(Fanfiction) Still You -아 직 도 난- Part 1

still you 2

Title     : Still You

Cast     : Lee Donghae, Park Chany

Genre  : AU, Romance

Rating : 15

Length : Twoshoot (4757 words)

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Disclaimer : I just have the story and artwork. The character belongs to their self.

Am I hurting? I am hurting, I don’t know

Have I forgotten you? I guess not

I keep thinking of you baby

It’s still you

Just You

–    아 직 도 난   –

January 12 2013,

Incheon International Airport

Pesawat tujuan bandara Internasional Incheon dari New York baru saja mendarat di tengah hujan salju di bulan Januari. Di antara penumpang lainnya, seorang gadis berambut sebahu terlihat berjalan menuju pintu keluar. Tangan kirinya menyeret koper besar berwarna hitam, sementara tangan kirinya memegang tas kecil. Matanya menelusuri setiap orang yang berdiri di depan pintu itu. Seharusnya seseorang menjemputnya sekarang, tapi tidak seorang pun yang dikenalnya. Maka dengan kecewa, ia pun terus menyeret kopernya, hingga keluar dari bandara itu.

Tiga tahun berada di New York, dan sekarang setelah dia kembali tidak seorang pun yang datang menjemputnya. Padahal dia yakin sudah memberitahu ibunya tentang kepulangannya ini. Gadis itu menghela nafasnya lalu mengambil ponsel dari tas kecilnya. Tangannya dengan cepat menekan tombol nomor 2 yang merupakan speed dial untuk kekasihnya. Nada tunggu terdengar, tapi tidak ada tanda-tanda di jawab. Dengan rasa kecewa dan marah yang tiba-tiba menyelimuti, dia pun mematikan panggilan, lalu beralih menghubungi ibunya. Beruntung, ibunya itu masih ingat puterinya pulang hari ini.

Oh.. Chany-ah, mianhae. Eomma tidak bisa menjemputmu. Eomma sudah menyuruh Lee Donghae menjemputmu. Apa dia belum datang?”

Chany, nama gadis itu hanya menghela nafas kesal begitu mendengar suara ibunya. “Eomma, aku tidak akan menghubungimu kalau dia ada di sini sekarang.” keluhnya

Mwo? Dia belum menjemputmu?”

Dwesso, aku pulang menggunakan taxi saja. Tidak usah khawatir, eomma teruskan pekerjaanmu, euhm? Sampai jumpa di rumah.”

Setelah itu sambungan ditutup sebelum ibunya kembali mengoceh. Sedangkan Chany lagi-lagi hanya bisa menelan kekecewaan karena untuk kesekian kalinya kekasih dan juga tunangannya itu tidak peduli padanya.

Kuere, lihat saja nanti Lee Donghae.” Gerutunya.

Ia baru saja akan berjalan menuju taxi yang menunggu di sisi sebelah kanan, ketika tiba-tiba seorang laki-laki dengan stelan berjas menghentikannya. Chany memperhatikan laki-laki itu dari bawah ke atas. Dahinya mengernyit heran. “Nu..guya?”

Agasshi, Apa Anda Park Chany-ssi?” tanya laki-laki itu dan diikuti aggukan kepala oleh Chany. “Ah syukurlah. Jeongsohamnida, saya terlambat menjemput Anda.” Laki-laki itu lantas membungkukkan badannya, membuat Chany semakin bingung dibuatnya. Tapi itu tidak berselang lama karena setelahnya ia paham siapa yang menyuruh orang ini menjemputnya.

“Apa Lee Donghae yang menyuruhmu?” tanya Chany

Ne, Direktur sedang ada rapat dengan para pemegang saham, jadi saya yang disuruh menjemput Anda. Mari silahkan..” Laki-laki itu mengambil alih koper yang dibawa Chany dan menuntunnya menuju mobil hitam yang terparkir tidak jauh.

Sepanjang perjalanan ke rumah, Chany tidak henti-henti memikirkan akan seperti apa liburannya kali ini di Korea. Tiga tahun di Amerika, baru sekarang ia kembali dan menginjakka kakinya di sini. Korea dan Seoul selalu terlihat lebih nyaman dibandingkan New York. Gadis itu menelusuri pemandangan di luar jendela, dan senyumnya tidak lepas ketika mobil yang mereka tumpangi melaju membelah sungai Han.

“Seoul, I’m here now..” gumamnya pelan.

                       

 

Seoul,

“Donghae-ya, kudengar Chany kembali dari Amerika hari ini.” Sungmin menjejeri langkah Donghae ketika akhirnya mereka berhenti di depan lift.

Donghae menekan angka 1 dan beralih menoleh pada Sungmin yang berdiri di sampingnya. Namja itu tidak hentinya tersenyum dan semakin membuat Donghae heran melihatnya. Lee Sungmin memang salah satu orang yang bahagia sekarang ini setelah menerima kabar kedatangan Park Chany. Bukan apa-apa, tapi tunangannya itu memang dekat dengan Sungmin sejak dulu

Hyung, Kita memang berteman, tapi aku tidak suka melihatmu yang terlalu dekat dengannya.” Ujar Donghae setengah mengancam, namun hanya ditanggapi senyuman lebar Sungmin. Namja itu menepuk bahu Donghae pelan dan mengangguk-angguk.

“Tenang saja, aku tidak akan merebutnya. Kau seharusnya lebih berhati-hati pada teman-teman pria nya di Amerika. Negara itu terlalu bebas soal pergaulan.”

Tiing. Pintu lift terbuka dan Sungmin berjalan masuk lebih dulu. Donghae ikut berjalan masuk dengan mendengus kesal mengingat ucapan Sungmin barusan.

“Dia bukan gadis seperti itu, Hyung.” Ujar Donghae yakin.

Ya.. bukan berarti dia tidak khawatir. Kadang dia sangat khawatir tentang hubungannya dengan Chany. Tiga tahun jarak Korea-Amerika memisahkan mereka. Dalam setahun mungkin hanya sekali mereka bertemu selebihnya hanya berhubungan via telepon. Tahun kemarin Donghae yang mengunjungi Amerika. Dan melihat langsung kehidupan gadis itu di Negara orang, cukup memunculkan kekhawatiran dan mungkin cemburu yang berlebih. Sayangnya, saat itu Chany menanggapi emosi Donghae itu seperti emosi anak kecil. Jadi, sejak saat itu Donghae memutuskan tidak akan lagi menunjukkan ketidaksukaannya yang berlebih pada Chany. Dia lebih memilih untuk berusaha mempercayainya.

“Dia memang bukan gadis seperti itu, tapi kau tahu dia bisa sangat mengerikan kalau marah. Ah aku penasaran kapan dia akan menumpahkan kemarahannya itu” celetuk Sungmin ketika mereka sudah sampai di lantai satu. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju pintu keluar.

“Maksudmu apa, Hyung?” Donghae melirik Sungmin sebentar dengan tatapan mengawasi.

“Tentang Jungyeon. Kau tidak berencana menjauh dari gadis itu sementara tunanganmu itu sudah kembali?”

Sekarang Donghae benar-benar mengawasi ucapan Sungmin dengan mata tajam. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini. Dan sayangnya Sungmin menyadari sedang diawasi oleh Donghae, maka dia pun hanya berdehem pelan. “Jangan tanya padaku kenapa, tanyakan pada Chany sendiri. Sudah ya.. aku pergi dulu.” Dia menepuk pundak Donghae dan langsung berjalan lebih dulu.

Donghae memperhatikan sahabatnya itu sembari menghela nafasnya. Apa maksud hyungnya itu? Apa gadis itu mengetahui sesuatu? Gadis bernama Park Chany itu benar-benar mengerikan untuknya. Memilikinya, dan mengikatnya dalam tali pertunangan rasanya tidak cukup membuat gadis itu tetap berada di sisinya. Seperti yang selalu Sungmin bilang, Chany itu berbeda dari yeoja lainnya.  Tapi bagaimana jika gadis itu memang mengetahui sesuatu?

                       

 

Park’s Family House

uri ttal..” Chany tersenyum dan menghambur ke pelukan ibunya. Ah betapa dia merindukan ibunya. Mereka berpelukan erat, dan bahkan tidak menyadari sang ayah dan kakak laki-lakinya menunggu untuk mendapat pelukan serupa.

“Chany-ah, selamat datang di Korea.” Seru Park Chanyoung, kakak laki-lakinya. Chany tersenyum dan beralih memeluk kakaknya.

Bogoshipoo, oppa..” ungkapnya sembari mengeratkan rangkulan tangannya di leher kakaknya.

Nado. Kau terlihat berubah sekarang.” Chanyoung mengamati penampilan adiknya secara keseluruhan. Terlihat sedikit lebih feminim dengan kemeja warna putih dan celana hitam serta high heels. Yang terakhir adalah benda yang dulu sangat jarang disentuh Chany. “Sepertinya kau sudah bisa menerima high heels di kakimu.” Guraunya sembari mengacak puncak kepala adiknya.

“Amerika mengubahku. Kau tidak bisa lagi mengejekku karena tidak bisa berdandan.” Sahut Chany. Mereka tertawa bersama dan baru berhenti ketika ayah mereka berdehem pelan.

Aboji..” Dengan cepat Chany memberi hormat pada ayahnya dan tersenyum. Langkahnya ragu memeluk laki-laki paruh baya yang dulu tidak terlalu dekat dengannya. Tapi melihat ayahnya yang tersenyum, Chany pun bergegas memeluk ayahnya itu. “Bogoshipoo, Aboji..”

Kuere, selamat datang di rumah uri Chany.”

Reuni keluarga itu pun berlanjut di meja makan. Ini adalah kali pertama keluarga Park bisa berkumpul bersama sejak setahun. Karena hari ini adalah hari kepulangan puteri mereka, maka hidangan yang disiapkan siang itu lebih istimewa. Ibunya bahkan memasak sendiri bulgogi, makanan kesukaan Chany.

Kebersamaan keluarga itu sedikit terganggu ketika seorang pelayan memberi tahu kedatangan seseorang. Ayahnya mengangguk dan menyuruh orang itu untuk masuk. Dan saat itu lah untuk pertama kalinya sejak setahun terakhir, Chany bisa melihat wajah laki-laki itu lagi.

“Donghae-ya, kemarilah kita makan siang bersama.” Ibunya berdiri dan mengajak Donghae mendekat.

Ne, Gamsahamnida eommonim..” Donghae tersenyum dan menatap Chany. Sayangnya gadis itu tidak membalas senyum itu, dan memilih memasang wajah datar dan terkesan tidak terlalu peduli.

Sialnya sikap itu ditangkap ibunya yang langsung menegurnya. “Kau tidak perlu marah padanya karena tidak menjemputmu. Seharusnya kau mengerti Donghae sangat sibuk.”

Aniya, eomma. Aku sama sekali tidak marah.” Sahut Chany cepat. Ia menundukkan kepalanya dan kembali menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.

Acara makan siang itu berjalan tanpa tidak ada banyak bicara antara Chany dan Donghae. Kedunya hanya saling merespon ketika kedua orang tua Chany bertanya. Selebihnya Donghae lebih banyak berbicara pada ayahnya.

                       

 

Salju kembali turun siang itu. Dan dinginnya udara semakin menambah suasana dingin dan kaku antara Donghae dan Chany. Mereka berdua sudah saling diam sejak orang tua Chany dan kakak laki-lakinya  memberi waktu untuk mereka, tepatnya sekitar setengah jam yang lalu.

“Kau yakin tidak sedang marah padaku? Satu tahun kita tidak bertemu, kenapa kau..” Donghae menghentikan ucapannya ketika Chany menatapnya tajam.

Ya ampun, gadis ini sama sekali tidak berubah. Masih sama seperti dulu. Tidak bisa bersikap manis dan masih saja mempertahankan egonya yang tinggi. Donghae tahu gadis itu merindukannya tapi sikapnya tidak sedikitpun menunjukkan perasaan rindunya.

“Baiklah, aku minta maaf karena tidak bisa menjemputmu. Jadi, bisakah kau tidak memalingkan wajahmu dariku?” Donghae berjalan mendekat. Berdiri di samping Chany dan memegang pundaknya, memaksanya menatap ke arahnya.

“I’m not angry, Lee Donghae-ssi.” Ujar Chany dengan penekanan di setiap kalimatnya. Membuat Donghae agak terkekeh tapi juga takut.

Seperti yang pernah dibilang, gadis ini berbeda. Dan meski tidak terlihat marah, bisa Donghae pastikan gadis itu sedang kesal padanya.

“Kau menakutkan kalau marah. Jadi berhenti memasang wajah datarmu itu. Aku tidak suka melihatnya.” Donghae memegang kedua pipi Chany dan membentuknya seakan sedang tersenyum, tapi segera ditepis oleh gadis itu.

“Siapa suruh kau tidak peduli padaku. Aku yakin eomma memberi tahumu kalau aku pulang, kenapa kau tidak menghubungiku?”

“Aku sibuk. Kau tahu kan perusahaan sedang menjalankan proyek baru yang..”

“Aku tahu tidak usah dilanjutkan. Hampir seratus kali aku mendengarnya setiap kali aku menghubungimu.” Chany berjalan menuju balkon dan lebih memilih memperhatikan pemandangan di depannya dari pada melihat wajah Lee Donghae.

Mian..”

Dirasakannya sepasang tangan sudah melingkar di perutnya. Chany bisa merasakan deru nafas lembut yang menyapu lehernya. Gadis itu tidak berusaha menghindar dan justru menikmati kenyamanan dalam pelukan kekasihnya. Betapa dia sangat merindukan laki-laki ini.  Hangat dan nyaman. Itulah yang selalu dirasakannya setiap kali Donghae memeluknya. Dan itu adalah perasaan paling membahagiakan baginya. Karena rasanya laki-laki ini hanya miliknya seorang.

“Tentang pernikahan kita..” Donghae bergumam pelan, membuat Chany sedikit bergidik. Detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak berlebihan tidak bisa lagi dikontrolnya dengan baik. “Kau pulang untuk itu, kan?”  tanyanya.

Chany tersenyum dan teringat tujuan kepulangannya ke Korea memang bukan hanya untuk berlibur. Iya benar semua karena pernikahan yang sudah direncanakan dua keluarga sejak lama.

“Entahlah.. kurasa aku harus memikirkan kembali soal itu.” Sahutnya pelan yang langsung membuat Donghae melepaskan pelukannya.

Namja itu menarik pundak Chany dan memaksa berhadapan dengannya. Tampangnya berubah menjadi kecewa. “Wae.?” Tanyanya setengah merajuk, persis seperti anak kecil yang kehilangan permen.

Rasanya Chany ingin tertawa melihat tingkah kekanakan itu. Lee Donghae sama sekali tidak berubah. Tapi bukannya tertawa, gadis itu hanya bisa memasang muka datar mengingat ia masih kesal pada Donghae.

“Katakan padaku, apa kau berselingkuh? Kau menemukan laki-laki lain di Amerika? Yaa, Park Chany~!!”

“Kalau memang iya kenapa? Kau cemburu?”

Mwo? Apa yang kau bilang? Kau sudah bertunangan, mana boleh melirik yang lain ?”

“Kau juga sudah bertunangan. Tapi kenapa kau boleh melirik yang lain?” sahut Chany tidak mau kalah.

Skak mati. Donghae langsung diam dan tidak bisa lagi berkata-kata. “W..wae? Kenapa kau bicara seperti itu?” tanyanga dengan nada lirih.

“Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Kau pulanglah, aku lelah sekali hari ini. Sampai jumpa besok, eum?” setelah itu Chany langsung berlalu tanpa memberi waktu untuk Donghae bertanya lebih jauh.

Apa gadis itu mengetahui sesuatu? Apa dia sedang mencurigainya? Apa ini maksud dari ucapan Sungmin tadi? Dan pertanyaan yang terus saja muncul di benaknya, benarkah Chany sudah menyadari bahwa Donghae sudah menghancurkan kepercayaannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus membayangi Donghae, bahkan hingga dia sudah berpamitan pulang dari rumah keluarga Park itu.

                       

 

At Café

10.00 AM

“Woah.. lihatlah dirimu sekarang. Benar-benar berbeda dari Park Chany yang terakhir aku lihat.” Sungmin tak henti-hentinya berdecak kagum dengan perubahan Chany yang memang terlihat sangat drastis.

Terakhir kali Sungmin bertemu Chany, gadis itu masih suka dengan pakaian kasual dan sepatu ketsnya. Hampir tidak pernah memakai rok, dan selalu terlihat memakai celana. Tapi sekarang gadis itu sudah berubah. Celana jeans berubah menjadi celana kain mengetat kakinya, tshirtnya berubah menjadi blus berwarna coklat. Dan sepatu flatnya berubah menjadi high heels.

Oppa, lama tidak berjumpa. Kau terlihat lebih tampan sekarang.” Puji Chany. Ia mengambil tempat duduk di depan Sungmin dan tersenyum ramah.

“Aku tahu itu. Jadi bagaimana kabarmu? Aku sungguh tidak menyangka saat kakakmu mengatakan kau kembali ke Korea dalam artian kau akan menetap di sini.”

“Kurasa aku terlalu bosan dengan kehidupan Amerika, makanya aku memilih pulang.” Tangan gadis itu bergerak menyelipkan rambutnya dibalik telinga. Kegiatan yang semakin membuat Sungmin mengangguminya, dalam artian bukan tertarik.

Sungmin tersadar dari pemandangan elok di depannya, ia berujar pelan “Aku dengar kau pulang untuk mempersiapkan pernikahanmu dengan Donghae. Aku tidak sabar melihat kalian di depan altar.”

Chany tersenyum simpul dan mengedikkan bahunya pelan. “hmm entahlah Oppa. Kau akan melihatku mengenakan gaun pengantin, tapi kurasa tidak dalam waktu dekat.”

Wae?” Sungmin mengernyit heran.

Sayangnya Chany tidak langsung menjawab. Matanya sibuk melihat ke arah lain, menghindari tatapan Sungmin yang terkesan menuntut untuk mendapatkan jawaban. Dan sialnya kegiatan itu justru membawanya pada pemandangan yang lebih tidak disukainya. Seorang gadis berambut agak panjang baru saja turun dari sebuah mobil CRV putih. Dan sayangnya Chany tahu siapa pemilik mobil itu.

Sesaat ia masih memperhatikan gadis itu. Hatinya menjerit tertahan ketika melihat seorang namja keluar dari pintu satunya. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya. Mereka berdua berjalan dengan sangat mesra, dan terlihat gadis itu terus saja tersenyum berada dalam rangkulan namja tadi. Lalu mendadak hatinya berhenti menjerit dan justru bibirnya yang mengulum senyum tipis. Bersikap biasa saja, itulah yang sedang dilakukannya.

“Aku sedang mencoba mempertahankan kepercayaanku padanya.” Ujar Chany ringan. Buru-buru ia kembali menoleh ke arah Sungmin dan tersenyum manis. “Bagaimana dengan Yeonie? Aku sangat merindukannya. Ah.. kurasa kalian yang akan lebih dulu menikah.” Senyum itu berubah menjadi tawa riang.

Sayangnya Sungmin menyadari perubahan sikap Chany. Bukankah gadis itu terlalu riang jika seperti itu? Atau mungkin karena ada yang disembunyikannya?

“Apa terjadi sesuatu antara kalian?” tanya Sungmin to the point, tidak mempedulikan raut wajah Chany yang berubah tidak suka mendapat pertanyaan seperti itu.

Chany mendengus kecil dan memilih mengambil lemon tea di depannya. “I really don’t understand him, Oppa.” Ujarnya pelan. Sekali lagi ia membasahi tenggorokannya dengan lemon tea. “Dia bisa sangat mengerikan saat melihatku berpelukan dengan salah satu temanku di Amerika. Dia juga bisa sangat marah lalu mengabaikanku, dia juga terkadang tidak peduli, dan Oppa tahu? beberapa bulan terakhir di Amerika aku tidak lagi mendapat kabar darinya.” Chany menyelesaikan ceritanya dengan menghela nafas dan sedikit mencibir.

“Lalu apa kau tidak boleh bersikap seperti itu padanya? Menurut oppa bagaimana? Dia itu benar-benar aneh..” Chany kembali melanjutkan, kali ini dengan sedikit nada kesal.

Dan sepertinya Sungmin menangkap maksud gadis itu. Park Chany sedang meluapkan kekesalannya pada Donghae. Sebenarnya agak disayangkan, karena Sungmin berharap Chany akan berbicara langsung pada Donghae dan bukannya curhat padanya. Tapi kalau dia ada di posisi itu, dia juga akan berpikir ulang.

Masalahnya kesalahan yang Donghae perbuat memang lebih besar dan yang Chany lakukan padanya. Saat itu Donghae hanya terlalu cemburu dan tidak mencoba mencari tahu hubungan antara Chany dan laki-laki yang memeluknya. Jadi saat itu, bisa dibilang bukan Chany yang salah tapi Donghae.

Dan pada kasus ini, Sungmin sudah bisa menebak kalau lagi-lagi Donghae lah yang membuat masalah. Apa yang sebenarnya dilakukan anak itu hingga mengkhianati kepercayaan yang diberikan Chany padanya? Dasar bodoh..

“Kau tidak bicara langsung padanya?” tanya Sungmin kemudian.

“Tidak ada gunanya. Dia bahkan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa kemarin. Issh, mungkin lebih baik aku bicara pada Aboji agar pertunangan ini dibatalkan.” Sahut Chany tidak peduli. Ia kembali melayangkan pandangan ke luar, di mana mobil CRV milik Donghae masih terparkir di seberang jalan.

“Yaa.. apa kau yakin? Kau tidak memikirkan bagaimana perjuangan kalian untuk tetap bersama meski jarak memisahkan selama tiga tahun?” Sungmin menggeleng tidak mengerti. “Kau percaya padanya, dia percaya padamu selama ini. Semudah itukah kau akan menghentikan pertunangan ini?” lanjutnya memberi nasehat.

“Tapi rasa percaya itu sudah tidak ada lagi. Oppa tentu lebih tahu apa yang dilakukannya. Aku memang mempercayainya, tapi dia sudah menghancurkannya.” Sungut Chany kesal.

“Kalau begitu tetaplah percaya padanya.”

Chany menoleh cepat menatap Sungmin, dahinya mengernyit heran. “Kalau dia memang masih mencintaimu, dia akan kembali padamu.” Sungmin melanjutkan. “Jadi, tetaplah percaya padanya.”

 

                       

 

08.00 PM

Di dunia ini selalu ada perbedaan, hampir tidak mungkin ada kesamaan yang sempurna dari dua orang. Bahkan dua orang yang kembar identik selalu mempunyai perbedaan. Jadi untuk dua orang yang bahkan bukan kembar identik pun, mempunyai banyak perbedaan adalah hal yang wajar. Tapi bukan berarti karena perbedaan itulah kau harus menyakiti yang lain.

Chany tersenyum membaca kalimat dari novel yang baru saja dibacanya. Kalimat di akhir novel yang menyadarkannya pada satu hal bahwa perbedaan itu memang jelas ada. Termasuk perbedaan yang menjembatani antara dia dan juga Donghae. Ah.. kenapa baru disadarinya sekarang? Sifat keduanya berbeda, dan mungkin itulah yang memunculkan perdebatan dan rasa ketidakpercayaan diantara mereka.

Acara baca novel itu terhenti tepat ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Lalu dari luar pintu terdengar suara berat kakaknya. “Chany-ah, aku boleh masuk?” tanya Park Chanyoung.

“Masuklah oppa..”

Klek. Pitu berwarna putih itu terbuka dan memperlihatkan sosok kakak laki-lakinya yang tinggi dengan stelan jas lengkap berwarna hitam dan tampak sangat rapi. Dan penampilan itu diyakini Chany bukalah penampilan biasa Park Chanyoung ketika akan berangkat kerja. Gadis itu memperlihatkan sejenak dengan setengah mengernyit.

Oppa, kau ada meeting penting? Kenapa penampilanmu sangat berbeda?” tanyanya.

“Aku seharusnya yag bertanya padamu, kenapa kau belum berganti pakaian?” Chanyoung balik bertanya. Dan semakin membuat Chany mengernyitkan dahinya. “Pesta penyambutan tuan puteri keluarga Park, kau lupa?”

Chany mendengus kecil begitu menyadari maksud ucapan kakaknya. Rupanya ayahnya masih saja bersikeras mengadakan pesta ini. Astaga, memangnya dia sudah pasti akan menetap di Korea setelah ini? Lagipula rencana kepulangannya hanya untuk berlibur, selain tentu saja memastikan satu hal.

“Apa ayah sengaja mengadakan pesta itu? Kenapa tidak ada satupun yang memberitahuku?” keluhnya yang langsung bangkit dari kursi tidurnya yang nyaman. Dengan gerakan-gerakan kilat tangannya menyambar handuk dan langsung melesat ke dalam kamar mandi.

“Jangan lama-lama, aku tunggu di bawah.”

Suara Chanyoung yang berseru tenggelam dengan suara air shower yang mengucur dengan deras. Dan bahkan suara pintu yang ditutup pun tidak lagi di dengar Chany.

 

                       

 

Royal’s Hall

08.45 PM

Orang-orang berkumpul dalam satu ruangan besar dengan sajian kelas atas. Mereka adalah kolega dan teman bisnis tuan Park, dan beberapa yang lain adalah orang-orang yang menduduki posisi tinggi di kursi pemerintahan. Tua muda berbaur jadi satu, anak-anak usia remaja yang pada masanya bermain dengan teman-temannya sudah saling berbicara serius mengenai bisnis orang tuanya. Penampilan mereka juga berbeda, stelan jas rapi untuk laki-laki dan dress mewah untuk perempuan. Wanita carier yang bisa dibilang seumuran dengan Chany terlihat mengobrol tentang fashion dan pekerjaan di sudut lainnya dengan masing-masing memegang champage di tangannya. Tidak beda dengan para wanita, yang laki-laki dewasa pun demikian. Mereka sibuk berbicara tentang bisnis masing-masing.

Diantara banyak orang yang hadir saat itu, seorang gadis berparas cantik justru terlihat berdiri mengasingkan diri. Rambut panjangnya tergerai ke samping dengan jepit rambut berwarna putih, senada dengan warna dress pendeknya. Tangannya memegang segelas minuman non alcohol sementara matanya memperhatikan gerak-gerik setiap orang di ruangan itu.

Kegiatan yang sebenarnya hanya membuang waktu, tapi itulah yang bisa dilakukannya. Lalu sepasang mata milik seorang pria menangkapnya. Pria itu tersenyum sebentar dan langsung berjalan mendekati wanita itu.

“Kau datang?” tanyanya berbosa-basi yang langsung ditanggapi wanita itu dengan senyum sinis.

“Mana mungkin aku tidak datang di acara ini? Akhirnya dia kembali, aku yakin kau senang sekarang.”

Laki-laki iu tersenyum tipis, lalu keduanya tidak bersuara dan hanya memperhatikan pemandangan di depannya. Seluruh perhatian di ruangan itu beralih pada seorang gadis yang baru datang. Dengan anggun gadis itu berjalan melewati beberapa laki-laki yang berdecak kagum padanya, lalu menghampiri ayah dan ibunya. Penampilannya berbeda jauh dari saat terakhir kali dia muncul di depan umum. Amerika mengubahnya.

“Si pemilik pesta sudah datang. Aigoo.. dia tambah cantik saja. Apa aku sudah dikalahkannya?” gerutu wanita tadi tapi langsung diikuti senyum menyerangi.

“Kau tidak ingin menyapanya?” tanya laki-laki tadi.

Belum sempat dijawab, gadis amerika tadi sudah lebih dulu memperhatikan keduanya. Tatapannya sedikit menusuk dan senyumnya tipis. Mengerikan.  Lalu sejenak bisa dirasakan dua orang itu, bahwa gadis amerika itu, Park Chany tengah memandang mereka tidak suka.

                       

 

Udara malam berhembus pelan di balkon ruangan itu, dan sayangnya langsung membuat Chany bergidik dingin ketika merasakannya. Apalagi dress berlengan pendek yang dikenakannya memang tidak akan mampu menahan dinginnya udara musim gugur. Kedua tangannya terlipat di dada dan untuk pertama kalinya ia melirik ke arah Donghae yang berdiri di sampingnya.

Lalu tiba-tiba saja ia menjadi tidak suka melihat wajah Donghae yang memang sangat tampan itu. Karena entah kenapa wajah lain seketika itu muncul. Wajah milik seorang wanita berparas cantik bernama Jungyeon yang tadi sempat dilihat Chany bersama Donghae.

Dua orang itu bersama. Terlihat akrab. Dan mungkin saja lebih dari teman. Fakta yang membuat Chany khawatir. Fakta yang sayangnya sudah diketahui sejak beberapa bulan terakhir, ketika Donghae tidak lagi sesering dulu menghubunginya lewat telepon dan ketika salah seorang temannya mengatakan fakta itu. Sejak saat itu Chany mulai mempertanyakan satu hal. Masih utuhkan kepercayaan yang diberikannya untuk Donghae?

Obrolan mereka siang itu di rumah Chany tidak bercanda. Setidaknya Chany yang tidak bercanda saat ingin memikirkan kembali pertunangan mereka.

“Ketika aku bilang ingin memikirkan ulang tentang pernikahan kita, aku serius tentang itu.” Ujarnya pelan. Dirasakannya hawa semakin dingin menusuk tapi dihiraukannya. Setidaknya hawa dingin ini tidak terlalu menusuk dibandingkan melihat orang yang kau percayai menghancurkan kepercayaan itu.

“Kau dan Han Jungyeon sepertinya kalian terlihat akrab. Aku tidak tahu kalian saling mengenal.” Kalimat itu akhirnya bisa dikeluarkannya sejak beberapa bulan terakhir ditahannya sekuat tenaga. Sebuah fakta yang awalnya membuat Chany terhenyak, tidak suka. Dan anehnya akhir-akhir ini fakta itu menjadi sesuatu yang menarik.

Mungkin kepercayaan yang dulu pernah diberikannya sudah tidak berbentuk lagi. Mungkin sudah retak atau pecah berkeping-keping, hingga tidak lagi menyisakan perasaan apapun dalam hatinya. Senyumnya berubah menjadi sinis.

Sayangnya Donghae melihat perubahan senyum itu. Senyum yang berbeda yang juga diikuti perubahan sikap. Baru tadi siang dia bisa memeluk gadis ini lagi, merasakan lagi bersama dengan Park Chany. Namun sekarang semua berubah. Atau sebenarnya sejak mereka bertemu di Korea, memang sudah berubah , hanya saja tidak disadari Donghae?

Laki-laki itu berdehem pelan. Kikuk dan tidak tahu harus memberi tanggapan apa tentang fakta bahwa tunangannya memang mengetahui sesuatu yang sedang ditutupinya dengan rapat.

“Kau sedang mencoba bertanya ada hubungan apa diantara kami?” Donghae bertanya pelan. Matanya menyelidik reaksi Chany. Dan sekali lagi tidak sesuai yang diharapkannya. Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum sinis.

Cemburu? Benarkah?

“Kau terlalu percaya diri. Lagipula aku tidak tertarik.”

Benar. Tidak tertarik. Setidaknya itulah yang sedang coba diterapkan Chany dalam pikirannya sendiri. Mengusir segala bentuk keingintahuan, misalnya saja seperti kebenaran tentang yang dilihat dan didengarnya sebelum ini.

Ditariknya nafas dalam sebelum menghembuskannya dengan cepat. Jika boleh jujur, hatinya agak kecewa.

Faktanya Chany memang mengetahui sesuatu, dan sungguh dia benci mengakui bahwa -ia tidak suka mengetahui fakta yang hadir di depannya itu-. Bukan hanya tidak suka, tapi mungkin sudah naik tingkatannya menjadi benci. Sampai-sampai dia harus menatap Donghae curiga.

Lalu baru disadarinya, bahwa mungkin seperti inilah yang dulu dirasakan Donghae. Mungkin seperti inilah perasaan Donghae saat dengan santainya dia berpelukan dengan salah satu teman laki-lakinya di Amerika.

Cemburu.

“Aku akan mengakui sesuatu padamu.” Tiba-tiba suara Donghae terdengar serius. Kepalanya menoleh dan Chany bisa melihat sepasang mata milik laki-laki itu tengah menatapnya. Tatapan putus asa bercampur kesedihan dan mungkin juga penyesalan.

“Dan pengakuan apa itu?” suara Chany terdengar serak. Hatinya seakan-akan berteriak tertahan. Ia tidak akan sanggup mengetahui fakta yang diketahuinya adalah sebuah kebenaran.

“Maaf sudah menghancurkan kepercayaanmu. Aku tidak tahu sejak kapan tapi aku sudah melakukannya.” Lalu tiba-tiba tatapan itu berubah menjadi sangat pasrah.

Chany tidak tega melihatnya. Apa itu juga tatapan miliknya ketika ia mencoba mengambil lagi kepercayaan Donghae padanya?

“Kau mengatakan padaku sifat pencemburuku di Amerika sangat kekanak-kanakan. Dan entah kenapa aku merasa kau melakukan lebih baik saat cemburu. Yah meskipun terlihat agak mengerikan.” Lanjutnya.

Chany tersenyum tipis lagi. Dia tahu Chany sedang cemburu. Cemburu pada kedekatan Donghae dengan Jungyeon. Dan Donghae baru saja mengakui fakta itu adalah benar.

Satu hal yang bisa diterima Chany dan mungkin bisa dimaafkannya, adalah bahwa Donghae mengakui kesalahannya. Dalam hal ini Donghae lebih baik darinya.

Bagi Chany, butuh waktu berhari-hari sebelum dia mengakui telah menghancurkan kepercayaan dan juga hati laki-laki itu. Baginya butuh jarak yang jauh, sebelum menyadari penyebab perubahan sikap Donghae padanya adalah- karena dia baru saja menghancurkan kepercayaan milik kekasihnya itu-. Dan mungkin butuh Donghae yang memarahinya langsung, baru saat itu Chany sadar dan mengerti.

“Aku akan memberimu waktu untuk memikirkan lagi. Ah.. salah, yang benar biarkan kita memikirkan lagi tentang pertunangan ini.” Donghae tersenyum. Lalu setelah itu dirasakan Chany tangan laki-laki itu sudah membelai rambutnya pelan.

“Aku minta maaf, Chany-ah..”

                       

 

April, 21 2013

“Huwaa… it look so delicious~!” Chany berdecak kagum sekaligus dengan tatapan lapar. Ia mendongakkan kepalanya menatap sahabat terbaiknya, Park Sungyeon “Thank you..!!” serunya.

“Ini sesuai janjiku. Aku baru mencoba resep ini, jadi kau orang pertama yang mencicipinya.” Sahut Sungyeon bangga.

Nae, jal meokgesseumnida.” Chany megambil sticknya dan mulai mengambil makanan di piring depannya. Tidak salah dia mengunjungi temannya ini di saat kelaparan. Siang tadi ia melewatkan makan siang, dan saat sarapan hanya segelas susu yang masuk ke perutnya, jadi bisa dibilang ia sangat lapar sekarang.

Mashita, Yeonie-ya kau benar-benar daebag!” Chany mengancungkan dua jempolnya, lalu kembali mencomot sepotong daging.

Sungyeon memperhatikan Chany sebentar. Sahabatnya itu benar-benar tidak berubah. Oke, penampilan memang bisa diubah tapi kepribadiannya yang sebenarnya tidak bisa ditutupi. Siapa yang menyangka nafsu makannya sebesar itu? Baru saja makanan itu disajikan, sekarang sudah hilang 1/3nya.

“Aigoo, eonnie-ya, kau tidak berubah ternyata. Nafsu makanmu tetap besar.” Sungyeon terkikik memperhatikan Chany.

“Amerika tidak akan mengubahku dalam selera makan. Ah.. masakan Korea masih lebih enak ketimbang masakan barat.” Sahutnya senang.

Sekarang memang sudah hampir dua bulan sejak kepulangannya dari Amerika, tapi rasanya ia masih sangat merindukan Korea dan segala isinya. Selama dua bulan ini ia banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman lamanya, dan juga bekeliling mengunjungi tempat-tempat di Korea. Terkadang ia diajak kakaknya menghadiri rapat direksi, tapi baginya kegiatan itu sangat membosankan. Ia lebih senang memikirkan bagaimana kehidupannya di Korea setelah ini dari pada duduk di ruang rapat.

Agaknya alasan lain untuk tidak lagi ikut dapam rapat adalah karena ia ingin menghindari Lee Donghae. Orang itu pasti sangat sering berada di ruang rapat mengingat dia juga menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan keluarga Park. Jadi, demi menghindar dari Donghae, Chany memilih tidak mau tahu tentang rapat perusahaan. Padahal ayah dan kakak laki-lakinya selalu memaksanya. Mereka bilang itu adalah langkah awal sebelum Chany bergabung di perusahaan membantu kakaknya Chanyoung. Masa bodoh soal perusahaan. Chany sangat yakin kakaknya masih bisa menangani masalah perusahaan sendiri. Lebih baik menata hati dulu, baru setelah itu memulai yang lain.

“Ah, Yeonie-ya, bagaimana kalau akhir pekan ini kita mendaki gunung?” tanya Chany tiba-tiba. Ia menghentikan acara makannya dan mulai serius berbicara pada Yeonie.

M-mwo? Mendaki gunung? Wae? Kau sudah melakukannya dua minggu yang lalu, eonnie!” Seru Yeonie tidak percaya dia diajak naik gunung lagi.

“Karena sudah dua minggu, makanya aku ingin mendaki lagi. Rasanya sangat menyenangkan bisa berdiri di atas ketinggian seperti itu. Eotte?” bujuk Chany sekali lagi.

Dan sayangnya Yeonie menggelengkan kepalanya. “Shirro.. aku sudah ada janji akhir pekan ini.”

“Janji? Dengan siapa? Sungmin oppa? Kalau begitu aku akan mengatakan padanya kalau kau akan ikut bersamaku. Bertemu dengannya lain kali saja, ya? Kau kan sudah sangat sering bertemu dengannya?” ucap Chany cepat, dengan cepat juga ia mengeluarkan ponselnya.

“Issh eonnie..” Yeonie hanya bisa menggerutu tanpa bisa melakukan apapun. Ya.. karena pada dasarnya Sungmin oppanya itu memang akan menuruti keinginan Park Chany. Dia bahkan menyuruh Sungyeon menemani Chany, katanya sahabatnya itu sedang butuh terapi putus cinta.

Aigoo~ Terapi mwoya?

“Eonnie-ya, kau benar-benar sudah putus dengan Donghae oppa?” tanya Yeonie kemudian. Sangat tiba-tiba dan diluar dugaan sampai-sampai Chany tidak jadi menghubungi Sungmin.

Gadis itu menatap Sungyeong dengan mata menyipit. “Jangan bicarakan orang itu lagi.” Sergahnya cepat, sangat tidak suka.

“Aku tidak percaya. Aku yakin kalian akan bersama lagi, meskipun aku tidak tahu kapan.” Sahut Sungyeon seenaknya.

“Yaa Park Sungyeon~!!”

“Selama Eonnie di Amerika, Donghae oppa tidak pernah berkhianat. Aku sangat tahu itu, karena aku juga bekerja di perusahaannya.”

“Jangan terlalu mempercayainya seperti itu. Don’t judge people by the cover, arra?
Chany menekankan kalimatnya. Lalu ia menghela nafas keras, rasanya benar-benar tidak nyaman membicarakan tentang kekasih atau bisa dibilang mantan kekasih itu.

“Don’t judge people by the cover. Seharusnya kalimat itu untuk eonnie bukan aku. Apa yang eonnie lihat tidak selalu benar. Jadi jangan hanya menghakiminya karena penglihatan saja. Mata kadang bisa menipu.” Sekarang Sungyeon yang berbalik menceramahi Chany, membuat gadis itu semakin menyipitkan matanya. Tapi diam-diam da mendengarkan ucapan Sungyeon.

Benarkah seperti itu?

Dihelanya lagi nafas, kali ini dengan sangat lemah. “Bagaimana kalau dia sendiri yang mengatakan berselingkuh dengan wanita lain. Apa aku tidak bisa percaya ucapannya itu?”

“Kalau begitu bukankah berarti Donghae Oppa sedang meminta maaf dengan mengakui kesalahannya? Aku yakin Donghae oppa tidak akan menyakiti eonnie. Dia sangat menyukaimu.” Sahut Sungyeon. Nada yakin yang dilontarkan Sungyeon mau tidak mau membuat Chany kembali berpikir.

Sejujurnya Chany bisa saja memaafkan kesalahan itu. Tapi permasalahannya masih bisakah dia percaya pada Donghae seperti sedia kala?

CUT

Annyeong. Saya kembali dengan salah satu couple di sini. Kali ini ff buat Haechan. Sebenernya mau dibikin oneshoot tapi ntar jadi panjang banget, jadinya dipotong jadi dua part. Ini part pertama. Yang tidak suka boleh segera disclose, kalau suka silahkan dibaca dan dikomentari. ^^

Gamsahamnida..

Sampai jumpa di post an berikutnya.

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s