(Fanfiction) 8 Stories 8 Loves 8 Hearts Part 6 : New Life

cover 8 slh

Title : New Life

Cast :

Kim Ryeowook & Shin Minrin (Ryeomin)

Cho Kyuhyun & Shin Ranran (Kyuran)

Lee Donghae & Park Chany (Haechan)

Lee Sungmin & Park Sungyeon (Minyeon)

Kim Jongwoon & Han Sungyoung (Yeyoung)

Lee Hyukjae & Park Hyehyo (Eunhye)

Park Jungsoo & Han Nimi (Teukmi)

Choi Siwon & Ahn Ahra (Wonra)

Genre : Romance, Friendship, Family, Revenge

Length : 5245 words (Chapter)

Rating : 15

Author : d’Roseed / @elizeminrin

Disclaimer :

Super Junior milik Tuhan, orang tua mereka, dan ELF ^^.  Plot, karakter milik author seorang. So, please don’t copy paste my story.

Note : Terinspirasi dari drama Nice Guy

[Part 1: Everything Start Here]   [Part 2: Two Sisters]   [Part 3: Love Hate]   [Part 4: Love Hate 2]  [Part 5: The Accident]

***

One Year Later

Seoul,

08.00 AM

Pagi hari Senin di bulan Desember menjadi pagi tersibuk untuk karyawan Shin’s Group. Di sebuah Hall gedung itu, terlihat beberapa pelayang tengah menyiapkan rangkain bunga-bunga cantik yang akan dipajang di meja. Sedangkan di luar gedung terlihat rangkaian bunga ucapan selamat terlihat berjejer rapi di kanan kiri pintu masuk. Seorang gadis tinggi berambut panjang terlihat berjalan dengan anggun menyeelurusi koridor hall itu. Suara sepatu high nya bersentuhan dengan lantai marmer membuat penampilannya sangat elegan dan mewah, apalagi dengan celana panjang hitam yang mengetat kakinya serta kemeja putih dilengkapi blazer hitam membuatnya tampak mempesona sebagai Presdir baru Shin’s Group.

“Presdir, setelah upacara penobatan ini pihak dari Jepang ingin bertemu dengan anda,” ucap seorang laki-laki yang berjalan di sebelahnya. Laki-laki dengan wajah dingin dan terkesan sedikit angkuh itu telah menjadi orang kepercayaan gadis itu sejak ia menjadi orang terkuat yang akan memimpin perusahaan ini. Well, tentu saja hanya dia lah yang berhak karena tidak ada lagi keluarga Shin yang tersisa di dunia ini.

Ia mengangguk pelan, lalu menarik nafasnya panjang. Mendadak ia merasa sangat gugup. Ini pertama kalinya ia akan diperkenalkan sebagai Presdir Shin’s group secara resmi. Dunia akan memperhatiakannya, teutama perusahan-perusahaan besar serta asing yang selama ini bekerja sama dengan Shin’s Gorup. Dan semua orang menantikan kemunculannya di depan public sebagai Pemimpin kerajaan besar Shin’s Group. Tentu saja ia tidak boleh membuat kesalahan. Satu kesalahan kecil saja bisa mengacaukan semuanya.

Oppa, aku sangat gugup,” ujarnya akhirnya. Pria di sampingnya yang sudah terbiasa dipanggil oppa itu hanya tersenyum lalu menepuk pundaknya beberapa kali.

“Tidak perlu gugup. Kau hanya perlu berpidato dan memberikan kesan baik pada para pemegang saham itu. Semua akan baik-baik saja, Ran-ah,” ucap pria itu menenangkan.

Gadis itu, Shin Ranran lagi-lagi hanya mengangguk kecil. Ada segelintir ketakutan yang melandanya sejak semalam. Mungkin ketakutan itu hanya perasaannya tapi sungguh ia merasa sangat jahat ketika berjalan menduduki posisi penting ini, sementara orang lain yang juga berhak atas tahta ini belum ditemukan sampai sekarang.

Pria disampingnya yang bernama Jongwoon, sekretaris pribadi ayahnya yang kini menjadi satu-satunya orang yang membantu Ranran menjalankan perusahaan ini terlihat tersenyum lagi. Jongwoon kembali berjalan mengikuti Ranran. Mereka beriringan masuk ke dalam hall yang kini disulap menjadi ruangan yang akan menjadi tempat penobatan Ranran sebagai Presdir Shin Group.

Tepat jam 9 pagi, tamu undangan terlihat berdatangan. Kebanyakan dari mereka berasal dari  kolega serta sahabat ayahnya. Ada sekitar tiga atau lima orang yang sudah ditemui Ranran sebelumnya dan sisanya Ranran sama sekali tidak mengenal. Tapi dia tetap memasang wajah bahagianya saat bertemu dengan mereka. Mereka datang silih berganti, bersalaman dengannya dan memberi ucapan selamat atas pengangkatan dirinya sebagai pemimpin perusahaan.

Hingga akhirnya seorang pria muda tinggi yang dulu hampir menjadi bagian dari keluarga Shin terlihat berjalan dengan tenang menghampiri Ranran. Ranran menangkap sosok pria bernama Cho Kyuhyun itu lalu hanya tersenyum kecil. Satu tahun berlalu sejak pernikahan pria itu dan adiknya dibatalkan, sejak adiknya itu tiba-tiba tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang.

Chukkae,” Kyuhyun mengulurkan tangannya di depan Ranran yang langsung disambut gadis itu. “Kurasa setelah acara ini kita perlu merayakan sesuatu, benarkan?” godanya yang membuat wajah Ranran tiba-tiba bersemu.

“Aku jemput kau setelah selesai bekerja, Presdir.. bagaimana?” Kyuhyun lagi-lagi mengucapkan hal-hal yang membuat Ranran benar-benar tidak tahan untuk tidak tersenyum. Ranran tersenyum tenang, berusaha menjaga image nya yang tengah diperhatikan banyak orang lalu melepaskan tangannya yang ternyata sudah terlalu lama berjabat tangan dengan Kyuhyun.

“Baiklah, kurasa aku ada waktu kosong,” sahut Ranran tanpa melepaskan tatapannya dari Kyuhyun

Satu tahun berlalu dan banyak yang sudah berubah. Dulu pertemuan Ranran dan Kyuhyun akan menjadi pertemuan yang menjengkelkan. Selalu ada hal kecil yang harus mereka debatkan. Tapi lihatlah bagaimana perdebatan-perdebatan itu memudar seiring tumbuhnya perasaan manis bernama sayang dan cinta diantara mereka?

Well, mungkin ini terdengar sangat jahat karena Ranran seakan-akan mengambil Kyuhyun dari Minrin. Apalagi berita yang beredar akhir-akhir ini benar-benar menjengkelkan. Dihalaman depan tertulis ‘Calon Presdir Shin’s Group mengencani mantan tunangan adiknya’. Dan Ranran hampir melempar majalah itu jika saja Jongwoon tidak datang ke ruangannya saat itu. Dunia mungkin mengira Kyuhyun-Minrin adalah sepasang kekasih yang seharusnya menikah. Namun sayang mereka melupakan satu hal bahwa tidak ada pernikahan yang murni karena cinta antara dua pewaris kekayaan perusahaan seperti mereka. Dan tentu saja seluruh karyawan Shin Group maupun Cho Corporation juga tahu kalau Minrin tidak pernah setuju untuk bertunangan dengan Cho Kyuhyun, apalagi menikah dengannya. Jadi, dalam hal ini Ranran tidak merebut Kyuhyun dari Minrin. Lagipula adiknya itu mencintai pria lain.

Kyuhyun sekali lagi memamerkan senyumannya pada Ranran sebelum pamit untuk bergabung dengan rekan bisnisnya yang lain. Sementara itu Jongwoon yang berdiri di samping Ranran terlihat sedang berbicara di telepon dengan serius. Lalu sedetik kemudian tanpa Ranran sadari Jongwoon sudah berjalan menjauh darinya.

“Apa Ryeowook belum juga menemuimu?..Baiklah, aku akan menemuimu setelah acara di sini selesai,” Jongwoon berbicara pelan lalu segera memutus sambungannya setelah membuat kesepakatan untuk bertemu dengan orang yang diajaknya bicara tadi.

Jongwoon kembali ke tempatnya, berdiri di samping Ranran. Gadis itu menoleh sebentar dan bergumam pelan, “Aku akan pergi dengan Kyuhyun nanti.”

“Lalu? Bukankah kalian sudah sering melakukannya? Maksudku berkencan….” Jongwoon menimpali tidak terlalu terkejut. Lagipula dia juga mendengar dengan jelas bagaimana Kyuhyun mengajak atasannya itu untuk berkencan malam ini.

“Yeah, aku tahu…hanya saja masih terdengar aneh ketika aku menyebut pertemuan kami adalah sebuah kencan. Aku seperti merasa bersalah pada adikku sendiri,” ucap Ranran pelan. Ini kali pertama sejak beberapa bulan terakhir Ranran kembali menyebut lagi tentang adik perempuannya yang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya.

“Shin Minrin yang membatalkan pernikahan mereka. Jangan terlalu merasa bersalah, kau juga berhak untuk berkencan dengan pria yang kau sukai, benar kan?”

Ranran tersenyum tipis sedikit menyerangi lalu melirik Jongwoon melalui ekor matanya. “Oppa sendiri, kapan kau akan menikahi gadis itu? Kulihat kau sering sekali pergi makan siang diluar bersamanya,” balas Ranran lagi.

Jongwoon tersenyum sebentar. “Sebenarnya kami sudah pernah menikah,” ucapnya tidak disangka yang langsung membuat Ranran menolehkan kepalanya.

Tatapan gadis itu terkejut menatap Jongwoon. Ranran tidak pernah tahu kalau ternyata Jongwoon sudah pernah menikah. Dia hampir menanyakan keterkejutannya tapi segera diurungkannya saat seorang laki-laki paruh baya yang didampingi isterinya berjalan pelan menghampirinya. Sepertinya Ranran harus bertanya setelah pesta ini selesai.

***

 

Jeju

08. 48 AM

Café Kona Beans yang dikelola Jungsoo terlihat ramai seperti biasanya. Sejak berdiri satu tahun yang lalu siapa yang menyangka café ini bisa sesukses ini? Jungsoo bahkan berencana membuka café baru di Seoul nanti. Permasalahan masa lalu yang menyangkut mantan isterinya dan keluarganya nyatanya tidak menyulutkan niatnya untuk berbisnis. Meskipun orang-orang suruhan mantan mertuanya beberapa kali membuatnya jatuh bangun, toh pada akhirnya ia tetap menjalankan bisnis ini. Semua juga tidak lepas dari peran Lee Donghae.

Lee Donghae adalah tetangga sekaligus sahabatnya yang selama ini membantunya dalam menjalankan bisnis ini. Pria itu jugalah yang menyarankan Jungsoo untuk membuka cabang café di Seoul. Dan dia jugalah yang mengulurkan tangannya dengan uska rela untuk mengurus segala macam yang dibutuhkan untuk pembukaan Kona Beans di Seoul.

Lee Donghae terlihat sedang duduk santai di kursi dengan sebuah majalah di tangannya saat Jungsoo menghampirinya.

“Donghae-ya, bagaimana pembelian tempat di Seoul?” tanya Jungsoo kemudian. Donghae menoleh dan mengangkat jempolnya lalu mengangguk mantap.

“Sudah kubilang semua akan beres ditanganku. Kita hanya perlu sedikit memperbaiki tampilan tempat itu,” jawab Donghae berbangga. Jungsoo mengangguk mengerti dan tersenyum.

“Baguslah, aku serahkan semuanya padamu.”

“Kau bisa mengandalkanku, Hyung.” Donghae menyahut sekali lagi dengan kepercayaan diri yang tinggi. Jungsoo memang tidak bisa meragukan kemampuan Donghae dalam berbisnis. Pria itu bisa saja menerima tawaran bekerja di Shin’s Group dan menjadi seorang direktur di sana, tapi entah alasan apa yang membuatnya menolak tawaran itu.

“Ah..Hyung, tadi ada seorang wanita yang mencarimu,” seru Donghae kemudian.

Jungsoo yang mendengar itu sedikit memincingkan matanya lalu entah kenapa tubuhnya mendadak menegang. “Nugu?” tanyanya

Donghae terlihat membolak-balik majalah di tangannya dan mengedikkan bahunya enteng. “Aku tidak tahu. Dia cantik, tinggi dan sepertinya dia sangat ingin bertemu denganmu,” jawabnya lagi, sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari majalah yang dibacanya.

Sementara itu Jungsoo terlihat hanya terdiam sebentar. Mungkinkah itu Han Nimi?

Jungsoo tidak mau percaya diri jika mantan isterinya itu akan datang secara pribadi ketempatnya setelah dua tahun berpisah. Tapi sungguh jika memang benar gadis itu yang datang lantas apa yang membuatnya datang lagi kemari? Tidak banyak yang tahu bahwa sebelum ini seorang Park Jungsoo pernah menikah dengan seorang gadis dan pernah pula bercerai dari gadis itu.

Han Nimi, seorang gadis yang mampu menarik perhatiannya saat kuliah dulu. Mereka memutuskan untuk menikah, tapi layaknya cerita klasik tentang si miskin dan si kaya, pernikahan mereka ditentang oleh keluarga Nimi. Keluarga Han adalah keluarga yang terpandang. Tuan Han memiliki perusahaan besar sama besarnya dengan Shin Group saat ini. Hanya satu tahun usia pernikahan itu, lalu mereka terpaksa berpisah. Sebenarnya Jungsoo yang meminta berpisah. Bukan karena alasan tidak lagi mencintai isterinya, tapi lebih pada keterpaksaan, karena saat itu kondisi keluarganya juga sedang tidak baik. Ayah gadis itu memberinya pilihan, untuk berpisah atau membiarkan bisnis yang dibangun ayahnya selama ini hancur tak bersisa. Jungsoo terlalu muda saat itu, karena itulah dengan kebulatan tekad ia memilih berpisah.

Tapi kenyataannya keputusannya berpisah tidak serta merta meloloskannya dari cengkeraman kekuasaaan keluarga Han. Beberapa kali bisnis yang berusaha dibangunnya jatuh, begitu juga dengan bisnis café nya ini. Tapi akhirnya satu tahun yang lalu, seorang pria berjas yang merupakan suruhan Tuan Han menemuinya, memberinya kesepakatan bahwa keluarga Han tidak akan mencampuri bisnis Jungsoo, asalnya dia berjanji tidak akan berhubungan dengan Han Nimi. Dan Jungsoo bersedia melakukannya.

Lagipula hubungannya dengan gadis itu juga sudah berakhir. Hingga akhirnya Han Nimi menemuinya beberapa waktu yang lalu. Dan jika Jungsoo tidak salah menduga, Han Nimi kembali datang untuk bertemu dengannya.

Lamuannya terhenti saat Donghae berujar lagi. “Sekarang dia mendapatkan apa yang diinginkannya,” ujarnya sembari mendesis pelan. Jungsoo mengalihkan perhatiannya pada majalah yang dibaca Donghae. Satu halaman full menampilkan foto Shin Ranran dengan judul ‘Mengenal lebih dekat Presdir baru Shin’s Group’

Jungsoo tidak berkomentar banyak. Sebenarnya ia sudah menduga akan terjadi hal ini, apalagi masyarakat termasuk keluarga Shin sendiri belum mengetahui dimana keberadaan salah satu anggota keluarga Shin yang juga berhak atas tahta yang digenggam Ranran saat ini.

“Donghae-ya, kau masih belum memaafkannya?” Jungsoo bertanya pelan. Sudah satu tahun berlalu dan selama itu Lee Donghae tidak pernah lagi bertemu dengan adik tirinya itu sejak pertemua penuh emosi di rumahnya saat itu.

Donghae menoleh malas lalu meletakkan majalah tadi dengan kasar. “Aku tidak akan mendebatkan ini lagi, Hyung,” sahutnya lalu memilih berlalu dari hadapan Jungsoo yang hanya bisa menghela nafasnya lemah.

“Baiklah, terserah kau sajalah. Asal kau tidak menyesal nantinya,” gumam Jungsoo kemudian.

***

Seoul,

06.30 PM

Kim Jongwoon terlihat berjalan dengan tergesa-gesa di lorong rumah sakit itu. Pagi tadi ketika acara penobatan Presdir baru, ia mendapat panggilan mendadak yang menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit ini. Alasan kedatangannya adalah terkait proses pengobatan sepupunya yang terlibat kecelakaan satu tahun yang lalu.

Langkah kakinya memelan ketika mencapai sebuah ruangan. Ia mengetuk sebentar pintu itu lalu membukanya. Di dalam ruangan itu, seorang wanita berparas cantik dengan rambut disanggul ke atas terlihat duduk tenang di balik mejanya. Wanita itu mengenakan kaca mata, dan jas putih seorang dokter. Tanpa banyak mengucapkan sapaan Jongwoon sudah duduk di depan wanita itu.

“Aku tahu kau sangat sibuk, tapi aku harus menyampaikan ini padamu,” ucap wanita itu, tidak terlalu terkejut dengan sikap Jongwoon barusan.

Wanita itu bernama Han Sungyoung. Seorang dokter dan juga wanita yang pernah menikah dengan Jongwoon. Kim Jongwoon memusatkan perhatiannya begitu saja saat Sungyoung mulai bicara dengan serius. Wanita ini adalah dokter yang menangani kondisi Ryeowook saat kecelakaan satu tahun yang lalu.

Jongwoon tidak pernah bertemu dengan Sungyoung sejak perceraian mereka, tapi ketika Kim Ryeowook menjadi pasiennya, mau tidak mau Jongwoon harus kembali sering bertemu dengannya.

“Apa yang terjadi?” tanya Jongwoon mulai khawatir. Sungyoung terlihat membenarkan kaca matanya lalu menatap lurus pada Jongwoon.

“Sepupumu itu sudah tiga bulan lebih tidak check up lagi. Kau tahu keadaannya kan? Aku sudah sering mengatakannya padamu, bahwa kau harus sering mengingatkannya. Kondisinya tidak sebaik yang kau kira, Jongwoon-ah…” jawab Sungyoung tidak sabaran.

“Aku tahu, tapi sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya,” potong Jongwoon cepat. Pria itu menghela nafasnya pendek .

Kim Ryeowook, sepupunya yang dengan sangat menyedihkan terlibat dalam sebuah kecelakaan satu tahun yang lalu memang menjadi orang yang harus mendapatkan perhatian lebih dari Jongwoon. Bukan karena pria itu tidak bisa menjaga dirinya, tapi terlebih pada hanya Jongwoon lah anggota keluarga yang dimiliki Ryeowook. Dan mengingat kondisi tubuh Ryeowook yang sebenarnya belum pulih seratus persen semakin membuat Jongwoon harus terus mengingatkannya untuk rutin melakukan check up.

Kecelakaan satu tahun lalu bisa dibilang jenis kecelakaan yang berat. Sebuah keajaiban sepupunya itu bisa selamat. Ryeowook memang pulih seperti sedia kala, bahkan terlihat tidak ada cacat fisik sedikit pun padanya. Hanya saja kecelakaan itu menyebabkan hematoma di kepalanya yang membuatnya masih berada dalam pengawasan dokter. Perdarahan di kepalanya yang akhirnya menyebabkan hematoma itu seharusnya bisa disembuhkan jika saja Ryeowook mau dioperasi saat itu juga. Tapi dengan sangat keras kepala, Ryeowook menundanya hingga hari ini.

“Dimana dia sekarang?” tanya Sungyoung lagi.

Jongwoon menggeleng pelan. “Aku tidak tahu, sepertinya dia melakukan perjalanan lagi. Akhir-akhir ini dia mendadak sangat suka pergi ke Jeju,” jelas Jongwoon juga tidak mengerti seperti tatapan Sungyoung yang menatapnya tidak mengerti.

“Secepatnya kau harus membawanya menemuiku. Astaga dia itu tidak mau hidup lebih lama atau apa eh?” ucap Sungyoung kesal.

Han Sungyoung memang sudah menganggap Ryeowook sebagai keluarganya, apalagi ketika dulu statusnya masih isteri dari Jongwoon, Sungyoung memang dekat dengan adik sepupu Jongwoon itu. Jadi sangat wajar jika Sungyoung juga sangat mengkhawatirkan kondisi Ryeowook. Kapan pun nyawa pria itu bisa terancan jika tidak segera melakukan operasi.

“Iya, aku mengerti,” ucap Jongwoong kemudian.

“Baiklah, aku tahu aku seperti menakuti kalian tapi kondisinya memang serius Jongwoon-ah, dia bisa saja kehilangan nyawanya sewaktu-waktu.”

Entah ucapan itu terdengar seperti ancaman ataukan hanya ketakutan Jongwoon saja, tapi yang jelas ia benar-benar khawatir. Siapa yang menyangka semuanya akan berakhir seperti ini?

“Young-ah, berhenti mengatakan dia akan mati. Dia tidak akan mati sebelum mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya,” tegur Jongwoon tiba-tiba. Terselip ambisi lama dalam nadanya itu. Dan Sungyoung sepertinya sangat paham maksud ucapan Jongwoon itu.

“Kalian masih berusaha membuat Shin Group hancur?” tebaknya seketika. “Aku sudah pernah mengatakan ini, kumohon hentikan semua ini Jongwoon-ah, satu-satunya yang harus kau pikirkan sekarang adalah hidup Ryeowook bukan keinginanmu untuk balas dendam.”

“Tidak, Young..! kau tidak mengerti. Aku tidak akan berhenti sampai tidak ada keluarga Shin yang tersisa lagi.” Jongwoon lantas berdiri, menatap sekilas ke arah Sungyoung lalu berbalik dengan cepat meninggalkan ruangan itu.

Keinginannya masih sama, yaitu menghancurkan Shin Group. Dan berhubung satu-satunya anggota keluarga Shin yang tersisa telihat menjadi boneka yang mampu dikontrolnya, sebentar lagi tujuannya itu akan tercapai.

***

Ryeowook’s Apartement

07.35 PM

Jongwoon mendapati Ryeowook tengah duduk santai di depan televisi LED apartementnya. Seperti katanya Kim Ryeowook terlihat sangat baik-baik saja. Dan itu adalah sebuah keajaiban karena sampai sekarang pria itu masih menjalani kehidupannya dengan normal. Kecelakaan maut yang dialaminya memang menjadi puncak masalah kala itu. Shin Minrin yang juga terlibat dalam kecelakaan itu mengalami koma selama satu bulan dan tiba-tiba menghilang sampai sekarang. Beruntung bagi Ryeowook karena ia hanya butuh waktu dua bulan untuk memulihkan kondisinya menjadi seperti sekarang.

“Ku kira kau sudah pergi ke Jeju,” Jongwoon membuka suara ketika mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Ia berjalan mendekati Ryeowook dan duduk di sofa samping.

Ryeowook terlihat hanya menoleh sebentar lalu kembali memfokuskan diri pada berita yang menayangkan pelantikan Shin Ranran sebagai Presdir terbaru Shin’s Group.

“Keinginan Hyung tercapai sekarang,” ujarnya kemudian. Ryeowook meletakkan remote televisi begitu saja. Jongwoon memutar kepalanya dan melihat pelantikan Presdir Shin’s Group memang telah menjadi headline di beberapa berita.

“Cepat atau lambat semua akan berakhir,” jawabnya merasa diatas angin lalu tersenyum. Ya..memang inilah yang diinginkan Jongwoon. Karena Shin Minrin mungkin saja akan membuatnya dan Ryeowook dipecat saat tahu kejahatan apa yang telah mereka lakukan, maka satu-satunya kesempatan adalah menjadikan Shin Ranran sebagai pemimpin perusahaan itu dan mengontrolnya. Dan hilangnya Shin Minrin adalah keberuntungan tersendiri yang memuluskan jalan Jongwoon selama ini.

 “Aku bertemu Sungyoung tadi. Dia bilang kau tidak pernah lagi Check up selama tiga bulan ini. Dia menyuruhmu untuk menemuinya,” lanjut Jongwoon kemudian mengabaikan ucapan Ryeowook tadi yang diyakini Jongwoon akan membawa mereka dalam perdebatan sengit seperti biasanya.

Setahun belakangan, dua orang itu tidak lagi sejalan. Jongwoon masih bersikeras untuk melanjutkan rencananya untuk menghancurkan Shin Group, sementara bagi Ryeowook ada hal lain yang lebih penting dibandingkan membalaskan dendam ayahnya pada Shin Taewoo dan keluarganya.

 Ryeowook hanya tersenyum sekilas lalu beranjak dari tempat duduknya. “Apa dia mengatakan aku akan mati jika tidak segera melakukan operasi itu?” tanyanya enteng bahkan terkekeh pelan.

“Ya, ini serius Ryeowook-ah. Kau bisa mati kapan saja, jadi lakukan operasi itu secepatnya,” bujuk Jongwoon. Ia tidak mengerti kenapa adik sepupunya itu mendadak menjadi sangat keras kepala.

“Aku akan melakukannya, tapi setelah aku menyelesaikan urusanku,” sahutnya tidak peduli.

“Tidak usah memikirkan itu, aku yang akan menanganinya. Kau focus saja dengan pengobatanmu.” Jongwoon tidak mau kalah. Ia menduga urusan yang dimaksud itu pastilah tentang menghancurkan Shin Group seperti rencana mereka semula.

Ryeowook menoleh cepat, menatap Jongwoon tajam. “Shin’s Group? Aku bahkan tidak lagi peduli dengan itu,” ucap Ryeowook sambil tersenyum tipis.

Jongwoon memperhatikan Ryeowook tidak mengerti. Kedua alisnya mengernyit heran. Jika bukan karena balas dendam, lantas urusan apalagi yang Ryeowook maksud?

“Yaa…Kim Ryeowook….”

“Besok Aku ada perjalanan bisnis ke Jeju. Kurasa akhir-akhir ini Ranran sangat menaruh perhatian lebih dengan resort di Jeju, jadi dia memintaku untuk mengurusnya.” Ryeowook memotong cepat ucapan Jongwoon barusan yang bersiap menegurnya dengan kata-kata yang sudah bisa ditebak Ryeowook.

Jongwoon tidak punya kesempatan dan ia pun mengalah. “Terserah kau saja lah, kulihat kau sering sekali pergi ke Jeju akhir-akhir ini,” Jongwon menimpali dan hanya disambut kekehan ringan oleh Ryeowook.

 “Katakan pada Sungyoung aku akan menemuinya setelah kembali dari jeju.”

“Akan kulakukan, asal kau segera menemuinya setelah kembali, atau aku yang akan menyeretmu!” ancam Jongwoon kemudian.

Ryeowook terkekeh lagi dan mengangguk. “Hmm….aku pasti akan ke sana.”

Jeju memang mendadak menjadi tempat yang sering dikunjungi Ryeowook sejak tiga bulan terakhir. Tidak sebatas karena ia ingin mencari udara segar di sana, tapi di pulau kecil itu lah seakan-akan ia diingatkan kembali dengan gadis itu. Seorang gadis yang dulu pernah dibuatnya jatuh cinta lalu dicampakannya dengan sangat menyedihkan. Padahal tempat itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan gadis itu. Mereka juga tidak pernah datang ke tempat itu bersama, tapi entah kenapa Ryeowook selalu ingin kembali ke sana.

***

Jeju,

05.56 AM

Pagi hari ini disambut gadis itu dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Kepalanya menoleh ke samping, memperhatikan seorang gadis lain yang sejak semalam menemaninya tidur. Ya.. ia yang memintanya untuk tidur bersama. Sebelumnya ia mendapat mimpi buruk, teramat buruk hingga membuatnya takut untuk tidur sendiri. Dan seperti seorang anak kecil yang ketakutan, gadis itu mengendap diam-diam ke kamar Park Chany, menggoyang tubuhnya dan memaksanya untuk menemaninya tidur.

Eonnie, kau sudah bangun?” tanya Chany yang baru saja terbangun karena gerakan tubuh gadis itu. Kedua matanya menyipit menyesuaikan kondisi ruangan yang sudah sangat terang karena efek cahaya matahari pagi yang menembus celah ruangan itu.

Gadis itu mengangguk pelan lalu tersenyum lagi, persis seperti senyum lugu milik anak kecil. Chany balas tersenyum lalu berusaha bangkit dari posisi tidurnya setelah berhasil mengembalikan seluruh nyawanya.  Ia mengucek matanya pelan dan beberapa kali ia terlihat menguap lebar menahan kantuknya.

“Apa yang eonnie inginkan untuk sarapan, euhm? Aku belum belanja lagi jadi kurasa tidak ada menu special untuk pagi ini. Kurasa kita masih punya roti dan susu, kita sarapan itu saja ya? Nanti makan siang kita pergi ke café Kona Beans, bagaimana?” Chany memberikan tawarannya dan langsung diikuti anggukan kepala bersemangat gadis itu.

“Baiklah, kalau begitu ayo bangun. Bukankah eonnie dulu sangat suka suasana pagi hari?” Chany sudah berdiri lalu megulurkan tangannya. Sementara gadis itu terlihat masih bermalas-malasan di tempat tidurnya sebelum akhirnya Chany menarik pelan tangannya. “Kajja, jangan bermalasan seperti itu, banyak hal yang harus eonnie pelajari hari ini,” ajak Chany lagi, kali ini gadis itu menurut dengan sedikit memanyunkan bibirnya kesal.

“Baiklah,” gerutunya menggemaskan.

Sungguh Chany tidak pernah melihatnya seperti ini di kehidupan gadis ini dulu. Tapi semua berubah bukan? Dan gadis ini sedang menjalani hidup barunya, berjuang untuk tetap hidup dan Chany bertekad akan membantunya.

***

Pesawat domestic tujuan Jeju International Airport mendarat dengan sempurna. Hari belum terlalu siang ketika Ryeowook menginjakkan kaki menuju pintu keluar bandara itu. Matahari bahkan belum terasa panas dan udara laut pulau Jeju terasa menyegarkan untuknya. Setelah menghentikkan taksi dan menyampaikan tujuannya pada si sopir taksi, ia pun sedikit melepas rasa lelahnya di dalam taksi yang akan membawanya ke hotel tempatnya menginap.

Perjalanan hari itu tidak berlangsung lama. Tidak sampai satu jam Ryeowook sampai di sebuah hotel yang memang sudah biasa disinggahinya setiap kali datang ke Jeju. Ia sedang berjalan di lobi hotel ketika tidak sengaja berpapasan dengan Lee Sungmin. Langkahnya terhenti begitu saja di hadapan pengacara keluarga Shin itu.

“Kim Ryeowook-ssi, sebuah kebetulan kita bertemu di sini,” sapa Sungmin. Ada nada dingin yang dipakai pria itu dan sayangnya Ryeowook menangkapnya termasuk layangan tatapan dingin yang mengarah padanya.

“Ada urusan yang harus aku selesaikan di sini. Dan kau sendiri, apa yang kau lakukan di Jeju?” balas Ryeowook bertanya.

“Aku? Aku juga ada urusan yang harus aku selesaikan di sini.” Sungmin membalas lalu tersenyum sekilas. Sebuah senyum yang Ryeowook yakini sedang menyindirnya. “Kudengar Presdir baru Shin’s Group sedang berusaha mengembangkan resort yang dibangunnya tahun lalu, benarkan? Ku harap dia melakukan yang terbaik untuk perusahaan,” ucap Sungmin lagi. Nada biacanya semakin menjengkelkan untuk Ryeowook tapi Ryeowook sendiri hanya membalasnya dengan senyuman.

“Setahuku Kau adalah pengacara keluarga Shin dan rasanya tidak masuk akal kau bicara seakan-akan kau tidak menyukai Shin Ranran menduduki posisinya yang sekarang,” balas Ryeowook balas menyindir. “Atau mungkin Pengacara Lee memang tidak menyukai posisi yang seharusnya ditempati Shin Minrin kini jatuh di tangan kakaknya,” sekali lagi Ryeowook berucap tenang. Keduanya saling menatap dengan tajam.

“Meskipun kenyataannya aku memang tidak terlalu menyukainya, tapi setidaknya aku masih memberikan dukunganku untuk Shin Ranran. Baiklah kalau begitu, aku harus pergi,” ucap Sungmin menghentikan percakapan itu lalu membungkuk singkat dan berlalu dari hadapan Ryeowook.

Ryeowook terdiam sebentar setelah itu. Ryeowook tahu siapa Lee Sungmin. Pria itu bukan hanya pengacara keluarga Shin tapi juga berteman dekat dengan Shin Minrin. Jika keberadaan gadis itu bahkan belum diketahui sampai sekarang, kenapa Lee Sungmin bahkan terlihat tidak terlalu khawatir? Ryeowook juga tidak pernah melihat usaha pria itu mencari gadis bernama Shin Minrin itu. Ataukah sebenarnya Sungmin tahu dimana gadis itu sekarang?

Entah kenapa akhir-akhir ini ia mencurigai Pengacara Lee itu. Ada sesuatu yang disembunyikannya, jelas sekali seperti itu. Lee Sungmin adalah satu diantara dua orang yang tahu kejahatan apa yang Ryeowook serta Jongwoon lakukan. Jadi sebenarnya ketika Minrin belum juga menampakan dirinya, satu-satunya orang yang berbahaya baginya adalah pria itu.

***

Sungmin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan tumbuh bunga berwarna kuning yang selalu menjadi ikon tersendiri untuk pulau Jeju. Tidak ada yang meragukan keindahan pulau ini. Tebing yang tinggi dengan laut menghampar luas di bawah serta berwarna-warni bunga yang tumbuh di sekitar tebing membuat nuansa alami pulau Jeju semakin menawan. Dan itu semua hanya bagian terkecil dari keindahan pulau yang disebut sebagai Hawaiinya Korea Selatan. Tidak salah sebenarnya jika Sungmin memilih tempat ini untuk mengasingkan gadis itu untuk sementara waktu.

Perjalanannya terasa singkat dan tidak butuh waktu yang lama mobil yang dikendarainya sampai di depan sebuah rumah minimalis itu. Satu atau dua bulan sekali Sungmin akan datang ke tempat ini untuk melihat keadaan gadis itu. Dan sangat melegakan ketika ia mendapat kabar bahwa kondisi gadis itu jauh lebih baik dari sebelumnya.

Park Chany yang menyambut kedatangannya kali ini. Gadis itu tersenyum sekilas lalu mempersilahkan Sungmin masuk.

“Bagaimana keadaannya?” tanyanya ketika mereka berjalan bersama-sama menuju taman belakang, tempat yang selalu menjadi favourit gadis itu.

“Lebih baik daripada yang kita kira. Eonnie, belajar sangat keras untuk menulis, membaca dan mengingat-ingat nama benda yang ada di sekitarnya,” jawab Chany. Mereka sampai di taman belakang dan menyaksikan langsung bagaimana gadis yang sedang mereka bicarakan tengah belajar dengan serius. Bibirnya bergerak-gerak seperti menghafal. Lalu seperti seorang anak SD yang baru saja mendapatkan jawaban atas soal yang sangat susah, gadis itu tersenyum bahagia.

“Satu tahun berlalu, benarkan? Satu tahun kita menyembunyikannya dari orang-orang itu, satu tahun kita mengajarkannya kembali apa yang dulu diketahuinya dan rasanya satu tahun masih belum cukup untuk membuatnya kembali.” Chany bergumam pelan. Tatapannya berubah iba menatap gadis yang duduk di bangku taman itu.

Sungmin tidak menanggapi ucapan Chany. Ia sendiri tahu itu. Dan seperti yang Chany katakan, meskipun sudah satu tahun berlalu tapi rasanya masih terlalu dini untuk membawa Nona Shin itu untuk kembali apalagi dengan keadaanya yang seperti itu. Jongwoon pasti akan memanfaatkan kondisinya yang seperti ini untuk membuat para pemegang saham menolak Shin Minrin menduduki posisinya semula. Dan pria itu kini memiliki boneka baru yang bisa dikontrolnya dengan sesuka hati.

“Kau sudah mendengar kabar itu? Shin Ranran diangkat menjadi Presdir hari ini,” ucap Sungmin kemudian. Chany yang berdiri di sampingnya mengangguk pelan. Berita itu bahkan sudah tersebar seantero dunia.

“Aku tahu. Apa yang harus kita lakukan sekarang, oppa? Aku tidak bisa membiarkan mereka merebut posisi eonnie seperti itu, meskipun aku tahu Ranran-ssi tidak salah dalam hal ini.” Chany membalas lalu menghela nafasnya lemah.

“Tidak sekarang, Chany-ah. Minrin belum siap untuk kembali, lagipula dia kembali dengan keadaan yang seperti ini justru akan membuatnya dalam bahaya.”

Lagi-lagi Chany menghela nafasnya. Tatapannya kembali memperhatikan gadis bernama Shin Minrin yang kini tengah mengacak rambutnya frustasi. Tidak berselang lama gadis itu menelungkupkan kepalanya di atas meja lalu memukul-mukul sendiri kepalanya itu. Dan pemandangan seperti itu bukan kali ini dilihat Chany. Hampir setiap hari saat Minrin sedang belajar atau berusaha mengembalikan ingatannya dia akan seperti itu.

Oppa, beberapa hari ini eonnie menanyakan sesuatu padaku,” gumam Chany lagi. Sungmin menoleh pelan ke arah Chany lalu menatapnya sedikit bingung. “Dia tidak sengaja menemukan fotonya bersama Kim Ryeowook beberapa hari yang lalu. Gara-gara foto itu jugalah dia terus memaksaku untuk mempertemukannya dengan pria itu. Eottoke oppa? Apa yang harus aku lakukan?”

Sejenak Sugmin menegang di tempatnya. Seharusnya ia sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi. Dan sepertinya ia tidak benar-benar membersihkan barang-barang gadis itu dari hal-hal yang menyanakut pria bernama Kim Ryeowook –yang baru saja ditemuinya tadi-. Seingatnya ia sudah membuang jauh barang-barang yang berhubungan dengan Kim Ryeowook. Lalu darimana gadis itu masih menyimpan foto Ryeowook?

“Chany-ah, darimana dia mendapatkan foto itu? Bukankah kita sudah membuang jauh semua hal tentang Kim Ryeowook dari hidupnya?” tanya Sungmin penasaran.

Chany hanya menggeleng pelan lalu menghela nafasnya dengan lemah, “Kurasa eonnie menyimpan foto mereka di tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dia menemukannya terselip di sebuah buku yang aku tahu tidak pernah disentuhnya sebelum kecelakaan.”

Sungmin kembali diam, kepalanya kembali menoleh kea rah Minrin yang masih sibuk dengan pensil dan buku tulis di depannya. Apa memang seharusnya mereka bertemu? Tapi Sungmin bersumpah tidak akan mempertemukan mereka sebelum Minrin mendapatkan kembali ingatannya. Mereka berdua tidak akan bertemu sebelum Minrin ingat pria macam apa Kim Ryeowook itu, dan ia akan memastikan itu sendiri.

Shin Minrin untuk pertama kalinya menoleh dan menyadari kehadiran orang lain dirumahnya selain Park Chany. Gadis itu tersenyum ke arah Sungmin lalu melambaikan tangannya pelan. Melihat gadis itu tersenyum lagi seperti sekarang adalah hal yang membahagiakan untuk Sungmin. Demi apapun Sungmin tidak akan membiarkan gadis itu menangis dalam diamnya seperti dulu dan menyimpan lukanya sendiri. Mungkin lebih baik dia tidak lagi mengingat luka lamanya itu. Tapi tegakah Sungmin membiarkan Minrin hidup seperti ini selamanya? Padahal di luar sana banyak orang yang menantikan kepulangan gadis itu, banyak yang menginginkan gadis itu muncul dan mengambil kembali posisinya. Sungmin seakan berada dalam dua pilihan yang sulit sekarang.

***

“Aku tahu itu Hyung. Berhentilah menyuruhku untuk ke sana!”

Suara Jongwoon kembali memaksa dan ini bukan kali pertama Ryeowook mendapat telepon dari kakak sepupunya itu sejak dirinya tiba di Jeju kemarin sore.

“Kau berjanji akan menemui Sungyoung setelah kembali dari Jeju..”

“Dan aku akan kembali ke Seoul lusa. Sudah jangan bicara lagi! kau urusi saja urusanmu di sana!” decak Ryeowook pada akhirnya dan menutup sambungan itu secara sepihak. Setelah itu ia memasukkan dengan sembarang ponsel itu di saku mantelnya.

Jujur saja Ryeowook bukannya tidak tahu kekhawatiran Jongwoon padanya. Ryeowook sangat tahu takdir seperti apa yang mungkin akan terjadi pada hidupnya. Saat ini, detik ini ia bahkan tidak bisa menjamin rasa sakit yang menyerang kepalanya tidak akan datang lagi. Menyakitkan memang membiarkan luka hematoma yang terus berada di otaknya, tapi ada hal lain yang harus dilakukannya sebelum operasi. Siapa yang akan menjamin dia tidak akan mati di meja operasi? Ia tidak ingin mati sebelum bertemu dengannya.

Gadis itu…Ryeowook harus bertemu lagi dengannya. Ia harus tahu bagaimana keadaan gadis itu. Ia tidak tahu dengan pasti, tapi yang jelas alasannya untuk datang ke tempat ini adalah untuk mencarinya. Jujur saja ia sendiri juga bingung kenapa ia sangat yakin gadis itu ada di sini, padahal jelas-jelas tidak ada bukti satupun yang menunjukkan bahwa gadis yang dulu pernah disakitinya itu berada di Jeju. Semua itu hanya berbekal ketidaksengajaan Ryeowook yang melihat sekilas sosoknya di pulau ini satu bulan yang lalu.

Langkah kakinya berhenti tiba-tiba seakan-akan di sinilan tujuan perjalanannya siang ini. Ryeowook sekarang berdiri tepat di depan sebuah café bernama Kona Beans. Dan di café inilah dia melihat sosok gadis itu sekitar satu bulan yang lalu. Ryeowook melihatnya sedang duduk di dekat jendela itu. Saat itu dia memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi Ryeowook berani bersumpah gadis itu adalah Shin Minrin.

Helaan nafasnya terdengar kecewa saat mendapati kursi di dekat jendela itu kosong sekarang. Padahal Ryeowook sangat berharap bisa bertemu lagi dengannya di sini. Ia menunduk sebentar lalu kembali menggerakkan kakinya untuk kembali melangkah meninggalkan tempat itu.

Jalan di depan Kona Benas sedikit lebih ramai dari biasanya. Dan tidak jauh di depan Ryeowook, terlihat seorang gadis dengan mengenakan sweater putih panjang tengah berdiri ragu. Entah apa yang sedang dilakukannya seperti itu. Kakinya maju ragu untuk menyeberang, tapi diurungkannya saat dari arah kanan melaju mobil dengan kecepatan tinggi. Begitu mobil itu lewat, sekali lagi dia maju dengan ragu dan sekali lagi mobil-mobil yang lain melaju di depannya dengan cepat. Ryeowook yang memilih berhenti hanya memperhatikan dalam diam. Gadis itu benar-benar sudah gila? Apa dia berniat menyeberang di jalanan yang tengah ramai ini?

Sekali lagi kendaraan lain melaju dengan sangat kencang dari arah kanan, kali ini sebuah truk barang terlihat di belakang sebuah mobil hitam yang melewati Ryeowook. Dan gadis itu sekali lagi berusaha menyeberangi jalan itu. Ryeowook melihat truk itu semakin dekat dan ia cukup yakin benda berjalan itu akan segera menghantam tubuh gadis itu yang sekarang benar-benar berniat untuk menerobos jalanan.

Yaa, Agashi!!” Dengan sigap Ryeowook berlari menghampiri gadis itu, menarik tubuhnya menjauh dari jalan dan mendekapnya.

Neo, michoseo!? Apa kau ingin mati, ha?

Neo….”

CUT

 

Hai…hai saya kembali dengan 8 Stories 8 Loves 8 Hearts. Seperti janji saya, karena bittersweet sudah tamat, maka saya akan focus sama ff ini. Semoga pada tidak lupa dengan ceritanya ya …hehe kalau lupa boleh dibaca ulang  😀
oke, selamat menikmati part 6 ini….dan silahkan tunggu untuk part selanjutnya ^^ Bye…

Jangan lupa tinggalkan komentar kalian ^^  

Advertisements

6 thoughts on “(Fanfiction) 8 Stories 8 Loves 8 Hearts Part 6 : New Life

  1. Akhirnya ini ff d’publish jg lanjutannya.. Sperti biasa authornya bkin pnasaran trus sma critanya .. Di tunggu next partnya ^_^

  2. aku baru baca ff ini. kereen sumpah
    maaf baru bisa kasih komen di chap ini yaa
    Ryeowook disini kok jahat yaa? tapi di chap 6 ini aku ngerasa Ryeowook berbeda. apa skrg gantian Ryeowook yg suka ke Minrin?sampe nyari Minrin segala.
    Itu Ryeowook ga akan mati kan?
    gadis yg mau ketabrak itu minrin kan yaa?. ah aku penasaran bnget sama kelanjutannya. semoga cepat di publish yaa. aku nggu semua ff-ff mu 🙂

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s