Bittersweet After Story #1 – I Never Regret Marrying You –

ryeomin 45

Title : Bittersweet After Story #1 –I Never Regret Marrying You-

Cast : Kim Ryeowook, Shin Minrin

Genre : Romance, Married Life

Rating : PG17

Length : Twoshoot (7753 words)

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

***

Aku belajar mencintaimu dan kurasa saat ini aku benar-benar telah jatuh cinta padamu, pada pria yang dulu pernah melihatku menangis sendirian, pada pria yang dulu pernah menakutiku pada cerita hantu. Ya.. aku mencintaimu

Jangan menyesali keputusanmu saat memiih hidup bersama denganku, karena aku juga tidak akan menyesal.

 Tidak ada sedikitpun penyesalan ketika aku memutuskan untuk hidup bersama denganmu. Dengan seorang gadis yang pertama kalinya dan kupastikan menjadi yang terakhir yang membuatku jatuh cinta. Ya…aku mencintaimu.

***

Wanita itu terlihat sedang memfokuskan diri pada pekerjaannya. Pisau dan alat-alat dapur lainnya telah menjadi temannya sejak pagi ini. Sesuatu yang baru kali ini dilakukannya dengan suka rela, yaitu memasak. Menyibukkan dirinya di dapur demi menciptakan sebuah masakan untuk seseorang yang akan segera pulang sebentar lagi. Sebelumnya mana mungkin dia melakukan ini. Hidup sederhana dan bahkan terkesan kekurangan tidak berarti membuatnya pintar di dapur. Benar-benar kelemahan terbesarnya.

Campur tangannya membuat dapur itu memang terlihat sedikit berantakan. Pemandangan yang langsung membuat seorang pria yang baru saja masuk tercengang. Pria itu baru datang beberapa menit yang lalu dan mendapati apartementnya sangat sepi. Tentu saja dia bertanya-tanya dimana gerangan wanita yang sejak dua minggu ini amat sangat dirindukannya. Dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati isterinya itu tengah berkutat di dapur.

Senyum Ryeowook terkembang begitu saja darinya saat memperhatikan wanita bernama Shin Minrin -atau haruskah dia menyebutnya Kim Minrin- itu tengah bersusah payah menyiapkan makan siang untuknya. Beberapa kali Minrin melihat resep yang ditempelkannya di almari es sembari terus mengaduk isi pancinya. Ryeowook sedikit menahan  tawanya saat melihat wanita yang sangat dicintainya itu sesekali merengut kesal dan juga berdecak. Bukan maksudnya meremehkan tapi Ryeowook justru sangat mengagumi kesungguhan Minrin. Sepertinya wanita itu benar-benar menempati janjinya saat mengatakan bahwa akan belajar memasak untuk Ryeowook.

Ryeowook masih ingat dengan jelas ucapan Minrin di telepon tempo hari. Dan sepertinya Ryeowook juga harus benar-benar berterima kasih pada ibunya yang telah bekerja keras mengajari Minrin.

Tatapan Ryeowook masih belum beralih sedikitpun darinya. Dia bahkan terlihat menikmati pemandangan yang menurutnya sangat indah. Kedua tanganya terlipat di depan dada, dan tubuhnya bersender di pintu, memposisikan dirinya senyaman mungkin untuk memperhatikan wanita yang sangat dicintainya itu. Sosok wanita yang menurut Ryeowook sangat cantik. Rambut panjangnya diikat ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang benar-benar memikat. Dan setiap gerakan yang dibuat Minrin tidak sedikitpun luput dari perhatiannya. Seakan-akan apapun yang dilakukan Minrin perlu direkam baik-baik diotaknya, dan bahwa dia perlu mematri kuat-kuat sosok itu.

Ryeowook benar-benar merindukannya. Sangat merindukannya.

Dia mulai berjalan pelan menghampiri Minrin saat dirasa tidak mampu lagi menahan diri untuk memeluknya. Belum ada sepatah katapun yang diucapkannya untuk membuat Minrin menyadari kehadirannya. Entahlah..sepertinya Ryeowook terlalu menikmati moment ini. Saat dia diberi kesempatan untuk mengagumi kecantikan wanita yang dipilihnya itu melalui indra penglihatannya.

“Oh…,” terdengar decak kesal singkat dari Minrin, saat secara tidak sengaja membuat tangannya memegang panci yang panas.

Ryeowook mengenyit sebentar lalu dengan segera mempercepat langkahnya. “Gwaenchana?” tanyanya khawatir.

Minrin yang baru menyadari kehadirannya itu pun menoleh. Kedua matanya seketika itu menatap tidak percaya sosok pria yang kini berdiri di belakangnya. Ryeowook menarik tangan Minrin dan memeriksa jari telunjuknya. Kekhawatirannya mungkin terlihat berlebihan, karena nyatanya tidak ada luka serius di jari telunjuk itu. Sementara itu Minrin yang masih belum percaya hanya mampu menatapnya dalam diam, membiarkan Ryeowook yang kini tengah memegang tangannya.

“Ryeowook-ssi, kapan kau tiba?” tanyanya pada akhirnya setelah sebelumnya hanya mampu memperhatikan saja wajah suaminya itu, menyadarkan dirinya bahwa sosok di depannya kini adalah nyata.

Ryeowook tersenyum dan beralih merapikan poni Minrin yang sedikit menutupi matanya. “Beberapa saat yang lalu,” jawabnya.

Jinjja? Kenapa aku tidak tahu?”

“Kurasa kau terlalu sibuk dengan kegiatanmu. Aku tidak tahu kau benar-benar menempati janjimu.” Ryeowook menunjuk pada panci dibelakang Minrin yang kini mengeluarkan suara khas makanan yang mendidih.

Minrin balas tersenyum dan semakin lebar tersenyum saat dirinya mulai menyadari bahwa akhirnya setelah sekian lama Ryeowook pergi, pria itu akhirnya kembali.

“Aku senang kau kembali,” ucapnya sangat tulus akan rasa bahagia.

“Ya, sangat menyenangkan bisa melihatmu lagi.” Ryeowook mulai membelai bagian samping kepala Minrin, mendaratkan ciuman lembut di keningnya dan juga mengecup dalam bibirnya.  Tidak sampai di situ, Ryeowook juga menarik tubuh Minrin mendekat dan memeluknya.

“Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.”

Minrin tersenyum dibalik punggung itu dan kemudian kedua tangannya perlahan terangkat, membalas pelukan pria itu. Perasaan hangat langsung menyelimutinya. Kehangatan pelukan ini dan juga wangi tubuh pria ini, sungguh sangat dirindukannya.

“Aku juga sangat merindukanmu.”

***

Berapa hari tidak saling bertemu? tiga minggu lebih. Ya…benar tiga minggu lebih dan rasanya Minrin tidak ingin berada dalam waktu-waktu itu sekali lagi. Meski terdengar sangat menggelikan, tapi dia sungguh tidak bisa jauh dari pria itu. Seperti sebuah kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan. Entahlah, tapi memang seperti itu. Kebutuhannya akan pria itu semakin besar sekarang.

Dulu saat Ryeowook mengatakan akan menunda kepulangannya ke Korea, Minrin sudah berniat menyusulnya ke Amerika. Tapi dia beruntung otaknya tidak menjadi gila ketika itu karena Hyukjae berhasil menyadarkannya.

Sangat menyedihkan karena pada akhirnya seorang Shin Minrin memang berhasil terperangkap dalam pesona Kim Ryeowook. Tapi bagaimanapun juga hidupnya tidak semenyedihkan itu. Karena nyatanya dia sangat bahagia sekarang.

“Aku berencana untuk pergi berlibur denganmu. Bagaimana menurutmu? Ada tempat yang ingin kau kunjungi?” Ryeowook bertanya di sela-sela waktu kebersamaan mereka sore itu.

Ditemani angin musim gugur yang bertiup lembut serta temparan sinar matahari di ufuk barat menjadikan waktu keduanya menjadi sangat berharga. Warna merah bercampu jingga di langit seakan menjadi lukisan alam yang menemani keduanya. Apalagi beberapa hari terakhir sejak kepulangan Ryeowook ke Korea, pria itu masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak punya banyak waktu untuk bersama seperti sore ini.

Bukan hanya karena mengurusi proyek besarnya bersama Minhyuk, tapi karena kondisi ayahnya yang satu minggu ini sedang tidak baik, maka mau tidak mau Ryeowook harus menggantikan posisi ayahnya. Karena alasan itulah kepulangannya ke Korea yang dijadwalkan masih besok terpaksa dipercepat. Jika sudah seperti itu, pekerjaan pria itu menjadi dua kali lipat sekarang.

Minrin mendongak pelan tanpa sedikitpun mengubah posisi duduknya yang tepat berada di samping Ryeowook.

Honeymoon?” tanyanya sambil tersenyum aneh.

Ekspresinya berubah seketika itu. Antara senang dan juga keterkejutan yang bercampur jadi satu. Dia tidak memikirkan hal itu sebelumnya. Sebuah perjalanan hanya berdua, dan menghabiskan waktu bersama-sama. Memang terdengar sangat menyenangkan, tapi Minrin bukannya tidak tahu bahwa suaminya itu memiliki setumpuk pekerjaan yang harus ditanganinya.

Wae? Kau tidak mau?”

Minrin menggeleng lalu tersenyum, “Bukan begitu. Kau pasti sibuk dan rasanya sangat disayangkan kau menghabiskan waktu bersenang-senang sementara perusahaanmu masih membutuhkan perhatian yang ekstra saat ini.”

Ryeowook terkekeh pelan seketika itu

“Aku tidak menyangka kau justru lebih memperhatikan perusahaan dibandingkan diriku sendiri.” Dia merangkulkan pundak Minrin dan memeluknya dari samping.

“Yaa! kau bekerja keras sampai harus ke Amerika juga kan karena aku. Jika Kau bertunangan dengan Han Sena maka…”

Ryeowook menoleh dan membuat Minrin menghentikkan ucapannya. Pria itu menatapnya penuh-penuh. Minrin menghela nafasnya. Dia tahu telah salah menyebut nama.

“Mana bisa aku menikah dan bertunangan dengan dua orang wanita yang berbeda?” sahutnya pelan.

Minrin kembali diam dan tidak menjawab. Dia tahu mereka akan terjebak dalam perdebatan lagi. Saat Ryeowook di Amerika, Minrin pernah mengutarakan pendapatnya itu dan semua berakhir pada perdebatan tak berujung bahkan suara pria itu berusaha ditekan kuat-kuat agar tidak terdengar berteriak.

“Aku memang sudah merencanakan proyek ini bersama Minhyuk sejak dulu. Jadi, meskipun seandainya aku dan Sena tetap bertunangan, aku tetap menjalankan proyekku bersama Minhyuk. Ini tidak ada hubungannya dengan Sena atau perusahaan keluarga Han. Hanya waktunya yang lebih cepat saja, karena apa yang terjadi pada perusahaan bersamaan dengan apa yang terjadi diantara kita.”

Maka Minrin pun hanya diam dan tidak ingin mendebat.

“Jangan berpikir ini salahmu karena memutuskan menikah denganku dan membuat keluarga Han menolak memberikan bantuannya,” ucap Ryeowook melanjutkan. Dia menarik Minrin ke dalam pelukannya dan mendekapnya.

 “Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu, Minrin-ya.”

Bisiknya pelan yang langsung membuat Minrin mengulum senyum lalu kembali membalas pelukan hangat itu.

“Aku juga tidak ingin kau menyesal, Ryeowook-ssi,” ucapnya lirih seperti sebuah bisikan.

Entah pikiran dari mana, tapi akhir-akhir ini Minrin sering memikirkan kemungkinan bahwa Ryeowook menyesal telah memilihnya. Dia melihat Ryeowook yang bekerja keras dari biasanya. Bahkan saat sudah kembali ke Korea pun, pria itu masih sering pulang larut malam demi pekerjaannya di kantor. Hanya sore ini, Ryeowook sedikit meluangkan waktunya. Dan melihatnya yang seperti itu, tidakkan terbesit dalam hatinya bahwa dia menyesal? Meski hanya sedikit sekalipun.

Di balik punggung itu, Ryeowook tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Dia menyeruakkan kepalanya di antara pundak dan leher Minrin lalu mulai bernafas di sana. Rasa hangat yang menggelitik dirasakan Minrin setelahnya.

“Jadi, bagaimana?”

Minrin tersenyum lalu mengangguk pelan mengiyakan. Dia melepaskan pelukan itu kemudian menatap Ryeowook tepat di kedua matanya.

“Aku tidak tahu tempat yang bagus. Bagaimana denganmu?”

“Jeju atau Okinawa?”

Ryeowook berpura-pura berpikir sebentar lalu sejenak kemudian dia ikut tersenyum. “Tapi itu terlalu dekat. Lagipula ada sebuah tempat yang ingin kukunjungi bersamamu,” jawabnya penuh keyakinan bahwa Minrin pasti akan menyukai tempat yang menjadi pilihannya.

Joa, aku rasa dimanapun itu tidak terlalu masalah.”

***

Kembali hari berlalu dan semakin hari Ryeowook terlihat lebih sibuk dari sebelumnya. Pria itu berangkat lebih pagi dari biasanya dan bahkan kadang sudah pergi sebelum Minrin bangun. Dia hanya meninggalkan pesan singkat untuk Minrin sekedar ucapan selamat pagi dan juga permintaan maaf. Dan semua itu mau tidak mau sudah membuat Minrin kecewa.

Seperti pagi ini ketika Minrin bangun dan di sampingnya tidak ada Ryeowook. Pria itu ternyata sudah berangkat lebih dulu. Dengan mendesah kecewa Minrin turun dari tempat tidurnya dan mendapati sebuah pesan tertempel di almari es.

Aku minta maaf karena harus pergi pagi-pagi sekali. Dan kurasa aku tidak bisa makan siang denganmu. Mian...

Sampai jumpa nanti malam. Aku mencintaimu

Lagi-lagi hanya meninggalkan pesan. Dan sepertinya lagi-lagi Minrin harus melewatkan makan siang sendiri karena untuk kesekian kalinya Ryeowook membatalkan janjinya.

Minrin menatap kecewa tulisan tangan di kertas yang tertempel itu. Terlintas dibenaknya untuk menghubungi Ryeowook. Tapi kemudian keinginanya itu harus direndamnya, karena dia menyadari keinginanya itu justru akan mengganggu Ryeowook. Maka tanpa berpikir dua kali, nomor lainnya yang pada akhirnya tersambung di ponselnya.

***

“Aku pikir kau melupakanku setelah menikah dengannya,”

Sapaan Hyukjae pada Minrin begitu saja membuat Minrin menoleh dan tersenyum lebar. Minrin harus mengakui bahwa sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan Hyukjae. Bisa dikatakan waktunya lebih banyak tersita bersama kehidupan pernikahannya sekarang ini. Dan betapa dia sangat senang bertemu dengan sahabatnya itu.

“Hyukjae-ya…!” seru Minrin dengan bibir yang masih memperlihatkan senyuman lebarnya.

“Ya, kemana panggilan oppa itu pergi? Aigoo, kau kembali memanggil dengan namaku sekarang, tidak bisa dipercaya!”

Hyukjae berpura-pura kesal yang justru memaksa Minrin tersenyum jail dan kemudian terkekeh, “Mianhae,  terdengar aneh kalau aku memanggilmu seperti itu.”

Hyukjae melangkah pelan lalu duduk di depan Minrin. Sejenak memperhatikan sebentar sahabatnya itu. Suasana coffee shop tidak terlalu ramai siang ini, hanya terlihat beberapa orang di paling depan. Dan Hyukjae berterima kasih karena Minrin memilih tempat duduk agak di belakang yang menghadap jendela.

“Jadi, kenapa?” tanyanya pada inti.

Pertanyaan yang sangat disayangkan Minrin. Seolah-olah Hyukjae bisa membaca pikirannya, dan seolah-olah kedatangan Minrin menemui Hyukjae pastilah karena masalah. Ia tidak berharap Hyukjae bisa menebak semudah ini alasannnya bertemu.

Tidak biasanya memang ketika Minrin mengajak Hyukjae bertemu secara pribadi seperti ini. Biasanya Minrin akan pergi bersama Ryeowook untuk bertemu Hyukjae atau Hyukjae yang diminta menemui keduanya. Tapi yang jelas Minrin selalu terlihat bersama Ryeowook. Dan Hyukjae sedang tidak berlagak seperti peramal namun sepertinya Hyukjae mengerti alasan dibalik itu semua -kalau tebakannya benar kali ini-.

“Kau tahu sangat membosankan berada di rumah terus menerus. Tidak banyak yang bisa kukerjakan,” aku Minrin. Tangan kanannya mengaduk isi kopinya dengan lemah lalu berusaha tersenyum, menyembunyikan segala hal yang ingin ditanyakannya pada Hyukjae atau lebih tepatnya menyembunyikan segala sesuatu yang ingin diketahui Hyukjae.

“Kulihat kalian mempunyai banyak waktu bersama sekarang, dan kupikir itu bukan sesuatu yang membosankan.”

Minrin tersenyum lalu menyesap kopinya sedikit. “Memang.” Ekspresinya berubah setelahnya. Dan sialnya Hyukjae menangkap perubahan ekspresi yang menjadi sangat murung itu.

Waktu kebersamaan itu kelewat menyenangkan, andai saja Ryeowook bisa berbagi dengannya tentang sesuatu yang akhir-akhir ini membuatnaya lelah. Bukankah seperti itulah gunanya partner? Untuk berbagi, paling tidak mampu mengurangi beban pikiran jika ada orang lain yang bisa ikut merasakan hal yang sama dengannya.

“Ya..aku tahu dia sedang dalam posisi sulit sekarang ini,” ungkap Hyukjae kemudian. Dan seperti dugaannya Minrin mendongak lantas mengernyit sebentar.

“Apa maksudmu posisi sulit?” tanya Minrin hati-hati.

Ini hanya dugaannya saja bahwa Ryeowook memang menyembunyikan sesuatu darinya hingga terlihat lebih sibuk dari biasanya. Pria itu juga terlihat terlalu sering menyendiri untuk berpikir. Karena itu jugalah, rencana liburan bersama pun entah sudah sampai di mana. Ryeowook tidak lagi menyinggung masalah itu sejak satu minggu yang lalu.

“Kau tidak tahu?” Hyukjae balik bertanya. Minrin lantas menggeleng pelan. Jika dia tahu, tentu saja tidak akan bertanya seperti ini.

Mwo?”

Hyukjae menyesap sedikit kopinya lalu diam sebentar. Pria itu terlihat sekali sedang berpikir antara menceritakan dan juga tidak. Kalau Minrin tidak tahu, bukankah berarti Ryeowook memang sengaja tidak memberitahunya?

“Aku rasa Ryeowook memang tidak menginginkan kau tahu masalahnya.”

“Yaa! Lee Hyukjae.”

Minrin mendesak dan tatapannya mengisyaratkan bahwa dia harus mendapatkan jawabannya. Hyukjae mendongak lalu tersenyum kecil saat melihat wajah kesal Minrin. Sahabatnya itu benar-benar telah berubah menjadi sosok wanita yang ingin tahu apa yang dilakukan suaminya.

“C.E Group sedang tidak terlalu baik sekarang ini. Proyeknya bersama Minhyuk tidak berjalan seperti rencananya. Ya..begitulah.” Ekspresi Minrin berubah seketika menjadi serius. Kedua matanya terlihat sekali tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

“Jangan kahwatir. Dia pasti bisa melaluinya. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya seperti itu, oke?” lanjut Hyukjae cepat saat melihat perubahan raut wajah itu.

Minrin menundukkan kepalanya sedikit. Kedua tangannya menggenggam cangkir di depannya dan sama sekali tidak berbicara apapun setelahnya. Kini dia mengerti kenapa Ryeowook terlihat sangat lelah seperti itu, seperti berton-ton beban yang dipikulnya. Perlahan perasaan bersalah itu menelisik kembali. Seandainya Ryeowook memilih bertunangan dengan Han Sena, C.E Group tidak akan dalam masa sesulit ini sekarang. Meskipun kesulitan yang seperti apa yang tadi dibicarakan Hyukjae sama sekali tidak ada dalam bayangannya. Ia tidak terlalu mengerti dengan masalah bisnis. Satu-satunya yang ia tahu bahwa jika kondisi buruk yang menimpa C.E group terus berlanjut, maka itu benar-benar sulit. Minrin ingat dulu perusahaan kecil milik keluarganya bangkrut karena masalah yang tak kunjung selesai. Tapi..ah.. bukankah C.E group perusahaan yang besar? Keduanya tentu berbeda.

“Hei, berhentilah memikirkan hal itu. Percayalah pada Ryeowook. Dia bukan pebisnis yang baru lulus kuliah dan dia pasti bisa menangani ini semua. Kongjoma..,”

Minrin tersenyum tipis. Dia benar-benar sedang meyakinkan dirinya sekarang ini. Tapi entah kenapa rasa bersalah itu terus mengganggunya hingga sekarang.

***

Usai menemui Hyukjae, kini kakinya tanpa disadarinya justru melangkah menuju gedung perkantoran yang menjulang tinggi itu. Bertemu dengan Kim Ryeowook. Itulah yang sejak tadi menggema di hatinya. Ia tidak bisa menahan diri untuk menunggu kepulangannya, untuk bertanya langsung.

Setelah diijinkan oleh seorang gadis yang menjadi receptionist di depan tadi, Minrin pun melangkahkan kakinya masuk, menelusuri koridor menuju ruangan Ryeowook. Dia mengindahkan tatapan beberapa karyawan yang menghujam ke arahnya. Tidak hanya itu mereka bahkan berbisik-bisik tentang statusnya yang adalah isteri dari bos mereka yang sangatnya ditangkap telinga Minrin beberapa kali. Semua itu menggelitiknya tapi Minrin memilih diam.

Ia sampai di depan sebuah pintu berwarna coklat lalu tanpa berpikir banyak Minrin pun membuka pintu itu. Ruangan yang baru saja dimasukinya bukanlah ruangan pribadi Ryeowook, tapi adalah ruangan yang digunakan oleh sekretarisnya. Di bagian dalam ruangan itu masih ada satu pintu menuju ruangan lain. Dan Minrin sangat yakin pintu itulah yang akan membawanya bertemu Ryeowook.

Annyeonghaeseo,” sapaan ramah dari seorang wanita yang seumuran dengan Minrin menghentikkan langkah kakinya.

Minrin membungkuk sedikit pada wanita itu dan tersenyum. “Aku ingin bertemu dengan Kim Ryeowook,” ujarnya tanpa sedikitpun mengucapkan tujuan dan identitasnya. Toh, semua orang di kantor ini juga sudah tahu siapa dirinya.

Jeongsohamnida, tapi sajangnim sedang menerima tamu sekarang ini. Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya wanita itu.

Minrin menggeleng pelan. Haruskah dia juga membuat janji untuk bertemu dengan suaminya sendiri? Ya ampun…

Minrin belum sempat menyanggah ucapan wanita itu ketika pintu di belakang mereka dibuka. Kali ini seorang laki-laki berjas yang beberapa kali pernah dilihat Minrin datang ke apartementnya untuk bertemu Ryeowook. Pria itu melihat Minrin dan langsung membungkukkan badannya hormat.

Annyengohaeseo, Minrin-ssi. Apa yang anda lakukan di sini?” sapa pria bernama Kim Hyungsik yang diketahui Minrin sebelumnya.

Annyeonghaeseo, Hyungsik-ssi. Aku harus bertemu dengan Ryeowook, tapi kurasa aku harus membuat janji bertemu dengannya jika di kantor,” balas Minrin tersenyum.

Eiyy, janji mwoeyo? Mana ada harus membuat janji untuk bertemu suami sendiri.” Hyungsik terkekeh pelan mendengar ucapan Minrin barusan.

Sementara itu wanita yang tadi berbicara dengan Minrin terlihat mengernyit bingung sembari mengalihkan tatapan bergantian antara Hyungsik dan juga Minrin. “Hoksi… anda isteri Kim sajangnim?” tanyanya ragu-ragu.

Minrin menoleh lalu tersenyum. “Ne, majayo.”

Omo..jeongsohamnida. saya benar-benar tidak tahu kalau anda adalah isteri Kim sajangnim.” Wanita itu buru-buru membungkukkan badannya sebagai permintaan maafnya.

Gwaenchana.”

Jeongmal jeongsohamnida…”

Minrin tersenyum sekali lagi dan mengangguk paham. Wajah wanita tadi berubah malu karena telah memperlakukan isteri atasannya sendiri dengan kurang baik.

Keunde, apa dia memang sedang sibuk?” tanya Minrin kemudian pada Hyungsik. “Aku bisa menunggu di sini sampai dia selesai,” lanjutnya.

Hyungsik terlihat melirik pada wanita tadi meminta jawaban atas pertanyaan Minrin barusan. Maklum saja, pekerjaan Hyungsik mendadak berkali lipat sekarang ini hingga tidak bisa sering-sering mengecek jadwal atasannya. Karena itulah Ryeowook mencari sekretaris lain yang mengatur jadwalnya yaitu wanita yang berdiri di samping Hyungsik sekarang ini.

“Perwakilan dari perusahaan Han Group yang datang menemuinya,” jawab wanita tadi.

Han Group? Minrin mengulang nama itu dalam hati. Bukankah itu perusahaan milik keluarga Han Sena?

Minrin tidak terlalu mendengarkan percakapan yang selanjutnya terjadi antara wanita tadi dan juga Hyungsik. Pikirannya kembali terganggu karena satu nama tadi. Kenapa Han Group? Setahu Minrin perusahaan itu tidak lagi berusaha menjalin kerjasama dengan C.E group setelah pertunangan Ryeowook dan Sena dibatalkan. Setidaknya seperti itulah yang ditangkap Minrin selama ini.

Pintu ruangan yang sejak tadi terutup akhirnya terbuka. Seorang gadis dengan kemeja putih dan celana kain berwarna hitam terlihat keluar dari ruangan itu. Rambutnya tergerai dan suara sepatu yang bersentuhan dengan lantai marmer menyadarkan Minrin. Gadis itu adalah Han Sena. Minrin melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan Sena dan bagaimana tatapan gadis itu melirik tajam ke arahnya. Sebuah tatapan permusuhan dilayangkannya begtu saja lalu tanpa mengatakan apapun Sena berlalu dari mereka semua. Minrin masih terus memperhatikan Sena hingga gadis itu benar-benar keluar dari ruangan.

“Kau bisa menemuinya sekarang.”

***

Di kursi yang dihadakan ke jendela itulah Minrin melihat Ryeowook duduk dengan kepala bersandar penuh. Untuk pertama kalinya Minrin melihat pria itu sangat lelah. Apa masalahnya sangat buruk hingga membuatnya seperti itu?

Semua beban perusahaan sekarang tertumpu di pundaknya. Minrin ingat kemarin malam Ryeowook sempat mengatakan bahwa kemungkinan besar ayahnya akan segera menyerahkan tanggung jawab perusahaan sepenuhnya pada Ryeowook. Itu berarti tanggung jawab dan beban yang dipikul Ryeowook semakin besar. Ditambah lagi kenyataan bahwa C.E group sedang berada dalam kondisi yang tidak begitu baik.

Setelah diam memperhatikan pria itu, Minrin pun berjalan pelan menghampirinya. Dia berhenti di depan meja kerja dari kaca itu tanpa sedikit pun berusaha membuat Ryeowook menyadari kehadirannya. Untuk sejenak dia hanya memperhatian Ryeowook dalam diam. Hingga akhirnya Ryeowook memutar kembali kursinya menghadap ke depan. Pria itu mendongak begitu melihat sosok Minrin yang kini berdiri di depannya.

“Hai…,” sapa Minrin lirih.

Dia lupa apa yang harus dikatakannya dan jujur saja melihat Ryeowook yang seperti ini justru membuat rasa bersalahnya semakin menguasai relung hatinya.

“Apa…kenapa kau bisa di sini?” tanya Ryeowook tidak menyangka dan juga tidak mengerti. Keningnya mengernyit heran lalu mulai menegakkan tubuhnya.

“Hanya ingin melihatmu.”

Minrin menjawab tersenyum lalu sekali lagi Ryeowook hanya mengernyit dan menatap Minrin, meminta jawaban lebih dari wanita itu. “Kau bilang tidak bisa makan siang bersamaku karena itulah aku datang. Apa kau sudah makan?” tanya Minrin lagi.

Ryeowook berubah tersenyum lalu menggeleng pelan. “Aku sangat sibuk hari ini sampai lupa  untuk makan siang,” keluhnya.

Dia mengangkat tangannya dan menyuruh Minrin untuk mendekat ke arahnya. Minrin tersenyum lalu menuruti permintaan itu, memutari meja dan sekarang benar-benar berdiri tepat di depan Ryeowook. Belum sempat Minrin mengucapkan kalimat lain, Ryeowook sudah menarik tangannya dan membuatnya terpaksa duduk di pangkuan pria itu.

Yaa, apa yang kau lakukan?” Ryeowook tidak menjawab dan justru merangkulkan lengannya di tubuh Minrin, menguncinya untuk tidak bergerak.

“Memberiku suntikan semangat,” jawabnya sekenanya.

cih…” Minrin berdecak kecil lalu tanpa canggung ikut merangkulkan tangannya di leher Ryeowook.

Keduanya saling bertatapan setelah itu dalam diam. Entah siapa yang bergerak lebih dulu, tapi detik berikutnya bibir mereka sudah saling bertautan. Tanpa sedikitpun melepaskan rangkulannya, Ryeowook justru semakin memperdalam ciumannya, menyesap bibir itu dan melumatnya lembut. Kenyataan bahwa kehadiran Minrin memang berhasil membuatnya sedikit melupakan masalah yang sedang dihadapinya. Dan dia beruntung Minrin datang benar-benar disaat yang sangat tepat.

Ryeowook melepaskan ciuman mereka lalu tersenyum pada Minrin, membuat Minrin mengerjapkan matanya beberapa kali. Sepertinya dia baru saja kehilangan akal sehatnya karena berciuman di tempat ini. Beruntung tidak ada satupun yang masuk dan membuat mereka dalam situasi tertangkap basah sedang berciuman.

“Aku lapar sekarang. Mau menemaniku makan?” tanya Ryeowook kemudian dengan nada suaranya yang benar-benar membujuk tidak menerima penolakan.

“Baiklah, kau memang harus mengisi perutmu. Aku tidak ingin melihatmu sakit,” jawab Minrin lalu segera berdiri dan menggunakan kesempatan itu untuk menjauh dari Ryeowook. Jujur saja sejak tadi jantungnya bekerja terlalu cepat tanpa bisa dikontrolnya saat berdekatan dengan Ryeowook.

Ryeowook mengangguk lalu ikut berdiri. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja lalu mengandeng tangan Minrin keluar dari ruangan itu.

***

Mereka hanya punya waktu satu jam, karena setelah itu Ryeowook harus menghadiri pertemuan penting. Semakin hari semakin sibuk dan pria itu bahkan melupakan makan siangnya. Mungkin saja sebelum ini dia juga sering melupakan makan siangnya. Keadaan yang mau tidak mau membuat Minrin khawatir.

“Jangan sering-sering melewatkan makan siang, kau bisa kena maag,” ucap Minrin meluapkan perhatian dan juga kekhawatirannya. Dilihatnya Ryeowook hanya tersenyum tanpa sedikitpun mengelak.

“Beruntung sekali aku mempunyai isteri yang akan selalu mengingatkanku untuk makan siang,” balasnya sambil masih tersenyum.

Minrin berdecak kecil lalu diam. Restoran kecil tidak jauh dari C.E group terlihat lengang karena jam makan siang memang sudah lewat. Kedua orang itu saling duduk berhadapan, saling melempar senyum hingga makanan yang dipesan Ryeowook tiba.

“Kau yakin tidak makan?” tanya Ryeowook memastikan karena memang hanya dirinyalah yang memesan makanan. Minrin menolak untuk ikut makan, katanya dia hanya ingin menemani Ryeowook dan sekarang pun lagi-lagi dia meneggeleng pelan.

“Aku sudah makan bersama Hyukjae tadi,” jawabnya.

“Hyukjae hyung?” Ryeowook mengambil kimchi dengan chopsticknya lalu mendongak. Minrin mengangguk mengiyakan.

“Hmm…. waeyo? Kau tidak cemburu kan?” selidik Minrin kemudian. Meskipun ini terdengar konyol, karena bagaimanapun juga masalah mereka bertiga sudah selesai sekarang. Tidak ada lagi cinta segitiga diantara mereka, kalaupun ada orang lain yang masih menyimpan perasaannya, maka orang itu sudah melakukannya dengan benar karena tidak lagi memaksakan diri.

Ryeowook terkekeh pelan meletakkan kembali chopsticknya di atas meja dan menatap penuh pada Minrin. “Kurasa tidak apa-apa, karena dia Hyukjae hyung. Lain ceritanya kalau kau mengajak pria lain dan bukannya Hyukjae hyung.”

“Tentu saja. Bukankah Hyukjae adalah orang yang kau ijinkan berada di sampingku kalau kau sedang tidak ada?” goda Minrin mengingatkan Ryeowook dengan ucapannya sendiri dulu.

Ya..Hyukjae memang pria yang diijinkan Ryeowook menemani Minrin selama Ryeowook pergi. Seperti saat Ryeowook pergi ke Amerika kemarin. Pria itu benar-benar melarang Minrin pergi dengan pria lain dan bahkan meminta secara pribadi pada Hyukjae untuk mengawasinya. Iya, sangat kekanak-kanakan tapi Minrin justru melihatnya sebagai bentuk rasa cinta Ryeowook padanya bahwa pria itu tidak ingin kehilangan Minrin.

“Tapi karena aku sudah kembali, sepertinya aku harus memikirkan ulang tentang ucapanku saat itu,” lanjut Ryeowook berpura-pura jengkel.

Hei, tapi dia kan sahabatku dan dia juga sahabat terbaikmu. Mana bisa kau melarang kami bertemu?” sungut Minrin sedikit kesal.

Selanjutnya Ryeowook hanya terkekeh lalu tersenyum. “Arrasoarraso… aku hanya bercanda. Aku akan berterima kasih padanya karena menemanimu,” sahutnya cepat lalu mengambil kembali chopsticknya dan kembali menyuapkan daging asap ke mulutnya.

Minrin diam, memperhatikan Ryeowook yang sedang menikmati makan siangnya. Dia ingin bertanya banyak pada Ryeowook. Terutama tentang rencana mereka minggu lalu. Tapi ia teringat kata-kata Hyukjae kalau Ryeowook mungkin benar-benar pada masa yang sulit saat ini. Pria itu mungkin tidak akan senang mendengarnya dan Minrin juga tidak akan memecah konsentrasinya sekarang ini.  Fokus pria itu sedang tercurah pada C.E group.

“Aku melihat Han Sena tadi keluar dari ruanganmu. Apa mereka akhirnya memutuskan untuk membantu?” namun sayangnya salah satu pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari bibirnya. Minrin diam sembari menggigit bibir bawahnya setelah selesai mengatakan itu.

Ryeowook menegang sebentar di tempatnya lalu menatap ke arah Minrin.

“Kau melihatnya?”

Minrin mengangguk lagi. “Tapi dia terlihat kesal.”

Sekali lagi Ryeowook meletakkan chopsticksnya lalu menghela nafasnya lemah. “Kau juga berpikir ini tidak mudah kan? Aku juga tidak tahu kenapa semua tidak berjalan sesuai dengan yang kurencanakan.”

Ya..dan Minrin juga tidak menyangka akan itu. Andai dia bisa membantu.

“Aku ingin membantu. Lagipula karena pernikahan kita jugalah C.E group mengalami kesulitan…”

“Berhenti mengatakan ini karena pernikahan atau ini karenamu. Sama sekali tidak ada hubungannya, Minrin-ya,” balas Ryeowook cepat. Nada suaranya sedikit meninggi dan itu membuat Minrin mengurungkan niatnya untuk berkata lagi.

Mian, aku hanya….” Minrin kehilagan kata-katanya.

Ryeowook meraih tangan Minrin dan menggenggamnya. Tatapannya tertuju penuh pada Minrin yang kini menundukkan kepalanya sedikit.

“Percayalah padaku dan berhenti menyalahkan dirimu sendiri, hmm?

Minrin mendongak lalu berusaha tersenyum. Dia pun mengangguk pelan meskipun sekali lagi ia ingin menyanggah ucapan itu.

***

Malam beranjak naik dan sekali lagi Minrin harus puas menghabiskan makan malamnya sendiri. Sejak acara makan siang dadakan tadi, Ryeowook harus segera kembali ke kantornya dan sampai sekarang pria itu juga belum kembali. Bukan menjadi hal yang aneh karena Minrin mengerti kesibukannya itu. Hanya saja sedikit kecewa. Karena siang tadi Ryeowook berjanji untuk makan malam bersama.

Minrin mendesah kecewa dan menatap lemah ke arah kursi kosong di sampingnya. Lalu dia pun beranjak pelan dari tempat duduknya, memberskan piring sisa makan malamnya dan mencucinya.

Dan ya…sepertinya Ryeowook akan pulang larut malam lagi. Sisa malam itu pada akhirnya dihabiskan Minrin di depan televisi, menunggu jika saja Ryeowook pulang. Hingga akhirnya Ia tertidur ketika jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Hingga hari berganti pagi pun, Minrin tidak melihat kehadirannya. Sekali lagi dia mendesah kecewa ketika menyadari tempat disampingnya tidur masih rapi sejak semalam. Dia mengecek ponselnya, dan tidak ada pesan atau pun panggilan masuk darinya. Dan hal itu semakin membuatnya mendesah lemah.

Kembali pagi hari ini dilewatkannya sendiri. Setelah dipikir-pikir, sudah tiga hari terakhir mereka tidak lagi sarapan bersama seperti biasanya. Rasanya benar-benar sepi saat Minrin lagi-lagi duduk di depan meja makan itu sendirian.

Suara bel berbunyi yang akhirnya menyadarkannya. Wajahnya berubah bersemangat karena berpikir bahwa mungkin Ryeowook lah yang datang. Hei, dia bahkan lupa bahwa jika itu benar Ryeowook, pria itu tidak perlu repot-repot menekan bel.

Langkah kakinya cepat menuju pintu dan dengan tidak sabar membukanya. Ekspresinya berubah bingung saat dilihatnya tidak ada satupun orang di sana. Hanya ada sebuah amplop berwarna coklat yang menyentuh ujung sandal rumahnya. Dia menunduk dan mengernyit sebentar.

Mwo? Seseorang mengirimkan ini?” tanyanya bingung karena tidak biasanya dia mendapat kiriman seperti ini.

Tanpa berpikir banyak, Minrin pun membuka amplop berwarna coklat itu. Di dalamnya dia tidak menemukan apapun kecuali beberapa lembar foto yang seketika itu membuatnya terhenyak. Kedua matanya membulat tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Foto-foto itu jelas memperlihat Ryeowook yang dikenalnya terlihat tengah memeluk seorang wanita dengan mesra. Di foto yang lain bahkan membuat Minrin tidak mampu lagi berpikir. Ia kehilangan keseimbangan dan hampir meloloskan foto Ryeowook dengan wanita itu dari tangannya. Mereka tidak hanya terlihat berpelukan, tapi bahkan terlihat seperti sedang berciuman di sebuah kamar.

Kedua mata Minrin mengabur seketika saat genangan air mata berhasil menguasai. Sesuatu yang runcing seakan-akan baru saja menancapkan dirinya di dadanya,. Sakit dan menyesakkan. Dan akhirnya air mata itu lolos begitu saja. Rasa marah dan kecewa yang entah darimana datangnya tiba-tiba menguasainya. Dia hanya terduduk dengan lemas di sofa ruang tengah itu dan bahkan tidak menyadari jika seseorang telah masuk ke dalam ruangan itu.

“Minrin-ya…” panggil pria itu.

Dia sama sekali tidak fokus sekarang tapi aneh ketika sistem syarafnya menangkap dengan sempurna suara panggilan itu dan bahkan mampu menganalisisnya dengan sangat baik. Minrin memilih bergeming dan sedikitpun tidak berusaha untuk melihat ke arah pria yang yang baru saja datang. Pria itu yang telah membuatnya kecewa. Kim Ryeowook, dialah yang si pemilik suara itu.

Minrin membencinya, entah darimana otaknya mendapat perintah untuk membenci kehadiran Ryeowook, dan Minrin bahkan membenci mendengar suaranya.

Ryeowook menyadari sikap Minrin itu. Lalu dengan perlahan menghampirinya.

Waegure?” tanyanya perlahan

Lalu kedua matanya melihat sebuah amplop coklat di atas meja lengkap dengan beberapa lembar foto dirinya bersama Han Sena. Sedetik kemudian Ryeowook ikut membulatkan matanya tidak percaya begitu melihat foto yang tengah dipegang Minrin.

“Minrin-ya…” panggilan lirihnya berubah menjadi takut dan khawatir. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Minrin, tapi dengan cepat Minrin menepisnya. Wanita itu menoleh dan menatap Ryeowook tajam.

“Jangan menyentuhku!” serunya.

“Minrin-ya…kumohon, aku bisa menjelaskan ini…” sesal Ryeowook memohon. Jelas Ryeowook berutang penjelasan tapi Minrin bahkan tidak ingin mendengar apapun darinya.

Minrin segera berdiri lalu berjalan mundur, menjauh dari jangkaun pria itu. Dia benar-benar tidak ingin mendengarkan apapun.

“Jangan mendekat!” serunya lagi saat Ryeowook berusaha mendekat ke arahnya. Kedua matanya sudah meneteskan air matanya dan kedua tangannya terulur ke depan mencegah Ryeowook membuat gerakan sedikitpun.

Rasa sakit itu kembali tercoreh di dalam hatinya. Dan bahkan sebelum ini Minrin bersumpah tidak akan menangis karena Ryeowook lagi. Tapi pria itu sekali lagi membuat luka untuknya. Luka yang lebih dalam, yang lebih menyakitkan dibandingkan sebelumnya.

Dia berdiri lemah lalu seakan tidak punya daya apapun untuk menghadapi pria yang berdiri di depannya ini, Minrin pun memilih berbalik, berjalan dengan cepat menuju kemarnya.

“Minrin-ya…!” teriak Ryeowook sambil mengejarnya tapi terlambat karena Minrin lebih dulu mengunci kamarnya.

Setelahnya hanya terdengar teriakan-teriakan Ryeowook dari luar sembari menggedor pintu dengan keras.

“Kumohon Minrin-ya, bukan pintunya! Kita harus bicara.”

Sementara itu Minrin semakin terisak di dalam ruangan itu. Menekan kuat-kuat kuku-kuku jarinya di telapak tangannya sekedar untuk menahan rasa sakit di dalam dadanya. Sangat menyesakkan hingga rasakan pasokan oksigen di sekelilingnya menimpis dan kedua paru-parunya tidak mampu lagi mengisi. Ia terus menangis, membiarkan suara-suara memohon dari Ryeowook menggema di luar kamar. Gedoran di pintu berubah frustasi tapi Minrin masih bersikeras untuk tidak bertemu dengannya.

Kekecewaannya yang bercampur dengan kemarahannya terlah mencapai puncaknya. Bagaimana bisa Ryeowook melakukan itu padanya?

***

Pagi menjelang lagi dan rasanya semakin sepi sekarang. Minrin memperhatikan sekelilingnya lalu menyipitkan matanya saat sinar matahari berhasil masuk dan menyilaukannya. Kesadarannya mulai pulih ketika melihat atap putih di atasnya. Warna putih yang berbeda jauh dari warna putih di kamar mereka. Dia tidak sedang berada dalam kamar di apartementnya.

Ya…dia memilih pergi dari tempat itu sejak masalah foto itu mengacaukan perasaannya.

Sisa hari kemarin dia mencoba bertahan tapi semakin lama dia semakin tidak bisa mengontrol rasa kecewa dan marahnya. Dia membenci pria itu dan semakin membencinya saat dirinya terpaksa membayangkan apa yang mungkin dilakukan Ryeowook bersama Han Sena. Dia tidak sanggup membayangkan jika Ryeowook harus menyentuh dan bahkan memeluk wanita lain.

Andwee!

Ini bukan lagi tentang rasa cemburu, lebih dari itu sebenarnya. Kenyataan bahwa Ryeowook tidak pulang ketika foto itu tiba pagi harinya semakin membuat Minrin curiga. Meskipun nyatanya dia ingin membuang jauh-jauh kecurigaannya itu. Tapi lagi-lagi gagal, ketika dia teringat Han Sena yang keluar dari ruangan Ryeowook hari sebelumnya. Semua ini tentang kepercayaannya pada pria itu yang tidak bisa dijaga.

Lalu di sinilah Minrin sekarang berada, di rumah Hyehyo. Bukan menghindar tapi sedang berusaha menata kembali perasaannya. Dia beruntung karena Hyehyo sama sekali tidak bertanya banyak ketika datang dengan wajah ditekuk dan kedua mata yang bengkak karena menangis. Minrin hanya mengatakan sedang bertengkar dengan Ryeowook. Ya..itu saja lalu dengan santainya Hyehyo mengangguk maklum.

Aigoo, pasangan muda memang kadang terjadi perbedaan pendapat. Menginaplah di sini, tapi kau harus kembali padanya, arrachi?”

Itulah yang dikatakan Hyehyo dan Minrin mengiyakan saja tanpa banyak bicara. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa alasan pertengkaran mereka adalah kemungkinan Ryeowook yang ternyata menjalin hubungan dengan wanita lain. Jika Minrin mengatakan itu, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan Hyehyo katakan. Sahabatnya itu mungkin saja akan berceramah panjang lebar dan yang lebih buruk mungkin saja akan menemui Ryeowook langsung dan meluapkan kemarahnnya

***

Ryeowook terlihat memandang lemah ke arah kursi kosong di sampingnya. Biasanya, Minrin akan duduk di sana menikmati sarapan bersama-sama tapi pagi ini Ryeowook harus puas berada di meja makan itu sendirian. Dia tidak lagi melihat senyum wanita itu ketika bangun pagi tadi. Dia juga tidak lagi mendengar suara celotehan Minrin yang menyuruhnya untuk tidak melupakan makan siang. Dan semua itu benar-benar dirindukannya.

Semua berjalan tanpa bisa diprediksikannya. Seharusnya Ryeowook tahu Sena akan melakukan hal ini yaitu mengirimkan foto-foto itu pada Minrin setelah tempo hari permintaannya ditolak. Dan sekarang Ryeowook baru menyesal kenapa dulu dalam masa-masa hubungannya dengan Minrin merenggang, dia menjadikan Sena sebagai pelariannya. Lebih buruk lagi dia bahkan memberi kesempatan pada Sena, memberinya harapan dan juga membiarkannya memiliki foto-foto seperti itu. Ya..Ryeowook tidak akan menyangkal bahwa foto-foto itu memang dirinya. Saat itu dia benar-benar mabuk berat dan sialnya Sena datang di saat yang tidak tepat. Sebenarnya Ryeowook bahkan sudah lupa apa yang pernah mereka lakukan saat itu. Seingatnya dia tidak melakukan apapun dengan Sena kecuali bagian saling memeluk dan ciuman tanpa cinta.

Han Sena, gadis itu masih terlalu berambisi untuk mendapatkan Ryeowook. Bagaimana bisa gadis itu menawarkan memberi bantuan pada C.E group jika Ryeowook bersedia berpisah dengan Minrin? Permintaan yang tentu saja ditolak oleh Ryeowook. Namun sayangnya Ryeowook lupa, segala pikiran licik yang mungkin saja dimiliki Sena. Dan tentu saja, foto-foto itu menjadi caranya. Gadis itu bahkan berhasil membuatnya menjadi headline news pagi ini.

Gara-gara itu jugalah, ibunya berulang kali berusaha menghubungi Ryeowook yang tentu saja diindahkannya. Fokusnya saat ini adalah Minrin. Dan semua itu benar-benar kesalahannya hingga Minrin pergi dari rumah. Ponselnya tidak bisa dihubungi, dan kalaupun bisa pasti berakhir di kotak pesan. Ryeowook hampir frustasi saat semalam berusaha keras menghubunginya dan tidak satupun pesan yang dibalasnya begitu juga dengan panggilan yang tidak dijawabnya.

Dia nyaris menghubungi ibu mertuanya untuk bertanya dimana Minrin, tapi seteah dipikir-pikir Minrin bukan tipe orang yang akan mengadu pada ibunya kecuali ibu mertuanya itu kini juga sudah tahu apa yang tengah terjadi. Lagipula Minrin pasti tidak akan membiarkan orang-orang terdekatnya mengetahui masalah yang tengah dihadapinya, kecuali satu orang. Park Hyehyo.

Seakan mendapatkan petunjuk setelah sekian lama otaknya tidak mampu berpikir, Ryeowook pun segera bangkit dari tempat duduknya, menyambar jaket dan juga ponselnya. Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi kalau Minrin akan mengungsi ke tempat Hyehyo?

Aissh, paboya! Minrin-ya, kau benar-benar harus mendengarkan penjelasanku,” erangnya frustasi sambil terus berjalan dengan tergesa-gesa menuju basment parkir.

***

“Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian. Tapi Minrin…kurasa dia belum bisa ditemui sekarang,” ucap Hyehyo memberi penjelasan ketika Ryeowook datang menemuinya.

Ryeowook menunduk dan kembali merutuki kebodohannya. Dia menghela nafas lemah dan entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu.

“Tidak bisakah kau membujuknya? Kumohon, Hyo…,” ucap Ryeowook sekali lagi memohon dan bisa dipastikan dia bisa kehilangan kendali untuk menerobos masuk dan memaksa bertemu dengan Minrin.

Hyehyo menatap Ryeowook ragu. Meskipun dia memang tidak mengetahui apapun masalah diantara Ryeowook-Minrin tapi perasaannya mengatakan bahwa sahabatnya itu sedang memerlukan waktu untuk sendiri, dan itu berarti bahwa Minrin tidak akan siap bertemu dengan Ryeowook.

“Aku akan bicara padanya,” ujar Hyehyo akhirnya. Gadis itu lantas berbalik dan kembali masuk ke dalam.

Ryeowook tersenyum sedikit lega. Demi apapun dia harus bertemu dengan wanita itu. Dia bisa gila jika Minrin tetap bersikap seperti itu. Mungkin akan lebih baik jika Minrin berteriak di depannya dan meluapkan kemarahannya dibandingkan terus diam seperti ini.

Tidak lama berselang, Hyehyo kembali menemui Ryeowook. Dari raut wajahnya, Ryeowook sudah menduga bahwa usaha gadis itu membujuk gagal. Tapi Ryeowook tetap bertanya.

“Apa katanya?”

Hyehyo menggeleng dengan lemah dan seketika itu membuat Ryeowook mendesah lagi.

“Pulanglah. Aku akan membujuknya lagi.”

Kembali Ryeowook tidak mampu berpikir. Ini bukan masalah sepele dan dia tidak yakin bujukan Hyehyo untuk membuat Minrin pulang akan berhasil. Minrin bukanlah tipe orang yang mudah dibujuk. Dia berbeda dari gadis manapun yang pernah dikenal Ryeowook. Dan itulah masalahnya. Bagaimana jika Minrin tetap bersikeras untuk tidak kembali?

“Aku harus bertemu dengannya, Hyo..maafkan aku.” Jalan terakhir yang dipikirkan Ryeowook akhirnya diambil. Pria itu menerobos masuk, melewati Hyehyo yang hanya bisa tercengang melihatnya.

Yaa, Kim Ryeowook!”

Ryeowook meghiraukan teriakan Hyehyo yang kesal dan segera berlari mengelilingi apartement itu, mencari dimana gerangan Minrin berada. Dan akhirnya di dekat jendela sebuah ruang itulah Ryeowook menangkap sosok seorang gadis dengan sweater berwarna putih dan rambut tergerai tengah menatap keluar. Melihat sosoknya yang seperti itu entah kenapa kembali membuat Ryeowook kehilangan kata-kata. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Luka yang ditorehkannya pada wanita yang sangat dicintainya itu terlalu dalam. Dan bukannya Ryeowook tidak menyadari itu. Ryeowook sangat sadar dan juga menyesal.

Ryeowook tidak mengucapkan apapun hingga akhirnya Minrin menoleh, menyadari keberadaannya. Ekspresinya yang datar berubah marah saat melihat Ryeowook tiba-tiba masuk seperti ini. Dibelakang Ryeowook, Hyehyo terlihat berjalan tergesa menghampiri keduanya. Selepas itu, Hyehyo hanya menghela nafas lemah karena pada akhirnya Ryeowook memang berhasil menemukan Minrin.

Tatapan lemah dengan kilatan rasa marah serta kecewa terpancar jelas dari kedua mata Minrin. Dia berdiri lalu menatap Ryeowook. Menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya dengan lemah.

“Aku tidak ingin bertemu denganmu,” ucapnya pelan, berusaha sangat keras menahan diri untuk tidak menangis karena saat ini rasa sakit itu kembali menelisik hatinya.

“Kumohon…”

Minrin memejamkan matanya kuat-kuat dan akhirnya cairan bening itu kembali lolos dari matanya. “Pergilah!”

“Aku tidak akan pergi sebelum kita bicara.” Ryeowook kembali bersikeras. Dia sudah bertekad.

“Ryeowook-ssi, jebal…kumohon, jangan membuatku sulit.” Minrin sudah terisak.

Sementara itu Hyehyo yang menyadari bahwa kehadirannya mungkin mengganggu, memilih untuk pergi meninggalkan keduanya.

“Kau sendiri yang membuat ini semakin sulit. Kenapa kau pergi? Jangan menghindar dan kita harus bicara,” ucap Ryeowook tegas.

Minrin mendongak dan butir-butir air mata kembali bercucuran. Dia bukan menghindar, dia hanya ingin berpikir sebelum membicarakan ini. Semua benar-benar sulit untuk Minrin dan dia tidak ingin keputusannya salah ketika berbicara dalam keadaan perasaan yang kacau seperti ini.

“Kau tidak mengerti…” lirihnya.

Ryeowook memperhatikan dengan tercekat. Dalam kondisi ini, dia juga tidak mengerti. Jika keduanya tidak mengerti, bagaimana mereka bisa menyelesaikan ini semua? Lalu dengan pelan dia maju menghampiri Minrin, menarik tangannya dan memaksanya untuk menatap ke arah Ryeowook.

“Aku minta maaf. Percayalah padaku, kumohon… Jangan memikirkan apapun karena apapun yang kau pikirkan salah. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Han Sena. Hanya kau, Minrin-ya…hanya kau…”

“Bagaimana bisa aku tidak memiliki pikiran apapun?” dengan setu gerakan keras, Minrin menyentakkan cengkeraman Ryeowook di tangannya. “Foto itu jelas-jelas memperlihatkanmu sedang memeluknya dan bahkan menciumnya. Aku bahkan tidak ingin beprikir apapun tentang apa yang mungkin kalian lakukan selain berpelukan dan berciuman,” sinis Minrin dengan marah.

“Sama sekali tidak lebih dari itu.”

Minrin mendongak dan menajamkan tatapannya. “berarti kau mengakuinya? Kalian berpelukan dan juga berciuman? Aah…ya, aku yang bodoh karena mengira foto itu rekayasa.”

“Bukan seperti itu!” seru Ryeowook frustasi.

“Kau tahu berapa kali aku berusaha keras meyakinkan diriku bahwa pernikahan ini bukan kesalahan? Aku terus memikirkannya, asal kau saja. Andai kau tidak menikah denganku, dan andai kau memilih bertunangan dengan Han Sena, tidak akan ada masalah pada C.E group. Dan sekarang…setelah foto-foto itu sampai ditanganku, aku mulai berpikir bahwa pernikahan ini benar-benar sebuah kesalahan.”

Ryeowook tahu Dia sudah gagal meluruskan masalah ini.

“Sudahlah, aku lelah. Sebaiknya kau pergi! Aku masih bersikap waras saat ini untuk tidak mengatakan tentang perceraian denganmu,” ucap Minrin akhirnya yang sukses membuat Ryeowook membulatkan matanya. Dia mundur selangkah dan tiba-tiba saja dia kembali kehilangan kata-katanya.

M..mwo? perceraian?”

“Ya..perceraian, Kim Ryeowook-ssi,” jelas Minrin dengan penekanan. Dia menyeka air matanya lalu berjalan meninggalkan Ryeowook yang masih terhenyak di tempatnya.

***

Minrin tahu dia baru saja mengatakan kalimat yang tidak seharusnya diucapkannya. Perceraian? Ya Tuhan bagaimana bisa dia mengatakan hal itu, padahal umur pernikahan mereka belum ada dua bulan.

Lalu kembali dia terisak lirih. Hyehyo yang melihatnya hanya melayangkan tatapan prihatin tanpa sedikitpun berani mendekatinya. Hyehyo pikir hanya masalah sepele, wajar saja jika masalah seperti perbedaan pendapat ada diantara mereka, dan itulah yang dipikirkan Hyehyo. Dia tidak mengira jika ini ada kaitannya dengan Han Sena.

“Terakhir kali kau bersikap seperti ini, kau benar-benar buruk. Tapi sekarang kau lebih..lebih buruk,” ucap Hyehyo mendramatisir sambil menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,” lirih Minrin. Dia menunduk dan menenggelamkan kepalanya di antar lutut.

“Bicara padanya. Untuk kali ini aku dipihak Kim Ryeowook. Kau belum mendengarkan penjelasaannya dan justru mengucapkan hal-hal seperti tadi. Mwoeyo? Bercerai? Aigoo…jika kau bercerai padahal kau baru menikah dua bulan yang lalu, kenapa dulu kau menerima lamaran pria itu? Aku benar-benar tidak mengerti,” Hyehyo mulai menceramainya dengan nada kesalnya. Minrin mendongak dan menatap Hyehyo.

“Aku tahu…,” lirih Minrin lagi.

Kesalahannya jugalah mengucapkan kalimat keramat seperti bercerai. Itulah kenapa Minrin tidak ingin berbicara pada Ryeowook di saat perasaannya kacau seperti ini. Dia tidak ingin membuat keputusan yang salah. Karena bagaimana pun juga dia masih sadar bahwa kebutuhannya akan pria itu masih besar dan bahkan semakin besar. Dia terlalu mencintainya.

“Kalau begitu pulanglah! Sampai kapan kau akan menghindar darinya? Dan kurasa jika foto-foto itu benar, entah kenapa aku mencurigai si rubah Han Sena itu.”

Minrin menoleh sedikit lalu tersenyum kecil mendengar ungkapan Hyehyo tentang Sena. Ya..setidaknya Minrin masih bisa tersenyum sekarang. Bicara soal Han Sena, Minrin tidak ingin memikirkan apapun tentangnya, meskipun sejak awal gadis itu selalu melihatnya sebagai orang yang harus dilenyapkan.

Ini bukan hanya tentang kejadian tempo hari saat Minrin melihat Sena keluar dari ruangan Ryeowook di kantor. Han Sena pernah menemui Minrin sebelumnya, jauh-jauh hari ketika Ryeowook masih berada di Amerika. Gadis itu meluapkan kekecewaan dan kemarahannya pada Minrin karena Minrin lah Ryeowook membatalkan pertunangan mereka. Dia juga mengatakan bahwa sampai kapanpun tidak akan menerima pernikahan Ryeowook dengan Minrin.

Awalnya Minrin hanya menganggapnya sebagai bentuk kekecewaan saja dan berharap Sena akan mengubah pikirannya. Dan sampai detik ini pun Minrin tidak ingin memikirkan apapun tentang kemungkinan bahwa Han Sena lah yang sengaja mengirimkan foto-foto itu padanya.

***

“Aku tidak berbohong dengan ucapanku, oppa.” Han Sena menatap Ryeowook penuh kemenangan.

Ryeowook terdiam di tempat duduknya dan balas menatap Sena tajam. Dia tidak pernah menyangka sosok gadis yang pertama ditemuinya memberikan kesan menarik ternyata mampu mengubah pemikirannya berbanding terbalik.

“Aku tidak akan bertanya darimana kau mendapatkan foto-foto itu dan aku juga tidak akan bertanya apa benar kau yang mengirimkan foto itu pada Minrin,” ucap Ryeowook tenang, berusaha sekuat mungkin mengontrol amarahnya.

Jinjja? Kupikir kau penasaran? Malam itu bukankah…”

Kemanhae, Sena-ya!” potong Ryeowook cepat.

Dia tidak ingat kejadian apa yang pernah terjadi malam itu dan Ryeowook benar-benar tidak ingin mengingatnya.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Ryeowook kemudian. Kepalanya sudah hampir meledak karena frustasi sekarang ini. Dan lebih baik Sena tidak mengucapkan hal-hal lain selain menjawab pertanyaan yang Ryeowook ajukan.

Sena terlihat tersenyum lalu berubah tertawa saat melihat Ryeowook diam seperti ingin memakannya bulat-bulat. Baginya ekspresi itu sangat lucu. Tawanya berhenti ketika akhirnya Ryeowook melayangkan tatapan dinginnya sekali lagi pada Sena.

“Oh…maafkan aku, Oppa,” ucapnya kemudian lalu menegakkan tubuhnya yang semula bersender pada kursi. “Baiklah. Aku adalah orang yang selalu bisa mendapatkan apa yang kuinginkan termasuk mendapatkanmu, Oppa.” Senyumnya kembali terkembang.

“Jadi, itulah yang kuinginkan. Kau seharusnya bertunangan denganku bukannya menikah dengan gadis sialan itu. Sejak awal kau adalah milikku, kau ingat pertemuan pertama kita? Di cafe ini kita pertama bertemu setelah ibumu dan ibuku mengatur perjodohan kita. Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Ya…meskipun foto itu mungkin sangat mengejutkan untuk Minrin.” Kembali Sena berbicara dengan nadanya yang mencibir dan juga penuh kemenangan.

Ryeowook hanya diam. Dia tahu hal seperti ini akan terjadi, hanya saja dia tidak menyangka jika Sena berani melakukan hal menjijikan seperti ini. Setelah dulu merencanakan pertunangan sepihak, sekarang dia berencana membuatnya dan Minrin berpisah. Benar-benar gadis gila.

“Aku tidak akan pernah menerima penawaranmu itu. Tidak akan pernah!” ucap Ryeowook jelas dengan penekanana setelah itu.

Sena mendongak dan menatapnya tajam. Sekali lagi Ryeowook menolak dan sepertinya Han Sena sudah terlalu kebal dengan penolakan itu karena setelahnya dia hanya kembali tersenyum.

“Kau memilih melihat C.E group yang sudah ayahmu bangun hancur? Benar-benar tidak bsia dipercaya. Kudengar ayahmu sedang sakit sekarang ini. Bagaimana menurutumu reaksinya setelah tahu anaknya menghancurkan perusahaan yang dibangunnya selama ini demi mempertahankan gadis yang dicintainya? Oh…aku tidak akan mengatakan itu, tenang saja,” ucap Sena lalu melihat ekspresi Ryeowook yang semakin tajam melihat ke arahnya.

“Jangan mengancamku, Han Sena-ssi,” balas Ryewook dengan penekanan. Rahangnya mulai mengeras menahan amarah.

Lagi-lagi Sena tersenyum menyerangai.

“Aku tidak membutuhkan bantuanmu untuk membuat C.E group menempati posisinya lagi. Berhentilah menggangguku. Kau gadis yang baik, dan jangan mengotori dirimu sendiri dengan bertindak seperti ini. Maafkan aku jika aku membuatmu kecewa. Tapi kumohon, berhentilah… sampai kapanpun aku hanya mencintai Minrin. Jadi, berhentilah berharap banyak dariku,” ujar Ryeowook pada akhirnya. Permintaan maaf itu tulus. Ryeowook juga menyadari jika ini semua berawal pada kekecewaan Sena. Gadis itu mencintainya, dan Ryeowook tahu akan itu.

Ryeowook lalu berdiri lalu pergi dari hadapan Sena, membiarkan gadis itu terhenyak di tempatnya setelah mendengar kata-kata Ryeowook tadi. Gadis itu hanya diam lalu tersenyum tidak percaya bahwa sekali lagi untuk kesekian kalinya seorang Kim Ryeowook menolak kehadirannya. Sangat menyedihkan.

***

Minrin menerawang ke langit sore itu. Kembali hari dilewatkannya tanpa pria itu. Rasanya masih menyesakkan jika mengingat bagaimana Ryeowook berusaha sangat keras menemuinya. Tapi kemudian kekecewaan itu kembali menguasai dirinya ketika foto-foto itu kembai merasuki pikirannya.

Suara gemerincing dari pintu coffee shop menyadarkan Minrin. Lalu di sana di pintu itulah, Minrin melihat Hyukjae berdiri dan tersenyum ke arahnya.

“Maaf membuatmu menunggu,” ucapnya sambil terus tersenyum lebar. Mau tidak mau Minrin ikut tersenyum.

“Sebenarnya kenapa kau ingin bertemu denganku? Kau tidak diminta orang itu kan?” tanya Minrin menyelidik.

Hyukjae mengernyit mendengar kata ‘orang itu’ yang dilontarkan Minrin. “Dia masih suamimu, bukan orang lain. Aisshh jinjja…!!” decaknya kecil.

“Aku serius. Aku sudah mengatakan berulang kali bahwa aku masih belum ingin bertemu dengannya,” sahut Minrin kesal.

Arraso..arraso. Aissh, kalian benar-benar menyusahkan.” kembali Hyukjae berdecak. Dia lantas mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.

Sebuah lembaran berwarna putih yang kemudian diletakkan Hyukjae di atas meja. Tiket pesawat. Minrin mengenyit melihat tiket pesawat tujuan Maldives yang kini disodorkan di depannya.

“Dia memberimu pilihan. Terbang ke Maldives dan temui dia, atau buang saja tiket ini dan tunggu surat perceraian dikirimkan padamu,” ucap Hyukjae to the point.

Minrin hanya bisa terperanjat terkejut lalu mengerjapkan matanya berulang kali melihat tiket pesawat itu. Lalu tatapannya berubah menatap Hyukjae. Sahabatnya itu membalasnya dengan tatapan serius.

Wae? Kau tidak percaya? aku juga tidak percaya dia melakukan ini. Kau pikirkan saja apa yang akan kau lakukan. Pesanku, jangan membuat kesalahan dua kali. Aku tahu kau sangat mencintainya.”

Minrin kembali hanya diam. Apa maksudnya tebang ke Maldives? Kenapa dia harus sejauh ini menjangkau pria itu hanya untuk bertemu?

Minrin hendak bertanya ketika akhirnya suara detingan pelan dari ponselnya menginterupsinya. Dia mengurungkannya lalu memilih mengambil ponsel itu.

Minrin-ssi, ini aku Han Sena.

Bisa kita bertemu?

***

CUT

Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa nyelesein after stori bittersweet ini. Baru bagian pertama sih soalnya nggak sadar kalau sudah tiga puluh halaman Ms words so, hehe…
aku juga nggak tahu kenapa justru menciptakan konflik baru, huurrrr!!! tapi tenang saja, konfliknya nggak mau dibikin ribet kok, :p

Bagian kedua nyaa menyusul satu minggu lagi -semoga-

dan seperti kataku, aku akan protect part 2nya. Passwordnya akan aku kasih clue di sini, biar kalian yang pengen baca nggak perlu susah payah minta passwordnya.

Password : kombinasi tanggal lahir Ryeowook-Minrin-Hyukjae, ada 4 digit angka dan tidak ada angka yang double. (Perhatikan baik-baik huruf yang aku cetak tebal biar nggk kebalik-balik). tanggal lahir Minrin bisa dicari di blog ini.

Semoga nggak bingung dengan clue nya ya ^^

Oke deh, sekian dulu… thanks for reading and don’t forget to leave your comment. Bye… ~^^

Advertisements

17 thoughts on “Bittersweet After Story #1 – I Never Regret Marrying You –

  1. Tgl lahir minrin berapa?? Aq cari kok nggak ketemu? Apa memang aq yg gk bisa cari??
    Aishh… kasih tahu dong tgl lahirnya minrin. Soalnya pengen bgt bisa baca yg part 2 nya. Jeball 😦

      • Hallo. Aku Sngat suka FF nya. Sudah Aku Cari cari tanggal lahir mirin tapi Nggk ktemu juga. Tolng kasih tahu ya, aku penasaran banget ama FFnya. Jarang ada FF main castnya oppa ku itu.

      • Hi, selamat datang ^^
        ada di postingan paling atas blog ini, coba dicari dulu lagi ya… hehe..
        terima kasih sudah berkunjung dan suka sama ff ku 🙂

  2. Iyasih emang belum di post, tp udh pengen banget baca 😀
    Dan soal tgl ulang tahunnya minrin akhirnya ketemu juga setelah aku ubek2 (?) blog ini..
    Tetep semangat buat nglanjutin ffnya 😀

  3. Ahhhhh akhirnya after story nya nongol hehe
    Udah lama nih nungguin eonn gak nulis2..
    Itu pilihan ryeowook yg terakhir aku suka, kesannya maksa haha…
    Btw, the next part kenapa diprotect eonn? Ada apa2 nih hehe
    Untuk pw nya cuma 4 digit eonn?

  4. Dah lama gak buka blog ini skalinya buka dah da tambahan ff baru .. Akhirnyaa da jg after story bittersweet.. FFnya bkin greget nihh .. Di tunggu bnget klanjutannya .. Sambil nbak2 passwordnya jg ..hehe
    Fightiinngg authorrr ^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s