(Ryeomin story) Kitchen Accident

Title     : Kitchen Accident

Cast     : Ryeowook, Minrin

Genre : Romance, Comedy,

Rating  : PG 15

Length : Oneshoot (3177 words)

Author : Whin (@elizeminrin)

Disclaimer : Hanya sebuah Fanfiction. I just have the story.

09.00 AM

Minrin’s Apartement

Pagi hari di bulan November yang terasa berbeda. Bukan karena musim dingin akan segera tiba yang menyebabkan udara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Melainkan karena ekpressi wajah Ryeowook yang terasa berbeda bagi Minrin. Saat ditanya, Ryeowook hanya bilang tidak apa-apa. Tapi jika diperhatikan jelas ada sesuatu. Dan jujur saja Minrin benci seperti ini.

Memangnya apa sulitnya menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Minrin? Toh, ia juga tidak akan menceritakannya pada orang lain, jika Ryeowook memintanya begitu.

“Neo, waegure?” tanya Minrin lagi. Entah untuk keberapa kalinya. Tapi hanya ditanggapi gelengan kepala ringan oleh Ryeowook, yang jujur saja semakin membuat Minrin jengkel dibuatnya.

Kejadian ini mengingatkan inciden sukita beberapa minggu yang lalu dan membuat Ryeowook datang ke apartementnya dini hari buta. Memang tidak sama persis, tapi setidaknya sama. Entah bagaimana perasaan yang dirasakannya saat itu, tapi hanya dengan melihat ekpresinya saja sudah membuat Minrin yakin ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. Dan ketika lagi-lagi ekpressi itu yang diperlihatkan Ryeowook saat datang satu jam yang lalu, cukup membuat Minrin menarik kesimpulan yang sama seperti dulu.

Minrin melirik lagi ke arah Ryeowook, yang dilihatnya hanya diam. Sikapnya sungguh semakin membuat Minrin ingin melontarkan beribu-ribu pertanyaan padanya.

“Yaa, sebenarnya ada apa denganmu?” tanya Minrin lagi. Namun lagi-lagi dihiraukan Ryeowook.

Hanya diam. Bahkan Ryeowook terkesan tidak peduli ada Minrin yang duduk di sampingnya

Minrin mendecak kesal. “Kuere, tidak usah bicara. Aku juga tidak akan memaksa.” Lanjutnya dengan menggerutu. Selanjutnya ia pun memilih berdiri dan berjalan menuju dapurnya. Meninggalkan Ryeowook yang masih saja berkutat dengan pikirannya sendiri.

Menghadapi aksi diam Ryeowook yang tanpa sebab selama hampir satu jam ternyata membuat energinya terkuras. Apalagi ia sama sekali belum sarapan. Ahjumma yang biasa bekerja menyiapkan sarapan untuknya libur, dan itu berarti Minrin mau tidak mau harus menyiapkan makanannya sendiri. Itu juga berarti bahwa Minrin hanya punya dua pilihan, sarapan ramen ataukan melangkahkan kakinya keluar untuk membeli makanan.

Ya..sebagai seorang wanita yang hanya tahu cara membuat ramen sepertinya, jelas masalah makanan adalah masalah besar. Kadang Minrin juga tidak mengerti kenapa ia sendiri tidak bisa memasak. Baginya berkutat di dapur dengan bumbu-bumbu masakan, mengiris-iris sayuran adalah hal yang tidak disukainya. Jadi, jangan heran kalau ia hanya tahu cara membuat ramen, dan memasak air.

“No food, no ramen. Great~!!” decaknya kesal ketika tidak satu pun yang bisa ditemukannya di dapur. “I’m so hungry… oohhhh”

“Berhentilah makan ramen untuk sarapan. Kau ingin sakit terus menerus makan ramen ha?” celetuk Ryeowook tiba-tiba. Minrin menolehkan kepalanya dan dilihatnya namja itu sudah bersender di dekat pintu dengan tangan terlipat di dada.

“Tsk.. apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak bisa memasak, kau kan tahu itu.” Minrin berjalan memutari meja dan mengecek isi almari esnya. Siapa tahu ada makanan beku yang bisa dipanaskannya. Tapi ia baru ingat, makanan yang dicarinya sudah dijadikan makan malam tadi malam.

“Kau masih menyimpan bahan makanan?”

Minrin menoleh dan dilihatnya Ryeowook sudah berjalan ke arahnya. Dia ikut memeriksa isi almari es itu. Hanya ada lobak, wortel dan telur. Bahkan daging pun tidak ditemukannya di dalam sana. Tanpa berkata lebih banyak, Ryeowook segera mengelurkan bahan-bahan itu dan meletakkannya di meja.

“Yaa, apa yang kau lakukan?” tanya Minrin dengan nada tidak terima dapurnya dibuat berantakan tanpa seijinnya.

“Membuat sarapan tentu saja, memangnya apa lagi?” Ryeowook sudah beralih mengambil beberapa peralatan. Dan seperti sudah hafal, dia bahkan tidak kesulitan menemukan di mana letak pisau dan lain sebagainya.

“Jinjjayo? Kau mau memasakan sarapan untukku?” seru Minrin girang. Terselamatkan juga perutnya pagi ini. Ia menghaampiri Ryeowook dan memperhatikannya dengan mata berbinar “Gomawoo Ryeowook-ah..”

“Kau yang memasak bukan aku.” Ujar Ryeowook kemudian. Dia mengambil Teflon dan meletakkanya di kompor listrik.

“Mwo? Naega?” seru Minrin tidak percaya.

“Kuere. Kau yang memasak, dan aku akan mengajarimu.” Namja itu tanpa dikomando oleh Minrin dan bahkan tanpa persetujuan, sudah memasangkan apron padanya. “Mulai sekarang kau harus belajar cara memasak, dan jangan membiarkan perutmu terisi ramen saja setiap kali Ahjumma libur.”

“Oh..Shirro. Aku tidak bisa bisa memasak.” Sergah Minrin tidak terima.

“Jangan membuatku memaksamu, Minrin-ssi.”

“Apa yang kau lakukan ini sudah pemaksaan namanya.” Decak Minrin kesal ketika Ryeowook menyerahkan sebuah pisau padanya. “Mwo? Kau mau aku apa?”

Ryeowook mengambil sebuah bawang Bombay dan menyerahkannya pada Minrin. “Tentu saja memotongnya.” Decak Ryeowook gemas.

Minrin mengambil bawang Bombay itu dan hanya memperhatikannya sejenak. Melihatnya saja sudah membuat Ryeowook gemas dan tidak habis piker. “Yaa, Jangan katakan kau tidak tahu bagaimana mengiris bawang.” Cibir Ryeowook.

Minrin meliriknya kesal. “Tentu saja aku bisa. Memangnya aku separah itu apa sampai-sampai tidak bisa memotong bawang.” Ia memanyunkan bibirnya, dan dengan gerakan ragu ia mulai mengiris bawang itu.

Diam-diam Ryeowook yang memperhatikannya hanya tersenyum. Minrin memang tidak buruk, tapi sungguh gadisnya itu benar-benar tidak pernah bersentuhan dengan barang-barang di dapur. Lihat saja betapa susahnya ia mengiris bawang, terlihat sekali ini pertama kalinya ia meengiris bawang.

“Keunde, Ryeowook-ah..” panggil Minrin kemudian.

“Wae?”

“Kau masih belum mengatakan padaku kenapa wajahmu sedih seperti tadi. Waeyo? Apa ada masalah lagi?”  Minrin menghentikan sejenak kegiatannya dan memperhatikan Ryeowook dari ekor matanya.

Ryeowook hanya diam dan tersenyum tipis. Dan melihatnya saja sudah membuat Minrin tidak yakin namja itu akan buka suara. “Sudahlah.. “ potong Minrin kemudian.

Seperti biasanya. Benar-benar cirri khas seorang Kim Ryeowook. Memangnya begitu sulitkah untuk bercerita pada kekasihnya sendiri?

“Aku melakukan kesalahan lagi kemarin.” Ujar Ryeowook kemudian.

Minrin begitu saja menghentikan aktivitasnya dan beralih memperhatikan Ryeowook lagi. “Mwotte? Kau membuat kesalahan di panggung super show?” tebak Minrin asal.

Dan selanjutnya hanya ditanggapi dengan kekehan pelan dari Ryeowook. Hey, Minrin hanya menebaknya saja. Siapa tahu memang itu alasannya. Apa itu terdengar lucu?

“Super Show aniya. Seseorang tidak suka dengan apa yang aku lakukan, dan aku begitu saja terbawa emosi setelahnya.” Ungkap Ryeowook.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Minrin lagi.

Ttukkk~!!

Sebuah sentilan ringan mendarat di pelipis gadis itu yang langsung membuatnya menyipitkan mata melihat Ryeowook. “Ya, kenapa kau memukulku?”

“Berhenti bicara dan teruskan pekerjaanmu, Nona.”  Dan sekali lagi Ryeowook seperti enggan menceritakannya pada Minrin.

“Tsskkk.. kau menyebalkan.” Gerutu Minrin yang kembali melanjutkan aktivitasnya memotong bawang.

Diam sejenak. Bahkan Minrin merasa Ryeowook pergi dari dapur itu jika saja dia tidak kembali bersuara.

“Apa aku menyebalkan? Apa menurutmu apa yang aku lakukan menyebalkan untuk orang lain?” tanyanya tiba-tiba.

Sejenak untuk kedua kalinya Minrin menghentikan aktivitasnya. Ia mendongak dan memperhatikan Ryeowook, mencoba mencerna maksud ekspresi itu. Ekspresi yang sama yang ditunjukkan Ryeowook setiap kali ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Wae? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Oh.. sial perasaan khawatir itu muncul lagi. Menyebalkan. Minrin sedikit menahan nafasnya dan mengantisipasi dengan dada berdebar apa yang akan dikatakan Ryeowook selanjutnya.

“Keunyang.. “

“Aissh, berhenti berpura-pura kau baik-baik saja.” Gerutu Minrin kemudian dengan nada yang agak tinggi. Ryeowook mendongak dan menatap Minrin

“Kau terdengar seperti ku setiap kali aku memarahimu.” Ryeowook terkekeh lagi.

Oh ya Tuhan, apa ini saatnya untuk bercanda? Minrin mendecak. “Aku tidak bercanda, Kim Ryeowook-ssi. Tell me what is it? Don’t you always tell me that I can share my thought with you? So, I ask you to do it now.”

Ryeowook hanya tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Minrin. Diacaknya puncak kepala Minrin dengan tangannya. Penuh kehangatan dan terasa manis. Bukankah dia beruntung memiliki gadis ini? Shin Minrin, secuek apapun dia, tapi tidak ada sekecil pun perhatian yang terlewatkan darinya. Dia selalu tahu apa yang Ryeowook pikirkan. Dan begitu juga dengan Ryeowook.

“Kuere..”

Minrin mengangguk dan mulai mendengarkan. Tatapannya tidak lepas dari Ryeowook ketika namja itu berbagi pikirannya yang terasa sangat berat untuk ditanggungnya sendiri. Setidaknya seperti itulah menurut Minrin.

Dua tiga detik. Bahkan satu menit sudah terlewat, tapi Ryeowook tak kunjung membuka suara. Minrin mendecak. “Yaa, you’re not going to tell me?” serunya, ketika dilihatnya Ryeowook hanya tersenyum tipis.

“Memasaklah dengan baik. Kalau masakanmu enak dan tidak membuatku sakit perut aku akan mengatakannya padamu.” Cengirnya dan hanya ditanggapi decakan singkat dari Minrin.

“Kau benar-benar menyebalkan, Kim Ryeowook-ssi” teriak Minrin, tapi tanpa permisi Ryeowook sudah meninggalkanya, keluar dari dapur.

“Mwoya? Yaaa~~!!! Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini?”

                       

 

Sudah hampir setengah jam sejak Ryeowook meninggalkannya di dapur ini dengan lobak, wortel dan beberapa peralatan memasak lainnya. Namun, alih-alih berusaha memasak seperti yang dikatakan Ryeowook, Minrin justru hanya memelototi bahan-bahan di depannya satu persatu.

“Aissh.. katanya mau membantu, ini sama saja aku memasak sendiri.” Gerutunya.

“Eottoke?” Minrin mengambil satu lobak dan meletakkannya di meja. Tangannya siap-siap memotongnya menjadi bagian-bagian kecil. Namun sialnya, tangan kirinya terlalu dekat dengan pisau hingga akhirnya teriris. Darah keluar dari bekas irisan dengan deras yang menandakan luka yang dalam. Minrin meringis dan buru-buru pergi ke wastafel, mengalirkan air di tangannya.

Tap tap tap..

Minrin tidak terlalu mempedulikan saat Ryeowook yang entah dari mana sudah berjalan cepat ke arahnya. Menarik tangan kirinya dan langsung menutup luka penuh darah dengan tissue. “Sudah aku duga, kau benar-benar buruk dalam memotong bahan makanan.”

“Siapa suruh Kau pergi dan membiarkan ku bekerja sendiri.”

“Setidaknya berhati-hatilah. Kau ini teledor sekali, lihat lukamu lumayan parah. Kemari.. biar aku obati.” Tanpa banyak bicara lagi Ryeowook mengajak Minrin ke ruang tengah dan duduk di sofa.

Dia mengambil kota obat yang sudah hafal dimana letaknya tanpa perlu bertanya pada Minrin. Dengan hati-hati Ryeowook membersihkan luka dengan kapas dan mengobatinya. Melihat Ryeowook yang sangat telaten, mau tidak mau membuat Minrin hanya bisa memperhatikan namja itu dalam diam, meski sesekali dia meringis kesakitan saat dirasakannya perih di jari telunjuknya.

“Gomawo..” ucap Minrin ketika Ryeowook selesai membalut jari telunjuknya dengan plester.

“Kau duduk saja di sini, arra?” perintah Ryeowook. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia sudah berdiri dan menuju dapur.

Penasaran apa yang sedang dilakukannya, Minrin pun mengikuti di belakang. Dan dia pun hanya bisa tersenyum saat dilihatnya Ryeowook mengambil alih pekerjaannya yang tadi tertunda.

“Kau yang akan memasak?” tanya Minrin. Ia berjalan mendekat dan duduk di salah satu kursi tinggi .

“Kau pikir aku akan membiarkanmu masak dengan tangan terluka dan perut yang sudah kelaparan?”

“Issh.. “ Minrin mendengus, tapi sedetik kemudian dia tersenyum. “Gomawo, Ryeowook-ah…”

“Kau harus membayar untuk ini.” Ujar Ryeowook.

“Wae?”

“Tidak ada yang gratis, Nona.” Ryeowook mendongakkan kepalanya dan menatap Minirn. “Satu pelukan dan satu ciuman, kurasa itu cukup.” Ujarnya dengan senyum menyerengai dan itu memuakan.

“Aissh… dasar. Tergantung masakanmu enak atau tidak.” Balas Minrin. Selebihnya ia hanya duduk dalam diam, memperhatikan Ryeowook yang justru tengah sibuk.

“Kau akan menyesal mengatakan itu. Masakanku selalu enak, kau sendiri yang bilang begitu, ingat?” Ryeowook tersenyum kecil tanpa sedikit pun mengalihkan fokusnya dari hal-hal di meja dapur.

Minrin mengangguk-angguk. “Benar juga sih.. tapi tetap saja, kali ini aku akan menilainya dengan benar. Siapa tahu aku masakanmu itu sebenarnya tidak terlalu enak, dan aku mengatakan semua itu karena perutku yang memang sudah kelaparan.”

“Kuere kita lihat saja nanti. Kau baru saja mengajukan suatu tantangan, Minrin-ya dan jangan menghindar jika kau kalah.”

“Tidak akan. Tapi ngomong-ngomong kau tetap tidak mau mengatakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Minrin mengalihkan pembicaraan.

“Jika kau menepati janjimu aku akan menepati janjiku.” Ujar Ryeowook.

“Kuere..”

                       

 

Minrin mengambil makanan di depannya dan memasukkannya ke dalam mulut dengan ragu. Ia tahu jika sekali memakan makanan ini lidahnya menyukainya, maka berita buruk untuk dirinya. Diliha dari tampilannya memang sangat menggoda perut, meskipun tidak ada makanan kesukaannya di sana, tapi tetap saja semua terlihat enak. Minrin mengunyahnya dengan pelan dan sesaat raut muka berubah dari senang menjadi tidak senang. Ia berpura-pura.

“Jangan berbohong. Katakan yang sebenanrya.” Ujar Ryeowook, sebelum Minrin membuka mulutnya. Sial.

“Lumayan..” jawab Minrin, masih dengan ekspresi yang dibuat-buat. “Kau tidak merasa ini terlalu asin? Cobalah, menurutku terlalu asin.”

Ryeowook menyipitkan matanya dan menatap Minrin. Ia tahu gadis itu berbohong. Sejak dulu sampai sekarang Minrin tidak pernah bisa menolak masakan yang dibuat Ryeowook. Dan sebagai catatan saja, selama ini Minrin tidak pernah complain apapun soal makanan di hadapannya.

“Aku bilang jangan bohong, Minrin-ya. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sedang berbohong?” Ryeowook mengambil stick nya dan mengambil satu potong telur dadar gulung. “Tidak asin.” Komentarnya.

Ryeowook kembali meletakkan stick nya dan beralih menatap Minrin sepenuhnya. Suka atau tidak suka, Minrin jarang menolak makanan di depannya termasuk makanan yang dibuat Ryeowook untuknya. Dan kali ini Ryeowook cukup percaya diri dan yakin makanan yang idbuatnya bukanlah makanan yang tidak disukai Minrin. Gadis itu menyukai telur dadar. Dan sangat meragukan kalau saat ini Minrin berkata jujur.

Dilihatnya Minrin ikut meletakkan sticknya. Tangannya kemudian terangkat mengambil segelas air putih di samping kanannya. “Aku punya permintaan.” Ujarnya kemudian.

“Mwotte?”

“Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu, dan aku akan mengakui makanan ini enak.”

Ryeowook menyipitkan matanya memandang Minrin. “Kalau aku menolak?”

“No Kiss No Hug.” Sahut Minrin cepat.

“Kau curang.”

Seharusnya Ryeowook tahu Minrin akan mengajukan permintaan itu. Pengakuan masakannya enak ditukar dengan menceritakan penyebab hatinya gundah? Sungguh pilihan yang tidak masuk akal. Jika Ryeowook tidak ingin cerita maka dia hanya perlu menerima komentar Minrin tentang masakannya yang tidak enak. Bukan masalah sebenarnya karena Ryeowook memang tidak butuh pengakuan hasil masakannya enak dari Minrin. Dan kalaupun Ryeowook menolak pilihan itu, maka ia tidak menerima dua hadian yang tadi ditawarkannya. Sebenarnya itu pun juga tidak masalah. Memangnya kapan Minrin menolak skinship dengannya?

“Jadi pilih yang mana? Kau mendapat pengakuan masakanmu enak dan aku mendapatkan alasan kenapa kau sedih. Atau menolak melakukannya tapi dengan konsekuensi tidak akan ada skinship lebih dari pegangan tangan selama satu bulan.”

Minrin menatap Ryeowook serius. Ia melipat kedua tanganya di atas meja dan menunggu jawaban yang akan dipilih Ryeowook. Ia cukup yakin namja di depannya ini akan memilih pilihan pertama. Alasannya cukup simple, Minrin tidak percaya tidak aka nada ciuman dan pelukan selama sebulan karena Ryeowook sangat suka memeluk dirinya. Lagi pula hal seperti itu hanya akan terjadi saat Ryeowook cukup sibuk menggelar super show. Dan untuk catatan saja, setidaknya sampai akhir tahun Minrin tahu Ryeowook tidak akan sering-sering pergi keluar negeri.

“Lalu bagaimana denganmu? Kenapa hanya aku yang harus memilih. Kau lupa kau juga berjanji sesuatu tadi? Shin Minrin-ssi, makanan ini aku yang membuat bukan kau, ingat?”  Ryeowook berujar, sekarang giliran dia yang menatap Minrin serius.

Minrin mendengus. Sial.

“Kuere, aku akan belajar memasak mulai sekarang” Minrin memutuskan setengah hati. Ia kembali menatap Ryeowook berani. “Jika kau mau menceritakan kenapa kau sedih, aku akan mengatakan masakanmu enak sekaligus belajar memasak, eotte?”

Kita lihat apa yang akan kau pilih Tuan Kim. Minrin tersenyum penuh kemenangan.

Berasa di atas angin Minrin terus saja mengumbar senyum kemenangan. Dan tanpa dia duga Ryeowook yang sebelumnya menghela nafas dalam terlihat sangat santai dengan perjanjian konyol ini.

Ryeowook terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan. “Aku menolak.” Jawabnya yang sukses membuat Minrin melongo.

“Mwo?” teriaknya tertahan.

Setelah penawaran yang sebenarnya menguntungkan untuk Ryeowook, namja itu justru menolaknya? Dan itu berarti dia juga baru saja menolak Minrin yang dengan senang hati akan belajar memasak. Oh Astaga…

“Jinjjayo?.. Wae? .. Kau tidak ingin aku belajar memasak? apa kau benar-benar tidak ingin menceritakan padaku. Euhm?” tanya Minrin bertubi-tubi.

Kini Ryeowook yang tersenyum penuh kemenangan. Ia mengangguk “Aku masih akan memaksamu belajar memasak, tapi tidak sekarang.” Ia tersenyum lebar. Dan Minrin hanya merengut

“Wae?”

“Kenapa wajahmu seperti itu? Menyedihkan..” Ryeowook mencibir dan sekali lagi tersenyum.

Minrin tambah merengut kesal. Sial. Kenapa dia selalu kalah jika berdebat dengan Ryeowook? Ryeowook menolak berarti Minrin kalah. Dan kalah berarti tidak akan ada kiss and hug selama sebulan.  Oh.. kenapa sekarang dia yang menyesal?

“Kau menyesal dengan ucapanmu? Salah siapa mengajukan penawaran seperti itu.” Tebak Ryeowook dan mendengarnya saja semakin membuat Minrin mendecak kesal. “Berarti No Kiss No Hug selama sebulan, seperti katamu, kan? Kurasa tidak terlalu buruk.” Ryeowook menambahkan lagi-lagi dengan tersenyum.

Minrin menghela nafasnya. Benar. Tidak buruk. Semoga saja.

Sepertinya mulai sekarang harus dibiasakan dengan kondisi itu. Tidak akan ada pelukan singkat setiap kali mereka bertemu, tidak akan ada ciuman meski hanya di pipi ataupun kening.

Padahal biasanya bisa dibilang sangat sering Ryeowook memberikan pelukan untuknya. Ya.. kadang terdengar berlebihan dan terlalu romantic, mengingat mereak bukan pasangan yang romantic. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau Minrin akan melonjak kegirangan saat Ryeowook memeluknya. Ia selalu menyukai setiap kali Ryeowook menyentuhnya.

“Kau terlihat senang sekali, jangan berpikir mencari kesempatan, mengerti? Jangan melirik yeoja lain, jangan tebar pesona, pokoknya jangan melakukan hal-hal yang akan membuatku marah” ancam Minrin tegas.

“Kenapa kau mendadak posesif padaku? Ini bukan caramu menunjukkan perasaanmu, Minrin-ya.” Potong Ryeowook cepat sebelum Minrin sempat membalas. “Dengar, aku mungkin tidak sering mengatakan ini, tapi selama ini hanya kau yeoja yang kulihat menarik.” Tambahnya.

Rona merah mendadak muncul di wajah Minrin. Gadis itu hanya bisa membuang muka setelahnya, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat. Memang hanya kata-kata yang biasa tapi bagi Minrin sudah mampu melambungkan hatinya. Bukankah itu berarti Ryeowook tidak pernah melirik yang lain? Dan itu berarti namja itu hanya menatap ke arahnya seorang.

“Kau sedang menggodaku?” tanya Minrin kemudian setelah berhasil mengontrol detak jantung yang meledak-ledak.

“Aniya. Aku sedang mengatakan kalau hanya kau wanita yang ku sukai.” Ungkap Ryeowook terus terang.

Dan kali ini Minrin tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia tersenyum salah tingkah. Untuk pertama kalinya. Benar untuk pertama kalinya Ryeowook mengakui itu.

“Kemanhae, kau mengerikan kalau mengatakan itu.” Ucap Minrin lagi, berusaha mencairkan suasana yang entah kenapa menjadi sedikit aneh.

Ia bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke meja dapur. Melewati Ryeowook yang masih duduk dengan senyum kecilnya. Tepat saat itu, entah apa yang terjadi, karena Ryeowook tiba-tiba berdiri dan menarik tangan kiri Minrin. Memaksanya berbalik dan menghadap ke arahnya.

“Mianhae, aku mungkin tidak selalu menceritakan semuanya padamu, tapi aku yakin kau sudah mengetahuinya. Jadi, cukup kau berada di sini, di sisiku, maka aku akan baik-baik saja.” Ujarnya pelan tapi sangat jelas.

Minrin hanya bisa mengerjapkan matanya, menatap Ryeowook yang tepat di depannya. Ya.. meski tidak selalu diceirtakan, tapi Minrin mengerti apa yang Ryeowook pikirkan. Selalu seperti itu. Jadi, seperti yang Ryeowook katakana, Minrin memang akan selalu di sini, di sisinya, bersamanya. Selalu seperti itu.

Ia tersenyum dan mengangguk dan yang selanjutnya terjadi adalah Ryeowook menarik Minrin semakin mendekat dan memeluknya erat. Sangat tiba-tiba hingga Minrin sendiri terkejut menerimanya.

“Yaa, kau melanggar peratuan. No kiss No Hug selama sebulan, ingat?” ucap Minrin susah payah, ia sedikit mendorong Ryeowook menjauh agar bisa bernafas dengan bebas dan berhasil.

Ryeowook meregangkan pelukannya dan beralih menatap Minrin dalam. “Aku tahu, tapi kurasa perjanjian itu bisa dimulai besok.”

Lagi-lagi Minrin hanya bisa menahan nafasnya karena terkejut, karena tiba-tiba saja Ryeowook sudah menarik pinggangnya, menahan tengkuknya dan menempelkan bibirnya tepat di bibir Minrin. Gadis itu hanya diam dan sama sekali tidak merespon, hingga akhirnya Ryeowook kembali menarik wajahnya menjauh.

“Wae? Tidak suka? Kau tidak akan mendapatkannya selama satu bulan ke depan, Nona.”

Minrin masih bengong, namun akhirnya ia tersenyum. “Kau benar.” Ia berujar membenarkan.

Dan tanpa Minrin bisa mengantisipasi untuk kedua kalinya, Ryeowook telah lebih dulu mendekatkan wajahnya perlahan, menjangkau bibir itu sekali lagi.

CUT

 

Saya tidak mengerti kenapa ff seperti ini bisa muncul di otak saya -__- well, ide muncul saat tidak sengaja jari saya teriris dua kali waktu ngiris bawang. Ide lainnya datang gara-gara beberapa waktu yg lalu ada fans dr sebuah gb yg tidak suka dg tweet Ryeowook yang isinya ucapan selamat pada gb tersebut. Poor my Ryeowook ): Kenapa tahun ini terlalu banyak hal yg tidak mengenakkan terjadi padamu, euhmm? Apapun itu, ajikdo You You You *sambil nyanyi Still You*

Ff terakhir yg dipublish di tahun 2013 .. sampai jumpa di tahun 2014 ^^

Advertisements

2 thoughts on “(Ryeomin story) Kitchen Accident

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s