(FF Series) Secret Guard Part 9

secret guard 5

Tittle : Secret Guard Part 9 | Author : Whin | Cast : Shin Minrin, Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Shin Ranran, Han Sungyoung | Genre          : Action, Romance, Revenge | Length : Chapter (6458 words)  | Rating: PG 15 | Disclaimer: This story is just Fan fiction, Super Junior members is not mine. I just have the story plot and artwork. Please, don’t copy paste it. It’s Inspired by a movie called Abduction and some Kdrama

***

Minrin mengayunkan kakinya di jalan setapak itu dengan pelan. Etalase toko yang memajang berbagai merk pakaian, sepatu hingga kaca mata sama sekali tak berhasil menarik minatnya.  Kepalanya terasa berat tiba-tiba ketika teringat ucapan Minhyuk padanya. Ucapan penuh rasa kagum dan harapan yang besar pada diri Minrin, gadis yang katanya tadi disukainya. Ia ingat bagaimana ekspresi penuh harap itu mendadak tergantikan dengan ekspresi kecewa begitu Minrin menolak ajakan kencan itu dengan halus. Sesuatu yang sedikit membuat Minrin tak enak hati. Tatapan matanya berubah tidak fokus, bingung dengan berbagai pikiran yang memaksa masuk dalam kepalanya. Membuat Minrin akhirnya menghentikkan langkah kakinya. Dia menghela nafas dengan keras, berusaha menyemangati dirinya sendiri bahwa Minhyuk tidak akan berubah memusuhinya hanya karena ditolak cintanya.

Sekitar sepuluh detik ia berdiri  di trotoar itu dalam diam, hingga tepat di detik berikutnya ia dikagetkan oleh suara klakson mobil yang membuat jantungnya seakan meloncat keluar karena kaget. Ia menoleh cepat, menahan sumpah serapahnya ketika melihat si pengemudi menurunkan kaca mobilnya dan Minrin menunduk sedikit untuk melihatnya. “Ryeowook-ssi?” tanyanya nyaris berseru kaget.

“Masuklah!” Minrin mengerjapkan matanya pelan mendengar suara perintah yang terdengar sedikit memaksa itu. Dia tidak bertanya apapun dan memilih mengikuti perintah itu.

Hawa dingin terasa begitu Minrin mendudukan tubuhnya di kursi penumpang samping. Bukan..bukan karena pendingin mobil yang  berada di batas terendah, melainkan karena sikap Ryeowook yang mendadak berbeda. Oh..seharusnya Minrin tidak pernah melupakan bahwa Kim Ryeowook tidak pernah bersikap hangat pada siapapun. Dia selalu dingin, seperti itu. Namun bukan sikap seperti itu yang dilihat Minrin sekarang ini. Dia bahkan tidak menatap ke arah Minrin dan hanya diam di balik kemudinya. Minrin menoleh lalu mulai memperhatikan wajahnya. Ekspresi pria itu seperti menahan kesal dan mungkin juga marah. Oh, ini pasti gara-gara Minrin tidak memberitahunya kalau mau pergi.

“Soal aku pergi hari ini, sebenarnya….,”

“Kau menemuinya lagi?” potong Ryeowook cepat bahkan sebelum Minrin memikirkan harus mengatakan apa sebagai pembelaan.

Nde?” Kedua matanya membulat sedikit. “Sebenarnya….,”

“Kenapa kau menemuinya?” potong Ryeowook lagi. Seakan-akan dia memang tidak ingin mendengar kalimat apapun dari Minrin selain jawaban atas pertanyaan yang tadi diajukannya.

Entah kenapa Minrin langsung mengurungkan niat untuk meneruskan pembelaanya setelah itu. Toh, ia membela diri pun Ryeowook tetap akan memarahinya –menyalahkannya- karena pergi secara diam-diam, persis seperti biasanya. Terlebih lagi karena orang yang ditemuinya tadi adalah Kang Minhyuk, salah satu orang yang dicuragi Ryeowook serta NIS terlibat dengan si brengsek Kim Donggun. Kali ini Minrin menoleh dengan alis mengenyit heran sekaligus ekspresi yang berubah kesal di matanya. Kesal karena sekali lagi Ryeowook melarangnya pergi, kesal karena sikap pria itu yang selalu menyebalkan dan dia sendiri bingung kenapa mendadak menjadi kesal hanya karena Ryeowook memberinya pertanyaan itu. Dia pun menghela nafasnya pendek

“Ya, aku menemuinya,” sahutnya dengan nada kesal.  “Kenapa memangnya? Itu bukan urusanmu dan aku mulai tidak suka dengan sikapmu yang selalu melarang itu. Aku mencoba memberitahumu tadi tapi kau langsung pergi, jadi bukan sepenuhnya kesalahanku. Hah… lagipula, kau ini siapa? Kita hanya kebetulan kenal dan terpaksa terjebak berada di dalam mobil dan rumah yang sama karena masalah NIS.”

Benar-benar tidak di sangka Ryeowook akan mendapat jawaban macam itu dari Minrin. Pria itu pun menoleh seketika. Nada tinggi yang diucapkan bercampur dengan rasa kesal sekaligus amarah. Gadis itu tidak main-main dengan ucapannya. Kilatan kekesalan sekaligus mungkin kebencian terpancar dari matanya, membuat Ryeowook mengurungkan niat untuk mendebat.

“Kita berdua….hanya seperti rekan kerja. Kau sedang menjalankan pekerjaanmu dan aku kebetulan menjadi orang yang berhubungan dengan pekerjaanmu itu. Dan sebagai rekan kerja, tidak seharusnya kita saling mencampuri urusan pribadi.”

Detik berikutnya Minrin membuka kembali pintu mobil itu dan bergegas keluar. Dia sendiri tidak tahu kenapa menjadi sangat kesal dan marah seperti itu. Kakinya melangkah berlawanan arah dengan mobil yang masih berhenti itu. Ryeowook yang duduk di dalamnya juga masih tidak bergerak.

Dapdaphae… apa dia harus selalu bersikap seperti itu? setelah semua yang terjadi…..apa dia hanya akan melarangku pergi karena alasan I.L dan data itu? Tsk…menyebalkan sekali!” Kakinya menghentak keras dengan kata-kata menggerutu serta umpatan yang terus keluar dari mulutnya.

Dia berhenti sejenak, mengatur nafasnya yang memburu lalu menoleh ke belakang. Mobil putih yang ditumpangi Ryeowook masih ada di sana. “Kenapa dia tidak pergi? Ya Tuhan ini benar-benar menjengkelkan! Jika dia tidak mau pergi setidaknya pergi menyusulku, apa yang sedang dilakukannya di sana?” Dia baru saja ingin melangkah lagi ketika dilihatnya mobil itu sekarang benar-benar menjauh darinya. Bukannya lega tapi rasanya semua kekesalan sekarang memuncak di ubun-ubunya.

Aissh.. jinjja!!”

***

Perhatiannya memusat pada Minrin dari kaca spionnya yang sekarang tengah menoleh kebelakang dengan raut wajah kesal. Tidak ada niatan dalam dirinya untuk memutar balik dan menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobilnya lagi. Ya..mungkin apa yang dikatakannya itu benar. Ryeowook hanya sedang bekerja sekarang ini. Dan kebetulan saja gadis itu berhubungan dengan pekerjaannya. Tidak seharusnya dia mencampuri urusan pribadi gadis itu. Kenapa ia harus susah payah menyimpan rasa khawatirnya tentang gadis itu?

Seandainya pertanyaan itu muncul beberapa bulan yang lalu, Ryeowook akan menjawab karena Minrin adalah client nya, salah satu orang yang membutuhkan perlindungan darinya. Namun tidak lagi sekarang. Entah sejak kapan tapi dia mulai menyadari sesuatu.  Bahwa alasannya menyuruh Minrin berhenti menemui Minhyuk bukan lagi sebatas karena Minhyuk mungkin saja membunuhnya tapi karena ada sebuah perasaan lain. Bahwa alasannya menjaga gadis itu dan mengkhawatirkannya tidak lagi karena Kim Donggun tapi karena Ryeowook tidak ingin apa yang dulu terjadi terulang kembali. Apa yang ditakutkannya mungkin benar sudah terjadi sekarang ini bahwa dia menyukai gadis itu

Mobil yang dikendarainya kemudian dipacu pelan meninggalkan gadis yang masih menoleh ke arahnya itu. Sungguh dia mencoba untuk tidak peduli bagaimana gadis itu akan pulang. Dia juga berusaha sangat keras membuang pikiran negatif kalau kalau ada kaki tangan Kim Donggun yang tiba-tiba menyeretnya. Mungkin pikiran itu terlalu jauh, tapi sungguh Ryeowook masih saja mencemaskannya. Berusaha membuang jauh-jauh semua itu, dia pun menambah laju mobilnya.

Ryeowook sampai di rumah lebih dulu. Seperti biasa, Kim Jongwoon belum pulang sedangkan Sungyoung juga tidak terlihat di dalam rumah. Masih dengan rasa cemas yang melanda dan berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya, Ryeowook pun memilih duduk di salah satu sofa ruang tengah, ruangan pertama yang tentu saja akan dicapai Minrin begitu menginjakkan kaki di rumah ini. Tidak lama setelah itu terdengar pintu dibuka lalu ditutup secara perlahan. Dia mendongak dengan penuh harap dan melihat sosok Minrin yang berjalan masuk seketika itu membuatnya bernafas lega. Gadis itu berhenti sebentar, melihat ke arahnya tapi langsung membuang muka dan tanpa mengucapkan apapun berlalu pergi.

Sikapnya itu membuat Ryeowook langsung menyusulnya dan menarik pergelangan tangannya. Minrin terhenti, berbalik dan langsung menatapnya tidak suka. “Apa? Kau ingin bertanya lagi siapa yang kutemui? Apa ada orang asing yang mengikutiku atau kau ingin bertanya kenapa aku baru pulang?” tanyanya dengan sinis.

Ryeowook melepaskan tangannya tanpa sadar begitu nada penuh kekesalan itu menghujaninya. “Tidak,” jawabnya cepat. Minrin mendengus dan sama sekali tidak berminat mendengar apapun yang akan diucapkan Ryeowook.

“Aku ingin bertanya, kenapa kau menemui Kang Minhyuk?”

Ah… Minrin sudah menduga pertanyaan itu. Pertanyaan serupa seperti tadi dan sungguh Minrin tidak suka mendengarnya. “Apa kau benar-benar berpikir dia bagian dari rencana Kim Donggun? Astaga…. kau benar-benar tidak paham kalau begitu. Kang Minhyuk tidak ada hubungannya dengan Kim Donggun. Ayahnya hanya kebetulan berteman dengan pria itu, tapi itu tidak berarti Minhyuk juga mengenalnya.” Minrin menyahut.

“Apa aku pernah mengatakan kalau dia mengenal Kim Donggun?” sahut Ryeowook cepat. Tidak sabaran dan juga mendadak ikut kesal. Dia menatap Minrin.

Minrin membalas tatapan itu lalu beberapa detik kemudian menghela nafasnya. “Tidak. Kau memang tidak tidak pernah mengatakan hal itu. Jika bukan karena itu, lalu kenapa kau melarangku?” tanya Minrin kemudian dengan nada menantang.

Ryeowook masih menatapnya. “Itu karena…..,” dia tidak melanjutkan kata-katanya.

Sementara Minrin menunggu jawaban yang akan diberikan Ryeowook. Entah kenapa dia harus menahan nafas untuk mendengar jawaban pria itu.

“Karena aku tidak suka kau menemuinya,” jawabanya yang seketika itu membuat Minrin membulatkan matanya perlahan. Jantungnya tiba-tiba berdebar tidak seperti biasanya. Reaksi tubuhnya yang mendadak sangat konyol itu mau tidak mau membuat Minrin bertanya-tanya sendiri.

“Apa ….yang kau katakan?” tanya Minrin tidak percaya.

“Lupakan saja. Tidak penting,” sahut Ryeowook lalu berlalu pergi. Tatapan Minrin tidak lepas setelah kepergiannya, mendengus kesal lalu ia juga berbalik pergi.

Tapi kenapa jantungnya berdebar mendengar ucapan Ryeowook tadi? Sepertinya ada yang salah. Seharusnya dia kesal dan membencinya, tapi kenapa bibirnya justru membentuk senyum dengan sendirinya?

***

Ryeowook benar-benar merutuki ucapannya. Bagaimana bisa ucapan macam itu keluar dari mulutnya? Dia pasti sudah gila. Berulang kali ia menarik nafas panjang, menghembuskannya dengan cepat. Tangan kiri terangkat menyentuh dada kirinya, memastikan bahwa suara debaran yang membuatnya tidak enak bukan berasal dari sana. Sial, ternyata jantungnya juga ikut tidak beres. Dirasa bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama di rumah ini bersama gadis itu dengan detak jantung yang kelewat berlebihan, maka Ryeowook pun menyambar kembali kuncil mobil, ponsel dan jaketnya lantas bergegas keluar.

Ia beruntung tidak harus bertemu Minrin saat akan keluar rumah. Dipacunya mobil dengan sedikit berlebihan. Mungkin sebaiknya ia menemui Kyuhyun. Banyak hal yang harus dibicarakan dengan pria itu terkait data yang dimilikinya.

Mobilnya memasuki area parking gedung NIS. Sebenarnya Ryeowook selalu menghindar datang ke tempat ini, tapi karena Kyuhyun sepertinya ada di sini jadi tidak ada pilihan untuknya. Ia melewati beberapa karyawan dan sesama agen yang mengenalnya saat masuk ke dalam. Mereka menyapa Ryeowook yang hanya dibalas dengan senyum anggukan. Tidak lama sampai akhirnya ia menemukan Cho Kyuhyun sedang berbicara serius dengan seseorang. Ryeowook menunggunya sebentar di sisi samping sampai Kyuhyun selesai bicara. Pria itu menoleh dan melihat kedatangan Ryeowook, lalu cepat-cepat menyuruh orang yang tengah bicara dengannya untuk pergi.

Hyung, ada apa kau kemari?” tanyanya begitu menghampiri Ryeowook yang setia berdiri dengan kedua tangan diselipkan di balik jaket hitamnya.

“Kau ada waktu?” tanya Ryeowook tanpa berbosa-basi. Kyuhyun terlihat melihat jam di pergelangan tangannya sebentar lalu mengangguk.

“Ya, tentu saja. Ada sekitar satu jam sebelum aku bertemu Ketua Tim.”

Ryeowook mengangguk kecil, lalu melihat sekeliling mereka yang tampak sangat ramai. “Tidak di sini. Kita keluar sambil minum kopi saja.”

Kyuhyun menyetujuinya. “Baiklah, kajja..!”

Coffee shop tidak jauh dari gedung NIS menjadi pilihan mereka. Beruntung sekali suasana tempat itu sepi membuat Ryeowook leluasa utuk berbicara pada Kyuhyun. Dua kopi tersaji di depan mereka beberapa menit setelah mereka duduk.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”

Ryeowook tidak langsung menjawab. Ia masih menimang-nimang antara bicara jujur ataukah tidak mengenai data itu pada Kyuhyun. Tapi jika tidak bicara jujur, Ryeowook tidak yakin bisa memecahkannya sendirian. Jelas, ia butuh seseorang yang bisa membantunya. Tidak mungkin ia langsung memberitahu NIS. Kata-kata Shin Taewoo di telepon membuatnya semakin yakin bahwa ia tidak bisa gegabah memberitahu NIS.

“Apa aku bisa mempercayaimu?” tanya Ryeowook sebagai pembuka. Kyuhyun sempat dibuat mengernyi heran tapi akhirnya bisa menguasai diri agar tidak dicurigai.

“Tentu saja. Kenapa? Apa ini sebuah rahasia yang sangat penting?” candanya

“Saat kau pertama kali bergabung dengan agen 1315, apa tujuan awalmu?” tanya Ryeowook memastikan, mengabaikan nada canda yang Kyuhyun gunakan. Cho Kyuhyun sedikit menegang seketika. Dia pun berusaha menguasai diri dengan tersenyum bodoh. Pertanyaan Ryeowook terdengar seperti pertanyaan interogasi hingga membuat Kyuhyun tidak boleh salah menjawab. Bisa saja Ryeowook memang tengah mencurigainya atau dia sedang mencari alasan untuk mempercayai Kyuhyun. Entahlah. Tapi apapun itu, Kyuhyun memang harus membuat pria  itu percaya padanya.

“Karena aku dekat dengan Minrin, karena itu aku direkrut. Aku tidak mengerti kenapa, tapi aku mengiyakan saat mereka mengatakan ini semua demi keselamatan Minrin.”

“Begitu?”

Kyuhyun mengangguk. “Kenapa tiba-tiba bertanya itu?” tanyanya lagi.

“Aku berpikir ada orang lain di dalam NIS yang berpihak pada Kim Donggun,” jawab Ryeowook tanpa banyak berpikir. Ia tidak menyadari jika jawaban itu seperti sebuah tamparan semu bagi Kyuhyun.

Laki-laki itu seketika diam tercekat di tempatnya sesaat begitu mendengar jawaban dari Ryeowook. “Benarkah?” tanyanya memastikan, berpura-pura dan sekuat tenaga menekan suaranya agar tidak terdengar gugup. Kyuhyun menurunkan tangannya di bawah meja, dan meremasnya. Ia gemetar.

“Aku belum tahu siapa, tapi aku rasa memang ada. Karena itu aku tidak bisa gegabah. Data yang kuminta untuk dibuka itu sebenarnya adalah data yang selama ini kita cari.”

“Apa?” tanya Kyuhyun berpura-pura terkejut, meski sebenarnya ia sudah tahu.

Ryeowook mengangguk mengiyakan. “Ceritanya panjang. Dan aku benar-benar butuh bantuanmu, Kyu. Aku rasa kau satu-satunya yang bisa kupercaya karena kau adalah sahabatnya Minrin.” Ryeowook melanjutkan.

Kyuhyun susah payah menelan ludahnya saat mendengar kata sahabat. Ah…ini benar-benar buruk. Jika bukan karena menyelamatkan orang tuanya, ia tidak akan bertindak sejauh ini. Memanfaatkan kepercayaan Ryeowook padanya untuk mengambil data itu. Secara tidak langsung ia juga mengabaikan keselamatan Minrin. Kyuhyun tidak punya pilihan. Apapun akan dilakukannya untuk menyelamatkan orangtuanya.

“T-tentu. Aku akan membantu. Woaah….kau harus menceritakan bagaimana kau mendapatkan data itu,” ujarnya.

“Yang terpenting kau harus segera memperbaiki program itu.”

“Aku mengerti. Akan kuusahakan esok kita bisa mencoba membukanya lagi. Kurasa kita harus bergerak cepat, benarkan?” Kyuhyun melajutkan dan disetujui Ryeowook. Pria itu bahkan tidak mencurigai sedikit pun apa yang tengah dipikirkan Kyuhyun.

***

Ketika Kyuhyun keluar dan melihat Ryeowook yang pergi lebih dulu, seorang laki-laki sedang memperhatikannya dari seberang jalan. Kyuhyun melihat sekeliling dengan cemas. Laki-laki yang diseberang jalan itu adalah salah satu bawahan Kim Donggun. Biasanya mereka akan menampakan diri di depan Kyuhyun jika Kyuhyun melakukan kesalahan atau ketika Kim Donggun ingin menemuinya. Si laki-laki tinggi dengan jaket coklat itu memberi isyarat pada Kyuhyun untuk berjalan ke arah yang ditunjukkannya. Kyuhyun tidak punya pilihan selain mengikutinya.

Sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh dari cafe yang tadi dimasukinya bersama Ryeowook. Kyuhyun langsung masuk begitu laki-laki tadi menyuruhnya. Di dalam mobil itu sudah ada Kim Donggun yang duduk tenang dengan serangain yang menghiasi bibirnya. Sial, dia pasti sudah mendengar apa yang dibicarakan Kyuhyun bersama Ryeowook tadi.

“Kerja bagus, Cho. Jadi kapan kau akan membawa data itu padaku?” tanya Kim Donggun tanpa berusah payah berbosa-basi. Kyuhyun diam-diam menggeram tertahan.

“Lusa, aku akan menemuimu membawa data itu,” jawab Kyuhyun dengan yakin. Kim Donggun tersenyum dan mengangguk.

Kuere. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau gagal membawanya lusa,” ancam Kim Donggun tenang tapi penuh nada kelicikan.

Kyuhyun diam. Ia tidak mengatakan apapun dan memilih membungkuk singkat lalu bergegas keluar dari mobil itu. Ia melewati laki-laki berjaket coklat yang berdiri diluar mobil tengah menatapnya seakan mengancam. Kyuhyun menghiraukannya lalu berjalan menjauh. Setelah itu si laki-laki tadi masuk ke dalam mobil dan mobil hitam itu pun berlalu pergi dari hadapannya.

Begitu Kim Donggun dan bawahannya pergi, Kyuhyun menghela nafasnya pasrah. Ia sendiri belum memikirkan cara untuk mencuri data itu, bagaimana bisa ia menjajikan lusa?

“Sialan, dia benar-benar brengsek!” umpatnya. Beberapa orang di sekitarnya bahkan sampai menoleh karena terkejut dan penasaran ke arahnya.

***

Ryeowook kembali menemukan Minrin di rumah begitu pulang. Dia memang sengaja meninggalkan gadis itu di rumah, tidak mengatakan apapun padanya kemana akan pergi juga tidak memberi larangan tertentu padanya. Lagipula mereka berdua sedang sedikit punya masalah. Bukan masalah tapi tindakan bodoh Ryeowook yang membuatnya berpikir itu semua adalah masalah. Dia belum memikirkan cara untuk menghadapi Minrin jika gadis itu akan bertanya lagi tentang maksud ucapannya tadi. Ryeowook belum siap mengakuinya. Terlebih jika Minrin juga punya perasaan yang sama padanya. Karena jika itu terjadi Ryeowook takut apa yang dulu terjadi bisa terulang kembali.

Gadis itu tengah duduk-duduk sambil mengobrol dengan Sungyoung ketika Ryeowook memasuki rumah dan mendapatinya melayangkan tatapannya sekilas. Ryeowook menduga jika gadis itu pasti masih sangat kesal padanya. Ia baru akan menaiki tangga menuju ke ruangannya di lantai atas, jika saja Sungyoung tidak menyapanya dan menghentikan langkah kakinya.

“Kau baru kembali, Kim Ryeowook-ssi?” Sungyoung memperhatikan ke arahnya, juga Minrin namun gadis itu langsung membuang mukanya begitu Ryeowook mengangguk.

Sungyoung yang menyadari tingkah itu hanya tersenyum. “Apa terjadi sesuatu diantara kalian?” tanyanya lebih pada Minrin yang terlihat ingin pergi dari tempat itu. Dia pun menggeleng cepat.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja aku masih kesal pada seseorang yang meninggalkanku di jalan tadi,” gerutunya dengan menekankan beberapa kalimat seakan-akan orang yang melakukan hal itu memang ada di sana mendengarkan. Sungyoung terkekeh nyaris menertawakan dan Ryeowook hanya menatapnya dengan ekspresi datarnya.

“Aku akan ke dalam kalau begitu,” sela Ryeowook kemudian memilih pergi. Sungyoung menghentikkan tawanya sementara Minrin menatapnya seakan ingin melempar laki-laki itu dengan sesuatu.

“Menyebalkan!”

“Kau menyukainya?” tanya Sungyoung tiba-tiba sepeninggalnya Ryeowook dari hadapan mereka. Minrin terlonjak seketika. Ia menoleh cepat ke arah Sungyoung.

“Menyukai? Dia? Pria menyebalkan itu? Kau pasti bercanda.” Minrin tertawa-tawa aneh membuat Sungyoung menatapnya bingung. Terkadang orang bisa sangat aneh saat jatuh cinta, benar kan?

“Terserah saja, tapi aku tidak bercanda.” Sungyoung melayangkan tatapan menggodanya pertanda bahwa ia masih tetap pada pendapatnya bahwa sosok gadis di sampingnya ini memang menyukai Ryeowook. Yah… dia hanya sedang berusaha keras mengelaknya.

“Lihat wajahmu bahkan memerah.”

“Berhenti menggodaku, Sungyoung-ssi.” Lalu ia pun kembali menghadap ke depan dengan menggembungkan pipinya.

Detik berikutnya.

“Apa aku terlihat menyukainya?” tanyanya balik dengan nada lemah. Mendengar itu langsung saja membuat Sungyoung tersenyum gemas sambil mengangguk yakin.

“Hmm…sangat menyukainya.”

“Aku pasti sudah gila.”

“Terkadang seseorang memaksakan diri untuk membenci orang yang disukainya untuk mengelak dari kenyataan bahwa dia memang menyukainya. Dia tidak sadar melakukannya, terlebih jika orang yang disukainya adalah seseorang yang setiap harinya bersikap menyebalkan seperti katamu tadi.”

Minrin terdiam setelah itu, mencerna ucapan Sungyoung dengan terus menatap anak tangga menuju lantai dua. “Dia seperti orang yang sulit kudekati. Setiap hari bertemu dengannya, tinggal bersamanya dan bahkan hampir selalu bersamanya tapi tak banyak yang kutahu tentangnya.” Minrin menyahut dengan pelan lalu diam-diam menarik nafasnya.

Mungkin ini pertama kalinya ia terbuka dengan perasaan yang sebenarnya dimilikinya untuk pria yang datang tadi. Bagi Sungyoung yang setiap hari juga bertemu keduanya, pastilah menyadarinya. Menyadari jika Minrin selalu mencuri pandang ke arah pria itu, menunggunya pulang setiap malam dan bahkan tak jarang menanyakan keberadaannya pada Jongwoon saat pria itu tiba-tiba jarang muncul di rumah. Ya…dari sikapnya yang seperti itu saja sudah bisa membuat Sungyoung yakin jika gadis di depannya ini memang menyukai pria itu.

“Dia sangat tertutup. Ya..aku juga berpikir begitu.” Sungyoung mengangguk setuju. Wanita itu melirik ke arah Minrin yang belum juga melepaskan tatapannya ke arah tangga. “Aku hanya mendengar sedikit cerita tentangnya dari Jongwoon oppa.”

Kali ini Minrin menoleh ke arahnya penasaran.  “Kau tahu tentangnya? Selain cerita orang tuanya yang meninggal karena Kim Donggun.”

“Hmm…yang kutahu dia kembali ke Korea setelah kejadian itu dan tinggal bersama Kim Ilsung, orang yang sudah dianggap paman sendiri oleh Ryeowook. Masa kanak-kanak dan remajanya dilewatkan dengan belajar dan berlatih dan dia tumbuh menjadi orang yang dingin.” Sungyoung mengulang cerita yang pernah di dengarnya dari Jongwoon. “Jongwoon oppa mungkin satu-satunya orang yang bisa berteman dengannya dan masuk dalam kehidupannya. Aku selalu kasihan jika melihatnya,” ujar Sungyoung.

“Aku tahu rasanya kehilangan orang tua dengan cara seperti itu apalagi saat itu usianya masih kecil. Pantas saja sikapnya sangat dingin hampir pada semua orang.”

“Dengan sikap seperti itu dia pasti sulit untuk menemukan gadis untuk diajak kencan,” imbuhnya kemudian dengan sedikit nada mencemoooh yang dibuat-buat. Sungyoung menoleh ke arahnya kemudian terkekeh lagi.

“Tidak,” sahutnya. “Dia pernah punya kekasih asal kau tahu saja.”

“Kau bercanda?” sontak saja Minrin ikut menoleh dengan ekspresi terkejut. Sementara Sungyoung memang terlihat tidak sedang bercanda. “Tidak bisa dipercaya. Aku jadi penasaran gadis macam apa yang tahan dengan sikap dingin dan menyebalkannya itu.”

“Ya, namanya Lee Jihye. Dia gadis yang baik dan juga sabar. Saat itu aku melihat Kim Ryeowook yang dingin perlahan berubah sejak Jihye datang.” Sungyoung kembali bercerita seakan-akan ikut mengingatkan dirinya akan sosok gadis yang tadi disebutnya Lee Jihye. Melihat tatapan Sungyoung yang seakan kembali merasakan kehilangan akan sosok gadis itu membuat Minrin berpikir bahwa Jihye pastilah orang yang memang baik seperti kata Sungyoung sampai-sampai memberikan kesan yang dalam pada wanita itu.

Minrin mendadak kehilangan kepercayaan diri saat mendengar cerita tentang Lee Jihye. Gadis itu pasti  juga sangat dicintai Ryeowook sampai-sampai membuat sikapnya perlahan berubah.

“Namun sebuah kejadian tak terduga membuat gadis itu kehilangan nyawanya,” sambung Sungyoung lagi. Minrin menoleh lagi dengan pelan, penasaran dan tiba-tiba merasa kasihan.

“Apa yang terjadi padanya?”

“Dibunuh salah satu target yang sejak lama diincar Ryeowook. Gembong narkoba. Mereka tidak terima dengan sikap Ryeowook yang selalu mengancam keberadaan mereka. Jadi mereka balas dendam dengan menculik Jihye dan membunuhnya.”

Seketika itu Minrin merasakan bulu kuduknya meremang karena merasakan kengerian. Tidak bisa dibayangkan bagaimana gadis tak berdosa itu ikut menjadi korban. Dan Ryeowook…laki-laki itu pasti sangat merasa kehilangan.

“Ryeowook tentu saja merasa kehilangan dan juga bersalah. Sikapnya kembali seperti semula. Lalu ia pun memutuskan inactive dari NIS dan pergi ke Amerika. Berulang kali Kim Ilsung memintanya kembali tapi selalu ditolaknya. Sampai akhirnya ia ditawari masuk ke dalam tim 1315 yang bertugas menuntaskan masalah yang berkaitan dengan Kim Donggun. Karena itulah ia kembali.” Sungyoung mengakhiri cerita dengan menoleh ke arah Minrin. “Sekarang kau mengerti kan kenapa dia menyebalkan?”

Minrin diam. Mendengar cerita itu justru membuat Minrin menjadi kasihan pada Ryeowook. Dia melalui banyak hal berat dalam hidupnya.

***

Langkah kakinya membawa Minrin menemui Ryeowook usai bicara serius dengan Sungyoung tadi. Entah ada apa dengan pikirannya. Yang jelas ia merasa sangat kasihan pada laki-laki itu. Seperti biasanya, dia mendapati Ryeowook tengah berada di ruang pribadinya. Begitu Minrin mengetuk pintu dan membukanya dengan pelan, ia melihat Ryeowook duduk di depan mejanya dengan laptop yang menyala. Pria itu mendongak melihat ke arah Minrin dengan ekspresi penasaran.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.

Minrin mendesis lemah. Jika saja ia tidak mengetahui bagaimana menyedihkannya kehidupan Ryeowook selama ini, sudah pasti ia akan membalas kata-kata dingin itu dengan umpatan.

“Aku pikir kita harus meluruskan masalah kita. Kau tahu, aku sedikit lelah terus berdebat denganmu dan aku juga tahu kau juga sudah muak melihatku terus mengumpat, berteriak dan juga bersikap menyebalkan padamu. Jadi, kenapa kita tidak mencoba untuk memperbaiki hubungan kita? Maksudku…mencoba berteman baik,” ucap Minrin begitu gadis itu duduk di salah satu sofa di rungan itu. Ryeowook terus mengikuti gerakan gadis itu melalui ekor matanya dan berakhir penasaran.

 Ryeowook menutup laptopnya lalu kembali memperhatikan gadis itu. Mencoba menebak-nebak alasan apakah yang membawanya datang kemari dan terkesan mengibarkan bendera putih setelah mereka sedikit mengalami pertengkaran tadi.

“Dari pada menjadi musuhmu kenapa kita tidak bersama-sama untuk melawan Kim Donggun?” lanjut Minrin dengan sedikit bercanda untuk mencoba mencairkan suasana dingin yang selalu diciptakan Ryeowook. Namun pria itu sama sekali tidak tertarik dengan usaha candaan itu. Pria itu masih diam ketika Minrin menoleh menatapnya.

Wajah yang minim ekspresi, kedua mata yang mengisyaratkan rasa sakit dan juga kesepian. Entah bagaimana Minrin menemukan semua itu setelah mendengar cerita Sungyoung tadi.

“Baiklah, aku minta maaf soal yang tadi. Aku mencoba memberitahumu, sungguh. Tapi kau tergesa-gesa untuk pergi. Jadi aku berpikir untuk menghubungimu nanti setelah bertemu dengannya.” Penjelasan Minrin tersebut akhirnya sedikit membuat Ryeowook untuk bereaksi. Ia mulai beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Minrin dan duduk di sofa sampingnya. Kembali memperhatikan Minrin untuk mencoba mencari tahu alasan dibalik ucapannya barusan.

“Kau menyukainya? Pria bernama Kang Minhyuk itu….” Ryeowook bertanya diluar dugaan dengan nada pelan tanpa penekanan bahkan tidak lagi terkesan dingin seperti biasanya, membuat Minrin terhenyak sebentar.

Jujur saja Ryeowook juga tidak percaya melontarkan pertanyaan itu. Sulit dipercaya lagi-lagi ia didorong oleh perasaan entah apa itu untuk kembali bersikap bodoh. Senyum di wajah Minrin yang tersungging setelah itu membuat Ryeowook sadar pertanyaan macam apa yang baru saja diucapkannya itu.

“Kau bertanya itu karena kau khawatir Minhyuk akan menyakitiku gara-gara dia dicurigai kaki tangan Kim Donggun atau kau bertanya karena alasan lain?” tanya Minrin memancing.

Minrin ingat dan tidak akan lupa jawaban Ryeowook yang mengatakan bahwa dia tidak suka dirinya bertemu Minhyuk. Jawaban yang seketika itu membuat hatinya mendesir aneh. Ia hanya ingin tahu, itu saja. Ryeowook tidak menjawab. Pria itu hanya menatap Minrin sebentar kemudian mengalihkan perhatiannya ke depan, menghindar dari tatapan Minrin.

“Aku tidak pernah mempermasalahkan sikapmu yang sering mengumpat dan mendebat setiap perintahku. Ya..seperti katamu kita hanya partner kerja, dan kurasa aku sudah mengganggu kehidupan pribadimu selama ini.” Tatapan mata Ryeowook kembali pada Minrin begitu menyelesaikan kalimat itu. Rentetan kalimat yang justru tanpa disadari membuat ruang di dada Minrin seperti di sengat lebah. Kata partner kerja yang sejak awal diucapkannya, sekarang justru seperti boomerang untuknya.

“Jadi, kau bisa keluar dari sini sekarang,” perintah Ryeowook setelah itu.

“Jika aku tidak ingin, apa kau akan mengusirku?” Minrin kembali menantangnya, menyebabkan Ryeowook yang hendak berdiri menatap lagi ke arahnya dengan kening mengernyit.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan ha?” Ryeowook kembali ke tempat duduknya, menahan rasa kesalnya.

“Jawab pertanyaanku tadi. Apa ada alasan lain kenapa kau melarangku menemui Minhyuk? Kata-katamu yang bilang bahwa kau tidak menyukainya, justru membuatku bertanya-tanya.” Minrin tidak lagi menatap Ryeowook. Gadis itu menunduk sedikit dan tanpa sadar bahwa sejak tadi Ryeowook masih memperhatikannya, menatapnya lekat seakan memastikan sesuatu.

“Mungkin kau mengira ini tidak masuk akal dan kau mungkin juga akan memarahiku karena berpikir seperti ini.”

Melihat Minrin yang berusaha keras mengucapkan apa yang ingin diucapkannya hingga membuatnya berulang kali menatap ke bawah dengan kedua tangan saling bermain-main gugup, membuat Ryeowook diam-diam mengulas senyum. Betapa lucunya gadis itu saat gugup. Ryeowook belum pernah melihatnya yang seperti ini. Seakan-akan dia terpaksa melepas semua topeng angkuhnya ketika berhadapan dengan Ryeowook untuk menjadi dirinya yang sekarang.

“Tapi terlepas dari itu semua sebenarnya aku…”

Kata-kata itu terhenti seketika begitu Minrin merasakan wajahnya seperti direngkuh maju oleh sepasang tangan secara tiba-tiba. Detik berikutnya sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya begitu saja. Mengecup bibir atasnya pelan dan lama yang seketika itu membuat darahnya seakan terjun bebas dari atas kepalanya. Kedua mata Minrin hanya bisa mengerjap perlahan saat sadar wajah Ryeowook benar-benar tepat di depannya. Tidak lama karena setelah itu Ryeowook melepaskan ciuman tak terduga itu lalu menatap Minrin tepat di bagian matanya tanpa sedikit pun berusaha menjauhkan kepalanya.

“Aku tidak suka melihatmu bersamanya bukan karena dia mungkin saja berbahaya. Meskipun dia tidak berbahaya pun aku tidak suka kau menemuinya. Apa jawaban itu cukup?”

Masih belum tersadar sepenuhnya dengan apa yang baru saja Ryeowook lakukan, Minrin hanya bisa terus menatapnya. Ia tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang ini. Mungkin sudah semerah tomat. Tapi yang jelas ia juga tidak lagi mendengar dan berkonsentrasi dengan baik gara-gara detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.

“Kau menyukaiku?” pertanyaan itu terlontar dari bibir tipisnya dengan sangat polos hingga membuat Ryeowook menahan senyum. Sulit dipercaya, ia bisa dibuat tersenyum oleh tingkah Minrin. Gadis yang memang sejak awal menarik perhatiannya. Pesona mata coklatnya yang tidak bisa dilepaskankan dengan mudah. Lalu perlahan Ryeowook dipaksa untuk terus mengkhawatirkannya, dipaksa untuk memikirkannya bahkan dipaksa untuk merasa cemburu.

Tidak ada jawaban dari Ryeowook. Ia hanya menatap lalu sekali lagi mendekatkan wajahnya untuk meraih bibir yang baru saja mengajukan pertanyaan itu padanya. Anggap saja itu sebagai jawaban atas pertanyaannya. Gerakan bibirnya yang melumat lembut bak permen kapas itu seketika membuat ribuan kupu-kupu seakan bertebaran di dalam perut Minrin.

Baiklah, ia memang sudah dibuat jatuh cinta. Sejak lama.

***

Ia menjadi sangat teramat bahagia bahkan sampai pagi menjelang pun senyum bahagia itu belum juga hilang dari wajahnya. Tidak ada yang aneh tentangnya di mata Sungyoung saat dengan riangnya Minrin menikmati sarapannya. Hanya Jongwoon yang harus susah payah menebak ada apa dengan gadis itu.

“Apa akhir-akhir ini kau melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia?” tanyanya setelah gagal menebak. Orang yang ditanya hanya berdehem kaget tapi langsung tersenyum.

“Ya..beberapa hal.” Angguknya bersemangat. Di depannya Sungyoung hanya menahan senyum.

“Kurasa ucapanku semalam ada benarnya.”

“Hmm…?” Jongwoon menoleh ke arahnya ingin tahu tapi Sungyoung hanya menatapnya pura-pura tidak mengerti lalu mengedikkan bahunya. Minrin yang melihatnya hanya tersenyum.

“Aku pergi dulu. Terimakasih sarapannya,” sela Minrin, menghentikkan Jongwoon yang tengah memaksa isterinya itu untuk menceritakan apa yang mungkin tidak diketahuinya.

“Kau mau pergi ke mana?”

“Kuliah. Apa lagi?” Minrin menoleh sebentar lalu melambaikan tangannya. Begitu gadis itu menghilang dari pandangan keduanya, Jongwoon kembali menatap Sungyoung.

“Katakan padaku, apa yang terjadi padanya?”

“Dia hanya sedang berbahagia sekarang.” Sungyoung tidak acuh sambil terus menikmati sarapannya.

“Aku tahu dia sedang bahagia. Dan aku ingin tahu apa alasannya,” gerutu Jongwoon pelan karena sama sekali tidak ada yang mencoba membagi kebahagiaan itu. Ah iya…karena Kim Ryeowook juga pergi pagi-pagi sekali. Dan itu semakin membuat Jongwoon seperti orang yang tidak tahu apa-apa di rumah ini.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada orang yang sedang jatuh cinta,” celetuk Sungyoung akhirnya.

Mwo?”

“Sayang, apa yang salah dengan itu ha? Itu normal bagi setiap orang kan. Kau tak perlu terkejut begitu.” Sungyoung tersenyum kalem pada Jongwoon karena diluar dugaan reaksi pria itu justru agak berlebihan.

“Tidak. Ini hanya membuatku khawatir. Kang Minhyuk, pria itu bisa saja berbahaya.”

“Kang Minhyuk?” Sungyoung mengernyit bingung. “Siapa yang kau bicarakan?”

“Tentu saja laki-laki yang disukai Minrin. Kang Minhyuk. Anak dari Kang Jisuk yang dicurigai berhubungan baik dengan Kim Donggun,” jelas Jongwoon berapi-api namun justru mendapat tanggapan santai dari Sungyoung. Istrinya itu bahkan tertawa pelan mendengarnya. “Apa ada yang salah?”

“Aku tidak tahu jika Minrin mengenal Minhyuk. Tapi aku sangat yakin bukan pria itu yang membuatnya berbunga-bunga pagi ini.”

Jinjja? Aneh sekali…Kyuhyun bilang dia begitu menyukai Kang Minhyuk.”

“Kalau begitu Kyuhyun salah kira.”

***

“Apa kita harus bertemu di luar, saat kita bahkan tinggal bersama? Kau bahkan harus pergi pagi-pagi sekali.” Minrin menutup pintu mobil lalu menoleh dengan wajah kesal yang dibuat-buat pada Ryeowook yang duduk di sampingnya.

Sepuluh menit yang lalu, saat ia baru saja keluar dari rumah pria ini menghubunginya dan mengatakan sudah menunggunya di pertigaan jalan dekat rumah.

“Aku ada urusan tadi.” Ryeowook hanya menjawab singkat lalu mulai melajukan mobilnya dengan pelan. Minrin yang duduk di sampingnya hanya menatapnya tidak percaya.

Tidak percaya bahwa pria itu masih bersikap biasa saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sedikit menjengkelkan tapi sudahlah, Minrin tidak mau memikirkannya. Bukankah memang seperti itulah kepribadian Kim Ryeowook selama ini? Minrin tersenyum lebar. Senyum konyol yang tiba-tiba tersungging hanya karena menatap wajah Ryeowook.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Ryeowook menginterupsi yang langsung saja membuat Minrin menoleh ke depan dengan sikap serba salah.

“T.tidak. Tidak apa-apa.”

“Apa kau masih akan bersikap seperti itu setelah apa yang terjadi?” Ryeowook bertanya dengan nada menggoda yang menyebalkan yang tentu saja membuat Minrin semakin salah tingkah.

Ya Tuhan…sesusah inikah jatuh cinta pada orang yang setiap hari membuatmu kesal setengah mati?

“Jadi aku harus bagaimana? Aku masih tidak tahu kau menyukaiku atau tidak.” Sikap Minrin yang seperti itu justru semakin membuat Ryeowook ingin terus menggodanya.

Senyumnya bahkan tak bisa ditahan ketika melihat Minrin yang berpura-pura merajuk, bertingkah lucu. Ah…dulu juga pernah ada gadis yang selalu bersikap seperti itu. Minrin benar-benar mirip Jihye.

“Apa aku harus menciummu lagi untuk memberikan jawaban?” Ryeowook menyela setelah itu yang berakibat Minrin menoleh horor ke arahnya.

Mwo?”

Ryeowook terkekeh pelan melihat reaksinya yang berlebihan. Sulit dipercaya karena gadis ini juga berhasil membuat Ryeowook tertawa sama seperti Jihye dulu.

“Aku juga harus tahu apa kau menyukaiku atau tidak, jadi…”

Ucapan Ryeowook terpotong saat dengan tiba-tiba Minrin mendekatkan kepalanya dan mengecup pipinya cepat. “Yaa, apa yang kau lakukan?”

“Memberimu jawaban tentu saja,” jawabnya dengan sangat enteng.

“Kau bisa membuat kita tabrakan tadi,” sahut Ryeowook tidak terima. Jantungnya hampir saja copot karena kaget. Bagaimana bisa Minrin membuatnya seperti itu? Ah…Ryeowook bahkan sudah lama tidak merasa berdebar aneh seperti tadi.

“Baiklah, kenapa kita tidak berhenti dan melakukannya dengan cara yang benar?” tantang Minrin. Kini Ryeowook yang justru menolehnya horor. Ya Tuhan gadis ini ternyata berbahaya.

Mwo?”

“Kau benar-benar lucu ternyata, Ryeowook-ssi.” Minrin terkekeh pelan.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti di jalan depan Universitas Dongguk sepuluh menit kemudian. Biasanya Ryeowook akan mengantarnya sampai ke depan kelas atau menyerahkannya pada Kyuhyun. Jika ingat itu semua membuat Minrin tertawa geli. Bagaimana bisa dirinya berubah menjadi orang penting melebihi putera presiden? Dulu ia benci saat Ryeowook bersikap seperti pengawalnya, tapi tidak lagi sekarang. Oh..ya katakan saja ia sangat-sangat senang bisa diantar olehnya.

“Kau berhasil memperbaikinya? Ah..aku mengerti. Terserah kau saja mau bertemu di mana. Hmm…aku tahu. Sampai jumpa.” Ryeowook menurunkan ponselnya lalu menatap Minrin yang berdiri di depannya dengan tatapan bertanya.

“Aku harus bertemu Kyuhyun. Jadi kurasa kau harus masuk sendiri,” ucapnya memberitahu.

“Kenapa? Apa ada masalah?” tanya Minrin penasaran. Tidak biasanya mereka berdua pergi bersama dan meninggalkan Minrin.

“Ada sesuatu yang harus kami selesaikan.” Minrin menghela nafasnya pendek tapi ia pun akhirnya mengangguk lemah.

“Baiklah, aku mengerti.”

“Aku akan menjemputmu nanti,” ujarnya. Minrin mengangguk lagi. Saat Ryeowook akan berbalik dan masuk ke dalam mobil, pria itu berhenti lagi ketika teringat sesuatu. “Soal Kang Minhyuk….,”

“Kang Minhyuk? Kenapa dengannya?” Minrin bertanya dengan alis mengernyit heran, tapi bibir yang menahan senyum geli.

“Jangan mendekatinya lagi,” ucapnya cepat secepat ia berlalu dan masuk ke dalam mobil, membuat Minrin yang berdiri di luar mobil tertawa pelan.

***

Tempat yang dikatakan Kyuhyun ketika di telepon untuk bertemu bukanlah tempat yang Ryeowook pikirkan sebelumnya. Ia pikir Kyuhyun mengajaknya bertemu di rumahnya atau di markas NIS tapi pria itu justru mengajaknya bertemu di sebuah gudang tua, jauh dari pusat kota. Ryeowook sempat ragu ketika melajukan mobilnya mendekati gudang itu. Saat melihat Kyuhyun keluar dari gudang berpintu lebar dan tinggi itu, barulah Ryeowook mematikan mesin mobilnya.

Hyung!” teriak Kyuhyun sambil melambaikan tangannya.

“Apa tidak ada tempat lain?” tanya Ryeowook begitu turun dan menghampirinya. Kyuhyun hanya tersenyum lebar sambil berkacak pinggang.

“Tempat ini lebih aman dari NIS. Bukankah kau bilang NIS tidak boleh tahu soal data itu dulu? Bagaimana menurutmu?” Ia menunjukkan isi gudang itu yang harus Ryeowook akui berbeda jauh dari bayangannya.

Tempat itu bukan gudang yang penuh barang rongsokan, kayu-kayu lapuk dan terlihat berantakan. Di beberapa bagian ada tumpukan kota kayu besar dan memang ada juga kayu tak terpakai. Tapi sebaliknya gudang itu seperti sebuah laboratorium IT  pribadi yang sengaja diciptakan. Komputer-komputer terlihat terusun rapi melingkari sebuah meja serta kursi. Banyak sekali barang-barang kecil seperti chip, dan juga kabel yang berserakan di atas meja. Ada juga tempat tidur di sebuah lantai dua yang sengaja dibuat. Ryeowook bahkan tercengang karena tidak percaya saat melihatnya.

“Tempat ini milikmu?” tanyanya.

Kyuhyun mengangguk dengan bangga. “Kau lihat pabrik bekas yang kau lewati? Itu dulu milik keluargaku, tapi karena bangkrut pabrik itu sekarang tidak beroperasi. Dan gudang ini kugunakan sebagai markas pribadi. Karena tanah ini masih milk keluarga jadi tidak ada yang berani mengusirku,” jelasnya.

“Tapi kenapa?”

“Aku tidak bisa leluasa beroperasi jika di rumah. Kakakku tidak menyukainya. Lagipula ada beberapa teman yang biasanya membantuku. Hari ini aku sengaja menyuruh mereka pulang. Jika hari biasa, mereka sering berkumpul di tempat ini.”

“Jadi ini tempat kau menciptakan program dan semuanya itu?”

“Penciptaan program peretas, kegiatan hacking di beberapa situs. Ah…kami juga terkadang bermain-main dengan para detektif dan polisi,” jawab Kyuhyun bangga.

“Kau benar-benar tak terduka, Cho Kyuhyun.” Ryeowook berjalan menuju sebuah kursi, sementara Kyuhyun yang masih berdiri di belakangnya terdiam seketika.

Ya..dia memang tak terduga.

“Jadi bisa kita mulai?” Ryeowook menoleh pada Kyuhyun meminta persetejuan yang langsung disetujuinya.

“Tentu. Asal kau membawa hardisknya, kapanpun bisa kita mulai.”

Ryeowook tersenyum lantas mengambil sebuah hardisk berbentuk kotak dari dalam tas punggungnya lalu menyerahkannya pada Kyuhyun. Entah apa yang Kyuhyun lakukan setelah itu, Ryeowook tidak terlalu paham. Pria itu mengotak-atik sebentar laptopnya ketika hardisk itu sudah terhubung. Pembacaan data pun dimulai. Dan karena hardisk itu memiliki pertahanan berlapis, maka Kyuhyun harus berulang kali membobol passwordnya. Hingga akhirnya layar di laptop berubah menjadi hitam dengan angka-angka yang bermunculan cepat.

Kyuhyun terlihat menahan nafasnya begitu juga dengan Ryeowook. Mereka saling melihat ketika satu persatu foto beserta biodata muncul di permukaan. “Ini dia…” Kyuhyun bergumam pelan.

“Apa menurutmu hanya ini?” tanya Ryeowook setelah semua data orang-orang yang kemungkinan terlibat diperlihatkan, tapi tak satu pun yang memperlihatkan data mengenai Kim Donggun.

“Aneh sekali. Mereka adalah orang-orang yang diketahui sudah tewas beberapa tahun yang lalu. Agen Kim Seongyeol, bukankah Jongwoon yang bertugas menangkapnya tapi dia bunuh diri sebelum ditangkap?”

Ryeowook mengangguk, membenarkan. Kyuhyun benar. Ini sangat aneh. Sampai akhirnya Kyuhyun menemukan sebuah link di pojok kanan bawah yang bertuliskan 1985. Ketika ia hampir membuka link tersebut, suara mobil yang berderu kencang di luar gudang itu berhasil menghentikannya. Mereka berdua saling bertatap sebentar, kemudian Kyuhyun dengan cepat menutup laptopnya, mencabut hardisk itu dan mengamankannya. Ryeowook dengan hati-hati mengambil pistol di balik jaketnya lalu berjalan pelan menuju kotak kayu besar dan berlindung di sana. Kyuhyun melakukan hal yang sama. Dia dengan pelan menuju sisi lain dari Ryeowook dan menunggu.

Pintu gudang yang lebar itu terdobrak dengan paksa setelah itu ketika sebuah mobil van hitam menabraknya. Keduanya langsung bersembunyi. Dua mobil di belakang mobil jip masuk dan kini sudah berada di dalam gudang luas itu. Hening sesaat. Kyuhyun hanya melihat ke arah Ryeowook sebentar. Lalu suara tembakan laras panjang yang dikeluarkan berkali-kali membana di tempat itu. Tembakan menghujan ke semua arah, menghancurkan komputer, meja dan berkali-kali mengenai kotak besar yang menjadi tempat keduanya berlindung. Tidak ada kesempatan untuk mereka membalas perbuatan orang-orang yang tiba-tiba masuk itu. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah berlari menghindar. Dengan cepat mereka berpencar, berlari melewati tiang-tiang dan kotak-kotak kayu besar. Sekilas Ryeowook melihat salah satu orang yang tadi melancarkan tembakan, seorang pria yang sudah sangat sering dilihatnya. Orang itu muncul di club malam, dia juga muncul di cafe saat Minrin bertemu Minhyuk. Orang lain yang juga sempat dilihatnya mengejar dirinya sekarang ini adalah pria bertopi dengan bekas sayatan di wajahnya.

Ryeowook berhenti dan berlindung di tumpukan kayu. Ia tidak tahu di mana Kyuhyun sekarang, semoga saja dia bisa meloloskan diri. Karena data itu ada pada Kyuhyun, jika Kim Donggun mendapatkannya maka semua tidak akan berjalan bagus. Pria bertopi itu mulai menembaki lagi. Lalu dengan cepat Ryeowook pun berlari lagi, menelusup di antara kotak-kotak kayu di bagian belakang gudang. Ia menemukan Kyuhyun yang berlari dari sisi lain.

“Kenapa mereka bisa ada di sini?”

“Aku tidak tahu.” Kyuhyun mengecek pistolnya. Dia mengumpat ketika dilihatnya tiga orang berlari ke arah mereka dari arah depan, dan dua yang lain termasuk si pria bertopi menghadang dari arah belakang. “Sialan!”

Sekarang tidak ada pilihan selain melawan. Dua lawan lima. Bukan tandingan, tapi tidak ada jalan keluar selain melumpuhkan kelima orang itu. Kyuhyun maju lebih dulu, menghajar seorang pria kurus namun lebih kuat dari perkiraannya. Ryeowook menghindar dengan sangat cepat saat seseorang hampir menghajar kepalanya. Ia pun membalas dengan meninju perut bagian bawah, tepat di mana organ hatinya berada. Pria itu terjatuh seketika.  Mereka berdua bergantian berkelahi dengan keempat orang itu. Saat Ryeowook berhasil mengunci gerakan salah satu dari keempat orang itu, pria bertopi tiba-tiba mendekatinya. Semua terjadi sangat cepat. Ryeowook tidak tahu apa yang dilakukannya, ia hanya merasakan rasa sakit setelah itu di bagian perut bagian kiri. Darah keluar menetes di lantai yang seketika itu membuatnya terhuyung. Ia terjatuh dan melihat Kyuhyun dibekuk oleh keempat orang itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.

Hyung..!!” samar ia hanya mendengar teriakan Kyuhyun yang menggema di telinganya, sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran.

CUT

***

Maaf tidak sesuai jadwal yg saya janjikan. Gara-gara internet tiba-tiba ngambek, jadinya baru bisa saya publish. Hehe…

Okay, saya merasa gagal melanjutkan secret guard. Jujur dari awal part ini aku kehilangan feel. Bingung mau diapain tuh orang berdua biar akhirnya sadar sama perasaan mereka. Dan yah…maafkan saya jika ceritanya tidak tersalurkan dengan baik. Mungkin dua atau tiga part lagi ini FF bakal saya end kan. Ada dua ide cerita yang sekarang aku pikirkan. Jadi maaf kalau aku meminta kalian yang pengen baca kelanjutannya untuk bersabar menunggu part 10. Akan aku usahakan. I really thank to you who still waiting this ff. Jinjja gomawoyo… 🙂

Advertisements

16 thoughts on “(FF Series) Secret Guard Part 9

  1. Aku suka cerita ini sungguh… ryeowook minrin bener bener manis, aku suka.. tapi kenapa setelah itu ryeowook terluka??? Bikin makin penasaran… dag dig dug bacanya, jangan sampe ryeowook kenapa napa ya eonnie…
    Okee lanjut lagi cerita nya eon jangan lama lama *maksa* fighting! 😄

  2. Seruuuu…udh g sabar nunggu lanjutannya….itu wook terluka yak..dn data itu ada pd kyu yak..jgn smpe kyu ksh data itu dong……dtunggu sgerq next chapnya yak…ak suka bgt smm crtanya..seruuu

  3. Seruuu…suka bgt ma crtanyaa…jgn lama2 yak lanjutannya..buat yg lbh menegangkan lg dong..msalnya ryeowook jg ikut ditangkep sm IL gtu..hehe..biar wook jg tau klo kyu yg jd mata2 kim donggun..hehee..dtunggu sgera next chapnya..gomawo.

  4. Sweet couple ryeomin 😍
    Hahahaha lucu liat mereka ungkapain perasaan masing masing,,

    Wohh kenpa?? Kenpa?? Wookie kenapa???,, ahh~~ data nya masih sama si kyuhyun,, bakal di kasih apa gg yaa ke donggun #penasaran,,,,

    Jngan lama lama eonn,, lanjutannya fighting!! 👍

  5. OMG!! Wookpa kenapa? jangan smpe knpa2 deh.. baru aja mau romantis ama minrin eh udh ada2 aja cobaan nya -_- btw itu pasti suruhan nya kim donggun kan? entar si kyumbul ngasih tuh data ke ahjussi brengsek, semoga kagak deh.. di tunggu ya kelanjutan nya lagi 🙂 jangan lama2 ya soal nya nggak sabar hehe : D

    Dua ide ff baru nya juga.. itu ff nya Ryeomin kan? semoga cepat di publish oke 🙂

  6. Aaak Cut nya pas ya bikin penasaran banget para readers .
    Ah lucunya ryeowook sama minrin pas nyatain perasaannya masing-masing.
    Ini aku yg lemot kali ya? Dsni ryeowook ktnya berkhianat sma NIS kan? Tpi knpa kyu yg jahat coba ngejebak ryeowook?
    Dududu minriiin, kasian banget baru aja romantis2an sama ryeowook skrg ryeowooknya terluka.
    Semoga ryeowook gapapa ya. Dan smoga crtanya cpet di lanjut ^^

  7. Yeeee akhirnya ff ini nongol 😀
    Menurut saeng feelnya dapet kok eonn, sewaktu minrin malu2 trs ryeowook syok dicium pipi hahaha
    Suka banget part ini. Keren kok eonn. Konfliknya juga makin keliatan. Kyuhyun bimbangnya juga dapet feelnya eonn. Gak sabar nunggu kelanjutannya 😀

  8. aku commentnya langsung borongan aja ya dari yg part2 sebelumnya >< aku sukaaaakkk banget ff yg AU kayak gini apalagi genre action. setiap part semakin berasa konflik dan juga bikin penasaran! haha dan setiap karakternya bener2 ga terduga kayak si kyuhyun, itu bener2 gak nyangka kalau dia bakal 'berkhianat' lol
    berasa banget feelnya, dan menurutku alur cerita ryeomin juga pas, gak terlalu terburu-buru dan bikin greget gitu ya hihi

    semangat ya author-nim! ff ini keren!! 😀 cheers! aku selalu menunggu kelanjutannya (dan menunggu nasib ryeowook) :"D

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s