(Fanfiction) #4 Bittersweet

bittersweet

Title                 : #4 Bittersweet

Author             : d’Roseed (@elizeminrin)

Cast                 : Shin Minrin, Kim Ryeowook,  Lee Hyukjae

Genre              : Bothership, Romance, AU, sad

Rating             : PG 15+

Lenght             : 6815 words (Chapter)

Disclaimer : Kim Ryeowook and Lee Hyukjae milik Tuhan, orang tua mereka, Super Junior and ELF. I just have the plot and artwork.

 

Warning : Perhatikan tahunnya !!

 

 

Incheon, 2002

Hyung, Kau yakin dia akan datang?”

Ryeowook melirik jam di tangannya. Hampir pukul 9 malam, dan mereka masih berdiri di depan warung ramen, tidak jauh dari sekolah mereka. Jika bukan karena Eunhyuk yang memaksa Ryeowook, ia lebih memilih pulang dan menghangatkan diri di tengah hujan salju seperti ini. Tubuhnya sudah mengigil, dan rasanya kedua pipinya sudah mati rasa sekarang.

Dilihatnya Eunhyuk masih setia berdiri dengan satu tangan dimasukkan dalam saku mantel, dan satunya menenteng sebuah kantong plastic. Matanya tidak berkedip menatap jalanan yang sampai sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda ada seorang gadis yang datang.

“Hyung, jinjja.. aku kedinginan. Kajja kita pulang.” Untuk sekian kalinya Ryeowook membujuk hyungnya ini.

“Sebentar lagi. Dia pasti datang.” Dan untuk kesekian kalinya juga Eunhyuk menolak ajakan Ryeowook.

Oh ya Tuhan.. apa hyungnya ini benar-benar jauh cinta sekarang? Sungguh tidak bisa Ryeowook percaya. Memang benar banyak yeoja yang tertarik dengan Eunhyuk, tapi setahu Ryeowok tidak ada satu pun diantara mereka yang menarik perhatian hyungnya. Jadi siapakan yeoja beruntung yang bisa membuat seorang Lee Hyukjae mau menunggu di tengan malam bersalju seperti ini?

“Kalau dia tidak datang berarti dia sudah menolakmu, Hyung. Kau lihat kan, kita sudah menunggu hampir dua jam di sini, tubuhku sudah menggigil dan dia sama sekali tidak datang. Sudahlah, Hyung kau harus menerima kenyataan dia menolakmu. Aku yakin itu.”

Eunhyuk menoleh singkat. Matanya menatap Ryeowook tidak mengerti. Tatapan yang pasrah yang justru membuat Ryeowook merasa kasihan. Lalu sedetik kemudian kepalanya tertunduk. “Yaa Hyung kau baik-baik saja? Apa kau tersinggung dengan ucapanku? Mianhae, tapi itu yang sering diucapkan teman-teman sekelasku.” Sahut Ryeowook cepat. Dia merasa bersalah dan juga kasihan pada Eunhyuk. Siapapun gadis itu, dia sudah menyia-nyiakan kesempatan. Memangnya dia tidak tahu apa berapa banyak yeoja yang tergila-gila dengan hyungnya ini?

“Aniya. Mungkin kau benar, dia tidak datang.” Balas Eunhyuk lemah. Dia menghela nafas panjang dan mengeluarkan tangannya dari balik saku. Ryeowook bisa melihat sebuah kotak dikeluarkan Eunhyuk dari dalam kantong yang dibawanya.

Mwoya iggeu?”

“ Dream catcher.”

“Untuk yeoja itu?” tanya Ryeowook lagi. Eunhyuk balas mengangguk mengiyakan.

“Katanya dia selalu mimpi buruk, karena itu aku memberinya ini sebagai hadiah.”

Ryeowook mengangguk-angguk. Tidak terlalu berminat mendengarkan alasan Eunhyuk memberi Dream catcher, benda yang bisa di pasang di dekat jendela atau depan pintu sebagai penangkap mimpi pada gadis itu. Apapun alasannya, Hyungnya benar-benar di buat tertarik pada gadis itu. Ryeowook mengerti sekarang. Gadis itu benar-benar sudah membuat Lee Hyukjae jatuh cinta.

                       

 

 

Seoul, September 2012

09.00 AM

Minrin tengah duduk di kursi halte bus seperti biasanya. Menunggu kendaraan umum yang biasanya akan mengantarnya pulang.  Setelah berdebat panjang dengan Ryeowook akhirnya namja itu mengijinkannya kembali ke rumahnya, mengambil beberapa barang lalu pergi ke Ilsan. Awalnya Ryeowook tidak memberi ijin dan bahkan bersikeras mengantar Minrin langsung ke Ilsan. Tapi gadis itu dengan tegas menolak. Bukan karena tidak suka, jujur saja Minrin sangat menyukai bagaimana Ryeowook memperlakukannya sejak pertemuan pertama hingga kejadian tadi malam. Perhatian dan rasa khawatir yang selalu ditunjukkanya mau tidak mau membuat Minrin senang. Tapi untuk kali ini ia ingin memberitahu ibunya secara pribadi tentang sebuah pernikahan yang mungkin akan segera terjadi.

Ah.. ia hampir lupa namja itu adalah calon suaminya. Ya Tuhan..entah kenapa mengatakan hal itu masih terdengar asing untuk Minrin. Apakah keputusan ini benar?

Suara getar ponsel di tasnya tiba-tiba terdengar menginterupsi. Dengan gerakan malas Minrin mengambil ponselnya. Satu pesan dari Ryeowook

Di mana Kau sekarang? Aku berubah pikiran. Kita pergi bersama saja ke Ilsan.

 

Minrin tersenyum. Meski ia sendiri sebenarnya tidak ingin Ryeowook melakukan itu tapi entah kenapa melihat perhatian yang lagi-lagi diperlihatkan Ryeowook mau tidak mau membuatnya senang. Namja itu menjadi agak protective padanya. Dan sialnya Minrin menyukai usaha Ryeowook melindunginya.

Sedetik kemudian tangannya sudah menari-nari lincah di papan touchscreen ponselnya, mengetikkan kalimat balasan yang ia tahu mungkin akan membuat Ryeowook kesal.

Ia tidak tahu kenapa Ryeowook tiba-tiba mengajaknya menikah, dan ia sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba menerima ajakan itu. Jika saja saat itu pikirannya tidak kacau, mungkin kalimat persetujuan itu tidak akan meluncur begitu saja dari bibirnya. Apalagi dengan mengajukan syarat agar Ryeowook membantunya menemukan ayahnya. Sungguh ia sendiri bingung kenapa semua bisa seperti ini sekarang.

Dan ditengah kebingungan dan pikiran yang tidak menentu itulah Minrin mendengar suara mobil yang melaju pelan dan berhenti di depannya. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat seorang namja keluar dari mobil itu.

“Direktur Lee..” Minrin menggumamkan nama namja itu, dan ia pun reflex berdiri.

Tubuhnya sedikit menegang dan ia merasa canggung harus bertemu dengan Direktur perusahaan H.J Company ini. Mereka memang sudah beberapa kali bertemu. Tapi seingat Minrin pertemuan keduanya tidak terlalu baik, termasuk pertemuan pertama di Book Of Storyline  satu bulan yang lalu.

 “Annyeong..” Eunhyuk melambaikan tangannya dan tersenyum. Senyum yang lebar yang baru pertama kali ini dilihatnya, tapi sukses mengingatkan Minrin akan seseorang.

“Mengejutkan Kau masih mengingat namaku. Mungkin ini agak terlambat tapi aku akan minta maaf atas sikapku beberapa waktu yang lalu.”

Minrin mengernyit. Sikap? Apa yang dimaksud itu sikapnya yang menyebalkan saat mereka pertama kali bertemu?

A..aniya. seharusnya aku yang minta maaf. Kau bosku di tempatku bekerja, dan gedung itu juga milik perusahanmu.” Sahut Minrin cepat. Seharusnya dirinya lah yang pertama kali minta maaf.

Eunhyuk lagi-lagi tersenyum. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi tunggu bagi penumpang busway. Minrin ikut duduk. Dan keheningan pun tercipta di antara mereka.

Ini pertama kalinya Minrin berbicara dengan Eunhyuk tanpa ada perselisihan diantara mereka. Minrin melirik sebentar dan berujar pelan. “Apa yang Direktur lakukan di sini?” tanyanya dengan nada formal.

Eunhyuk menoleh dan menunjukkan ekspresi agak terkejut mendengar nada formal yang digunakan Minrin. “Jangan terlalu formal begitu. Kau mungkin masih karyawan di Heaven’s Club tapi sebentar lagi Kau akan menjadi adik iparku.” Ucapnya yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Minrin.

Minrin kembali mengernyit. Melihat Eunhyuk yang sedang tersenyum, entah kenapa membuatnya teringat pada seseorang. Tapi segera ditepisnya pemikiran bodoh itu.

“Aku tidak sengaja melihatmu tadi.” Lanjutnya kemudian. “Jadi, kapan kalian menikah?”

Minrin lantas hanya diam. Matanya membulat tidak percaya. Secepat itukah berita dia dan Ryeowook akan menikah tersebar? Atau namja itu yang secara pribadi memberitahu Eunhyuk? Tidak heran sebenarnya, mengingat sepengetahuan Minrin, Ryowook dan Eunhyuk memang bersahabat.

“Kurasa tidak dalam waktu dekat.” Jawabnya lemah.

Karena memang baru rencana. Toh Minrin juga masih tidak yakin dengan keputusannya yang sangat tiba-tiba ini. Alasan keduanya terlalu absurd. Jelas bukan cinta yang menjadi alasan keduanya. Mungkin semacam simbiosis mutualisme. Ryeowook menikah dengan Minrin dengan begitu ibunya tidak akan lagi mengatur perjodohan untuknya, dan untuk Minrin dengan menikahi namja itu, berarti ia akan terbebas dari orang-orang yang terus mengejanya. Iya. .mungkin seperti itulah alasan yang paling masuk akal. Setidaknya itulah yang dipikirkan Minrin.

“Sepertinya Ryeowook sangat serius dengan rencana ini. Ah.. anak itu, ternyata lebih dulu akan menikah dari pada aku.” Gumam Eunhyuk yang hanya ditanggapi Minrin dengan senyum kecil. “Tapi ngomong-ngomong, Kau ingin pergi ke suatu tempat?” Lanjutnya bertanya.

“Aku harus mengambil barang-barang kami di rumah. Setelah itu Aku akan mengunjungi ibu dan adikku di Ilsan.”

“Sendirian?” tanya Eunhyuk lagi.

Minrin mengangguk. “Biar kuantar.”sahut Eunhyuk cepat, secepat Minrin menolehkan kepalanya karena terkejut.

Nde?”

“Kebetulan aku juga ada keperluan di Ilsan. Jadi, sekalian saja kita berangkat bersama.” Eunhyuk tersenyum dan tanpa berkata apapun, ia sudah menarik tangan Minrin dan mendorongnya masuk ke dalam mobilnya.

“Eunhyuk-ssi..”

“Ryeowook tidak akan senang melihatmu pergi sendirian ke sana.” Lanjut Eunhyuk memotong nada protes yang akan dilontarkan Minrin.

Gadis itu hanya bisa menghela nafasnya pasrah ketika secara tiba-tiba sudah berada di dalam mobil, dengan Eunhyuk bersiap di depan kemudi. Mesin mobil itu dinyalakan dan setelah itu,  mereka sudah melaju di jalanan kota Seoul menuju Ilsan. Perjalanan yang tidak sebentar, dan sejujurnya Minrin tidak enak hati menerim tawaran Eunhyuk. Sejenak dia melirik kearah Eunhyuk yang tengah focus menyetir. Entah alasan apa yang membuat Minrin berpikir bahwa Eunhyuk terlalu familiar untuknya. Astaga seharusnya otaknya tidak terus menerus berpikir sepert itu.

                       

 

 

Ryeowook’s Apartement

 

Kau tidak perlu mengantarku, Ryeowook-ssi. Nan Gwaenchana.

Ryeowook memandang pesan balasan dari Minrin sembari mendecak kesal. Apa yang sebenarnya dipikirkan gadis itu? Tidakkah dia bisa lebih bersikap lebih nyaman padanya?

“Ryeowook-ssi ? tsk, bagaimana bisa dia masih memanggilku begitu? Tidak bisakah dia memanggil Ryeowook atau oppa mungkin…” Gerutunya.

Ryeowook akui ini semua terlalu cepat dan diluar rencananya semula. Dan dia juga tidak heran kalau Minrin masih menganggapnya seperti orang asing, meskipun sudah beberapa kali mereka bertemu. Ya.. Ryeowook mengerti itu. Rencana pernikahan mereka memang terlalu mendadak. Aniya. Yang benar adalah Ryeowook yang terlalu tiba-tiba mangajaknya menikah.

“Ryeowook-ah, Kau tidak pergi ke kantor? Apa yang kau lakukan?” suara ibunya tiba-tiba menginterupsi.

Ryeowook menoleh ke belakang dan melihat ibunya sudah berdiri di depan pintu apartementnya yang baru saja ditutup. Kedua tangannya membawa dua kantong plastic yang Ryeowook yakin bersisi makanan. Padahal Ryeowook sudah sangat sering melarangnya. Jika ingin bertemu lebih baik Ryeowook yang datang ke rumah. Seperti itulah yang dikatakan pada ibunya.

Eomma, aku sudah pernah bilang tidak usah membawakan makanan itu lagi. Aku bisa mengurusi diriku sendiri.” Ryeowook berjalan kearah ibunya dan mengambil alih dua kantong yang berisi makanan itu.

Ibunya tidak terlalu memperdulikan ucapan Ryeowook dan langsung menuju dapur apartement itu. Sedangkan Ryeowook mengekor di belakanganya.

“Memilih makanan instan, itu yang kau bilang mengurusi diri sendiri?” Ibunya mencibir pelan melihat makanan instan yang ada di pemanas.

Pagi ini Ryeowook memang tidak sempat menyiapkan makanan dan lebih memilih makanan cepat saji yang tinggal dipanaskan. Ya.. memang seperti itu kesehariannya. Memang tidak terlalu disukainya tapi lebih baik dari pada makan ramen. Tapi bukan berarti Ryeowook tidak pernah makan makanan yang sehat, kadang dia akan memasak sendiri sarapan dan makan malamnya jika waktunya tidak tersita oleh pekerjaan.

“Dua porsi? Tidak biasanya kau makan sebanyak ini.”

Ryeowook menoleh pada ibunya yang tengah mengeluarkan dua porsi makanan dari dalam pemanas. Memang dua porsi, satu untuknya dan satu untuk Minrin. Ah.. gadis itu bahkan tidak menyentuh sarapannya.

“Bukan hanya untukku tapi untuk seseorang.” Balas Ryeowook malas. Tangannya bergerak mengeluarkan kimchi dari dalam kantong tadi dan meletakkannya di meja.

Nuguya? Yeoja? Kenapa kau tidak mengatakan padaku? Aigoo.. aku tidak akan sering-sering datang kalau kau sudah menikah. Jadi cepat kenalkan yeoja itu pada kami. Kalau dia cocok untukmu maka segeralah menikah.” Ujar ibunya yang hanya ditanggapi senyum kecil dari Ryeowook.

Itu juga yang akan dilakukannya. Tapi sepertinya dia harus menunggu sebentar sebelum membawa Minrin ke hadapan orang tuanya. Ada hal yang harus dilakukannya lebih dulu, yaitu menemukan Shin Taewoo.

“Seharusnya ibu lebih awal datang kemari jadi bisa bertemu dengannya.” Ryeowook menimpali.

“Siapa namanya? Aku harus tahu nama calon menantuku bukan?”

“Shin Minrin.” Jawab Ryeowook tanpa ragu.

“Kuharap dia gadis yang baik.” Sahut ibunya terdengar khawatir.

Ryeowook menoleh cepat dan memperhatikan  ibunya sebentar. “Apapun yang eomma pikirkan jangan pernah mencoba mencari tahu tentangnya sebelum aku yang akan mengatakannya pada kalian.” Ancam Ryeowook. Ini terdengar berlebihan, tapi Ryeowook tahu ibunya itu seperti apa. Tipe wanita yang sangat teliti bahkan dalam hal calon menantu. Ryeowook hanya tidak ingin ibunya salah paham sebelum Ryeowook sendiri yang mengatakan siapa Shin Minrin.

“Issh.. apa kau mengancamku? Aigoo.. aniya, eomma tidak akan melakukan itu. Sudahlah..cepat makan sarapanmu dan segera berangkat.”

“Aku serius eomma. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi aku hanya khawatir eomma kurang bisa menerimanya.” Suara Ryeowook mengecil. Satu-satunya ketakutannya adalah tentang pandangan kedua orang tuanya pada Minrin nanti.

Wae? Kau tidak mungkin berkencan dengan gadis yang tidak baik, kan?”

Aniya.. dia baik. Aku yakin dia orang yang baik.” Balas Ryeowook cepat, sebisa mungkin dia menghindari tatapan ibunya yang terkesan menyelidik.

Gadis itu baik. Baginya mungkin sangat baik. Tapi entah bagi ibunya jika tahu gadisnya itu pernah bekerja di sebuah bar demi melunasi hutang.

“Kalau begitu biarkan eomma sendiri yang menilai calon menantuku.”

                       

 

Mobil itu masih terus melaju dengan cepat, menelusuri jalan kota Seoul sebelum akhirnya benar-benar keluar dari kawasan Gangnam. Minrin memandang ke luar jendela, matanya tidak henti-hentinya menatap ke arah bangunan-bangunan yang baru saja dilewatinya. Sesekali ia menghela nafasnya. Pikirannya terlalu tidak bisa diajak kerja sama beberapa jam terakhir, lebih tepatnya sejak ia menerima ajakan Ryeowook untuk menikah. Namja yang bahkan baru tiga kali ditemuinya.

“Kudengar Kau pernah tinggal di Incheon.” Suara Eunhyuk yang menyetir di sampingnya menjadi satu-satunya alasan Minrin menghentikan kegiatannya mengamati luar. Ia menoleh sebentar pada Eunhyuk yang bahkan tetap menatap ke depan.

Ia mengangguk dan bergumam pelan. “Hanya sampai kelas dua SMA, lalu setelah itu kami pindah.”

“Aku dan Ryeowook juga tinggal di sana dulu. Kami menghabiskan masa kecil dan masa SMP bersama di Incheon. Ryeowook pindah ke Seoul setelah masuk SMA.” Eunhyuk menimpali. Dan ucapnnya mendadak mendapat perhatian dari Minrin yang tiba-tiba menoleh lagi.

“Aku tidak tahu kalian sudah bersahabat sejak lama.”

“Kau bisa bertanya apapun tentang Ryeowook padaku, karena aku tahu semuanya. Termasuk siapa cinta pertamanya dan siapa saja pacarnya.”

Minrin tersenyum pelan. “Kalau begitu ceritakan padaku semua tentangnya.”

“Dia itu orang yang sangat pengertian, kalau Kau tidak bisa memasak, maka Kau beruntung, karena dia bisa menggantikan tugas memasakmu. Tidak terlalu terbuka dengan apa yang dipikirkannya tapi cukup ramah dengan beberapa yeoja.”

“Kelihatannya dia bukan orang yang buruk.” Minrin menimpali. Ya.. karena ia tidak tahu menahu tentang Ryeowook maka tidak ada yang bisa dikatakannya sekarang.

“Dia hanya sedikit buruk tentang berkencan. Dia menyukai seorang gadis selama sepuluh tahun, dan mereka bahkan hanya tiga kali bertemu sebelumnya.”

Mendadak Minrin teringat dengan kata-kata yang pernah Ryeowook ucapkan padanya. Tentang alasan kenapa dia menolak perjodohan dari ibunya. Kalau tidak salah dia pernah bilang tentang seorang wanita yang sudah dicintainya sejak lama. Lalu kalau dia mencintai orang lain, kenapa malam itu dia tiba-tiba mengajak Minrin menikah?

“Dia itu orang yang setia, jadi selama sepuluh tahun ini dia tidak pernah melihat yeoja lain dan bahkan menolak perjodohan yang diatur ibunya. Setahuku, dia hanya beberapa kali berkencan dengan seorang yeoja, itu pun dengan yeoja yang dijodohkannya.”

“Dia pernah bilang, hanya ingin menikah dengan wanita yang dicintainya. Apa wanita itu sudah menikah? Karena itu dia tiba-tiba mengajaku menikah?”

Eunhyuk menoleh sebentar dan terkekeh. “Apa yang kau bicarakan? Kau cemburu?” tanyanya lagi-lagi terkekeh.

Aniya aku hanya penasaran saja.” Balas Minrin cepat. Ia kembali membuang mukanya ke samping, kemana saja asal Eunhyuk tidak melihat wajahnya dan bertanya lebih jauh.

Sebenarnya tidak masalah kalau memang itu alasannya. Toh, kenyataannya dia menerima Ryeowook juga bukan karena cinta tapi demi hidup yang lebih baik.

“Kalau kau penasaran kenapa kau tidak bertanya langsung padanya?”

Minrin menggeleng pelan “Aku rasa dia tidak akan menjawabnya.” ucapnya dengan sedikit bergumam.

Eunhyuk diam-diam memperhatikan Minrin ketika gadis itu sudah membuang mukanya ke samping.  Tidak bertahan lama, karena selebihnya mereka kembali diam seiring laju mobil yang akan membawa mereka ke Ilsan.

                       

 

Ilsan,

01.00 PM

Hari sudah sangat siang ketika mereka tiba di Ilsan. Dan karena mereka melewatkan makan siang, maka satu-satunya yang diharapkan Minrin begitu sampai di rumah bibinya adalah mengisi perutnya. Apalagi tadi pagi ia melewatkan sarapan yang disiapkan Ryeowook untuknya.

Eomma senang kau baik-baik saja.” Ibunya memeluk Minrin erat begitu gadis itu turun dari mobil. Sementara itu Serin yang berdiri di belakang ibunya mengarahkan pandangannya pada Eunhyuk yang masih berdiri di sisi mobil satunya.

Eonnie, Namja itu siapa? Apa dia pacarmu?” tanya Serin yang langsung membuat ibunya melepaskan pelukannya. Ibunya yang baru sadar akan kehadiran orang lain langsung beralih memperhatikan Eunhyuk.

“Kau punya namjachingu?” tanya Ibunya tidak percaya

Aniya. Dia Direktur Lee. Dia pemilik gedung yang ditempati Book of Storyline dan juga bos ku di Heaven’s Club” Sahut Minrin cepat.

Annyeonghaeseo, Eommonim..” Eunhyuk memperkenalkan dirinya.

“Oh.. Kuereyo? Ne, Annyenghaeseo Direktur Lee. Terima kasih sudah mengantar Minrin. Dan juga maafkan kami karena lancang menggunakan gedung itu tanpa seijinmu.” Ibunya membungkukkan badannya. Membuat Eunhyuk tidak enak hati.

Aniyo, eommonim. Gwaenchana. Semua sudah selesai. Perusahaanku juga tidak menuntut Book Of Storyline karena masalah ini. Tenang saja.” Eunhyuk buru-buru menyahut. Ia tersenyum ramah.

Dan Minrin menyadari satu hal. Namja ini terlihat benar-benar berbeda dari sebelumnya. Sungguh, Eunhyuk tidak seburuk yang Minrin pikirkan sebelumnya. Karena ucapannya barusan memang benar. Minrin menyerahkan Book Of Storyline pada H.J Company dan perusahaan itu sama sekali tidak menuntut ataupun meminta ganti rugi. Semua masalah di penerbit itu sudah selesai sekarang.

Eunhyuk kembali tersenyum dan Minrin membalas senyum itu. Sebuah senyum yang mau tidak mau seperti membawanya ke masa lalu.

Aniya. Tidak mungkin itu dia, Minrin membatin. Ia pun begegas meyingkirkan pemikiran konyol dalam otaknya dan mengajak Eunhyuk masuk ke dalam.

                       

 

“Menikah? Kau serius dengan ucapanmu?” tanya Ibunya tidak percaya. Dan untuk sekian kalinya Minrin mengangguk. Iya itu yang sejak tadi berusaha diucapkannya pada ibunya.

Saat ini mereka tengah berbicara di ruang dalam rumah sederhana milik bibi. Sementara Serin, bibi, dan pamannya tengah sibuk mengobrol dengan Eunhyuk di ruang tamu. Suasana mendadak menjadi sunyi. Minrin beberapa kali mendengar helaan nafas dari ibunya. Dia memberanikan diri menatap ibunya, mencoba mencari tahu apa pendapat ibunya tentang keputusannya yang serba tiba-tiba.

“Dengan Direktur Lee?”

Minrin menggeleng. “Aniya eomma, bukan Direktur Lee. Tapi Direktur Lee mengenal baik namja itu.”

Wae? Kenapa tiba-tiba kau ingin menikah dengannya, bahkan kau belum pernah mengenalkannya pada eomma.” Pertanyaan ibunya kembali menuntut.

“Dia berjanji akan menemukan Appa. Dia juga berjanji akan membantu kita melunasi hutang keluarga kita.” Suara Minrin berubah bergetar ketika menyebutkan ayahnya. Sekuat tenaga diredamnya emosi yang begejolak dalam dadanya.  Rasa kecewa yang mungkin sudah berubah menjadi kebencian.

“Apa itu alasanmu ingin menikah dengannya?” Seru ibunya tidak percaya. Sebuah pukulan tepat mengenai lengan Minrin, membuatnya meringis sakit. “Neo, michoso? Apa dia mencintaimu?”

Minrin menggeleng. “Mollayo, eomma. Aku tidak tahu”

Satu lagi pukulan mengarah dan tepat mengenai lengannya. “Neo, michoso? Itu berarti kau sudah memanfaatkannya. Apa orang itu juga sudah gila? Menikah dengan yeoja yang tidak dicintainya dan bahkan berjanji melunasi hutang keluarganya?”

Lagi-lagi Minrin menggeleng. “Aniya, aku tidak memanfaatkannya.”

“Kau menggodanya kalau begitu? Aigoo.. kau ini, apa yang kau lakukan sebenarnya ha?”

Dan sekali lagi Minrin menggeleng. “Kuego Aniya.. aku juga tidak menggodanya. Mana mungkin aku bersikap seperti itu. Eomma, aku tahu ini mendadak dan diluar dugaan. Tapi pikirkanlah lagi. Anakmu ini akan menikah dengan seorang Direktur perusahaan besar, dan setelah itu hidup kita akan lebih baik. Eomma dan Serin bisa tinggal di tempat yang lebih baik. Dan orang-orang itu tidak akan lagi mengejar kita.”

“Apa hanya itu yang kau pikirkan? Kau tidak memikirkan bagaimana reaksi keluarganya nanti jika tahu kau memanfaatkan anaknya demi hidupmu?”

“Sudah aku katakan aku tidak memanfaatkannya, eomma. Dia yang memintaku menikah dengannya.” Seru Minrin tidak mau kalah.

Hening kemudian. Minrin menundukkan kepalanya sementara ibunya terdengar beberapa kali menghela nafasnya keras. Pembicaraan ini tidak akan berhenti, sebelum ibunya memberi restu. Bukannya Minrin tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk seperti yang ibunya bilang, tapi saat ini yang dipikirkannya adalah bagaimana membuat ibu serta adiknya bebas dari kejaran orang-orang penagih hutang itu.

“Kau bilang dia yang memintamu menikah dengannya? Wae?” tanya ibunya kemudian.

“Ibunya memintanya segera menikah. Meskipun sudah banyak yeoja yang dijodohkan ibunya, tapi dia menolaknya. Karena itu dia memintaku menikah dengannya. Jadi, eomma aku bukan satu-satunya yang memanfaatkan orang itu. Puterimu ini juga dimanfaatkan olehnya.”

Jinjjayo?”

Eomma, aku sedang tidak bercanda dan tidak sedang berbohong. Jadi katakan sesuatu, eomma setuju atau tidak?” tanya Minrin tidak sabar.

Ibunya berpikir sejenak. Dan Minrin berharap ibunya ini akan mengerti. Demi ibu dan adiknya, Minrin rela melakukan apapun. Asalkan kedua orang yang paling diicntainya itu bisa hidup dengan baik, Minrin akan melakukan apapun, tidak terkecuali dengan menyingkirkan ego dan sifat keras kepalanya.

 Dalam keheningan itulah, Minrin dibuat tidak percaya keika tanpa diduga-duga ibunya mengangguk dengan lemah. “Kuere, tapi eomma tidak akan memaafkanmu kalau kau membuat masalah. Lagi pula kau sudah memilih, maka eomma akan menghormati keputusanmu.”

Perasaan lega dan juga bercampur haru menyelimui dadanya yang bergetar. Minrin mengangguk dan tersenyum. “Arraso..”

“Apapun itu, kau harus bahagia, Minrin-ya. Cinta mungkin tidak akan membuat hidupmu lebih baik, tapi kau juga membutuhkan orang yang mencintaimu.” Pesan ibunya, yang mendadak menghilangkan senyum di bibir Minrin. Gadis itu mengangguk lagi.. Ia mengerti itu dan ia juga mengerti ibunya masih belum bisa sepenuhnya menerima keputusannya. Tidak masalah, asalkan ibunya mendapatkan hidup yang lebih baik.

“Selama eomma dan Serin bahagia, aku akan baik-baik saja.” Ujar Minrin tenang. Ia bergerak memeluk ibunya, erat.

Seorang wanita yang selama ini dihormatinya, wanita yang banyak berkorban untuknya dan juga Serin. Dan satu-satunya yang diinginkan Minrin adalah membuat wanita ini bahagia. Tidak peduli jika dia harus menderita, asalkan ibunya dan juga adiknya bisa memiliki hidup yang lebih baik.

                       

 

 

Sore itu ketika matahari sudah hampir terbenam, Eunhyuk memutuskan berpamitan dan segera pulang ke Seoul. Minrin mengantar Eunhyuk sampai di depan pintu. Gadis itu terus saja mengucapkan terima kasih ketika mengetahui Eunhyuk sedikit membohonginya untuk mengantarkannya sampai ke Ilsan. Ia juga merasa tidak enak, harus membuat Eunhyuk menyetir berjam-jam hanya untuk mengantarnya ke Ilsan. Dan setiap kali Minrin mengutarakan rasa penyesalan dan terima kasihnya, Eunhyuk hanya membalasnya dengan senyuman lebar.

            “Aku masih tidak tahu kenapa Direktur harus berbohong tentang urusan bisnis di Ilsan, tapi terima kasih karena sudah mengantarku.”

            “Gwaenchana, aku hanya tidak ingin calon adik iparku pergi sendirian ke Ilsan sementara orang-orang itu sedang mencarimu.” Eunhyuk berjalan lebih dulu sementara Minrin berjalan dibelakangnya.

            Sebuah rasa tiba-tiba bergejolak dalam hatinya. Menatap punggung itu entah kenapa kembali mengingatkannya pada seseorang. Otaknya pasti sedang tidak waras, kenapa setiap kali Minrin melihat Eunhyuk, selalu mengingatkannya pada seseorang di masa lalunya?

            “Direktur Lee..” panggil Minrin kemudian. Eunhyuk menoleh dan melihat Minrin ragu untuk berbicara.

            “Waeyo?”

“Tolong sampaikan permintaan maafku pada Ryeowook-ssi. Katakan padanya aku akan kembali ke Seoul lusa dan juga bilang padanya untuk berhenti mengkhawatirkanku.” Lanjutnya tersenyum.

Eunhyuk mengangguk. “Akan kulakukan, meskipun aku tidak mengerti kenapa kau harus menitipkan pesan itu dan bukannya memberi tahu Ryeowook langsung. Dia pasti kurang suka mendengarnya. Minrin-ya, apapun alasan kalian untuk menikah, aku mohon bersikaplah nyaman pada Ryeowook. Dia akan menjagamu, aku yakin itu..”

Gamsahamnida..” Minrin tersenyum.

Setelah itu Eunhyuk benar-benar berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Tidak butuh waktu lama sampai mobil itu pun melaju meninggalkan Minrin yang masih berdiri di depan rumah sembari mengamati mobil itu.

Tidak bisa dipungkiri bahwa orang itu sukses mengingatkan Minrin tentang seorang namja di masa lalunya.

                       

 

 

Seoul,

C.E Group’s Building

08.00 PM

            Ryeowook menyingkirkan berkas-berkas di mejanya dan beralih mengambil ponselnya. Ponsel itu mati sejak sore tadi. Dan ketika ponsel itu hidup ia menyadari tidak ada satu pun pesan yang masuk dari Minrin. Sejak pesan terakhir yang dibalas, Minrin sama sekali tidak menghubunginya sampai sekarang. Apa gadis itu bermalam di Ilsan? Atau dia kembali ke rumahnya?

            “Kenapa dia tidak menghubungiku?”

            Jiwa protectivenya tiba-tiba muncul dan menyadari bahwa gadis itu mungkin saja tidak peduli betapa khawatirnya Ryeowook saat ini, sungguh membuat Ryeowook semakin khawatir. Ia sudah akan menekan tombol dial pada nomor Minrin ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya. Ia mendongak sebentar melihat pintu itu terbuka dan memperlihatkan Eunhyuk yang melenggang santai masuk ke ruangannya.

            “Hyung, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ryeowook heran. Bukan kebiasaan Eunhyuk datang ke kantornya, apalagi di jam kerja yang sudah berakhir seperti ini.

            “Ponselmu tidak bisa dihubungi dan kata sekretarismu kau masih di kantor, jadi aku datang ke sini.” Tanpa dipersilahkan Eunhyuk sudah duduk di sofa tamu ruangan itu. Ryeowook mengikuti Eunhyuk dan duduk di salah satunya.

            “Aku baru menghidupkannya. Wae? Apa hyung sudah menemukan dimana ayahnya?” tanya Ryeowook yang berubah bersemangat.

            Eunhyuk mengubah posisi duduknya menjadi serius. Ia menatap Ryeowook dan hanya ditanggapi eskpresi tidak mengerti oleh Ryeowook. “Aish, Hyung palli. Katakan padaku apa yang kau temukan.”

            “Tidak, aku belum menemukan petunjuk apapun tentangnya. Bagaimana denganmu?” Eunhyuk balik bertanya.

            “Yaa.. Hyung, aku pikir kau sudah menemukan petunjuk. Lalu kenapa kau datang kemari?”

            Astaga apa Eunhyuk sedang bercanda dengannya?

            “Aku bertemu dengan Minrin, mengantarkan gadis itu ke Ilsan, dan aku baru kembali. Jadi aku belum sempat mencari tahu tentang ayahnya.”

            “Mwo? Hyung, kau mengantarnya ke Ilsan?” seru Ryeowook tidak percaya. Eunhyuk mengangguk santai dan lagi-lagi Ryeowook menatapnya tidak mengerti. “Kenapa kau bisa mengantarnya?”

            “Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dia menitipkan pesan untukmu, katanya jangan mengkhawatirkannya. Dia akan pulang ke Seoul lusa, jadi bersabarlah untuk tidak bertemu dengan gadis itu sampai lusa.” Jawab Eunhyuk sekenanya.

            Jawaban yang tiba-tiba membuat Ryeowook tidak suka mengetahui faktanya. Fakta bahwa gadis itu memilih diantar oleh Eunhyuk dan bukannya dirinya. Padahal jelas tadi pagi Ryeowook harus berdebat panjang dengan gadis itu hanya untuk membiarkannya pergi sendirian ke Ilsan. Dan ketika akhirnya Ryeowook berubah pikiran, Minrin tetap menolak tawarannya untuk mengantarnya ke Ilsan. Lalu tanpa sepengetahuannya, gadis itu bahkan dengan mudah menerima tawaran hyungnya.  Oh ..Astaga apa ia cemburu sekarang?

            “Kau bertemu dengan keluarganya?” tanya Ryeowook lagi, berusaha meredam rasa tidak enak dalam dadanya.

            “Hmm, ibunya, adik perempuannnya. Aku juga berbicara pada paman dan bibinya.” Sahut Eunhyuk yang lagi-lagi membuat perasaan Ryeowook terkoyak. Ia tidak suka mendengarnya.

            “Dia mengatakan hal lain?”

            Tanpa Ryeowook sadari, Eunhyuk memperhatikannya dalam diam. Sedetik kemudian dia tersenyum ketika menyadari perubahan raut muka Ryeowook yang mendadak menjadi tidak bersemangat.  Dan itu sukses membuat Eunhyuk menahan tawanya yang hampir meledak

            “Tidak usah cemburu begitu.” Sahut Eunhyuk yang masih menahan tawanya. Sangat lucu melihat Ryeowook untuk pertama kalinya merasa cemburu. Ah.. adiknya ini memang sudah dibuat bertekuk lutut oleh gadis itu.

            “Aku tidak cemburu Hyung. Setelah aku pikir-pikir lebih baik memang Hyung yang mengantarnya jika aku tidak bisa dari pada melihatnya bersama laki-laki lain. Setidaknya aku lebih mempercayaimu.” Ujarnya.

            Mendadak pikiran itu muncul di otaknya. Ya.. setelah dipikir-pikir akan lebih baik mengetahui Minrin diantar Eunhyuk. Dari pada Ryeowook harus melihat laki-laki lain yang memandang gadis itu seakan ingin menelannya bulat-bulat. Matanya terpejam sesaat mengingat bagaimana orang-orang di bar itu memandang Minrin. Ya.. lebih baik memang Eunhyuk yang berada di samping gadis itu selain dirinya. Karena Ryeowook sangat mempercayai hyungnya itu.

            Tawa Eunhyuk yang sedari ditahannya mendadak hilang. Ia mengangguk. Ryeowook memang sudah menganggapnya sebagai kakak, begitu pula dengannya yang sudah menganggap Ryeowook sebagai adiknya. Tumbuh bersama sejak kecil, bahkan hampir mengetahui rahasia masing-masing, begitulah keduanya.

            “Aku hampir lupa memberitahumu, sepertinya akan sulit untuk menemukan Shin Taewoo.” Ujar Eunhyuk kemudian.

            Ryeowook mengernyit. “Wae?”

            “Tidak ada yang tahu dimana keberadaanya. Tetangganya hanya tahu bahwa mereka pindah ke Seoul tapi tidak ada yang tahu dimana Shin Taewoo. Dan seorang Ahjussi yang sudah bekerja di Book Of Storyline sejak dulu juga tidak tahu dimana Shin Taewoo. Selama ini Shin Taewoo hanya beberapa kali datang ke Book Of Storyline, dan sepenuhnya dia mempercayakan Book Of Storyline pada ahjussi itu sebelum akhirnya diambil alih oleh Minrin sendiri.”

            “Bagaimana dengan para penagih hutang itu? Apa mereka juga tidak tahu?”

            “Inilah yang membuatku tidak mengerti. Mereka tidak berusaha mencari Shin Taewoo dan justru mengejar-ngejar Minrin. Padahal jelas semua hutangnya atas nama Shin Taewoo, kecuali dia sengaja melakukannya.”

            Ryeowook seketika diam mendengar penuturan Eunhyuk. Benarkah seperti itu? Jika memang benar, bukankah itu berarti orang itu sengaja membuat Minrin, ibu dan adiknya menjadi target para penagih hutang itu. Dan untuk pertama kalinya, Ryeowook merasa calon ayah mertuanya itu bukan orang yang baik.

            “Semua itu mungkin saja terjadi. Dia itu tidak hanya berhutang pada satu orang. Orang itu.. aku benar-benar tidak mengerti, kenapa dia bisa menelantarkan keluarganya, dan bahkan membuat mereka dikejar para penagih hutang.”

            Hening. Ryeowook kalut dengan pikirannya sendiri. Antara meneruskan usahanya mencari ayah Minrin atau mengehentikannya dan tetap seperti ini. Gadis itu, demi apapun Ryeowook ingin melindunginya, menjaganya dan membuatnya bahagia. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam kehidupan gadis itu. Dan Ryeowook bahkan curiga, tangis Minrin malam itu di taman bermain juga karena ayahnya.

            Bagaimana jika menghadirkan sosok Shin Taewoo justru membuat hidup gadis itu menderita? Tidak. Demi apapun Ryeowook tidak akan membiarkan itu terjadi. Tekadnya bulat ingin melindungi gadis itu. Dan keinginan itu semakin kuat ketika melihat Minrin harus rela ditawan di bar rendahan tempo hari.

            “Hyung, aku rasa lebih baik tidak usah mencari orang itu lagi. Biarlah saja seperti ini. Minrin berhak atas hidupnya yang lebih baik.” Ujar Ryeowook kemudian.

                       

 

 

Three Days Later

10.00 A.M

Kim Family’s House

Mobil audit putih itu berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah. Rumah berlantai dua yang terlihat sangat luas dari luar. Minrin membuka pintu mobil dengan ragu-ragu. Dan begitu gadis itu turun, penampilannya terlihat berbeda dari sebelumnya. Dress berwarna putih selutut yang dibelikan Ryeowook terlihat pas dikenakannya, dan ini untuk kali keduanya dia mengenakan high heels. Siapa yang bisa menyangka dia bisa bertahan sampai detik ini mengenakan high heels berwarna putih yang melekat di kakinya

Mata gadis itu tidak henti-hentinya berbinar kagum melihat arsitektur bangunan di depannya yang baru pertama kali ini akan dimasukinya. Dilihatnya Ryeowook tersenyum sebentar pada Minrin dan dibalas gadis itu dengan senyum tipis.

Gwaenchana?” tanya Ryeowook dan ditanggapi anggukan kepala pelan oleh Minrin. Ia berjalan maju menghampiri Ryeowook.

“Apa aku terlihat gugup?”

Ryeowook lagi-lagi tersenyum dan menggeleng. “Kau akan melakukannya dengan baik. Percaya saja padaku, euhm?” Dan tangan Ryeowook sudah menggenggam erat tangan Minrin. Gadis itu  mengangguk dan mengikuti Ryeowook berjalan masuk ke dalam rumah itu.

Hari ini mungkin akan menjadi hari yang mendebarkan untuk Minrin. Untuk pertama kalinya dia akan bertemu dengan orang tua Ryeowook, yang berarti calon ibu serta ayah mertuanya. Sejak semalam dia sudah mempersipakan diri, bahkan berlatih menyapa mereka dengan Hyehyo. Tapi nyatanya semua latihannya mendadak tidak ada gunanya mengingat betapa gugupnya ia saat ini.

Bagimana tanggapan mereka dengan penampilan Minrin? Apa wajahnya terlihat sangat gugup, ah bagimana ini?

Minrin berhenti sebentar ketika mereka mencapai ruang tamu. Dua orang pelayan perempuan berdiri di pintu dan membungkuk pada mereka, menyilahkan tuan mudanya untuk segera menuju taman belakang.

“Ryeowook-ssi..” panggil Minrin lirih. Ia menggenggam erat tangan Ryeowook dan rasanya detak jantungnya tidak karuan. Ia benar-benar gugup.

Ryeowook menoleh dan ketika melihat namja itu tersenyum sedikit melegakan untuk Minrin. Sampai detik ini Minrin memang sangat menyukai senyum Ryeowook, menenangkan. Tapi sepertinya untuk situasi sekarang senyuman itu belum sepenuhnya bisa meredakan gemuruh dalam dadanya.

Nyalinya menciut pada titik terendah. Untuk pertama kalinya Minrin merasa menjadi orang yang sangat kecil. Ia bisa sangat berani menghadapi orang-orang berjas yang mengejarnya, tapi hanya untuk bertemu dua orang pemilik rumah ini, rasanya ia kehilangan keberaniannya.

“Tanganmu sangat dingin. Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Ryeowook memastikan, tapi Minrin menggeleng pelan.

“Aku takut.” Ujarnya.

Mendadak ia ingat dengan ucapan ibunya. Bagaimana jika orang tua Ryeowook mengetahui alasan diadakannya pernikahan ini? Tidak ada orang tua yang ingin anaknya dimanfaatkan dalam sebuah pernikahan. Mereka akan memandang Minrin, sebagai gadis dari golongan rakyat biasa yang dengan seenaknya memanfaatkan anaknya, dan Minrin sendiri tidak tahu bagaimana harus bersikap nantinya.

“Tidak ada yang perlu ditakuti. Mereka hanya ingin mengenalmu, itu saja. Tidak perlu takut berbicara yang sebenarnya, aku ada di sampingmu, euhm?” Ryeowook semakin erat menggenggam tangan Minrin, hingga rasa dingin di jari-jari gadis itu lenyap tergantikan dengan perasaan hangat yang melingkupinya.

“Bagaimana jika mereka tidak suka denganku?”

“Hey.. Kau bukan orang yang pesimis seperti itu, Shin Minrin. Bukankah kau terlihat sangat berani menghadapi orang-orang yang mengejarmu? Kenapa kau mendadak jadi penakut seperti ini?”

“Itu berbeda. Mereka orang-orang yang membuat hidupku sengsara, tapi ini..aku akan bertemu dengan orang tuamu bukan dengan orang barbar.” Sahut Minrin. Beberapa kali ia menghirup nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras.

“Kau ingin kuberi tahu rahasia mengambil hati mereka?” tanya Ryeowook. Dia menarik Minrin agar terus berjalan menuju taman belakang, dan gadis itu hanya bisa menyeret kakinya  dengan pasrah mengikuti Ryeowook. “Ayahku sangat suka bermain catur, dia suka membaca buku filosofi dan ibuku.. kau hanya perlu bersikap seperti perempuan biasanya, mengeri tentang memasak dan juga selera fashion masa kini.”

Minrin mendongak dan mendelik singkat. “Yaa, aku tidak bisa bermain catur, aku tidak tahu buku filosofi. Dan kuberitahu satu rahasia, aku tidak bisa memasak, selera fashionku buruk. Kau sedang mengerjaiku?” sungutnya dengan lirih. Tapi sialnya Ryeowook hanya menanggapi ucapan Minrin dengan kekehan singkat, membuat gadis itu semakin kesal dibuatnya.

“Tenanglah, aku hanya bercanda, untuk membuatmu tidak gugup lagi” Lanjut Ryeowook kemudian.

Lagi-lagi Minrin mendelik ke arahnya. “Kau justru semakin membuatku gugup. Ya ampun bagaimana jika aku melakukan kesalahan?”

Ucapannya terhenti ketika tanpa Minrin sadari mereka sudah sampai di taman belakang. Bukan benar-benar di tamannya, hanya di ruangan yang tepat menghadap taman belakang. Jendela besar di samping ruang itu memudahkan mereka bisa melihat taman belakang rumah ini yang sangat luas.  Banyak sekali tanaman di taman itu. Beberapa pohon besar di taman itu mulai meranggas di awal musim gugur ini.

Annyonghaeseo, Aboji..” Ryeowook membungkuk singkat untuk member hormat pada ayahnya. Minrin tersenyum sekilas dan ikut membungkuk . “Annyeonghaeseo..” ucapnya.

Kuere.. duduklah, ibumu sedang kedalam.” Sahut laki-laki paruh baya yang Minrin tahu sebagai calon ayah mertuanya. Sikapnya terkesan sangat dingin, tidak sedetik pun laki-laki itu memperhatikan Minrin dan Minrin sendiri tidak tahu harus mulai bersikap seperti apa.

Ryeowook menarik tangan Minrin mendekat dan menyuruhnya duduk di salah satu kursi. Tubuh gadis itu mendadak kaku. Dan rasanya Ryeowook semakin tidak tega melihatnya terus menerus berjuang melawan kegugupannya sendiri. Saking tidak teganya, Ryeowook bahkan terus menggenggam tangan Minrin dengan erat.

Sebuah koran bisnis diletakkan Tuan Kim di atas meja. Dia membenarkan posisi duduknya dan matanya beralih menatap Minrin. Gadis itu menegang di tempatnya. Tidak sedikitpun ia sanggup mengangkat kepalanya dan membalas tatapan calon ayah mertuanya.

“Kudengar kau berasal dari Incheon.” ujarnya pada Minrin. Gadis itu mendongak, sekilas melirik pada Ryeowook yang hanya menanggapinya dengan senyum kecil.

Ne, ..” angguknya pelan.

“Hmm.. Melihatmu sebagai gadis Incheon membuatku senang. Kepribadianmu juga terlihat sangat baik, Minrin-ya..”

Minrin tersenyum mendengar pujian itu. Tapi rasanya agak menyesakkan ketika calon ayah mertuanya mengira kepribadiannya sangat baik. Sungguh ia mendadak merasa berdosa sekarang.

“Oh.. kalian sudah datang?” seorang wanita berjalan anggun menghampiri mereka. Minrin mendongakkan kepalanya, memperhatikan wanita itu. Cantik. Usianya mungkin memang tidak muda lagi, tapi sungguh dia tahu benar bagaimana menjaga kecantikannya.

Eomma..” panggil Ryeowook, yang langsung menyadarkan Minrin. Ia segera berdiri dan membungkuk singkat di hadapan wanita itu. “Annyenghaeseo, eomonim..” sapanya.

“Oh, Ne Minrin-ya..anja~!”

Minrin kembali duduk, begitu juga calon ibu mertuanya yang sekarang sudah duduk di samping ayah mertuanya. Dan pertemuan itu pun dimulai.

Awalnya Minrin sangat gugup menghadapi calon mertuanya, tapi perlahan perasaan itu lenyap ketika menyadari betapa hangatnya kedua orang tua Ryeowook memperlakukannya. Sesekali mereka bercanda dengan Minrin dan itu sangat membahagiakan. Perasaan berkumpul dengan kedua orang tua yang tidak pernah dirasakannya, ya.. seperti itulah perasaannya. Bahagia, senang dan juga haru. Dan satu-satunya yang paling melegakan adalah tidak ada pertanyaan-pertanyaan bagaimana latar belakang keluarganya yang harus dijawabnya.

Obrolan hari itu adalah seputar bagaimana Ryeowook dulu. Eommonim adalah satu-satunya yang sangat bersemangat menceritakan bagaimana Ryeowook kecil selalu dijahili Eunhyuk, dan bagaimana Ryeowook mengadu sambil menangis karena tidak terpilih jadi ketua kelas. Ah.. jadi seperti itulah Ryeowook yang sama sekali tidak diketahui Minrin sebelumnya. Sesekali Minrin melirik ke arah Ryeowook yang sama sekali tidak keberatan masa lalunya dibongkar oleh ibunya sendiri. Dan hari itu Minrin perlahan mengenal siapa namja yang akan menikah dengannya.

Uri Ryeowook, semenjak dia memutuskan tinggal sendiri, dia terlalu banyak makan yang tidak bergizi. Kadang aku sangat khawatir. Lihat betapa kurusnya dia sekarang ini.”

“Aku sangat sibuk eomma.” Sahut Ryeowook santai.

Minrin tersenyum ketika calon ibu mertuanya menyindir Ryeowook. Sedangkan Ryeowook sendiri hanya menanggapinya dengan santai. Dan jika diperhatikan Ryeowook memang terlihat kurus. Ah.. bahkan hal sekecil ini baru disadari Minrin sekarang.

“Kau harus sering memasak untuknya, Minrin-ya.” Komentar calon ayah mertuanya.

“Dia tidak terlalu pandai memasak, Aboji.” Sahut Ryeowook menyela sebelum Minrin menjawab. Gadis itu menoleh dan benar-benar tidak mengerti Ryeowook bisa sangat jujur begitu.

Kuereyo?” tanya calon ibu mertuanya tidak percaya.

Sekarang Minrin yang jadi bingung harus menjawab apa. Issh, Kim Ryeowook. Dilihatnya kali ini Ryeowook tidak berusaha membantu Minrin menjawab pertanyaan itu. Dan itu membuat Minrin agak mendelik kearahnya.

Ne, eommonim. Aku memang kurang pandai memasak. Jangan khawatir, aku akan belajar memasak.” Ucap Minrin kemudian.

Gwaenchana, aku dulu juga tidak bisa memasak sebelum menikah. Tapi menjadi seorang istri dan ibu, kau akan belajar banyak hal termasuk ketika terpaksa bersentuhan dengan dapur.”

Ne,eomonim

“Hmm, jangan khawatir aku akan membantumu, kau harus mengetahui makanan apa saja yang disukai Ryeowook dan yang tidak disukainya.”

Minrin mengangguk dan tersenyum. “Ne, gamsahamnida eommonim..”

Eomma harus bersabar kalau mengajarinya. Kadang dia sangat keras kepala.” Komentar Ryeowook lagi, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Minrin. Gadis itu menyenggol lengannya pelan dan sialnya dihiraukan Ryeowook.

“Yaa, kau sedang mencoba membuatku tampak buruk?” keluh Minrin. Dan tanpa disangka-sangka, Ryeowook mengacak puncak kepala gadis itu untuk pertama kalinya.

Aniya, lebih baik eomma tahu lebih awal dari pada membuatnya sakit kepala menghadapimu nanti.”

“Issh, nilaku di depan orang tuamu akan turun, Ryeowook-ssi.” Minrin setengah merajuk kesal. Tapi tidak bertahan lama ketika melihat kedua orang tua Ryeowook melihatnya sambil tersenyum.

Aigoo, kalian tampak sangat serasi. Lebih cepat kalian menikah akan sangat lebih baik.” Komentar calon ibu mertuanya.

Minrin lagi-lagi hanya tersenyum. Sesaat ia memperhatikan Ryeowook lagi. Mereka tidak terlalu banyak mengenal satu sama lain, dan Minrin sendiri tidak tahu dari mana Ryeowook tahu bahwa ia sangat keras kepala. Tapi tidak apa-apa, Minrin akan berusaha mengenal namja ini, mencoba mengerti tentangnya dan mencoba menjalani kehidupan pernikahan nanti bersama-sama.

Sepanjang hari itu Minrin menghabiskan waktunya di rumah Ryeowook. Saat waktu makan siang, ia membantu calon ibu mertuanya di dapur. Itu memang bukan kali pertamanya ia memasak, tapi ia tidak bohong saat mengatakan ia tidak terlalu pandai memasak. Sungguh, itu benar. Ketika di rumah, ibunya yang selalu menyiapkan makanan, kadang ia hanya bisa membantu hal-hal kecil.

Usai makan siang, Minrin bahkan menemani calon ayah mertuanya bermain baduk. Permainan tradisional rakyat Korea yang sampai sekarang masih dijaga. Meskipun ini pertama kalinya Minrin bermain baduk, tapi ia hampir bisa menyamai kemampuan calon ayah mertuanya. Ryeowook sendiri bahkan tidak percaya dengan kemampuannya yang bisa belajar dengan cepat.

Dan pada akhirnya kebersamaan itu pun berakhir ketika Ryeowook memutuskan untuk mengantar Minrin pulang. Matahari sudah berada di ufuk, ketika mereka berpamitan.

“Kau harus datang lagi kemari, eo? Ryeowook-ah antarkan Minrin sampai dirumahnya dan menyetirlah dengan hati-hati.” Pesan ibunya dan langsung diiyakan oleh Ryeowook.

“Aku akan sering-sering datang.” Ucap Minrin. Dia membungkukkan badannya memberi hormat.

Kuere hati-hati, ne? “ Keduanya mengangguk.

“Sampai jumpa, eomonim, abeonim..”

Keduanya kembali membungkuk singkat sejenak sebelum berjalan menuju mobil audit putih milik Ryeowook. Mobil itu pun berlalu meninggalkan halaman rumah keluarga Kim, dan Minrin tidak henti-hentinya tersenyum sepeninggalannya dari rumah itu. Sungguh kekhawatirannya lenyap begitu saja ketika menerima kehangatan kedua orang tua Ryeowook. Mungkin ini kali pertamanya ia merasakan kehangatan bersama orang tua yang utuh.

“Kau terlihat sangat senang sekali sekarang.” Ujar Ryeowook, ketika lagi-lagi Minrin memancarkan rona bahagia di wajahnya.

“Ini pertama kalinya aku merasakan kehangatan berkumpul dengan keluarga yang utuh” Ujar Minrin lirih. Bayangan-bayangan masa lalu, saat berkali-kali dirinya kena pukul ayahnya tiba-tiba hadir, tapi segera ditepisnya. Ia tidak akan membiarkan luka itu hadir lagi.

Ryeowook diam-diam tersenyum. Seakan menyadari gadis di sampingnya ini sedang merasakan luka di masa lalunya. tangan kanannya sudah bergerak menggenggam tangan kiri Minrin. Gadis itu menoleh singkat dan memperhatikan tangan mereka yang saling bertautan, tapi sedetik kemudian ia hanya tersenyum dan membiarkan Ryeowook menggenggam tangannya.

“Ryeowook-ssi..”

Wae?”

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kenapa kau mengajakku menikah?” Minrin menolehkan kepalanya dan mendapati Ryeowook diam sejenak di depan kemudinya. “Kita hanya bertemu sebanyak tiga kali. Dan kita juga tidak saling mengenal, lalu kenapa kau tiba-tiba ingin menikah denganku?”

Mobil mereka berhenti di lampu merah dan tepat saat itulah Ryeowook menolehkan kepalanya.  “Kau sendiri, kenapa menerimanya? Kenapa kau menjawab ya dan mau menikah denganku?” Ryeowook balik bertanya.

“Itu karena..”

“Tidak apa-apa kalau kau menjawab karena ingin membantu keluargamu melunasi hutang ayahmu.” Ryeowook memotong cepat ucapan Minrin yang menggantung. Gadis itu mengernyitkan dahinya, antara bingung dan terkejut. Sementara dirasakannya genggaman tangan Ryeowook sama sekali tidak melonggar.

Mianhae.” Lirihnya

Gwanchana, aku tidak terlalu keberatan. Kita bisa bersama-sama saling mengenal dan memulai hidup yang baik.”

Lagi-lagi Minrin mengernyit, sejenak setelah Ryeowook kembali menjalankan mobilnya dan mengalihkan tatapannya lurus ke depan. “Aku hanya ingin menikahi gadis yang bersedia hidup bersama denganku dan beranjak tua bersama-sama.” Gumamnya.

“Tapi aku bukan gadis itu. Gadis yang kau bilang mampu membuatmu jatuh cinta hanya sekali memandangnya.” Sahut Minrin.

“Dalam sebuah hubungan, saling bertatapan tidak selalu langsung menumbuhkan perasaan cinta. Kadang ketika kau terbiasa dengan orang itu, maka saat itulah kau mungkin akan jatuh cinta padanya. Aku mungkin belum pernah mengatakan ini, tapi aku menyukaimu” lanjutnya.

Dan tepat saat itulah Minrin kembali terhenyak. Antara percaya dan juga tidak. Antara mencoba memahami kenyataan ataukah hanya sekedar mimpi indah dalam tidurnya. Sekali lagi ia memperhatikan Ryeowook. Melihat sosoknya yang memang nyata di sampingnya, cukup membuatnya yakin ia tidak sedang bermimpi. Apa yang dialaminya hari ini bukanlah mimpi. Dan setelah itu mendadak ia sadar bahwa ia baru saja melakukan sebuah kesalahan karena menerima Ryeowook. Laki-laki di sampingnya ini menyukainya, dan itu berarti dia tulus ingin menikah dengan Minrin. Tapi apa yang dilakukan Minrin? Memanfaatkannya dan mengira pernikahan ini hanyalah sebuah simbiosis mutualisme.

“Maafkan aku..” lirihnya lagi. Dan dirasakannya genggaman tangan Ryeowook sekali lagi makin erat.

“Berhentilah mengatakan itu. Aku tidak sedang memaksamu menyukaiku juga, meskipun itu akan terdengar sangat indah ketika dua orang manusia menikah karena saling menyukai, tapi aku akan menunggumu.”

Rasanya dada Minrin terasa sesak ketika mendengar itu. Tidak pernah dibayangkannya akan seperti ini. Ia merasa sangat jahat pada Ryeowook. Pantaskan ia menerima ini? Mendapatkan cinta laki-laki ini, padahal sudah jelas Minrin sedang memanfaatkannya. Dan pertanyaan yang terus saja berputar di kepalanya sejak tadi, bisakah ia menyukai Ryeowook?

Matanya terpejam sebentar sebelum kahirnya kembali menatap Ryeowook dari samping. “Aku akan belajar menyukaimu, Ryeowook-ssi. Bersabarlah, ne?” Dan seulas senyum bisa dilihat Minrin dari laki-laki itu.

Bersabarlah, tidak ada alasan bagi Minrin untuk tidak menyukai Ryeowook. Seperti yang dikatakan Ryeowook tadi, saling bertatapan mungkin tidak selalu membuatmu jatuh cinta, tapi ketika terbiasa dengannya, mungkin saat itulah kau akan dibuat jatuh cinta. Jadi, ketika pada akhirnya Minrin akan terbiasa dengan kehadiran Ryeowook, mungkin saja ia akan segera menyukainya, jatuh cinta padanya dan juga mencintainya .

CUT

Mianhae membuat menunggu untuk part 4 nya. Sekali lagi terima kasih buat yang sudah baca. Saya nggak mau koment banyak di part ini. Hufftt -_-

 

Sampai jumpa di part selanjutnya 😀

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s