(Fanfiction) Still You -아 직 도 난- Part 2

still you 2

 

Title     : Still You

Cast     : Lee Donghae, Park Chany

Genre  : AU, Romance

Rating : 15

Length : Twoshoot (2930 words)

Author : d’Roseed / @elizeminrin

Disclaimer : I just have the story and artwork. The character belongs to their self.

 

Am I hurting? I am hurting, I don’t know

Have I forgotten you? I guess not

I keep thinking of you baby

It’s still you

Just You

-아 직 도 난 –

 

April, 22 2013

07.00 PM

Chany mengambil satu gelas wine berwarna bening. Dalam sekali tegak isi gelas itu pun habis dan sayangnya sama sekali tidak memberi efek apapun untuknya. Mungkin karena ia terbiasa meminumnya di Amerika, jadi satu gelas lagi sebenarnya tidak akan membuatnya mabuk. Ia masih bisa mendengar suara music klasik yang memenuhi rongga telinganya. Kedua matanya juga masih sangat baik melihat mempelai wanita dan juga pria yang tengah berdansa.

Ia pun berjalan berkeliling hall itu, bermaksud mencari teman bicara. Datang di acara pesta pernikahan seorang diri memang sebuah kesalahan. Seharusnya ia menolak permintaan kakaknya untuk menghadiri pesta ini sebagai perwakilan dari perusahaan atau seharusnya ia memaksa Sungyeon untuk menemaninya. Lagi pula tidak ada yang dikenalnya. Ia hanya tahu sang mempelai pria adalah salah satu ketua bagian di perusahaan.

Langkah kakinya terhenti ketika menangkap sosok anggun nan cantik yang tengah tertawa anggun bersama mempelai wanita. Gadis tinggi yang Chany kenal sebagai Han Jungyeon. Tanpa disadarinya ia sudah mengawasi gadis itu. Dan seakan menyadari tengah diawasi, Jungyeon menolehkan kepalanya, membalas tatapan tajam yang diarahkan Chany padanya. Lalu sedetik kemudian tanpa Chany menduganya dia berjalan dengan anggun menghampirinya.

“Lama tidak bertemu, Chany-ssi,” sapa Jungyeon dengan senyum menawannya. Seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka, dia bahkan mengelurukan tangannya.

Chany balas tersenyum dan menyambut uluran tangan itu dengan sedikit melayangkan smirknya sebentar, “ne, bukankah kita terakhir bertemu di pesta perusahaan?”

Kuere, Aku tidak pernah melihatmu di kantor sejak saat itu. Bukankah kau seharusnya membantu Direktur Park? Kurasa tugasnya akan lebih ringan jika mendapatkan bantuan, bernarkan?” tutur Jungyeon dengan ekspresi yang masih sama ramahnya dengan tadi.

Tapi sayangnya Chany tidak suka melihat sikap ramah yang menurutnya sengaja dibuat-buat. Gadis itu mendadak mengubah raut wajahnya menjadi dingin, “kakakku bisa mengerjakan semuanya dengan baik tanpa bantuanku. Lagi pula aku sedang tidak ingin berada di kantor. Tempat itu selalu membuat mood ku buruk,” Chany menyahut dengan nada cibiran pelan. Ia tersenyum tipis pada Jungyeon dan seakan menyadari apa maksudnya, Jungyeon mengurangi sikap ramahnya.

“Kau hanya perlu menghindari orang yang membuatmu tidak suka. Bukankah terlalu berlebihan jika kau sampai harus mengesampingkan perusahaan demi perasaanmu?” balas Jungyeon dengan nada cibiran pula.

“Ah.. jadi kurasa setelah ini aku tidak akan bertemu dengan Jungyeon-ssi, benar begitu kan?” ujar Chany membalas dengan sinis sembari tersenyum sedikit menyerengai.

Mwo?” seru Jungyeon tertahan.

Wae? Kau tidak perlu melihatku dengan ekspresi itu. Tidak perlu khwatir, aku juga tidak akan mempermasalahkan lagi. Well, you can meet him as you want,” Chany berbicara setengah mencibir. Dilihatnya raut wajah Jungyeon semakin pucat karena terkejut. Dan sayangnya itu seperti sebuah hiburan untuk Chany. Wajah pucat yang diselimuti ketekejutan serta ketakutan yang menjadi satu. Chany benar-benar menyukai ekspresi itu. Seakan-akan dengan membuatnya seperti itu, ia merasa menang. Padahal kenyataannya gadis di depannya inilah yang menjadi pemenang. Pemenang atas pertarungan kasat mata dalam memperebutkan seorang Lee Donghae.

Setelah mengatakan itu, Chany berlalu dari hadapan gadis itu. Ia tersenyum sebelum berjalan melewati Jungyeon yang masih berdiri tidak percaya. Padahal ingin rasanya ia berteriak di depan Jungyeon, memakinya dengan kalimat-kalimat sarapah dengan menyuruhnya menjauh dari Donghae tapi ia menahannya. Mungkin saja bukan Jungyeon yang salah, mungkin memang Donghae yang sedikit berpaling darinya selama ini.

Siapapun yang salah dalam ini, yang pasti hatinya sudah cukup kecewa dan terluka. Jadi, lebih baik tidak menambah luka itu dengan berteriak memaki di tempat ini.

Langkah kakinya mendadak berhenti ketika melihat seorang laki-laki berjas yang tengah tersenyum menatapnya, “Cho Yonghwa,” gumanya tidak percaya.

Pria benama Cho Yonghwa itu menoleh dan seketika itu tersenyum pada Chany, “Chany-ah, lama tidak bertemu,” sapanya.

“Ah, jadi itu benar kau? Benar-benar kejutan bisa bertemu denganmu di sini,” Chany berjalan mendekat dan tak henti-hentinya tersenyum.

Siapa yang menyangka ia akan bertemu mantan cinta pertamanya di sebuah pesta pernikahan?

Well, sepertinya pesta ini tidak buruk, kecuali bagian bertemu dengan Han Jungyeon. Seketika itu ia melupakan semua hal yang tadinya membutanya ingin segera pergi dari pesta ini. Ia tertawa untuk lepas saat mereka bercerita masa-masa di SMA. Ia tidak segan-segan mengatakan bahwa Yonghwa dulu pernah menjadi cinta pertamanya.

Arrayo, aku tahu kau sering mengamatiku saat di perpustakaan,” ungkap Yonghwa jujur.

Jinjjayo?”

“Aku juga tahu kau masih menyimpan sapu tangan dariku,” ujar Yonghwa lagi.

Jeongmalyo? Dari mana kau tahu?” pekik Chany tidak percaya.

“Sungyeon yang mengatakannya padaku.”

“Park Sungyeon?” Yonghwa mengangguk “issh, anak itu benar-benar..,!” dan tertawa pelan saat melihat raut wajah Chany berubah agak kesal.

Dwesso, lagi pula kau akan segera menikah dan aku sudah bertunangan,” lanjut Yonghwa kemudian saat tidak sengaja ia menangkap sosok seorang laki-laki yang tengah mengamati mereka berdua.

“Kau sudah bertunangan? Ah.. padahal aku mulai berpikir untuk menyukaimu lagi.” Chany mulai bergurau yang langsung membuat Yonghwa mengernyit. Tapi sayangnya Yonghwa menangkap hal berbeda dari ucapan Chany barusan. dan apa yang baru saja dilihatnya mendukung hepotesanya itu.

“Oh.. bukankah itu Lee Donghae?” ujar Yonghwa pelan menunjuk seorang laki-laki yang tengah memperhatikan keduanya dengan matanya. Seorang wanita yang tadi sempat bertemu dengan Chany terlihat berdiri di sampingnya.

Chany ikut menoleh. Dan ini adalah kali pertama sejak terakhir bertemu, mereka saling menatap dari kejahuan. Lalu tiba-tiba perasaan getir menyelimuti hatinya. Sebuah perasaan kecewa dan lagi-lagi karena dua orang itu. Tapi bukan Chany jika tidak bisa mengontrol perasaannya. Ia pun dengan cepat mengalihkan perhatiannya, “kau ingin berdansa?” tawarnya pada Yonghwa. Laki-laki itu nampak terkejut

“Kau tidak salah?” tanyanya.

“Membantuku untuk membuatnya cemburu,” sahut Chany mengedikkan kedua bahunya dan bersikap tidak ingin menerima penolakan.

Yonghwa hanya bisa menghela nafas pasrah. Lalu ia pun mengulurkan tangannya yang langsung disambut Chany dengan antusias, “jika Lee Donghae menghampiriku dan mencekikku, maka kau orang pertama yang akan kucekik balik,” ujar Yonghwa ketika dengan ragu ia melingkarkan tangannya di pinggang Chany.

“Sebelum dia melakukannya, aku akan menyelamatkanmu lebih dulu,” Sahut Chany. Ia berjalan satu langkah lebih dekat hingga akhirnya jarak mereka hanya tersisa kurang dari 10 cm.

“Kurasa kau memang harus melakukannya. Kau tahu dia sedang menatapku dengan sangat tajam, sangat mengerikan.”

Chany tertawa pelan dan selebihnya tidak peduli, karena ia memang tidak bisa melihat langsung bagaimana ekspresi Donghae saat ini yang posisinya tepat dibelakangnya.

Kuende, Chany-ah, siapa wanita itu? Kau ingin membuatnya cemburu karena dia bersama wanita itu?” tanya Yonghwa kemudian.

Chany mendesah pelan, “jangan banyak bertanya, atau aku yang akan mencekikmu sebelum Donghae yang melakukannya.” jawabnya dengan sedikit mengancam.

“Kurasa dia memang tidak akan melakukannya.”

Wae?”

“Mereka baru saja pergi.”

Lalu dengan cepat Chany melepaskan tangannya dari tangan Yonghwa dan menoleh ke belakang. Yonghwa benar, mereka berdua sudah pergi. “Kau beruntung hari ini, Yonghwa-ya..” ujar Chany pelan, padahal jauh di hatinya ia merasakan lagi perasaan kecewa itu.

 

 ***

Park Family’s House

09.07 PM

Chany melempar tubuhnya begitu saja di atas tepat tidurnya. Kedua matanya terpejam tanpa merasa tidak nyaman dengan high heels dan gaun selutut yang masih dipakainya. Pikirannya mendadak sangat penat karena pertemuan tidak sengajanya dengan Donghae di pesta tadi. Bukan karena bertemu Donghae, tapi melihat sikapnya yang jauh lebih terkontrol saat mempergoki Chany berdansa dengan laki-laki yang dulu menjadi cinta pertamanya.

Ahh siapa yang mengira Donghae tidak akan cemburu? Emosinya lebih baik, dia juga tidak bersikap kekanak-kanakan lagi.  Tapi kenapa Chany justru merindukan sikap Donghae yang kekanak-kanakan? Ia lebih senang Donghae menghampirinya dan juga Yonghwa, bahkan kalau perlu mencekik leher Yoghwa seperti yang dikatakannya tadi. Setidaknya dengan begitu Chany akan mengetahui Donghae masih peduli padanya atau tidak.

“Chany-ah, oppa masuk, ne?” suara berat Chanyoung yang diikuti ketukan pintu membuat Chany segera bangkit dari tempat tidurnya. “Ne..!” sahutnya dari dalam.

Lalu tidak berselang lama pintu kamarnya terbuka dan memperlihatkan sosok kakak laki-lakinya yang masih lengkap dengan stelan jasnya, -sepertinya dia baru saja kembali-. Chanyoung menghampiri Chany yang sekarang sudah dalam posisi duduk. Diperhatikannya penampilan adiknya itu dengan seksama.

“Kau pergi minum?” tanya Chanyoung ketika tidak sengaja mencium bau soju dari tubuh adiknya. Chany menggeleng dan beralih turun dari tempat tidurnya.

“Hanya beberapa gelas saat aku mampir di rumahnya Yeonie,” jawabnya enteng.

“Sama saja. Aigoo….” Chanyoung menggelengkan kepalanya, “bagaimana pestanya?” Chanyoung beralih bertanya. Dilihatnya Chany hanya mengedikkan kedua bahunya dan sedikit mendengus kesal. “Wae?”

“Aku tidak kenal dengan semua orang yang di sana, membuatku tidak tahu apa yang harus kulakukan,” dengusnya lagi. Sekarang Chany beralih ke meja riasnya dan mulai mebersihkan riasan di wajahnya.

“Kau tidak bertemu Donghae? Seharusnya kau bertemu dengannya, karena dia juga datang di pesta itu. Lagi pula kenapa kau tidak datang bersama dengannya saja?”

Chany menghentikan gerakan tangan mengusapkan cream ke wajahnya dan menoleh cepat ke arah kakaknya, “oppa yang menyuruhnya?” tebaknya yakin. Chanyoung tidak menjawab dan hanya mengangguk. “Oppa tahu apa yang terjadi diantara kami? We nearly end now, so why did ask him to come? Aku benar-benar membencinya sekarang,” serunya tidak percaya.

Matanya beralih lagi memandang Chanyoung hingga kakaknya itu bahkan bergidik dipandangi sangat tajam begitu. “Yaa, karena itu aku sengaja menyuruhnya datang. Kalian harus menyelesaikan masalah kalian jangan hanya saling menghindar. Kau ingat apa yang aboji katakan? Dia akan mengirimmu kembali ke Amerika jika kau tidak berusaha bersikap dewasa. Dan itu berarti pertunanganmu dengannya akan benar-benar batal,” ancamnya

Ucapan Chanyoung terdengar mengancam, tapi Chany bahkan tidak peduli soal itu. Ia juga tidak peduli jika seandainya harus kembali ke Amerika. Dari pada di Korea terus saja membuatnya kecewa kenapa tidak sekalian saja ia menetap di Amerika seperti sedia kala?

“Pikirkanlah dan selesaikan masalahmu. Aku tahu kau masih mencintainya,” ujar Chanyoung pelan, sebelum ia sendiri beranjak lalu meninggalkan Chany yang masih diam di tempatnya.

Chany berusaha menghela nafasnya, sementara matanya dibiarkan terpejam sesaat, lalu entah kenapa dirasakan sesuatu yang menusuk dalam dadanya. Mungkin ia ingin kembali ke Amerika dan mengobati luka serta kekecewaan hatinya, tapi demi Tuhan ia tidak ingin melepaskan Lee Donghae. Ia masih ingin bersamanya dan ia tidak ingin pertunangan itu batal.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan hatinya? Ada saatnya ia ingin berpisah, melupakan dan tidak peduli tapi di sisi lain ia tidak ingin seperti itu. Kakaknya benar, ia masih mencintai laki-laki itu.

 

 ***

 09.13 PM

Donghae menghentikan mobilnya di depan apartement Jungyeon. Matanya masih saja menatap lurus ke depan, ia juga tidak berencana menoleh dan sekedar mengucapkan selamat malam pada wanita disampingnya itu. Pikirannya sedang kacau sekarang terlebih lagi ketika baying-bayang Chany serta laki-laki tadi kembali muncul. Donghae tidak menyukai keduanya yang terlihat sangat serasi, ia juga tidak suka saat Chany menatapnya seakan tidak kenal. Apa gadis itu benar-benar sudah memutuskan untuk berhenti?

Ia berjengat sedikit terkejut ketika akhirnya Jungyeon menghela nafas kecewa dan membuka pintu mobil dalam diam. Tapi kemudian gerakan gadis itu terhenti, dan justru berbalik menutup kembali pintu itu. Pada saat itulah Donghae akhirnya menolehkan kepalanya.

Wae?” tanyanya enggan.

“Katakan padaku, apa alasanmu masih bersamaku? Jangan membuatku bingung dan semakin bersalah, Donghae-ya,” lirih Jungyeon. Gadis itu memberanikan diri ikut menoleh dan Donghae bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca.

Donghae tidak bodoh saat ini. Ia sadar dua orang wanita telah tersakiti hatinya karena dirinya. Apa yang bisa dilakukannya? Hanya sikap egois yang saat ini mampu dipertahankan. Di satu sisi ia masih enggan melepaskan Chany dan mencoba memiliki Jungyeon sepenuhnya, dan sisi lain Donghae juga tidak bisa mengelak bahwa ia tidak bisa meninggalkan Jungyeon sementara hatinya masih mencintai Chany. Egois dan laki-laki paling jahat, ya benar itulah dia.

“Aku mencintaimu. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan bisa memilikimu, benarkan?”

Donghae mengalihkan lagi pandangannya ke depan. Ia tidak tega. Sungguh ia benar-benar tidak tega. Jungyeon yang selalu ada di sisinya bahkan ketika Chany hampir pergi. Jungyeon dan Jungyeon, selalu gadis itu. Bahkan mungkin waktunya bersama Jungyeon lebih banyak dibandingkan bersama Chany atau mungkin saja Jungyeon lebih mengerti tentangnya dibandingkan Chany yang statusnya sebagai tunangannya sendiri.

Saat dulu Chany mengkhianatinya, Jungyeon juga lah yang menyembuhkan luka hatinya. Kebiasaan bersama Jungyeon seperti sebuah kebutuhan, hingga ketika Chany kembali padanya, Donghae masih belum bisa melepaskan uluran tangan Jungyeon untuknya. Dan satu lagi fakta bahwa Donghae tidak bisa meninggalkannya adalah karena Jungyeon mencintainya.

“Kau masih mencintainya. Kau masih mencintai Chany dan aku bisa melihatnya semakin besar ketika kau berpisah dengannya akhir-akhir ini. Kau menatapnya dengan lekat dan penuh kerinduaan saat berpapasan di kantor. Aku sangat mengenalmu jadi tidak mungkin apa yang aku lihat ini salah. Lee Donghae tidak pernah bisa menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya,” Jungyeon berujar pelan. Isakan tangisnya sudah berhenti dan Donghae merasa Jungyoen tengah menahan kuat-kuat perasaan yang bergejolak dalam dadanya.

“Karena itu kita akhiri saja sampai di sini,” lanjutnya dengan sangat pelan. Donghae menoleh cepat dan melihat Jungyeon memejamkan matanya kuat sebelum akhirnya kembali membuka dengan diiringi senyum di bibirnya, “untuk yang terakhir kalinya, bolehkah…?” Donghae mengernyit dan tidak sempat merespon ketika dengan tiba-tiba Jungyeong mendekatkan kepalanya dan mengecup pipinya, lalu gadis itu dengan cepat menarik diri. Ia tersenyum pada Donghae sebelum keluar dari mobil itu.

Satu-satunya kesalahan yang diperbuatnya adalah mencintai orang yang salah dan di waktu yang salah pula.

 

 ***

 

A few days later

09.00 AM

Mobil audit putih yang ditumpangi Lee Donghae baru saja memasuki halaman rumah keluarga Park. Park Chany yang melihat kedatangan mobil itu dari balik jendela kamarnya hanya bisa mengernyit, menahan keingintahuannya sendiri. Beberapa hari berlalu sejak ia mempergoki Donghae datang ke sebuah pesta pernikahan bersama Jungyeon, atau bisa juga dikatakan sejak Donghae melihat gadis itu berdansa dengan pria lain. Tidak ada yang mencoba mengajak bicara sejak saat itu. Keduanya benar-benar menjauh satu sama lain. Hingga akhirnya pagi ini, Lee Donghae memberanikan dirinya datang menemuii gadis itu di rumahnya.

“Donghae-ya, senang sekali bisa melihatmu datang,” Nyonya Park menghampiri Donghae dan meyambutnya dengan antusias.

Ne, eommonim. Jeongsohamnida karena tidak bisa sering-sering datang.” Donghae membugkukkan badannya hormat, lalu sejenak mengalihkan perhatiannya ke  anak tangga menuju lantai dua. Hanya mengira, mungkin saja gadis itu sedang melihatnya dari sana.

Kuere…kuere… aku mengerti, kau pasti sangat sibuk,” Ia tersenyum lalu melangkahkan kakinya mengikuti wanita berumur 40 an tahun itu, “uri Chany memang kadang egois dan menyebalkan. Itulah kenapa aku tidak pernah setuju dia tinggal di Amerika. Amerika bisa mengubahnya menjadi orang yang berbeda. Tapi kau tidak perlu khawatir lagi. Dia tidak akan kembali ke sana lagi.”

Donghae menoleh cepat menatap wanita yang sangat dihormatinya selain ibunya tentu saja dengan penuh tanya yang langsung dijawab dengan senyum ramah wanita itu. Benarkah itu? Sebuah keberuntungankah untuknya?

“Dia memutuskan untuk tinggal di sini.”

Hampir Donghae tidak percaya dengan kenyataan itu. Benarkah? Seorang Park Chany akhirnya memutuskan meninggalkan kehidupannya di Amerika dan memilih menetap di Korea? Entah kenapa Donghae sangat senang mendengarnya. Bukankah itu berarti Chany masih ingin bersamanya? Oke, mungkin terlalu awal menarik kesimpulan seperti itu.

“Dia ada diruang baca. Kau bisa menemuinya.”

Ne, Gamsahamnida,” sahutnya bersemangat sembari membungkukkan badannya lagi.

 

 ***

 

Ruangan itu penuh dengan buku-buku yang berjejer rapi di rak-rak tinggi. Sebuah meja berada di salah satu sisinya dan sebuah sofa panjang berwarna putih terletak tepat di dekat jendela. Sofa itu adalah favourit Chany setiap kali menghabiskan waktunya untuk membaca di ruangan ini. Gadis itu terlihat begitu tenggelam dalam bacaan novelnya yang tebal dengan airphone melekat di kedua telinganya. Bisa dipastikan dengan keadaan yang seperti itu tidak ada yang mampu mengganggunya, kecuali satu. Ia bahkan menoleh dengan cepat begitu pintu kayu yang semula tertutup mengeluarkan bunyi pelan. Tatapannya datar menatap pria yang tadi sempat dilihatnya melalui jendela.

Pria itu –Lee Donghae- membalas tatapan datar itu dengan lembut, lalu berjalan dengan pelan menghampiri Chany. Ia meraih sebuah buku yang tadi diletakkan Chany di atas meja dan mulai membukanya. “Kau jarang membaca buku selama ini. Apa ini kebiasaan barumu?” tanyanya mencoba ramah. Kemudian diletakkannya buku tadi di tempat semua dan memusatkan perhatiannya pada gadis yang duduk di sofa itu seorang.

“Aku selalu melakukannya setiap kali aku ada waktu, mungkin kau saja yang tidak pernah mengetahuinya,” sinis gadis itu lalu mendesah pelan dan berlalu dari hadapan Donghae. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menahan pergelangannya. Chany sudah bisa menduga Donghae akan melakukannya, maka dari itu ia pun hanya diam membiarkan saja apa yang dilakukan Donghae. Ia masih tetap diam ketika akhirnya Donghae mengubah posisinya tepat dibelakangnya dan memeluknya dari belakang. Chany bisa merasakan pundaknya menjadi tumpuan bagi Donghae meletakkan dagunya dan tangannya yang tiba-tiba digenggam dengan erat.

“Jangan pernah pergi dariku, kumohon…,” lirihnya tepat ditelinga Chany hingga membuat gadis itu bergidik. “Kita bisa memulainya dari awal, kau dan aku…,” lanjutnya.

Chany menunduk sedikit merasa tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Ia ingin menolak tapi bagian hatinya yang lain berteriak girang. Bukankah ini adalah keinginannya? Membuat Donghae kembali padanya. Tapi bagaimana jika pada akhirnya ia harus dibuat kecewa lagi?

“Jungyeon…,” ucap Chany kemudian dengan serak dan ragu. Lalu tiba-tiba dirasakan detak jantungnya yang mendadak bekerja cepat. Ia tidak akan siap jika pada akhirnya Donghae masih berada di sekitar gadis bernama Jungyeon itu, selalu menerima uluran tangannya dan menemani gadis itu setiap kali diminta. Tidak. Tidak boleh!

Donghae tidak menjawab dan justru menarik Chany untuk berbalik, berhadapan dengannya. Ditatapnya mata gadis itu dengan lembut lalu sedetik kemudian ia tersenyum, “tidak ada Jungyeon hanya Chany,” tuturnya sangat jelas hingga membuat Chany hampir tidak bisa bernafas.

Sangat sederhana tapi itu jawaban yang sempurna bagi Chany. Ia masih diam ketika akhirnya sebuah sentuhan menyapu lembut bibirnya. Ia memejamkan matanya dan menikmati sentuhan itu yang berubah menjadi lumatan pelan yang membuatnya hampir terjatuh karena mendapatkannya. Terlalu membabukkan hingga kakinya hampir tidak sanggup menompang tubuhnya sendiri jika saja Donghae tidak menahan pinggangnya.

 

I keep thinking of you baby

It’s still you

Just You

 

Karena hanya dia, karena hanya memikirkannya, dan hanya akan dia. Itulah kenapa aku selalu ingin membuatnya tetap berada di sisiku, meskipun ternyata dia terluka karena perbuatanku. Tapi sungguh hanya dia.

CUT

 

Hi, saya hampir lupa kalau ternyata kelanjutan ff ini belum dipost padahal sudah jadi sejak lama. Mianhae…

Sebelumnya saya mau ngucapin Mohon maaf lahir dan batin untuk readernim. Saya tahu saya punya banyak salah sama kalian terutama karena terlalu sering hutang ff. hehe

Saya pernah janjikan buat nyelesaiin bittersweet sebelum lebaran, tapi lagi-lagi saya ingkar. Mianheyo….sebelum lebaran dan habis lebaran rasanya tidak ada waktu free buat nulis. Jadi, saya tidak bisa menjajikan kapan, tapi secepatnya. Sekali lagi saya minta maaf karena kekurangan saya ini..

Aah…iya, sedikit pengumuman saja sih, mulai sekarang saya permanen akan pake id Elfairen, biar nggak bingung. elizeminrin, RyeoKyuAe, hyeae184 itu juga id saya, tapi mulai sekarang saya akan menggunakan Elfairen. Itu singkatan dari ELF dan Airen. J

Semoga readernim nggak bosan datang ke blog ini sekeder buat blog walking atau Cuma mau lihat-lihat saja, saya persilahkan. Blog ini terbuka buat siapa saja ^^
baiklah, saya sudah terlalu banyak bicara. See you…~

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s