-Series- A Mistake (5)

ryeo-hyuk-min 4

Title : A Mistake (5)

Fight of Love (1)   Terbagi (2)   The Road (3)   Still You, Baby! (4)

***

Dia melihatnya. Pria itu melihatnya. Minrin membuka matanya kecil, saat sentuhan lembut itu masih dirasakannya melumat bibirnya. Sekitar satu menit gadis itu seperti kehilangan akalnya. Tangan kanan Ryeowook masih menahan pinggangnya sementara tangan yang lainnya berhasil membuat wajah Minrin tetap berada dalam jangkauannya. Minrin sedikit menjauhkan kepalanya ketika akhirnya Ryeowook sedikit memberinya ruang untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Lalu di sana, di balik mobil itu, sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Lebih tepatnya sedang memperhatikan Minrin. Gadis itu terdiam seketika, tubuhnya menegang.

Tatapan penuh kesedihan yang nyaris tak terlihat dari luar jendela mobil  itu cukup membuat Minrin tidak punya lagi kekuatan. Dia menghiraukan gerakan Ryeowook yang sekali lagi berhasil mengunci bibirnya. Pikirannya tidak lagi fokus dengan apa yang tengah dilakukannya bersama Ryeowook di depan rumahnya. Satu-satunya yang berhasil mengalihkan perhatiannya adalah tatapan milik pria di balik kaca mobil itu.

Dia melihatnya, Lee Hyukjae melihatnya.

Minrin tersadar, saat hembusan dingin dari angin yang bertiup menyapu permukaan wajahnya. Wajah Ryeowook tidak lagi sedekat tadi. Pria itu kini tengah tersenyum ke arahnya.

“Masuklah, ini sudah terlalu malam,” katanya lembut.

“Ah…ya..” Minrin menarik nafasnya panjang secara perlahan, lalu berusaha membalas untuk tersenyum. “Sampai jumpa lagi,” ucapnya kikuk. Dia melambaikan tangan kanannya pelan dan dibalas oleh Ryeowook.

“Sampai jumpa.”

Ryeowook menunggu sebentar sebelum Minrin masuk lebih dulu. Sementara Gadis itu masih berusaha terus tersenyum dengan canggung setelah apa yang mereka tadi lakukan. Akal sehatnya pasti sudah terkubur sejak tadi, hingga tanpa bisa menolak Minrin menerima ciuman itu dari Ryeowook. Benar-benar bodoh! Apa yang dipikirkannya hingga berani berciuman dengan pria lain selain kekasihnya?

Lee Hyukjae, ya..pria itu bahkan melihatnya. Kekasihnya sendiri telah menyaksikan kebodohan yang baru saja dilakukan Minrin.

***

Sebuah kebodohan sesaat ataukan memang tidak ada lagi rasa yang tersisa untuk Lee Hyukjae? Pertanyaan itu terus dipikirkan Minrin bahkan setelah dia sudah berada di dalam rumah. Dia tengah berjalan dengan pelan menuju ruang tengahnya ketika suara bel rumah tiba-tiba berbunyi. Jantungnya berubah berdetak lebih cepat. Dia tahu siapa yang datang. Dan dia tahu dia tidak bisa menghindar sedikitpun. Dia pun menarik nafasnya dengan panjang sebelum berbalik menuju pintu. Tidak lebih dari tiga menit, dia sudah berdiri di depan pintunya dengan gugup. Kedua tangannya saling meremas sebelum salah satunya terangkat untuk membuka knop pintu itu.

Klek.

Dan sebuah senyuman hangat menyambutnya. Padahal yakin, Minrin sudah bisa menebak ekspresi seperti apa yang akan ditunjukkan Hyukjae kepadanya. Bukannya merasa lega, tapi justru sebaliknya. Hyukjae seharusnya tahu, tapi pria itu berpura-pura tidak tahu.

“Kau tidak mempersilahkanku masuk?” tanyanya dengan riang tanpa ada sedikitpun nada kekecewaan bahkan kemarahan di sana.

Minrin mengangkat alisnya sebelah, lalu tersenyum kecil. Dia menyingkir ke samping dan memberi jalan pada Hyukjae untuk masuk. Pria itu berjalan lebih dulu menuju sofa di ruang tamu itu sebelum Minrin mengikutinya dengan pelan. Gadis itu nyaris tidak bisa bernafas dan berpikir. Dia tahu dia tidak bisa menghindar tapi mengakuinya pun merupakan hal tersulit untuknya. Baru beberapa hari yang lalu dia meyakinkah Lee Hyukjae bahwa apapun yang terjadi saat ini, rasa cintanya untuk pria itu tidak berubah, meskipun kenyataannya pria itu telah bertunangan dengan gadis lain. Dia bahkan bersedia menjadi wanita lain diantara kehidupan Hyukjae-Hyehyo. Dan anehnya dia sama sekali tidak merasa bersalah. Apa yang membuatnya salah? Hyukjae memilihnya dan sejak awal pria itu hanya menginginkannya. Tidak ada yang salah.

Satu-satunya kesalahan di sini adalah, ketika Minrin membiarkan pria lain selain Hyukjae memasuki kehidupannya, mengacaukan sistem syarafnya dan yang selalu membuat hatinya berdetak tidak karuan. Entah sebutan apa yang tepat untuknya, saat menerima cinta pria lain sementara dia sendiri tidak bersedia melepaskan tangan kekasihnya sendiri yang sebetulnya sudah bertunangan dengan gadis lain.

Lee Hyukjae sudah duduk di sofa sementara Minrin masih berdiri diam tidak jauh darinya. Gadis itu memperhatikan pria itu sejenak, dan bersiap untuk bicara ketika akhirnya Lee Hyukjae lah yang memulai.

“Aku lelah. Bisakah aku menginap di sini?” tanya Hyukjae tidak disangka Minrin. Pria itu menoleh ke belakang lalu tersenyum lebar pada Minrin. Senyuman khas milik Lee Hyukjae yang menurut Minrin mampu membuatnya ikut tersenyum. Namun, tidak untuk kali ini.

“Hyukjae-ya….” dan panggilan lemah itu satu-satunya yang bisa diucapkan Minrin setelah itu.

Pria itu tidak menjawab dan tetap tersenyum. Kedua bola matanya menatap penuh pada Minrin, seakan-akan gadis itu adalah satu-satunya obyek yang harus ditatapnya, mematrinya kuat-kuat dan sama sekali tidak melepaskannya. Perlahan Hyukjae bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Minrin dan berdiri tepat di depannya. Tatapan itu masih belum dilepaskan sedikitpun dari gadis yang hampir membuatnya gila ini. Tangan kananya terangkat pelan menyentuh dagu Minrin, memaksa gadis itu menatapnya.

Minrin mengerjapkan matanya beberapa kali lalu tanpa punya kekuatan untuk menolak dia mengangkat sedikit kepalanya, membalas tatapan Hyukjae yang sejak tadi menghujam ke arahnya. Pria itu sedang menunjukkan kekecewaannya. Luka. Yah… itulah yang baru saja Minrin torehkan pada pria ini. Dan Minrin lagi-lagi bodoh jika tidak langsung memahaminya.

“Hyukjae-ya, aku….”

Kata-kata Minrin terpotong ketika Hyukjae dengan pelan memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Minrin. Tidak ada gerakan lebih di sana, Hyukjae hanya diam sesaat. Minrin gagal mengantisipasi. Gadis itu mengira Hyukjae akan menciumnnya seperti biasanya, memberikan lumatan lembut yang selalu membuat Minrin kehilangan akal. Tapi dia lupa bahwa Hyukjae melihat semua yang tadi dilakukannya dengan Ryeowook.

Tidak lama Hyukjae melakukan hal itu. Dia langsung menjauhkan kembali wajahnya lalu kembali tatapannya menatap penuh kedua mata Minrin. Senyuman tadi sudah menghilang bergantikan wajah teduhnya yang seperti menahan sesuatu untuk dikatakan.

“Aku berpikir untuk mengakhiri ini semua. Sejak awal itulah yang ingin kulakukan. Hanya kau..hanya kau Shin Minrin, gadis yang kuijinkan berada di sampingku,” ucapnya lemah penuh dengan ketulusan. Minrin diam sesaat. Paru-parunya terasa sudah gagal bekerja untuk menampung oksigen, karena nyatanya rasa sesaak itu tiba-tiba muncul.

“Tapi Gadis itu menyukaiku, dia bilang mencintaiku,” Hyukjae melanjutkan lalu sekali lagi Hyukjae mengangkat tangan kanannya, kali ini menyentuh wajah Minrin dari samping.

Eottoke? Kau lebih mencintaiku dibandingkan dengan gadis itu kan? Eottoke, Minrin-ya?” tanyanya dengan nada yang rendah, hingga membuat Minrin ikut mengubah ekspresinya menjadi tegang.

Apa yang berusaha diucapkan Hyukjae padanya?

Minrin hanya diam. Dia tahu Hyukjae sedang mengujinya. Atau sebenarnya Hyukjae sedang berusaha membuatnya untuk mengakui sebuah kesalahan bahkan sebelum ditanya?

“Bagaimana apanya? Kau berubah pikiran? Kau mulai tertarik padanya?” tanya Minrin memancing. Kedua matanya menyipit pelan dan sekuat tenaga mengontrol suaranya agar terdengar biasa.

“Mereka bilang, terbiasa bertemu akan mengubah semua rasa tidak suka. Kalau aku tertarik padanya, apa yang akan kau lakukan?”

Minrin diam, berpikir sejenak. Jika Hyukjae tertarik pada gadis lain? Tentu saja Minrin tidak akan suka. Apa dia bodoh akan bersikap baik-baik saja saat pria yang dicintainya bersama gadis lain? Ya..mungkin seperti itulah, kecuali perasaannya yang sejak kemarin tidak dimengertinya ini benar-benar sudah berubah. Bahwa perasaan itu sudah terbagi untuk yang lain.

“Meskipun rasanya akan sangat menyebalkan, tapi kurasa tidak ada yang bisa kulakukan. Bukankah jika saat itu terjadi, berarti hatimu telah berubah juga? Aku tidak akan melaikukan hal bodoh apapun, Hyukjae-ya…”

Hyukjae kembali diam dengan ekspresi wajahnya yang berubah dingin. “Maafkan aku,” ucapnya pelan.

 Kemudian dengan gerakan pelan Hyukjae menarik Minrin lebih dekat, memposisikan tangannya di pinggang gadis itu dan tangan lain di tengkuknya. Sekali lagi Hyukjae mencium gadis itu, kali ini berbeda dari sebelumnya. Dia menyesap pelan bibir gadis itu dan melumatnya. Dan seperti yang selalu terjadi sudah-sudah, Minrin tidak pernah bisa menolak sentuhan itu. Sentuhan lembut yang selalu berhasil membuatnya kehilangan akal. Sentuhan lembut yang kali ini tidak hanya memberikan sensasi mendebarkan tapi juga rasa bersalah.

Bagaimana bisa dia berciuman dengan dua pria yang berbeda dalam rentang waktu kurang dari dua jam? Gila! Ya…dia yang gila dan juga bodoh.

Basah. Ya..rasanya basah ketika Minrin menyadari dia sudah menangis. Air matanya melebur dalam gerakan yang dibuat Hyukjae. Dia tidak berani membuka matanya sedikitpun, membiarkan saja air matanya terus menetes. Punggungnya sudah menghantam pelan dinding di belakangnya. Dia tidak menyadari sejak kapan Hyukjae mendorongnya dan membuat posisinya terpojok antara dinding dan Hyukjae. Pria itu terlihat sekali belum berniat menjauh sedikitpun ataupun menyudahi ciuman dalam yang tengah mereka lakukan. Sampai akhirnya Minrin yang sedikit menundukkan kepalanya karena kehabisan nafas sesaat sebelum Hyukjae kembali melumat bibirnya.

Hyukjae yang menyadari perubahan sikap Minrin akhirnya meredam keinginanya. Balasannya, dia hanya menempelkan bibirnya sekali lagi dan mengecupnya pelan. Setelah itu dia menajuhkan kepalanya dengan kedua tangan yang masih belum terlepas sedikitpun.

Minrin mendongak dan lagi-lagi tatapan Hyukjae yang sekali lagi menunjukkan rasa sakit kembali menohok hatinya.

“Maafkan aku, Minrin-ya,” ucapnya sekali lagi.

Kenapa dia terus mengucapkan maaf? Apa disinilah semuanya akan berakhir? Semua hal yang telah mereka lewati serta perjuangan untuk tetap bersama, apa semuanya hanya akan sampai di sini?

 ***

Hai, semuanya ^^ 
kembali setelah sekian lama, dan aku bawa lagi mini series ini… hehe. Sesuai janji, januari saya bakal kembali nulis, tapi sepertinya belum bisa benar-benar kembali. Dan janjinya kemarin mau nerusin secret guards sama 8S8L8H. Tenang, janjinya bakalan ditepati kok…tapi belum bisa publish di minggu2 awal ini karena masih harus sidang proposal dan juga persiapan PKL. Mohon doanya semoga lancar semuanya, jadi aku bisa nerusin ff yang masih hutang. Kali ini untuk pemanasan nulis lagi aku publish mini seriesnya dulu ya…  jangan lupa dikomentarin ^^ 
.. Oh… iya…sampai lupa…ngucapin taun barunya>< Happy new year semuanya. Semua tahun ini tahun yang baik untuk kita semua. Aamiin… 
oke, sekian dulu. sampai jumpa di part, ff, postingan selanjutnya..byee……

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s