(Ryeomin Story) Decision (?)

Decision

Title : Decision (?)

Ryeowook – Minrin

***

Pintu apartement itu masih tertutup rapat meski Ryeowook sudah menekan bel berulang kali. Sebenarnya dia bisa saja langsung masuk mengingat dia sudah hafal password apartement itu di luar kepala. Tapi alih-alih menggunakan keuntungan karena mengetahui passwordnya, Ryeowook memilih menunggu si empunya rumah keluar dan membukakan pintu untuknya. Bukan apa-apa, hanya saja pertemuan terakhirnya dengan gadis itu tidak terlalu baik dan keduanya hampir bertengkar hebat dan sejak saat itu keduanya tidak lagi saling memberi kabar.

Semua masih tentang keputusan Minrin yang akan menetap di New York. Ryeowook yang belum bisa memutuskan apakah menerima atau tidak serta Minrin yang seakan-akan bersikeras bahwa Ryeowook tetap harus menerima keputusannya. Sebenarnya Ryeowook tetap akan menerima keputusannya. Tidak ada yang bisa diperbuatnya. Kepemilikannya atas gadis itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tuan Shin Taewoo. Permasalahan yang sebenarnya bukanlah menerima atau tidak, mengijinkan atau tidak tapi masalah yang sebenarnya adalah berpisah ataukah tetap bertahan.

Pilihan yang tentu saja harus diputuskan. Bukan oleh salah satu diantara mereka tapi oleh keduanya.

Awalnya Ryeowook sangat yakin mereka berdua akan bertahan lama. Masalah Minrin yang terlalu sering tertarik dengan pria lain bukanlah sesuatu yang bisa menghancurkan hubungan selama tiga tahun itu, karena Ryeowook tahu kepada siapa gadis itu memberikan hatinya. Dia memang tidak mau percaya diri, tapi seperti itulah kenyataannya. Yang Ryeowook tahu sebanyak apapun pria tampan yang disodorkan di depan Minrin selama ini tidak pernah membuat gadis itu benar-benar berpaling darinya. Dan tentu saja masalah Ryeowook yang kadang juga memberi perhatian kelewat lebih pada teman-teman wanitanya bukan pula menjadi hambatan. Bisa dibilang keduanya sudah saling mengerti dan juga menghargai.

Masalah jarak dan waktu juga bukan penghalang. Mereka terbiasa tidak saling bertemu selama satu atau dua bulan. Intesitas pertemuan yang tidak terlalu sering juga bukan masalah. Mereka hanya belum tahu seberapa besar mereka akan bertahan saat keduanya terpaksa dipisah jauh selama waktu yang sangat lama atau bahkan tidak bisa ditentukan sampai kapan. Rasa percaya yang terbentuk karena saling mengerti dan juga menghargai pun bisa luntur begitu saja. Karena tidak ada yang tahu selain Tuhan tentang kehidupan ini akan seperti apa.

Ryeowook mulai bersender di dinding setelah tangannya menekan bel untuk kelima kalinya dan belum ada tanda-tanda Minrin akan membukakan pintu. Apa gadis itu masih diluar? Pertanyaan itu mulai mengganggunya. Sampai akhirnya suara derap high heels yang berjalan teratur ke arahnya menarik perhatiannya. Ryeowook mendongak dan melihat Minrin sudah berdiri dua langkah darinya.

Penampilan gadis itu berbeda jauh dari biasanya. Celana kain berwarna hitam, kemeja putih yang terlihat longgar dan high heels hitam menjadi penampilannya. Bukan sosok Shin Minrin yang biasa Ryeowook lihat, tapi seorang wanita dengan karirnya yang entah kenapa mendadak asing di mata Ryeowook.

“Kau menungguku?” pertanyaan dari bibir Minrin terlontar menyadarkan Ryeowook yang sejak tadi diam terpaku melihat kehadirannya.

“E..eoh…”

Minrin menunduk sebentar, menarik nafasnya diam-diam lalu berjalan maju. Tangannya dengan lincah memasukkan password apartementnya dan seketika itu bunyi akses diterima terdengar. Dia tidak menyangka keduanya akan saling bersikap canggung seperti ini. Apalagi saat melihat Ryeowook menunggunya di depan pintu dan bukannya masuk sendiri seperti biasanya. Dan mendadak ada yang berbeda diantara mereka. Entahlah…semua seperti tidak lagi sama.

Di dalam ruangan tamu bernuansa putih itu Ryeowook hanya berdiri diam, membiarkan Minrin masuk ke dalam dapurnya. Biasanya Ryeowook akan merasa seperti di rumahnya sendiri. Tapi entah kenapa dengan sekarang tidak. Beberapa saat setelah itu, Minrin kembali dengan dua buah orange juice di tangannya. Lalu seakan tidak menerima perintah, Ryeowook pun menghampiri gadis itu dan duduk di depannya.

“Kau sudah memikirkannya. Karena itu kau datang,” entah itu sebuah pertanyaan ataukah pernyataan karena Ryeowook benar-benar gagal membaca nada suara gadis itu.

“Aku tidak ingin kau memutuskan sendiri dan aku pun tidak ingin melakukan hal itu.” Ryeowook mengangkat kepalanya lalu menatap gadis di depannya itu. Minrin membalas tatapannya

Entah bagaimana keduanya bisa seapik itu menyembunyikan perasaan masing-masing. Jelas keduanya berada dalam situasi dan keputusan yang sulit.

“Kau ingin pergi dan aku tidak mungkin pergi. Sebenarnya semua mungkin akan baik-baik saja seperti katamu tapi kita tahu tidak semudah itu.” Ryeowook mulai bicara.

“Dan resikonya kita…putus, benarkan?” Minrin menambahkan dan diikuti anggukan kepala oleh Ryeowook.

Seperti itulah masalahnya. Hubungan jarak jauh tidak semudah dalam bayangan. Mungkin bagi sebagian orang itu bukan masalah. Nyatanya banyak yang bisa melewatinya. Tergantung seberapa besar cinta yang dimilki pada pasangannya. Seperti itulah tanggapan sebagian orang. Tapi bahkan dalam sebuah hubungan cinta saja tidak cukup. Dan sebenarnya bukan masalah cinta yang diragukan Ryeowook ataupun Minrin. Bukan pula tentang rasa percaya satu sama lain. Tapi tentang bagaimana keduanya menghandle perasaan masing-masing.

“Jadi, kau ingin yang mana?” tanya Minrin kemudian. Ryeowook mengernyit karena baginya pertanyaan yang diucapkan Minrin itu sangat konyol.

Jika ada pilihan untuk menahan gadis itu tetap di Korea, maka Ryeowook akan memilih yang itu. Tapi pilihan itu tidak ada.

“Kau tetap bersikeras ingin tahu pilihanku?” Minrin mengangguk pelan. “Kau sendiri, mana yang menurutmu penting dan menurutmu pantas dipilih?” tanya Ryeowook balik menantang.

“Aku yang pertama bertanya, Ryeowook-ah,” sahut Minrin sedikit kesal karena sepertinya Ryeowook sama sekali tidak memberikan jalan keluar apapun.

“Dan aku bilang tidak ingin memutuskan sendiri.” Ryeowook kembali membalas, hingga membuat keduanya diam setelah itu. Saling bertatapan dengan suara jarum jam yang tiba-tiba berdetak nyaring di ruangan itu.

Minrin menarik nafasnya panjang, berusaha mengisi penuh-penuh paru-parunya. Dia khawatir akan terasa sesak setelah ini. “Aku tetap harus pergi dan ….”

“Dan aku tidak mungkin menyuruhmu tinggal.” Ryeowook melanjutkan.

Mata Minrin mulai panas. Demi Tuhan penglihatannya mulai mengabur karena genangan air mata yang sialnya lebih banyak dari yang dia kira. Dan tentu saja pilihannya hanyalah bertahan atau berpisah. Dia tidak punya pilihan untuk tidak pergi, karena sejak awal memang tidak ada pilihan itu.

Detik berikutnya, Minrin kembali menarik nafasnya, menahan kuat-kuat air matanya untuk tidak tumpah membanjiri wajahnya.

“Kau ingin kita berpisah atau tetap melanjutkan hubungan ini?” akhirnya Ryeowook lah yang pertama mengutarakan pilihan itu. Minrin mendongak, menatap pria itu dalam diam.

Sejak awal pilihannya adalah itu. Tidak ada yang lain.

Jika memilih berpisah, jelas pilihan itu hanya akan melukai keduanya. Tapi memilih melanjutkan hubungan bukan tidak mungkin memberikan efek serupa. Mungkin efeknya justru lebih hebat.

“Aku tidak bisa memastikan kapan akan kembali.” Setiap tarikan nafas yang dilakukan Minrin menjadi susah. Dan ini sudah sekian kalinya dia menarik nafas panjang.

Ryeowook sekali lagi memberikan tatapannya pada gadis itu. Ekspresi pria itu sama bingungnya dengan Minrin. Tapi kemudian dia tersenyum. Dia tahu Minrin tidak ingin memilih pilihan pertama begitu pula dengannya.  Tapi tentu saja mereka tahu apa yang akan terjadi jika memilih pilihan kedua. Karena sebenarnya pilihan kedua bukanlah penyelesain masalah.

“Bisakah tidak ada kata berpisah? Tapi juga tidak ada kata tetap bertahan. Aku khawatir tidak bisa memenuhinya,” ucap Minrin kemudian. Kedua siku gadis itu bertumpu di pangkuannya sementara kepalanya sedikit menunduk saat berusaha menghapus genangan air matannya.

“Kau tidak bisa berjanji akan kembali, karena itu kau mengatakannya.” Ryeowook meluruskan dan Minrin mengangguk kecil.

“Mianhae, aku tahu ini egois…,” lirihnya.

Iya benar, sangat egois. Bahkan Ryeowook sendiri jika dimintai saran dengan kasus seperti itu, sudah pasti dia akan menyarankan untuk berpisah. Tapi masalahnya adalah tidak ada yang meminta saran padanya dan dia sendirilah yang sedang menghadapi kasus seperti itu. Dan sudah pasti dia dilema, karena bagaimanapun dia masih sangat menyayangi gadis itu.

“Aku lebih suka membiarkan takdir yang menentukan.” Ryeowook berdiri menghampiri Minrin dan berlutut di depannya. Tangannya terulur menyentuh kepala gadis itu dan memintanya untuk melihat ke arahnya.

“Aku…,” belum sempat Minrin menyelesaikan kalimatnya, Ryeowook lebih dulu menutup bibir gadis itu dengan bibirnya lembut.

“Dan kita bisa tetap seperti ini. Kita hanya perlu menjalaninya,” ucap Ryeowook setelah melepaskan ciumannya. Pria itu tersenyum.

“Tapi ini tidak adil untukmu. Seakan-akan aku hampir melepaskanmu tapi sebenarnya aku tidak ingin,”

“Lalu kau ingin kita berpisah?” tanya Ryeowook. Minrin diam lagi.

Ryeowook masih menunggu jawaban gadis itu tapi Minrin tetap diam. Dan akhirnya Ryeowook lah yang kembali bereaksi dengan menarik gadis itu dalam pelukannya.

“Pergilah…, saat kau kembali dan ternyata tidak ada yang berubah maka memang tidak akan ada yang berubah diantara kita.”

Ryeowook menghentikkan ucapannya ketika Minrin membalas pelukannya dengan erat.

“Maafkan aku, Ryeowook-ah….”

***

CUT

Sebelumnya, maaf karena belum bisa posting Secret Guard. Mungkin besok tapi lihat kondisi juga, hehe… dan berhubung minggu depan tempat praktek PKL ku sudah pindah (Lebih jauh dr sebelumnya), jadi mohon maklum kalau updatenya lama. Semoga di bulan April bisa kembali sering update.

Sebagai gantinya aku kasih Ryeomin story lagi, masih kelanjutan yang kemarin. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian. Terimakasih ^^

Advertisements

6 thoughts on “(Ryeomin Story) Decision (?)

  1. aduh gg tau deh mau comment apa lagi, kata – kata ryeowook di akhir tadi bener bener buat galau kalo difikirkan hahahaha 😀 lanjut eonn !!

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s