(Ryeomin Story) Long Time No See

long time no see

Title : Long Time No See

“Aku akan menarik kata-kataku tentang menjalani hubungan ini apa adanya tanpa membuat salah satu dari kita terbebani karena terikat sebuah hubungan kekasih. Aku pernah bilang jika kau kembali dan memang tidak ada yang berubah diantara kita berarti memang tidak ada yang berubah. Aku tidak menginginkan itu,”

“….setidaknya dengan begitu aku sudah mengikat sebagian dirimu.”

“Tapi dia orang yang setia, aku bisa menjamin itu….”

***

Langkah kaki pria itu melambat seketika saat ponsel di sakunya bergetar. Padahal tinggal beberapa langkah sebelum dia berhasil mencapai dorm apartementnya, namun terpaksa berhenti karena panggilan dari Cho Kyuhyun. Nama Super Junior Kyuhyun tertera jelas di layar ponselnya membuat pria itu –Kim Ryeowook- menggeser dengan malas tombol recieve.

“Ada apa?” tanyanya tanpa berbosa-basi yang seketika itu langsung terdengar decakan singkat dari Kyuhyun.

Tssk…Apa itu caramu menjawab telepon dari adik kesayangan satu groupmu? Aigoo…”

Kyuhyun berdecak lagi, membuat Ryeowook benar-benar ingin menutup teleponnya sekarang. Bukan karena dia tidak senang Kyuhyun menghubunginya. Dia hanya lelah dan butuh istirahat. Dan agaknya Kyuhyun tidak menyadarinya. Semoga saja Kyuhyun tidak berniat mengajaknya keluar hanya untuk sekedar menikmati secangkir wine atau semangkuk ramen. Karena sudah pasti Ryeowook menolaknya. Sejujurnya Ryeowook terkadang merasa bersalah pada magnae groupnya itu. Bukan hanya sekali dua kali Kyuhyun mengajaknya keluar untuk sedikit bersenang-senang, tapi sangat sering dan Ryeowook lebih sering lagi menolak ajakannya. Alasannya tentu saja karena jadwal mereka yang kerap kali tidak sama. Saat Kyuhyun tidak ada jadwal, Ryeowook harus berkutat dengan siaran Sukira. Di saat Ryeowook punya jatah libur, Kyuhyun yang justru punya jadwal berlatih musical.

“Kau ingin mengajakku keluar lagi? Mianhe, Kyuhyun-ah tapi aku sangat lelah sekarang. Lain kali saja, eoh?”

Aissh jinjja..! apa setiap kali akau meneleponmu adalah untuk menemaniku makan dan menikmati wine?” Suara Kyuhyun terdengar mencibir. Ryeowook berdecak lalu terkekah. Pria itu kembali melangkah menuju pintu dormnya.

“Kau sudah sampai dorm?” tanya Kyuhyun kemudian.

“Ya, hampir. Kenapa?”

“Baiklah, aku hanya memastikan. Dan Ryeowook-ah, aku tahu kau akan menolak ajakanku lagi. Meskipun kau tidak lelah sekalipun, kau tetap akan menolaknya hari ini. Sampai jumpa besok kalau begitu.” Lalu setelah itu Kyuhyun langsung menutup teleponya, membuat Ryeowook menatap layar ponselnya dengan bingung.

Tsk, apa maksudnya itu?” Ryeowook tidak lagi mempedulikan obrolannya dengan Kyuhyun barusan dan langsung berjalan cepat menuju pintu dormnya.

Dorm terlihat sepi dan juga rapi. Kondisi kedua itu sempat membuat Ryeowook berhenti sebentar saat memasukinya. Tidak ada bungkus snack di depan televisi yang tadi sore ditinggalkan Donghae serta Heechul. Tidak ada majalah berceceran seperti terakhir kali Ryeowook melihatnya. Dan sudah pasti yang membereskannya bukan Ahjumma yang biasa datang karena dia hanya bekerja sampai siang.

Bukan hanya ruang tengah yang mendadak rapi tapi pemandangan yang tak kalah membuat Ryeowook terkejut adalah kehadiran seseorang yang memasuki dapurnya. Seorang gadis berambut panjang dengan sweater abu-abu yang dilipat hingga siku terlihat berdiri memunggunginya. Seketika itu wangi cherry merasuki indera penciuman Ryeowook. Hanya ada satu gadis yang memiliki harum parfum cherry yang Ryeowook kenal selama ini. Dan gadis itu tengah ada di depannya, memasak.

Ryeowook tercekat dan hampir tidak berkedip saat melihat sosok yang hampir 3 bulan tidak ditemuinya itu. Gadis itu berbalik beberapa detik kemudian dengan piring berisi spaghetti di tangannya. Senyumnya mengembang begitu melihat Ryeowook seperti tidak ada yang terjadi. Senyum biasa yang diberikan gadis itu tiap kali melihat Ryeowook memasuki apartementnya. Sama sekali tidak ada keterkejutan melainkan seperti sudah direncanakan. Mendadak Ryeowook ingat dengan ucapan Kyuhyun di telepon tadi.

Apa Kyuhyun sudah tahu kalau Minrin kembali ke Korea?

“Long time no see, Ryeowook-ah,” sapa Minrin dengan senyum yang tidak bisa ditahan lagi.

“Apa..apa yang kau lakukan disini?” tanya Ryeowook terbata. Tatapannya tidak lepas sedikitpun, seakan-akan apa yang sedang dilihatnya ini tidak nyata.

“Aku baru saja menyelesaikan 12 jam penerbangan dan hanya itu yang bisa kau katakan? Tssk…” gadis itu mendecak persis seperti dulu saat Ryeowook membuatnya kesal. Dan seketika itu semua terlihat nyata. Seakan terbangun dari mimpi Ryeowook mengerjapkan matanya.

“Don’t you miss me?” tanya Minrin setelah meletakkan piringnya di atas meja.

Ryeowook tersenyum. Sangat merindukannya. Tentu saja Ryeowook merindukan gadis itu. Terakhir kali keduanya mengobrol adalah dua minggu yang lalu. Itu pun kembali berakhir dengan sesuatu yang akhirnya mengganggu pikiran keduanya. Dan sesuatu itu adalah tentang keputusan Minrin yang berencana meneruskan pendidikannya di Amerika, membiarkan Ryeowook berperang dengan batinnya sendiri antara membiarkannya pergi atau tidak. Beruntungnya Ryeowook tidak seegois itu, dia masih sangat bisa berpikir logis saat itu. Mengingat semua pembicaraan itu membuat Ryeowook bernafa lega sekarang. Karena gadis itu ada di sini sekarang, di depannya dan tengah tersenyum padanya.

“Ya, aku merindukanmu.” Ryeowook menjawab tanpa sedikitpun bergerak maju. Dia masih berdiri di dekat pintu, memandangi Minrin.

Tapi kehadiran gadis itu hanya sementara karena dia pasti akan pergi lagi. Mungkin itulah yang menahan Ryeowook untuk tidak melangkah maju menghampirinya. Dia seakan sedang sengaja membuat dirinya sendiri tidak jatuh dalam kebahagiaan yang berlebihan, karena cepat atau lembat dia harus kembali merelakan gadis itu menjauh darinya lagi.

Minrin membuang nafasnya dengan berlebihan lalu membenahi rambutnya yang berantakan. “Aku pikir akan mendapatkan sebuah pelukan setelah kau mengatakan itu. Tapi sudahlah….” gadis itu melepaskan apron yang dikenakannya dan menunjuk menu spaghetti dengan ujung matanya. “Kau juga tidak bertanya kenapa aku memasak sekarang?” tanyanya kemudian sedikit kesal karena semua tidak berjalan seperti bayangannya.

Dua belas jam yang lalu sesaat sebelum pesawatnya take off, Minrin sudah memikirkannya untuk memberi kejutan untuk pria bernama Ryeowook itu. Dua hari sebelumnya dia bahkan meminta Claire mengajarinya memasak. Rencananya adalah datang ke dorm Super Junior, membuat Ryeowook yang belum pulang kaget dengan kedatangannya. Dia bahkan meminta Kyuhyun untuk membantunya. Tapi tidak di sangka sambutan Ryeowook diluar dugaannya. Kemana Kim Ryeowook yang selalu mengucapkan kata rindu tiap kali berjumpa dengannya? Laki-laki itu berubah. Tidak ada pelukan seperti biasanya setelah mereka tidak saling bertemu selama berhari-hari.

Dan mendadak Minrin mengkhawatirkan ucapan Ryeowook di telepon dua minggu yang lalu. Dia benar-benar serius dengan ucapannya ternyata.

Minrin mengambil air dingin dari almari es dan menuangnya ke dalam dua gelas kosong lalu meletakkannya di atas meja. Sementara Ryeowook masih berada di posisi semula. Keduanya diam, hanya terdengar suara air yang dituang ke dalam gelas.

“Minrin-ya,” panggil Ryeowook akhirnya membuat Minrin mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki itu. Tidak lama karena setelahnya Minrin merasakan tubuhnya ditarik dalam pelukan laki-laki itu. Dia merasakan sepasang tangan memeluk erat tubuhnya dan deru nafas hangat yang menyapu bagian kanan kepalanya. Minrin membalasnya tak kalah erat.

“I miss you….,” ucapnya perlahan seiring suara detak jantungnya yang berpacu cepat.

Pelukan itu berakhir dan berganti dengan sebuah kecupan lembut yang mendarat di bibirnya. Gadis itu tersenyum dengan kedua mata yang berkaca-kaca seperti hampir menangis. Ini sedikit berlebihan tapi rasanya sangat melegakan saat bisa melihat Ryeowook di depannya, memeluknya dan menciumnya, sama seperti dulu. Jika saja mereka bisa melewati tahun-tahun depan seperti tiga bulan ini. Ryeowook balas tersenyum sesaat sebelum menarik wajah gadis itu dan menciumnya sekali lagi. Seakan rasa rindu itu melebur jadi satu bersamaan dengan nafas keduanya yang juga menjadi satu.

Tidak ada yang berniat berhenti, yang ada justru Ryeowook yang semakin memperdalam ciuman itu dan Minrin yang sama sekali tidak keberatan.

“Ryeowook-ah.!!”

Hingga suara Heechul yang berteriak memanggil Ryeowook menjadi alarm kesadaran untuk keduanya. Suara yang sialnya terdengar sangat dekat di telinga mereka berdua.

“Jadi itu yang dilakukan sepasang kekasih yang lama tidak bertemu? Aigoo….,” Heechul berdiri di dekat pintu menatap kedua orang itu dengan menahan senyum. Dan sialnya lagi pria berdarah AB itu mempergoki keduanya ketika masih berciuman sambil berpelukan.

O..oppa….,” kedua mata Minrin membulat menatap Heechul, sedetik kemudian gadis itu menunduk karena merasa sangat malu.

“Heechul hyung, kapan kau datang?” entah sejak kapan Donghae sudah berdiri di belakang Heechul, mencuri pandang ke arah Ryeowook serta Minrin dengan tatapan polos khas anak-anak. “Apa yang kalian lakukan?” tanyanya heran sambil menunjuk keduanya yang masih saling berpelukan.

Minrin dengan canggung langsung bergerak mundur dan tersenyum simpul pada dua orang pengganggu itu. Sementara Ryeowook hanya bisa menghela nafasnya.

Hyung, kenapa kau datang kemari?” tanya Ryeowook tanpa bosa-basi lebih tepatnya ditujukan pada Heechul, si pengganggu.

“Kau tidak suka karena aku mengganggu kegiatanmu?”

Tsskk, aniyo….bukan begitu,” elak Ryeowook cepat salah tingkah. Minrin yang mendadak diam memilih duduk di depan meja makan yang diikuti Donghae. Gadis itu benar-benar tidak ingin bertatap muka dengan Kim Heechul. Kejadian tadi benar-benar memalukan.

“Kapan kau kembali?” Donghae yang entah sejak kapan sudah menyantap spaghetti buatannya bertanya seakan tidak terjadi apa-apa. Entahlah, laki-laki berwajah polos itu memang tidak melihatnya atau dia berpura-pura tidak tahu. Minrin benar-benar tidak mengerti.

E…eoh pagi tadi,” jawabnya. Donghae mengangguk-angguk.

“Kau yang memasak ini?” tanyanya lagi.

Minrin mengangguk dan tersenyum canggung. Sekilas dia melihat Heechul yang terus saja menggoda Ryeowook. Dan Lee Donghae masih terlihat menikmati spaghettinya yang sebenarnya bukan untuknya.

“Kau pintar memasak sekarang. Ryeowook pasti bekerja keras untuk mengajarimu.”

“Sebenarnya, aku belajar sendiri selama di Amerika,” aku Minrin.

“Benarkah?”

Minrin mengangguk lagi. Hey, kemampuannya memasak tidak seburuk itu! Lagipula itu hanya spaghetti. Dan oh…sekarang Lee Donghae lah orang pertama yang merasakan hasil masakannya bukan Ryeowook. Minrin menghela nafasnya sekali lagi.

Aissh, Hyung berhentilah membahas itu!”

“Jika aku tidak datang entah apa yang sudah kalian lakukan. Ckckck.… apa kau selalu melakukan itu pada mantan pacarmu terdahulu?”

Hyung!”

Arraso…arraso… Minrin tidak boleh mendengar tentang mantan pacamu, iya kan?” Heechul meneguk softdrinknya yang baru saja diambail dari almari es lalu tersenyum penuh arti pada Minrin. Sedangkan gadis itu hanya menatapnya dan Ryeowook bergantian dengan bingung.

“Minrin, kau salah kalau mengira Ryeowook tidak pernah berkencan dengan gadis manapun. Sungguh, dia sama saja sepertiku.”

Sebelah alis Minrin mengernyit lalu menatap Ryeowook. Laki-laki yang ditatap hanya diam. Minrin sebenarnya sudah tahu, tapi tidak pernah mendengarnya langsung dari Ryeowook.

“Tapi dia hanya menjadi orang aneh saat jatuh cinta padamu,” Donghae yang mendengarkan pembicaraan itu ikut berkomentar. “Dan dia seperti orang linglung beberapa hari sebelum keberangkatanmu ke New York waktu itu.”

Minrin kembali melirik ke arah Ryeowook seakan bertanya, tapi kemudian menahan senyumnya.

Hyung, Kemanhae!”

“Dan kurasa dia hanya pernah berciuman seperti tadi denganmu,” celetuk Heechul yang sekali lagi membuat wajah Minrin memerah karena malu.

Ya Tuhan ini benar-benar memalukan. Bisakah hal itu tidak dibahas? Ini sudah cukup memalukan untuknya. Sialan. Dalam hati Minrin mengumpat dan tidak seharusnya mereka melakukan hal itu, meskipun itu bukan yang pertama tapi kenapa mereka sampai tidak mendengar ada orang lain yang masuk?

“Aku akan berpura-pura tidak melihat.” Gliran Donghae yang berkomentar yang langsung mendapat tatapan horor Ryeowook serta Minrin.

Oke, habislah mereka berdua. Mulut member Super Junior itu seperti ember bocor. Dan tentu saja hanya menunggu waktu sampai member lainnya tahu. Setelah itu Ryeowook benar-benar harus mempersiapkan mental menjadi bahan bullying membernya terutama Cho Kyuhyun.

“Aku sudah kenyang, terimakasih makanannya. Ini senak sekali.” Donghae tersenyum tanpa dosa karena mengambil jatah makan malam Ryeowook dan juga Minrin. Pria itu bahkan mengambil segelas air dingin yang semula disiapkan Minrin.

Hyung, kau menghabiskan jatah makan malamku!” seru Ryeowook setelahnya.

“Aissh, Donghae-ya….kau ini benar-benar!” Heechul yang ikut melihat tingkah kekanak-kanakan Lee Donghae itu juga hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Wae?” Donghae beralih menatap Heechul dan Ryeowook bergantian dengan ekspresi sama polosnya seperti tadi.

Ya Tuhan…!

“Tssk,…. sudahlah lebih baik kalian berdua keluarlah!” potong Ryeowook kemudian.

“Kenapa kita harus keluar? Aku juga tinggal di sini,” tolak Donghae.

“Bukankah kalian masih ada jadwal?” tanya Ryeowook mencari alasan.

“Sejak kapan kau tahu jadwalku? Tapi kau benar aku harus ke studio sekarang.” Donghae beranjak dari tempat duduknya hendak keluar namun tiba-tiba berhenti lagi. “Chakaman, bukankah kau juga ada jadwal sukira?” tanyanya tidak penting.

Heechul yang melihat ketidakpekaan Donghae itu hanya menggeleng pelan lalu menarik dongsaengnya itu “Aissh, nawa..!!” Dengan cepat Heechul merangkul pundak Donghae dan mengajaknya keluar. “Lanjutkan saja apa yang tadi kalian lakukan!” serunya sesaat setelah keluar dari dapur itu.

“Aissh, mereka menyebalkan sekali!” gerutu Ryeowook pelan sepeninggalnya Heechul dan Donghae dari dapur itu.

Suasana berubah canggung setelah itu. Minrin yang memilih duduk tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan Ryeowook yang masih berdiri menggaruk bagian belakang kepalanya yang tentu saja tidak gatal.

“Kau ingin makan di luar?” tawar Ryeowook kemudian. Entah kenapa dia sendiri merasa aneh dengan situasi ini. Mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya. Paling tidak sikap canggung seperti ini hanya pernah terjadi sekali dua kali dulu.

Aniyo. Sebenarnya aku tidak lapar. Kau sendiri? Aku bisa membuatkanmu sesuatu yang baru kalau kau ingin,” Minrin mendongak meminta jawaban.

Ryeowook menggeleng pelan. “Gwaenchana….,” tolaknya lalu menghela nafas berat.

Harus ada yang dilakukan untuk menyelamatkan situasi ini. Itulah yang dipikirkan Ryeowook, maka dari itu dia pun mengajak Minrin keluar dari daput itu.

***

“Kau tidak memberitahuku kalau kau sudah kembali,” ujar Ryeowook memulai setelah mereka berdua sudah berada di ruang tengah dorm itu.

“Kyuhyun tidak memberitahumu?” tanya Minrin. Ryeowook menggeleng.

“Dia mengatakan sesuatu yang aneh tapi tidak mengatakan kalau kau sudah berada di Korea. Jadi, kau memberitahunya lebih dulu daripada aku?” cerca Ryeowook setelahnya, berpura-pura kesal karena gadis itu memberitahu orang lain selain dirinya  lebih dulu.

Wae? Kau cemburu?” Minrin beralih menggoda yang langsung ditanggapi Ryeowook dengan decakan singkat.

Perlahan suasana berubah tidak secaggung tadi. Minrin bahkan menahan senyum tiap kali mencuri pandang ke arah pria itu. Ya Tuhan baru tiga bulan dia tidak melihatnya dan kenapa dia sangat tampan hari ini?

“Aku menagih hadiahku,” ucap Minrin kemudian mengingatkan dengan pembicaraan mereka sebelumnya.

“Kau tidak memberitahuku akan pulang dan sekarang kau menagih hadiahmu? Tsskk, shirro!”

“Yaa, mana boleh mengingkari janji!”

“Aku tidak bilang berjanji, aku bilang akan memikirkannya. Kau tidak ingat?” Ryeowook menoleh, menahan senyum dan kekehannya karena wajah Minrin yang berubah kesal.

Aissh, Kau menyebalkan!”

Bukankah dia sangat lucu? Amerika tidak mengubahnya dan Ryeowook senang gadis itu masih Shin Minrin yang dikenalnya dulu.

“Jadi, kau benar-benar tidak akan mmeberiku hadiah ulang tahun?” gerutu Minrin lagi yang pada akhirnya membuat Ryeowook tertawa pelan.

“Aku akan memikirkannya nanti.”

“Issh, sudahlah… lupakan saja!” Minrin menyerah. Dia menghela nafasnya lalu mengambil sebuah majalah yang sejak tadi menarik perhatiannya. Majalah Instyle dengan fotonya sebagai cover.

“Kau tahu, aku melakukan pemotretan majalah ini saat kita bertemu di studio waktu itu. Dan mereka baru menggunakan unuk edisi bulan kemarin. Tsskk….,”

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Ryeowook tiba-tiba dengan serius membuat Minrin menghela lagi nafasnya. Dia meletakkan majalah itu kembali lalu menatap Ryeowook.

“Terkadang apa yang kita lakukan tidak sejalan dengan keinginan, benarkah? Masih sama seperti terakhir kali kau menanyakannya. Aku yang harus bertanya padamu.” Minrin mulai menatap Ryeowook serius seakan-akan apa yang akan ditanyakannya adalah sesuatu yang sangat penting yang tidak boleh dilewatkan Ryeowook barang sepotong kata saja. “Tentang pertemuanmu dengan ayahku. Kau tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Bagaiaman? Apa yang kalian bicarakan?” tanyanya ingin tahu.

“Hanya pembicaraan dua orang laki-laki dewasa,” jawab Ryeowook sambil tersenyum seakan menutupi sesuatu membuat Minrin mendecak lagi.

Mwotte? Kau tidak tahu bagaimana penasarannya aku selama di pesawat tadi? Ayah juga tidak mengatakan apapun saat menelepon tadi. Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan ha?” Minrin menggerutu lagi. Gadis itu mengubah posisi duduknya bersender di badan sofa, menyilangkan kaki dan tangannya lalu menatap Ryeowook meminta penjelasan.

“Aku akan memberitahumu nanti. Jadi, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Ryeowook mengalihkan pembicaraan membuat Minrin sekali lagi berdecak kesal.

“You not going to tell me. Baiklah…..” Minrin mendesah pelan kemudian bergumam pelan. “Sebenarnya aku ingin makan malam denganmu. Kau lihat kan aku memasak tadi tapi sayangnya Lee Donghae mnghabiskannya. Jadi, kita pesan jajjangmyun atau Fried Chicken saja lalu aku ingin mengobrol denganmu,” ucap Minrin memutuskan.

Ryeowook tersenyum lalu tanpa mengucapkan apapun langsung mengambil ponselnya dan menuruti keinginan gadis itu. Melihat wajahnya yang tersenyum bersemangat seketika itu membuat Ryeowook ikut tersenyum senang.

Tidak sampai satu jam seseorang datang mengantarkan pesanan mereka. Satu kotak Fried Chicken dan juga dua mangkuk jajjangmyun. Dengan ditemani dua kaleng beer keduanya duduk di ruang tengah itu menikmati makanan yang dipesan.

“Aaah sudah berapa lama aku tidak melakukan ini?” Minrin tidak hentinya tersenyum bahagia menatap dua makanan favouritnya itu.

“Kau berlebihan.” Ryeowook ikut tersenyum melihat tingkah gadis itu. Menggelikan sekali. Apa dia tidak pernah melihat ayam goreng selama 3 bulan ini?

“Amerika berbeda jauh dengan Korea. Mereka tidak punya jajjangmyun dan kau harus tahu seleraku masih selera makanan Korea. Lagipula aku lebih senang berada di sini.” Tanpa ragu Minrin bahkan sudah bersiap mengambil potongan ayam kedua.

“Berapa lama kau di sini?”

“Dua minggu. Aku tidak bisa memperpanjang jatah liburku lagi. Ayah pasti akan menegurku,” sahut Minrin masih sambil mengunyah ayamnya.

Ryeowook mengangguk-angguk paham. Dia tidak lagi memeprotes ataupun keberatan seperti dulu. Pertemuannya dengan ayah Minrin beberapa waktu yang lalu membuatnya sedikit punya rasa kelegaan. Laki-laki yang awalnya Ryeowook pikir sebagai orang yang egois ternyata tidak lah seperti itu.

“Kalau begitu beri aku satu hari untuk memberimu hadiah ulang tahun, bagaimana?” ucap Ryeowook memutuskan yang langsung membuat Minrin menghentikkan gigitannya. Gadis itu bahkan meletakkan kaleng beernya kembali di atas meja karena terkejut dengan ucapan Ryeowook.

Jinjja? Kau serius?” tanyanya memastikan. Ini diluar dugaan. Ya sebenarnya sejak awal Minrin tidak berharap banyak dengan hadiah yang dijanjikan Ryeowook itu.

Ryeowook mengangguk lagi lalu tersenyum.

“Baiklah, akhir pekan ini. Kau ada waktu?” tawar Minrin tanpa banyak berpikir. Gadis itu berubah sangat bersemangat sekarang.

Meskipun tujuannya pulang ke Korea selain wisuda bukanlah untuk meminta hadiah ulang tahun tapi sepertinya dia merindukan bisa berkencan dengan pira itu. Lagipula jarang-jarang Ryeowook mengajaknya berkencan.

Tidak butuh waktu lama untuk Ryeowook mengangguk pelan dan menyetujuinya ide itu.

“Joha.”

***

Saturday, May 9th 2015

Akhir pekan datang terlalu cepat menurut Ryeowook. Dia memang mengiyakan tapi dia sendiri tidak menyangka hari ini akan datang secepat ini. Dia sedikit gugup. Oh tidak, dia sangat gugup sebenarnya. Sudah berapa kali dia memperhatikan penampilannya di depan cermin sebelum berangkat tadi?

Dia mengenakan stelan jas hitam formal yang agak santai. Tentu saja ini bukan kencan seperti biasa mereka lakukan. Hari ini spesial untuk ulang tahun gadis itu dan Ryeowook sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari.

Sebuah restoran mewah di kawasan Namsan menjadi pilihannya. Dia bahkan telah menyewa lantai atas restoran itu untuk mereka berdua. Selama 28 tahun hidupnya, ini adalah hal pertama untuknya. Member lainnya mungkin beberapa kali melakukan ini untuk teman kencan mereka, tapi Ryeowook jelas baru pertama kali ini menyewa restoran hanya untuk bisa menikmati makan malam romantis dengan gadisnya.

Lantai atas restoran itu memiliki jendela besar yang mengarah langsung ke kota Seoul, kerlap-kerlip cahaya yang bertebaran di luar sana terlihat sangat cantik dari atas sini. Satu set meja bundar lengkap dengan lilin dan setangkai bunga menghiasi bagian atasnya. Dan yang paling spesial adalah adanya grand piano tidak jauh dari meja yang sudah pasti akan dimainkan Ryeowook nantinya.

Sekitar tiga puluh menit dia menunggu sampai akhirnya suara derap kaki di luar pintu masuk berhasil membuat jantungnya berdetak hebat. Minrin terlihat berdiri di dekat pintu masuk beberapa saat kemudian dengan dress berwarna putih selutut dan rambut yang dibiarkan tergerai. Cantik. Bahkan untuk sesaat Ryeowook tidak berkedip mengangumi kecantikan gadis itu. Karena seingatnya gadis itu tidak pernah berpenampilan seperti itu di hadapannya.

Ryeowook tersenyum begitu berdiri menyambutnya. Ekspresi gadis itu tentu saja terkejut. Dia bahkan menatap Ryeowook meminta penjelasan atas kejutan yang tak biasa ini. Ryeowook sendiri tidak mengatakan apapun selain berjalan dan mengajak gadis itu untuk duduk.

“Kau menyiapkan ini semua?” tanya Minrin begitu Ryeowook berhasil menggenggam tangannya.

“Hmm….,” Ryeowook bergumam mengiyakan dan sekali lagi membiarkan Minrin penasaran dengan apa yang akan didapatkannya.

“Pantas saja kau memintaku datang sendiri ke sini. Tssk….ini seperti bukan dirimu,” Minrin berdecak tapi tidak sanggup menghilangkan senyuman yang sejak tadi menghiasi wajahnya.

Hadiah ulang tahun. Sebenarnya tujuan Ryeowook bukanlah itu. Ada hal lain yang telah dipersiapkannya. Begitu mengantar Minrin duduk di depan meja yang telah disulap sedemikian cantik itu, Ryeowook pun berjalan menuju grand piano di sampingnya yang tentu saja membuat Minrin makin penasaran.

“Kau ingat apa yang kau inginkan tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun?” tanya Ryeowook begitu dia bersiap di depan piano itu.

Minrin tersenyum begitu menyadari apa yang akan Ryeowook lakukan. “Kau memainkan piano untukku,” jawabnya tanpa ragu.

“Benar. Maaf, aku baru bisa mengabulkannya sekarang. Lagu ini…kau yang pertama mendengarnya,” ucap Ryeowook sesaat sebelum mulai memainkan nada piano itu.

Laki-laki itu benar-benar tidak memberi kesempatan untuk Minrin bertanya lebih jauh, karena setelah itu Minrin benar-benar dibuat kagum dengan permainan pianonya. Nada-nada yang asing namun berirama lembut itu mengalun di telinganya. Dia yakin lagu itu bukan salah satu milik Yiruma atau Beethoven, karena bagaimanapun Minrin tahu banyak tentang lagu Yiruma. Dan yang Ryeowook mainkan sekarang ini jelas bukan miliknya.

Dia terhanyut tapi sema sekali tidak berhenti tersenyum. Dia tahu permainan piano Ryeowook sangat indah. Semua orang hanya tidak menyadarinya. Bagaimanapun juga kekasihnya itu sudah sejak kecil belajar piano.

Dua menit berlalu dan membawa Minrin seperti mengawang karena suara piano itu. Ryeowook menghentikkan permainan pianonya dan beralih menatap Minrin. “Hadiah ulang tahun untukmu,” ucapnya lalu beranjak berdiri dan menghampiri Minrin.

“Terima kasih. Itu sangat indah.”

Keduanya saling menatap setelah duduk berhadapan. Dan Minrin adalah pihak yang terlalu lekat menatap Ryeowook untuk beberapa saat.

“Wae?”

Gadis itu menggeleng pelan. “Aniyo, aku hanya merasa aneh menerima ini semua. Aku tahu kau bukan tipe orang yang akan menyiapkan hal-hal seperti ini.”

“Kau ingin tahu alasannya sekarang atau setelah kita menikmati makan malam kita?” tawar Ryeowook yang justru mmebuat Minrin berdecak singkat.

“Apa masih ada kejutan lainnya?”

“Mungkin. Jadi, mau makan dulu atau bicara?” tanya Ryeowook lagi.

“Aku lapar, jadi kita makan dulu. Lagipula aku senang dibuat penasaran,” jawabnya.

Tidak lama untuk mereka menunggu hidangan makan malam tersaji. Tidak banyak pembicaraan berat setelahnya, hanya pembicaraan ringan dan juga cerita-cerita Minrin tentang kehidupannya di Amerika. Mereka menikmati makan malam itu dengan santai.

Minrin merindukan saat-saat seperti ini. Dia merindukan bisa bercerita banyak dengan Ryeowook. Terkadang jika mengingat hal ini membuatnya agak menyesal karena harus pergi ke Amerika. Dan tentu saja kepulangannya sekarang juga hanya sementara. Hal itu semakin membuatnya menyesal. Apalagi jika teringat pembicaraan keduanya beberapa hari yang lalu. Bagaimanapun juga mereka sepakat untuk tidak saling mengikat selama Minrin berada di Amerika. Biarlah waktu yang menjawab. Tapi terkadang itu semua juga membuat Minrin khawatir. Bagaimana jika waktu tidak berpihak padanya? Bagaimana jika keduanya harus berpisah? Dia ingin tetap di Korea. Tapi apalah yang bisa dilakukannya.

“Jadi, apa kejutan selanjutnya?” tanya Minrin setelah selesai. Gadis itu meneguk wine miliknya sebelum akhirnya menatap Ryeowook meminta jawaban.

“Tentang keinginanmu untuk melanjutkan sekolah di Amerika.” Laki-laki menyelesaikan tegukan winenya dan menarik nafasnya diam-diam lalu wajahnya berubah serius. “Aku serius dengan ucapanku saat itu,” lanjutnya.

Minrin mengernyit sekaligus memasang wajah kesal. Dia tidak suka membicarakan itu sekarang. Bisakah mereka bersikap seperti dulu tanpa ada pembicaraan tentang keinginan Minrin atau apapun tentang kemungkinan mereka akan berpisah.

Gadis itu mengambil wine nya lagi dan meneguknya. “Apa itu yang kau sebut kejutan?” tanyanya.

Ryeowook tidak menjawab. Dia hanya menatapnya dalam diam membuat Minrin menahan nafas. Hingga akhirnya pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Sebuah kotak kecil berwarna biru tua yang kemudian disodorkannya di atas meja. Belum ada kalimat apapun yang diucapkan Ryeowook. Dia masih menatap Minrin.

Mwoya iggeu?” tanya Minrin dengan ekspresi yang langsung berubah bingung sekaligus terkejut begitu melihat kotak itu.

Sseomul,” jawabnya. “Hadiah kedua,” lanjutnya memperjelas. Tapi justru semakin membuat Minrin bingung.

“Aku akan menarik kata-kataku tentang menjalani hubungan ini apa adanya tanpa membuat salah satu dari kita terbebani karena terikat sebuah hubungan kekasih. Aku pernah bilang jika kau kembali dan memang tidak ada yang berubah diantara kita berarti memang tidak ada yang berubah. Aku tidak menginginkan itu,” jelas Ryeowook kemudian. Pria itu bicara sangat serius hingga membuat Minrin tak kalah serius mendengarnya. Gadis itu bahkan menahan nafas sejak tadi.

Ryeowook pasti telah menyiapkan ini sejak lama. Makan malam, permainan piano dan juga ‘hadiah’ yang tadi dia bilang.

“Bisakah kita tetap seperti ini? Meski kau berada di Amerika ataupun kau berada di Korea, bisakah kita melakukannya?” tanyanya pada akhirnya. Tangannya bergerak membuka kotak kecil itu. Sebuah berlian kecil menghiasi lingkaran berwarna perak yang terpasang rapi di tengah kotak itu. Cincin putih yang seketika itu membuat Minrin menatapnya dalam diam dengan jantung berdebar.

“K..kau memberiku cincin?” tanya Minrin tidak mengerti.

Bukan. Bukan itu yang sebenarnya ingin ditanyakannya. Lebih tepatnya adalah ‘Kau melamarku?’. Sungguh Minrin tidak bodoh. Dia sering melihat ini dalam drama. Dia hanya tidak menyangka Ryeowook akan melakukannya dengan cara seperti ini. Membuatnya tersentuh sekaligus bingung serta bimbang di saat yang bersamaan.

Ryeowook tersenyum. Ekspresi serius yang sejak tadi dipasangnya berubah seketika. “Apa hanya itu yang bisa kau tanyakan? Aku pernah memberikanmu cincin sebelumnya, kau seharusnya tidak perlu terkejut begitu,” candanya yang seketika itu membuat Minrin memasang wajah kesal.

Mwoya?”

Minrin hanya berpikir. Ah… tidak..tidak. sepertinya pikirannya itu salah.

“Tidak, bukan itu maksudku,” ralat Ryeowook cepat yang kembali membuat Minrin mengernyit. Ekspresi Ryeowook juga kembali menjadi serius. “Aku ingin menikah denganmu. Kuere, itu benar…aku sudah berulang kali mengatakannya. Tapi aku tahu resikonya akan seperti apa.” Dia menarik nafasnya, berpikir sebentar.

Benar. Rencananya memang seperti itu yaitu mengajak Minrin menikah. Itulah kenapa seharian ini dia sangat gugup menantikan makan malam ini. Tapi sekali lagi Ryeowook benar-benar sudah banyak berpikir sebelum melakukan ini. Besar sekali resiko yang akan mereka ambil. Dan Ryeowook menduga Minrin tidak akan semudah itu menerima ketika memikirkan resikonya.

“Ryeowook-ah….,” panggil Minrin pelan. Gadis itu sudah bersiap mengutarakan pendapatnya.

Baiklah, mereka berdua memang sudah sangat sering membicarakan tentang pernikahan tapi tidak pernah seserius ini sebelumnya.

“Tidak menikah dalam waktu dekat tapi aku ingin memastikan kau akan menerimanya nanti. Sebuah pertunangan, setidaknya dengan begitu aku sudah mengikat sebagian dirimu,” lanjut Ryeowook memotong kata-kata yang siap diutarakan Minrin. Laki-laki itu tersenyum lagi, menatap Minrin meminta jawaban.

.

..

….

…..

Two Weeks Before

Laki-laki itu terlihat tersenyum sembari menikmati kopi yang dipesannya. Dan Ryeowook benar-benar belum bisa menghilangkan rasa gugupnya sejak pertama kali mereka bertemu setengah jam yang lalu. Dia memikirkan banyak hal sebelumnya untuk dijadikan bahan obrolan tapi Ryeowook benar-benar gagal. Semua yang dipikirkannya dan disusunnya rapi dalam otaknya mendadak hilang.

“Dia gadis yang sangat keras kepala dan juga manja. Ryeowook-ssi, kau mungkin tidak pernah melihatnya yang seperti itu tapi aku benar-benar akan jujur padamu. Puteriku, dia juga terkadang masih seperti anak kecil jika di rumah,” ungkap laki-laki di depannya itu. Cerita itu bukan yang pertama, karena ini sudah kesekian kalinya laki-laki bermarga Shin itu menceritakan tentang sifat puterinya hari ini pada Ryeowook.

“Ne, terkadang dia juga memperlihatkannya.” Ryeowook membalas

Tiga puluh menit sudah Ryeowook mengobrol dengan laki-laki itu. Laki-laki yang telah membesarkan gadis yang dicintainya selama 25 tahun. Dan percayalah, pembicaraan itu bukanlah tentang industri musik Korea seperti yang Ryeowook katakan pada Minrin sebelumnya. Sejak awal pembicaraan mereka adalah tentang gadis itu, Shin Minrin.

“Tapi dia orang yang setia, aku bisa menjamin itu.  Dia pendiam saat di sekolah, hanya beberapa teman yang dekat dengannya. Dia juga belum pernah berkencan…,”

Ryeowook mendengarnya dan tersenyum mendengar fakta terakhir itu. “Tapi dia dekat dengan Eunhyuk hyung,” Ryeowook menyela.

Kuere…, kau benar. Lee Hyukjae memang pernah datang beberapa kali ke rumah. Tapi aku tahu Minrin hanya menganggapnya sebagai seorang kakak. Dia selalu bilang ingin punya kakak laki-laki. Katanya, dengan begitu dia bisa mendapatkan perlindungan kalau Shin Donggun menjahilinya. Aigoo…anak itu.” Laki-laki itu tertawa pelan, membuat Ryeowook ikut tersenyum.

“Hmm…jeongsohamnida, tapi ada yang ingin aku tanyakan,” sela Ryeowook kembali. Dia ragu tapi dia sangat penasaran dengan jawabannya. “Kenapa paman mengirimnya ke Amerika? Maksudku, dia mempunyai sesuatu yang ingin dilakukannya di sini. Karirnya bersama teman-temannya dan juga keinginanya menjadi dokter,” tanya Ryeowook kemudian.

Laki-laki itu mendongak dan menatap Ryeowook serius. “Kau tidak menyukainya?”

“Tidak, maksudku bukan begitu jawab Ryeowook cepat. Laki-laki itu lantas tertawa pelan lagi.

“Dia selalu ingin melakukan sesuatu yang menurutnya bisa membuatnya bahagia. Sebagai penyanyi…aku tidak bisa mengatakan dia suka melakukannya tapi aku akan jujur kalau sejak awal aku tidak terlalu menyukainya. Lalu menjadi model, yah…kurasa itu sama saja. Dia juga bilang ingin jadi dokter karena itu dia masuk kedokteran. Kurasa saat itu dia tidak banyak berpikir saat mendaftarkan diri masuk kedokteran. Awalnya aku ingin dia bekerja di perusahaanku. Tapi kemudian aku hanya ingin dia melakukan sesuatu yang benar-benar cocok untuknya. Entah itu menjadi dokter atau model, kurasa dia yang bisa memutuskan.”

“Dia gadis yang pintar karena itu bisa menjalani kehidupannya yang seperti itu sekarang,” Ryeowook menambahkan dan  disetujui oleh laki-laki itu.

“Ryeowook-ssi…..,”

“Tolong jangan memanggilku begitu,” sela Ryeowook cepat. Dia tersenyum meminta pengertian. Rasanya sangat aneh dipanggil seperti itu sejak tadi.

Kuere….” Laki-laki itu tersenyum. “Aku ingin melihat kesungguhanmu,” ucapnya kemudian yang sukses membuat Ryeowook mendongak terkejut.

Nde!?”

Laki-laki itu tersenyum penuh pengharapan. “Aku tahu kau dekat dengannya. Dan seperti kataku, Minrin orang yang sangat setia. Dan orang setia selalu menjadi yang tersakiti saat hubungannya berakhir. Aku tidak mengatakan kau orang yang jahat, tapi ini hanya kekhawatiran seorang ayah pada anaknya. Aku harap kau mengerti maksudku.” ucapnya.

Dan semua itu benar-benar diluar dugaan Ryeowook. “Jeongsohamnida….,” Ryeowook menunduk meminta maaf. Entah kenapa dia melakukannya tapi dia hanya merasa selama ini dia masih belum mengenal banyak tentang Minrin. Masih ada hal yang belum diketahuinya.

Dan setelah mendengar ceirta itu mau tidak mau membuat Ryeowook merasa bersalah. Ucapannya sesaat sebelum kepergian Minrin waktu itu pasti sedikit melukainya. Dia mengatakan akan membiarkan hubungan mereka berjalan begitu saja dan akan membiarkan jika salah satu diantara mereka berpaling. Minrin belum pernah berkencan sebelumnya. Itulah kenapa dia mengiyakan. Gadis itu hanya tidak tahu harus berbuat apa saat dihadakan situasi seperti itu.

“Paman….,” panggil Ryeowook kemudian.

Laki-laki mendongak lagi. “Apa paman tidak keberatan jika dia bersamaku?” tanya Ryeowook sedikit ragu. Ekspresi laki-laki itu berubah seketika dan Ryeowook jelas sudah menahan nafasnya.

Secara tidak langsung ini bisa disebut permintaan ijin. Dan Ryeowook sadar betul apa yang sedang dilakukannya ini.

“Apa kau bersedia membuatnya bahagia?” tanyanya. Ryeowook mengangguk.

Ne, aku akan melakukannya.”

Laki-laki itu lantas tersenyum. Beberapa detik berlalu sebelum pertanyaan itu akhirnya dijawab. “Aku banyak mengenalmu hari ini. Kau orang yang sangat baik. Aku percaya kau akan melakukannya dan tidak ada yang lebih penting bagiku dibandingkan kebahagiaannya.” Lalu Ryeowook ikut tersenyum dan sekali lagi mengangguk.

Gamsahamnida,” ucap Ryeowook.

.

..

….

…..

***

CUT

Hi, long time no see eh? 🙂

Saya rindu nulis dan blogging lagi. Dan ini kelanjutan Ryeomin –lagi-. Aku menyebutnya dua ff dijadikan satu. Maunya sih bikin ff tersendiri tentang pertemuan Ryeowook sama ayahnya Minrin tapi lagi-lagi saya tidak punya waktu buat nulis yang panjang. Jadi ya…apa boleh buat t.t. semoga ini bisa mengobati rasa penasaran kalian tentang apa sih isi pembicaraan mereka berdua.

Dan Minrin belum kasih jawaban karena masih bingung. Karena saya sendiri juga bingung lol… ada dua kemungkinan. Pertama ryeomin story akan dipanjangin dengan sedikit konflik. Kedua minrin menerima lamaran itu dan diakhiri dengan happy end tapi setelah itu mungkin nggak ada Ryeomin story lagi. Tapi itu masih kemungkinan sih….mungkin jika mood baik dan punya waktu luang bakalan nulis ryeomin story. Ya, karena aku pernah bilang ryeomin story itu mengacu sama kehidupan Ryeowook. Delusion author seandainya ryeowook punya pacar :p

Kabar baiknya aku masih berminat ngelanjutin Secret Guard, jadi jangan khawatir ff itu aku terlantarkan lebih lama lagi.  Hehe…. ditunggu saja lah, saya belum bisa janji kapan.

Oke, bye…. ^^

Advertisements

8 thoughts on “(Ryeomin Story) Long Time No See

  1. Baca chap ini seruu..lucu..tp jg tgang.hehe…happy end dong..ehbtp sdkit konflik jg oke.hehee..dtunggu next chapnya yak.dtunggu jg secret guardnya.udh g sbar bcanya.gomawo.

  2. Aishh.., penasaran berat sama jawabannya Minrin. Aku harap Minrin nerima lamaran Ryeowook.

    Soal secret guard tolong cepet dilanjut dong! Udah penasaran + udah lama banget nungguanya. Ditunggu ya ^^

  3. Seneng nya di part ini. Ryeowook tunangan . hihihi… Chukae 😉 Dapet lampu hijau nih wookie… Siip deh. lanjut kan.

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s