(Fanfiction) #6 Bittersweet

bitterswet

Title                 : #6 Bittersweet

Author             : d’Roseed (@elizeminrin)

Cast                 : Shin Minrin, Kim Ryeowook, Lee Hyukjae

Genre              : Romance, Brothership, AU, Sad

Rating             : PG 15+

Length             : 8060 words (Chapter)

Disclaimer       : Kim Ryeowook and Lee Hyukjae milik Tuhan, orang tua mereka, Super Junior and ELF. I just have the plot and artwork.

Warning         : cerita sedikit membosankan, yang tidak suka cerita yang bertele-tele silahkan segera di close ^^

Selamat membaca ~

 

    ____________                    

 

Incheon

Desember, 2002

 

Dremcatcher itu tergantung di dekat jendela, bergerak dan mengeluarkan bunyi gemercik ketika angin bertiup. Begitu juga tirai berwarna putih yang juga ikut bergerak, terayun mengikuti arah angin. Sementara itu Lee Hyukjae, si pemilik kamar itu terlihat berbaring menatap lurus pada dreamcatcher berwarna putih kecoklatan, ketiga bulu yang mengelilingi lingkaran sekali lagi bergerak lembut. Benda berbentuk lingkaran di bagian atas dan berhiaskan bulu-bulu di bagian bawahnya itu memang sudah menjadi penghuni di jendela kamarnya sejak dua hari yang lalu. Ia sengaja membelinya dan berencana memberikannya pada seseorang. Seorang gadis yang sudah beberapa bulan terakhir menjadi sahabat sekaligus teman dekatnya. Dan Eunhyuk –panggilan akrab Lee Hyukjae-  ingin memberikan dreamcatcher itu padanya.

 Eunhyuk bangkit dari posisinya dan beralih duduk, sekali lagi diperhatikannya benda yang masih teraun-ayun tertiup angin. Lalu tatapannya beralih pada Ryeowook yang duduk di kursi belajarnya, mengamati sejenak sahabatnya yang justru larut dalam buku yang dibacanya. Kemudian ia pun hanya bisa menghela nafasnya.

 “Hyung, apa kau bermimpi buruk sampai-sampai harus membeli dreamcatcher?” Ryeowook tiba-tiba bertanya dan Eunhyuk serta merta langsung menolehkan kepalanya, mengernyit dan menatapnya bingung. “Di buku ini dikatakan dreamcatcher bisa mendatangkan mimpi baik dan menjauhkan mimpi buruk.” Lanjutnya yang langsung membuat Hyukjae mengerti kenapa tiba-tiba membicarakan dreamcatcher, rupanya Ryeowook sedang membaca buku miliknya tentang suku Indian di Amerika.

 “Aniya, aku ingin memberikannya pada seseorang.” Jawabnya lalu berjalan mendekati jendela dan mengambil dreamcatcher itu.

Nuguya? Yeoja? Kau tidak pernah memberitahuku kau punya kekasih.” Celetuk Ryeowook ingin tahu.

Ya ..mereka seperti adik kakak sungguhan jadi mustahil tidak ada teman Eunhyuk yang tidak diketahui Ryeowook. Bisa dikatakan teman Eunhyuk teman Ryeowook juga, begitu juga sebaliknya. Keakraban dua anak laki-laki yang kadang memunculkan tanggapan-tanggapan lucu dari teman-temannya.

Ani. Hanya yeoja yang tidak sengaja kukenal.” Eunhyuk menjawab malas. Ia memasukkan dreamcatcher itu ke dalam sebuah kotak yang sudah disiapkannya.

“Kau tidak mengenalkannya padaku. Kau menyukainya?” tanya Ryeowook lagi yang langsung ditanggapi dengan kekehan pelan

 “Aku akan bertemu dengannya nanti malam dan aku berencana untuk mengajakmu” Sahut Eunhyuk kemudian. Setidaknya ia juga ingin mengenalkan yeoja yang berhasil menarik perhatiannya pada Ryeowook.

“Lupakan saja. Aku tidak ingin mengganggu kencan pertamamu.” Ryeowook berujar pelan dengan sedikit mencibir. “Lagi pula aku ada les piano. Kau pergilah saja. Lain kali baru kau kenalkan padaku.” Ryeowook tersenyum dan menepuk pundak Eunhyuk.

“Oh ayolah. Ibuku akan melarangku pergi kalau kau tidak ikut. Lagipula aku masih dihukum tidak keluar rumah gara-gara Ahra nunna dan kau adalah satu-satunya orang yang bisa membantuku.” Eunhyuk mulai merengek seperti anak kecil, menatap Ryeowook memohon. Sedangkan yang ditatap hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah.

Beginilah akibatnya kalau tidak bisa menolak permintaan orang lain terlebih lagi orang bernama Lee Hyukjae yang sudah dianggap Ryeowook sebagai kakaknya sendiri “Salahmu sendiri cari gara-gara dengan Ahra Nunna.Baiklah, aku ikut!” putusnya kemudian.

Eunhyuk tersenyum lebar dan bergerak ingin memeluk Ryeowook tapi terhenti karena Ryeowook langsung menghindar. “Jangan menyeretku pada masalahmu dan Ahra nunna lagi.” Ancamnya yang sekali lagi ditanggapi Eunhyuk dengan cengiran lebar.

Arraso..arraso.” sahut Eunhyuk cepat masih dengan senyum lebarnya.

“Siapa namanya? Apa dia cantik?” tanya Ryeowook kemudian.

“hmm yeppo” ujar Eunhyuk yang tiba-tiba membayangkan gadis itu ternyum padanya. Lalu selang sedetik ia pun menoleh ke arah Ryeowook lagi, “Neo.. dilarang tertarik padanya.” Sahutnya sedikit mengancam yang langsung membuat Ryeowook terkekeh lalu tertawa keras.

Arraso, hyung.”

 __________

Seoul, 2012

Eunhyuk’s Apartement

10.15 PM

Beberapa menit berlalu sejak Eunhyuk menghentikan ucapannya dan kini pria itu terlihat sudah terlelap dalam tidurnya. Suara deru nafasnya yang teratur menjadi satu-satunya suara selain detak jam di apartement ini yang memecah keheningan. Sementara itu Ryeowook masih terdiam di tempatnya, mengamati Eunhyuk dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan seperti apa. Ekspresi itu adalah refleksi dari perasaannya saat ini. Bagaimana mungkin mereka berdua menyukai gadis yang sama?

Saat ini Ryeowook benar-benar merasa sulit. Berada di antar dua tebing yang menghimpitnya, dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kenyataan yang baru didengarnya telah mengusik pikiran dan juga hatinya. Bukan hanya karena Eunhyuk mengenal Minrin, bahkan mencintai gadis itu, tapi juga kenyataan bahwa mungkin saja gadis itu juga memiliki perasaan yang sama untuk Eunhyuk.

Kenapa Eunhyuk tidak pernah mengatakan ini sebelumnya, bahwa mereka saling mengenal. Lalu gadis itu, kenapa dia harus berpura-pura tidak mengenal Eunhyuk dan justru menerima Ryeowook berada di sisinya.?

Pertanyaan yang sejak tadi bergelayut di pikiran Ryeowook dan ia butuh jawaban dari pertanyaan itu, jika tidak ingin terpuruk dalam sebuah lubang. Ia merasa dikhianati. Dikhianati oleh seorang sahabat yang selalu dipercayainya selama ini, dan juga dikhianati oleh seorang gadis yang dicintainya.

Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?

          ______________

C.E’s Group

09.05 AM

 

Pagi hari di C.E group, terlihat semua karyawan di perusahaan itu tengah sibuk. Kesibukan yang juga harus dijalani Direktur mereka, Kim Ryeowook. Pria itu datang lebih pagi dari biasanya, ia juga langsung memeriksa laporan-laporan yang diserahkannya pagi ini. Bahkan tidak seperti biasanya, ia juga berkeliling melihat karyawannya bekerja, sesuatu yang jarang dilakukannya.  Bisa dibilang ia menjadi sangat sibuk. atau lebih tepatnya menyibukan diri. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya untuk mengusir semua pemikiran mengenai Lee Hyukjae dan juga Shin Minrin.

Ia hampir berhasil melakukannya. Bahkan ia tidak menghubungi gadis itu sejak meninggalkannya di Ilsan. Dan Eunhyuk, sampai sekarang pun Ryeowook tidak berharap bertemu dengannya. Ia butuh merilekskan pikiran sebelum bertemu dengannya, atau ia akan mencercanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sejak semalam menjadi penghuni di pikirannya.

Tapi sayangnya usaha itu sia-sia

Ne, aku mengerti Aboji..” Ryeowook menghentikan pembicaraan dengan ayahnya di telepon ketika pintu lift terbuka.

Tepat saat itu, ia mengangkat kepalanya dan mendapati Eunhyuk sudah berdiri di depannya, melambai dan tersenyum lebar padanya.

 “Ryeowook-ah, beruntung sekali aku bertemu denganmu di sini.”  Sapanya bersemangat.

Hyung..” Ryeowook membalas dengan agak tidak bersemangat dan hampir saja tercekat menyapa pria itu. Tidak ada yang lebih canggung dari pada bertemu secara tidak sengaja dengan sahabat , -yang juga mencintai calon isterimu sendiri-.

Ryeowook berjalan dengan pelan ke luar dari lift dan tersenyum singkat. “Apa yang membawamu kemari?” tanyanya, benar-benar berusaha bersikap biasa. Ia harus menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Eunhyuk sedang mabuk saat mengatakannya, jadi ini terasa lebih mudah. Setidaknya keduanya tidak perlu merasa terlalu canggung, cukup Ryeowook yang merasakannya.

 “Aku hanya ingin mampir. Terima kasih karena mengantarku kemarin. Aku tidak mengatakan sesuatu yang aneh kan saat mabuk?” Eunhyuk bertanya diselingi kekehan ringan.

Ryeowook menoleh, tercekat untuk sesaat hingga akhirnya ia menggeleng. “Tidak. Kau hanya mengoceh karena pekerjaanmu. Itu saja.”

“Benarkah? Ah.. syukurlah, aku kira aku bicara aneh-aneh. Kau tahu kan, aku bisa sangat mengerikan kalai mabuk?” Eunhyuk terkekeh lagi sementara Ryeowook lagi-lagi hanya bisa tersenyum tipis.

‘Ya, dan ucapanmu semalam memang sangat gila.’ Ryeowook melanjutkan dalam hati kemudian ia menepuk pundak Eunhyuk pelan. “Bagaimana kalau Kita bertemu di club nanti malam? Aku sudah lama tidak minum denganmu, Hyung.

Eunhyuk langsung mengangguk setuju “Tapi aku tidak mau dibuat mabuk seperti kemarin. Aissh, Daehyun benar-benar memberiku alcohol. Dasar bocah itu~!”

Ryeowook berusaha tersenyum dan terkekeh pelan. “Kau yang memintanya, Hyung. Daehyun bilang hanya menuruti perintahmu.”

“Tapi anak itu benar-benar keteraluan, aku tidak tahu bisa langsung mabuk hanya dengan dua gelas saja.” Eunhyuk menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

Ryeowook sekali lagi hanya bisa tersenyum. “Kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa nanti malam.”

“Yaa, kau sibuk sekali hari ini?” seru Eunhyuk menahan. “Padahal aku ingin memberitahumu tentang pria itu.” Lanjutnya yang langsung membuat Ryeowook menghentikan langkah kakinya. Ia menoleh “Pria itu? Apa maksud Hyung Shin Taewoo?” tebaknya yang langsung diikuti anggukan kepala oleh Eunhyuk

“Hmm Aku menemukan Shin Taewoo.” Ucap Eunhyuk yang seketika itu membuat Ryeowook sedikit membelalakan matanya tidak percaya.

Jinjjayo?”

Ryeowook terkejut dan juga ingin tahu. Tapi entah kenapa ia menahan untuk bertanya lebih jauh. Ada sedikit kecurigaan di sini, -atau hanya dia yang merasa begitu-. Ia pernah mengatakan pada Eunhyuk untuk berhenti mencari tahu keberadaan ayah kandung Minrin, karena Ryeowook tidak ingin menambah luka hati gadis itu jika bertemu dengan ayahnya. Pria itu sampai sekarang masih belum dipercayai Ryeowook akan berlaku baik pada Minrin. Lalu sekarang tiba-tiba Eunhyuk datang padanya dan mengatakan bahwa dia menemukan Shin Taewoo, bukankah itu terdengar -dia terlalu berusaha keras menemukan Shin Taewoo- ?

Dan kenyataan itu membuat Ryeowook mendadak tidak tertarik. Keterkejutannya berkurang dan ia pun hanya menoleh singkat lalu kembali meluruskan kepalanya ke depan.

“Kau tidak ingin tahu dimana?” tanya Eunhyuk ketika mendadak Ryeowook menunjukkan ketidakminatannya.

Ryeowook bimbang. Antara ingin tahu dan juga tidak. Ia ingin tahu, -jelas ia ingin tahu- karena bagaimana pun juga ia sudah berjanji pada gadis itu. Tapi ia juga tidak ingin tahu jika nyatanya Eunhyuk menemukan ayah Minrin atas dasar rasa cintanya pada gadis itu. Ia menoleh sebentar –lagi- pada Eunhyuk dan hanya menggeleng pelan.

Hyung, Apa alasanmu tetap mencarinya? Maksudku, orang itu mungkin saja akan memperlakukan Minrin dengan buruk seperti dulu. Lagipula aku sudah bilang tidak akan mencarinya lagi” ujarnya bertanya. Ia melirik singkat pada Eunhyuk.

“Bukankah wajar jika gadis itu ingin bertemu dengan ayahnya? Aku hanya ingin membantu. Kenapa kau bertanya seperti itu?” tanyanya balik

Ryeowook diam. Jika boleh jujur, Ryeowook tidak siap mendengar alasan Eunhyuk. Karena entah bagaimana alasan Eunhyuk akan menjadi refleksi perasaannya untuk gadis itu. Bukankah Eunhyuk lebih banyak tahu tentang Minrin? Dia bahkan juga lebih dulu mengenal gadis itu dibandingkan Ryeowook.

“Hanya penasaran saja. Aku senang kau sangat peduli dengannya dengan membantuku mencari ayahnya.

Sejenak Ryeowook berbalik lagi  “Kau bisa mengirimiku alamatnya? Aku harus pergi sekarang, jadi aku tidak punya waktu. Mungkin aku akan menemuinya nanti.”

Ia mencoba memutus obrolannya dengan Eunhyuk. Sungguh ia tidak bisa berlama-lama bersama Eunhyuk dan berbicara dengannya sementara perasaannya terus mendesak untuk bertanya pada Eunhyuk tentang hubungannya dengan Minrin.

“Kau yakin tidak ingin tahu bagaimana aku bisa menemukannya? Kau aneh sekali hari ini. Tapi baiklah, aku akan mengirimu alamatnya.” Eunhyuk mengalah

Ryeowook tersenyum dan mengangguk “Gomawo, Hyung” lalu setelah itu ia menepuk pundak Eunhyuk pelan dan berjalan berlalu meninggalkan Eunhyuk.

Eunhyuk sedikit mendengus tapi hanya diam. Sejenak ia masih memperhatiakan Ryeowook. Ada yang aneh dengannya dan Eunhyuk tidak tahu kenapa. Apa terjadi sesuatu diantara mereka –Ryeowook dan Minrin- ?

   _____________

Ilsan,

01:00 PM

Minrin menatap Ryeowook dengan heran. Pria ini tanpa memberitahu tiba-tiba datang dan hampir membuat Minrin terkejut setengah mati saat melihatnya di depan pintu rumah. Ia semakin dibuat terkejut saat Ryeowook hanya menatapnya –persis seperti sekarang– dengan tatapan mata yang lemah. Apa terjadi sesuatu? Ada yang menganggu pikirannya? Oh sungguh Minrin sangat khwatir. Sebuah kekhawatiran yang agak berlebih.

Pria ini mengajak Minrin keluar dan sampai sekarang ia sama sekali tidak mengatakan apapun tentang alasan kedatangannya. Dan ini semakin membuat Minrin bingung. Dilihatnya pria itu lagi, posisinya tidak banyak berubah -kepalanya menunduk dengan punggung bersender di kursi-

“Apa terjadi sesuatu?” tanya Minrin pelan.

Ryeowook tetap bergeming di depan kemudianya, masih dengan kepala yang agak menunduk. Lalu entah mendapat dorongan dari mana, Minrin mengangkat tangan kirinya berusaha menyentuh bagian samping kepala pria di sampingnya itu. Kemudian tanpa disangkanya Ryeowook lebih dulu menoleh, membuat Minrin mengurungkan niatnya.

“Ada yang kau pikirkan?” tanya Minrin lagi.

Minrin tidak suka melihat Ryeowook seperti ini. Pria ini terlihat kehilangan semangat, dan dia bahkan tidak tersenyum sejak tadi. Ini sedikit membuat Minrin tidak hanya khawatir tapi juga takut. Ia memang tidak mengetahui banyak tentang Ryeowook termasuk bagaimana sikapnya jika sedang banyak pikiran. Tapi untuk sekarang ini Minrin sangat yakin bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran pria ini. Dan entah kenapa Minrin ingin Ryeowook berbagi dengannya, tentang apa yang membuat pikirannya tidak tenang dan membuatnya seperti ini.

“Soal ayahmu, apa kau sangat ingin bertemu dengannya?” tanya Ryeowook kemudian. Dia menoleh dan Minrin tidak bisa mengelak kecuali menatap balik kedua mata itu. Lalu dengan ragu Minrin mengangguk.

Dan kenapa dia tiba-tiba bertanya tentang masalah itu? Sampai detik ini Minrin masih ingin bertemu dengan ayahnya itu, meskipun kenyataan bahwa ayahnya pergi dengan tidak bertanggung jawab tidak bisa disingkirkan begitu saja.

“Aku minta maaf karena tanpa sepengetahuanmu, aku mencari tahu tentangmu dan juga keluargamu dulu.” Ryeowook berujar lagi dengan pelan. Sementara itu Minrin masih diam menatap mata itu yang juga sedang menatapnya. Ia tidak peduli soal itu, bahwa Ryeowook mencari tahu tentang masa lalunya dengan diam-diam. Sama sekali tidak peduli. Lalu ia menggeleng menunjukkan bahwa ia tidak masalah dengan hal itu.

“Aku hanya tidak ingin kau menderita lagi seperti dulu, karena itu aku sempat tidak ingin mencari lagi keberadaan ayahmu. Mian..”

Sekali lagi Minrin menggeleng. Sama sekali tidak apa-apa. Ia bahkan terenyuh dengan perhatian Ryeowook yang tidak ingin melihat Minirn menderita lagi karena perlakuan ayahnya. Meskipun hatinya selalu berteriak ingin bertemu ayahnya, tapi jika memang Ryeowook tidak ingin mencari pria itu untuknya, sama sekali tidak masalah. Toh, ada atau tidak keberadaan ayahnya tidak akan mengubah keputusan Minrin untuk menikah dengan Ryeowook.

“Dulu, dia selalu memukulku dan aku sangat membencinya.” Minrin berujar pelan, membenarkan semua yang sudah diketahui Ryeowook tentangnya, tentang ayahnya dan bahkan mungkin tentang kehidupan keluarganya dulu.

Perlahan ingatannya kembali memutar perlakukan ayahnya. Saat pria itu memukulnya, menamparnya hingga berdarah dan bahkan mendorongnya dengan kasar ke dinding. Tidak sampai di situ, kadang dia juga akan berteriak, memaki dan menghujat dengan nada tinggi yang kasar.

“Sama sekali tidak ada keinginan untukku menganggapnya ayah lagi sejak saat itu. Ayahku bukan orang yang kasar seperti itu. Dia orang yang baik dan hangat sebelum uang membuatnya hilang akal.” Setetes cairan bening menetes tak tertahankan di pipinya.

Iya, semua itu benar. Ayahnya orang yang sangat baik, seorang pria hebat yang selalu melindunginya. Tapi itu dulu, sebelum uang mengubahnya. Ia diam sebentar dan beberapa kali ditariknya nafas panjang. Dadanya tiba-tiba menjadi sesak. Ini adalah kali pertamanya bisa menangis karena ayahnya di depan orang lain.

“Aku hanya merindukannya, Ryeowook-ssi. Aku benar-benar merindukannya.” Tetes air mata itu berubah menjadi isakan kecil. “Aku ingin memanggilnya lagi dengan sebutan appa..” lalu berubah semakin hebat saat bibirnya bergetar mengatakan kata ‘appa’, tubuhnya ikut bergetar hebat di sela-sela tangisnya.

Tidak pernah ia bayangkan hari ini terjadi. Saat dengan tulus ia mengakui betapa ia sangat merindukan pria itu. Pria yang ingin ia panggil dengan sebutan appa seperti dulu. Seberapa pun rasa sakit yang pernah pria itu berikan pada Minrin, kenyataannya pria itu tetaplah ayahnya. Apapun yang sudah dilakukannya di masa lalu, tidak ada yang bisa mengubah dan menghancurkan hubungan ayah dan anak di antara mereka.

Ryeowook diam memperhatikan dan semakin lama ia justru tidak tega. Ini pertama kalinya ia melihat betapa rapuhnya gadis ini. Rasa sakit yang diterimanya akhirnya bisa ditunjukannya sekarang. Perlahan ia merangkul tubuh gadis itu, menepuknya dan berusaha menenangkannya.

Untuk sesaat Ryeowook melupakan fakta antara Eunhyuk dan Minrin. Satu-satunya yang diinginkannya hanyalah melindungi gadis ini, membuatnya tersenyum dan melupakan rasa sakit di hatinya. Hanya satu, yaitu membuat gadis ini bahagia.

“Kau ingin menemuinya?” tanya Ryeowook pelan, yang langsung membuat Minrin mendongak. dan menatap Ryeowook tidak percaya. Ryeowook hanya tersenyum, tangannya bergerak menghapus sisa air mata di pipi gadis itu lalu sedetik kemudian mengangguk.

“Benarkah?” tanya Minrin parau dan sekali lagi Ryeowook mengangguk. “aku bisa menemuinya?”

Ryeowook mengangguk lagi. Ia tidak peduli jika kenyataannya Eunhyuk lah yang menemukan Shin Taewoo. Ia benar-benar tidak peduli, bahkan jika Minrin lebih menaruh rasa terima kasih pada hyungnya itu. Seperti katanya, ia hanya ingin melihat Minrin bahagia.

“Kita akan bertemu dengannya.” Ryeowook berujar dan tanpa berkata lebih banyak ia menarik tubuh gadis ini ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan sangat erat. Mungkin dengan begini bisa mengurangi rasa sakit di hatinya. Dan mungkin akan membuat gadis ini tetap berada di sisinya.

       _____________

Minrin terus tersenyum selama perjalanan. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum ia bisa bertemu dengan ayahnya. Selama perjalanan ia terus membayangkan bagaimana rupa ayahnya setelah 10 tahun tidak bertemu, masih seperti dulu atau banyak yang akan berubah? Apa yang dilakukan ayahnya selama 10 tahun ini?, dimana dia tinggal? dan bagaimana kehidupannya sekarang?  Sungguh Minrin sangat ingin mengetahuinya. Ia bahkan tidak lagi memikirkan rasa kecewanya selama 10 tahun ini karena ditinggal pergi begitu saja, yang ia pikirkan adalah bahwa ia sangat merindukan ayahnya. Sangat merindukannya.

“Dimana dia tinggal? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya sepanjang perjalanan pada Ryeowook. Sedangkan pria itu seakan tidak ingin merusak kebahagiaannya, hanya bisa tersenyum dan menyuruhnya bersabar.

“Bersabarlah. Kita akan bertemu dengannya.”

Minrin mengangguk dan tersenyum. “Gomawo, Ryeowook-ssi..” ujarnya tulus.

Ryeowook menoleh sebentar. Digenggamnya tangan gadis itu dengan erat. Pernyataan terima kasih itu begitu tulus diberikan untuknya. Tapi jika Minrin tahu orang yang berhasil menemukan ayahnya bukanlah dirinya melainkan orang lain –orang yang menyukainya, serta masa lalunya- mungkin saja terima kasih itu akan berbalik untuk orang itu. Rasanya benar-benar menyesakkan.

“Minrin-ya, apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengan ayahmu?” tanya Ryeowook kemudian. Ia penasaran. Masihkah gadis ini ingin menikah dengannya? Menepati janjinya yang pernah dibuatnya dulu.

Ryeowook bisa melihat Minrin sedikit mengernyit tapi tidak berselang lama, karena setelahnya ia terlihat berpikir. “Hmm.. memeluknya, mengutarakan betapa aku merindukan kehadirannya, dan memintanya untuk tidak berjudi, tidak minum-minum dan mengubah sikapnya di masa lalu. Aku yakin waktu 10 tahun sudah banyak mengubahnya.” Ucapnya sembari tersenyum. Senyum itu benar-benar menunjukkan betapa bahagianya dia sekarang.

Ya.. hubungan ayah-anak memang tetap ada, meskipun dia pernah menyakitimu. Tapi bukan jawaban seperti itu yang diinginkan Ryeowook.

“Jika semua memang seperti yang kau inginkan, lalu apa yang akan kau inginkan selanjutnya?” tanya Ryeowook lagi.

Lagi-lagi Minrin terlihat berpikir lalu tidak lama kemudian ia tersenyum –sedikit tertawa-, “Bukankah kita merencanakan sesuatu? Apa kau lupa?” tanyanya, lalu berpura-pura memasang wajah kesal.

‘Pernikahan. Masihkan aku berharap itu terjadi?’ Ryeowook bergumam dalam hatinya tanpa mampu mengatakan langsung. Dan ia pun hanya bisa tersenyum sembari mengeratkan genggaman tangannya di tangan gadis itu. “Kuere, kita memang melakukannya.” Ujarnya yang langsung disambut senyum bahagia dari Minrin.

“Aku tahu itu. Hidupku tiba-tiba berubah banyak setelah bertemu denganmu, benarkan? Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya.” Minrin tersenyum lagi.

Hari ini gadis itu terlalu banyak tersenyum. Ya.. semuanya memang berubah. Termasuk kepribadiannya yang mendadak berubah menjadi sangat manis dan banyak tersenyum. Dan Ryeowook senang semua itu karenanya. Masalahnya adalah masihkan kebahagiaan ini akan mereka rasakan kemudian hari? Karena entah kenapa Ryeowook tidak lagi punya keyakinan akan itu. Satu-satunya yang bisa meyakinkannya adalah mengetahui bagaimana perasaan gadis di sampingnya ini padanya.

“Minrin-ya, aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Ryeowook berujar pelan. ia memperhatikan sebentar gadisnya itu dari samping.

Mwotte?”

Hening sejenak. “Apa kau sudah menyukaiku?” tanyanya yang langsung membuat Minrin menolehkan kepalanya. Ryeowook diam, dan tepat saat itu lampu merah yang menyala membuatnya harus menghentikan mobil, yang itu berarti memaksanya untuk ikut menoleh. “Apa kau menyukaiku sekarang?” ulangnya.

Ia sedikit menahan nafas. Setiap detik yang berlalu mendadak sangat lama ketika menunggu jawaban yang akan diucapkan Minrin. Jika gadis ini memang sudah menyukainya, maka demi apapun ia tidak akan melepaskannya, termasuk pada Eunhyuk sekalipun. Ia akan sangat egois jika menyangkut gadis ini. “Jebal, jawab pertanyaanku.” Desaknya. Ia harus meyakinkan hal itu sebelum menuntukan apa yang harus dilakukannya setelah ini

Gadis itu mengerjap beberapa kali dan Ryeowook bisa melihat ketidaksiapan dari ekspresinya. Kenapa? Jangan katakan bahwa gadis itu belum menyukai Ryeowook.

“Aku akan menyukaimu. Itu pasti.” Jawabnya yang langsung diikuti senyum lebar seperti tadi.

Ryeowook balas tersenyum, meskipun ia tidak puas dengan jawaban itu. Sudah berapa bulan mereka melewatkan waktu bersama? Tidakah dalam waktu-waktu itu Minrin pernah menyukainya? Tertarik padanya? Ah.. tentu saja itu tidak terjadi selama ada pria lain yang dipikirkannya. Ryeowook harus mengakui itu dan yang ia butuhkan hanya bersabar. Tapi sampai kapan ia harus bersabar? Kesabarannya pun ada batasannya apalagi sekarang ia sudah tahu kemungkinan gadis itu pergi dari sisinya adalah 50%. Dan dari mana gadis itu bisa sangat seyakin itu akan menyukai Ryeowook, padahal kenyataannya ia masih memikirkan pria lain? Tidak ada yang tahu tentang hati seseorang. Dia bisa berubah bahkan tanpa kau sadari atau tanpa kau minta sekalipun.

“Apa kau masih menyukai pria itu? pria yang menunggumu di malam bersalju..” Ryeowook menebak, dan Minrin langsung diam kembali mengerjap.

A..ani..” dia pun menggeleng dengan cepat, tapi Ryeowook jelas melihat keraguan di matanya. Mata itu mengatakan hal lain.

“Kalau begitu bisakah kau melupakannya? Jangan memikirkannya lagi.” Ucapnya meminta dan kali ini tidak ada jawaban dari Minrin. Sekali lagi matanya mengisyaratkan hal lain yang membuat Ryeowook harus menelan kekecewaan lagi ‘Kuere, kau memang masih menyukainya kalau begitu’

Ia mendesah dan kembali menolehkan kepalanya ke depan. Perlahan ia melepaskan genggaman tangannya dan tepat saat itu lampu merah kembali berubah menjadi hijau. Ryeowook kembali melajukan mobilnya tanpa sedikitpun menoleh ke samping.

Sementara itu Minrin hanya bisa tersenyum getir. Ia merasa sangat bodoh sekarang. Bagaimana mungkin ia memikirkan pria lain yang sudah lama tidak ditemuinya bahkan saat dirinya akan menikah dengan pria lain?

  _____________

03.00 PM

Eunhyuk memang tidak bohong saat mengatakan akan mengirimkan alamat dimana Shin Taewoo berada. Meskipun ia tidak tahu kenapa Ryeowook mendadak bersikap aneh padanya, tapi ia cukup yakin ada sesuatu yang terjadi. Apa ia berbicara sesuatu yang aneh saat mabuk? Misalnya saja tentang gadis itu?

Eunhyuk menggeleng, ditepiskan kemungkinan buruk itu dari pikirannya. Tapi ia benar-benar tidak ingat. Hal terakhir yang diingatnya adalah Ryeowook yang mengantarnya pulang, setelah itu ia tidak ingat apapun. Aigoo, inilah akibatnya kalau tidak biasa minum dan bahkan langsung mabuk hanya dengan beberapa tegak alcohol. Ia mendesah dan berbalik menelungkupkan kepalanya di atas meja kerjanya.

“Direktur Lee, “ panggilan pelan dari sekretarisnya disertai suara ketukan pintu membuat Eunhyuk kembali mengangkat kepalanya. Ia mendongak dan pria yang lebih tua darinya, sekretaris Han sudah berdiri di depan pintu dengan beberapa map di tangannya.

Waeyo?” tanyanya.

“Anda harus segera ke ruang rapat. Semua sudah menunggu.” Ucapnya.

Eunhyuk melihat sekilas pada jam di tangannya lalu mengangguk cepat dan segera bangkit dari tempat duduknya. “Kuere..”

Baiklah, anggap saja ia tidak berbicara aneh malam tadi. Dan kalaupun iya, anggap saja Ryeowook tidak mengerti. Satu-satunya yang harus dilakukannya hanyalah tetap bersikap seperti ini. Berpura-pura tidak tahu tentang gadis bernama Shin Minrin itu.

            ______________

Pria paruh baya itu terlihat mengangkut kantong sampah besar dan menjadikan satu dengan kantong lainnya. Sebuah topi berwarna biru muda menutupi kepala dan sedikit wajahnya, pakaiannya berwarna senada dan sarung tangan berwarna putih terlihat melekat di kedua tangannya. Sekali lagi ia mengambil sampah-sampah di sisi samping gedung kecil itu dan membawanya ke depan. Dari arah berlawanan sebuah sepeda moto melaju kencang dan tiba-tiba melintas di sampingnya, sedikit menyempretnya hingga membuat pria itu terjatuh hingga membuat kantong sampah yang dibawanya jatuh berserakan. Si pengendara yang umurnya jauh lebih mudah dari pria tadi hanya memandang sekilas.

Yak!.. Ahjussi, hati-hati kalau jalan. Aissh menyebalkan!” Gerutunya dengan muka kesal dan marah.

Pria tadi buru-buru berdiri dan membungkukkan bandannya “Jeongsohamnida..” ucapnya.

Seharusnya pengendara itu yang minta maaf. Si pengendara masih menggerutu ketika melajukan kembali sepeda motornya sementara pria tadi justru tersenyum, membenahi topinya dan beralih mengambil kantong sampah yang tadi sempat terjatuh.

Dan setetes air mata sudah membasahi pipi seorang gadis yang menyaksikan itu dari jauh. Hatinya menjerit dan tangannya mengepal erat. Ia tidak sanggup melihatnya. Pria paruh baya itu adalah ayahnya. Bagaimana mungkin ia bisa tega melihat orang lain memperlakukan ayahnya begitu kejam?

Appa..” bibirnya bergetar mengatakan itu. Tapi kakinya bahkan tidak sanggup untuk berlari menghampiri ayahnya dan menolongnya. Satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah berdiri. Semua hal yang dibayangkan sebelumnya –seperti berlari ke arahnya dan memeluknya– tidak lagi ada di pikirannya. Ia terlalu gugup atau mungkin takut.

Lalu tanpa disadarinya seseorang sudah menghapirinya lebih dulu dan menolongnya. Seseorang yang tadi datang bersamanya.

Gadis itu, Minrin sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa diam sembari menahan tangisnya. Pria paruh baya itu dulu pernah terlihat mengerikan dan juga kasar. Tapi sekarang yang dilihat Minrin bukanlah sosok seperti itu, melainkan seorang pria biasa yang lemah. Matanya tidak lagi menatap tajam tapi justru sendu. Wajahnya tidak lagi semengerikan dulu, dan terlihat kerutan-kerutan yang tertera jelas di sekitar matanya.

Pria itu ayahnya. Dan apa yang dilihatnya benar-benar diluar perkiraannya, bahwa ayahnya menjelma menjadi petugas kebersihan di daerah ini, yang mungkin sering mendapat perlakuan kasar dari orang lain seperti tadi. Bukan seperti ini yang ingin dilihatnya dari sosok ayahnya. Sebrengsek apapun pria itu, Minrin tetap tidak ingin melihatnya menderita apalagi direndahkan orang lain seperti tadi. Di mana ayahnya yang selalu berani melawan orang-orang? Dimana tatapannya yang selalu terasa menikam untuk orang lain? Semuanya hilang.

Minrin masih lekat menatapnya ketika akhirnya sepasang mata sayu dan terasa sendu dengan kantung mata yang terlihat sangat jelas tengah balik menatapnya. Pria itu terlihat terhenyak dan juga terkejut. Melihat sosok puterinya yang tiba-tiba muncul menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan tapi juga menakutkan.

      ______________

Minrin masih diam. Ditatapnya lagi wajah pria paruh baya yang sekarang duduk di depannya. Benar, wajah itu milik ayahnya. Meskipun sudah banyak kerutan di sana, tapi Minrin masih bisa mengenalinya dengan sangat baik. Tentu saja, karena dia ayahnya. Sebrengsek apapun kelakuannya dulu, Minrin tidak akan lupa seperti apa wajah ayahnya.

Sekali lagi cairan bening menetes pelan di sudut matanya. Ia tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu dan ia kebingungan mencari kata hanya sekedar untuk menyapa ayahnya.

Sedangkan pria paruh baya bernama Shin Taewoo itu juga hanya bisa diam. Wajahnya menunduk –mungkin karena menyesal-,

Abeonim..” setelah sekian detik, Ryeowook lah yang justru memecah keheningan diantara dua orang itu.

Setelah menemukannya sedang terjatuh saat mengangkut sampah, Ryeowook memang mengajak pria itu untuk bicara. Ia yakin Minrin masih terlalu gugup untuk mengahampiri ayahnya, jadi satu-satunya yang bisa dilakukan adalah membuat mereka berdua duduk saling berhadapan seperti ini.

Pria itu mengangkat kepalanya pelan. Ia ragu-ragu melihat ke arah satu-satunya yeoja di sana yang juga anaknya sendiri. Maka ia pun justru menolehkan kepalanya pada Ryeowook. Tangannya saling meremas sekedar menghilangkan perasaan gugup, khawatir dan juga takut yang menjadi satu.  Dan Ryeowook melihat jelas semua itu di wajahnya.

“Aku bisa pergi jika kalian ingin bicara berdua saja.” Ujar Ryeowook memutuskan. Minrin menoleh ke arahnya dengan tatapan memohon. Itu memang yang diinginkannya, tapi bagaimana jika semua tidak sesuai yang dipikirkan sebelumnya? Paling tidak ia membutuhkan Ryeowook bersamanya saat ini.

Ryeowook membalas tatapan itu dengan senyuman dan menggenggam sekilas tangannya. “Aku akan menunggu di mobil, ne?” ujarnya menenangkan, lalu ia kembali beralih pada Shin Taewoo. Ia mengangguk pelan sekedar memberi isyarat agar calon ayah mertuanya itu berani berbicara dengan Minrin

Aboenim, silahkan kalian berbicara. Aku rasa lebih baik kalian berbicara tanpa ada yang menggnggu, benar kan? Aku harap bisa mengobrol banyak dengan Anda nantinya. Kalau begitu aku permisi.” Ryeowook bangkit dari tempat duduknya seteah sebelumnya memperhatikan lagi ke arah Minrin.

Ia yakin gadisnya itu bisa menyelesaikan masalahnya dengan ayahnya. Sebenarnya tidak bisa disebut masalah juga. Toh kenyataannya gadis itu sudah memaafkan ayahnya sejak dulu.

Sepeninggalannya Ryeowook, Minrin memberanikan diri lagi untuk melihat wajah ayahnya. Tidak ada ekspresi sedih atau takut apalagi marah, hanya sebuah ekspresi datar dengan air mata yang menggenang di kedua pelupuknya.

Appa..” bibirnya bergetar mengatakan kata itu untuk kedua kalinya. Dan akhirnya tetes-tetes air mata itu kembali meluncur bebas di kedua pipinya.

Pria itu diam mendengar panggilan ayah yang terdengar lirih tapi mampu membuatnya merasa sangat bahagia. Kedua matanya memerah dan berkaca-kaca secara mendadak. Dan ia pun tidak sanggup menahan tangis yang sejak tadi ditahannya. Tangis haru, tangis kekecewaan dan juga tangis bahagia karena menyaksikan puterinya datang menemuinya.

Appa, wae uro?” tanya Minrin pelan setelah berhasil menguasai dirinya Pria bernama Shin Taewoo itu menggeleng dan sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini. Perasaan bersalahnya pada puterinya karena telah membuatnya menderita.

Mianhaeyo.. Mianhaeyo uri ttal..”

Dan saat itu juga lah Minrin melakukan hal yang sama, menangis. Ia tidak kuasa menahan perasaan yang begejolak dalam dadanya itu. Baginya sangat menyakitkan melihat ayahnya dalam keadaan seperti ini. Seberapa pun kejamnya perlakukan ayahnya dulu, pria di depannya ini tetaplah ayahnya. Dan akan tetap seperti itu.

Appa..”

Mianhaeyo uri ttal.. “

              __________________

Sementara itu Ryeowook sibuk dengan pikirannya sendiri. Sejak meninggalkan Minrin serta ayahnya, ia sendiri diharuskan untuk memikirkan langkah selanjutnya yang harus diambilnya. Melepaskan atau bertahan. Hanya itu pilihannya, dan pilihan itu bisa diputuskannya jika ia bisa memastikan satu hal dari gadis itu, yaitu tentang perasaannya.

Ia mendesah pelan dan disenderkannya punggungnya di badan jok. Kedua matanya terpejam lalu kejadian semalam kembali mendesaknya. Eunhyuk, sahabatnya yang sangat dipercaya juga mencintai gadisnya. Bagaimana mungkin itu terjadi? Ani..bagiamana mungkin mereka berdua bisa menyukai gadis yang sama dalam rentang waktu yang sangat lama? Mereka bertiga pernah saling mengenal dulu, tapi tidak ada yang menyadarinya.

Kepalanya mendadak pening ketika memikirkan itu. Apalagi ketika mengingat ucapannya dulu pada Eunhyuk bahwa ia akan sangat senang jika Eunhyuk yang berada di sisi gadis itu ketika Ryeowook tidak ada, karena Ryeowook percaya pada Eunhyuk. Tapi sekarang Ryeowook bahkan merasa menyesal mengatakan itu. Ia tidak ingin ada laki-laki lain selain dirinya yang berada di sisi Minrin tanpa terkecuali. Sangat egois bukan? Ya.. karena ia ingin memiliki gadis itu seutuhnya.

Kegiatannya itu tidak berlangsung lama ketika akhirnya getar ponsel di sakunya menjadi satu-satunya yang menyadarkannya. Ryeowook membuka matanya lalu dengan malas mengambil ponsel itu. Sebuah pesan singkat dari Eunhyuk. Ia mendesah lagi, kemudian dengan sekali usap benda android itu menampilkan pesna singkat yang membuatnya sedikit kesal.

Sender : Lee Hyukjae

Kau sudah bertemu dengannya? Bagaimana keadaan gadis itu?

Pesan itu sangat jelas menunjukkan bahwa hyungnya itu sangat perhatian pada Minrin. Mungkinkah dia sudah lama melakukannya? Hanya saja Ryeowook baru menyadarinya sekarang, bahwa kepedulian Eunhyuk pada gadis itu memang lebih dari yang dipikirkannya selama ini. Eunhyuk yang mengantar Minrin ke Ilsan waktu itu. Eunhyuk yang mencari tahu keberadaan Shin Taewoo –meskipun awalnya atas permintaan Ryeowook- . Eunhyuk bahkan membebaskan Minrin membayar ganti rugi atas pemakaian illegal gedung milik perusahaannya. Selain pada rentainer di bar itu, ayah Minrin juga berhutang pada orang lain, dan baru diketahui Ryeowook bahwa Eunhyuk diam-diam melunasinya. Jika memikirkan itu, Ryeowook merasa bahwa ia tidak pernah melakukan apapun untuk gadis itu. Yang dilakukannya hanyalah membuat gadis itu berada di sisinya.

Ryeowook menghela nafasnya sembari mendesah, ia menatap lagi layar ponselnya. Tangannya bergerak menekan pelan sebuah kalimat balasan, tapi segera dihapusnya. Ia mengetik lagi tapi berakhir dengan hal yang sama. Hingga akhirnya ia menyerah dan justru mematikan ponsel itu lalu meletakannya setengah melempar di dashboard samping

 _________________

08.00 PM

Minrin terus saja mengulum senyum sepanjang perjalanannya. Pertemuan dengana ayahnya adalah salah satu yang membuatnya sangat bahagia. Tidakkah hidupnya berubah sangat baik setelah bertemu Ryeowook? Masalah hutangnya sudah selesai dan ia juga bertemu lagi dengan ayahnya. Semuanya persis seperti yang diinginkannya dulu.

Gomawo, Ryeowook-ssi.” ucapnya tiba-tiba. Ia menoleh sebentar pada Ryeowook yang terlihat memfokuskan diri di depan kemudi. “Karena kau sudah membantuku selama ini, kau menemukan ayahku, dan membuatku bisa bertemu dengannya lagi. Terima kasih.” Lanjutnya.

Ryeowook tidak menjawab dan hanya bisa menggenggam tangan Minrin yang bebas di pangkuannya. Bukan dia yang menemukan Shin Taewoo, tapi setidaknya memang Ryeowook yang membuat Minrin bisa bertemu dengan ayahnya.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Ryeowook kemudian, sangat pelan dan juga terkesan dingin hingga akhirnya Minrin mengernyitkan dahinya pelan.

“Maksudmu?”

“Pernikahan kita, Minrin-ya. Kau melupakan itu? Aku memenuhi janjiku untuk menemukan ayahmu, dan sekarang giliranmu untuk memenuhi janjimu.” Ryeowook menjawab, ia melirik sebentar ke arah Minrin dan dilihatnya gadis itu sedang ragu dan juga bimbang untuk menjawab. Lalu perlahan Ryeowook melepaskan genggaman di tangannya dan membuat Minrin terkesiap. Sikap Ryeowook mendadak berubah dan ia tidak tahu kenapa tiba-tiba seperti ini.

Minrin menghela nafasnya lemah dan menatap Ryeowook. “Aku tidak lupa, Ryeowook-ssi.” Jawabnya sangat pelan dan juga yakin, tapi Ryeowook bisa mendengar sedikit keengganan di sana. Ia menepisnya sekali lagi, bahwa Minrin belum menyukainya.

“Jika aku memintamu menikah denganku besok, apa kau akan setuju?” tanya Ryeowook lagi.

Nde?”  seru Minrin terkejut.

“Kau bilang pasti akan menyukaiku kan? Jadi entah itu besok, lusa atau minggu depan tidak akan ada masalah kan?” lanjutnya lagi yang sekali lagi membuat Minrin terserang keterkejutan untuk kesekian kalinya. Ia mengernyit dan menatap Ryeowook.

Ia diam beberapa saat lalu bukannya menjawab dengan serius, Minrin justru menjawabnya dengan sedikit gurauan. “Kau bercanda? Pernikahan tidak semudah itu, Ryeowook-ssi. Memangnya kita sudah menyiapkan gedung, undangan, gaun dan hal-hal lainnya?”

“Kau lupa ibuku sudah menyiapkan semuanya? Kita hanya tinggal membeli tuxedo dan gaun pengantin saja. Kurasa itu bisa kita lakukan malam ini.”

Sekali lagi Minrin mengernyit. Diperhatikannya sebentar pria di sampingnya itu. Ia memang tidak banyak tahu tentang Ryeowook, tapi entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran pria itu. Ada apa? Apa yang dipikirkannya hingga sangat ingin mempecepat pernikahan? Ryeowook juga memaksanya untuk ikut pulang ke Seoul. Semua itu membingungkan dan Minrin tidak mengerti kenapa sikapnya mendadak berubah.

Perlahan digenggamnya tangan Ryeowook yang bebas tidak memegang kemudi. “Pernikahan kita akan berlangsung, tapi bukan besok Ryeowook-ssi. Eommonim memang sudah merencanakan semuanya, tapi kau tidak ingat bahwa ibumu bersedia mengundur pernikahan sampai bulan depan?” Minrin berbicara hati-hati.

Ya, sejak Minrin tahu calon ibu mertuaya sudah menyiapkan segala keperluan pernikahan yang menandakan pernikahan itu akan segera dilaksanakan, ia memang sengaja memintanya untuk mengundur tanggal pernikahan. Alasannya karena Minrin ingin bertemu dengan ayahnya sebelum hari pernikahannya.

“Aku tahu itu.. tapi tidak bisakah kau memikirkan lagi? Kau sudah bertemu ayahmu, lalu apa lagi?”

Minrin diam sebentar. Iya itu benar, apa lagi yang diinginkannya? Bukankah ia sudah bertemu ayahnya? Entahlah..

“Sebenarnya ada apa, euhm? Ini tidak seperti Kim Ryeowook yang aku tahu” tanyanya pelan. Ryeowook melihat sebentar genggaman tangan mereka kemudian mendesah pelan. Sesuatu bergemuruh dalam dadanya dan ia sekuat tenaga menahannya. Memangnya apa yang diketahui gadis ini tentangnya? Emosinya menguasai, tapi sekali lagi Ryeowook meredamnya.

Aniya, aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi sebelum hari pernikahan kita.” Jawabnya tidak jelas yang semakin membuat Minrin penasaran.

Memangnya apa yang akan terjadi?

Wae? apa yang akan terjadi? Kau aneh sekali hari ini. Apa ibumu mengatakan sesuatu tentang perjodohan lagi?” tanya Minrin dengan sengaja, berusaha mencairkan suasanya tidak mengenakkan yang Minrin rasakan. Kemudian ia terkekeh pelan memikirkan dugaannya itu.

“Tidak. Ibuku sangat menyukaimu, jadi mana mungkin dia mengatur perjodohan lagi.” Ryeowook membalas cepat. Obrolan yang berubah ringan itu nyatanya tetap tidak berhasil membuat suasana hati Ryeowook lebih baik.

“Sudahlah, lupakan saja. Aku tidak ingin berdebat. ” Ryeowook menyudahi, ia membuang mukanya, menghindari tatapan mata Minrin. Dan sayangnya hal itu membuat Minrin tidak enak hati.

Seharusnya hari ini sesuai permintaan ibunya, Ryeowook akan membawa Minrin ke rumah. Tapi sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat. Suasana hatinya sedang buruk dan ia mungkin tidak akan nyaman terus menerus berada dalam situasi buruk seperti ini bersama Minrin.

Sementara itu diam-diam Minrin masih memperhatikan Ryeowook. Ia berusaha mencerna apa yang tengah dipikirkan pria itu hingga membuat sikapnya mendadak berubah. Tidak banyak yang Minrin tahu, tapi ia cukup yakin ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran pria itu. Wajah yang biasanya terlihat bahagia dan bersemangat sekarang tampak sangat lesu. Kedua mata itu menunjukkan rasa lelah seperti orang yang tidak tidur beberapa hari, dan itu membuat Minrin merasa khawatir.

“Ryeowook-ssi, aku tidak tahu masalah apa yang sedang kau pikirkan, tapi sepertinya itu sangat mengganggumu. Kita bertemu eomonim besok saja ya? Kau terlihat sangat lelah hari ini” Minrin berujar pelan.

“Apa kau tidak tahu apa yang kupikirkan?” tanya Ryeowook memancing. Jika gadis ini tahu, atau paling tidak menyadari seharusnya ia bisa menebaknya, kenapa Ryeowook bersikap aneh seperti tadi.

Minrin mengernyit lagi. Untuk kesekian kalinya ia dibuat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Ryeowook padanya.

“Aku benar-benar tidak mengerti. Ada apa denganmu? Apa yang kau pikirkan? Jangan membuatku bingung.”

Ryeowook mendesah pelan. Sesuatu bergemuruh lagi dalam dirinya. Entah dari mana asalnya tapi itu membuatnya sangat marah. Setelah tadi ia berhasil meredam kemarahan itu, untuk kali ini ia tidak bisa menahannya. Ia marah, cemburu dan juga benci melihat kepura-puraan dua orang itu –Eunhyuk dan Minrin-. Tidakkah mereka bisa jujur saja kalau sebenarnya mereka saling mengenal dan bahkan mungkin pernah menjalin hubungan?

Tidak bisa seperti ini, pikirnya.

Kemudian ia dengan cepat membanting stir ke samping, membuat mobil itu menepi di tepi jalan dan berhenti. Ia berusaha mengatur nafasnya lalu perlahan menoleh pada Minrin. Gadis itu terlihat terkejut dan juga agak takut. Ryeowook akui ini memang kali pertama menunjukkan ekspresi dingin pada gadis itu. Ia tidak ingin tapi sesuatu dalam dirinya menyuruhnya seperti itu.

“Aku ingin kau menjawab pertanyaanku.” Ujar Ryeowook masih berusaha mengatur suaranya agar tidak terkesan membentak dan berteriak.

Minrin mengerjap. Ia tidak tahu pertanyaan apa yang akan dilontarkan Ryeowook padanya, tapi ia merasa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang akan sulit untuk dijawabnya. Apalagi tatapan Ryeowook yang menghujam tajam ke arahnya, menandakan sesuatu memang telah terjadi.

“Siapa pria yang pernah kau bicarakan itu? Apa Kau masih menyukainya? Karena itulah kau belum bisa menyukaiku. Apa karena pria itu? Aku tidak suka dibohongi, jadi kau harus menjawabnya dengan jujur. Jika pria itu datang di depanmu, apa kau akan kembali padanya?”

 “A..apa maksudmu? Kenapa itu menjadi sangat penting sekarang?” Minrin balik bertanya.

“Jawab saja pertanyaanku.” Desaknya lagi

Minrin mendesah dan menghela nafasnya lemah. Tangannya sudah sejak tadi melepaskan diri menggenggam Ryeowook.  Ia tidak tahu kenapa pertanyaan seperti itu ditanyakan. Tapi Minrin bisa melihat kekhawatiran di mata itu. Apa Ryeowook takut kehilangannya?

“Namanya Lee Hyukjae. Dulu aku memang menyukainya tapi kami sudah lama tidak bertemu.” Jawabnya mencoba mengalah untuk tidak berdebat.

Ryeowook mencelos mendengar penuturan itu. Ternyata benar seperti dugaannya. Pria itu adalah Lee Hyukjae atau yang sekarang dikenal Minrin sebagai Eunhyuk. Shin Minrin masih memikirkan pria itu, dan Ryeowook juga yakin dia masih menyukainya, pria itu –Lee Hyukjae-

 “Aku tahu aku menjadi gadis yang sangat bodoh dan jahat. Aku bilang akan menikah denganmu tapi selama ini aku justru memikirkan pria lain. Mian, Ryeowook-ssi..”

 “Tapi Bisakah kau percaya padaku? Dia hanya masa lalu. Hubungan kami bahkan tidak jelas seperti apa. Kalaupun dia muncul di depanku lagi, aku yakin tidak akan kembali padanya. Aku hanya seperti diingatkan kembali padanya. Ya.. hanya itu. Aku pasti akan segera lupa lagi. ”

Ryeowook mendesah pelan lagi. Matanya berusaha meyelidiki kebenaran ucapan Minrin barusan. Bagaimana mungkin gadis ini sangat yakin tidak akan kembali pada pria itu?

“Kalau begitu buat aku percaya padamu” Ryeowook berujar kemudian, menyudahi ucapan Minrin yang seperti memberinya harapan. Harapan yang justru membuatnya agak muak.  Kepalanya kembali melihat ke depan, dan sedetik kemudian ia kembali menghidupkan mobilnya.

Ia terlalu lelah untuk berdebat, tapi pikirannya tiba- tiba menyuruhnya untuk datang ke club malam ini. Jika mereka tidak ingin berbicara jujur, berarti Ryeowook harus mencari tahu sendiri. Ya… tujuannya yang semula ingin menemui ibunya sudah berubah menjadi menemui Eunhyuk di club.

           ________________

Heaven’s Club

09.45 PM

Sepanjang perjalanan Minrin hanya diam di tempat duduknya. Ia tidak berani bicara, bahkan ia mengurungkan niatnya untuk protes saat Ryeowook tidak mengantarnya ke apartement Hyehyo dan justru membawanya ke club. Ia tahu dan sadar sudah memperlakukan Ryeowook buruk.

Banyak hal yang sudah dilakukan Ryeowook untuknya dan Minrin sendiri belum mampu membalasnya termasuk membalas perasaan pria ini untuknya. Ia benar-benar jahat, bukan? Ia ingat ekspresi kecewa Ryeowook saat Minrin tidak bisa langsung menjawab pertanyaannya. Jangankan untuk menjawab ‘aku menyukaimu’, hanya untuk memenuhi permintaannya untuk tidak memikirkan pria lain saja belum bisa dilakukannya. Entah bagaimana dan sejak kapan, tapi bayang-bayang pria di masa lalunya itu terus menghuni di pikirannya.

Mereka sampai di sebuah di Heaven Club ketika sudah larut malam. Suasana club malam itu lumayan ramai, apalagi banyak pekerja kantoran yang mampir seuasi bekerja. Sejak turun dari mobil, ia hanya mengekor Ryeowook dibelakangnya. Minrin mendesah saat ia mengambil tempat duduk di samping Ryeowook. Pria itu bahkan mengacuhkannya sejak tadi.

“Daehyun-ah, satu minuman untukku dan berikan yang non alcohol untuknya.” Ryeowook memesan pada Daehyun dan Minrin langsung menoleh ke arah keduanya.

Ne, Hyung.” Lalu dengan cepat Daehyun mempersiapkan pesanannya.

Tidak lama ketika akhirnya dua gelas minuman disajikan Daehyun untuk mereka. Satu minuman berwarna agak kekuningan untuk Ryeowook dan satu minuman non alcohol untuk Minrin. Gadis itu memperhatikan sekeliling ruangan yang penuh dengan orang. Ia mencari seseorang dan tidak berselang lama sebelum akhirnya kedua matanya menangkap sosok pria itu. Seorang pria pemilik club ini yang hari ini terlihat dengan stelan jas hitamnya.

Dan diam-diam Ryeowook memperhatikan Minrin serta arah pandangnya. Mendadak sesuatu yang bergemuruh itu kembali hadir ketika melihat Minrin melihat ke arah Eunhyuk dengan lekat. Sedetik kemudian Eunhyuk yang menyadari kehadiran keduanya langsung berjalan cepat menghampiri Ryeowook dan Minrin.

“Kau mengajak Minrin? Aku kira kau tidak datang.” Dia menepuk pundak Ryeowook dan duduk di sebelah Minrin.

“Ibuku ingin bertemu dengannya.” Ryeowook menjawab malas lalu kembali menegak isi gelasnya sampai habis.

“Kau sudah bertemu dengan ayahmu?” Eunhyuk beralih pada Minrin dan gadis itu langsung mengangguk. “Dia tidak memukulmu lagi, kan?” tanyana begurau, tapi untuk kali ini Minrin membalas dengan sedikit mengernyit.

“Ehh.. soal itu.. “ Minrin melirik sebentar pada Ryeowook. “Apa Ryeowook bercerita banyak tentang ayahku?”

Lalu tepat saat itu, Ryeowook yang awalnya malas akhirnya menoleh ke arah keduanya. Ia memperhatikan Minrin lalu beralih pada Eunhyuk yang terlihat menjadi salah tingkah.

Kuereyo. Kau lupa aku ini sahabat terbaiknya? Jadi, apapun itu dia pasti akan bercerita padaku kecuali tentang masalah perusahaan.” Eunhyuk tertawa pelan berusaha menutupi kecanggungannya sendiri.

Ryeowook mendesis setengah mencibir. Apapun memang diceritakan pada Lee Hyukjae, dan itu adalah kesalahannya karena ia juga menceritakan semua tentang Minrin. Jika saja ia tidak melibatkan Eunhyuk tentang Minrin, mungkin saja ia tidak akan merasa ditusuk dari belakang oleh sahabatnya sendiri seperti sekarang ini.

“Ryeowook oppa.!” Seseorang tiba-tiba memanggil Ryeowook dari arah samping. Ryeowook menoleh dan melihat seorang gadis berambut panjang dengan dress selutut dan mantel bulu pendek yang menutupi pundaknya.

“Han Sena-ssi?” Ryeowook setengah tidak percaya melihat gadis berdress mini itu adalah Han Sena, salah seorang gadis yang dulu hampir dijodohkan padanya.

Kuere, lama tidak bertemu Oppa. Aku pikir tadi salah orang, karena Oppa terlihat berbeda sekarang.” Sena tersenyum lalu dia pun duduk di samping Ryeowook.

Aniyo, aku yang hampir tidak mengenalimu tadi. Kau sering datang kemari?”

“Kadang-kadang aku datang ketika pekerjaan membuatku hampir stress.” Sena tertawa pelan lalu diikuti Ryeowook yang juga balas tersenyum. “Oppa juga sering datang kemari?”

“Tempat ini milik temanku, jadi aku sering sekali datang.”

“Oh Jinjja..?”

Ryeowook mengangguk. Dan sejenak ia lupa dengan siapa ia tadi datang. Ia bahkan terkesan tidak peduli. Dan hal itu membuat Minrin kesal. Gadis itu memperhatikan Ryeowook dan juga Sena. Tiba-tiba saja ia tidak suka melihatnya.

“Soal perjodohan kita, aku masih sedikit kecewa Oppa membatalkannya.” Sena kembali berujar.

Ryeowook melirik sebentar ke arah Minrin. Tidak lama karena setelahnya ia kembali menoleh ke arah Sena. “Mianhae. Aku tidak suka dijodohkan. Aku lebih senang mencari sendiri wanita yang akan kunikahi.”

“Aku tahu, tapi entah kenapa saat pertama kita bertemu aku merasa kita bisa bersama. Maksudku cinta bisa tumbuh setelah pernikahan. Orangtuaku juga dijodohkan dulu, nyatanya mereka bisa bertahan sampai sekarang.”

“Jadi, maksudmu kau masih berharap aku akan menerima perjodohan itu?” Ryeowook menebak setengah tertawa pelan.

Minrin yang sejak tadi mendengarkan obrolan dua orang itu, mendadak menahan nafas. Apa maksud Ryeowook dengan membicarakan lagi perjodohan mereka? Ryeowook akan menikah dengan Minrin, dan kenapa dia harus bertanya pertanyaan menyebalkan itu? Minrin mendesah. Ia memalingkan mukanya dan tepat saat itu Eunhyuk melihat raut wajah kecewa dari gadis itu. Dia menyodorkan segelas minum non alcohol miliknya dan menyuruh Minrin untuk minum.

“Yah seperti itulah. Tapi kudengar kau akan segera menikah, kau tahu berita itu membuatku sedikit kecewa.” Sena melanjutkan.

Sekali lagi Ryeowook melirik gadis di samping kirinya. Kemudian ia tersenyum. Sesuatu mendorongnya untuk mengajak Sena untuk turun di lantai dansa dan mengajaknya menari. Ya.. anggap saja ini caranya untuk mengetahui bagaimana perasaan Shin Minrin padanya.

“Kau ingin menari? Kurasa kau tipe gadis yang sangat suka ke club untuk menari.” Ajaknya. Dan beruntung bagi Ryeowook karena Sena dengan antusias langsung menganggukkan kepalanya.

Lalu tinggalah hanya Minrin dan juga Eunhyuk di meja bar. Minrin masih melayangkan pandagan kesal ke arah pasangan itu, tapi tidak lama karena ia sadar sudah membuang tenaganya dengan percuma. Setelah tadi membuat Minrin bingung dengan sikap aneh yang Ryeowook tunjukkan, sekarang dengan santainya pria itu justru mengajak gadis lain menari. Sekali lagi Minrin mengambil gelas di depannya yang hanya tinggal setengah, lalu meminumnya hingga habis.

“Jangan cemburu. Ryeowook itu memang tidak pernah berkencan dengan gadis manapun, tapi dia pria yang sangat ramah pada semua gadis. Jadi, jangan heran dia mengajak Sena.” Eunhyuk berujar pelan.

“Tapi dia keteraluan. Dia datang tiba-tiba dan membuatku khawatir. Lalu setelah itu ia mendadak sangat aneh, dan sejak sampai di Seoul dia mengacuhkanku. Issh, menjengkelkan.”

“Mungkin dia sedang banyak pikiran.” Eunhyuk menyahut, dan langsung ditanggapi Minrin dengan desahan pendek.

“Entahlah.. aku juga merasa dia sedang memikirkan sesuatu. Eunhyuk-ssi, apa kau tidak tahu apa yang sedang mengganggu pikirannya?” tanya Minrin kemudian.

Eunhyuk mengernyit kecil “Misalnya?”

“Entahlah..mungkin saja ia menceritakan sesuatu.. ” Minrin berbicara ragu. Ia menghela nafasnya. Ia menduga mungkin saja Ryeowook menceritakan semua beban pikirannya pada  Eunhyuk termasuk kekhawatirannya denga kehadiran pria masa lalu Minrin. Tapi sepertinya hal itu tidak terjadi.

Eunhyuk memperhatikan sebentar Minrin. Ia sedang menduga-duga alasan perubahan sikap Ryeowook. Hey, sikap anak itu tidak hanya berubah pada Minrin tapi juga pada Eunhyuk. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi sepertinya sahabatnya itu mengetahui sesuatu yang tidak diberitahukan pada Eunhyuk sendiri maupun Minrin.

Lalu mendadak ia ingat dengan kejadian saat ia mabuk. Seolma..mungkinkah Eunhyuk mengatakan sesuatu tentang Minrin dan Ryeowook mendengarnya?

“Tidak. Dia tidak mengatakan apapun.” Eunhyuk membalas.

Ryeowook memang tidak mengatakan apapun, tapi Eunhyuk bisa merasakan alasan apa yang membuatnya berubah. “Minrin-ya…” panggilnya pelan.

Ne, waeyo Eunhyuk-ssi?”

“Aku tidak tahu akan mengatakan ini tapi aku akan mengatakannya sekarang.” lanjutnya. Minrin menoleh dan menatap Euhyuk heran

 “Kurasa Ryeowook bersikap seperti itu, karena kekhawatirannya kehilangan gadis yang dicintainya.” Kali ini Minrin mengernyit. “Pria manapun akan merasakannya saat ada pria lain di sekitar gadisnya. Ada pria yang menyukaimu dan Ryeowook mengetahuinya. Dia tidak akan seperti ini jika pria itu orang asing, tapi jika pria itu adalah orang yang dekat dengannya, kau bisa membayangkan seperti apa perasaannya saat ini?

Sekali lagi Minrin mengernyit, bingung dengan arah pembicaraan Eunhyuk.  “Apa maksudmu?”

“Pria itu sahabat terbaiknya. Satu-satunya pria lain yang diijinkan berada di sampingmu, mengantarmu dan juga membantumu jika Ryeowook tidak bisa melakukannya. ”

Lalu saat itulah Minrin hanya bisa menatap Eunhyuk tidak percaya. Jadi maksudnya…

“Aku menyukaimu..” lanjutnya yang langsung membuat Minrin terkesiap dan menahan nafasnya.

Tidak mungkin seperti itu. Lalu, perlahan ia ingat dengan percakapannya dengan Ryeowook sebelum datang ke mari, tentang pria masa lalunya. Mungkinkah…

Eunhyuk tersenyum pelan. Ia bisa melihat ketekejutan di wajah Minrin. Ia tidak egois kan? Ia tidak memaksa gadis itu berada di sisinya, ia hanya mengungkapkan perasaannya saja. Jadi ia tidak egois.

“Sepertinya Kau sudah mengerti maksudku. Dulu aku menyukai seorang gadis. Tapi sebelum aku berani mengatakannya, dia mendadak menghilang. Dia mengingkari janjinya dan membuatku menunggu selama dua jam di malam bersalju.”

Lagi, Minrin tekejut untuk kesekian kalinya. Kedua matanya membulat tidak percaya.

“Dia gadis yang sangat suka ice cream dan membenci bunga. Kadang aku melihatnya dengan luka memar di dahinya, tapi dia selalu terlihat ceria di depanku. Dia bilang aku adalah satu-satunya orang yang peduli padanya selain ibunya.”

“Beberapa bulan yang lalu aku bertemu lagi dengannya. Dia terlihat berubah. Dia bukan lagi gadis lemah tapi berubah menjadi gadis yang kuat, tapi sayangnya dia masih belum bisa menghargai waktu.” Eunhyuk melanjutnya setengah tertawa geli mengingat pertemuannya dengan Minrin di book of storyline.

“Aku menyukainya tapi dengan senang hati justru membantu Ryeowook mendapatkan gadis itu. Kami berdua menyukai gadis yang sama. Benar-benar tidak bisa dipercaya, kan? Karena gadis itu adalah kau, Minrin-ya..”

Neo…” Tenggorokan Minrin terasa tercekat. Ia tidak siap menerima kenyataan seperti ini.

Bagaimana mungkin bisa seperti ini? Pria di depannya ini, Direktur Lee yang dikenalnya bernama Eunhyuk adalah pria di masa lalunya, Lee Hyukjae?

Mian, tidak mengatakan sejak awal. Aku sengaja tidak mengatakannya. Aku tidak ingin membuat Ryeowook terluka, dan juga membuatmu bingung. Diantara kita masih ada yang belum selesai, tapi saat aku bertemu lagi denganmu ternyata Kau adalah gadis yang membuat Ryeowook jatuh cinta dan menolak perjodohan ibunya. Karena itu aku tidak punya pilihan selain diam.”

“Ba..bagaimana bisa? Kau ..adalah Lee Hyukjae?” tanya Minrin dengan nada tercekat. Ia masih belum bisa percaya. Dan sepertnya ia butuh shock terapi untuk menetralkan pikirannya. Semua ini terlalu mengejutkan.

Eunhyuk mengangguk. “Ne, aku Lee Hyukjae. Itu nama asliku tapi sejak di bangku kuliah aku biasa dipanggil Euhyuk. Bukankah itu keberuntungan? kau tidak mengenaliku karena namaku Eunhyuk.”

Tidak bisa dipercaya. Minrin tidak mengenali Lee Hyukjae hanya karena namanya yang berubah. Gadis itu memukul dada Eunhyuk pelan. “Nappeun namja. Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal? Dan siapa bilang aku tidak mengenalimu, eh? Aku mungkin mengenalimu, karena aku terus saja ingat masa lalu setiap kali melihatmu.”

Eunhyuk tersenyum. “Benarkah?”

“Tentu saja. Dan gara-gara itu aku menjadi ragu…” Minrin menggantungkan kalimatnya.

Perasaa itu kembali berkecamuk dan mengacak-acak hatinya. Jika pria masa lalunya adalah Eunhyuk dan bahwa Eunhyuk menyukainya, mungkinkah Ryeowook tahu soal ini?

“Ragu menikah dengan Ryeowook?” sahut Eunhyuk cepat.

Minrin mendesah sembari menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu. Ia ragu, karena terus memikirkan Lee Hyukjae atau karena ia masih menyukai Lee Hyukjae? Ia tidak tahu. Lagipula Lee Hyukjae baru saja mengatakan bahwa dia menyukai Minrin.

Lalu apa yang harus dilakukan Minrin?

“Aku mengerti…” Eunhyuk tersenyum tulus begitu melihat keraguan dan kebimbangan di wajah gadis itu.

“Hyukjae-ya…”

Eunhyuk masih tersenyum, lalu mengangkat tangannya dan mengacak puncak kepala gadis itu.

           ________________

Sementara itu di lantai dansa sepasang mata tengah menatap dua orang di meja bar itu dengan tajam. Kedua tangannya mengepal, menahan amarah. Ia tidak peduli lagi pada gadis bernama Han Sena yang tengah menarik lengannya mendekat. Ia tidak lagi berminat menari, dan satu-satunya yang menjadi focusnya saat ini adalah dua orang itu.

Ah..jadi seperti ini rasanya sakit hati? Sakit hati dikhianati kekasih dan juga sahabat.

CUT

 

Huft.. 8000 kata lebih sedikit. Aigoo… ini panjang sekali. Part paling panjang sejauh ini.

Readernim, masih ingat bittersweet? Mianhae, saya telat updatenya soalnya lagi sibuk di kampus dan juga lagi mempersipakan ff baru. Semoga tidak bosan dengan cerita super galau tiga orang manusia itu. Hehe ^^  dan juga saya sadar alurnya super lambat, tapi mau bagaimana lagi, sudah gaya tulisannya begitu k k k 😀 part ini mungkin sangat-sangat membosankan, bagaimana tidak? Cerita di atas hanya bercerita dalam satu hari *baru sadar* -_- lol dan juga maaf kalau terlalu panjang. 

Saya tidak tahu mau ngomong apa lagi. Saya ucapkan terima kasih banyak untuk reader yang sudah suka dan baca tulisan saya. Komentar kalian, like kalian adalah suntikan semangat untuk tetap melanjutkan cerita ini. Jadi silahkan tinggalkan komentar kalian, kritik saran akan sangat diterima ^^

 Sampai jumpa di part 7

 

Ada yang penasaran sama secret guard kah? Pengen segera d post tapi nunggu kalau sudah selesai bittersweet saja lah ^^

 vv

Advertisements

2 thoughts on “(Fanfiction) #6 Bittersweet

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s