(Ryeomin Story) 30 Minutes

30 minutes

Title : 30 Minutes

Ryeowook – Minrin

***

Baru sekitar satu bulan sejak kepergian gadis itu ke New York, dan tentu saja satu bulan itu belum lama. Ryeowook sendiri juga tidak mengira seperti itu. Anehnya dia sama sekali tidak merasa ingin bertemu gadis itu. Rasa rindu itu entah terpendam di mana. Bukan berarti Ryeowook tidak lagi peduli dengannya. Entahlah, dia tidak ingin memaksakan sesuatu yang tidak bisa dipastikannya. Hubungannya dengan gadis itu memang masih baik-baik saja.Tidak ada kata berpisah tapi juga tidak ada janji untuk kembali. Mungkin itulah yang menjadi penyebabnya. Seakan-akan digantungkan oleh sesuatu yang belum pasti.

Pintu lift terbuka tidak lama setelah Ryeowook menekan tombol 1. Dia pun langsung masuk ke dalam lift. Tepat saat itu lah ponselnya berbunyi. Dering ponsel yang langsung membuatnya mengeryit sebentar sebelum memutuskan menerima panggilan luar negeri itu.

“Yeobseo..,”

“Apa aku mengganggumu?” suara di seberang sana menyapa untuk pertama kalinya dan Ryeowook tidak akan berbohong jika mendengar suara itu sekali lagi sempat membuat hatinya berdesir. Aah…dia tidak pernah tahu bahwa akan sangat membahagiakan seperti ini begitu mendengar suara itu lagi.

Diam-diam Ryeowook menarik senyumnya. Dia mulai bersender di dinding lift belakangnya. “Tidak. Kenapa?” dia bertanya pelan. Berpura-pura bertanya lebih tepatnya, karena sejujurnya Ryeowook berharap jawaban dari pertanyaan itu sama seperti yang tengah dipikirkannya saat ini. Bahwa Minrin tengah menyingkirkan egonya untuk menghubunginya karena gadis itu tengah merindukannya.

“Kau ada waktu sebentar?” Suara itu mendadak gugup dan tentu saja sempat membuat Ryeowook tertawa dalam hati. Satu bulan. Baru satu bulan dan gadis itu seakan-akan menganggap Ryeowook orang asing. Biasanya Minrin akan bicara sesuka hati jika bertemu dengan Ryeowook.

“Kalau aku tidak salah sekarang masih sangat pagi di sana, kau tidak bersiap untuk bekerja?” tanya Ryeowook bercanda dan sedetik kemudian terdengar desahan lemah dari gadis itu. Bukan seperti seorang Shin Minrin yang satu bulan yang lalu bersikeras untuk menerima keinginan ayahnya bekerja di New York tapi terdengar seperti gadisnya yang tengah mengeluh akan sesuatu.

“Wae?” Ryeowook kembali bertanya, kali ini dengan serius dan jawaban yang diberikan Minrin tak kalah serius darinya.

“Aku tidak tahu akan seberat ini menjalaninya,” ungkapan jujur dari seorang Shin Minrin yang seketika itu membuat Ryeowook terdiam.

“Karena kau mesti tinggal di sana atau karena pekerjaanmu?”

Diam sebentar. Gadis itu pasti tengah berpikir. “Dua-duanya…mungkin.” helaan nafas yang lebih panjang kembali terdengar.

Seperti biasanya saat mereka saling bertemu dan bercerita banyak hal, meminta pendapat dan bahkan terkadang memecahkan masalah secara bersama-sama. Seperti itulah yang dirasakan Ryeowook saat ini dan mungkin juga yang dirasakan Minrin. Gadis itu selalu gamblang menceritakan masalah yang membebaninya pada Ryeowook, meminta saran padanya dan membuatnya mendengarkan keluh kesahnya. Dan Minrin sedang melakukan hal itu sekarang. Maka seperti biasanya Ryeowook akan selalu memberikan waktunya untuk mendengarkan setiap keluhan Minrin.

“Aku hanya diberi waktu sebentar lalu setelah itu aku harus kembali bekerja. Kau bisa memberiku waktu 30 menit?”

Pintu lift terbuka setelah itu, Ryeowook pun segera keluar dan berjalan menuju mobilnya. Beberapa fans terlihat menunggunya di depan gedung KBS. Dia melambai pada mereka, tersenyum sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil yang siap dijalankan oleh managernya.

“Kau sudah mendapatkannya sejak tadi. Bicaralah, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Ryeowook kemudian begitu dia menemukan posisi nyaman untuk duduk dan mendengarkan cerita gadis itu.

Mobil van hitam itu melaju sedang setelahnya. Dan perjalanan pulang ke dormnya malam itu tidak seperti perjalanan biasanya yang Ryeowook lalui, terlebih setelah Minrin meminta sepuluh menit waktu miliknya untuk bicara. Cerita gadis itu yang mengalir setelahnya menjadi teman perjalanan yang sama sekali tidak membosankan.

Dia menceritakan tentang pekerjaan barunya sebagai manajer dan designer. Lalu tentang teman-temannya di sana. Ada seorang gadis asal Kanada bernama Claire yang selalu membantunya termasuk menemaninya berjalan-jalan mengenal kota New York. Ryeowook masih mendengarkannya, sesekali dia berkomentar dan tidak jarang Minrin berdecak. Obrolan seperti itu persis seperti obrolan keduanya jika saling bertatap muka. Canda tawa dan juga saling melempar komentar. Hingga akhirnya Minrin mengganti topik pembicaraan. Kali ini dia bicara tentang mimpinya.

“Aku berpikir untuk melanjutkan mimpiku di sini. Kurasa aku akan mengambil pendidikan spesialis di Amerika.”

Ryeowook kembali terdiam. Butuh beberapa saat untknya mencerna ucapan Minrin barusan. Karena entah kenapa dia menangkap dua hal yang akan terjadi. Dan dua hal itu sama sekali tidak terdengar bagus.

“Aku bisa membantu ayahku dan aku bisa menjadi dokter seperti keinginanku. Ya, tentu saja akan sedikit merepotkan. Mungkin aku harus menunggu setidaknya satu atau dua tahun sebelum aku mengangkat seseorang untuk memimpin di sini. Aku tetap akan mengawasi pekerjaan di sini jadi aku tidak lepas tangan begitu saja.”

“Jadi…?”

Ryeowook menggantungkan pertanyaannya. Jika dia tidak salah, maka satu hal yang lain adalah bahwa gadis itu akan lebih lama dari kemungkinan waktu yang mereka pikirkan selama ini.

“Paling tidak lima tahun jika aku bisa menyuruh seseorang untuk mewakilkan posisiku dalam satu tahun.”

Ryeowook sama sekali tidak ingin bertanya lebih lanjut. Dia selalu mendukung mimpi gadis itu dan sudah sepantasnya dia menunjukkan dukungannya saat ini. Masalahnya adalah dia pikir Minrin hanya akan pergi paling lama 2 atau tiga tahun. Dan semua itu akan terasa cepat jika Ryeowook menjalaninya bersamaan dengan massa wajib militernya.

Beberapa detik berselang dan Ryeowook hanya terkekeh pelan, menertawakan kenyataan bahwa setiap kali keduanya bicara selalu menyangkut masalah masa depan.

“Kenapa kau tertawa?”

“Tidak. Aku hanya berpikir, ini sudah ketiga kalinya.”

“Apa?”

“Kau bicara tentang masa depanmu yang tentu saja berhubungan langsung dengan hubungan kita. Mimpimu yang ingin kau kejar dan selalu berkolerasi dengan hubungan diantara kita.”

“Aku tidak bermaksud. Aku tahu ini egois…,”

“Minrin,” Ryeowook memanggilnya pelan. Suaranya berubah serius.

Diam setelah itu. Sesaat Ryeowook melempar pandang ke luar jendela. Pemandangan kota seoul di tengah malam masih terlihat agak ramai. “Saat kita berkencan di tempat umum kau tidak pernah keberatan jika aku seperti seorang ninja daripada pria berpenampilan normal. Kau juga jarang protes saat aku tidak bisa sering-sering mengajakmu keluar. Kita hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol di apartementmu atau di dorm. Terkadang aku merasa bersalah karena itu. Tapi sedikitpun kau tidak pernah protes.” Ryeowook mulai bicara dengan serius, sesekali dia tersenyum mengingat waktu yang dulu mereka habiskan bersama meski itu hanya barang tiga puluh menit.

“Lalu saat dulu kau mendapat surat ancaman dan lemparan kaleng karena mereka mengetahui hubungan kita, sedikit pun kau tidak menunjukkan rasa marahmu. Kau bahkan sampai jatuh sakit kala itu. Aku benar-benar bersalah saat itu. Saat kau terluka dan aku tidak bisa menghiburmu…,” suara Ryeowook berubah lirih.

Di seberang sana Minrin mendengarkannya dalam diam. Satu persatu moment kebersamaan itu turut masuk dalam pikirannya. Dan Minrin masih ingat betul kejadian pelemparan itu. Kejadian yang bertepatan dengan masalahnya dengan Ryeowook-Hyukjae. Bukan masalah karena itu sebenarnya hanyalah sebuah rasa kecemburuan semata.

“….saat itu kau memutuskanku karena Lee Hyukjae,” Minrin menambahkan sesaat kemudian yang diikuti kekehan ringan dari Ryeowook.

“Aku tahu itu kekanak-kanakan. Kenapa kau melakukannya? Bersikap baik-baik saja dan menerima semuanya..” Ryeowook meneruskan pertanyaan yang sejak awal ingin ditanyakannya. Tentang kenapa seorang Shin Minrin tak pernah keberatan dengan gaya berkencan secara diam-diam dan bahkan harus bersikap seperti orang asing yang tidak kenal dengan Ryeowook. Padahal terkadang itu melelahkan untuknya dan juga menyakitinya.

“Apa yang sebenarnya kau tanyakan? Itu…karena kau adalah Super Junior Ryeowook. Kau memang berhak berkencan dengan siapapun tapi aku tahu kapan saja berita kencan itu bisa seperti bom waktu.”

“Karena kau tidak ingin menghancurkan karirku bukan?”

“Ya. Tentu saja.”

Ryeowook diam sebentar sebelum melanjutkan. “Kalau begitu, lakukan apa yang menurutmu bisa dilakukan untuk mengejar mimpimu.”

“Eh?” Minrin terdiam kemudian dengan ucapan Ryeowook barusan.

“Secara tidak langsung kau peduli dengan karirku. Itu juga berarti kau tidak ingin menghancurkan sesuatu yang sudah aku mulai sejak lama. Mimpiku dan karirku sebagai penyanyi.” Ryeowook menghentikkan ucapannya lalu tersenyum. Sekilas dia melihat wajah managernya yang juga ikut tersenyum di kaca spion. Sejak tadi pria itu pasti mendengarkan pembicaraan Ryeowook dan Minrin.

“Aku tidak ingin menjadi penghalangmu untuk mengejar mimpimu itu.” Ryeowook mengakhiri ucapannya. Dan kini keduanya diam. Ryeowook yang masih menunggu reaksi Minrin dan gadis itu yang mungkin tengah berpikir keras sekarang.

Ucapan Ryeowook barusan secara tidak langsung membuat jarak hubungan keduanya makin jauh. Tentu saja lagi-lagi tanpa kalimat kejelasan tapi memang seperti itulah.

“Dan itu berarti kau….”

“Aku melepaskanmu dan kita putus?” Ryeowook bertanya sambil tertawa pelan. Berpura-pura tertawa untuk meredam sesuatu yang entah kenapa berkecamuk dalam hatinya. Perasaan takut dan juga khwatir. Dia sadar betul konsekuensi dari ucapannya tadi.

“Ryeowook-ah, kau tentu tahu. Aku bicara padamu karena aku ingin mendengar pendapatmu. Aku tidak bisa memutuskan karena masih ada yang mengganjal sampai sekarang. Hubungan kita.” Nada suara Minrin berubah kesal.

Ryeowook kembali diam. Tentu saja dia mengerti.

“Hei, aku hanya mengutarakan pendapatku,” sahut Ryeowook kemudian yang langsung menyebabkan suara decakan singkat dari seberang sana. Gadis itu sedang kesal sekarang.

“Tapi….”

“Kau tahu aku masih mencintaimu,” Ryeowook memotong cepat ucapan Minrin yang sekali lagi membuat gadis itu kembali tidak bersuara.

“Yaa… pernyataan macam apa itu? Tsk.. baiklah, jadi kau setuju aku lebih lama di sini? Kau tahu, kau mengatakan itu berarti semakin lama pula hubungan kita menggantung seperti ini,” ucap Minrin masih dengan nada kesal di sana. “Kau benar-benar membuatku makin sulit, Ryeowook-ah.” Lirih Minrin setelahnya.

“Ayahmu ingin bertemu denganku akhir pekan ini,” sahut Ryeowook tiba-tiba.  Lagi, ucapan Ryeowook kembali membuat Minrin diam seribu bahasa. Jika mereka bertemu sudah pasti ekspresi terkejut yang akan diperlihatkan gadis itu.

“Apa?”

Ayahnya ingin bertemu dengan Ryeowook? Minrin tidak tahu siapa yang mencetuskan ide itu pada ayahnya tapi jelas ada sesuatu yang tidak biasa di sini. Setahunya, ayahnya tidak pernah meminta bertemu dengan pria manapun yang dekat dengan Minrin. Oh ya…dia lupa selama ini hanya ada dua pria yang diketahui ayahnya dekat dengannya. Pertama tentu saja Hyukjae dan kedua sudah pasti Ryeowook yang sejak tiga tahun lalu menjadi pria lain yang dekat dengannya. Selama nyaris 10 tahun dia bersahabat dengan Hyukjae, ayahnya tidak pernah secara pribadi ingin bertemu dengannya kecuali saat Hyukjae berkunjung ke rumahnya. Itu pun karena Minrin atau ibunya yang meminta. Dan sekarang untuk pertama kalinya ayahnya ingin bertemu dengan seseorang yang bisa dibilang orang yang teramat dekat dengan Minrin.

Bukan berarti dua orang itu belum pernah bertemu. Seingatnya Ryeowook pernah menyapa ayahnya saat mengantarnya pulang dan juga saat menjemputnya di rumah. Mungkin hanya tiga sampai lima kali selama tiga tahun ini dan setahu Minrin mereka berdua belum pernah terlibat pembicaraan lebih dari tiga puluh menit. Oke, ini sedikit membuatnya khawatir.

“Ayah ingin bertemu denganmu?” Minrin bertanya memastikan setelah sepersekian detik dihantam keterkejutan.

Ryeowook tersenyum sebentar sebelum wajahnya berubah kembali serius. “Ya.. menurutmu ini tentang apa? Aku belum pernah mengobrol banyak dengannya selama ini.”

“Dan kau menyetujuinya?”

“Tentu saja. Mana mungkin aku menolak ajakan ayah dari kekasihku?”

“Tapi kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu? Itu terdengar aneh. Ayahku bukan tipe orang seperti itu. Dia bahkan tidak pernah mengajak Hyukjae mengobrol secara pribadi.” Suara Minrin berubah menjadi penasaran sekaligus kesal karena ayahnya sama sekali tidak memberitahu apapun soal rencana itu.

Sementara itu Ryeowook hanya tertawa pelan. Dia membayangkan wajah Minrin yang berubah kesal dan setengah frustasi karena menghadapi kenyataan ini. Pastilah sangat lucu.

“Baiklah aku mengaku, bukan ayahmu yang mengajakku bertemu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya kemarin. Dia sepertinya sedang tertarik dengan bisnis industri musik dan aku menawarkan diri untuk berdiskusi tentang industri musik korea. Siapa yang menyangka dia justru mengajakku bertemu untuk bisa mengobrol banyak dan dia juga bilang ingin membicarakan sesuatu denganku.”

“Benarkah? Aku tidak tahu ayah melirik industri musik korea.” Minrin diam sesaat sebelum kembali melanjutkan. “Apapun itu, aku mengandalkanmu. Meskipun ini sedikit membuatku khawatir. Tapi  kau bisa melakukannya.”

“Melakukan apa?” tanya Ryeowook berpura-pura sesaat setelah mendengar nada kecemasan dari Minrin.

“Berbicara dengan ayahku. Maksudku ini kali pertama kalian akan terlibat sebuah pembicaraan dan diskusi. Dan karena dia ayahku sudah pasti kau merasa sedikit khawatir….mungkin.” Minrin mengakhiri ucapan penuh kecemasan itu dengan helaan nafas. Dan mau tidak mau itu membuat Ryeowook tertawa pelan.

“Hei, kenapa justru kau yang khawatir?. Kami hanya akan bicara bukan bertanding sesuatu yang mengerikan,” sela Ryeowook kemudian.

Jujur saja Ryeowook sempat merasakan kecemasan itu. Ini  pertama kalinya pria yang selama ini membesarkan gadis yang dicintainya itu akan berbicara empat mata dengannya. Tentu saja Ryeowook memikirkan banyak hal setelah mengiyakan permintaan itu.

“Mian..aku masih terkejut dan juga tidak mengerti dengan pemikiran ayahku. Baiklah…..,”

Suara gadis itu berhenti sebentar. Sepertinya dia tengah berbicara dengan orang lain di sana. Dan Ryeowook pun buru-buru menambahkan. “Waktumu habis ya? Kalau begitu kembalilah bekerja.”

“Ya. Kenapa 30 menit berjalan cepat sekali?” keluhnya sebelum menghela nafas panjang sekali lagi. “Baiklah kurasa ini saatnya mengakhiri obrolan ini bukan?”

Ryeowook tersenyum sebentar dan berdehem sebelum memanggil nama gadis itu sekali lagi dengan serius, membuat Minrin mengurungkan niat untuk menutup teleponnya lebih dulu.

“Minrin, selamat ulang tahun. Jangan kira aku lupa ulang tahunmu. Aku tahu di sana masih tanggal 17 tapi kau tentu tahu di sini sudah lewat tengah malam jadi aku ingin yang pertama mengucapkannya. Jaga kesehatanmu, hmm? Jangan terlalu banyak bekerja,” ujar Ryeowook serius dan juga tulus.

Sementara gadis yang tengah berada di New York itu hanya bisa menahan senyumnya dan dalam hati bersyukur Ryeowook tidak melupakan ulang tahunnya. Meskipun awalnya Minrin menelepon Ryeowook bukan untuk mendapatkan selamat ulang tahun dari pria itu tapi dia senang dan ucapannya barusan sukses menjadi sebuah mood maker untuk hari ini.

“Kau akan memberiku hadiah?”

“Aku belum memikirkannya. Mungkin aku akan melakukannya jika kau segera kembali untuk menemuiku,” godanya yang langsung disambut decakan singkat oleh Minrin.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa.”

“Hmm sampai jumpa.”

Terkadang tidak perlu saling bertatap muka dan melihat langsung ekspresi wajahnya, karena mendengar suara pun tidak terlalu buruk untuk menyehatkan kembali hati dari perasaan rindu.

***

CUT

Sudah lama sekali aku tidak nulis dan update di blog. Masih adakah yang ingin baca ffku? Hehe… oke, sebagai permulaan aku kasih Ryeomin story dulu ya. Ini masih kelanjutan yang kemarin-kemarin itu. Seperti yang aku bilang, masih akan ada drabble atau oneshoot tentang mereka yang ceritanya masih berhubungan dengan cerita sebelumnya.

Lalu untuk secret guard masih akan lanjut, tapi belum bisa dalam waktu dekat di publish. Terimakasih pada semua reader yang setia nungguin ff itu. Maaf belum bisa maksimal ngasih tulisannya buat kalian. L

Sampai jumpa di postingan selanjutnya ^^

Advertisements

7 thoughts on “(Ryeomin Story) 30 Minutes

  1. Wah ayahnya minrin mau ketemu sama ryeowook. Kira2 bahas apa ya mereka? Ikut penasaran. Berharap minrin cepet kembali ke korea 😀

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s