(Ryeomin Story) Let’s Be Together

let's be together

Let’s be Together

Ryeowook | Minrin

Udara di New York ternyata masih dingin di bulan Mei ini meski sudah memasuki musim semi. Suara burung liar yang sering bertengger di luar Apartement menjadi nada alarm tersendiri. Dengan enggan Gadis itu membuka matanya dan menguap perlahan sambil menyibakkan selimut tebalnya. Cukup sudah acara berbaring mengumpulkan nyawa, karena ini sudah lebih dari 10 menit dari kesepakatannya sendiri. Dia pun berjalan pelan menuju jendela kamarnya, membuka tirai dan seketika itu pemandangan kota New York pagi hari di minggu ketiga tersibak di depannya. Gedung-gedung yang menjulang seakan berlomba memamerkan ketinggiannya. Tidak ada pohon yang terlihat dari lantai 8 apartementnya ini. Pemandangan yang tentu saja sangat berbeda jauh dari Korea. Meskipun di Korea dia juga tinggal di gedung apartement, tapi setidaknya masih nampak gunung yang bisa dilihatnya setiap pagi dari jendelanya. Mengingatnya saja sudah membuatnya rindu dengan tanah kelahirannya itu.

Jika saja jatah libur saat wisuda kemarin tidak dipotong sudah pasti Minrin masih bisa menikmati udara Korea. Saat itu tiba-tiba saja Claire meneleponnya dan menyuruhnya pulang ke New York secepatnya. Gadis Kanada itu memintanya dengan nada memelas yang sedikit memaksa, membuat Minrin tidak punya pilihan selain mengiyakan. Katanya ada hal penting yang harus segera dibahas. Dan sialnya ayahnya lagi-lagi seakan menjadi orang yang memaksanya untuk segera pergi.

Dia mendesah setelah menarik nafasnya pelan. Di jarinya melingkar sebuah cincin putih yang baru seminggu ini dikenakannya. Dan sekali lagi kekhawatiran melandanya terkait ucapan ‘Ya’ yang diucapkannya sesaat sebelum cincin ini melekat di jarinya.

Apakah dia sudah memilih pilihan yang tepat?

Apakah ini tidak apa-apa?

Apakah semua akan baik-baik saja?

Pertanyaan-pertanyaan macam itu lebih sering mengganggunya begitu mendarat di New York. Bukan berarti Minrin tidak menyukainya. Dia sangat menyukainya, jika boleh jujur. Hanya saja dia terlalu kurang percaya diri.

***

Did you enjoy your vacation?”

Suara Claire menyadarkan Minrin, saat gadis itu tengah sibuk menatap laptopnya yang menampilkan desain pakaian untuk musim gugur. Tatapannya memang tertuju pada gambar-gambar itu tapi Claire tidak bisa dibohongi bahwa atasan sekaligus teman barunya itu tengah memikirkan sesuatu yang lain.

Minrin mendongak lalu tersenyum. “Yeah, it’s great. Korea is always being my favourite place,” jawabnya lalu berusaha memfokuskan pikirannya lagi.

Hmm…yes of  course it is. The place where your boyfriend live, right?” godanya.

Minrin mendecak singkat dan memilih tidak menanggapi ucapan Claire barusan. Tangan kanannya menumpu di dagu dan seketika itu tatapan Claire tertuju pada benda berkilau di jarinya.

Did he give you that ring?” tanyanya penasaran hampir memekik karena terkejut. Tanpa sepengetahuan Minrin, Claire sudah menarik tangannya dan mengamati benda putih itu. “Such a sweet guy. It’s so beautiful, Elize,” pujinya. Cincin berwarna putih dengan garis bergelombang di permukaannya, ditambah sebuah berlian yang dikelilingi tiga berlian kecil di sekitarya terlihat berkilau di tangan Minrin.

Minrin pun melepaskan tangannya lalu hanya kembali tersenyum. Pria yang sangat manis dan juga romantis. Minrin bahkan untuk sesaat tidak menyangka Ryeowook akan melakukan hal itu.

My birthday gift,” ujarnya kemudian.

Really? You’re so lucky. I always asked Tom to give me something like that, but he always refuse….”

Minrin tidak terlalu mendengarkan obrolan Claire tentang kekasih barunya yang bernama Tom itu. Pikirannya kembali terpusat pada pertanyaan-pertanyaan yang kembali mengganggunya. Ya…hadiah ulang tahun dan juga sebuah permintaan untuk hidup bersamanya. Mungkin bagi semua wanita di dunia teramasuk Claire, hal ini adalah hal yang sangat membahagiakan dan juga ditunggu-tunggu. Tapi tidak juga seperti itu untuk Minrin. Entahlah…mungkin dia terlalu banyak berpikir, mungkin dia terlalu mengkhawatirkan Ryeowook sendiri hingga rasanya kebahagiaan ini bisa saja rela ditundanya.

Dia bisa saja bersikap egois dan melanjutkan semuanya. Dia bisa saja berpura-pura tidak akan mendengar komentar negatif dari orang lain nantinya. Tapi dia sama sekali tidak bisa mengabaikan perasaan orang-orang yang sepenuhnya juga mencintai Ryeowook. Seorang fans, Minrin tahu betul keberadaan mereka itu sangatlah berharga bagi Ryeowook. Dan karena mereka jugalah pria itu bisa berdiri di panggung itu, mewujudkan mimpinya sebagai seorang penyanyi. Jadi bagaimana Minrin bisa mengabaikan fakta itu?

Oke, Minrin tidak bilang seorang idol tidak boleh menikah. Dia juga tidak bilang pernikahan akan menghancurkan karir mereka, karena nyatanya banyak juga yang masih bertahan setelah pernikahan. Dia hanya terlalu khawatir.

Entahlah..semakin memikirkannya semakin membuatnya pusing dan juga bingung.

Kejadian yang beberapa bulan lalu terjadi pada seseorang mungkin menjadi ketakutannya tersendiri. Publik bahkan tidak tahu jika dirinya dan juga Ryeowook menjalin hubungan, lalu bagaimana bisa mereka tiba-tiba mengejutkan mereka semua terutama fans tentang sebuah berita pernikahan?

Tangannya kembali bertumpu, sementara tangan kirinya bergerak-gerak pelan di atas papan cursour,  kedua matanya menatap ke arah laptop dan sama sekali tidak menyadari jika Claire tidak lagi berdiri, melainkan sudah duduk di sampingnya.

It’s maybe hard for you. I mean long distance relationship…. I truly hate everytime Tom goes to London,” ujar Claire tiba-tiba. Gadis berambut pirang sebahu itu kembali mengutarakan simpatinya seperti biasanya.

Minrin menghentikkan kegiatannya dan menoleh ke arahnya. Rambut Claire terlihat lurus dari samping dan mendadak mengingatkannya pada salah satu dancer Super Junior. Gadis dengan potongan rambut boob yang lurus.

You know, i ever had the worst time than you, Claire. We even didn’t make any contact for almost three months,”

You’re kidding me?” gadis itu menoleh terkejut sekaligus tidak percaya. Tapi Minrin membalas keterkejutan itu dengan senyuman seakan itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan.

Ya..sebenarnya itu sangat sering terjadi, dan Minrin sudah terbiasa sekarang.

He’s busy with his schedule, so am i. And yeah….” Minrin mengangakat bahunya. Terlalu panjang jika dijelaskan kenapa dia dan Ryeowook bisa bertahan dengan hubungan yang seperti itu.

Sometimes, i feel that we’re just like a best friends. But i know that i can’t let him go. I just want to be by his side. I always worry about him if he might get hurt. He’s like a star for other people, his fans. So, i won’t be so egoistic and making them in hurt one day. Because i know, when he found out his fans in hurt, then he will feel the same. Complicated, huh? ”

Claire mendengarkannya sedikit tertegun. Diam-diam gadis itu mengagumi Minrin dan di saat bersamaan dia juga merasa Minrin sangat bodoh. Ini kali pertama bagi seorang Claire melihat sendiri ada gadis yang kebingungan mempunyai kekasih seorang superstar yang punya banyak fans. Karena gadis itu merasa takut akan membuat fans kekasihnya sakit hati. Ya Tuhan….Claire benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Fans adalah fans, mereka tidak akan melampaui batasannya. Setidaknya Claire tidak pernah melihat hal itu terjadi di dunia hiburan Amerika. Atau mungkin inilah perbedaannya. Kedua negara jelas punya perbedaan.

You’re just too worry. Everyone need to be happy, you too. I’m sure they will understand.”

Minrin menghela nafasnya. Entahlah…mungkin dia memang terlalu khawatir.

Tapi sungguh apa yang sudah terjadi sebelumnya berdampak buruk pada jalan pikiran Minrin. Dia melihat langsung reaksi fans ketika berita pernikahan Sungmin tersebar, dia mendengar mereka berteriak menyuruh pria itu keluar. Dan wanita yang kini telah menjadi isterinya pun tak kalah mendapat hujatan kasar, bahkan mungkin lebih buruk. Minrin tidak masalah jika dia mendapat perlakukan itu, dia hanya tidak sanggup jika harus menyaksikan Ryeowook balik diserang fansnya sendiri dan sudah pasti itu menyakitkan untuknya.

Ah…mungkin Minrin memang berpikir terlalu jauh.

***

Dia sedang berbicara serius dengan salah satu bawahannya ketika tiba-tiba Claire datang menginterupsinya lagi. Gadis yang lebih tinggi darinya itu menyerahkan sebuah ponsel yang diyakini Minrin memang tertinggal di meja kerjanya.

Your phone rings many time, maybe it’s important thing so you need to check,” katanya. Minrin menerima ponselnya itu lalu tersenyum pada Claire.

Thanks,” ucapnya.

Lima pesan masuk sejak setengah jam yang lalu dan juga dua panggilan tak terjawab. Dan semua itu berasal dari orang yang sama. Dia pun meminta seseorang yang tengah bicara padanya itu untuk kembali bekerja, sementara dirinya mengecek ponselnya lagi.

Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak menjawab teleponmu?

Kapan kau akan pulang? Aku akan menunggumu sambil berjalan-jalan sebentar.

Minrin mengernyit kebingungan dengan pesan yang dua pesan terakhir yang dikirimkan Ryeowook padanya.

Yaa, dimana tempat tinggalmu? Aku tidak bisa menemukannya

Aku akan menemuimu, tunggu oke?

Tebak dimana aku sekarang? New York City!

Minrin tidak bisa untuk tidak membulatkan matanya begitu membaca pesan pertama yang dikirim Ryeowook. Apa katanya? New York?

Tanpa menunggu untuk berpikir, Minrin pun langsung menekan tombil Call dan segera menghubungi pria itu. Apa yang dilakukannya di New York? Kenapa dia tidak memberitahu apapun sebelumnya?

Yeobseo….” Tidak berselang lama, seseorang mengangkat panggilan yang dibuat Minrin.

Yaa, Kim Ryeowook. Bagaiamana bisa kau berada di New York?” cerca Minrin langsung dengan tidak sabaran.

“Astaga, bisa tidak kau bicara pelan?” tanya suara Ryeowook di seberang sana yang terdengar sangat biasa saja di telinga Minrin. Pria itu pasti tengah tersenyum senang sekarang karena membuat Minrin terkejut seperti ini.

“Menurutmu bagaimana aku bisa bicara pelan saat ternyata kau tiba-tiba ada di sini? Damn… why didn’t you tell me?” Minrin berdecak.

“Apa kau baru saja mengumpat padaku?”

“Tidak. Aku hanya terkejut!” sahut Minrin cepat. Dihelanya nafas dengan sabar. Dia kelepasan mengumpat tadi. Sesuatu yang tentu saja selalu dibenci Ryeowook. “Sekarang kau dimana?”

“Berjalan-jalan di Yankee Stadium. Aku akan menemuimu setelah kau selesai bekerja. Kembalilah bekerja, I’ll see you soon,” ucapnya lalu begitu saja mengakhiri panggilan telepon itu.

Bunyi klik terdengar dan Minrin hanya bisa memandang ponselnya dengan heran sekarang. “Tsk..seenaknya saja memutus panggilan. Jinjja…!” decaknya singkat.

Claire yang masih berdiri mengamati Minrin di dekat pintu hanya tersenyum tidak jelas. Kedua tangannya menyilang di depan dada dan dia pun berdehem. “I think someone will meet her lover soon,” godanya.

Minrin mendongak. “I need to go now. He maybe get lost in this big city,” ucap Minrin berlebihan sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Well, he’s not a child but maybe you’re right. Oke, i’ll take care here.”

Thank you.” Lalu Minrin pun bergegas keluar, meninggalkan Claire dengan setumpuk pekerjaan yang sebenarnya adalah tanggung jawabnya.

Have fun!”

Minrin masih mendengar suara teriakan Claire dari arah belakang yang dihiraukannya.

***

Seharusnya Minrin tidak menyusulnya. Dia agak menyesal pada akhirnya. Area Yankee stadium sangatlah luas dan Ryeowook bisa dimana saja. Sudah sekitar setengah jam sejak Minrin tiba dan belum juga menemukan pria itu. Rasanya dia seperti sedang mencari seorang anak kecil yang hilang dari pegangan ibunya.

Tidak ada dimanapun. Sejauh Minrin memandang hanya terlihat wisatawan asing atau warga Amerika dengan postur tinggi dan berambut blonde. Dia menghela nafasnya putus asa. Seharusnya dia memang membiarkan saja pria itu bersenang-senang. Memangnya kedatangan Ryeowook untuk bertemu dengannya? Ah….sepertinya Minrin terlalu percaya diri.

Minrin baru saja akan duduk di sebuah kursi taman ketika akhirnya melihat sosok pria bertopi yang tengah mengambil foto Yankee Stadium dengan ponselnya. Minrin tersenyum seketika. Tapi bukannya menghampiri Ryeowook yang tengah menikmati acara jalan-jalannya, Minrin justru terus memperhatikannya. Sampai akhirnya Ryeowook beranjak dari tempatnya berdiri dan Minrin pun mengikutinya. Hanya beberapa langkah lalu Minrin mengambil ponselnya dan meneleponnya. Tidak sampai lima detik, Ryeowook sudah mengangkat panggilan itu.

“Aku bilang akan menemuimu setelah kau selesai bekerja. Nikmati saja pekerjaanmu.” Ryeowook menjawab terdengar sangat dekat di telinga Minrin karena pria itu memang berdiri beberapa langkah di depannya dengan ponsel menempel di telinganya.

“Kau pasti sangat menikmati jalan-jalanmu ya?”

“Tentu saja.”

“Kupikir kau akan tersesat tapi sepertinya tidak. Yaa, Mr Kim!” seru Minrin akhirnya. Dia mengakhiri panggilan itu dan Ryeowook tentu saja terkejut karena suara teriakan masih terdengar terlalu nyata di telinganya

Dia menoleh dan mendapati sosok gadis dengan rok pendek bermotif bunga yang dipadukan dengan cardigan berwarna gelap. Ryeowook menatapnya hampir tidak percaya. Semudah itukah Minrin menemukannya?

“Aku bilang bertemu setelah kau selesai bekerja bukan? Lalu apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ryeowook mengamati Minrin dari atas sampai bawah. Dia sangat jarang melihat Minrin berpenampilan seperti itu. Ayolah, dulu Minrin bukan tipe gadis yang suka dengan short skirt

“Aku pikir kau tersesat jadi aku mencarimu. Lagipula Claire bisa menyelesaikan pekerjaanku,” jawab Minrin asal. Tentu saja dia tidak akan mengatakan jika dia sengaja datang ke tempat ini untuk memastikan bahwa Ryeowook benar-benar berada di New York.

Rasanya benar-benar tidak bisa dipercaya. Dua hari yang lalu pria itu bahkan tidak mengantar Minrin ke bandara. Yah, memang Minrin tidak ingin demikian. Tapi Ryeowook mengatakan sedang sibuk untuk persiapan konsernya bersama Kyuhyun dan Yesung. Dan bagaimana bisa dia ada di sini sekarang ini? Kalau bukan sengaja menemui Minrin apa lagi?

“Itu benar-benar bukan gayamu. Aku penasaran bagaimana reaksi ayahmu jika tahu kau tidak sungguh-sungguh bekerja di sini,” sahut Ryeowook kemudian membuat Minrin membalasnya dengan berdecak,

“Jangan kira karena kau sudah mengambil hati ayahku kau akan membuatku tampak buruk di depannya,” kesalnya. Ryeowook terkekeh lalu maju mendekatinya.

“Mana mungkin aku melakukannya,” ucapnya kemudian. Dia tersenyum dan Minrin dibuat ikut tersenyum.

“Baiklah, karena kau sudah berada di sini kenapa tidak menemaniku jalan-jalan?” tawarnya kemudian. Minrin sempat mengernyit sebentar sebelum akhirnya menghela nafasnya.

Gadis itu tidak menjawab apapun dan Ryeowook dengan seenaknya sudah menarik tangannya. Menautkan jemarinya di antara jemari-jemari gadis itu dan menggenggamnya erat.

***

Rasanya seperti kabur dari jam pelajaran sekolah. Ya, mungkin seperti itulah. Tapi bukan pelajaran yang dihindari Minrin melainkan setumpuk pekerjaan. Dan anehnya Minrin tidak mempermasalahkan jika nantinya ayahnya memang benar-benar akan menceramahinya karena tidak serius bekerja. Dia bisa mengandalkan Claire. Dan semoga sahabatnya itu memang bisa diandalkannya.

Mereka menikmati jalan-jalan di kota New York itu dengan penuh kebahagian. Kapan lagi mereka punya moment seperti ini? Di Korea mereka bahkan belum pernah jalan-jalan dengan bergandengan tangan di tempat umum seperti ini. Mereka mengunjungi taman cinta dengan tulisan Love yang sangat terkenal di dunia, menikmati sajian snack sore hari dengan kopi di cafe pinggir jalan dan masih banyak lagi tempat yang mereka kunjungi.

Sangat menyenangkan dan kali ini Minrin tidak menyesal karena mengikuti instingnya untuk menemukan Ryeowook di New York. Entah apapun alasan pria itu sampai datang ke kota ini tapi yang jelas Minrin sangat menyukainya.

“Kau tidak mengatakan padaku kalau akan ke New York,” ujar Minrin ketika keduanya tengah duduk bersebelahan di sebuah kursi taman.

“Aku memang tidak mengatakannya. Aku sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Aku hanya ingin liburan saja sekaligus menemuimu. Bahkan perjalanan ini yang sebenarnya akan kugunakan untuk melamarmu. Tapi ternyata kau sudah kembali ke Korea,” Ryeowook menjawab.

Keduanya tengah menikmati pemandangan taman bermain di depan mereka. Terlihat sekali beberapa ank kecil yang sedang bermain bersama dan orang-orang dewasa yang mengajak anjingnya jalan-jalan pun tak kalah banyak.

“Seharusnya hari ini aku masih di Korea. Jika jadwal kepulanganku tetap minggu depan, apa kau tetap akan ke New York?” Minrin menoleh dan menatapnya. Ryeowook mengangguk tanpa ragu.

“Tentu saja, kau tidak tahu bagaimana sulitnya mencari waktu kosong untuk liburan. Aku bahkan harus menyuruh Eunhyuk hyung dan yang lainnya untuk menggantikanku sebagai Dj sukira.”

“Itu benar-benar akan sangat lucu,” sahut Minrin kemudian. “Aku kembali ke Korea dan kau justru yang pergi ke New York. Kita juga tidak bisa selalu bertemu dan kau justru pergi ke New York saat aku kembali ke Korea. Benar-benar lucu.”

Ryeowook menoleh lalu tersenyum. “Tapi kau akan menjadi milikku. Kita bisa bertemu lebih sering dibandingkan biasanya,” jawabnya sedikit menggoda Minrin, dan tentu saja Minrin langsung berdecak saat mendengarnya.

It’s so cheesy,” katanya.

“Aku serius,” tegas Ryeowook kemudian.  “Dan aku berharap kau benar-benar menjawabnya dengan serius waktu itu.” Minrin menoleh lagi. Dia masih merasakan sebuah benda yang melingkar di jarinya dan itu selalu mengingatkannya pada keputusan tak main-main yang diambilnya.

“Ayahmu pernah mengatakan padaku jika kita menikah dan aku tidak ingin kau bekerja di sini, maka kau harus menurutinya.”

Wae?”

“Karena saat itu aku sudah menjadi suamimu,” tegas Ryeowook lagi yang sesaat langsung membuat Minrin terhenyak diam. “Saat itu aku pasti langsung akan menyuruhmu kembali ke Korea.” Ryeowook melanjutkan. Ucapannya sangat serius bahkan untuk sesaat Minrin tidak tahu harus membalasnya seperti apa. Gadis itu hanya terdiam.

Keseriusan Ryeowook jelas berbanding terbalik dengan Minrin yang justru tengah dilanda kekhawatiran hingga saat ini.

“Ryeowook-ah,” panggilnya pelan.

“Hmm….”

Is it okay if we get married?” tanyanya langsung. Pertanyaan itu yang selalu dipikirkan Minrin dan sepertinya dia tidak bisa menunda untuk menanyakannya. .

Ryeowook menoleh lagi, agak terkejut sekaligus bingung. “Kenapa kau menanyakan itu?”

“Aku memikirkan banyak hal selama ini. Tentangmu, karirmu dan bahkan fansmu. Kita pernah membicarakan ini di Jeju. Kau sendiri yang bilang bahwa sesuatu yang fatal bagi seorang idol adalah pernikahan dan wajib militer. Aku tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan sesuatu yang sudah kau capai selama ini.” Minrin menarik nafasnya pelan

Ryeowook diam dan sekilas Minrin melihat ekspresi tidak setuju pada wajah pria itu yang seketika itu langsung membuat Minrin ragu untuk melanjutkan ucapannya lagi.

“Aku yang memintamu untuk menikah bukan kau yang mendesakku untuk melakukannya. Apa kau pikir aku tidak memikirkan hal itu sebelum memutuskan melamarmu malam itu? Aku memikirkannya dengan sangat hati-hati, Minrin-ya.”

Minrin menghela nafasnya lemah. Sejujurnya dia juga yakin Ryeowook melakukannya dengan penuh pertimbangan, tapi tetap saja kekhawatiran itu selalu mengganggunya.

 “Bagaimana jika mereka tidak menyukainya dan justru membencimu?”

“Aku yakin akan ada yang seperti itu tapi tidak semuanya. Semua orang punya pendapat mereka masing-masing. Kita hanya perlu meyakinkan mereka saja.” Ryeowook tersenyum lagi.

“Kau mengatakannya seperti semua sangat mudah dilakukan.” Sekali lagi Minrin menghela nafasnya tapi tidak lagi berusaha mendebatnya. Di sampingnya Ryeowook masih tersenyum menanggapi ucapannya.

“Kalau begitu kenapa kau tidak mencoba berteman dengan mereka?” tanya Ryeowook tiba-tiba yang langsung membuat Minrin menoleh cepat ke arahnya. Dahinya mengernyit heran. “Seperti aku yang mencoba akrab dengan ayahmu,” katanya melanjutkan.

“Dengan fansmu?” dan Ryeowook mengangguk.

 Minrin tidak menjawab dan hanya diam berpikir setelah itu. Dia menyenderkan punggungnya lalu menatap ke atas, ke arah langit yang hari ini sangat cerah.

“Terdengar mudah tapi aku tidak yakin. Beberapa diantara mereka mungkin akan semakin membenciku,” gumamnya kemudian.

Dia masih menatap ke atas, sedangkan Ryeowook diam-diam memperhatikannya dari samping lalu pria itu tersenyum sendiri.

“Apa kau menyukaiku?” tanyanya tiba-tiba untuk kedua kalinya hingga membuat Minrin terpaksa menghentikkan kegiatannya menikmati langit. Gadis itu menoleh lagi.

“Kau ini bicara apa ha? Setelah hampir empat tahun, apa menurutmu pertanyaan itu masih perlu ditanyakan?” tanya Minrin mengernyit heran.

“Jawab saja. Apa kau menyukaiku?” desak Ryeowook membuat Minrin hampir menjerit frustasi karena menurutnya pertanyaan itu  sia-sia. Bukankah Ryeowook sudah tahu jawabannya?

Tatapan Ryeowook menuntut dan Minrin akhirnya memilih untuk mengalah. Dia menghela nafasnya pelan lalu mengangguk dengan canggung. “Berh….” belum sempat Minrin mengucapkan sesuatu Ryeowook sudah mendekatkan kepalanya dan mengecup bibirnya.

Minrin terkejut sesaat tapi memilih diam. Dia pun menatap Ryeowook yang kini tersenyum padanya.

“Aku mohon, jangan terlalu memikirkan hal yang akan membuatmu menyerah terhadapku. Bukan kau sendiri yang akan menghadapinya tapi kita yang akan menghadapinya bersama,” ujarnya.

Minrin masih diam. Gadis itu tidak bisa berkata apapun dan hanya tersenyum kecil setelahnya. Menghadapi semuanya bersama-sama. Kata-kata itu seperti menumbuhkan kepercayaan diri yang sempat terkubur dalam diri Minrin. Ryeowook sedang meyakinkannya untuk tetap bertahan. Pria itu tengah menatapnya dengan sangat yakin, jadi mana bisa Minrin tetap dalam kekhawatirannya?

Jika dengan bersama-sama mungkin bisa mereka lewati.

“Aku sedang mencobanya. Orang tua kita sudah bertemu, tanggal pertunangan sudah di tetapkan. Dan kurasa memang sulit untuk berhenti,” Minrin menyunggingkan senyumnya. Matanya menatap lurus ke arah Ryeowook.

“Aku ingin menikah sebelum menjalani wajib militer,” Ryeowook bergumam kecil setelah itu.

“Tsk… tanpa kau beri tahu pun, aku sudah tahu. Sebenarnya kenapa kau sangat ingin segera menikah denganku?”

“Apa aku harus menjawab pertanyaan itu? Kau juga sudah tahu jawabannya.”

“Jawab saja! kau tadi juga memaksaku untuk menjawab.”

Ryeowook menoleh lalu tersenyum. Tangannya terulur mengacak puncak kepala Minrin lalu menatapnya penuh-penuh.

“Aku tidak tahu, apa karena selama 4 tahun ini aku selalu melihatmu sampai-sampai tidak ada yang membuatku menarik seperti kau melakukannya?”

Tsk…Jangan merayuku!”

Ryeowook tersenyum lagi. Pria itu terlalu banyak tersenyum hari ini dan membuat Minrin tidak tahan melihatnya.

“Karena aku menyukaimu,” jawabnya kemudian.

Jalan di depan itu tidak akan dilaluinya sendirian, karena ada orang lain yang bersedia berjalan bersamanya. Saling membantu, bahu membahu untuk tetap berdiri berdampingan dan menghadapi semua yang terjadi bersama-sama. Mungkin seperti itulah pernikahan.

***

CUT

Another Ryeomin story. Seharusnya dari kemarin kemarin dipublisnya tapi yah…ada banyak alasan sampai akhirnya baru bisa aku publis. Banyak typo terutama kalimat bahasa inggrinys, mohon dimaklumi. hehe… 
Who’s waiting Secret Guard? I’m working on it now and another ff…maybe oneshoot, special for Ryeowook birthday ^^ 

See you then 🙂

Advertisements

11 thoughts on “(Ryeomin Story) Let’s Be Together

  1. so sweet eonni ceritanya, XD nggak bisa ngebayangin nantinya kalau Ryeowook bener bener mau nikah :’). Okkeeeh.. ditunggu eonnie secret guard dan yang lainnya.. Fighting (Y) [8 stories 8 love 8 heart nya juga ditunggu ]

  2. Sweet ceritanya tapi berasa flashback ke umin dan saeun.
    Iya mungkin fans akan marah tapi entah knpa aku bahkan sama sekali ga marah pas umin nikah.
    Ahh aku bahkan pengen ryeowook cpetcepet nikah wkwk*seketika di bantai ryeosomnia XD
    Aku tggu ya ff secret guard nya ,ff yg laun juga 🙂 semangaaaat

  3. Hai aku readers bru dsni…aku smpet bca ff mu yg lain,maaf bru koment dsni 🙂
    Bsa kebetulan bnget ya ryeowook ke new york bneran wktu itu…
    Apa jngan”???#ahlupakan
    Tpi kepikiran jga,gmna ya klo sie abang ini nikah bneran??
    Kan aku pengen nya yg tua”dlu yg nikah*emankryeowookmuda

  4. Wahh, kalau seandainya Ryeowook benar-benar menikah.., harus siapin mental nih 🙂
    Tapi tenang, aku setuju kok kalau oppa menikah, Sebagai fans tentunya aku juga ikut bahagia lihat Ryeowook bahagia. Ya, aku harap semua fans Ryeowook kyak gitu.. meskipun rasanya gk mungkin..
    .
    Secret Guard, aku selalu nunggu kelanjutannya 🙂
    Semangat ^^

  5. Demi apapun aku baca ini menjadi sebuah alarm jika oppadeul gak selamanya sendiri. Asli eonn, aku mikirin ini… Ya meskipun nanti mereka akan menjalani hubungan backstreet seperti yg eonni tuangkan di ff ini. atau memang Sudah ?? Haish molla. Ya aku berdo’a yg terbaik untuk oppadeul. Dan suatu saat nanti kami para fans akan diberi kejutan yg luar biasa.
    Kenapa jadi curcol gini ?? Hehehe. Mian eonni 🙂

    Oke aku mau comment untuk RyeoMin story aja deh biar pusing. hehehe…
    Minrin bener” mikirin perasaan fans dan juga karir wookie sampai” dia aja bimbanh dengan perasaannya. Entahlah eonn, disini aku merasa jika minrin bimbang dgn perasaannya. *just opinion* 😉
    Oke deh eonn, keep writing and fighting 🙂

    1. yes… itu juga yang akhir-akhir ini aku pikirin. t.t
      apapun itu selama mereka bahagia, semoga fans juga ikut bahagia. 🙂
      terimakasih sudah baca, maaf tidak bisa balas komen kamu satu-satu hehe ^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s