(Ryeomin Story) Meet Up

ryeomin 53

Title : Meet Up | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin

Ryeowook baru saja sampai di rumah barunya, menyalakan lampu dan yah..rumah tampak sepi. Awalnya ia tidak menyukai keadaan itu karena orang tuanya masih di Incheon namun kini ia mulai terbiasa dengan keadaan sepi yang sempat dibencinya. Ia masih di ruang tengah mengamati keadaan rumah –apartement sebenarnya- yang masih minim perlengkapan itu. Sepertinya ia memang harus segera membeli sesuatu untuk mengisi rumah ini. Ia pun berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, mengabaikan dengan tidak sengaja tas dan mantel seorang wanita di kursi sofanya.

Dan ia nyaris memekik dengan kaget begitu melihat wanita pemilik tas dan mantel itu tengah duduk di meja dapurnya sambil memegang satu botol minuman soda.

“Minrin?” sapanya meyakinkah bahwa sosok wanita itu benar kekasihnya. “Apa yang kau lakukan di sini?” Shin Minrin menoleh tepat ketika Ryeowook hampir berteriak, melambaikan tangannya singkat dan tersenyum memamerkan giginya dengan puas, -puas karena berhasil membuat Kim Ryeowook terkejut dengan kedatangannya-.

Ehh..hei… kenapa kau selalu terkejut setiap kali aku pulang ha?” Gadis itu meletakkan botol minumnya lalu turun dari atas meja. Berbalik menghadap Ryeowook yang masih menatapnya diam.

Detik berikutnya saat Minrin memutuskan untuk menghampirinya, barulah Ryeowook mendapatkan kesadarannya kembali. “Bagaimana aku tidak terkejut kalau setiap kali kau pulang ke Korea selalu muncul tiba-tiba seperti ini? Bagaimana kau bisa masuk?” Ryeowook mendecak.

“Menebak-nebak password,” jawabnya santai membuat Ryeowook menatap ke arahnya tidak percaya.

Minrin memang hampir –selalu- membuatnya terkejut di setiap kunjungannya ke Korea. Tiga kali gadis itu datang tiba-tiba tanpa memberitahunya lebih dulu. Tiga kali juga Ryeowook selalu dibuat terkejut oleh kedatangannya. Dan tentu saja kedatangan Minrin saat menghadiri konser Ryeowook di Fukuoka menjadi yang tak dilupakannya.

Lalu apa tadi katanya? Menebak-nebak password?

Sekarang Ryeowook justru sedang berpikir dari mana Minrin bisa mendapatkan password apartementnya. “Kenapa? Kau tidak percaya padaku? Aku serius hanya menebak-nebak saja, dan kurasa aku punya kemampuan yang mengagumkan untuk masuk ke apartement kekasihnya sendiri,” imbuh Minrin sambil memamerkan senyum bangganya.

Ryeowook mendecak lagi dan Minrin hanya tersenyum, berdiri dua langkah di depan Ryeowook lalu diam-diam mengamati laki-laki itu. Oh..tunggu sepertinya ada yang berbeda darinya sejak mereka terakhir kali video call.

 “Dua hari yang lalu kau bilang tidak akan pulang meski hari Chuseok. Kenapa sekarang berubah pikiran?” Minrin terkekeh lalu menyilangkan tangannya di depan dada dengan terus memperlihatkan raut bahagianya. Seakan-akan gadis itu memang sudah merencanakan kebohongannya untuk mengejutkan Ryeowook. “Ah..aku tahu kau bohong padaku, iya kan?” tebak Ryeowook sambil menyipitkan matanya.

Pertanyaan itu langsung di sambut tawa oleh Minrin dengan penuh kemenangan. “Eoh…” angguknya bersemangat.

Tssk, sudah kuduga. Seharusnya aku tidak percaya kata-katamu.” Ryeowook pun melenggang pergi dari hadapan Minrin dan berjalan menuju lemari es nya, mencari minuman dingin yang sama yang tadi diminum Minrin.

“Baiklah, aku minta maaf.” Minrin berbalik dan menatap Ryeowook lagi, mengingat-ingat apa yang sebenarnya berbeda dari laki-laki kesayangannya itu. Ryeowook terlihat lebih tampan. “Issh, sebenarnya apa yang beda?” gumamnya sendiri.

Jagiya…,” panggilnya kemudian yang tentu saja langsung membuat Ryeowook menghentikkan kegiatan minumnya. Hampir saja ia tersedak.

“Kau tadi memanggilku apa? Jagiya?” tanyanya tidak percaya. Lebih aneh lagi Minrin mengangguk membenarkan, seakan-akan panggilan itu memang sudah biasa digunakannya.

Oh…sepertinya ada yang salah dengan otak gadis itu. Sejak kapan ia punya panggilan kesayangan ‘Jagiya’ untuk Ryeowook? Memanggil Oppa saja tidak pernah meski Ryeowook lebih tua 4 tahun darinya.

“Kulihat kau terlihat berbeda dari terakhir kali aku melihatmu di video call. Apa kau melakukan sesuatu dengan wajahmu? Operasi plastik misalnya saja?” tanyanya sedikit ngawur yang sayangnya justru membuat Ryeowook tertawa.

“Kenapa? Kau tidak menyukainya?” tanyanya. Minrin mendesis pelan tapi belum juga berhenti memikirkan apa yang kira-kira membuat Ryeowook berbeda hari ini.

“Tidak. Bukan begitu. Jujur saja aku menyukainya. Kau terlihat tampan. Makanya aku tanya apa kau baru saja melakukan sesuatu pada wajahmu?”

Ryeowook terkekeh lagi. Ia pun meletakkan botol minumnya di meja lalu berjalan menghampiri Minrin. Tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang berantakan di bagian samping wajah Minrin. Gadis itu sedikit menghiraukannya dan masih fokus dengan wajah Ryeowook yang kini sangat dekat di depannya. Melihat dengan jarak dekat hingga membuatnya tahu detail wajah laki-laki itu mau tidak mau justru membuat jantungnya berdebar. Kedua bola matanya lalu berhenti pada tatanan rambut Ryeowook yang hari ini terlihat lebih pendek.

“Ah…aku tahu!” pekiknya setelah berhasil menemukan apa yang beda dari Kim Ryeowook hari ini. “Kau memotong rambutmu, iya kan?” Ryeowook hanya terkekeh dengan senyum lebarnya lalu mengangguk.

“Karena aku masih bermain musical jadi aku tidak bisa memanjangkannya,” jelas Ryeowook kemudian.

Minrin mengerti sekarang. Tapi bagaimana ya….ia justru sangat menyukai penampilannya. Apalagi jika dilihat dari samping yang memperlihatkan telinga dan leher laki-laki itu. Minrin akui ia tergoda untuk mengacak rambutnya. Sial.

“Tidak usah dipanjangkan. Aku suka gaya rambut yang pendek,” ungkap Minrin buru-buru ketika Ryeowook mengatakan ingin memanjangkan rambutnya. Ryeowook hanya terkekeh lalu berlalu pergi menuju ruang tengah. Minrin mengikutinya dari belakang.

Keunde, kenapa tiba-tiba memanggil jagiya? Bukankah kau dulu tidak suka dengan hal-hal seperti itu?” tanya Ryeowook setelah duduk di sofa ruang tengah. Minrin mengikutinya dan memilih tempat duduk di samping Ryeowook.

“Aku kelepasan bicara tadi,” elaknya.

Tssk… katakan saja kalau kau memang ingin panggilan itu. Aku juga tidak keberatan.” Ryeowook menoleh lalu tersenyum mengejek. Rasanya Minrin ingin memukul wajahnya sekarang.

“Tidak. Sama sekali tidak.”

Lagi-lagi Ryeowook dibuat tertawa dengan tingkah Minrin. Seberapa kasar dan dinginnya sikap Minrin sebelum sebelumnya, gadis itu tetaplah mempunya sisi lucu saat seperti ini.

Arraso…arraso,” kata Ryeowook mengalah pada akhirnya. Ia pun beralih mengambil remote televisi di depannya dan menyalah televisi. “Apa yang harus kita tonton? Ada drama yang sedang kau sukai?” tanyanya sambil memindah-mindah channel televisi.

“Drama yang kusukai sudah tayang sejak tadi. Lupakan soal drama. Aku tidak datang untuk mengabaikanmu.” Minrin menyahut yang langsung saja membuat Ryeowook menoleh ke arahnya. Apa yang baru saja di katakannya?

“Kau yakin baik-baik saja?” tanyanya sambil mengamati Minrin dengan curiga. Aneh sekali seorang Shin Minrin bisa mengeluarkan kata-kata macam itu, sesuatu yang jarang dilakukannya sebelum gadis itu pergi ke Amerika.

“Kenapa?” Minrin balas menatapnya tidak mengerti. Ryeowook menggeleng pelan.

“Tidak. Hanya saja kau juga sedikit berubah. Apa kau sangat merindukanku sampai-sampai bersikap seperti ini?” tanya Ryeowook lagi dengan santainya.

Minrin tak kalah santai menanggapinya dengan mengangguk mengiyakan. Ia pun menjatuhkan kepalanya di atas pundak Ryeowook. Biasanya mereka akan berdebat tidak penting jika salah satu bersikap romantis. Tapi sebuah keajaiban tidak ada yang memprotes ataupun ejekan untuk kali ini. Mungkin jarak jauh yang kini membatasi keduanya menjadi salah satu faktor alasannya. Tidak mungkin mereka akan terus melakukan hal konyol macam itu –berdebat, saling mengejek- dan yang lainnya di saat keduanya sudah mulai serius dengan hubungan ini.

“Jangan mengejekku kalau aku bilang merindukanmu,” ujar Minrin pelan. Ia menyentuh jari-jari Ryeowook dan mulai memainkannya. Ryeowook tersenyum, melihat ke arah tangan mereka berdua.

“Aku tidak akan mengejekmu,” sahutnya dengan pelan.

“Aku merindukanmu,” ucap Minrin lalu dengan pelan mengecup pipi Ryeowook. Agak lama sebelum akhirnya ia melepaskannya dengan tersenyum.

Ryeowook benar-benar tidak mengatakan apapun atas tindakan Minrin barusan. Ia hanya menoleh dan akhirnya bertemu pandang dengan gadis itu. Minrin tersenyum lagi lalu dengan pelan ia meraih wajah di depannya itu dan menciumnya. Kesempatan yang tentu saja tidak ditolak Ryeowook. Ia pun membalas ciuman itu dengan pelan, mengubur sementara rasa rindu keduanya setelah sekian bulan tidak berjumpa. Ia bahkan berhasil mendorong Minrin, menyudutkannya di pinggiran sofa. Menjangkau bibirnya, melumatnya pelan seakan ini pertama kalinya hingga terasa sulit untuk dihentikkan. Tindakan Minrin yang menarik lehernya lebih dekat justru membuat Ryeowook hampir kehilangan pertahanannya. Beruntung ia tersadar untuk tidak melakukan hal lebih pada gadis itu ketika suara bel apartementnya terdengar –merusak kegiatan keduanya-. Minrin menghentikkan gerakannya dan membiarkan Ryeowook bermain talik ulur dengan bibirnya seakan tidak ingin melepaskannya. Sampai akhirnya laki-laki itu sedikit menjauhkan kepalanya dan memejamkan matanya sebentar. Ia lalu menatap Minrin sebentar di manik matanya sebelum bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu depan untuk mencari tahu siapa orang yang baru saja mengganggunya.

Begitu sampai di depan pintu, Ryeowook menyesal tidak segera membukakan pintu karena melihat wajah ibunya penuh dengan kekesalan terpampang di layar kecil dekat pintu.

Eomma…Aboji…?” serunya tak percaya begitu membuka pintu dan melihat kedua orang tuanya berdiri di depannya.

“Apa yang kau lakukan sampai-sampai lama membuka pintu?” sang ibu mendecak kesal membuat Ryeowook menelan ludahnya sendiri dengan gugup.

Hampir saja, pikirnya.

Ia pun segera menyingkir ke samping memberi jalan pada kedua orang tuanya untuk masuk dan membiarkan mereka bertemu dengan Minrin.

Annyeonghaeseo, Eomonim…Abonim…” Minrin menyambutnya dengan tersenyum memberi hormat, bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.

“Minrin-ya…kau di sini? Kapan kau kembali?” tanya wanita di depan Minrin itu dengan wajah yang berubah berseri-seri karena bahagia. Dan tanpa banyak bicara, ia pun berjalan menghampiri calon menantunya itu lantas memeluknya.

Ryeowook yang berdiri di belakang ketiganya hanya tersenyum. Sebelum akhirnya ayahnya menoleh ke arahnya dan membuat senyumannya hilang tergantikan ekspresi salah tingkah. “Apa kedatangan kami mengganggumu, nak?” tanyanya penuh dengan nada ejekan yang tentu saja membuat Ryeowook terdiam seketika.

Aboji….”

Ayahnya hanya terkekeh pelan. “Menikahlah lebih dulu, dan kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan,” katanya sambil tersenyum.

***

CUT

Heooll apa ini?

Aahh aku kangen nulis dan posting sesuatu di sini. Maafkan saya karena tak kunjung menyelesaikan ff ff yang sudah saya terlantarkan berminggu-minggu. Saya usahakan untuk segera, mengingat sekarang masih ngaggur nggak ada kerjaan. Hehe…

Oke deh, terimakasih dan sampai jumpa… ^^

Advertisements

12 thoughts on “(Ryeomin Story) Meet Up

  1. Yahh, kenapa pendek banget? Harusnya lebih panjang lagi biar puas bacanya #peace
    Btw, aku suka sama tingkahnya Minrin. Lucu.
    Soal Ryeowook dia emang kelihatan ganteng. Ganteng banget malah 😀

  2. Masih susah membayangan ryeowook berkiss kiss ria hahahaha😙
    Appa nya ryeowook tau aja anak nya abis ngapain,untung dteng tpat waktu ya.. klo nggak bobol dluan nie*gawangkalibobol

  3. Ffnya pendek tapi sukaaaaaa banget sama critanya
    Duuh minriiiiin. Ryeowook juga cowo seberapa imutnya pun dia kkkk~ untung eomma appa ryeowook cpet datang, jadi belom sempet ngelakuin lebih deh wkwk
    Aku ga sabar pen cepet2 dapet undangan ryeomin wkwkwk lanjutnya jan lama2 yaaa ^^ *maksa* XD

  4. Udah lama gak berkunjung kesini. Kangen sama ff eonni, kangen sama Ryeomin couple hehehe
    Sebenernya masih nunggu kelanjutan secret guard sih 😀
    Keep writing eonni 🙂

  5. aduh… memalukan >//////<
    ketahuan orang rumah itu pasti bikin malu sekaliiii ㅎㅎㅎㅎㅎㅎㅎㅎ
    terima kasih sudah membuat momen manis untuk ryeomin♡

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s