(Oneshoot) My Mistake

my mistake

Title : My Mistake | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin, Cho Kyuhyun | Genre : Romance | Lenght : Oneshoot | Rating : PG-15 | Author : Whin

***

Sebuah hubungan kekasih, laki-laki dan perempuan. Terdengar sangat manis dan membuat iri. Dan meskipun saat ini Minrin sudah punya kekasih, laki-laki istimewa selain ayahnya tetap saja ia tidak tahu apa yang manis dari sebuah hubungan antara dua makhluk berlawanan jenis itu. Berkencan di taman, menikmati pemandangan sungai Han di malam hari atau makan malam romantis. Semua itu terdengar sangat biasa bagi Minrin. Ia pernah membayangkan punya kekasih saat SMA dan mereka akan diam-diam berkencan di sekat-sekat rak buku perpustakaan sekolah, mencuri pandang satu sama lain sampai punya tempat rahasia. Ia pikir semua itu terlihat begitu manis tapi ternyata biasa saja. Ia  juga pernah membaca buku yang menceritakan hal itu sampai-sampai imajinasinya berkeliaran tidak jelas. Tapi tetap saja Minrin tidak mengerti apa yang manis dari kegiatan macam itu? Menggelikan tentu iya.

Mungkin karena ia belum pernah punya kekasih sebelumnya atau mungkin kekasihnya sekarang yang tidak pernah punya pikiran untuk melakukan hal-hal manis itu bersamanya. Biar ia ingat sebentar berapa kali mereka berkencan minggu ini? Sekali? Oh…sama sekali belum di minggu ini, mereka bahkan tidak berjumpa selama lima hari karena laki-laki itu tengah sibuk.

Helaan nafas keras keluar dari mulutnya takkala melihat sepasang kekasih memasuki cafe yang di datanginya. Tatapan iri tersirat dari pandangan yang mengarah pada kedua orang itu. Minrin mengenal si perempuan di kelas Hematologi Dasar. Dan laki-laki yang datang bersamanya….hmmm…terlihat tampan. Tanpa sadar Minrin memperhatikannya. Kebetulan sekali dua orang itu duduk tepat dua meja di depan Minrin, hingga membuat Minrin tak perlu susah payah mencuri pandang ke arahnya.

Tuhan benar-benar baik menciptakan makhluk setampan itu. Badan yang tinggi dan tegap dengan kulit putih dan hidung mancung serta rambut coklat yang sangat keren. Jika saja laki-laki itu adalah kekasihnya, mungkin saja ia bisa merasakan dekapan hangat dengan kepala bersandar di dada bidangnya. Atau ia bisa merasakan bagaimana kedua pundaknya di rangkul saat berjalan. Terasa begitu manis dan sempurna.

Sialan. Kenapa ia bisa memiliki imajinasi macam itu? Bagaimana dengan kekasihnya yang entah sekarang ada di mana itu. Ya..benar, kekasih. Kekasih yang justru diabaikannya.

Tersadar dari lamuannya karena getar ponsel di atas meja, Minrin sempat dibuat berjengit karena terkejut. Gadis itu meraih ponselnya dengan malas lalu menempelkannya di telinga kanannya.

Eoh…aku sedang tidak enak badan, makanya aku pulang duluan. Mianhae,” ucapnya berbohong saat laki-laki di seberang telepon sana sedang bertanya khawatir tentang keberadaanya.

Jahat. Ya…mungkin Minrin memang sedikit jahat. Tapi ayolah apa yang bisa dilakukan untuk bertahan dengan sikap yang sama seperti pertama kalinya pada kekasihnya itu sementara ia sendiri tidak tahu dengan perasaannya? Baiklah, Minrin memang menerima laki-laki itu menjadi kekasihnya karena ia pikir menyukainya tapi seiring berjalannya waktu, ia justru bingung dengan perasaannya sendiri yang sepertinya tidak lagi untuk laki-laki itu. Ia benci mengakuinya tapi selama satu tahun bersamanya, Minrin seperti kehilangan alasan untuk tetap berada di sisinya.

Ia memejamkan matanya sebentar, mengangkat kepalanya lagi dan mendapait laki-laki yang baru saja tiba tadi sedang mengarahkan tatapannya. “Kau sudah minum obat? Sudah kubilang jangan telat makan dan berhentilah memaksakan diri,” ucapan laki-laki di seberang telepon terdengar sangat tulus dan sarat akan rasa khawatir. Namun Minrin hanya membalasnya dengan mengiyakan singkat tanpa sedikitpun berusaha menghentikkan kebohongannya.

“Aku akan tidur, nanti kubungi lagi,” putus Minrin akhirnya. Ia menghela nafasnya lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

Satu gelas jus strawberry pesanannya masih utuh saat Minrin memutuskan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari cafe itu, meninggalkan laki-laki yang sempat mencuri perhatiannya bersama gadis cantik di depannya itu.

Ia berjalan menelusuri jalanan dengan pelan. Sesekali ia melirik etalase di kanannya yang memperlihatkan gaun-gaun cantik, sepatu hingga kacamata. Ia tidak pernah menerima hadiah apapun dari kekasihnya selama ini. Jangankan hadiah, benda pasangan yang sering dimiliki sepasang kekasih pun tidak mereka punyai. Terkadang Minrin iri melihat teman-temannya yang membanggakan hal-hal manis dan romantis apa yang pernah kekasih mereka lakukan.

Kembali ia menghela nafas, kepalanya menunduk lalu meneruskan langkah kakinya. Hingga akhirnya sepasang sepatu berhenti di depannya. Ia mengangkat kepalanya perlahan dan wajah tampan itu kini berdiri di depannya, tersenyum sambil menyerahkan sebuah benda putih ke hadapannya.

“Ponselmu ketinggalan,” ucapnya.

Ah…bahkan suaranya yang berat terdengar sangat indah. Minrin mengernyit sebentar ketika melihat ponselnya sudah ada di tangan laki-laki itu. Bagaimana bisa ponselnya bisa ketinggalan dan kenapa harus laki-laki ini yang menemukannya? Oh Ya..Tuhan, bukankah ini seperti cerita drama? Minrin tersenyum kecil dengan raut wajah ingin bertanya lalu mengangkat tangan sebelah kanan dan menerima benda putih yang tadi memang ketinggalan di meja cafe itu.

“Terimakasih.” Minrin membalas. Senyum lebar tersungging dari laki-laki itu dan membuat jantung Minrin berdegup. Laki-laki itu benar-benar tampan.

“Aku sepertinya pernah melihatmu. Apa kita pernah bertemu?” tanyanya. Entah itu sebuah cara agar bisa mengobrol banyak dengan Minrin ataukah karena dia merasa memang pernah bertemu Minrin. Entah apapun alasannya, tapi Minrin merasa dia sedang mencoba memberikan kesan baik.

“Kurasa tidak. Mungkin kau hanya sekilas melihatku saat kau berkunjung untuk menjemput Chaeyoung,” jawab Minrin tenang. Laki-laki itu mengernyit sebentar. Tidak lama karena setelah itu dia tersenyum lagi.

“Ah…kau satu kelas dengan Chaeyoung?” tebaknya.

Minrin mengangguk membenarkan. “Hanya di kelas Hematologi Dasar,” tambahnya.

“Oh…benarkah? kebetulan sekali. Aku sudah lama mengenal Chaeyoung tapi tidak pernah tahu dia punya teman kau.”

“Itu karena kami tidak dekat,” imbuh Minrin kemudian. Ia ingin segera pergi tapi entahlah, rasanya laki-laki di depannya ini sepertinya enggan untuk mengakhiri pembicaraan.

Minrin memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang cokelat dan berniat untuk pergi dengan membungkukkan badan dan mengucapkan terimakasih. Namun, laki-laki itu mencegahnya.

“Tunggu.”

Nde?”

“Ke arah mana kau akan pergi?” tanyanya. Lagi-lagi Minrin dibuat mengernyit. Anehnya, ia menanggapi pertanyaan itu.

Ia menunjuk jalan ke depan setelah itu. “Kalau begitu biar kutemani. Kebetulan aku juga akan ke arah sana,” sambut laki-laki itu yang langsung mendapat tolehan kepala dari Minrin. Senyumnya mengembang lagi dan ia pun mengangguk pelan.

“Baiklah, kurasa tidak buruk punya teman mengobrol di jalan.”

Lalu keduanya pun berjalan beriringan. Sesekali Minrin melirik ke arahnya. Laki-laki asing yang baru ditemuinya hari ini. Semakin diperhatikan dari dekat, laki-laki itu ternyata memang sangat tampan dan juga tinggi. Minrin baru menyadari betapa tingginya laki-laki ini karena setiap bicara, ia harus susah payah mendongak ke atas.

“Jadi, siapa namamu?” tanya Minrin setelah sekitar tiga menit mereka berjalan dengan diam.

“Cho Kyuhyun. Teman lama Chaeyoung. Dan kau?” laki-laki bernama Kyuhyun itu ikut menoleh, sedikit menunduk untuk memperhatikan wajah Minrin.

“Shin Minrin. Teman satu kelas Chaeyoung,” jawabnya lalu tersenyum lebar. Kyuhyun ikut tersenyum karena cara berkenalan keduanya yang terdengar lucu.

“Ponselmu berdering beberapa kali tadi. Sepertinya kekasihmu.” Kyuhyun berujar tiba-tiba, membuat Minrin berhenti sebentar dan mendongak dengan ekspresi mengernyit di wajahnya.

“Aku hanya menduga saja.” Buru-buru Kyuhyun menambahkan. Minrin pun merogoh ponselnya kembali dan memastikan ucapan Kyuhyun barusan. Dan benar saja, dua pesan singkat dan satu panggilan tidak terjawab dari orang yang sama yang tadi meneleponnya saat di cafe. Minrin pun sibuk membalas pesan singkat itu dan membiarkan Kyuhyun terus memeperhatikannya dengan ekspresi senang yang tak mampu disembunyikan. Seakan-akan obyek di depannya adalah sumber dari rasa senang melebihi menang undian lotre.

“Jadi dia si anak kesayangan profesor Lee?” tanya Kyuhyun lagi. Kali ini membuat Minrin menghentikkan kegiatannya dan mengangkat kepalanya dengan ekspresi yang bertambah terkejut. “Kekasihmu, maksudku.”

“Bagaimana kau tahu?” Minrin bertanya dengan kening mengernyit heran. Bukankah sangat aneh orang yang baru pertama ditemuinya ini mendadak tahu banyak tentang kehidapun pribadinya?

Kyuhyun hanya tersenyum. Senyum yang menunjukkan bahwa dia memang mengetahui siapa kekasihnya. “Baiklah, aku mengaku.Chaeyoung tadi sempat memberitahuku saat akan mengembalikan ponselmu,” jawabnya kemudian saat Minrin terus menatapnya ingin tahu.. Jawaban yang anehnya hanya mendapat satu anggukan kepala mengerti dari Minrin, seakan gadis itu memang tidak ambil pusing. Meskipun kenyataan bahwa Chaeyoung tahu tentang dirinya merupakan hal yang luar biasa.

Seingat Minrin, ia tidak pernah mengobrol banyak dengan Chaeyoung. Kalaupun iya, mereka hanya mengobrolkan soal tugas kuliah. Kecuali gadis itu memang tahu banyak. Oh ya… dia kan suka bergosip. Jadi mungkin saja sosok Kim Ryeowook, laki-laki muda yang punya banyak prestasi hingga diikutsertakan dalam penelitian seorang profesor di kampusnya menjadi salah satu bahan pembicaraan Chaeyoung dan teman-temannya termasuk juga gadis yang telah menghuni hatinya yang kebetulan adalah teman satu kelas mereka.

“Tapi bagaimana bisa…”

“Sudah kubilang Chaeyoung memberitahuku.” Kyuhyun menyela dengan senyum di wajahnya yang belum menghilang, membuat Minrin terus memperhatikannya dari samping. Mengakui dan mungkin mengagumi keberaniannya. Selama ini Minrin belum pernah bertemu laki-laki yang di pertemuan pertama langsung membahas kehidupan pribadi layaknya mereka bersahabat lama. Belum ada kecuali Cho Kyuhyun.

“Maksudku….,” ucapan Minrin terhenti ketika Kyuhyun menoleh lagi ke arahnya.

“Sepertinya kau harus berhati-hati lain kali kalau ingin memperhatikan seseorang seperti di cafe tadi.” Senyumnya lagi-lagi mengembang, membuat jantung Minrin berdegup berlebihan sekaligus membuatnya bingung. Memperhatikan? Ah…mungkinkah Kyuhyun tahu jika sejak di cafe tadi Minrin terus memperhatikannya?

“Aku penasaran siapakah gerangan gadis yang tadi memperhatikanku terus. Kebetulan sekali Chaeyoung mengenali wajahmu dan…ya dia menceritakan padaku tentang apa yang diketahuinya tentangmu,” jawabnya tenang dengan penuh percaya diri.

Diam-diam Minrin mendecak. Sudah diduganya. Kapan ia tidak akan bertindak bodoh seperti tadi lagi?

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memperhatikan kalian. Kebetulan saja meja kalian tepat di depanku, jadi….”

“Tidak masalah. Lagipula aku senang, karena aku jadi bisa mengenalmu.” Kyuhyun menyahut cepat membuat Minrin diam. Gadis itu menoleh lagi lalu tersenyum pada Kyuhyun.

Pertemuan mereka tidak sengaja. Seharusnya Minrin menghindari, tapi ia justru membiarkannya terus berlanjut. Jantungnya yang  selalu dibuat berdebar setiap kali melihat laki-laki itu. Sudah tentu ada yang salah dengannya. Sayangnya Minrin tidak sadar, atau memang pura-pura tidak tahu.

***

Ia sampai di apartementnya ketika sudah gelap. Dan tebak apa yang dilakukannya sehabis makan siang tadi? Bukan istirahat karena sakit, karena ia memang tidak sakit. Ia menghabiskan waktu dengan mengobrol bersama Kyuhyun. Laki-laki itu ternyata juga penyuka buku-buku science dan sejarah. Dan mereka pun memutuskan pergi ke toko buku bersama. Mencari buku science, mendiskusikan isu-isu terkini dan berakhir menikmati kopi di sore hari.

Tidak disangka, pertemuan pertama itu meninggalkan kesan yang dalam pada sosok Cho Kyuhyun pada Minrin. Seperti menemukan kembali perasaan manis saat bersama dengan seorang laki-laki. Dan Minrin tidak percaya jika ia merasakan kembali rasa itu bukan pada kekasihnya tapi pada sosok seorang Cho Kyuhyun. Orang yang bahkan baru pertama kali ini ditemuinya.

Langkah kakinya terhenti di ruang pertama yang dijangkaunya begitu masuk. Ia tercengang sejenak melihat betapa rapi dan bersihnya ruangan itu. Seingatnya ruang itu masih berantakan ketika ditinggalkannya tadi pagi. Keterkejutannya tidak sampai disitu, karena di meja makan ia mendapati makan malam untuknya seperti sengaja disiapkan. Asap putih samar masih sedikit mengepul dari sup yang menandakan bahwa makanan itu belum lama dibuat. Perlahan Minrin melangkah mendekati meja makan, meletakkan tas selempangannya di kursi dan menghela nafasnya.

Hanya ada dua orang yang tahu password apartementnya. Ibunya dan juga…Kim Ryeowook. Ya…laki-laki bernama Kim Ryeowook yang adalah kekasihnya. Orang yang sejak tadi menghubunginya dan mengkhawatirkannya. Laki-laki yang kini berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa satu tas plastik kecil berisi sampah kertas. Minrin memperhatikan sebentar tangan laki-laki itu. Ah..ya, semalam Minrin sibuk mengerjakan tugas kuliah dan sampai lupa membersihkan kertas-kertas yang tak terpakai.

“Kau sudah pulang?” sapanya tenang dan juga santai persis seperti biasanya. Laki-laki itu tidak menunggu jawaban dari Minrin dan berjalan melewatinya untuk membuang sampah di tangannya. Minrin berdiri terpaku dengan diam saat tiba-tiba hatinya merasa tidak enak dan juga bersalah. Bersalah karena tadi siang ia telah berbohong pada kekasihnya itu bahwa ia sakit dan butuh istirahat, tapi ia sendiri justru baru pulang saat matahari sudah tenggelam.

“Sejak kapan kau datang?” tanya Minrin berusaha sangat keras untuk bersikap biasa. Mencoba memberi kesan bahwa ia tidak berbohong dan mematahkan setiap kecurigaan yang mungkin tengah dipikirkan Ryeowook tetangnya.

“Beberapa jam yang lalu.” Ryeowook tersenyum lalu menarik tangan Minrin dan mengajaknya untuk duduk di depan meja makan. “Aku sudah membuatkannya untukmu. Makanlah. Kau bilang sedang sakit, jadi makanlah yang banyak.” Minrin menurut. Ia menatap makan malam di depannya itu dengan diam. Sejenak kemudian ia menoleh pada Ryeowook dan tersenyum.

“Terimakasih. Kau masih saja memperhatikanku,” balas Minrin lalu mengambil sepotong telur dadar gulung di depannya dan mencicipinya. “Hmm…ini enak,” gumamnya sendiri lalu mengambil lagi sepotong. Ia juga mencicipi sup buatan Ryeowook.

Ryeowook yang semula berdiri di sampingnya ikut duduk. Tapi ia tidak ikut makan melainkan sibuk memperhatikan Minrin dengan lekat. Ia tersenyum lega “Kau sudah merasa baikan? Aku tidak menemukanmu saat aku datang tadi,” ujarnya.

Minrin nyaris menjatuhkan sumpitnya karena tangan yang gemetar –persis setiap kali ia tertangkap bohong oleh ibunya-. Ia mengangkat kepalanya pelan lalu cepat-cepat memsang ekspresi wajah biasa. “Oh…aku sudah baikan setelah minum obat dan tidur tadi. Aku pergi sebentar untuk menemui temanku. Kau seharusnya meneleponku kalau mau datang, jadi aku bisa pulang cepat.” Minrin menjawab dengan lancar. Kebohongan mungkin sudah bukan hal yang sulit untuknya sekarang. Nyatanya ia begitu mudah membuat Ryeowook percaya padanya. Kekasihnya itu bahkan hanya mengangguk tanpa curiga.

“Aku baru akan menghubungimu tadi. Tapi kau ternyata sudah pulang,” sahutnya pelan, lalu tersenyum. “Makanlah, kau pasti belum makan malam kan?”

“Kau tidak ikut makan?” tanya Minrin karena tidak melihat Ryeowook berniat untuk ikut makan. Laki-laki itu menggeleng dengan pelan kemudian.

“Aku sudah kenyang. Kau saja yang makan,” jawabnya. Lagi-lagi dengan ekspresi wajah ramah, senyum yang mengembang dan tanpa sedikitpun rasa curiga.

Ah…Minrin jadi merasa tambah bersalah padanya.

***

Minrin pikir kemarin itu akan menjadi pertama dan terakhir kalinya ia bertemu Kyuhyun. Tapi ternyata tidak. Usai kelas Hematologi nya berakhir, Minrin mendapati Kyuhyun  sudah berdiri di salah satu dinding lorong kampusnya. Chaeyoung bersamanya tapi tidak lama, karena begitu Kyuhyun melihat Minrin, Chaeyoung langsung pergi meninggalkannya.

“Kau keluar paling akhir,” ucap Kyuhyun ketika Minrin berjalan ke arahnya. Hari ini laki-laki itu mengenakan kemeja berwarna abu-abu dan celana jeans biru tua, tas punggung dan satu buku tebal di tangannya.

“Aku biasanya memang keluar paling akhir. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Minrin kemudian. Keduanya berjalan beriringan menelusuri lorong itu menuju pintu keluar. Seingat Minrin, Chaeyoung sudah pergi jadi sudah pasti alasan Kyuhyun datang bukanlah untuk bertemu Chaeyoung.

“Bertemu denganmu. Aku menemukan buku ini,” katanya sambil menyerahkan buku tebal yang tadi dibawanya. Autoimmune Hemolytic Anemia. Begitulah judul bukunya. Buku itu yang sejak kemarin mereka cari. Dan Kyuhyun membawanya untuk Minrin hari ini.

“Dari mana kau mendapatkannya?” tanya Minrin sembari menerima buku tentang penyakit antibodi yang menyerang sel darah merah.

“Eiiyy, aku tahu toko-toko buku yang menjual buku macam itu. Jadi, bagaimana? Kau suka?” Minrin tersenyum dan mengangguk.

“Terimakasih, Kyu. Aku sudah mencari buku ini sejak lama.”

“Tidak masalah. Jadi, apa yang akan kita lakukan? Berburu buku lagi? Atau jalan-jalan?” tanyanya. Dan jujur saja Minrin sempat dibuat bingung dengan sikap Kyuhyun itu. Tapi Minrin membuang jauh-jauh pikiran negatif yang mungkin terjadi kedepannya. Ia tersenyum pada Kyuhyun dan berdehem ria.

“Kita jalan-jalan ke taman hiburan bagaimana? Sudah lama aku tidak ke sana.” Minrin mengusulkan dan langsung diikuti anggukan kepala bersemangat dari Kyuhyun.

Joa… terdengar menyenangkan. Kajja!”

Minrin baru akan berjalan menyusul Kyuhyun ketika ponsel di sakunya bergetar. Ia mengambil dan menjawab panggilan yang masuk dengan sedikit menghela nafas.

“Kita bertemu nanti di apartementku saja, aku masih ada urusan jadi kau tidak perlu menjemputku.”

“Tugas kuliah lagi?” suara Ryeowook bertanya santai di seberang sana. Membuat Minrin menggigit bibir bawahnya lalu mengiyakan.

Mianhae, sampai jumpa nanti, eumm?”

Lalu setelah itu panggilan diakhiri. Minrin menarik nafasnya lalu berjalan menyusul Kyuhyun yang menunggunya di depan.

***

Sekali lagi Minrin tidak menyangka akan begitu senang menghabiskan waktunya bersama Kyuhyun. Mereka menaiki banyak wahana di taman hiburan. Tertawa dan bercanda. Hari itu ia mengenal lebih banyak tentang siapa itu Cho Kyuhyun. Laki-laki takut menaiki roller coaster. Dia benci komedi putar karena dulu waktu kecil pernah tertinggal di tempat itu saat berwisata. Dan dia sangat menyukai rumah hantu. Saat mereka masuk ke dalam rumah hantu, bukannya takut Kyuhyun justru menertawakan hantu-hantu yang meuncul di sepanjang perjalanan. Dia bahkan terus menceritakan tentang kelucuan hantu itu. Entah dia memang tidak takut atau hanya berusaha membuat Minrin yang terus berlindung di balik punggungnya merasa nyaman. Yang pasti Minrin sangat menikmati acara jalan-jalan itu bersama Kyuhyun. Minrin bahkan sampai lupa jika ia harus pulang cepat untuk bertemu Ryeowook.

Saat matahari sudah di ufuk barat dan siap tenggelam barulah Minrin sadar. Gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya dengan risau.

Waegure?” tanya Kyuhyun yang baru saja kembali dengan dua buah cappucino ice di tangannya. Ia menyerahkan satu untuk Minrin dan meminum miliknya.

“Aku harus pulang, ada janji dengan seseorang,” jawab Minrin lalu ikut meneguk minuman dinginnya.

“Benarkah? Sayang sekali, padahal aku masih ingin mencoba wahan yang lainnya denganmu.”

Mianhae, Kyuhyun-ah. Tapi aku harus pergi. Akan kutraktri lain kali” ucap Minrin lagi. Ia tidak ingin meneruskan kebohongan ini lagi. Cukup sudah. Minrin harus menghentikkannya atau ia akan terus dilanda rasa bersalah.

“Baiklah, aku pegang janjimu.” Kyuhyun tersenyum.

Minrin pun mengangguk lalu berjalan pergi. Ia menolak keinginan Kyuhyun yang ingin mengantarnya pulang. Yang diinginkannya adalah segera pulang dan berharap kembali pada jalan semua, jalan tanpa seorang Cho Kyuhyun yang membuatnya berbelok.

Ia menunggu bus cukup lama. Sembari terus mengecek ponsel kalau-kalau Ryeowook menghubunginya, Minrin mulai dilanda kekhawatiran. Pukul 6 lewat dan seharusnya ia bertemu Ryeowook jam 5. Alasan apa lagi yang harus digunakannya saat bertemu Ryeowook nanti? Untungnya ia tidak perlu menunggu lama lagi sampai akhirnya bus terlihat dari ujung jalan. Ia bergegas masuk begitu bus berhenti dan memilih berdiri meski bangku kosong masih banyak. Ia terus mengecek ponselnya dengan gelisah.

Sesampainya di apartement, lagi-lagi ia mendapati apartementnya berbeda dari terakhir ditinggalkannya tadi pagi Dan Minrin sudah bisa menduga siapa orang dibalik ini semua. Alih-alih menemukan Ryeowook seperti kemarin, Minrin justru tidak menemukan siapapun di sini. Ia hanya menemukan satu set makan malam untuknya di meja makan. Dan tentu saja itu semua membuatnya makin bersalah. Kenapa laki-laki itu harus terus melakukan ini? Ia berjalan mendekat ke arah meja makan dan menemukan selembar note kecil di samping mangkuk nasinya.

Aku lihat kau sibuk sekali akhir-akhir ini. Tidak apa-apa, kita bisa bertemu lain kali. Aku datang terlalu awal dan melihatmu belum pulang, jadi aku menyiapkan makanan ini. Makanlah! Kau harus menjaga kesehatan. Jangan terlalu banyak bekerja, euhmm?

Maaf karena aku juga langsung pergi. Aku tidak ingin menganggumu. Sampai jumpa nanti. Aku menyayangimu.

Minrin tertegun membaca pesan itu. Dan rasa bersalah itu kembali merasukinya. Apa yang sudah dilakukannya? ia beralih mengambil ponsel di tasnya dan langsung menghubungi Ryeowook. Terdengar nada tunggu dari lagu kesukaan mereka berdua. Minrin dibuat tersenyum saat menyadarinya. Ryeowook sepertinya tidak lupa kalau lagu ini adalah lagu favourite mereka sejak mereka bertemu.

Yeobseo…,” panggilan itu dijawab saat Minrin masih merenung sampai-sampai membuatnya nyaris tergagap.

“E..eoh Ryeowook-ah….” sapanya.

“Kau sudah pulang?” tanya suara menenangkan di seberang sana. Minrin menarik nafas dan mengangguk lalu buru-buru mengiyakan karena sadar Ryeowook tidak akan melihat anggukan kepalanya.

“Maaf, aku pulang terlambat. Tadi masih banyak pekerjaan.”

Bohong. Lagi-lagi Minrin berbohong. Ya Tuhan sampai kapan ia akan terus berbohong pada Ryeowook?

Gwaenchana. Kau sudah makan?”

“Hmm…aku akan makan sekarang. Terimakasih karena kau sudah menyiapkan makanan itu.”

“Baiklah, makanlah…besok kita bertemu. Aku masih harus bertemu profesor Lee jam 11, kita bertemu saat makan siang di tempat biasa….”

“Tidak.” Sergah Minrin cepat, membuat Ryeowook menghentikkan ucapannya. “Aku ingin kau menjemputku. Bisakah?”tanya Minrin ragu, ia menggigit bibir bawahnya dan menunggu dengan berdebar.

Diam sebentar.

Kuere, aku akan menjemputmu. Kalau begitu sampai jumpa.” Nada suara laki-laki itu terdengar bersemangat dan entah kenapa membuat Minrin menghela nafas lega. Ia tersenyum mengangguk dan mengiyakan. Lalu setelah itu panggilan itu pun berakhir.

Ia baru akan mencuci tangan dan bersiap untuk menikmati makan malam buatan Ryeowook ketika akhirnya ponselnya kembali berdering. Tanpa berpikir banyak, Minrin pun langsung mengangkatnya. Tindakan yang sedikit di sesalinya karena orang yang menghubunginya adalah Cho Kyuhyun.

“Kau sudah sampai rumah?” suara berat dan santai terdengar begitu Minrin menempelkan ponselnya di telinganya.

“E.eoh. Aku baru saja sampai. Maaf ya aku pulang duluan tadi,” balas Minrin sambil mencoba kimchi yang ada di hadapannya. Terdengar Kyuhyun terkekeh pelan.

“Tidak masalah. Kita bisa bertemu lagi lain kali. Ah..ya bagaimana kalau besok saja? Lain kali terdengar akan sangat lama,” usul Kyuhyun bersemangat. Bukannya dibuat senang, Minrin justru dibuat terdiam.

“Di cafe saat kita bertemu. Bagaimana?”

Minrin tidak menjawab. Ia sudah meletakkan sumpitnya di tempat semula dan berkonsentrasi.

Besok? Di cafe? Kenapa rasanya Minrin akan kembali berbohong pada Ryeowook jika mengiyakan ajakan Kyuhyun ini?

“Minrin-ya. Kau masih di sana kan? Kau tidak mau pergi? Hei jawab aku…”

Minrin mengerjap lalu buru-buru menguasai diri. “Ya..aku masih disini, Kyu. Kau tadi bilang apa?”

“Bertemu di cafe tempat kita pertama bertemu. Kau berjanji akan menraktirku, kau ingat kan?”

Minrin mengumpat dalam hati dan menyalahkan dirinya karena membuat janji itu. Seharusnya ia memang tidak mengatakannya. Tapi janji tetaplah janji.

“Baiklah, jam 9 pagi aku akan menunggumu di sana,” putus Minrin kemudian. Anehnya ia tidak keberatan. Meskpun ia tahu ia bisa saja membuat kesalahan kedua. Tapi ia akan bertemu Kyuhyun sebelum bertemu Ryeowook. Saat bertemu Kyuhyun nanti Minrin akan menjelaskan semuanya bahwa ia tidak bisa melanjutkan hubungan dekat itu lagi.

***

Esok harinya seperti janjinya pada Kyuhyun, Minrin datang di cafe dekat kampusnya. Hari ini hari sabtu dan ia memang tidak punya jadwal kuliah di hari sabtu ini. Ia melihat jam di pergelangan tangannya yang ternyata masih menunjukkan pukul depalan pagi. Sepertinya ia datang terlalu awal. Ia pikir cafe masih sepi namun ternyata tidak. Beberapa orang sudah di sana, menikmati kopi, bertemu teman dan bahkan bertemu rekan bisnis di pagi hari ini. Minrin tidak ambil pusing lalu berjalan menuju tempat favouritnya. Ah…bukan, sebenarnya tempat favouritnya bersama Ryeowook.  Ia memesan satu cangkir kopi latte dan kue ringan sembari menunggu Kyuhyun.

Ia megendarkan pandangannya ke seisi ruangan dan dilihatnya ada dua orang perempuan duduk tidak jauh darinya. Minrin pernah melihat mereka berdua karena memang satu kelas. Kalau tidak salah dua orang itu berteman baik dengan Chaeyoung. Ia mulai mendesah lalu melihat kembali jam di tangannya. Hampir pukul setengah 9, yang berarti masih ada 30 menit sebelum Kyuhyun sampai. Itupun jika laki-laki itu tepat waktu.

Minrin beralih pada ponselnya untuk mengusir rasa bosen, sampai akhirnya ucapan tak terduga dari dua perempuan tadi tidak sengaja di dengarnya.

“Chaeyoung benar-benar melakukannya.”

“Apa maksudmu? Dengan Cho Kyuhyun itu?” salah seorang dari mereka memekik tidak percaya, membuat Minrin meletakkan ponselnya dan menajamkan telinga. Ia penasaran terlebih karena nama Cho Kyuhyun muncul dalam pembicaraan itu.

“Hmm….ya tentu saja. Tadi pagi dia memberitahuku. Kurasa mereka bermain sampai pagi sampai-sampai suaranya masih serak seperti orang baru bangun saat ku telepon.”

Jinjja? Aku tidak percaya Chaeyoung benar-benar bertekuk lutut di depan Cho Kyuhyun.”

Dan…kesadaran Minrin seakan tercabut saat itu juga. Ia tidak tahu kenapa jantungnya seakan berhenti begitu mengetahui fakta yang di dengarnya itu. Ia menahan dirinya untuk tidak bereaksi dan memilih diam mendengarkan.

“Mereka baru bertemu dua minggu dan Kyuhyun memang tampan jadi tidak heran Lee Chaeyoung benar-benar menyukainya. Kalau dia mendekatiku lebih dulu, aku juga pasti akan bersedia jadi kekasihnya. Pintar dan juga tampan.” Gadis yang satunya menimpali sambil tertawa.

“Tapi kudengar Kyuhyun memang punya banyak kekasih. Entah Chaeyoung kekasih keberapa yang berhasil ditidurinya.”

Minrin kembali dibuat bergeming. Matanya memanas. Lalu tiba-tiba saja semua hal yang dilakukannya bersama Kyuhyun berputar dalam ingatannya, begitu juga dengan ekspresi Ryeowook yang tidak pernah marah meski Minrin berulang kali pulang terlambat bahkan juga membohonginya.

Apa yang sudah dilakukannya? Bagaimana bisa ia mengabaikan Ryeowook, orang yang tulus memberikan perhatian padanya?

Ia tersadar beberapa menit kemudian. Berniat untuk pergi namun seseorang tiba-tiba muncul di depannya, menarik kursi dan duduk di sana. Minrin mendongak dan melihat Kyuhyun tersenyum padanya. Biasanya ia akan balas tersenyum tapi tidak untuk sekarang.

“Lama menunggu?” tanya Kyuhyun ramah seperti biasanya.

Minrin memutar bola matanya ke bawah, menghindar bertatap muka langsung dengan Kyuhyun. Kedua tangannya mencengkeram kuat di atas pangkuannya. “Kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat. Kenapa?” pertanyaan itu seperti sebuah alarm untuk Minrin segera menentukan sikap.

Tidak bisa terus seperti ini. Ia mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap Kyuhyun. Harus diakhiri sekarang, pikirnya.

“Baru beberapa menit.” Minrin berucap biasa.

Mianhae, aku harus mengantar ibuku dulu tadi.”

Minrin meliriknya sebentar yang kemudian disibuk mengotak-atik ponselnya. Mengantar ibunya? Pandai sekali dia berbohong. Apa dia selalu seperti ini? Ah sebelumnya dia juga sudah berbohong dengan mengatakan teman lama Chaeyoung padahal mereka baru kenal dua minggu.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini? Kebetulan aku tidak ada jadwal apapun dan kau juga tidak ada kuliah. Jadi kupikir kita bisa bersenang-senang….”

Minrin tidak mendengarkan. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Kedua bola matanya semakin memanas tiba-tiba saat dirasakannya rasa menusuk di bagian dadanya. Rasa bersalahnya pada Ryeowook seakan-akan terus mencekiknya membuatnya ingin segera menmpahkan air mata, belari pada laki-laki itu dan meminta maaf. Kyuhyun menghentikkan ucapannya ketika melihat Minrin sama sekali tidak menatap ke arahnya. Gadis itu hanya menatap cangkir kopinya,  lalu setetes air mata meluncur di pipinya membuat Kyuhyun terkesiap.

“Kau tidak apa-apa?” tangannya terulur hendak menghapus air mata itu, namun Minrin langsung bergerak menghindar. Ia pun buru-buru menghapus air matanya sendiri, membiarkan Kyuhyun yang diam karena terkejut. “Aku tidak bermaksud. Maafkan aku.” Buru-buru laki-laki itu menambahkan.

Minrin tidak menjawab. Dua hari yang lalu ia selalu melihat apapun tentang Kyuhyun adalah sesuatu yang menarik. Cara bicaranya, senyumannya, tingkahnya dan bahkan perlakuan manisnya pada Minrin. Tapi tidak lagi. Seakan-akan Kyuhyun memang sengaja bicara manis di depannya dan entah apa yang sebenarnya dipikirkannya.

Mungkin Kyuhyun adalah salah satu laki-laki perayu, yang mendekati gadis yang disukainya, membuatnya terperangkap dalam pesonanya dan pada akhirnya akan mencampakkan gadis itu. Bagaimana bisa laki-laki itu mendekati Minrin, sementara dia sendiri sedang menjalin hubungan dengan Chaeyoung?

Brengsek!

“Minrin-ya… ada apa denganmu?” tanya Kyuhyun yang sekali lagi tak mendapat respon dari Minrin. Gadis itu masih diam, menatap cangkir lattenya. Berharap bisa segera pergi dari hadapan laki-laki ini.

Mata Kyuhyun menyipit, terlihat bingung dan perlahan tangannya meraih tangan Minrin yang ada di atas meja lalu menggenggamnya. Minrin mendongak dan melihat tangannya yang sudah digenggamgnya dengan rasa tidak suka. “Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba menangis tapi aku tidak suka melihat gadis yang kusukai menangis.” Kyuhyun berucap dengan nada lembut yang entah kenapa terdengar memuakan di telinga Minrin.

Ia ingin segera pergi. Tapi rasanya ia tidak bisa beranjak.  Tatapan mata Kyuhyun seakan menguncinya untuk tetap berada di tempatnya. Laki-laki ini berbahaya.

Sampai akhirnya seseorang tiba-tiba datang dan menarik tangan Minrin yang lainnya. Membuat Minrin mendongak dengan ekspresi bingung. Lalu saat wajah yang dikenalinya itu nampak di depannya, ia bisa bernafas lega sekarang. Tanpa sadar Minrin ikut beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti orang itu. Meninggalkan Kyuhyun yang menatap mereka kesal sambil berdecak tidak percaya.

***

Ryeowook berdiri di luar cafe sejak sepuluh menit yang lalu. Ia sengaja datang lebih awal dari janji semula. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat Minrin sudah ada di cafe itu bersama seorang laki-laki. Selama sepuluh menit itulah, Ryeowook memperhatikan keduanya.

Entah apa yang dua orang itu bicarakan. Ryeowook melihat Minrin menangis dan laki-laki di depannya yang berniat menghapus air matanya namun ditolak. Ryeowook juga melihat bagaimana laki-laki itu menggenggam tangan Minrin dan menatap kekasihnya itu dengan kedua matanya yang mematikan.

Detik itu lah perasaan tidak ingin kehilangan seorang Shin Minrin menyergap seluruh tubuh Ryeowook. Hingga akhirnya ia bergerak memasuki cafe, menghampiri dua orang itu dan menarik Minrin. Tidak ada satu kata pun yang bisa diucapkannya.  Ia hanya menarik Minrin dan menyuruhnya untuk ikut keluar. Tidak ada penolakan sedikitpun dari Minrin. Gadis itu bahkan dengan sangat menurut mengikuti Ryeowook yang tergesa-gesa berjalan keluar. Dua orang wanita yang tadi duduk di belakang meja Minrin terlihat memperhatikan dengan wajah tidak percaya. Salah satu dari mereka bahkan bergumam sembari melayangkan tatapan kagetnya pada Kyuhyun.

Ryeowook segera melepaskan genggaman tangannya begitu mereka berdua sudah berada agak jauh dari cafe tadi. Ia belum mengatakan apapun dan memilih menatap Minrin, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi pada kekasihnya itu. Meski sejujurnya kepalanya hampir meledak karena rasa penasaran.

Ryeowook tidak ingin memikirkan apapun –atau sebenarnya ia sudah memikirkan kemungkinan terburuknya-  tapi ia mengelaknya. Beberapa hari terakhir, ia sudah menyadari sesuatu bahwa ada yang berbeda dengan Minrin. Gadis itu menjadi sulit ditemui, ia juga berbohong sedang mengerjakan tugas kuliah padahal Ryeowook melihatnya pergi dengan seseorang. Dan orang itu adalah laki-laki di depan Minrin tadi. Tidak mungkin seperti itu kan?

Satu tahun lebih nyaris dua tahun dan mana mungkin mereka berdua berada di jurang perpisahan sekarang ini? Apa yang salah dengan hubungan mereka selama ini? Ryeowook pikir semua terlihat baik-baik saja.

Kepala Minrin masih menunduk ketika Ryeowook terus menatapnya. Gadis itu terisak kecil dalam diamnya. Pundaknya bergetar dan tak sedikit pun ia berani mendongakkan kepalanya. Hingga akhirnya kalimat maaf keluar dari bibirnya dengan lirih.

“Maafkan aku.”

Seketika itu Ryeowook merasa tak bertenaga. Seluruh persendiannya lemas dan ia hanya bisa menahan decakan kesal sambil mengalihkan tatapannya. Benarkah sepert itu? Bahwa Minrin dan laki-laki tadi….

“Kau… kau sudah tidak menyukaiku lagi? Kau ingin kita berpisah?” tanya Ryeowook kemudian, dengan nada suara yang ditekannya kuat agar tak terdengar membentak ataupun marah.

Minrin mendongakkan kepalanya setelah itu. Matanya sembab dan Ryeowook benar-benar tidak tega melihatnya. Betapa lemahnya ia saat melihat gadis itu menangis di depannya. Minrin tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Lalu tanpa diduga gadis itu menggeleng dengan cepat dan memeluk Ryeowook erat.

“Tidak. Ini salahku yang tidak menyadari betapa beruntungnya aku memlikimu. Maafkan aku, Ryeowook-ah. Aku benar-benar minta maaf.”

Ryeowook tidak mengerti. Tapi pelukan yang dirasakannya justru semakin erat. “Aku benar-benar minta maaf,” lirihnya kecil.

Ryeowook masih diam tidak bergerak. Salah satu sisi dirinya ingin mendorong gadis ini dan membuatnya berhenti mengucapkan hal-hal manis. Tapi sisi lainnya lagi ternyata masih punya perasaan tak tega dan ingin membalas pelukan itu, memberikan kesempataan kedua pada Minrin meski Ryeowook sendiri tidak tahu apa pilihan itu akan tepat.

“Kuere…aku mengerti.” Ryeowook membalas akhirnya lalu membalas pelukan itu. Mendekap tubuh gadisnya dan berjanji tidak akan membuatnya pergi dari sisinya.

“Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Aku janji. Maafkan aku…,” lirih Minrin lagi.

Ryeowook mengelus kepalanya dan bergumam mengiyakan. Semua orang pernah melakukan kesalahan dan semua orang memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya. Itulah yang dipikirkan Ryeowook.

***

END

Hai hai… sudah kubilang lagi nganggur nggak ada kerjaan makanya, update ff.. 😀 Oneshoot terbaru dari Ryeomin, nggak ada hubungan sama Ryeomin story lho ya… hehe. Dan siap siap saja jika saya akan posting secret guard part 8, the key to heart part terakhir.

Thanks for reading and see you next post. ^^

Advertisements

7 thoughts on “(Oneshoot) My Mistake

  1. Aigooo sempat kesel sama Minrin soal nya dia berani nyelingkuhin beb wookie.. ckck tp bener yg di bilang sama beb wook klo setiap orang yg memiliki kesalahan pantas mendapat kan kesempatan kedua.. di tunggu secret guard sm The Key to Her heart nya.. fighting^^

  2. Duh feelnya ngena banget. Aku bacanya smpe menitikan airmata kkk~
    Minrin kufur nikmat ya udah di kasih yg terbaik malah cari yg bisa romantis doang.
    Kalau aku jadi minrin, ga bakal deh lirik yg lain XD
    Bruntung ryeowook ngasih kesempatan kedua ke minrin. Duuh jatuh cinta pokonya sama sifat ryeowook disini.
    Okeee aku tnggu ff ff yg lainnya 😉

  3. ya ampun udah lamaaaaaa banget gak sempet ke sini dan ada ff yg dua castnya sama2 bias akoohh T_T ah kyu dasar kamu perayu wanita #plak
    memang yang tulus dengan action dan gak sekedar tulus di mulut doang itu yg paling oke;;; huhu memang ryeowook walaupun unyil unyil dan terlihat gak pedulian tapi carenya dia yang bikin ugh</3
    antara kyu dan wook, bisa gak dua duanya aja dijadiin pacar wkwk wook shift pagi, kyu shift malam #plak

    nice ff authornimmmm<3<3 selalu suka sama penulisanmu ^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s