(Ryeomin Story) A Goodbye Kiss

(Ryeomin Story) A goodbye kiss

Title : A Goodbye Kiss

Ryeowook – Minrin

-Saat kau kembali dan ternyata tidak ada yang berubah maka memang tidak akan ada yang berubah diantara kita-

***

Minggu ketiga bulan Maret. Ya…sudah diputuskan Minrin akan bertolak ke New York pada minggu itu. Lebih cepat dari perkiraan dan tentu saja sedikit terburu-buru. Jika bukan karena ayahnya yang meminta, Minrin memilih pergi pertengahan musim semi nanti, sekitar bulan Mei tepat setelah acara kelulusannya. Tapi apa lagi yang bisa dilakukannya saat ada banyak pekerjaan yang menumpuk yang menunggunya di New York. Lagi-lagi tentang ayahnya. Sejak dulu dia memang tidak pernah bisa menolak permintaan ayahnya.

Dan tentu saja Ryeowook menjadi satu-satunya orang yang dibuat menyerah dengan keputusan gadis itu. Keputusan yang lagi-lagi disayangkannya. Dua kali sudah gadis itu memberinya berita mendadak macam ini. Setelah keduanya berbicara serius tempo hari dan berakhir pada keputusan mereka, maka sekarang Ryeowook harus menghadapi kenyataan bahwa kepergian gadis itu hanya tinggal menghitung hari. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Itulah yang perlu digaris bawahi.

“Aku minta maaf, tapi…,” Ryeowook hanya menghela nafasnya pelan saat Minrin mengatakan maksud kedatangannya sore itu di dorm Super Junior. Pria itu terdiam lalu lebih memilih bersender di dinding dengan kedua tangan menyilang di depan dada, membiarkan Minrin tetap berdiri dengan ratusan kalimat penyesalan yang memenuhi kepalanya. Kedua matanya tidak lepas sedikitpun dari gadis itu, memberinya kesempatan untuk kembali berbicara.

 “Ryeowook-ah…,” panggil gadis itu pelan saat menyadari Ryeowook sama sekali tidak berniat memberinya respon cepat. Ryeowook memang memberinya kesempatan bicara tapi dia sendiri tidak punya kata-kata untuk membalasnya. Dia memilih terus diam.

Minrin memperhatikannya. Jujur saja, Minrin benci jika melihat Ryeowook bersikap seperti ini. Mungkin terasa lebih baik ketika Ryeowook melontarkan penolakan atau keterkejutan seperti waktu itu, meskipun pada akhirnya pria itu tetap menerima keputusan Minrin. Sungguh rasanya sangat berbeda dan membuat Minrin makin menyesal karena memutuskan pergi lebih cepat.

“Katakan sesuatu, jangan hanya diam,” ujar Minrin akhirnya.

Ryeowook kembali menghela nafasnya. “Tidak ada yang perlu aku katakan kan? Jadi kapan kau pergi? Senin depan?” potong Ryeowook pelan dengan nada sedikit kesal. Dia masih menatap wajah Minrin yang sarat akan rasa bersalah itu.

Minrin menunduk lalu mengangguk kecil. “Ya, aku akan kembali untuk wisuda Mei mendatang,” Minrin menjawab dengan pelan pula.

Ryeowook diam sebentar, mengontrol emosinya yang seakan-akan sedang dipermainkan. Dia tidak tahu kenapa bisa sekesal ini sekarang. “Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Kenapa kau selalu memberi kejutan seperti ini, ha?” tanyanya dengan ekspresi kurang puas.

Ini kedua kalinya Minrin membuat Ryeowook seperti ini. Pertama saat Minrin mengatakan akan pergi ke New York dan adanya kemungkinan untuk menetap di sana, lalu kedua kalinya adalah sekarang ini, saat gadis itu mengatakan akan pergi minggu depan. Rasanya Ryeowook ingin berteriak pada gadis itu dan meluapkan kemarahan serta kekecewaanya. Seakan-akan gadis itu tengah bermain-main dengannya.

“Maafkan aku. Aku mengacaukan semuanya.” Minrin menunduk dan diam-diam menghela nafasnya pendek.

“Kau memang mengacaukan semuanya,” sahut Ryeowook cepat yang langsung membuat Minrin diam.  “Bisakah, untuk kali ini kau bicara pada ayahmu? Setidaknya kau beri aku ruang untuk sedikit bernafas setelah rencana kepergianmu ke New York.” Ryeowook benar-benar hampir berteriak saat mengatakannya.

Mungkin egois, tapi tidak bisakah gadis itu memberinya waktu untuk sekedar mempersiapkan kata-kata perpisahan?

Minrin kembali menunduk. Dia memang mengacaukan semuanya. Mengacaukan perasaan pria itu dan juga orang-orang disekitarnya. Rencana pergi ke New York yang mendadak belum berhenti menjadi topik pembicaraan teman-teman groupnya. Mereka bahkan sesekali meminta Minrin untuk mempertimbangkannya lagi. Lee Hyukjae juga melakukan hal serupa, dan tentu saja orang yang paling dikhawatirkan Minrin adalah Ryeowook. Meskipun pria itu tidak pernah lagi membujuknya untuk bicara pada ayahnya terkait kepergiannya ke New York, tapi Minrin tahu sampai detik ini pun Ryeowook belum sepenuhnya menerima keputusannya. Mereka berdua memang telah memutuskan, tapi Ryeowook jelas masih berat hati melakukannya. Terlihat jelas di wajahnya yang sejak tadi menahan kuat untuk tidak berubah emosi.

Keduanya diam setelah itu, berkutat dengan pikiran masing-masing.

Mian….” Minrin yang bersuara kemudian. Gadis itu sedikitpun belum mengangkat kepalanya, sementara Ryeowook terus saja menatap ke arahnya.

“Apa aku orang terakhir yang tahu?” tanya Ryeowook melunak pada akhirnya.

Minrin menggeleng pelan, “Ran eonnie dan yang lainnya sudah tahu. Aku datang untuk berpamitan dengan Hyukjae dan lainnya lalu setelah itu aku akan menemui teman-temanku.”

Ryeowook kembali menghela nafasnya lemah. Pria itu rasanya ingin mengacak rambutnya dengan kesal. “Baiklah….,” lanjutnya kemudian saat berhasil mengontrol emosinya dengan memejamkan matanya sebentar. “Aku tidak ingin kita bertengkar saat kau pergi nanti,” ucapnya mengalah.

Minrin mendongak. Dia menatap Ryeowook. Ada rasa kelegaan dan juga kekhawatiran akan hal lain secara bersama. Lega karena Ryeowook kembali mengalah untuk tidak berdebat dengannya dan khawatir karena mungkin setelah ini Minrin tidak akan berjumpa dengan pria itu dalam waktu yang lama. Atau mungkin saja setelah ini akan ada yang berubah diantara mereka. .

“Aku akan kembali Mei mendatang”

“Aku tahu itu” Minrin tersenyum tipis. “Dan kau juga tidak perlu mengantarku ke bandara.”

“Aku memang tidak akan melakukannya,” balas Ryeowook cepat.

Lalu keduanya terjebak dalam moment saling bertatapan dalam waktu yang lama. Tindakan yang disesali Ryeowook, karena dia kembali merasa ingin menahan gadis itu untuk tidak pergi. Ryeowook mengulurkan tangannya pelan dan Minrin tanpa ragu meraihnya, berjalan mendekat ke arahnya.

“Ryeowook-ah, bisakah kita….”

Belum sempat Minrin menyelesaikan kata-katanya Ryeowook dengan pelan sudah menariknya lebih dekat, menangkup wajahnya di kedua sisi dan menutup bibir itu dengan sebuah ciuman yang manis. Pria itu tersenyum setelah menyapukan bibirnya di permukaan bibir gadis itu. Tidak lama karena setelah itu Ryeowook kembali menarik pinggang gadis itu dan memiringkan kepalanya untuk sekali lagi mencium bibir itu. Mungkin untuk terakhir, tapi Ryeowook benar-benar tidak berharap demikian.

Untuk pertama kalinya Minrin meneteskan air mata karena ciuman itu. Selama tiga tahun hanya sekali dia pernah menangis karena Ryeowook. Saat dimana pria itu memutuskan berpisah darinya. Dan sekarang untuk kedua kalinya dia terisak sedih karena pria itu. Seperti kembali ke masa lalu, saat dia mengingat masa-masa yang dilewatinya tanpa Ryeowook. Kejadian itu seakan terulang kembali. Tapi sekarang ini bukanlah perpisahan yang seperti itu melainkan keadaan yang memaksa mereka untuk berpisah.

Minrin membuka matanya saat Ryeowook melepaskan ciuman itu dengan enggan. Pria itu menatapnya lagi dengan dalam dan perlahan menghapus setetes air mata yang berhasil lolos dari kantung mata Minrin.

“Biasanya kau pasti akan melarangku mengatakan ini, tapi biarkan aku mengatakannya.” Minrin mengernyit sebentar.

“Aku mencintaimu, Minrin-ya.”

Minrin tidak mengatakan apapun setelahnya dan langsung membalasnya dengan sebuah pelukan, menyembunyikan kepalanya di leher pria itu dan terus memeluknya dengan erat.

Ya, dia selalu anti mendengar kalimat pernyataan cinta itu dari Ryeowook. Bukan karena tidak suka, tapi karena dia merasa akan kehilangan moment mengharukan yang membahagiakan jika Ryeowook berulang kali mengatakannya. Seperti sesuatu yang sering diucapkan dan perlahan terasa hambar dan tidak berarti. Seperti itulah. Karena itu Minrin selalu melarang Ryeowook mengucapkan hal macam itu terlalu sering.

Dan sepertinya larangannya selama ini berguna karena saat ini dia merasa sangat senang sekaligus terharu ketika Ryeowook mengucapkan kalimat cinta itu. Seperti kembali dimasa tiga tahun yang lalu saat keduanya dengan canggung mengutarakan perasaan masing-masing.

***

Monday, SJ dorm

“Ryeowook-ah kau masih di sini?” pertanyaan Lee Hyukjae yang menyapa Ryeowook pagi harinya menjadi satu-satunya pengingat akan kepergian Minrin. Ryeowook hanya menoleh sebentar dan tentu saja dia tahu apa maksud Hyukjae.

Penerbangan gadis itu ke New York pagi ini jam 9. Dan seperti katanya kemarin bahwa Ryeowook tidak akan mengantarkan gadis itu. Bukan karena dilarang oleh Minrin tapi sejak awal Ryeowook memang tidak berencana untuk melakukannya. Dia tidak mau membuat kepergian Minrin ke New York seperti sebuah perpisahan yang sangat lama karena keduanya sudah pasti akan sulit mengucapkan selamat tinggal nantinya.

“Jadwalku dimulai jam 10 nanti,” jawab Ryeowook tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannnya dari layar ponsel.

“Kau tidak mengantar Minrin?” Hyukjae mengernyit, mengambil tempat duduk di samping Ryeowook dan menatapnya heran. “Penerbangannya pagi ini kan?”

“Aku sudah bilang tidak akan mengantarnya.” Lagi-lagi Ryeowook menjawab dengan asal, membuat Hyukjae berdecak kecil sembari menggelengkan kepalanya tidak mengerti.

Tsk…. kau benar-benar putus dengannya ya? Kim Ryeowook, kau ingat kan apa yang aku katakan?” tanya Hyukjae dengan nada mengancam membuat Ryeowook akhirnya melepaskan perhatiannya dari ponsel barunya.

Ryeowook menoleh setelah menghela nafasnya pelan. “Aku tahu, Hyung!”

“Lalu?”

“Lalu…tentu saja aku tidak menyakitinya. Itu keputusanku dengannya,” jawab Ryeowook tak jelas membuat Hyukjae menatapnya bingung.

“Jadi kau putus dengannya?”

Lee Hyukjae memang tidak ingin melihat sahabatnya menangis dan tentu saja Ryeowook sama sekali tidak berencana melakukan hal itu pada Minrin. Menyakiti gadis itu adalah hal terbodoh yang kemungkinan besar tidak akan dilakukannya.

“Apa aku tadi mengatakan hal macam itu?” Ryeowook balik bertanya dengan kesal.

 “Yaa, Aku hanya bertanya. Lagipula kalian sudah terlalu lama bersama, meskipun ini sangat mendadak tapi keputusan untuk putus adalah hal yang gegabah. Jangan membuat kesalahan serupa, euhmm?”

“Tsk..kami tidak putus, Hyung!” Ryeowook mendesis sedikit kesal karena sejak tadi Hyukjae tidak juga mengerti dengan ucapannya.

Jinjja? Ah…baguslah kalau begitu. Kupikir kalian putus. Ya, aku tahu ini berat untuk kalian. Apalagi Minrin sama sekali tidak bisa memastikan kapan akan kembali.”

Ryeowook terdiam. Mereka berdua memang tidak putus tapi juga tidak saling mengikat. Ryeowook tersadar ketika Hyukjae tengah menepuk pundaknya pelan. “Bersabarlah untuknya, dia pasti akan kembali,” ucapnya sambil tersenyum menyemangati.

Ryeowook balas tersenyum. Tentu, gadis itu harus kembali.

***

Incheon Airport,

Minrin melangkah dengan yakin sembari menyeret koper besarnya di bandara Incheon. Tentu saja dia berat hati meninggalkan Korea, tapi dia akan memastikan untuk kembali nanti. Tidak ada perpisahan mengharukan di bandara pagi itu. Dia memang melarang beberapa orang yang berniat pergi mengantarkannya. Karena entah kenapa dia akan merasa semakin berat hati saat melihat orang-orang yang sangat disayanginya. Sudah cukup perpisahan dengan teman-teman satu groupnya semalam, dan kemarin dia sudah banyak menghabiskan waktu bersama Ryeowook.

Gadis itu sampai di ruang tunggu dan tengah mengecek ponselnya. Ada sebuah pesan dari Ryeowook yang tentu saja langsung membuatnya tersenyum selesai membacanya.

Girrafe Oppa

Berhati-hatilah. Sampai jumpa bulan Mei –

***

CUT

Pertama-tama maaf karena belum bisa posting Secret Guard dan baru bisa kasih Ryeo-Min story lagi. Ini masih kelanjutan yang kemarin.

PKL bulan ini benar-benar melelahkan sampai-sampai nggk punya waktu buat nulis ): jadi mohon maaf kalau aku jadi lama updatenya. Mungkin sampai bulan April atau Mei. Dan itulah kenapa aku bikin Ryeo-Min pisah bentar dan ketemu lagi bulan Mei, karena sepertinya dua bulan ini aku masih sibuk dengan PKL dan juga penelitian. J

Aku tidak bisa menjanjikan kapan posting Secret Guard, bisa di bulan ini, bisa di bulan depan atau bulan depannya lagi. Silahkan menunggu bagi yang masih ingin baca kelanjutannya. Dan untuk Ryeo-Min story, masih ada kelanjutan dari rentetan drabble yang akhir2 ini aku posting. Silahkan juga ditunggu bagi yang penasaran. Terimakasih ^^

Advertisements

8 thoughts on “(Ryeomin Story) A Goodbye Kiss

  1. sedih ryeomin berpisah..hihihi…sdih jg updatenya bakalan lama..ak sll nunggu crtamu..trutama yg secret guard.hihihi….suka bgt ma tu crta…pkoke yg ada ryeowooknya ak sll sukaaa…trutama yg crime.hihihi..sukses bt pklnya…smg bs smbil nulis jd updatenya g lama2.hehehee..gomawo

  2. Comentku barusan kok g msuk y?hehee…ak suka bgt crta ttg ryeomin ini.sdih mreka hrs pisah.lbh sdih jg soalnya updatenya bakalan lama…ak sll nunggu crtamu..trutama yg secret guard.suka bgt ma itu.hehee…smg pplnya sgera dlese..dn smg bs sambil nulis biar updatenya cepet.dtunggu yak..gomawo.

  3. Bakal lama ya post nya?? Sedihh T.T
    .
    Tapi ya udahlah. Lama nggak papa asalkan masih tetep dilanjut hehehe… Setia nunggu kelanjutan ffnya 🙂

  4. Gantung hubungan nya ?? Putus tidak, sailing mengikat juga tidak. Haish, Saya yg baca seolah” Saya yg berada di posisi minrin. Ok lah. Next story aja biar gk bgtu galau gara” nih cerita. Ya seengganya bisa tau kelanjutan hubungan mereka seperti apa.
    Next ya eonn. Hehehe…

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s