(Fanfiction) #5 Bittersweet

bitterswet

 

Title     : #5 Bittersweet

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Cast     : Shin Minrin, Kim Ryeowook, Lee Hyukjae

Genre  : Romance, Brothership, AU, Sad

Rating  : PG 15 +

Lenght  : 5831 words (Chapter)

Disclaimer : Kim Ryeowook and Lee Hyukjae milik Tuhan, orang tua mereka, Super Junior and ELF. I just have the plot and artwork.

 

Warning : Perhatikan tahunnya !!

 

Incheon, 2002

Plaaak~!!

Satu lagi tamparan tepat mengenai pipi wanita berusia empat puluh tahun itu. Di sudut bibirnya keluar darah sementara di bagian pelipisnya agak membiru. Rambutnya berantakan dan air matanya terus menetes. Wanita itu tidak lagi sanggup berdiri dan hanya bisa menatap laki-laki yang baru saja menamparnya. Satu-satunya tenaga yang dimilikinya adalah menahan kaki laki-laki itu dan menjauhkannya dari anak perempuannya.

“Menyingkirlah. Neo..!!” laki-laki itu mengarahkan telunjuknya pada seorang gadis yang duduk tak berdaya di sudut ruangan, sudut bibirnya mengeluarkan darah akibat tamparan yang keras, dan tangannya memegang erat lengan atasnya yang terasa nyeri karena di dorong terlalu kuat ke dinding.

Laki-laki itu menghampiri Minrin. Menarik lengannya hingga gadis itu berdiri. Lalu dengan keras mendorongnya kembali ke belakang hingga membentur dinding. Minrin meringis menahan sakit dan perih di punggung dan lengannya.

Aniyo, Jebal jangan memukulnya. Minrin-ya cepat pergi. Jemput Serin, eoh?” Teriak wanita tadi yang berusaha keras menghalau tindakan laki-laki itu.

Minrin tidak bergeming. Seakan mencoba melawan, ia justru menatap laki-laki yang merupakan ayahnya sendiri dengan berani. Sementara itu pandangan laki-laki itu mulai mengabur lagi. Gerakan tubuhnya sempoyongan dan dia terhuyung menabrak dinding. Minrin menggeser tubuhnya dan segera menghampiri ibunya.

Eomma, ayo kita pergi, eo? Kita pergi dari sini..” ajaknya sembari menarik lengan ibunya. Tapi wanita itu menghiraukannya. Dia hanya bisa menangis dan menangis.

Kali ini mereka terbebas lagi dari sikap kasar yang mengerikan dari laki-laki tadi. Laki-laki yang dipanggil ayah oleh Minrin – yang selalu pulang dalam keadaan mabuk saat kalah dalam bermain-. Laki-laki yang bisanya meluapkan kekesalannya dengan memukul anak serta isterinya. Dan saat ini laki-laki itu tersungkur di lantai karena mabuk.

 “Kalau kita pergi bagaimana dengan ayahmu?” lirih ibunya parau.

Eomma, dia tidak pantas kusebut ayah. Dia hanya bisa memukuli kita. Issh, bagaimana mungkin eomma masih peduli padanya? Dia bahkan tidak peduli pada kita. Satu-satunya yang dipedulikannya adalah uang.” Seru Minrin. Air matanya tidak lagi dibendungnya.

Mereka berdua menangis lagi hari itu. Selalu seperti itu setiap kali laki-laki bernama Shin Taewoo itu pulang dalam keadaan mabuk. Kadang kala Shin Taewoo akan pulang dengan babak belur saat kalah bertaruh, atau gara-gara dipukuli para penagih hutang. Pemandangan yang sangat biasa bagi Minrin dan juga ibunya.

“Tapi dia tetap ayahmu, Minrin-ya”

 

 

                       

Seoul, 2012

Minrin’s Flat

07.50 PM

Minrin akan berusaha mencintainya, dan dia senang Ryeowook mau bersabar menunggunya. Ingatannya berkelana di malam itu saat Ryeowook mengatakan akan bersabar menunggunya. Lalu tiba-tiba tanpa disuruh ingatannya justru melayang saat ayahnya memukulnya 10 tahun silam. Masih bisa Minrin ingat dengan jelas bagaimana rasanya menerima tamparan dan pukulan. Sakit dan juga perih. Tapi entah kenapa dia ingin bertemu dengan ayahnya. Tidak peduli jika ayahnya itu akan memukulnya lagi. Satu-satunya yang diinginkannya adalah bertemu dengannya dan mengetahui keadaannya.

Gadis itu menghela nafasnya. Senyum tipis menghiasi bibirnya dan dengan gerakan lembut ia melipat pakaian miliknya.

Hari ini ia akan pindah. Bukan kali pertamanya ia pindah tapi tetap saja mengurusi kepindahan rumah bukanlah hal yang mudah. Beruntungnya Hyehyo mau membantunya berkemas, sementara ibu dan adiknya masih di Ilsan.

Bibi dari pihak ibunya memang meminta mereka untuk pindah ke Ilsan dan tinggal bersama. Rencana yang awalnya ditolak Minrin, tapi masih lebih baik dari pada menerima tawaran Ryeowook untuk pindah di apartement yang dibelinya. Baginya lebih baik menerima uluran tangan dari bibinya daripada Ryeowook yang masih menjadi calon suaminya.

Kuende, Minrin-ya..” Hyehyo membuka suara.

Minrin menyahut dengan berdehem sembari tangannya memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas.

“Kau yakin ingin menikah dengan Ryeowook? Maksudku.. kau tidak mengenalnya, kalian juga baru beberapa kali bertemu. Bagaimana kau memutuskan untuk menikah secepat itu?” Sebuah pertanyaan yang diyakini Minrin ingin ditanyakan Hyehyo sejak tadi.

“Aku sudah mengatakannya padamu, kan?” Minrin menyahut tak peduli. Tangannya kembali sibuk melipat pakaian. Sudah berulang kali Minrin mengatakan alasannya, dan berulang kali juga ia meyakinkan Hyehyo bahwa ia tidak akan menyesali keputusannya ini.

“Kau bilang dia menyukaimu, tapi alasanmu menikah bukan karena menyukainya. Kau tidak berpikir kalau kau sudah berlaku jahat padanya? “

Ia menoleh ke arah Hyehyo“Sekali bertemu memang tidak bisa langsung membuatku menyukainya, tapi kalau sudah terbiasa aku pasti akan menyukainya.” Minrin berkomentar cepat. Ditatapnya sahabatnya itu dengan sedikit memohon agar tidak membicarakan alasannya lagi.

“Dan selama waktu-waktu itu kau sama saja menyakiti Ryeowook. Kau menyuruhnya bersabar untuk menunggumu menyukainya, padahal kau sendiri belum yakin dengan ide itu bukan?” sahut Hyehyo tidak mau kalah.

Seketika itu Minrin menghentikkan kegiatannya. Dan seperti terkena tamparan semu, ia pun hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sayangnya ucapan Hyehyo itu memang sudah menjadi ketakutannya sejak menyuruh Ryeowook bersabar untuknya.

Iya, bagaimana jika ia tidak bisa menyukai Ryeowook?

“Hanya saran saja, lebih baik kau melupakan orang itu, namja yang menjadi cinta pertamamu di SMP dan berusaha menerima Ryeowook. Aku yakin keberadaan orang itu dihatimu lah yang membuatmu tidak yakin bisa menyukai Ryeowook. Jadi, saranku lupakan dia. Lagipula dibeberapa kasus, cinta pertama tidak pernah berhasil.”

Minrin menoleh ke arah Hyehyo lagi, dan sahabatnya itu langsung mengepalkan kedua tangannya memberi semangat lalu dia pun tersenyum. Hyehyo memang selalu mengerti apapun dalam hidupnya. Gadis itu tahu penderitaan Minrin karena hutang dan gadis itu juga mengerti bagaimana perasaannya yang masih tertinggal untuk namja cinta pertamanya.

Pertanyaannya adalah bagaimana Minrin bisa melupakan namja itu? Karena entah kenapa tiba-tiba saja ia terus diingatkan olehnya, apalagi setiap kali bertemu dengan Eunhyuk.

“Hyo-ah, kau ingat Direktur Lee?” tanya Minrin tiba-tiba.

Hyehyo mengernyitkan dahinya menatap Minrin. Jelas dia bingung karena ucapannya tiba-tiba dibelokkan seperti itu. Apa tadi katanya? Direktur Lee? Bagimana bisa pembicaraan tentang Ryeowook berubah menjadi Direktur Lee?

Ne, aku ingat. Dia juga masih bosku. Akan sangat aneh kalau aku tidak ingat.” Hyehyo menimpali tidak tertarik.

“Aku rasa ada kemiripan antara Direktur Lee dengan laki-laki itu.” Ujar Minrin. “Aku tidak tahu tapi sepertinya aku pernah bertemu dengannya.”

Lalu seketika itu Hyehyo mengarahkan padangan menyelidik pada Minrin. Matanya menyipit “Yaa, kau tidak sedang menyamakan Eunhyuk-ssi dengan cinta pertamamu itu kan?” seru Hyehyo seakan-akan mampu membaca isi pikiran Minrin dengan sangat tepat.

A..aniya. bukan seperti itu. Aku hanya merasa diingatkan lagi setelah bertemu dengen Direktur Lee.” Sahut Minrin cepat sebelum tercipta kesalah pahaman. Gadis itu menghela nafasnya dan tersenyum kikuk.

Memang terdengar aneh. Tapi nyatanya Minrin memang merasa dibawa ke kenangan masa lalu saat bertemu dengan Eunhyuk. Entahlah. Mungkin hanya perasaannya saja.

“Sudahlah, focus saja dengan pernikahanmu. Jangan mengingat masa lalu lagi. Kau pantas mendapatkan kebahagianmu, Minrin-ya. Dan Ryeowook-ssi adalah orang yang tepat untuk membuatmu bahagia.”

Benarkah seperti itu? Ah tapi kenapa rasanya Minrin tidak yakin dengan pernikahan ini? Bukan karena ia tidak percaya pada Ryeowook akan memberikan kebahagiaan, tapi ia tidak yakin bisa membalas perasaan laki-laki itu.

 

 

                       

 

Heaven’s Club

10.00 PM

Eunhyuk terlihat mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kaca. Beberapa kali ia menghela nafasnya sekedar mencoba memperbaiki perasaannya. Dan beberapa kali juga ia gagal. Hampir saja ia bersikap egois, mengedepankan perasaannya dan mengesampingkan akal sehatnya sendiri. Tapi kali ini ia beruntung dengan kehadiran Ryeowook yang duduk di depannya, karena dia bisa menjadi satu-satunya alasan untuk Eunyuk tidak bersikap egois. Melihat Ryeowook berarti mengingatkan lagi tentang persahabatan yang sudah seperti saudara.

Tuk tuk tuk ..

Suara teratur ketukan itu masih terasa nyaring ditelinga Ryeowook. Hampir lima belas menit keduanya diam. Dan Ryeowook harus puas hanya melihat hyungnya mengetuk-ngetukkan jarinya tanpa bertanya apapun. Padahal jelas-jelas Eunhyuk yang menyuruhnya datang, katanya ada yang ingin dibicarakan. Sekarang setelah Ryeowook di sini, ia justru didiamkan dan dibiarkan hanya melihat Eunhyuk yang sibuk dengan jarinya. Ryeowook sedikit mendengus dan langsung menyambar minuman yang tadi disiapkan Daehyun untuknya.

Lalu ia beralih kembali mengamati jari Eunhyuk dan beralih pada Eunhyuk sendiri yang terlihat sedang berpikir. Oke Ryeowook tidak tahan didiamkan seperti ini. “Yaa, Hyung berhentilah memainkan jarimu. Menyebalkan.” Serunya dengan agak menggerutu. “Kau tadi menghubungiku, wae? Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Ryeowook kemudian.

Eunhyuk yang awalnya hanya tersenyum langsung menghentikan aktifitasnya. Ia mengubah posisi tubuhnya bersender pada bantalan sofa. Terlihat sekali ia mencoba memperhatikan Ryeowook atau mungkin sedang mencoba memahaminya. Entahlah. Tapi yang jelas sikapnya agak mengganggu menurut Ryeowook.

Hyung, waegure?” tanya Ryeowook akhirnya.

Lalu dengan cepat Eunhyuk mengalihkan tatapannya. Ia menghela nafas lemah “Hanya sedang berpikir. Bagaimana persiapan pernikahanmu?” ujarnya balik bertanya.

“Aku belum mengatakan pada Minrin, tapi eomma sudah bergerak cepat. Wedding organizer, termasuk undangan dan sewa gedung semua sudah dipikirkan eomma dengan sangat matang. Kami hanya diminta mencari tuxedo dan gaun pengantin.” Tutur Ryeowook pelan dan ditanggapi anggukan kepala dari Eunhyuk. Setidaknya ucapan Ryeowook barusan bisa menjadi alasan lain untuk menghentikan perasaannya yang ingin egois.

“Kau mencintainya. Bagaimana dengannya? Kau tidak mengatakan kalau kalian pernah bertemu 10 tahun yang lalu?” Tanya Eunhyuk penasaran.

Ryeowook menggeleng pelan. “Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, Hyung. Dia belum mencintaiku. Aku hanya takut jika aku mengatakannya dia akan berubah pikiran.”

Wae?”

“Karena dulu dia tidak terlalu menyukai keberadaanku.” Sahut Ryeowook tenang dan juga lemah.

Karena dulu Minrin tidak suka melihat Ryeowook. Tiga kali bertemu dan seingat Ryeowook, sikap gadis itu bisa melunak hanya saat mereka terjebak hujan malam itu. Selebihnya tidak ada sikap baik yang ditunjukkannya pada Ryeowook.

Entahlah.. Ryeowook hanya ingin mengenal Minrin lebih dulu. Apa yang disukainya, apa yang tidak disukainya. Seperti apa kepribadian yang sebenarnya dan juga seperti apa kehidupannya. Ryeowook ingin mengetahuinya.

“Lebih cepat kalian menikah akan lebih baik.” Ujar Eunhyuk tanpa sadar.

Hyung, kau menyuruhku datang hanya untuk mengatakan itu? Aku seperti sedang diwawancarai secara pribadi di sini.” Ryeowook mengernyitkan dahinya heran. Astaga sebenarnya ada apa dengan Eunhyuk yang menurut Ryeowook mendadak agak aneh.

Ryeowook mengamati Eunhyuk lagi dan kali ini dia tersenyum lebar  dengan meperlihatkan gusi-gusinya seperti biasanya. “Hanya ingin menasehatimu dan juga menghabiskan waktu denganmu. Setelah menikah kau pasti akan sangat jarang datang kemari. Issh, itu juga yang terjadi pada Donghae dulu.” Celetuk Eunhyuk dengan wajah dibuat kesal, yang mau tidak mau membuat Ryeowook ingin tertawa tapi ditahannya.

Jadi sekarang ini Eunhyuk sedang merasa kesepian karena ditinggal sahabat-sahabatnya? Astaga, bukankah itu terlalu konyol? Lagipula menikah tidak akan mengubah persahabatan mereka kan? Ryeowook masih bisa datang ke tempat ini untuk sekedar menemani Eunhyuk mengobrol. Donghae saja yang terlalu asyik dengan kehidupan pernikahannya hingga jarang datang. Donghae adalah sahabat Eunhyuk saat dibangku kuliah. Dulu mereka bertiga sering berkumpul di Club ini tapi semenjak Donghae menikah, namja itu menjadi sangat jarang datang.

“Makanya, kau juga harus cepat mencari seorang gadis. Jangan hidup sendiri terlalu lama.” Ucap Ryeowook menekankan pada kata terakhir. Dia tertawa pelan sebelum berhenti ketika Eunhyuk mendelik kesal ke arahnya. “Memangnya tidak ada wanita yang kau sukai, Hyung? Teman-teman wanitamu kan banyak.”

“Tidak ada, sepertinya aku ketularan penyakit cinta pertamamu.” Sahutnya yang langsung membuat Ryeowook menolehkan kepalanya.

Mwo?” pekiknya tertahan.

“Ada seorang gadis yang kukenal dulu. Kami bertemu lagi dan kurasa aku kembali menyukainya.” Jawab Eunhyuk santai. Lalu kemudian ia memperhatikan Ryeowook yang tengah menatapnya serius.

 “Jinjjayo? Kau tidak pernah mengatakannya. Nuguya? Apa dia gadis yang membuatmu menunggu di malam bersalju itu?” tebak Ryeowook asal. Tapi jika tebakannya benar, maka Ryeowook tidak akan meragukan lagi ucapan Eunhyuk. Bagaimanapun juga ia menjadi saksi perjuangan Eunhyuk menunggu lama di malam yang bersalju. Kalau bukan karena cinta, tidak mungkin Eunhyuk rela melakukannya.

“Ya, dia gadis itu..” ujarnya pelan.

Ryeowook mengangguk mengerti begitu Eunhyuk membenarkan tebakannya. “Hyung, kurasa kau harus menemuinya dan mengatakan padanya. Jangan sampai kau harus dibuat menunggu seperti itu lagi.”

Eunhyuk menoleh sejenak. Ucapan Ryeowook terdengar seperti sebuah dorongan tapi di sisi lain jika Eunhyuk menuruti saran itu akan menciptakan sebuah boomerang. Dan boomerang itu akan ada di antara mereka. Mungkin akan sangat menghancurkan, entah bagi Eunhyuk sendiri, Ryeowook ataukah Minrin, atau justru ketiganya. ‘Jika aku melakukannya, bagaimana denganmu, Ryeowook-ah?’

Lalu dia pun mengalihkan perhatiannya pada gelas di depannya. Tidak. Eunhyuk tidak akan bersikap egois. Ia masih bisa bahagia dengan melihat gadis itu di depan altar bersama sahabat terbaiknya, Kim Ryeowook. Setidaknya ia sedang mencoba untuk bahagia.

 

 

                       

 

Minrin’s Flat

09.00 A.M

Pagi itu untuk terakhir kalinya Minrin memandangi flat sempit yang menjadi tempat tinggalnya bersama ibu serta adiknya. Dan sekarang untuk kesekian kalinya, ia akan pindah lagi, lebih tepatnya ke Ilsan. Sebuah kota yang jaraknya bisa dibilang tidak dekat dengan Seoul, dan memikirkannya saja mebuat Minrin agak kecewa. Ini tentang pernikahannya dengan laki-laki yang sekarang berdiri di sampingnya, karena entah sejak kapan rasanya Minrin tidak ingin berjauhan dengannya. Ia menoleh ke arah Ryeowook dan tersenyum padanya.

Sementara itu Ryeowook juga memperhatikan Minrin yang tengah memandang ke arahnya. Pagi-pagi tadi ia langsung menemui Minrin karena hari ini adalah hari kepindahannya. Rencana yang sampai sekarang masih belum bisa diterima Ryeowook. Bagaimana mungkin gadis ini mendadak memutuskan pindah ke Ilsan di saat pernikahan yang semakin dekat?

“Kau yakin akan pindah?” tanya Ryeowook memastikan untuk kesekian kalinya. Dilihatnya Minrin masih tersenyum padanya.

“Hanya sampai sebelum hari pernikahan kita.” Jawabnya santai.

Ryeowook hendak melontarkan kalimat protes tapi diurungkannya ketika gadis itu berjalan mendekat ke arahnya, sangat dekat hingga mungkin saja jantungnya akan berdetak hebat. Wangi parfum yang lembut menyapu penciumannya. Sangat manis. Selalu wangi yang sama setiap kali Ryeowook berada dekat dengan gadis ini. Dan entah sejak kapan wangi ini menjadi favouritnya.

“Kau semakin terbiasa membicarakan tentang pernikahan.” Sahut Ryeowook tersenyum. Akhir-akhir ini dia memang sangat bersemangat membicarakan soal pernikahan dan bahkan tidak keberatan saat tahu semua persiapan sudah hampir 50 persen di tangan keluarga Ryeowook.

“Memangnya ada calon pengantin yang tidak senang membicarakan pernikahannya?” Minrin membalas yang langsung diikuti senyum manis. Senyum itu hanya beberapa kali dilihat Ryeowook dan ia beruntung masih bisa melihatnya.

“Ya, kupikir tidak ada kecuali dirimu. Kau tahu kan rencana ini sangat mendadak. Kau juga sangat mendadak memberiku jawaban. Kau bilang kita tidak saling mengenal dan juga alasanmu menikah..”

“Aku bilang aku akan belajar mencintaimu, Ryeowook-ssi.” Potong Minrin cepat sebelum Ryeowook menyelesaikan kalimatnya. Saat ini ia tidak ingin berdebat tentang alasan mengapa mereka harus menikah. Karena itu berarti ia semakin menyalahkan dirinya sendiri.

Dan Ryeowook pun tidak jadi melanjutkan ucapannya. Ya.. ia tahu itu. Minrin memang mengatakan itu, bahwa dia akan belajar mencintainya. Ryeowook hanya perlu bersabar. Tapi entah kenapa ada sedikit kekhawatiran yang mengganggunya. Ia sendiri tidak mengerti darimana kekhawatiran itu berasal. Hanya saja, ia takut gadis ini mungkin saja akan pergi bahkan sebelum hari pernikahan.

Ketakutan yang sebenarnya tidak wajar. Tidak bisakah Ryeowook mempercayai gadis ini bahwa dia tidak akan pergi? Sepertinya tidak, sebelum janji suci pernikahan mengikat mereka atau lebih tepatnya sebelum Minrin berubah mencintainya, satu hal yang harus ditunggunya dengan sabar.

“Aku akan menunggumu.” Lanjut Ryeowook, lalu tanpa aba-aba dan dengan gerakan cepat ia menarik Minrin ke dalam pelukannya.

Seakan dengan memeluknya kekhawatiran itu akan lenyap, Ryeowook pun semakin erat memeluknya. Ia bahkan menyingkirkan fakta bahwa ini adalah pelukan pertama yang mereka lakukan selama ini, -hingga mungkin saja Minrin tengah terkejut sekarang-. Ia tidak peduli. Toh, pada akhirnya ia akan sering melakukannya, agar gadis ini tidak akan pergi dari sisinya.

Sementara itu Minrin diam-diam tersenyum di balik punggung Ryeowook. Dibalasnya pelukan itu dengan lembut sembari menyembunyikan senyum dan wajah yang sudah memerah. “Aku menyukai pelukanmu.” Ujarnya pelan.

 Pelukan ini adalah salah satu pelukan hangat yang diterima Minrin selama ini. Pelukan yang juga dirindukan. Saat ia kecil, ayahnya sering memeluknya seperti ini sampai pada akhirnya semua berubah.

“Kau akan sering mendapatkannya setelah ini.” Sahut Ryeowook.

Minrin mengangguk dan kembali meresapi kehangatan dalam pelukan Ryeowook, laki-laki yang akan menjadi suaminya, dan kelak akan memberikan pelukan yang sama hangatnya untuk Minrin.

“Kau ingin berjalan-jalan sebentar sebelum mengantarku ke Ilsan?” tanya Minrin menawarkan. Ia sedikit mendongak tanpa sedikitpun berniat melepaskan diri dari pelukan itu.

“Seamacam kencan?”

Minrin tertawa kecil dan mengangguk “Hmm kencan pertama kita, eotte?”

Tanpa menunggu lama, Ryeowook langsung menyetujuinya. Tentu saja ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan sejak kapan Minrin menjadi sangat pengertian dan bersikap manis seperti ini? Menurut hasil wawancara Ryeowook pada Daehyun, gadis ini tipe orang yang agak keras kepala, dia juga lebih banyak diam dan terkesan bersikap dingin. Sifat yang sama seperti 10 tahun yang lalu. Tapi setelah bersamanya, Ryeowook sama sekali tidak menemukan sifat-sifat seperti itu. Iya, kadang dia akan terlihat kuat, tapi nyatanya dia sangat rapuh. Persis saat dia menangis di malam Ryeowook membawanya dari bar itu.

Joa. Lagipula aku ingin mengenalmu lebih jauh. Apa yang kau sukai dan yang tidak disukai. Seperti apa Shin Minrin itu, dan bagaimana sifat aslinya. Aku ingin mengetahuinya.” Ujar Ryeowook kemudian.

 “Kuere. Aku juga ingin tahu seperti apa Kim Ryeowook itu.”

 Ryeowook melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Minrin. Gadis itu membalasnya dengan sangat manis. Dan Ryeowook berharap senyum seperti itu akan sering-sering dilihatnya setelah menikah nanti.

 

                       

10.05 AM

Pukul sepuluh dan matahari sedikit bersembunyi di balik awan ketika mereka memutuskan untuk mengunjungi sebuah kedai ice cream favourite Minrin. Di tempat itu Minrin sering mengajak Hyehyo untuk menikmati semangkuk besar ice cream. Kali ini seperti biasanya ia memesan ice cream coklat, rasa yang paling disukainya.

“Kau menyukai coklat?” tanya Ryeowook memastikan begitu Minrin selesai memesan ice cream kesukaannya.

Minrin mengangguk bersemangat “Dulu seseorang selalu memberiku ice cream strawberry karena itu aku juga suka strawberry tapi favourite ku tetap coklat. Sekarang kau tahu satu hal yang aku sukai.”

“Aku tidak terlalu menyukai ice cream tapi menurutku coklat memang yang paling enak.” Ryeowook menambahkan dan langsung disetujui Minrin. Ia dulu juga tidak terlalu suka ice cream, tapi seseorang selalu memberikannya ice cream strawberry, dan sejak saat itu ia jadi sangat suka dengan ice cream.

Kuere. Ah.. satu lagi yang harus kau tahu, aku lebih suka ice cream dibandingkan bunga. Jadi saat kau membuatku kecewa dan marah, jangan memberiku bunga, beri saja ice cream dan aku akan memikirkan untuk memaafkanmu.” Sahut Minrin. Wajahnya menjadi girang saat melihat ice cream pesanannya sudah ada di depan matanya.

“Kau tidak suka bunga?” tanya Ryeowook kemudian, tanpa sedikitpun mengganggu keasyikan Minrin menyantap ice creamnya.

“Tidak juga. Aku suka bunga lily, tapi aku kurang nyaman saat ada laki-laki yang memberiku bunga. Entahlah, mungkin karena aku tidak terlalu suka hal yang romantic. Dulu, Seseorang pernah memberiku lily tapi kami berdua bahkan menjadi canggung setelah itu” Seakan tengah menceritakan masa lalu, Minrin tersenyum dan bahkan sedikit tertawa saat mengatakannya.

“Apa orang itu seorang namja?” tebak Ryeowook. Entah kenapa mendadak ia menjadi sangat ingin tahu. Seseorang yang terus saja dibicarakan Minrin sejak tadi, entah dari mana Ryeowook tahu, tapi ia merasa dia orang yang sama.

Minrin mengangguk membenarkan dan itu membuat Ryeowook mencelos. ia menghela nafasnya dengan pelan. “Bagaiamana dengan boneka? Kau juga tidak menyukainya?” tanya Ryeowook lagi, bermaksud mengganti topic pembicaraan. Karena tiba-tiba saja ia tidak suka membicarakan seseorang yang katanya pernah memberi bunga lily itu dan juga selalu memberinya ice cream. Tidak perlu alasan, karena Ryeowook sendiri tidak tahu kenapa ia mendadak jadi tidak suka.

Minrin menghentikan sebentar gerakan tangannya menyuapkan ice cream ke mulutnya. Ia terlihat mengingat-ingat dan sedetik kemudian ia menggeleng. “Aku hanya sekali punya boneka, saat usiaku 7 tahun, tapi salah seorang temanku dengan sengaja membuangnya ke tempat sampah.” Jawab Minrin jujur begitu teringat kejadian di masa kecilnya.

Jinjjayo? Wae?”

“Dia tidak terlalu menyukaiku, karena itu dia membuangnya. Mungkin kau juga jangan memberiku boneka, itu akan mengingatkanku pada gadis itu.” Minrin tiba-tiba memasang muka agak kesal. Lalu tidak berselang lama karena begitu ice cream memasuki kerongkongannya, ia kembali tersenyum senang.

“Eunhyuk hyung juga pernah membuang boneka kakaknya di kolam ikan.”  Sahut Ryeowook kemudian.

Jinjjayo?” seru Minrin tidak percaya.

Ryeowook mengangguk dan mulai menceritakan bagaimana ia harus terseret dalam drama kejar-kejaran antara Eunhyuk dan Ahra. Eunhyuk tidak menjelaskan apa yang membuat Ahra mengejar mereka dan dengan seenaknya menarik Ryeowook ke ruang bawah tanah. Kejadian yang masih diingatnya sampai sekarang dan Minrin mendengarkan cerita itu dengan sangat antusis, sesekali ia tertawa hingga tanpa disadarinya isi mangkuknya hanya tinggal sepertiga.

“Kau benar-benar melakukannya?” tanya Minrin tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Hanya dengan mendengar cerita masa kecil Ryeowook, entah kenapa membuatnya merasa dekat dengan laki-laki ini.

“Eunhyuk hyung yang memulai. Dia benar-benar keteraluan. Ahra nunna bahkan sampai menangis dan mengadu pada eommonim.”

“Kurasa dia  memang keteraluan.” Minrin setuju dengan ucapan Ryeowook. Siapa yang menyangka Direktur Lee itu sangat jahil saat kecil.

Wajahnya boleh tampan sekarang, kelakuan juga boleh cassanova tapi masa kecilnya tetaplah seperti kebanyakan anak kecil lainnya. Eh Tunggu dulu, kenapa sekarang Minrin justru memikirkan Eunhyuk?

“Dia bilang kesepian sekarang. Karena aku akan segera menikah denganmu.” Ujar Ryeowook yang tiba-tiba mengubah topic pembicaraan tentang Eunhyuk. “Eunhyuk hyung memang dekat dengan banyak wanita, tapi sepertinya tidak ada yang membuatnya jatuh cinta seperti gadis itu.” Lanjutnya menjelaskan.

Minrin mengernyitkan dahinya. Apa itu berarti Eunhyuk bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta?

“Dia pernah menunggu seorang gadis di malam yang bersalju selama dua jam.”

Lalu tiba-tiba ekspresi Minrin berubah menjadi tegang. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia cukup merasakan detak jantungnya yang berpacu cepat seiring tubuhnya yang mendadak menegang.

“Tapi gadis itu tidak datang. Aku sudah mengatakan padanya bahwa dia mungkin saja sudah ditolak, tapi seperti kataku tidak ada yang membuatnya jatuh cinta kecuali gadis itu. Kemarin dia mengatakan padaku kalau dia bertemu lagi dengan gadis itu. Dan kau tahu, Enhyuk hyung bilang dia masih menyukai gadis cinta pertamanya. Ck.. aku benar-benar tidak mengerti”

Tubuh Minrin semakin menegang. Ia bahkan tidak lagi tertarik dengan ice creamnya yang masih tersisa beberapa sendok. Focus pikirannya hanya satu saat ini yaitu mendengarakan ucapan Ryeowook. Minrin menundukkan kepalanya dan tanpa disadari tangannya sudah saling meremas.

“Kau tidak apa-apa?” sayangnya Ryeowook menyadari perubahan sikap Minrin “Apa kau sakit?” tanyanya lagi. Tapi Minrin menggeleng.

Tidak mungkin dia. Minrin meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin hanya kebetulan saja. Mungkin saja Eunhyuk memang sedang menunggu seseorang, tapi jelas bukan dirinya. Lagipula Minrin tidak mengenal Eunhyuk sebelumnya. Wajah mereka hanya kebetulan familiar, tapi Minrin yakin Eunhyuk bukan laki-laki itu, lagi pula namanya bukan Eunhyuk meski sama-sama bermarga Lee.

Aniya, apa yang Eunhyuk-ssi lakukan mengingatkanku pada laki-laki yang dulu mungkin saja juga melakukan hal yang sama. Dia menungguku di malam bersalju, bedanya aku datang menemuinya malam itu, sayangnya dia sudah pergi.” Ujar Minrin kemudian setelah berhasil mengontrol perasaannya.

Mereka hanya sama-sama menunggu di malam yang bersalju, tapi bukan berarti orang yang sama. Lagipula jika keduanya orang yang sama, seharusnya Eunhyuk sudah mengenali Minrin begitu juga sebaliknya. Saat pertemuan pertama saja Minrin sudah kurang suka dengan Eunhyuk, jadi bagaimana mungkin mereka saling mengenal sebelumnya.

Kuereyo? Tiba-tiba aku merasa iri dengan laki-laki itu. Apa kau menyukainya?” tanya Ryeowook kemudian.

Minrin hanya tertawa pelan sekedar mengontrol rasa gugup dan tegang yang dirasakannya Ia berusaha bersikap biasa saat mendengar pertanyaan bernada kesal yang tadi dilontarkan Ryeowook. “Apa kau cemburu?” Minrin balik bertanya

Lalu dengan cepat Ryeowook menggeleng. “Aniya, lagipula kau akan jadi milikku. Dan kurasa aku tidak perlu mengkhawatirkan itu, kan? Itu masa lalumu. Meskipun kau mungkin memang menyukainya dulu, tapi di masa depan, aku akan memastikan kau hanya menyukaiku seorang.” Dia tersenyum sangat yakin.

Minrin mengangguk dan balas tersenyum. “Kuere, di masa depan hanya kau yang akan kusukai.”

Benar. Cinta pertamanya hanya masa lalu. Dan mungkin Hyehyo benar, ini saatnya melupakan cinta pertamanya. Jika sekarang ia masih berharap bertemu lagi dan menyelesaikan yang belum selesai dengan laki-laki cinta pertamanya, maka itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa tidak lama lagi ia akan menjadi milik Ryeowook. Dan Ryeowook adalah orang yang akan membantunya melupakan kenangan cinta pertama itu.

 

 

                       

01.10 PM

Keduanya memulai perjalanan menuju Ilsan ketika hari sudah siang. Matahari semakin tidak menampakkan diri dan yang terlihat hanyalah langit yang berawan bercampur mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Dan menudng itu semakin membuat perjalanan mereka terasa sunyi tanpa ada yang memulai berbicara. Satu-satunya yang bisa dilakukan Minrin hanyalah memperhatikan Ryeowook yang terlalu focus dengan jalan di depannya.

Hari ini ia mengetahu sedikit tentang laki-laki ini dan hal itu sangat menyenangkan. Dan untuk pertama kalinya Minrin berani menatap Ryeowook dengan lekat.  Ia tidak tahu sejak kapan, tapi ia selalu senang melihat wajah laki-laki itu. Wajah yang baru disadarinya tampan. Mungkin terkesan sangat polos dan tidak menunjukkan umur yang sebenarnya, tapi Minrin menyukainya. Dia memiliki senyum yang menenangkan dan selalu terlihat bahagia. Apa dia memang tidak pernah sedih? Karena seakan-akan Ryeowook memang selalu terlihat bahagia. Lalu tiba-tiba ia penasaran jika saja Ryeowook itu seorang wanita, mungkin saja Minrin akan kalah cantik darinya. Konyol. Lalu tanpa disadarinya Minrin sudah tersenyum setengah tertawa geli.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Ryeowook yang ternyata menyadari sedang diperhatikan sejak tadi.

Buru-buru Minrin menolehkan kepalanya lurus ke depan. Di manapun saat seorang wanita ketahuan sedang menatap lekat seorang laki-laki adalah hal yang memalukan. Ia menggeleng dan bersikap tidak terjadi apa-apa.

“Kau meperhatikanku sejak tadi. Wae? apa aku terlihat tampan? Apa kau mulai tertarik padaku?” tanya Ryeowook lagi mencoba menggoda Minrin, dan langsung dibalas Minrin dengusan ringan.

Lalu dengan cepat Minrin kembali menoleh ke arah Ryeowook. “A..aniyo..” sergahnya cepat seiring detak jantungnya yang mendadak cepat. Oh waegure?

“Lalu?”

Matanya menyipit kearah Ryeowook. Wajahnya memang terlihat polos, tapi tidak disangka dia akan sangat narsis seperti itu. “Aku hanya penasaran jika kau berdandan seperti wanita, kau pasti akan terlihat cantik. Aku bahkan merasa kalah cantik.” Ujar Minrin kemudian.

Oke ini konyol. Minrin sedikit merutuki mulutnya yang asal bicara. Dengan cepat Minrin membekap mulutnya sendiri. Dasar bodoh.  Tapi tanpa disangka Ryeowook justru tertawa mendengar penuturan jujur nan polos dari Minrin. “Kenapa Kau tiba-tiba berpikir seperti itu? Apa kau lebih menyukai wanita dibandingkan laki-laki?” tanyanya sama polosnya.

 “Aniya. Hanya berpikir seperti itu. Lagipula sekarang ini banyak sekali laki-laki yang terlihat lebih cantik jika berdandan seperti wanita.” Sergah Minrin cepat.

Lagi-lagi Ryeowook tertawa sedangkan Minrin semakin mendengus kesal. “Sudahlah, lupakan saja ucapanku tadi. Aku hanya bercanda.” Tuturnya.

Ryeowook tersenyum melihat tingkah Minrin yang seperti anak kecil. Sedikit merajuk dan juga serba salah, tapi itu menyenangkan untuk dilihat.

“Ryeowook-ssi, aku ingin bertanya sesuatu.” Tanya Minrin tiba-tiba. Kali ini pertanyaan itu bernada serius hingga Ryeowook tidak berani menanggapinya dengan candaan.

 “Mwotte?”

“Apa kau akan meninggalkanku jika kau bertemu wanita yang lebih cantik dariku, yang lebih mendekati criteria wanita idealmu?” tanya Minrin terus terang.

Ryeowook menoleh saat mobil berhenti di lampu merah. Dia memperhatikan Minrin dengan mengernyit seakan-akan pertanyaan Minrin barusan adalah pertanyaan yang sangat konyol. Kenapa wanita selalu menanyakan itu?

“Memangnya kau tahu seperti apa tipe idelku?” Ryeowook balik bertanya. Dan Minrin langsung menggeleng. Tapi ia tetap menolak untuk tidak diberi jawaban, ia juga tidak menerima pertanyaan balik, saat ini ia sedang menuntut Ryeowook untuk menjawabnya. Ryeowook mengerti dan menghela nafasnya.

“Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu, sama sekali tidak akan melepaskanmu sekalipun gadis dengan criteria idealku datang. Aku tidak akan melakukannya, kecuali kau sendiri yang memintaku untuk meninggalkanmu.” Tutur Ryeowook pelan. Dia memperhatikan Minrin sebentar lalu tersenyum.

“Kalau begitu jangan membuatku berpaling darimu. Kau harus menggenggamku dengan erat dan tidak boleh melepaskannya.” Sahut Minrin yang juga ikut tersenyum. Karena hanya begitu, mungkin saja Minrin bisa melupakannya.

Lalu tanpa diduga-duga Ryeowook sudah mengulurkan tangan kanannya yang terbuka. Dan tanpa banyak berpikir, Minrin menerima uluran tangan itu, memposisikan tangan kirinya di atas telapak tangan Ryeowook, dan membiarkannya digenggam dengan erat.

Mobil itu terus melaju di jalan kota Seoul dengan dua orang di dalamnya yang saling bergenggaman tangan.

“Ah.. hari ini untuk pertama kalinya kau akan bertemu ibuku.”

“Kau benar. Apa dia akan menyukaiku? Aku agak gugup sekarang”

“Kau ingin kuberitahu rahasia untuk menarik simpati ibuku?”

“Apa itu?”

“Dia menyukai lagu trot jadi kau harus menyanyikan lagu trot dan menari untuknya”

Jinjjayo? Tapi aku tidak tahu sama sekali tentang lagu trot.”

“Aku bercanda kalau begitu.”

Mwo? Yaa, kau sedang mengerjaiku?”

“Ha..ha ..ha ..ha ~~!!”

 

                       

Heaven’s Club

09.18 PM

Gadis itu datang. Tapi bukan datang untuk bertemu Eunhyuk. Dan Eunhyuk harus membiasakan diri dengan kenyataan itu, bahwa Shin Minrin bukan lagi gadis cinta pertamanya dulu. Satu hal yang harus terus ditekankan padanya adalah bahwa gadis itu akan segera menjadi milik orang lain. Sesuatu yang tidak dapat dihindarkan.

Sebenarnya Eunhyuk sudah lama mengetahui tentang gadis itu. Lebih tepatnya saat ia membantu Ryeowook mencari informasi tentangnya. Hanya dengan sekali mendengar namanya, dan mengetahui latar belakangnya, cukup untuk Eunhyuk langsung mengenalinya.

Shin Minrin tetap sama seperti dulu, mungkin bedanya gadis itu lebih cantik sekarang, dan perubahan itu yang membuat Eunhyuk tidak bisa langsung mengenalinya sekali bertemu. Selebihnya tetap sama, termasuk sifatnya dan juga keadaan keluarganya. Bukan berarti sombong, tapi Eunhyuk memang lebih dulu mengetahu tentang gadis itu dibandingkan Ryeowook. Eunhyuk lebih dulu tahu bahwa gadis itu menderita karena ulah ayahnya. Sayangnya sebelum Eunhyuk berhasil melindunginya, gadis itu menghilang. Dan malam bersalju itu adalah hari di mana seharusnya Eunhyuk bertemu dengan Minrin, jika saja Minrin datang malam itu.

Ketika akhirnya ia bertemu lagi dengan Minrin tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia hanya harus diam dan berpura-pura tidak tahu, dengan begitu semua akan berjalan sesuai rencana Ryeowook. Eunhyuk tahu bagaimana usaha Ryeowook selama ini mencari gadis yang sepuluh tahun telah membuatnya jatuh cinta. Dan demi menghargai usaha itu, juga demi sebuah persahabatan Eunhyuk memilih untuk berpura-pura tidak mengenal Shin Minrin. Padahal kenyataannya -tanpa mereka berdua sadari selama sepuluh tahun ini-, mereka menyukai satu orang yang sama.

Eunhyuk berusaha dengan keras menghela nafasnya. Entah kenapa tiba-tiba sangat menyesakkan, mungkin seperti inilah seseorang yang sedang patah hati.

Hyung, kau mau minum?” Daehyun menawari dan langsung ditanggapi gelengan kepala oleh Eunhyuk.

Alkohol tidak akan membuatnya berhenti memikirkan gadis itu, dan mungkin justru akan memperparahnya. Eunhyuk tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukannya begitu berada di bawah pengaruh alcohol, lagipula ia memang tidak terlalu menyukai alcohol, meski berkadar rendah sekalipun. Tapi mungkin saja alcohol akan membuatnya lebih rileks, setidaknya orang-orang yang patah hati biasanya selalu minum alcohol.

“Ah Daehyun-ah, aku berubah pikiran. Beri aku satu, hm?”

Daehyun mengangguk dan segera bergerak meracik minuman untuk Eunhyuk, minuman non alcohol yang biasa dipesan Eunhyuk tentu saja. Gerakan tangannya mengocok terhenti saat Eunhyuk dengan tiba-tiba menegurnya

Yaa, apa kau sedang membuat mocktail?”

Daehyun mengangguk. “Ne, bukankah hyung biasanya memesan ini?”

“Untuk kali ini buatkan aku yang sedikit beralkohol.” Sahutnya.

Sesaat Daehyun hanya menatap Eunhyuk heran. Sejak kapan bosnya ini minum alcohol sendirian? Bukankah biasanya dia akan minum bersama Ryeowook atau Donghae, paling tidak ada yang mengantarnya pulang kalau-kalau dia mendadak mabuk. Daehyun hampir melontarkan penolakan untuk membuatkan minuman yang dimaksud Eunhyuk, tapi segera diurungkannya begitu melihat Eunhyuk tengah menatapnya tidak sabar.

Arraso..

Daehyun memperhatikan Eunhyuk sebentar sebelum akhirnya sibuk menuangkan minuman ke dalam gelas kaca pendek. Apa yang sebenarnya membuat Eunhyuk mendadak seperti ini? Daehyun memang bukan peramal, tapi dengan melihat penampilan Eunhyuk yang berantakan dan tatapan mata pasrah cukup untuk Daehyun menyimpulkan bahwa bosnya ini sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Ada masalah hyung?” tanyanya hati-hati saat didorongnya segelas minuman beralkohol sesuai pesanan Eunhyuk tadi.

Eunhyuk mengambil minuman itu dan meminumnya dalam sekali tegak. Matanya terpejam sebentar ketika dirasakannya alcohol masuk dalam tenggorokannya. Ia menyodorkan gelas itu pada Daehyun dan menyuruhnya untuk mengisi ulang. Lagi-lagi Daehyun hanya menurut.

“Menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Eunhyuk tidak jelas. Sepertinya efek alcohol yang tidak seberapa itu sudah mengambil alih kinerja otak dan system syarafnya.

“Ini yang terakhir, Hyung. Aku tidak akan membiarkanmu pulang dalam keadaan mabuk.” Satu gelas lagi berisi minuman berwarna bening disodorkan Daehyun pada Eunhyuk dan dengan cepat Eunhyuk kembali meminumnya.

“Aku menyukainya. Dan aku bahkan tidak berani mengatakan itu padanya. Aku harus bagaimana, Daehyun-ah..” sekali lagi Eunhyuk meracau dan sepertinya semakin parah. Untungnya tidak banyak pengunjung yang datang, jadi Daehyun tidak perlu repot-repot menyeret Eunhyuk ke ruang terpisah dan membiarkannya bicara di sana.

“Kenapa, Hyung tidak berani mengatakannya  Apa dia tidak menyukaimu?” tanya Daehyun mencoba menanggapi ucapan Eunhyuk tadi. Apa ini seorang wanita? Ahh sedikit tidak masuk akal, bosnya ini biasanya selalu membuat wanita patah hati, dan sekarang ia sendiri yang dibuat patah hati?

“Karena dia akan segera menikah, mana mungkin dia juga menyukaiku” jawab Eunhyuk lemah.

Daehyun mengangguk mencoba mengerti. Masalahnya ternyata tidak seringan yang dipikirkannya. Ini tentang perasaan dan hati. Siapapun pasti akan merasa seperti ini jika orang yang dicintainya akan menikah dengan orang lain. Hanya saja mungkin mereka berbohong pada diri mereka. Dan sepertinya Eunhyuk salah satu diantaranya.

“Kalau begitu biarkan dia bahagia. Kenapa menyiksa dirimu sendiri, Hyung?”

Eunhyuk menggeleng dan dengan pelan kepalanya sudah jatuh tertelungkup di atas meja bar. Deru nafasnya berubah teratur. Sedangkan Daehyun hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menghela nafasnya. Hanya dua gelas minuman berkadar alcohol rendah dan itu sudah mampu membuat bosnya mabuk.

“Apa aku harus mengubungi Ryeowook hyung untuk mengantarnya pulang? Aigoo..” Daehyun berbicara sendiri sembari menyingkirkan gelas kosong sebelum Eunhyuk tiba-tiba bangun dan meminta satu gelas lagi berisi minuman alcohol yang – sepertinya tidak mungkin-.

“Ryeowookkie dia satu-satunya yang beruntung.” Ujar Eunhyuk semakin tidak jelas.

Aigoo..” lalu seakan tidak punya pilihan lain, Daehyun segera mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi Ryeowook.

Beberapa saat hanya terdengar nada tunggu sebelum akhirnya terdengar jawaban dari Ryeowook. “Ah Hyung, Eunhyuk hyung baru saja mabuk. Bisakah Hyung datang dan mengantarnya pulang?”

“….”

Ne, gamsahamnida Hyung.”

Sambungan berhenti begitu Daehyun mengucapkan terima kasih. Sekali lagi ia hanya bisa memperhatikan Eunhyuk sebentar. Sepertinya bosnya ini memang sedang terluka hatinya.

 

 

                       

Eunhyuk’s Apartement

10. 08 PM

Ryeowook memapah Eunhyuk menuju apartementnya. Untungnya selama ini Ryeowook selalu tahu password apartement Eunhyuk yang baginya terlalu mudah untuk diingat. Setelah mengetikkan kombinasi lima angka, suara beep tanda akses diterima terdengar dan dengan susah payah Ryeowook berusaha membuka pintu apartement itu.

Tidak ada pilihan bagi Ryeowook selain membiarkan atau lebih tepatnya mendorong tubuh Eunhyuk hingga jatuh di atas sofa, dari pada membawanya susah payah ke kamarnya yang berada di lantai dua. Tubuhnya lebih kecil dibandingkan Eunhyuk, dan Ryeowook sudah kepayahan membawanya sampai di sini, maka ia pun membiarkan Eunhyuk tetap di ruang tamu. Sebagai balasannya, ia pun ikut duduk merebahkan diri di salah satu sofa kosong, ditariknya nafas dan mencoba mengatur irama pernafasnnya sendiri. Setelah berhasil bernafas dengan baik, ia pun memperhatikan Eunhyuk. Pikirannya sibuk mencari alasan kenapa tiba-tiba Eunhyuk meminum minuman alcohol yang dijauhinya selama ini dan membuatnya mabuk.

Aigoo, Kau membuatku berkendara diatas 100 km/jam dari Ilsan hanya untuk menjemputmu. Ck, sebenarnya apa yang membuatmu mabuk, hyung?” tanya Ryeowook dengan sedikit mendecak- yang sebenarnya tidak mengharapkan jawaban-. Ia ingat terakhir kali bertemu Eunhyuk memang sudah sedikit aneh. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Jadi sesuatu itulah yang mungkin saja membuat Eunhyuk nekat minum.

“Apa kau ditolak oleh gadis itu lagi?” tanya Ryeowook yang langsung diselingi tawa ketika memikirkan Eunhyuk mungkin saja tidak mendengar ucapannya.

“Aku ditolak bahkan sebelum mengatakannya.” sahut Eunhyuk tidak terlalu jelas.

Mwo?”

Ryeowook sedikit terlonjak kaget begitu menyadari Eunhyuk masih sadar, meski kesadarannya itu perlu dipertanyakan. Ia menoleh lalu melihat Eunhyuk memang sedikit membuka matanya, dan mata itu tengah menatap ke arah Ryeowook.

“Kenapa kau tidak mengatakannya?” tanya Ryeowook tidak terlalu minat.

“Kau ingin membantuku mengatakannya, Ryeowook-ah? Kalau begitu katakan padanya aku menyukainya sejak dulu. Aku menyukainya sejak aku memberinya ice cream strawberry…”

Ryeowook menoleh lagi dengan cepat, Matanya menatap sedikit tidak percaya pada Eunhyuk yang sekarang setengah terpejam. Seperti terkena hantaman batu yang keras, ia bahkan tidak mampu menanggapi ucapan itu.

“…Sejak ia menolak bunga lily yang kuberikan, dan sejak aku melihat wajahnya yang memar karena pukulan ayahnya. Aku menyukainya karena itu aku ingin melindunginya, gadis itu..Shin Minrin…”

“Mwo?”

Ryeowook semakin membelalakan matanya tidak percaya. Apa maksudnya? Gadis itu Shin Minrin? Gadis yang ditunggu Eunhyuk malam itu adalah Minrin?

 

CUT

Mianhaeyo agak lama nerusin part ini. Saya sujud syukur kalau masih ada yg ingin baca FF abal-abal ini, yang jujur saja semakin nggak jelas. Ahh.. entahlah saya nggk mau koment banyak. Mohon dimaafkan kalau ceritanya kurang dapat feel atau tidak sesuai bayangan reader *bow* saya masih perlu banyak belajar, terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komentnya ya..

 

Sampai jumpa lagi ^^

Advertisements

2 thoughts on “(Fanfiction) #5 Bittersweet

  1. Kyahahahahahahahahahahahahahahaha *kok ketawa u,u* ini udh makin diperjelas ya? Jangan sampe setelah Eunhyuk ngomong gini, Ryeowook malah mau ngasih (?) Minrin ke Eunhyuk? 😦 noooo! 😦 ah, tp terserah author deng XD good job! Next part dipercepat ya *bawel* xD

    1. Khahaha *ikutan ketawa jg baca koment km* #eeh 😀

      eh emang ryeowook mau semudah itu nyodorin minrin ke hyuk? k k k oke lihat saja nanti ya gimana sikap minrin, dan juga ryeowook.
      terima kasih sudah membaca ^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s