(Fanfiction) The Key to Her Heart [1/3]

the key to her heart2

Title : The Key to Her Heart Part 1| Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin, Ryeowook’s mother | PG : 15 | Genre : Family, Romance, Action | Lenght : Twoshoot | Author : Whin (@elizeminrin) | Discalimer : The story based of Kdrama SPY.

Summary : Ryeowook adalah seorang agen NIS, tapi ia tidak pernah mengatakan hal itu pada ibunya. Ia punya seorang kekasih yang sayangnya tidak terlalu disukai ibunya. Hubungannya dengan ibunya terlihat baik-baik saja tapi sepertinya tidak. Kenyataannya bahwa Minrin yang adalah kekasihnya justru mengenal Ryeowook lebih baik dari ibunya sendiri. Tapi Minrin bukanlah gadis biasa seperti yang Ryeowook kenal selama ini.

Author note : I recommend you to listen The Key to Her Heart by Reuby while read this story.

***

The key to her heart is that she knows and loves who you are

Dingin. Udara malam ini sangat dingin dan semakin dingin dengan aksi diam dari kedua orang yang saling duduk berhadapan itu. Cafe sederhana yang mereka datangi tidak lagi ramai. Bisa dibilang hanya ada mereka berdua yang tersisa. Sekarang sudah hampir jam 9 malam dan itu berarti mereka hanya tinggal punya waktu 30 menit untuk menyelesaikan masalah diantara mereka sebelum cafe ditutup. Gadis berambut panjang dengan mantel putih sejak tadi memilih diam sementara laki-laki di depannya sudah berulang kali menghela nafasnya seakan menyerah.

Coffe latte di depan mereka mulai mendingin ketika akhirnya laki-laki itu –Kim Ryeowook- menarik nafasnya dan mulai menatap gadis di depannya dengan lembut. Karena harus ada yang mulai bicara diantara mereka dan Ryeowook tidak yakin jika gadis itu akan memulai lebih dulu.

 “Kau baik-baik saja?” pertanyaan itu terlontar dari mulut Ryeowook dengan kedua mata yang masih menatapnya.

“Ya.” Gadis itu menjawab dengan singkat. Terlalu singkat hingga membuat Ryeowook sedikit kehilangan kepercayaan diri untuk meneruskan pembicaraan.

Ryeowook menarik nafasnya lagi. Alunan musik akustik di ruangan itu sedikit mengurangi ketegangan diantara mereka. Dan Ryeowook berterimakasih untuk itu.

“Jangan masukkan dalam hati apa yang ibuku katakan. Dia hanya ingin tahu tentangmu,” ucap Ryeowook berusaha lembut.

“Aku tahu itu. Seharusnya aku belajar memasak sebelum bertemu ibumu dan seharusnya aku tidak mengungkit tentang orang tuaku.”

“Minrin-ya,” Ryeowook menghentikkan ucapan gadis itu. Ekspresi Minrin terlihat sangat frustasi dan Ryeowook tahu kenapa.

“Maafkan aku, hmm? Dia akan menerimamu, percayalah!” hibur Ryeowook. Dia menggengam tangan Minrin dan menatapnya tersenyum.

“Kau tidak salah, Ryeowook-ssi. Aku yang salah. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya menyukaiku? Ah…. aku merasa benar-benar buruk.” Minrin menundukkan kepalanya.

“Tenanglah. Kita bisa mencoba hal lain untuk membuatnya menerimamu.”

Ryeowook tidak tahu bahwa ibunya akan bersikap seperti tadi dan membuat Minrin tidak nyaman selama makan malam. Tadinya, Ryeowook pikir akan sangat menyenangkan ketika mempertemukan dua orang wanita yang begitu berarti dalam hidupnya dalam sebuah makan malam bersama. Tapi ia tidak menyangka jika ibunya akan menunjukkan ketidaksukaannya pada Minrin dengan begitu ketara.

Entah siapa yang harus Ryeowook salahkan. Apa itu Minrin yang memang tidak bisa memasak serta berasal dari keluarga yang tidak biasa? Atau ibunya yang terkadang memang bersikap terlalu berlebihan? Yang jelas, keduanya seperti tidak bisa disatukan. Ah..tidak, lebih tepatnya ibunya yang kurang suka disatukan dalam satu ruangan dengan Minrin.

***

“Kau sudah mengantarnya pulang?” suara ibunya menyambut Ryeowook begitu dia membuka pintu rumahnya. Wanita itu tersenyum seperti biasanya. Senyuman yang selalu membuat Ryeowook memilih mengalah setiap kali mereka bertengkar. Senyuman khas seorang ibu yang perhatian pada anaknya.

Ryeowook menatap wanita yang melahirkannya itu lalu mengangguk pelan. Ia pun melepas sepatunya sebelum berjalan melewati ibunya yang masih berdiri memandanginya. Ryeowook tahu lebih baik segera masuk ke kamar dan tidak bicara pada ibunya untuk malam ini jika tidak ingin bertengkar dengan wanita yang dihormatinya itu.

“Ryeowook-ah…,”

Sayangnya panggilan itu ternyata masih mempan untuk membuat Ryeowook berhenti. Ia menoleh begitu hampir mencapai pintu kamarnya. Ibunya menatapnya penuh dan juga memohon. Sekali melihat Ryeowook tahu apa yang akan ibunya katakan. Acara makan malam dimana Ryeowook akhirnya mengenalkan seorang gadis pada orang tuanya berakhir tidak terlalu mengenakan. Ibunya bersikap terlalu berlebihan dengan banyak bertanya pada Minrin. Termasuk tentang masalah orang tua gadis itu. Dan jika Ryeowook tidak salah menduga, ibunya akan membahas lagi tentang kelemahan Minrin atau yang paling mungkin menyuruh Ryeowook meninggalkan gadis itu.

 “Ibu hanya ingin kau berkencan dengan gadis baik-baik,” ucapnya memulai.

Benar seperti dugaannya. Ryeowook diam dan menatap ibunya itu. Jujur saja ia selalu tidak suka jika ibunya sudah mulai bersikap seperti itu. Mengikuti semua ucapan ibunya, itu yang selalu Ryeowook lakukan dan ibunya memang selalu membuatnya melakukan hal itu. Hanya saja untuk kali ini saja, bisakah ibunya mengerti tentangnya?

“Ibu, Minrin bukan gadis seperti yang ibu pikirkan. Dia gadis yang baik. Jadi bisakah, ibu bersikap baik padanya? Kumohon…,” ucapnya memohon dengan lembut.

“Kau tahu dia berasal darimana kan? Shenyang, kota yang dihuni pengungsi dari Korea Utara. Dia bisa saja….,”

“Ibu, kumohon,” sela Ryeowook cepat berusaha sabar. Dia sudah lelah menghadapai sikap ibunya yang seperti itu. “Aku lelah, selamat malam,” ucapnya kemudian. Ia pun meninggalkan ibunya yang masih berdiri dengan raut kekhawatiran di wajahnya.

Kenapa dengan Shenyang? Bukankah ibunya juga berasal dari sana? Ryeowook pikir, ibunya akan nyaman bersama Minrin, karena keduanya pernah tinggal di daerah yang sama. Setidaknya pasti ada kesamaan diantara mereka yang akan membuat keduanya akrab. Tapi Ryeowook sepertinya salah. Bukan hanya karena Minrin berasal dari Shenyang yang dipermasalahkan, ibunya bahkan menyindir kemampuan memasak gadis itu yang Ryeowook harus akui memang sangatlah kurang. Dari sekian banyak makanan di dunia atau paling tidak di Korea, gadis itu hanya tahu bagaimana memasak kare yang enak. Tapi bukankah itu tidak bisa dijadikan alasan yang kuat untuk ibunya menolak gadis yang dipilih Ryeowook?

Ah…sebenarnya Ryeowook hanya ingin ibunya mendengarkan pilihannya untuk kali ini saja.

***

Tidak ada seorang ibu yang akan tega jika melihat anaknya bersedih dan juga dalam kesulitan. Semua ibu pasti seperti itu. Ryeowook mengerti itu. Ia kadang hanya tidak bisa berpikir dengan jernih setiap kali ibunya menunjukkan sikapnya yang terlalu overprotective padanya. Ibunya sangat sering menyuruhnya melakukan hal ini dan itu dimana Ryeowook tidak pernah mengatakan tidak padanya. Sementara ibunya sendiri tidak pernah bertanya apakah Ryeowook suka melakukan hal itu. Semakin lama terkadang itu membuat Ryeowook kesal tapi tentu saja dia tidak bisa marah pada ibunya.

Sejak kecil Ryeowook suka dengan masakan laut tapi suatu hari karena terlalu banyak makan makanan asin dari laut, kulitnya justru menjadi sensitif. Sejak saat itu, Ryeowook tidak terlalu menyukai ikan laut ataupun masakan laut tapi ibunya sampai sekarang masih beranggapan kalau Ryeowook menyukai masakan itu. Karena itu, setiap ulang tahun ibunya pasti akan memasakannya berbagai masakan ikan laut. Dan karena Ryeowook tidak ingin menyakiti ibunya, dia akan memakannya meski dia tidak suka dan meski malam harinya dia akan merasa gatal karena alergi dia tidak pernah bisa protes pada ibunya.

Atau saat ibunya mendatangkan guru privat untuk bermain gitar karena Ryeowook suka mendengarkan musik akustik padahal sebenarnya Ryeowook lebih suka bermain piano. Saat itu pun Ryeowook tidak menolak. Pernah sekali Ryeowook mengatakan ingin berhenti main gitar dan ingin mencoba yang lain, tapi ibunya mengatakan bahwa gitar adalah alat musik yang paling mudah untuk dipelajari. Akhirnya Ryeowook menyerah untuk memberitahu ibunya dan memilih melanjutkan belajar gitar meski itu berarti jari-jarinya akan terluka.

Terkadang ia merasa kesal tapi selalu mengalah demi ibunya. Ia akan berpura-pura senang karena ibunya yang menyuruhnya.

Puncak dari semua kekesalan itu tentu saja saat Ryeowook membawa Minrin untuk bertemu dengan orang tuanya. Hingga sekarang pun mereka berdua terlalu sering bertengkar jika selalu menyangkut Minrin.

Ibunya dan juga Minrin adalah dua orang wanita yang sangat disayanginya. Ia tidak bisa melihat salah satu diantara mereka bersedih.

“Kau datang?” Minrin menyambutnya ketika ia sudah berdiri di depan pintu flatnya.  Ryeowook mengangguk dan tanpa menunggu dipersilahkan, ia pun masuk ke dalam.

Setiap kali ia dihadapkan dengan banyak masalah termasuk pemikirannya yang terkadang tidak sejalan dengan ibunya, maka Ryeowook akan berlari menemui Minrin, mendatangi gadis itu dan merilekskan pikirannya. Seperti yang dilakukannya hari ini. Tadi pagi ibunya hampir membuatnya melewatkan sarapan pagi yang sudah disiapkan hanya karena ibunya kembali membahas tentang Minrin dan menyuruh Ryeowook berpikir ulang untuk berkencan dengan gadis itu.

“Aku selalu merasa nyaman jika di sini. Menurutmu kenapa?” tanyanya. Ia berbalik dan menatap Minrin. Gadis itu tersenyum kecil lalu berjalan mendekatinya.

“Entahlah, kenapa kau bertanya itu?”

Ryeowook tersenyum lalu melangkah maju dan memeluk Minrin. “Mungkin karena aku bisa menjadi diriku sendiri jika bersamamu,” jawabnya sendiri. Minrin berdecak lalu melepaskan pelukan itu. Tatapannya tertuju pada laki-laki di depannya.

Menjadi dirinya sendiri. Entah sejak kapan tapi Ryeowook memang tidak pernah berpura-pura jika di depan Minrin. Laki-laki itu selalu menceritakan apapun padanya, dia selalu berkeluh kesah pada Minrin, meminta saran padanya dan terkadang meminta Minrin menghiburnya. Apa yang Minrin lihat darinya sekarang dan dua tahun yang lalu semua tetaplah sama. Ryeowook yang sebenarnya tidak terlalu suka sarapan pagi dan ia yang sebenarnya sensitif dengan ikan laut. Dia tidak sempurna dan Minrin menerimanya apa adanya.

“Kau sudah makan?” tanya Minrin kemudian.

“Kau belajar memasak selain kare?” tanya Ryeowook penasaran. Dia memasang wajah penasaran sekaligus terkejut bersamaan membuat Minrin menyipitkan matanya saat menatapnya.

“Tsk…aku tahu aku hanya bisa buat kare.” Minrin mendecakkan lidahnya dan berjalan menuju dapurnya.

“Aku tahu. Kare juga tidak masalah,” ucap Ryeowook tertawa pelan.

Minrin menoleh, membalikkan badannya dan menatap Ryeowook serius. “Apa kau benar-benar menyukai kare? Atau karena aku hanya bisa membuat kare?” tanyanya kemudian. Ryeowook mengernyit heran sesaat.

“Apa maksudmu?”

Minrin menghela nafasnya pelan sebelum menjawab. “Ibumu bilang kau tidak suka kare sejak dulu,” jawabnya.

“Siapa? Aku? Tidak. Justru ibu yang tidak suka kare,” sahut Ryeowook santai. Laki-laki itu berjalan menuju kursi di belakangnya dan duduk di sana.

“Benarkah?”

“Hei, berhentilah memikirkan perkataan ibuku. Aku menyukai kare dan sangat menyukainya karena kau bisa membuatkan itu untukku,” ucap Ryeowook menenangkan begitu belihat ekspresi sedih di wajah Minrin. Dia tersenyum lagi dan Minrin pun membalasnya.

Menghabiskan waktu lebih banyak dengan seseorang ternyata tidak selalu menjamin orang itu tahu banyak tentangnya. Ibunya memang lebih lama mengenal Ryeowook, wanita itu lah yang merawatnya sejak Ryeowook bayi, membesarkannya sampai sekarang. Tapi Ryeowook terkadang tidak mengerti kenapa ibunya seperti tidak mengenalnya dengan baik.

Masalah tentang kare mungkin satu dari sekian banyak hal kecil yang ibunya lewatkan. Seingat Ryeowook, ia tidak pernah bilang pada ibunya jika tidak suka kare. Ibunya saja yang tidak tahu dan memutuskan sendiri apa yang disukai Ryeowook dan apa yang tidak disukainya.

“Bagaimana dengan ibu dan adikmu?” tanya Ryeowook kemudian saat Minrin meletakkan sepiring kare di hadapannya. Gadis itu menarik kursi di depannya dan menyenderkan punggungnya.

Ia lantas tersenyum pelan. “Aku akan segera mengeluarkannya dari sana.”

“Jika kau membutuhkan bantuanku, katakan saja.” Minrin mengangguk dan tersenyum lagi.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Semua berjalan dengan baik. Ada misi besar yang harus aku lakukan besok.” Ryeowook menjawab begitu menyuapkan satu sendok kare ke mulutnya.

Di depannya Minrin memandangnya dengan ekspresi kekhawatiran. “Pekerjaan yang berbahaya lagi?” tanyanya khawatir.

Ryeowook mendongak lalu tersenyum berusaha menenangkan begitu melihat kekhawatiran di wajah Minrin. Ryeowook tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu sekarang. Tangannya terulur meraih tangan Minrin yang menumpu di atas meja. Ia pun menggenggamnya erat.

“Jangan khawatir. Aku tidak akan terluka,” ucapnya menenangkan.

Minrin menghela nafasnya pendek setelah itu. Setiap kali laki-laki di depannya ini melakukan tugasnya entah kenapa selalu membuatnya takut dan khawatir. Dia khawatir jika Ryeowook mungkin saja akan terluka atau yang lebih buruk terbunuh saat menjalankan tugasnya. Membayangkan saja selalu membuatnya ketakutan. Setiap kali seperti itu, Minrin akan menunggu laki-laki itu menelepon dan mengabarinya bahwa misinya berhasil atau bahwa dia baik-baik saja. Selama itu Minrin akan menunggu dengan cemas.

“Berjanjilah, kau tidak akan terluka, Ryeowook-ssi,” ujar Minrin kemudian.

Ryeowook mengangguk dengan senyum menghiasi bibirnya. “ Aku tidak akan terluka.”

***

“Kau menemuinya lagi?”

Pertanyaan itu terlontar dari ibunya saat Ryeowook pulang malam harinya. Persiapan misi besar yang harus dijalankannya esok hari sudah membuatnya lelah dan hari ini ia tidak ingin berdebat dengan ibunya. Tapi justru pertanyaan itulah yang pertama kali ibunya katakan sesaat setelah Ryeowook masuk ke dalam rumah. Wajahnya berubah tidak suka seketika. Ia menoleh menghadap ibunya. Hampir tengah malam, dan Ryeowook tidak mengerti kenapa ibunya menunggunya pulang seperti itu dan melontarkan pertanyaan macam itu.

Apa Ryeowook masih berusia 17 tahun yang harus terus ditunggui ketika pulang? Dia laki-laki yang sudah berusia hampir 30 tahun, bagaimana bisa ibunya masih memperlakukannya seperti anak remaja?

“Ya, aku menemuinya,” jawab Ryeowook pendek.

“Ryeowook-ah, ibu ingin kau berhenti menemuinya.” Ryeowook mengernyit sebentar lalu menatap ibunya. Dari semua sikap berlebihan ibunya terhadap apa yang dilakukan atau yang dipilih Ryeowook selama ini, pernyataannya tadi mungkin yang paling menyebalkan bagi Ryeowook.  Ekspresinya berubah menahan rasa kesal setelah itu.

“Ibu, kita sudah pernah membahas ini bukan? Kumohon, bersikaplah baik padanya, hmm?” ucap Ryeowook kemudian berusaha sangat keras agar suaranya tidak meninggi

“Dia tidak seperti yang kau pikirkan, dia bukan gadis yang baik, Ryeowook-ah.”

Eomma…”

“Orang tuanya adalah pengkhianat negara karena menjadi mata-mata untuk Korea utara, apa kau tidak tahu itu?”

Eomma!!” pada akhirnya dia terpaksa membentak ibunya. Ryeowook melihat keterkejutan di wajah ibunya dan dia pun menghela nafasnya pelan, merasa bersalah. “Ibu, diam-diam mencari tahu tentangnya?” tanyanya tidak percaya.

“Tidak! bukan begitu….”

“Aku tahu siapa dia, berhentilah membuatku seperti ini. Apa yang aku lakukan dan siapa yang akan kukencani itu semua terserah padaku. Kumohon, eomma….,” suara Ryeowook melemah lalu menghela nafasnya. Dia pun menatap ibunya memohon, meminta pengertian.

Ibunya sendiri sedikit tersentak dan hanya bisa membalas tatapan Ryeowook padanya. Entah bagaimana, tapi sampai sekarang ia sendiri tidak bisa menerima jika gadis itulah yang dipilih Ryeowook.  Mendadak ia seperti tidak mengenal anaknya sendiri. Atau mungkin memang seperti itu?

“Ibu, bisakah kita tidak membahas ini untuk sekarang? Aku lelah…,” ucap Ryeowook mencoba mengalah pada akhirnya. Dia pun kembali meninggalkan ibunya itu yang masih memandanginya dari belakang.

***

Hari itu Minrin menghabiskan waktunya dengan kecemasan sepanjang hari. Dia tidak bisa berkonsentrasi dengan baik selama jam kerjanya. Setiap lima menit dia akan mengecek ponselnya. Tidak ada kabar apapun dari Ryeowook selama dua jam pertama sejak Ryeowook menemuinya sebelum berangkat kerja tadi pagi. Hingga akhirnya, Minrin membiarkan ponselnya tergeletak di mejanya dan sesekali memperhatikannya selama tiga jam selanjutnya.

Ponselnya sama sekali tidak berbunyi begitu Minrin menyelesaikkan pekerjaannya dan keluar dari kantor tempatnya bekerja. Pukul delapan malam dan Minrin semakin dibuat cemas berlebihan setelah itu.

Hingga akhirnya sebuah panggilan masuk sesaat setelah dia sampai di rumahnya. Dengan tergesa, dia pun mengangkat panggilan itu.

Yeobseo?”

Ndee?” nada suarnya terkejut seketika. Ponselnya hampir terjatuh begitu mendengar kabar yang baru saja di dengarnya. Nafasnya sesak sesaat dan untuk sepersekian detik dia merasa sangat takut.

***

Bau khas rumah sakit menyambut Minrin begitu sampai di depan pintu sebuah kamar. Perasaannya campur aduk. Ia ingin menangis tapi tak satupun air matanya sanggup menetes. Rasa takut yang teramat besar menyergapnya seketika. Tangannya bahkan sedikit gemetar ketika membuka knop pintu kamar itu. Seorang laki-laki berpakaian jas rapi menyambutnya.

Minrin menatapnya sekilas sebelum mengalihkan perhatiannya pada laki-laki yang kini terbaring lemah di tempat tidur. Selang oksigen terpasang dihidungnya, wajahnya pucat dan matanya terpejam. Suara dari alat pendeteksi detak jantung berbunyi teratur sedikit memberi kelegaan bagi Minrin bahwa laki-laki itu masih hidup.

“Apa yang terjadi?” tanyanya tercekat.

“Ryeowook tertembak saat sedang menjalankan tugasnya.” laki-laki yang kini berdiri di samping Minrin menjawab.

Minrin menatap Ryeowook dalam diam. Air matanya menggenang dan siap untuk ditumpahkan. Bukankah Ryeowook bilang tidak akan terluka? Bukankah laki-laki itu berjanji untuk baik-baik saja selama menjalankan tugas? Dan detik selanjutnya Minrin menangis diam di tempatnya.

Cho Kyuhyun, laki-laki yang berdiri di samping Minrin itu menepuk pundaknya memberi kekuatan. Minrin membiarkannya sementara dirinya sendiri masih tidak sanggup melihatnya. Ia masih berdiri memandangi Ryeowook yang kini belum sadar ketika pintu di belakang mereka terbuka. Seorang wanita dan juga laki-laki paruh baya yang pernah sekali ditemui Minrin masuk dengan wajah panik.

Eommonim,” dia berujar lirih memanggil wanita itu lalu melangkah mundur memberi ruang untuk wanita itu yang ingin melihat keadaan anak laki-lakinya.

***

Lorong rumah sakit itu sepi ketika Minrin duduk di salah satu kursi tunggu. Kepalanya menunduk dengan tangan menutupi wajahnya, menghalau tangisnya agar tidak lagi pecah. Kyuhyun bilang kondisinya sudah stabil sekarang, tapi tetap saja peluru itu menembus bagian dadanya dan Kyuhyun bilang dokter tidak bisa memastikan kapan Ryeowook akan sadar.

Minrin menghapus lagi air matanya yang menetes pelan tanpa sepengetahuannya. Dia tersentak dan mendongak saat disadarinya seseorang berdiri di sampingnya dan duduk di dua kursi sampingnya. Minrin menoleh dan mendapati eomonim duduk di kursi itu dengan wajah sama khawatirnya dengan dirinya.

“Kau sudah tahu bahwa selama ini dia bekerja sebagai seorang agen NIS, benarkan?” tanya wanita itu.

Minrin diam sebentar. Detik kemudian dia mengangguk membenarkan. Dan itulah kenapa Minrin selalu merasa cemas serta khawatir setiap kali Ryeowook menjalankan tugas. Ia takut Ryeowook terluka. Pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah dan justru sangat berbahaya. Karena Minrin tahu betul seperti apa pekerjaan itu lebih baik dari orang lain. Orang tuanya dulunya juga agen NIS yang akhirnya terpaksa menjadi mata-mata untuk Korea Utara. Mereka bernasib kurang beruntung karena menjadi tawanan di Shenyang dan bahkan di cap sebagai pengkhianat oleh negaranya sendiri.

“Aku mendengarnya dari Kyuhyun, bahwa dia tertembak saat menjalankan tugasnya. Aku tidak percaya, karena aku pikir dia hanya bekerja di pemerintahan sebagai pegawai biasa bukan seorang agen. Apa menurutmu itu masuk akal?” wanita itu menoleh dan menatap Minrin tajam.

Eommonim.”

Detik berikutnya wanita itu mengalihkan tatapannya ke depan. “Apa itu masuk akal jika dia mengatakan itu padamu tapi tidak padaku?” tanyanya lagi. Minrin memilih diam.

“Aku pikir mengenalnya lebih baik dari siapapun karena dia anakku, tapi sepertinya tidak. Dia menyuruhku untuk bersikap baik padamu tapi aku bersikeras bahwa kau bukanlah orang yang baik untuknya.”

Minrin diam lagi. Hatinya sakit mendengar itu. Bukan karena ia tidak menyukai sikap wanita yang sangat dihormati Ryeowook itu, melainkan karena apa yang baru saja dikatakannya mungkin saja benar. Bahwa ia bukan gadis baik-baik seperti yang wanita itu katakan.

Ia bukanlah orang yang baik seperti yang Ryeowook kira. Diam-diam ia telah memberikan informasi tentang misi yang dilakukan Ryeowook pada pihak Korea Utara untuk bisa menyelamatkan kedua orang tuanya. Jadi, sebenarnya ia memang bukan gadis yang baik. Karena kenyataannya karena dialah Ryeowook terluka. Jika ia tidak memberi tahu si brengsek Kim Donggun tentang misi yang dilakukan Ryeowook, mungkin saja tugas itu bisa diselesaikannya dengan baik dan tidak perlu ada yang terluka.

“Aku tahu siapa kau dan kepada siapa kau berpihak. Aku tidak akan memberitahukan itu padanya, yang perlu kau lakukan hanyalah pergi dari sisinya,” ucapnya lalu beranjak berdiri.

Minrin benar-benar tidak lagi sanggup menahan rasa bersalah dan juga tangisnya. Dia menangis terisak begitu wanita itu pergi meninggalkannya.

***

Apa itu sebuah takdir ketika Minrin bertemu dengan Kim Ryeowook yang ternyata adalah seorang agen NIS? Apakah itu takdir sampai akhirnya Minrin bisa menjadi kekasih laki-laki itu sementara pihak asing sangat menginginkan informasi tentang pergerakan NIS? Jawabannya tidak. Itu bukan takdir karena sejak awal semua sudah direncanakan termasuk pertemuan mereka kala itu. Ia sengaja mendekati Ryeowook, dan membuat dirinya berada di samping laki-laki itu, membuat Ryeowook percaya padanya dan demi menyelamatkan ibu serta adiknya Minrin akan memberikan informasi apapun tentang Ryeowook dan apa yang dilakukannya bersama NIS pada pihak asing itu.

Satu-satunya yang tidak direncanakan adalah perasaannya pada laki-laki itu yang benar-benar tulus dari hatinya. Dia tidak berbohong setiap kali hatinya merasa cemas dan khawatir menanti kabar darinya. Dia juga tidak berbohong jika selama masa-masa yang dihabiskannya bersama Ryeowook adalah saat yang membahagiakan untuknya.

Dua minggu kemudian Minrin mendapat kabar bahwa Ryeowook sudah keluar dari Rumah sakit. Sangat melegakan untuknya tapi sejangkah pun Minrin tidak berani menemuinya. Hingga akhirnya ia memutuskan pergi dari hidupnya, persis seperti yang eommonim katakan padanya.

***

Ryeowook benar-benar tidak mengetahui keberadaan Minrin. Dua minggu setelah Ryeowook keluar dari rumah sakit, Minrin tidak lagi bisa ditemuinya, gadis itu menghilang dan Ryeowook tidak bisa menemukannya. Ia hanya mendengar dari ibunya bahwa gadis itu mengunjunginya beberapa kali saat di rumah sakit.  Ryeowook tidak mengerti. Apa yang dipikirkan Minrin hingga pergi disaat Ryeowook berada di rumah sakit? Apa hanya sampai disini gadis itu bertahan di sampingnya?

“Apa yang kau pikirkan?” tanya ibunya yang tiba-tiba menginterupsi. Ryeowook menoleh dan tersenyum pada wanita itu. Lantas ia pun menggeleng.

Kepergian Minrin yang tiba-tiba tanpa memberitahu pastilah semakin membuat ibunya berpikir bahwa gadis itu memang bukan gadis yang baik.

“Ibu, saat aku di rumah sakit, apa ibu mengatakan sesuatu pada Minrin?” Ryeowook bertanya pelan, berusaha untuk tidak menyinggung ibunya. Ia hanya penasaran apakah ibunya mengatakan sesuatu yang membuat Minrin akhirnya pergi seperti ini.

Ibunya menatapnya diam beberapa saat, lalu berjalan menghampirinya. “Apa kau sangat menyukai gadis itu? Apa yang kau sukai darinya?”

“Kenapa ibu menanyakan hal itu?” tanya Ryeowook balik bertanya. Dia mengernyit dan menatap ibunya yang diam, menuntutnya untuk menjawab.

Akhirnya Ryeowook pun hanya bisa menghela nafasnya mengalah. “Ibu pernah mengatakan padaku bahwa satu-satunya cara untuk mendapatan hati seorang gadis adalah menjadi diriku yang sebenarnya di depannya. Aku selalu melakukan hal itu di depan Minrin dan dia menerimaku apa adanya.  Dia membuatku nyaman dan aku menyukainya. Jadi seharusnya ibu bersikap baik padanya saat itu,” jawab Ryeowook.

“Bahkan jika dia bukan orang yang baik, kau tetap akan menyukainya?” ibunya kembali bertanya.

“Ibu, masih bersikeras seperti itu?”

“Ryeowook-ah, kau tahu kenapa kau bisa tertembak? Kau tahu kenapa misimu gagal?” pertanyaan itu menohok Ryeowook secara tiba-tiba. Dia mengernyit, tidak mengerti dengan ucapan ibunya.

Bagaimana ibunya bisa tahu tentang misi yang sedang dijalankannya? Bagaimana ibunya bisa tahu jika dia bekerja untuk NIS?

Eomma….,”

“Kau masih akan membohongi ibumu tentang pekerjaanmu? Kau menceritakan semuanya pada gadis itu tapi kau bahkan tidak mengatakan pada ibu jika kau bekerja di NIS.” Kini raut wajah kecewa yang ditunjukkan ibunya mau tidak mau membuat Ryeowook merasa bersalah.

Ryeowook memang salah karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya terutama ibunya. Tapi ia hanya tidak ingin ibunya terlibat lagi dengan pekerjaan di masa lalunya. Ia juga tidak ingin membuat keluarga terutama ibunya dalam bahaya.

Dulu, ibunya adalah seorang mata-mata utara yang akhirnya berpihak pada selatan setelah misinya membunuh ayahnya gagal. Tapi sebuah peristiwa besar terjadi dan membuat rekan ibunya meninggal di depannya saat menjalankan misi. Ibunya dituduh sebagai penyebab kegagalan misi itu dan kesetiannya pada selatan pun dipertanyakan. Ibunya diberhentikan dari NIS. Sejak saat itu ia selalu menutup diri tentang informasi apapun yang mungkin berkaitan dengan peristiwa masa lalu itu. Dan Ryeowook tahu ibunya tidak akan senang jika ia bekerja di NIS. Pekerjaan yang berbahaya dan mempertaruhkan nyawa.

Alasan itulah yang membuat ibunya tahu banyak tentang Shenyang, sebuah daerah yang menjadi tempat pengungsian bagi orang utara. Karena dulu ibunya juga berasal dari sana. Itulah kenapa ibunya mencurigai Minrin saat gadis itu menceritakan tempat tinggalnya sebelum pindah ke Seoul.

Yang Ryeowook tidak mengerti adalah, apa sebenarnya yang membuat ibunya benar-benar tidak suka pada gadis itu?

Apa ibunya mengetahu sesuatu yang tidak diketahuinya?

“Maafkan aku karena tidak memberitahu ibu sebelumnya.” Ryeowook akhirnya menyahut setelah beberapa saat diam. Dia menatap ibunya yang terlihat sangat kecewa dan mungkin juga marah terhadapnya.

Eomma,” panggil Ryeowook kemudian setelah merasa ibunya seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Jangan pernah mencari gadis itu lagi dan jangan pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengannya lagi,” tekan ibunya dengan jelas.

“Kenapa ibu mengatakan hal itu? Apa yang ibu sembunyikan dariku?” tanya Ryeowook dengan rasa penasaran yang sejak tadi ingin dikalahkannya. Ibunya hanya diam menatapnya, membuatnya semakin penasaran.

“Ibu, kumohon katakan sesuatu,” ucap Ryeowook memohon.

“Ryeowook-ah, apa kau tidak mencurigainya sedikitpun? Ibu yang baru sekali bertemu saja sudah mencurigainya.”

Ryeowook kembali mengernyitkan dahinya pelan. Ia tidak mengerti. Atau sebenarnya ia paham tapi menolak untuk tahu. “Ibu berpikir kalau dia….”

“Dia berpihak pada utara. Dia adalah mata-mata mereka dan dia sengaja mendekatimu. Ibu sudah menyelidiki latar belakangnya.”

 “Apa?”

Ryeowook tersentak. Sebenarnya Ryeowook sudah menduga ibunya akan mengatakan itu, tapi dia sendiri yang menolak untuk mengerti. Mana mungkin seperti itu? Minrin adalah seorang mata-mata utara? Bagaimana bisa?

“Ibu harap kau tidak lupa apa pekerjaan ibu sebelumnya. Ibu mengenal baik orang-orang seperti Minrin. Meskipun jika dia mencintaimu, tidak ada yang bisa dilakukannya.”

CUT

***

Hi, i come with new story.

Maaf karena aku datang bukan bawa secret guard tapi justru ff baru. Ceritanya masih seputar NIS, agen rahasia dan mata-mata. Nama tokohnya pun ada yang sama, tapi secara keseluruhan ff ini akan punya alur yang berbeda. Hanya ada dua part, jadi mohon maklum kalau alurnya mungkin terlalu cepat.

Bisa dibilang ff ini bentuk pemanasan sebelum lanjut secret guard lagi. Kalau ternyata masih banyak reader yang pengen segera baca lanjutan secret guard, saya usahakan minggu ini publish part 8 nya.

Thank you ^^

 

Advertisements

9 thoughts on “(Fanfiction) The Key to Her Heart [1/3]

  1. Wahh galau gara gara ff ini,, hahaha aku suka ff yang bergenre action, kerenn!!, keep going on eonnn!!!

    Secret guard nya lanjut trus ya eonn!! 😉😉

  2. Kyaa aku kesel bacanya. Ko minrin jahat sih katanya cinta sama ryeowook tapi… uughh
    Ryeowook juga ko ga curiga ya? Yaampun itu ‘cut’nya bner2 pas, bikin penasaran sama kelanjutannya.
    Iyaa aku masih nggu secret guardnya loh. Bahkan tiap hari aku pantengin blog ini siapa tau udh apdet secret guard atau ff2yg lain juga 🙂

  3. Sebelum nya aku mau minta maaf,krna aku mlh ngebayangin muka nya sie jaejoong yg sangat tanpam di drama spy hahahaha…
    Klo ryeowook jdi agen nis,boleh jga di borgol sma sie abang….
    Nggak di drama nya nggak dsni,ibu nya tetep agak nyebelin mnurut ku … ups!sorry 😀

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s