(Ryeomin story) -Just You-

ryeomin 28

Title     : Just You

Author : Whin (@elizenminrin)

Cast     : Kim Ryeowook, Shin Minrin

Genre  : Fluff, Romance

Length : 3125 words (Oneshoot)

Rating : PG 15

Disclaimer : Kim Ryeowook belong to God, his parent, Super Junior and ELF. I just have story and photo edited *yg jujur gagal total* :p

Oke ini gara-gara Kim Soo Hyun dan namja-namja lain yang membuat Minrin tertarik. Dan anggap saja cnblue mau konser ya.. #plaak
Enjoy, ne ^^

….

Minrin’s Apartement

03.34 PM

Gadis itu, Shin Minrin masih memfokuskan seluruh perhatiannya pada layar besar di depannya. Tidak bisa dipercaya dia menonton ulang drama yang tayang semalam. Sebuah drama berjudul My Lover From The Star yang dibintangi salah satu actor favouritenya, yang tak lain adalah Kim Soohyun. Sesekali ia ikut berdecak saat adegan yang membuatnya kesal, dan saat ini ia terbuai dengan sikap romantic yang ditunjukan Do Minjoon untuk Cheon Songyi. Matanya berbinar dan kedua tangannya saling menggenggam.

Hanya melihat sebuah drama selalu berhasil membuatnya melupakan semua hal yang ada di sekitarnya, tak terkecuali seorang pria yang sekarang tengah menatapnya heran. Pria ini sudah diacuhkannya sejak 40 menit yang lalu, saat dia baru saja datang dan Minrin justru menghiraukannya hanya demi seorang Kim Soohyun.

Sebuah bantal sofa kecil yang tadi ada di pangkuannya tiba-tiba ditarik paksa, dan tak berselang lama berganti dengan kepala seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah pria itu, Kim Ryeowook.

Minrin untuk pertama kalinya mengalihkan perhatiannya, ia menunduk dan melihat Ryeowook yang tanpa seijinnya menggunakan pangkuannya sebagai bantal. “Apa yang kau lakukan?” decaknya tidak terima.

Ryeowook menanggapi decakan itu dengan tersenyum, kedua matanya sudah terpejam. Ia tidak tidur, hanya ingin berbaring saja dan pangkuan Minrin adalah satu-satunya yang nyaman untuk dijadikan bantal, begitulah yang dipikirkannya. Setidaknya mungkin dengan begini gadis ini akan menyadari keberadaannya. Tidak ada sahutan lagi dari Minrin hingga akhirnya Ryeowook kembali membuka matanya, dan melihat wajah gadis itu masih menatapnya miring.

 “Aku lelah, biarkan aku tidur sementara kau menonton namja itu.” Ucapnya malas lalu kembali memejamkan matanya.

Yaa..”

“Diamlah, aku tidak akan menggangumu menonton.” Sahut Ryeowook. Selebihnya hanya terdengar decakan lemah dari Minrin yang tidak lagi dihiraukan oleh Ryeowook.

Kedatangannya ke apartement Minrin adalah untuk bertemu gadisnya yang sudah beberapa hari tidak ditemuinya, dan yang didapat justru decak kagum gadisnya untuk orang lain, membuat kesal saja. Setelah kemarin dengan seenaknya datang ke dormnya untuk bertemu Heechul, sekarang dengan seenaknya Minrin mengacuhkannya demi Kim Soohyun.

Ryeowook kembali diam saat dirasakannya tidak ada protes dari Minrin lagi. Belum sempat ia benar-benar tidur, sesuatu yang basah tiba-tiba jatuh di atas pipinya. Ia kembali membuka matanya dan dilihatnya setetes air mata kembali jatuh dari mata gadis itu.

Yaa, kau menangis?” seru Ryeowook tidak percaya. Ia bangkit dari posisi berbaring lalu memperhatikan Minrin baik-baik. Sekali lagi gadis itu meneteskan air mata.

“Oh eottoke? ”  gadis itu berkomentar sedih dengan sesekali mengelap ujung matanya.

Ryeowook mengernyit. Drama selalu berhasil mengubah kepribadian Minrin seratus delapan puluh derajat. Ryeowook tahu Minrin juga sangat mudah menangis, tapi setiap hari yang ditampilkannya adalah pribadi yang cuek dan dingin. Lalu sekarang tiba-tiba saja dia menangis hanya karena sebuah drama, sampai-sampai berlembar-lembar tissue pun habis tentu saja membuat Ryeowook heran.

Yaa, kau benar-benar menangis?” tanya Ryeowook saat melihat satu lembar tissue kembali ditarik Minrin dari kotaknya.

Lalu diam-diam Ryeowook pun ikut memperhatikan layar televisi yang sekarang menampilkan Do Minjoon yang sedang melamar Cheon Songyi. Bukan sebuah lamaran yang penuh rasa bahagia yang haru tapi lebih pada sebuah kesedihan karena perpisahan. Jadi inikah yang membuat gadis ini ikut menangis?

Drama itu berakhir ketika kedua tokoh utama saling memandang dengan berlinang air mata. Baru setelah itu Minrin mengalihkan perhatiannya.

“Tidak bisa dipercaya kau bisa menangis hanya gara-gara melihat drama.” Ryeowook kembali menggelengkan kepalanya tidak mengerti.

Yaa, ini bukan pertama kalinya aku suka menonton drama. Sebagai sesama penyuka drama dilarang berkomentar seperti itu.” Gadis itu berujar sembari mengelap sisa-sisa air matanya.

Ryeowook berdecak. Memang bukan pertama kalinya, tapi ini pertama kalinya dia dibuat menangis oleh sebuah drama. “Tapi kau sampai menangis dan kau bahkan mengacaukanku selama drama itu.”

“Karena itu Kim Soohyun. Ahh dia benar-benar keren. Seandainya saja ada alien seperti dia di dunia ini.” Minrin menimpali bersemangat. Hey dia baru saja menangis dan sekarang sudah kembali bersemangat?  dan itu membuat Ryeowook semakin kesal.

“Karena itu Kim Soohyun, kalau Minhyuk membintangi drama kau akan mengatakan itu juga?” sungutnya yang langsung mendapat lirikan tajam dari Minrin.

Ini bukan kali pertama gadis ini tergila-gila pada actor yang bermain di drama favoritnya. Dulu ada Song Joongki, lalu ada Lee Minho, sekarang Kim Soohyun, dan jangan lupakan saat Minrin begitu terpesona dengan sosok Kang Minhyuk di perannya sebagai Yoon Chanyoung. Dan di masa-masa drama yang dibintangi mereka tayang adalah masa di mana Ryeowook harus puas diacuhkan Minrin. Mungkin hanya saat ‘The Heirs’ mengudara Ryeowook menikmati menonton berdua dengan Minrin. Tapi kadang-kadang berakhir dengan pertengkaran kecil gara-gara Minrin terlalu terus terang menunjukkan kesukaannya pada Kang Minhyuk.

Lirikan tajam itu tidak berlangsung lama karena setelahnya Minirn justru tersenyum sendiri. “Tapi aku memang menantikan Minhyuk bermain drama lagi. Dia benar-benar keren.” Decaknya kagum, untuk kesekian kalinya.

“Berhentilah memuji namja lain di depanku. Menyebalkan..” Ryeowook menggerutu. Ia mengubah posisi duduknya tegak menghadap kedepan dan tidak berminat memandang balik Minrin yang tengah memperhatikannya. Tidak, lebih baik seperti ini dari pada menyulut emosinya yang sudah naik hampir mencapai ubun-ubun.

“Aku tidak memujinya. Kenapa kau sensitive sekali?”

“Aku tidak sensitive, kau saja yang terlalu sering memuji namja lain.” Ryeowook membalas cepat.

“Issh, kenapa tiba-tiba membicarakan itu? Aku tidak berkomentar saat kau memuji gadis lain di depanku” Minrin ikut menggerutu.

Ryeowook menoleh dan balas menatap Minrin. “Kenapa kau jadi membicarakan itu?”

“Kau yang memulainya.” Sahutnya cepat dan langsung membuang mukanya kesal.

“Kau sendiri yang mulai memuji-muji Minhyuk, Kim Soohyun dan pria-pria lain yang membuatmu tertarik.” Sekali lagi Ryeowook menyahut tidak mau kalah.

Mwo?” Minrin menolehkan lagi kepalanya dengan cepat. Hilang sudah kesabarannya. “Kau juga sering seperti itu. Apa aku tidak boleh melakukannya?..”

“Tidak. Mulai sekarang kau tidak boleh melakukannya.” Ryeowook menyahut dengan cepat. Sementara Minrin menatap Ryeowook tidak percaya dan dengan sisa-sisa emosi yang masih menyelimuti kepalanya ia pun  hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali.

Apa yang di dengarnya tadi?

Lalu keduanya diam. Minrin masih memandang ke arah Ryeowook sementara Ryeowook sendiri memilih tetap menghadap ke depan. Lagi, untuk kesekian kalinya mereka harus berdebat. Perdebatan yang sebenarnya terdengar konyol. Hanya gara-gara Minrin memuji pria lain tapi bukan berarti dia berpaling. Iya, Ryeowook tahu itu. Tapi tetap saja semua terasa menyebalkan setiap kali gadis itu membicarakan kelebihan pria lain dan bahkan berdecak kagum karenanya. Mungkin ia hanya khawatir Minrin kembali pergi dari sisinya. Dan itu adalah hal yang tidak ingin dihadapinya.

Keduanya masih diam, hingga akhirnya Ryeowook menyerah tetap bersikap seperti itu. Diam tidak akan berhasil membuat keduanya melupakan pertengkaran kecil tadi.

Ia perlahan menoleh dan langsung kembali berhadapan dengan wajah gadis itu. Sesuatu yang langsung disesali Ryeowook karena mendapat tatapan lekat dari gadisnya berarti membuatnya harus mengalah, selalu seperti itu, ia tidak akan tahan melihat Minrin menatapnya seperti itu.

Kuere, lupakan saja. Aku lapar. Kau tidak lapar?” Tanya Ryeowook melunak.

Gadis itu menggeleng. Sepertinya ia juga tidak ingin terus menerus berdebat, maka ia pun ikut melunak “Ingin kubuatkan sesuatu?” tanyanya pelan dan sebagai gantinya ia justru menawarkan diri untuk sedikit bereksperiment dengan masakan yang dicobanya kemarin.

Ryeowook melongo mendengar tawaran Minrin. Apa yang tadi dikatakannya? Dia ingin memasak? Ini pertama kalinya Minrin menawarkan diri untuk memasak, padahal biasanya Ryeowook yang harus susah payah memaksa gadis ini masuk dapur dan memegang pisau.

“Kau yakin bisa? Sebenarnya aku bisa membuat sendiri, kau tidak perlu memaksakan diri.”

“Aku tidak menerima penolakan.” Sungut Minrin lalu beranjak dari tempat duduknya.

Ryeowook sekali lagi dibuat melongo. Ya sepertinya Minrin memang bersungguh-sungguh saat mengatakan ingin belajar memasak. Bukankah itu hal yang baik? Tapi entah kenapa Ryeowook jadi agak khawatir. Terakhir kali gadis itu masuk dapur, ia hampir mengiris jarinya dua kali. Dilihatnya Minrin sudah menghilang di balik dapur, dan Ryeowook pun segera menyusulnya. Paling tidak ia harus ada di dapur juga, siapa tahu gadis itu membuat kesalahan yang mungkin saja bisa menghancurkan apartementnya sendiri.

Dan diluar dugaan Ryeowook, Minrin terlihat lebih telaten sekarang. Semua di meja dapur ditatanya dengan rapi, gadis itu bahkan sudah bisa memotong bawang bombay dengan benar. Ryeowook terus memperhatikannya. Dimulai dari menyiapkan bahan dan juga memotong daging, semua dilakukannya sendiri tanpa bertanya dan berteriak pada Ryeowook untuk mendapatkan bantuan.

“Kau belajar memasak?” tanya Ryeowook di sela-sela kegiatannya memperhatikan Minrin.

Gadis itu tersenyum sebentar dan mengangguk. “Bulgogi, baru itu yang aku coba.” Tangannya dengan lincah mengiris wortel menjadi bagian-bagian tipis.

“Aku tidak percaya kau melakukannya.” –dan di tanggapi senyuman oleh Minrin-

Ryeowook ikut tersenyum senang sembari terus memperhatikan Minrin dan juga menyalurkan rasa kagum serta sayangnya. Berkali-kali Ryeowook berusaha mengajarinya memasak, dan selalu berakhir dengan rasa yang tidak karuan. Lalu sekarang tanpa Ryeowook meminta, gadisnya justru belajar sesuai kemauannya sendiri.

Tidak butuh waktu yang lama untuk Minrin menyelesaikan masakannya. Dan sekali lagi Ryeowook hampir tidak percaya gadisnya yang semula anti dengan dapur, yang benci dengan segala macam alat dapur, bisa bertahan di tempat ini dan justru menghasilkan makanan hasil buatannya sendiri.

“Ah.. bisa kau ambilkan piring?” Ryeowook segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil dua buah piring dari lemari di belakang Minrin.

Lalu dengan cekatan, dan terlihat sudah sangat biasa melakukannya, Minrin memindahkan bulgogi pada piring tersebut. Selesai dengan urusan itu, ia kembali menyerahkannya pada Ryeowook.

“Kau bawa ini dan aku akan ambilkan minum.” Ryeowook masih tercengang dan tanpa banyak bicara langsung membawa dua porsi bulgogi ke meja makan.

                       

 

Keduanya duduk berhadapan di meja makan, dengan Minrin yang sibuk memperhatikan Ryeowook. Pria itu terlihat berpikir sejenak sebelum bergerak mengambil sepotong daging dan mencicipinya. Lalu dengan hati-hati ia pun mengambil satu potong daging, memasukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan pelan.

“Tidak terlalu buruk.” Ryeowook berkomentar yang langsung membuat Minrin tersenyum lebar.

“Tentu saja. Aku berlatih selama hampir lima kali sampai-sampai Nimi eonnie bosan mengajariku.”

“Kau hebat..” puji Ryeowook lagi dan itu semakin menambah kepercayaan diri Minrin. Setidaknya setelah ini Ryeowook tidak akan seenaknya mengatakan Minrin tidak bisa memasak.

Ia tidak bohong saat mengatakan akan belajar memasak tanpa Ryeowook harus susah payah mengajarinya. Ayolah, ia tidak seburuk itu dalam memasak, Ryeowook saja yang berlebihan. Iya, kadang ia akan terlihat begitu amatir dengan barang-barang di dapur, dan demi memperbaiki image itu, Minrin susah payah belajar bersama Nimi, dan hasilnya ia berhasil membuat satu buah makanan.

“Ini pertama kalinya aku memasak untuk seseorang.” Sekali lagi Minrin tersenyum.

Gomawo, sudah memasak untukku.”

“Tapi ini tidak gratis. Kau harus membayarnya.” Ujar Minrin kemudian yang langsung membuat Ryeowook menghentikan gerakan tangannya mengambil sepotong daging lagi.

“Aku sudah susah payah belajar membuatnya dan kau harus membayarnya.”

Ryeowook mengernyit lagi mendengar penuturan Minrin lalu ia tertawa pelan. Ini mengingatkannya pada kejadian yang lalu saat mereka terlibat taruhan konyol dan berujung pada No Kiss No Hug selama satu bulan.

“Aku yang membersihkan piringnya, bagaimana?” Ryeowook menawarkan tapi langsung ditanggapi Minrin dengan decakan singkat sembari menggeleng. “lalu apa yang kau inginkan?”

Minrin tersenyum sekali lagi. Kira-kira apa yang diinginkannya? Lalu tanpa sadar ia memperhatikan Ryeowook. Baru disadarinya sekarang atau karena dia terlalu acuh tadi, tapi Ryeowook terlihat berbeda. Kalau dipikir-pikir tidak ada yang berubah, rambutnya tetap sama seperti sebelumnya, mungkin hanya sedikit di potong pendek, tapi itu membuat Ryeowook lebih keren. Bahkan untuk sekarang Minrin merasa kekasihnya itu lebih mempesona dibandingkan Kim Soohyun sekali pun.

Minrin berpikir sebentar. Matanya menelusuri setiap inci wajah kekasihnya itu. Sepasang mata yang selalu menatapnya dengan intens, kedua pipi yang dulu sangat tirus tapi sekarang terlihat berisi, lalu ia beralih pada bibir yang biasanya mencium tanpa seijinnya. Dan ah.. kapan terakhir ia merasakan bibir itu menyentuh bibirnya? menyaksikan itu justru membuat jantungnya berdetak hebat. Semua itu terlihat sempurna.  “Mungkin sesuatu yang bisa dijadikan ucapan terima kasih.” Ujarnya pelan.

Ryeowook mengernyit “Poppo? Kisseu? ” tebaknya yang langsung membuat Minrin membelalakan matanya dengan rona merah tertera jelas di wajahnya. Ba..bagaimana mungkin keinginanya semudah itu dibacanya?

“A..aniya. tidak seperti itu juga.” Ia tergagap dan langsung mengalihkan perhatiannya.

Ya ampun kenapa ia justru semakin salah tingkah. Dan tubuhnya terlalu buruk untuk berbohong, karena memang itu yang diinginkannya. Entah kenapa kekasihnya itu sangat menggoda untuknya hingga membuat otaknya tidak beres.

Setelah tadi emosinya hampir meledak karena berdebat dengan laki-laki ini, sekarang justru sebaliknya. Apapun tentang Ryeowook membuatnya ingin tersenyum dan sialnya juga membuat tubuhnya merespon berlebihan.

Ryeowook sedikit tertawa geli saat melihat Minrin yang tiba-tiba salah tingkah. Gadis itu mendengus kecil lalu segera memberesi piringnya. Ia hendak berjalan menuju dapur, tapi lengannya ditarik pelan oleh Ryeowook. Ia menoleh “Biar aku yang mencucinya.” Ryeowook langsung berdiri dan mengambil alih piring di tangan Minrin. Sebagai gantinya dia mendorong Minrin keluar dari area dapur dan menuruhnya tetap di ruang tengah.

“Kuere..” balasnya tanpa banyak protes. Minrin pun berbalik dan segera pergi dari tempat itu sebelum jantung dan seluruh organnya bertindak memalukan.

Astaga ada apa dengan jantungnya ini?.

                       

 

04.14 PM

Sekali lagi mereka berdua berada dalam situasi yang canggung. Entahlah, mungkin hanya Minrin yang merasakannya. Tapi sungguh ia bingung harus bagaimana, memperhatikan Ryeowook yang duduk di sampingnya dan akan membuat tubuhnya kembali merespon berlebih, atau membuang mukanya dan menciptakan situasi semakin canggung. Dua pilihan yang tidak ada bagusnya sama sekali.

Ayolah ini bukan pertama kalinya mereka duduk berdua seperti ini kan? Tapi rasanya Minrin ingin segera menghindar, seperti kembali dibuat jatuh cinta dan pada akhirnya akan membuat setiap gerakan yang dibuat terlihat salah tingkah. Dan ia benci mengakui itu. Sial.

Ia berdehem pelan, lalu memberanikan diri menoleh ke arah Ryeowook. Dilihatnya Laki-laki itu terlalu menikmati buah strawberry yang dibawanya dan juga dengan focus mata pada acara di televisi. Dan sekali lagi Minrin merasa seluruh organnya bergejolak. Ia tidak yakin terus menerus melihat Ryeowook yang sedikit menggoda untuknya ini akan membuatnya bertahan di tempat ini.

“Kau..kau tidak sibuk? Kenapa kau betah sekali di sini.” Minrin berujar ringan, yang disadarinya ia sudah mengucapkan hal yang salah. Hey bukankah itu berarti secara tidak langsung ia ingin mengusir Ryeowook, menyuruhnya pergi dari apartementnya, -sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya-

“Aku bosan di dorm.” Jawabnya sekenanya.

Minrin mengangguk mengerti. Otaknya kembali berputar mencari bahan obrolan lain. Sejak kapan ia mencari obrolan untuk berbicara dengan kekasihnya sendiri? Rasa-rasanya ini baru pertama kalinya.

“Kalau begitu kenapa tidak menemui teman-temanmu? Maksudku.. kau sering melakukan itu kan?” Ryeowook menoleh dan Minrin langsung tersenyum nyengir. “kau mengusirku?” tanya Ryeowook yang langsung membuat Minrin menggelengkan kepalanya.

A..aniya, tidak seperti itu.” Ucapnya cepat.

Issh, dasar bodoh. Minrin merutuki dirinya sendiri. Sejak kapan ia ingin mengusir Ryeowook? Yang ada justru ingin menahannya berlama-lama berada bersamanya. Tapi perkecualian untuk hari ini. Ia butuh menentramkan pikiran, hati, jantung dan semua organ dalam tubuhnya.

“Sebenarnya ada apa denganmu? Ada yang ingin kau inginkan? Kau ingin bertemu dengan Kang Minhyuk dan mengusirku pergi?” tanya Ryeowook menyelidik, matanya menyipit dan menatap Minrin tajam, membuat gadis itu langsung menggelengkan kepalanya.

Untuk apa menemui Kang Minhyuk, kalau kekasihmu saja lebih tampan di bandingkan Kang Minhyuk.

“Kenapa membicarakan Kang Minhyuk lagi? Kau ingin aku menemuinya begitu?” seru Minrin, berpura-pura memasang wajah kesal. Tapi di lain sisi ia ingin tertawa geli. Baru disadirinya sekarang kalau Ryeowook terlalu banyak menyinggung pria-pria idola Minrin sejak tadi. Dan setiap kali nama-nama itu muncul, Ryeowook selalu mengucapkannya dengan kesal. Ah.. bukankah itu berarti kekasihnya itu sedang cemburu? Selalu saja seperti itu.

“Tentu saja tidak, memangnya aku bodoh menyuruh kekasihnya sendiri menemui pria lain yang disukainya?” sahut Ryeowook kemudian. Nadanya melemah dan terdengar helaan nafas darinya. “Ini terdengar berlebihan, tapi kau hanya boleh berada di sisiku, memikirkanku seorang, tidak boleh ada pria lain lagi.” Ia melanjukan dengan pelan, kedua matanya beralih menatap Minrin lekat. Di letakkannya sebelah tangan di pipi gadis itu lalu tersenyum.

Gadis itu balas tersenyum, hatinya melambung dan ia sadar betapa ia memang sangat mencintai pria ini. Apapun tentangnya selalu membuat tersenyum, dan ia menyukai semua hal dalam dirinya itu. Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatiannya dari pria ini, kekasihnya. Berapa banyak pun pria tampan yang menarik perhatiannya, itu hanya sesaat. Karena setelahnya ia selalu kembali pada pria di depannya ini.

Ada kalanya Kang Minhyuk akan terlihat lebih tampan, ada kalanya Kim Soohyun terlihat lebih berkarisma, tapi tidak ada yang bisa mengikat seluruh perhatiannya seperti yang dilakukan Ryeowook padanya. Mungkin kekasihnya tidak sempurna, mungkin bagi orang lain ia juga tidak setampan Lee Minho, tidak sekaya dan tidak juga memiliki tubuh berotot dan berabs seperti Siwon. Tapi Pria ini selalu bisa membuatnya untuk tetap bertahan dan menatapnya seorang.

“Kau lupa aku selalu kembali padamu? Selalu Kim Ryeowook, jadi jangan khawatir aku akan berpaling, karena itu tidak akan terjadi.” Sekali lagi Minrin tersenyum. Ia meraih tangan Ryeowook yang membelai pipinya lalu menggenggamnya.

Minrin sibuk memperhatikan Ryeowook. Laki-laki ini sudah beberapa hari tidak ditemuinya dan setelah bertemu Minrin justru mengacuhkannya. Wajar saja Ryeowook kesal seperti tadi. Dan bodohnya Minrin justru ikut terbawa emosi. Tapi sekarang mereka duduk saling berhadapan seperti ini dengan damai. Sangat melegakan. Sejujurnya Minrin juga tidak ingin berdebat seperti tadi. Terdengar konyol dan kekanak-kanakan. Ia akui mudah sekali tertarik pada pria lain, tapi selalu satu yang membuatnya kembali.

Ingin sekali Minrin memeluk namja itu, mengatakan padanya bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi prianya itu. Tertarik pada pria lain mungkin bisa terjadi, tapi soal hati dan perasaan, bisa dipastikan itu sudah menjadi milik Ryeowook seutuhnya.

Gadis itu tersenyum untuk kesekian kalinya. “Aku ingin memelukmu, boleh tidak?” tanyanya ragu-ragu yang langsung ditanggapi Ryeowook dengan kekehan ringan.

Ryeowook tidak menjawab dan sebagai gantinya ia menarik sebelah lengan Minrin dan memeluk tubuhnya. “Dilarang memikirkan pria lain.” Bisiknya di telinga Minrin yang sedikit membuatnya geli namun lagi-lagi juga membuat senyum di bibirnya. Ia mengangguk dan memiringkan kepalanya hingga membuat hidungnya bersetuhan dengan leher pria ini, menghirup udara di sana dan menikmati sisa parfum yang digunakannya.

Arraso.”

“Euhm soal ucapan terima kasih karena sudah memasak untukku, apa yang kau inginkan? poppo?” tanya Ryeowook kemudian.

Minrin berhenti sejenak dan berpikir. poppo? Ya.. itu yang tadi diinginkannya, tapi sepertinya lebih baik jangan dari pada membuat seluruh tubuhnya tidak bekerja dengan baik. Lagi pula pria ini miliknya dan kapanpun ia bisa mendapatkan ciuman darinya bahkan tanpa meminta sekalipun.

“Menemaniku menonton Chakkan namja saja.” Ujarnya kemudian menyebutkan salah satu drama yang dibintangi Song Joongki. Lalu secepat kilat Ryeowook melepaskan pelukannya, kedua matanya membulat menatap Minrin tajam.

“Yaa, kau sengaja melakukannya?” serunya tidak terima. “Nan Shirro..!!!”

Wae..? kalau begitu melihat konser cnblue.”

Shirro.”

Wae..? Ah.. aku tahu Haereul Poomeun Dal” seru Minrin, kali ini menyebutkan drama berlatar belakang Joseon yang dibintangi Kim Soohyun.

“Aku pergi, kau menonton sendiri saja.” Ryeowook bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi tapi langsung berhenti begitu mendengar teriakan Minrin.

“oh…Andwee.. kau tidak boleh pergi.”

“Kalau begitu poppo.”

Mwo? Shirroyo..!”

“Oke, aku pergi.”

Yaaa~!!!”

CUT

Annyeong.. saya kembali lagi bawa Ryeo-Min .. eottoke? Kenapa mereka mendadak jadi seperti itu eh? Lol

Hehe.. entahlah saya juga tidak tahu. Intinya sih Minrin tetap tertarik dengan pria-pria lain itu 😀

Sudahlah, saya nggk tahu mau ngomong apa. Yang suka silahkan di baca, jangan lupa tinggalkan komentar.

Sampai jumpa lagi ^^

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s