(Ryeomin story : Minrin’s Birthday) A Day With You

image

Ryeowook – Minrin

Memilikimu adalah sebuah kebahagiaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Bersamamu bisa lebih membahagiakan dibandingkan memenangkan awards sekalipun. Dan karena takdir telah berbicara.

April 18th 2014

Pagi hari selalu menjadi awal yang baru untuk setiap orang. Begitu juga untuk seorang gadis yang sekarang masih terlentang di tempat tidurnya dengan tatapan lurus menembus langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Dan pagi hari kali ini lebih dari sekedar memulai hari jumat seperti minggu-minggu sebelumnya, karena hari ini adalah awal baginya menampaki usia yang baru.

Ia tersenyum sendiri menatap kalender kecil di atas mejanya dan juga jam di sebelahnya. Lalu pandangannya menembus jendela di samping tempat tidurnya yang entah sejak kapan sudah terbuka. Melalui jendela itu ia bisa melihat pemandangan kota Seoul di pagi hari. Matahari bersinar terang, menembus masuk ke kamarnya yang menjadi alasan untuknya segera bangun. Tanpa banyak memperhatikan sekitarnya yang mungkin terlihat berbeda dari terakhir kali dilihatnya, Minrin bangun dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Tidak butuh waktu yang sangat lama seperti kebanyakan yeoja untuk mandi dan membersihkan diri, Minrin pun selesai dengan urusan yang satu itu. Ia melangkahkan kakinya keluar dengan mengenakkan celana olahraga kesayangannya dan tshirt berwarna putih lengkap dengan handuk yang menutupi rambutnya yang basah. Ia berjalan pelan menuju meja rias, hingga sesuatu menghentikkan langkahnya.

“Oh..mwoya iggeu?” gumamnya seraya melihat sebuah kartu berwarna biru yang terletak di meja, lengkap dengan setangkai lily putih di sampingnya. Dan baginya tidak butuh waktu lama untuk tahu siapa si pengirim kartu serta bunga itu. Karena sekali melihat ia langsung tahu.

“Issh, kapan dia masuk kemari?” tanyanya lagi pada diri sendiri, merasa bingung kenapa tiba-tiba kartu dan juga bunga lily bisa sampai di kamarnya tanpa permisi.

Ia mendesis pelan sebelum memutuskan membuka kartu itu dan seperti sebelumnya, isi dari kartu itu selalu membuatnya tersenyum, terkikik tidak jelas. Gila. Benar-benar tidak bisa dipercaya ia selalu mengalami ini setiap kali pria itu mengirimnya kartu-kartu yang sekarang sudah menumpuk di salah satu kotak di meja samping. Seperti ada yang bergelayut dalam dadanya, menebarkan isi perutnya yang bahkan belum terisi.

Selamat pagi, Agashi~~

Lihat matahari sudah bersinar, kau tidak ingin bangun dan menyambut hari barumu, euhm?

Keluarlah, kita sarapan bersama ❤

Your best handsome man

 

Minrin sedikit menahan tawa membaca kalimat terakhir di kartu itu. Mwoya? Best handsome man? Oh.. well, pria itu memang pria tampan terbaiknya. Dan dia adalah pria yang juga seenaknya masuk ke apartementa lalu membuat kejutan pagi untuknya.

Tidak perlu berpikir lama, setelah selesai berdandan sedikit dan mengeringkan rambutnya, Minrin pun segera keluar dari kamarnya. Ia menduga pria itu pasti ada di salah satu sudut apartementnya, misalnya saja di ruang tengah atau di dapur seperti terakhir kali pria itu membuat kejutan pagi untuk Minrin.

Tepat seperti perkiraannya, pria itu terlihat sedang sibuk di meja makan. Minrin hanya tersenyum memperhatikannya dari jauh, dan kegiatan itu bahkan sudah membuatnya sangat senang. Ya.. setidaknya dia masih ingat janjinya.

“Kapan kau datang? Kenapa tidak membangunkanku eh?” Minrin berjalan pelan dan menyapanya, hingga akhirnya pria itu menoleh ke arah Minrin dan tersenyum.

“hmm… satu jam yang lalu. Aku sengaja melakukannya.” Ujarnya kemudian. Minrin kembali tersenyum lalu mengambil tempat duduk di depan pria itu yang masih sibuk dengan masakan yang dibuatnya.

Ya. ..ampun tiba-tiba Minrin memikirkan pria itu datang pagi-pagi sekali ke apartementnya dan mengacak-acak dapurnya yang bahkan tidak pernah disentuh Minrin sebelumnya kecuali terpaksa. Tidak seperti yang diharapkan Minrin sejak kemarin, tapi setidaknya prianya itu sudah berusaha melakukan sesuatu untuknya.

Minrin masih memperhatikannya yang sekarang kembali dari dapur degan membawa sesuatu. Sebuah kue tart kecil dengan lima lilin kecil yang menyala di atasnya. Tidak ada keterkejutan di wajah Minrin ketika melihatnya. Sejujurnya ia sudah bisa menebaknya.

Saengil chukka hamnida, uri Minrin-ya!!” serunya bersemangat yang langsung membuat senyum lebar di bibir Minrin.

“Oh..kukira tidak akan ada kue ulang tahun. Jinjja…gomawo, Ryeowook-ah…!!” Minrin berdecak melihat kue itu yang sekarang sudah tepat di depannya.

Ia mendongak sebentar menatap Ryeowook dan tersenyum lagi. Pria ini adalah satu-satunya yang memberinya kue ulang tahun di hari jadinya yang ke 24 tahun. Hey, bahkan teman-temannya tidak memberinya kue semalam dan justru membuatnya merogoh isi dompet untuk menraktir mereka.

“Aku akan selalu memberimu kue ulang tahun setiap kali kau berulang tahun. Palli tiup lilinnya..”

Minrin memejamkan matanya sebentar dan menggumamkan harapannya dalam hati. Harapan untuknya, untuk keluarganya, teman-temannya dan juga harapannya untuk pria di depannya yang sangat berharga. Lalu perlahan ia membuka matanya dan meniup lilin-lilin itu.

Chukkae..!!”

Gomawo.. lalu hadiahku?” Minrin mengulurkan tangannya ke depan berpura-pura meminta hadiah tapi sayangnya Ryeowook justru mengedikkan bahunya. “Mwoya? Tidak ada hadiah?” rajuknya, yang langsung membuat Ryeowook terkekeh.

“Hadiahmu adalah menghabiskan satu hari ini bersamaku.” Ucap Ryeowook bangga.

Mwo? Memangnya kau tidak sibuk? Astaga jangan bercanda…!”

Ani. Aku tidak bercanda. Aku sengaja membuat hari ini free untuk berkencan denganmu.” Sahutnya bersemangat yang justru membuat Minrin mengernyitkan dahinya.

“Eiyyy… baiklah terserah kau saja. Tapi kau sama sekali tidak akan memberiku hadiah?” tanyanya lagi, yang justru membuat Ryeowook gemas melihatnya.

“Kita beli bersama hadiahmu nanti.” Ujar Ryeowook kemudian sembari mengacak puncak kepala Minrin. Lalu dia pun berjalan memutari meja dan duduk di kursi, begitu juga dengan Minrin yang kembali duduk di kursinya.

“Issh.. tapi baiklah.”

***

“Apa yang kita lakukan di sini?” tanya Minrin ketika mereka sampai di sebuah toko perhiasan. Kedua matanya menyipit, menatap Ryeowook dan dahinya berkerut heran.

Sejak Ryeowook membawanya untuk membeli hadiah yang diinginkannya, pria itu memang tidak mengatakan kemana mereka akan pergi. Meskipun katanya Minrin bisa memilih hadiahnya, tapi kenyataannya pria itu memutuskannya sendiri.

“Membeli hadiah ulang tahunmu.” Ujar Ryeowook tanpa banyak memberi penjelasan, lalu menggenggam tangan Minrin dan menariknya.

Minrin masih sedikit bertanya-tanya, tapi ia memilih diam dan mengikuti Ryeowook. Mungkin saja pria itu berencana membelikannya sebuah perhiasan? Oh entahlah… itu akan terdengar sangat manis, benar kan? Tapi Minrin tidak akan setuju jika Ryeowook menghabiskan banyak uang hanya untuk membelikannya sebuah perhiasan, meskipun Minrin tahu pria itu mempunyai banyak uang. Tapi sungguh ia tidak menginginkan hadiah yang mahal. Bukankah waktu itu ia pernah bilang ingin melihat Ryeowook bermain piano? Baginya, melihat Ryeowook memainkan piano untuknya sudah menjadi hadiah yang manis untuk ualng tahunnya kali ini.

Mereka sudah berada di dalam toko di kawasan Apeugjeong itu. Di dalam sana Minrin bisa melihat benda-benda berkilau yang menurutnya memang sangat indah. Tidak jauh dari mereka berdiri, Minrin melihat seorang laki-laki dan perempuan, mungkin sepasang kekasih yang sedang memilih sebuah cincin. Oh.. itu benar-benar manis.

“Kenapa harus ke sini untuk membeli hadiahku? Aku tidak suka hadiah yang mahal.” Minrin sedikit menarik lengan Ryeowook dan mendongak.

“Kalau begitu pilihlah yang sederhana, dengan begitu tidak akan terlihat mahal.” Sahutnya pelan yang semakin membuat Minrin berdecak kecil.

Tapi kemudian Minrin hanya bisa menghela nafas dan menurut. Ia melihat-lihat perhiasan yang terpajang di kaca depannya. Semua penuh dengan permata yang membuatnya berkilau dan itu terlihat sangat mahal. Tidak.. tidak.. semua itu bukan stylenya. Ia tidak suka hal-hal seperti itu.

“Sebenarnya hadiah seperti apa yang harus aku pilih eh?”

“Apapun yang kau suka” jawab Ryeowook asal.

“Issh!!”

Minrin kembali mendecak pelan, lalu tidak sengaja, matanya menangkap sebuah cincin berwarna putih tanpa permata besar yang menghiasinya. Hanya terdapat satu butir permata kecil di tengahnya, sementara cincin itu juga tidak terlihat tebal. Sangat indah, persis seperti cincin pernikahan yang selama ini diinginkannya.

“Kau menyukainya?” Dan tanpa di sadarinya Ryeowook memperhatikannya yang tengah menatap lekat cincin itu. Minrin menoleh dan mengangguk. “Sangat sederhana dan cantik.”

“Kalau begitu kita ambil yang itu.” Ryeowook meminta pada wanita yang menjadi pelayan di toko itu.

Ne, alggaesemnida.”

Minrin yang awalnya mengagumi cincin itu hanya bisa menoleh kea rah Ryeowook dan membulatnya matanya.

Mwo? Yaa, kau bercanda?”

Wae? Kau menyukai cincin itu kan? Kalau begitu itu hadiah untukmu.” Sahut Ryeowook yang sekali lagi tidak berusaha mendengarkan ucapan protes dari Minrin. Dan lagi lagi Minrin pun tidak bisa mendebat pria itu lagi. Selalu seperti ini. Kadang ia akan kalah berdebat dengan Ryeowook, termasuk saat pria itu terlalu banyak menunjukkan sikap manisnya seperti hari ini.

***

Minrin sekali lagi melirik Ryeowook untuk kesekian kalinya. Ia merasa agak jengkel, tapi sedikitpun ia tidak bisa meluapkannya. Dan masih sama seperti sebelumnya, pria itu hanya tersenyum merasa di atas angin, karena berhasil membuat Minrin menuruti ucapannya tanpa banyak protes. Dan untuk kesekian kalinya juga Minrin menghela nafasnya, matanya kembali memperhatikan cincin yang tersemat manis di kotak kaca transparan di tangannya. Tidak bisa dipercaya cincin ini berada di tangannya sekarang.

“Aku masih tidak mengerti kenapa kau membelikanku ini. Wae? bukankah aku memintamu bermain piano?” tanya Minrin tiba-tiba, ketika mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang menuju apartementnya.

Keunyang… aku tidak punya persiapan untuk memainkan piano untukmu. Lain kali akan kulakukan.” Sahut Ryeowook yang sama sekali tidak melepas fokusnya dari jalanan di depannya, dan itu sedikit membuat Minrin mendecak setengah mendesis kesal.

Tidak punya persiapan katanya? Bagus sekali.

Keunde,  Kau ingat pasangan yang juga membeli cincin tadi?” tanya Minrin kemudian.

“Kenapa dengan mereka?”

Aniya. Aku hanya tidak suka wanita penjual tadi terus memperhatikan kita? Dia pasti mengira kita seperti pasangan itu, membeli sepasang cincin untuk pernikahan.”  Jawab Minrin pelan.

Dan itulah satu point yang terus saja mengganggu pikiran Minrin, bahkan sejak menyadari Ryeowook memilih toko perhiasan untuk membeli hadiah ulang tahun. Tidakkah semua ini terlihat bahwa Ryeowook sedang mencoba melamarnya? Oh.. oke pikiran itu terlalu jauh. Tapi sejak kapan Minrin sangat mahir menebak jalan pikiran Ryeowook? apalagi kata-kata Ryeowook waktu itu setelah mereka kembali dari Incheon kembali mengganggunya.

Ia melirik lagi kea rah Ryeowook, dan kali ini pria itu terkekeh. “Lalu kenapa kalau wanita itu melihat kita seperti itu?” tanyanya tidak ambil pusing.

Kenapa? Karena Minrin penasaran sekarang. Sebuah pernikahan? Ya.. ia kadang memikirkan itu, tapi ia tidak pernah berpikir sejauh ini. Dan sekarang pikiran-pikiran itu justru menganggunya.

Mwo..keunyang. Dia pasti berpikir kita juga akan menikah sama seperti pasangan tadi.”

Kali ini Ryeowook tergelak untuk tertawa. Lalu melihat wajah Minrin yang berubah memerah semakin membuatnya ingin tertawa.

“Yaa, kenapa kau tertawa?” Minrin mendecak lagi yang justru semakin membuat Ryeowook tidak berhenti tertawa.

“Apa yang kau pikirkan eh? Jangan katakan kau berpikir aku melamarmu dengan membelikanmu cincin itu.”

Dan sebuah pukulan ringan mendarat di lengan Ryewoook .. “Aniyo.. kau sudah tahu jawabanku kalau kau melakukannya sekarang.” Decaknya.

Kuere, arraso. Anggap saja cincin itu adalah sebuah ikatan untukmu, bahwa kau sudah ada yang memiliki. Jadi, kau akan berpikir dua kali untuk berpaling, karena aku sudah mengikatmu.” Ujar Ryeowook kemudian yang langsung membuat Minrin diam tertegun.

Ia memperhatikan pria itu lekat dan untuk pertama kalinya, ia bersyukur memiliki pria ini. Entah kenapa kebutuhannya akan pria ini memang sangat besar. Sungguh, ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa. Satu hal yang pasti, ia senang pria itu masih bertahan di sisinya dan terus berusaha melakukannya, meskipun Minrin sendiri kadang masih bisa melihat yang lain.

“Terima kasih, karena sudah bertahan selama ini.” Ucap Minrin tanpa mampu dikontrolnya. Ia masih menatap Ryeowook dan akhirnya melihat pria itu menoleh sebentar ke arahnya.

“Eiyy, apa yang kau bicarakan? Kau juga bertahan selama ini bukan hanya aku, nona.” Ujarnya yang sekali lagi membuat senyuman terkembang di bibir gadis itu.

“Ya.. kita saling bertahan” Lanjutnya sambil tersenyum lagi. Keduanya saling menatap untuk beberapa detik hingga akhirnya Minrin mengalihkan tatapannya.

“Oh.. astaga kenapa kita jadi melankolis seperti ini eh?” decaknya kemudian, terkekeh sendiri begitu menyadari suasan yang tercipa diantara mereka terlalu melankolis, bahkan mungkin jika ini adalah drama, sudah ada lagu ballad yang akan mengalun sebagai background.

Kuere.. kalau begitu berhentilah!”

Keduanya tertawa sementara mobil itu masih melaju di jalanan kota Seoul yang mulai ramai.

 

***

Dan hari ini seperti yang Ryeowook janjikan, mereka melewatkan satu hari ini bersama. Pria itu bahkan sengaja meminta member Super Junior tidak menghubunginya begitu juga dengan managernya. Ia meminta libur, begitu yang diucapkannya pada Eunhyuk dan Donghae sebelum berangkat ke apartement Minrin pagi tadi.

Ia sengaja melakukannya. Seharusnya sesuai rencana, ia akan memberi kejutan ulang tahun tepat di jam 12 malam setelah siaran Sukira. Tapi ternyata tubuhnya sudah terlalu kelelahan karena jadwal yang lumayan padat, maka dari itu ia membatalkannya. Padahal jika rencananya berhasil, ia akan memainkan sebuah lagu untuk gadis itu seperti permintaannya satu minggu yang lalu. Dan saat itu jugalah, ia juga berencana meminta gadis itu berada di sisinya dan hidup bersamanya.

Itulah kenapa hari ini ia meluangkan waktunya khusus untuk gadis itu, bahkan memintanya memilih sendiri hadiah ulang tahunnya.

“Sebenarnya kau tidak perlu sampai meminta libur.” Minrin berucap pelan ketika gadis itu menghampiri Ryeowook yang sudah duduk bersandar di sofanya.

Wae? kau tidak suka?” tanyanya.

Aniyo, tapi hari ini kau bersikap berlebihan. Aku tahu hari ini ulang tahunku, tapi bukankah sebelumnya kau tidak pernah melakukan ini?” tanya Minrin lagi.

Sejujurnya ia masih agak heran kenapa kekasihnya itu harus repot-repot meminta hari libur hanya untuk merayakan ulang tahunnya. Tahun-tahun sebelumnya dia bahkan tidak pernah melakukannya. Dia hanya menemui Minrin, memberinya kejutan kecil dan tentu saja sebuah hadiah. Tapi yah…hanya sebatas itu tanpa ada kencan sehari penuh. Dan hey.. hadiah cincin masih menjadi tanda tanya untuknya sampai sekarang.

“Aku tidak bertemu denganmu beberapa hari ini karena sibuk di China, karena itulah hari ini aku hanya ingin bersamamu.” Ujarnya yang langsung membuat Minrin mendesis pelan..

Aigoo… dasar bermulut manis!”

Ryeowook terkekeh lagi dan tanpa di duga-duga menarik pergelangan Minrin, membuat gadis itu duduk tepat di sampingnya. “Yaa..apa yang kau lakukan?” dengusnya.

Ani, hanya ingin seperti ini.” Lalu sekali lagi tindakan Ryeowook makin membuat Minrin tecengang sekaligus mendengus kesal, karena setelahnya Ryeowook sudah tidur di pangkuannya.

Yaa,,~!!”

“Diamlah..!”

Lalu seperti biasanya Minrin tidak mampu memprotes. Bukankah ini sangat aneh karena hari ini ia begitu penurut pada pria ini? Sebenarnya siapa yang berulang tahun sekarang eh? Kenapa Minrin harus mengikuti kemauan Ryeowook dan bukannya sebaliknya? Aigoo..

Ia hanya bisa menghela nafas pasrah dan membiarkan Ryeowook tidur di pangkuannya. Pria itu bahkan sudah memejamkan matanya. Dan sejenak Minrin kembali memperhatikannya. Semakin memperhatikannya, semakin membuatnya tertarik. Ya..selalu seperti ini. Menggelikan karena entah kenapa ia sangat mencintai pria ini.

Apa ia baru saja bilang cinta?

Oke, ini mungkin terdengar berlebihan dan akan sangat aneh jika Minrin yang mengatakan, tapi ia memang sangat mencintai pria ini. Ia ingin selalu bersamanya, melihat wajahnya, mendengar suaranya dan berada dalam dekapannya. Bahkan ia juga tidak keberatan jika pangkuannya akan sering digunakan Ryeowook sebagai bantal. Ia tidak akan mampu mengatakan alasan kenapa mencintai pria ini. Bukankah orang yang jatuh cinta tidak akan butuh alasan? Ya..karena ia sama sekali tidak tahu kenapa bisa sangat mencintai pria ini.

“Soal cincin itu…” Ryeowook berujar pelan sembari membuka matanya yang sukses membuat Minrin berjengat.

“Kenapa dengan cincin itu?” tanyanya berbalik.

“Sebenarnya aku ingin membeli sendiri untuk melamarmu.”

Deg.

M..Mwoo???”

Dengan cepat Minrin berteriak kencang, hingga membuat Ryeowook terpaksa bangun. Tatapan gadis itu berubah membulat horror menatap Ryeowook. Dan sayangnya yang ditatap hanya bersikap santai saja. Sejujurnya Ryeowook sudah tahu ekspresi Minrin akan seperti ini. Karena itulah ada baiknya juga ia tidak mengikuti saran Lee Hyukjae.

Lee Hyukjae yang menyarankan kejutan di malam ulang tahun Minrin, bermain piano untknya dan memberinya sebuah cincin. Ya.. pria bernama Lee Hyukjae itu yang menyarankan hal konyol yang bahkan berakibat Minrin berteriak terkejut dan kesal padanya, persis seperti sekarang.

“Aku tahu kau akan bersikap seperti ini.” Ujar Ryeowook sembari menghela nafasnya. Ia tidak bisa berbohong, jika kenyataannya sikap Minrin yang seperti itu selalu membuatnya kecewa.

Bukan berarti Ryeowook marah, hanya saja ia selalu tidak mengerti setiap kali Minrin memprotes dengan sangat keras usahanya mengenai sebuah pernikahan.

Minrin menundukkan kepalanya dan ikut mengela nafasnya. “Mianhae.. aku tidak bermaksud berteriak. Tapi kau tahu kan.. soal pernikahan…isshh, aku tidak berpikir untuk menikah muda.” Jawabnya polos.

Arraso, lagipula aku tidak melakukannya. Aku hanya memberimu cincin, dan itu memang hadiah untuk ulang tahunmu.” Sahut Ryeowook cepat sebelum membuat gadisnya itu semakin bersalah.

Ya.. ia sendiri juga tidak lagi terlalu memikirkan soal pernikahan. Hanya saja kadang akan terdengar sangat menarik jika bisa melihat gadis di depannya ini setiap pagi, sepanjang waktu liburnya. Karena bersama gadis ini adalah kebahagiannya. Bahkan kadang lebih membahagiakan dibandingkan memenangkan awards sekalipun.

Mian..” sekali lagi Minrin meminta maaf.

Gwaenchana.. pernikahan bukanlah sebuah garis finish dari kehidupan.” Ujar Ryeowook sedikit mengutip dari sebuah drama dan langsung mendapat anggukan kepala bersemangat dari Minrin.

Kuere.. itu benar.” Nada suara gadis itu berubah lemah saat menyadari sikapnya yang terlalu berlebihan tadi.

Ia mencoba memandang Ryeowook, dan melihatnya justru kembali memunculkan rasa bersalahnya.  Penolakannya bukan berarti ia tidak ingin bersama pria ini. Jika ia harus bicara jujur, maka dengan tegas Minrin akan mengatakan bahwa ia sangat ingin bersama pria ini, hidup sampai tua dengannya. Tapi untuk menikah diusianya sekarang bukanlah sesuatu yang diinginkannya.

“Ryeowook-ah,..” panggilnya pelan. dilihatnya Ryeowook tersenyum dan lagi-lagi mengacak puncak kepalanya.

Wae?”

“..ini tidak berarti kau akan meninggalkanku kan?” pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa Minrin sadari.

Benar-benar bodoh. Ia merutukinya.

Tapi entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba muncul. Melihat kesungguhan Ryeowook padanya dan pada akhirnya pria itu harus kecewa untuk kedua kalinya, mungkin saja terbesit dalam pikiran Ryeowook untuk meninggalkan Minrin.

Ah..michigata!!

“Dasar gadis bodoh.” Ryeowook berujar sambil tersenyum, lalu tanpa bisa Minrin antisipasi pria itu sudah memajukkan kepalanya dan mengecup singkat bibirnya.

Saranghaeyo…”

Ryeowook berucap kemudian yang langsung membuat Minrin diam tertegun. Kedua mata gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum bibirnya kembali dicium untuk kedua kalinya. Tidak ada penekanan tapi terasa sangat lembut. Bahkan sesaat ia terbuai, persis seperti biasanya. Tapi entah kenapa kali ini perasaannya melambung lebih tinggi. Mungkin karena efek kata yang baru saja Ryeowook katakan. Satu kata singkat yang jarang sekali Ryeowook utarakan padanya, tapi sekali diucapkan akan membuat Minrin terasa mengawang-awang di udara, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Menggelikan tapi juga mendebarkan.

Satu kata itu menjawab pertanyaannya tadi dengan sangat singkat dan juga jelas.

 “Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, arra?” Ryeowook melepaskan tautan diantara bibir keduanya lalu kembali tersenyum. Minrin mengangguk kecil.

Arraso.. kuerigo.. nado saranghaeyo.” Ucapnya. Sangat pelan dengan suara seraknya yang hampir mirip seperti sebuah bisikan.

Sungguh pernyataan cinta keduanya adalah kali pertama sejak mereka bersama. Percayakah kalian? Yah.. kenyataannya memang seperti itu. Bagi mereka tidak perlu saling mengubar kalimat sayang dan cinta, cukup saling mengerti satu sama lain, dan perasaan itu akan mengalir dengan sendirinya tanpa repot-repot diucapkan.

Ryeowook tersenyum lagi dan mengangguk, kemudian perlahan tangannya menarik tubuh Minrin mendekat, dan memeluknya.

“Sebenarnya aku ingin kita berkencan hari ini dan bukannya berdiam diri di apartementmu seperti ini.” Celetuknya, yang tanpa sadar membuat Minrin tersenyum kecil.

“Sampai jam berapa waktu yang kau miliki untukku hari ini?” tanya Minrin kemudian, tanpa sedikitpun berusaha melepaskan diri dari pelukan prianya itu.

“Aku ada latihan musical jam 5 nanti. Wae? Kau ingin kita pergi ke suatu tempat?”

“Kau ingat tempat yang dikunjungi Taemin saat syuting we got married? Sebuah kebun buah muhru…”

“Spain?”

“Spain aniya.. tapi tempat itu memang terasa seperti spain. Bisakah kita pergi ke sana?”

Ryeowook melepaskan pelukannya dan kembali menatap Minrin. “Kau ingin ke sana? Wae?” tanyanya penasaran.

Keunyang…hanya ingin merasakan liburan bersama. Bukankah terdengar sangat menarik, kau dan aku berlibur bersama di Negara eropa seperti Spain?” Kedua mata Minrin berbinar membayangkan itu.

Sudah lama sebenarnya ia ingin melakukan perjalanan seperti itu dengan Ryeowook. Lagipula tahun lalu ia hampir mati iri gara-gara melihat foto-foto liburan kekasihnya itu bersama Eunhyuk dan juga Kyuhyun di Yunani.

Sementara itu Ryeowook diam-diam hanya bisa menahan senyumnya. “Kalau begitu kita pergi ke Spain, eottoke?” lanjutnya sengaja sedikit berteriak yang langsung membuat Minrin mengernyitkan dahinya.

Mwo?”

“Sebenarnya aku sudah berencana mengajakmu pergi bersama setelah musicalku selesai. Mungkin hanya kau dan aku, kecuali jika sahabat terbaikmu itu dan pasangan ikannya memaksa ikut.” Ryeowook melanjutkan yang sekali lagi membuat Minrin membulatkan kedua matanya.

“Jinjjayo?”

“Hmm… kau ingin pergi ke mana? Spain? Kita pergi ke sana…benar-benar ke Spain.”

Dan selang beberapa detik senyum manis terkebang di bibir Minrin. Gadis itu tidak bisa lagi menahan rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya. Tiba-tiba ulang tahunnya kali ini terasa sangat berkesan. Jika ia terbiasa berteriak girang, maka saat ini adalah saat yang tepat untukknya berteriak sambil melompat-lompat bahagia seperti seorang anak kecil. Tapi satu-satunya yang mampu dilakukannya hanyalah menghambur ke dalam pelukan Ryeowook lagi.

Are you really serious?” tanyanya masih tidak percaya, dan untuk kesekian kalinya Ryeowook mengangguk meyakinkan.

I’m serious..”

Ia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Benar-benar membuatnya terkejut. “Gomawo…!!!” serunya yang semakin mempererat pelukan tangannya di leher Ryeowook, hingga membuat Ryeowook sedikit menarik lengan gadis itu agar tidak mencekiknya saat itu.

Arraso..arraso kau bisa melepaskan pelukanmu, Minrin-ya. Kau membuatku tidak bisa bernafas..”

Buru-buru Minrin melepaskan kedua tangannya yang semula melingkar di leher Ryeowook, lalu tersenyum nyengir pada pria itu. “Mian.. aku terlalu bahagia.”

“Kau hampir mencekikku tadi, astaga…!”

“Iya… aku tahu. Mianhae, Ryeowook-ah…!!”

Arraso…”

Minrin tersenyum lagi. “Keunde… apa liburan ke Eropa juga bagian dari hadiah untukku?” tanyanya kemudian.

Aniyo, kau bilang tidak suka hadiah yang mahal. Jadi untuk apa aku menghabiskan banyak uang untuk mengajakmu liburan?”

Kedua mata gadis itu berubah menyipit dan mulutnya mendesis pelan“Isshh, menyebalkan.. kuere arraso! Tapi kenapa tiba-tiba ingin pergi bersama?”

Ryeowook tersenyum lagi dan untuk kedua kalinya hanya mengendikkan bahunya kecil, membuat Minrin kembali mendesis kesal. “Sikapmu yang mendadak seperti itu kadang membuatku curiga. Pasti ada yang kau inginkan dariku, mwoya? Kau ingin melamarku lagi?” tanya gadis itu terus terang.

“Hmmm… entahlah. Tapi kurasa jika melamarmu, aku yakin kau akan menolak lagi. Jadi mungkin aku akan langsung membawamu ke depan altar.” Sahut Ryeowook sambil terkekeh.

Yaa.!!”

Ryeowook tertawa keras setelah itu. Sebuah pukulan ringan mendarat di lengannya tapi sama sekali tidak menghentikkan tawanya. Ia melirik Minrin lagi dan gadis itu sudah bersemu merah. Aigoo… bukankah sangat lucu?

“Hanya ingin menghabiskan banyak waktu dengan kekasihku tanpa diganggu dengan jadwal yang padat.” Ujar Ryeowook kemudian setelah berhasil menghentikkan tawanya. Nada suaranya berubah serius. “Aku ingin banyak berkencan denganmu sebelum kita benar-benar menikah suatu saat nanti. Aku tidak banyak memiliki pengalaman berkencan sebelumnya, jadi aku ingin melakukannya. Berkencan dengan kekasihku layaknya pasangan-pasangan lain. Kita bisa berjalan-jalan di sore hari tanpa takut ketahuan netizen, atau makan malam romantic tanpa takut ada berita tentang hubungan kita esok harinya. Ya… seperti itulah. Dan kurasa liburan di luar negeri adalah salah satu cara yang kupikirkan sejauh ini.”

Minrin tertegun mendengar ucapan itu. Ini pertama kalinya Ryeowook bicara panjang lebar dengan sangat serius dan mampu membuat detak jantung Minrin berdetak tidak karuan lagi. Lagi-lagi ia merasa sangat bersalah telah sedikit mengecewakan pria ini. Pria ini sangat ingin bersama dengannya. Mendadak Minrin ingat ucapan Ryeowook dalam sebuah interview, dia bilang ingin berkencan dengan banyak wanita sebelum menikah, karena dia tidak banyak memiliki pengalaman berkencan. Dan hari ini dia mengatakan dengan sangat serius mengenai itu. Bedanya adalah tidak ada ‘banyak wanita’ yang disebutkannya, tapi hanya satu wanita dan itu adalah dirinya.

“Kurasa satu minggu cukup. Bagaimana menurutmu? Kita bisa pergi ke Spain, Paris, aku juga ingin ke Swizerland dan juga Prague.”

Minrin tersenyum mendengar tempat-tempat yang Ryeowook rencanakan untuk mereka kunjungi. Lalu ia pun mengangguk. “Kuere kita pergi dan berkencan seperti yang kau inginkan.” Jawabnya.

Lalu kemudian Ryeowook pun ikut tersenyum.

Seperti itulah. Ya sesederhana itulah cinta. Keinginan untuk tetap bersama. Tidak ada alasan lain hanya ingin bersama.

CUT

Annyeong^^

Saya kembali membawa RyoMin. Dan ini special untuk Minrin yang kemarin berulang tahun. Chukkae … ^^

Sebenarnya mau di post tepat tanggal 18 kemarin tapi ternyata belum kelar nulisnya hehe.. terlalu sibuk balas pesan dari teman2 yang mengirimkan doa. Hehe ..
well, terima kasih buat teman2 yang kemarin mengirimkan doa kalian, semoga di umur 20 ini saya bisa lebih baik lagi ^^
..
Oke, tentang ff ini adalah kelanjutan dari Lattelicious. Sebenarnya tanpa kalian sadari setiap kali saya nulis ff ficlet atau oneshoot ttg RyeoMin selalu berhubungan satu sama lain. Yah… tidak banyak kelihatan sih, tapi ficlet2 itu menggambarkan kehidupan mereka di bayangan saya ^^.
Dan mungkin kelanjutan ff ini aka nada jika Ryeowook beneran liburan seperti yg dia bilang akhir-akhir ini… setelah musicalnya selesai.

Jangan lupa komentar kalian..bye^^

 

Advertisements

2 thoughts on “(Ryeomin story : Minrin’s Birthday) A Day With You

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s