-Series- Terbagi (2)

korea girl

Title : Terbagi (2)

[Fight of Love (1)]

Kim Ryeowook, pria itu bernama Kim Ryeowook. Seorang pria yang entah bagaimana diijinkan Minrin hadir dalam hidupnya yang semula penuh akan Lee Hyukjae. Pria itulah yang menolongnya dari guyuran jus tomat dan pria itulah yang dimalam pesta itu mengantarkan Minrin pulang. Tanpa diminta, pria itu selalu ada untuk Minrin. Tidak bisa dijelaskan seperti apa, namun yang jelas kehadirannya itu mendadak menjadi sesuatu yang dinanti Minrin

Terkadang dia akan menemui Minrin di cafe tempatnya bekerja dan mengajaknya makan siang bersama. Saat pria itu tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang CEO di siang hari, dia akan datang di malam hari dan menunggui Minrin hingga selesai bekerja. Terdengar sangat menggelikan dan mungkin juga menyebalkan tapi seperti katanya bahwa semua itu berubah menjadi berarti ketika Lee Hyukjae tidak lagi muncul di hadapannya seperti dulu.

Lee Hyukjae bilang sedang ada proyek besar yang harus ditanganinya langsung di Amerika. Jadi karena itulah pria itu tidak lagi bisa ditemui Minrin sejak tiga minggu yang lalu, dan mungkin hingga dua minggu kedepan. Minrin tidak ingin berpikir terlalu jauh mengenai apa yang mungkin Hyukjae lakukan di Amerika. Sejak awal Minrin memberikan kepercayaannya pada pria itu dan berharap Lee Hyukjae akan menjaga kepercayaa yang diberikannya dengan baik. Minrin tidak ingin mengkhawatirkan apapun, termasuk jika orang tua kekasihnya itu mungkin saja sedang merencakan sesuatu mengenai perjodohan Lee Hyukjae dengan Park Hyehyo, si gadis gila menurut Hyukjae.

Lagipula  hubungan keduanya akhir-akhir ini tidak lagi sebaik dulu. Tidak banyak waktu yang mereka habiskan, meski hanya di akhir pekan. Hyukjae tanpa Minrin sadari menjaga jarak dengannya. Minrin sempat memikirkan ajakan Hyukjae di pesta pertunangan Donghae saat itu, yaitu mengenai pernikahan. Tapi sebelum Minrin benar-benar mengiyakan, pria itu perlahan menarik diri. Kelihatannya mereka baik-baik saja. Kelihatannya memang begitu, tapi percayalah kelihatannya tidak selalu kenyataannya.

Kembali pada pria bernama Kim Ryeowook itu. Minrin tidak tahu sejak kapan pria itu sudah duduk di salah satu kursi di cafe ini. Stelan jas hitam yang dikenakannya membuatnya tampak seperti benar-benar seorang executive muda. Bukan berarti di pertemuan sebelumnya, Minrin tidak mendapat kesan seperti itu, hanya saja untuk kali ini pria itu tampak sangat manly.

Dia tersenyum ke arah Minrin sambil melambaikan tangannya lalu tanpa berpikir dua kali Minrin menghampirinya. Minrin balas tersenyum ketika sudah sampai di depannya dan segera mendapat kesan yang lebih dari pria ini. Berbeda dari Lee Hyukjae yang dulu terkesan dingin, tapi Ryeowook bersikap sangat ramah dan lembut padanya.

“Belum jam makan siang. Kenapa kau sudah datang sepagi ini?” tanya Minrin kemudian.

Setahunya jam di dinding cafe ini masih menunjukkan pukul 9 pagi, waktu yang seharusnya menjadi waktu tersibuk bagi orang seperti Kim Ryeowook. Tapi pria itu dengan santainya datang ke cafenya dan memesan secangkir Latte coffe.

“Kurasa aku terlalu lama menghabiskan waktuku untuk memeriksa laporan dan aku butuh mencharge energiku,” jawabnya sekenanya.

“Dan kurasa laporanmu sudah menunggu untuk dikerjakan lagi, benarkan?”

Ryeowook mengangkat kepalanya menatap Minrin lalu tersenyum. “Bagaimana dengan menonton film selesai kau bekerja? Setelah itu aku akan kembali mengerjakan laporanku” tanyanya yang tiba-tiba mengganti topik secara sepihak.

Ndee? Apa ini semacam kencan?”

Senyum Ryeowook yang terlihat menertawakan justru semakin membuat Minrin mengernyit.

“Kenapa?”

“Apa ini pertama kalinya seorang namja mengajakmu berkencan? Kupikir Lee Hyukjae sudah sering melakukannya.”

A..a..aniyo,” gugup Minrin menjawab pertanyaan itu.

Lee Hyukjae memang sering melakukannya tapi dulu sebelum Minrin mengibarkan bendera perang pada orang tua pria itu. Kenyataannya terhitung sejak kejadian penyiraman jus itu, Hyukjae benar-benar lebih berhati-hati untuk menemuinya.

Tawa Ryeowook yang renyah menyadarkan Minrin. Gadis itu berubah cemberut sebentar lalu sedetik kemudian berdecak kecil.

“Apa terlihat jelas ya..kalau aku sudah lama tidak berkencan?” tanya Minrin akhirnya.

Dia pikir memang seperti itulah. Meskipun statusnya adalah kekasih pria bernama Lee Hyukjae itu, tapi sepertinya tidak lagi benar-benar seperti itu. Terkadang Minrin bahkan berpikir bahwa lebih lama lagi hubungan mereka tetap seperti ini, pada akhirnya akan membuat keduanya benar-benar jauh.

“Tidak juga. Kau terlihat sebagai gadis yang bebas sekarang. Sebegitu burukkah? Kau dan pria itu…” Ryeowook menggantungkan kalimat terakhirnya yang sayangnya langsung ditangkap Minrin.

“Kau percaya takdir?” Minrin balas bertanya yang seketika itu membuat Ryeowook tidak suka karena pertanyaannya tidak dijawab.

“Dalam beberapa hal, ya aku percaya.”

“Kalau begitu apa yang terjadi padaku dan Hyukjae akan kusebut takdir. Jika kami ditakdirkan maka kami akan tetap bersama, apapun yang terjadi,” jawab Minrin penuh keyakinan.

Dan sayangnya keyakinan bahwa Hyukjae benar takdirnya perlahan mulai memudar. Entah bagaimana, tapi Minrin merasa bahwa mulai sekarang dia harus mempersiapkan diri apapun yang akan terjadi nanti.

“Aku selesai bekerja jam 9 nanti. Tidak keberatan menunggu selama itu?” tawar Minrin seketika. Dia tersenyum pada Ryeowook. Pria itu terlihat berpikir sebentar lalu mengedikkan kedua bahunya.

“Kenapa tidak?”

“Kau serius?” Minrin hampir mengubah nada suaranya menjadi tinggi karena terkejut jika saja dia tidak segera ingat bahwa bos nya mungkin saja tengah mengawasinya.

“Lucu sekali.”

Mwo?”

“Ekspresimu.” Ryeowook terkekeh pelan yang langsung membuat Minrin kembali berdecak. “Aku akan kembali 12 jam lagi. Aku tidak suka menunggu, jadi sebaiknya kau jangan berlama-lama bekerja,” lanjutnya sambil memamerkan senyuman itu lagi. Senyuman yang akhir-akhir ini disukai Minrin.

“Apa kau mendadak menjadi orang yang spesial sampai-sampai kau mengaturku seperti itu?”

Ryeowook diam sebenetar lalu terkekeh, “Kurasa itu bukan ide yang buruk,” jawabnya yang langsung berdiri dari tempat duduknya.

Dia tidak mengatakan banyak dan hanya bilang bahwa ada pertemuan penting dengan seseorang, karena itulah dia memutuskan untuk pergi. Latte coffe pesanannya saja belum tiba dihadapannya tapi dengan seenaknya, dia sudah pergi seperti itu.

***

Benar sekarang sudah jam 9 malam. Tidak disangkanya bahwa 12 jam berlalu secepat ini. Seperti janjinya, Ryeowook sudah sampai di cafe tempat Minrin bekerja tepat pukul 9 malam. Sangat tidak bisa dipercaya bahwa pria itu begitu tepat waktu. Lagi-lagi sangat berbeda dari Lee Hyukjae.

Biasanya kalau Hyukjae berjanji akan datang menemui jam 9, maka pria itu akan benar-benar hadir di depan Minrin 15 menit kemudian atau bahkan 30 menit setelah itu. Sudah sangat biasa bagi Minrin, hingga rasanya dia tidak bisa lagi merasa kesal atau marah mengenai keterlambatan Hyukjae.

Minrin keluar dari tempat kerjanya ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh dan Kim Ryeowook terlihat masih setia duduk di balik kemudi mobilnya yang terparki di bagian kiri agak jauh dari cafe. Segera setelah menyelesaikan semuanya, termasuk sedikit berbohong pada teman-temannya yang semula ingin mengajaknya makan bersama.

“Lee Hyukjae menjemputmu?” tanya salah seorang dari mereka terkejut, karena biasanya Lee Hyukjae tidak pernah lagi menjemput Minrin sejak kejadian Nyonya Lee yang mengamuk di cafe ini.

Aniyo, seorang teman. Aku sudah janji dengannya,” jawab Minrin tanpa ragu yang seketika itu memunculkan tatapan curiga dari teman-temannya.

“Oh..jinjja? seolma…dia pria yang akhir-akhir ini sering datang?”

Minrin hanya tersenyum dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu. “Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok,” serunya yang langsung berjalan cepat menuju mobil putih yang terparkir tidak jauh dari mereka.

Kim Ryeowook menyambutnya dengan tersenyum. Senyuman yang sialnya menurut Minrin menawan.

***

Menonton film sepertinya akan mejadi ‘kencan lain’ yang dilakukan Minrin. Jangan salahkan pertemuan-pertemuan tak terduga diantara mereka atau pertemuan yang memang sengaja dibuat Ryeowook, namun yang jelas seperti inilah mereka sekarang, atau lebih tepatnya seperti inilah yang Minrin lakukan sekarang.

Ketika Lee Hyukjae menarik dirinya, maka ada pria lain yang perlahan datang padanya. Nampaknya seperti itulah bagi Minrin.

 “Kau yakin pria bernama Lee Hyukjae itu tidak akan marah kalau aku mengajakmu berkencan?” pertanyaan Ryeowook saat film baru dimulai tiba-tiba mengganggu fokus Minrin.

Dia menoleh dengan tangan menggengam pop corn. “Kenapa?”

“Kau masih kekasihnya. Apa menurutmu yang kita lakukan ini tidak salah, maksudku Aku, Kau dan Dia… tidakkah kau berpikir ini seperti cerita drama?”

Minrin mengernyit lagi. Dia mencoba mencerna kemana arah pembicaraan mereka kali ini. Jika yang Ryeowook maksud adalah cerita tentang dua pria dan satu wanita yang terlibat cinta, maka jawabannya ya…sepertinya mereka bertiga termasuk Ryeowook dan Hyukjae memang sedang terjebak dalam hal itu. Hembusan angin dingin entah dari mana tiba-tiba menyapu permukaan wajah Minrin. Seharusnya tidak ada angin yang masuk kemari kecuali dari AC di sebelah kiri mereka, tapi AC itu bahkan terlalu jauh, jadi tidak mungkin sedingin ini. Setelahnya Minrin hanya tersenyum hambar, lalu menggeleng.

“Apa menurutmu begitu? Aku hanya menganggap ini ajakan seorang teman,” jawabnya lemah.

Ada sesuatu yang tiba-tiba mengganggunya. Sesuatu yang tidak bisa diantisipasinya menohok ke dalam hatinya. Apa ini?

“Aku rasa ini diluar kemauan, benarkan? Tapi kurasa menjadi orang spesial kedua untukmu tidaklah buruk. Bagaimana menurutmu?

Dia lantas melirik ke arah Ryeowook yang dilihatnya juga hanya tersenyum. Pria itu menengadahkan telapak tangannya, meminta Minrin untuk meletakkan tangannya di sana.

“Ryeowook-ah…”

“Kau sendiri yang mengatakan bahwa tidak ingin berharap banyak lagi pada pria itu. Aku hanya ingin membantu. Percayalah, aku hanya ingin membantu. Mungkin saja kau akan merasa sakit karenanya Dan saat itu tiba, aku akan menjadi orang yang membantumu menyembuhkannya.”

Pernyataan itu begitu lembut, sarat makna dan sayangnya Minrin seperti kehilangan fokus hingga tidak mampu mencernanya dengan baik.

Wae?”

Sarang. Sebuah cinta pada seorang gadis dan tidak ingin melihat gadis itu sakit hati,” jawabnya pelan.

Minrin diam lagi.  Konsentrasinya tiba-tiba pecah, dia tidak fokus. Apa yang baru di dengarnya ini? Pernyataan cinta? Lalu apa yang harus dilakukannya?

Dia bingung. Satu hal yang dipikirkannya saat ini adalah, sejak awal mengibarkan bendera perang pada orang-orang itu termasuk berusaha mati-matian mempertahankan apa yang diinginkannya adalah sesuatu yang sia-sia. Karena nyatanya Minrin bagaikan sebutir pasir yang rapuh, yang kapan pun bisa dibuang jauh-jauh oleh mereka. Dan itu berarti kapanapun dia harus bersiap ditendang jauh-jauh dari kehidupan Lee Hyukjae.

Dia melihat kembali tangan Ryeowook lalu dengan ragu pada akhirnya dia menerimanya. Menerima bahwa tangannya akan digenggam mulai sekarang oleh pria itu. Pria lain yang entah sejak kapan sudah mencuri sebagian hatinya.

***

Part 2! ceritanya mungkin bisa dibilang sebelas dua belas sama bittersweet, tapi kekuh tetep mau dillanjutin.. hehe semoga suka ya… ^^

Ps : Mungkin di part-part selanjutnya bakalan muncul tokoh baru. Yupp Park Hyehyo. dia nggak bakalan jadi nama yg sering nyempil tapi bakalan dapat bagian di cerita ini. 

Jangan lupa komentarnya ya…^^ sampai jumpa lagi.

Advertisements

2 thoughts on “-Series- Terbagi (2)

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s