The Wedding Part 1

wedding

Title : The Wedding Part 1 | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin | Genre : Romance, Married Life | Lenght : Chapter (6322 words) | Rating : PG-15 | Author : Whin

***

Tiga bulan berlalu sejak upacara pernikahan tak kuinginkan itu berlangsung. Tiga bulan kami berpura-pura tinggal bersama di rumah ini, berpura-pura saling mencintai, termasuk berpura-pura tidak pernah ada yang salah dengan pernikahan ini.

Tapi salah jika mereka kira pernikahan ini akan baik-baik saja. Cinta dan pernikahan dua hal yang menjadi sebab akibat. Sesuatu yang sejak dulu selalu menjadi prinsipku sebelum aku sadar di duniaku apapun bisa menjadi penyebab sebuah pernikahan termasuk alasan untuk membuatku tetap duduk di tahta ini.

Aku tidak punya pilihan. Karena tidak ada yang boleh duduk di kursi ku. Demi itu, aku menerimanya. Menerima laki-laki yang belum pernah kutemui untuk menjadi suamiku.

***

Sekitar sepuluh orang berkumpul di sebuah ruang meeting. Beberapa orang masih terlihat terengah-engah sambil merapikan jasnya karena harus berlari tergopoh-gopoh begitu menerima pesan singkat dari presdir mereka yang menyuruhnya untuk datang ke ruangan ini. Beberapa yang lain sibuk membicarakan sikap presdir mereka. Laki-laki tua di sebelah kiri meja berbentuk U itu bahkan tak henti-hentinya berdecak kesal, begitu juga rekan yang duduk di sebelahnya. Wajar saaj mereka bersikap seperti itu karena ini bukan pertama kalinya mereka direpotkan dengan tingkah presdir mereka yang berbuat seenaknya.

“Pembelian Pabrik Kimia Alexen di Rusia. Apa Presdir sudah gila?”

“Kudengar pabrik itu bahkan akan bangkrut. Untuk apa kita menghabiskan uang untuk membeli perusahaan yang jelas tidak akan memberi keuntungan?” Dua orang laki-laki di sebelah kanan berbicara dengan nada kesal, sementara yang lain yang kebetulan mendengarkan mengangguk menyetujui.

“Sudah kubilang dia akan melakukan ini.”

“Wanita itu sama sekali tidak punya bakat menjadi pemimpin Shinjae.”

Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang terdengar sangat meremehkan itu. Kadang menyebalkan dan seenaknya. Seperti itulah yang dilakukan para pemegang saham Shinjae itu. bergosip, mencari kesalahan presdir mereka sementara mereka sendiri tidak sadar hal apa yang sudah dilakukan untuk memajukan perusahaan.

“Jika Tuan Min memang berpikir demikian, kenapa sejak dua minggu yang lalu aku belum menerima laporan yang kuminta?”

Seorang wanita cantik yang umurnya bahkan 20 tahun lebih muda dari laki-laki tua yang menggerutu tadi tiba-tiba masuk dan mengeinterupsi pembicaraan. Membuat semua orang langsung berdiri dengan tergesa, merapikan penampilan mereka cepat dan memberi hormat padanya

Wanita itu tersenyum tipis sedikit menyerangi. Make up yang membuat garis wajahnya tegas dan bibir yang dipoles dengan lipstick merah membuatnya tampak menjadi orang yang angkuh akan kedudukan sekaligus menyeramkan. Matanya bergerak pelan untuk memperhatikan satu persatu orang-orang yang sejak dulu dipekerjakan oleh kakeknya dengan senang hati. Orang-orang yang berpengaruh pada perusahaannya. Orang-orang yang justru menurutnya tak berguna dan hanya berotak uang. Tatapannya berhenti pada laki-laki yang tadi disebutnya Direktur Min yang tempat duduknya sialnya harus tepat di sampingnya.

“Daftar perusahaan kimia yang menurut Tuan Min masih bisa kita beli tanpa merugikan Shinjae Group. Aku belum menerima itu sejak terakhir aku memintamu. Lain kali bekerjalah dengan baik jika kau tidak ingin merusak jantungmu karena terus berbicara kesal di belakangku,” sisnisnya pelan.

Ia tersenyum singkat sekali lagi. Senyum mematikan dan mengintimidasi yang langsung membuat semua orang di tempat itu menunduk ketakutan. “Anjuseyo,” perintahnya kemudian dengan santainya. Tak peduli jika semua orang di depannya tengah dilanda ketakutan untuk bersiap berada di neraka selama beberapa jam ke depan.

Seorang wanita yang umurnya hanya terpaut dua tahun darinya segera menutup pintu ruangan, lalu mengambil tempat duduk di samping kanannya. Dan semua orang di ruangan itu langsung menahan nafas, mereka hanya harus menunggu sebentar saja sebelum presdir muda yang duduk di paling ujung meja itu memulai pembantaiannya.

“Baiklah, aku minta maaf sebelumnya karena membuat kalian harus datang di rapat ini. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku tidak bisa begitu saja membeli Alexen tanpa persetujuan kalian.” Wanita itu memulai dengan nada santai yang berujung pada sambutan tawa singkat dari orang-orang di depannya. Mereka pikir wanita itu pasti sedang bercanda, tapi tentu saja tidak. Oh..ya anggap saja mereka sedang berusaha mengurangi ketegangan yang sedang dirasakan.

“Yah… merepotkan memang, tapi kita harus menjalankan prosedurnya. Benar kan?” Ia menurunkan tangan yang menumpu di meja lalu melipatnya di depan dada, bersender nyaman di kursinya dengan senyum dan tatapan intimidasi yang dilayangkannya satu persatu pada semua orang di hadapannya.

“Perlihatkan data tentang Perusahaan Alexen,” perintahnya kemudian.

Suasana rapat itu tak ayalnya seperti sebuah tindakan penindasan tersirat yang dilakukan Presdir Shinjae Group terhadap para pemegang saham di perusahaan itu. Berulang kali sepuluh orang yang sejak awal sudah menahan nafas itu terlihat membenarkan duduknya dengan tak nyaman, yang tentu saja menjadi pemandangan menarik bagi wanita yang disebut presdir itu.

“Mereka bilang Alexen bangkrut tapi sebenarnya tidak. Mereka sedang melakukan penelitian rahasia yang diyakini akan menjadi penemuan besar bagi dunia. Daehe bahkan sudah lama mengincarnya. Jadi, seperti yang kalian lihat.” Dia menunjuk grafik di layar itu dengan pointer lalu menjelaskan. “Keuntungannya bisa mencapai 500 juta USD. Itu baru perkiraan, bisa lebih jika kita bisa membuat pengembangannya.”

“Karena kita sudah punya peneliti yang sudah punya hak paten, maka kurasa tidak akan sulit untuk membuat keuntungan yang lebih besar.”

Tentu saja tak satupun dari mereka berpikir bahwa presdir muda itu menyiapkan presentasi dengan sangat apik. Dia menjelaskan dengan sangat rinci keuntungan yang bisa di dapat dengan pembelian Alexen, meskipun pabrik kimia itu dikabarkan akan bangkrut. Sementara kesepuluh laki-laki di depannya tidak pernah berpikir sejauh itu.

“Jadi, bagaimana? Apa kalian masih akan menentang cara kerjaku?” tanyanya begitu layar besar di depannya berhenti menampilkan gambar presentasi. Tatapan matanya kembali menelisik satu persatu dari mereka dan berakhir pada Direktur Min. “Bagaimana menurutmu, Direktur Min?” tanyanya. Laki-laki itu hanya berdehem keras sembari membenarkan tempat duduknya. Wajahnya pucat.

Jeongsohamnida, aku akan bekerja lebih keras lagi mulai sekarang,” ucapnya meminta maaf yang berakhir membuat wanita itu tersenyum puas.

“Baiklah, kurasa kalian akan setuju. Jika masih ada yang keberatan, katakan saja sekarang.”

Semua diam. Dan sekali lagi senyum wanita itu mengembang puas. Semua masih terlihat sangat tegang, sampai akhirnya ia beranjak berdiri dan keluar dari ruangan.

 “Kau sudah gila.” Seorang wanita yang tadi juga berada di rungan itu berjalan tergesa-gesa mengikuti presdirnya begitu rapat usai. Dia berhenti di depan meja melayangkan tatapan tidak percaya sekaligus kagumnya pada si wanita dengan kedudukan tertinggi di Shinjae ini. “Ya Tuhan…jika aku tidak mengenalmu sejak lama, aku pasti sudah tidak tahan berlama-lama di rungan tadi,” decaknya yang justru terdengar seperti pujian.

“Mereka membuatku pusing.” Wanita yang sangat disegani dan dihormati sebagai presdir perusahaan Shinjae group itu menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kebesaran miliknya sambil menekuk kepalanya ke kanan dan ke kiri.

“Kau lebih membuat mereka pusing, Minrin-ya.” Wanita yang kini berdiri di depannya masih menatap tidak percaya. “Kau tidak lihat bagaimana reaksi para pria tua di sana tadi? Mereka bahkan tak berkutik saat kau menjelaskan keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan membeli Alexen.”

“Sudah kubilang kan mereka harus segera berhenti meragukan kemampuanku,” ucap Minrin pelan penuh rasa puas karena berhasil membuat para pemegang saham itu tak berkutik sekali lagi.

“Ya…ya… tentu saja. Lagipula kau bisa langsung mendepak mereka dari perusahaan ini begitu kita menemukan bukti dana gelap yang mereka gunakan untuk para politikus.”

“Dan aku sudah mencarinya tiga bulan terakhir tapi belum juga kutemukan,” tambahnya.

Wanita di depannya, Jung Hyemin yang menjadi sekretaris pribadi, sekaligus temannya sejak ia menginjakkan kaki di perusahaan ini hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Pembicaraan itu terhenti begitu saja saat dering ponsel di atas mejanya menginterupsi. Layar 6  inch itu menyala memperlihatkan satu nama lain yang juga dibenci Minrin.

“Suamimu?” Hyemin menebak sesaat setelah ia berhasil mendudukan tubuhnya di atas sofa dan melihat ekspresi Minrin berubah seketika. Minrin hanya menatapnya sekilas lalu menggeser tombol terima dengan malas.

Tidak ada pembicaraan serius dengan orang yang disebut Hyemin sebagai suaminya itu. Oh… ya laki-laki tadi memang suaminya. Suami yang didapatkannya setelah pernikahan berbalut bisnis yang direncanakan kakeknya. Ia mengakhiri begitu saja pembicaraan singkat itu lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Hyemin menatapnya penasaran. Dan Minrin tahu betul apa yang dipikiran sahabatnya itu.

“Aku penasaran sampai kapan kau akan bertahan dengan pernikahanmu itu.” Hyemin memutar kepalanya dan berujar.

“Entahlah. Selain mencari bukti dana gelap itu, kurasa aku harus menemukan cara untuk menceraikannya, benar kan?”

“Sial. Aku harus mengakui ambisimu untuk duduk di kursi Presdir justru membuatmu menjadi wanita tak punya cinta.”

Minrin menoleh, sedikit tidak terima dengan ucapan Hyemin tapi ia hanya tertawa pelan begitu saja bahwa apa yang diucapkan Hyemin memang benar. “Aku tidak percaya pada hal macam itu lagi, Hyemin-ah… Cinta dan pernikahan.”

“Oh… ya, kau sudah melupakan konsep itu sejak tiga tahun yang lalu.”

Nama lengkapnya Shin Minrin, umurnya baru 25 tahun. Dia adalah orang yang cerdas lulusan Universitas Harvard. Merupakan pewaris sah kekayaan Shinjae group. Sejak kedua orang tuanya meninggal lima tahun yang lalu sudah dipastikan bahwa ia akan menjadi presdir selanjutnya menggantikan sang kakek. Presdir termuda selama sejarah Shinjae Group berdiri.

Hanya saja ada satu syarat yang harus dilakukannya ketika menerima jabatan presdir ini. Syarat yang diajukan kakeknya dan tidak ada pilihan lain selain menerimanya, yaitu menikah dengan seorang laki-laki yang sudah dipilihkan. Harus diakuinya bahwa pernikahannya dengan laki-laki itu tiga bulan yang lalu memang menjadi jalan masuk baginya untuk duduk di kursi presdir. Kakeknya meninggal satu bulan setelah pernikahan dilangsungkan, yang otomatis langsung membuat Shin Minrin diangkat menjadi presdir Shinjae diusianya yang masih sangat muda.

Ketika akhirnya ia dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak orang yang ingin menggulingkannya, merebut kekuasaan karena keserakahan, terutama para pemegang saham di Shinjae, ia sadar tidak bisa lagi menolak pernikahan demi melindungi perusahaan keluarga ini. Meskipun ia harus menahan rasa benci ketika bertemu dengan pria itu dan meskipun ia harus mengubur bayangan kehidupan pernikahan yang bahagia dalam-dalam, ia tetap akan mempertahankan pernikahannya. Semua itu untuk melindungi Shinjae. Karena bagaimanapun suaminya adalah salah satu pemegang saham di Shinjae. Memang tak sebanyak para pria tua di ruang rapatnya tadi, tapi jika ditambahkan dengan miliknya saham suaminya itu cukup banyak untuk membuat posisi Minrin tak tergoyahkan dari kursi presdir.

Pernikahan macam itulah yang menghancurkan konsep cinta dan pernikahan sebagai sebuah sebab akibat yang selama ini dianutnya.

Menyedihkan bukan? Tapi begitulah bisnis berjalan. Kapan pun kau harus siap kebahagianmu direnggut demi sebuah kedudukan. Demi sebuah tempat di mana orang-orang akan tunduk dan patuh padamu.

Minrin baru saja kembali dari kantor sore itu. Mobil sedan silver mewah yang dikendarainya berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Pengawal berseragam jas formal hitam dan para pembantu menyambutnya seperti biasa begitu ia turun. Ia berjalan dengan tegak masuk ke dalam diikuti Jung Hyemin di sampingnya.

“Suruh semua untuk pergi,” titahnya begitu berada di ruang tamu yang sangat luas itu. seorang wanita berumur 40 tahunan yang merupakan kepala pelayan mengangguk mengerti lalu segera memberi tanda pada semua pelayan untuk pergi.

“Apa dia belum pulang?” tanyanya pada si kepala pelayan begitu semua orang sudah pergi dan hanya menyisakan dirinya serta Hyemin.

“Tuan sudah menunggu di perpustakaan,” jawab wanita bermarga Oh itu. Jawaban yang langsung membuat Jung Hyemin yang berdiri di sampingnya menahan senyum yang berakhir mendapat lirikan dari Minrin.

“Kurasa aku harus pergi sekarang, Presdir. Sampai jumpa besok,” ujar Hyemin menyela lalu menatap temannya itu dengan aneh. Ya tentu saja wanita itu pasti berpikir aneh juga sekarang gara-gara jawaban kepala Oh tadi.

Minrin hanya menghela nafasnya pelan, melayangkan tatapannya pada Hyemin sekali lagi dan rasanya ingin menyumpal mulut wanita itu karena berani-beraninya menahan tawa di hadapannya. Jika orang lain, Minrin sudah pasti menyuruhnya diam dengan ucapan pedasnya. Tapi tidak pada Jung Hyemin. Wanita itu terlalu mengenal Minrin.

“Kalau begitu saya juga permisi.” Kepala pelayan Oh membungkuk singkat lalu kembali ke tempatnya.

Begitu si pelayan juga pergi, Minrin pun langsung melangkahkan kakinya untuk menemui laki-laki itu. Suaminya yang tadi menelepon untuk mengajak bicara.

Perpusatakaan miliknya adalah sebuah ruang baca yang terdiri dari dua rak buku yang menjulang tinggi hampir menyentuh langit-langit, satu set sofa berwarna putih dan satu meja kebesaran milik ayahnya dulu. Sebuah tangga melingkar di salah satu sisi dinding yang terhubung pada sebuah lantai mirip jembatan yang berguna untuk mengambil buku di rak atas. Ruangan ini telah menjadi ruang favourit Minrin sejak kecil. Tapi tidak lagi setelah ia ditinggal sendiri di rumah mewah ini.

Ia mendapati suaminya sedang berdiri menghadap jendela besar yang mengarah ke taman di luar rumah. Kedua tangannya tersembunyi di balik saku celana. Dari penampilannya yang masih mengenakan jas formalnya, Minrin sudah bisa menduga orang itu juga baru kembali dari kantornya.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan?” tanyanya dengan sengaja menyentuhkan high heelnya secara berlebihan ke atas lantai untuk membuat orang itu berbalik. Ia melepas blazer putihnya lalu melemparnya di samping tubuhnya yang kini sudah duduk di sofa.

Laki-laki di depan jendela itu menoleh menyadari kehadirannya. Tidak terkejut melihat Minrin yang manatap ke arahnya dingin dan juga benci seakan-akan ia terlalu sayang pada matanya untuk menatap berlama-lama.

“Aku tidak suka membuang waktu. Jadi lebih baik kau katakan apa maumu.”

“Kenapa Alexen?” tanya laki-laki yang kini berjalan untuk duduk di depannya. Seakan paham dengan maksudnya, Minrin hanya tersenyum tipis.

“Karena mereka punya dana cadangan yang lebih besar dari yang semua orang kira. Mereka juga sedang mengembangkan bahan ramah lingkungan yang bisa mengubah dunia. Dan juga… publik hanya tertipu jika mereka bangkrut, tapi sebenarnya tidak. Apa itu cukup menjadi alasan?”

“Kau sengaja melakukannya. Aku tahu kau merencanakan sesuatu. Karena Daehe juga berencana membeli Alexen. ”

Minrin mengubah tatapannya seketika itu dengan serius. “Kau tidak bisa seperti itu. Kita sepakat tidak akan saling mencampuri.”

“Kim Ryeowook-ssi,” sela Minrin kemudian, masih menatap suaminya itu. “Kenapa kau tiba-tiba peduli dengan apa yang aku lakukan di Shinjae. Oh… aku tahu, Karena gadis itu?  Kau sangat mengkhawatirkan gadis itu? Bukankah ini bagus, dengan terbelinya Alexen, itu akan menguntungkan kita.”

“Apa itu yang selalu dipikiranmu? Uang?” Kim Ryeowook tidak terima dan balas menatap wanita yang telah menjadi isterinya itu.

“Begitulah pelakon bisnis. Kau tentu tahu itu. Jika tidak, kita yang akan terdepak dari medan perang.” Minrin beranjak dari tempat duduknya, menyambar blazernya dan sekali lagi melayangkan tatapannya.

Ia tidak pernah mengerti kenapa gadis yang dimaksudnya tadi selalu menjadi seseorang yang penting bagi suaminya. Padahal dia tahu mereka berdua berada di pihak yang berlawanan selama ini. Karena Ryeowook adalah suaminya itu berarti dia harus berada di pihak Shinjae, bukankah seharusnya dia menjahui orang dari pihak Daehe? Seperti yang diakukan Minrin? Kecuali suaminya memang sudah jatuh hati pada gadis itu.

“Mengenai Lee Heejung,” ucapnya. “Aku tidak peduli bagaimana hubunganmu dengan gadis itu. Tapi aku tidak suka jika kau menentangku membeli Alexen hanya karena gadis itu.” Setelah mengucapkan hal itu, Minrin pun berlalu pergi dengan membawa semua rasa kesal yang langsung menyergapnya.

Kim Ryeowook yang masih di ruangan itu hanya menghela nafasnya sambil menatap punggung wanita itu. Wanita yang membencinya setengah mati, tapi juga wanita yang sayangnya menjadi isterinya selama tiga bulan ini.

Dan siapa itu Lee Heejung? Katakan saja ia adalah nama yang selalu membuat keduanya bertengkar saat disebut-sebut dalam pembicaraan.

Lee Heejung adalah anak dari Lee Sijung, pemilik Daehe. Perusahaan yang sangat berminat setengah mati pada Alexen. Gadis cantik dan berhati baik. Begitulah orang-orang menyebutnya. Tapi Minrin membencinya.

Dan…ya anggap saja rencana Minrin membeli Alexen adalah karena gadis itu. Karena gadis itu adalah Heejung yang dibencinya, dan karena perusahaan keluarganya adalah rival Shinjae sejak lama.

Sayang sekali bukan karena suaminya justru berpihak pada gadis itu dibandingkann isterinya sendiri. Sesuatu yang selalu membuat Minrin ingin melenyapkan dua orang itu.

***

Pagi itu Minrin dikagetkan dengan suara Jung Hyemin yang masuk ke dalam kantornya dengan terburu-buru. Wanita bermata sipit itu menatap Minrin tidak percaya. “Apa itu benar?” tanyanya.

“Apa kau benar-benar membatalkan pembelian Alexen?”

“Ada apa denganmu, Hyemin-ah?” Minrin hanya mengangkat kepalanya dan membalas dengan santai.

“Para pemegang saham sedang berkumpul di  ruang rapat sekarang. Mereka bilang kau membatalkan pembelian Alexen. Kenapa?”

Minrin tersenyum tipis begitu mendengar alasan Hyemin tiba-tiba datang dan menganggu. Sekretarisnya itu pasti sangat terkejut sekarang. Masih terlihat santai ia melanjutkan kegiatannya menandatangani laporan. “Kenapa? Karena harganya terlalu tinggi,” jawabnya tak kalah santai.

“Apa…? Tapi kau bilang kita bisa untung banyak. Kau juga begitu ingin membelinya sejak dua bulan yang lalu,” sahut Hyemin tidak mengerti pada Minrin yang tiba-tiba kehilangan minat untuk membeli Alexen setelah Daehe memberikan penawaran lebih tinggi tadi.

 “Sebenarnya aku tidak berencana membelinya,” jawabnya santai.

“Apa?”

Hyemin nyaris berteriak dengan kencang sekarang karena terkejut. Tapi melihat Minrin yang masih santai dengan kertas laporan yang harus ditanda tanganinya dan juga pena di jarinya, membuat Hyemin memelankan suaranya.

“Kupikir kau mencari tahu tentang Alexen karena ingin membelinya.” Entah apa yang ada dipikiran wanita itu. Tidak bermaksud membeli, padahal Minrin sudah bekerja keras untuk mengumpulkan data tentang keuntungan yang bisa didapat dari pembelian Alexen.

“Aku lebih menginginkan Daehe daripada Alexen.” Ia melanjutkan yang sekali lagi membuat Hyemin mengernyit bingung. “Kau tahu kan Daehe sangat menginginkan Alexen?” Minrin meletakkan penanya dan mengangkat kepalanya pelan. Hyemin mengangguk membenarkan.

“Karena Alexen diketahui bangkrut oleh publik, maka sudah pasti Daehe tidak akan punya saingan untuk membelinya. Tapi seperti yang kau lihat tadi, begitu kita ikut masuk untuk membeli Alexen dan menjadi lawan, mereka terus menikan harga penawaran.” Ia tersenyum. Seakan-akan ia sudah merencanakan ini sejak lama.

Hyemin mengubah ekspresinya sekarang, terlihat bingung. “Jadi maksudmu… kau hanya berpura-pura jadi rivalnya dalam membeli Alexen tapi yang kau inginkan adalah membuat Daehe bangkrut?” tanyanya memastikan dengan nada tidak percaya. Minrin tersenyum lagi dan mengangguk.

“Ya. Dan saat mereka bangkrut, mereka akan datang meminta tolong.”

“Kau benar-benar gila,” sanggah Hyemin yang penuh dengan nada pujian. Ia tahu Minrin cerdas, tapi tidak disangka ia akan memikirkan hal ini. Cerdas dan juga sedikit licik. Benar-benar tidak bisa dipercaya. “Dan jangan katakan kau juga sengaja tidak memberitahu Direktur Min.”

“Aku memang melakukannya.”

“Ya Tuhan…. kau benar-benar sudah gila!” Hyemin meloloskan tarikan nafasnya antara tidak percaya dan juga kekaguman yang ketara sekali. Minrin menatapnya sambil tersenyum

Tepat saat itu ponsel yang dipegang Hyemin berdering. Wanita itu dengan cepat melihat siapa si penelepon dan melihat rentetan nomor yang diberi nama sebagai kepala staff Daehe, seketika itu ia menatap ke arah Minrin.

“Angkatlah,” ujarnya. Hyemin berpikir jika Minrin pasti sudah bisa menebak siapa yang menelepon. Wanita itu benar-benar mengerikan. Tidak lebih dari satu menit Hyemin berbicara di telepon. Begitu panggilan berakhir, ia buru-buru menatap Minrin lagi, kali ini dengan tatapan yang lebih kagum.

“Mereka ingin bertemu denganmu. Seperti dugaanmu tadi, mereka ingin meminta bantuan. Aku harus menjawab apa?” tanya Hyemin.

“Apa lagi? Kau tahu aku tidak akan begitu saja memberikan bantuan kan?” Minrin menjawab dengan santai dan sekali lagi melihat kertas di atas mejanya.

Untuk sepersekian detik Hyemin hanya menatap Minrin. Kagum dan juga ngeri. Kagum karena dia bisa memikirkan semua ini hanya berselang dua bulan sejak diangkat menjadi presdir. Ngeri karena wanita itu tak segan-segan dalam bertindak.

 “Baiklah, aku mengerti. Tapi ngomong-ngomong… bagaimana dengan Heejung?” tanyanya lagi.

“Aahh…, kenapa kau menyebutkan namanya di sini, ha?”

“Aku pikir karena kau membenci Lee Heejung karena itu kau berencana menjegal Daehe dengan membeli Alexen.”

Minrin mendengus pelan lalu tersenyum sekali lagi dengan samar. “Yah… kau juga bisa anggap ini balasanku karena dia selalu seenaknya datang ke rumahku,” jawabnya santai. Sulit dipercaya. Hyemin bahkan hampir tertawa mendengar jawaban itu. Seakan-akan ia baru saja menerima pengakuan bahwa presdirnya sangat tidak suka melihat ada wanita lain yang menemui suaminya di rumah mereka. Tentu saja Hyemin tahu betul hubungan seperti apa yang dialami Minrin, suaminya dan juga Lee Heejung.

“Kau membencinya? Maksudku kau tidak suka dia menemui suamimu di rumahmu?” tegas Hyemin yang sayangnya langsung mendapat tatapan mematikan milik Minrin.

“Jaga bicaramu, Jung Hyemin-ssi,” sergah Minrin cepat.

“Baiklah… baiklah. Kurasa aku masih harus menunggu sampai mendengar kabar bahagia kalau kalian memutuskan untuk saling mencintai.” Hyemin terkekeh pelan membayangkannya.

“Kau harus bangun dari mimpi. Itu tidak akan terjadi.” Minrin meletakkan penanya lalu memutar kursinya menghadap jendela di belakangnya, menikmati pemandangan pagi hari kota Seoul dan berharap bisa merilekskan pikirannya. Akhir-akhir ini ia sering sakit kepala karena beban pekerjaan. Oh tidak, sebenarnya rasa sakit di kepalanya memang sering menyergap meski ia tidak sedang kalut dengan pekerjaan.

“Berhati-hatilah jika bicara. Kau bisa saja menyukainya suatu saat nanti.” Hyemin melanjutkan.

“Kau satu-satunya yang berani mengatakan hal itu padaku.”

“Ya… tentu saja. Hanya aku yang berani. Para pemegang saham di sini tidak akan seberani diriku. Mereka juga tidak akan mengerti dengan konsep cinta dan pernikahan yang sejak dulu melekat di otakmu.”

Minrin terkekeh pelan mendengar ucapan Hyemin barusan. Konsep cinta dan pernikahan? Ah… dia sudah lupa sebenarnya.

“Karena mereka terlalu tua?”

“Ya… tua, kuno dan mungkin mereka juga menikah karena dijodohkan sepertimu.”

Minrin mulai menyenderkan kepalanya lalu memejamkan matanya sebentar. Kilatan kejadian masa lalu itu selalu saja muncul jika ia dalam keadaan ini. Mobil yang melaju kencang di tengah-tengah kota Seoul. Aksi kejar-kejaran yang berujung maut. Sudah tiga tahun sejak kejadian yang mengubah hidupnya itu. Sayang sekali, ia masih kesulitan untuk bangun dari mimpi buruk itu.

Jika tidak ada kecelakaan, jika kakeknya bisa percaya padanya saat itu mungkin ia tidak akan menjadi isteri Kim Ryeowook saat ini. Jika seperti itu, ia pasti masih memegang kuat konsep cinta dan pernikahan miliknya.

Ia tersadar dan perlahan membuka matanya saat disadarinya Hyemin tidak lagi bersuara. Ia pun memutar kembali kursinya dan mendapati Hyemin memang sudah keluar entah sejak kapan dan kini di hadapannya Kim Ryeowook tengah menatap ke arahnya. Ah…ya tentu saja Hyemin hanya akan mau diperintah olehnya serta Ryeowook. Pria ini pasti tadi yang menyuruh Hyemin keluar.

Seketika itu Minrin menegakkan posisi duduknya. Hanya ada sedikit alasan suaminya akan datang repot-repot ke ruangannya seperti ini. Ah… mungkin saja ia datang karena Heejung memintanya.

“Jika kau datang untuk mencoba membujukku agar membantu Daehe, jangan berharap aku akan mendengarnya dengan serius.” Tatapannya lurus pada Ryeowook yang hanya berdiri diam di depan mejanya. “Kenapa? Karena itu kan kau datang? Beberapa saat yang lalu mereka sudah menghubungiku dan tentu saja aku menolak untuk membantu.”

“Aku datang bukan untuk itu,” sahutnya cepat.

“Lalu?” Minrin mengangkat kepalanya dan menatapnya.

“Makan malam keluarga dengan orang tuaku. Kau tidak melupakan hal itu kan?”

Minrin mengernyit samar, melirik kalender kecil di atas mejanya. Akhir pekan kedua di bulan ini. Tiap akhir pekan kedua di setiap bulan keluarga suaminya itu memang selalu mengadakan makan malam keluarga. Sejak Minrin menjadi isterinya, tentu saja ia tidak bisa sembarangan saja menolaknya. Dihembuskannya nafas dengan pelan lalu memutar kembali bola matanya untuk menatap Ryeowook.

“Tidak usah susah payah datang ke sini untuk mengingatanku. Kau bisa mengirimku pesan. Jangan membuang waktumu dengan percuma.” Ia beranjak berdiri lalu berjalan melewatinya untuk duduk di sofa penerima tamu di sebelah ujung ruang kerjanya itu.

Ia tidak percaya Ryeowook datang hanya untuk mengatakan hal itu, sudah pasti dia ingin mengatakan hal lain. Misalnya saja tentang ketidaksukaannya karena Minrin tidak memberi bantuan pada Dahae atau dia ingin menunjukan sikap pelindungnya terhadap Lee Heejung. Ya Tuhan… mendengar nama itu saja sudah membuat Minrin muak. Bukan… bukan karena gadis itu sangat dekat dengan Ryeowook. Masa bodoh dengan hubungan mereka. Tapi karena keluarga Lee Heejung adalah pemilik Daehe, perusahaan saingan Shinjae dalam bidang bisnis kimia.

“Bisakah kau bersikap lebih manusiawi sekarang ini? Jika kau tidak membantu Daehe, mereka mungkin akan bangkrut.”

Minrin menghentikkan jemarinya yang tadi mengetuk pelan bantalan sofa. Ia menoleh pelan ke arah Ryeowook yang duduk dengan tatapan tidak terima yang menghujan ke arahnya.

“Aku tidak peduli. Kenapa aku harus peduli pada Daehe, pada Lee Heejung?  jangan berharap banyak padaku.”

“Lee Heejung tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kita.”

“Oh ya… tapi kenapa aku selalu berpikir kau sedang berusaha melindungi kekasihmu itu dari kebangkrutan?” Minrin mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat tegas dan tatapan mata dingin penuh rasa benci.

“Shin Minrin!”

“Silahkan lakukan apapun padanya. Aku tidak peduli.” Minrin bangkit dari tempat duduknya lalu kembali ke tempat duduk kebesarannya, memberi tanda tersirat pada Ryeowook untuk segera keluar dari ruangannya. Ryeowook melihat itu. Lalu ia pun juga hanya bisa menghela nafasnya lemah dan memilih pergi seperti yang diinginkan Minrin.

***

Minrin tidak menyukai Heejung, bukan hanya karena Dahae adalah saingan berat Shinjae tapi karena gadis itu memang sudah dibencinya sejak lama. Sahabat macam apa yang berani mengkhianatimu? Minrin rasa Heejung salah satunya. Itu cerita lama tapi terkadang selalu membangkitkan rasa kecewa, marah dan berujung benci setiap kali Minrin mengingatnya.

Pribadi gadis polos yang baik hati yang melekat pada Heejung selama ini semakin membuat Minrin benci padanya. Sialnya kenapa harus gadis itu yang disukai suaminya? Ya Tuhan… apa di kehidupan yang lalu ia terlalu banyak berbuat dosa hingga sekarang ia selalu merasa sial jika menyangkut Heejung?

Sore itu, seperti biasanya Jung Hyemin akan menunggunya untuk pulang. Kemanapun ia pergi Hyemin memang selalu berada di belakangnya. Saat ia baru saja akan keluar dari lobi menuju mobilnya yang telah terparkir, ia melihat seorang gadis yang berdiri menunggunya.

“Lee Heejung-ssi…, apa yang harus kulakukan?” bisik Hyemin di telinga kirinya. Minrin tidak menjawab dan menoleh singkat pada Hyemin, memberinya tanda untuk meninggalkannya berbicara pada Heejung.  Hyemin mengerti lalu ia pun menyingkir pergi diikuti beberapa pengawal di belakangnya.

“Presdir Shin, Annyeonghaeseyo.” Heejung menyapa dengan senyuman yang tersungging, ia membungkuk singkat memberi hormat lalu berjalan mendekat ke arah Minrin. “Bisa kita bicara?” tanyanya.

***

Jujur saja, Minrin sudah menduga Heejung akan datang menemuinya setelah apa yang dilakukannya kemarin. Ia memang benar-benar menjalankan rencananya untuk membuat Daehe menggelontorkan banyak uang dan membuat mereka pada keadaan sekarang –mengemis meminta pinjaman-.

Seperti yang dikatakannya pada Hyemin, bahwa target Minrin bukanlah Alexen tapi Daehe. Pada pembelian Alexen kemarin, Minrin sengaja memasang harga yang tinggi dan bersikap seakan-akan ingin merebut Alexen yang sudah diincar Daehe. Tapi ketika Daehe memasang harga paling tinggi, dan Minrin tahu mereka sudah mempertaruhkan seperempat aset hanya untuk membeli Alexen, saat itulah Shinjae mundur dari bursa pembelian. Ya… Daehe memang mendapatkan Alexen tapi mereka justru akan kesulitan mencari dana untuk membelinya. Tentu saja setelah itu mereka akan datang pada Shinjae untuk meminta bantuan.

Pagi tadi, ia mendapat pesan dari Daehe bahwa mereka ingin bertemu dengannya. Lalu tadi salah seorang Direktur dari Daehe juga datang kepadanya dan meminta Shinjae untuk memberi pinjaman. Kedatangan yang langsung ditolak oleh Minrin. Dan sekarang Lee Heejung datang kepadanya. Alasan apalagi kalau bukan masalah pinjaman?

Cafe shop di perusahaannya masih buka dan disitulah Minrin memilih tempat untuk berbicara pada gadis yang mendatanginya tadi. Ia menelisik sebentar penampilan Heejung. Dress berwarna putih selutut yang dibalut blazer hitam, rambut yang tergerai dan polesan make up natural. Cantik dan anggun untuk seorang puteri keluarga Chaebol. Berbeda dari Minrin yang justru selalu menunjukkan sisi tegas serta angkuhnya lewat penampilannya. Jika disandingkan seperti ini, Minrin sedikit mengakui satu alasan kenapa banyak orang menyukainya dan kenapa sekarang suaminya juga bisa terjerat oleh pesonanya. Kata singkatnya Heejung adalah gambaran gadis baik-baik sedangkan Minrin adalah gadis yang terlihat jahat.

Aroma kopi di depan keduanya menguar minta dicicipi tapi tak satupun dari kedua wanita itu berniat menyentuhkan bibirnya di pinggiran cangkir putih itu. Hingga akhirnya Heejung menarik nafasnya pelan.

“Minrin-ya…,” panggilnya pelan. Panggilan yang dulu selalu diucapkannya. Dan Minrin sudah lama melupakan kalau mereka pernah bersahabat.

“Aku tahu kau perlu berpikir ulang untuk mengubah keputusan, tapi saat ini Daehe….,”

Sudah diduga Minrin. Tentu saja karena masalah pinjaman untuk pembelian salah satu pabrik kimia terbesar itulah yang membuat Heejung datang kepadanya. Sudah berapa kali ia mendapat kunjungan macam ini?

“Jika kau sudah tahu, kurasa kau tidak perlu susah payah datang menemuiku sekarang ini. Karena seperti katamu, aku memang tidak akan mengubah keputusanku.”

Minrin terus menatapnya. Melihatnya yang sekilas menggigit bibirnya, bingung membuat Minrin seperti di atas angin. Siapa yang berani menentangnya? Tentu saja ia adalah orang yang tidak akan mudah mengubah pikiran. Jadi lebih baik Heejung segera menyerah.

“Kumohon pikirkan lagi baik-baik. Aku mohon sebagai seorang teman,” ucap Heejung sekali lagi yang nyaris disambut tawa terbahak oleh Minrin.

“Teman? Sejak kapan kita berteman? Jangan salah paham, Heejung-ssi. Apa yang terjadi dulu itu anggap saja aku hanya memberi tumpangan pada orang yang kebetulan kulihat dan aku kasihan padanya.” Minrin menghentikan ucapan dan tawanya lalu menatap Heejung dengan tatapan tak bersahabatnya.

“Aku tahu kau masih membenciku. Aku….” suara Heejung berubah lemah seperti menahan tangis. Tapi tentu saja Minrin tidak peduli dengan tangisnya itu. “Tapi tidak bisakah kau menjadi Minrin yang dulu? Dalam hal ini saja… keluargaku … keluargaku bisa bangkrut jika kau tidak membantu Daehe.”

Minrin masih menatap lurus pada wajah Heejung. “Sayangnya aku tidak berniat kembali ke masa lalu. Kau salah jika mengira aku sudah lupa apa yang pernah kau lakukan padaku dan Seunghoon.” Perasaan benci itu menyergapnya diluar dugaan. Ia pun lantas berdiri, menatap sebentar ke arah Heejung yang terhenyak tidak percaya karena ucapannya. “Dan juga…. aku tidak peduli jika kau berkencan dengan Ryeowook, tapi aku tidak akan diam jika kau terus menyuruhnya untuk memata-matai isterinya sendiri,” lanjutnya dan langsung pergi meninggalkannya. Meninggalkan Heejung yang tertunduk menahan tangis.

Semua itu sudah berlalu tapi sial sekali karena sampai sekarang Minrin belum bisa melupakan sepenuhnya apa yang terjadi. Kecelakaan dan pengkhianatan Heejung padanya.

Saat ia kembali ke lobi dan melihat Hyemin sudah berdiri dengan Ryeowook, Minrin pikir Ryeowook dan Heejung pasti sengaja datang untuk membuatnya mengubah pikiran. Yang mereka tidak tahu bahwa Minrin sama sekali tidak berniat melakukannya. Entah itu Heejung ataupun Ryeowook yang akan menentangnya di garis depan, ia tetap tidak akan peduli.

“Presdir, anda ada acara makan malam keluarga.”

“Ya aku tahu itu. Kau bisa pulang sekarang,” potong Minrin cepat lalu mengangguk pada Hyemin. Jung Hyemin mengerti lalu membungkuk singkat dan berlalu pergi meninggalkan Minrin serta Ryeowook.

Tatapan Minrin berhenti pada Ryeowook yang berdiri di depannya. Sama sekali tidak ada senyum yang diberikan dari masing-masing keduanya. Mereka hanya berdiri di lobi perusahaan dengan orang-orang yang sudah pergi meninggalkannya.

***

“Heejung menemuimu?” tanya Ryeowook ketika mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang sama yang akan membawanya ke Incheon.

Minrin tidak menjawab dan hanya menatap keluar. Jujur saja kedatangan Heejung yang menunjukkan sikap seperti sahabat itu justru melukai Minrin. Membuka luka lama sekaligus memberinya celah untuk memikirkan kejadian tiga tahun yang lalu.

“Kau yang menyuruhnya datang?” Minrin balik bertanya setelah beberapa saat ia meredam rasa benci itu dalam dadanya.

Ryeowook meliriknya sebentar. Eskpresi Minrin terlihat berbeda setelah bertemu Heejung tadi. Ryeowook tidak tahu apa yang dibicarakannya, karena ia memang tidak tahu jika Heejung datang. Hyemin yang memberitahunya tadi dan sempat membuatnya khawatir. Ryeowook tahu betapa bencinya Minrin pada Heejung selama ini. Entah karena masalah apa.

“Hyemin memberitahuku,” jawab Ryeowook yang langsung mematahkan kemungkinan yang dipikirkan Minrin.

“Menyebalkan sekali.” Dia bergumam sendiri sambil memalingkan wajahnya ke samping, melempar tatapan ke arah jendela sekali lagi.

***

Makan malam keluarga. Jika mereka menyebutnya makan malam keluarga sudah pasti hanya akan ada keluarga inti saja tanpa kehadiran orang asing –orang yang tak berhubungan dengan keluarga-. Tapi Minrin salah kira. Ayah mertuanya adalah seorang anggota dewan. Posisinya yang penting dalam pemerintahan membuatnya mengenal banyak pebisnis. Ya… memang begitulah relasi antara pebisnis dan politikus. Mereka akan saling mencari di beberapa kesempatan dan tentu saja membantu. Dulu, kakeknya juga menjadi salah satu orang yang membantu ayah mertuanya terpilih menjadi anggota dewan saat pemilu. Bukan hanya karena ayah mertuanya adalah pemilik saham Shinjae terbesar di bagian perhotelan tapi karena mereka berdua sudah berteman sejak lama.

Dan tentu saja di beberapa kesempatan ayah mertuanya itu selalu mengundang teman-temannya untuk bergabung di makan malam keluarga. Dalam pikirannya pasti sangatlah bagus jika mempertemukan banyak orang penting di satu meja terutama ada dirinya, Shin Minrin Presdir Shinjae yang sekarang tengah naik daun. Sayangnya Minrin tidak terlalu menyukai caranya saat ia diharuskan satu meja dengan Presdir Lee Sijung, pimpinan Daehe yang juga adalah ayah dari Lee Heejung sekarang ini. Entah ayah mertuanya yang mencetuskan ide ini, entah Ryeowook atau Lee Sijung sendiri yang menawarkan diri. Siapapun itu, dia sudah membuat kesalahan karena melakukannya.

Selama lima belas menit pertama sejak Minrin duduk di depan meja panjang ruang makan keluarga suaminya, ia sudah menahan diri untuk tidak keluar dari ruangan. Ia memilih diam, bersabar dan menikmati daging di depannya dengan tenang sementara ayah mertuanya sibuk bicara bisnis dengan Lee Sijung. Jika kata Alexen muncul dalam pembicaraan mereka, dipastikan Minrin akan melepas topeng yang tengah dipasangnya.

“Presdin Shin…,” Lee Sijung memanggilnya tiba-tiba dengan sangat formal seakan-akan mereka sedang membicarakan bisnis. “Aku tahu kau menolak semua orang yang kuperintahkan untuk menemuimu. Karena itu aku sendiri yang akan mencoba berbicara denganmu. Aku masih berharap kau akan membantu kami, Presdir. Bukankah kau bersahabat dengan Heejung? Anggap lah kau sedang membantu sahabatmu,” ujarnya yang membuat Minrin tak punya kesempatan untuk mengelak. Ayah mertuanya, ibu mertuanya bahkan termasuk Ryeowook memilih diam dan tidak mencoba menyela.

Sialan.

Ia mengangkat kepalanya dan langsung memasang senyumnya. “Jeoseohamnida, tapi sebenarnya kami biasanya tidak membicarakan bisnis saat sedang makan malam seperti ini. Bukankah begitu, Abonim?” Ia tersenyum pada ayah mertuanya, ibu mertuanya dan terakhir pada Lee Sijung.

“Ah.. .itu. Y-ya…., kami terkadang hanya akan mengobrol ringan.” Ayah mertuanya menyahut terburu-buru seketika itu.

Hening sebentar sampai akhirnya Lee Sijung menyambutnya dengan tawa “Kuere… kuere. Kau memang benar. Menantumu memang sangat pandai, Jiwook-ah.”

Jika tidak ada orang yang mesti dihormatinya di tempat ini, Minrin sudah pasti membalas ucapan Lee Sijung itu dengan kata-kata pedasnya. Sebaliknya ia hanya diam dan melanjutkan fokusnya pada isi piringnya.

“Jika kau tidak keberatan, aku ingin membicarakan soal itu. Ya… tidak sekarang. Kita bisa mencari waktu yang tepat,” ujar Sijung kemudian yang lagi-lagi membuat Minrin terpaksa menghentikkan gerakan tangannya mengiris daging.

“Paman,” sergah Ryeowook cepat yang seakan membaca situasi jika istrinya yang duduk di sampingnya akan siap meledak jika ada orang yang membahas Alexen sekarang ini. “Dia akan meluangkan waktunya, tapi kupikir kita bisa membahas hal lain di sini.” lajutnya.

Minrin bisa melihat Lee Sijung yang tengah menatapnya. “Baiklah, aku minta maaf. Kurasa aku dan isterimu akan mencari waktu lain untuk membicaraakn hal itu,” ucapnya mengangguk-angguk mengerti.

Rasanya Minrin ingin menyumpal mulut itu dengan sesuatu. Ia menghela nafasnya perlahan, mencoba menahan rasa amarah dan memilih untuk tidak terlalu peduli.

Sekitar satu jam ia terjebak di antara orang-orang itu, membuat Minrin rasanya ingin segera pulang dan beristirahat. Ia hampir melakukannya begitu Lee Sijung pulang dan hanya menyisakan dirinya, Ryeowook dan kedua mertuanya. Sayangnya, ibu mertuanya menahan dirinya untuk pulang dan mengucapkan sesuatu yang sekali lagi membuatnya pusing.

“Minrin-ya, kenapa tidak menginap di sini saja. Ini sudah terlalu malam. Kalian pasti lelah,” bujuknya.

Eomonim, gwaenchana. Aku tidak ingin merepotkan,” ucap Minrin berusaha untuk menolak. Senyumnya mengembang tulus, sesuatu yang memang harus selalu dilakukannya jika berhadapan dengan mertuanya ini.

“Merepotkan apanya? Kau kan juga anggota keluarga di rumah ini. Lagipula sudah lama kalian tidak menginap di sini.”

“Itu benar. Kalian bisa kembali ke Seoul besok pagi.” Ayah mertuanya ikut membujuk, membuat Minrin serba salah. Sialnya, Kim Ryeowook hanya diam di sampingnya tanpa berusaha menyelamatkannya. Ya… tentu saja ia tidak akan melakukannya.

“Tapi eommonim…,” Minrin melirik ke arah Ryeowook, berharap jika laki-laki itu akan mengucapkan sesuatu. Tapi melihatnya yang hanya diam akhirnya membuat Minrin tidak punya pilihan.

“Baiklah, kami akan menginap,” ucapnya mengalah.

“Terimakasih. Kalau begitu ayo masuklah…,”

Alasan kenapa Minrin selalu berusaha menolak permintaan untuk menginap adalah karena ia tidak bisa tidur satu kamar dengan laki-laki itu. Selama mereka tinggal di rumahnya di Seoul, mereka tidak pernah berbagi kamar bersama. Karena keduanya memang tidak menyukai pernikahan ini, jadi itulah yang menjadi alasan. Pernikahan ini hanya berlaku di depan hukum tidak lebih, hanya perjanjian hitam di atas putih yang tak berarti apapun.

Dan sekarang ia harus terjebak satu ruangan dengannya. Bukan yang pertama tapi Minrin memang selalu tidak menyukainya.

“Kau kesal karena ucapan Presdir Lee tadi.” Ryeowook berujar singkat ketika keduanya sudah berada dalam ruangan lebar dengan satu tepat tidur king size di bagian kiri.

“Aku kesal karena semua orang mencoba mengubah pikiranku. Sesuatu yang tidak akan terjadi.” Minrin melepaskan anting-anting di telinganya dan jam tangan perak bernilai jutaan lalu melihat Ryeowook melalui pantulan cermin di depannya.

“Kau tahu, aku tadi berpikir jika kau atau ayah sengaja mengajaknya datang dalam makan malam itu untuk memberinya kesempatan bicara padaku. Tapi sudahlah, aku tidak ingin mempermasalahkannya.”

“Kenapa kau tidak memikirkannya?”

Minrin mendengus kesal. “Kau jangan mencoba mempengaruhiku lagi.” Ia pun beranjak dari tempat duduknya lalu menuju kamar mandi. Meninggalkan Ryeowook yang hanya bisa menghela nafasnya lemah sembari menatap kepergiaannya.

Minrin kembali beberapa saat kemudian dan mendapati Ryeowook masih duduk di tempat yang tadi. Sudah lama Minrin tidak berada satu kamar dengan pria itu. Jika di rumah mereka selalu menggunakan kamar yang terpisah. Ia mulai berjalan ke depan meja riasnya, menatap lagi suaminya dari pantulan cermin di depannya.

“Kau… apa yang kau pikirkan tentang Heejung?” tanya Ryeowook tiba-tiba. Tanpa disadari Minrin, pria itu juga tengah menatapnya melalui kaca besar di meja rias.

“Seorang pengkhianat dan orang yang kubenci,” jawab Minrin tanpa berpikir. “Jadi, meskipun kau menyukainya. Bisakah kau tidak membicarakan orang itu di depanku?” ia memutar tubuhnya dan kini menatap pria itu langsung.

Ryeowook terdiam lagi sampai akhirnya Minrin beranjak dari tempat duduknya, mengambil tas yang tadi dibawanya dan mencari sesuatu di dalam sana.

“Kau masih bergantung dengan obat itu?” tanya Ryeowook lagi ketika memperhatikan Minrin sudah memegang sebuah botol berisi tablet berwarna putih.

Sejak mereka menikah, Ryeowook baru tahu kalau ternyata Minrin tidak bisa lepas dari obat penghilang stress itu. Dia pikir Minrin sudah berhenti meminumnya. Tapi sepertinya Minrin belum juga lepas dari obat itu.

“Ini obat yang diresepkan dokter pribadiku. Karena sakit kepalaku sering kambuh akhir-akhir ini, aku memintanya untuk meresepkannya lagi,” jawabnya tak terlalu peduli. Ia menoleh lagi pada Ryeowook lalu memperhatikannya sebentar. “Kau tak perlu tidur di sofa. Aku sudah terbiasa sekarang.”

“Tidak. Kau tidur saja di sana, aku akan tidur di sini.” Ryeowook menolak. Ia berjalan dan mengambil selimut tebal dan juga bantal dan membawanya ke sofa panjang. Dilihatnya sekilas Minrin yang masih diam, berpikir. “Tidak perlu khawatir, mereka tidak akan masuk ke kamar tiba-tiba lagi untuk memastikan kita tidur seranjang atau tidak,” lanjutnya.

Minrin pasti teringat kejadian satu bulan lalu saat ibunya tiba-tiba masuk ke dalam kamar ini dan mendapati mereka tidur terpisah. Saat itu ibunya bahkan menginterogasi keduanya, bertanya macam-macam apakah mereka sedang ada masalah dan hal-hal lainnya membuatnya hampir kehilangan alasan untuk menutupi fakta yang sebenarnya.

“Aku hanya berpikir mungkin kita bisa bersikap seperti suami istri pada umumnya dan mengurangi kecurigaan semua orang tentang pernikahan kita.”

“Kenapa?”

“Hanya bersiap jika suatu saat mereka akan menyerangku dan membuatku lengser.” Minrin menjawab.

Ryeowook hanya diam sekali lagi, mencoba untuk mengerti tapi tentu saja gagal. Apa yang ada di pikiran Minrin hanyalah Shinjae dan bagaimana ia mempertahankan kursi presdirnya. Bukankah itu juga yang menjadi alasan wanita itu menerima pernikahan ini?

“Tapi kurasa kau tidak berminat melakukannya. Gadis itu akan sangat cemburu nanti.”

“Bukankah kau sendiri yang bilang tidak ingin mendengar namanya disebut?”

Minrin menoleh sekali lagi. Menataap Ryeowook yang juga masih menatapnya. “Ya. Aku memang tidak ingin mendengar tentangnya,” jawabnya. Ia pun naik ke atas ranjangnya Diperhatikannyanya sekilas suaminya itu lalu, menarik selimutnya hingga dagu dan mulai memejamkan matanya.

***

CUT

Ya, ini ff yg kemarin kubilang. Soal cerita… oke memang sudah sangat biasa. Banyak tema cerita ff macam ini sebelumnya. Tapi ya..apalah yg bisa kuperbuat. Ide ngalir gitu aja. Haha. Dan sepertinya saya juga tidak berencana membuat ff ini berchapter banyak. Bisa dibilang ff ini ada karena saya yang gagal menyelesaikan ff chapter pertama di blog ini. Huhu…. folder ff itu bahkan sudah banyak sarangnya.

Baiklah, saya nggak mau banyak cuap, seperti biasanya saya tidak memaksa untuk memberi komentar, tapi jika ada yang bersedia terimakasih banyak. Komentar kalian adalah bagian tersendiri yang memberi saya suntikan semangat. 🙂

Advertisements

12 thoughts on “The Wedding Part 1

  1. Di saat lagi mumet sama tugas dan ada new update di sini itu rasanya╥﹏╥
    Iya memang ide ttg perjodohan udah banyak tapi tetep penasaran sama cerita ini!! Keren aku sukaaakk❤ nanti sikap mereka berdua bakal berubah kan ya ya kan kan yaaa?? Hahaha
    Ditungdu kelanjutannya ya! Aku selalu menunggu new ff di sini😊 fighting!!

  2. Aku kira ini tetang pernikahaan nya mereka di ryeomin story,trnyata beda cerita…
    Seru nie, jadi pengen tau pov nya ryeowook.
    Dan cerita lengkap nya antra minrin heejung,sma ryeowook heejung..
    Mereka beriga punya ikatan yg kuat kya nya,hahaha😁

  3. Aku kira pernikahan mreka bakal adem ayem romantis eh taunya ngga.
    Tapi aku suka sma karakter minrin yg beda dri biasanya di ff ff yg lain.
    Dan iya mngkin ff ttg perjodohan kek gni bnyak tapi ff ini ttp beda dri yg lain, aku paling suka sama pemilihan katanya yg ga belibet yg pas bnget. Ttp bikin penasaran aku.
    Lanjut yaaa aku selalu nggu ff ff dsini ^^

  4. Astaga karakter minrin disini banting stir(?) Banget dari karakter di ff eonn sebelumnya *abaikan bahasaku :3
    Aduhhh aku kira merried lifenya bakal lovey dovey gitu eonn eh taunya banyak konflik gini.
    Ahhhh minrin kenapa jadi karakter yang haus akan kekuasaan gini sih >_<
    Kalo ryeowook kayanya masih sama kaya di secret guard, orangnya dingin.
    Ahhhh aku tunggu bagian romancenya eonn, jangan bikin mereka berantem lama2 ya 😀
    Tolong bukakan hati Minrin ya allah *seketika berdoa*

    • hahaha iyaaa…. sekali-kali lah si Minrin dibikin kayak gitu. *puas seketika*
      ehem…. ryeowook masih kelihatan dingin ya? soalnya belum kebagian banyak scene sih, lihat saja nanti deh… pengennya nggak dibikin berantem, romantis romantis aja 😀

  5. udah lama gak ngunjungi blog ini dan sekalinya buka ada FF the wedding rasanya senang sekali, aku suka bgt kalau Minrin dan wookie nikah maklum selain suka couple ini aku suka ff genre marriage life. Part 1 keren bgt paling suka part pas Daehe bangkrut dengan cara licik Minrin yg pura2 beli sahamnya Alexen mirip ama salah satu scene drakor Youngpal di tunggu next chapternya ya 😀

    • hmm.. yes scene di yongpal waktu yeojin ngehancurin perusahaan pacarnya dulu emang yg menginspirasi ff ini.
      terimakasih yaa.. sip dilanjutkan 🙂

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s