(Fanfiction) Let’s Meet Again Someday : Everything Has Change

let's meet again someday 2

Title     : Everything Has Change!

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Cast     : Cho Kyu Hyun, Shin Ran Ran

Genre  : AU, Romance, A little bit Angst

Rating : 15

Lenght : 6806 words (Chapter)

Disclaimer: Cho Kyuhyun milik Tuhan, orang tuanya, Super Junior dan ELF, saya Cuma pinjam namanya saja. Cerita dan poster milik saya.

Cerita ini hanya fanfic,

 

If we were not in the same fate

Then let’s meet again someday

 

d’Art Fashion

09.15 AM

“Astaga~! bagaimana mungkin aku bisa lupa soal pertemuan dengan tuan Cho itu?” Ran Ran memekik menyalahkan keteledorannya sembari terus berlari dengan tergesa-gesa. Beberapa potong pakaian yang rencananya akan dipresentasikannya, serta sebuah buku gambar ditentengnya dengan susah payah.

“Aissh. sial. Shin Ran Ran neo Jinjja~!!” Ia hampir mencapai pintu ruang pertemuan. Semakin dekat dan langkahnya pun melambat.

Klek..

Jengsohamnida.” ucapnya langsung dengan badan dibungkukkan 90 derajat.

“Kau tahu jam berapa ini? Bukankah kesepakatannya bertemu jam 9, lalu kenapa kau datang terlambat? Apa di sini tidak diajarkan untuk disiplin?”

Ran Ran memilih menundukkan kepalanya ketika orang di depannya itu yang merupakan pimpinannya sekarang berseru memarahinya. Bagus sekali Shin Ran Ran, hari pertama bertemu pimpinan, kau justru memberikan citra buruk karyawan d’Art Fashion.

Jeongsohamnida.” sekali lagi Ran Ran memohon maaf. Kepalanya tertunduk semakin dalam. Sepertinya menghadapi amarah Blair itu lebih baik dari pada menghadapi amarah orang ini. Dari suaranya yang berat, dingin dan terkesan mengintimidasi saja sudah membuat Ran Ran mundur dan tidak berani menatapnya. Mungkin saja wajahnya akan sama mengerikannya dengan suara yang dikeluarkan.

“Apa menurutmu minta maaf itu akan menyelesaikan masalah? Lalu menurutmu untuk apa ada hukum jika hanya dengan minta maaf semua masalah selesai. Sepertinya kau harus belajar bagaimana menghargai waktu, Nona. Ck.. Kenapa kau terus menunduk? Kau sepertinya juga harus belajar menghargai orang yang sedang berbicara padamu”

Oh Ya Ampun kenapa orang ini sangat menyebalkan?

Perlahan, Ran Ran memberanikan diri mengangkat kepalanya. Dan begitu kepalanya sudah dalam posisi yang benar, matanya menangkap sesosok laki-laki berjas dengan tatapan mata tajam yang mengarah padanya. Untuk sesaat Ran Ran bahkan terpaku menatapnya. Entah dari mana keberanian menatap balik mata itu dengan lekat di dapat Ran Ran, tapi yang jelas semuanya seakan mengawang-awang di udara. Hampa. Bukan hanya karena laki-laki itu memang terlihat sangat tampan. Ran Ran mengakui pesona laki-laki itu. Tinggi, tampan dan aura yang sangat memikat. Tapi lebih dari itu semua, alasannya adalah karena Ran Ran jelas pernah melihat laki-laki ini sebelumnya. Aniya., yang benar adalah Ran Ran jelas sekali pernah mengenalnya.

Sesaat perasaannya benar-benar campur aduk. Ia bahkan tidak ingat sedang merasa kesal pada laki-laki ini, yang ada hanyalah perasaan senang yang luar biasa hebat hingga membuatnya kesulitan bernafas untuk memenuhi rongga dadanya.

Tidak mungkin. Berulang kali Ran Ran menggumamkan kalimat itu dalam hati. Jika Ia bisa melihat bagaimana ekspresinya sekarang, pasti wajahnya sedang mencerminkan keterkejutan yang luar biasa hebat. Tapi kenyataan apa yang ada di depannya memang tidak bisa dipercaya. Rasanya Ran Ran ingin mempercayainya, tapi tidak bisa. Apalagi tatapan laki-laki itu tidak lagi tatapan yang sama yang pernah di dapat Ran Ran sebelumnya

“Neo..”

“Nde?” tanya Ran Ran terbata. Suaranya tercekat dan hampir hilang ketika menjawabnya. Sementara dadanya bergemuruh menahan detak jantung yang tidak karuan.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Dunia seakan runtuh saat itu, begitu juga dengan tubuh Ran Ran yang mungkin saja akan ambruk saat itu juga. Seperti potongan puzzle yang tiba-tiba hancur. Seperti cermin yang mendadak retak dan tidak lagi berbentuk. Seperti itulah hatinya yang sekarang menjadi sangat sakit saat mendengar pertanyaan itu.

Cho Kyuh Hyun. Ya.. kenapa Ran Ran tidak menyadari ini sejak awal, bahwa orang yang akan menjadi pimpinan baru d’Art Fashion adalah Cho Kyu Hyun?. Seharusnya Ran Ran sudah bisa menebak sejak mendengar Cho Corporation, seharusnya ia sudah bisa tahu ketika Mrs Willson mengatakan anak dari pemilik perusahaan Cho itu akan datang. Bodoh.

“Hey, Nona. Kau tidak mendengarku?”

Ran Ran tergagap. Matanya mengerjap beberapa kali. Kesadarannya jelas tidak dalam kondisi yang bisa dikatakan baik. Semuanya terasa hampa dan waktu terasa berhenti saat itu juga. Sementara ia sendiri sekuat tenaga menahan tubuhnya yang bergetar hebat. Laki-laki itu sama sekali tidak berubah.

Sama sekali tidak ada yang berubah pada Kyuh Hyun. Laki-laki itu masih sama seperti dulu. Sikapnya, cara bicaranya, dan bahkan penampilannya, semuanya sama, kecuali satu. Satu hal yang berbeda yang membuat Ran Ran harus menelan pil pahit bulat-bulat, bahwa laki-laki itu tidak mengenalinya sedikitpun.

“Jeongsohamnida..” sekali lagi Ran Ran mengutarakan permintaan maafnya, sementara matanya tetap menatap lekat Kyuh Hyun. “Kurasa saya juga familiar dengan wajah Anda” ujar Ran Ran dengan bibir bergetar. Senyumnya terlihat kikuk dan terasa dipaksakan.

“Benarkah?”

Bukan hanya sebatas tahu atau pernah melihat tapi Ran Ran mengenalnya. Ia mengenal Kyu Hyun. Bahkan mengenalnya dengan sangat baik. Ran Ran tahu apa yang disukai dan yang tidak disukai Kyu Hyun. Setidaknya seperti itulah dulu.

Menatapnya seperti ini seakan membawa Ran Ran kembali ke masa-masa itu. Perlahan matanya menjadi kabur karena genangan air mata yang entah sejak kapan sudah menumpuk di pelupuk matanya. Dengan gerakan cepat Ia mengalihkan tatapannya dan sediki menunduk.

“Tapi mungkin saja hanya perasaan dejavu. Saya terlalu lama meninggalkan Korea, jadi tidak mungkin kita pernah bertemu sebelumnya.”

Entah dorongan apa yang membuat Ran Ran mengatakan itu. Tapi yang jelas, pikirannya menyuruh untuk tidak membahas masa lalu. Mungkin saja telah terjadi sesuatu selama lima tahun terakhir. Atau mungkin saja terjadi sesuatu pada Kyu Hyun karena kecelakaan itu.

“Ya.. kupikir juga begitu..”

                       

 

01.30 PM

Ran Ran kembali termangu dalama lamuannya. Jari tangannya terus saja mengetuk-ngetuk permukaan meja berbahan baku kayu itu dengan irama teratur. Masih sangat sulit untuk dipercaya bahwa baru saja ia bertemu Kyuh Hyun. Laki-laki itu, Cho Kyuh Hyun jelas orang yang sama yang pernah dikenalnya dulu sewaktu SMA. Ran Ran tidak salah lagi. Hanya ada satu orang bernama Cho Kyuh Hyun anak pemilik Cho Corporation.

Tapi kenapa dia bahkan tidak terkejut ketika melihat Ran Ran? Apa sesuatu telah terjadi?

Kenapa memikirkan itu saja sudah membuat Ran Ran ketakutan. Ketakutan itu sama seperti ketakutan yang pernah dirasakannya dulu saat Kyu Hyun masih terbaring tak berdaya di rumah sakit. Ketakutan tentang kehilangan orang yang sangat Ran Ran butuhkan.

“Olivia..”

“Yes?” Ran Ran mengangkat kepalanya begitu sebuah suara memanggilnya. Dilihatnya Blair sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dadanya. Sesaat Ran Ran hanya memperhatikan atasannya itu dengan kening berkerut.

Ada apa orang ini datang ke ruangannya? Dan jujur saja, jika Blair bukan atasannya sudah dipastikan Ran Ran menolak unuk bertemu. Apalagi kondisi fisik dan pikirannya baru saja terguncang hebat.

“What can i do for you?” Tanya Ran Ran berusaha bersikap biasa.

“You … What are you doing in the meeting? Mr Cho was disappointed with your design” Cecar Blair dengan nada tinggi yang menekan dan Ran Ran hanya mengernyitkan dahinya heran.

“What..?” tanyanya tidak mengerti.

Dia tidak puas dengan desain yang kau usulkan padanya. Katanya desain-desain itu bahkan sudah sering dilihatnya di Korea. Jadi apa yang sebenarnya Kau lakukan selama ini ha?”

“I don’t understand what do you say. He didn’t say such thing to me.”

Semuanya tidak masuk akal. Jelas-jelas Kyu Hyun tidak sedikitpun berkomentar negatif saat Ran Ran mempresentasikan desainnya. Jadi kenapa dia justru mengatakan itu pada Blair?

“I don’t care he said it directly or not. But You have to change the design. Three days from now, he wants to meet you again.”

Apa? mengubah desain dalam waktu tiga hari? Apa laki-laki itu tidak tahu mencari inspirasi desain baru itu tidak mudah?

“But, Mrs…”

“Three days, Olivia. If you can’t do it I’ll ask other designer.”

Ran Ran menghela nafasnya dengan kesal dan hanya bisa mengangguk pasrah. Tentu saja ia tidak boleh memberikan kepercayan ini pada orang lain. Well, bisa dibilang ini langkahnya untuk mencapai posisi yang lebih tinggi di perusahaan ini.

“Okay, I uderstand..”

“Good. Jangan membuat Kekacauan, mengerti?”

Ran Ran kembali mengangguk dan sedetik kemudian Blair pun melangkah pergi dari ruangan itu.

Cho Kyu Hyun. Dia sama sekali tidak berbeda dengan dulu. Sama-sama senang menyiksa orang. Tapi kenapa dia melakukannya?

Baru beberapa menit yang lalu hatinya memberontak tidak terima karena Kyu Hyun tidak mengenalinya, dan sekarang semua berubah seratus delapan puluh derajat. Apa dia sengaja melakukannya? Berpura-pura tidak tahu dan tidak kenal lalu membuat Ran Ran menderita seperti yang selalu dilakukannya dulu?

“Tsk… sama sekali tidak lucu, Cho Kyu Hyun..” Ran Ran mendengus kesal.

Tapi kenapa?

                       

 

Kyu Hyun’s room

01.38 PM

Kyu Hyun terlihat mempelajari berkas-berkas di mejanya ketika sekretaris Han masuk. Ia hanya melirik sekilas dan kembali memfokuskan pikirannya yang sebenarnya tidak fokus. Sejak pertemuannya dengan gadis Korea bernama Olivia, entah kenapa pikirannya susah diajak kerja sama. Dan Kyu Hyun sendiri bahkan tidak mengerti kenapa otaknya terus saja memikirkan gadis itu.

Gadis itu cantik. Ya.. Kyu Hyun akui itu. Tapi ia yakin bukan itu alasannya. Berkali-kali ia melihat gadis cantik yang mungkin lebih cantik dari gadis itu, tapi tidak pernah membuatnya seperti ini. Perkecualian untuk gadis itu, caranya menatap Kyu Hyun, senyum yang terlihat dipaksakan dan ekspresi senang yang tertahan, semuanya begitu melekat di pikiran Kyu Hyun. Dan jelas membuatnya tidak berhenti untuk memikirkannya.

“Aissh… “

Yakin otaknya memang sudah tidak beres, Kyu Hyun pun menyerah mempelajari berkas yang menumpuk di mejanya. Sudah satu jam, namun hanya sepertiga nya yang mampu ia mengerti. Dengan gerakan cepat ia melempar pena dan menyingkirkan berkas-berkas itu dari hadapannya, hingga sekretaris Han hanya bisa mengernyit heran melihatnya.

“Sekretaris Han..” panggilnya pada sekretaris pribadinya itu

“Ne, apa ada hal lain yang Anda inginkan?”

Kyu Hyun terlihat menghela nafasnya, berpikir sebentar, lalu Ia pun melanjutkan kalimat yang sudah di ujung lidah.

“Gadis bernama Olivia yang mendesain spring project, apa Kau tahu tentangnya?” tanya Kyu Hyun terus terang.

“Nde?”

Sekretaris Han beralih menatap Kyu Hyun tidak mengerti. Seakan-akan pertanyaan atasannya itu sangat tidak masuk akal dan tidak biasa. “Apa maksud Anda gadis korea yang bertanggung jawab dengan spring project?”

Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan mengangguk pelan. “Apa Kau tahu sesuatu tentangnya?” ia melanjutkan dan hanya dibalas senyum kecil oleh sekretarisnya.

“Saya hanya tahu dia bernama asli Shin Ran Ran. Kudengar dia juga sudah lama tinggal di Inggris, sekitar lima tahun.”

Jadi namanya Shin Ran Ran?

Bukan nama yang pernah Kyu Hyun dengar sebelumnya. Tapi kenapa rasanya bukan hal yang baru? Apa benar sebelumnya Kyu Hyun tidak pernah bertemu dengannya? Atau ada hal yang tidak diingatnya?

Pikirannya menjadi terlalu fokus pada nama itu, hingga membuatnya tidak sadar seseorang tengah berdebat dengan salah satu asisten di depan ruangannya. Dan tidak butuh waktu lama untuk Kyu Hyun tahu siapa orang yang sudah membuat keributan itu. Ia menolak mengakui, tapi entah kenapa ada perasaan aneh yang menggelitik begitu melihat gadis itu, Olivia atau Shin Ran Ran yang namanya sejak tadi memenuhi otaknya kini tengah berjalan mendekat ke arahnya.

Kaki gadis itu sedikit dihentakkan dan mata menatap tajam ke arah Kyu Hyun. Tapi tatapan itu jelas berbeda dengan tatapan yang dilihat Kyu Hyun sebelumnya.

“Mr Cho..” Serunya keras dan sukses membuat semua orang tercengang. Jangankan sekretaris Han, Kyuh Hyun bahkan berjengat kaget mendengarnya.

“Kau sengaja melakukan ini padaku? Kau pikir membuat design seperti itu mudah? Aku tahu Kau pemimpin di sini, tapi Kau tidak bisa berbuat seenaknya seperti itu. Menyuruhku mengganti design dengan yang baru dalam waktu tiga hari. Apa Kau sudah gila..?”

Gadis itu mencecar dan memberontak. Dan Kyu Hyun bahkan hanya bisa melihatnya tanpa bisa menyahut.

“Olivia-ssi..” Sekretaris Han mencoba mencegah tapi langsung diam begitu Kyu Hyun memberinya isyarat untuk itu.

“Apa Kau keberatan dengan permintaan itu?” Tanya Kyu Hyun paham ke mana arah pembicaraan ini. Gadis yang berdiri di depannya ini pasti sedang merasa kesal karena pesan -yang Kyu Hyun sampaikan pada Blair untuk mengganti design spring project dengan yang baru- sudah sampai di telinganya.

“Ne, Aku keberatan. Aku merancangnya selama satu bulan, termasuk dengan membandingkan pengaruh positif dan negatifnya. Aku bahkan sudah memikirkan kain apa yang akan dipakai dan bagaimana agar design ini bisa diterima.”

Ran Ran terus berbicara dengan bahasa informal pada Kyu Hyun. Salah satu hal yang akan membuat Kyu Hyun marah jika mendengarnya. Tapi entah kenapa dari tadi Kyu Hyun bahkan tidak menunjukkan ketidaksukaan pada bahasa yang Ran Ran gunakan.

“Cho Kyu Hyun kau benar-benar tidak berubah. Kau masih saja senang menyiksaku. Ck.. Asal Kau tahu saja, aku bukan Ran Ran yang dulu, dan aku tidak akan begitu saja tertipu dengan sikapmu yang pura-pura tidak mengenaliku.”

Deg~!!

Kali ini Kyu Hyun mengernyitkan dahinya. Pikirannya yang semula penuh dengan hal-hal tiba-tiba menjadi kosong. Kehampaan yang beberapa saat lalu dirasakannya kini hadir kembali. Satu hal yang pasti, ia tidak mengerti dengan ucapan gadis di depannya itu. Tapi Kyu Hyun yakin bukan hanya karena itu.

Apa maksudnya? berpura-pura tidak mengenali?

“Olivia-ssi, sebaiknya Anda keluar sekarang.” Ucap Sekretaris Han menengahi, sementara Kyu Hyun sendiri masih sibuk dengan pikirannya. Dengan sigap Sekretaris Han berjalan mendekati Ran Ran dan menarik lengannya keluar dari ruangan itu.

Gadis itu hanya bisa memberontak dan menolak diseret paksa. Tapi Kyu Hyun pun hanya termangu tanpa bisa melakukan apapun.

“Chakkamanyo, aku belum selesai dengannya. Yak, Cho Kyu Hyun~!! Jangan berpura-pura lagi, aku tahu apa yang Kau rencanakan.” serunya seiring dengan langkah kaki sekretaris Han yang terus saja menyeretnya hingga sudah berada di luar ruangan.

Pintu ruangan itu tertutup dan menyisakan Kyu Hyun di dalamnya dengan ekspresi terkejut dan shock. Wajahnya mendadak pucat pasi dan ia bahkan sulit untuk mencerna ucapan-ucapan yang baru saja di dengarnya. Semua terasa mendadak, dan kepalanya menjadi agak pusing memikirkannya. Sejenak matanya terpejam, sekedar meredam emosi yang ia senditi tidak tahu seperti apa tengah berkecamuk dalam dirinya.

Gadis itu.. apa Kyu Hyun pernah bertemu dengannya sebelumnya?

                       

“Lepaskan aku..” jerit Ran Ran memberontak kesal, saat sekretaris Han berhasil membawanya menjauh dari ruangan yang baru saja dimasukinya dengan nekat. “Ahjussi~!!!” teriaknya.

“Maafkan aku, Ran Ran-ssi tapi sikapmu sungguh tidak masuk akal.” Sekretaris Han melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Ran Ran dan mulai mengatur nafasnya.

Ia sungguh tidak mengerti kenapa sesuatu seperti tadi bisa terjadi. Dan bukannya hal ini tidak biasa. Jujur saja, menyaksikan incident Ran Ran yang berteriak pada Kyu Hyun mau tidak mau juga membuat Sekretaris Han mengingat perlakukan serupa yang pernah diterima tuannya itu beberapa tahun yang lalu.

Gadis itu, Shin Ran Ran masih orang yang sama yang dulu juga sering berteriak pada Kyu Hyun. Gadis sederhana yang pernah membuat tuan mudanya jatuh cinta setengah mati. Gadis yang kadang bisa membuat Cho Kyu Hyun bersikap tidak normal dan di luar nalar. Tapi gadis itu juga lah yang membuatnya terlihat lebih manusiawi. Hanya dengan melihatnya, akan membuat Cho Kyu Hyun tersenyum. Salah satu hal yang tidak akan sembarangan dilakukannya. Hanya dengan bersama gadis itu, dia akan bersikap lembut, ramah dan jauh dari sifat aslinya yang dingin.

Dan Sekretaris Han tentu mengetahui sedikit atau bahkan banyak hal tentang mereka berdua. Termasuk ketika Kyu Hyu kecelakaan dan Ran Ran harus pergi meninggalkannya.

“Dia benar-benar menyebalkan sama seperti dulu. Ck..” Ran Ran mendengus kesal. “Apa dia sengaja berpura-pura tidak mengenaliku untuk mengerjaiku?” gerutunya lagi dengan memandang kesal ke arah pintu ruangan yang sekarang sudah tertutup.

“Ran Ran-ssi..”

“Aku benar-benar tidak mengerti, Ahjussi. Sepertinya ada yang salah dengan otaknya itu.”

Dan Ran Ran selalu memanggil Sekretaris Han dengan Ahjussi. Sikap gadis itu menyenangkan, namun kadang dia akan adu mulut setiap kali bertemu Kyu Hyun. Kadang dia akan merasa kesal dengan sikap Kyu Hyun atau terkadang dia akan merasa marah yang begitu saja diluapkan. Hampir setiap hari Sekretaris Han melihat dua orang itu bertengkar dengan masalah sepele. Tapi bukan berarti mereka tidak peduli. Terkadang dari sikap mereka itulah, Sekretaris Han bisa melihat ketulusan yang diberikan tuan muda keluarga Cho itu untuk Shin Ran Ran.

Agashi..” Kali ini Sekretaris Han memanggilnya dengan sebutan nona. Sesuatu yang sudah lama tidak dilakukannya.

Wae?” Tanya Ran Ran kemudian.

“Tuan muda Cho Kyu Hyun…” Sekretaris Han menggantungkan ucapannya. Dan itu membuat Ran Ran mengernyit heran.

“Ada apa? Apa Kyu Hyun juga menyuruhmu untuk berpura-pura tidak mengenaliku?”

Sekretaris Han terlihat berpikir. Ia ragu untuk menceritakan semuanya pada Nona muda di depannya itu.

Ahjussi..!!”

Bagaimana Ia bisa mengatakan ini? Bahwa Tuannya itu kehilangan ingatannya karena kecelakaan lima tahun yang lalu.

Han Ahjussi, apa yang ingin kau katakan? Ekpresimu menakutiku..” ujar Ran Ran dengan nada bercanda.

Sekretaris Han menarik nafasnya dalam dan dengan pelan ia pun mengucapkan kalimat yang sejak tadi sudah menggantung di mulutnya. “Tuan muda Cho Kyu Hyun kehilangan ingatannya setelah kecelakaan lima tahun yang lalu.”

Mwo~?”

                       

 

08.00 PM

Langkah kaki Ran Ran terayun dengan gontai. Mungkin saja jika sekarang ia tidak sedang berada di jalanan, ia sudah menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Rasanya terlalu berat menompang tubuhnya sendiri. Sedangkan pikirannya sendiri sedang kacau.

Ketakutan itu menjadi nyata..

Kecelakaan itu menyebabkan hematoma di otaknya. Beberapa hari setelah Nona berangkat ke Inggris, Tuan muda menjalani operasi. Sayangnya operasi itu berefek samping. Dia kehilangan ingatannya.”

 Tubuh Ran Ran hampir saja meluruh jatuh mengingat percakapannya dengan Sekretaris Han tadi. Jadi Kyu Hyun tidak berpura-pura? Dia benar-benar tidak mengenal siapa Ran Ran.

Dia tidak ingat pada Presdir Cho, Ibunya dan bahkan Nona Ahra. Siapa teman-temannya pun tidak bisa diingatnya termasuk Nona Ran Ran

Hatinya mendadak begitu sakit, dan paru-parunya sesak. Kenapa begitu menyakitkan seperti ini? Setelah sekian detik berusaha menahan air mata, akhirnya Ran Ran menyerah dan membiarkan cairan bening itu mengalir di kedua pipinya. Sementara otaknya memutar kembali percakapannya dengan Han Ahjussi

“Tapi karena Tuan muda sangat pandai, dan operasi itu tidak mengubah kecerdasannya, Dia mampu mengingat kembali siapa keluarga dan teman-temannya hanya dalam beberapa minggu. Semua orang yang pernah berada di sekitarnya mampu dia ingat dengan baik. ”

Semua bisa diingatnya, kecuali dirinya. Ran Ran terus menekankan kalimat itu berulang kali. Dan semakin lama, justru membuatnya semakin tidak mengerti.

Hanya saja sampai sekarang Tuan muda masih belum bisa mengingat siapa Nona Ran Ran. Sepertinya ada ingatan yang tidak ingin diingat Tuan muda, karena itulah ada sebagian ingatan yang masih belum bisa diingatnya. Tapi saya bersyukur dia baik-baik saja sekarang meskipun kehidupannya berubah sejak kecelakaan itu.”

Semuanya tiba-tiba terasa hampa. Ketakutan dan kekhawatirannya dulu benar-benar terjadi sekarang. Kyu Hyun tidak mengingat Ran Ran. Namja itu menderita, dan itu karena Ran Ran.

Jika saja saat itu Ran Ran tidak egois. Jika saja Ran Ran menyadari sejak awal Kyu Hyun bukan hanya sebatas rival dalam pertarungan game, atau lawan debatnya. Mungkin saja, Kyu Hyun tidak akan kehilangan ingatan seperti ini. Mungkin saja kecelakaan itu tidak terjadi.

Tanpa Ran Ran sadari kehadiran Laki-laki itu lebih dari sekedar teman bertengkar.  Kebutuhannya ternyata lebih dari itu. Sayangnya Ran Ran tidak menyadarinya dan justru menyakitinya.

                       

 

Dong Hae’s Apartement

07.45 PM

Kyu Hyun berdiri di depan apartement hyungnya dengan sedikit ragu. Tujuannya datang sebenarnya bukan hanya untuk memenuhi undangan Dong Hae tapi karena ada hal yang ingin Kyu Hyun tanyakan pada hyungnya itu.

“Aku pikir Kau tidak akan datang.” Setelah melihat Kyu Hyun yang berdiri di depan pintu apartementnya, Dong Hae pun mengajaknya masuk ke dalam.

Kyu Hyun menyahuti dengan senyum tipis “Tentu saja aku datang. Aku bukan tipe orang yang melupakan janji, Hyung. Jadi, di mana gadismu itu?” Ia berjalan lebih dulu dan melihat sekeliling ruangan. Warna putih mendominasi apartement ini. Dan Kyu Hyun tahu Dong Hae sama terobsesinya dengan warna putih seperti Lee Teuk.

“Dia akan datang tapi mungkin agak terlambat. Sejak aku mengajaknya untuk menikah, dia semakin rajin memperbaiki kepribadiannya yang agak tomboy.” Dong Hae menjawab pertanyaan Kyu Hyun dengan sesekali tersenyum sendiri. Entah apa yang dipikirkannya

Kyuhyun tersenyum kecil menanggapinya dan memilih duduk di sofa panjang di ruangan itu. “Siapa namanya?” Tanya Kyu Hyun kemudian.

Gadis yang terus saja dibicarakan hyungnya itu, katanya Kyu Hyun juga mengenalnya, tapi entah kenapa ia tidak ingat. Karena efek operasi yang pernah dijalaninya, mau tidak mau Kyu Hyun harus mencoba mengingat kembali ingatannya di masa lalu. Sebagian memang sudah bisa diingatnya. Siapa itu Dong Hae dan apa hubungannya dengannya, Kyu Hyun ingat soal itu. Beberapa teman-teman di universitasnya juga mampu diingatnya. Sayangnya ingatannya itu masih belum kembali seratus persen. Jelas ada beberapa orang di masa lalunya yang belum bisa diingatnya dengan baik.

“Yak~! Bagaimana mungkin Kau tidak ingat padanya..” mendadak Dong Hae menggantungkan ucapnnya begitu ingat kondisi Kyu Hyun. “Ah.. kuere.. Kau pasti tidak ingat padanya.”

Kyu Hyun lagi-lagi hanya bisa tersenyum dan mengangguk. “Katakan padaku siapa dia. Apa dia salah satu temanku?”

“Park Chany. Kau tidak berteman dengannya, tapi dia berteman baik dengan gadis yang sangat kau sukai.”

Kali ini Kyu Hyun mengernyit heran mendengar ucapan Donghae barusan. Ia menoleh dan menatap Dong Hae, meminta penjelasan lebih dari ucapan tiba-tibanya. Dilihatnya Dong Hae hanya tersenyum dan sepertinya enggan menjawab tanda tanya besar di kepala Kyu Hyun saat ini.

 “Siapa nama gadis yang dulu aku sukai?” Tanya Kyu Hyun tiba-tiba.

Dong Hae menoleh pelan dan terlihat ragu untuk menjawab. “Kau masih belum ingat padanya?”

“Hyung, aku bertanya padamu..” desak Kyu Hyun tidak sabar. Ada sesuatu yang harus dipastikannya saat ini. Dan pikirannya mengatakan bahwa hyungnya ini mungkin bisa membantu. “Bagaimana aku bisa mengingatnya, aku bahkan tidak bertemu dengannya.” Kyu Hyun mendengus kesal.

“Dia sedang di Inggris, kalau Kau ingin bertemu.” Ucap Dong Hae kemudian yang mau tidak mau membuat Kyu Hyun membelalakan matanya.

“Mwo?”

“Eo..Sebenarnya aku tidak akan memberitahumu secara detail. Lebih baik kau cari tahu sendiri tentangnya.  Setelah Kecelakaan itu, dia pindah ke Inggris. Beberapa kali aku bertemu dengannya di Korea saat liburan, tapi setahuku dia menetap di sini sekarang. Aigoo.. aku masih tidak percaya Kau tidak mengingatnya, padahal setahuku dulu Kau sangat mencintainya.”

Benarkah itu? Bahwa dulu Kyu Hyun sangat mencintainya? Tapi kenapa tidak ada sedikit pun ingatan tentang cinta pertamanya yang berhasil digalinya?

“Aku tahu sekarang sudah ada Sei Ra di hidupmu, jadi lebih baik jangan menggali kenangan cinta pertama itu terlalu dalam, arra?” Dong Hae menepuk pundak Kyu Hyun beberapa kali.

Kyu Hyun diam seketika. Tepat saat itu seorang gadis berambut sebahu masuk ke dalam ruangan itu dan langsung di sambut Dong Hae.

“Waesso? Kenapa lama sekali?” dilihatnya Dong Hae sudah berjalan menghampiri gadis itu dan berdiri di dekatnya setelah sebelumnya memberi pelukan singkat.

Kyu Hyun memperhatikan pasangan itu sebentar. Gadis yang bersama hyungnya itu pasti yang bernama Park Chany. Namun perhatiannya begitu saja beralih pada ponsel di meja depannya yang tiba-tiba bergetar karena panggilan masuk dari sekretaris Han.

Kyu Hyun memperhatikan sebentar ponselnya itu yang terus bordering sebelum akhirnya ia mengambil ponsel itu dan menempelkannya di telinga “Ne.. ada apa?”  jawabnya setengah member isyarat sebentar pada Dong Hae yang  menyuruhnya untuk berkenalan dengan gadis di sampingnya.

“Nona muda Ahra ingin Anda menjemputnya di bandara jam 9. Anda sedang di mana?”

Kyu Hyun mengernyit sebentar mendengar berita kedatangan kakak perempuannya itu yang sangat mendadak. “Kenapa Kau tidak bilang kalau dia mau datang?”

“Dia melarang saya memberitahu Anda.”

“Aissh.. Dasar Cho Ahra..” Kyu Hyun sedikit mengumpat, “Aku mengerti.,”  lanjutnya kemudian.

Kyu Hyun hanya mengiyakan permintaan kakaknya yang disampaikan sekretarisnya itu. Setelahnya sambungan di telepon genggam itu pun terputus. Setengah mendengus kesal, Kyu Hyun melempar ponselnya ke meja hingga menimbulkan suara keras. Dong Hae dan Chany yang semula memperhatikan hanya bisa mengernyit heran.

“Waegure? Apa ada masalah?” Tanya Dong Hae

“Aniya.. Aku hanya harus pergi sekarang.” Kyu Hyu meraih ponselnya lagi dan bergerak berdiri. “Noona dalam penerbangan ke London, dan dia dengan seenaknya menyuruhku menjemputnya di bandara.”

“Ahra?”

“Eo.. Aku akan menemui mu besok.” Ujar Kyu Hyun cepat sebelum hyungnya itu meledak kesal karena Kyu Hyun mangkir dari janjinya lagi “Senang bertemu denganmu, Chany-ssi. Ku harap Hyungku tidak merepotkanmu.” Lanjutnya pada Chany yang langsung mendapat lirikan mata tajam dari Dong Hae

“Aku pergi sekarang. Sampai jumpa besok.”

“Yakk, Jangan lupakan kata-kata ku tadi.” Teriak Dong Hae penuh arti sesaat setelah Kyu Hyun mencapai pintu keluar.

Kyu Hyun yang mendengar teriakan itu hanya tersenyum

Bagaimana jika Kyu Hyun menolaknya? Bagaimana jika Kyu Hyun ingin mengingat cinta pertamanya itu?

                       

 

London Heathrow Airport

09.00 PM

“Kyu Hyun-ah..” Seorang gadis yang baru saja keluar terlihat melambaikan tangannya pada Kyu Hyun. Sebuah koper yang cukup besar diseretnya dengan sedikit susah payah. Kyu Hyun sedikit mengernyit heran. Karena alih-alih menemukan kakaknya seperti yang tadi dikatakan sekretarisnya, dia justru bertemu kekasihnya. Lee Sei Ra.

“Lee Sei Ra, apa yang kau lakukan di sini?” tegur Kyu Hyun tidak mengerti, ia kembali melihat kearah pintu keluar bagi para penumpang dan tidak ada sosok kakaknya di sana. “Noona.. di mana dia? Kau datang bersamanya?” Tanya Kyu Hyun.

“Oh.. apa ini caramu menyambut kekasihmu? Ck… “ Sei Ra memanyunkan bibirnya berpura-pura kesal. Tapi Kyu Hyun hanya diam, tanda bahwa dia sedang tidak suka meladeni candaan gadis itu. Sei Ra menghela nafasnya mengerti “Penerbangan Ahra eonnie diganti besok pagi, ada sesuatu yang harus diselesaikannya. Kenapa wajahmu seperti itu, ha? Kau tidak senang aku datang?”

“Kenapa Kau datang?”

Sei Ra semakin memanyunkan bibirnya “Aku tahu kau pasti akan mengataiku berlebihan, tapi.. aku merindukanmu, Kyu. Jadi, aku datang menemuimu. Siapa suruh kau tidak pernah menghubungiku setelah sampai di Inggris.” Ujar Sei Ra kemudian lalu tersenyum manis. Senyum yang biasa Kyu Hyun lihat setiap kali Sei Ra jujur tentang perasaannya. Dan diam-diam Kyu Hyun ikut tersenyum mendengarnya.

Gadis ini.. Kyu Hyun memilikinya. Tapi kenapa seperti ada yang hilang darinya? Sesuatu yang dulu pernah dirasakannya namun tidak pernah dirasakannya saat bersama Sei Ra.

“Aku sibuk, jadi tidak sempat menghubungimu..”

“Asal Kau tidak melirik yeoja lain di sini, aku akan memaafkanmu.” Ujar Sei Ra lagi yang tiba-tiba sudah mengamit lengan Kyu Hyun dan berjalan di sampingnya, menuju mobil yang terpakir di depan. Sedangkan Kyu Hyun tanpa diminta sudah menarik koper yang tadi dibawa Sei Ra.

Ia mengamati Sei Ra dari samping. Sekali lagi Kyu Hyun tersenyum kecil, dan mendadak ada perasaan bersalah yang menyelimutinya. Rasa bersalah karena keinginannya untuk mengenal cinta pertamanya dulu. Tapi sungguh Ia ingin sedikit bersikap egois. Setidaknya ingatan tentang siapa gadis yang pernah menjadi cinta pertamanya itu harus diingatnya. Karena entah kenapa hatinya mengatakan bahwa gadis cinta pertamanya itu ada di sekitarnya saat ini. Ia hanya belum yakin, dank arena itulah ia ingin mencari tahu dan meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku akan berada di sini selama satu minggu. Jadi, jangan mengabaikanku, mengerti?” sesampainya di tempat parker, Sei Ra langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Sementara Kyu Hyun memasukkan koper gadis itu ke dalam bagasi.

 “Aku tidak janji akan menemanimu, tapi aku akan mengusahakannya.” Ujar Kyu Hyun. Ia berjalan ke depan dan juga masuk ke dalam mobil, menyalakan mesinnya, lalu mobil itu pun melaju dengan pelan.

“Arraso, Kau pasti sangat sibuk. Apa gadis di  sini cantik-cantik?” Tanya Sei Ra tiba-tiba. Ia memperhatikan ke luar jendela dan terlihat kerlap-kerlip lampu kota London yang menurutnya sangat indah.

 “Tidak hanya cantik tapi seksi.” Ujar Kyu Hyun yang langsung mendapat lirikan mata tajam dari Sei Ra.

“Yakk~~!! Berani melirik mereka, awas Kau~!!!” ancam Sei Ra tapi hanya ditanggapi tawa ringan oleh Kyu Hyun.

“Menurutku gadis korea itu masih lebih baik.” Ucap Kyu Hyun kemudian.

Ingatannya tiba-tiba kembali pada gadis keturunan Korea yang tadi pagi membuat keributan di ruangannya. Seorang gadis yang entah kenapa, Kyu Hyun merasa mengenalnya. Dan sikap gadis itu juga member isyarat kalau dia juga mengenal Kyu Hyun.

Mungkinkah dia gadis yang Dong Hae maksud tadi? Tapia pa itu mungkin? gadis itu adalah cinta pertamanya? Rasa-rasanya terlalu tidak mungkin. London sangat luas, dan kemungkinan masih banyak orang korea yang tinggal di sini. Jadi terlalu dini jika menarik kesimpulan gadis korea yang ditemuinya adalah gadis yang sama yang diceritakan Dong Hae.

                       

 

d’Art Fashion

09.30 AM

Kyu Hyun sedang mempelajari berkas di mejanya, ketika terdengar ketukan di pintunya. Seorang wanita tinggi dan berambut pirang yang merupakan salah satu asistennya dilihatnya berjalan ke arahnya.

“What is it?” tanya Kyu Hyun tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari berkas laporan di tangannya.

“You have a guest, Sir. She said, she’s your girlfriend.”

Kyu Hyun seketika itu menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan wanita di depannya itu. Apa yang dikatakannya? Lee Sei Ra mengunjunginya di kantor? Tidak butuh waktu lama untuk Kyu Hyun mendapatkan jawaban atas keterkejutannya. Karena saat ini dilihatnya Sei Ra sudah berjalan dari belakang wanita itu menuju ke arahnya dan tersenyum lebar pada Kyu Hyun.

“Neo..wae yeogisso?” tanya Kyu Hyun. Ia meletakkan berkasnya dan berjalan mendekati Sei Ra. Dilihatnya pintu ruangannya sudah tertutup kembali selepas wanita tadi pergi.

“Kau sibuk?”

“Kau bisa melihatnya sendiri kan?”

Sei Ra memperhatikan meja kaerja Kyu Hyun dan hanya mengedikkan bahunya singkat, mengabaikan kenyataan bahwa sebenarnya kekasihnya itu memang sibuk.

“Wae?, jangan katakan Kau ingin aku menemanimu jalan-jalan.” Tebak Kyu Hyun kemudian. Jujur saja tidak ada alasan lain untuk Sei Ra mengunjungi kantornya di jam seperti ini. Apalagi Kyu Hyun ingat, semalam ia menolak dengan sangat keras saat Sei Ra memintanya untuk menemani jalan-jalan hari ini.

Sei Ra berjalan mendekati meja Kyu Hyun dan memperhatikan sebentar berkas-berkas yang sedang dikerjakan kekasihnya itu. Lalu ia hanya tersenyun dan berbalik menuju sofa di bagian samping ruangan itu. “Aku akan di sini. Melihatmu bekerja.” Ujarnya.

“Mwo?”

“Aku janji tidak akan menganggu.” Sahut Sei Ra cepat sembari mengacungkan tangannya membentuk huruf ‘V’ ”Aku hanya akan duduk di sini dan melihat. Setelah jam makan siang aku akan pergi.”

Kyu Hyun diam, terlihat berpikir dan akhirnya ia tidak bisa menolak saat Sei Ra menunjukkan aegyonya setiap kali menginginkan sesuatu. Ia menghembuskan nafasnya pelan dan mengangguk. “Baiklah, lakukan apa yang kau inginkan.” Decaknya agak kesal karena kali ini ia tidak bisa menolak permintaan gadis itu.

Bagaimana pun juga Kyu Hyun curiga jika ia tidak memperbolehkan Sei Ra berada di sini, gadis itu pasti akan merencanakan sesuatu yang pada akhirnya akan membuat Kyu Hyun kesulitan. Misalnya saja menyuruh Kyu Hyun untuk mengajaknya jalan-jalan seharian, atau memaksanya berada di dapur dan membantu gadis itu memasak. Itu hanya dua hal yang mungkin, selebihnya Kyu Hyun yakin gadis itu masih punya segudang cara.

Tapi sudahlah, keberadaan Sei Ra di tempatnya bekerja ada baiknya juga. Paling tidak gadis itu menjadi satu-satunya alasan untuk Kyu Hyun tidak berlari menghampiri gadis keturunan korea bernama Shin Ran Ran yang sejak kemarin menggannggu pikirannya.

                       

 

“Olivia, can you bring this file to Mr. Cho? I have a guest in the meeting room.” Ran Ran mendongakkan kepalanya dan dilihatnya Mrs Wilson sudah berdiri di depannya dengan beberapa berkas dalam map yang diserahkan padanya. “He’s waiting for this file.” Ucapnya lagi dengan tatapan memohon.

Ran Ran menghela nafasnya lemah dan mengangguk. Ia tidak tega pada atasannya itu. “Okay, I’ll do it.” Ucapnya setengah hati.

“Thank You..”

Selepas Mrs Wilson pergi, Ran Ran pun beranjak dari tempat duduknya. Mengambil langkah beratnya menuju ruangan yang kemarin sempat dikacaukannya. Setidaknya ruangan itu tidak akan sekacau hatinya saat ini.

Sungguh, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika bertemu Kyu Hyun. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruangan Kyu Hyun. Ran Ran mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu pelan, kemudian dengan gerakan tangan yang pelan juga, ia membuka knop pintunya.

“Sajangnim, ini file laporan dari Mrs Wilson.” Ran Ran berujar pelan dan tepat saat itu Kyu Hyun mengangkat kepalanya dan mengangguk pada Ran Ran.

“Taruh saja di meja.”

Ran Ran menghembuskan nafasnya lemah dan melangkahkan kakinya mendekati meja Kyu Hyun. Meletakkan file titipan dari Mrs Wilson di atas meja lalu matanya melirik Kyu Hyun yang sekarang sudah kembali sibuk dengan berkas-berkasnya. Dengan hati-hati, Ran Ran memperhatikan laki-laki yang sedang duduk berkonsentrasi dalam diamnya.

Cukup lama Ran Ran memperhatikannya. Mungkin saja jika lebih lama lagi, ia akan kesulitan mengontrol perasaannya sendiri. Detak jantungnya sangat cepat dan seperti ada yang menusuk-nusuk di dadanya, membuatnya sulit bernafas dnegan baik, sementara matanya mulai memanas.

“Ehem..” seseorang berdehem pelan.

Dan Ran Ran langsung tersadar. Ia menoleh kebelakan, kearah sofa yang terletak di bagian samping. Dilihatnya seorang wanita tengah duduk di sofa itu dengan kaki menyilang serta tangan memegang sebuah majalah. Matanya menatap Ran Ran tajam.

Sungguh, sejak kapan ada orang lain selain dirinya dan juga Kyu Hyun di ruangan ini? Atau wanita itu memang sudah di sana sejak tadi?

“I’m sorry. I didn’t know you have a guest.” Ucap Ran Ran cepat sebelum menimbulkan kesalah pahaman. Ia kembali menoleh kea rah Kyu Hyun yang ternyata juga sedang menatapnya, kemudian bergantian pada wanita tadi.

“Sorry, Miss. I will go now.” Ia membungkuk cepat kea rah wanita itu.

Bukannya mengatakan hal yang akan membuat Ran Ran sulit, wanita tadi justru tersenyum lebar. Seiring senyum itu, tatapannya pun berubah tidak lagi tajam. “Kenapa kau terlihat takut seperti itu? Apa kau juga orang Korea? Ahh.. betapa beruntungnya aku bertemu dengan orang Korea selain Kyu Hyun.” Ia berdiri dan menghampiri Ran Ran.

Ran Ran sendiri hanya bisa mengernyitkan dahinya, merasa bingung sendiri apa yang harus dilakukannya. “Ah Ne.. saya orang Korea.”

Wanita itu tersenyum dan masih akan mengucapkan sesuatu sebelum akhirnya Kyu Hyun menyahut “Ran Ran-ssi, aku bisa meminta bantuanmu? Tolong bawa Sei Ra berkeliling, aku tidak bisa melakukannya jadi aku memintamu untuk menemaninya berjalan-jalan.” Sergahnya

“Kuere.. itu lebih baik. Dari pada aku harus menunggu Kyu Hyun di sini. Kau tahu, di sini benar-benar membosankan.”

“Tapi Sajangnim, pekerjaan saya..” Ran Ran tidak lagi bisa menolak atau mengatakan apapun, karena wanita bernama Sei Ra tadi sudah langsung mengamit lengannya dengan sangat akrab.

“Tenang saja, karena Kyu Hyun yang memintamu, kurasa dia tidak akan marah kau absen hari ini.” Sei Ra tersenyum dan seakan mereka adalah teman lama, dia pun menarik Ran Ran keluar dari ruangan Kyu Hyun.

                       

London’s Street

11.00 AM

Hari itu, Ran Ran benar-benar menghabiskan setengah hari bersama Lee Sei Ra. Seorang gadis yang baru diketahunya sebagai kekasih Kyu Hyun. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi mengontrol perasaannya yang semakin campur aduk ini. Tidak hanya melupakannya, tapi laki-laki itu bahkan sudah mempunyai kekasih. Dan kalau tadi ia tidak salah dengar, mereka akan segera menikah.

Apa ia cemburu? Entahlah. Seharusnya perasaan cinta untuk Kyu Hyun yang bertahun-tahun sudah hilang sekarang, mereka juga tidak pernah saling berkomunikasi. Sebelum akhirnya Ran Ran mengetahui laki-laki itu kehilangan ingatannya. Jadi seharusnya perasaan itu tidak ada lagi. Tapi kenapa rasanya menyakitkan?

“Bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum kembali?” Sei Ra menghentikkan langkah kakinya dan menunjuk salah satu deretan café di London street ini. Ran Ran mengagguk dan mengikuti saja langkahnya masuk ke café itu.

“Aku senang bisa bertemu denganmu.” Ungkap Sei Ra.

Ran Ran hanya tersenyum dan mengangguk. Sejak tadi ia memang tidak banyak bicara dan hanya menanggapi ucapan Sei Ra seperlunya saja.

Memasuki café itu, mereka memilih duduk di kursi yang tepat berada di dekat jendela. Posisi itu membuat mereka bisa leluasa melihat jalanan di luar. Terlihat beberapa orang berjalan kaki atau naik sepeda, pemandangan yang indah di tengah kota London yang sibuk.Ran Ran terlalu menikmati pemandangan di luar jendela hingga mungkin terlihat sedang melamun sekarang.

“Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat tidak bersemangat dari tadi.  Wae?” tanya Sei Ra untuk entah yang keberapa kalinya. Dia tersenyum ramah pada Ran Ran. “Tenang saja, Kyu Hyun tidak akan memarahimu. Karena kau sudah bersedia menemaniku jadi tidak perlu takut, euhm?”

Selalu itu yang dikatakan Sei Ra sejak tadi. Padahal kenyataan nya bukan karena Ran Ran takut Kyu Hyun akan memarahinya. Tapi lebih pada ketakutan akan perasaannya sendiri yang ia sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti ini.

“Aniyo, aku tahu Sajangnim tidak akan marah, karena dia sendiri yang memintaku menemani kekasihnya.” Ran Ran membalas senyum itu tipis.

“Kyu Hyun itu orangnya memang kadang sangat menyebalkan. Sikapnya sangat dingin pada semua orang termasuk aku. Ck.. aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa bertahan bersamanya.” Ucap Sei Ra yang diselingi kekehan kecil.

“Aku yakin meskipun dia orang yang sangat dingin, tapi dia pasti sangat mencintaimu.”

“Ku harap begitu. Kau tahu, kadang aku masih merasa seperti bayangan cinta pertamanya.” Sahut Sei Ra, yang langsung membuat Ran Ran tercekat seketika. Ia mendongakkan kepalanya, menatap Sei Ra mencari tahu.

Deg.!

“Ba..bayangan cinta pertama?”

“Euhmm.. Aku yakin tidak banyak karyawannya yang tahu, tapi aku ingin memberi tahumu. Jadi, jangan katakana pada siapapun, hmm?” Sei Ran mencondongkan kepalanya dan besikap serius. “Kyu Hyun mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Dan karena kecelakaan itu dia kehilangan ingatannya. Ia tidak ingat orang-orang yang berada di sekitarnya, termasuk cinta pertamanya di SMA. Ku dengar dia sangat mencintai gadis itu. Tapi sayangnya gadis itu berkhianat dan setelah kecelakaan itu, gadis itu pergi keluar negeri. Aku tidak mengerti kenapa gadis itu tega meninggalkan Kyu Hyun yang masih dalam keadaan koma.”

Lagi. Dadanya terasa terkoyak. Sesak. Kilatan kejadian 8 tahun yang lalu mendadak hadir di depan matanya.

“Sadar dari koma, Kyu Hyun tidak ingat apapun. Dan saat itu aku bersyukur dia kehilangan ingatan. Dengan begitu ia akan melupakan gadis yang sudah menyakitinya. Aku dengar kecelakaan yang menimpanya juga terjadi karena gadis itu.

Hantaman semu itu kembali mengarah tepat di hatinya. Sakit.

“Kalau aku bertemu dengan gadis itu, rasanya aku sangat ingin mencekiknya.”

Ya.. mungkin Ran Ran pantas menerimanya. Ia terlalu banyak menyakiti Kyu Hyun. Terlalu banyak rasa sakit yang ditinggalkannya untuk Kyu Hyun.

“Itulah kenapa aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin dia terluka lagi.” Sei Ra mengakhiri ceirta itu dengan helaan nafas panjang.

Sedangkan Ran Ran semakin tidak kuasa mengontrol perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Ketakutan jika Sei Ra tahu dia lah gadis yang menjadi cinta pertama Kyu Hyun, dan dialah orang yang membuat Kyu Hyun mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan.

“Kau tidak apa-apa? Sebenarnya ada apa dengamu, Ran-ssi? Kau sakit?” tanya Sei Ra lagi, memastikan kondiri Ran Ran yang baginya terlihat pucat. “Kau pucat..”

Pucat?

“Nde? Ah.. aniyo. Aku baik-baik saja. Sungguh, mungkin aku hanya kelelahan karena tadi malam harus lembur.” Sebisa mungkin Ran Ran tersenyum dan berpura-pura baik-baik saja.

“Maafkan aku. Seharusnya kau beristirahat dan bukannya menemaniku jalan-jalan. Tenang saja sebentar lagi Kyu Hyun datang. Dia akan mengantarmu pulang.”

“Nde?” Ran Ran berjengat dari tempatnya.

“Aku menyuruhnya datang kemari untuk makan siang bersama. Kalau dia sudah datang lebih baik kau pulang dengannya.” Lanjut Sei Ra menjawab keterkejutan di wajah Ran Ran.

Tepat saat itu, ketika keterkejutannya belum hilang, Ran Ran kembali dibuat terkejut. Karena di pintu masuk seoangg laki-laki berjas yang sudah sangat familiar bagi keduanya masuk dan berjalan kearah mereka.

“Oh.. Kyu Hyun-ah, waesso?” Sei Ra melambaikna tangannya kearah Kyu Hyun. Dan laki-laki itu entah sejak kapan sudah berada di depan Ran Ran, lalu duduk di salah satu kursi kosong yang tersisa.

Ran Ran bisa merasakan degup cepat jantungnya. Ia sama sekali tidak berani menatap Kyu Hyun, tidak sedikit pun. Entah karena takut Kyu Hyun mengenalinya atau takut Kyu Hyun menyadari perubahan raut wajah dan mungkin saja Kyu Hyun akan mendengar detak jantungnya ini.

Kepalanya terus menunduk, jari-jarinya saling meremas, menyesakkan.

“Kau sakit?” tegur Kyu Hyun tiba-tiba.

Ran Ran cepat mengangkat kepalanya jika tidak ingin dibilang tidak sopan pada atasannya, ia menggeleng pelan. “Animida, Sajangnim.”

“Tapi wajahmu pucat, Ran Ran-ssi..”

“Ah.benar kan? Sudah aku bilang kau sedang sakit. Kyu Hyun-ah, kenapa kau tidak mengantarnya pulang saja? Aku merasa bersalah karena mengajaknya keluar.” Sahut Sei Ra cepat sebelum Ran Ran sanggung menyanggah lagi ucapan Kyu Hyun barusan.

Ia bersiap menolak ide Sei Ra barusan, tapi Kyu Hyun lagi-lagi menyahut. “Kuere, sebaiknya kau pulang. Bagaimana denganmu? Kau juga ini pulang sekalian, biar kuantar.” Lanjutnya beralih pada Sei Ra. Tapi gadis itu menggeleng dengan cepat.

“Dwesso, ada sesuatu yang harus aku lakukan. Kedatanganku ke London bukan hanya untuk bertemu denganmu, Kyu. Antarkan saja Ran Ran aku bisa pulang sendiri.”

“Baiklah. Kajja, Ran-ah..” Kyu Hyun berdiri dari tempat duduknya dan sudah bersiap menarik lengan Ran Ran, tapi dengan cepat Ran Ran sudah berdiri dari tempat duduknya.

“Saya bisa pulang sendiri. Sebaiknya Sajangnim menemani Sei Ra-ssi saja.”

“Aku tetap akan mengantarkanmu pulang.” Tegas Kyu Hyun. “lagipula Sei Ra tahu apa yang akan dilakukannya. Ia tidak akan senang aku ikut campur dalam urusan bisnisnya.” Kyu Hyun melirik sebentar pada Sei Ra dan ditanggapi senyum lebar.

“Itu benar. Kalian pulanglah.”

Sekali lagi Ran Ran bersiap mengeluarkan penolakannya tapi Kyu Hyun tanpa seijinnya sudah menarik lengan gadis itu. Dan Ran Ran tidak bisa berkutik selain member hormat sebisanya pada Sei Ra yang menatapnya tersenyum .

                       

 

“Seharusnya Sajangnim tidak perlu mengantar saya.” Ran Ran membuka suara ketika keduanya sudah berada di mobil.

“Ran Ran-ssi, ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Sahut Kyu Hyun kemudian. Mobil yang mereka tumpangi kembali berjalan ketika lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. “Kau mengatakan sesuatu padaku kemarin bahwa aku berbohong padamu. Apa maksud ucapanmu itu? Kau mengenalku? Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?”

Untuk kedua kalinya Ran Ran merasakan detak jantung yang berlebihan. Ia menoleh dan hanya bisa melihat raut wajah ketidakmengertian dari Kyu Hyun. Wae? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?

“Aku tidak tahu, tapi aku merasa memang pernah bertemu denganmu sebelumnya. Entah kapan, tapi aku yakin wajahmu familiar untukku. Apa kita pernah bertemu sebelum ini?” tanyanya lagi.

Kali ini Ran Ran memalingkan wajahnya dan memilih memperhatikan jalanan di depan. Jika saja ia tidak sedang berada satu mobil dengan Kyu Hyun, ia sudah menangis sekarang. Ia sangat ingin menangis.

“Apa mungkin kita pernah satu SMA di Korea sebelum kau pindah ke Inggris?”

Dadanya makin sesak, dan dirasakannya kedua matanya sudah memanas. Jika boleh meminta, Ran Ran ingin segera keluar dari mobil ini sebelum tangisnya benar-benar pecah.

Apa yang harus dilakukannya? Mengiyakan dan mungkin membuat Kyu Hyun menyadari ia telah berbuat jahat padanya, ataukah mengelak dan membiarkan semuanya seperti sekarang.

“Mungkin kita memang pernah bertemu di masa-masa itu. Sayangnya aku kehilangan ingatanku, jadi aku tidak ingat.” Dengan santainya Kyu Hyun bicara seperti itu. Dan sayangnya semakin membuat Ran Ran merasa bersalah.

“Jika memang kita pernah bertemu dan saling mengenal, aku sangat senang mengetahuinya.” Ujarnya lirih.

Ran Ran langsung kembali menolehkan kepalanya. Setetes cairan bening sudah menetes di pipinya. Kenapa rasanya begitu menyakitkan? Benarkah kau senang? Meskipun orang yang duduk di sampingmu ini adalah orang yang membuatmu kecelakaan dan kehilangan ingatanmu.

CUT

Mianhae, saya lambat sekali melanjutkan ff ini. Huft.. problema author kadang kehilangan feel, feelnya lagi dapat buat nulis bittersweet dan satu ff lain, yg masih rahasia. ^^

Saya nggak mau ngomong banyak di part ini. Tapi terima kasih buat yang mau baca ff gaje dan ancur milik saya ini. Sampai jumpa lagi *Bow*

Advertisements

4 thoughts on “(Fanfiction) Let’s Meet Again Someday : Everything Has Change

  1. Andwaeyoooooooooooo T.T
    Kangen Kyuhyun 😦 sekarang udah sama Kyungsoo #halah
    hogshi….KyuRan? huwaaaaaaaaaa #galausendiri

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s