(Fanfiction) #8 Bittersweet

bitterswet

Title                 : #8 Bittersweet

Author             : d’Roseed (@elizeminrin)

Cast                 : Shin Minrin, Kim Ryeowook, Lee Hyukjae

Genre              : Romance, Brothership, AU, Sad

Rating             : PG 15+

Length             : 4553 words (Chapter)

Disclaimer       : Kim Ryeowook and Lee Hyukjae milik Tuhan, orang tua mereka, Super Junior and ELF. I just have the plot and artwork.

 

 

 ***

“Aku berusaha melakukannya asal kau tahu saja tapi kau yang tidak pernah berusaha….”

—-

“..aku tidak tahu dia akan bersikap seperti itu.” Minrin mengakhiri ceritanya pada Eunhyuk tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Helaan nafas terdengar beberapa kali darinya, membuat Eunhyuk seakan ikut merasakan bagaimana rasa penyesalan dan mungkin juga rasa sakit yang tengah dirasakan gadis itu.

Eunhyuk mengerti itu lalu hanya bisa mengangguk-angguk pelan. Pria itu masih di kantornya lima belas menit yang lalu saat Minrin meneleponnya dengan suara yang tidak jelas dan isakan tangis yang beberapa kali terdengar. Bagi Eunhyuk, Minrin adalah gadis yang kuat dan hanya beberapa kali dia akan menangis selama ini. Lagipula tidak pernah ada alasan yang masuk akal untuk Minrin menangis kecuali ayahnya. Eunhyuk sendiri tidak pernah menemukan alasan lain bagi gadis itu untuk menangis selain ayahnya. Jadi, saat mendengar gadis itu menangis langsung saja membuatnya khawatir. Lalu melihatnya yang benar-benar dengan mata sembab karena Kim Ryeowook entah kenapa membuat Eunhyuk tidak mengerti.

“Jadi, kalian.. sudah.. berakhir?” tanya Eunhyuk ragu. Dilihatnya Minrin yang masih menundukkan kepalanya dengan lemah kini perlahan mengangkat kepalanya. Sisa-sia air mta masih terlihat jelas di matanya, tapi sungguh Eunhyuk kagum melihat gadis itu yang berusaha sekeras ini untuk telrihat baik-baik saja.

“Menurutmu?” Minrin balik bertanya. Sekali lagi gadis itu menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu dan ia bingung. Seharusnya tidak akan ada masalah untuknya saat pernikahan ini dibatalkan. Bukankah sejak awal hanya Ryeowook yang menginginkan pernikahan ini? Ia hanya mengiyakan dan berjanji mencintai pria itu yang sampai sekarang tidak bisa dipenuhinya. Lalu kenapa rasanya sangat aneh saat pria itu tidak berusaha menghentikannya? Ia bahkan menangis sepeninggalnya dari apartement Ryeowook tadi.

“Apa karena aku?” Eunhyuk kembali bertanya dengan ragu. Tatapannya khawatir mengarah pada Minrin

Aniyo,” sahut gadis itu cepat. Dihelanya lagi nafas dengan keras lalu diambilnya segelas soju dan meminumnya dengan sekali tegak. Seketika itu rasa panas karena alcohol menjalar di kerongkongannya.

Ia tidak tahu dan ia tidak mengerti. Wae? seperti ada sesuatu yang salah pada dirinya. Benarkah ia masih mencintai Lee Hyukjae? Dan lebih memilih pria itu dari pada Kim Ryeowook? Tapi kenapa ia tidak ingin Ryeowook benar-benar membatalkan pernikahan ini?

 

***

 

Suara music itu berdetum dengan sangat keras. Beberapa orang di dalam club malam itu terlihat sudah turun di lantai bawah untuk menari bersama dan beberapa di antaranya lebih memilih duduk dengan gelas berisi alcohol di depannya. Seorang pria berjas yang sejak tadi duduk di salah satu meja itu terlihat memperhatikan sebentar keadaan ruangan yang kini penuh dengan orang-orang penikmat kehidupan malam. Merasa bosan, ia pun meneguk isi gelasnya lalu mengisi ulang ketika habis. Begitu seterunya tanpa mempedulikan tatapan menggoda beberapa wanita yang kini tengah memperhatikannya.

“Kau tidak lihat dia? Kurasa dia seorang direktur, lihat saja penampilannya. Astaga… seorang direktur muda, bukankah itu tipe pria yang kau cari?” ujar salah seorang wanita itu pada wanita lain yang kini tengah tersenyum senang.

Kuere… datangi dia Soyoung-ah, bukankah kau wanita yang mampu membuat pria bertekuk lutut dengan mudah? Tunjukan itu..” ujar yang lainnya yang semakin membuat wanita bernama Soyoung itu kembali tersenyum.

“Pegang ini. Kalian harus belajar bagaimana merayu pria!,” balasnya sembari menyerahkan gelas berisi minuman alcohol pada salah satu temannya itu. Lalu dengan langkah kaki percaya diri, ia pun menghampiri pria itu.

Pria itu bukannya tidak menyadari bahwa seorang wanita berparas cantik tengah berjalan kearahnya, tapi tetap saja ia sama sekali tidak peduli bahkan ketika wanita itu duduk di depannya. Kedua tangan wanita itu terlipat di dadanya dan sebuah senyum menghiasi bibirnya yang terpoles dengan lipstick merah.

“Apa yang kau inginkan?” tanya pria itu dingin lalu di perhatikannya wanita itu seksama dari ujung rambutnya hingga ke gaun hitam yang mengetat tubuhnya dengan belahan V di dadanya.

“Aniyo, aku hanya merasa kau sedang membutuhkan teman. Aku melihatmu sejak tadi hanya minum sendiri,” jawab wanita itu masih dengan rasa kepercayaan diri yang tinggi.

“Apa tempat ini melarang seseorang untuk minum sendiri?” balas pria itu sembari tekekeh kecil, lalu kembali mengambil gelas minumnya, menghabiskan isinya dalam sekali tegak.

“Tentu saja tidak. Hanya saja orang-orang yang datang ke tempat ini sendirian biasanya orang yang sedang mencoba melupakan masalahnya. Masalah pekerjaan dan mungkin juga cinta…”

Pria itu tertawa pelan lalu menatap wanita di depannya itu dengan senyum menyerangai, “mau menari bersama?” tawarnya tiba-tiba yang seketika itu langsung membuat wanita tadi tersenyum penuh kemenangan. Tentu saja tidak ada yang bisa menolak pesonanya.

“Oke, aku anggap ini sebagai perkenalan kita. Hwang Soyoung.”

“Kim Ryeowook.”

 

***

 

Suara air yang mengalir dengan deras dari kran wastafel itu masih terdengar. Sudah sekitar lima menit sejak Minrin menghidupkannya untuk mencuci piring kotor sisa makan malamnya bersama Hyehyo tadi. Tapi agaknya gadis itu bukannya menyelesaikan pekerjaannya dan justru berdiam diri dengan kedua tangan menyangga di pinggiran wastafel serta kedua matanya menatap hampa ke arah aliran air itu. Baginya air itu menjadi semacam hiburan tersendiri untukknya. Sebuah hiburan yang mampu merilekskan syaraf-syarafnya yang menegang sejak kemarin, namun sayangnya hiburan itu berubah menjadi menyebalkan saat baying-bayang pria itu mendadak hadir di sela-selanya. Lalu perlahan hilang seiring aliran air yang tiba-tiba berhenti ketika sebuah tangan menutup kran di depannya. Ia mendongak dan melihat tatapan heran lengkap dengan kening berkerut dan kedua alis yang menyatu milih Hyehyo.

“Kau..tidak mencoba membuat tempat ini kekurangan air kan? Ya..ampun sudah berapa banyak air yang kau buang hari ini, eh?” tegur Hyehyo yang baru saja kembali. Gadis itu mendorong pelan tubuh Minrin untuk menyingkir dan segera mengambil alih pekerjaan gadis itu yang bahkan belum dimulai sejak tadi.

“Kau sudah pulang..?” tanya Minrin dengan polosnya tanpa sedikitpun menggubris pertanyaan Hyehyo yang ia tahu dimaksudkan untuk menanyakan apa. Well, ia memang sudah membuang air banyak-banyak sejak kemarin. Dan semua itu hanya berujung dengan satu alasan yang sama sekali tidak dimengertinya. Satu alasan tentang sebuah perasaan hampa, seperti kehilangan sesuatu yang baru kali ini dialaminya bahkan perasaan itu berbeda jauh dari rasa rindu karena kehilangan kontak dengan Lee Hyukjae.

“Kau tahu, aku mulai kasihan padamu. Ini seperti bukan Shin Minrin. Keadaanmu lebih buruk daripada saat Book of Storyline terpaksa ditutup dan masih lebih buruk dari keadaan saat kau terpaksa bekerja di club malam rendahan milik orang-orang itu,” ujar Hyehyo pelan tapi terdengar jelas nada sindiran yang dilontarkan sahabatnya itu. Balasannya, Minrin hanya memilih diam mendengar sindiran halus yang baru saja dikatakan Hyehyo tentang betapa menyedihkan dirinya saat ini.

Minrin tidak tahu. Tapi jika seseorang yang kehilangan orang yang diicntainya akan membuatnya tampak menyedihkan, mungkin saja itu juga berlaku untuknya. Pertanyaannya adalah benarkah ia sudah mencintai Kim Ryeowook? Seperti yang beberapa hari ini dipikirkannya?

“Dengar, aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan Direktur Lee atau bagaimana masa lalu kalian, tapi pernikahanmu tinggal tiga hari lagi dan kau bukan akan menikah dengan Direktur Lee melainkan dengan Kim Ryeowook, bagaimana bisa kau masih tetap bersikap seperti ini sementara tiga hari lagi pernikahanmu akan dilangsungkan?” Hyehyo mneyahut dengan agak jengkel, lalu memilih menghentikkan pekerjaannya dan membalik tubuhnya cepat, menatap Minrin yang kini sudah duduk bersila di lantai.

“Kau menemuinya kemarin. Jadi bagaimana..? keputusan kalian..? aku masih belum mendengar cerita lengkap darimu sejak kemarin.”

Minrin memalingkan mukanya ke samping sembari menghela nafasnya keras, merutuki pertanyaan Hyehyo yang baginya seperti sebuah soal ujian yang tidak bisa dikerjakannya, “tidak ada…,” sahut Minrin lemah.

Sekali lagi Hyehyo mengernyit, menyipitkan kedua matanya dan mulai bertanya-tanya sendiri tentang jawaban Minrin yang baru saja didengarnya. Tidak ada berarti tidak ada keputusan sama sekali atau maksudnya itu tidak ada pernikahan? Oh ya ampun kenapa sekarang justru Hyehyo yang meributkan hal ini?

“Kalian membatalkannya?” tanyanya tidak percaya pada akhirnya. Ditatapnya Shin Minrin yang kini sedang tengah menatap –lagi- dengan hampa jendela kecil di flat itu.

“Hey, kau tidak mau menjawab?” tegurnya lagi tapi sekali lagi tidak direspon Minrin. Gadis itu sudah seperti orang yang kehilangan kewarasannya sendiri karena terus saja menatap kosong apapun di sekitarnya.

“Aku tidak mengerti, Hyo.. menurutmu apa aku mencintainya?” tanya Minrin tiba-tiba yang seketika itu langsung membuat Hyehyo mengernyit. Dugaannya benar, sahabatnya ini sedang kena sindrom kebingungan tentang perasaannya. Hyehyo lantas berjalan pelan menghampiri sahabatnya itu, duduk tepat di depannya dan mulai memperhatikan dengan seksama kondisinya.

“Menurutku dengan keadaanmu yang seperti ini ya..kau mencintai pria itu. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Sebanyak apapun perasaan rindu yang kau pendam untuk cinta pertamamu itu, kau tidak pernah seperti ini. Dan kurasa …yeah kau mencintainya.” Hyehyo berujar pelan, menjelaskan dengan sejelas-jelasnya semua yang diketahuinya.

Minrin kembali tidak menyahut. Lagi-lagi tatapannya mengarah hampa pada jendela flat itu yang kini tirainya bergerak karena angin yang masuk.

Benarkah seperti itu? Ia terlalu bodoh atau tidak peduli hingga tidak menyadari perasaannya sendiri?

 

***

 

“Oppa, kau mabuk?” gadis itu menggoyang pelan bahu Ryeowook yang kini sudah tertidur dengan kepala bersandar pada pundaknya.

Gadis itu hanya tersenyum dan membiarkan pria yang baru dikenalnya itu menggunakan bahunya sebagai sandaran. Ia bahkan tidak peduli jika kenyataannya jam di dinding sudah hampir menunjukkan pukul 1 dini hari. Gadis itu terlalu menikmati sebuah kebersamaan singkatnya dan tentu saja kemenangan karena berhasil membuat pria ini berada dalam dekapannya. Seperti yang selalu dikatakan teman-temannya, ia adalah wanita yang dengan mudah membuat pria manapun bertekuk lutut, jadi sudah sewajarnya jika pria ini akhirnya juga jatuh dalam perangkapnya.

 “Minrin-ya…” hingga akhirnya gumaman kecil terdengar lemah dari Ryeowook yang membuat gadis itu mengernyit.

Mwo..?”

“Shin ..Minrin..”

Tatapannya berubah menyipit “Tskk…benar-benar tidak bisa dipercaya!” desisnya sembari melayangkan pandangan tidak sukanya pada pria itu. Sadar bahwa ia tidak berhasil membuat pria ini benar-benar bertekuk lutut padanya tapi semata-mata hanya menjadikannya pelarian, Soyoung pun meraih gelas berisi vodka dan menyiramkannya di wajah Ryeowook.

“Yaa! Dasar brengsek!!” serunya. Soyoung menatap Ryeowook yang kini sudah ambruk di kursi dengan vodka yang membasahi wajahnya.

“Ryeowook oppa?” sebuah suara lain meneriaki nama itu dan membuat Soyoung menoleh pada gadis yang kini menatapnya dengan tajam.

Gadis itu berjalan cepat menghampiri keduanya dan langsung membantu Ryeowook yang antara sadar dan tidak berusaha bangun dari posisinya.

“Yaa, apa yang kau lakukan ha? Kenapa kau menyiramnya seperti itu? Dasar wanita jalang!” gadis itu lantas berbalik menghadap Soyoung dan menatapnya tidak terima.

Mworago?”

“Kau merayunya dan membuatnya mabuk? Apa lagi kalau bukan wanita jalang?”

“Aiisshhh..! Menjelngkelkan sekali!” Soyoung kembali meraih satu gelas berisi vodka dan kali ini menyiramkan isinya pada gadis itu dengan cepat, membuat gadis itu semakin marah karenanya.

“Yaa.!!” Serunya tidak mau kalah

“Kau yang bernama Shin Minrin? Bagus sekali kau datang, cepat bawa dia pergi dari sini. Benar-benar menyebalkan!” Soyoung meraih tasnya lalu berjalan menjauh dengan tidak peduli.

“Yaa!! Dasar wanita sialan!” gadis kembali berteriak tapi sama sekali tidak berniat mengejar wanita sialan itu, meskipun ia sangat ingin menjabak rambutnya dan mencakar wajahnya yang memuakan itu.

Gadis itu, Han Sena berusaha mengatur deru nafasnya yang cepat karena emosi lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Ryeowook yang kini terlihat benar-benar tidak berdaya. Ia meraih satu lengan pria itu dan membantunya berdiri, memapahnya dengan susah payah keluar dari Club malam yang semakin lama semakin bising karena music yang berdetum keras.

 

***

 

Matahari pagi itu bersinar terlalu terang, menelisik melalu celah jendela flat kecil itu yang akhirnya menjadi alasan untuk Minrin bangun dari posisinya berbaring. Kepalanya menoleh ke samping, di mana Hyehyo masih tidur dengan lelap memeluk sebuah guling. Minrin sendiri sudah terjaga sejak jam 4 tadi dan sama sekali tidak bisa tidur setelahnya. Semua yang dikatakan Hyehyo kemarin terus saja mengganggunya, ditambah lagi kebingunan dengan perasaannya sendiri semakin membuatnya tidak bisa tidur, maka dari itu sejak dua jam terakhir ia hanya bisa berbaring tanpa bisa tidur.

Kenyataannya sekarang ia lebih sering memikirkan pria itu, merindukan kehadirannya dan terkadang menjadi sangat bersalah saat teringat bagaimana kesungguhan pria itu untuk hidup bersamanya. Apa karena Minrin sudah mencintainya tanpa disadarinya? Entahlah…

“Kau sudah bangun?” Hyehyo terlihat menggeliat pelan sebelum mengerjapkan matanya melihat kea rah Minrin yang masih duduk dengan kaki ditekuk di depan dada. Minrin mengangguk pelan sambil bergumam  lalu menoleh pada Hyehyo.

“Hyo…,” panggilnya ragu dan terdengar gumama kecil dari Hyehyo yang kini sudah bergnati posisi dengan mata setenagh terpejam. “Mwo?” sahutnya malas.

“Kurasa aku harus segera kembali ke Ilsan,” jawab Minrin pelan.

Jinjjayo? Oh…baiklah, kapan kau kembali ke Seoul lagi?” Hyehyo kembali bertanya.

“Tidak…maksudku, aku akan kembali ke Ilsan dan menetap di sana…,” jawabnya lagi yang kini mmebuat Hyehyo terperanjat kaget. Gadis itu bangun dari posisinya secara cepat lalu menatap Minrin dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali.

Mwo? Kau tidak serius kan?” tanyanya tidak percaya namun langsung mendapat gelengan kepala dari Minrin yang semakin mmebuat Hyehyo menatap Minrin bingung. “Wae?”

“Aku sudah memikirkan ini semalam. Kurasa sampai di sini saja semuanya. Lebih baik aku pergi dan semua akan kembali normal,” jawabnya yakin.

“Maksudmu kembali normal? Dua orang itu..Lee Hyukjae dan Kim Ryeowook?” tanya Hyehyo lagi yang disambut Minrin dengan anggukan lemah.

Ia sudah memikirkan ini. Jika pada akhirnya kehadirannya membuat hubungan pertemanan dua orang itu merenggang, lebih baik ia pergi. Lagipula Minrin tidak bisa menyakiti salah satu diantara mereka. Ia tidak bisa terlihat baik-baik saja bersama Hyukjae semnetara harus melihat kekecewaan di wajah Ryeowook. Dan ia juga tidak bisa bersama Ryeowook, sementara ia tahu Hyukjae menyukainya atau mungkin mencintainya. Jadi lebih baik ia pergi.

“Bagaimana dengan perasaanmu? Bukankah kau mencintai Kim Ryeowook?” tanya Hyehyo terus terang yang langsung membuat Minrin menoleh padanya. “Aku bisa melihatnya, Minrin-ya,” ucap Hyehyo sekali lagi.

Terdengar helaan nafas pendek dari Minrin. Ia beranjak dari tempatnya lalu berjalan pelan menuju ranselnya yang tergelatk di sudut ruang. Ia mengambil pakaiannya satu per satu lalu memasukkanya ke dalam tas. Ia benar-benar harus pergi. Sekali lagi ia menoleh pada Hyehyo yang sejak tadi hanya memperhatikan kegiatannya.

“Aku tidak tahu dan aku bingung harus bersikap seperti apa, Hyo. Aku pikir aku akan hidup bahagia, aku pikir dia orang yang tepat tapi dia bahkan tidak berusaha memperbaiki situasi ini,” ucapnya lirih hampir tidak terdengar jalas..

“Apa yang kau bicarakan ha? Aku tidak mengerti denganmu. Kau jelas-jelas menyukainya dan kau membiarkan pernikahan kalian batal begitu saja?” cerca Hyehyo tidak mengerti. Gadis itu menyingkirkan selimut yang menutupi kakinya lalu mendekat pada Minrin. “Minrin-ya….”

“Kalian hanya sedang emosi kemarin, karena itulah kata-kata seperti pembatalan pernikahan keluar begitu saja dari kalian. Ayolah, pikirkan lagi…aku tidak ingin kau menyesal nantinya,” bujuk Hyehyo lagi.

Sekali lagi Minrin menatap Hyehyo. Penyesalan itu mungkin akan mencekiknya setelah angkat kaki dari tempat ini dan meninggalkan Seoul. Minrin bukannya tidak sadar itu. Ia sadar dan mengerti, karena entah kenapa salah satu bagian dari hatinya berteriak untuk bertahan di tempat ini.

 

***

Langkah kakinya terayun dengan pelan. Minrin sama sekali tidak punya tujuan ketika mengatakan akan keluar sebentar pada Hyehyo tadi. Ia bilang hanya ingin ke supermarket untuk membeli sesuatu, tapi kakinya justru melangkah tidak tentu arah. Hatinya yang berteriak memanggil nama itu, memintanya untuk sedikit mmeberinya kesempatan kedua dan memohon agar menarik ucapan-ucapan menyakitkan itu. Dan di sinilah ia sekarang berdiri, di depan sebuah lift yang akan membawanya ke lantai 5, tempat di mana apartement pria itu berada.

Ia berdiri dengan gelisah, meremas kedua tangannya erat dan sesaat merutuki kebuntuan pikirannya sendiri yang telah membawanya ke tempat ini. Baiklah, katakana ia wanita bodoh dan tidak tahu diri yang berani datang ke tempat ini untuk mengemis cinta. Tidak puas karena sudah dibuat menangis, dengan boodhnya ia datang lagi ke sini dan berharap bisa memperbaiki semuanya, padahal jela-jelas pria itu tidak pernah berusaha memperbaiki semuanya seperti dirinya.  Ia menunduk lalu tanpa di sadariny air matanya sudah menetes dengan pelan.

Ya Tuhan bukankan ia sangat bodoh? Bodoh karena jatuh cinta tanpa disadarinya.

Tiing!

Bunyi lift yang berhenti membuat Minrin mengangkat kepalanya dengan pelan. pintu lift itu terbuka dan betapa terkejutnya ia ketika melihat pemandangan di depannya. Pria itu, Kim Ryeowook tengah berpelukan dengan seorang wanita dengan mesra. Tidak…bukan hanya berpelukan tapi Minrin melihat dengan jela wanita itu tengah menciumnya. Ia mundur satu langkah tanpa mampu mengucapkan apapun. Hatinya berdetak kencang sementara dua orang di dalam lift itu belum menyadari keberadaannya. Hingga akhirnya wajah sang wanita mendongak dan mengernyit melihat kea rah Minrin. Buru-buru wanita itu melepaskan tautan lengannya di leher Ryeowook dan membenarkan posisinya.

Minrin masih diam terpaku di depan lift itu sampai akhirnya pintu lift itu kembali hampir tertutup. Tapi sungguh sebelum itu terjadi, ia menangkap tatapan mata Ryeowook yang tengah menatapnya dengan terkejut.

Dan akhirnya pemandangan yang hanya sepersekian detik itu membuat pertahannya runtuh. Minrin berbalik, menahan rasa sakit dalam dadanya yang bergejolak. Ia tidak tahu kenapa ia bisa sesakit ini melihatnya bersama wanita lain. Langkah kakinya kembali terayun dengan pelan tanpa tenaga sementara kepalanya masih menunduk. Ia berhenti sebentar ketika melihat sepasang sepatu laki-laki berdiri tepat di depannya. Minrin mendongak dan melihat Hyukjae berdiri di sana, mengulurkan tangannya tanpa ia minta. Seakan tahu bahwa Minrin sedang membutuhkan sandaran, lalu Pria itu memeluknya dengan erat.

“Jangan menangis, kumohon jangan menangis,” ujarnya menenangkan sambil mengelus punggung Minrin pelan.

Minrin sendiri sudah terisak dalam pelukannya. Ia tidak mengerti kenapa air matanya bisa keluar sederas ini. ia juga tidak mengerti kenapa bisa menangis seperti ini. Tapi satu hal yang ia tahu adalah hatinya sangat sakit.

 

***

Ryeowook hanya diam mematung di tempatnya setelah apa yang baru saja terjadi. Pagi tadi ia terbangun dengan keadaan kepala yang pusing dan mendapati Han Sena sudah berada di apartementnya. Gadis itu mengatakan bahwa dialah yang membawanya pulang setelah mabuk berat. Ryeowook sama sekali tidak memprotes ataupun memarahi gadis itu yang seenaknya menginap di apartementnya, katanya terlalu malam untuknya pulang jadi dia memilih menginap. Gila! Yah, jika saja ibunya datang pagi ini tentu saja Ryeowook akan berada dalam posisi yangs angat sulit karena membiarkan seorang wanita menginap di apartementnya. Tapi bukan itu yang akan membuatn janutngnya berdetak cepat seperti sekarang, bukan kepergok ibunya bersama wanita lain selain Minrin di apartementnya melainkan melihat gadis bernama Shin Minrin itu menangis menatapnya lah yang membuat Ryeowook seperti terkena hantaman benda keras. Dan semua itu karena Han Sena yang dengan seenaknya mengatakan cinta padanya, memeluknya dan bahkan mencium bibirnya. Bodohnya ia bahkan tidak berusaha membuat Sena menjauh dan justru membiarkannya.

Oppa, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukannya,” ucap Sena kemudian. Terus terang saja Ryeowook tidak menangkap nada penyesala di sana, mungkin saja Sena sedang bersorai senang sekarang.

“Aku tahu tidak seharusnya bersikap seperti itu, tapi aku benar-benar mencintaimu,”

Ryeowook diam, mengabaikan Sena yang sejak tadi berusaha mengajaknya bicara. Saat ini pikirannya sedang kacau dan satu-satunya yang dipikirkannya hanyalah Shin Minrin. Bagaimanapun juga ia harus menemui gadis itu.

Ia bodoh karena bersikap tidak peduli kemarin. Dan ia menyesal membiarkan gadis itu pergi dengan linangan air mata. Lalu sekarang ia sekali lagi membuatnya menangis.

Tiing!

Pintu lift kembali terbuka saat kembali ke lantai dasar dan langsung membuat Ryeowook berlari keluar, mengabaikan teriakan Sena yang memanggilnya.

Oppa!”

Gadis itu hanya mendesis pelan dan menatap Ryeowook yang tengah berlari dengan kesal sebelum akhirnya pintu lift kembali tertutup.

Langkah kaki Ryeowook semakin cepat berlari menelusuri hall apartement berusaha mencari keberadaan Minrin yang ia tahu belum jauh meninggalkan tempat ini. Ia keluar dari gedung itu tapi tidak ada tanda-tanda adanya gadis itu.

“Sial,” umpatnya kesal.

Ia mengerang frustasi. Seharusnya ia tidak membiarka gadis itu pergi kemarin, seharusnya ia tidak egois saat itu. Andai seperti itu ia pasti masih membuat gadis itu berada di sisinya.

“Berhenti mengejarnya mulai sekarang..!” seru seseorang dari arah belakang yang akhirnya membuat Ryeowook menoleh.

Lee Hyukjae berdiri di sana dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Tatapan matanya tidak lagi seperti dulu yang selalu ramah pada Ryeowook. Tatapan mata itu tajam menghujam Ryeowook.

Ini kali pertamanya Ryeowook bertatap muka dengan hyung sekaligus sahabat terbaiknya itu setelah kejadian malam itu. Dan nyatanya persahabtan lebih dari 15 tahun itu bisa hancur karena rasa cinta pada gadis yang sama. Pertama kalinya dalam hidupnya ia berhadapan dengan Lee Hyukjae seperti dua orang musuh yang tidak mau kalah memperebutkan apa yang diiginkan.

“Aku tidak akan membiarkanmu mengejarnya lagi lalu menyakitinya seperti itu. Selama ini aku kira kau bisa menjaganya tapi hanya masalah kecil saja kau tidak bisa melaluinya. Kau menyakitinya dank au baru saja membuatnya menangis.”

Ryeowook tidak menjawab. Ia memilih diam sementara Hyukje terus bicara tentang ketidakinginanya melihat Ryeowook mengejar Minrin.

“Mulai sekarang aku yang akan menjaganya jadi berhenti mencarinya.”

Kali ini Ryeowook mendesis kecil. Rahangnya mengeras menahan amarah. Persetan dengan persahabtan mereka selama ini, satu-satunya yang dipikirkannya adalah mmebuat gadis itu kembali padanya. Tidak peduli jika itu berarti harus bermusuhan dengan sahabatnya sendiri.

“Kau sama saja dengannya, hyung. Jadi ini caramu untuk menghancurkan persahabatan kita? Baiklah jika itu maumu,” Ryeowook membalas dengan dingin lalu membalikkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan Hyukjae.

 

***

Minrin tidak tahu bahwa mencintai sama saja akan membuatnya sakit hati. Kali pertama dalam hidupnya ia merasakan perasaan sialan itu dan membuatnya seperti orang bodoh. Ia benci mengakui bahwa ia telah jatuh cinta. Sial. Kenapa semua justru menjadi kesialan untuknya saat dengan berani mengakui perasaannya sendiri?

Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di pinggir jalan yang menuju flat milik Hyehyo. Minrin memelankan langkah kakinya begitu melihat mobil itu. Kedua matanya menatap penuh keheranan ke arah mobil mewah itu. Lalu tidak berselang lama, seorang wanita terlihat berjalan dengan anggun menuruni anak tangga. Wajah wanita itu masih sama cantik dan berseri seperti terakhir kali Minrin bertemu dengannya. Tubuhnya dibalut mantel panjang berwarna hitam yang menambah kesan mewah darinya.

Eommoni…,” Minrin bergumam pelan menyebut wanita itu.

 

***

Suasana kafe kecil itu tidak terlalu ramai dan terkesan lebih menangkan. Tapi sungguh hal itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Minrin saat ini. Ia gugup ketika harus duduk berhadapan dengan wanita yang sudah terbiasa dipanggilnya Eommoni ini. Sementara itu kepulan asap dari kopi Vanilla late terlihat menguar ke udara, menembus indra penciuman Minrin tapi sama sekali tidak membuatnya tertarik.

Wanita yang duduk di depannya ini datang mencarinya dan itu cukup membuat Minrin tidak tahu harus menentukan sikap seperti apa. Jelas sekali ia telah mengecewakan wanita ini.

“Terakhir kali aku melihatmu, kau berlari pergi dengan berlinang air mata. Dan sekarang aku melihatmu sangat gugup seperti ini. Apa kau baik-baik saja?” pertanyaan wanita itu yang akhirnya membuat Minrin memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya.

Ia bisa melihat senyum tulus milik wanita itu. Senyuman yang persis seperti milik ibunya ketika sedang menenangkan dirinya saat ayahnya memukulnya. Minrin balas tersenyum dan benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegugupannya sendiri.

“Ne, Eommoni.. Jeongsohamnida karena pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Eommonim,” jawab Minrin pelan sembari menundukkan kepalanya lagi.

Wanita itu sekali lagi tersenyum, seakan mengerti kenapa Minrin bersikap seperti itu. “Aku tahu tidak seharusnya bertanya padamu mengenai ini, tapi aku hanya tidak ingin kalian berpisah seperti itu,” ucapnya kemudian yang seketika itu membuat jantung Minrin berdetak kencang.

Ia mendongakkan kepalanya, menatap ke arah wanita itu. Wanita itu sudah mengetahuinya. Dia sudah mengetahui bahwa tidak akan ada pernikahan seperti yang direncakannya selama ini.

“Apa kau mencintai puteraku?” tanyanya

Atau mungkin dia juga sudah tahu bahwa selama ini Minrin mengiyakan pernikahan itu bukan atas dasar cinta.

Pertanyaan itu hampir membuat benteng pertahanan Minrin runtuh. Haruskah ia mendapatkan pertanyaan serupa sekali lagi? Ia tidak tahu harus bagaimana menjawabnya, tapi sepertinya ya…ia mencintainya.

Eommoni…”

“Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya. Dia tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada seorang wanita kecuali padamu. Saat dia menolak puluhan wanita yang kujodohkan padanya dan memilihmu, aku tahu dia sudah menentukan kebahagiaannya sendiri yaitu bersamamu. Maafkan aku karena bicara seperti ini, tapi aku masih berharap kau benar-benar akan menjadi menantuku,” ujarnya.

Kedua tagan Minrin sudah saling meremas di pangkuannya. Ya Tuhan….apa yang harus dilakukannya?

Pertemuan tidak terduganya dengan wanita yang dipanggilnya Eommoni itu kembali membuatnya berada dalam titik terbingung. Sebagian kecil hatinya berteriak untuk memperbaiki semuanya tapi di sisi lain ia ingin pergi, menghilangkan rasa sakit itu. Bagaimana mungkin ia berharap agar pria itu kembali padanya jika kenyataannya ada wanita lain yang sekarang berada di sisinya?

Kelebatan kejadian pagi tadi saat di lift kembali berputar di depan matanya, memaksanya untuk kembali merasakan sesak dalam dadanya sekali lagi. Dan rasa sakit itu berujung pada air matanya yang pecah begitu saja.

 

***

Kenangan masa lalu, cinta pertama dan kebersamaan yang kau rindukan, mungkin itulah yang selama ini dicarinya. Di dunia ini mendapatkan lagi kenangan masa lalu sekaligus cinta pertama tentulah sesuatu yang didamba. Sebuah kisah manis masa lalu, kemudian saling berpisah dan akhirnya kembali bertemu, bukankah itu sangat manis?

Ya..awalnya Minrin berharap kisahnya akan seperti itu. Bertemu kembali dengan Lee Hyukjae, menggali bersama-sama kenangan mereka dan memulai lagi kisah manis diantara mereka, itulah yang diinginkannya. Tapi siapa yang menyangka kisah seindah dongeng yang sejak dulu diinginkannya berubah saat pertemuannya dengan Lee Hyukjae tidaklah seindah itu. Ia bukan lagi Shin Minrin  yang dulu, yang selalu berlari kea rah Hyukjae setiap kali masalah menderanya, yang selalu meminta Hyukjae menyediakan sandaran untuknya saat ini menangis. Kenyataannya ada orang lain yang diinginkan Minrin berada di sisinya dan orang itu bukanlah Lee Hyukjae, sahabat terbaiknya dan juga cinta pertamanya.

Dua hari sejak kejadian itu, Minrin benar-benar memutuskan kembali ke Ilsan. Selama dua hari itu Hyehyo masih bersikeras untuk menahannya lebih lama di Seoul dan menyuruhnya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Ryeowook. Tapi berulang kali pula Minrin menolaknya. Bukannya ia tidak ingin, sungguh ia ingin melakukannya apalagi setelah mengetahui kepastian dalam hatinya sendiri, ia ingin menemui pria itu sekali lagi. Tapi ia masih mempunyai harga diri sebagai seorang wanita, jadi ia memutuskan untuk diam dan tidak lagi mengemis cinta pada pria itu.

“Kau selalu bilang dua orang yang ditakdirkan bersama akan tetap dipertemukan bagaimana pun mereka terpisah jauh, benarkan?” itulah yang diucapkannya pada Hyehyo didetik terakhir sebelum keluar dari flat sahabatnya itu.

Minrin ingat bagaimana ekspresi Hyehyo saat itu, sangat kesal tapi gadis itu sama sekali tidak mampu berbuat apapun. Dia menghargai keputusan Minrin lalu hanya memberikan pelukan hangatnya sebelum Minrin berpamitan padanya.

Mengenai ucapan Eommoni waktu itu bukannya Minrin juga menghiraukannya. Sebenarnya ia tidak ingin membuat wanita itu kecewa, tapi inilah yang terbaik. Meskipun Minrin tidak ingin mengatakannya, pada akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. Ia ingat bagaimana wanita itu berusaha tersenyum dan mengangguk mengerti dengan keputusan Minrin. Ia benar-benar tidak tega, tapi seperti katanya ia berharap inilah yang terbaik.

 

***

Dan hari ini seharusnya akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Seharusnya ia akan berdiri di depan altar dengan pria itu disampingnya lalu sama-sama mengucapkan janji suci dihadapan tamu undangan dan juga Tuhan. Tapi itu semua hanyalah bayangan indah yang beberapa hari lalu memenuhi pikirannya, karena kenyataannya hari ini ia justru menghabiskan harinya di depan meja kasir, rutinitas barunya setelah kembali ke Ilsan.

Pandangan matanya menatap lurus ke depan, mengikuti sepasang kekasih yang baru saja keluar dari coffee shop ini. kebersamaan seperti itu jugalah yang diimpikannya. Lalu Minrin hanya bisa tersenyum tipis saat menyadari mimpi indah itu sudah berakhir dan ini saatnya untuk bangun dan menghadapi kehidupan barunya.

“Selamat datang,” ucapnya bersemangat ketika salah sorang pengunjung datang untuk membeli kopi. Dan seperti itulah kehidupan barunya akan berjalan.

Dengan cekatan Minrin menyiapkan pesanan orang itu lalu menyerahkannya, “Terima kasih, datang lagi lain kali,”

Dan ia akan berusaha terus tersenyum seperti itu pada semua orang, meskipun kenyataannya ada sedikit luka yang belum mengering dalam hatinya. Tapi itu bukan lagi penghalang. Suatu saat nanti luka itu akan sembuh dengan atau tanpa kehadiran pria itu lagi.

Mungkin mereka akan bertemu lagi, mungkin juga tidak dan biarkan Tuhan yang menentukan.

CUT

 

Ada yang menebak ini sudah end? Yah..awalnya aku janji part 8 bakal jadi part terakhir tapi sepertinya belum. Their story doesn’t end yet. Kasihan juga kalau nggk ada yg bahagia hehe..
tapi udah tahu kan kalau Minrin itu sebenarnya udah cinta sama RYeowook? Yah…kita lihat aja nanti gimana kisah mereka akan berakhir.

Jangan lupa tinggalkan komentar kalian. Bye…^^

Hampir lupa, mohon maaf lahir batin ya.. selamat menunaikan ibadah puasa. 

Advertisements

6 thoughts on “(Fanfiction) #8 Bittersweet

  1. authornya bkin aku nebak2 bkalan kyak pa endingnya ..
    Pnasarann bangett sma klanjutan hbungan wookie minrin ..
    Apa mreka jdi married nanti ??
    Di tunggu bwat next partnya yaa ^^
    Oya FF 8 Stories 8 Loves 8 Hearts jg jngan lupa lanjut yaa thor .. Aku dah baca and critanya gak klah seru sma FF ini .. Smangat bwat authornya ^^

    1. kepasan banget aku lagi buka blog..
      hehe selamat menebak2 ya… 🙂
      nikah nggk ya?
      terimakasih sudah membaca, ditunggu lanjutannya ya… 8 stories 8 loves 8 hearts nya jug bakal dilanjut kok, ^^

  2. Aku suka banget ma ff nie maklum cari ff yang main cast wook pa tu jarang banget pa lagi cerita na sebagus nie.cepat di lanjut ya fighting

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s