(Eunhyo Story) Farewell

CRK-l-FUsAEgimt

Title : Farewell | Cast : Lee Hyukjae, Park Hyehyo

Hari itu akan datang. Tidak peduli bagaimana Hyehyo berusaha untuk berharap waktu akan berjalan lambat satu minggu ini. Tapi nyatanya memang waktu tidak melambat sama sekali. Untuk beberapa saat, ia merasa jam di dinding Mouse Rabbit itu justru berjalan terlalu cepat. Ia sudah berjanji akan tersenyum, seperti biasanya. Tidak ada wajah murung apalagi sedih. Yah…setidaknya Hyehyo sudah berusaha satu hingga dua minggu terakhir.

Melihat Lee Hyukjae yang masih bisa tertawa dan bercanda dengan teman-temannya sedikit membuat Hyehyo lega. Setidaknya laki-laki itu sudah sangat siap untuk menyambut hari esok. Rambut hitam yang pendek –belum pernah dilihat Hyehyo sebelum ini- yang ditutupi dengan hoodie hitam menjadi penampilannya. Masih tetap tampan dan mempesona.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Baik. Tentu saja baik.” Dia menjawab ketika pertanyaan itu diajukan Donghae padanya. Di sisi meja yang lain, Hyehyo hanya tersenyum sembari terus memperhatikannya.

“Hyo, kau terlihat sudah sangat siap ditinggal pergi selama dua tahun.” Kali ini ucapan itu diarahkan padanya, membuat Hyehyo menoleh pada Donghae.

“Hmm..tentu. Meskipun dia pergi bulan lalu pun aku sudah siap,” jawabnya bercanda sambil terkekeh pelan. Tatapan Hyukjae berhenti padanya, sedikit menunjukkan ketidakyakinan tapi kemudian dia juga ikut tertawa.

“Meskipun mereka bilang, dua tahun itu singkat dan pasti bisa dilewati. Tapi aku harus mengatakan padamu jika dua tahun itu snagat berat.” Kangin berujar sambil bercanda membuat suasana malam itu kembali riuh dengan tawa. Hyehyo menjadi satu diantara mereka yang ikut tertawa.

Hyung, berhentilah menakutiku!” Lagi Hyukjae hanya ikut tertawa dengan candaan teman-temannya padanya.

“Jangan khawatir, Eunhyuk-ah. Aku akan mengunjungi nanti.” Leeteuk yang kebetulan juga ada di sana menimpali.

Pertemuan malam itu bukanlah sebuah perpisahan terencana. Kebetulan saja Hyukjae dan Donghae datang mengunjungi Mouse Rabbit. Lalu entah bagaimana mereka berdua berhasil membuat teman-teman satu grupnya yang lain termasuk ada Changmin, Minho bahkan Suho datang kemari. Dan Hyehyo…untuknya ia memang sengaja datang ketika Hyukjae menyuruhnya.

Entahlah, bagaiaman perasaan Hyehyo hari ini. Sulit untuk dijelaskan. Ia bilang baik-baik saja tapi jujur saja ada sedikit ruang kosong yang entah bagaiaman dijelaskan perlahan muncul. Gadis itu berdiri agak jauh dari Hyukjae ketika laki-laki itu berpelukan dengan sahabatnya Donghae di depan pintu Mouse Rabbit. Sedang di luar pintu, banyak fans berdiri menunggu. Memberikan semacam perasaan aneh yang tiba-tiba berkecamuk. Tidak percaya kepergiannya untuk wajib militer hanya tinggal menunggu jam.

Laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya setelah melambai pada fansnya. Masih dengan menutupi rambut pendeknya, dia terus tersenyum berjalan menunju mobilnya. Hyehyo hanya bisa memperhatikan itu semua dari dalam dengan perasaan aneh itu yang sekali lagi dirasakannya. Setelah semua orang yang tadi memenuhi luar pintu depan pergi, barulah Hyehyo memutuskan pergi juga.

Ia memacu mobilnya pelan menuju sebuah taman tidak jauh dari apartement keluarga Hyukjae. Ia tahu laki-laki itu sedang menunggunya di sana. Benar saja, ia baru saja berjalan beberapa langkah dan menemukan Hyukjae sudah duduk di sebuah kursi masih dengan hoodie hitamnya.

“Sebuah kencan perpisahan?” Hyehyo mengagetkannya sambil berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan suasana taman yang sepi dengan beberapa lampu taman di beberapa sudut.

“Bukan. Aku tidak menyukai hal-hal seperti itu.” Hyukjae berdiri begitu menoleh, lalu tersenyum pada Hyehyo. Gadis itu balas tersenyum. Ia pun berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.

“Hmm..kita anggap saja hari ini seperti hari-hari biasanya,” ujarnya perlahan. Ia menarik nafasnya dalam, lalu tersenyum lagi setelah menghembuskannya cepat. Seakan sedang berusaha menekan sebuah perasaan aneh itu di dalam dadanya. Ia sedang tidak ingin menangis. Tidak boleh. Ia berjanji tidak akan menangis di depan Hyukjae di hari ini ataupun besok.

“Hyo, Kalau kau ingin menangis, menangis saja. Aku tidak akan mengejekmu.” Hyukjae menoleh dan memperhatikan Hyehyo yang tiba-tiba terdiam sambil menatap sebuah lampu taman di depannya.

“Tidak. Aku tidak ingin menangis, Hyuk. Sudah kubilang anggap saja ini seperti hari-hari biasa,” jawabnya.

“Wah…kau membuatku terkejut.” Terdengar Hyukjae menghela nafasnya. Laki-laki itu juga ikut melihat ke arah lampu. “Bagaimana jika aku yang ingin menangis sekarang ini?” tanyanya tiba-tiba.

Perlahan Hyehyo menoleh, memperhatikannya lagi dengan sekesama wajahnya yang tertutup hoodie. Ia tidak bisa melihat dengan jelas kedua mata Hyukjae dari samping, ia hanya melihat laki-laki itu yang kemudian mengulas senyum. “Kau benar-benar menangis?” tanyanya kemudian sambil memegang pundak Hyukjae, berniat membuka hoodie laki-laki itu yang menutupi kepalanya tapi gerakan itu terhenti ketika Hyukjae dengan cepat mengusapkan tangannya di wajahnya.

“Aku hampir. Tapi melihatmu yang baik-baik saja membuatku merasa aneh kalau menangis,” ucapnya yang membuat Hyehyo terkekeh. Gadis itu kembali menegakkan tubuhnya dan memandang ke depan.

“Aku sebenarnya juga tidak baik-baik saja, Hyuk. Aku pura-pura sekarang,” ujarnya. Hyukjae menoleh sekali lagi, penasaran.

“Kenapa? Kau tertawa saat di Mouse Rabbit. Kau bahkan terus tertawa saat mereka membuat lelucon tentangku.”

“Aku bilang hanya pura-pura. Sekarang ini hanya terasa aneh, aku duduk di sampingmu dan seakan kita tidak akan melakukan hal ini lagi.”

“Kata-katamu terdengar jika kita tidak akan bertemu lagi setelah ini. Ayolah, Hyo…kita sudah sepakat kan tidak akan ada perpisahan seperti itu?” Hyukjae menoleh lalu memperhatikan lebih lekat.

“Aku tahu.”

“Hanya 21 bulan dan aku akan kembali.”

“Aku tahu, Hyuk,” balas Hyehyo lagi.

“Kalau begitu berhentilah bersikap seakan-akan aku dan kau tidak akan berjumpa. Memikirkannya justru membuatku takut,” keluh Hyukjae dengan memasang wajah yang pura-pura kesal. Hyehyo sekali lagi hanya dibuat tersenyum dengan tingkahnya itu.

“Aku penasaran apa yang akan kulakukan selama 21 bulan ke depan.” Tiba-tiba saja Hyehyo tersenyum memikirkan semua itu. 21 bulan tanpa Hyukjae yang terkadang selalu membuatnya repot karena rengekannya. 21 bulan tanpa mendapat telepon tiap dua jam dari Hyukjae. Wah…pasti sangat menyenangkan.

“Jangan macam-macam, Hyo. Kau sudah berjanji akan menungguku,” ancam Hyukjae seketika itu yang lansung membuat Hyehyo tertawa.

Gadis itu hanya bercanda tentu saja. Ada alasan kuat yang akan membuatnya menunggu laki-laki itu kembali, jadi mana mungkin ia berpikir untuk berkencan secara serius dengan laki-laki lain.

“Aku tidak akan melakukannya,” sergah Hyehyo kemudian sambil tersenyum.

Hening setelah itu. Keduanya hanya menatap lurus ke depan, ke arah cahaya lampu taman. Entah apa yang ada dipikiran keduanya, yang jelas mereka berdua yakin masing-masing tengah sulit menahan rasa sedih. Oh ya…karena mereka sudah sepakat tidak ada kesedihan maupun air mata di pertemuan kali ini, maka itu juga lah yang sedang mereka tahan kuat-kuat.

“Jadi, ini akan jadi malam terakhir kita berkencan sebelum 2017 datang, iya kan?”

“Hmm…kurasa memang begitu,” jawab Hyukjae pelan. Laki-laki itu meraih tangan Hyehyo dan menggenggamnya. Suasana malam ini dingin, jadi Hyukjae berharap Hyehyo akan menjaga dirinya selama ia pergi.

“Kau harus menjaga kesehatan. Udara akan semakin dingin, jadi kau harus hati-hati. Jangan sampai kedinginan, pakai pakaian tebal kalau keluar. Jangan suka minum sendiri, ajak saja Minrin jika kau ingin minum-minum,” ucap Hyukjae. “Ah…Minrin tidak ada di Korea. Kalau begitu ajak saja Kyuhyun. Dia akan menemanimu.” Hyehyo hanya tersenyum mendengar nasehat itu. Ia pun hanya mengangguk-angguk mengiyakan.

 “Aku tahu. Jangan mengkhawatirkanku, Hyuk. Aku akan baik-baik saja.”

“Kau tahu, aku tadi membayangkan kita akan berkencan seperti biasanya. Tapi kurasa sulit melupakan apa yang akan terjadi besok.”

“Hmm… Kau benar,” gumam Hyehyo. Gadis itu kemudian menjatuhkan kepalanya di pundak Hyukjae dan bersender di sana. Lalu dengan perlahan, Hyukjae melingkarkan lengannya dan memeluk tubuh Hyehyo dari samping.

Memikirkan hari esok kembali membuat Hyehyo merasa aneh. Ah…mungkin perasaan itu sebenarnya akan sedikit berkurang jika ia bisa menangis. Tapi nyatanya tak setetes pun air mata itu bisa keluar.

“Kau akan datang besok?”

“Aku tidak bisa mengantarmu tapi aku akan datang untuk bertemu denganmu,” jawab Hyehyo meyakinkan.

“Baiklah, aku mengerti kau tidak bisa mengantarku.” Hyukjae memahami hal itu. Belum saatnya Hyehyo muncul di depan mereka.

“Hyukjae-ya….”

“Hmmm…?”

“Pergi dan kembali dengan keadaan sehat. Jaga kesehatan selama di sana. Aku tidak tahu seperti apa keadaan di sana, tapi aku tahu kau bisa melewati semuanya. Aku akan mengirimmu surat dan mungkin akan menjengukmu. Saat liburan, aku akan memastikan kalau aku akan menemuimu. Jadi, jangan mengkhawatirkan kami. Kami akan baik-baik saja dan menunggumu sampai kau pulang.”

Hyukjae  tersenyum mendengar nasehat itu. Ia pun mengangguk mengiyakan. “Terimakasih, Hyo.”

Hyehyo juga mengangguk. Perlahan ia pun melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam 10 dan itu artinya mereka harus segera kembali. Hyukjae pasti juga ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarganya sekarang. Hyehyo kemudian mengangkat kepalanya dan menegakkan tubuhnya.

“Kurasa kencan ini harus berakhir sekarang.” Ia menoleh pada Hyukjae dan melihat Hyukjae yang juga menoleh ke arahnya, berhasil membuat Hyehyo melihat ekspresi laki-laki itu dengan jelas. Sudah pasti ekspresinya sangat berat hati. “Ayolah, Hyuk. Kita sudah janji kan tidak akan ada perpisahan yang seperti di film film itu?” gadis itu mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Hyukjae perlahan. Hyukjae diam, memegang tangan Hyehyo yang berada di pipinya dan menggenggamnya. Perlahan laki-laki itu justru mendekatkan kepalanya dan mencium bibir Hyehyo.

“Aku tahu,” gumamnya pelan. Ia menjauhkan lagi kepalanya lalu menghela nafas. “Baiklah, ayo pergi. Udara semakin dingin,” ajaknya lalu berdiri. Hyehyo yang melihatnya tengah mengulurkan tangan tanpa ragu menyambutnya, membiarkan tangannya digenggam dengan erat. Mereka kemudian berjalan menuju kedua mobil yang terparkir dengan saling bergandengan tangan.

“Hyukjae-ya….,”

“Hmm…?”

“Aku akan merindukanmu,” jawab Hyehyo sambil terus berjalan.

CUT

Oke, abaikan ff nya kalau aneh, karena aku cuma pengen posting sesuat buat si Hyukjae. Hehe…

Mr Lee… akhirnya hari ini datang juga. Aku tidak tahu lagi harus mengucapkan apa. Yang jelas kau harus menjaga kesehatan, baik-baik lah di sana. 21 bulan dari sekarang, saat kau kembali kami akan di sini untuk menyambut kepulanganmu. Jangan khawatirkan kami, fokus saja dengan apa yang akan kau kerjakan di sana, jadilah tentara yang membanggakan untuk kami semua. Lee Hyukjae, we love you.

Ah…iya lupa. Who is waiting for Secret Guard? Malam ini aku posting part 9. See you… ❤

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s