(FF Series) Secret Guard Part 6

secret guard 6

Title : Secret Guard Part 6 | Author  : Whin (@elizeminrin) | Cast : Shin Minrin, Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Shin Ranran, Han Sungyoung | Genre : Action, Romance, Revenge | Length : Chapter (6473 words)  | Rating: PG 15 | Disclaimer: This story is just Fan fiction, Super Junior members is not mine. I just have the story plot and artwork. Please, don’t copy paste it. Inspired by a movie called Abduction.

***

Rumah yang dibangun di pinggiran kota Gangnam itu terlihat mencolok di bandingkan yang lain. Halaman yang luas, serta jendela yang sebagian besar terbuat dari kaca anti peluru membuat kesan mewah pemiliknya. Pria pemilik bangunan itu adalah Kim Donggun. Benar, dia adalah pimpinan I.L. Tapi bukan sosok Kim Donggun yang dingin yang menjadi target pencarian NIS yang dikenal orang-orang disekitar bangunan itu. Melainkan seorang pengusaha sukses yang punya perusahaan di China. Dia jarang terlihat berada di rumah. Baru beberapa bulan terakhir Kim Donggun kembali mendiami rumah mewah itu.

“Kita akan menemukannya,” ucap seorang pria berpenampilan rapi itu. Kim Donggun, pimpinan dan satu-satunya orang yang dihormati di kalangan I.L. senyum pria 50 tahun itu terlihat menyerangi, merasa sangat yakin bahwa semua ada dalam kendalinya termasuk gadis bernama Shin Minrin.

“Apa adikku mengatakan sesuatu sebelum pergi tadi?” nada suaranya penuh kemenangan. Dia meletakkan cangkir kopinya dan menoleh pada salah satu bawahannya. Pria bertopi dengan bekas sayatan di pipinya lantas mengangguk membenarkan.

“Jam 8 malam di Midnight club. Itu yang tadi dia katakan.”

Kim Donggun sekali lagi tersenyum. Senyum penuh kemenangan. Semua memang ada dalam kendalinya.

“Kau pergilah ke sana. Urus saja seperti biasanya. Dan juga….” Pria itu menggantungkan kalimatnya sebentar, tersenyum lagi dan menatap pria yang sudah lama menjadi kaki tangannya itu. “Hubungi Kang Jisuk, katakan saja bahwa kita menerima kerjasama pembangunan Research center di  Hokaido kalau dia menerima tawaranku waktu itu.”

Pria bertopi itu mengangguk lagi, membungkuk singkat dan segera berlalu. Sementara itu Kim Donggun kembali tersenyum menikmati sebuah kemenangan yang hampir digenggamnya. Dia menghisap kembali Cerutu besarnya, menikmati sensasi saat bau tembakau memenuhi rongga paru-parunya lalu kepulan asap yang keluar dari mulutnya menjadi pertanda bahwa dia baru saja menanamkan racun di dalam tubuhnya sendiri. Dia toh tidak peduli. Satu hal yang terpenting adalah sebentar lagi…yah dia hanya perlu menunggu sebentar lagi untuk menikmati kemenangan yang sesungguhnya.

***

Midnight club masih ramai bahkan suasana di lantai satu club itu bertambah ramai dengan sorak-sorak dan teriakan sekumpulan orang yang mengelilingi meja itu. Semua seakan hanyut dalam kesenangan sesaat itu kecuali pria yang berdiri agak jauh dari mereka. Kedua matanya mengawasi dengan waspada. Sejak awal Ryeowook sudah ceriga. Jelas ada yang mencurigakan dan Ryeowook sangat yakin dengan kecurigaannya itu. Kedua matanya masih mengawasi pria tadi yang kini sudah keluar dari ruangan atas. Ryeowook bersender di dinding itu dan tetap diam. Sedangkan pria tadi duduk di kursi kosong tidak terlalu jauh dari meja Minrin serta teman-temannya tengah berkumpul. Pria itu seperti tengah mencari seseorang. Tidak salah lagi, orang itu pastilah salah satu bawahan Kim Donggun.

Pria lain dengan mantel hitam yang membalut tubuhnya serta topi yang menutup sebagian wajahnya terlihat keluar dari pintu yang sama dengan pria tadi. Ryeowook menyipitkan matanya sebentar lalu buru-buru menunduk dan berbalik, berpura-pura bermain dengan ponselnya ketika pria lain itu berlalu di dekatnya. Pria kedua yang bertopi itu lantas menghampiri pria pertama tadi. Keduanya terlibat pembicaraan yang sangat serius. Dan satu-satunya yang semakin meyakinkan Ryeowook bahwa dua orang itu adalah bagian dari I.L adalah bekas sayatan pisau di wajah pria bertopi itu. Pria itu jelas-jelas pria yang dulu hampir membunuh Minrin. Ryeowook tidak mungkin melupakan wajah pria itu.

Cukup lama Ryeowook memperhatikan keduanya. Entah apa yang keduanya rencanakan. Mungkin saja dia ingin mencelakai Minrin di tempat ini atau mungkin saja dia hanya ingin mengawasi seperti biasa yang Kim Donggun lakukan.

Suara teriakan-teriakan dari arah meja depan yang akhirnya membuat Ryeowook sedikit mengalihkan perhatiannya. Lalu entah apa yang terjadi karena tiba-tiba saja Minrin berjalan menghampirinya. Ryeowook terdiam dengan perhatiannya teralihkan oleh gadis itu yang kini jaraknya semakin dekat padanya. Kedua pria tadi yang masih di tempat semula juga ikut mengalihkan perhatiannya pada Minrin.

Ryeowook benar-benar teralihkan fokusnya dari dua pria tadi, saat wangi coklat manis merasuki indra penciumannya. Parfum yang dipakai Minrin dan sejak tadi berhasil membuat Ryeowook candu untuk menghirupnya lagi. Tepat di depan Ryeowook, gadis itu tiba-tiba sudah mengalungkan lengannya di leher Ryeowook. Lalu yang membuat Ryeowook semakin terkejut adalah saat gadis itu tanpa mengucapkan apapun langsung mencium bibirnya.  Ryeowook seketika itu diam, tubuhnya menegang dan fokusnya benar-benar pecah. Dia hanya sempat melihat salah seorang pria itu melihat ke arahnya seakan menemukan sesuatu yang sudah dicarinya sejak lama. Tepat saat itulah Ryeowook menarik tubuh Minrin lebih dekat dan sedikit memiringkan kepalanya untuk sedikit memperdalam ciuman itu, membuat wajah keduanya seakan tidak ada jarak sedikitpun.

Ryeowook bisa merasakan keterkejuatan dari Minrin yang tiba-tiba menjadi tegang. Dia bahkan merasakan detak jantung gadis itu yang sangat cepat, tapi sedikitpun Ryeowook tidak melepaskannya.

Kedua pria tadi yang semula merasa yakin bahwa obyek yang dilihatnya adalah orang yang sejak tadi dicarinya menghentikkan langkahnya. Pria bertopi dengan bekas sayatan pisau langsung mencegah rekannya yang sedikit penasaran dengan gadis yang kini tengah berciuman itu. Wajah gadis itu tidak terlihat dan apa yang tengah dilakukannya itu berhasil membuat kedua pria itu berhenti mencurigainya. Mereka berdua berbicara sesuatu sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

Ryeowook segera melepaskan ciuman itu begitu melihat kedua pria itu tidak lagi berada di sana. Pria itu bersikap sangat biasa, kelewat biasa, dia bahkan tidak terlalu memperdulikan Minrin yang masih berdiri di depannya dengan ekspresi shock. Ryeowook baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya, saat melihat Minrin menatapnya dengan kedua bola mata coklatnya yang membulat. Dan detik itu jugalah, suasana diantara mereka berdua berubah menjadi sangat canggung.

***

Kim Jongwoon serta Han Sungyoung sudah duduk manis di depan meja makan, saat Minrin menghampiri keduanya. Tanpa bicara gadis paling muda di rumah itu menarik kursinya lalu duduk dengan diam bersiap untuk menikmati sarapannya. Roti panggang dengan selai kacang serta susu menjadi fokus satu-satunya. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun saat penghuni lain di rumah ini ikut bergabung.

Kim Ryeowook, pria itu tanpa bicara juga langsung duduk di kursinya. Mengambil secangkir kopi yang selalu dipersiapkan Sungyoung dan menikmatinya dalam diam. Jongwoon dan Sungyoung yang melihat keduanya hanya saling pandang sebentar. Jongwoon berdehem sebentar, meletakkan koran paginya dan ikut menyruput kopi miliknya.

“Jangan lupa ada pertemuan siang ini bersama agen lainnya.” Jongwoon membuka percakapan.

“Aku tahu,” jawab Ryeowook seperlunya. Pria itu kini terlihat menikmati rotinya dalam diam.

“Kalau begitu kalian berdua pergilah bersama, aku ada urusan sebentar pagi ini. Lagipula pamanmu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu pada Minrin.”

Kali ini giliran Minrin yang bereaksi. Meskipun gadis itu hanya mendongak sebentar, menatap Jongwoon lalu kembali memfokuskan diri pada isi piringnya.

“Hari ini aku pergi bersama Kyuhyun saja. Bukankah Kyuhyun juga harus menghadiri pertemuan itu? Dengan begitu Ryeowook-ssi tidak perlu susah payah mengantarku,” ujarnya pelan. Sangat pelan untuk ukuran Minrin yang biasanya akan berteriak tidak terima saat Ryeowook diharuskan mengantar-jemput dirinya. Sikap gadis itu bahkan mendadak jadi pendiam.

Ryeowook melirik sekilas pada gadis itu. Mata gadis itu berusaha menghindar darinya. Tangannya bahkan terlihat sangat canggung dan aneh saat mengoleskan selai di atas rotinya tadi. Suasana canggung seperti ini sudah terjadi sejak semalam. Bahkan sejak keduanya pulang dari pesta, Minrin langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan apapun.

“Kalau begitu, aku permisi dulu.” Ryeowook menyela setelah menyelesaikan sarapannya, setelah itu dia sendiri berrlalu pergi, menyisakan Jongwoon serta Sungyoung yang kembali saling pandang.

“Kyuhyun akan menjemputku. Jadi, aku juga permisi,” ucap Minrin ikut mendahului setelah menyelesaikan gigitan terakhirya.

Jongwoon mengernyit sebentar. Memperhatikan punggung Minrin dengan penuh tanya. Ada apa dengan dua orang itu? Pikirnya. Tidak biasanya Minrin banyak diam. Dan meskipun Ryeowook biasanya juga tidak banyak bicara, tapi dia terlihat sekali menghindar bertegur sapa dengan Minrin.

“Kau tidak melihat ada yang aneh dengan mereka?” Sungyoung angkat bicara. Wanita itu ikut menggeleng pelan.

“Ya..mereka hanya sedikit diam pagi ini. Apa terjadi sesuatu semalam saat mereka pergi?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku melihatnya sudah seperti itu sejak mereka pulang.” Sungyoung kembali menggeleng.

“Sudahlah, biarkan saja. Kalau begitu aku juga pergi.” Jongwoon bersiap. Pria itu berdiri diikuti Sungyoung yang juga melakukan hal serupa.

“Jangan lupa jam 8 malam ini. Jangan terlambat. Kau sudah sangat bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan Presdir G.J group itu selama ini,” ucap Sungyoung mengingatkan. Wanita itu sudah berdiri di depan suaminya, merapikan dasi dan juga jasnya.

“Aku tahu. Entah kenapa aku mencurigai kedekatan presdir Kang Jisuk itu dengan Kim Donggun. Bagaimana bisa G.J group membatalkan kerjasamanya secara sepihak dan menggandeng perusahaan asal China yang aku ketahui dipimpin oleh Kim Donggun.”

“Ya, itu memang sedikit menyebalkan. Tapi dengan begitu kau bisa selangkah lebih dekat untuk menangkap Kim Donggun.” Jongwoon tersenyum mengangguk sesaat sebelum mendaratkan ciumannya di bibir wanita itu lalu berlalu pergi.

***

“Kenapa kau menyuruhku mengantarmu? Biasanya kau selalu bersama Ryeowook hyung,” tanya Kyuhyun saat mobil yang dikendarainya baru saja keluar dari halaman rumah Jongwoon. Dia melirik pelan pada Minrin yang duduk diam di sampingnya.

“Sejak kapan kau memanggilnya hyung? Tsk…” Minrin menghentikkan aktivitasnya mengecek ponsel dan memasukkannya lagi ke dalam tas.

“Sejak aku mengenalnya. Tidak ada alasan untukmu protes, kan?” Kyuhyun mendecak, membuat Minrin mendengus kesal.

Ya Tuhan ada apa dengan Minrin? Entah kenapa setiap kali gadis itu mendengar nama Ryeowook selalu membuatnya kesal. Setiap harinya sudah membuatnya kesal dan dia bertambah kesal karena kejadian memalukan semalam.

“Mulai sekarang kau yang bertugas mengantar jemputku. Aku tidak mau dia melakukannya lagi,” ucap Minrin kemudian yang tentu saja membuat Kyuhyun menoleh bingung.

“Kenapa?” Kyuhyun menghentikkan pertanyaan lalu melirik ke arah Minrin. Sedetik kemudian dia sudah menahan tawa. “Ah…aku tahu. apa ini ada hubungannya dengan pesta semalam? Sepertinya Heekyung mengatakan sesuatu tadi….”

Belum sempat Kyuhyun melanjutkan ucapannya, Minrin menoleh cepat dan menatap Kyuhyun horor. “ Apa yang dia katakan?”

“Permainan konyol yang luar biasa. Entahlah… dia langsung offline tapi sepertinya mereka membicarakanmu.” Kyuhyun menoleh sebentar. “Apa terjadi sesuatu diantara kalian? Kau dan Ryeowook hyung….”

“Apa? Tidak…tidak terjadi apa-apa,” ucap Minrin buru-buru.

“Lalu kenapa?”

Aissh, sudahlah jika kau tidak mau biar Jongwoon oppa saja.”

Yaa, mana bisa kau meminta Jongwoon hyung untuk mengantar jemputmu setiap kali kau pergi? Kau pikir dia tidak punya pekerjaan yang penting?”

“Lalu aku harus bagaimana, ha?” Minrin menoleh dengan tatapan putus asa. “Ini benar-benar memalukan…,” lanjutnya dengan nada lirih yang untungnya hanya samar-samar didengar Kyuhyun.

“Aku bukannya menolak tapi saat ini aku masih khawatir orang-orang itu kembali mencoba mencelakai Ranran,” balas Kyuhyun yang kembali mendapat tolehan kepala dari Minrin.

“Kau sudah memberitahunya tentang orang-orang itu?”

Kyuhyun menggeleng pelan. “Belum. Meskipun aku tahu dia sudah curiga.”

“Cepat atau lambat dia harus tahu. Aku tahu rasanya menjadi orang yang tidak tahu apa-apa tentang orangtuaku dan sahabatku sendiri. Lebih cepat kau menceritakan siapa kau yang sebenarnya lebih baik. Aku rasa dia akan lebih bisa menjaga diri setelah itu. Menjadi kekasih agen rahasia NIS, entah bagaimana reaksinya nanti tapi dia memang harus tahu.”

Kyuhyun menoleh sebentar sedikit tercengang saat melihat wajah serius Minrin. Beberapa saat yang lalu gadis itu terlihat uring-uringan seperti biasanya karena masalah Ryeowook dan hey, dia sedang memberi nasehat pada Kyuhyun.

“Ini pertama kalinya kau bicara normal. Biasanya kau selalu berteriak tidak terima karena Ryeowook hyung yang berada di sekitarmu.”

Hanya sekian detik pujian Kyuhyun dilontarkan, Minrin sudah mendelik kesal kearahnya. “Jangan menyebut namanya lagi!”

“Astaga, sebenarnya ada apa denganmu ha?”

“Pokoknya jangan membicarakan orang itu!” tegas Minrin. Disampingnya Kyuhyun terkekeh hampir menertawakan sikap sahabatnya itu.

***

National Intelegence Security

10.00 KST

Suara tembakan terdengar keras seiring meluncurnya peluru yang mengenai obyek sasaran. Sekali lagi Ryeowook menarik pelatuk pistolnya begitu mendapatkan titik sasaran kedua dan suara tembakan kembali menggema di ruangan berlapis kaca anti peluru yang kedap suara itu. Tidak berhenti sampai disitu, Ryeowook bahkan kembali melakukan hal serupa. Paling tidak lima kali tembakan sudah dilancarkannya.

Tepat setelah peluru kelima menembus bagian tengah obyek sasaran, dia menurunkan tangannya. Suara tepuk tangan Kim Ilsung berhasil menginterupsinya dan mengurungkan niatnya untuk melancarkan tembakan keenamnya.

“Masih sama seperti yang dulu,” puji pria itu. Ryeowook menoleh, melepas kacamata dan juga penutup telinganya begitu melihat Kim Ilsung berjalan menghampirinya. “Tidak ada yang berubah meski kau jarang berlatih sejak kembali,” lanjut Kim Ilsung yang hanya ditanggapi senyuman singkat oleh Ryeowook.

“Ada yang ingin Paman bicarakan? Katakan saja atau kita bisa mencari tempat yang lebih nyaman untuk bicara,” ucap Ryeowook menebak yang langsung membuat Kim Ilsung tertawa pelan. Ryeowook selalu bisa menebak jalan pikirannya. Ya..karena tentu saja tidak ada alasan yang cukup masuk akal seorang Kim Ilsung mengganggu latihan Ryeowook jika bukan untuk bertemu dengannya. 

“Kau benar-benar tidak berubah. Baiklah, ini tentang gadis itu,” Kim Ilsung memulai.

Ryeowook mengeluarkan peluru sisa dari pistolnya dan mengembalikan ke tempat semula, sementara fokusnya sedikitpun tidak teralihkan dari pembicaraan Kim Ilsung padanya.

“Ada apa dengannya?”

“Apa dia baik-baik saja?” Pertanyaan tak terduga dari Kim Ilsung itu mau tidak mau membuat Ryeowook menghentikkan gerakan tangannya.

Ryeowook diam sebentar dengan kedua alis bertaut bingung sebelum akhirnya kembali bersikap normal. Dia pun tersenyum sambil mengangguk. “Ya, dia baik-baik saja.Hanya saja semalam ada dua orang yang sengaja mengawasinya. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa berada di sana padahal tempat itu tidak dibuka untuk umum saat itu.”

Kim Ilsung tersenyum tipis, “Benarkah?” ekspresinya berubah sedikit tegang. Entahlah, tapi Ryeowook merasa ada yang aneh dengan paman non biologisnya itu.

“Kurasa seseorang sengaja membiarkannya masuk, karena terlalu aneh kalau mereka tiba-tiba berada di sana tanpa bantuan dari orang lain.” Ryeowook berucap sebelum kembali menuntaskan memberesi peralatan menembaknya.

“Dia beruntung karena kau ada di sana.” Kim Ilsung membalas dengan senyum kebanggaan seperti biasanya yang menghiasi raut wajahnya. Pria itu menepuk pundak Ryeowook beberapa kali.

Ya..beruntung Ryeowook berada di sana. Meskipun dia sendiri menolak mengatakan itu sebuah keberuntungan, karena nyatanya situasi malam tadi justru membawa hal lain untuknya. Sesuatu yang Ryeowook takutkan akan terjadi sejak awal menerima tawaran pekerjaan ini. Jatuh cinta pada gadis itu.

“Hari ini akan ada pertemuan dan aku sangat ingin menanyakan beberapa hal pada Minrin. Ini soal data itu. Sampai sekarang Shin Taewoo tidak diketahui keberadaannya, dan kita tidak bisa berdiam diri seperti ini. Kita benar-benar harus menemukan data itu,” ucap Kim Ilsung setelah itu.

“Aku tahu itu paman. Tapi kurasa bertanya pada gadis itu tidak akan ada gunanya,” gumam Ryeowook setelahnya. “Minrin tidak pernah tahu apa-apa soal I.L apalagi data itu. Jadi, kurasa sia-sia saja paman mengundangnya menghadiri pertemuan itu.” Dia melanjutkan sembari mengambil jaket hitamnya yang tersampir di samping tasnya.

“Aku hanya penasaran, mungkin Han Eonji meninggalkan sesuatu pada gadis itu terkait data itu.” 

Ryeowook menoleh begitu selesai mengenakan jaketnya. Pria itu menatap Kim Ilsung. “Kenapa paman sangat ingin menemukan data itu?” tanyanya kemudian.

“Apa maksdmu? tentu saja untuk menangkap Kim Donggun.” Kim Ilsung menjawab kurang suka yang justru membuat Ryeowook terus menatap ke arah matanya. 

Itu alasan yang sejak dulu diutarakan Ryeowook. Itu juga yang terus diucapkan Jongwoon serta Kyuhyun atau anggota tim 1315 lainnya. Tapi bukankah saat ini NIS bisa saja langsung menangkap Kim Donggun dan anak buahnya mengingat orang-orang itu memang menjadi musuh negara sejak dulu? Ya…meskipun data kejahatan mereka memang diperlukan sebagai bukti menyeret mereka ke pengadilan. Tapi menurutnya Kim Ilsung terlalu lamban menangangi masalah ini. Sudah bertahun-tahun pamannya itu mencari Kim Donggun dan pria itu tengah ada di Korea sekarang, bersembunyi. Dan apa yang dilakukan NIS? Membiarkan Kim Donggun tetap berkeliaran dan memberinya kesempatan untuk melenyapkan data-data penting itu.

“Karena kurasa kita membuang waktu dengan tidak menangkapnya sekarang. Dia bisa saja langsung ditangkap, benar kan? Meskipun pengadilan tidak akan langsung memprosesnya kecuali kita menemukan bukti kejahatannya yang hanya bisa kita temukan jika kita menemukan Shin Taewoo. Tapi ini benar-benar membuang waktu, paman. Kita membiarkannya untuk bertarung merebut data itu dan bahkan membuat orang yang tidak ada kaitannya merasa ketakutan.”

Kim Ilsung terperanjat sebentar tapi kemudian berhasil menguasi dirinya. “Kepolisian dan kejaksaan tidak akan membantu kita menangkap Kim Donggun tanpa pada laporan serta bukti kejahatan.”

Ryeowook menghela nafasnya kemudian. “Sejak kapan kita butuh polisi dan Jaksa? Kita bisa melakukannya sendiri.”

“Ryeowook-ah.” Kim Ilsung memotong cepat. Nada suara Ryeowook yang berubah emosi memaksa Kim Ilsung menyuruhnya menghentikkan ucapan itu. “Aku tahu kau sangat ingin membalas dendam padanya. Tapi kita tidak bisa gegabah, kau mengerti kan? Ini mengenai apa yang telah mengubah negara, kita tidak bisa berbuat seenaknya.”

Ryeowook menatap pria itu sesaat sebelum Kim Ilsung menepuk pundaknya dan berbalik hendak pergi.

***

Pertemuan tim 1315 atau apalah itu, Minrin tidak mengerti. Sejak awal pikirannya sudah tidak fokus. Dia bahkan tidak tahu apa yang sekarang Kim Ilsung sedang bicarakan. Dan alasan yang membuat pikirannya tidak fokus adalah pria yang duduk paling ujung di seberang meja itu. Tentu saja Kim Ryeowook. Siapa lagi orang yang membuat hidup Minrin terasa berjungkir balik kalau bukan pria itu.

Mengucapkan nama itu saja membuat Minrin kembali kesal. Ini bukan hanya tentang sikap pria itu yang selalu dingin dan menyebalkan tapi juga tentang bagaimana Minrin akan bersikap di depannya setelah apa yang terjadi. Ya, tentu saja ini tentang ciuman itu. Ya Tuhan, Minrin pasti sudah gila karena sejak tadi terus menerus mengingat ciuman tak terduga itu. Dan bukankah seharusnya dia marah? Siapa yang mengijinkan pria itu membalas ciumannya?

Bukannya melupakan tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Cara pria itu membalas ciumannya, setiap inchi kulit mereka bersentuhan, jika Minrin teringat itu semua selalu membuatnya merasa aneh. Seperti ada sesuatu yang menggelayar di dalam perutnya dan entah bagaimana jantung tiba-tiba berdetak tidak karuan dibandingkan biasanya.

Jantungnya kembali berdetak tak karuan saat tidak sengaja Minrin melirik ke arah Ryeowook yang duduk di depan kirinya. Seperti ada radar yang menghubungkan keduanya, karena tiba-tiba Ryeowook mendongakkan kepalanya, membuat kedua pasang mata itu saling bertemu.

“Minrin-ya, apa selama ini mendiang Han Eonji dan Shin Jaeseok tidak pernah menyinggung apapun tentang data rahasia?” sebuah suara berat yang akhirnya menyadarkan Minrin. Gadis itu terperanjat dengan kedua bola mata menatap tidak karuan karena merasa tidak siap dengan pertanyaan itu.

Ndee?” tanyanya dengan polos sampai-sampai Kyuhyun yang duduk di sampingnya mendecak sembari menggelengkan kepalanya. Semua orang di ruangan itu kini tengah menatapnya, termasuk Ryeowook.

“Apa orang tuamu tidak meninggalkan pesan apapun sebelumnya?” Kyuhyun mengulangi ucapan Kim Ilsung tadi yang tentu saja membuat Minrin menatap bingung ke arahnya.

“Pesan?” untungnya dia segera menguasai diri dan langsung mengerti dengan pembicaraan yang tengah dilakukan.  “Tidak. Ayah dan Ibuku tidak pernah menyinggung apapun sebelumnya. Aku juga baru tahu tentang data itu setelah mereka meninggal.” Gadis itu menarik nafasnya perlahan. Hampir saja dia bertingkah memalukan.

“Aku tidak tahu akan sesulit ini mencarinya. Karena kupikir Shin Taewoo berbagi info tentang keberadaan data itu pada Han Eonji dan Shin Jaeseok.”

Ryeowook menoleh ke arah pamannya dan mengernyit sebentar. “Jika dia melakukannya, bukankah sudah sejak lama mereka memberitahu kita? Kenapa paman baru mempertanyakan itu sekarang?” tanyanya.

Kim Ilsung terdiam sebentar. Wajahnya menegang lalu seulas senyum yang terkesan dipaksaka menghiasi ketegangan wajahnya itu. Tingkahnya yang mendadak menjadi aneh itu mau tidak mau menganggu Ryeowook. Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya.

“Karena kupikir mereka tidak ingin berbagi saat itu. Jadi aku bertanya pada Minrin. Baiklah, ada perkembangan baru?” tanyanya pada semua orang yang hadir di ruangan itu.

Semuanya diam pertanda bahwa tidak ada yang perlu mereka katakan lagi. Tapi tidak untuk Ryeowook yang masih saja belum melepaskan tatapannya pada Kim Ilsung.

“Bagaimana dengan orang-orang I.L yang tiba-tiba menyusup ke dalam pesta yang diadakan Minrin dan teman-temannya semalam?” sela Ryeowook kemudian sesaat sebelum Kim Ilsung berniat mengakhiri pertemuan itu. Sedikitpun Ryeowook tidak melepaskan tatapannya, sementara semua orang di ruangan itu tampak terkejut dengan pengakuan Ryeowook barusan.

Minrin bahkan sudah menoleh dengan pertanyaan yang tertahan di mulutnya. Jongwoon dan Kyuhyun serta tiga orang lainnya sama-sama memasang wajah terkejut.

“Benarkah? Kenapa hyung tidak mengatakan itu sebelumnya?” pertanyaan Kyuhyun mencairkan suasana tegang yang tercipta.

Ilsung kembali tersenyum. “Aku juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi tapi beruntung sekali kau ada di sana. Mungkin Jongwoon bisa menjelaskan sesuatu?”

Ryeowook beralih pada Jongwoon yang duduk di sampingnya. Pria yang lebih tua tiga tahun itu menghela nafasnya. “Seharusnya aku bertemu dengan Kang Jisuk sebelumnya. Kurasa dia berhubungan baik dengan Kim Donggun. Dan kudengar perusahaannya akan bekerja sama dengan Perusahaan milik Kim Donggun untuk proyek pembangunan Research Center di Hokkaido. Dan Midnight club sendiri adalah milik puteranya. Jika dugaanku benar, mungkin saja Kang Jisuk yang telah memberitahu Kim Donggun dan mengizinkan orang-orangnya masuk ke dalam pesta itu. Mereka berdua sudah lama bekerja sama dan kemungkinan besar Kang Jisuk membantunya. Kita sedikit kecolongan memang, karena Minrin mengatakan temannya menyewa tempat itu dan melarang orang lain selain yang diundang untuk masuk.”

Minrin menoleh seketika saat mendengar penjelasan Jongwoon itu. Midnight club adalah club milik Minhyuk. Jadi Minhyuk adalah anak Kang Jisuk? Pria yang tadi di sebut Jongwoon sebagai teman baik Kim Donggeun. Ya Tuhan….

***

“Kau melamun sejak tadi,” tegur Kyuhyun saat keduanya berjalan menuju parki basement. Minrin tidak menoleh. “Yaa, kau mendengarku?” sentak Kyuhyun sembari menarik lengan gadis itu karena merasa tidak diacuhkan sejak tadi.

“Apa? Kau mengatakan sesuatu?” tanya Minrin lagi-lagi dengan ekspresi tololnya itu.

Ya Tuhan, jika sekali lagi Kyuhyun melihat wajah memelas tak berkonsentrasi itu sekali lagi, jangan salahkan dia kalau Kyuhyun akan meninggalkannya di sini.

Tsk, lupakan saja. Sepertinya kau butuh istirahat,” gumam Kyuhyun tak jelas di telinga Minrin. Gadis itu kembali tidak fokus.

“Kyuhyun-ah, kau tentu tahu Midnight club adalah milik Kang Minhyuk bukan? Ayahnya adalah pria yang bernama Kang Jisuk itu.” Minrin menghentikkan langkah kakinya. Sejak tadi otaknya terus berpikir. Mungkinkah Minhyuk tahu?

Kyuhyun ikut berhenti dan menoleh ke arahnya. “Ya. Dan kau ingin bertanya apa pria yang kau sukai itu tahu tentang Kim Donggun?”

Minrin mengangguk. Ini sedikit membuatnya khawatir. Jika Minhyuk tahu tentang Kim Donggun, bukankah itu berarti Minrin harus menjahuinya?

“Aku tidak yakin. Jongwoon hyung bilang Kim Donggun berteman baik dengan Kang Jisuk, tapi itu tidak berarti Minhyuk juga mengenalnya. Mereka berdua berteman karena urusan bisnis. Jadi, kurasa Minhyuk bisa dipercaya. Lagipula jika Minhyuk memang tahu tentang Kim Donggun dan pria itu memanfaatkannya, sudah dari dulu Kim Donggun mendapatkanmu.” Kyuhyun menepuk pundak Minrin pelan lalu mengajaknya kembali berjalan menuju mobil mereka.

Tapi bukankah jika seperti ini Minrin harus menjaga jarak dengan Minhyuk? Jika Kim Donggun mengetahui bahwa dia berteman baik dengan Minhyuk, ada banyak kesempatan untuk Kim Donggun menangkapnya.

***

At a Restaurant

20.00 KST

“Lama tidak berjumpa, Presdir Kang.” Jongwoon berdiri menyambut pria berambut setengah putih itu dan mengulurkan tangannya.

“Ah..ne, Direktur Kim.” Kang Jisuk menyambut uluran jabat tangan itu lalu tersenyum.

Butuh waktu yang lama untuk Jongwoon bisa bertemu dengan pria itu. Dan akhirnya kesempatan ini datang. Tentu saja ini semua tidak hanya tentang bisnis. Seperti yang tadi dikatakannya di pertemuan NIS, bahwa dia mencurigai Presdir perusahaan G.J Group itu terlibat sesuatu dengan Kim Donggun. Lagipula terlalu aneh jika G.J group begitu saja mengalihkan proposal kerja sama pembangunan Research Center di Hokkaido pada perusahaan China milik Kim Donggun, padahal jelas Jongwoon serta perusahaan itu sudah menemukan titik temu untuk mendatangani kontrak kerjasama. Terlebih lagi dengan adanya kejadian Midnight club kemarin.

“Kudengar kau berulang kali menghubungi sekretarisku untuk mengatur pertemuan ini. Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?” Pria itu bersikap sangat ramah. Entah ini memang gayanya atau dia tengah berusaha menghindar pembicaraan tentang Research Center.

Jongwoon tersenyum. “Aku sudah pesan makanan. Bagaimana jika kita bicara setelah menikmati hidangannya?” tanyanya menawarkan.

Kang Jisuk menatap Jongwoon gundah tanpa ekspresi lalu tersenyum paksa. “Maafkan aku, itu akan sangat menyenangkan tapi kurasa aku tidak bisa berlama-lama,” ucapnya memberi penolakan secara halus.

Jongwoon yang sempat tidak menerima penolakan akhirnya juga tersenyum. “Ah…Presdir pasti sangat sibuk. Baiklah, kita langsung saja,” balasnya. Nada suaranya berubah serius.

Kuere…kuere itu lebih baik. Jadi ada apa? Apa kau akan menjalankan proyek baru? Dan kau ingin bekerja sama?”

Animida,” Jongwoon membalas cepat. Ekspresi Kang Jisuk berubah seketika. “Jangan salah paham, Presdir. Aku tidak mempermasalahkan kerjasama kita yang batal. Anda pasti kenal baik dengan Kim Donggun-ssi sampai akhirnya ingin bekerja sama dengannya.”

Kang Jisuk tidak langsung mengatakan apapun. Dia hanya menatap Jongwoon sebentar sebelum akhirnya tersenyum. Dia mungkin tidak tahu kalau Jongwoon adalah agen rahasia NIS.

“Kau benar, Jongwoon-ssi. Aku sudah lama mengenalnya bahkan sebelum dia membangun perusahaannya.”

“Benarkah? Kalian pasti berteman baik.”

“Aku benar-benar minta maaf mengenai pembatalan kontrak itu. Lain kali jika kau ingin bekerja sama dengan G.J group, aku pasti akan sangat mempertimbangkannya.” Kang Jisuk menjawab dengan nada bersalah. Jongwoon tersenyum lagi.

“Bisakah Presdir membantuku bertemu dengan Kim Donggeun? Dia sangat sibuk dan aku kesulitan untuk bertemu dengannya karena itu aku meminta bantuanmu. Mungkin jika teman lama yang menghubunginya, dia akan menjawabnya. Ada sebuah proyek besar yang sedang aku lakukan dan aku sangat ingin bekerja sama dengannya.”

Kang Jisuk kembali tidak langsung menjawab. Dia disudutkan. Seakan-akan Kim Jongwoon memberi serangan balik di depan setelah penolakannya bekerja sama dengan WHYSTYLE.

“Jongwoon-ssi….”

“Kesepakatan kita waktu itu adalah jika aku bekerja sama dengan G.J tentang Research Center itu, maka aku juga akan bekerja sama dengan Presdir di proyek terbaru WHYSTYLE. Tapi karena tidak sesuai kesepakatan awal, maka tidak salahnya aku bekerja sama dengan yang lain. Aku akan menganggap ini sebuah kebaikan dari Presdir.”

Lagi-lagi Kang Jisuk tidak langsung menjawab. Pria itu kembali hanya menatap Jongwoon berusaha menerka apa maksud sebenarnya dari pembicaraan ini. Jika ini tentang membalasnya karena mengingkari kesepakatan, mungkin memang tidak ada maksud lainnya selain mencari rekan kerja sama yang lebih baik. Bukankah seharusnya dia membantu?

Kuere, aku akan bicarakan itu dengannya,” jawabnya akhirnya. Dia melirik jam tangannya lalu pura-pura merasa bersalah. “Maafkan aku, Jongwoon-ssi aku harus pergi sekarang.”

Ye, gwaenchanaseyo. Terima kasih sudah memenuhi undanganku dan bersedia membantu.” Jongwoon ikut berdiri begitu Kang Jisuk juga berdiri. Keduanya bersalaman, sebelum kang Jisuk pergi.

Sementara itu Jongwoon yang masih berdiri di depan kursinya hanya menatap punggung laki-laki itu sambil tersenyum.

***

“Sampai jumpa.” Kyuhyun melambaikan tangannya begitu Minrin turun dari mobilnya. Pria itu masih sempat menurunkan kaca mobil dan tersenyum pada gadis itu.

“Kau yakin tidak ingin mampir? Sungyoung-ssi akan membuatkanmu secangkir teh kalau mau,” tawar Minrin lagi untuk kedua kalinya setelah tawaran pertama ditolak Kyuhyun.

“Lain kali saja. Aku harus menemui Ranran,” jawabnya yang langsung membuat Minrin mendecak mencibirnya. 

“Kalian pasti semakin dekat sekarang. Kuere, pergilah!”

Kyuhyun tersenyum lalu mengangguk. “Hmm…jalgara!” ucapnya sebelum menutup kembali kaca mobil itu dan melajukan mobilnya menjauh dari Minrin.

Gadis itu baru akan membuka gerbang rumah ketika suara derap kaki langkah yang menuju kearahnya mengurungkan niatnya. Lalu dia menyesal telah menoleh ke arah orang itu karena seharusnya Minrin tidak melakukannya dan membuatnya makin canggung. Kim Ryeowook berdiri beberapa langkah darinya dengan mengenakan  kemeja putih dan kardigan hitam. Di tangannya terdapat sekantong plastik belanjaan. Mungkin dia baru kembali dari supermaket di ujung jalan sana.

Ryeowook berhenti begitu Minrin menoleh ke arahnya. “Kau baru pulang?” tanyanya.

E..eoh…,” Minrin mengangguk.

Gadis itu mematung sebentar sebelum akhirnya Ryeowook berjalan mendekat ke arahnya. “Kenapa tidak masuk? Kajja, ini sudah malam,” ajaknya yang kembali membuat Minrin salah tingkah. Dia terperanjat sebentar sebelum membuka gerbang itu dan berjalan masuk.

Jantungnya mendadak berdetak cepat. Sepertinya ada yang salah dengannya. Minrin menghela nafasnya begitu berada di pintu masuk. Ruang tamu dan ruang tengah gelap. Mungkin Jongwoon belum pulang tapi tidak biasanya Minrin tidak melihat Sungyoung. Istri Kim Jongwoon itu biasanya sudah berada di rumah di jam 9 seperti sekarang ini.

“Mereka makan malam diluar,”ucap Ryeowook menjawab pertanyaan Minrin yang belum sempat dilontarkannya. “Kau sudah makan?”

Minrin menoleh kebelakang lalu menggeleng pelan. “Aku sudah menduganya.” Ryeowook pun berlalu di sampingnya dan berjalan menuju dapur.

Sementara Minrin yang ditinggalkan hanya bisa menggerutu. Gadis itu pun mengikutinya. “Yaa, Ryeowook-ssi!” seru Minrin. Entah sejak kapan dia tidak secanggung tadi pagi saat memanggil namanya.

***

Semua makanan menggugah selera itu terhidang di depan Minrin. Gadis itu bahkan tida percaya Ryeowook yang memasaknya. Pria itu terlihat aneh sekarang di mata Minrin.

“Kau memasak,” entah itu pertanyaan atau penyataan karena Minrin tidak jelas mengatakannya. Ryeowook yang duduk di depannya hanya menatapnya dalam diam. Ekspresinya tidak berubah. Masih sama seperti biasanya. Dingin dan kaku.

“Aku memasak agar bisa makan dan aku makan untuk hidup,” sahut Ryeowook dingin.

Heol….kau masih sama menyebalkannya seperti kemarin.”

“Bukankah biasanya juga seperti ini? Kau saja yang sedikit aneh sejak….”

Yaa…Yaa..Yaa!!” ucapan Ryeowook terpotong oleh teriakan Minrin. Gadis itu diam lalu menghela nafasnya kemudian menatap Ryeowook serius.

“Oke, kita harus membicarakan ini, Ryeowook-ssi,” tekannya kemudian. Dia tidak bisa bersikap seperti ini terus. “Kau tahu…malam itu ….sebenarnya aku hanya….”

Ryeowook yang semula memegang chopstick di tangannya langsung meletakkan kembali benda itu di atas meja. Dia beralih menatap Minrin dengan serius lagi. Mendapat tatapan itu justru membuat Minrin menghentikkan ucapannya. Sial. Kenapa dia harus menatapnya seperti itu?

“Aku tidak bermaksud melakukannya. Itu hanya bagian dari permainan saja. Kau tahu kan, yah….permainan yang sering anak muda lakukan. Kau pasti tahu,” Minrin melanjutkan masih dengan tatapan Ryeowook yang sangat intens ke arahnya. “Tapi saat itu kau….”Kata-kata Minin terhenti. Gadis itu menarik nafasnya diam-diam.

 “Aku menyelamatkanmu dua kali kalau begitu.” Ryeowook memotong kalimat lanjutan yang hendak diutarakan Minrin. Pria itu menyenderkan punggungnya di kursi. Sementara Minrin dibuat mengernyit dengan pernyataan itu.

“Pertama menyelamatkanmu dari teman-temanmu yang memberimu tantangan dan kedua menyelamatkanmu dari orang-orang I.L,” jelas Ryeowook kemudian.

“Jadi kau melakukannya karena orang-orang itu?” tanya Minrin tidak percaya. Dia ingat ucapan Ryeowook di pertemuan antar agen rahasia tadi siang. Ryeowook mengatakan sesuatu tentang seseorang yang menyusup ke pesta malam itu.

“Dan kau melakukannya karena teman-temanmu. Jadi masalah selesai. Kau tidak perlu memikirkannya lagi,” sahut Ryeowook cepat dan langsung mengambil kembali chopsticknya. Sementara Minrin dibuat kesal lagi.

Lihatlah sikapnya yang menyebalkan itu. Oh Ya Tuhan…kenapa harus pria menyebalkan itu yang mencuri ciuman pertamanya?

“Aku sama sekali tidak memikirkannya!” tekannya kesal.

Oh..atau sebenarnya dia memang memikirkannya. Minrin mendengus kesal lagi. Gadis itu lalu mengambil mangkuk nasinya dan mengambilnya banyak-banyak.

Waktu berjalan terlalu lama hingga mereka menyelesaikan makan malam itu dengan diam. Hampir pukul 10 dan belum ada tanda-tanda Jongwoon ataupun Sungyoung akan pulang. Dan Minrin mesti terjabak berdua dengan Ryeowook di rumah itu. Yang terpenting adalah mereka tidak lagi canggung seperti tadi pagi. Minrin kembali pada sikapnya yang selalu kesal pada Ryeowook dan pria itu kembali ada sikapnya yang selalu dingin dan tidak banyak bicara.

Mereka menghabiskan waktu di ruang tengah begitu Minrin selesai mencuci piring bekas makan malam. Sebenarnya dia bisa saja langsung masuk ke kamar dan menghindari terlibat pembicaraan dengan Ryeowook. Tapi entah apa yang membuat kakinya melangkah ke ruangan ini dimana Ryeowook tengah duduk dengan sebuah buku di tangannya.

Pria itu mendongak sebentar, terkejut dengan kehadiran Minrin. “Mwo?” tanyanya

Aniyo, keunyang….,” gumam Minrin pelan sebelum memutuskan duduk di sofa paling kiri ruang tamu itu. Dia megeluarkan ponselnya dan mulai bermain dengan benda mati itu.

Tidak sampai lima menit, dia mulai bosan. Detik berikutnya dia memperhatikan Ryeowook yang masih fokus dengan buka science di tangannya.

“Apa yang menarik dari buku seperti itu?” tanyanya kemudian membuka pertanyaan.

“Kurasa apa yang menarik menurutku tidak berlaku untukmu.” Ryeowook menjawab tegas mengisyaratkan tidak ingin diganggu. Bukannya menyadari, Minrin justru mendengusdengan kesal. Gadis itu menyilangkan tangannya di depan dada dan kembali memperhatikan Ryeowook.

“Kau memang benar-benar menyebalkan,” desisnya pelan lebih bicara pada dirinya sendiri.

Satu dua tiga detik berlalu dengan Minrin yang terus menerus membuat ekspresi kesal yang sayangnya di sadari Ryeowook. Pria itu lantas menghela nafasnya panjang, menutup buku sains di tangannya dengan keras dan melemparnya ke meja depannya. Kepalanya diputar ke samping.

Wae? Katakan apa yang ingin kau katakan,’ ucapnya setengah kesal karena sudah diganggu.

Minrin terperanjat dengan kedua bola mata mengerjap. “Oh Astaga..! aku hanya ingin duduk di sini. Mwo? Kau ingin membaca? Membaca saja! Jangan hiraukan aku!” serunya hampir berteriak.

Sedetik kemudian, Ryeowook kembali mengambil bukunya, beranjak dan berlalu pergi meninggalkan Minrin yang kembali memasang wajah kesal.

Tssk…! Dia benar-benar menyebalkan!” gerutunya.

***

Kau percaya bahwa sebenarnya tidak ada batas antara kebencian dan cinta? Dulu, Minrin tidak pernah percaya hal itu. Cerita itu hanya ada di drama dan novel. Lagipula kisah cinta orang-orang disekitarnya tidak ada yang seperti itu. Ranran menyukai Kyuhyun dan sahabatnya itu diam-diam juga demikian. Lalu mereka pacaran. Orangtuanya bertemu saat masih SMA dan keduanya diam-diam saling memendam rasa, hingga akhirnya mengikat diri dalam pernikahan. Atau Jongwoon dan Sungyoung dimana Jongwoon yang terang-terangan menunjukkan kesukaannya pada Sungyoung, mengejar gadis itu hingga akhirnya Sungyoung luluh dan menerima lamarannya.

Ya..kisah-kisah itu tidak satupun yang menceritakan keduanya saling benci dan berakhir cinta. Tapi sepertinya Minrin harus mulai mempercayainya. Kau benci melihatnya, mendengar namanya dan bahkan selalu dibuat kesal setiap bertemu tapi kau terkadang akan mencuri pandang ke arahnya, teringat padanya. Lalu kau akan sangat menyesal melakukannya, karena perlahan rasa cinta itu ternyata menyergapmu. Dan pada satu titik kau akan menyadari bahwa kau telah jatuh cinta pada orang menyebalkan itu.

Hari itu, hari ke sepuluh sejak Minrin bicara pada Ryeowook yang akhirnya membuat hubungan mereka tidak lagi secanggung sebelumnya. Sama sekali tidak ada yang berubah. Keduanya masih sering berdebat hal tidak penting dan Minrin lebih sering lagi merasa kesal karenanya. Satu-satunya yang berubah adalah bahwa Minrin semakin menyukai menghabiskan waktu dengan pria itu, meskipun itu berarti dia akan dibuat kesal lagi dan lagi. Rasanya menyenangkan bisa melihatnya duduk di depannya menikmati sarapan dan makan malam bersama-sama, atau saat dia duduk serius dengan buku di tangannya atau saat keduanya terjebak dalam satu mobil bersama-sama. Menggelikan memang tapi menyenangkan untuknya. 

Sampai akhirnya Minrin mengetahui sesuatu yang tidak pernah diketahui sebelumnya tentang seorang Kim Ryeowook. Tentang alasan yang memuatnya menjadi orang dingin seperti itu.

“Dia tidak ikut sarapan?” Minrin bertanya pagi itu saat dilihatnya hanya ada Jongwoon serta Sungyoung di meja makan. Pasangan suami istri itu mendongak menatap Minrin.

“Kim Ryeowook?” tanya Jongwoon memastikan dan Minrin mengangguk. “Hari ini peringatan kematian orang tuanya karena itu dia pulang ke Incheon,” jawabnya.

Tangan gadis itu sempat tidak bergerak ketika hendak mengambil roti, matanya menatap Jongwoon. “Benarkah?” tanyanya lagi.

Dia tahu Ryeowook tinggal sendiri di Korea tapi Minrin tidak pernah tahu jika orang tuanya sudah meninggal. Mungkin itulah yang menyebabkannya menjadi orang tertutup selama ini.

“Tidak pernah ada yang menceritakan ini padaku,” lanjutnya.

“Karena ini memang kisah lama, Minrin-ya. Dia tidak suka membicarakannya. Orang tuanya meninggal di tangan Kim Donggun dan kembalinya dia ke NIS tidak lepas dari misi balas dendamnya pada IL”

Minrin kembali memutar bola matanya ke samping, meyakinkah bahwa Jongwoon sedang serius sekarang. “Jadi itu alasannya bergabung di tim 1315?”

Jongwoon mengangguk lagi. Minrin mengerti sekarang. Ahh entah kenapa dia bisa merasakan perasaan Kim Ryeowook sekarang ini. Setidaknya Minrin tahu rasanya kehilangan orang tua yang dibunuh oleh organisasi I.L.

***

Rumah sederhana bercat putih dengan pagar coklat itu tidak berubah sedikitpun sejak Ryeowook meninggalkannya. Pohon besar di dekatnya membuatnya tidak terlihat dari luar, namun sama sekali tidak mengubah ingatan Ryeowook akan rumah itu.

Rumah itu adalah satu-satunya peninggalan orangtuanya. Meskipun mereka hanya dua tahun tinggal di sana tapi Ryeowook tidak pernah melupakan kenangan bersama kedua orangtuanya di sana. Ayunan yang terbuat dari kayu di samping rumah bahkan masih ada. Kayunya mungkin sudah sangat lapuk dan rantai penyangganya yang mulai berkarat. Sudah sangat lama Ryeowook tidak pernah berkunjung kemari lagi, setidaknya sejak dia meninggalkan Korea dan memilih tinggal di Amerika dua tahun yang lalu.

Dia ingat ayahnya yang membuat ayunan kayu itu. Dia juga ingat pernah bermain mata-mata dengan ayahnya dan mengubur harta karun di dekat pohon yang kini terlihat sangat rindang itu.

“Ryeowook-ah, kau percaya pada appa?”

Ryeowook kecil mengangguk bersemangat saat itu. Dia selalu percaya pada ayahnya. Baginya ayahnya lah yang terbaik. Lalu di dekat pohon yang kala itu tengah meranggas, keduanya menggali dan mengubur sebuah kota hitam. Ayahnya bilang harta karun.

“Harta ini sangat berharga, eoh? Jadi orang lain tidak boleh tahu, termasuk eomma, arrachi?”

Hmm, arraso!” angguknya mantap dan bertekad akan menjaga hartanya dan juga ayahnya yang telah dikubur itu.

Sore itu mereka tertawa dan bercanda di dekat pohon meranggas itu hingga ibunya datang memanggilnya untuk masuk. Ryeowook tidak pernah melupakan itu.

Dia tersenyum ketika bayangan masa lalu itu perlahan memudar. Ryeowook pun berjalan menuju pohon itu. Seingatnya dia tidak pernah menggali harta itu lagi sampai mereka pindah dan menetap di Amerika. Awalnya dia hanya penasaran, apa kotak itu masih ada di sana dan ajaib karena begitu Ryeowook menggalinya tidak sampai 50 cm, samar-sama dia melihat kotak hitam itu.

Tidak ada yang istimewa di dalamnya, karena Ryeowook ingat ayahnya hanya memasukkan secarik kertas dan juga sebuah pistol mainan milik Ryeowook. Tapi Ryeowook menemukan hal lain di dalamnya, sesuatu yang dia yakin tidak pernah dimasukkan ke sana. Dahinya mengernyit seketika begitu membuka kotak itu dan menemukan sebuah pena berwarna abu-abu dengan sebuah kertas yang melilit di badan pena.

“Kenapa dia harus mengubur benda macam ini?” gumamnya pelan.

Seperti menemukan potongan masa lalu yang menjadi kenangan tentang ayahnya. Pena itu adalah kesayangan ayahnya. Dia ingat ayahnya selalu membawa pena itu di saku jasnya.

***

Minrin menunggunya seharian itu. Entahlah apa yang ada dipikirannya. Otaknya sepertinya tengah kacau. Hingga malam beranjak dan belum ada tanda-tanda Ryeowook akan pulang, gadis itu mendadak cemas. Ini bukan kebiasaannya dan tentu saja dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Hampir lewat tengah malam ketika akhirnya terdengar suara mobil yang berhenti. Tidak lama kemudian Minrin melihat Ryeowook masuk. Pria itu berhenti sebentar karena terkejut begitu melihat Minrin.

“Oh…Ryeowook-ssi, kau sudah pulang?” sapa Minrin berpura-pura terkejut melihat Ryeowook. “Kupikir kau tidak akan pulang.”

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Ryeowook langsung tanpa berbosa-basi. Pria itu berjalan mendekat.

“Aku? Aku tidak bisa tidur. Yah….akhir-akhir ini aku sering kena insomnia, karena itu aku masih di sini,” jawab Minrin dibuat-buat.

Ryeowook diam sebentar mengamati ekspresi Minrin, tapi kemudian dia tidak tertarik menerka-nerka apakah gadis itu tengah berbohong atau tidak. Selebihnya dia memilih naik ke lantai dua. Dan tentu saja meninggalkan Minrin dengan tampang kesal yang kesekian kalinya.

Gadis itu masih ada di ruang tengah, menikmati segelas coklat panas. Sampai pada akhirnya Ryeowook kembali turun ke lantai satu. Pria itu sudah melepas mantel hitamnya sekarang dan hanya mengenakan kemerja berwarna abu-abu serta celana hitam. Minrin melirik ke arahnya yang sekarang ikut duduk di salah satu sofa.

Wae? Kau juga kena insomnia?” tanyanya terkejut.

Ryeowook menoleh lalu tetap diam. Minrin kembali mendengus kesal. Dia bertanya baik-baik dan tidak bisakah Ryeowook menjawabnya juga baik-baik?

Aigoo…apa kau selalu bersikap dingin seperti itu selama ini?” gumam Minrin lebih pada rasa penasaran. Ryeowook kembali menoleh sedetik kemudian dia tersenyum samar.

“Setelah kupikir kejadian akhir-akhir ini tidak mengubahmu,” ucapnya.

Minrin mengernyit, “Apa?”

“Kenyataan yang harus kau hadapi sama sekali tidak mengubahmu. Aku kenal seseorang yang langsung berubah begitu sutau hal terjadi yang mengubah hidupnya.”

Gadis itu menatapnya. Bukan..bukan seseorang yang dikenal Ryeowook yang sedang dibicarakannya. Seakan-akan dia memang sedang membicarakan dirinya.

“Benarkah? Aah…aku kasihan padanya. Kau tahu ini memang sangat berat dan juga melelahkan tapi aku tidak ingin larut dalam perasaan itu. Kyuhyun bilang aku adalah tipe orang yang senang menyembunyikan perasaan. Sampai sekarang dia mungkin masih khawatir jika sebenarnya aku menutupi rasa sedih dan luka yang ku dapat. Tapi aku benar-benar tidak berbohong sakarang.” Minrin menoleh lalu tersenyum.

“Kau membenci mereka? Kim Donggun dan anak buahnya…,” tanya Ryeowook.

“Akan sangat aneh jika aku tidak membencinya bukan? Mereka membunuh orangtuaku dan  membuatku menjadi orang yang sangat berbeda dibandingkan yang lainnya.”

“Aku juga membenci mereka,” ucap Ryeowook dingin yang penuh dengan rasa marah.

Minrin yang memperhatikannya hanya diam. Ryeowook pantas membenci Kim Donggun begitu juga dengannya.

Ryeowook menoleh lagi saat Minrin tidak menyadarinya. Pria itu diam-diam tersenyum. Shin Minrin mengingatkannya dengan Jihye. Entah kenapa mereka berdua terlihat punya banyak kemiripan di mata Ryeowook. Jihye juga gadis yang selalu dibuat kesal oleh Ryeowook karena sikap dinginnya. Tapi gadis itu perlahan mengubah Ryeowook menjadi sedikit manusiawi dengan tahu caranya tersenyum. Jihye juga sangat pandai menyembunyikan perasaan. Gadis itu juga lebih banyak tertawa dibalik rasa sedih dan juga lukanya persis seperti Minrin. Meskipun Ryeowook sendiri tidak pernah tahu jika Minrin pernah melakukannya, tapi sepertinya gadis itu mengatakan yang sebenarnya tadi.

“Ryeowook-ssi, kuharap temanmu itu bisa hidup dengan baik. Karena akan lebih melelahkan jika dia menyimpan sendiri rasa sedihnya.” Minrin menoleh dan menatap Ryeowook. Gadis itu lantas tersenyum.

Dia pernah berbagi rasa sedih dan luka itu pada orang lain, tapi orang itu justru terbunuh karenanya. Kedua mata Ryeowook menerawang. Jihye juga pernah mengatakan itu padanya dulu.

***

Pagi itu Minrin mendapati rumah sudah sepi ketika bangun. Ya, dia sedikit terlambat bangun hari ini. Dia hanya mendapati sarapan pagi yang sudah disiapkan Sungyoung di meja makan, dan juga sebuah note dari Jongwoon tertempel di almari es yang menyuruhnya sarapan sembari menunggu Cho Kyuhyun datang.

Gadis itu mendesah lemah. “Kenapa Cho Kyuhyun? Dimana Ryeowook?” gumamnya sendiri.

Bukankah dia mendadak jadi seorang gadis yang mendapat pengawalan ekstra ketat sekarang ini? Hanya karena ada orang asing yang menyusup dan mematainya saat pesta waktu itu, bukan berarti dia benar-benar dalam bahaya sekarang ini. Kadang dia membayangkan apakah hidupnya hanya akan berakhir bersama Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon dan juga Kim Ryeowook? Pasti hal itu sangat melelahkan.

Dia tidak langsung menuruti perintah Jongwoon dan memilih berjalan menuju ruang baca rumah itu. Sebuah ruangan yang kerap kali digunakan Ryeowook untuk menyendiri. Entah sudah berapa banyak buku yang dibaca pria itu di sana. Seingatnya Kim Jongwoon punya banyak koleksi buku di ruang baca yang sudah mirip perpustakaan mini itu. Dan entah sejak kapan tapi ruangan ini telah menjadi ruang pribadi Ryeowook. Jongwoon ataupun Sungyoung jarang sekali masuk kemari, lagipula Jongwoon memang punya ruang pribadi sendiri di lantai dua.

Terdapat lima sampai tujuh buku yang tertumpuk di atas meja. Sepertinya Ryeowook yang membacanya semalam begitu mereka berdua mengakhiri perbincangan. Dan sebuah kotak berwarna hitam lah yang akhirnya menarik perhatian Minrin. Tidak ada yang istimewa kecuali warnanya yang sedikit bercampur dengan tanah. Isinya pun tidak terlalu menarik, hanya sebuah pistol berwarna hitam yang sepertinya adalah mainan semata, sebuah kertas dengan tulisan yang sangat singkat dan juga sebuah pena abu-abu.

“Apa ini miliknya? Tssk….kenapa dia meninggalkan barang seperti ini di sini?” gumamnya sembari mengambil pena itu. “Hanya sebuah pena jaman dulu,” ucapnya lagi.

Tapi ketika dia hendak membuka pena itu, hal lainnya lah yang justru terjadi. Itu bukan pena tapi sebuah perekam suara.

Kedua bola mata Minrin membulat tidak percaya begitu perekam itu berbunyi. Isi rekaman itulah yang membuatnya terhenyak sesaat hampir menjatuhkan benda abu-abu itu.

***

CUT

Hi, who is waiting for this ff?

Sorry for being late update Secret Guard. Alasan utama kenapa ff ini lama banget diupdate adalah karena aku perlu mencari bahan tulisan agar ceritanya nggk terlalu biasa. Ini pertama kalinya aku nulis ff genre action, romance dan ternyata nggak semudah yang aku bayangkan -_-. Butuh menghubungkan apa yang sudah aku tulis di part2 awal dengan part2 selanjutnya secara detail. Dan karena banyak karkter yang terlibat, aku juga harus membuat karakter selain karakter utama tidak hanya sebagai pajangan saja karena itu mungkin moment tokoh utama Ryeowook-Minrin nya kadang ada kadang nggk ada, Huft…..itu jugalah yang sebenarnya terjadi sama 8 stories 8 loves 8 hearts hikss.. L *curhat dikit*

Tapi sebenarnya itulah yang menantang. Sekarang ini aku lagi semangat buat nerusin Secret Guard. Doakan saja semoga aku tidak kehilangan feel dan menyerah di tengah jalan, karena aku benar-benar nggak ingin bikin reader yang sudah menunggu ff ini kecewa. Yes, i really thank to you who come and read my FF. Rasanya sangat membahagiakan ketika melihat reader menikmati membaca tulisanku yang sebenarnya memang masih perlu banyak belajar.

Thank you and see you next update ^^

Advertisements

8 thoughts on “(FF Series) Secret Guard Part 6

  1. Seruuuu….knapa tbc?????jgn2 data itu ada d pena td y?dn ryeowook jgn2 blm buka pena itu?wew..penasaran akut nih..jgn smoe org lain yg mndapatkan pena itu..dtunggu segera yak lanjutannya..penasaran akuut.gomawooo…

  2. Lucu liat tingkah Minrin yang jadi canggung sama Ryeowook setelah insiden ciuman itu :D.

    Ehh, isi dari rekaman itu apa ya? Aku penasaran !

  3. akhir nya di lanjut juga.. and overal keren kayak biasa nya.. itu Minrin udah mulai falling in love sama wook.. cieee btw penasaran ama isi rekaman yg di denger oleh Minrin..apakah itu data yg di cari? hmm daebak pokok nya deh.. lanjut part selanjut nya jangan lama2 ya.. juga 8 stories 8 love 8 heart nya dilanjut juga.. fighting!! ^^

  4. kyaaa aku penasaran sumpah sama apa yg di denger minrin.kira-kira apa yaa?
    ryeowook sama minrin berantem mulu, lebih tepatnya sih ryeowook yg bikin kesel minrin. tapi menurut aku mereka berantemnya manis yaa
    semoga apdetnya ga lama yaaa. aku tggu ffnya 🙂 semangaaatt ^^9

  5. aa,, akhirnya keluar juga !!commentnya apa ya ??? *bingung” hmmmm??? KEREN BANGET EONNI !! lanjut eonn, aku tetap setia kok nungguinnya 😀 haha,,

    minrin berantem trus ma ryeowook, tapi kok sweet yaaa,, >0<, ryeowook oppa suka bikin kesel nihh ,hahaha ,,
    satu persatu misteri mulai terungkap, Penasaran, penasaran, penasaran

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s