(Ryeomin story) -Challenge-

challenge 2

Title : Challenge

Cast : Kim Ryeowook – Shin Minrin

Genre : Romance

Rating : PG 15

Length : 2117 words

Author : d’Roseed / @elizeminrin

Mobil itu berhenti mendadak karena lampu yang berubah menjadi merah. Dua orang yang duduk di dalamnya hanya saling pandang setelah perdebatan kecil yang kembali mewarnai pertemuan mereka sore ini. Seorang gadis yang duduk di samping pria yang mengemudikan mobil itu terlihat mendesah pelan lalu begitu saja membuang wajahnya ke samping. Kedua tangannya masih erat memegang ponsel yang masih menyala memperlihatkan deretan foto-foto seorang pria lain.

Pria di sampingnya –Kim Ryeowook- masih belum melepaskan tatapannya yang mengarah tajam pada gadis itu. Hanya sepersekian detik karena setelahnya Ryeowook ikut mendesah dengan pelan dan kembali menatap ke depan. Lampu lalu lintas itu berubah menjadi hijau tepat ketika ia hendak mengucapkan sesuatu. Gara-gara itu ia pun mengurungkannya dan kembali menginjak pedal gas dan untuk kali ini ia mengontrol mobilnya tidak melaju terlalu kencang, setidaknya dalam kondisi seperti ini ia juga harus mengontrol emosinya.

Sebenarnya Ryeowook sama sekali tidak marah, bahkan baginya sudah terbiasa ketika mendapati gadis itu –Shin Minrin- lagi-lagi tergoda degan pesona pria lain. Sial. Meskipun terdengar sangat menjengkelkan saat kekasihnya itu menatap dengan mata berbinar foto-foto pria lain, tapi Ryeowook benar-benar tidak ingin mempermasalahkannya dan membawanya dalam pertengkaran di antara mereka. Ia hanya sedikit …kesal.

Pertama kalinya sejak dua minggu terakhir mereka tidak saling bertemu, dan ketika akhirnya bertemu gadis itu bahkan tidak henti-hentinya bicara tidak jelas tentang pria lain yang merupakan seorang actor, mengabaikan dirinya yang sudah susah payah meluangkan waktunya yang sangat padat untuk bertemu.

“Bilang saja kalau kau cemburu, tidak usah memasang muka masam seperti itu,” tegur Minrin tiba-tiba. Gadis itu mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Sementara itu Ryeowook hanya menoleh sebentar dan berdecak kecil.

Siapa yang cemburu? Sama sekali tidak. “Aku sudah terbiasa melihatmu seperti ini. Kurasa aku sudah tidak lagi mengenal apa itu cemburu. Lain lagi kalau kau bersikeras ingin mengenal pria itu dan bertemu. Saat itu terjadi aku pastikan kau tidak akan melakukannya,” balas Ryeowook  seperti mengancam tapi justru ditanggapi Minrin dengan kekehan ringan.

“Oke, baiklah… tapi untuk kali ini aku harus mengakui kau kalah darinya. Oh eottoke? Aku bahkan selalu terbayang wajahnya. Dia tampan, tinggi dan senyumnya itu benar-benar menggoda,” ujar Minrin berpura-pura memanas-manasi tapi Ryeowook satu-satunya orang yang selalu dibuat seperti itu untuk kali ini tidak terpengaruh.

“Tskk, Dia bahkan sudah punya pacar. Dan aku yakin jika orang-orang disuruh memilih siapa diantara kau dan pacarnya yang paling cantik, kau pasti berakhir di nomor dua.” Giliran Ryeowook yang kini mencoba bermain-main dengan emosi gadis itu. Tapi Minrin dengan kekehan ringan hanya mengabaikannya.

“Kau benar, sayang sekali dia sudah punya pacar. Dan ya…aku harus mengakui pacarnya memang sangat cantik. Bagaimana mungkin gadis itu bisa memiliki kaki jenjang yang indah seperti itu, dan wajahnya bahkan lebih cantik jika tanpa make up.”

“Hmm…dia memang cantik. Banyak pria yang menjadikannya tipe ideal termasuk Donghae, tapi pria yang kau sebut tadi kurasa yang paling beruntung.” Ryeowook menambahkan dan disetuji Minrin dengan anggukan kepala pelan.

Untuk kali ini mereka sejalan.

 

***

Sebuah café di daerah Apeugjong menjadi pilihan mereka untuk menghabiskan wakto sore hari ini. Dua buah Latte Coffe yang selalu menjadi favourite keduanya dan juga donat serta biscotti  tiba beberapa menit setelahnya. Kepulan asap yang menguar dari cangkir keduanya terasa menggoda.

“Apa yang kau lihat?” Ryeowook bertanya dan mendekati Minrin yang duduk manis dengan ponsel ditangannya. Gadis itu tersenyum tidak jelas, dan beberapa saat yang lalu Ryeowook melihatnya berdecak kesal. Baginya ponsel menjadi barang yang lebih menarik dibandingkan secangkir Latte Coffe dan sepotong biscotti.

“Aku tidak sempat menonton episode terakhirnya kemarin,  Neoheedeuleun Powidwaetda,” jawab Minrin tanpa sedikitpun melepaskan perhatiannya dari layar ponsel.

“Pria itu lagi?” Ryeowook kembali bertanya sambil berdecak.

Ya.. ampun ia diabaikan lagi.

Shin Minrin jika sudah menyukai sesuatu pasti hari-harinya tidak akan jauh-jauh dari hal yang disukainya itu. Seperti sekarang ini, bisa-bisanya gadis itu justru menonton drama kesukaannya saat mereka berdua sedang mencoba menghabiskan waktu bersama-sama. Oke, ini mungkin terdengar egois, tapi tidak bisakah gadis itu melupakan sebentar drama-drama kesukaannya dan juga pria-pria yang membuatnya tertarik saat sedang bersama Ryeowook?

“Hei, kau tahu apa yang paling aku syukuri karena punya pacar seorang penyanyi dan bukannya actor?”  Minrin tiba-tiba bertanya. Perhatiannya masih tertuju pada ponselnya yang kini tengah menampilkan adegan terakhir dari drama yang sudah diikutinya beberapa minggu terakhir.

Ryeowook mendongak mendengar pertanyaan itu dari Minrin. “Mwotte?” tanyanya sedikit tidak tertarik. Ia mengambil cangkir kopinya dan mencicipi cairan berwarna coklat itu.

Kedua matanya mengikuti gerakan gadis itu yang kini meletekkan ponselnya. Jika alasan gadis itu bahkan tidak bisa diterimanya, sungguh Ryeowook harus memikirkan kembali untuk melarang gadisnya ini tergila-gila dengan drama dan pria-pria yang bermain di dalamnya.

“Aku beruntung kau hanya bermain musical dan bukannya drama. Adegan ciuman yang kau lakukan juga tidak banyak. Lihat saja actor-aktor yang bermain banyak drama, berapa banyak mereka berciuman selain dengan pasangannya? Dan berapa banyak wanita yang sudah pernah diciumnya hanya untuk sebatas pengambilan gambar?” decak Minrin tiba-tiba.

“Aku penasaran bagaimana perasaan pacarnya saat melihat adegan itu. Bukankah itu akan sangat menjengkelkan? Setidaknya aku pernah merasakannya, meski tidak terlalu….”

Ryeowook mendadak tertegun. Sesaat kemudian ia tersenyum. Ia mendadak ingat bagaimana sikap Minrin saat pertama kali tahu Ryeowook mencium lawan mainnya di drama musical. Gadis itu marah dengan alasan tidak memberitahunya lebih dulu. Tapi demi apapun saat itu Ryeowook yakin, gadisnya itu sedang cemburu. Jadi sekarang ia mengerti, kenapa pembicaraan Minrin sampai pada hal ini ‘kenapa ia bersyukur memiliki pacar seorang penyanyi dan bukannya aktor’, dia tidak akan menerima dengan mudah pacarnya mencium gadis lain, benar begitu?

Sebenarnya semua wanita juga pasti merasakan itu, bahkan laki-laki pun juga. Masalahnya bagaimana mereka menekan emosinya saat melihat pasangannya diharuskan melakukan adegan ciuman atau bahkan adegan lain yang akan membuat yang lain cemburu.

“Drama tanpa ciuman itu akan terasa hambar. Jadi tidak heran hampir semua drama di Negara ini akan selalu ditampilkan adegan itu. Lagipula mereka orang-orang yang professional. Semua hanya acting, dan hanya sekian persen perasaan akan dibawa-bawa,” Ryeowook menyahut.

“Aku rasa tidak juga. Skinship selalu meninggalkan sesuatu yang akan diingat seseorang, Wook. Bagaimana denganmu? Saat kau melakukannya dengan Luna dan Choa, apa sama sekali tidak ada perasaan yang kau bawa?” tanya Minrin mendadak yang seketika itu hampir membuat Ryeowook tersedak. Ia menelan bulat-bulat cairan Latte coffe yang lumayan masih panas itu dan membuat lidahnya terasa terbakar. Secepat kilat ia mendongak lagi.

“Kenapa kau mengungkit masalah ini lagi?” Ryeowook balik bertanya setelah berhasil menjaga agar kopi yang diteguknya tidak muncrat begitu saja. Ia meletakkan cangkirnya dan mulai memperhatikan Minrin dengan seksama.

“Aku tidak mengungkitnya, hanya bertanya saja,” sahut Minrin sedikit kesal. “Lagipula aku tidak mempermasalahkannya,” lanjutnya kemudian.

Diam-diam Ryeowook menahan tawanya yang hampir meledak. Iya, gadis itu memang tidak mengatakannya bahwa dia cemburu, tapi Ryeowook bisa melihat dengan sangat jelas ketidaksukaan Minrin.

“Kenapa kau tidak mencobanya sendiri?” tanya Ryeowook kemudian. Minrin mendongak dengan kening mengernyit.

Mwo?”

“Bermain drama atau musical dan melakukan adegan itu. Kau bisa menilai sendiri seberapa banyak perasaan yang akan dibawa saat melakukannya di depan orang banyak atau kru. Bagi mereka yang professional mungkin tidak masalah tapi entah bagi pemula. Seperti katamu mungkin akan membuatnya sulit tidur, aku serius,” jawab Ryeowook sambil tersenyum.

Apa katanya? Minrin mengerjapkan matanya. Apa Ryeowook sedang menantangnya? Ya.. ampun kekanak-kanakan sekali. Minrin tersenyum kecil lalu mengedikkan bahunya, “Taruhan kau pasti akan cemburu saat melihatnya,” sahut Minrin.

“Tergantung bagaimana kau akan melakukannya. Baiklah aku menantangmu, kudengar kau mendapat tawaran untuk bermain drama sebagai pemain utama, benar kan? Aku sangat yakin kau akan mendapatkan adegan seperti itu. Lakukan dan kita lihat seberapa banyak perasaan yang akan kaubawa, dan aku pastikan aku tidak akan cemburu,” ucap Ryeowook bertekad.

 

***

 

Perjalanan pulang mereka tidak lagi diwarnai perdebatan seperti saat berangkat tadi, tapi lebih dari itu..persaingan. Sejak Minrin menerima tantangan yang Ryeowook berikan, gadis itu selalu merasa di atas angin, sementara Ryeowook terus saja bersikeras bahwa ia tidak akan cemburu.

Mobil melaju tenang di jalanan kota Seoul. Ryeowook menyetir dalam diamnya dan Minrin kembali dalam dunianya sendiri, bersama benda mati bernama ponsel. Lagi untuk entah keberapa kalinya, Ryeowook mempergoki gadisnya itu tersenyum tidak jelas hanya dengan melihat layar ponselnya. Menjengkelkan memang. Ini serius, sampai kapan Minrin akan mengabaikannya seperti ini? ia bahkan terlihat seperti seorang sopir pribadinya daripada seorang pacar untuk hari ini.

“Yaa, berhentilah mencari-cari tentangnya, kau sudah tahu lebih banyak daripada yang kau butuhkan,” tegur Ryeowook akhirnya. Ia melirik Minrin dan berdecak pelan saat Minrin hanya balas meliriknya dengan tajam.

“Aku sedang melakukan pengamatan,” sahutnya cepat.

“Tsskkk….”

Pengamatan apanya?

Ryeowook mencondongkan tubuhnya mendekat saat mobil berhenti di lampu merah. Ia melihat apa yang tengah diamati gadis itu. Dan jujur saja ia benar-benar tekejut.

“Kiss scene?” tanya Ryeowook tidak percaya.

Mwo? Andweyo?”

Ryeowook mendecak lagi. Astaga!

“Yaa, kau benar-benar ingin membuatku cemburu ha? Untuk apa melakukan itu? Mencari gaya ciuman yang sempurna dan membuatku naik darah?” cerca Ryeowook tidak mengerti sembari menggelengkan kepalanya pelan. Tidak bisa dipercaya.

Minrin hanya tersenyum dengan mengendikkkan kedua bahunya. “Aku tidak setengah-setengah menerima tantanganmu. Aku berhasil membuatmu cemburu berarti aku menang. Jika aku terlampu membawa serta perasaanku saat melakukan adegan itu, maka kau yang menang. Aku akan melakukannya dengan baik tanpa membawa serta perasaanku,” ucapnya bertekad yang sekali lagi hanya membuat Ryeowook melongo.

Hei, gadis itu tidak bercanda ternyata. Minrin serius menerima tantangannya.

 

***

 

“Aku serius dengan ucapanku.” Minrin berujar pelan saat mereka berdua tengah berjalan di lorong apartement menuju apartement Minrin. Gadis itu melirik Ryeowook lalu tersenyum kecil. Ia seperti melihat Kim Ryeowook yang sedang berdebat dengan pikirannya sendiri.

Wae?” tanyanya menyenggol lengan Ryeowook masih dengan senyum kecil meremehkan tertuju pada Ryeowook.

Ryeowook menoleh sebentar lalu langkah kaki mereka terhenti tepat di depan pintu apartement Minrin. Ia mengubah posisinya menghadap gadis itu. Kedua matanya menatap dalam kedua bola mata Minrin.

“Aku tidak akan mentolerir jika kau melakukan lebih dari ciuman biasa,” ucap Ryeowook tiba-tiba. Suaranya sangat rendah, terdengar mengancam dan seketika itu membuat Minrin diam. “Kau benar-benar akan membuatku menghampiri pria itu dan memukulnya jika kau berani melakukannya.” Ryeowook melanjutkan, kali ini benar-benar mengancam. Kemudian tangannya terulur membelai wajah Minrin dan menepatkan gadis itu sebagai satu-satunya obyek yang harus ditatapnya. “Jadi, kau harus tahu batasannya, Minrin-ssi.”

Minrin mengerjapkan matanya pelan. Ia diam tercekat hingga tanpa mampu diantisipasinya, Ryeowook sudah mengecup bibirnya lembut. “Kau tidak boleh melakukan lebih dari ini,” ucapnya sangat pelan. Ia sama sekali tidak menjauhkan kepalanya saat mengatakan itu. Ia bahkan masih bisa menjangkau bibir itu sekali lagi. Minrin sendiri sudah menahan nafasnya saat menyadari serangan tiba-tiba ini. Sial. Semoga saja jika ia memang harus berciuman dengan pria lain, dadanya tidak akan berdebar hebat seperti sekarang ini.

Tatapan itu masih menatap lekat pada Minrin. Dan gadis itu tiba-tiba saja sangat gugup. Satu gerakan dibuat Ryeowook saat Minrin sedang berkonsentrasi penuh pada mata itu. Sekali lagi pria itu menjangkau bibir gadis itu, memiringkan kepalanya dan memberi lumatan lembut yang akhirnya membuat Minrin memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan itu. Sama sekali tidak penekanan, bahkan Ryeowook lebih memilih menjaga iramanya agar tidak lebih dari yang mereka lakukan saat ini.

Minrin tidak tahu sudah berapa lama mereka melakukan ini, yang ia tahu mereka masih berada di depan pintu apartementnya yang itu berarti akan banyak kemungkinan orang lain melihat ini. Ia masih memejamkan matanya, ketika akhirnya gerakan yang diciptakan Ryeowook berhenti. Saat itulah Minrin berani membuka matanya. Senyum kecil menghiasi wajah Ryeowook yang benar-benar membuat Minrin tidak tahu harus bersikap seperti apa.

“Masuklah, kita bertemu lagi nanti,” ucapnya sangat tenang.

Dengan susah payah Minrin mengontrol debar jantungnya, ia pun mengangguk pelan. “Hmm, baiklah…aku masuk. Kau..berhati-hatilah….” Minrin balas tersenyum lalu tangannya dengan cepat membuka pintu apartementnya.

Ia melambaikan tangannya pelan sesaat sebelum masuk ke dalam dan melihat Ryeowook masih seperti menahan tawa kecilnya. “Bye…,” ucapnya. Ryeowook mengangguk dan balas melambaikan tangannya.

Dan pintu itu tertutup lagi dengan Minrin berada di dalam apartement itu dengan perasaan yang berdebar tidak karuan. Ia tidak sekali ini berciuman dengan pria itu, tapi tetap saja jantungnya selalu berpacu tidak normal. Kalau sudah begini, apa ia bisa melakukan tantangan itu? Dengan Ryeowook saja seperti ini, apalagi dengan pria lain? Bagaimana jika jantungnya justru berdebar lebih hebat nantinya?

Oh..Sial.

Ia gadis yang mudah terpesona dengan pria tampan. Dan berciuman tanpa membawa serta perasaannya? Oh.. sepertinya itu pilihan yang bodoh.

***

 

CUT

 

Aaakkk ini bikin batal puasa, beneran deh. :p. awalnya sih mau buat ff tentang Minrin yg jatuh dalam pesona pria lain, tapi sepertinya dah terlalu sering buat yang begituan. Kesannya Minrin doyan banget sama namja-namja super keren dan tampan wkwk tapi emang iya sih… lol

Dibalik cerita ini adalah… Lee Seung Gi. Aakkk sial bener itu orang bikin mata melek terus nonton dramanya sampai sahur -_- if you know what I mean … You’re All Surrounded, dan makin suka waktu nonton lagi The King 2 Hearts.

Song Jong Ki – Kim Soo Hyun – Kang Min Hyuk dan sekarang Lee Seung Gi, kita lihat siapa lagi yang akan membuat Minrin jatuh lagi dalam pesonanya. Lol ><

Well Thanks for reading and maybe giving a comment too. See you… ^^ 

Advertisements

5 thoughts on “(Ryeomin story) -Challenge-

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s