(Ryeomin Story) Flashback

Flashback

Title : Flashback

Cast : Kim Ryeowook – Shin Minrin

 ***

Saat aku terus menghitung hari, aku jadi teringat saat kita pertama kali bertemu.

Ruang tengah di apartement Minrin terlihat sangat berantakan tidak seperti biasanya. Gadis itu sangat menyukai kerapian, tapi entah apa yang membuatnya malas membersihkan ruang tengahnya itu. Saat Ryeowook pertama kali masuk ke apartementnya, pemandangan kertas-kertas yang bercecer, bekas mangkuk jajjangmyun yang dipesan, dan dua kaleng beer menghiasi ruang tengah itu. Ryeowook nyaris menjatuhkan dua tas berisi belanjaannya dari supermaket saat melihat pemandangan itu. Tidak hanya itu, kondisi Minrin yang duduk di sofa dengan kaos dan celana olahraga longgar membuat Ryeowook berpikir bahwa gadis itu mungkin belum pernah mandi sejak pagi tadi. Rambutnya diikat asal ke atas dan kacamata frame hitam kesukaannya bertengger di hidungnya.

“Kau bekerja lembur atau apa?” tegurnya. Tidak ada keterkejutan dari Minrin. Gadis itu hanya menoleh sebentar ke arah Ryeowook, memastikan bahwa memang benar kekasihnya itu yang datang lalu dengan tidak acuh kembali melajutkan aktivitasnya mengecek kertas-kertas di tangannya.

“Kau datang? Kenapa tidak bilang?” tanyanya tak acuh.

Ryeowook sedikit berdecak sebelum berjalan ke dapur dan meletakkan belajaannya. Dua kantong itu berisi bahan makanan, beberapa bungkus ramen dan camilan serta beberapa botol minuman. Ryeowook sudah tahu Minrin sebentar lagi akan kehabisan stock makanan di dapurnya ketika berkunjung kemarin sore. Karena itulah sebelum kemari Ryeowook menyempatkan untuk mampir di supermaket untuk membeli barang-barang itu.

“Apa biasanya aku akan bilang kalau mau datang? Seperti kau tidak tahu saja,” Ryeowook menjawab sembari berjalan menghampiri Minrin.

Diperhatikannya gadis itu secara seksama. Wajahnya terlihat lelah. Sejak gadis itu mengagetkan Ryeowook di Fukuoka beberapa hari yang lalu, Minrin memang tetap tinggal di Korea. Mungkin karena dia terlalu lama meninggalkan New York hingga dia terpaksa membawa pulang pekerjaannya.

“Setidaknya kau mengabariku.” Minrin mulai menguap lalu diletakkannya pena yang sejak tadi dipegangnya. “Aku lelah sekali!” keluhnya sembari meloggarkan tangannya ke samping dan ke atas.

“Pekerjaanmu sangat banyak ya?”

“Begitulah. Karena aku tidak bisa kembali ke Amerika sampai minggu depan, aku terpaksa meminta Claire mengirimkan file yang harus aku kerjakan.”

Ryeowook mengangguk. Diamatinya lagi gadis itu dari atas sampai bawah. Ryeowook agak bersalah melihatnya kelelahan seperti itu. Ryeowook tahu betul alasannya tidak bisa kembali sampai minggu depan. Akhir pekan ini acara pertunangan mereka berdua. Ryeowook sama sekali tidak menyadari bahwa hari itu tinggal 5 hari lagi. Dia terlalu sibuk akhir-akhir ini sampai tidak menyadarinya. Lagipula acara pertunangan itu bukanlah acara yang besar. Kedua keluarga sudah sepakat bahwa hanya teman-teman dekat Minrin maupun Ryeowook serta keluarga saja yang akan diundang. Itulah kenapa Ryeowook seperti tidak menyadari jika waktu berjalan cepat.

“Maafkan aku karena memaksamu untuk tinggal sampai acara pertunangan kita.” Ryeowook menghela nafasnya pendek.

“Tidak masalah. Aku rasa aku juga tidak sanggup pulang pergi Jepang – Amerika – Korea selama 10 hari. Terlalu melelahkan. Meskipun kita sama sekali tidak banyak membantu pada acara ini. Aigoo…kita yang akan bertunangan tapi ibuku yang sangat repot.” Dia tertawa pelan. Dilepasnya kacamata yang sejak tadi dikenakannya dan mulai bersender di punggung sofa. Untuk pertama kalinya Minrin menoleh dan menatap Ryeowook. “Kita benar-benar jahat, benarkan?”

Ryeowook mengangguk pelan menyetujui. Dia sendiri sebenarnya ingin turun tangan langsung mempersiapkan semuanya. Lagipula itu acaranya dan Minrin, tapi dia sama sekali tidak bisa menolak saat ibunya Minrin menawarkan diri sebagai EO nya. Wanita yang sangat dihormatinya itu hanya menyuruh Ryeowook untuk mencari tuxedo dan gaun yang nanti akan dikenakan Minrin.

“Saat acara pernikahan kita nanti aku ingin kita yang merencanakan semuanya,” Ryeowook berujar kemudian.

Minrin menoleh mendengar penuturan itu. Pernikahan? Ya… bukankah tujuan akhir mereka berdua adalah menikah? Tapi rasanya Minrin masih belum percaya dan keraguannya masih tertinggal sedikit. Detik berikutnya dia tersenyum mengangguk. Dia tidak ingin menunjukkan keraguan itu lagi pada Ryeowook.

Karena mereka berdua yang akan melewati semuanya, bukan hanya Minrin atau Ryeowook sendiri tapi bersama-sama.

“Aku setuju. Orang bilang kau akan sangat puas dengan acara pernikahanmu jika kau sendiri yang turun langsung mempersiapkan acaranya.”

Ryeowook mengangguk setuju. “Jadi, kau lembur sejak semalam? Apa kau tidak lelah? Kau seharusnya istirahat. Wajahmu akan seperti orang kurang tidur di hari H jika terlalu banyak bekerja.”

“Aku tahu.” Minrin lantas menghela nafasnya. “Sebenarnya aku terus berpikir sejak semalam,” lanjutnya.

“Tentang apa?”

“Tentang kita,” jawabnya cepat lalu tersenyum tulus pada Ryeowook. Bahkan saat tersenyum seperti itu, Ryeowook masih bisa melihat gurat-gurat kelelahan di wajahnya. Kantung matanya agak tebal. Mungkin dia hanya tidur 3-2 jam saja  beberapa hari ini.

“Apa? Kau masih ragu?” tanya Ryeowook hati-hati.

Minrin menggeleng. “Aku menghitung hari, dan aku jadi teringat saat kita pertama kali bertemu,” ucapnya.

Ryeowook sempat mengernyit sebentar sebelum akhirnya kedua matanya menerawang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat Ryeowook pertama kali mengenal Minrin dan bertemu dengannya. Dia lantas tersenyum. Seperti nostalgia, ketika Minrin tiba-tiba membuatnya teringat pada masa lalu.

“Apa kau ingat?”

Ryeowook mengangguk pelan. “Ya…aku ingat.”

***

Saat itu masih musim dingin. Bulan Desember di tahun 2010 dan salju turun. Minrin datang menemui Lee Hyukjae di dorm Super Junior. Berbekal kenekatan demi menagih buku favouritenya yang diambil Hyukjae tanpa sepengetahuannya, Minrin datang dan menekan bel dorm itu. Saat itu adalah kali pertamanya datang ke dorm Hyukjae. Minrin sama sekali tidak tahu jika group sahabatnya itu punya dua dorm yang terpisah dan sayangnya Minrin juga tidak sempat memastikan jika dorm yang didatanginya ini benar-benar ditinggali Hyukjae.

Dua kali dia menekan bel dan tidak ada jawaban apapun sampai akhirnya suara derap sepatu yang bersentuhan dengan lantai menarik perhatiannya. Minrin menoleh dan berharap bahwa orang itu Hyukjae tapi ternyata bukan. Pria yang berdiri di depannya kala itu adalah salah satu teman group Hyukjae. Minrin tidak pernah bertemu dengan teman-teman Hyukjae sebelumnya. Dia hanya beberapa kali melihat Donghae secara tidak sengaja saat Hyukjae menemuinya. Selebihnya, bisa dibilang Minrin tidak terlalu mengenal semua orang yang tergabung dalam group Super Junior.

Dan itu adalah kali pertama Minrin bertemu dengan Ryeowook.

Ryeowook menyunggingkan senyum dengan ekspresi heran seakan ingin bertanya pada Minrin. Senyuman itu sangat manis menurut Minrin. Kesan pertama Minrin pada Ryeowook adalah pria itu tidak terlalu tinggi, mungkin hanya 3-5 cm lebih tinggi dari Minrin yang kala itu mengenakan high heels. Minrin membungkuk singkat begitu tersadar dari kekagumannya pada senyum manis itu.

Annyeonghaeseo,” ucapnya.

Ryeowook ikut membungkuk kecil sebagai balasannya. “Nu..guseyo?” tanyanya.

Pastilah sangat aneh bagi Ryeowook yang mendapati ada seorang gadis yang berdiri di depan dormnya kala itu. Siapa dari salah satu hyungnya yang diam-diam menyuruh kekasihnya datang? Ini adalah kali pertama ada gadis yang tidak dikenalnya datang berkunjung. Selama ini hanya ibu dari member Super Junior atau kakak perempuan mereka yang datang berkunjung sendirian. Tidak pernah ada gadis yang datang. Terlebih lagi gadis asing seperti Minrin.

“Shin Minrin imnida. Aku temannya Lee Hyukjae,” Minrin memperkenalkan diri.

“Ah..Eunhyuk hyung? Tapi dia tidak tinggal di dorm ini. Dia di dorm lantai bawah,” ujar Ryeowook memberitahu.

“Benarkah? Tapi bukankah kau….,” ucapan minrin terhenti.

“Kami punya dua dorm. Aku bisa mengantarmu ke sana kalau kau mau.” Ryeowook membalas dengan memberinya penawaran. Minrin tersenyum.

“Kau tidak keberatan?” tanyanya.

Ryeowook segera menggeleng. “Aku juga berniat ke sana. Ayo..!” Dia tersenyum sebelum melangkah. Minrin mengangguk lalu mengikutinya.

Diam-diam Minrin bersyukur dan diam-diam dia menyukai senyuman pria itu sejak tadi.

***

“Apa yang kau pikirkan tentangku saat itu?” Ryeowook bertanya.

Kertas-kertas yang tadinya bercecer sudah rapi di dalam map. Bekas mangkuk jajjangmyun dan kaleng beer sudah dibuang dan digantikan dengan dua kaleng yang baru. Ruang tengan itu terlihat sedikit lebih rapi sekarang.

Minrin yang duduk di samping Ryeowook menoleh setelah meneguk minumannya. “Aku menyukai senyumanmu,” jawabnya jujur.

“Benarkah?” tanya Ryeowook tidak percaya. Dia bahkan sampai menaikkan alisnya sedikit karena terkejut. “Kau tidak pernah mengatakannya.”

“Karena aku memang tidak ingin mengatakannya. Sangat memalukan! Kau pasti akan mengejekku habis-habisan karena ternyata sejak pertama kali kita bertemu aku sudah tertarik dengan senyumanmu.”

Ryeowook tertawa pelan setelah itu. Dia memang tidak pernah menyangka akan hal itu sebenarnya.

“Awalnya aku mengira kau kekasihnya Donghae hyung atau Heechul hyung.”

“Aku bahkan tidak mengenal kalian semua. Yang aku tahu hanya Lee Hyukjae, meskipun aku beberapa kali bertemu Donghae tapi tidak pernah bicara padanya. Saat itu aku baru debut, jadi rasanya aneh sekali jika mengajak salah satu dari kalian bicara. Kalian senior bagi kami.”

“Aku ingat saat kita bertemu kedua kalinya usai menghadiri acara musik.” Ryeowook melanjutkan.

“Aku tidak sengaja bertemu denganmu lagi. Di lift dan kurasa teman-temanmu sengaja meninggalkanmu di belakang.” Ryeowook terkekeh ketika mengingat masa-masa itu.

“Mereka mengerjaiku.”

***

Minrin berjalan dengan sedikit menggerutu. Langkah kakinya terayun lemah, tangan kanannya sibuk menekan papan ponsel berniat menghubungi seseorang setelah menyadari ketujuh teman satu groupnya meninggalkannya sendirian. Managernya hilang entah kemana dan Minrin merasa telah dikerjai oleh orang-orang itu. Ia sungguh berniat untuk pulang sendiri dengan taxi jika panggilannya tidak dijawab.

Suara dering terputus dan dia mendesah lemah. Hari ini bukan ulang tahunnya, sekarang juga bukan pula April fool day jadi kenapa semua orang mengerjainya? Menyebalkan.

Minrin berniat berjalan lagi setelah memasukkan ponsel flip fopnya ke dalam tas punggung kecil miliknya. Lift yang semula hendak tertutup mendadak terbuka kembali saat seseorang yang sepertinya habis berlari juga ingin naik di lift itu. Minrin mundur sedikit untuk memberinya ruang, tapi betapa terkejutnya dia saat mengetahui siapa orang yang baru saja masuk itu.

“Oh…kau Shin Minrin?” sapa orang itu.

Minrin tersenyum, membungkuk memberi hormat pada orang yang posisinya jelas-jelas sebagai sunbe untuknya. Orang itu –Pria yang ditemui Minrin di depan dorm Super Junior beberapa waktu yang lalu.

Annyenghaeseo.”

“Kau hanya sendiri saja?” tanyanya. Minrin ingat Hyukjae memanggil pria itu Ryeowook waktu itu.  Kim Ryeowook. Yah, Minrin tahu sekarang. Pria pemilik senyum manis yang ditemuinya itu bernama Kim Ryeowoook, salah satu maknae di group Super Junior.

Ne,  ada hal yang harus aku lakukan tadi,” jawab Minrin sedikit kikuk.

“Ah…apa ada hubungannya dengan Eunhyuk hyung lagi? Kurasa dia tadinya juga menolak pulang bersama.”

Minrin menggeleng kecil lalu tersenyum. “Hanya urusan kecil dengan salah satu staff di sini,” tambahnya.

Sebenarnya Minrin tidak punya urusan apapun dengan seorang staff, teman-temannya yang membuatnya punya urusan setelah berbohong padanya untuk menemui seseorang –mengembalikan sesuatu yang dipinjam Hyehyo- lebih tepatnya.

Kuere? Aku bahkan tidak tahu Eunhyuk hyung punya sahabat wanita. Maksudku, semua orang tahu dia berteman dekat dengan Junsu hyung atau Donghae hyung tapi tidak dengan seorang wanita. Apalagi kudengar kalian sudah bersahabat sejak sebelum Eunhyuk hyung menjadi trainee di SM.” Ryeowook berucap panjang lebar.

Minrin menanggapinya dengan mengangguk sekaligus tersenyum. Ya… tentu saja semua orang tidak tahu karena ini adalah rahasianya dengan Hyukjae. Teman-teman groupnya juga tidak tahu jika Minrin kenal baik dengan Lee Hyukjae dan bahkan dulunya pernah diajari naik sepeda oleh pria itu saat umurnya 6 tahun.

Pintu lift terbuka dan keduanya pun berjalan beriringan keluar menuju parkir basement itu. Ryeowook mengucapkan sampai jumpa dan berjalan berbeda arah dengan Minrin yang memilih masih berdiri di tempatnya. Untuk apa dia pergi ke basement kalau ternyata dia harus pulang dengan taxi? Astaga…dia sudah gila.

Minrin memperhatikan sekilas ke arah Ryeowook yang berjalan menuju sebuah mobil berwarna putih. Ah..jadi pria itu mengendarai sendiri mobilnya? Jarang sekali Minrin melihat idol group pergi sendiri seperti itu apalagi menghadiri acara musik seperti tadi. Biasanya mereka akan datang bersama-sama dengan van.

Dia mulai mendesah lagi dan berniat untuk masuk kembali ke dalam lift ketika mobil putih itu tiba-tiba berhenti di depannya. Ryeowook menurunkan kaca mobilnya dan kepalanya menyembul keluar.

“Kenapa kau tidak pulang?” tanyanya.

Dan sungguh apa yang harus Minrin jawab? Tidak mungkin dia akan bilang teman-temannya serta managernya sengaja meninggalkannya seorang diri.

“Ah..begitu rupanya, apa kau tidak apa-apa menuggunya sendiri?”

Minrin menggeleng sebagai jawabannya. “Gwaenchanayo.”

“Telepon lah dia agar kau tidak terlalu lama menunggu di sini,” ucapnya lagi. Minrin mengangguk dan menyunggingkan senyumnya. Ryeowook membalasnya sembari melambaikan tangannya. “Sampai jumpa.”

Minrin membalas melambai. Senyumnya tersungging lagi saat menyadari betapa baiknya orang itu. Sesaat kemudian mobil putih itu melaju meninggalkan Minrin yang masih berdiri tidak tahu apa yag harus dilakukan.

***

“Jadi, mereka benar-benar mengerjaimu?” tanya Ryeowook.

Minrin menarik satu bantal sofa di pangkuannya lalu meraih remote televisi di dekatnya. Dia mengangguk malas setelah itu.

“Karena aku kalah taruhan dalam permainan yang kami buat. Aku bahkan lupa jika hukuman karena kalah bermain adalah harus pulang sendiri usai acara musik waktu itu. Kau tahu? mereka menertawakanku habis-habisan begitu sampai di dorm.”

Ryeowook tertawa pelan. “Aku bisa saja mengantarmu pulang saat itu, tapi kau bilang sedang menunggu managermu.”

“Apa kata netizen dan juga fansmu jika aku ketahuan pulang bersamamu? Astaga…! aku bisa saja gila karena tertekan setelah itu.”

Ryeowook tertawa lagi. Kemungkinan itu sangat besar, mengingat saat itu banyak fans yang masih menunggu di luar gedung.

“Tapi, apa Hyukjae memang tidak pernah mengatakan apapun tentangku pada kalian?” tanya Minrin kemudian.

Ryeowook menggeleng sebagai jawabannya. “Tidak. Kami baru tahu saat kau sering datang menemui Hyukjae.”

“Apa pendapatmu saat pertama kali bertemu denganku?”

Ryeowook menoleh mendapat pertanyaan itu. Di sampingnya Minrin ikut menoleh dan tersenyum menunggu jawabannya. Kesan pertamanya pada Minrin?

Ah…Ryeowook agak lupa tapi satu hal yang tidak pernah dilupakannya adalah tatapan milik Minrin yang terkesan menusuk, dingin namun tidak menunjukkan kesombongannya. Dia seperti menjaga image nya, membentengi dirinya dengan sikap cool dan cueknya. Dia bicara seperluanya tapi punya senyuman yang tulus.

***

Entah sudah berapa kali Ryeowook berjumpa dengan Minrin. Mereka sering sekali bertemu secara tidak sengaja. Seperti sebuah takdir yang terus memaksa mereka saling bertemu. Beberapa kali Minrin datang ke dorm, tujuannya untuk bertemu dengan Lee Hyukjae dan entah bagaimana di saat yang bersamaan selalu ada Ryeowook di dorm lantai bawah. Terkadang bahkan hanya ada Ryeowook di sana saat Minrin datang. Pertemuan seperti itu yang akhirnya membuat mereka sering menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bahkan pergi bersama. Ryeowook kadang mengajaknya menikmati kopi di cafe dekat gedung apartement mereka.

Awalnya member Super Junior lainnya bahkan mengira Minrin lebih dulu kenal Ryeowook dibandingkan Hyukjae. Mereka sering menggoda Ryeowook setelah itu. Karena entah sejak kapan tapi Minrin menjadi sosok gadis yang dekat dengan Ryeowook. Kyuhyun bahkan menyuruh Ryeowook untuk menjadikan Minrin kekasihnya.

“Kau sudah terlalu lama single dan berhentilah berharap pada gadis di masa lalumu itu. Dia mungkin saja sudah punya pacar sekarang.” Itulah yang dikatakan Kyuhyun saat malam hari ketika Ryeowook menemaninya minum sebotol wine.

“Kami baru kenal dua bulan, Kyu. Lagipula sepertinya dia tidak tertarik padaku. Dia cantik dan juga baik meski sikapnya sedikit dingin. Senyumnya juga manis, sudah pasti dia punya kekasih.”

“Apa? Kau kehilangan kepercayaan diri atau apa?’ tegur Kyuhyun kala itu sambil menyindir. Ryeowook ingat Kyuhyun menertawakannya karena tidak punya kepercayaan diri untuk mendekati seorang gadis.

Katakanlah dia memang tidak berani mendekatinya terlalu dekat. Sejak awal bertemu dengan Minrin, Ryeowook merasa gadis itu bersikap apa adanya dan juga tulus tapi dia seperti menebarkan benteng di sekitarnya hingga membuat orang lain memilih mundur untuk mengambil hatinya. Sikap cool dan cuek serta dia juga agak pendiam. Mungkin itulah yang membuat orang lain mengurungkan niat untuk mendekatinya. Begitu juga dengan Ryeowook. Tapi setelah pertemuan-pertemuan selanjutnya, perlahan Ryeowook memahami gadis itu.

Dia adalah tipe orang yang akan bicara banyak dan terbuka pada orang lain yang membuatnya nyaman. Dan Ryeowook berpikir, cara untuk mengambil hatinya adalah membuatnya nyaman jika bicara

“Daripada kau terus berharap dan digantungkan, kenapa kau tidak mencoba menjalin hubungan dengan gadis itu?” Kyuhyun terus saja menyarankan itu untuk Ryeowook.

“Tidak sekarang kurasa.” Itulah jawaban yang diberikan Ryeowook. Karena dia merasa masih perlu mengenal lebih banyak tentang Minrin.

***

“Jadi menurutmu aku orang yang cuek dan juga pendiam? Woaah….,” Minrin meneguk beernya dan menoleh lagi pada Ryeowook begitu pria itu menyelesaikan ceritanya.

“Ya itu memang benar kan?. Kadar ketidakpeduianmu itu kadang mengkhawatirkan. Jika bukan karena aku mengisi kulkasmu dan membelikanmu bahan makanan, sudah pasti dua minggu ke depan dapurmu akan banyak sarang laba-labanya,” sindir Ryeowook yang justru membuat Minrin terkekeh.

“Baiklah, Kau memang benar. Jadi, itu artinya kau tertarik padaku sejak pertama kita bertemu?” tanya Minrin memastikan.

“Tidak. Bukan saat pertama kita bertemu tapi dipertemuan-pertemuan selanjutnya yang membuatku mengenalmu,” jawab Ryeowook tanpa ragu.

“Sejak kapan?”

Ryeowook menoleh, mengernyit bingung. “Apanya?”

“Kau menyukaiku. Sejak kapan kau menyukaiku?”

Ryeowook memalingkan wajahnya lagi. Pandangannya menerawang. Sejak kapan? Entahlah, Ryeowook sendiri bingung menjawabnya. Semua berjalan begitu saja termasuk perasaannya. Mungkin setelah pembicaraannya dengan Kyuhyun atau sejak Hyukjae menyuruhnya mengantar Minrin pulang. Yang jelas, keduanya sudah sangat sering menghabiskan waktu bersama saat itu.

***

Bulan april saat ulang tahun Hyukjae, mungkin saat itulah Ryeowook menyadari perasaannya. Lee Hyukjae mengundang teman-teman dekatnya untuk merayakan ulang tahunnya termasuk diantara mereka adalah Minrin. Gadis itu awalnya menolak datang dan entah apa yang berhasil membuatnya terbujuk untuk memenuhi undangan sahabatnya itu. Ryeowook hanya tahu Minrin tidak mau datang tapi pada akhirnya gadis itu ada di sana bersama salah satu teman groupnya.

Sepanjang acara Ryeowook memperhatikan gadis itu dan selalu berakhir melihatnya menyendiri. Sesekali dia berbicara pada temannya, atau pada Hyukjae. Sesekali Donghae dan Ryeowook sendiri datang mengajaknya bicara, tapi Minrin seperti tidak tertarik berbaur dengan teman-teman Hyukjae yang lainnya. Dia hanya terlihat sangat akrab dengan orang-orang yang sudah dikenalnya. Berbeda dengan temannya yang bernama Ranran yang langsung bisa membaur dengan yang lain. Bagi orang yang tak mengenalnya sikap seperti itu akan terlihat menyebalkan, tapi Ryeowook tahu seperti apa Minrin itu. Dia bukan gadis yang akan mengabaikan orang-orang yang berbicara padanya. Ryeowook sempat merasa kasihan saat melihatnya.

Ryeowook menghampirinya dan mengajaknya bicara ketika Kyuhyun yang semula duduk bersamanya beranjak pergi. Dia melihat Minrin yang menyunggingkan senyumnya saat Lee Yeonhee berjalan di depannya dan bertatap mata dengannya.

“Dia selalu bersikap seperti itu.” Ryeowook bergumam.

“Apa yang kau lakukan sendiri di sini?” tanyanya ketika berhasil duduk di sofa kosong di samping Minrin. Ryeowook memutar kepalanya untuk melihatnya. Tapi gadis itu hanya menoleh sebentar dan menghela nafasnya.

“Aku tidak suka keramaian. Lagipula aku tidak terlalu mengenal mereka.”

“Tapi kurasa temanmu menikmatinya.” Ryeowook mengalihkan perhatiannya pada sosok gadis yang datang bersama Minrin tadi. Minrin ikut memperhatikannya. Ranran terlihat sedang berbicara dengan Victoria. “Bukankan ini hal yang baik? Kau akan mengenal banyak orang karena datang kemari.”

“Aku…aku selalu gugup jika bertemu orang baru. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, pembicaraan seperti apa yang harus aku mulai. Aku selalu kebingungan seperti itu jika bertemu orang baru.”

Ryeowook yang sejak tadi memperhatikannya hanya tersenyum. Dia mulai menyadari, mungkin itulah yang membuat Minrin sedikit pendiam. Tapi percayalah, gadis itu terlihat pendiam karena kau belum mengenalnya saja. Setelah hampir 4 bulan mengenalnya Ryeowook tahu bahwa gadis itu teman bicara yang menyenangkan. Dia selalu mendengarkan saat Ryeowook bercerita padanya. Dia punya selera humor yang bagus. Dia juga orang yang selalu punya bahan obrolan yang menarik. Dia juga ramah, meski kadang akan menunjukkan sisi dinginnya.

Ah…apa Ryeowook sekarang tertarik padanya?

“Kalau begitu aku akan menemanimu di sini, tidak apa-apa kan?” Ryeowook memutuskan dan Minrin terlihat sedikit berdecak tapi sama sekali tidak keberatan.

Lalu mereka pun menghabiskan waktu bersama lagi, mengabaikan orang-orang yang menyuruh mereka untuk bergabung dan justru menikmati obrolan di antara mereka. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 11 malam lebih. Beberapa sudah pulang, beberapa temasuk member Super Junior masih duduk sambil mengobrol. Ranran yang tadinya datang bersama Minrin sudah pulang lebih dulu karena ada urusan. Awalnya Minrin ingin ikut pulang, tapi sahabatnya Lee Hyukjae menyuruhnya untuk tinggal dan berjanji akan mengantarnya pulang begitu acara selesai. Sayangnya Lee Hyukjae tertahan oleh Donghae, Heechul, dan yang lainnya untuk menyelesaikan permainan yang sedang mereka lakukan.

“Hyukjae-ya, bisa kau antar aku pulang?” Saat Minrin memintanya untuk mengantarkan pulang, Hyukjae justru meminta Ryeowook yang saat itu memang tidak ikut bermain untuk mengantarnya.

 “Ryeowook-ah, kau kan dekat dengannya jadi tolong antarkan dia pulang. Kurasa aku akan lebih percaya kau yang mengantarnya pulang daripada Kyuhyun yang melakukannya,” ucapnya. Kyuhyun yang kebetulan juga memilih tidak ikut bermain hanya mendengus.

“Tsk, memangnya apa yang akan aku lakukan?”

“Entah, aku tidak ingin memikirkan itu. Tapi yang jelas aku tidak pernah percaya padamu jika soal gadis,” Hyukjae terkekeh dan membuat Kyuhyun kesal. Yang lain ikut tertawa tapi Minrin yang berdiri hanya melayangkan tatapan kesalnya pada Hyukjae. Ryeowook yang melihatnya lalu menghampirinya.

“Ayo, aku akan antar kau pulang.”

Minrin sempat menoleh ke arahnya lalu menghela nafasnya lemah karena tidak punya pilihan. “Baiklah, maaf merepotkan.”

Selama perjalanan keduanya sempat saling diam sebelum akhirnya Ryeowook berinisiatif untuk memulai obrolan. Rasanya aneh jika mereka berdua tetap diam hingga sampai di dorm tempat tinggal Minrin.

“Berapa lama kau kenal dengan Eunhyuk hyung?” tanya Ryeowook memulai.

“Sejak umurku 5 tahun. Ayahnya dulu bekerja untuk ayahku dan dia sering datang kerumah. Sejak saat itu aku berteman dengannya.”

Ryeowook mengangguk-angguk mengerti. “Pantas saja kau sangat akrab dengannya.”

“Dia kadang menyebalkan tapi dia sudah seperti kakak untukku.”

“Aku bisa melihat itu.”

Obrolan mereka kembali berlanjut, mengenai banyak hal. Mereka bahkan saling bercerita tentang masa kanak-kanak masing-masing. Minrin juga menceritakan bagaimana Lee Hyukjae saat kecil dalam ingatannya. Tidak terasa mereka sudah sampai di gedung apartement tempat Minrin tinggal. Keduanya menoleh secara bersamaan satu sama lain.

“Samp…”

“Terima…”

Keduanya tertawa pelan saat menyadari bersamaan ingin mengucapkan sesuatu.

“Terimakasih,” ucap Minrin mengulai sambil tersenyum.

Ryeowook tanpa sadar juga ikut tersenyum. “Sampai jumpa,” balasnya sambil melambaikan tangannya.

Minrin mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam. Diam-diam Ryeowook terus memperhatikannya sampai gadis itu benar-benar masuk dan tidak terlihat dari pandangannya. Ryeowook tersenyum lagi tanpa sadar. Entah apa yang membuatnya ingin tersenyum sejak tadi.

Sepertinya gadis itu benar-benar telah membuatnya tertarik.

***

Kisah keduanya memang bisa dibilang sama seperti kebanyakan pasangan lainnya. Tidak banyak drama yang terjadi. Mereka bertemu, berkenalan, saling berbagi cerita lalu perasaan itu tumbuh diantara mereka.

“Sejujurnya saat itu aku mulai tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku belum pernah menyukai seseorang sebelumnya. Selama ini pria yang dekat denganku hanyalah Lee Hyukjae,” tutur Minrin dengan jujur.

“Aku tahu itu. Aku juga seperti itu.” Minrin menoleh lalu dahinya mengernyit heran, merasa bahwa ucapan Ryeowook itu sedikit tidak masuk akal.

“Tsk…kau tidak seperti itu, Ryeowook-ah. Aku tahu kau menyukai seorang gadis sebelum bertemu denganku.”

Ryeowook seketika itu ikut menoleh. “Siapa yang mengatakannya?”

“Lee Hyukjae dan juga Cho Kyuhyun,” jawab Minrin sambil menahan senyum saat dilihatnya Ryeowook agak kesal setelah itu.

“Seharusnya mereka tidak menceritakannya padamu.”

“Kenapa? Aku justru ingin mendengar ceritanya darimu. Kyuhyun bilang aku datang di saat yang sangat tepat. Dia bilang saat itu kau masih belum bisa melupakannya. Apa itu benar?”

Ryeowook berdecak kecil karena kesal. “Aku tidak pernah berkencan dengannya. Aku hanya menyukainya saja. Cinta bertepuk sebelah tangan, karena dia diam-diam berkencan dengan pria lain.”

“Wah… kau pasti sangat sedih saat itu.”

“Tidak juga. Kau menghiburku tanpa kau sadari,” ucap Ryeowook kemudian yang seketika itu membuat Minrin menatapnya sambil tersenyum geli.

Aigoo, neo jinjja! Lalu, apa ketika kau mengutarakan perasaanmu padaku, kau sudah melupakan gadis itu?”

“Hmm…entahlah, aku sedikit lupa.”

“Eiyy, jangan coba berbohong! Kau pasti masih mengingatnya kan? Aku jadi penasaran jangan-jangan saat itu aku hanya dijadikan pelarian.” Minrin berucap dengan nada menggerutu yang dibuat-buat.

Disampingnya Ryeowook hanya terkekeh sembari mengingat-ingat.

***

Kyuhyun mungkin benar. Kehadiran Minrin bisa menjadi penghilang rasa kecewa yang dialami Ryeowook karena cinta bertepuk sebelah tangan yang dialaminya. Kyuhyun menyarankan pada Ryeowook untuk mencoba menjalin hubungan dengan Minrin. Awalnya Ryeowook tidak yakin tapi semakin lama dia mengenal Minrin, semakin ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada gadis itu.

Permasalahannya adalah ketika itu Ryeowook masih menyimpan perasaan untuk gadis lain. Diam-diam dia juga masih berharap gadis itu akan kembali dan menerima perasaan sukanya. Katakanlah dia sedikit brengsek karena mendekati gadis lain, memberi harapan padanya tapi di dalam hatinya dia masih berharap pada yang lain.

Sampai akhirnya hari itu tanpa Ryeowook rencanakan dia mengungkapkan rasa kagum dan tertariknya pada Minrin.

“Aku tidak tahu apa aku harus mengatakan ini atau tidak tapi aku menikmati waktu yang aku habiskan denganmu, meski itu hanya dengan obrolan seperti ini. Aku menyukaimu.”

Ryeowook sama sekali tidak tahu apa pendapat Minrin tentangnya. Dia juga tidak yakin Minrin menyukainya. Gadis itu terlalu baik menyembunyikan ekspresi wajahnya. Jika sebagian gadis akan tersipu malu atau terlihat berbunga-bunya saat ada pria yang mengungkapkan perasaan, tapi tidak demikian untuk Minrin.

Gadis itu hanya menatapnya dengan ekspresi yang biasa diperlihatkannya. Sorot mata yang tidak menunjukkan keterkejutan apalagi kegembiaraan. Sesaat Ryeowook sudah khawatir jika Minrin akan membencinya. Tapi ternyata pikirannya itu salah.

Beberapa detik Minrin hanya diam sampai akhirnya dia menujukkan senyumannya. “Kita berkencan?” tanyanya memastikan.

Justru Ryeowook yang dibuat bingung dan juga terkejut. Apa gadis itu menerimanya atau justru sedang memberinya kesempatan, -kesempatan untuk ditolak-.

“Apa?”

“Kau bilang menyukaiku, apa itu artinya kita akan berkencan?”

Perlu waktu untuk Ryeowook mencerna ucapan itu. Ryeowook bahkan berniat untuk mengalihkan pembicaraan dan mengatakan bahwa dia hanya bercanda, tapi tatapan Minrin yang seakan menembus matanya itu membuat Ryeowook diam.

“Apa kau ingin berkencan denganku?” tanyanya.

Sekarang Minrin yang diam tidak bisa menjawab. Pupil mata gadis itu sedikit membulat dan Ryeowook diam-diam menahan senyum saat melihat keterkejutan yang berusaha disembunyikan gadis itu. Gadis itu akhirnya menunjukkan ekspresinya.

“Baiklah, kita berkencan,” ucapnya pada akhirnya.

Ryeowook tersenyum. Jantungnya seakan melompat keluar saat Minrin menjawab pertanyaan itu.

***

“Apa yang kau pikirkan tentangku saat itu dan apakah kau menyukaiku saat itu, aku benar-benar tidak tahu tapi aku senang mendengar jawabanmu itu.”

Minrin tersenyum kecil. Dia ingat saat itu dia juga kebingungan harus menjawab pernyataan Ryeowook seperti apa. Dia terkejut dan juga bingung. Itu adalah kali pertamanya ada seorang pria yang mengatakan menyukainya dan mengajaknya berkencan. Apa yang harus diucapkannya, apa yang harus dilakukannya, semua itu sama sekali tidak dipikirkan Minrin. Dia juga tidak menyangka akan mengucapkan hal macam itu pada Ryeowook.

“Sejujurnya aku juga bingung. Apa yang harus aku katakan, aku bahkan tidak memikirkan apakah aku menyukaimu atau tidak pada waktu itu.”

Ryeowook menoleh. “Kau belum menyukaiku saat itu, iya kan?” tanyanya memastikan.

Sudah lama Ryeowook ingin menanyakan hal itu. Dua bulan pertama mereka berkencan sama sekali tidak ada yang berubah. Hubungan mereka sama saja seperti sebelumnya hanya beralih status menjadi sepasang kekasih. Sejak hari itu pun tidak ada satupun diantara mereka yang berani mengungkapkan sayangnya. Di enam bulan pertama, barulah mereka lebih banyak mengekspresikan perasaan masing-masing. Mulai dari kalimat rindu yang sering Ryeowook ucapkan dan Minrin yang akhirnya menunjukkan ekspresi tersipunya saat mendengar kalimat rindu itu.

Lalu satu tahun berlalu, dan keduanya seperti saling membutuhkan. Ryeowook lebih banyak mengunjungi Minrin untuk mengusir penat atau sekedar bercerita tentang masalahnya dibandingkan bercerita dengan Leeteuk seperti yang selalu dilakukannya. Dan Minrin yang terkadang akan cemburu jika Ryeowook terlihat sangat dekat dengan gadis lain.

Hingga sebuah masalah menimpa mereka yang hampir berujung pada perpisahan. Masalah yang justru semakin menyadarkan mereka bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain, bahwa keduanya sulit melupakan dan bahwa baik Ryewook maupun Minrin menyadari perasaan sayang dalam diri mereka sudah tertanam terlalu kuat.

“Aku tidak tahu dengan perasaanku saat itu. Aku juga masih bingung. Ya, kurasa aku belum menyukaimu saat itu. Perasaan itu mengalir begitu saja saat kita semakin banyak menghabiskan waktu bersama.” Minrin menjawab. Nada suaranya terdengar serius dan Ryeowook mengerti sekarang.

“Sejak kapan kau menyadari menyukaiku?”

“Entahlah, mungkin sejak satu tahun pertama atau setelah itu. Tapi yang jelas aku merasa seperti tidak bisa kehilanganmu saat kau ingin berpisah dariku.”

“Saat itu aku meragukanmu karena kau sepertinya menyukai Eunhyuk hyung.

“Tapi aku tidak. Dia sudah kuanggap kakakku sendiri,” sahut Minrin cepat. Ryeowook tersenyum lagi dan mengangguk paham.

“Aku tahu. Aku juga merasa sangat bodoh saat itu. Aah…jika saat itu aku tetap pada pendirianku, mungkin kita tidak akan seperti sekarang ini.”

“Jodoh adalah rahasia Tuhan. Jika kau dan aku ditakdirkan bersama, akan ada jalan dan kesempatan untuk menyatukan kita lagi.” Minrin tersenyum sambil menoleh. Dia menatap Ryeowook lekat. Betapa dia bersyukur ada pria itu di sisinya.

“Ya, aku percaya itu.” Ryeowook balas menatapnya. Perlahan dia mendekatkan kepalanya dan mencium bibir gadis di depannya itu.

Minrin terkejut sebentar tapi membiarkannya. Tiba-tiba dia ingat ciuman pertama yang pernah mereka lakukan. Minrin jadi penasaran apakah saat ciuman pertama itu terjadi Ryeowook sudah menyukainya?

***

Ulang tahun Ryeowook yang ke 26 di tahun 2012, ya…Minrin ingat hari itu. Itu adalah kedua kalinya Minrin merayakan ulang tahun Ryeowook setelah resmi menjadi kekasihnya. Dia ingin memberikan kejutan tapi dia sendiri bingung harus memberinya apa. Saat itu dia baru kembali dari Jepang setelah promosi lagu di sana. Minrin memikirkan banyak rencana begitu pulang dari Jepang. Teman-temannya yang saat itu sudah mengenal dekat Ryeowook, menyarankan Minrin untuk membuat masakan penuh cinta. Tapi sayangnya Minrin tidak pandai memasak, jadi dia menolak usul itu.

Dia terpikir untuk memberinya kado, tapi Minrin bingung kado apa yang harus diberikannya. Pada akhirnya dia justru mengabaikan ulang tahun Ryeowook. Dia sama sekali tidak menemui pria itu. Dan ketika Minrin mengirimkan pesan selamat ulang tahun, ponsel Ryeowook justru tidak aktif. Dia kesal sekali saat itu. Esoknya pria itu yang menemuinya, menagih hadiah ulang tahun yang sempat disebut Minrin dalam pesan yang dikirimkannya.

Jujur saja sebelum kembali ke Korea, Minrin sempat melihat mug couple yang sangat lucu. Pikirnya pasti sangat menyenangkan jika dia dan Ryeowook punya mug ini. Ya…sedikit kekanak-kanakan dan juga berlebihan, tapi tetap saja Minrin membelinya.

Pagi itu saat Ryeowook datang menemuinya, Minrin sudah terlanjur kesal dan membuang mug itu. Minrin ingat bagaimana ekspresi Ryeowook saat Minrin mengatakan tidak ada kado istimewa untuknya. Wajahnya kesal, terkejut dan seperti ingin marah. Yang terjadi selanjutnya adalah, Ryeowook menarik tangannya dan mengajaknya pergi membeli hadiah. Minrin tentu saja meronta menolak, tapi dia mengalah ketika Ryeowook justru menelepon Ranran dan meminta ijin pada leader groupnya itu untuk membawa Minrin keluar. Dan sialnya Ranran seakan-akan berada dipihak Ryeowook membuat Minrin tidak punya pilihan lain selain menurutinya.

Jalan-jalan selama nyaris setengah hari itu hanya berakhir membeli sebuah liontin couple dan menikmati pemandangan malam di Namsan Tower. Minrin tidak pernah lupa saat-saat itu.

Ryeowook mengucapkan sesuau yang membuat Minrin terenyuh. “Permintaanku di hari ini… tetaplah disisiku. Apapun yang terjadi, berapa banyakpun pria yang membuatmu tertarik tetaplah disisiku. Aku ingin kau tetap disisiku.”

Dia mengucapkannya dengan sangat tulus dan juga serius. Minrin akui pada saat itu dia mulai tertarik dengan pria lain dalam artian mengidolakan mereka, karena tampan atau punya suara yang bagus. Dan Ryeowook sempat cemburu karenanya.

Ryeowook menatapnya begitu lekat dan perlahan dia memangkas jarak dengan Minrin, mendekatkan wajah dan memberikan ciuman manis di bibirnya. Minrin tentu saja terbelalak kaget, jantungnya berdebar hebat dan rasa panas mulai menjalar di kepala dan tengkuknya. Itu adalah ciuman pertamanya. Ryeowook adalah pria pertama yang menciumnya.

***

Ryeowook sedikit menjauhkan kepalanya lalu menatap Minrin lagi. Dia tersenyum.

“Saat ciuman pertama kita, kau ingat? Apa saat itu kau sudah menyukaiku? Atau kau masih berharap pada gadis yang dulunya kau sukai?” tanya Minrin. Senyum Ryeowook terhenti digantikan dengan ekspresi seperti sedang berpikir. Dia pun benar-benar menjauhkan kepalanya dari depan Minrin.

“Hmm…sepertinya aku mengatakan sesuatu padamu kan saat itu?”

Minrin mengangguk. Ya…dia ingat hal itu. “Kau menyuruhku berada di sisimu.”

“Kalau begitu aku yakin, aku benar-benar serius mengatakannya. Bahkan sampai detik ini permintaanku yang itu tidak pernah berubah,” katanya.

Minrin mendecakkan lidahnya dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat. Ryeowook yang sejak tadi menatapnya hanya terkekeh pelan.

“Aku rasa kita hentikan sampai di sini cerita masa lalu itu.” Minrin berucap lalu mengambil remote di sampingnya, memindah tayangan berita di televisi depan mereka menjadi tayangan drama. Seketika itu Minrin mengubah fokus pikirannya.

Ryeowook yang duduk di sebelahnya hanya menghela nafasnya pendek dengan lemah. Shin Minrin kembali pada hal yang disukainya, yaitu menonton drama. Tapi Ryeowook tidak berhenti tersenyum saat menatap dari samping wajah itu.

Sejak Ryeowook menyadari Minrin terlalu banyak bergantung dengan Hyukjae dan bahkan berpikir gadis itu menyukainya, saat itulah Ryeowook menyadari perasaannya yang sesungguhnya. Dia tidak sebatas menyukai gadis itu, tapi mencintainya. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu, dia ingin gadis itu ada di sisinya.

“Hey, apa Changmin oppa akan wamil tahun ini?” tanya Minrin tiba-tiba.

Ryeowook menoleh dengan kedua mata bertaut bingung. “Kenapa kau tanya itu? aku tidak tahu,” jawabnya.

“Tidak apa-apa, aku hanya penasaran,” balasnya. Perhatian Minrin masih pada tayangan drama di televisi. Ryeowook ikut memutar kepala. Ini masih terlalu pagi untuk menayangkan drama dengan genre percintaan macam itu Ah….tapi tunggu dulu, itu bukan drama yang sedang tayang hari ini. Ryeowook baru menyadarinya kalau ternyata sejak tadi Minrin menonton drama lama berjudul Triangle. Ryeowook mengernyit lagi.

Sepertinya kekasihnya itu tengah tergila-gila dengan pria lain lagi.

“Jaejoong oppa sudah wamil, Yunho oppa bulan ini juga akan wamil. Mereka bilang Changmin oppa juga akan menyusul tahun ini. Yoochun oppa juga. Aaah…kenapa mereka harus pergi di tahun yang sama? Sekalian saja Junsu oppa wamil tahun ini juga…,” keluh Minrin sembari menghela nafasnya.

Ryeowook makin bingung dengan ucapan gadis itu. Tapi sepertinya dugaannya tadi benar.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu ha? Kau….,” Ryeowook hampir memekik kesal tapi ucapannya terpotong begitu Minrin menoleh ke arahnya.

Gadis itu tersenyum takut-takut. “Aaahh itu…. Mianhae….,” ucapnya.

“Oh… jadi sekarang mereka yang sedang membuat otakmu bergeser?”

“Yaa….!” Minrin berseru tidak terima. “Kenapa kau mengatakan hal itu? padaku? Gadis yang ingin kau nikahi ini? Oh…astaga!!”

“Kalau kita menikah aku akan melarangmu menonton drama!”

Minrin menajamkan tatapannya seketika. Ekspresinya berubah kesal. “Meski kau melarang, aku akan tetap menonton drama. Kalau kau melakukan itu, aku akan melarangmu berhenti crossdressing seperti wanita! Ah..tunggu kurasa itu tidak cukup. Bukan hanya itu, aku juga akan membuang gilsoni dari kamarmu. Si jerapah panjang dan besar yang memenuhi ruang itu, akan kupastikan dia tidak akan berada di rumah kita nantinya!” ancam Minrin tidak mau kalah.

“Yaa, kau mengancamku?”

“Kau juga mengancamku,” sahut Minrin menantang.

“Ya Tuhan…gadis ini benar-benar!”

Wae? Shirro? Kalau begitu jangan melarangku menonton drama,” lanjutnya dengan ekspresi kemenangan.

Minrin tahu betapa Ryeowook sangat menyayangi boneka jerapah raksasa di kamarnya. Dan tentu saja jika pria itu mendebatnya seperti tadi, Minrin akan menjadikan pelenyapan si Jerapah sebagai senjatanya.

Minrin tertawa pelan melihat ekspresi Ryeowook yang kalah dan juga kesal. Pria itu hanya memandang Minrin yang sekarang tengah menonton ulang salah satu drama favouritenya.

“Hey…,” Minrin menoleh lagi.

“Apa?” sahut Ryeowook agak ketus membuat Minrin terkikik lagi.

Aigoo…kenapa kau jadi marah begitu?”

“Kau membuat mood ku buruk, kau tahu itu kan?” Ryeowook berucap mengalah.

Jujur saja ini sudah entah keberapa kalinya Ryeowook harus mengalah dengan gadis itu yang lebih memilih drama dibandingkan dirinya.

Minrin tersenyum. Kedua tangannya menangkup kepala Ryeowook di kedua sisi dan seakan menyuruh Ryeowook untuk menatap ke arahnya. “Aku sudah sering mengatakan ini padamu kan? Tidak peduli berapa banyak pria diluar sana yang kadang membuat otakku bergeser seperti katamu tadi, tapi pria yang kubutuhkan berada disisiku hanya kau. Jadi, berhentilah cemburu,” ucap Minrin

Ryeowook tertegun sesaat apalagi saat Minrin tiba-tiba saja mencium bibirnya. Dia bergerak mengecup balik bibir gadis itu. Minrin tersenyum kecil lalu refleks memejamkan matanya, saat akhirnya Ryeowook mengambi alih.

Mungkin jika mereka sudah menikah, Minrin harus berhenti membagi perhatian dan mungkin secuil rasa suka pada pria lain yang menjadi idolanya. Lagipula bukankah dia sendiri sudah berjanji akan memenuhi permintaan Ryeowook untuk tetap berada di sisinya?

CUT

***

Sebelumnya minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin ya….

Jika saya banyak salah dan mungkin membuat kalian tersinggung, saya mohon maaf. 🙂

Okay, now about the story. Kelanjutan Ryeomin, setting waktu beberapa hari setelah konser di Fukuoka. Maaf baru bisa update FF lagi, hehe….

Dari dulu saya Cuma buat cerita tentang Ryeomin setelah menjadi pasangan kekasih, tapi tidak pernah saya singgung kapan sih mereka pertama ketemu, dimana dan bagaiaman mereka bisa jadi seperti sekarang. Nah, saya jawab itu di ff ini. Meski hanya singkat-singkat tapi semoga ini bisa mewakili kisah lama mereka. Dari pertama ketemu, pertemuan-pertemuan setelahnya, ungkapan perasaan, hingga ciuman pertama. 🙂

Dan sorry for bringing other men again in this FF. Yah…ini gara2 saya lagi kerajinan mendengarkan lagu tvxq dulu, sekarang dan juga jyj. So sorry about that. Hihi….

Berhubunga mereka-mereka sedang dan akan wamil, saya jadi sedikit kehilangan *curhat dikit* Belum lagi line 86 member SJ yang juga akan wamil, bikin tambah merasakan kehilangan. Apalagi sebagian besar line 86 di Sj adalah mood maker terutama Hyukjae, my 2nd bias. T.t sempat mikir kenapa Kyu sama Wook nggak sekalian aja wamil tahun ini, biar saya Cuma nunggu 2 tahun untuk mereka-mereka itu. Tapi setelah dipikir lagi, saya bakal tambah ngerasa kehilangan nantinya. Aaah….Ryeowook-ah!!

Huft…sudahlah, semoga 2 tahun tanpa mereka tidak akan sesepi yang aku bayangkan. I have to prepare my heart too when Ryeowook enlist next year ;(

Advertisements

5 thoughts on “(Ryeomin Story) Flashback

  1. ahh Eonnie aku suka ff nya.. ❤ nggak pernah berhenti senyum kalo udah baca tentang Ryeomin story..
    Cha.. Aku tunggu ff lainnya Eonnie..
    Minal aidzin walfaidzin juga ya Eonnie..
    Keep Writing!!

  2. Masih pagi menjelang siang, baca ff kaya gini tuh rasanya nyesel banget. Iya nyesel, kebayang terus huuuuu… senyum sendiri hiii… tapi seperti biasa ff nya bagussss aaaaa keep writing yaaa aku tunggu ff lainnyaa^^

  3. Ya sedikit kecewa,nunggu secreat guard gk muncul2
    Tp saya suka semua ff disini.bhsa na ringan fell na berasa nyata
    minal aidin wal faizin.

  4. Minal aidzin wal faidzin jga wlau telat 😀
    Aku kira kmu bkal bkin ff tentang mv devil yg bnyak paha sma dada ayam nya hahahaha
    Iya nie bkalan kngen sma abang dongek yg bntar lgi wamil….

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s