu.” Minrin memegangi kepalanya lalu memejamkan matanya, berusaha menahan diri agar tidak berteriak marah sekarang ini.

Hening beberapa saat. Nada tinggi yang tadi digunakan Minrin mau tidak mau membuat Ryeowook terdiam seketika. Meskipun Minrin memang sudah sangat sering berteriak padanya dengan nada tinggi ketika kesal, tapi kali ini berbeda. Gadis itu sepertinya benar-benar sedang kesal sekarang. Rasa kesal yang tidak akan mudah dijinakan hanya karena Ryeowook menggodanya atau ber  agyeo di depannya.

“Hei, aku tahu kau juga sibuk.” Ryeowook menarik nafasnya perlahan. “Kurasa kita memang sangat sibuk sekarang ini. Apa menurutmu kita tunda dulu pembahasan tentang pernikahan ini?” tanyanya.

Minrin mengangkat kepalanya, menatap ke arah Ryeowook lewat ekor matanya yang menyipit. “Siapa yang menginginkan untuk menikah sebelum wajib militer? Dan kau bahkan baru saja tes untuk pelayanan di kepolisian. Jika kau lulus, pertengahan tahun depan atau bahkan  lebih cepat dari itu, kau harus wajib militer. Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Ryeowook terdiam begitu saja mendengarnya. Baiklah, apa yang dikatakan Minrin memang benar. Apa yang akan dilakukannya? menunda pernikahan sampai dua tahun? Sementara jarak mereka terbentang Korea-Amerika. Itu sudah cukup mengerikan jika dibayangkan.

“Aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Kita bahas lagi nanti kalau jadwalku sedikit kosong, bagaimana?”

Minrin mendecak kesal dengan sangat ketara, sengaja dikeraskan untuk membuat Ryeowook sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“Setelah teatermu selesai dipentaskan? Kapan? Bulan depan? Atau tahun depan?”

Entah kenapa, tapi tiba-tiba Ryeowook merasa sangat kesal dan marah seketika itu.

Yaa, kenapa kau bicara seperti itu padaku? Ya Tuhan…., bukankah kau juga tahu teater ini sudah lama kupersiapkan. Ucapanmu terdengar kau tidak suka dengan pekerjaanku ini.”

“Lalu? Aku harus bicara apa? Kau tahu kan kita bahkan belum mendiskusikan apapun selama ini. Banyak yang harus dipersiapkan, apa kau tidak tahu itu?”

“Aku tahu itu. Tapi kau juga tahu kita berdua benar-benar sangat sibuk sekarang ini, banyak hal juga yang harus dipikirkan selain pernikahan. Apa kau juga tidak sadar itu?”

Mwo?” Rasanya tenggorokan Minrin tercekat setelah itu. Sialan. Ia memejamkan matanya lagi, menahan semua kata-kata yang nyaris keluar tanpa ampun. Sedetik kemudian ia menghela nafasnya kasar. Membuka matanya lagi dan mendapati Ryeowook juga tengah diam memandang ke depan.

“Apa pernikahan ini tidak lagi penting bagimu?” tanyanya setelah itu.

Ryeowook menoleh, mengernyit heran. “Apa yang kau bicarakan?”

“Aku tanya apa pernikahan ini tidak lagi penting bagimu? Apa kau bisa sedikit membagi perhatianmu tidak hanya sekedar script dan jadwalmu saja?”

“Tentu saja pernikahan itu penting tapi semua jadwalku…., aku benar-benar tidak bisa mengabaikannya. Semua penting untukku.”

“Ya, aku tahu semua itu penting untukmu. Jika tidak penting, mana mungkin kau menyembunyikan rencana pernikahan dan hubungan kita dari fansmu, iya kan?” sinis Minrin tanpa dugaan. Benar-benar keluar dari karakter Minrin. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu.

“Kenapa kau tiba-tiba membahas itu? Lihat, siapa yang sejak dulu berusaha keras untuk tidak membuat fansku kecewa? Apa kau lupa jika kau sendiri yang sejak dulu menolak mempublikasikan hubungan kita?” tanya Ryeowook tidak habis pikir dengan pikiran Minrin sekarang ini. Minrin terkesiap sejenak, sepertinya sadar dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“Apa?”

“Kenapa kau menjadi egois hanya karena pernikahan ini?” tanya Ryeowook sekali lagi dengan nada yang lebih dipelankan. Atau sebenarnya berusaha dipelankan tapi jatuhnya justru membuat Minrin semakin marah dan kesal.

Mwo? Aku tidak egois. Kenapa kau bicara seperti itu? Kau pikir pernikahan ini bisa dengan mudah diatur?”

“Cukup hentikan! Jangan mengatakan lagi bagaimana susahnya merencanakan pernikahan. Aku cukup tahu itu, Minrin-ya. Kau tak perlu terus mengingatkanku.”

“Jika kau tahu setidaknya kau bisa menaruh perhatianmu sedikit dan tidak membiarkanku memilih semuanya sendirian,” Minrin membalas dengan tak kalah dinginnya. Lalu setelah itu ia pun mengambil tas dan mantelnya dan beranjak pergi, namun Ryeowook segera mencegahnya dengan menarik pergelangan tangannya.

“Tunggu, kau mau ke mana?”

“Pulang. Aku lelah,” katanya ketus lalu melepaskan cengkeraman tangan Ryeowook di pergelangan tangannya dan pergi dengan membawa semua kekesalan dan kemarahan dalam dirinya.

***

Menyebalkan!

Ia melempar tasnya dengan kasar ke sofa lalu ikut merebahkan dirinya di sofa itu. memejamkan matanya sambil menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.

Biasanya ia akan mengadu pada Hyukjae jika menghadapi situasi ini, satu-satunya sahabat yang mungkin akan memahaminya, meskipun pada kenyataannya pria itu akan lebih banyak menggodanya dan menyalahkannya daripada memberinya nasehat. Setidaknya itu cukup membuat Minrin sadar pada akhirnya. Sayangnya, pria itu sudah berada di camp militer sejak satu bulan yang lalu. Dan sekarang yang bisa Minrin lakukan hanyalah berdiam, mencoba berpikir namun gagal.

Semua tidak hanya kesalahannya, Ryeowook juga salah. Jadi dia tak perlu meminta maaf duluan kalau begitu.

“Dia menyebalkan. Sangat menyebalkan.”

***

Fokus Ryeowook benar-benar pecah dan gagal untuk berkonsentrasi lagi setelah kepergian Minrin dengan membawa kekesalan hatinya. Script yang tadinya berencana dipelajarinya sekali lagi pada akhirnya hanya dibiarkan tergeletak di samping kopinya yang mendingin.

Dia memikirkan ucapan Minrin saat pertengkaran tadi. Tentang seberapa pentingnya pernikahan dan juga pekerjaannya selama ini. Apa dia salah karena belum bisa memberi perhatian lebih pada rencana pernikahan? Banyak hal yang juga harus dipikirkan Ryeowook dan bukannya Minrin begitu? Jadi kenapa gadis itu harus marah-marah seperti tadi?

Ya Tuhan, kenapa wanita terkadang sangat sulit untuk dimengerti?

Ponselnya berdering setelah itu. Satu nama yang merupakan salah satu rekannya yang bermain di teater yang menghubunginya.

Yeobseo….,” katanya. Ia melihat jam di tangannya, mendecak dalam hati sebelum akhirnya menjawab lagi. “Ya… aku tahu, aku akan segera ke sana. Maafkan aku karena lupa,” katanya. Setelah itu panggilan berakhir.

Ryeowook pun buru-buru memberesi semua barang milknya di atas meja, script, ponsel dan memasukkanya ke dalam tas. Lalu setelah itu ia bergegas  keluar dari apartemennya.

Menghela nafas lemah sekali lagi, ia mengendarai mobilnya menuju gedung teater. Karena pertengkaran tadi, dia bahkan hampir lupa harus bersiap untuk penampilan pertama jam delapan nanti.

***

Sejak hari itu, keduanya belum saling bertemu lagi. Ryeowook yang tenggelam dengan kesibukannya memang tak punya waktu luang untuk bertemu dengan Minrin dan mendiskusikan pernikahan mereka. Dulu, tidak bertemu dalam waktu satu bulan atau bahkan tiga bulan bukanlah hal yang sulit. Tapi untuk kali ini entah kenapa rasanya benar-benar berbeda. Mereka bahkan tidak saling berkomunikasi. Efek pertengkaran itu benar-benar mengerikan jika dipikirkan.

Saat Ryeowook tenggelam dalam jadwalnya yang padat, Minrin terus saja memikirkan ucapannya. Lusa ia memutuskan untuk kembali ke Amerika. Dan rasanya ia tidak tahu harus memberitahu Ryeowook atau tidak.

“Ini benar-benar membuatku gila,” gerutunya.

Hyehyo menoleh heran mendengar gumaman itu ketika datang berkunjung dan tengah mengupas apel. “Apa yang kau pikirkan sejak tadi? Wajahmu terlihat menyedihkan,” ujarnya.

“Aku sendiri tidak tahu apa yag kupikirkan. Ini menyebalkan, kau tahu….”

“Kau banyak pekerjaan?” Hyehyo berjalan mendekatinya dengan sepiring buah-buahan yang baru saja dikupasnya. Mendudukan diri di samping Minrin dan menawarinya.

“Banyak tapi aku bahkan tidak fokus untuk bekerja.”

“Kenapa? Kau pasti sibuk dengan pernikahanmu ya?”

Minrin menoleh setelah itu dengan cepat. “Kumohon, jangan bicara soal pernikahan padaku saat ini. Itu benar-benar menjengkelkan,” katanya.

“Ha…? kenapa?”

“Jangan bertanya, Hyo. Aku juga sedang bingung sekarang ini”

“Tsk… kau sedang bertengkar ya?”

Minrin berdecak lagi tak terima. “Lupakan, aku tidak ingin membahasnya.” Setelah itu ia beranjak berdiri dan meninggalkan Hyehyo yang menatapnya tak paham.

Semua mendadak membuat suasana hatinya kesal. Pertama tentu saja tentang pernikahan. Kedua tentang Ryeowook yang bahkan tak mencoba menemui atau menghubunginya seminggu ini. Ketiga, ia tidak tahu tapi ia juga kesal dengan dirinya sendiri. Benar-benar menjengkelkan.

***

“Kyu, menyingkirlah kau menggangguku,” gerutu Ryeowook tiba-tiba tepat saat Kyuhyun lewat di depannya dan menghalanginya menonton televisi.

Kyuhyun tercengang sesaat, heran karena Ryeowook yang tiba-tiba punya mood buruk entah kenapa. Ini hari ke-delapan setelah pertengkarannya dengan Minrin yang belum berhasil diperbaikinya.

“Aku hanya lewat, tidak menghalangimu.” Kyuhyun mendecak lalu melempari satu-satunya member yang tinggal di dorm bersamanya itu dengan bantal sofa. “Menyingkir, aku juga mau duduk.”

Ryeowook menoleh dengan tatapannya yang mengerikan karena kesal sebelum akhirnya menyingkir. Kyuhyun bahkan dibuat tercengang lagi dengan tatapan itu. Apa salahnya hingga ia harus mendapatkan tatapan mematikan itu? Ya Tuhan….

“Ada apa denganmu? Mood mu buruk sekali. Penampilan kemarin tak berjalan bagus?” tanyanya setelah beberapa saat memilih mendiamkan Ryeowook.

Pria itu hanya menatap ke arah televisi. Kyuhyun sekali lagi melihatnya dengan bingung. Biasanya jika Ryeowook punya waktu luang, dia akan pergi ke apartement Minrin, tapi entah kenapa dengan hari ini dia hanya berdiam diri di dorm. Bukankah kekasihnya itu masih di Korea sekarang ini? Jadi kenapa dia tidak pergi?

“Kau tidak pergi menemui Minrin? Bukankah gadis itu masih ada di Korea?” tanyanya lagi setelah pertanyaan sebelumnya tak mendapatkan respon apapun dari Ryeowook.

“Jangan membicarakan gadis itu sekarang in. Aku sedang malas mendengarnnya,” jawab Ryeowok asal yang benar-benar suskes membuat Kyuhyun menoleh, tak percaya.

Ya, seminggu terakhir Ryeowook memang tidak memepedulikannya bahkan ia juga tidak berusaha menghubunginya. Selain karena jadwalnya yang padat, ia pikir Minrin yang lebih dulu akan menghubunginya seperti biasanya. Tapi Ryeowook lupa kalau gadis itu pergi meninggalkannya di cafe dengan mood yang sangat kacau. Dan rasanya sangat konyol jika Ryeowook berharap gadis itu yang akan menghubunginya.

Lalu ia pun memikirkan ulang ucapan Minrin. Dan setelah berulang kali berpikir, ia bersikeras bahwa kesalahan ada pada Minrin. Bagaimana bisa gadis itu mendadak menjadi sangat egois? Apa dia tidak berpikir jika Ryeowook benar-benar sibuk sekarang ini? Dia bahkan kadang tak tidur hanya untuk berlatih teater.

“Apa yang terjadi pada kalian?” Kyuhyun bertanya lagi.

“Sudah kubilang, jangan menggangguku, Kyu,” decaknya lagi  kali ini menyuruh Kyuhyun untuk diam.

“Ya Tuhan, kau berubah menyebalkan hari ini. Aku tidak bersalah dan berhenti meluapkan kekesalanmu itu padaku.”

Ryeowook menoleh lagi yang kemudian sadar dengan sikapnya yang justru membuat orang lain tak nyaman. Ia pun menghela nafas pelan. “Aissh, benar-benar menjengkelkan!” gerutunya lebih pada dirinya sendiri.

“Dia melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanmu lagi? Pria mana lagi yang sekarang mengalihkan perhatiannya?” tanya Kyuhyun.

Ryeowook yang awalnya tak paham hanya menatap diam. Tapi kemudian ia ingat bahwa Minrin punya hobi yang sedikit aneh, mencari pria yang ada di drama yang membuatnya tertarik. Satu hal yang sejak dulu selalu membuat Ryeowook kesal. Dari pria bermarga Song yang baru saja keluar dari wamil, sampai yang terakhir aktor muda seumuran dengannya yang bermain dengan Jung Eunji di drama KBS. Entah sudah berapa banyak, Ryeowook bahkan tak lagi menghitungnya. Namun, bukan masalah itu yang membuatnya kesal. Sungguh, ia sudah terbiasa sekarang dengan hobi aneh itu.

“Lee Woongeun. Sebelumnya lagi Ji Changwook.” Ryeowook membalas malas.

“Dia punya selera yang bagus. Aku tidak tahu siapa Lee Woongeun tapi Ji Changwook, ya semua wanita tergila-gila padanya,” sahut Kyuhyun.

Ryeowook menatap tajam pada Kyuhyun tak setuju. “Berhentilah membuatku bertambah kesal,” gumamnya pelan.

Kyuhyun nyaris tertawaa terbahak-bahak mendengarnya tapi sama sekali tak berniat memanas-manasi lagi sahabatnya itu. Mood nya benar-benar buruk dan sepertinya ia akan membuat kesalahan jika terus memperburuk mood nya itu.

“Bahkan bukan itu yang menjadi masalah sekarang ini.” Ryeowook bergumam lagi setelah Kyuhyun berhasil mengontrol tawanya agar tak terdengear mengejek.

“Lalu? Biasanya kalian hanya bertengkar dengan masalah sepele macam itu. Kali ini masalah apa yang membuat kalian bertengkar?”

“Entahlah…, aku juga tidak tahu. Dia yang bersalah.”

“Woah… lihat sekarang kau bahkan terus terang menyalahkannya?”

“Jika orang itu bersalah pantas untuk dipersalahkan. Tidak ada yang salah dengan ucapanku, kan?” Ryeowook membalas tak peduli.

“Tsk… aku tidak mengerti tapi kurasa kalian benar-benar sedang bertengkar hebat.”

“Ya. Dan aku bahkan mempertanyakan diriku sendiri kenapa aku bisa percaya bahwa dia akan mendukung semua pekerjaan yang kulakukan,” ujar Ryeowook tak disangka Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh. “Apa itu yang kau pikirkan?”

“Ya.” Ryeowook menjawab singkat seakan-akan dia sudah siap dengan jawabannya sejak tadi. Sekali lagi Kyuhyun menatapnya tak paham.

“Terdengar mengerikan. Minrin yang kutahu selalu mendukungmu. Jika tidak, kenapa dia harus susah payah mengedepankan karirmu daripada kebahagiannya sendiri?”

Pria di samping Kyuhyun itu hanya menghela nafasnya. Menyadari dengan sangat penuh apa arti dari ucapan Kyuhyun padanya. Ya, tentu saja Ryeowook paham. Jalan pikiran Minrin yang awalanya membuat Ryeowook sedikit pusing kepala karena tidak ingin membuat fansnya kecewa, namun pada akhirnya disetuji Ryeowook dengan menutupi hubungan mereka. Gadis itu benar-benar luar biasa peduli, tapi juga luar biasa menyedihkan. Apa yang ada dipikirannya hanya lah kebahagiaan orang lain? Bagaimana dengan dirinya?

Dan akhirnya pertengkaran kemarin itu benar-benar meruntuhkan semua yang telah menjadi prinsip Minrin. Tidak membuat orang lain yang sudah peduli dengannya dan Ryeowook kecewa atau bersedih. Karena pada akhirnya, gadis itu tahu bahwa ia juga ingin bahagia. Kata-katanya yang keluar dari mulutnya yang mengatakan bahwa ia menyalahkan Ryeowook karena pria itu mengulur waktu untuk memberi pernyataan tentang pernikahan dan hubungan mereka yang nyaris lima tahun itu benar-benar boomerang. Gadis itu tak sadar dengan apa yang dulu menjadi prinsipnya. Sebenarnya dia tidak salah dan jujur saja Ryeowook juga paham.

“Ya, aku tahu itu, Kyu.” Dia bergumam pelan, menyetujui ucapan Kyuhyun tadi.

Tapi Ryeowook tidak paham kenapa gadis itu mendadak sangat egois. Dia tahu dirinya juga sibuk dan mungkin juga lelah. Jadi kenapa dia bersikeras untuk mendiskusikan pernikahan sekarang sementara dia seharusnya tahu saat ini bukan waktu yang tepat.

Kyuhyun menepuk pundaknya berulang kali memberinya semacam semangat. “Kalau kau tahu, kenapa kau meragukannya?”

“Aku tidak meragukannya. Sama sekali tidak.” Ryeowook memperjelas sekaligus meralat kata-katanya tadi.

“Terserah kau sajalah…, aku tahu kalian akan berbaikan lagi cepat atau lambat. Seperti biasanya.” Ryeowook hanya melihat Kyuhyun yang akhirnya beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Ryeowook dengan semua pikirannya.

***

Udara semakin mendingin di penghujung bulan November. Minrin melihat sekilas jam di tangannya. Beberapa jam sebelum keberangkatannya ke Amerika dan dia masih berada dalam posisi yang membingungkan. Haruskah dia memberitahu Ryeowook? Atau haruskah ia pergi begitu saja?

Baiklah, ia memang cukup  kekanak-kanakan waktu itu. Pikiran macam apa yang merasukinya hingga ia begitu marah dan melontarkan kata-kata seperti itu pada Ryeowook? Ah… tapi sejujurnya Minrin tidak terlalu menyesalinya. Mungkin ia harus sering bersikap seperti itu agar Ryeowook berhenti memandang pernikahan ini adalah hal yang sepele dan mudah.

Dasar… dia benar-benar brengsek!

Beberapa saat, gadis itu hanya duduk sambil memperhatikan televisinya. Sama sekali tak menarik. Lalu akhirnya ia beranjak berdiri, mengambil jaket dan ponselnya dan memutuskan untuk keluar dari apartement.

Saat ia berjalan di lorong gedung apartement itu lah langkah kakinya terhenti. Ryeowook berdiri beberapa langkah di depannya. Terlihat luar biasa baik. Tapi tak seperti biasanya. Ryeowook hanya berdiri di sana, diam sambil menatap Minrin. Sesuatu yang menandakan bahwa pria itu enggan untuk menyapa Minrin dengan pelukan. Dan Minrin cukup tahu situasi yang tengah dihadapinya ini.

“Kau… mau keluar?” tanya Ryeowook akhirnya. Satu pertanyaan yang diyakininya akan menghilangkan kecangguangan yang tercipta.

Minrin mengangguk pelan. “Aku ingin bicara denganmu,” kata Ryeowook lagi.

Minrin menatap sebentar pria di depannya itu. Awalnya ingin mneolak tapi pada akhirnya ia mengangguk karena tidak ingin menghindar untuk suatu alasan yang konyol bernama canggung.

“Bicara di dalam  saja, aku tak ingin membuat tetanggaku bertanya-tanya dan menyebarkan gosip,” ujarnya lalu berjalan memutar arah kembali ke apartementnya. Ryeowook mengikutinya dari belakang.

Tidak ada yang berbeda dengan apartement Minrin. Masih sama seperti sebelumnya. Memangnya Ryeowook pikir apa yang akan berubah sementara terakhir kali ia datang berkunjung adalah tiga minggu yang lalu? Konyol memang.

Satu-satunya yang menarik perhatian Ryeowook adalah dua koper besar yang sudah rapi di dekat sofa yang membuatnya mengernyit heran.

“Kau akan kembali ke New York?” tanyanya.

Minrin yang baru saja keluar dari dapur dengan dua kaleng kopi hanya mengangguk pelan. “Penerbanganku nanti siang.”

“Dan kau tidak memberitahuku?” desak Ryeowook lagi yang kali ini benar-benar membuat Minrin sedikit serba salah.

“Kupikir kau tidak butuh untuk tahu, lagipula seperti katamu bukan kah kita sedang benar-benar sibuk akhir-akhir ini?”

“Minrin-ya….!”

Minrin mengabaikan panggilan mendesak itu dan memilih duduk di sofanya. Dia tahu jika ia salah bicara, mungkin saja mereka berdua akan terlibat pertengkaran kedua yang justru akan memperkeruh semuanya. Jadi, dia memilih diam.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” katanya mengalihkan pembicaraan.

Ryeowook menatapnya. Minrin bukannya tidak tahu, tapi dia memilih menghindari tatapan itu.

“Kupikir aku sedang mencoba untuk memperbaiki semuanya dengan datang kemari, tapi sepertinya kau berpikir untuk menghindari semuanya,” tuturnya pelan.

“Aku tidak menghindar, jika aku menghindar aku sudah mengusirmu sejak tadi,” ucap Minrin tak kalah pelan namun kali ini dengan nada dingin.

“Jika memang begitu, bisakah kau menatapku dan kita bicarakan semuanya?” Ryeowook menuntut membuat Minrin menghela nafasnya dengan kasar sebelum akhirnya menuruti permintaannya itu.

“Sudah. Apa kau puas?” tantangnya dengan kesal.

Ryeowook terdiam, mengamati wajah kekasihnya itu dengan teliti dan akhirnya menyerah. Gadis itu benar-benar kesal padanya. Setelah seminggu, gadis itu ternyata masih menyimpan rasa kesalnya. Benar-benar keras kepala. Ryeowook pikir setelah seminggu, dia akan sedikit melunak, mengintropeksi dirinya sendiri dan pada akhirnya bisa diajak bicara baik-baik. Tapi sepertinya tidak.

“Mungkin sebaiknya aku membiarkanmu pergi ke New York agar kita bisa memikirkan sendiri kesalahan yang kita perbuat. Kupikir tidak ada gunanya mengajakmu berdiskusi sekarang. Karena kau sendiri yang masih marah dan aku pun yang masih kecewa dengan sikapmu yang seperti ini,” katanya,

Gadis itu diam, mencerna baik-baik ucapan Ryeowook. Sampai akhirnya pria itu mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya dan meletakkan buku kecil itu di atas meja.

“Aku pulang saja. Hati-hati di jalan,” katanya sebelum akhirnya pergi dari apartement itu, menyisakan Minrin yang masih diam memandang buku kecil bersampul cokelat yang diberikan Ryeowook.

***

Satu-satunya yang berulang kali merasuki pikiran Minrin adalah ketakutannya bahwa Ryeowook tidak lagi menganggap rencana pernikahan mereka sesuatu yang penting yang harus diperjuangkan. Ya.. dia sadar bertapa sibuknya Ryeowook pun begitu juga dengan dirinya. Tapi seperti dirinya yang masih bisa meluangkan waktunya yang harusnya digunakan untuk istirahat tapi dia memilih menggunakan waktu itu untuk memikirkan pernikahan mereka. Tidak bisakah Ryeowook melakukan hal itu?

Dia terdiam di kursinya dengan buku coklat yang ada di tangannya yang sedikitpun belum dibuka. Pesawat baru saja take off dan sampai detik terakhir sebelum pesawatnya take off  pun Minrin tak menghubunggi Ryeowook begitu juga pria itu yang sama sekali tak berusaha menghubungi Minrin.

Gadis itu menghela nafasnya perlahan. Untuk pertama kalinya ia merasa kepergiannya ke Amerika kali ini terasa berat. Karena bagaimana pun juga ia meninggalkan sebuah masalah bersama pria itu mengambang tak jelas.

Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Minrin pun membuka buku cokelat itu.

Lembar pertama berisi tulisan kepemilikikan bahwa buku itu milik Kim Ryeowook. Minrin tersenyum kecil membacanya. Kekanak-kanakan. Pikirnya.

Rencana pernikahanku dengan si gadis keras kepala, Shin Minrin

  1. Dekorasi ruangan : Warna dominasi putih dan biru laut. Bunga lili dan mawar putih akan menjadi hiasannya. Pada umumnya seperti itu, bisa kita sesuaikan dengan wedding organizer nya.
  2. Tuxedo dan gaun pengantin : aku ingin memakai tuxedo hitam degan rompi di dalamnya. Lalu untuk gaun pengantinnya, kau bisa memillihnya sendiri tapi aku suka saat kau mengenakan gaun ini. Sederhana tapi kau terlihat cantik. Ya.. mungkin tak sama persis, kau bisa menyuruh desainer mengubahnya. Tapi kurang lebih seperti itu.

 54729-8495262-p8

  1. Undangan : Aku tahu kau suka yang sederhana, dan aku pun begitu. Mungkin seperti ini

 beautiful-wedding-invitations-invitation

Kita bisa mengubah gambarnya menjadi foto kita. Teman-teman mu dan teman-temanku, keluargaku dan juga keluargamu akan kita undang. Kita pikirkan bersama berapa banyak. Tapi jika kau ingin mendengar pendapatku, antara 500 – 700 undangan. Aku tidak ingin pernikahannya mewah meski keluargamu sangat kaya.

  1. Tanggal dan bulan pernikahan : Kurasa di bulan musim semi, April atau Mei minggu ketiga. Kita bisa memilihnya bersama.
  2. Foto pre wedding : Aku tidak ingin konsep yang berlebihan. Kita bisa melakukan photoshoot di tempat-tempat yang pernah kita kunjungi yang menjadi saksi perjalanan kita selama ini. Holy Cafe, cafe Mrs Lee di Jeju. Ah…. tapi kalau dipikir-pikir kita tak punya banyak tempat sebagai saksi perjalanan. Ya… kita juga bisa membicarakannya bersama. Kurasa akan lebih bagus jika kita tampil sederhana dengan kostum yang tak perlu aneh-aneh. Satu dua foto dengan tuxedo dan gaun pengantin tak masalah, tapi aku ingin menunjukkan bahwa seperti inilah kita.
  3. Selain upacara pernikahan utama, aku ingin kita menjalani upacara penikahan secara tradisional. Dengan mengenakan hanbok dan keluarga terdekat saja yang menyaksikan. Bagaimana pun juga kita harus menghormati budaya nenek moyang.
  4. Kyuhyun dan Yesung hyung akan menyanyikan lagu pernikahan. Mungkin beberapa teman yang lain juga boleh jika mereka ingin.
  5. Destinasi honeymoon : kurasa akan sedikit sulit melakukannya tapi seminggu berlibur bersama bisa kita atur. Aku tidak ingin ke Maldives atau Okinawa atau Hawaii. Semua itu sudah terlalu biasa. Aku berpikir untuk menghabiskan satu minggu di Eropa atau negara bagian utara di benua Amerika. Prague, Switzerland, New Zealend, Kanada. Atau kau jika ingin yang lain, bisa kita pikirkan bersama.
  6. Soal publikasi tentang pernikahan kita, aku sedang berusaha berbicara dengan agensiku. Jika mereka setuju, kita akan mengadakan konferensi pers bersama tapi jika tidak, aku akan memberitahu penggemarku secara langsung, mungkin di salah satu konser KRY . Atau jika itu tidak memungkinkan, kurasa aku akan memikirkan cara lain, tapi yang jelas aku sendiri yang akan memberitahu penggemarku. Dan aku melarangmu atau pihak keluargamu memberitahu mereka. Aku tidak ingin kau terluka nantinya. Setelah aku memberitahu penggemarku, aku akan mengijinkan pihak keluargamu merilis berita tentang pernikahan puterinya. Aku tahu perusahaan ayahmu sangat besar dan sudah pasti mereka akan memberitakan pernikahan puterinya. Semoga kau tidak menganggap keputusanku ini egois.
  7. Aku tidak tahu kau setuju atau tidak, tapi aku ingin kau menghadapi reaksi para penggemar bagaimana pun reaksi mereka. Aku ingin mereka tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya. Kepribadian baik seorang Shin Minrin yang berhasil membuat Kim Ryeowook melihat dan peduli padanya. Minrin yang Ryeowook kenal selama ini yang dicintainya. Dengan begitu mereka juga akan menyukaimu. Mungkin tidak akan sama dengan rasa sukaku padamu, tapi dengan begitu mereka akan tahu kenapa Ryeowook bisa mencintai Minrin.
  8. Setelah menikah aku ingin kau kembali ke Korea. Aku akan bicara lagi dengan ayahmu. Dia sudah berjanji padaku sebelumnya. Kita akan tinggal di apartement yang kubeli. Jika kau ingin bekerja, aku akan memperbolehkanmu. Model, menyanyi, akting atau kau ingin mengejar mimpi menjadi dokter lagi? Lakukan apa yang kau inginkan. Tapi setelah kita punya anak, aku ingin kita mengurusnya bersama-sama.
  9. Mungkin masih banyak yang harus dipikirkan. Kurasa aku akan kelelahan jika memikirkannya sendiri. Dan sepertinya kita berdua memang harus bekerja sama untuk menyiapkan pernikahan ini. Aku minta maaf membuatmu bekerja sendiri. Aku juga minta maaf karena menganggap remeh semua persiapannya. Jadi, bisa hubungi aku jika kau sudah selesai membaca rencana yang kususun ini?

Minrin benar-benar tertegun membaca semuanya. Di beberapa bagian ia dibuat tersenyum konyol dan di akhir kalimat ia justru dibuat tersentuh.

“Dia benar-benar menyebalkan,” gumamnya pelan tapi senyum lega dan bahagia terukir di bibirnya.

***

Ponsel itu bergetar pelan, membuat Ryeowook akhirnya menghentikkan latihannya. Satu pesan tertera di layarnya begitu dibuka.

Aku baru saja sampai dan aku sangat lelah. Aku akan menghubungimu setelah aku selesai istirahat. Ah… dan juga maafkan aku karena bertingkah kekanak-kanakan. Aku mencintaimu.

Satu pesan yang langsung membuat Ryewook menarik senyum lega.

***

CUT

Hiyaaaa!!!! Silahkan yang mau protes.. hahaha

Disuruh nyelesaiin secret guard eh malah datang bawa Ryeomin story. Duh, otak saya benar-benar kacau tiba-tiba kepikiran Ryeomin di saat sedang nulis secret guard.

Oke baiklah… Anggap saja saya sedang rindu Kim Ryeowook Super Junior, bukan Kim Ryeowook di karakter ff-ff ku yang lainnya. Hehehe…. :p

Secret Guard coming soon !!

Sudah itu saja, sampai jumpa… ^^

Advertisements

11 thoughts on “(Ryeomin Story) Love and War

  1. Jeedderrrr!!!kirain secret guard ternyata ryeomin story toh huahahahahah
    Ternyata…. Menikah itu tidak segampang yg terlihat #plak ahh sebut sebut wamil mendadak jadi sedih :((
    Lanjuttt author!! Ditunggu next ffnya😂 aku seneng banget akhir akhir ini banyak ff yg di update. Fighting!

  2. hufttttt udah lamaaa banget ga main kesiniii….
    holaaaaaaaaaaaaaa.
    seperti biasa, kisah mereka selalu gemesin banget yaaa aduh, sedih juga jadi minrin.
    sempet sedih ngerasa bersalah juga baca catetan ryeong hehehe…
    next story sama secret guard nya aku tunggu ya,., btw secret guard udah sampe part berapaaa? hehe

    1. Holaaaaaaa juga…
      eh, ngapa jd sedih baca note nya si ryeong? duuh… k k k
      Secret guard sampai part berapa? Hmmmm….. dutunggu saja deh, heheh.. thank you 🙂

  3. knpa tiap baca ff ryeomin story q sering senyum sendiri
    bis penggmbran alur crta bnyak yg sm lg wook. d korea
    duh kq ngomongin wamil sie
    jd sedih deh
    gk tw nih lw ntr wook pgi wamil
    makasih y akhir2 ni sring update
    btw udh penasaran bgt ma screat guard

  4. Ahh dikirain secret guard,,, gg apa dehh,, ryeomin story jga udh lama gg dilanjutin,
    Kok udh nyinggung wamil aj 😔
    Gg nyangka ryeowook ternyata nyusun rencana pernikahan mereka serba sederhana tapi sesuai dengan karakter mereka masing masing,, gemesss jadinya 😚

    Lanjutkan ya eonn,, ditunggu next storynya ^^

  5. Ahh yaampun tumben tau gak Ryeowook aama minrin berantem hebat kek gni .kkk persiapan pernikahan emang serumit itu ya?? :3
    Hmm mereka tuh yah story nya suka bikin senyam senyum gaje. Tapi sedih juga kalau ngomongin wamil padahal aku berharapnya ryeowook sma kyuhyun ga ikut wamil 😥
    Oh iya secred guardnya dtnggu ya ^^

  6. Aku nggak tau hrus komen apa?
    Yg psti aku nangis pas bca tulisan nya ryeowook, ah aku baper…
    Cerita ini sukses membuat ku sadar skrang😭

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s