(Drabble) LIE

taeun 3

Title : LIE | Cast : Son Naeun, Lee Taemin | Genre : Romance | Rating : 15 | Length : Drabble | Author : d’Roseed (@elizeminrin)

***

Sore yang mulai dingin di bulan Oktober. Entah karena sekarang sudah mulai memasuki musim gugur, atau karena cuaca yang tidak bersahabat. Tapi yang jelas Son Naeun tidak menyukai langit di atas yang terlihat mendung. Menunggu itu menyebalkan di tengah cuaca mendung seperti ini. Meskipun tempat sekarang berada sebenarnya bisa melindunginya dari guyuran hujan yang sewaktu-waktu turun. Tapi tetap saja semua tiba-tiba terasa menjengkelkan untuknya. Dan alasan atas kejengkelan yang menderanya adalah karena tidak ada satupun pesan balasan dari orang itu.

“Oh.. Lee Taemin-ssi, lihat saja nanti sampai kau tidak datang lagi.” Naeun meletakkan ponselnya dengan keras, dan menggerutu dalam hati.

Sekali lagi orang itu terlambat atau lebih parah lagi melupakan janjinya, maka jangan salah kan Naeun jika sikapnya akan berubah secara tiba-tiba nanti. Salah siapa dia selalu berbuat seperti ini. Dan untuk catatan saja, Lee Taemin bukan hanya sekali lupa dengan janjinya untuk bertemu Naeun.  Sekarang ini mungkin sudah ketiga kalinya atau bahkan keempat kalinya Taemin terlambat di kencan mereka.

Suara lonceng pintu di seberangnya berbunyi nyaring. Naeun langsung menolehkan kepalanya. Namun, raut wajahnya yang semula menghangat berubah kembali menjadi terselimut kejengkelan saat mendapati bukan Taemin yang datang melainkan orang lain. Dengan gerakan gusar ia kembali menolehkan kepalanya ke depan, memperhatikan jalan yang sekarang sudah basah karena hujan.

Suara lonceng keempat kalinya kembali terdengar sejak dia masuk ke dalam cafe ini. Kali ini Naeun memilih tidak menghiraukannya.

“Naeun-ah…!” suara seseorang yang dikenalnya berteriak memanggilnya diikuti suara derap kaki cepat mau tidak mau memaksa Naeun kembali menolehkan kepalanya ke arah pintu.

Naeun memperhatikan Taemin yang baru datang sejenak. Wajahnya berubah senang seketika tapi tidak lama saat dia sadar seharusnya bukan ekspresi seperti itu yang harus dipasangnya. Lalu dia pun kembali tidak menghiraukannya. Naeun membiarkan saja Taemin yang berdiri di depannya dengan senyum lebarnya yang Naeun yakini menjadi senjatanya untuk meminta maaf.

“Apa kau sudah menunggu lama?” Alih-alih memasang wajah lega ataupun senang, Naeun justru semakin menekuk wajahnya dan berpura-pura mengabaikannya.

Taemin menarik kursi tepat di depan Naeun, dan tersenyum lebar seperti biasanya. Matanya menatap lekat ke arah Naeun. Kegiatan itu nyaris selalu di lakukannya setiap kali bertemu dengan Naeun. Dan bukan berarti Naeun tidak tahu jika sedang diperhatikan. Tapi lagi-lagi ia memilih tidak menghiraukannya.

Oppa, Kau terlambat lagi,” ujarnya lalu mendesah pelan.

Mianhae..” ucap Taemin buru-buru masih dengan senyuman lebarnya yang sejak tadi belum hilang. Melihatnya saja hampir membuat Naeun luluh untuk mengatakan ‘Baiklah, tidak apa-apa’ atau kalimat mengalah ‘Aku mengerti, lain kali jangan terlambat lagi’. Dia mendesah lagi. Begitu sulitnya menolak pesona Lee Taemin. Meskipun sudah berulang kali Taemin terlambat dan selalu berbohong tentang alasannya terlambat, tetap saja Naeun selalu bisa memaafkannya.

Wae? Kali ini apa yang Oppa lakukan? Menemui Minrin eonnie? Atau bertemu dengan adik-adik group di agensimu?” Naeun bertanya seakan jengkel.

Pertanyaan itu sebenarnya sangat Taemin hindari setiap kali dia terlambat datang di janjinya dengan Naeun. Karena pertanyaan itu pasti akan langsung dilontarkan Naeun padanya. Pertanyaan-pertanyaan yang kadang dijawab Taemin dengan kebohongan. Kadang dia menjawab sedang berlatih dengan teman-teman groupnya atau sedang bertemu dengan Kai untuk membahas sesuatu sebagai jawaban aman.

Wae? Kenapa kau selalu bertanya seperti itu, eoh?”

Oppa tahu aku sangat mudah dibohongi. Oppa bahkan selalu bilang aku seperti bayi yang kelewat polos. Jadi, kalaupun oppa berbohong aku tetap tidak tahu. Tapi, bukan berarti oppa bisa terus membohongiku. Karena bagaimanapun juga aku akan tahu.”

Naeun tersenyum tipis. Ia memutar kepalanya ke kiri dan berusaha menghela nafasnya lagi. Tapi bukan berarti aksinya menoleh untuk menghela nafasnya tidak diketahui Taemin. Bagaimana pun juga Taemin selalu memperhatikan gadis yang selalu memenuhi pikirannya itu. Son Naeun.

“Jawaban apa yang ingin kau dengar?”

Kali ini Naeun kembali menolehkan kepalanya ke depan, menatap Taemin yang entah sejak kapan memberikan tatapan lekat padanya. Apa yang dipikirkannya? Rasanya-rasanya pernyataan itu selalu sulit untuk dijawab setiap kali muncul di kepalanya. Jawab jujur yang justru akan menyakitinya, tapi jawaban berbohong yang justru akan semakin membuatnya sakit. Dan kedua jawaban itu selalu punya kemungkinan yang sama untuk membuat mereka terlibat dalam sebuah pertengkaran. Sesuatu yang selalu Naeun hindari.

Son Naeun memang tidak pernah bisa menebak isi kepala namja yang sudah bersamanya selama delapan bulan ini. Bukankah Taemin selalu berhasil membuatnya terkejut? Apapun yang direncanakan tidak pernah bisa ditebak Naeun sebelumnya. Begitu juga dengan saat ini. Ekspresi itu tidak bisa ditebaknya. Mendadak Naeun menjadi khawatir.

“Jawaban yang jujur,” ungkap Naeun kemudian. “Setiap kali oppa berbohong, itu berarti oppa berusaha menghancurkan kepercayan yang pernah aku berikan.”

Ia memperhatikan Taemin. Menunggu, kira-kira apa yang akan dikatakannya kali ini. Pembelaan agar keluar dari jurang kebohongan, ataukah kejujuran yang sudah lama dirindukan Naeun selama ini. Karena bagaimanapun juga seseorang pernah mengatakan pada Naeun bahwa dalam sebuah hubungan kejujuran itu juga penting.

“Baiklah, sebelum aku datang kemari, aku bertemu dengan Minrin. Kami membicarakan banyak hal. Kau tahu kan kami memang dekat.. Kau pasti juga sudah tahu aku sering bertemu dengannya, jadi aku tidak akan heran kau terus bertanya ‘apa aku bertemu dengannya lagi atau tidak’, tapi kenyataannya aku memang bertemu dengannya. Dia sedang mengalami krisi bersama Ryeowook hyung. Dan satu hal yang pasti aku tidak menyukainya, jika kau ingin bertanya itu. Dia sudah punya kekasih dan aku tidak akan berani merebutnya dari tangan hyungku sendiri.”

Naeun mendengarkan penjelasan itu dengan sesekali tersenyum tipis yang datar. Ya.. Ia menolak mengakui tapi kekasihnya itu memang sangat dekat dengan Shin Minrin. Dan meskipun Naeun sendiri tahu siapa itu Shin Minrin bukan berarti dia tidak merasa khawatir. Menjadi kekasih orang lain, bukan berarti orang itu tidak bisa mendapatkan perhatian atau bahkan cinta dari orang lain. Atau yang lebih parah lagi orang lain itu yang justru menginginkanya. Oke, pemikiran ini memang melewati batas dan terkesan berlebihan. Tapi apa Naeun salah jika khawatir kalau Taemin mungkin saja menyukai gadis itu.?

Oppa, kau mengatakan itu kenapa justru membuatku berpikir kalau kau sedang berbohong padaku.”

Jinjja? Kau tidak percaya padaku?”

Naeun menggelengkan kepalanya pelan. Namun sedekit kemudian ia mengulas senyum tulus yang sejak tadi di simpannya. “Aniya… aku percaya.” Ujarnya pelan.

Setidaknya Naeun harus menjaga kepercayaan yang pernah diberikannya tidak hilang begitu saja. Karena selain kejujuran, percaya pada orang yang kau sayangi juga sama pentingnya untuk membuat hubungan itu berlangsung lama.

***

 

Advertisements

2 thoughts on “(Drabble) LIE

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s