(Ryeomin story) Lattelicious

lattelicious

Ryeowook – Minrin

Memilikimu adalah sebuah kebahagiaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Bersamamu bisa lebih membahagiakan dibandingkan memenangkan awards sekalipun. Dan karena takdir telah berbicara.

 

Seoul, April 12th 2014

08.00 PM

Derap kakinya terdengar teratur di lorong aparement itu. Suara sepatunya yang bersentuhan dengan lantai menjadi irama tersendiri untuk gadis itu melangkah kakinya menuju apartementnya di nomor 203. Langkahnya berubah melambat dan berhenti tepat di pintu apartementnya. Tangannya sudah terangkat hendak menekan digit passwordnya ketika sesuatu di dekat sepatunya mengganggu fokusnya. Ia menunduk dan dilihatnya sebuah kartu tergelatak di samping setangkah bunga lily. Bibirnya mengulas senyum begitu melihatnya. Hanya ada satu orang yang tahu bahwa ia menyukai bunga lily –satu-satunya bunga yang menurutnya menarik-.

Diambilnya kartu berwarna biru itu dan dibukanya. Sebuah kalimat yang sangat jelas tertulis di sana. Sekali lagi ia tersenyum. Lalu seakan mengikuti keinginan hatinya, ia berbalik dan mengurungkan niatnya masuk ke dalam apartement. Kartu itu dan juga orang yang mengirimnya menjadi alasan untuknya berbalik.

Aku menunggumu di sini. Datanglah… ^^

Begitulah bunyi isi kartu tadi. Sangat sederhana dan mungkin bagi orang lain yang membacanya akan menimbulkan tanda tanya besar di kepala mereka. Tapi bagi Minrin tidak demikian. Ia tahu dengan sangat yakin siapa orang yang menunggunya itu, dan di mana orang itu menunggu. Karena hanya ada satu orang yang seperti itu.

Langkah kakinya berubah bersemangat saat hampir mencapai bangunan kecil di pinggiran kota. Sebuah coffe shop sederhana bernama Hollys Coffe yang sudah menjadi tempat favourite mereka berdua selama ini. Minrin membuka pintu depan coffe shop itu, membuat suara gemercik dari lonceng kecil di atas pintu berbunyi. Melihat suasana coffe shop yang sama sekali tidak berubah membuatnya tambah bersemangat. Karena ia memang sudah sangat jarang datang kemari. Terakhir datang saat pria itu mengajaknya bersama beberapa orang temannya.

Ya.. Pria itu adalah pria yang sekarang sedang berdiri di depan meja pesan dengan tangan terlipat di dadanya. Hari ini dia mengenakan tshirt abu-abu dan dipadukan dengan jaket hitamnya. Rambutnya masih berwarna hitam seperti terakhir kali Minrin bertemu dengannya. Ahh.. padahal sudah beberapa kali Minrin mengutarakan ketidaksukaannya dengan gaya rambutnya yang sekarang. Ia lebih suka gaya rambutnya seperti dulu.

Minrin tersenyum lagi dan berjalan mendekat. Ia sengaja tidak langsung menyapanya dan justru berdiri di samping kiri agak jauh dari pria itu –Kim Ryeowook- dan mengamatinya. Hingga akhirnya pria itu menolehkan kepalanya masih dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Wajahnya sedikit merajuk dan itu sangat menggelikan untuk Minrin. Lalu berubah ramah dengan senyum khasnya yang juga membuat Minrin ikut tersenyum.

“Kau lama..” ujarnya sedikit merajuk.

Dan lagi Minrin hanya terkekeh geli. Ia mengedikkan bahunya dan tersenyum. Lalu perlahan menghampiri Ryeowook dan bersama-sama menghadap ke depan ke arah meja pesan, dimana seorang pelayan bersiap mencatat pesanan mereka.

“Dua Americano..”

Ani.. satu Americano dan satu coffee latte.” Potong Minrin cepat hingga membuat Ryeowook yang berdiri di sampingnya menoleh singkat dengan dahi berkerut bingung.

Biasanya mereka akan memesan Americano di coffee shop ini. Salah satu jenis kopi yang yang memiliki citra rasa pahit dan bagi yang tidak suka bisa jadi tidak akan tahan meminumnya.. Keduanya memang bukan pecinta kopi Americano, tapi selalu saja kopi itu yang di pesan. Dan kebiasaan itu terus saja terjadi.

Wae?” tanya Ryeowook heran.

Keunyang.. aku hanya ingin minum kopi yang manis hari ini.”

Ryeowook sedikit mendengus kecil dan tidak lagi berniat memprotes keinginan gadisnya. Minrin menoleh dan tersenyum sekilas. Hari ini ia tidak ingin merasakan rasa pahit. Karena Americano itu pahit dan Latte itu manis. Dan ia menginginkan Latte hari ini. Manis seperti pertemuannya kembali dengan prianya yang sudah beberapa minggu tidak ditemuinya.

Tidak berselang lama sebelum satu Americano dan satu Latte siap untuk mereka berdua. Ryeowook mengambil dua gelas kopi itu. Setelah berterima kasih pada pelayan tadi, keduanya pun berjalan menuju salah satu meja kosong di bagian samping yang mengarah langsung ke luar jendela.

“Kau menerima pesanku dan datang kemari?” tanya Ryeowook kemudian ketika keduanya sudah duduk dan saling berhadapan.

“Kekanak-kanakan sekali meninggalkan pesan seperti itu di depan pintu apartementku.” Minrin terkekeh dan sedikit mencibir. “Kenapa kau tidak langsung menemuiku. Kau tahu aku sedang di mana kan? Atau kenapa kau tidak mengirimku pesan saja? Aigoo..”

Kali ini giliran Ryeowook yang terkekeh. “Hanya ingin bersikap romantic padamu.” Ujarnya yang seketika itu membuat Minrin mendesis pelan.

“Menggelikan..”

“Tapi kau menyukainya, iya kan?” tebak Ryeowook yang sayangnya harus diakui Minrin tebakannya benar. Ia tersenyum tipis lalu mulai memainkan gelas karton kopi miliknya.

“Terima kasih. Tapi ku harap kau tidak lagi melakukannya. Aku benar-benar tidak tahu harus berkomentar apa.”

“Tidak perlu dikomentari. Katakan saja kau menyukainya atau tidak.” Sahut Ryeowook kemudian.

Lagi-lagi Minrin tersenyum. Kali ini ia mencoba kopi pesanananya tadi. Seketika itu rasa manis menyelimuti kerongkongannya. Hangat dan manis, persis seperti yang diinginkannya. Begitu juga dengan apa yang sudah Ryeowook lakukan tadi. Meskipun terasa menggelikan dna juga konyol tapi Minrin akui bahwa pesan dalam kartu dan juga bunga lily terasa manis dan ia bisa merasakan kehangatan pria itu lagi.

Kuere.. nahn joha” ujarnya setelah puas mencicipi coffee latte miliknya.

Hening kemudian. Sementara Ryeowook sibuk memperhatikan gadis di depannya. Seakan melalui tatapan yang diberikannya, ia menyalurkan perasaan rindu yang sudah beberapa minggu mencekiknya. Karena itulah ia sengaja mengajak gadis ini ke Hollys coffee dengan meninggalkan pesan dan lily putih di depan apartementnya.

Kalimat-kalimat rindu tidak perlu lagi diutarakan di antara keduanya. Keduanya pun saling mengerti jika mereka merindukan satu sama lain. Jadi cukup saling memperhatikan, saling bertemu dan mengobrol, itu semua sudah mewakili perasaan rindu mereka. Lagipula Minrin juga tidak akan mampu mengatakan ‘aku rindu padamu’ pada Ryeowook. Karena baginya itu terdengar menggelikan. Sesaat gadis itu melirik Ryeowook dan ikut tersenyum saat pria itu masih menatapnya.

“Sebentar lagi ulang tahunmu. Kau menginginkan sesuatu?” tanya Ryeowook kemudian.

Minrin yang semula sibuk memainkan gelas miliknya seketika itu mendongak pelan. Matanya menyipit menatap Ryeowook seakan bertanya apakah Ryeowook berencana mengerjainya, tapi diurungkannya pertanyaan itu, karena Ryeowook ternyata memperhatikannya dengan serius. Ia mendesah pelan sembari menghela nafasnya lalu menghentikkan kegiatan tangannya yang asyik bermain dengan gelasnya.

Mollayo..” ia berpikir sebentar. Kira-kira apa yang diinginkannya di hari ulang tahunnya yang hanya tinggal menghitung hari. Sedetik kemudian ia menyahut “Obseoyo…” lanjutnya lalu kembali mendesah.

Ia paling tidak bisa menjawab jika diberi pertanyaan seperti ini. Baginya mendapatkan cinta dari keluarganya, sahabat-sahabatnya dan juga Ryeowook sudah cukup baginya. Ia tidak menginginkan hal lain selain kebahagian untuknya dan juga orang-orang disekelilingnya.

Waeyo?” Ryeowook bertanya pelan terkait wajah Minrin yang berubah tidak bersemangat.

Aniyo.. aku bahagia dengan hidupku sekarang”

Ryeowook mendesis pelan, lalu tangannya terangkat pura-pura menjitak dahi gadis itu. Minrin memejamkan sebelah matanya dengan tindakan Ryeowook barusan dan hanya terkekeh pelan. sementara Ryeowook masih menatap Minrin dengan gemas.

“eiiyy bukan itu maksudku. Kau tidak menginginkan hadiah? Katakan padaku apa yang kau inginkan dan aku akan membelikannya untukmu.”

“Benarkah? Hmm kalau begitu…” Minrin berpikir sejenak lalu tersenyum penuh arti pada Ryeowook, hingga sesaat Ryeowook mewaspadai keinginan gadisnya itu.

Mwo?” tanyanya

“Aku sangat ingin hal ini sejak dulu. Melihatmu bermain piano.” Jawabnya mantap. Ia tersenyum lagi kali ini lebih lebar. “Kau tidak pernah bermain piano untukku. Karena itu aku sangat ingin mendengarya.”

Jinjja?” tanya Ryeowook meyakinkan.

Ia ingat kalau ia memang belum pernah memainkan sebuah lagu untuk gadisnya. Dulu Minrin akan merajuk setiap kali Ryeowook berlatih piano bersama Dalma. Tapi lama-lama tidak pernah lagi dan baru kali ini Ryeowook mendengar keinginan Minrin itu.

Minrin mengangguk mengiyakan. “Will you?” tanyanya.

“Entahlah.. aku akan melakukannya jika kau mau menjawab pertanyaanku.”

Mwoga?”

Ryeowook tersenyum dan terlihat menimang-nimang sebentar. Sementara Minrin sudah was-was dengan keinginan Ryeowook itu. Prianya memang tidak pernah meminta yang aneh-aneh, kadang hanya sederhana. Tapi hal yang tidak aneh-aneh dan sederhana itu justru tidak bisa dilakukan Minrin.

“Beri aku alasan kenapa kau mencintaiku dan bertahan di sisiku?”

Minrin tehenyak sesaat. Benarkan! Pertanyaan itu sederhana dan tidak ada yang aneh, tapi Minrin tidak tahu harus menjawabnya seperti apa. Ia mendengus sebal lalu berpura-pura kesal. Diliriknya Ryeowook yang sekarang sedang tersenyum padanya.

“Hmm.. pertanyaan itu sulit. Ada pertanyaan lain tidak?”

“Eiyy.. sudah mending aku tidak menyuruhmu mengatakan saranghaeyo di sini. Palli, jawab saja pertanyaanku.”

Sekali lagi Minrin berpura-pura kesal. “kuere arraso.. Errhhmmm… karena kau Kim Ryeowook.?” Lanjutnya sedikit bertanya.

Mwoya?

“Issh, lalu menurutmu apa? aku tidak tahu. yang aku tahu aku ingin bersamamu. Itu saja!” seru Minrin kemudian, yang membuat Ryeowook langsung terkekeh.

Diam-diam ia tersenyum mendengarnya. Ia selalu menyukai cara Minrin yang tersipu malu seperti itu. Gadis itu meski kadang terlihat bersikap dingin tapi dia bisa sangat menggemaskan.

Kuere, arraso…” Ryeowook tersenyum dan senyum itu terlihat menggelikan untuk Minrin.

Karena hanya ingin bersama, merasakan hal-hal manis dan hangat bersama pria itu. Ya.. sesederhana itu. Tidak ada alasan lain yang mampu Minrin ungkapkan. Mungkin jawaban itu terdengar berlebihan untuk pasangan seperti mereka yang tidak pernah berlaku romantic sedikitpun, tapi seperti itulah jawaban yang mampu dipikirkan Minrin. Bukankah sebagian orang tidak pernah memerlukan alasan untuk jatuh cinta?

“Aku merindukanmu, Minrin-ya..”

Kalimat itu meluncur bebas dari Ryeowook. Untuk pertama kalinya selama mereka bersama tiga tahun ini. Dan itu mendadak menjadi hal yang mengejutkan untuk Minrin. Ia mendongak dan memperhatikan Ryeowook, melihat ke dalam mata kecil itu yang selalu memberikan perhatian lebih padanya. Sepasang mata yang sudah beberapa minggu tidak dilihatnya karena kesibukan keduanya. Dan baru Minrin menyadari bahwa ia juga sangat merindukan pemilik mata itu. Tatapannya berubah melembut seiring sepasang mata itu yang juga melakukan hal sama padanya.

“I miss you too… “

 

CUT

 

 

 

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s