(Ryeomin Story) The Problem

The Problem

Title : The Problem

Cast : Ryeowook – Minrin

 ***

Plusjun studio menjadi tujuan Minrin selanjutnya. Ada pemotretan untuk majalah Style bulan depan yang harus dijalaninya. Gadis berambut coklat panjang itu terlihat tidak seperti biasanya. Rasa lelah tergambar jelas di wajahnya. Bukan…bukan rasa lelah karena pekerjaan yang menuntutnya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi rasa lelah karena beban pikiran yang nyaris membuatnya gila satu bulan terakhir.

Ia baru saja menyelesaikan pertemuan penting di perusahaan ayahnya pagi tadi sebelum akhirnya meluncur ke daerah Yeoksam sekarang ini. Rutinitas seperti itu bukan kali ini saja dilakukannya. Terhitung sudah lima minggu sejak pertama kali ia diperkenalkan di depan para pemegang saham. Selama itu pula ia diharuskan hadir di setiap rapat dan juga menjalani pekerjaan lainnya selain sebagai model. Rutinitas yang tentu saja membuatnya lelah. Kepalanya bahkan terasa berdenyut sejak keluar dari gedung perusahaan ayahnya itu. Dan semua kalimat ayahnya serta beberapa petinggi perusahaan tadi kembali berputar dan membuatnya semakin pusing.

Shin Minrin yang merupakan anak pertama sudah harus mulai diberi tanggung jawab mengenai perusahaan keluarga. Itulah perkataan pamannya waktu itu yang ternyata ditanggapi serius oleh ayahnya. Minrin jelas tidak pernah berpikir seperti itu. Lagipula ia baru saja menyelesaikan skripsinya dan sekarang tinggal menunggu wisuda. Setelah itu semua, Minrin sudah berpikir untuk fokus pada karir model dan mungkin menerima tawaran drama yang dulu pernah ditolaknya. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata ayahnya merencanakan hal lain untuk hidupnya. Menjadi penerus perusahaan.

Minrin mulai menguap ketika mobil yang dikendarainya berhenti di depan sebuah gedung sederhana dengan tulisan Plusjun studio di depannya. Ia benar-benar lelah. Jika seperti ini ia menyesal tidak mengikuti saran ibunya untuk memiliki seorang asisten yang mungkin akan sangat membantu mengatur jadwalnya kali ini. Karena ia merasa bukan artis meskipun dia sendiri masih member sebuah girlgroup bernama dBrinds. Tapi groupnya itu sudah lama vakum dan manajemennya sepertinya tidak berencana untuk mempromosikan mereka lagi. Jadilah setiap membernya mempunyai kegiatan individu. Mereka yang merupakan vokalis didebutkan sebagai soloist, lainnya yang kebetulan punya kemampuan akting menjadi seorang aktris musical. Dan entah bagaimana bagiannya sekarang adalah sebagai seorang model. Ya…mungkin itulah keberuntungan mempunyai wajah yang cantik, meskipun Minrin sendiri menolak jika disebut cantik.

Tentu saja ia tidak pernah berencana menjadi seorang model. Bergaya di depan kamera, itu semua bukan kesukaannya. Dia bahkan agak benci menjadi obyek pengambilan gambar. Setidaknya pekerjaan menjadi model majalah tidak terlalu banyak menyita waktunya, hingga dia bisa fokus untuk menyelesaikan kuliah. Mungkin itulah alasannya tetap bertahan. Tapi sungguh ia juga tidak pernah berencana meneruskan perusahaan ayahnya. Entahlah, memang terlalu rumit tapi jelas keduanya bukan pilihan Minrin. Lalu sekarang terpaksa kedua hal itu dijalaninya secara bersamaan.

Seorang wanita bernama Park Sekyung yang dua tahun lebih tua darinya menyambutnya siang itu. Kacamata dengan frame tebal berwarna coklat dan sebuah pen serta papan penuh dengan kertas berada di tangannya. Terlihat sekali bahwa wanita itu tengah sibuk. Wajahnya yang semula tampak sedikit frustasi mendadak menjadi sangat lega saat melihat Minrin masuk ke dalam bangunan bercat coklat itu.

“Kau terlambat hampir tiga puluh menit. Aku hampir mengganti dengan model lain tadinya.” Wanita tadi mengeluh serta tidak sabaran, membuat Minrin hanya bisa tersenyum.

“Maafkan aku eonni. Ada hal yang harus aku selesaikan tadi.”

“Pekerjaan dari ayahmu lagi?” tanya Sekyung seakan sudah sangat hafal apa kegiatan modelnya yang satu itu.

Minrin mengangguk dan berjalan mengikuti wanita tadi dari belakang.

“Seharusnya kau mencari manajer. Apa perusahaanmu tidak memberimu manajer?”

Lagi Minrin hanya tersenyum. “Tentu saja ada tapi mereka sibuk mengurusi kegiatan teman-teman groupku yang lain. Lagipula aku lebih suka melakukannya sendiri.”

“Hmm…aku tahu. Dengan begitu kau akan lebih mudah bertemu dengan Ryeowook-ssi, iyakan?” Sekyung terkekeh saat mengatakan itu membuat Minrin mau tidak mau hanya menahan senyumnya.

Kim Ryeowook. Pria itu bahkan sudah sekian lama tidak ditemuinya.

“Jangan menggodaku. Aku bahkan belum bertemu dengannya lagi sejak desember tahun lalu.”

“Kau bercanda?” Sekyung membuka sebuah pintu dan sampailah mereka di sebuah ruangan yang telah di set dengan warna putih. Sebuah tanaman hias tinggi dan lukisan abstrak menjadi satu-satunya properti di sana. Terlihat ada lima orang yang telah bersiap untuk memulai pengambilan gambar hari ini.

Minrin menghentikkan langkah kakinya di samping wanita tadi. “Setahuku kau sudah sangat lama berkencan dengannya tapi aku heran kenapa kalian belum tertangkap dispact sampai sekarang.”

Minrin terkekeh pelan mendengar penuturan itu. Ya…mereka berdua pasti sangat beruntung. Tiga tahun bersama dan tiga tahun pula mereka menyembunyikan hubungan itu. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain berkencan secara diam-diam? Kekasihnya adalah idol dari group yang terkenal tidak hanya di Korea, tentu saja mereka harus berhati-hati. Meskipun sebenarnya keduanya tidak pernah masalah jika hubungan mereka ini sampai terkuak.

 “Karena kami sama-sama sibuk dan jarang bertemu.”

Itulah masalahnya. Intensitas pertemuan yang tidak terlalu sering seperti kebanyakan kekasih menjadi salah satu alasan kenapa para pencari berita itu belum juga mengetahui hubungan mereka.

Park Sekyung menoleh lalu tertawa kecil. “Kurasa kalian punya tempat rahasia untuk bertemu seperti pasangan-pasangan lainnya. Banyak idol yang berkencan diam-diam dan pergi ke sungai Han di malam hari.  Apa kau salah satunya?”

“Tidak. Tentu saja tidak. Itu benar-benar bukan gayaku, eonnie,” sergah Minrin cepat membuat Sekyung kembali tertawa.

“Ya…aku pikir Ryeowook-ssi juga tidak akan melakukan itu.” Sekyung mulai mengajak Minrin ke ruang rias. Di dalamnya sudah bersiap seorang wanita lain yang akan merias wajahnya. Sementara itu Sekyung terlihat sudah menarik-narik beberapa gaun berwarna putih yang akan dijadikan kostum pemotretan kali ini. “Bagaiman dengan ini?” dia mencocokan gaun berwarna putih selutut di depan Minrin, memperhatikan sejenak lalu tersenyum puas. “Okay, kau pakai yang ini dulu,” ucapnya.

Minrin hanya mengangguk dan menerima gaun itu dari tangan Sekyung. Sementara wanita itu kembali sibuk dengan sesuatu, meninggalkan Minrin yang harus duduk di depan cermin besar.

***

Tidak sepenuhnya apa yang direncanakan akan sesuai dengan keinginan. Minrin mengerti itu. Sejak keputusan ayahnya semua memang tidak lagi sejalan seperti keinginannya. Dan sepertinya ketidaksejalanan itu juga akan terjadi pada hubungannya dengan pria yang tadi dimaksud Sekyung.

Entah bagaimana Minrin akan mengatakan pada Ryeowook tentang rencana tak terduga yang sepertinya terpaksa dijalaninya. Dia belum menemukan alasan menolak keinginan ayahnya untuk menjadi seseorang yang berperan penting di perusahaan. Dunia hiburan, karir model jelas bukan alasan yang tepat. Ayahnya tahu, Minrin tidak terlalu berminat di keduanya.

Sudah hampir sejam sejak pemotretan pertama dimulai, kini Minrin sudah berdiri di antara lampu terang yang meneranginya lagi dengan gaun kedua. Konsep kali ini adalah pernikahan dan sekarang gaun putih panjang tanpa lengan menjadi penampilannya. Rambut bagian sampingnya sedikit diangkat ke atas dengan hiasan bunga, memperlihatkan tulang rahangnya. Semua orang tidak akan menyangka bahwa gadis yang biasanya cuek tentang penampilan bisa berubah menjadi seorang bidadari cantik seperti itu.

Minrin tidak pernah banyak berekspresi saat difoto, itulah ciri khas yang dipunyainya. Menurut fotografer yang sering bekerjasama dengannya, ekspresi datarnya itu sangat menarik. Dia terlihat tersenyum, tapi tidak benar-benar tersenyum dan membuat ekspresinya menjadi sangat tegas. Bahkan saat difoto dengan gaun pengantin itu pun Minrin tidak banyak tersenyum, tapi foto hasil jepretan sang fotografer benar-benar terlihat cantik dan elegan. Sangat terlihat sisi kecantikan yang keluar darinya.

Meskipun semua orang selalu mengatakan dia sangat cocok menjadi seorang model, tapi pekerjaan itu tetap bukan sesuatu yang diinginkannya begitu pun menjadi seorang penerus perusahaan.

Pengambilan gambar selesai untuk bagian kedua itu dan akan dilanjutkan setelah makan siang. Sebuah kejutan bagi Minrin karena ternyata mendapat kunjungan dari Ryeowook siang itu. Dia tidak merencanakan ataupun menyuruh Ryeowook untuk datang karena Minrin tahu pria itu tengah sibuk dengan kegiatan individunya. Seorang wanita yang menjadi penata rias memanggilnya dan menggodanya.

“Aku benar-benar iri padamu. Dia pasti sudah berencana datang di sela-sela kesibukannya. Cepat temui dia…” wanita itu tersenyum membuat Minrin mau tidak mau ikut tersenyum.

“Beritahu aku jika pemotretannya dimulai lagi.”

Wanita tadi mengangguk dan tanpa banyak bicara Minrin meninggalkannya, dia bahkan sedikit tergesa dengan gaun pengantin yang dikenakannya. Lalu indra penglihatannya seketika itu menangkap sosok pria itu yang tengah berbicara pada salah satu fotografer di sini. Minrin menghampirinya dengan bibir tertarik senyum senang.

“Oh..waeso? kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa, Ryeowook-ssi.”

 Si fotografer yang mengenakan topi itu menepuk lengan Ryeowook dan tersenyum pada Minrin sebelum meninggalkan mereka. Ryeowook mengangguk, lalu tatapan pria itu pun beralih pada Minrin. Gadis itu menyunggingkan senyum. Sangat cantik. Ryeowook tahu gadis itu cantik dengan style apapun terutama dengan gaun putih panjang itu.

“Kau mengenalnya?” Minrin bertanya sepeninggalnya fotografer tadi.

Ryeowook mengangguk kecil lalu tersenyum. “Dia pernah bekerjasama dengan kami saat super show 5.”

“Oh..kupikir kalian kenal lama.”

Ryeowook hanya tersenyum. Detik berikutnya pria itu sibuk mengagumi betapa gadis yang biasanya jauh dari kata mempesona, mampu membuatnya tidak berhenti menatap. “Kau mengenakan gaun pengantin,” ucap Ryeowook yang sarat akan pujian.

“Eoh.. apa terlihat aneh? Sebenarnya Aku tidak terlalu nyaman dengan gaun ini.”

“Tidak. Kau cantik,” puji Ryeowook kemudian, membuat Minrin diam dan hanya menatapnya. Senyuman kecil menghiasi wajahnya.

“Kau berlebihan.”

“Tidak, aku serius. Aku sudah lama membayangkan kau mengenakan gaun pengantin.”

Kedua mata Minrin menyipit sebentar lalu menahan senyum. “Jangan mulai pembicaraan tentang pernikahan lagi,” ujarnya kemudian.

Ryeowook terkekeh pelan lalu kembali menatap lekat sosok gadis di depannya itu. Sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Nyaris dua bulan, dan Ryeowook tidak pernah memikiran bahwa Minrin akan membuatnya terpesona seperti ini.

Terhitung sejak Minrin mulai sibuk dengan skripsinya September tahun lalu hingga sekarang, keduanya memang jarang bertemu. Mereka bahkan merayakan pergantian tahun secara terpisah dan puncaknya adalah sejak dua bulan yang lalu keduanya tidak lagi saling bertemu. Mereka hanya berhubungan lewat telepon atau chatting. Ryeowook yang sibuk dengan kegiatannya termasuk berlatih musical sedangkan Minrin tanpa Ryeowook ketahui juga mulai menyibukan diri dengan kegiatan di perusahaan ayahnya.

Dan sekarang Ryeowook hadir di depan Minrin, membuat gadis itu seharusnya melompat kegirangan namun justru membuatnya semakin sulit. Minrin tentu saja merindukan pria itu. Tapi entah kenapa melihatnya justru membuat Minrin sulit untuk memutuskan sesuatu.

“Jadi, kau sudah mulai melakukan pemotretan lagi?” tanya Ryeowook mengubah pembicaraan.

“Begitulah, ini yang aku lakukan untuk mengisi waktu luang.” Minrin menjawab, lalu tersenyum. “Dan kenaoa kau tiba-tiba datang?” tanyanya.

Ryeowook tersenyum lalu mengangguk “Memberi kejutan. Ranran bilang kau ada di sini, jadi aku datang.”

“Ck… kau pasti sangat merindukanku ya sampai-sampai harus datang kemari?” ejek Minrin sembari terkekeh pelan.

“Eiiyy, seharusnya kau senang. Ini sudah dua bulan sejak terakhir kali kita bertemu.” Ryeowook membalas.

“Kuerom, aku senang… terimakasih,” ucap Minrin kemudian.

“Kudengar kau juga sibuk dengan hal lain. Tentang apa? Kau tidak pernah mengatakannya padaku.” Ryeowook kembali bertanya. Kali ini pertanyaan yang membuat Minrin mengangkat kepalanya dengan serius. Gadis itu bahkan tanpa sadar sudah menahan nafas.

“Ya…pekerjaan bersama ayahku sekalian belajar.”

Minirn memang tidak pernah mengatakan hal ini pada Ryeowook. Bukan karena mereka tidak saling bertemu sejak dua bulan yang lalu, tapi karena memang belum ada waktu yang tepat. Kesibukannya di perusahaan ternyata menuntutnya untuk melakukan hal lain.

“Jinjja? Kukira kau tidak pernah tertarik untuk mengambil alih perusahaan ayahmu.”

“Memang. Ini hanya untuk sementara—-mungkin…,”

Ryeowook mengernyit saat mendengar nada suara ketidakpastian di sana. Matanya mulai serius menatap Minrin, membuat gadis itu diam-diam menghela nafasnya.

“Maksudmu dengan –mungkin-…. kau memang berencana melakukannya?” tanya Ryeowook memastikan dan kali ini Minrin tidak bisa lagi menyembunyikan eksprsi wajah yang sebenarnya. Ekspresi penuh rasa lelah dan tertekan akan sesuatu. Dan Ryeowook tahu ada sesuatu yang tengah dipikirkan gadisnya itu.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

Minrin benar-benar mengela nafasnya dengan lemah lalu berjalan ke samping menuju sebuah dinding dan mulai bersender di sana.

“Aku mungkin memang akan melakukannya. Aku memang belum memutuskan, tapi sepertinya tidak ada pilihan,” akunya.

Ryeowook diam, mmeperhatikan gadis itu dan untuk pertama kalinya melihat Minrin seperti ingin menangis. Sebaik apapun Minrin menyembunyikan perasaannya tapi jelas kemampuannya itu perlahan hilang sejak dua tahun terakhir, sejak Ryeowook bersamanya. Entahlah, ia selalu mengungkapkan apa yang dipikirkannya termasuk perasaan marah serta sedihnya pada Ryeowook. Dan Ryeowook jelas orang yang sangat mengertinya.

“Kau akan mengambil alih perusahaan?” Ryeowook berjalan mendekati gadis itu dan berdiri tepat di depannya. Minrin sendiri sudah menunduk, menahan beban yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkannya.

“Ya….”

“Lalu kenapa kau terlihat tidak suka?”

Minrin mengangkat kepalanya lalu memberanikan diri menatap Ryeowook. Benar-benar tidak bsia ditunda lagi. Dia harus mengatakannya.

“Ryeowook-ah…..”

“Hmmm….”

“Ayahku menginginkanku bekerja di perusahaan karena itu sejak dua bulan yang lalu aku menjalani pelatihan. Aku bahkan diberi tanggung jawab untuk menghandle peluncuran pakaian musim semi bulan ini. Setelah itu aku diminta untuk mengurusi anak perusahaan di New York,” ujar Minrin.

Ryeowook yang sejak awal mendengarkan dengan serius langsung mengubah eskpresinya menjadi sangat serius saat kata ‘New York’ keluar dari bibir gadis itu. “Jadi, kau akan ke New York?”

“Ya….”

“Berapa lama?” tanya Ryeowook lagi, tiba-tiba menjadi tidak sabaran.

New York kota yang sangat jauh dan dia akan terpisah dari gadis itu sejauh jarak Seoul-New York. Perjalanan gadis itu bukan untuk liburan atau pekerjaan yang biasa diakukannya yang hanya memakan waktu paling lama satu minggu. Mengurusi anak perusahaan berarti menuntut gadis itu untuk tinggal lama di sana.

“Tiga bulan, kurasa… tapi jika ayah benar-benar menunjukku menjadi manajer di sana, maka….”

“Kau akan tinggal di sana lebih lama lagi. Kau mungkin akan menetap di sana.” Ryeowook memotong cepat ucapan Minrin itu dan mau tidak mau membuat Minrin mengangguk ragu.

Keduanya diam setelah itu. Ryeowook yang mendadak tidak tahu harus berkata apa lagi, memilih menghindar bertatapan dengan Minrin. Tinggal lebih lama dan kemungkinan yang lebih buruk adalah menetap di sana. Ryeowook jelas tidak tahu harus menanggapi itu dengan sikap seperti apa. Jika hanya tiga bulan, Ryeowook akan membiarkan gadis itu pergi. Lagipula mereka terbiasa untuk tidak saling bertemu dalam waktu yang lama. Tapi untuk menetap di sana, Ryeowook belum memikirkan apa bisa seperti itu.

Ini memang gila kalau seandainya Ryeowook melarang gadis itu pergi. Apa hak yang dipunyainya yang hanyalah seorang kekasih dibandingkan ayah gadis itu sendiri? Jelas Ryeowook tidak punya alasan dan jelas dia tidak bisa bersikap egois.

“Apa tidak ada cara yang lain?” tanya Ryeowook setelah diam sekian lama. “Kau bisa mulai dengan menjadi manajer di anak perusahaan yang di Korea. New York sangat jauh, Minrin-ya— lagipula bagaimana dengan karirmu di sini?”

“Aku tahu tapi bukan aku yang memutuskan. Ayahku yang….”

“Kalau begitu bicara padanya. Kau bisa bicara padanya. Dia ayahmu, dan dia pasti akan mendengarkan perkataanmu. Kau tidak mungkin melepaskan apa yang sudah kau raih di sini,” potong Ryeowook cepat. Emosinya sedikit menguasi membuat Minrin mau tidak mau menatap sorot mata yang tengah menunjukkan ketidakterimaannya dan juga tatapan penuh permohonan itu.

Apa yang sudah diraihnya di sini? Ya Tuhan…kata-kata itu bahkan justru membuatnya ingin menangis. Bagaimana bisa Ryeowook mengatakan itu? Minrin pikir Kim Ryeowook adalah satu-satunya orang yang sangat mengerti kehidupan seperti apa yang sesungguhnya ingin dijalaninya. Bukan sebagai seorang model, bukan seorang artis dan bukan sebagai seorang pewaris. Apa gunanya dia menjalani kuliah kedokteran selama ini?

Dan sebenarnya dengan atau tanpa keinginan ayahnya untuk menjadikannya penerus, cepat atau lambat Minrin akan melepaskan karirnya sebagai model. Dia akan menemukan pekerjaan yang selama ini diinginkannya.

Sedetik kemudian Minrin kembali menunduk lalu mengela nafasnya. “Aku akan berhenti dari dunia hiburan.”

Mwo?” Ryeowook nyaris berteriak saking terkejutnya. Apa lagi sekarang? Minrin bahkan memutuskan menghentikkan karirnya di Korea?

“Aku sudah memutuskan akan berhenti sejak tahun lalu.”

“Jadi, kau sudah merencanakan ini sejak lama. Kau bersedia tinggal di New York dan mengurusi perusahaan ayahmu di sana?” tanya Ryeowook dengan nada ketidakpercayaan dan sarat akan emosi yang ditekannya kuat-kuat.

“Ryeowook-ah, aku…”

“Bagaimana dengan kita?” tanya Ryeowook kembali memotong.

Kembali Minrin hanya menghela nafasnya. Gadis itu menatap Ryeowook, memohon pada pria itu untuk setidaknya mengerti akan dirinya seperti yang selalu dilakukannya selama ini. Minrin selalu berpikir bahwa Ryeowook akan mengerti. Tapi tentu saja dia salah jika pria itu akan langsung menerima semua keputusan yang dibuatnya. Ini tidak hanya antara model atau pewaris atau hal lain yang Minrin lakukan, tapi ini juga berhubungan langsung dengan kelangsungan hubungannya dengan Ryeowook.

“Kita…tentu saja kita tetap bisa bersama. Apa susahnya? lagipula aku terbiasa kau tinggal keluar negeri, kita juga terbiasa tidak saling bertemu berbulan-bulan. Bukankah memang seperti itu hubunga kita?” jawab Minrin yakin. Sayangnya hatinya sendiri tidak seyakin ucapannya. Dia menggiggit bibir bawahnya.

Ryeowook diam. Pria itu memejamkan matanya sebentar lalu menghela nafasnya lemah. “Tapi ini bukan waktu yang singkat. Kau bahkan tidak bisa menjamin berapa lama kau tinggal di sana. Kau tidak memikirkan tentang hubungan kita kalau begitu.” Ucapan Ryeowook melemah.

Bagaimana dengan hubungan selama tiga tahun ini jika ternyata Minrin akan tinggal di New York? Memang benar keduanya bukan berarti tidak akan pernah saling bertemu lagi, mereka masih bisa berhubungan lewat telepon dan di era global seperti sekarang semua orang yang terpisah benua pun bisa saling berkomunikasi. Tapi tentu saja semua tidak semudah itu. Banyak hal yang harus dipikirkan bukan? Minrin yang harus di sana, sementara Ryeowook jelas tidak bisa meninggalkan Korea. Jika seperti itu, bukankah keduanya seperti terpaksa mengakhiri hubungan itu meski tanpa kalimat perpisahan?

“Tidak seperti itu. Aku memikirkannya. Sungguh!”

“Lalu? Itu keputusanmu dan kau masih mengatakan kau memikirkannya? Apa kau tidak mengerti?” Ryeowook menatap Minrin.

Shin Minrin sepertinya memang tidak mengerti bahwa Ryeowook jelas-jelas sedang berusaha menjelaskan bahwa dia tidak bisa jika gadis itu pergi dari sisinya. Minrin membalas tatapan itu.

“Ryeowook-ah….”

Tapi gadis itu merasa Ryeowook lah yang tidak mengerti.

“Minrin-ya, apa kau sudah selesai? Kita akan melakukan pemotretan ketiga sekarang.”

Tepat saat itu, sebelum Minrin melanjutkan ucapannya terdengar panggilan dari dalam. Suara serang wanita yang menyuruhnya untuk kembali.  Gadis itu masih diam, menatap Ryeowook yang juga masih menatapnya.

“Kita bicarakan ini nanti,” ucap Ryeowook sesaat sebelum akhirnya berlalu pergi, meninggalkan Minrin yang hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang.

Apa yang harus dilakukannya?

CUT

***

Entah mau bikin apa ini… lol

Biasanya Ryeomin story isinya Cuma ff gaje, kalau nggk minrin yang cemburu ya … ryeowook yg cemburu.. k k k  

Jadi, intnya lagi pengen buat masalah diantara mereka. Masih akan ada kelanjutan tapi jangan berharap segera dipublish ya … k k k biarkan berjalan sesuai waktu saja lol

Karena saya mau fokus nyelesaiin Secret guard. Dan untuk –Series- ff nggk jelas dg cast Ryeo-Min-Hyuk-Hyo itu jrng ada commentnya, maka dg terpaksa saya menghentikan menulis ff itu. Kalau di tengah2 mood buat nerusin, ya nanti aku terusin. Karena author orangnya moody-an jd ya…gitu deh… hehe tau sendiri kan aku lama kalau update 😀

Mohon dimaklumi *bow*

Advertisements

9 thoughts on “(Ryeomin Story) The Problem

  1. Minrin psti bingung bgt mutusinnya…hrusnya minrin bilang k ayahnya spy bs megwng perusahaan yg dikorea.pgm liat mintin ma wookie g berpisah.smg minrin bs nemuin jalan kluarnya..hehe..dtunggu next chapnya..dtunggu jg lanjutan secret guardnya.gomawo.

  2. problem , yaa ?? kalo difikir fikir memang sulit mencari jalan keluarnya,, kita liat aja kedepannya #eaa
    Masih ada lanjutannya kan eonni ,, ditungu ditunggu

  3. Masalahnya sedikit berat sepertinya. Jarak cuy… Hehehe…. Ya semoga mintin bisa ngambik keputusan yg baik, tanpa harus meninggalkan ryeowook. Lol…

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s