(Ficlet) Going Home

6a00d8341c67ce53ef0133ece2ea0d970b-800wi

Going Home

Langkah kaki Ryeowook melambat begitu memasuki rumah. Pintu di belakangnya terkunci secara otomatis begitu ia mengganti sepatu dengan sandal. Rumah tampak sepi, sunyi dan gelap. Ia menghela nafasnya berat sesaat sebelum berjalan mencari sakelar di bagian samping. Dinyalakannya lalu ruangan di depannya berubah terang benderang. Dulu di rumah ini selalu berisik tapi sekarang terlihat sangat sepi. 

Ia kemudian melangkah menuju jendela besar di ruang tengah, meletakkan tas punggungnya begitu saja di sofa dan memilih berdiri di depan jendela itu sembari menatap lurus. Dulu, ia selalu senang saat jadwalnya berakhir dan bisa pulang ke rumah. Karena saat itu ia bisa berkumpul bersama dengan yang lain, bercerita, bercanda meski semuanya sudah lelah. Kehangatan keluarga yang terpaksa ditinggalkannya saat memutuskan untuk pergi ke Seoul. Ryeowook benar-benar beruntung tidak kehilangan kebersamaan dan kehangatan seperti itu. Tapi seiring berjalannya waktu semua berubah. Satu persatu pergi, perlahan tidak lagi berkumpul bersama dan rumah ini menjadi makin sepi.

Ponselnya berdering tepat saat matanya sudah basah karena ingin menangis. Ia mengusapnya pelan sebelum menerima panggilan luar negeri itu.

“Hmm….,” jawabnya.  Perlahan senyumnya mengembang ketika mendengar suara gadis di seberang sana. Seperti sebuah penyemangat setelah akhir-akhir ini Ryeowook memikirkan banyak hal yang menganggu pikirannya. “Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir,” Ryeowook membalas begitu pertanyaan kekhawatiran menyerbunya.

“Aku mendengar siaranmu tadi.  Kau membuatku khawatir.”

Ryeowook menengadahkan kepalanya lalu diam-diam menghela nafasnya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia memang mendadak menjadi laki-laki melankolis. Dan puncaknya saat siaran tadi, ia tidak sanggup menahan tangis. Seharusnya ia tidak menangis begitu mengumumkan kepindahannya dari dorm karena gadis yang tengah bicara padanya ini pasti akan mengkhawatirkan keadaannya. Ah…tapi apa yang bisa dilakukan? Manusia akan tersenyum jika ingin tersenyum dan manusia juga akan menangis jika ingin menangis. Saat itu Ryeowook merasa ingin menangis karena itu ia menangis.

“Ryeowook-ah…,”

“Aku tidak apa-apa, sungguh.” Ryeowook kembali meyakinkan.

“Jika kau belum siap pindah, kau bisa menundanya. Jangan memaksakan diri, eumm?”

“Aku benar-benar tidak apa-apa, Minrin-ah. Aku pikir lebih cepat lebih baik. Jika aku menundanya, aku justru akan semakin berat untuk pergi. Pada akhirnya hal seperti ini akan terjadi, aku hanya tidak menduga akan terjadi sekarang.”

Ya.. hal seperti ini memang akan terjadi, hanya saja rasanya memang berat untuk melangkah pergi seperti ini. Banyak hal yang Ryeowook lewatkan di rumah ini bersama member lainnya. Meskipun rumah ini berbeda dari yang mereka tinggali dulu, tapi kebersamaan di dalamnya yang tidak pernah berubah.

Ryeowook ingat saat mereka masih mendapatkan dorm kecil sebagai rumah, ia berbagi kamar tidur bersama Yesung. Tempat tidurnya kecil dan tidak selebar sekarang. Saat semua member berkumpul, ruangan akan terasa sangat sempit. Saat pagi, mereka juga akan berebut untuk menggunakan kamar mandi. Mereka juga hanya punya satu komputer di dorm yang harus digunakan secara bergantian. Ryeowook ingat saat semua tidur, ia akan menyelinap untuk menggunakan komputer itu. Bulan demi bulan berjalan dan akhirnya mereka mendapatkan tempat yang lebih lebar. Kerja keras lah yang mereka lakukan hingga membuat mereka pada posisi sekarang ini. Kerja keras sebuah tim yang sejak awal selalu ditanamakan Leeteuk padanya dan juga yang lain.

Seiring berjalannya waktu, perlahan perubahan itu nampak. Acara kumpul-kumpul saat malam hari dan berdiskusi berkurang sedikit demi sedikit. Intensitas pertemuan juga berkurang jika bukan karena jadwal satu tim. Satu persatu mereka meninggalkan rumah ini dan memilih tinggal sendiri atau kembali ke rumah masing-masing. Ryeowook juga seperti itu. Saat pertama kali menginjakkan kakinya di Seoul, ia sendiri tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya di Incehon. Rasa ingin kembali ke rumah itu terkadang menyergapnya beberapa kali selama sepuluh tahun terakhir. Tapi selalu ada alasan untuknya bertahan lebih lama. Alasan bahwa di rumah ini dia juga punya keluarga. Keluarga yang juga memberikan kehangatan dan keberamaan sama seperti yang di dapatnya di rumah lamanya.

Sayangnya sejak beberapa bulan terakhir, rumah ini hanya dihuni olehnya dan juga Donghae sejak Heechul memutuskan pindah. Rasanya semakin sepi. Awalnya Ryeowook ingin menjaga tempat ini seperti sedia kala dengan tetap tinggal di sini, tapi ia mulai ragu apakah keadaan awal seperti keinginnaya akan tetap ada begitu Donghae menjalani wajib militernya bulan depan. Lagipula tahun depan ia juga harus pergi. Pada akhirnya satu persatu akan meninggalkan rumah ini, bukan?

Pintu di belakangnya terbuka begitu Ryeowook selesai berbicara dengan Minrin di telepon. Ia menoleh sebentar dan mendapati Lee Donghae yang baru pulang berdiri sembari menatapnya.

“Ada apa? Apa kau habis menangis?” tanyanya sambil berjalan mendekat. Ryeowook hanya menggeleng lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lagi.

Aniya,” sanggah Ryeowook lalu berjalan menuju dapur.

Tanpa disadarinya Donghae mngikutinya begitu meletakkan jaketnya di dekat tas punggung milik Ryeowook yang tergeletak di sofa. Laki-laki yang lebih tua dari Ryeowook itu menarik satu tempat duduk di depan Ryeowook. Diperhatikan lagi wajah dongsaeng kesayangannya itu.

“Kau benar-benar habis menangis ya?” tanya Donghae lagi. “Matamu  terlihat berbeda,” lanjutnya sambil menunjuk kedua mata Ryeowook yang memang sedikit bengkak karena tangis tak disangkanya tadi.

Ryeowook hanya tersenyum kecil kemudian meneguk air putih yang tadi diambilnya. “Seharusnya aku yang menangis. Orang yang bulan depan akan pergi itu aku bukan kau, kenapa kau yang menangis, ha?” Donghae beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil sebotol soda dan meminumnya.

“Aku memikirkan banyak hal akhir-akhir ini. Apa aku sudah melakukan semuanya dengan baik, ya…hal-hal seperti itu dan tiba-tiba saja aku ingin menangis.” Ryeowook berucap.

“Jadi bukan karena kepindahanmu?” Donghae menoleh. Dilihatnya Ryeowook hanya tersenyum.

“Ya..itu juga salah satunya. Di suatu waktu aku merasa ingin segera pergi dan tinggal bersama orangtuaku lagi. Tapi si suatu waktu yang lain, aku merasa berat untuk pergi dari sini.”

Donghae yang sudah sejak tadi berbalik dan bersender di pinggiran meja samping mulai memperhatikannya. Ucapan Ryeowook itu seakan menjadi sesuatu yang membuat Donghae merasakan apa yang tengah adik kesayangannya itu pikirkan. Terkadang ia juga seperti itu sebenarnya.

Terlalu banyak hal yang mereka lewatkan bersama-sama sebagai sebuah tim dan juga keluarga.

“Eiyy, jangan bersedih. Pergi dari rumah ini bukan berarti kita semua tidak akan bertemu selamanya, kan? Kau harus berhenti memikirkan hal-hal seperti itu.” Donghae berucap dengan semangat. Ryeowook mengulas senyum setelah itu.

“Ya, Ryeowook-ah. Kau ingin makan ramen? Akan kubuatkan untukmu,” lanjut Donghae yang berusaha menghibur. Ryeowook berdecak, tersenyum lebar lalu mengangguk.

Kuere,”

Ryeowook ingat Donghae selalu membangunkannya dan menyuruhnya membuat ramen. Saat itu meskipun Ryeowook lelah sekalipun, ia akan bangun dan menuruti permintaan Donghae. Ia tidak pernah protes ataupun keberatan melakukan itu. Mungkin karena ia salah satu yang termuda, yang dulu sering disuruh-suruh tapi pada akhirnya membuatnya semakin peduli dengan members lainnya termasuk urusan makan.

Tidak lama untuk Ryeowook menunggu Donghae selesai membuat ramen. Aroma makanan instan itu menguar dari panci kecil yang diletakkan Donghae di atas meja. Ah…Ryeowook jadi ingat dulu mereka juga sering melakukan hal ini. Makan bersama dari satu panci. Ryeowook mengambil satu suap lalu tersenyum.

“Hmmm ini enak.”

“Tentu saja enak. Kau tahu, aku jadi ingat saat dulu kita menyuruh Kyuhyun membuat ramen dan tragedi sungai han terjadi.” Donghae tertawa pelan yang juga diikuti Ryeowook.

Ah..benar. Saat itu Kyuhyun belum lama bergabung. Dia maknae dan Leeteuk menyuruhnya membuat ramen. Entah karena Kyuhyun tidak pandai membuatnya atau sengaja, tapi tragedi sungai han itu benar-benar terjadi. Kau tahu kan…mie instan yang penuh dengan air. Ya…Ryeowook dan yang lainnya menyebutnya  tragedi sungai han.

“Saat kita syuting SJM Guest House, ia membeli mie instan dan bodohnya dia menuangkan kuahnya ke dalam mangkuk lalu membawa mangkuk itu ke tempat lokasi. Tentus saja semua airnya tumpah selama perjalanan.” Ryeowook menambahkan lalu Donghae mengangguk-angguk sambil tertawa.

“Oh,..kuere aku ingat itu. Anak itu benar-benar….”

Obrolan itu berlarut selama keduanya menghabiskan sepanci ramen di depan mereka. Ah..Ryeowook merindukan saat-saat seperti ini. Berhubung di dorm ini hanya tinggal dirinya dan juga Donghae yang tinggal, rasanya Ryeowook tidak punya teman bicara selain hyungnya itu.

“Ah ya…ngomong-ngomong, apa kau akan pindah ke Incheon?” tanya Donghae mengubah arah pembicaraan begitu mereka menyelesaikan makan malam sederhana itu. Dua kaleng beer masing-masing kini sudah berada di depan mereka.

Ryeowook membuka beer miliknya dan seketika itu suara desis pelan terdengar. Ia meminumnya sebelum menjawab pertanyaan Donghae barusan. “Aku ingin, tapi Incheon terlalu jauh jika semua pekerjaanku lebih banyak di Seoul.”

“Jadi, kau membeli rumah baru atau apartement baru?”

Ryeowook mengangguk pelan. “Aku membeli sebuah apartement di Seoul belum lama ini. Awalnya aku ingin pindah kesana setelah menikah, tapi kurasa tidak lagi.”

Donghae mengangguk paham. “Aku belum bicara pada orangtuaku jika aku ingin tinggal di apartement itu bersama mereka. Tapi aku berharap mereka bersedia. Lagipula terlalu sepi jika tinggal sendiri.”

“Bagaimana dengan Minrin. Dia sudah tahu kalau kau akan pindah?”

Ryeowook mendongak dan mengangguk. “Ya…aku sudah memberitahunya. Dia menyuruhku untuk mempertimbahkan lagi keputusanku, tapi waktunya semakin dekat dengan tanggal wajib militermu. Aku pikir akan sulit jika aku pergi setelah kau pergi.” Donghae tersenyum, ia pun meneguk beernya.

“Aku mengerti. Karena Heechul hyung juga sudah pindah jadi, kurasa lebih baik pergi lebih dulu sebelum aku wajib militer.”

“Apa yang akan kau lakukan? Selama satu bulan ini dan setelah kau kembali dari wajib militer….”

Donghae terlihat berpikir sejenak. “Yang jelas aku akan menghabiskan waktuku bersama ibuku satu bulan tersisa ini. Setelah kembali, aku ingin mencari gadis yang kusukai dan menikah,” jawabnya tanpa ragu. Ryeowook membalasnya dengan tersenyum lalu mengangguk.

“Ya, hyung..kau memang harus melakukannya,” ujarnya.

“Aku iri padamu yang sudah menemukan seorang gadis yang akan kau nikahi. Aku juga ingin menikah, jadi aku akan serius mulai sekarang.” Donghae menyahut sambil mengangguk.

Ryeowook tidak menyahut lagi dan memilih menghabiskan beer nya. Ia sadar keadaan awal seperti keinginanya tadi memang mustahil terjadi kembali. Orang berubah, pikirannya juga, dan perbuahan pada akhirnya tidak bisa dicegah. Cepat atau lambat, satu persatu akan berjalan sendiri-sendiri. Pada akhirnya rumah ini memang akan ditinggalkan.

“Meskipun kita semua tidak lagi tinggal bersama suatu saat nanti, tapi aku masih sangat ingin untuk berkumpul bersama seperti dulu,” ujar Donghae kemudian. Ryeowook mendongak sedikit tersenyum lantas mengangguk.

Keuromyo, karena kita keluarga, benarkan?” Donghae mengangguk menyetujuinya.

Karena keluarga akan membuka tangannya lebar-lebar untuk menyambutmu saat pulang. Karena keluarga adalah rumah. Dan kebersamaan dan kehangatan itu akan terus kau rasakan kembali dengan orang-orang yang selalu menjadi rumahmu.

***

Ahh aku tidak tahu kenapa nulis ini. Ini karena rencana kepindahan Ryeowook dari dorm, tanggal wamil Eunsihae dan banyak hal yang dulu pernah terjadi pada mereka selama 10 tahun ini. Agak sedih nulisnya apalagi gara-gara sambil mendengarkan lagunya Kim Yuna Going Home. Entah rasa sedih itu tertular pada reader semua apa nggak, tapi yang pasti aku ingin mskipun mereka tidak lagi tinggal bersama, tidak lagi bekerja bersama tapi mereka tetap menjaga tali persahabatan, persaudaraan dan kekeluargaan yang selama ini mereka perlihatkan. Dan semoga kebersamaan yang selalu mereka tunjukkan bukanlah kepura-puraan semata.

Karena keluarga adalah rumah, dan mereka akan selalu menyambut kepulanganmu.

 

Advertisements

4 thoughts on “(Ficlet) Going Home

  1. Ouh ryeowook mau pindah toh.. aku bru tau dri sni mlah,udah lma nggak dngerin sukira soal nya…
    Stelah dwasa mrka memutuskan untuk mencar”ya tinggal nya,gpp yg pnting mrka tetap super junior yg slalu akan di rindukan dan menjadi penyemangat buat elf
    Saranghaeyo super junior😂😂❤❤❤

    • iyaa.. t.t
      tapi emang nggk mungkin tinggal bersama selamanya kan? lama2 itu dorm malah tambah penuh .. k k k 😀
      iyess, no matter what they are still Super Junior ❤

  2. Uhh sedih bacanya. ya bener. 3 orang lagi akan pergi itu artinya ada 5 member yg akan melakukan wamil.
    Skrg juga keliatan ko member udah sibuk sama urusannya masing2.
    Tapi meskipun mereka ga tinggal bersama lagi aku yakin mereka saling merindukan dan persahabatan juga rasa kekeluargaan mrka ga akan pernah putus.
    Like this story ^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s