(FF Series) Secret Guard Part 3

secret guard 2

Tittle    : Secret Guard Part 3

Author : Whin (@elizeminrin)

Cast     : Shin Minrin, Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon

Genre  : Action, Romance, Revenge

Length : Chapter (4816 words)

Rating : PG 15

Disclaimer: It’s just Fanfiction, Super Junior members is not mine. I just have the story and artwork. Please, don’t copy paste it. Inspired by a movie called Abduction.

***

Lee Jihye, gadis yang pertama kali membuat Ryeowook merasakan perasaan bernama cinta. Gadis sederhana, lembut dan juga baik hati. Kepribadian yang langsung membuat Ryeowook jatuh cinta sekali mengenalnya. Sayang sekali gadis itu harus kehilangan nyawanya di tangan gembong narkoba yang menjadi target Ryeowook kala itu. Orang-orang itu tahu, Jihye adalah kelemahan Ryeowook. Dan tanpa perasaan mereka menculik gadis itu, menyiksanya dan bahkan menodainya untuk memaksa Ryeowook menyerah. Ryeowook sendiri tidak ingin membayangkan bagaimana kekasihnya itu menangis dan memohon untuk dilepaskan. Sangat menyakitkan.

Dia terlambat menyelamatkan gadis itu. Sesuatu yang sangat disesalinya hingga saat ini. Semenjak itulah Ryeowook tidak pernah lagi membuka hatinya untuk gadis manapun. Sikap dinginnya yang terbentuk sejak kematian kedua orang tuanya makin beku sejak kehilangan Jihye. Dia berubah menjadi pria dengan karakter dingin dan tertutup. Alasan itulah yang membuatnya memilih pergi dari Korea dan mengasingkan diri ke Amerika.

Dan siapa yang menyangka kepulangannya kali ini ke Korea memunculkan perasaan aneh itu sekali lagi. Perasaan pada gadis bernama Shin Minrin yang statusnya adalah sebagai klien mereka. Itulah kenapa dia membatasi dirinya. Memaksakan diri bersikap lebih dingin pada Minrin dan membuang jauh-jauh ketertarikannya pada mata coklat milik gadis itu.

***

07.00 KST

Shin’s House

Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang menyenangkan seperti biasanya bagi seorang Shin Minrin, namun sayangnya semua itu mendadak hilang dalam sekejap. Ibunya dengan sangat antusias dan bahkan tanpa di duganya menyuruhnya berangkat bersama pria yang menjadi tetangga barunya yang kemarin membuatnya kesal setengah mati. Tentu saja mendengarnya saja sudah hampir membuat Minrin menelan bulat-bulat kimchinya. Benar-benar tidak bisa dipercaya! Minrin tidak mengerti kenapa ibunya bisa mencetuskan ide konyol seperti itu. Oh…astaga seharusnya ia tidak memberitahu perihal kejadian diikuti oleh orang asing malam itu. Dan hey bukankan ada Cho Kyuhyun yang bisa diandalkannya? Ya..benar, sayangnya sahabatnya itu mendadak kembali tidak diketahui keberadaannya sejak kemarin.

Minrin melihat jendela rumah pria itu yang terlihat tertutup rapat lalu beralih pada ibunya yang kini tengah bersenandung riang sambil menyiapkan sarapan pagi. “Eomma kurasa aku bisa berangkat sendiri saja. Aku yakin tidak akan ada orang yang iseng mengikutiku lagi,” ujar Minrin dengan nada membujuk.

Sungguh ia tidak bisa pergi dengan pria itu jika pada akhirnya akan membuatnya benar-bena kesal setengah mati. Pria yang tidak bisa ramah, berekspresi dingin dan tidak banyak bicara. Ya..ampun benar-benar tidak bisa dibayangkan jika ia harus satu mobil dengannya sekali lagi. Dan jangan lupakan pria itulah yang mengacaukan kencannya bersama Minhyuk. Seenaknya saja dia berbohong bahwa ibunya yang menyuruhnya datang menjemput. Apa dia pikir Minrin akan percaya? Tentu saja tidak.  Dan ternyata benar, ibunya memang tidak menyuruh Ryeowook menjemputnya saat itu.

“Ini demi keselamatanmu Minrin-ya,” Dan itulah jawaban ibunya yang sungguh membuat Minrin tidak mengerti. Dia memegangi kepalanya lalu menunduk.

“Tapi sejak kemarin aku baik-baik saja, tidak ada yang berusaha mencelakaiku kan? Ya..ampun eomma saat itu pasti hanya orang iseng saja, lagipula untuk apa seorang penculik mengincar orang sepertiku? Aku bukan anak keluarga chaebol apalagi anak presiden,” decaknya sambil menggerutu tapi lagi-lagi tidak berhasil membuat ibunya mengubah pikirannya.

“Menurut eomma, kau harus tetap berhati-hati. Jika saja Kyuhyun tidak menghilang lagi, sudah pasti eomma meminta bantuannya. Tapi berhubung dia pergi ya mau bagaimana lagi? Ayahmu sedang sibuk akhir-akhir ini jadi tidak ada pilihan, sayang.”.

Ya benar sahabatnya itu selalu saja menghilang di saat diperlukan. Jangan harap Minrin lupa bagaimana janji Kyuhyun untuk mengawasinya saat berkencan dengan Minhyuk kemarin yang berujung pada kedatangan Ryeowook secara tiba-tiba di depannya. Benar-benar sial!

Minrin hanya diam, menahan kesalnya dan menyelesaikan sarapannya tanpa banyak bicara. Setelah menghabiskan satu gelas susu dan juga sepotong roti, ia pun beranjak dari tempat duduknya. Wajahnya ditekuk ketika berpamitan pada ibunya yang tentu saja membuat ibunya tertawa geli.

Aigoo..berhenti memasang muka cemberut.”

Eomma tidak tahu saja bagiaman sikapnya itu. Benar-bena rmenyebalkan. Aisshh…” gerutunya sekali lagi sambil mencium pipi kiri ibunya lalu melesat pergi dengan sedikit malas.

Di luar lebih tepatnya di luar gerbang,  diantara rumahnya dan rumah sebelah, Minrin bisa melihat Ryeowook sudah siap di depan kemudi mobilnya. Pria itu mengenakan kaca mata hitam membuatnya tampak seperti pria kaya yang sukses yang disukai banyak orang. Oh..sial kenapa Minrin justru memujinya?

Minrin menghela nafansya lemah dan setelahnya menyeret kakinya yang terasa berat menuju mobil itu. Dia melihat Ryeowook menoleh dan menatapnya dibalik kaca mata itu. Tanpa banyak bicara pria itu membuka pintu dan menyuruh Mnrin untuk segera masuk yang tentu saja membuat gadis itu semakin menggerutu dalam hati.

“Jangan terlalu percaya diri karena aku menerima tawaranmu. Aku benar-benar tidak ingin berada satu mobil denganmu. Aku hanya terpaksa jadi jangan berpikir macam-macam,” ancam Minrin setelah ia duduk di samping Ryeowook.

Pria itu menoleh sebentar dan tanpa mengatakan sepatah katapun dia menghidupkan mesin mobil lalu mulai menjalankannya. Sikapnya kembali acuh tak acuh seperti biasanya. Brengsek sekali karena dia bahkan dengan sengaja menambah kecepatan ketika sudah berada di jalan raya. Minrin menoleh horror pada Ryeowook dan sesekali ia memejamkan mata setiap kali mobil yang mereka kendarai mendahului mobil lain. Ia sudah seperti senam jantung di pagi hari. Dia memang jarang berolahraga, setiap hari minggu dia lebih senang bergulat dengan bantal dan guling tapi bukan berarti pria itu bisa membuat jantungnya bekerja keras sekarang ini.

“Yaa, pelan-pelan! aku tidak mau mati satu mobil denganmu,” teriak Minrin sambil mencengkeram sealtbeltnya kuat-kuat.

Ryeowook lagi-lagi bergeming. Diam-diam pria itu justru menikmati bagaimana Minrin berteriak-teriak sejak tadi. Gadis itu benar-benar mempunyai suara yang sangat berisik. Hanya satu oktaf dia menaikkan suara, sudah mampu membuat Ryeowook ingin menyumpal mulutnya dengan sesuatu .

“Yaa, Kim Ryeowook!!!”

“Kau berisik sekali! Diamlah, atau kau benar-benar akan membuat kita tabrakan,” Ryeowook berujar ,masih menatap lekat ke depan. Kini truk besar berada tepat di depan mereka. Minrin sudah memejamkan matanya sambil bibirnya komat-kamit membaca doa. Sialan.! Demi Tuhan ia tidak mau mati bersama pria ini.

Seperti angin, mobil itu melesat cepat mendahului truk besar itu melalui lajur kiri. Seketika itulah Minrin bernapas lega saat mobil mereka berada di jalanan yang lengang. Jika saja satu gerakan salah yang membuat mobil ini menyenggol truk itu, entah apa yang akan terjadi. Kau bisa membayangkannya ketika sebuah benda melaju dalam kecepatan sangat tinggi tiba-tiba mengenai benda lain yang juga sedang melaju. Mungkin saja kecelakaan hebat tidak akan terhindarkan. Mobil ini mungkin akan berputar-putar berpuluh meter lalu terbalik, lebih parah lagi akan meledak seketika, memanggang seluruh penumpang di dalamnya. Dan Minrin beurntung, karena mobil ini bahkan tidak tergores sedikit pun ketika berhenti di depan gerbang kampusnya.

Untuk sesaat Minrin masih diam di tempatnya meskipun Ryeowook sudah meliriknya untuk menyuruhnya turun. Gadis itu sedang mengatur deru nafasnya selama beberapa saat hingga akhirnya tangannya dengan gemetar membuka sealtbelt yang membelit tubuhnya. Ia meraih pegangan pintu mobil itu dan membukanya.

“Syukurlah aku masih hidup,” gumam gadis itu lega. Tidak bisa dipercaya dia berhasil sampai di kampusnya tanpa cacat sedikitpun setelah bergulat dengan adrenalin di jalanan tadi.

“Aku akan menjemputmu jam 1, jangan mencoba kabur karena ibumu sendiri yang menyuruhku,” Ryeowook menurunkan kaca mobilnya dan berucap, membuat Minrin menghentikkan niatnya untuk segera pergi.

Mwo?” gadis itu membulatkan matanya tidak percaya. Dan sungguh tidak disangkanya pria itu justru tersenyum kecil saat melihat ekspresinya.

“Yaa, apa maksudmu?” teriak Minrin tidak mengerti.

Lagi-lagi tanpa menjawab Ryeowook sudah menutup kaca jendela mobil dan memutar balik mobilnya. Minrin yang melihatnya hanya bisa mendecak-decak dengan sangat kesal. Apa maksudnya tadi? Ibunya ingin sekali lagi mengirim puterinya dalam satu mobil bersama pria itu? Jinjja

Tidak berselang lama setelah mobil putih milik Ryeowook tidak terlihat dari pandangannya, sebuah pesan masuk dalam kotak pesan Minrin. Dari nomor yang tidak dikenalnya. Dahinya mengernyit heran dan seketika itu berubah menjadi sangat kesal setelah membaca isinya.

Aku serius dengan ucapanku. Jangan mencoba kabur dan membuatku dalam masalah.

Aissh, kkeu saram jinjja!!” decaknya

***

 “Apa belum ada kabar sama sekali dari Shin Taewoo?”

Seorang pria yang ditanyai oleh Kim Ilsung itu hanya menjawab singkat dan jawaban itu sekali lagi membuat Kim Ilsung menghembuskan nafasnya kecewa. Lebih dari satu tahun, sejak dia mulai melacak kembali keberadaan sang pembawa kunci yang akan menjerat Kim Donggeun, tapi nyatanya agen rahasia terbaiknya yang bernama Shin Taewoo itu belum juga diketahui di mana keberadaannya.

Lagipula akhir-akhirnya ini I.L terlihat sangat tenang tanpa pergerakan satupun yang menimbulkan masalah. Sepertinya Kim Donggeun memang sedang merencakan sesuatu persis seperti gayanya dulu, selalu bertindak tenang dan berhati-hati sebelum melakukan sesuatu.

“Bagaimana dengan gadis itu?”

“Nathan, aniya…maksudku Kim Ryeowook sepertinya benar-benar melakukan tugasnya dengan baik. Menurut Han Eon Ji beberapa hari terakhir gadis itu diikuti orang yang mencurigakan, karena itu dia menyuruh Kim Ryeowook untuk mengantar gadis itu pergi ke kampus dan menjemputnya setelah selesai,” ucap pria itu lagi.

Kim Ilsung mengangguk mengerti. Selama Shin Jaeseok menjalankan tugas yang lebih penting di Jepang, sepertinya Han Eonji telah memilih Kim Ryeowook untuk mengawasi gadis itu. Sepertinya dua agen lain yang juga bertugas menjaganya tengah sibuk sekarang. Kim Ilsung meraih gelas karton berisi kopi yang dibelinya di kantin tadi dan mulai menyesapnya. “Kyuhyun dan Jongwoon? Apa yang dilakukan dua orang itu sekarang?” tanyanya lagi.

Pria yang memberi laporan itu terdiam sebentar dan sedikit ragu. Ilsung menoleh, menatap keraguan bawahannya itu dengan sebelah mata. “Apa ada masalah?”

 “Ah itu… Kim Jongwoon sepertinya sedang sibuk dengan bisnisnya di China, dan Cho Kyuhyun…,” ucapannya terhenti.

“Apa dia sedang menghabiskan waktunya bersama pacarnya lagi?” potong Kim Ilsung cepat. Tanpa diberitahu pun Kim Ilsung sudah mengetahuinya. Cho Kyuhyun, salah satu agen yang bisa diandalkan tapi pria muda itu bisa sangat lengah jika bersama seorang gadis. Pria tadi menelan ludahnya dengan susah payah lalu buru-buru membungkukkan badannya.

Ne, aku akan memberinya peringatan setelah ini.”

Dwesso, pria muda seperti Kyuhyn pasti juga ingin memiliki kisah manis bersama seorang gadis. Biarkan saja dia.”

Pria tadi mengangguk sedikit menahan senyumnya. Sedingin apapun sikap Kim Ilsung pada bawahannya, tapi pimpinannya itu ternyata masih punya hati nurani. “Kueriku, soal I.L… kurasa mereka tengah merencanakan sesuatu. Kemarin, seseorang hampir mencelakai Minrin. Mereka juga mengawasi Kyuhyun dan Jongwoon. Sepertinya I.L sudah tahu siapa saja orang-orang milik kita yang berada di sekitar gadis itu.”

Kim Ilsung menoleh sebentar. Wajahnya memperlihatkan keterkejutan sesaat. Persis seperti dugaannya bahwa IL memang merencakan sesuatu. Sangat aneh jika mereka terlalu menjaga sikap akhir-akhir ini, ditambah lagi keadaan politik di negeri ini yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mereka.

“Ada pesan yang dikirimkan IL pada NIS pagi tadi.” Pria itu menambahkan kemudian menyerahkan ipad yang dibawanya pada Kim Ilsung.

Sebuah pesan elektronik dikirimkan langsung dari IL. Ini benar-benar bukan kebiasaan Kim Donggeun karena itulah terasa sangat aneh. Kim Ilsung menerimanya dan segera membuka pesan itu. Seketika itu kedua matanya membulat sempurna selesai membaca pesan itu. Dia buru-buru berdiri dan meletakkan ipad putih itu.

“Cepat hubungi universitas Dongguk, perintahkan untuk melakukan evakuasi. Dan Kim Ryeowook…katakan padanya untuk segera membawa Minrin menjauh dari kampusnya.” perintahnya dengan nada menekan pada kata terakhir, membuat pria tadi tergagap sebentar.

W..waegure?”

“Mereka akan meledakkan sebuah bom.”

Mwo?

“Cepat beritahu mereka untuk mengamankan Minrin.”

N..ne, alggesumnida.” Tanpa banyak bertanya ada apa, pria itu sudah keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru.

***

“Apa-apan dia! Menyebalkan sekali,” Minrin mengecek ponselnya sekali lagi setelah mengirimkan pesan pada Ryeowook untuk menjemputnya sekarang. Tapi dengan seenaknya pria itu justru mematikan ponselnya. “Siapa yang tadi bersikeras ingin menjemput? Aissh jinjja… kenapa ponselnya tidak aktif?”

Yakin bahwa Ryeowook benar-benar mematikan ponselnya, Minrin pun kembali melangkahkan kakinya kembali ke dalam gedung kampusnya dengan lemah. Seharusnya dia bisa saja pergi ke Mouse Rabbit sekarang, tapi dia ingat kata-kata Ryeowook tadi pagi yang bersikeras untuk menjemputnya. Meskipun terdengar sangat menyebalkan dan rasanya Minrin tidak ingin menurutinya tapi dia tahu apa yang akan terjadi pada diirnya sendiri jika dia melakukan itu. Ibunya akan menjadi satu-satunya orang yang akan menceramahinya panjang lebar sepulangnya ke rumah nanti. Bagi Minrin berdebat dengan ibunya adalah sesuatu yang harus dihindari karena biasanya dia akan membalas dengan seenaknya dan menjadi anak yang durhaka. Daripada mengambil resiko seperti itu maka satu-satunya jalan yang tersisa adalah menunggu pria itu datang menjemputnya.

Koridor gedung yang menghubungkan lobi utama dengan bagian perpustakaan terlihat lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena hari ini seharusnya sudah memasuki masa libur untuk mahasiswa dan hanya segelintir mahasiswa yang datang demi mendapatkan nilai sempurna di mata kuliah yang tidak dimasukinya, seperti Minrin. Jika saja salah satu mata kuliah nya tidak mendapatkan nilai D dan membuatnya tidak lulus, Minrin sudah bisa menikmati masa libur semesternya. Ya… itu semua karena kesalahannya yang berani absen sampai tiga kali apalagi dia tahu dosen yang mengajar mata kuliah itu salah satu dosen yang tidak akan membiarkan mahasiswanya ikut ujian jika absennya tidak penuh.

Minrin menghela nafasnya dengan berat saat mencapai perpustakaan dan mendapati tidak lebih dari dua orang di dalamnya. Dia mencari tempat duduk yang lumayan strategis untuk melihat ke luar dan pilihannya jatuh pada tempat duduk paling ujung, mengingat dari situlah dia bisa menjangkau pemandangan luar.

Dia mengeluarkan buku kuliahnya yang setebal 500 halaman dan semuanya dalam bahasa inggris, mencoba memfokuskan dirinya sendiri dengan alunan music yang mengalun pelan di telinganya. Belum setengah jam berlalu, dia sudah mulai bosan. Dia menelungkupkan kepalanya di atas meja ketika samar-samar diantara alunan music yang masih mengalun terdengar dering nyaring dari speaker ruangan itu. Minrin mengabaikan suara itu dan justru ikut bernyanyi lagu yang sedang diputar di playistnya.

Dia hampir memejamkan matanya yang sudah mulai lelah ketika dengan tiba-tiba terdengar suara dentuman yang sangat keras seperti sesuatu yang meledak dan memekakan telinganya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu. Dia melepaskan earphone di telinganya dan mulai melihat keadaan di sekitarnya. Perpustakaan itu kosong, dua orang yang tadi dilihatnya sudah pergi. Mendadak kepanikan melandanya.

“Kemana mereka?” Minrin memasukkan bukunya kembali ke dalam tas dan melihat ke arah jendela. Terlihat kepulan asap tebal berwarna abu-abu mengepul dari sisi lain gedung ini. Minrin bisa melihat dengan jelas orang-orang berlari keluar dari gedung itu dengan panik.

“Apa yang terjadi?”

Dia sudah tidak mampu berpikir dan satu-satunya yang bisa dipikirkannya adalah segera keluar dari gedung ini seperti yang lain. Meskipun dia tidak tahu apa yang terngah terjadi, tapi dia yakin suara yang tadi di dengarnya ada hubungannya dengan ini. Apa terjadi kebakaran? Seharusnya dia tidak mengabaikan suara alarm yang berbunyi tadi.

Minrin berlari menelusuri gedung itu dan berhasil mencapai lift yang akan membawanya turun ke lantai satu, tapi sepertinya lift tersebut sedang tidak berfungsi persis seperti yang tertulis di kertas yang tertempel di pintunya.

“Sial!” Dia mulai panic sekarang. Apa yang harus dilakukannya? Lewat tangga darurat? Yang benar saja…!

“Pengumuman untuk segera meninggalkan gedung sekarang juga. Telah terjadi sebuah ledakan bom di gedung sayap kiri. Dan menurut informasi masih ada bom lain di sayap kanan. Semua diharapkan untuk segera mengevakuasikan dirinya.”

Mwo? Bom?”

Suara pengumuman yang terdengar menggema di koridor itu seperti sebuah pukulan bagi Minrin. Gedung sayap kanan? Itu berarti gedung di mana dia sekarang tengah berdiri dengan panik.

Belum sempat dia memutuskan langkah yang akan diambilnya, terdengar suara derap langkah tegas dari arah belakang yang mengarah padanya. Seseorang masih berada di gedung ini sama dengannya. Tapi kenapa dengan suara langkah kaki itu yang justru tidak terdengar panik?

 Dia menoleh ke belakang dan dengan jelas kedua matanya menangkap sosok pria tinggi bertopi yang menutupi sebagian wajahnya. Langkah pria itu menjadi lebih cepat ke arahnya. Tangan kanan pria itu memegang sesuatu dibalik jaket hitamnya. Sesuatu yang akhirnya dikeluarkan dengan perlahan dan terlihat mengkilat pada ujungnya. Sebuah pistol. Benda itu dengan cepat diacungkannya ke arah Minrin tepat di kepalanya. Minrin mundur satu langkah. Rasa panik dan takut langsung menyergapnya.

Kenapa pria itu menodongnya dengan pistol?

Hanya sepersekian detik Minrin mematung dalam diamnya dan beruntung otaknya tidak ikut diam. Sadar bahwa dia berada dalam posisi terancam, Minrin pun segera berbalik dan berlari menjauh dari pria asing itu.

***

Asap berwarna hitam terlihat keluar dari salah satu jendela gedung sayap kiri seiring dengan kobaran api yang semakin besar. Orang-orang terlihat berlari menjauh dari gedung. Ledakan yang terjadi memang tidak besar dan hanya berdampak pada lantai tiga saja, tapi tetap saja menimbulkan kepanikan yang berarti bagi orang-orang di dalamnya. Adalah Kim Ryeowook yang justru berlari melawan arus orang-orang yang tengah keluar menyematakan diri. Pria itu tidak menghiraukan petugas kepolisian dan juga pejinak bom yang berteriak melarangnya untuk masuk ke dalam. Persetan dengan semua larangan itu. Satu-satunya yang dipikirkannya adalah gadis itu. Gadis itu tengah berada dalam bahaya sekarang.

Ryeowook benar-benar langsung melesat ke Dongguk University begitu mendapat pesan dari NIS tentang bom yang akan diledakkan oleh I.L. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan lebih dari 100 km/jam di jalanan kota Seoul yang padat demi sampai lebih cepat.

Suara sirine dari mobil pemadam kebakaran terdengar sangat keras ketika sampai di depan gedung itu. Para petugas pemadam kebakaran segera berlari menuju sumber ledakan dan membantu evakuasi korban yang masih berada di dalam lantai satu. Pihak kampus lebih dulu mendapat kabar adanya bom dan diminta untuk melakukan evakuasi, karena itulah bisa dipastikan tidak ada korban yang jatuh. Terkecuali ada yang mengindahkan pengumuman melalui speaker setengah jam yang lalu.

Sementara itu di salah satu sudut koridor gedung sayap kanan, terlihat Minrin yang duduk dengan tangan gemetar. Nafasnya memburu tidak beraturan antara rasa lelah setelah berlari dan juga rasa takut yang luar biasa. Rasa perih dan ngilu terasa menusuk di sepanjang tangan kirinya. Kemeja putih yang dikenakannya sudah berubah warna menjadi merah di bagian atasnya. Pria asing bertopi yang tadi sempat mengacungkan pistolnya berhasil melukai lengan atasnya.

Satu-satunya hal yang terus menggema dalam pikirannya adalah bahwa dia akan mati di tempat ini, entah karena pria itu atau karena ledakan bom. Lagipula kenapa pria itu mengejarnya dan ingin membunuhnya?

“Minrin-ya! Shin Minrin…” Suara teriakan yang menggema di koridor itu seakan-akan menjadi sumber petolongan untuknya. Untuk pertama kalinya sejak dikejar pria bertopi sialan itu, Minrin bisa bernafas dengan lega

Minrin menoleh ke belakang lalu mencoba berdiri. Dia berharap seseorang datang menyelamatkannya. Dari arah depan Minrin memang melihat seseorang berlari ke arahnya. Kedua matanya mulai mengabur karena efek sakit yang ditimbulkan oleh tembakan pria tadi.  Tapi bibirnya dengan sangat pelan menggumamkan satu nama. Entah apa yang dipikirkannya, tapi nama itulah yang sejak tadi terus dipikirkannya.

“Kim Ryeowook…”

Minrin sudah hampir kehilangan kesadaran ketika Ryeowook berhasil menangkap tubuhnya yang akan terjatuh. “Kau tidak apa-apa?” suara Ryeowook ditekan agar tidak terdengar panik Darah segar menetes dari lengan Minrin.

 “Siapa yang melakukan ini padamu?”

Minrin mendongak menatap Ryeowook dan hanya bisa menggeleng. “Aku tidak tahu. Orang itu…dia tiba-tiba datang dan mengejarku. Ryeowook-ssi….,” ucapnya tercekat karena panik dan juga takut. Suaranya bahkan sudah mirip seekor tikus yang mencicit.

Sorot mata Minrin berubah kembali menjadi ketakutan ketika dilihatnya pria bertopi itu berada tidak jauh dari mereka. Hanya tinggal sekitar sepuluh langkah sebelum pria itu berhasil menjangkau mereka berdua.

“Ryeowook-ssi…” Minrin menarik pelan jaket Ryeowook dengan suaranya yang gemetar.

Ryeowook menoleh dan langsung mengambil pistol di balik jaketnya begitu melihat orang itu juga melakukan hal serupa. Dia menarik pelatuk pistol itu lalu mengarahkannya pada pria bertopi itu. Pria itu tiba-tiba berhenti masih dengan pistol yang mengarah pada Ryeowook dan Minrin. Senyum menyerangai samar-samar terlihat dari balik topinya itu. Dia mendongak sedikit dan menatap Minrin maupun Ryeowook dengan mata kecilnya itu. Sebuah bekas goresan pisau terlihat di pipi kirinya. Ryeowook menyipitkan matanya sebentar. Dia ingat pernah melihat luka itu sebelumnya.

“Sangat mengagumkan. Tidak disangka aku akan bertemu denganmu di sini,” ucap pria itu masih dengan serangainya. “Nathan Kim,” panggilnya yang seketika itu membuat tubuh Ryeowook menegang. Pegangannya pada pistol nyaris terlepas saat pria itu menyebut nama kecilnya.

“Kau pasti mengingatku, bukan? Malam di Chicago yang tidak pernah terlupakan, eh?”

Ryeowook menahan nafasnya tercekat. Emosinya tiba-tiba memuncak. Tangan kanannya semakin erat mencengkeran pistol hitamnya. Ryeowook tentu saja masih mengingatnya. Semua hal yang terjadi di Chicago malam itu masih diingatnya dengan baik termasuk orang-orang yang berada di ruangan itu dan apa yang telah mereka lakukan pada kedua orang tuanya.

“Brengsek!” umpat Ryeowook tertahan. Sudah lama rasanya ia ingin mengatakan hal itu di depan wajah pembunuh orang tuanya.

Pria itu tersenyum menyerangi sekali lagi. Dia bukan Kim Donggeun, pria yang dengan entengnya menarik pelatuk pistol dan menembakkan isinya pada ibu dan ayahnya. Tapi pria yang kini berdiri di depan Ryeowook adalah pria yang malam itu menyaksikan langsung pembunuh itu. Dia tangan kanan Kim Donggeun. Orang yang Ryeowook yakini hanya akan menerima perintah Kim Donggeun termasuk saat diperintahkan untuk membunuh Minrin saat ini.

“Mengesankan sekali karena kau salah satu orang yang harus melindungi gadis itu,” ucap pria itu mencibir pelan. Arah matanya menatap sebentar ke arah Minrin yang memilih berdiri di belakang Ryeowook. Tangannya mencengkeram kuat-kuat lengan Ryeowook.

“Sangat mengesankan karena dengan menjaganya justru membuka jalan untuk membunuh kalian.” Ryeowook menimpali dingin.

Pria itu terkekeh mengejek. Ryeowook sudah geram dibuatnya. Rasanya dia sudah ingin menarik pelatuk pistolnya. Apalagi dibelakangnya, Minrin terus mencengkeram jaketnya dengan erat. Gadis itu sedang ketakutan. Dengan gerakan pelan Ryeowook meraih tangan Minrin dan menggenggamnya, mencoba meredakan rasa takut dalam diri gadis itu, karena bagaimana pun hal seperti ini akan diterima Minrin mulai sekarang.

“Apa ada orang di sana?” teriakan seseorang bergema di koridor itu. Ryeowook dan juga pria itu refleks menoleh ke arah sumber suara.

Orang itu mungkin regu penyelamat dan Minrin menyadari inilah kesempatan mereka untuk lolos. “Ahjussi!! Jalijuseyo!!!” teriaknya kencang. Sangat kencang dan nyaris melupakan bahwa dia sudah kehilangan banyak energi sejak tadi.

Pria bertopi itu mendesis dengan geram. Dia menatap Ryeowook dan juga Minrin bergantian dengan tajam ketika dari arah depannya bayangan tiga orang pria berjalan mendekat.

“Kalian tidak akan lolos,” desisnya sebelum akhirnya memutuskan berlari menjauh.

***

Minrin tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Satu-satunya yang dia tahu Ryeowook menggandeng tangannya dan mengajaknya keluar dari gedung itu. Energinya sudah terkuras habis dan Ia sangat lelah. Ia sendiri tidak peduli kemana Ryeowook sedang membawanya. Rasa ngilu dan nyeri itu kembali mendera lengannya meskipun seorang petugas kesehatan sudah mengobatinya tapi rasanya sudah mati rasa untuk Minrin. Peluru itu tidak benar-benar menancap di lengannya tapi hanya sedikit merobek kulitnya. Sakit memang, tapi pikirannya yang kacau ternyata mampu membuatnya tidak merasakan sakit itu lagi.

Minrin menoleh untuk pertama kalinya sejak mereka keluar dari gedung itu. Ryeowook sejak tadi sibuk menyetir dengan kecepatan tinggi. Ekspresinya panik dan juga geram setelah mendapat telepon dari seseorang. Cukup lama Minrin tidak berani bertanya.

Waegure?” tanya Minrin akhirnya dengan hati-hati.

Ryeowook menoleh dan menatap Minrin sebentar. Tatapan berbeda yang baru kali ini dilihat Minrin. Ekspresinya sangat serius dan entah kenapa melihatnya justru membuat Minrin terpaksa menahan nafasnya. Dia menduga pasti ada sesuatu yang tengah terjadi.  Dia tidak bodoh untuk menghubungkan kejadian-kejadian yang dialaminya akhir-akhir ini. Diikuti orang asing dan sekarang seseorang ingin membunuhnya. Semua itu terlalu aneh jika disebut kebetulan.

“Sebenarnya ada apa?” ulang Minrin.

“Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti, tapi sekarang kita harus pulang ke rumahmu. Kurasa ibumu sedang dalam bahaya.”

Mwo? Apa maksudmu? Kenapa ibuku dalam bahaya?”

Lagi Minrin merasakan kepanikan itu lagi. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Ryeowook. Tapi dengan cepat dia mengambil ponsel dari dalam tasnya berniat untuk menghubungi ibunya tapi Ryeowook dengan cepat merebut ponselnya, mematikannya dan dengan seenaknya melemparnya ke jok belakang.

“Apa yang kau lakukan?”

“Mereka bisa melacak keberadaan kita jika kau menghubungi ibumu,” ucapnya yang sama sekali tidak dimengerti Minrin.

“Dilacak? Apa maksudmu? Yaa, katakan padaku apa yang kau maksud dilacak dan kenapa ibuku dalam bahaya?”

Siapa yang dilacak? Dan apa yang sebenarnya terjadi?

Minrin menoleh lagi dengan bingung serta panik. Tatapannya menuntut meminta penjelasan, tapi Ryeowook hanya diam.

“Ryeowook-ssi,” tekan Minrin dengan kesal.

Ryeowook akhirnya menoleh sesaat lalu mendesah pelan. Gadis itu benar-benar menuntutnya untuk bicara. Sebenarnya Ryeowook tidak berniat menceritakan semuanya sekarang ini. Tapi akhirnya dia sendiri tidak punya pilihan. Cepat atau lambat Minrin akan segera tahu. Ryeowook pun menceritakannya pada Minrin mengenai siapa pria yang tadi menembaknya dan kenapa bisa terjadi ledakan bom di kampusnya. Dia melewatkan bagian bahwa beberapa orang sengaja ditugaskan untuk melindungi keselamatan Minrin. Selain hal itu. Semua diceritakan Ryeowook dengan cepat dan singkat. Dia menyebut nama Kim Donggun dan juga oraganisasi I.L tanpa penjelasan runtut. Dia tidak punya waktu untuk menceritakan detailnya. Sekarang bukan waktunya, lagipula ada orang yang lebih punya hak untuk memberitahu Minrin semuanya.

“Jadi, maksudmu mereka mengincarku?” tanya Minrin meyakinkan bahwa seperti itulah yang ditangkap dari cerita Ryeowook barusan.

“Ya, dan kita harus segera menemukan ibumu.”

Semuanya seakan berputar-putar tidak karuan dalam pikiran Minrin. Siapa itu Kim Donggun dan apa itu I.L, dia butuh tahu. Tapi dia melihat Ryeowook sedang merasakan juga kepanikan yang sama, jadi Minrin mengurungkannya. Meskipun sulit untuk dicerna, tapi gadis itu berusaha untuk paham. Satu-satunya yang dipikirkannya adalah ibunya. Dia tidak ingin ibunya mengalami sesuatu. Pria bertopi itu bahkan mempunyai pistol untuk melukainya, dan Minrin tidak ingin menerka-nerka apa yang mungkin dilakukan orang-orang jahat itu pada ibunya.

Mobil yang mereka kendarai berhenti di depan rumah Minrin. Ryeowook yang turun lebih dulu bergegas mengecek pintu pagarnya yang ternyata sudah dibuka dengan paksa. Tidak jauh dari mereka berdiri, sebuah mobil hitam yang dulu pernah dilihat Ryeowook terpakir. Dia mulai khawatir. Apa mereka berhasil masuk kemari?

Pintu rumah itu sudah terbuka ketika Ryeowook dan Minrin berhasil masuk. Minrin yang sejak tadi sudah mulai panik bergegas berlari ke dalam dan mencari ibunya, tapi dia tidak menemukan siapapun. Sementara itu Ryeowook yang melihat bekas darah bercecer di lantai lantas menghentikkan langkah kakinya. Seseorang pernah terluka di sini dan semoga saja itu bukan Han Eonji.

Ryeowook menyusul Minrin dan dia langsung bernafas lega begitu melihat Han Eonji baik-baik saja. Wanita jago bela diri itu bahkan terlihat tanpa luka sedikitpun. Mengagumkan sekali bahwa wanita itu masih sangat kuat untuk melukai seseorang atau mungkin beberapa orang yang tadi berhasil menerobos masuk.

“Kita harus pergi, eomma akan menjelaskan padamu nantinya.” Eonji menarik tangan Minrin turun dari lantai atas.

Wae? Eomma, jebal…” Minrin merengek meminta penjelasan.

Ryeowook yang melihatnya hanya diam. Dia tahu semua memang sangat mendadak dan siapa menyangka Kim Donggeun melakukan ini semua. Penuh perhitungan, diam-diam dan juga tidak terduga, persis seperti yang selalu pamannya katakan pada Ryeowook.

Han Eonji menghentikkan langkah kakinya lalu berbalik, mencengkeram pundak Minrin kuat dan menatapnya. “Minrin-ya, pertama aku bukan ibumu dan kau bukan puteriku.”

Mwo? Eomma, Apa maksudmu?”

Gadis itu sudah berniat mendebat. Hal gila apa lagi yang didengarnya ini? Orang-orang yang sangat bernafsu membunuhnya dan sekarang ibunya bukan ibu kandungnya?

“Sekarang kau harus dengarkan aku! Orang-orang itu akan terus mengejarmu sampai dia menemukan dimana ayah kandungmu tinggal, dan kau tidak boleh tertangkap, mengerti? Ini menyangkut masa depanmu dan juga masa depan semua orang.”

Minrin mengernyit kebingungan. Dia menggeleng pelan. “Aku tidak mengerti.”

“Kita harus pergi Ryeowook-ah, Kim Ilsung … apa dia sudah menyiapkan semuanya?” kali ini Eonji beralih bertanya pada Ryeowook.

Ryeowook mengangguk kecil. “Ya, kita hanya perlu segera ke bandara.”

Minrin sekali lagi hanya menatap dua orang yang terlibat pembicaraan itu bergantian. Otaknya seakan menolak untuk mencerna semua yang dikatakan ibu dan juga Ryeowook.

“Apa maksud kalian? Bandara?”

Kajja!” Han Eonji kembali menarik tangan Minrin., menghiraukan gadis itu yang terus bertanya menuntut. Tangan lainnya menyeret satu koper besar.

Eomma, chakkaman…!” seru Minrin akhirnya. Dia sedikit meronta. Setidaknya dia butuh penjelasan lebih dari ibunya sebelum menuruti ucapannya.

Apa maksudnya ibunya bukan ibu kandungnya? Oh ya..Tuhan.

Belum sempat mereka bertiga keluar, suara pintu yang didobrak dengan keras terdengar. Eonji melepaskan tangannya lalu meraih pistol di balik jaketnya, begitu juga Ryeowook. Keduanya langsung bersikap waspada. Sementara itu tiga orang laki-laki berjas hitam terlihat masuk dengan membawa senjata mereka.

“Ryeowook-ah, bawa Minrin pergi, biar aku yang menghadapi mereka,” ucap Eonji tanpa berpikir banyak.

Eomma…!”

“Aku bilang pergi. Setelah ini selesai aku janji akan menemuimu dan menjelaskan semuanya.” Eonji melepaskan genggaman tangan Minrin yang mencengkeram tangannya.

Air mata gadis itu sudah menetes dengan pelan. Dia menolak pergi saat Ryeowook menarik tangannya. Tatapannya tidak lepas dari ibunya yang kini berjalan maju dengan hati-hati.

Eomma…”

Belum sempat keduanya berhasil keluar dari pintu belakang, terdengar suara tembakan yang pecah berkali-kali. Minrin menoleh lagi ke belakang. Di balik jendela belakang itu, dia bisa melihat ibunya yang tengah berjuang melawan tiga orang pria di depannya. Untuk pertama kalinya Minrin melihat ibunya menghajar pria-pria itu dengan tangan dan kakinya. Adegan seperti di film action itu terhenti ketika seorang pria berhasil meraih pistol dan menembak. Minrin menahan nafasnya, tercekat.

Jangan ibunya! Semoga bukan ibunya. Dia terus berdoa.

Sayang sekali Tuhan tidak sedang berpihak padanya. Air matanya menetes deras ketika akhirnya tubuh ibunya lah yang ambruk begitu peluru menembus punggungnya.

EOMMA!!!”

Minrin beringsut berlari tapi dengan cepat seseorang menahannya. Tangan Ryeowook sudah menahan tubuh Minrin dengan kuat sementara gadis itu terus meronta-ronta minta dilepaskan.

“Tidak…Tidak! Eomma…eomma jebal…”

“Kita harus pergi,” tegas Ryeowook yang langsung menggiring Minrin pergi dari tempat itu.

Eomma! Tidak, lepaskan aku! Aku harus kesana….eommaaa!!!”

Tubuhnya mendadak lemas. Kilasan-kilasan ibunya yang terjatuh makin menyayatnya sakit. Kedua tangannya saling menggenggam dengan kuat, sementara nafasnya tidak beraturan. Dan jantungnya berdegup cepat. Perasaan takut dan khawatir menyelimuti seluruh tubuhnya.

Minrin seakan sudah mati rasa. Dia tidak tahu apa yang tengah dirasakannya. Seluruh anggota badannya terasa kebas. Tatapannya menatap nanar lurus ke depana. Tidak ada tangis hanya deru nafas tak beraturan karena rasa takut. Dia bahkan tidak peduli kemana Ryeowook akan membawanya. Semua berjalan sangat cepat persis seperti dalam sebuah film. Meskipun dia menolak untuk tahu tapi apa yang baru saja dilihatnya tidak bisa dia buang jauh-jauh.

Bagaimana keadaan ibunya? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapa orang-orang tadi? Kenapa dia dikejar-kejar pria-pria itu?

Pertanyaan itu seakan-akan berputar dalam kepalanya, sementara otaknya sendiri tidak mampu mencerna semua kejadian yang dialamainya dengan baik.

CUT

***

Oke part ini lebih pendek dari part sebelumnya. Dan aku saranin buat merhatiin setiap partnya, karena mungkin ada informasi yang aku munculin di part ini tapi nggak muncul di part 4 dan baru akan muncul di beberapa part setelahnya. Intinya sih, aku harap kalian jeli aja gitu…biar nggak bingung. Aku aja yg nulis bingung mau digimanain … eeh lol -__-. Karena satu masalah nggak akan langsung selesai tapi mungkin justru akan ditambahi masalah lain.

Oke, sekian saja…sampai jumpa di part selanjutnya. ^^

Jangan lupa tinggalin komentar kalian, makin banyak yang komen makin cepet di publish 😀

Advertisements

13 thoughts on “(FF Series) Secret Guard Part 3

  1. Ya ampun part ini benar benar menegangkan.dag dig dug dibuatnya
    makin seru, berasa nonton film action bukan baca ff
    next part sangat d tggu.
    Authornim DAEBAK

  2. uhh entah kenapa jadi ikut tegang dan juga seolah bisa ngerasain langsung seperti nonton film action..
    ahh jinjja daebak!! kasian minrin harus kehilangan eomma nya,yahh meski bukan eomma kandung nya, semoga aja dengan ada nya Ryeowook bisa ngelindungin Minrin keep writing author! update kilat ne 😀

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s