-Series- One Side Love (6)

eunhye 6a

Title : One Side Love (6)

Fight of Love (1)   Terbagi (2)   The Road (3)   Still You, Baby! (4)   A Mistake (5)

Mobil itu melaju kencang di tengah jalanan kota Seoul yang tidak pernah sepi meski sudah jam dua dini hari. Keadaan yang harusnya diwaspadai tapi tidak untuk Lee Hyukjae. Pria itu bahkan menginjak pedal gas untuk membuat mobilnya melaju makin kencang di jalanan itu. Seharusnya dia tidak menyalurkan emosinya dengan kebut-kebutan di jalan raya karena bisa saja nyawanya terancan saat itu juga. Tapi Hyukjae tidak punya pilihan. Dia butuh sesuatu untuk meredakan emosinya yang sejak tadi terus menguasai setiap tubuhnya.

Dia sangat marah dan juga kecewa. Perasaan itu bahkan tidak bisa diungkapkan dengan baik oleh Hyukjae. Bayangan Minrin dan juga pria itu sekali lagi merusak konsentrasinya. Dia bahkan tidak percaya beberapa jam yang lalu masih mampu merendam emosi ini ketika di apartement Minrin. Rasa marah dan kecewa saat melihat gadis yang dicintainya berciuman mesra dengan pria lain. Hyukjae mengumpat tertahan saat mengingat kemesraan itu.

Dia tidak percaya gadis itu akan mengkhianatinya. Setelah apa yang Hyukjae lakukan padanya dan setelah apa yang mereka berdua lewatkan selama ini ternyata tidak berarti apapun bagi gadis itu. Mungkin Hyukjae lah yang terlebih dulu salah karena tidak punya keberanian untuk menentang permintaan kedua orang tuanya. Seharusnya Hyukjae benar-benar mengajak gadis itu menikah. Kata itu bahkan hanya bisa diucapkannya tanpa bisa direalisasikan. Dan sekarang gadis itu berani membagi hatinya dengan pria lain sementara Hyukjae masih sangat berharap kisahnya dengan gadis itu berlanjut. Hyukjae bahkan mencoba untuk tidak peduli dengan tunangannya sendiri, bersikap dingin dan juga menjauhkannya sebisa mungkian. Itu semua dilakukannya untuk Minrin karena Hyukjae tidak ingin menyakiti perasaan gadis yang dicintainya. Lalu sekarang gadis itu yang justru berani mengibarkan bendera perang dengannya.

Untuk kesekain kali Hyukjae mengumpat tertahan. Rasa manis bibir gadis itu yang tadi sempat dicicipinya mendadak menjadi sesuatu yang justru kembali menyulut emosinya. Bukan hanya dia yang menyesap manis bibir itu tapi pria lain bahkan lebih dulu merasakannya.

Hyukjae membanting strinya ke kanan, membelokkan mobilnya dan kembali membuat benda itu melaju makin cepat. Dia tidak tahu kenapa mengambil jalan ini. Beberapa ratus meter di depan sana ada sebuah gedung apartement elit. Dan sebelumnya Hyukjae selalu menolak untuk berkunjung ke sana tapi entah untuk sekarang. Tiba-tiba saja Hyukjae ingin menemui gadis yang tinggal di apartement itu, tunangannya.

***

Pintu apartement itu dibuka dengan pelan seiring gerakan tangan Hyehyo yang menyentuh knop pintu itu. Kedua bola mata gadis itu membulat pelan begitu melihat sosok pria yang berhasil mengganggu waktu tidurnya. Jam 2 pagi. Ya sekarang sudah jam 2 dini hari, dimana seharusnya semua orang terlelap dalam tidurnya, begitu juga dnegan Hyehyo. Gadis itu bahkan masih mengenakan celana olahraga longgar dan kaos berwarna putih ketika suara bel berbunyi. Dan pria di depannya inilah yang membuatnya turun dari ranjang dengan penampilan berantakan seperti ini.

Pria itu menatap Hyehyo lemah. Keadaannya terlihat sangat kacau. Dan Hyehyo berani bersumpah ini adalah kali pertamanya melihat pria ini menampakkan ekspresi menyedihkan seperti sekarang ini di hadapannya. Ekspresi antara rasa sedih, marah dan mungkin juga kekecewaan. Dan ekspresinya itu berhasil membuat Hyehyo mengurungkan pertanyaan yang hampir dilontarkannya tentang kenapa pria itu berada di sini.

“Lee Hyukjae?”

Hyehyo menyebut nama pria itu pelan. Pria yang nyatanya sudah menjadi tunangannya dan hanya tinggal menghitung hari menuju pernikahan mereka. Tapi pria ini lah yang minggu lalu berhasil membuat Hyehyo hancur.

Kejadian beberapa minggu yang lalu masih hangat di ingatan Hyehyo. Selang sehari setelah pesta pertunangan, waktu dimana Hyehyo masih merasakan kebahagian, pria itu tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang menyakitkan untukknya. Hyehyo hancur setelah hari itu. Dia bahkan  mengasingkan dirinya beberapa hari di Amerika sementara Hyukjae lebih dulu memilih pulang. Dan sekarang pria itu melangkah kakinya untuk menemuinya dengan keadaan yang menurut Hyehyo sangat kacau.

Hyehyo menyingkir pelan, memberi ruang untuk Hyukjae masuk. Sampai detik ini pun Hyehyo tidak berani bertanya apapun. Tapi dia menduga, ini ada hubungannya dengan gadis itu. Ya…tentu saja gadis itu yang telah membuat tunangannya seperti ini. Memangnya, siapa lagi orang yang akan membuat Hyukjae seperti ini? Mengingat pria itu sangat mencintai kekasihnya.

Menyedihkan bukan? Hyehyo adalah tunangan Hyukjae, tapi pria itu bahkan mempunyai seorang kekasih. Ya..dan itulah yang membuat Hyehyo hancur selama beberapa hari ini. Kenyataan bahwa sedikit pun Lee Hyukjae tidak akan melepaskan kekasihnya itu, dan mungkin begitu juga sebaliknya. Bahkan ketika Hyehyo mengutarakan rasa cintanya dan memohon agar Hyukjae menerimanya, pria itu justru menyebutnya sebagai malaikat yang sok polos.

Helaan nafas terdengar keras dari Hyehyo ketika sedikit pun Hyukjae tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bicara. Pria itu hanya duduk diam dengan kedua tangan bertumpu di pangkuannya. Tatapannya menatap kosong ke depan. Tatapan itu, ekspresi itu sama persis yang dimiliki Hyehyo saat meratapi kisah cintanya dengan Hyukjae beberapa hari yang lalu. Saat dia seperti kehilangan semangat dan saat dia merasa sampai kapanpun cintanya tidak akan terbalas.

“Kenapa tiba-tiba datang?” tanya Hyehyo akhirnya.

Hyukjae memutar kepalanya pelan dan seakan baru saja mendapat sebuah sinyal yang menyadarkannya dari kondisi kehampaan, dia mengernyit pelan. Apa itu? Apa dia sedang kebinguangan karena tiba-tiba berada di sini? Semoga saja dia tidak habis minum sebelum datang ke sini.

“Ini seperti bukan dirimu. Satu minggu yang lalu kau mencampakkanku di jalanan setelah menyuruhku berhenti peduli. Lalu kau tiba-tiba sudah kembali ke Seoul tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Dan sekarang kau datang seakan-akan hubungan kita sangat baik selama ini. Kau membuatku bingung, Hyukjae-ssi.” Hyehyo mencibir pelan. Meskipun kenyataannya dia tidak ingin mengatakan hal itu, tapi sepertinya kepedulian Hyehyo selama ini untuk Lee Hyukjae ikut memudar seiring berjalannya waktu.

Bukankah pria ini yang telah membuatnya seperti mayat hidup yang hanya tahu caranya menangis? Lee Hyukjae memang melakukan itu padanya.

“Aku butuh tempat istirahat,” jawabnya sekenanya. Sekali lagi Hyehyo mengernyit. Benar-benar menyebalkan tapi entah darimana, Hyehyo menduga ada sesuatu yang tengah terjadi dengan pria ini.

Dan jika dugaannya benar, maka ini ada hubungannya dengan gadis lain yang amat dicintai Hyukjae.

“Kau bisa pergi ke tempat kekasihmu untuk istirahat dari pada mendatangi apartementku dini hari buta seperti ini.”

Hyehyo berdiri dari tempatnya, lalu menatap tajam ke arah Hyukjae. Entah kenapa nada suaranya menjadi sangat marah saat menunjuk kekasih Hyukjae tadi. Pada akhirnya memang luka itu masih basah.

“Pulanglah!” pintanya pelan.

Hyukjae mengangkat kepalanya lalu untuk pertama kalinya Hyehyo merasakan mendapatan tatapan penuh milik Hyukjae itu. Sebuah tatapan yang kalau Hyehyo tidak salah mengartikan adalah tatapan memohon. Tatapan kesedihan yang baru kali ini dilihat Hyehyo. Secepat kilat Hyukjae sudah kembali memalingkan wajahnya. Pria itu tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Dan tentu saja itu membuat Hyehyo kembali mengurungkan niatnya untuk mengusir.

Sesuatu mendorong Hyehyo untuk mendekat. Dan perlahan Hyehyo kembali ke tempat duduknya. Kali ini memilih duduk tepat di samping Hyukjae. Sementara pira itu sudah menundukkan kepalanya dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Sikapnya yang terlihat frustasi dan juga sedih menggerakkan hati Hyehyo. Gadis itu perlahan mengangkat tangannya, menyentuh pundak Hyukjae.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengusirmu,” ujarnya merasa bersalah.

“Apa kau terlihat seperti ini setelah aku meninggalkanmu di jalan itu?” tanya Hyukjae tiba-tiba. Hyehyo diam sebentar.

Ingatannya berputar cepat. Hembusan angin musim gugur New York yang dingin masih diingatnya dengan baik. Angin dingin sedingin sikap Hyukjae padanya.  Daun-daun maple menemaninya saat itu, ketika Hyukjae melangkahkan kakinya menjauh. Gadis itu ditinggalkan di sebuah jalan di tengan dinginnya angin musim gugur bersama daun maple yang berguguran.

Ya..persis seperti ini, Hyuk-ah.

Hyukjae mungkin tidak tahu tapi memang persis seperti inilah yang dialamai Hyehyo saat itu. Dia hanya menghabiskan waktunya dengan duduk melamun, merutuki keputusannya untuk menerima pertunangan tanpa berpikir panjang bahwa seorang Lee Hyukjae tidak akan melihat ke arahnya. Hyehyo benar-benar hancur, dan dia bahkan berpikir untuk segera membatalkan semuanya. Tapi hatinya yang tidak setuju. Dia tidak ingin menyerah. Dia akan membuat Lee Hyukjae melihatnya, meskipun rasanya terdengar mustahil.

“Kau pasti membenciku.”

Aniyo,” Hyheyo menyela cepat. Hyukjae lantas menoleh pelan.

“Aku tidak pernah membencimu Lee Hyukjae,” ucap Hyehyo pelan. “Kau bertanya apa aku seperti ini saat kau meninggalkanku, jawabannya ya…aku benar-benar hancur saat itu. Kau benar-benar brengsek, kau tahu! Meskipun kau membenciku, meskipun kau terus menerus menolak tapi inilah kenyataannya. Kenapa kau tidak mencoba untuk menerima? Kau terus menerus bersikap dingin padaku atau membenciku pun tidak akan mengubah kenyataan. Meskipun kau terus melakukan itu, kau juga tidak akan bisa memiliki gadis itu, kan?”

“Orang tuamu, mereka tidak akan…”

“Yaah, aku tahu itu,” Hyukjae memotong pelan ucapan Hyheyo, hingga membuat gadis itu terdiam.

Karena Hyukjae tahu dan teramat mengerti dengan alasan dibalik keputusan orang tuanya mengatur pertunangannya dengan Hyehyo. Tentu saja karena kedua orang tuanya tidak pernah bisa melihat anaknya bersanding dengan seorang rendahan –dimata orang tuanya- seperti Minrin. Donghae saja berhasil mendapatkan gadis baik-baik dari kalangan atas, kenapa dengannya yang merupakan anak tertua harus menjalin hubungan dengan orang kalangan bawah. Dan itulah alasan yang berulang kali diucapkan ibunya.

Ini bukan cerita cinderella, dimana sang pelayan akan berubah menjadi puteri raja. Ini juga bukan cerita-cerita picisan tentang hubungan sepasang kekasih beda kasta. Karena inilah kenyataannya. Hyukjae menyadari akhir bahagia seperti itu hanya dalam cerita dan drama. Kenyataannya, memang tidak bisa. Sekeras apapun dia mencoba bertahan, membuat gadis itu berada di sampingnya, tapi pada akhirnya akan ada sesuatu yang membuatnya melepaskan gadis itu, atau yang paling menyedihkan adalah sesuatu yang justru membuat gadis itu menjauh dari Hyukjae.

 “Kau mencintainya?” tanya Hyehyo kemudian.

“Kau pasti berpikir aku pria yang menyedihkan karena dibuat bertekuk lutut oleh gadis sepertinya, benarkan?”

Hyehyo menggelenng pelan lalu tersenyum tipis. Nada suara Hyukjae tidak lagi sedingin kemarin. Ekspresinya tidak lagi datar dan beruntung pria itu masih tahu caranya untuk tersenyum, atau paling tidak berusaha menyembunyikan kesedihannya dari Hyehyo. Ya..meskipun Hyehyo tidak akan mudah dibodohi.

“Sayangnya aku memang benar-benar menyedihkan. Menurutmu pria mana yang akan diam saja saat melihat kekasihnya bersama pria lain? Bersikap manis dengannya dan bahkan saling berbagi ciuman selamat malam, kurasa hanya akulah pria itu.”

Hyehyo memutar kepalanya pelan. Gadis itu sudah ingin melontarkan pertanyaann-pertanyaan yang sekali lagi mengganggunya tapi kembali diurungkannya.

“Dan kau pasti sedang menertawakanku karena kebodohanku itu. Pria menyedihkan ini sekarang mencari tempat istirahat dan bodohnya dia datang ke tempat yang semula sangat dihindarinya.” Hyukjae menoleh pelan dan sekali lagi menatap Hyehyo dalam. Gadis itu membalasnya.

“Kau benar-benar membenciku?”

Hyehyo diam kemudian. Saat seperti inilah yang sejak dulu sangat diinginkan Hyehyo. Saat Hyukjae bisa menatapnya seorang dan saat diirnya bisa membalas tatapan milik Hyukjae. Bahka hanya dnegan saling bertatapan seperti ini sangat membuat Hyehyo bahagia.

“Aku pikir aku membencimu karena kaulah yang secara tidak langsung menjauhkanku dari Minrin, tapi apa kau pikir aku benar-benar membencimu setelah tanpa berpikir panjang aku memilih datang menemuimu saat ini?”

Hyehyo tertegun. Kedua mata mereka masih saling menatap.

“Kau bilang tidak akan menyerah. Kau juga mengatakan akan bertahan meskipun kau tidak pernah bisa mendapatkan hatiku. Kenapa? Kenapa kau mau melakukannya?”

“Karena aku mencintaimu. Karena aku menginginkanmu, Lee Hyukjae.” Hyehyo memajukan kepalanya dan mengecup bibir pria itu dengan lembut.

Hyukjae yang merasa kaget lantas mendorong pelan gadis itu. Kedua matanya kembali mengernyit bingung. Tapi Hyehyo dengan tulus justru tersenyum padanya. Hyukjae kembali menatapnya dalam diam. Mencari jawaban lain yang diinginkannya dari tatapan itu. Lalu sesuatu terlintas di benaknya, bahwa sekuat apapun dia menyuruh gadis ini menjauh, pada akhirnya tidak akan berhasil.

Mungkin karena saling terbiasa. Karena Hyukjae terbiasa dengan kehadirannya selama ini yang ternyata mengubah persepsinya bahwa Hyehyo adalah gadis yang menyebalkan yang pantas dibencinya. Karena sebenarnya Hyukjae memang tidak membencinya.

Tangannya terulur membelai kepala gadis itu. Dia mulai memiringkan kepalanya dan balas memberikan ciuman manis itu untuknya. Hyehyo diam dan menutup matanya saat akhirnya Hyukjae mulai memperdalam ciuman mereka.

CUT

Advertisements

One thought on “-Series- One Side Love (6)

  1. annyeong eonni !!,, aku suka dengan alur ceritanya, kenapa gg dilanjutin lagi ? masih penasaran gimana perasaan minrin ke hyukjae setelah ini dan itu 😀 hahahaha ,, please eonn,, dilanjutin ya series yang ini 🙂

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s