(Fanfiction) #7 Bittersweet

bitterswet

Title                 : #7 Bittersweet

Author             : d’Roseed (@elizeminrin)

Cast                 : Shin Minrin, Kim Ryeowook, Lee Hyukjae

Genre              : Romance, Brothership, AU, Sad

Rating             : PG 15+

Length             : 4908 words (Chapter)

Disclaimer       : Kim Ryeowook and Lee Hyukjae milik Tuhan, orang tua mereka, Super Junior and ELF. I just have the plot and artwork.

Incheon, 2002

“Yaa, Lee Hyukjae!” Minrin berteriak kencang ketika Hyukjae dengan seenaknya mengambil novel yang sedang dibacanya lalu berlari cepat menjauh dari Minrin, membuat gadis itu berteriak-teriak tidak jelas mengejar Hyukjae yang sudah berlari mengelilingi meja kursi rusak di atap gedung sekolah mereka.

“Issh, Kau menyebalkan!” sungutnya.

Hyukjae hanya tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gusinya sembari mengedikkan kedua bahunya, “kembalikan komik One Peace ku dan akan kukembalikan novelmu,” tawarnya sambil. mengacung-ngacungkan novel setebal 500 halaman yang bahkan baru selesai setengahnya. Tapi sayangnya gadis itu sudah terengah-rengah mengejar Hyukjae hingga tidak berniat menghampiri sahabatnya itu yang hanya beberapa langkah di depannya lalu mengambil novelnya.

Minrin memanyunkan bibirnya sebal. Tidak bisa dipercaya ia bisa betah menghabiskan waktu istirahatnya dengan orang super menyebalkan dan super jail seperti Lee Hyukjae. Laki-laki itu tidak hanya jail tapi juga sangat pecinta komik One Peace, dan itu sangat menyebalkan karena setiap kali mereka bertemu, Hyukjae pasti selalu membicarakan One Peace.

“Aku tidak mengambil komik milikmu.”

“Eiiiyy, jangan bohong. Siapa lagi yang tidak suka One Peace selain kau… bahkan kakakku saja tidak berani mengambil komik milikku,” Eunhyuk menyahut tidak mau kalah.

Lalu Minrin pun hanya bisa menghela nafasnya kalah. Baiklah, Ia memang tidak pandai berbohong. Kenyataannya memang dialah yang mengambil komik itu. Siapa yang tidak jengkel saat kau sedang susah payah mengerjakan tugas, dan orang lain justru berceloteh di depanmu tentang sebuah cerita di komik? Minrin jengkel saat itu, karena Hyukjae bukannya membantu justru membuatnya tidak bisa konsentrasi.

Isshh, kuere…kuere…! aku akan kembalikan, tapi kembalikan juga novelku,” Minrin mengalah.

Hyukjae tersenyum lebar lagi lalu sedetik kemudian sudah berjalan mendekat ke arah Minrin dan menyerahkan novel itu padanya, “dilarang mengerjai oppa, mengerti?” Hyukjae menjitak pelan kepala Minrin dan membuat gadis itu meringis berpura-pura sakit.

Arraso…,” ia memanyunkan bibirnya lagi.

Sejenak Hyukjae memperhatikan gadis yang lebih muda darinya itu dengan seksama. Hari ini dia tidak datang dengan kening yang biru dan mata yang sembab. Itu melegakkan untuk Hyukjae. Setidaknya Hyukjae tidak perlu melontarkan pertanyaan-pertanyaan khawatir tentang luka-luka yang dialami Minrin, -yang tentu saja tidak akan semudah itu dijawabnya-.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

Minrin mendongak dan seakan mengerti pertanyaan itu ditujukan untuk apa, ia pun mengangguk, “euhmm… aku baik-baik saja.”

“Tapi kau terlihat habis menangis, matamu agak bengkak. Wae?” Hyukjae kembali memastikan saat ia menyadari mata gadis itu memang agak berkantung. Entah karena memang habis menangis, ataukah dia menghabiskan malamnya bersama novel-novel kesayangannya itu.

Sekali lagi Minrin menggeleng, “aku hanya tidak bisa tidur.”

“Yakin, hanya itu?”

Minrin mengangguk yakin, “hanya itu…”

“Tapi matamu seperti mata panda, mengerikan.”

Lalu sejenak Minrin kembali merengut, “sudahlah, berhenti mengomentari mataku,” ujarnya sembari mendorong Hyukjae pelan dan menyuruhnya menyingkir.

Hyukjae diam, tidak berniat bertanya lebih jauh. Melihat gadis itu baik-baik saja sudah cukup baginya. Semua hal yang ditanyakan Hyukjae barusan bukan hanya sebatas perhatian semata, tapi juga kekhawatiran. Dan Minrin mengerti itu. Apalagi selama ini memang hanya Hyukjae lah yang mengerti tentangnya, yang berada di sisinya dan menjadi tempatnya bersandar.

“Hey, Minrin-ya.. malam nanti jangan lupa kau punya janji berkencan denganku!” seru Hyukjae kemudian. Dia berlari di belakang Minrin dan menyusulnya.

“Aku tidak bilang setuju, Oppa….”

“Tapi kau bilang akan datang.”

“Bukan ‘akan’ tapi ‘akan mengusahakan,” Minrin menekankan kata-katanya. Lalu ia tertawa kecil saat melihat ekspresi Hyukjae yang pura-pura kecewa.

Sebuah kencan yang diusulkan Lee Hyukjae dengan seenaknya dan Minrin terpaksa menerima ajakan itu. Bukan kencan seperti kebanyakan anak remaja, hanya berjalan-jalan ke toko buku dan mungkin menikmati kue beras di pinggir jalan. Sahabatnya ini katanya sudah lama tidak makan kue beras karena itulah dia sangat bersemangat saat Minrin bilang akan mengajaknya makan kue beras bersama. Dan gara-gara itulah, dia mencetuskan ide konyol bernama ‘kencan’.

“Sama saja. Yang penting kau datang. Aku akan tetap menunggu, karena aku harus mengatakan sesuatu padamu,” Hyukjae mengacak puncak kepala Minrin dan tersenyum.

“Aku tidak yakin. Kau tahu gadis-gadis itu akan sangat membenciku jika tahu aku berkencan denganmu?” Minrin menyahut cepat.

“Untuk apa kau memikirkan pendapat mereka?” Hyukjae menyamakan langkah dengan Minrin dan melirik gadis itu dari samping.

“Karena jika mereka marah, mereka akan melakukan hal-hal konyol padaku. Misalnya saja, menyembunyikan pakaian olahragaku, menghadangku di gerbang sekolah dan mengancamku untuk berhenti berteman denganmu, dan kadang mereka juga akan menaruh permen karet di kursiku. Ya..hal-hal seperti itulah…,” Minrin berujar santai, tidak terlalu mempedulikan bahwa semua hal yang baru saja diceritakan itu bisa disebut aksi pembullying-an. Mungkin karena sudah terbiasa, jadi baginya tidak masalah.

Hyukjae tersenyum miris, “separah itukah?” tanyanya mamastikan. Baru disadarinya bahwa penderitaan gadis disampingnya ini lebih buruk dari perkiraannya. Tidak di rumah bahkan di sekolah pun masih mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya.

“Tidak perlu dimasalahkan. Aku sudah biasa mendapatkan semua itu,” gadis itu mengehentikkan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya ke samping, menghadap pada Hyukjae, “mungkin terkadang sangat menyakitkan hingga rasanya aku ingin menangis, tapi aku beruntung masih memiliki seorang teman yang sangat baik sepertimu. Jadi, jangan menyalahkan dirimu karena mereka berlaku seperti itu,” lanjutnya sambil tersenyum manis. Lalu Minrin pun kembali berlalu dari hadapan Hyukjae.

Hyukjae sendiri hanya terdiam sebentar di tempatnya. Matanya menatap lekat punggung gadis itu yang kini sudah mencapai pintu. Dan perasaan ingin melindungi itu kembali menguasainya. Demi apapun, Hyukjae ingin melindungi gadis itu. Ia tersenyum sendiri lalu bergegas menyusul gadis itu.

“Tidak perlu dipikirkan. Kau hanya perlu di sisiku, dengan begitu mereka tidak akan mengganggumu… bersama-sama denganku di sekolah, saat berangkat, saat istirahat, dan saat pulang. Kurasa tidak terlalu buruk,” Hyukjae terlihat menimbang-nimang usulannya sendiri dan kemudian mengangguk-angguk yakin, “benar seperti itu. Aku yakin mereka tidak akan berani mendekatimu lagi,” terakhir Hyukjae memberikan senyum dengan gusi berderetnya yang sempurna.

Ya itulah yang diinginkan Hyukjae, berada di sisi gadis ini dan melindunginya. Dilihatnya Minrin hanya tersenyum sebentar lalu kembali berjalan meninggalkan Hyukjae.

“Karena sepertinya aku menyukaimu, Minrin-ya,” gumamnya.

  ***

Seoul, 2012

Ingatan-ingatan itu kembali berputar untuk kesekian kalinya, bagai rol film yang diputar dan tidak ada habisnya. Selalu saja ada hal menarik, menyenangkan, namun kadang menjengkelkan yang membuat Minrin terus mengingat masa-masa di sekolah dulu. Semua itu selalu menyangkut satu nama, Lee Hyukjae. Lee Hyukjae yang jail tapi perhatian, dan Lee Hyukjae yang selalu menjadi tempat Minrin untuk berkeluh kesah. Perasaannya selalu bahagia jika bersamanya, karena ia seperti mendapatkan seorang kakak laki-laki yang selama ini didambanya. Dan entah dimulai sejak kapan, tapi perlahan perasaan membutuhkan seorang kakak itu berubah menjadi perasaan menyukai. Itu bukanlah hal yang berlebihan dan mungkin sangat wajar, mengingat mereka selalu menghabiskan waktu bersama.

“Malam itu, kenapa kau tidak datang?” tanya Eunhyuk tiba-tiba.

Minrin tidak langsung menjawab. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan terdiam. Malam itu, seharusnya mereka memang bertemu. Tapi apa yang dilakukan ayahnya membuat Minrin tidak bisa pergi menemui pria yang kini tengah duduk di depannya. Sejak malam itu jugalah ia tidak pernah lagi bertemu dengan Lee Hyukjae atau sekarang yang dikenalnya sebagai Eunhyuk.

Ia mendongak dan berucap lemah, “aku datang tapi kau sudah pergi,” ditariknya nafas dalam berusaha memenuhi rongga dadanya yang mendadak kekurangan oksigen.

Jinjjayo?”

“Hmm.. ayahku berbuat ulah, karena itu aku terlambat datang. Mian….”

“Jadi begitu…,” Eunhyuk bergumam pelan sembari memainkan cangkir berisi coffe di tangannya. Seharusnya malam itu Eunhyuk lebih lama menunggu. Jika saja seperti itu, mungkin saja ia bisa mengatakan semua tentang perasaannya pada gadis ini. Dan mungkin saja semua bisa berbeda dari sekarang.

“Aku pikir oppa tidak datang malam itu. Tapi ternyata oppa justru menungguku sangat lama. Mianhae…,” ujarnya menyesal yang langsung membuat Eunhyuk tidak enak hati.

“Eiyy.. itu bukan masalah. Ya..meskipun aku sedikit kecewa karena kau tidak datang. Tapi aku bukan pria yang minta dikasihani.”

“Aku tahu… tapi tetap saja menunggu selama dua jam lebih di tengah hujan salju bukan hal yang biasa. Oppa pasti kedinginan saat itu. Aku benar-benar menyesal mengenai itu.”

Eunhyuk terkekeh pelan dan menjitakkan tangannya di dahi Minrin dengan pelan, -persis seperti yang selalu dilakukannya dulu-, “kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bukankah kau sangat senang melihatku menderita, eh? Kau bahkan senang sekali mengerjaiku.”

Minrin tersenyum mengingat kebersamaan mereka dulu. “Kau juga sering mengerjaiku, Lee Hyukjae oppa.”

“Itu benar. Tapi aku tidak pernah berbohong menyuruhmu datang ke ruang latihan, dan meninggalkanmu dengan orang yang tidak kau sukai,” sahutnya seraya melirik Minrin.

Minrin tertawa kecil mengingat salah satu kejadian bersama Hyukjae dulu. Saat itu ada seorang yeoja yang menyukai Lee Hyukjae. Tanpa sengaja Hyukjae mengatakan hal buruk tentang gadis itu dan membuatnya tersinggung. Gadis itu menangis dan kecewa. Lalu demi membuat gadis itu merasa senang Minrin menyuruh Hyukjae menemuinya dan meminta maaf. Tapi bukan Lee Hyukjae namanya jika langsung menerima usulan itu. Maka dari itulah, Minrin terpaksa berbohong dan menyuruh Hyukjae ke ruang latihan dance untuk meminta maaf pada gadis itu.

“Meskipun oppa tidak menyukainya, seharusnya oppa tidak bicara seperti itu,” Minrin menyela yang langsung membuat Eunhyuk diam.

Eunhyuk memang tidak pernah bisa mengelak dari ucapan gadis bernama Shin Minrin ini. Dan ia selalu kalah setiap kali berdebat dengannya. Sesuatu yang sangat baik untuknya, mengingat Lee Hyukjae bisa berubah menjadi orang yang sangat baik dan peduli jika bersama Minrin.

“Kau selalu mengatakan itu, Minrin-ya.”

Minrin tersenyum lagi, “dan kau tidak pernah bisa memprotesnya,” lanjutnya menambahkan yang langsung disetujui dengan anggukan kepala oleh Eunhyuk.

Sekali lagi ditatapnya gadis pertama yang membuat Eunhyuk jatuh cinta itu. Berusaha menyalurkan perasaan rindu yang selama ini mencekiknya secara tiba-tiba. Semua dalam diri Shin Minrin masih sama seperti dalam bayangan Eunhyuk. Tidak banyak berubah dan Eunhyuk menyadari bahwa sosok gadis ini sudah lama dirindukannya. Gadis kecil miliknya yang dulu selalu berusaha dijaganya. Gadis yang kadang bisa terlihat rapuh namun selalu berpura-pura kuat. Sungguh Eunhyuk sangat merindukan gadis ini.

“Apa kita bisa bertemu lagi?, seperti dulu…,” tanyanya penuh harap. Dulu yang Eunhyuk maksud adalah saat hanya ada mereka dan tidak ada orang lain diantara keduanya.

“Tentu saja. Oppa tidak pernah tahu kan bagaimana rasa bersalahku karena tidak menempati janji dan bagaimana aku sangat ingin bertemu dengan Oppa selama ini? Aku benar-benar senang setelah bertemu denganmu,” sahut Minrin bersemangat tanpa Eunhyuk duga. Gadis itu terlihat sangat antusias hingga langsung membuat jantungnya berdetak cepat dan seulas senyum menghiasi bibirnya.

Minrin balas tersenyum dan dirasakan kedua matanya memanas. Lalu baru disadarinya bahwa ia sudah meneteskan air mata. Disekanya tetes demi tetes air mata yang mengalir di kedua pipinya lalu kembali tersenyum lebar pada Eunhyuk, “ahh.. mian, kenapa aku jadi menangis seperti ini?” gumamnya dan sekali lagi berusaha menyeka air matanya itu.

Kenyataannya Shin Minrin memang sangat merindukan sosok Lee Hyukjae. Bahkan sebelum ia tahu bahwa Eunhyuk adalah Lee Hyukjae, ia selalu melihat bayang-bayang Lee Hyukjae di sana. Bukan semata-mata rasa bersalahnya karena tidak menempati janji, tapi juga karena penyesalannya yang tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya sendiri pada Lee Hyukjae.

“Ini pertama kalinya aku membuatmu menangis. Astaga Minrin-ya..”

Minrin tersenyum kecil dan buru-buru menghapus air matanya ,lagi “gwaenchana..,” ujarnya.

Kuere, Lee Hyukjae oppa kita akan sering bertemu mulai sekarang,” lanjutnya pelan yang langsung membuat tarikan senyum lebar khas milik Eunhyuk.

  ***

Ryeowook memperhatikan lagi kedua orang itu. Bibirnya tersenyum sedikit menyerangai, saat menyadari bahwa Eunhyuk memang lebih dulu mengenal gadis itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan mengenai itu. Dan bahwa sahabatnya itu juga mencintai Minrin. Tatapan Eunhyuk terlihat jelas demikian karena itulah Ryeowook benar jika menganggap Eunhyuk memang mencintai Minrin, sejak dulu sampai sekarang.

Akhirnya hari ini terjadi. Seharusnya Ryeowook sudah bisa menebak akan seperti apa dirinya saat mengetahui fakta antara dua orang itu tapi ternyata efeknya benar-benar lebih buruk dibandingkan yang ia pikirkan sebelumnya. Ia tidak siap. Gemuruh dalam dadanya kembali menguasai. Kedua tangannya mengepal erat saat senyum manis itu tertuju pada Eunhyuk. Bahkan Ryeowook jarang mendapatkan senyum seperti itu sebelumnya.

Ia hampir kehilangan akal ketika ia ingin berlari menghampiri mereka, menarik Eunhyuk menjauh dari Minrin, bahkan kalau perlu memukul wajahnya tapi sebuah tangan dengan lembut menahan lengannya. Ia menoleh dan melihat Sena tersenyum padanya.

Aniyo, Oppa.. kau tidak akan membuat keributan di sini kan?” desaknya, menahan Ryeowook agar tidak pergi.

Tanpa Ryeowook meminta, Sena mendadak menjadi orang lain yang berhasil mengendalikan amarahnya. Bahkan saat Ryeowook menceritakan tentang Shin Minrin, Sena adalah orang pertama yang menasihatinya.

Ryeowook tersenyum tipis, lalu perlahan melepaskan tangan gadis itu dari lengannya, “kita pergi dari sini” ajaknya yang langsung disetujui Sena.

Tanpa mengucapkan apapun, Sena sudah mengikuti Ryeowook yang berjalan di depannya. Sejenak ia memperhatiakn gadis bernama Shin Minrin yang menurutnya telah membuat Ryeowook benar-benar bertekuk lutut.

Jadi seperti apakah Shin Minrin itu?

    ***

Angin sedikit bertipu kencang di luar, tapi suhu di dalam mobil terjaga dengan adanya pemanas. Sena melirik Ryeowook melalui ekor matanya. Beberapa kali ia melakukan itu sejak Ryeowook mengajaknya keluar dari club itu dan berakhir di pinggir sungai Han saat ini.

Oppa, bicaralah sesuatu. Jangan membuatku seperti tidak ada di sini karena diabaikan,” keluhnya sedikit merajuk. Hingga akhirnya Ryeowook mengalihkan perhatiannya padanya.

Mianhae…,”

Sena menyipitkan matanya dan sedikit memanyukan bibirnya, “eiiyy.., bukan maaf yang ingin aku dengar. Oppa tidak perlu melakukannya.”

Ryeowook tersenyum untuk pertama kalinya sejak mereka saling diam, “baiklah, terima kasih kalau begitu.”

“Isssh, tidak perlu berterima kasih juga. Aku hanya menemani Oppa yang sepertinya sedang patah hati, kan?” ujar Sena sembari terkekeh pelan, yang sesaat diikuti Ryeowook.

Untuk pertama kalinya ia merasa lebih baik sejak masalahnya dengan dua oernag bernama Lee Hyukjae dan Shin Minri hampir membuatnya lelah.

“Begitu lebih baik,” ujar Sena kemudian saat melihat senyuman tulus yang biasa Ryeowook perlihatkan.

“Kurasa gadis itu benar-benar bodoh karena mengabaikan oppa. Aku saja ingin bersamamu, tapi dia yang jelas-jelas oppa cintai justru menolaknya.”

Ryeowook menoleh dan hanya bisa diam sebentar. Benarkah seperti itu? Bahwa ia telah ditolak oleh gadis itu?

“Dia tidak menolakku, hanya tertarik menggali kembali kenangan lamanya bersama Eunhyuk hyung,” Ryeowook menyahut tidak terima.

Sekarang giliran Sena yang menoleh. Kedua matanya menatap heran ke arah Ryeowook, ”pria tadi bernama Eunhyuk? Dia pasti pria di masa lalu gadis itu,” ungkapnya yang langsung dibenarkan oleh Ryeowook.

“Kau benar. Dan dia juga sahabatku.”

Mwo? Jinjja?” serunya tidak percaya.

Lagi-lagi Ryeowook mengangguk membenarkan. “Aku tidak tahu mereka saling mengenal sampai malam ini. Bukankah aku seperti dipermainkan oleh kekasih dan sahabatku sendiri, Sena-ya?”

“E..yeah, kurasa begitu. Ahh.. pasti benar-benar sulit untuk oppa.”

Ryeowook tidak menjawab dan kembali mengalihkan tatapannya ke arah luar. Iya, memang sulit. Dan semakin sulit saat melihat gadis itu begitu bahagia bertemu dengan Lee Hyukjae. Mungkinkah gadis itu juga menyukai Lee Hyukjae? Seperti yang dipikirkannya selama ini. Entahlah….

***

A week later

Beberapa hari berlalu, mungkin hampir satu minggu sekarang. Dan semua terasa mengambang tanpa kejelasan. Seperti sesuatu yang disepakati untuk dimulai tapi dibiarkan mengawang antara berakhir ataukah bertahan. Ya..mungkin seperti itu.

Minrin menghela nafasnya saat memandangi layar ponselnya. Satu minggu berlalu sejak kejadian di club malam itu saat ia untuk pertama kalinya bertemu dengan sahabat terbaiknya yang juga cinta pertamanya sejak 10 tahun yang lalu. Ketika hubungan lama itu berulang, Minrin mengakui hubungannya dengan pria lain bernama Ryeowook justru merenggang. Ya.. satu minggu berlalu dan selama itu ia tidak bertemu dengan Ryeowook. Terakhir kali, pria itu hanya mengatakan untuk memikirkan ulang rencana pernikahan mereka. Sejak saat itu Minrin tidak bertemu dengannya, tidak berusaha mengubungi dan terkesan membiarkannya semakin tergantung tidak jelas.

Ia menyadari kesalahan yang sudah diperbuatnya. Menduakan pria itu dengan cinta pertamanya yang bahkan kisahnya tidak pernah dimulai. Bodohnya lagi Minrin tidak berusaha membuat semuanya membaik. Ia justru semakin banyak menghabiskan waktunya bersama Lee Hyukjae, bersama-sama menggali lagi kenangan masa lalu dan mengabaikan perasaan orang lain. Ia hanya diam, terkesan tidak peduli dan membiarkan semuanya mengalir tanpa arah. Bagaimana mau jelas, jika ternyata dirinyalah yang menghambat semuanya menjadi jelas?

Suara pintu flatnya yang dibuka menjadi suara yang berhasil mengusiknya pagi ini. Ia mendongakkan kepalanya sebentar ketika melihat Hyehyo berdiri dengan dua kantong belanjaan. Sudah satu minggu ini ia memang tinggal di Seoul dan menumpang di flat milik Hyehyo. Ia sendiri bingung kenapa memutuskan seperti itu. Ia hanya merasa perlu berada di kota ini untuk menyelesaikan semuanya, yang bahkan ia sendiri tidak tahu harus mulai diselesaikan dari mana.

“Apa yang kau pikirkan? Jangan melamun terus, itu membuatmu seperti orang bodoh,” Hyehyo menegurnya seraya berjalan menuju dapurnya dan meletakkan barang-barangnya di atas meja. Gadis itu menghentikkan gerakan tangannya mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kantong ketika disadarinya tidak ada respon sama sekali dari Minrin. Ia beralih menatap sahabatnya itu dan memperhatikannya dengan lekat, “kenapa tidak ditemui saja? Maksudku Kim Ryeowook itu, kurasa kalian harus bicara, benarkan?” lanjutnya.

Dan Minrin hanya mendesah pelan menerima usulan Hyehyo barusan. Ya.. ia memang butuh bicara dengan Ryeowook. Tapi rasa bersalahnya selalu berhasil menghentikkan langkah kakinya menemui pria itu.

“Apa menurutmu dia tidak akan mengusirku jika aku tiba-tiba datang ke apartementnya?” tanya Minrin tidak masuk akal. Sayangnya pertanyaan itulah yang selalu mengganggunya dan semakin membuatnya tidak berani melangkah sedikitpun menemui pria itu.

“Pikiranmu terlalu jauh. Aku yakin dia tidak akan melakukannya,” Hyehyo berujar sambil terkekeh pelan.

“Menurutmu begitu?”

“Tentu saja, apa yang kau takutkan eh? Kau kehilangan pria itu baru tahu rasa,” katanya sedikit mengancam, yang entah kenapa membuat Minrin diam sebentar.

“Tapi aku sudah menyakitnya, Hyo. Tidakkah kau merasa aku sangat jahat?” Minrin menoleh, menatap sahabatnya itu.

“Ya..kau benar. Kau mamang jahat. Pria itu bersabar menunggumu mencintainya dan kau jatuh cinta pada cinta pertamamu yang sekaligus sahabatnya. Aku yakin dia merasa sangat dikhianati oleh kekasihnya dan juga sahabatnya sendiri.”

Ia terdiam dan tidak lagi menyahuti ucapan Hyehyo barusan. Sahabatnya saja menghakiminya sebagai orang yang jahat, apalagi dengan Ryeowook yang jelas-jelas sudah disakitinya.

Haruskah ia menemui pria itu?

***

Ryeowook’s Apartement

11.00 AM

“Ryeowook-ah, kau yakin tidak pergi ke kantor? Ayahmu bisa sangat marah kalau kau terus menerus libur. Sudah tiga hari kau berdiam diri di apartementmu,” tegur seorang wanita yang tengah sibuk mengeluarkan kimchi yang dibawanya dari rumah.

Ryeowook mendongak sebentar dari kertas di depannya saat ibunya itu untuk kesekian kalinya menanyakan pertanyaan itu. Ia memperhatikan ibunya yang sibuk di dapurnya sambil mendesah pelan lalu meletakkan laporan yang baru saja dibacanya. Ya… sudah tiga hari ini ia berdiam diri di apartementnya. Ia bahkan hanya menyuruh sekretarisnya untuk mengirim semua laporan yang harus diperiksanya. Tetu saja alasannya melakukan itu semua adalah karena ia perlu berpikir dan menenangkan diri. Satu minggu berlalu sejak terakhir kali ia bertemu Minrin dan seperti katanya bahwa ia akan memikirkan ulang pernikahan ini.

Eomma sampai lupa, persiapan pernikahanmu sudah hampir 90%. Kartu undangan akan mulai disebar dua hari lagi. Apa kalian sudah mempersiapkan gaun dan tuxedonya?”

“Tidak eomma…maksudmu belum…,” ucap Ryeowook cepat ketika pandangan ibunya tiba-tiba mengarah padanya, curiga.

Permasalahannya adalah ia tetap membiarkan ibunya menyiapkan segala hal tentang pernikahan. Padahal ia sendiri tidak yakin akan ada pernikahan dalam waktu lima hari ini. Ya benar.. lima hari. Hanya lima hari waktu yang tersisa untuk memutuskan semuanya. Dan ia bahkan tidak berniat menemui gadis itu untuk menyelesaikan semuanya.

“Kalau begitu hari ini kalian berdua pergilah mencari gaun dan juga tuxedo,” ucap ibunya kemudian.

Ryeowook diam. Ia memperhatikan ibunya sejenak. Bagaimana mungkin ia akan mengecewakan ibunya jika tiba-tiba membatalkan pernikahan ini? Ibunya sangat menginginkan Minrin menjadi bagian dari keluarga ini. Wanita itu bahkan terang-terangan mengungkapkan kebahagiannya dan sama sekali tidak mempermasalahkan latar belakang keluarga Minrin yang berbeda jauh dari keluarganya. Sekarang semua rencana bahagia itu bahkan terancam untuk diakhiri,

“Kalian tidak sedang ada masalah bukan?” tanya ibunya tiba-tiba, yang tanpa Ryeowook sadari sudah memperhatikannya sejak tadi. Ia mendongak lagi dan melihat ibunya kembali menatapnya dengan curiga.

Aniyo. Tidak ada masalah diantara kami. Aku hanya tidak bertemu dengannya beberapa hari ini.” Akunya berbohong. Ia tersenyum, berusaha meyakinkan ibunya yang kini semakin menatapnya tidak percaya.

 “Baiklah, eomma percaya padamu. Kurasa kalian hanya merasa gugup dengan pernikahan ini, benarkan? Eomma dan appamu juga seperti itu. Karena itu, lebih baik memang tidak sering-sering bertemu sebelum menikah.”

Dihelanya nafas lega begitu melihat ibunya tidak lagi bertanya lebih jau. Ia pun tersenyum kecil. Sama sekali bukan kegugupan seperti yang ibunya bilang. Ia hanya merasa tidak yakin atau ketidakyakinan itu juga baikan dari kegugupan? Entahlah…

 ***

Gadis itu berdiri mematung di depan pintu sebuah apartement. Tubuhnya sudah gemetar karena gugup. Saking gugupnya tangannya saja tidak sanggup menekan bel di bagian samping pintu itu. Berulang kali ia menarik nafasnya dengan panjang untuk memenuhi rongga dadanya yang mendadak seperti kekurangan oksigen. Lalu entah mendapat suntikan energi dari mana, tangannya dengan ragu terangkat, menekan tombol itu dengan sangat pelan. Secepat kilat ia menurunkan tangannya setelah berhasil membuat si penghuni apartement itu menyadari kedatangannya. Kedua tangannya meremas kuat sementara jantungnya berdetak tidak karuan.

Ya.. Minrin sudah bersusah payah menyeret kakinya ke depan pintu ini, dan itu artinya ia juga harus bersiap menerima semua yang akan diucapkan pria itu, bahkan jika itu berarti akan membuatnya menyesal.

Klek

Pintu itu terbuka dengan pelan dari arah dalam. Minrin masih diam terpaku, dengan kepala sedikit menunduk. Tidak sedikitpun ia berani menatap langsung orang yang sekarang berdiri di depannya.

“Minrin-ya…,” lalu sebuah panggilan lembut dari seorang wanita menyadarkannya dari ketakutan. Ia mendongak dan mendapati eommonim tersenyum padanya.

Seketika itu perasaan yang amat sangat lega menyelimuti Minrin. Paling tidak ia tidak langsung bertemu dengan Ryeowook di depan pintu ini. Minrin balas tersenyum dan membungkuk sedikit pada wanita yang dihormatinya selain ibunya sendiri.

“Ryeowook tidak mengatakan kau akan datang. Apa kau tidak memberitahunya?” tanya wanita itu heran, tapi sama sekali tidak menghilangkan ekspresi bahagia yang menyelimuti wajahnya.

Aniyo. Aku memang tidak mengatakan padanya,” aku Minrin kemudian.

Kuere? Masuklah kalau begitu,” ajaknya. Minrin berjalan pelan mengikuti Nyonya Kim, wanita yang sudah terbiasa dipanggilnya eomonim dan begitu berada di dalam apartment itu, ia merasakan kembali desir jantungnya yang mendadak tidak karuan.

“Beruntung sekali kau datang hari ini. Aku tadi menyuruh Ryeowook mengajakmu untuk memilih gaun pengantinmu, tapi kau justru sudah datang duluan. Baguslah kalau begitu..”

Minrin yang berjalan di sampingnya tersenyum mendengar penuturan calon ibu mertuanya itu. Gaun pengantin? Berulang kali ia menggumamkan kata itu. Ia hampir lupa kalau persiapan tentang pernikahan ini tetap berjalan sampai sekarang. Dan kalau Minrin tidak salah menghitung, hari besar itu akan terjadi kurang dari seminggu. Astaga…

“Dia ada di ruang kerjanya. Sudah tiga hari dia tidak pergi ke kantor dan hanya menyuruh sekretarinya datang untuk menyerahkan laporan yang harus diperiksanya.”

Nyonya Kim berhenti tepat di dekat dapur, lalu menoleh ke arah Minrin, “masuklah, temui dia dan aku akan menyiapkan makan siang untuk kita semua,” tuturnya sangat lembut.

Minrin mengangguk sedikit ragu, lalu berjalan pelan meninggalkan Nyonya Kim yang sudah tenggelam dalam pekerjaan seorang ibu di dapur. Langkah kakinya mendadak berat, padahal sandal rumah yang dikenakannya sangat nyaman untuk berjalan. Sementara, lagi-lagi perasaan gugup dan khawatir kembali melandanya. Berulang kali ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan lemah hingga akhirnya ia mencapai pintu sebuah ruangan yang ia ketahui sebagai ruang kerja pria itu.

Belum sempat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu, tanpa Minrin bisa menduganya pintu itu tiba-tiba dibuka dengan pelan. Seketika itu jugalah ia merasakan lagi detak jantungnya yang berpacu cepat. Ia tidak siap lalu reflex memundurkan langkahnya saat ia dengan sangat jelas melihat Ryeowook berdiri di depannya dengan ekspresi terkejut menatap ke arahnya.

Ia tidak pernah menyangka berhadapan dengan Ryeowook akan membuatnya segugup ini. Sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya. Lalu mendadak rasa bersalah itu hadir kembali. Lidahnya tiba-tiba kelu saat memikirkan sudah berapa kali ia membuat pria di depannya ini kecewa.

“Apa yang kau…”

“Ada yang harus aku tanyakan padamu,” potong Minrin cepat saat Ryeowook membuka suara dan mengernyit ke arahnya. Entah darimana ia mendapat keberanian itu dan berhasil menekan kuat kegugupannya, tapi yang jelas ia baru saja melakukannya.

   ***

Diam. Keduanya hanya diam sejak Minrin meminta waktu untuk bicara berdua. Suara jarum jam di ruangan itu terdengar berdentang nyaring dan menjadi satu-satunya suara yang bergema. Tiba-tiba saja Minrin merasa menyesal harus datang tanpa persiapan sedikitpun. Jika ia tahu berhadapan dengan Ryeowook untuk menjelaskan semuanya akan membuatnya sesulit ini dan secanggung ini, maka seharusnya ia tidak datang atau seharusnya ia berlatih lebih dulu pada Hyehyo tentang apa yang akan diucapkannya karena entah kenapa sikap pria itu bahkan tidak sehangat dulu. Tidak ada lagi senyum ramah, menenangkan yang selalu Minrin sukai. Tidak ada sapaan hangat atau sekedar pelukan singkat yang beberapa kali diberikan Ryeowook untuknya. Tapi yang ada hanyalah tatapan mata dingin yang terasa menusuk sampai ke dasar.

“Ibuku menyuruh kita untuk membeli gaunmu.”

Sebuah kalimat bernada dingin itu menjadi kalimat pertama yang diucapkan Ryeowook yang akhirnya membuat Minrin menoleh pelan. Ia bisa melihat tatapan dingin itu benar-benar menikamnya, membuatnya kembali merasakan kegugupan karena rasa bersalah yang luar biasa. Jujur saja, ia lebih senang Ryeowook berteriak padanya, meluapkan kemarahannya dan juga kekecewaannya pada Minrin dari pada memendamnya dan menutupinya dengan sikap dingin seperti sekarang. Semua sikap dingin itu lebih menyakitkan untuknya. Bahkan mungkin akan lebih baik jika Ryeowook bicara jujur padanya jika ingin membatalkan pernikahan ini.

“Semua undangan sudah selesai dicetak dan akan segera disebar.”

Minrin terdiam, lidahnya benar-benar kelu. Ia tidak tahu bahwa semua hal tentang pernikahan masih berjalan, tapi satu hal yang Minin sadari bahwa tidak ada lagi keinginan dalam diri pria di sampingnya ini mengenai pernikahan yang hanya tinggal 5 hari. Dan semua itu karena dirinya. Lalu apa yang harus dilakukannya?

Wae?” dan itulah kata pertama yang mampu Minrin ucapkan dengan sisa-sisa keberaniannya. Ia menoleh, menatap Ryeowook dengan beribu pertanyaan yang ingin dilontarkannya tapi tidak bisa.

Seharusnya Ryeowook bicara terus terang jika memang tidak ingin ada pernikahan seperti keinginanya semula dengan begitu semua tidak lagi mengambang seperti ini.  Tapi pria itu diam dan justru terkesan tidak peduli bahwa kenyataanya satu minggu yang lalu Minrin baru saja menghancurkan hatinya.

“Kumohon, jangan seperti ini,” satu-satunya yang bisa Minrin lakukan hanyalah memohon, berharap Ryeowook akan membuat keadaan sekarang ini jelas, “jangan membuatku bingung, aku tahu aku sudah melakukan kesalahan. Jadi, kumohon jangan membuatku semakin bingung dengan sikapmu, Ryeowook-ssi…,” gumamnya.

“Aku tidak pernah membuatmu bingung, Minrin-ya tapi kau…kau yang melakukannya padaku,” sahutnya kembali dengan nada dingin.

Deg!

Minrin terdiam lagi. Suara detak jantungnya terdengar keras, dan dirasakannya rasa sakit yang tiba-tiba menderanya. Ia akui selalu membuat Ryeowook dalam posisi bingung mengenai perasaannya pada pria itu. Tapi tidak pernah diduganya akan membuatnya sesakit ini.

“Kau mencintainya,” ujar Ryeowook kemudian. Entah itu sebuah pernyataan ataukan pertanyaan, tapi yang jelas Minrin seperti mendapat penegasan di sana. Yah..mungkin benar bahwa ia memang mencintai Lee Hyukjae dan itu adalah kesalahannya.

Ia kembali terdiam Tidak ada satupun kata yang mampu diucapkannya meski hanya sekedar bantahan ataupun pembenaran karena kenyataanya ia juga masih terlalu bingung. Benar-benar gadis yang bodoh dan tidak tau diri. Ya.. itu benar! Apa yang sebenarnya diinginkannya? Mencintai dan dicintai. Dan dua hal itu dilakukannya pada dua orang pria yang berbeda.

“Aku…”

Kemanhae…,” sela Ryeowook tegas yang seketika itu menghentikan niat Minrin untuk bicara. Pria itu menoleh padanya dan menatapnya.

“Jangan bicara apapun. Aku tidak ingin mendengar lagi semua hal yang kau janjikan padaku sebelumnya. Jadi berhentilah mengatakan bahwa kau pasti akan mencintaiku.”

“Kau tidak mengerti. Semua ini sangat sulit untukku. Kau bukan satu-satunya yang berada dalam situasi sulit, Ryeowook-ssi.” Minrin memotong cepat ucapan Ryeowook barusan.

“Aku tahu. Kau, aku dan Eunhyuk hyung, tidak ada diantara kita bertiga yang diuntungkan dalam situasi ini, Minrin-ya. Eunhyuk hyung sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Kami selalu bersama sejak kecil hingga mustahil ada rahasia diantara kami. Dan kau tahu bagaimana rasanya saat aku tahu bahwa orang yang sangat aku percayai diam-diam menyukai orang yang kucintai?  Aku rasa semua akan baik-baik saja jika saja Eunhyuk Hyung tidak mengakui identitas aslinya padamu. Semua akan baik-baik saja jika kau tetap tidak mengenalnya sebagai Lee Hyukjae,” ucapnya tegas.

Mwo…?”

Dan tiba-tiba saja Minin merasa gejolak dalam dadanya saat mendengar ucapan Ryeowook yang terakhir itu. “apa maksudmu?,” balasnya yang tanpa sadar menggunakan nada dingin.

“Kau tidak tahu? seharusnya kau tidak pernah lagi mengenal Lee Hyukjae dan semua akan baik-baik saja.”

Minrin lagi-lagi hanya bisa diam lalu menghela nafasnya keras, “Kau egois..”

“Kau tidak tahu bahwa cinta kadang akan membuatmu egois? Asal kau tahu saja sahabatmu itu baru saja melakukannya saat dengan egois mengakui perasaannya padamu saat dia tahu kau dan aku akan segera menikah.”

“Kau juga melakukannya padaku dan Eunhyuk hyung. Kau benar-benar hebat, Shin Minrin.. kau membuat kami terlihat bodoh hanya karena menginginkan gadis sepertimu,” lanjutnya dengan nada sindiran dan cibiran yang tidak pernah didengar Minrin sebelumnya.

Gadis itu mencengkeram kuat jari-jarinya dan menahan rasa amarah yang tiba-tiba menyelimuti. Egois? Ya, mereka bertiga memang sudah egois selama ini begitu juga dengan dirinya. Minrin tidak tahu kenapa ia bisa sangat marah mendengar itu semua. Ia membuang mukanya kesamping sementara nafasnya menderu cepat seiring keinginanya untuk meredam rasa amarah dalam dadanya. Ia bangkit tiba-tiba dari tempat duduknya, melayangkan pandangan dingin pada Ryeowook yang bergeming sejak ucapannya tadi. Ia tidak pernah menduga Ryeowook akan bersikap seperti itu.

“Sebaiknya aku pergi, seharusnya aku tidak datang kemari….”

“Apa hanya itu yang bisa kau lakukan? Kau bahkan tidak berniat membuat semuanya jelas,” ucap Ryeowook masih dengan nada cibiran yang seketika itu membuat Minrin berhenti sebentar.

“Aku berusaha melakukannya asal kau tahu saja tapi kau yang tidak pernah berusaha,”ucapnya untuk terakhir kali sebelum kembali berjalan menjauh dari hadapan Ryeowook.

Ia berjalan cepat saat dirasakannya rasa panas di matanya.  Tiba-tiba pandangannya mulai kabur karena genangan air mata. Tidak pernah diduga sebelumnya bahwa ia akan merasa sesakit ini mendengar ucapan itu. Dan ia tidak pernah menduga bahwa ia bisa menangis sejak sekian lama.

Nyonya Kim yang baru saja selesai meletakkan hidangan di atas meja melihat heran ke arah Minrin ketika gadis itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu keluar, “waegure..?” tanyanya.

Minrin tidak menjawab dan hanya membungkukkan badannya lalu berlalu begitu saja dari hadapan wanita itu, membiarkan wanita itu dengan beribu pertanyaan karena melihatnya berlari dengan air mata yang menetes.

Sepeninggalnya Minrin, akhirnya Ryeowook ikut berjalan keluar dari ruang kerjanya. Pria itu mendapati ibunya berdiri di depannya dengan tatapan tajam ke arahnya, “apa yang kau lakukan padanya?  Kau membuatnya menangis?” cecar wanita itu tidak sabar.

Ryeowook menghiraukan ucapan ibunya itu dan justru berjalan pelan menuju meja lalu mengambil air dingin dan meminumnya dengan cepat, “kurasa eomma harus berhenti menginginkan gadis itu jadi bagian di keluarga ini,” ujarnya tiba-tiba.

Mwo…!”

***

CUT

Oke, saya minta maaf karena lama publish kelanjutan ff ini. Fiuuhh… sepertinya terlalu banyak minta maaf setiap kali publish ff t.t. baiklah, ini memang diluar dugaan karena saya lambat menyelesaikan semua ff-ff saya. *bow*

Terima kasih untuk kalian semua yang masih bersedia membaca kelanjutan cerita labil ini. Part selanjutnya akan menjadi part terakhir *sepertinya* ^^

Bye..!

Advertisements

4 thoughts on “(Fanfiction) #7 Bittersweet

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s