(Ryeomin story: Ryeowook’s Birthday) I Can’t Let You Go

i can't let you go

A Fail Birthday Surprise (I can’t let you go)

Kim Ryeo Wook – Shin Min Rin

“Aku bilang akan melupakanmu, melepasmu untuk gadis itu tapi aku semakin terlihat buruk dan menyedihkan karena aku tidak bisa. Aku benci mengatakannya tapi…aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Jadi, jangan pergi dariku….”

“Jangan mencintaiku sebanyak aku mencintaimu, karena jika kau melakukannya maka kau akan sangat sakit saat aku pergi nanti.”

“Cinta bukan berarti membuat orang yang kau cintai tetap berada di sampingmu, tapi yang terpenting melihatnya bahagia dengan siapapun dia nantinya. Dan aku berusaha melakukan itu, siapapun orang yang akan membuatmu bahagia, dan dengan siapa kau akan hidup menua, maka aku akan bahagia. Itu caraku mencintaimu.”

***

 

June 18th 2014

“Memutuskannya di hari ulang tahunnya?” Min Rin bertanya meyakinkan bahwa memang itulah maksud Eun Hyuk, Dong Hae dan Kyu Hyun yang sekarang terlihat mengangguk-angguk bersemangat. Untuk kesekian kalinya Min Rin mengernyit dan hanya mampu menatap ketiganya ragu.

Ide gila itu muncul bahkan tanpa Min Rin duga sebelumnya. Dan ide gila yang diusulkan tiga orang itu adalah berpura-pura memutuskan Ryeo Wook tepat sebelum ulang tahunnya. Gila! yah benar-benar gila.

“Hanya usulan saja, kau bisa menolaknya jika tidak mau,” Dong Hae berucap.

Ya..Minrin memang sudah berniat akan menolaknya. Astaga…! tidak adakah ide yang lebih baik dari ini? Awalnya ia memang meminta saran Eun Hyuk berkaitan dengan ulang tahun Ryeo Wook yang hanya tinggal tiga hari lagi dan tidak disangkanya sahabatnya itu memberi ide segila ini.

“Tapi akan lebih baik jika kau menerima usulan kami. Rasanya aku benar-benar ingin melihat tampang memelasnya kalau sampai berpisah denganmu,” Eun Hyuk menyahut sambil terkekeh.

Dan Min Rin langsung melirik ke arah sahabatnya itu. Apa katanya? Tampang memelas? Ya ampun apa itu semacam hiburan begitu?

“Itu benar. Kau tidak tahu saja bagaimana ekspresinya saat kalian putus tahun lalu. Ya ampun aku saja sampai bingung harus menghiburnya seperti apa,” kali ini Kyu Hyun yang menimpali.

“Menghibur katamu? Bukankah kau justru terhibur?” Minrin mendesis pelan sembari melayangkan tatapan tajamnya pada Kyu Hyun yang langsung membuat pria itu tersenyum lebar.

“Awalnya jadi hiburan tapi lama-lama menyusahkan juga…,” lanjut Kyu Hyun menimpali masih dengan cengirannya.

Minrin bergeming dan memilih tidak merespon ucapan Kyu Hyun tersebut. Ia berpikir sejenak dan benar-benar berpikir ini ide gila. Ini sama saja mempertaruhkan hubungannya dengan Ryeo Wook. Bagaimana jika Ryeo Wook berpikir ini berlebihan dan berujung perpisahan di antara mereka secara nyata? Astaga membayangkan saja Min Rin tidak sanggup.

 “Tidak perlu khawatir. Dia itu terlalu mencintaimu,“ Eun Hyuk kembali membujuk, seakan-akan tahu kekhawatiran apa yang sedang dipikirkan Minrin.

Wae? kau bersemangat sekali ingin mengerjarinya,” Min Rin menyipitkan matanya menatap sahabatnya itu curiga, “kau tidak benar-benar ingin membuatku berpisah dengannya, kan?” tebaknya. Mustahil Eun Hyuk melakukannya, tapi siapa yang tahu? lagipula pria itu punya sejarah pernah menyukai Min Rin sebelum jatuh bertekuk lutut di depan Hye Hyo.

Yaa.. aniyo! lagipula untuk apa aku melakukan itu? Yang ada justru menyusahkanku,” sungut Eun Hyuk dengan tidak terima.

“Oh… bisa saja, kau kan pernah menyukaiku sebelumnya,” Min Rin tersenyum geli berniat menggoda sahabatnya itu yang justru mendapat teriakan kencang darinya.

Yaa..!!”

Min Rin tertawa lagi, merasa sangat geli melihat ekspresi Eun Hyuk yang menjadi salah tingkah. Hey, ia hanya bercanda kan? Lagipula ia juga sangat tahu untuk siapa hati milik Lee Hyuk Jae itu sekarang.

“Semua member setuju akan membantumu. Kau hanya perlu mengatakan padanya bahwa kau ingin berpisah. Beri waktu untuknya meratapi nasibnya dan ..Bang!! kita kejutkan dia di hari ulang tahunnya.” Kyu Hyun menengahi dengan memberi penjelasan, sesekali menggerak-gerakkan tengannya bersemangat persis seperti salah seorang dosen Min Rin yang sedang mengajar di kelas.

“Lalu alasan apa yang harus aku katakan untuk memutuskannya? Aku tidak mungkin begitu saja langsung mengatakan berpisah, kan?”

“Katakan saja kau dijodohkan dan tidak bisa mengelak dari perjodohan itu,” Eun Hyuk memberi usul tapi langsung ditolak Kyu Hyun dengan memukul kepala hyungnya itu dengan bantal.

Hyung, itu terlalu picisan. Seperti di drama saja. Lagipula Ryeo Wook juga tidak akan percaya, terlalu dibuat-buat.  Pakai ini sebagai alasan…,” Kyuhyun beralih mengotak-atik sebentar ponselnya dan kemudian menyerahkannya pada Minrin.

Mwoya iggeu?”

“Salinan percakapan Ryeo Wook dengan  Choa di grup chat mereka” Jawab Kyu Hyun bangga.

 “Mwo? Mereka punya grup chat?” Dong Hae bergerak mendekat ikut melihat isi percakapan dua orang itu.

Ya.. bukan apa-apa, hanya saja semua member juga tahu kalau Ryeo Wook kadang masih bertemu dengan salah satu member AOA itu meskipun musical mereka sudah berakhir tahun lalu. Dan sepertinya eternal magnae itu kelewat perhatian pada yeoja-yeoja yang dekat dengannya selain Min Rin tentu saja. Bagaimana pun juga semua orang di dorm ini juga tahu perhatian pria kecil itu hanya akan tercurahkan pada Shin Min Rin tapi bukan berarti dengan yang lain tidak. Contohnya saja dengan Choa dan Kyu Hyun mungkin satu-satunya yang tahu kedekatan Ryeo Wook-Choa hingga dua orang itu sering berkirim chat yang menunjukkan rasa perhatian satu sama lain.

“Kapan kau mendapatkan itu?” tanya Eun Hyuk mengernyit.

“Itulah kenapa aku yang terpandai di grup ini. Aku melihatnya tidak sengaja saat Ryeo Wook membalas chat dari Choa. Dan seperti perkiraanku sebelumnya, pasti berguna,” ucapnya sambil tersenyum bangga.

Min Rin menatap ketiga pria di depannya itu bergantian. Orang-orang yang otaknya sudah benar-benar tidak waras. Astaga!, Min Rin tidak mengerti kenapa ia langsung setuju saat Eun Hyuk memintanya datang ke dorm tadi pagi. Tahu begini, lebih baik ia tidak datang. Di tatapnya lagi ketiganya mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ide ketiga orang ini tidak akan membuat perpisahan yang sesungguhnya untuknya dan Ryeo Wook. Meskipun sebenarnya ia sangat ingin mengerjai pria itu, tapi entahlah ide ini terlalu membuatnya khawatir.

“Jadi bagaimana?” desak Eun Hyuk untuk kesekian kalinya. Min Rin menghembuskan nafasnya keras lalu kembali memperhatikan ketiganya. Diantara ketiganya ia merasa mendapat tatapan paksaan dari Kyu Hyun. Dan pada akhirnya ia mengangguk dengan ragu.

“Baiklah.. tapi kalian harus tanggung jawab kalau kami benar-benar putus!” ancam Min Rin kemudian.

“Tidak perlu khawatir… serahkan pada kami!”

 

***

 

Itulah sepenggal percakapan dengan tiga orang berotak gila yang membuat Min Rin dalam situasi ini. Ia bertekad akan mengatakannya malam ini. Kyu Hyun bilang tidak perlu bertemu langsung, katakan saja melalui telepon atau pesan singkat. Lalu setelah itu berpura-pura lah menghilang dari kehidupannya. Jangan bertemu dengannya dan jangan datang ke dorm. Jika pun terpaksa bertemu, maka gunakan isi chatting pria itu dengan Choa yang sebenarnya memang agak membuat Min Rin.. ehemm.. cemburu.

Min Rin menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya, “baiklah, kita lakukan!”

Ia mengambil ponselnya lalu segera masuk ke menu pesan. Tangannya mengetikkan kalimat-kalimat yang Kyu Hyun katakan padanya tadi, -persis seperti yang pria itu katakan-.

Ryeo Wook-ah, kita berpisah saja. Aku tidak bisa melakukan ini lagi. Jika pada akhirnya aku harus merasa sakit lagi lebih baik kita akhiri. Jadi kita berpisah saja. Jangan menghubungiku lagi mulai sekarang.

Sent!

 

 

****

 

“Jadi, bagaimana menurutmu?” Kyu Hyun bertanya pada Ryeo Wook. Pria itu sedang melancarkan aksinya membujuk Ryeo Wook untuk datang di pesta kecil-kecilan yang diadakan member Super Junior untuk merayakan ulang tahunnya. Ya..sebuah pesta yang akan membuatnya terkejut nantinya.

“Aku ada siaran sukira, bagaimana kalau hari sabtu saja?” tawarnya, yang berarti menolak usulan Kyu Hyun untuk mengadakan pesta kecil itu di hari Jumat.

“Hari sabtu? Baiklah hari sabtu, tapi kau yang mentraktir kita.”

Tiing!

Sebuah pesan masuk membuat ponsel milik Ryeo Wook berbunyi dan pria itu pun langsung menghiraukan ucapan Kyu Hyun. Ia pun segera mengambil ponsel itu dari meja.  Ia terlihat tersenyum sebentar tapi tidak lama, karena setelah itu kedua matanya tiba-tiba membulat, sangat terkejut.  Dibacanya lagi pesan dari Min Rin itu, siapa tahu ia salah mengartikannya tapi semakin dibaca justru membuatnya semakin tidak percaya.  Dan dari dilihat dari segi manapun artinya tetap sama, yaitu berpisah.

Apa yang dipikirkan gadis itu? Berpisah?

Tidak..tidak…!!!

Wae…?” Kyu Hyun mendekat dan melirik sebentar pesan itu sebelum Ryeo Wook menutupnya dengan cepat. Ia mendongak ke arah Kyu Hyun tanpa mampu menyembunyikan keterkejutannya.

“Aku harus pergi!” ucapnya, lalu tanpa banyak bicara ia sudah berlari mengambil kunci mobil dan jaketnya.

Yaa..Ryeo Wook-ah!!” seru Kyu Hyun

Kyu Hyun tahu teriakannya sia-sia, dan ia pun hanya memperhatikan Ryeo Wook yang terburu-buru keluar. Sejenak ia tersenyum lalu dengan santainya ia mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan pada Min Rin.

Ryeo Wook baru saja pergi, kurasa akan menemuimu. Persiapkan acting terbaikmu, oke?

 

***

 

“Astaga..!, aku seharusnya tahu dia akan datang. Eottokaji?” Min Rin menatap Chany yang duduk bersamanya dengan memelas.

“Aku sudah menduganya. Ya sudah temui saja dia, beraktinglah seperti yang Kyu Hyun katakan. Kurasa akting eonnie tidak terlalu buruk,” Chany menimpali tidak terlalu peduli sambil mengambil camilan di pangkuannya. Gadis itu sudah bertekad tidak mau ikut campur dengan ide gila yang dilakukan eonnienya dan member Super Junior, dan itu artinya ia juga tidak peduli jika nanti Lee Dong Hae –kekasihnya itu- akan mendapat masalah gara-gara ide gila ini.

“Chany-ah, neo bantu aku, oke?” ucap Min Rin memohon sambil memasang tampang memelas lengkap dengan puppy eyes yang terlihat menggelikan.

Ya.. ampun, ia baru saja menurunkan harga dirinya sebagai member berkespresi dingin dengan memasang puppy eyes pada dongsaeng satu grupnya.

“Apa untungnya jika aku membantu eonnie? Aku tidak mau disalahkan priamu itu karena terlibat dalam ide gila kalian.”

“Issh, disalahkan apanya? Dia juga tidak akan peduli siapa saja yang mengerjainya. Ayolah..bantu aku, ya?” bujuk Min Rin lagi, menatap Chany dengan puppy eyes lagi. Sementara gadis itu masih saja kekeuh dengan pendirianny untuk tidak mau terlibat. Min Rin menghela nafas pelan setelahnya, “oke, arraso aku akan melakukan apapun untukmu,” lanjutnya kembali. Ia tahu jalan terakhir adalah sedikit bernegosiasi dengan dongsaengnya ini.

Chany menoleh, “apapun?” tanyanya sembari memasang senyum penuh arti yang sedikit membuat Min Rin bergidik..

“Apapun,” sahut Min Rin yakin. Semoga saja ia tidak salah membuat perjanjian dengan gadis ini. Ya pikirkan itu nanti. Sekarang yang lebih penting adalah menghindar dari Ryeowook secepatnya. Jika pun nanti Chany meminta yang aneh-aneh, Min Rin masih punya cara untuk mengatasinya. Tentu saja ia akan melibatkan Donghae untuk menjinakkan gadis itu. Ya.. karena gadis bernama Park Chany itu akan berpikir dua kali untuk menolak Lee Dong Hae.

“Aku sudah tahu eonnie akan mengatakan itu. Baiklah, masuklah ke dalam kamar biar aku yang menemui si pendek itu,” angguknya setuju yang langsung mendapat pelukan dadakan dari Min Rin.

Gomawo, ne?” lalu setelah itu Min Rin sudah melesat pergi menuju kamarnya.

Beruntung sekali bukan hari ini ia berada di dorm dBrinds dan bukannya di apartementnya sendiri. Kalau saja ia berada di apartementnya sendiri, entah apa yang akan dilakukannya karena melihat Ryeo Wook yang tiba-tiba berdiri di depannya. Ya Ampun membayangkan saja ia tidak sanggup.

***

 

Pintu dorm itu dibuka dan langsung membuat Ryeo Wook menghela nafas lega. Ia bertekad akan menjelaskan apapun alasan yang membuat gadis itu memutuskannya. Hey, memangnya apa salahnya sampai-sampai ia diputuskan secara sepihak tanpa tahu alasan yang jelas, dan lebih menyakitkan lagi gadis itu mengatakan berpisah lewat pesan singkat. Astaga…

Ekspresinya yang semula lega berubah seketika begitu melihat Chany yang membukkan pintu dorm untukknya. Ia menatap gadis itu tidak sabar. “Min Rin, eoddiya?” tanyanya, bahkan tanpa ada nada sapaan di sana untuk Chany.

“Aku tidak tahu, apa dia tidak ada di apartementnya?” Chany balik bertanya yang sedikit membuat Ryeo Wook berdecak.

Ia menghela nafasnya lemah. Kalau ia tahu gadis itu ada di apartement miliknya, Ryeo Wook juga tidak akan susah-susah mencarinya ke sini. “Aniyo.. kau yakin dia tidak ada di dorm?” tanya Ryeo Wook berusaha membujuk, ia memincingkan matanya, menatap menyelidik pada Chany. Ia hanya menduga Chany pasti tahu di mana Min Rin dan mungkin saja gadis itu membuat Chany berbohong tentang keberadaannya.

Ani..aku tidak tahu. Aku hanya melihatnya pergi dengan mata sembab,” jawab Chany yakin sedikit mendramatisir, yang semakin membuat Ryeo Wook menghela nafasnya lemah.

Sialan, di mana gadis itu? Seenaknya bilang berpisah dan sekarang tidak mau ditemui. Ya ..ampun entah kenapa Ryeo Wook justru dibuat kesal dibandingkan dibuat patah hati.

Dan apa tadi Chany bilang? Mata sembab? Apa gadis itu menangis? Astaga sebenarnya kesalahan apa yang Ryeo Wook lakukan hingga membuat gadis itu berpikir untuk berpisah dan menangis?

Keurom…kalau kau bertemu dengannya, katakan padanya aku membutuhkan penjelasan darinya,” ujarnya kemudian

Chany mengangguk mengiyakan, “baiklah, aku mengerti. Ah oppa…,” ujarnya kemudian  “kumohon jangan pernah menyakiti eonniku. Dia sepertinya sangat sedih tadi,” lanjutnya sedikit mengancam yang semakin membuat Ryeo Wook merasa bingung dan bersalah.

Ryeowook tersenyum kecil sebelum Chany menutup pintu dorm dan meninggalkannya di depan dorm dengan beribu pertanyaan yang mengganggu pikirannya.

Apa yang terjadi dengan gadis itu?

 

***

 

Ryeo Wook kembali ke dorm ketika sudah sangat larut malam. Hampir jam 11 malam, dan ia baru saja menghabiskan dua jam lebih di apartement gadis itu hanya untuk menunggunya pulang. Tapi tentu saja penantiannya sia-sia karena ia tahu gadis itu tidak akan pulang ke apartementnya. Tentu saja gadis itu sudah mengantisipasi untuk tidak bertemu Ryeo Wook di apartemennya. Masih mending gadis itu tidak mengganti passwordnya yang memang sudah dihafal Ryeo Wook luar kepala jadi Ryeo Wook menduga gadis itu berada di dormnya bersama dbrinds sekarang.

Tapi alasan di balik keinginan gadis itu untuk berpisah kembali mengusiknya. Apa dia sengaja melakukannya? Karena sebentar lagi ulang tahunnya? Rasa-rasanya tidak. Shin Min Rin bukan gadis yang akan memberinya kejutan seperti ini. Lagipula gadis itu membenci perpisahan. Lalu alasan apa yang membuatnya mengajukan kata-kata keramat seperti ‘berpisah’ ?

Karena pria lain? Entahlah.. Ryeo Wook rasa bukan itu alasannya. Ia tidak mau terlalu percaya diri, tapi kenyataannya gadis itu terlalu menyukainya. Meskipun Ryeo Wook sadar gadis itu mudah sekali tertarik dengan banyak pria tampan di luar sana, tapi gadis itu selalu menemukan jalan pulang, karena Shin Min Rin pada akhirnya selalu kembali pada Ryeo Wook. Itulah yang diyakini Ryeo Wook.

Kalau sudah seperti ini Ryeo Wook merasa kesalahan ada padanya. Entahlah, ia tidak terlalu yakin tapi sepertinya memang demikian. Dihelanya nafas lemah lalu Ryeo Wook pun mulai bersandar di punggung sofa, memejamkan matanya dan berusaha menenangkan dirinya. Ia butuh berpikir. Tapi usaha itu sia-sia karena suara berisik seseorang yang baru saja memasuki dapur mengusiknya.

Ia membuka matanya cepat lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pelan menuju dapur dorm ini. Tatapannya berubah mengernyit saat dilihatnya Sungmin sedang menuangkan air putih ke dalam gelasnya.

Hyung, kapan kau pulang?” sapanya.

Sung Min hanya melirik sebentar pada Ryeo Wook dan kembali meminum air putihnya, “belum lama. Kau sendiri kenapa baru pulang?” tanyanya berbalik, lalu dilihatnya Ryeo Wook hanya menghela nafas dan tidak berminat menjawab. Dongsaengnya itu sudah berjalan berlalu dari depannya bahkan sebelum Sung Min mencegatnya.

Sung Min memperhatikan sekilas dan ia cukup yakin menangkap aura ketidakberesan pada diri Ryeo Wook. Maka dari itu, ia pun bergegas meletakkan gelasnya lalu secepat kilat berlari menyusul Ryeo Wook yang ternyata sudah terduduk di atas sofa dengan mata terpejam.

Waegure? Kau ada masalah?” tanyanya sembari duduk di salah satu sofa dan mulai menyenderkan punggungnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, dan tatapan mata menatap Ryeo Wook penasaran.

“Tidak ada masalah,” jawab Ryeo Wook lemah.

Ya sepertinya tidak ada masalah. Setidaknya Ryeo Wook memang merasa seperti itu sampai hari ini.

Eiiiyy aku mengenalmu dengan sangat baik Kim Ryeo Wook,” sela Sung Min tidak percaya. “Aku akan mendengarkan kalau kau ingin cerita. Mwotte? Karena jadwalmu? Kau ada masalah dengan member lain? Katakan padaku…,” desaknya.

Dan lagi-lagi Ryeo Wook hanya menghela nafasnya. Ia melirik Sung Min yang duduk di sampingnya. Tatapannya berubah ragu lalu dengan pelan ia pun menggeleng, “aniyo. tapi yah..tentang gadis itu,” jawabnya gamblang. Kenyataannya memang hanya pada seorang Lee Sung Min lah Ryeo Wook bisa meminta saran. Karena bagaimana pun juga Sung Min berperan penting saat menyadarkan kesalahannya dulu, saat ia memutuskan Min Rin dengan alasan yang kekanak-kanakan.

“Shin Min Rin?” tebak Sung Min kemudian. Ryeo Wook mengangguk pelan, “wae? kenapa dengannya?” tanyanya lagi.

“Dia bilang ingin berpisah,” jawab Ryeo Wook pelan, ada sedikit rasa getir saat mengatakan itu. Rasanya tidak dapat dipercaya bahwa untuk kedua kalinya mereka harus berpisah.

Mwo? Wae?”

“Aku tidak tahu. Dia hanya mengatakan itu, dan aku tidak berhasil bertemu dengannya untuk bertanya langsung,” dan Ryeo Wook merasa kesal karena hal itu.

“Memangnya kenapa lagi sekarang? Dia berselingkuh atau kau yang berselingkuh?” tanya Sung Min yang langsung mendapat tolehan kepala dari Ryeo Wook.

Nanh molla. Kurasa dia tidak akan melakukan itu,” ya.. sepertinya bukan karena dua hal itu. Ryeo Wook yakin Min Rin tidak melakukan hal itu, begitu juga dengan dirinya. Memangnya ia terlihat berselingkuh dengan wanita lain?

“Kalau begitu pasti ada sesuatu yang kau lakukan yang membuatnya marah atau sedih hingga berani memutuskanmu,” Sung Min melanjutkan.

Seperti itu jugalah yang sejak tadi dipikirkan Ryeo Wook. Tapi apa yang membuat gadis itu tiba-tiba marah?

Sung Min menepuk pundak Ryeo Wook berulang, “bersabarlah, masih banyak wanita diluar sana jika Min Rin pergi darimu,” katanya memberi semangat, yang sama sekali tidak diharapkan Ryeo Wook.

Sung Min benar. Banyak wanita di luar sana yang bisa Ryeo Wook dapatkan jika Min Rin pergi darinya. Tapi apa yang bisa dilakukannya jika hanya wanita bernama Shin Min Rin itulah yang diinginkannya?

 

***

 

June 20th 2014

13.00 KST

Satu hari berlalu sejak rencana gila itu dijalankan. Dan selama satu hari lebih beberapa jam ini, Min Rin sama sekali tidak berkunjung ke dorm Super Junior seperti biasanya. Seperti kata Kyu Hyun, ia akan berpura-pura menghilang dari kehidupan pria itu. Min Rin bahkan tidak lagi aktif di group chatnya bersama member Super Junior lainnya. Dan kali ini tanpa disadainya Min Rin justru menikmati perannya. Ya.. ia memang tidak tega mengatakan itu pada Ryeo Wook, bukankah ia terlihat sangat jahat? Mengatakan berpisah lewat pesan singkat tanpa alasan yang jelas. Tapi sepertinya mengerjai Ryeo Wook itu sangat menyenangkan. Ia tersenyum sendiri membayangkan bagaimana reaksi pria itu nanti malam tepat tengah malam saat semua sandiwaranya dibongkar. Pasti sangat lucu.

Dan siang ini, sesuai janjinya pada Eun Hyuk, mereka berempat bertemu di café ini. Sebuah café kecil yang diyakini Eun Hyuk tidak akan dikunjungi Ryeo Wook secara sengaja. Jangan kira hanya empat orang yang terlibat dalam ide gila ini, seperti yang Eun Hyuk bilang semua member Super junior terlibat. Dan Min Rin sendiri juga sudah melibatkan beberapa dongsaengnya kemarin. Tidak hanya Chany yang membantunya, tapi juga ada Hye Hyo yang ikut berbohong saat ditanya oleh Ryeo Wook perihal keberadaannya.

“Min Rin-ya, kau sudah lama menunggu?” Dong Hae satu-satunya yang baru datang langsung menyapa Min Rin begitu melihat gadis itu tersenyum dalam balutan sweater putihnya.

“Dimana Hyuk Jae dan Kyu Hyun?”

“Kurasa Ryeo Wook menahan mereka di dorm,” pria itu mengambil tempat duduk di depan Min Rin lalu mengambil ponselnya. Sepertinya sedang mengirim pesan pada Hyuk Jae dan Kyu Hyun.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Min Rin kemudian.

Nadanya terdengar khawatir. Ya.. Jujur saja ia khwatir. Siapa tahu Ryeo Wook sangat depresi karena berpisah dari Min Rin.

“Buruk. Dia baru kembali dari Incehon pagi ini. Kurasa ia pulang untuk menenangkan diri. Terakhir melihatnya ia sulit diajak komunikasi. Kau tahu kan… orang yang patah hati… pikirannya entah melayang kemana. Dia membuat banyak kesalahan saat latihan, Hyuk Jae dan Shin Dong hyung sampai memarahinya.”

Min Rin sedikit mengernyit sambil menggigit bibir bawahnya, “separah itukah?”

“Kau baru tahu dia sangat mencintaimu? Ya.. memang seperti itu. Kerjaannya hanya menatap layar ponselnya,” Dong Hae menambahkan.

Ya.. Min Rin bukannya tidak tahu. Ia tahu dengan sangat pasti dan juga jelas bagaimana perasaan pria itu padanya. Oke, ini hanya sementara dan setelah ini semuanya akan kembali normal, ia menyemangati dirinya sendiri.

Detik-detik berlalu dan Kyu Hyun maupun Eun Hyuk belum juga menampakkan dirinya. Hingga akhirnya suara beep dari ponsel Dong Hae membuat Min Rin mendongakkan kepalanya.

“Pesan dari mereka?” tanyanya pada Dong Hae.

“Sepertinya…,” Dong Hae menyahut dan langsung membuka pesan itu dengan terburu-buru. Dan seketika itu ekspresi Dong Hae yang terkejut dengan kedua mata membulat, membuat Min Rin menatapnya heran.

Wae..?”

“Kurasa kita butuh plan B.”

“Plan B? Ryeo Wook sudah tahu?” tanya Min Rin ikut terkejut. Tapi pertanyaannya tidak dijawab Dong Hae, karena pria itu sudah beranjak dari tempat duduknya menyuruh Min Rin ikut dengannya.

Jinjja? Apa Ryeo Wook sudah tahu?” seru Min Rin yang berjalan di belakang Dong Hae.

Pria itu tidak berhenti dan terus bejalan hingga mereka sampai di tempat mobil Dong Hae terparkir. Dong Hae menghentikkan langkahnya sebentar lalu berbalik pada Min Rin.

“Min Rin-ya, percayalah pada kami, ne? kami pasti akan membuat kalian bersama lagi,” ucapnya menekankan dan semakin membuat Minrin tidak mengerti..

Yaa apa maksudmu?” serunya.

“Lebih buruk dari pada Ryeo Wook mengetahui rencana kita.”

Mwo?”

 

***

 

“Ryeo Wook-ah, kau harus menjelaskan pada kami. Apa maksudmu ucapanmu tadi? Kau tidak sungguh-sungguh kan?” Eun Hyuk bertanya mendesak untuk kesekian kalinya pada Ryeo Wook.

Ia berharap apa yang baru saja di dengarnya tidak benar. Ia berharap Ryeo Wook hanya bercanda karena ucapan pria itu benar-benar membuat Eun Hyuk terkena serangan jantung mendadak. Tapi pria itu bahkan hanya bergeming di tempatnya. Eun Hyuk beralih melirik Kyu Hyun yang berdiri di samping kiri Ryeo Wook. Ekspresinya sama tegangnya dengan Eun Hyuk.

Sementara itu Ryeo Wook masih belum menjawab pertanyaan Kyu Hyun maupun Eunhyuk dan lebih memilih berjalan pelan menuju sofa lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa itu. Eun Hyuk dan Kyu Hyun sekali lagi saling memandang lalu kemudian secara bersamaan mengikuti Ryeo Wook.

“Kau tidak serius kan?” tanya Eun Hyuk lagi.

 “Aku serius dengan ucapanku, hyung. Lagipula kau pikir untuk apa aku pulang ke Incheon kemarin?” jawab Ryeo Wook tanpa sedikit pun beban.

Beban? Yeah beban.. bagaimana mungkin pria ini memutuskan akan menikah dengan gadis yang dijodohkannya hanya berselang satu hari setelah berpisah dari Min Rin? Ya..mereka tidak benar-benar berpisah. Dan itulah masalahnya! Kyu Hyun serta Eun Hyuk dan bahkan semua member seakan-akan menjadi tersangka dalam sebuah kesalahpahaman.

“Tapi kau dan Min Rin…,” Eun Hyuk menggantungkan kata-katanya.

“Aku sudah berpisah dengannya. Jadi tidak ada salahnya aku menerima usulan orang tuaku. Lagipula gadis itu juga baik. Dan sepertinya kami akan menikah sebelum akhir tahun.”

M…Mwo..!??? ” seru Kyu Hyun dan Eun Hyuk serentak. Keduanya saling berpandangan lagi. “Akhir tahun…?” tanyanya tidak percaya.

Sementara itu Henry dan Zhoumi yang sedang mengobrol langsung menolehkan kepalanya ke arah Ryeo Wook. Keduanya pun ikut saling berpandangan. Shin Dong yang sedang minum cola langsung tersedak mendengar ucapan polos dari Ryeo Wook. Ia terbatuk-batuk sebentar lalu mengikuti yang lainnya langsung mengalihkan perhatiannya pada Ryeo Wook. Dan Si Won.. yang baru saja datang hanya bisa membulatkan matanya dengan tangan yang memegang mantel tergantung di udara.

“Kau bercanda?” Kyu Hyun yang sejak tadi terlalu sibuk dengan pikirannya akhirnya buka suara. Nada suaranya tercekat dan pria itu kembali menahan nafas.

“Ryeo Wook-ah, benarkah itu?” Shin Dong yang sudah memusatkan perhatiannya pada mereka bertiga akhirnya ikut bergabung, begitu juga dengan Henry dan Zhoumi yang juga ikut merapat. Hanya Si Won yang masih terlalu shock di depan pintu. Bagaimana tidak, dia baru saja kembali dari China dan tiba-tiba mendapat kabar seperti ini. Memang bukan kabar buruk, tapi baginya, dan bagi member lainnya adalah kabar yang tidak terlalu membahagiakan.

“Aku tidak bercanda. Kurasa ini jalan yang terbaik. Bagaimana pun juga gadis itu memilih pergi kan? Dan aku tidak akan menahannya untuk tetap berada di sampingku lagi,” tuturnya sangat serius, hingga membuat semua orang di dorm itu hanya bisa saling berpandangan satu sama lain.

“Tapi kau mencintainya,” sela Henry.

Ryeo Wook menoleh ke arah Henry dan hanya bisa menatapnya dengan lemah. Eksprsi seseorang yang kehilangan sesuatu yang berarti darinya, ya seperti itulah ekspresinya. Dan sekali melihat ekspresi kehilangan itu sekali lagi cukup membuat Eun Hyuk kesulitan untuk berpikir, bahkan hanya untuk sekedar menelan ludah pun ia kesulitan. Eun Hyuk jelas telah membuat kesalahan karena membuat mereka berpisah secara tidak langsung.

“Itu benar. Kau tidak bisa berbohong soal itu. Lagipula kalian bisa membicarakan baik-baik masalah kalian. Kau juga belum tahu alasan Min Rin ingin berpisah darimu kan? Jadi lebih baik temui gadis itu dan pikirkan lagi keputusanmu itu,” ucap Shin Dong memberi nasehat. Dia memang tidak terlibat langsung dalam permainan konyol yang dibuat Kyu Hyun serta Eun Hyuk, tapi dia merasa ikut bertanggung jawab dalam hal ini. Diliriknya Kyu Hyun dan Eun Hyuk yang masih membeku di tempatnya dengan wajah yang hampir pucat.

“Dia tidak ingin bertemu denganku, hyung,”ujar Ryeo Wook lemah, kepalanya menunduk sedikit dan terdengar helaan nafas keras darinya.

Kelima orang itu kembali saling berpandangan. Siapapun tidak ada yang ingin kehilangan orang yang sangat berarti dan dicintainya, begitu juga dengan Ryeo Wook. Eun Hyuk tahu itu, dan dia baru saja membuat kesalahan besar. Sedetik berlalu, kemudian Ryeo Wook terlihat beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan lima orang yang kini tengah menatapnya.

Ia berjalan pelan menuju pintu depan dan mendapati Si Won bersandar di dinding. Ekspresinya terlihat terkejut dan tatapannya lemah menatap Ryeo Wook. Ryeo Wook sendiri hanya tersenyum sekilas lalu tanpa mengatakan sepatah katapun berlalu dari hadapan Si Won.

Dan ketegangan di dorm itu berlanjut bahkan masih terasa ketika Ryeo Wook sudah meninggalkan dorm. KyuHyun serta Eun Hyuk masih diam membeku di tempatnya. Keduanya terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara Siwon terlihat sudah bergabung dengan kelima orang itu.

“Kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan?” tanya Henry membuka suara.

Kelima orang itu masih terkejut hingga tidak ada yang menjawab, meskipun satu-satunya yang paling terkejut di sini adalah Eunhyuk, dan mungkin juga Kyu Hyun. Karena bagaimanapun juga dua orang itulah yang merencanakan dan berperan langsung dalam sandiwara konyol ini. Sedangkan Eun Hyuk, dia adalah orang yang paling bersalah karena ide gilanya itulah, dia membuat sahabatnya menderita, dan mungkin saja kesalahaanya ini tidak akan dimaafkan dengan mudah.

“Kita harus membuat mereka bersatu lagi, benarkan?” Kyu Hyun membuka suaranya. Terlihat sekali dia juga tidak sanggup memikirkan apapun.

“Bagaimana dengan Min Rin? Apa dia sudah tahu?” kali ini Zhoumi yang bertanya.

Dan itulah permasalahan yang sejak tadi dipikirkan Eun Hyuk. Keadaan gadis itu pasti tidak baik-baik saja sekarang. Dan semua itu karenanya.

“Mungkin dia sedang bersama Dong Hae hyung,” jawab Kyu Hyun.

Tepat saat itulah pintu dorm yang sejak tadi tertutup sejak sepeninggalan Ryeo Wook, kembali dibuka. Kali ini Lee Dong Hae yang masuk dengan ekspresi yang sama dengan kelima orang yang sejak tadi duduk saling berhadap-hadapan. Ia melangkah pelan menghampiri mereka.

“Dong Hae-ya? Bagaimana gadis itu?” tanya Eun Hyuk langsung. Ia yang paling merasa bersalah pada dua orang itu dan ia jugalah yang paling khawatir dengan keadaan Minrin.

“Apa dia baik-baik saja?” tanya Si Won yang sejak tadi diam.

Dong Hae mendudukkan diri di samping Kyu Hyun dan mulai menyenderkan kepalanya yang sejak tadi terasa berat, “apa menurutmu dia akan baik-baik saja setelah mendengar kekasih hatinya memutuskan menikah dengan wanita lain?” Dong Hae balik bertanya dan langsung ditanggapi oleh yang lain dengan gelengan kepala serta helaan nafas lemah.

“Masih mending dia mau aku ajak pulang, kalau tidak entah apa yang akan dilakukannya. Jangan khawatirkan Min Rin, aku sudah berpesan pada Chany untuk menjaganya, paling tidak sampai kita meluruskan kesalahpahaman ini pada Ryeo Wook,” lanjutnya kemudian

“Itu benar. Kita harus meluruskan masalah ini.”

 

***

21.56 KST

Gadis itu masih berbaring di atas tempat tidurnya. Sebuah bantal digunakannya sebagai penutup kepala untuk meredam isakan tangisnya. Ya.. tangisnya pecah untuk pertama kalinya karena pria itu. Benar-benar sakit, seperti beribu-ribu jarum yang menusuk tepat di dadanya dan membuatnya sulit untuk bernapas. Ia tidak pernah merasakan hal sesakit ini sebelumnya. Apa yang terjadi persis seperti yang dikhawatirkan, bahkan lebih buruk. Tidak hanya berpisah tapi ia bahkan harus bersiap kehilangan pria itu, merelakannya untuk orang lain. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa dilakukannya selama ini.

Seharusnya ia tidak menyetujui ide konyol untuk mengerjainya. Seharusnya ia langsung menemui pria itu dan menjelaskan semuanya, benarkan? Tapi ia tidak bisa melakukannya, karena penjelasannya juga tidak akan mengubah keputusan pernikahan mereka bukan? Ya.. pernikahan. Kata itu terasa menyayat hatinya, mengoyaknya dan mengahancurkan. Sebuah kata yang dulu selalu diucapkan Ryeo Wook untuknya, dan sekarang kata itu sangat menghancurkan.

Air matanya menetes pelan lagi. Dipejamkannya mata kuat-kuat untuk mengatur deru nafasnya. Dan ketukan pintu kembali terdengar untuk ketiga kalinya sejak Min Rin mengusir Chany dari kamarnya satu jam yang lalu.

Eonnie, boleh aku masuk?”

Min Rin menoleh sebentar ke arah pintu kamarnya yang tertutup rapat. Ia hanya ingin sendiri, tidakkah Chany mengerti itu? Ia butuh berpikir dan ia butuh mempersiapkan hati serta mentalnya sebelum keluar dari kamar ini dan mengucapkan selamat atas pernikahan RyeoWook. Ia harus baik-baik saja sebelum bertemu pria itu. Tapi ternyata usahanya sia-sia. Ia tidak sanggup melakukannya.

Eonnie, kau belum makan sejak tadi siang. Keluarlah dan kita makan bersama.”

Suara Chany kembali terdengar, kali ini lebih khawatir dari pada sebelumnya. Ya.. ia melewatkan makan siangnya tadi, dan sekarang sudah hampir jam 10 malam yang berarti ia juga melewatkan makan malamnya. Lalu mendadak dirasakannya rasa perih di perutnya. Ia bangkit dari posisinya dan berjalan pelan menuju pintu kamarnya.

Klek!

Dilihatnya Chany tersenyum lega begitu melihatnya. Meskipun Min Rin yakin penampilannya sangat buruk saat ini. Rambut yang acak-acakan, mata sembab karena menahan tangis dan ekspresi wajah yang datar.

Kajja…,“ Chany menarik lengan MinrRn pelan dan mengajaknya ke meja makan.

Ia hanya menurut. Tubuhnya sudah seperti robot yang dikendalikan. Ya.. memang seperti itulah sejak tadi. Sejak Dong Hae mengantarnya pulang, ia sudah seperti ini. Semua anggota badannya terasa kebas dan satu-satunya yang ia rasakan adalah perih di dadanya. Setiap kali rasa menusuk itu hadir, ia hanya bisa meneteskan air matanya.

“Kau baik-baik saja?”

Min Rin hanya diam dengan tatapan mata lurus pada meja makan, Tidak ada lagi air mata tapi bukan berarti ia baik-baik saja. Ia tidak baik-baik saja. Tentu saja ia tidak dalam keadaan yang baik saat ini. Ia menunduk saat dirasakan tusukan itu kembali terasa.

Tiga tahun ia menghabiskan waktu bersama pria itu, dan sekarang ia harus rela melepaskan pria itu. Apa yang harus dilakukannya? Bagaimana ia akan menjalani hidupnya setelah ini, tanpa pria itu? Bisakah ia melewatinya, bisakah ia bertahan tanpa seorang Kim RyeoWook yang selalu berada di sisinya?

“Tidak…,” lirihnya untuk pertama kalinya. Kepalanya masih menunduk lemah. Matanya kembali memanas ketika sekali lagi rasa sakit itu menderanya, tapi sekuat tenaga ia menahan tangisnya agar tidak pecah.

Ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia bukan gadis yang rapu. Namun sayangnya usaha itu sia-sia karena keadaannya sekarang bahkan jauh lebih buruk dari kata rapuh. Bukan lagi rapuh, seperti kaca yang hampir pecah tapi kaca itu bahkan sudah pecah berkeping-keping. Ia kehilangan salah satu bagian yang menompang keutuhan kaca itu. Dan ini adalah kali pertamanya ia merasa seperti itu. Kehilangan bagian terpenting yang menompangmu selama ini ternyata sangat menyakitkan. Ia tidak lagi seimbang seperti sedia kala saat satu bagian yang selama ini membuatnya berdiri tegak tiba-tiba menghilang. Ia limbung dan hampir terjatuh.

Kali ini Chany hanya bisa menatap eonnienya itu dengan prihatian. Sesulit itukah seorang Shin Min Rin bertahan tanpa Kim Ryeo Wook? Ya.. Chany tidak pernah menyadarinya selama ini bahwa eonnienya sangat mencintai pria itu, bahwa kebutuhan eonnienya itu terlalu besar akan seorang Kim Ryeo Wook. Dan sekarang setelah pria itu pergi darinya, Chany melihat betapa rapuhnya seorang Shin Min Rin. Untuk pertama kalinya ia melihat Shin Min Rin menangis seperti ini.

Eonnie-ya, kurasa kesalahpahaman ini harus diakhiri. Temui dia dan bicaralah padanya, katakan bahwa eonnie tidak sungguh-sungguh ingin berpisah.”

Min Rin mendongakkan kepalanya dan menatap Chany. Bekas-bekas air mata membuat matanya menjadi sembab dan ia tahu wajahnya sangat menyedihkan saat ini.

“Tapi pada akhirnya aku tetap akan kehilangan orang itu. Meskipun aku mengatakan ini semua hanya sandiwara, tapi Ryeo Wook akan menikah dengan gadis lain,” Min Rin menyahut lemah. Dan rasa getir kembali melandanya saat mengatakan tentang pernikahan pria itu dengan seorang gadis yang dijodohkan orang tuanya.

“Pernikahan itu baru sebuah rencana eonnie. Jika dia tahu ini semua sandiwara untuk mengerjainya, aku yakin dia akan berpikir ulang untuk menerima perjodohan itu. ”

“Kau tidak mengerti Chany-ah, aku tidak mungkin membuat pernikahan yang sudah direncanakan dua keluarga dibatalkan begitu saja. Aku tidak akan melakukannya,” Min Rin menundukkan lagi kepalanya dan menggeleng pelan. Ya.. ia tidak mungkin melakukan itu, meskipun jika ia boleh egois ia akan membuat pria itu kembali padanya.

“Kalau begitu bersikaplah egois. Sekali-kali bersikaplah egois untuk kebahagianmu dengan pria itu,” sahut Chany cepat dengan nada agak kesal.

Minrin mendongakkan kepalanya lagi menatap Chany. “Jika eonnie tidak mau bertemu dengannya, maka aku yang akan menyeret eonnie ketempatnya, dengan atau tidak persetujuanmu. Jika bukan untuk kebahagian, maka pikirkan ini untuk menembus rasa bersalah eonnie padanya,” katanya menyemangati.

Gadis itu tidak ingin melihat eonnienya terpuruk seperti ini karena cintanya pada Kim Ryeo Wook. Bahkan jika harus bersikap egois dan membuat pria itu kembali pada Min Rin, maka dengan senang hati Chany akan mengajari eonnienya itu untuk bersikap egois. Jika dengan begitu eonnienya bisa bisa hidup dengan normal lagi, maka ia akan melakukanya.

“Chany-ah…”

“Kau harus memperjuangkan cintamu itu, benarkan? Berhentilah menangisi keadaan ini dan lakukanlah sesuatu. Semua hanya kesalahpahaman dan aku masih sangat yakin bahwa pria itu masih sangat mencintaimu.”

Min Rin diam mendengarkan ucapan Chany yang seperti memberinya semangat. Semua yang dikatakan Chany itu benar. Tapi bagaimana jika kenyataannya ia tetap akan kehilangan pria itu?

***

 

June 21st 2014

02.26 KST

Suasana di dorm Super Junior sama tegangnya seperti kemarin sore. Seharusnya setelah hari ini terlewatkan, semua sandiwara ini akan dibongkar tapi jika keadaannya sudah seperti ini rasanya rencana semula memang sudah gagal sejak awal. Bahkan sampai detik ini pun kesalahpaham karena masalah sepele ini belum juga menemukan titik terang. Eun Hyuk maupun Kyu Hyun sama sekali tidak punya kesempatan untuk bicara pada Kim Ryeo Wook. Pria itu tiba-tiba saja tidak diketahui dimana keberadaannya sejak terakhir kali keluar dari dorm ini. Ryeo Wook memang punya jadwal siaran sukira, tapi sekarang hampir jam setengah tiga pagi, jadi tidak mungkin dia sengaja berlama-lama di KBS. Ponselnya tidak aktif dan sampai sekarang sama sekali tidak ada tanda-tanda akan pulang. Sikapnya itu semakin membuat Eun Hyuk frustasi. Beberapa kali Eun Hyuk mondar-mandir di ruang tengah dorm. Sesekali mengecek ponselnya dan setiap lima menit bertanya pada member lainnya.

“Apa dia masih tidak mengangkat teleponnya?” tanyanya pada Kyu Hyun yang baru saja mencoba menghubungi Ryeo Wook kembali. Kyu Hyun menggeleng dan melemparkan ponselnya ke sofa yang langsung membuat Eun Hyuk menghela nafasnya.

“Mungkin dia sedang bersama teman-temannya,” Si Won bergumam menjawab pertanyaan Eun Hyuk. “Kurasa dia baru saja meng-update SNS nya, lihat saja…,” Si Won menyerahkan iphone nya pada Eun Hyuk yang memperlihatkan beberapa status SNS terbaru Ryeowook yang sedang merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya lengkap dengan foto-foto mereka yang tengah berkumpul.

Eun Hyuk berdecak singkat lalu kembali menyerahkan iphone itu pada Si Won dengan kesal. Bagaimana mungkin orang itu dengan santainya berpesta bersama teman-temannya sementara dia sendiri baru saja membuat sebuah keputusan besar yang berujung pada rasa sakit pada kekasihnya? oh well atau mungkin mantan kekasih sekarang.

“Bagaimana dengan Min Rin?” tanyanya. Kali ini beralih pada Dong Hae yang sedang membalas pesan dari Chany.

Dong Hae diam sebentar lalu meletakkan ponselnya di atas meja, “gadis itu mungkin masih mengurung diri di kamarnya kalau saja Chany tidak memaksanya untuk keluar,” jawabnya.

Eun Hyuk menunduk sebentar. Separah itukah keadaan sahabatnya itu? Entah kenapa ia menjadi sangat khawatir. Setahunya, Shin Min Rin tidak pernah seperti itu sebelumnya. Ia cukup tahu itu meskipun seburuk apapun masalah yang menimpa gadis itu, dia akan tetap berusaha terlihat baik-baik saja.

Keheningan tercipta sebelum akhirnya pintu dorm terbuka dan memperlihatkan Kim Ryeo Wook, satu-satunya orang yang dinanti semua orang di dorm ini. Pria itu masuk dengan santai, melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah lalu berjalan melewati member super junior yang tengah memperhatikannya.

“Kau baru pulang?” tegur Sung Min yang akhirnya berhasil menghentikan langkah kakinya.

Ryeo Wook menoleh dan mengangguk singkat pada Sung Min, lalu matanya beralih pada member lainnya, “ada urusan yang harus aku selesaikan tadi,” ujarnya menjawab tatapan mata tidak percaya semua member yang mengarah padanya. Ya.. memang tidak biasanya ia pulang dini hari seperti ini padahal pekerjaannya sebagai DJ sudah berakhir satu setengah jam yang lalu.

“Maksudmu urusan itu adalah merayakan ulang tahunmu, benar kan? tidak bisa dipercaya kau bisa sebahagia itu setelah apa yang terjadi,” Eun Hyuk mendesis pelan, menyindir dengan halus Ryeo Wook yang kini melayangkan tatapannya.

Ryeo Wook tidak menggubris ucapan Eun Hyuk. “Kenapa kalian semua berkumpul?” tanyanya kemudian, lalu matanya kembali menatap semua member satu persatu dengan curiga. Hanya ada segelintir alasan untuk semua member berkumpul seperti sekarang ini, apalagi di saat dini hari seperti sekarang. Dan alasan yang masuk akal untuk saat ini adalah pengakuan Ryeo Wook kemarin sore tentang sebuah pernikahan.

“Kau pikir untuk apa kami berkumpul? Tentu saja untuk membahas rencana pernikahanmu. Kau yakin dengan keputusan itu?” tanya Kyu Hyun berhati-hati tapi juga tidak sabaran terdengar jelas dari nada biacaranya.

“Ryeo Wook-ah, ada yang harus kau ketahui dan kami berharap kau bisa memikirkan ulang tentang pernikahan itu,” Dong Hae menyela yang langsung mendapat perhatian penuh dari Ryeo Wook. “Sebelum kau menyesal, pikirkan lagi setelah kami mengatakan hal ini…,” lanjutnya.

Ryeo Wook menghela nafasnya lemah lalu berjalan pelan menuju satu-satunya sofa kosong di dekat Henry. Ia duduk di sebelah Henry setelah diberi ruang agak lebar oleh magnae SJ-M itu.

“Apa lagi yang ingin kalian katakan? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya. Lagipula kalian tidak seharusnya ikut campur dalam masalah pribadiku terutama mengenai seseorang yang ingin kunikahi nantinya,” jelas Ryeo Wook tenang tapi terselip nada kekesalan di sana.

Eun Hyuk yang mendengar nada kesal itu langsung berdecak singkat lalu memilih diam.

“Tapi kau tidak bisa seenaknya memutuskan itu. Bagaimana dengan Min Rin? Kau tidak memikirkan perasaanya?”

Ryeowook menoleh pada Dong Hae dengan cepat, “hyung, bukan aku yang memutuskan pergi tapi dia. Jadi, untuk apa aku memikirkan perasaannya lagi?” sahutnya tidak peduli.

Semuanya saling berpandangan. Sejak kapan seorang Kim Ryeo Wook berhenti memikirkan Shin Min Rin? Semua member juga tahu Ryeo Wook tidak pernah melakukannya kecuali pria itu benar-benar kecewa dengan gadis itu dan membuatnya tidak peduli dengan apapun yang terjadi pada gadis itu. Tanpa mereka sadari Ryeowook sudah berdiri dari tempat duduknya, menatap sekilas ke arah mereka kemudian berjalan menjauh meninggalkan semua member yang kini tengah memperhatikan kepergiaannya.

Yaa!! Kim Ryeo Wook..!!” Eun Hyuk tiba-tiba berteriak keras menghentikkan langkah kaki eternal magnae itu. Ryeo Wook berhenti sebentar lalu menoleh lagi, menatap semua orang dengan kesal, “kalian semua berhentilah mencampuri hidupku,” balasnya dingin lalu kembali melangkahkan kakinya.

 “Yaa.!!” Eun Hyuk yang sudah termakan emosi mendadak bediri dan berlari lalu menarik pundak Ryeo Wook, menyentakannya dengan sekali tarikan dan memaksa pria itu berbalik. “Mworago? Jangan mencampuri urusanmu?” Eun Hyuk mendesis pelan mengulangi ucapa Ryeo Wook lalu menarik kerah kemejanya dengan kasar,

“Yaa, Eun Hyuk-ah, kemanhae…,” Sungmin menyela berusaha menghentikkan tindakan Eun Hyuk yang seperti mengajak Ryeowook bekelahi. Tapi keduanya tidak sedikitpun menggubrisnya.

“Kau lupa apa yang pernah aku ucapkan padamu? ‘Jangan pernah menyakitinya atau aku akan membuatmu menyesal’,” ucap Eun Hyuk mengingatkan. Tatapannya menatap tajam ke arah  Ryeo Wook yang kini juga balas menatapnya dengan berani.

“Aku tidak lupa, hyung,” jawab Ryeowook tenang, “tapi dia yang bilang ingin mengakhiri ini semua, bukan aku,” lanjutnya sambil menyentakkan cengkeraman kuat di kerah kemejanya. yang semakin membuat Eun Hyuk geram.

Eun Hyuk sendiri tidak mau kalah, ia semakin menatap tajam kea rah Ryeo Wook mengepalkan tangannya dengan kuat bersiap untuk memukul. Nafasnya menderu dan rahangnya mengeras menahan amarah. Jika bukan karena Eun Hyuk sudah menganggap Ryeo Wook sebagai adiknya sendiri, sudah pasti ia melayangkan pukulannya. Ia hanya diam menahan amarah itu lalu sekali lagi melayangkan tatapan tajamnya pada Ryeowook. Kemudian ia pun memilih berbalik dengan cepat meninggalkan semua orang yang kini tengah berteriak menghentikannya.

Blaaammm!!

Suara pintu dorm yang ditutup dengan kekuatan berlebih karena emosi menggema di dalam dorm itu. Semuanya diam melihat Eunhyuk yang pergi dengan emosinya dan Ryeowook yang juga langsung pergi menuju kamarnya.

Eottokajji?”

Aissh, seharusnya Eunhyuk tidak perlu emosi begitu.”

“Karena Eunhyuk sangat mengkhawatirkan Minrin. Dia akan menjadi orang pertama yang maju saat gadis itu tersakiti,” Donghae bergumam pelan.

 

***

 

06.00 KST

Gadis itu berlari dengan tergesa-gesa melewati koridor di gedung apartementnya. Beberapa saat yang lalu ketika ia baru saja bangun dari waktu tidurnya yang hanya dua jam, ponselnya bordering nyaring. Ia berharap pria yang membuatnya menghabiskan berjam-jam untuk menangis yang menghubunginya tapi ternyata Lee Hyuk Jae. Sahabatnya itu berbicara tidak jelas di telepon dan mengatakan akan menunggunya di depan apartementnya. Itulah mengapa ia bergegas menuju apartement pribadinya begitu bangun dan di sinilah ia sekarang, di depan pintu apartement dengan Lee Hyuk Jae yang duduk bersandar pada pintu.

“Hyuk Jae-ya…,” panggilnya ragu. Pria itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum tipis saat melihat Min Rin berdiri di depannya dengan tatapan heran.

“Aku minta maaf…,” ujarnya

Sekali lagi Min Rin mengernyit heran tapi ia memilih untuk tidak bertanya ataupun membalas ucapan Eun Hyuk barusan. ia tahu maaf itu untuk apa. Bukankah seharusnya ia berteriak, memaki dan marah pada pria itu? Gara-gara ide konyolnya yang benar-benar gila, sekarang ia harus benar-benar berpisah dari Ryeo Wook. Tapi ah..sudahlah..entah kenapa ia tidak pernah bisa menyalahkan Lee Hyuk Jae. Ia sangat yakin sahabatnya ini sangat menyesal sekarang dan baginya itu cukup tanpa harus ada kata-kata makian yang terlontar untuknya.

“Aku tidak tahu akan seperti ini. Maafkan aku…,”

Min Rin kembali diam. Bagaimana pun juga ia tidak pernah bisa marah pada Lee Hyuk Jae. Kebalikannya, ia justru merasa kasihan. Apa yang dilakukan sahabatnya ini hingga bisa di depan pintu apartementnya sepagi ini dan dalam keadaan yang kacau? Apa karena penyesalan?

“Kau mabuk? Kenapa kau bisa ada di sini?” cecar Min Rin tiba-tiba. Bukan nada kesal namun justru nada khawatir yang terselip di sana.

Ani,” potong Eun Hyuk cepat sembari menggeleng, “kami bertengkar tadi dan aku memilih pergi daripada memukul wajahnya..,” Ia  terkekeh pelan, “kau pasti tidak ingin aku memukulnya kan?” lanjutnya sedikit berguarau.

Min Rin sedikit membelalakan matanya tidak percaya ketika mendengar ucapan Eun Hyuk tadi. Bertengkar? Astaga, kenapa semua jadi seperti ini? Selama ini ia tidak pernah melihat pertengkaran yang terjadi antara mereka berdua –Lee Hyuk Jae dan Kim Ryeo Wook-. Meskipun kadang Ryeo Wook akan cemburu pada Eun Hyuk yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengannya, tapi setahunya mereka berdua tidak pernah bertengkar.

 “Wae…?”

“Karena dia menyakitimu,” jawab Eun Hyuk pelan.

“Kau memukulnya?” tanya Min Rin lagi, kali ini khawatir jika mereka berdua saling melukai.

Eun Hyuk mendongak lagi, “kau khawatir padanya?” ia balik bertanya dengan tidak percaya.

Ne, aku khawatir padanya,” Min Rin menjawab dengan tegas hingga akhirnya justru membuat Eun Hyuk terhenyak sebentar. Lalu tidak berselang lama pria itu justru terkekeh lagi, “Aigoo…tentu saja kau mengkhawatirkannya. Tenang saja, kami tidak saling memukul,” lanjutnya kemudian.

Min Rin menghela nafas lega tapi hanya bisa diam. Ia khawatir pada pria yang telah membuatnya menangis sejak kemarin. Benar-benar bodoh! Begitu berartikah Kim Ryeo Wook untuknya? Ya sayangnya dia sangat berarti, hingga Min Rin rasanya tidak bisa jika tidak ada dia.

“Kau menangis sejak kemarin? Kau baik-baik saja?” tanya Eunhyuk kemudian menyadarkan Min Rin dari pikirannya yang tiba-tiba dipenuhi oleh Ryeo Wook.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya meyakinkan, “ayo masuk! Kau tidak akan membuat tetanggaku bertanya-tanya karena melihatmu di sini kan?” lanjutnya bergurau. Ia benar-benar berusaha bersikap biasa dan tidak menunjukkan kerapuhannya pada Eun Hyuk. Meskipun ia tahu sahabatnya itu bisa menebak dengan sangat mudah hanya dengan sekali melihat. Kenyataannya sejak kemarin ia memang tampak buruk. Dihelanya nafas keras lalu beralih memasukkan digit password begitu Eun Hyuk berdiri dan sedikit menyingkir dari pintu. Pria itu tetap berdiri di belakang Min Rin hingga akhirnya pintu apartement itu terbuka.

Setelah mengganti sepatunya dengan sandal rumah, Min Rin pun berjalan mendahului. Tangannya meletakkan tas selempangannya di atas sofa lalu entah kenapa rasa sakit itu kembali menderanya. Kedua matanya memanas tiba-tiba. Ia menunduk dan hanya bisa memejamkan matanya, menghalau kuat-kuat rasa sakit yang kembali menyerang dadanya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Eun Hyuk lagi memastikan. Pria itu memperhatikan punggung Minrin yang kini sedikit bergetar. Menyadari jika mungkin saja sahabatnya itu sedang menahan kuat perasaan nya yang hancur, Eun Hyuk pun berjalan pelan mendekat, dirangkulnya pundak gadis itu dan menepuknya pelan berusaha menenangkan emosinya yang bergejolak. Eun Hyuk menoleh dan mendapati gadis itu sudah menangis dalam diam.

“Aku sungguh minta maaf…,” ujar Eun Hyuk sekali lagi. Ia merasa benar-benar menjadi orang yang sangat jahat. Demi apapun sejak dulu ia selalu berjanji membuat sahabatnya ini bahagia, melindunginya dan menjadi sandaran untuknya tapi sekarang ia sendiri yang telah membuat gadis ini hancur.

Min Rin tidak merespon. Air matanya masih menetes dan ia pun lantas berbalik, memeluk Eun Hyuk, meminta perlindungan dari pria itu. Ia butuh sandaran dan ia berharap masih bisa menemukannya pada diri Eun Hyuk.

“Aku ingin melupakannya. Aku ingin melupakannya mulai sekarang…” bibirnya berucap pelan dengan sisa-sisa air mata yang kadang masih menetes. Ia sudah memikirkan ini sejak semalam. Ya..satu-satunya yang nyata yang harus dilakukannya adalah melupakan pria itu, melupakan semua hal yang pernah mereka lakukan bersama dengan begitu mungkin saja ia bisa merelakan pria itu untuk gadis lain dan melihatnya bersama gadis lain itu dengan senyuman.

Eun Hyuk hanya diam dengan tangan menepuk pelan punggung gadis itu. Tidak ada satupun kata yang bisa diucapkannya untuk membalas permintaan Min Rin tadi. Nyatanya ia tidak ingin sahabatnya ini melupakan semua kenangan indahnya bersama Ryeo Wook. Kenapa? Karena ia yakin melupakan bukan jalan yang akan membuat Minrin bahagia tapi justru mungkin akan memberikan rasa sakit yang lebih dibandingkan sekarang.

“Kau tidak perlu melupakannya. Jika dia memang orang yang akan berada di sisimu, dia pasti akan kembali padamu.”

Min Rin semakin menenggelamkan kepalanya di dada sahabatnya itu, berharap dengan begitu bisa mengurangi rasa sakit di hatinya. Ia tidak pernah menyangka akan sesakit ini ketika berpisah dengan Ryeo Wook. Sekarang ia justru menyesal karena tidak pernah mengatakan sebanyak apa ia mencintai pria itu dan menginginkan pria itu selalu di sisinya. Kesempatan itu bahkan sudah tidak ada lagi.

 

***

At Super Junior’s Dorm

06.56 KST

Eun Hyuk baru saja pulang ketika mendapati Ryeo Wook duduk di salah satu sofa yang tengah menatapnya serius. Eun Hyuk sendiri tidak terlalu peduli dan memilih berlalu begitu saja masuk ke kamarnya tanpa sedikit pun bersusah payah menyapa pria itu. Emosinya masih terlalu menguasai setiap kali melihat Ryeo Wook, jadi lebih baik menghindar bertatap muka dengannya dari pada meluapkan emosinya yang bisa meledak kapan saja dengan memukul wajah pria itu. Sesuatu yang tentu saja akan membuat Min Rin khawatir.

Langkah kakinya melambat ketika ia teringat sesuatu. Beberapa jam yang lalu ia menyuruh Min Rin untuk tidak melupakan Kim Ryeo Wook, tapi ternyata ia sendiri yang justru semakin memperparah keadaan. Lalu dengan sedikit meredam emosinya, Eun Hyuk pun menghentikkan langkah kakinya.

“Aku tidak akan memberikan kesempatan kedua, kau tahu itu kan?” ucapnya pelan tanpa sedikit pun berbalik menghadap Ryeo Wook yang kini hanya menatap punggungnya dengan bingung.

Arra…,” jawab Ryeo Wook lemah. Pria itu kembali diam. “Hanya saja ada sesuatu yang harus kalian ketahui…,” ia berdehem pelan kemudian beranjak berdiri.

Eun Hyuk menoleh, memasang ekspresi dingin dan benar-benar berniat akan melayangkan pukulannya jika Ryeo Wook mengucapkan hal-hal lain yang akan menyakiti perasaan Min Rin.

“Kau tahu bagaimana keadaannya? sangat buruk dan  au ingin membuatnya tampak lebih buruk lagi?” seru Eun Hyuk dengan nada tinggi yang sejak tadi ditekannya.

Ani…tidak…maksudku bukan itu,” Ryeo Wook menggeleng lalu hanya bisa mendesah pelan mengingat ketidakmampuannya untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Well, setidaknya ia berusaha menjelaskan.

Eun Hyuk melihat perubahan sikap itu. Pagi tadi sikap itu masih sangat egois dan keras kepala dan sekarang ia melihat bagaimana Ryeo Wook terlihat bingung menentukan sikapnya. Ia mengernyit.

Hyung, kau harus membantuku,” ucap Ryeo Wook kemudian memohon yang semakin membuat Eun Hyuk menatapnya tidak mengerti.

“Ini tidak seperti yang kalian kira….”

 

***

 

Min Rin tidak tahu ia akan melewatkan hari spesial pria itu dengan berdiam diri di apartementnya seperti ini. Semua benar-benar kacau dan ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia terlihat sangat kacau sedangkan pria itu terlihat lebih baik dari perkiraannya, bahkan sangat baik dengan menikmati waktu kebersamaannya bersama teman-temannya dari musical untuk merayakan ulang tahunnya. Sesuatu yang tidak diduga Min Rin sebelumnya bahwa Ryeo Wook akan melakukan semua itu padanya. Tidak ada penjelasan apapun dari pria itu tentang rencana pernikahan yang dilontarkannya pada membernya, dan dia bahkan terkesan tidak peduli lagi dengan alasan dibalik Min Rin meminta berpisah.

Ia menghela nafasnya lemah, lalu meraih beberapa lembar tugas kuliahnya yang memang minta untuk dikerjakannya. Beruntung sekali sejak kemarin ia memang sedang menyiapkan suatu acara besar di kampusnya, jadi ia tidak terlalu sulit melewatkan hari ini. Belum lagi setumpuk tugas yang harus dikumpulkan sebelum minggu depan berhasil membuatnya tampak lebih baik. Setidaknya ia berhasil melakukannya meski hanya sebentar, karena pada akhirnya ia akan teringat kembali dengan masalah yang membuat kepalanya benar-benar berdenyut serta hatinya menjerit frustasi.

 

***

 

June 22nd 2014

20.00 KST

Satu hari kembali berlalu dan tidak pernah disadari Min Rin kondisinya akan separah ini. Baru dua hari ia menjalani hidupnya tanpa pria itu dan semuanya benar-benar terasa berbeda. Selama ini Ryeo Wook memang tidak selalu menemuinya, dia bahkan kadang tidak menghubungi Minrin beberapa minggu, tapi semua itu masih lebih baik karena setidaknya Min Rin tahu pria itu masih ada untuknya, setidaknya pria itu masih miliknya. Sedangkan sekarang ia menyadari betapa hidupnya bisa berubah menjadi sangat menyedihkan saat pria itu tidak lagi berada di sampingnya. Ia terjatuh dan benar-benar sakit.

Ponselnya berdering untuk kedua kalinya dan sama seperti sebelumnya, Min Rin tidak berniat mengeceknya. Ia tidak peduli. Sekali lagi ia mendesah, kedua matanya menatap lurus pada televisi layar datar yang kini tengah menayangkan program favouritenya yang tentu saja tidak lagi menarik untuknya. Ia berusaha selama satu hari terakhir untuk menata ulang hidupnya yang mendadak hancur tapi usahanya sama saja. Ia menghabiskan waktunya menonton kembali drama-drama favouritenya, mendengarkan lagu-lagu bernuansa beat atau sekedar menyibukkan diri dengan setumpuk tugas kuliahnya. Ia berhasil melakukannnya tapi nyatanya ia kembali merasakan rasa sakit itu setiap kali berdiam diri seperti ini, atau saat ia tidak sengaja mengingat tentang pria itu.

Beep!

Ia menoleh ketika ponselnya berdering untuk ketiga kalinya. Kali ini sebuah pesan singkat yang akhirnya menarik perhatiannya. Kedua matanya menyipit sebentar ketika melihat deretan tulisan di ponsel layar sentuhnya dan saat itu jugalah jantungnya berdetak hebat.

-Park Hye Hyo0-

Apa kita bisa bertemu? Ada yang harus aku katakan pada eonnie. Aku menunggumu di tempat biasa.

Min Rin diam sebentar, mencerna baik-baik maksud pesan yang Hye Hyo kirimkan. Gadis itu tidak akan mengatakan ingin bertemu jika bukan sesuatu yang penting yang harus dikatakannya. Min Rin mendesah lagi, ditariknya nafas panjang lalu dihembuskannya dengan lemah. Ia tidak ingin terlalu memikirkan dan mungkin sedikit berjalan-jalan di luar akan membuatnya lebih baik.

***

 

Gadis itu meremas erat tangannya dengan sesekali memandang ke arah pintu dengan penuh harap. Gadis itu, Park Hye Hyo sudah menunggu selama hampir setengah jam sejak ia meminta bertemu dengan Shin Min Rin. Ada sesuatu yang harus dikatakannya dan juga diluruskannya.

Tarikan nafas lega menjalar begitu saja ketika melihat Min Rin membuka pintu café ini dengan pelan. gadis itu mengenakan blus besar berwarna putih dan dipadukan dengan celana jeans serta sepatu kets. Benar-benar penampilan milik Shin Min Rin. Tapi ada yang berbeda dengan eonnie satu groupnya itu, dan Hye Hyo menyadari apa yang telah terjadi padanya. Sebuah kacamata hitam melekat sempurna menutupi matanya yang mungkin sedikit bengkak.

“Hye Hyo-ah…” Minrin memanggil pelan ketika tiba tepat di depan Hye Hyo. Ia tersenyum lalu segera duduk di kursi kosong tanpa sedikitpun melepas kaca matanya.

Hye Hyo balas tersenyum lalu berdehem pelan. ia tidak pernah merasa segugup ini berhadapan dengan Min Rin. Tidak kecuali karena kesalahan yang sudah dibuatnya tanpa sengaja.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Min Rin akhirnya.

“Aku tidak tahu apa aku bisa mengatakan ini sekarang, tapi percayalah aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya…,” Hye Hyo menjawab ragu. Digigitnya bibir bawahnya hingga membuat Min Rin mengernyit heran.

“Sebelum eonnie melontarkan protesmu, aku akan mengatakan lebih dulu bahwa aku dan yang lain berencana membuatmu bertemu dengan Kim Ryeo Wook. Tidak peduli jika eonnie akan menolaknya, tapi aku tetap akan melakukannya,” lanjut Hye Hyo mendadak sangat yakin.

Sedangkan Min Rin hanya bisa membulatkan matanya tidak terima. Gadis itu sudah beranjak berdiri dari tempat duduknya bahkan sebelum Hye Hyo berhasil membuatnya menyetujui permintaannya tadi. “Tidak…kemanhae! Kalian tidak seharusnya mencampuri urusanku yang satu ini. Aku bisa mengatasinya sendiri. Lagi pula semua sudah berakhir dan kurasa memang seperti ini lebih baik.”

Lalu setelah itu Minrin meraih tasnya hendak pergi sebelum Hye Hyo bergerak cepat menahan lengannya, “kumohon, sekali ini temui dia lalu setelah itu semua keputusan ada di tangan eonnie. Kami tidak akan ikut campur lagi.”

“Apa Lee Hyuk Jae yang menyuruhmu melakukan ini?” tanya Min Rin kemudian sembari menyipitkan matanya yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh Hye Hyo dengan jelas. Hye Hyo menggeleng pelan lalu hanya bisa mendesah lemah. Tatapannya memohon pada Min Rin.

Min Rin melepaskan tangan Hye Hyo yang menahan lengannya lalu menghela nafasnya keras, “Hyo-ah, kemanhae..aku sudah punya keputusanku sendiri,” ucapnya.

“Keputusan melepaskan pria yang amat eonnie cintai? Jinjja? Kau tidak ingin bahagia? Astaga…!!” Hyehyo sedikit mendecak dengan berteriak yang langsung membuat beberapa orang mengarahkan pandangannya pada mereka berdua.

“Hyo….”

“Kumohon, jangan membuatku semakin bersalah karena masalah ini, eonnie-ya…,” Hye Hyo sekali lagi memohon, kali ini kembali membuat Min Rin mengernyit. Semakin bersalah?

Mwo? Apa maksudmu?”

 

***

 

At Super Junior’s dorm

21.57 KST

“…aku tidak benar-benar melakukannya. Itu semua hanya sandiwara,”

Sebuah suara terdengar jelas dari ruang tengah oleh Min Rin hingga membuat gadis itu mendadak menghentikkan langkah kakinya tepat di depan pintu dorm yang kini sudah kembali tertutup. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Ia melirik pada Hye Hyo yang berdiri di sampingnya. Gadis itu hanya tersenyum tipis, ada ketakutan yang ditangkap Min Rin dari tatapannya.

“Tidak ada pernikahan seperti yang kalian pikirkan, dan sama sekali tidak ada perjodohan. Jadi, kalian harus membantuku menjelaskan padanya,” suara itu kembali terdengar. Dan sungguh Min Rin mengenal betul siapa pemilik suara itu.

Seketika itu sebuah garis kejelasan ditariknya dengan sempurna.

“Ya, dia sudah menjelaskan semuanya sebelum kita bernagkat ke Taiwan kemarin,” sekarang giliran Eun Hyuk yang melanjutkan. Pria itu menoleh ke arah pintu tepat di mana Min Rin berdiri dengan tubuh menegang. “Min Rin-ya….,” gumamnya pelan.  Lalu semua orang di dorm itu yang semula sedang berdiskusi panjang lebar dengan pria bernama Kim Ryeo Wook yang memulainya akhirnya ikut menoleh pada Min Rin dan juga Hye Hyo.

Minrin diam sebentar, memperhatikan semua orang satu persatu, lalu tatapannya berhenti pada Ryeo Wook yang duduk di antara Eun Hyuk dan Sung Min. Ia menghela nafasnya keras, merasa kesal dengan situasi yang sebenarnya terjadi. Bagaimana mungkin ia bisa dibodohi seperti ini? Astaga..!

Mian, kami tidak bermaksud membohongi eonnie. Kau tahu…ini hanya salah paham,” ucap Hye Hyo kemudian. Minrin kembali meliriknya dan sungguh sangat kesal melihatnya.

“Apa aku benar-benar dibodohi? Astaga..aku berusaha membodohinya dan sekarang aku sendiri yang kalian bodohi?” teriaknya tidak terima yang langsung membuat semua orang diam. Hye Hyo menegang di tempatnya dengan tangan saling meremas.

“Tidak, kami tidak melakukan itu, eonnie….hanya aku dan Ryeowook,” Hye Hyo menghela nafasnya.  “Ryeo Wook tahu kalau kalian sedang mengerjainya, lalu ia meminta bantuanku dan aku menyetujuinya…”

Mwo…?” semua member termasuk Eun Hyuk yang baru pertama kali mendengar penuturan Hye Hyo langsung menatap gadis itu tidak percaya, “jadi, kalian berdua yang merencanakan ini?” tanya Eun Hyuk tidak percaya sambil menatap Hye Hyo dan Rye Wook bergantian.

Benar-benar tidak bisa dipercaya, karena rencana mereka gagal dan justru balik dibodohi. Awalnya ingin mengerjai Ryeowook dan sekarang mereka semua lah yang justru dikerjai.

Min Rin kembali menatap Hye Hyo lalu beralih pada Ryeo Wook, “jinjja… apa kau puas sekarang? Aku benar-benar tampak buruk hanya karena sandiwara bodohmu selama ini,” Min Rin berucap pelan dengan nada dingin karena rasa kesal yang menguasainya. Lalu tanpa mengucapkan apapun ia sudah berbalik, melangkah pergi meninggalkan ruangan dorm itu dengan tatapan bingung semua orang yang menatapnya.

 “Yaa, Min Rin-ya..!” teriak Kyu Hyun kemudian ketika melihat kepergian Min Rin.

“Kau tidak ingin mengejarnya? Kehilangan dia baru tahu rasa..!” Sung Min menyenggol lengan Ryeo Wook, menakut-nakuti pria itu yang kini masih duduk terdiam di tempatnya.

Yaa, Kim Ryeo Wook kau membuatnya menangis lagi, aku benar-benar tidak akan memberimu kesempatan kedua,” ujar Eun Hyuk.

Ryeo Wook menoleh sebentar pada Eun Hyuk. Untuk sesaat ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa. Sepertinya kali ini ia sudah keteraluan. Tapi kemudian sesuatu hal bahwa ia tidak ingin kehilangan gadis itu menyadarkannya. Ia bangkit lalu berlari mengerjar gadis itu yang mungkin saja tidak akan dengan mudahnya memaafkannya.

***

Langit itu akan hitam jika tidak ada bintang dan bulan yang menyinarinya. Dan masalah akan tetap menjadi masalah jika tidak ada yang berusaha menyelesaikannya. Min Rin menghela nafasnya lemah. Kepalanya menegadah ke atas, ke arah langit dengan bulan bersinar sempurna. Dirasakannya angin malam bertiup pelan menelisik dalam helai-helai rambutnya. Suasana di atap apartement dengan pemandangan indahnya langit dan kerlap-kerlip lampu kota Seoul memang selalu menjadi favouritnya. Ada rasa bahagia dan kelegaan tersendiri yang tidak bisa dijelaskannya. Satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah meneteskan air mata. Sungguh, ia menjadi sangat cengeng akhir-akhir ini. Bahkan saat sangat bahagia seperti ini ia hanya bisa menangis.

Ia tidak marah tapi hanya kesal. Dan ia hanya bisa meluapkan kekesalannya itu dengan pergi meninggalkan pria itu tanpa sedikit pun penjelasan. Padahal ada satu hal yang harus diingatnya dengan baik, satu hal yang membuatnya bernafas lega bahwa pria itu masih miliknya, setidaknya ia tidak perlu melepaskannya untuk orang lain sekarang ini.

“Min Rin-ya…,” sebuah suara memanggilnya. Suara yang memang diharapkannya akan hadir memanggilnya ketika ia berlari pergi tadi.

Min Rin menoleh, masih dengan tatapan dingin dan datarnya menatap Ryeo Wook yang kini berdiri beberapa langkah di depannya. Pria itu terlihat menarik nafasnya beberapa kali dan Min Rin bisa melihat rasa bersalahnya.

“Aku tidak bermaksud membohongimu, kau tahu…ini hanya sebuah lelucon,” ujarnya menjelaskan. Benar-benar terasa sulit untuk Ryeo Wook menjelaskan kesalah pahaman ini, ditambah lagi sikap Min Rin yang terlihat sangat kesal dan marah ketika di dorm tadi.

“Leluconmu keteraluan,” balas Min Rin singkat, “kau tahu bagaimana bodohnya aku satu hari ini? Aku seperti orang gila yang hanya bisa menangis, seperti robot yang hanya melakukan sesuatu jika diperintah….”

“Aku tahu…,” Ryeo Wook memotong cepat. Ia tidak bermaksud melakukannya.

“Dan dari mana kau tahu itu? Park Hye Hyo? Ahh..kalian berdua benar-benar hebat! kami yang awalnya ingin mengerjaimu justru dikerjai balik hanya oleh dua orang. Jinjja…!” Min Rin mendesis pelan lalu membuang mukanya ke samping.

“Min Rin-ya…,”

Min Rin diam. Matanya masih menatap ke arah Ryeo Wook. Hanya satu hari ia berpisah darinya tapi sungguh Min Rin sangat merindukan pria itu.

“Aku bilang akan melupakanmu, melepasmu untuk gadis itu tapi aku semakin terlihat buruk dan menyedihkan karena aku tidak bisa. Aku benci mengatakannya tapi…aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Jadi, jangan pergi dariku…,” Min Rin menundukkan kepalanya dan seketika itu perasaan lega memenuhi rongga dadanya.

Ryeo Wook hanya diam dan tidak merespon hingga akhirnya Min Rin kembali mengangkat kepalanya. Pria itu hanya tersenyum pada Min Rin. Lalu seakan waktu berhenti saat itu bagi Min Rin. Seakan detik ini adalah saat yang membahagiakan untuknya. Sudut bibirnya menarik senyuman lalu tanpa mampu ditahannya, ia pun berlari menghampiri Ryeo Wook dan menghambur dalam pelukannya. Gadis itu terlalu kencang berlari dan menggunakan tenaga yang terlalu kuat untuk memeluk Ryeo Wook hingga pria itu sedikit kehilangan keseimbangan. Beruntung, mereka tidak sampai terjatuh di atas lantai yang keras dan dingin dengan posisi yang tentu saja tidak menguntungkan untuk Ryeo Wook. Pria itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang dan punggung Min Rin lalu menenggelamkan wajahnya di leher gadis itu.

“Aku minta maaf…,” ujarnya pelan yang tentu saja membuat Min Rin kembali perasaan lega dan bahagia yang memenuhi rongga dadanya.

Itu semua hanya mimpi buruk dan ia baru saja terbangun dari mimpi buruk itu. Pria ini tetap miliknya dan masih berada di sampingnya. Dia tidak pergi pada gadis manapun dan Min Rin lega karenanya.

***

“Yaa, Lee Hyuk Jae… kau tetap akan mengabaikanku?” sungut Hye Hyo kesal saat untuk entah keberapa kalinya Eun Hyuk tidak peduli dengan kehadiran kekasihnya itu.

Pria itu sedang melancarkan aksi kesalnya karena rencananya gagal seratus persen dan justru ia sendiri yang ikut dikerjai. Semua itu tidak lepas dari peran Park Hye Hyo, salah satu orang yang menolak ide Eun Hyuk, Dong Hae dan Kyu Hyun mengerjai Ryeo Wook selain Chany tentu saja.

“Hyung, apa Ryeo Wook dan Min Rin belum kembali?” tanya Eun Hyuk pada Sung Min yang tentu saja semakin membuat Hye Hyo megerucutkan bibirnya kesal.

“Biarkan saja, kurasa mereka butuh waktu sendiri,” Sung Min menjawab asal. Tatapannya beralih pada Hye Hyo dan tentu saja membuatnya ingin tertawa saat gadis itu benar-benar terlihat uring-uringan. “baiklah, kurasa ada pasangan lain yang butuh waktunya sendiri juga,” lalu setelah itu Sung Min pun beranjak dari tempat duduknya. Bersikap seolah tidak peduli dan langsung berjalan pergi meninggalkan Eun Hyuk serta Hye Hyo.

Yaa, hyung eoddiya…?” seru Eun Hyuk yang tidak dijawab oleh Sung Min.

“Kurasa aku juga harus pergi,” Dong Hae satu-satunya yang tersisa di dorm ikut berdiri lalu mengikuti Sung Min.

“Dong Hae-ya…Yaa Lee Dong Hae-ya… kau juga pergi meninggalkanku dengan gadis ini?” Eun Hyuk berteriak kesal.

“Nikmati waktu kalian,” Dong Hae melambaikan tangannya dan sama sekali tidak peduli dengan teriakan Eun Hyuk padanya.

Dua orang itu sudah pergi keluar dari dorm dan hanya menyisakan Eun Hyuk serta Hye Hyo. Member lainnya memilih berkumpul di dorm lantai atas, sedangkan Ryeo Wook – Min Rin belum kembali sejak tadi, jadi di dorm ini hanya ada Eun Hyuk dan Hye Hyo.

Eun Hyuk menghela nafasnya lemah lalu diliriknya gadis itu yang duduk di ujung sofa . “Baiklah, aku minta maaf. Sudah kan? Kenapa kau bersikap seolah-olah aku tidak ada di sini ha?” sungut Hye Hyo akhirnya lalu melirik tajam kea rah Eun Hyuk. Kedua tangannya terlipat di depan dada dan menatap kesal.

“Hyo, kau mengacaukan semuanya. Semua benar-benar kacau karenamu,” Eun Hyuk ikut menatap kesal pada Hye Hyo. Gadis itu dengan seenaknya hanya tersenyum dan mengacuhkannya.“Seharusnya aku tidak pernah mengatakan rencana ini padamu. Aku tahu kau tidak pernah setuju. Wae?”

Hye Hyo melirik lagi pada Eun Hyuk, “aku tahu seperti apa Min eonnie itu, sebenarnya yang sudah lama bersahabat dengannya itu siapa? Aku atau kau? Kenapa aku justru mengerti gadis itu dibandingkan denganmu?”

“Jika tadi itu bukan sandiwara, jika Kim Ryeo Wook benar-benar mengira Min Rin eonnie ingin berpisah darinya, apa yang akan kau lakukan? Aku yakin kau akan menjadi orang yang paling bersalah, benarkan? Kau itu sama saja mempertaruhkan hubungan orang lain,” Hye Hyo melanjutkan dan Eun Hyuk hanya kembali mendesah. Well, itu benar.

“Bagaimana jika kau yang berada di posisi Ryeo Wook? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Hye Hyo lagi.

Eun Hyuk menoleh. Lagi dan lagi ia hanya bisa mendesah. Posisinya sudah seperti seorang terdakwa yang harus menghadapai pertanyaan jaksa yang menyudutkannya.

“Yang jelas aku tidak akan melakukan seperti yang dilakukan Ryeo Wook. Memangnya aku bodoh begitu saja mempertaruhkan hubunganku denganmu?” decak Eun Hyuk kemudian.

“Tepat seperti itu! Itulah yang seharusnya kau lakukan dengan tidak mempertaruhkan kelangsungan hubungan pasangan lain. Dasar bodoh…!” Hye Hyo mengangkat tangannya dan menjitak pelan kepala kekasihnya itu, membuat Eun Hyuk menatapnya tidak terima.

“Kenapa kau memukulku? Aisshh…!”

“Biar kau bisa berpikir lebih baik lagi sebelum bertindak.”

“Tapi itu tadi sakit, Hyo..!”

“Semua salahmu…!!” Hye Hyo tidak mau kalah.

“Bagaimana dengan Dong Hae? Kyu Hyun? Kau tidak memarahi mereka?” seru Eun Hyuk tidak terima karena hanya dialah yang harus mendapat amukan dari Hye Hyo sedangkan member lainnya yang terlibat justru bisa pergi dengan mudahnya.

“Oh…mereka sudah ada yang mengurus,” sahut Hye Hyo tidak peduli.

Aisshh, jinjja..!” Eun Hyuk mendecak lagi, “tapi tunggu dulu, seharusnya aku yang memarahimu kan? Kenapa justru kau yang marah padaku? Kau yang mengacaukan rencanaku dengan rencanamu itu,” Eun Hyuk menoleh lagi. Iya, benar. Seharusnya seperti itu kan?

Aisshh, kalau kau tidak melakukan rencana konyolmu aku juga tidak akan membantu Ryeo Wook,”

“Eiiyy, Park Hye Hyo apa yang kau lakukan juga sama saja mempertaruhkan hubungan orang lain,” sekarang giliran Eun Hyuk yang menjitak pelan kepala gadis itu dan membuatnya memejamkan matanya sebelah.

“Aissh, baiklah aku tahu aku juga salah. Aku sudah meminta maaf kan tadi?”

Eun Hyuk menghela nafasnya lalu mengangguk pelan. “Baiklah, kali ini kita berdua memang salah,” ucap nya mengalah.

 

***

 

Bulan di atas itu masih bersinar dengan terang meskipun beberpa awan tipis menghalangi sinarnya. Min Rin tersenyum sendiri memandang kea rah bulan itu. Bulan yang cantik, pikirnya. Dan sangat sempurna karena ia bisa menyaksikan betapa cantiknya cipataan Tuhan itu bersama pria yang kini duduk di sampingnya ini. Ia melirik sebentar pada Ryeo Wook yang kini tengah menggeser tubuhnya mendekat pada Min Rin, lalu melingkarkan lengannya di punggung gadis itu yang akhirnya membuat Min Rin bersandar di dadanya dengan nyaman.

“Kenapa kau melakukan itu? aku tidak mengerti bagimana kau bisa mengetahui rencanaku, tapi aku benar-benar merasa dibodohi,” Min Rin berujar pelan.

“Aku tahu kau benci perpisahan, jadi rasanya tidak mungkin kau melakukan itu. Awalnya aku pikir akan sangat menarik, tapi aku tidak menyangka akan seperti ini. Hye Hyo bilang kau tampak sangat buruk dan depresi…,”

“Aku tidak sedepresi itu,” ralat Min Rin cepat sembari memukul pelan pipi Ryeo Wook.

“Baiklah, tapi tetap saja kau menjadi luar biasa terpukul saat mengetahui aku akan menikah dengan gadis yang dijodohkan orang tuaku, benarkan?” Ryeo Wook membalas mencubit hidung Min Rin dan membuat gadis itu menyingkirkan tangan Ryeo Wook dengan kesal.

“Tidak juga, aku terlalu sibuk beberapa hari ini jadi tidak banyak waktu yang kupunya untuk memikirkan keputusanmu itu. Jadi, darimana kau tahu?” Min Rin kembali bertanya.

“Seseorang yang kukenal dan tahu kekasihku ini sedang menjalankan rencana bodohnya.”

“Seseorang? apa salah satu member dBrinds?” tanya Min Rin kemudian. Ia cukup yakin orang itu bukanlah member Super Junior, mengingat mereka jugalah yang memberikan ide gila ini. Jadi satu-satunya tersangka hanyalah salah satu dari member dBrinds atau mungkin saja…

Min Rin menoleh cepat pada Ryeo Wook dan menaikkan sebelah alisnya. “Seolma…,” ucapnya tertahan yang akhirnya hanya mendapat senyuman dari Ryeo Wook. Dan sekali melihatnya saja membuat Min Rin paham.

 “Aisshh, Shin Dong Geun awas kau..!!” desisnya tidak terima karena adik laki-lakinya itu baru saja membuatnya seperti orang terbodoh. Sial. Seharusnya ia tidak menceritakan pada adik laki-lakinya itu.

“Jangan memarahinya, aku tidak sengaja melihat pesan mu padanya saat menanyakan tentang keberadaanmu,” terang Ryeo Wook kemudian.

“Bagaimana kau bisa melihat pesanku di ponselnya? itu terdengar tidak masuk akal mengingat aku tidak menceritakan dengan jelas lewat pesan padanya. kecuali anak itu memang sengaja memberitahumu,” desis Min Rin yang akhirnya hanya membuat Ryeo Wook terkekeh.

“Baiklah, aku mengaku. Aku memang sedikit memaksanya untuk bercerita,” sahutnya lagi sambil masih terkekh yang semakin membuat Min Rin kesal.

Gadis itu diam setelahnya dan memilih menatap langit yang membentang luas. Ia tidak tahu bagaimana harus merangkai kata untuk mengungkapkan rasa bahagia yang dirasakannya.

“Jangan pernah melakukan itu lagi,” ujar Min Rin kemudian. Ia tersenyum sembari memainkan tangan Ryeo Wook yang ada di depannya.

“Sebanyak itukah kau mencintaiku?” balas Ryeo Wook

Mwo..?”

“Terima kasih. Tapi aku berharap kau tidak melakukannya Min Rin-ya,” ujar Ryeo Wook lagi yang kini membuat Min Rin mengernyit heran. Ia mendongak sedikit untuk melihat wajah Ryeo Wook.

“Waeyo?”

“Karena sebanyak itu lah kau akan sakit hati. Jangan mencintaiku sebanyak aku mencintaimu, karena jika kau melakukannya maka kau akan sangat sakit saat aku pergi nanti,” jawab Ryeo Wook pelan. Min Rin mengernyit lagi. Ia tidak mengerti. Apa maksud ucapan itu? Apa Ryeo Wook berencana pergi darinya?

“Kenapa kau mengatakan itu? Seakan-akan kau akan pergi meninggalkanku…,” Min Rin menggelengkan kepalanya pelan, memohon agar pria itu tidak pergi. Demi Tuhan, ia tidak sanggup berpisah darinya.

Ryeo Wook hanya tersenyum lalu tangannya bergerak membelai pipi gadis itu. Ia mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan dahinya di dahi Min Rin. “Jika kau sangat takut kehilanganku, kenapa kau tidak menemuiku dan mengatakan bahwa semua itu hanya sandiwara? Aku mungkin saja akan mengakhiri sandiwaraku jika kau datang,” ujarnya masih dengan posisi seperti itu.

Min Rin bisa merasakan sapuan hangat dari nafas Ryeo Wook di wajahnya. Ia tahu jantungnya berdetak terlalu berlebihan tapi sungguh ia menikmati debaran itu.

“Cinta bukan berarti membuat orang yang kau cintai tetap berada di sampingmu, tapi yang terpenting melihatnya bahagia dengan siapapun dia nantinya. Dan aku berusaha melakukan itu, siapapun orang yang akan membuatmu bahagia, dan dengan siapa kau akan hidup menua, maka aku akan bahagia. Itu caraku mencintaimu,”

Min Rin diam setelah mengatakan itu. Sungguh, ini pertama kalinya ia bicara seserius ini mengenai cinta. Ia tidak tahu dari mana ia mendapatkan kata-kata itu, tapi yang jelas seperti itulah yang akan dilakukannya. Ia berusaha tidak terlalu peduli jika nantinya Ryeo Wook tidak akan menikah, hidup bersama dengannya, tapi jika pria itu menemukan kebahagiaannya, maka Min Rin pun akan bahagai. Itulah caranya mencintai pria itu.

Ia melihat senyum lega dan juga menenangkan milik pria itu lagi. Lalu perlahan ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh permukaan bibirnya. Ia memejamkan matanya pelan saat sentuhan itu berubah melumat dengan pelan. Bulan dan bintang menyaksikan, bahkan langit yang membentang menyaksikan ketika mereka berdua hanyut dalam ciuman yang hangat dan mendebarkan.

“Aku lupa sesuatu…!” pekik Min Rin tiba-tiba yang langsung saja membuat Ryeo Wook menghentikkan niatnya mencium gadis itu lagi.

Mwo..?” tanyanya agak kesal tanpa sedikit pun melepaskan tangannya dipinggang dan tengkuk gadis itu.

“Tentu saja ulang tahunmu,” sahut Min Rin.

“Ulang tahunku sudah kemarin, kau lupa itu?” decak Ryeo Wook pelan lalu kembali memajukkan kepalanya berniat untuk mencium bibir gadis itu sekali lagi, tapi lagi-lagi gerakan tangan Min Rin yang menahannya menghentikan niatnya.

“Aissh, kau sih harus pergi ke Taiwan dan tetap saja membohongiku sampai hari ini. Aku jadi tidak bisa memberimu selamat ulang tahun, kan…,” gadis itu ikut berdecak.

“Apa itu penting?” sambung Ryeo Wook tidak peduli.

“Itu ulang tahunmu, Wook!” suara Min Rin meninggi. “Bagaimana mungkin aku tidak memberikan ucapan selamat ulang tahun pada kekasihku sendiri? itu tidak lucu… atau jangan-jangan kau tidak menginginkan ucapan ulang tahun dari kekasihmu ini?” Min Rin kembali kesal saat Ryeo Wook hanya terkekeh melihat kekesalannya itu.

“Baiklah, katakan apa yang ingin kau katakan,” ucap Ryeo Wook akhirnya. Ia tersenyum dan memberikan tatapannya pada gadis itu.

“Baiklah, selamat ulang tahun Kim Ryeo Wook,” ucap Min Rin kemudian. Ia balas tersenyum lalu meraih tangan Ryeo Wook dan menautkan jari-jarinya di sana.

“Doaku untukmu, hmm… semoga Kim Ryeo Wook selalu sehat dan menjadi seorang pria dewasa yang akan terus menyayangi abeonim, eommnim, dan orang-orang disekitarnya, semoga Super Junior Ryeo Wook semakin bersinar di sana, membawa kebahagian untuk fans dan terus menapaki tangga yang lebih tinggi bersama-sama dengan sukses,” Min Rin berujar lalu berpikir sejenak sementara Ryeo Wook hanya diam mendengarkan doa-doa yang diucapkan gadisnya itu.

“Semoga Dj Ryeok akan menjadi Dj yang akan selalu dinanti pendengarnya, membawa banyak kisah menginsiprasi untuk mereka, dan semoga actor musical Kim Ryeo Wook akan tetap berdiri di atas panggung itu bersama actor lainnya, menyentuh hati penonton dengan kemampuannya yang luar biasa dan tentu saja mendapatkan tempat di hati mereka.”

“Tetaplah menjadi orang yang seperti ini, jagalah kesehatanmu dan terus melangkah ke depan. Apapun yang akan kau pilih akan menjadi pilihan terbaik dalam hidupmu. Jadi hiduplah dengan bahagia,” Min Rin kembali tersenyum. Kedua matanya lembut menatap sepasang mata di depannya, melihat dengan seksama wajah yang kini sudah satu tahun lebih tua dari sebelumny.

“Hanya itu?” tanya Ryeo Wook kemudian yang membuat Min Rin mengernyit bingung.

“Yah..hanya itu, memangnya apa lagi?”

“Kau tidak mendoakan Kim Ryeo Wook yang akan selalu berada di sisimu?” tanyanya memastikan bahwa gadisnya itu melupakan sesuatu dalam doa-doa yang diucapkannya.

Min Rin berusaha menahan senyumnya yang tentu saja akan menimbulkan rona merah karena ucapan Ryeo Wook barusan. Ia tidak merespon dan hanya diam. Ya…ia berdoa untuk itu juga dalam hatinya. Ia berdoa agar pria ini akan tetap bersamanya, berada di sisinya dan selalu menggenggam tangannya seperti ini. Min Rin memajukan kepalanya dan mengecup bibir Ryeo Wook dengan sangat pelan. Ia memejamkan matanya sendiri dan menyalurkan perasaannya. Ia memang jarang mengatakan ini bahkan hampir tidak pernah tapi sungguh ia sangat mencintainya dan menginginkannya tetap berada di sampingnya, hidup bersama dengannya dan menua bersama.

“Tuhan, aku berdoa agar dia tetap berada di sini bersamaku..”

 

CUT

 

Fiiuuuhhhh!!!! Oneshoot terpanjang yang pernah saya buat, 10.000 ribu kata lebih.. astaga tidak bisa dipercaya…

Well, selamat ulang tahun Kim Ryeo Wook. ^^

Ehemmm… karakter Ryeo-Min di akhir cerita memang beda jauh dari karakter mereka. Sejak kapan mereka bisa beromantis ria seperti itu? Aigoo…. Tapi karena untuk Ryeo Wook yang sedang ulang tahun, aku berusaha buat mereka semanis mungkin hehe…

Sekali lagi Selamat ulang tahun Kim Ryeo Wook. Terima kasih sudah hadir di dunia ini, menjadi member super junior dan memberi warna baru dalam hari-hariku *?* terima kasih untuk jadi pairing Min Rin di ceritaku *ehh…ini apa lagi?* pokoknya terima kasih. We love you ❤

Redernim, jangan lupa tinggalkan komentar kalian ya… gomawoyo ^^ Bye….

 

Advertisements

11 thoughts on “(Ryeomin story: Ryeowook’s Birthday) I Can’t Let You Go

  1. Aigoo jdi ryeowook udah tau rencana yg d’buat minrin bwat kerjain dya trus dya blik kerjain minrin ..
    Tpi untung lahh gak sampe pisah bneran mreka duhh gak kbayang deh ..
    Endingnya sweet bangett ..
    Good job author ^^

  2. Yeayyyy eonni aku akhirnya bisa komen juga disini 😀
    Ceritanya keren. Aku kira awalnya mereka emg bakalan pisah, kasian juga. Si wookie ternyata iseng juga haha
    Soal panjang? Iya emg panjang eonn hehe
    Tapi endingnya ituloh…. so sweet deh haha

  3. ciaatt ciaatt rasakan hyukjae kyuhyun dan member lainnya yg udah iseng tingkat keterlaluan, ternyata malah balik di kerjain sama ryeowook muahahaha ryeowook’s acting skill is 10 points out of 10 xDD
    ahem ahem akhirnya so sweet so sweet menggelitik(?) ah such a refreshing story ^^ good job author-nim!

  4. Asli eonn deg degan baca part pas ryeowook blng di mau nikah sama cewe yg dijodohin ortu ya. Asli.parah. hehehe… Weh mereka ternyata yg dibodohi disini *tunjuk eunhye Kyu rin* hahaha…. Selamat kalian telah membuat minrin menjadi manusia bodoh yg meratapi nasibnya *tunjuk ryeohye* hahaha….
    Siiip lah eonn untuk ff special ryeowook day nya… Kece badai. hahaha…
    Ok eonn keep writing and fighting…

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s