(Ryeomin Story) An Engagement

11371982_461669827343476_671665378_n

Title : An Engagement | Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin

Sudah dua minggu sejak kedatangan Minrin ke Korea dan nanti malam adalah hari besar yang ditunggu. Tapi sepertinya Minrin ragu acara yang akan diselenggarakan besok akan menjadi acara yang luar biasa. Benar tidak ada yang spesial persis seperti yang direncanakan. Hanya akan ada makan malam besar bersama-sama dengan tema garden party, lalu akan ada pengumuman resmi tentang pertunangannya dengan Ryeowook. Mungkin dua keluarga akan membicarakan pernikahan dengan serius setelah itu. Ya…hanya sebatas itu dan semua hal yang berkaitan dengan acara itu ibunya lah yang menyiapkannya. Karena Minrin sendiri disibukkan dengan pekerjaan dan beberapa pengambilan gambar untuk majalah serta Ryeowook yang terlampau sibuk, membuat keduanya tidak ambil pusing dan menyerahkan semuanya pada ibu Minrin.

Lima hari yang lalu Minrin bertemu Ryeowook. Itupun hanya sebentar karena Ryeowook harus segera pergi untuk recording sebuah acara. Setelah dipikir-pikir, mereka juga tidak saling berkomunikasi seintensif sebelumnya. Biasanya setidaknya dalam sehari sekali Minrin akan menghubunginya dan menanyakan apakah dia sudah makan dan memintanya untuk tidak mengabaikan dirinya sendiri. Atau terkadang Ryeowook akan menyempatkan diri untuk menemui Minrin meski itu hanya tiga puluh menit, tapi sepertinya semua itu sudah sangat lama tidak mereka lakukan.

Semua kebiasaan yang tidak lagi dilakukannya itu tiba-tiba membuat Minrin rindu. Ya..bukan perasaan rindu seperti yang dirasakannya saat berada di New York, hanya sebuah perasaan ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan meneleponnya atau menemuinya.

Betapa beruntungnya Minrin, ketika tiba-tiba ponselnya berdering disaat dia memikirkan Ryeowook. Nama pria itu tertera di layar ponselnya dan membuatnya menyunggingkan senyum seketika.

Yeobseo…,” sapanya bersemangat.

“Suaramu terdengar sangat bersemangat. Apa kau sangat senang aku meneleponmu?” goda pria itu seketika. Minrin berdecak. Ah…apa dia harus menyembunyikan kegembiraaannya saat ini?

“Aku biasanya akan mendebat dan mengelak tapi kurasa perdebatan tidak penting itu hanya membuang-buang waktu. Aku tahu kau sibuk sekali akhir-akhir ini. Jadi, ya aku senang kau meneleponku setelah beberapa hari ini.” Minrin tersenyum. Dia menyingkir sebentar dari dua orang wanita di depannya yang tadi membantu saat pemotretan. Dia berjalan keluar ke halaman belakang studio itu.

“Aku ada waktu sekitar satu jam sebelum latihan. Kau dimana? Haruskah kita bertemu?”

Minrin tidak berhenti tersenyum. Dia mengangguk. “Baiklah, kau mau datang ke sini menjemputku atau kita bertemu di tempat biasa saja?” tanyanya.

“Kita bertemu di tempat biasa saja. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku.”

“Baiklah, aku mengerti. Sampai jumpa….”

“Hmm… sampai jumpa di sana.”

Minrin masih menyunggingkan senyum ketika sambungan itu terputus. Dia pun berjalan masuk, melewati seorang wanita yang sudah sangat akrab dikenalnya yang tengah menatapnya sambil tersenyum penasaran. Minrin memilih mengabaikannya lalu menepuk pundaknya sebelum meninggalkannya.

***

Holy cafe sepi siang itu. Sebuah kesempatan yang sangat bagus karena tidak akan banyak orang yang akan melihat keduanya. Sebenarnya para netizen akhir-akhir ini lebih penasaran dengan berita kekasih puteri sulung pendiri Shin Group dibandingkan siapakan wanita yang tengah dikencani Ryeowook Super Junior. Entahlah, sepertinya dia lebih populer dari pria itu ya? Jika di Korea bisa dibilang Minrin yang merupakan anak dari pendiri perusahaan global itu memang lebih terkenal. Tapi diluar Korea seperti di Singapore, Taiwan atau China, Ryeowook jauh lebih dikenal dibandingkan dirinya.

Minrin datang lebih awal dibandingkan Ryeowook. Dia memesan satu buah coffe late kesukaannya dan biskuit sebagai camilan. Dia menunggu sekitar sepuluh menit ketika akhirnya pintu cafe terbuka dan memperlihatkan Ryeowook berjalan dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya.

Minrin hanya melihatnya sekilas sambil tersenyum dan langsung memesan satu kopi lainnya untuk Ryeowook.

“Maaf karena memotong waktu sepuluh menit yang kita punya.” Ryeowook berkata santai sambil menarik tempat duduk di depan Minrin. Dia melepaskan maskernya tapi tidak dengan topinya. Tapi Minrin masih bisa melihat bahwa Ryeowook masih mempertahankan warna rambut brightnya itu. Penampilan yang menurut Minrin berbeda dan dia menyukainya. Meskipun Ryeowook dengan rambut coklat gelapnya masih menjadi favouritenya sampai sekarang.

“Kau sibuk sekali akhir-akhir ini. Bagaimana? Kau masih flu? Kau pasti lelah,” ujar Minrin sembari memperhatikannya. Wajahnya terlihat lelah dan dia sempat meminum air minum dari botol yang dibawanya setelah terbatuk yang membuat Minrin berpikir bahwa Ryeowook masih memiliki masalah dengan tenggorokannya. “Jangan memaksakan diri, kau juga harus menjaga kesehatanmu,” ucap Minrin terdengar khawatir.

“Aku baik-baik saja. Rasanya memang sangat melelahkan tapi aku sungguh baik-baik saja, jangan khawatir.” Ryeowook menyahut. Tepat saat itu kopi untuknya datang. Dia tersenyum dan berterimakasih pada pelayan yang mengantarnya. Lalu setelah itu dia memperhatikan Minrin. “Aku sempat berpikir jika aku mungkin tidak akan bisa menghadiri acara nanti malam itu,” guraunya.

“Jangan bercanda! Mana mungkin kau tidak datang. Aku serius, jadwalmu yang sangat padat sedikit membuatku khawatir. Berapa lama kau tidur? Apa kau makan dengan teratur? Seharusnya aku membelikanku banyak vitamin. Aah..eottoke?

Ryeowook justru tersenyum nyaris menertawakan gadis di depanya itu saat mendapat pertanyaan kekhawatiran yang penuh dengan perhatian itu. “Aku hanya tidur 3 jam semalam. Siaran sukira, persiapan untuk comeback, acara Enter-K dan juga masih harus ke Jepang untuk konser. Akhir-akhir ini sangat melelahkan. Kurasa aku menjadi sangat sibuk dibandingkan yang lain. Tapi berhentilah khawatir, kau justru membuatku merasa aneh jika bersikap seperti itu.”

“Kenapa aneh? Tidak ada yang salah aku memperhatikanmu kan?”

“Memang tidak ada yang salah. Aku menyukainya,” potong Ryeowook cepat. Dia tersenyum lagi. “Kau merindukanku?” tanyanya kemudian.

Minrin menghela nafasnya pendek begitu mendengar pertanyaan itu. Ia mengambil cangkir kopinya dan mencicipinya. Dulu dia tidak tidak terlalu suka saat Ryeowook menanyakan itu, atau saat pria itu mengatakan betapa rindunya ia pada Minrin. Bagi Minrin semua itu terdengar cheesy. Lagipula entah bagaimana melihat ekspresinya saja sudah membuat Minrin tahu kalau perasaan itu ada untuknya.

“Bagaimana menurutmu?” Minrin balik bertanya, yang kemudian membuat Ryeowook berdehem sembari berkonsentrasi memperhatikan wajah di depannya.

Sialnya hal itu justru membuat Minrin terdiam. Jantungnya berdetak cepat. Sesuatu yang selalu terjadi tiap kali Ryeowook menatapnya seperti itu. Sekitar sepuluh detik dan Ryeowook belum melepaskan tatapannya. Detik berikutnya pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengacak kepalanya.

“Baiklah, aku sudah tahu jawabannya,” ujarnya. Dia pun menghentikkan tatapannya pada Minrin dan melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian ekspresinya berubah bersalah. “Aku rasa kita benar-benar tidak akan punya waktu 1 jam. Aku harus pergi sekarang, maafkan aku,” lanjutnya.

“Kenapa? Secepat inikah? Kau kan baru datang?” tanya Minrin sontak kecewa.

“Aku datang untuk melihatmu dan sekarang aku harus kembali bekerja atau mereka akan memberiku hukuman, kau tahu kan mereka itu perilakunya seperti apa?” Ryeowook tersenyum, menarik tangan Minrin yang berada di atas meja dengan perlahan dan menggenggamnya.

Minrin menghela nafasnya, mengangguk tanpa berpura-pura tidak merasakan kekecewaan. Bagaimana bisa Ryeowook langsung pergi padahal baru saja sampai. Kopinya saja baru dicicipi sedikit. Atau jangan-jangan Ryeowook memang tidak punya waktu untuk bertemu tapi memaksakan diri untuk datang.

“Baiklah aku mengerti. Sepertinya kau memang harus menghabiskan banyak waktu dengan mereka seperti dulu kan? Maksudku, tahun ini sebagian besar dari mereka akan wajib militer,” ucap Minrin mengalah.

“Ya, aku tahu. Aku senang bisa beraktivitas bersama dengan  mereka lagi. Kau masih harus melakukan hal lain?” Ryeowook bertanya sebelum dia beranjak berdiri.

Minrin menggeleng. “Tidak. Aku akan pulang saja. Pergilah, aku bisa pulang sendiri,” sahutnya tanpa menutupi rasa kecewanya sekali lagi.

Ryeowook berhenti sebentar, memperhatikan gadis itu lalu memajukan kepalanya untuk mengecup kening gadis itu. “Jangan menunjukkan wajah seperti itu. Kau membuatku berat untuk pergi,” ujarnya. Minrin mendongak lalu memaksakan untuk tersenyum.

“Pergilah, aku tidak apa-apa,” sahutnya. Ryeowook tersenyum kecil lalu mengacak rambutnya lembut.

“Kau yakin?” Minrin mengangguk lagi meyakinkan. “Baiklah aku pergi. Berhati-hatilah di jalan.”

“Kau juga, sampai jumpa nanti malam,” Minrin menyunggingkan senyum sebelum Ryeowook pergi meninggalkannya.

***

Acara petunangan yang diselenggarakan malam harinya tidak terlihat seperti acara yang mewah. Tidak banyak yang datang, hanya keluarga dan sahabat. Acara itu justru terlihat seperti pesta biasa dan bukannya sebuah acara pertunangan. Konsep garden party yang sederhana dengan mengambil tempat halaman belakang rumah keluarga Shin menjadikan acara malam itu memperlihatkan kebersamaan dan kekeluargaan yang erat.

Minrin memang meminta pada ibunya untuk tidak terlalu mengistimewakan acara malam itu. Ia dan Ryeowook serta dua keluarga hanya akan memberikan pengumuman bahwa mereka berdua bertunangan dan berencana untuk menikah. Saat akhirnya ayah Minrin berdiri dan mengucapkan rasa terima kasihnya pada tamu undangan saat itulah akan diumumkan tentang pertunangan.

“Acara ini sebenarnya tidak terencana dengan baik tapi aku mengucapkan terimakasih karena sudah datang.” Laki-laki dengan stelan jas hitam rapi itu memulai lalu melihat ke arah Minrin dan juga Ryeowook. “Istriku menginginkan acara di sebuah hotel mewah tapi puteriku menginginkan makan malam sederhana di rumah kami,” ucapnya kemudian dengan nada bercanda yang sedikit mmebuat para tamu tertawa.

“Meskipun ini sebuah makan malam, tapi aku akan mengumumkan sesuatu yang penting pada kesempatan kali ini. Puteriku satu-satunya akhirnya memutuskan untuk beranjak dewasa,” ucapnya lagi yang akhirnya membuat para tamu undangan diam dan menyimak apa yang akan dikatakannya.

“Malam ini adalah acara pertunangan puteriku bersama laki-laki yang dipilihnya. Aku pikir tidak perlu mengenalkan siapa laki-laki itu, karena kurasa kalian sudah bisa menebaknya saat melihat banyak wajah-wajah selebritis di sini,” candanya yang lagi-lagi membuat tamu undangan tertawa, tak terkecuali Minrin serta Ryeowook yang ikut tersenyum.

“Dia seorang penyanyi dan aku baru menyadari kalau suaranya sangat indah. Mungkin nanti kita bisa menyuruhnya untuk menghibur kita.” Tuan Shin terus bercanda yang membuat suasana malam itu lebih hangat. Semuanya setuju jika laki-laki yang punya bisnis banyak itu punya selera bicara yang bagus. “Baiklah, kurasa ini saatnya kalian berdua maju,” lanjutnya.

Ryeowook berdiri begitu juga dengan Minrin lalu keduanya berjalan maju ke sebuah panggung kecil bernuansa putih. Minrin mengenakan dress putih selutut dengan rambut dibiarkannya tergerai sementara Ryeowook tentu saja dengan jas formalnya.

“Aku melihat mereka berusaha keras untuk mewujudkan acara ini disela kesibukan dan aku sangat senang saat melihat mereka berdua berdiri berdampingan seperti itu. Aku berharap tanggal pernikahan akan segera ditetapkan setelah cara pertunangan ini. Mohon doa kalian semua untuk putera puteri kami. Terima kasih.” Tuan Shin mengakhiri ucapannya dan menyerahkan miikropon yang dipegangnya pada Ryeowook. Terlihat sekali kebahagian yang terpancara di wajah laki-laki itu.

“Kami mengucapkan terimakasih karena hadir pada acara malam ini.” Ryeowook berucap menggantikan Tuan Shin yang telah kembali ke tempat duduknya. Ryeowook menoleh sebentar ke arah Minrin yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum. “Kami pertama kali bertemu lima tahun yang lalu karena Eunhyuk-ssi.” Dia melanjutkan. Terlihat Lee Hyukjae yang duduk bersama Kyuhyun serta Jongwoon tersenyum ke arahnya.

“Aku pikir aku tidak akan mengenal Minrin sebaik sekarang. Dia gadis yang menyenangkan dan aku sangat senang dia bersedia berdiri di sampingku seperti ini. Aku berharap kami akan terus seperti ini. Karena kita akan melalui bersama-sama semuanya mulai sekarang, mohon berikan doa kalian. Terima kasih…,” Ryeowook membungkuk memberi hormat dan seiring ucapan terima kasihnya tepuk tangan terdengar dari para tamu undangan.

Minrin yang berdiri di sampingnya tersenyum sambil menatapnya. Rasanya seperti baru saja melakukan sebuah pengakuan di depan publik tentang hubungan mereka. Meskipun hanya di depan keluarga dan sahabat, tapi sedikit melegakan dan Minrin senang.

Sebagi sebuah simbol acara pertunangan, Ryeowook memasangkan cincin di jari Minrin dan begitu sebaliknya. Sekali lagi Minrin memandang cincin dengan berlian itu sejenak. Kali ini ia ingin menghapus keraguan, ketakutan dan kekhawatirannya selama ini untuk melangkah bersama. Kedua tersenyum setelah itu dengan suara tepuk tangan dari tamu undangan.

Setelah acara resmi pertunangan itu, semua orang terlihat berbaur satu sama lain menikmati hidangan makan malam. Ada yang mengobrol bersama, ada yang berdiri dan membentuk kelompok sambil menikmati wine dan ada pula yang memilih menghabiskan berbagai hidangan di mejanya. Ryeowook dan Minrin yang awalnya hanya berdiri berdua menikmati acara malam itu akhirnya kedatangan Lee Hyukjae yang tiba-tiba berdiri di antara mereka.

“Kalian benar-benar melangkah sampai sini. Aah…aku merasa tersaingi,” sesalnya sambil bercanda.

“Kau juga harus melakukan sesuatu dengan hubunganmu bersama Hyehyo. Kau tidak berencana membuatnya menunggu dua tahun dengan sia-sia, bukan?” goda Minrin sambil menyenggol lengan sahabatnya itu.

“Itu benar hyung. Jangan membuat gadis itu menunggu sia-sia. Jika kau tidak ingin bersamanya, katakan sekarang sebelum membuatnya sangat sakit hati dua tahun kemudian.” Ryeowook menimpali dengan jujur yang seketika itu mendapat tatapan tidak setuju dari Hyukjae.

Aissh berhentilah mengatakan hal itu. Aku tahu apa yang harus kulakukan pada gadis itu,” Hyukjae membalas sambil tersenyum ketika melihat Park Hyehyo berdiri tidak jauh darinya sedang mengobrol dengan Ranran.

“Tapi ngomong-ngomong, kapan kalian akan menikah?” tanya Hyukjae kemudian. Seketika itu Ryeowook melihat ke arah Minrin. Yang dilihat hanya mengulas senyumnya.

“Kurasa sebelum dia wajib militer,” jawab Minrin dengan sangat yakin yang membuat Ryeowook ikut tersenyum.

“Benarkah? Kalau begitu kurasa kita harus segera menemukan pendamping untuk Leeteuk Hyung dan lainnya. Tidak lucu jika mereka harus melihat adiknya yang lain menikah sementara mereka masih single,” Hyukjae terkekeh yang juga diikuti Ryeowook serta Minrin yang tertawa.

Saat ketiganya kembali terlibat dalam obrolan, Hyehyo datang dan membuat ketiganya berhenti. Terutama Hyukjae yang melihat Hyehyo dengan senyum berlebihan.

“Aku tidak ingin mengganggu kalian bertiga, tapi aku ingin berbicara dengannya. Tidak apa-apa kan?” tanya Hyehyo lebih kepada Ryeowook dan Minrin. Keduanya mengangguk hampir bersamaan.

“Pergilah,” Minrin memberi ijin. Lalu setelah itu pasangan itu pun pergi meninggalkan Ryeowook serta Minrin.

“Sampai jumpa nanti. Dan Kim Ryeowook, jika kau tidak pulang ke dorm beritahu Donghae, kau mengerti?” teriaknya jahil yang hampir membuat Ryeowook balas berteriak karena tidak terima dengan ucapannya itu.

“Yaa..! Dia benar-benar..!” gerutunya.

Minrin yang melihatnya hanya terkekeh pelan. “Joa, kurasa kau bisa memberitahu Donghae oppa sekarang dan kita bisa menghabiskan waktu bersama,” celetuk Minrin tiba-tiba.

“Ya, apa maksudmu?” tanya Ryeowook terkejut.

“Kenapa? Bukankah itu yang kau inginkan?” tanya Minrin lagi. Ryeowook terdiam dan Minrin langsung tertawa. “Lihatlah kau lucu sekali.”

“Tsk..berhentilah mengatakn hal itu. Terkadang ucapanmu sedikit mengerikan,” sahut Ryeowook kesal karena membayangkan yang tidak-tidak tadinya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Minrin menyelidirk dengan mata menyipit sambil terus menahan senyum karena berhasil menggoda laki-laki itu. Ryeowook menatapnya dengan ekspresi datarnya, membuat Minrin ingin tertawa lagi. “Aku berpikir untuk menikmati sebotol wine dan mengobrol bersama seperti yang biasa kita lakukan.” Dia melanjutkan.

“Dan meninggalkan semua orang?” Ryeowook bertanya. Minrin Mengedarkan pandangannya lalu mengedikkan bahunya ringan.

“Ya, kurasa kita bisa melakukannya setelah selesai,” putusnya kemudian.

“Kurasa aku yang tidak bisa.” Minrin menoleh lagi pada Ryeowook. Lalu ia sendiri hanya mampu menghela nafasnya begitu melihat raut kelelahan di wajah Ryeowook.

“Aku tahu. Kau masih harus ke sukira setelah ini. Kenapa rasanya kita jadi jarang menghabiskan waktu bersama akhir-akhir ini?” keluh Minrin. Dulu hal ini sudah biasa tapi terlalu lama seperti itu ternyata juga tidak terlalu baik.

Bukankah banyak pasangan diluar sana yang akhirnya memutuskan hubungan karena kesibukan dan kurangnya intensitas pertemuan? Terkadang Minrin berpikir jika hubungannya dengan Ryeowook akan berakhir karena kurangnya intensitas pertemuan, tapi nyatanya tidak. Tapi tetap saja jarang bertemu bisa juga jadi virus keretakan sebuah hubungan.

“Maafkan aku…,’ Ryeowook menarik tangan Minrin lalu menggenggamnya sambil menunjukkan ekspres bersalahnya. Minrin menggeleng pelan.

“Bukan salahmu. Aku juga sibuk bahkan harus kembali ke New York beberapa hari lagi. Aah…kenapa tiba-tiba aku merasa lebih sulit menjalani ini semua dengan jarak jauh?” ia menengadah ke langit yang bertabur bintang. Menghalau kenyataan hatinya tiba-tiba sedikit perih karena tiba-tiba ia takut merasa kesepian.

Ryeowook menangkup wajahnya di kedua sisi lalu meminta untuk menatapnya. Minrin menurut dan melihat Ryeowook sedang menatapnya dengan senyum menenangkannya. “Jangan menangis. Aku tidak suka melihatnya,” ucapnya dengan nada memerintah.

“Aku tidak menangis. Aku hanya….”

“Hampir 4 tahun dan kau baru mempermasalahkan intensitas pertemuan diantara kita sekarang? Bukankah kita pernah dua bulan tidak berjumpa? Lagipula apa gunanya ponsel, ha?” Ryeowook menyahut membuat Minrin menggembungkan pipinya lalu menghela nafasnya lagi.

Dulu sepertinya terlihat mudah tapi kenapa sekarang tidak? Minrin sendiri mempertanyakan hal itu. Sepertinya efek dari pertunangan ini justru membuatnya kelewat berlebihan melihat hubungan mereka yang tidak seperti pasangan lainnya.

“Baiklah..baiklah kita lupakan saja. Aku tidak ingin berdebat denganmu di acara malam ini.” Minrin memtuskan. Detik berikutnya gadis itu tersenyum lagi, meraih tangan Ryeowook yang masih berada di pipinya dan menggenggamnya.

“Terimakasih,” ucapnya pelan. Minrin menundukkan kepalanya sambil melihat tangan Ryeowook. Ryeowook sendiri sedikit mengernyit saat mendengar nada serius yang digunakan Minrin. Dan kalimat selanjutnya benar-benar membuat Ryeowook terdiam karena tersentuh.

“Terimakasih karena kau masih bersedia melewati semua hal bersamaku. Bersabar menghadapiku, termasuk bersabar saat aku menjadi seorang fangirl yang menggilai laki-laki lain. Aku tahu aku telah membagi secuil rasa sayang itu pada mereka, tapi kaulah yang telah memenangkannya. Jadi….” Minrin menarik nafasnya. Jantngnya berdebar cepat. Perlahan ia menangkat kepalanya dan menatap Ryeowook.

“Apapun yang terjadi, sampai hari pernikahan kita dan setelah kita menikah, ayo kita menjalani kehidupan ini bersama-sama.”

Minrin menyelesaikan kalimatnya. Ryeowook tersenyum mendengarnya dan membalasnya dengan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Seakan mengatakan bahwa apapun yang gadis itu katakan, Ryeowook akan setuju dengannya. Beberapa pasang mata melihat keduanya dengan iri tak terkecuali Hyukjae dan Hyehyo. Lee Hyukjae bahkan menggelengkan kepalanya heran tapi akhirnya tersenyum senang. Akhirnya sahabatnya, teman masa kecilnya yang sudah dianggapnya adik perempuan menemukan laki-laki yang akan berdiri di sampingnya menjalani kehidupan ini.

***

CUT

Hi, maaf untuk tidak posting apa-apa beberapa minggu ini. Maaf belum bisa nempati janji. Banyak hal yang harus saya kerjakan hingga menelantarkan tulisan yang sudah saya buat ;(. Semoga masih ada yang pengen baca cerita ff Ryeomin… sekali lagi maaf dan terima kasih. I will do better ^^

Advertisements

6 thoughts on “(Ryeomin Story) An Engagement

  1. Momentnya kenapa selalu romantis gini sih aku kan jadi baper wkwk
    akhirnya tunangan juga 😀 ciee minrin yg skrg makin cinta sama ryeowook sampe kecewa banget ryeowook nya sibuk terus.
    Lanjut bkin ff ryeomin storynya yaaa. Di tnggu banget deh =D

  2. Backsound nya masih raisa yg ldr eeaa…
    Akhir nya mreka tunangan jga prok prok prok selamat 😄
    Tpi koq nikah nya abis ryeowook wamil,nggak klamaan tuh?? Gmn klo nggak akhri thun ini aja*lho koq maksa!!

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s