-Series- Still You, Baby! (4)

eunhyuk-14

Title : Still You, Baby! (4)

[Fight of Love (1)]   [Terbagi (2)]   [The Road (3)]

Musim gugur di Korea sama dinginnya dengan di New York.  Dan sepertinya memang semua musim gugur di belahan bumi ini juga sama. Tapi anehnya Lee Hyukjae lebih menyukai bagaimana tubuhnya merasakan dinginnya angin musim gugur di Korea. Negara ini dan semua hal di dalamnya adalah bagian tersendiri yang membuatnya selalu senang. Perasaan yang membutnya untuk kembali. Seperti kembali ke rumah, ke tempat yang memang seharusnya dia berada. Dan gadis yang kini duduk diam itu adalah alasannya untuk tidak berlama-lama di luar negeri. Ya..gadis itu. Gadis yang hampir –selalu- membuatnya gila karena memikirkannya. Seorang gadis yang secara tidak sengaja dibiarkan kesakitan dan dibiarkan menanggung rasa itu sendirian. Dan Hyukjae merasa menjadi pria paling brengsek jika mengingat apa yang baru saja dilakukannya hingga membuat gadis di depannya ini sakit.

“Aku tahu ini tidak akan berhasil,” ucapnya lemah setelah menarik nafasnya dalam. Hyukjae tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghentikkan rasa sakit yang dialami gadis ini dan mungkin rasa sakit yang ternyata juga perlahan merasukinya. Tapi entah kenapa dia tidak ingin memilih jalan yang dipikirkannya itu.

Berpisah? Demi Tuhan itu adalah kata yang paling dihindari Hyukjae untuk diucapkan selama ini. Apapun yang orang tuanya lakukan dan nasihat apapun yang dilontarkan Donghae padanya, pada akhirnya Lee Hyukjae tetap ingin bersama gadis ini. Dia sama sekali tidak punya niatan sedikitpun untuk melepaskan gadis ini. Tidak pernah. Gadis itu adalah rumah bagi Hyukjae. Bahkan ketika semua orang berpaling darinya, berubah memusuhinya, setidaknya Lee Hyukjae masih punya rumah –seseorang- yang akan merentangkan tangan untuk menerima kehadirannya.

Tapi sekarang..entah kenapa dia merasa jaraknya dengan gadis ini makin jauh. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang tak terlihat yang perlahan membatasi keduanya. Dia bahkan juga tidak tahu masih sebanyak apakah rasa itu bersisa.

Hyukjae yang memulainya saat perlahan menjauh dari gadis ini. Dia yang bersalah. Dan sekarang Hyukjae merindukan saat-saat yang seperti dulu. Ketika dirinya bisa bersama dengan gadis ini tanpa mengkhawatirkan apapun.

“Aku tidak memaksa, kau tahu itu kan? Kau tidak menghubungiku selama dua minggu lebih dan aku tidak menanyakan kenapa.”

Hyukjae mendongak menatap gadis di depannya itu. “Minrin-ya…”

Minrin tersenyum simpul lalu menyesap kopinya perlahan. Gadis itu berulang kali menarik nafasnya dalam-dalam. Seakan-akan oksigen itu akan menghilangkan perasaan aneh dalam dadanya. Rasa sakit yang tentu saja bisa dilihat Hyukjae. Dan melihat semua itu membuat Hyukjae terus merasa bersalah. Apa yang harus dikatakannya? Dia tidak akan tega untuk mengatakan bahwa saat ini seorang gadis lain telah menjadi tunangannya dan hanya tinggal menunggu hari sampai dia mengikat gadis lain itu dalam janji pernikahan bersama. Bukan maksud Hyukjae tentu saja. Karena nyatanya dia juga tidak menyangka bisa mengiyakan begitu saja pertunangannya dengan Hyehyo.

“Apa yang kau lakukan di Amerika?” tanya Minrin kemudian. Gadis itu terlalu baik menjaga ekspresi wajahnya menjadi biasa saja dan itu menjengkelkan utuk Hyukjae karena Minrin sudah pasti mengetahui tentang pertunangan itu.

“Berjalan-jalan,” jawab Hyukjae tidak bersemangat. Ia menghela nafasnya. Tenggorokannya terasa tercekat dan sekali lagi ia akan kehilangan kata-kata.

“Bagaimana dengannya?”

Sekali lagi Hyukjae mendongak, mengernyit pelan dan bersiap untuk melontarkan protesnya karena sikap biasa-biasa saja yang ditunjukkan Minrin padanya. Hyukjae lebih senang gadis itu meluapkan emosinya saat ini juga. Rasanya lebih menyakitkan ketika Hyukjae harus melihat gadis yang dicintainya ini menahan rasa sakit dalam hatinya.

Tidak bisakah dia berhenti berpura-pura?

“Seharusnya kau bertanya bagaiamana denganku? …bagaimana dengan kita?,” balas Hyukjae tidak tahan pada akhirnya. Kedua matanya menatap penuh ke depan dan sekali lagi dia hanya melihat senyum tipis nyaris tak terlihat yang dilakukan Minrin.

“Bagaimana dengan kita?” Minrin mengulang pertanyaan itu. Tatapannya menghindar dari Hyukjae dan itu membuat Hyukjae menjadi semakin jengkel. “Menurutmu apa yang akan terjadi dengan kita?” lanjutnya.

Hyukjae berdecak kecil lalu menunduk. “Aku tidak ingin kita berpisah. Kau tentu tahu itu kan?” ucap Hyukjae menekankan.

“Lalu?”

“Kita masih bisa bersama. Kau dan aku… meskipun aku akan menikah dengan gadis lain tapi itu hanyalah formalitas di depan hukum. Aku bahkan tidak peduli soal itu.” Nada suara Hyukjae bersikeras. Sikap yang selalu ditunjukkannya selama ini. Diam-diam Minrin lalu tersenyum.

“Cih…Lee Hyukjae neo jinjja!!” decak Minrin lalu terkekeh

Permintaan yang sangat kekanak-kanakan tentu saja, namun entah kenapa Minrin menyukainya. Dia seperti mengenal kembali sosok Lee Hyukjae yang menghilang dua minggu terakhir. Lee Hyukjae yang semaunya sendiri dan sama sekali tidak menerima penolakan.

“Kau ingin akau jadi simpananmu? Selingkuhanmu?”

“Jika itu jalan satu-satunya, kenapa tidak?” sambung Hyukjae tidak peduli.

Diam-diam Minrin kembali tersenyum. Kedua matanya kini beralih menatap Hyukjae. Seakan-akan Tuhan mengembalikan kembali sosok pria yang diinginkannya ini meskipun dengan sesuatu yang berubah di sana. Dan otaknya pasti sudah tidak waras ketika berpikir pilihan yang diajukan Hyukjae itu tidak terlalu buruk. Hei, bukankan pria itu mencintainya? Yah…Lee Hyukjae masih mencintainya meskipun dia diharuskan hidup dengan gadis lain yang dibencinya.

Joa…”

Sepertinya tidak apa-apa tidak bisa memiliki seorang Lee Hyukjae, tapi setidaknya ada satu hal yang berhasil Minrin genggam dari pria itu yaitu hatinya. Sejak awal hati pria itu sudah digenggamnya dan Minrin berhasil bertahan sampai detik ini untuk tidak melonggarkan genggamannya sedikitpun.

Cinta tidak harus memiliki. Dan sepertinya seorang gadis pelayan seperti dirinya memang tidak pantas mendapatkan cinta seperti itu. Tapi setidaknya Minrin bukan orang yang kalah, karena dia berhasil menggenggam cinta itu.

Karena seorang Lee Hyukjae yang masih mencintainya sudah cukup untuknya bertahan.

***

CUT

***

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s